Anda di halaman 1dari 2

LEBIH DEKAT DENGAN THERESIA Oleh: Fr. Chris Surinono, OCD.

Perayaan kenangan penuh syukur se-abad wafatnya St.Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (1897-1997) merupakan suatu peristiwa rohani yang besar bagi Gereja. Theresia tidak lagi menjadi milik Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD) yang pemah tinggal di Biara Karmel Lisieux. Ia telah menjadi milik semua orang; semua jiwa yang rindu mengalami cinta Allah dan yang rindu mencintai Allah secara sederhana. Berkenaan dengan peringatan satu abad wafatnya, pelindung misi dan Pujangga Gereja baru ini, kami ingin memperkenalkan sedikit hidup dan ajarannya.

Siapakah St. Theresia dari Kanak-Kanak Yesus ? Ia dilahirkan sebagai, Marie Francoice Therese Martin, pada 2 Januari 1873, di Alencon, sebuah kota kecil di daerah Nonnandi Perancis. Theresia adalah putri bungsu dari sembilan bersaudara putra-putri pasangan Louise Martin dan Marie Zelline Guirine. Empat diantaranya meninggal selagi balita. Sementara kelima putri lainnya, semuanya menjadi biarawati : Empat menjadi suster Karmel OCD (termasuk Theresia) di Lisieux dan seorang lagi menjadi suster Visitasi. Theresia lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang saleh, terpandang, berada dan sangat bahagia, sehingga ia memandang masa kecilnya di rumah dan mengalami suasana keluarganya sebagai "surga". Kesalehan dan semangat hidup batinya terbentuk dari keluarganya. Ia dididik dalam persaudaraan keluarga yang diselimuti ketulusan cinta dan suasana keagamaan yang sungguh mendewasakan iman. Keberanian dan kerelaan hatinya terbentuk oleh ketulusan cinta orang tua dan kakak-kakaknya. Pada usia 9 tahun, Theresia sudah bercita-cita menjadi suster Karmel. Memang kerinduannya untuk menjadi suster demikian besar, sehingga ia berusaha mati-matian untuk masuk biara pada usia 15 tahun. Akhirnya ia diperbolehkan masuk biara Karmel dalam usia itu, setelah secara pribadi mendapat izinan langsung dari Paus Leo XIII ketika ia bersama keluarganya berziarah ke tanah suci dan beraudiensi dengan Bapa Suci. Kemudian Ia dikenal dengan nama dan julukkan Theresia Kecil, Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, Theresia dari Lisieux, Theresia Martin dan Mawar Mungil. Dalam hidupnya selama 9 tahun di biara, tidak ada sesuatupun yang luar biasa. Ia hidup sebagaimana layaknya seorang suster Karmel dengan klausura ketat. Namun kesederhanaan hidupnya telah memancarkan banyak rahasia perjuangan kekudusan yang semuanya baru

terungkap setelah kematiannya. Dan memang itulah yang ia kehendaki. Menjelang kematiannya ia berkata, misiku baru akan mulai; misiku adalah membuat orang lain mencintai Allah, sebagaimana aku mencintaiNya, Misiku adalah mengajarkan jalan kecil kepada jiwa-jiwa. Tanggal 30 September 1897 sekitar pukul 19.20, Theresia wafat. Dikatakan bahwa tanda-tanda penderitaan yang pernah dialaminya tiba-tiba hilang lenyap. Wajahnya kembali berseri seakan hidup dan aroma mewangi keluar dari peti jenazah yang sungguh mengherankan semua yang hadir. Memang tak ada satupun karya ilmiah sistimatis yang dihasilkannya. Yang ada hanyalah kisah satu jiwa, yakni kisah hidupnya yang ditulis karena kaul ketaatannya kepada pembesarnya. Kisah ini pun lebih berupa sebuah karya kenangan bagi kakaknya sendiri; dan diterbitkan tidak lama setelah kematiannya. Namun tak disangkal justru buku ini terpancar seluruh semangat, perjuangan, cita-cita dan ajarannya yang asli. Meski dengan bahasa sederhana dan berkesan kekanak-kanakan, tapi dibaliknya perjuangan dan pergulatan dalam jalan kekudusan yang sejati dan sederhana diperlihatkan. Kisah hidupnya ini menjadi terkenal dan permintaan berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Dibaca baik oleh orang beragama ataupun yang tak beragama. Dan sudah diterjemahkan ke dalam kurang lebih 50 bahasa. 28 tahun setelah kematiannya, yakni tanggal 25 April 1923, Theresia digelar Beata. Dan dua tahun kemudian (kurun waktu tercepat) ia digelar santa, yakni 17 Mei 1925. Dua tahun kemudian, Theresia diangkat menjadi pelindung misi di seluruh dunia setingkat dengan St. Fransiskus Xaverius. Pada, tahun 1944, ia diangkat sebagai pelindung negara Perancis setingkat dengan St. Joan de Arc, dan 19 Oktober 1997, diangkat sebagai Pujangga Gereja. Theresia sudah menjadi orang kudus abad modern yang pribadi dan ajaran serta pengalaman hidupnya terus bergema menyusupi sendi-sendi kerohanian manusia dan memberi dorongan bagi banyak orang atau jiwa-jiwa yang paling sederhana sekalipun untuk mengalami cinta Tuhan dan mencintai Tuhan.

SEKILAS TENTANG SEMANGAT DAN AJARANNYA Dewasa ini, Theresia masih tetap menjadi guru besar kekudusan' bagi sernua umat Allah. Ia ingin mengajarkan semua orang, khususnya jiwa-jiwa yang lemah dan miskin, jalan kecil dan kepercayaannya. Theresia yakin sekali bahwa jalan kecilnya adalah jalan paling pasti menuju kesempurnaan, hidup damai, cinta dan persaudaraan serta kemuliaan yang kedalamnya, sebagaimana amanat konsili vatikan II, semua orang dipanggil. ...