Anda di halaman 1dari 6

ABSTRAK Miopia merupakan kelainan refraksi mata, dimana dalam keadaan mata tidak berakomodasi, sinar datang sejajar

dari jarak tak terhingga difokuskan di depan retina. Miopia dapat dibedakan menjadi miopia sangat ringan, ringan, sedang dan berat berdasarkan ukuran dioptri setelah dikoreksi dengan lenssa sferis negatif. Pada pasien ini didapatkan keluhan mata kanan dan kiri kabur saat melihat jauh dan visus mata kanan 6/15 UCVA dan kiri 6/12 UCVA, yang mengarah ke diagnosis miopia pada kedua mata. Penatalaksanaan yang diberikan berupa koreksi dengan kacamata sferis negatif OD -1,5D dan OS -1,0D. Edukasi pasien diharapkan jika membaca dalam jarak 30 cm, dan menghindari membaca di tempat yang redup serta kontrol 1 tahun sekali. Keyword: kelainan refraksi, miopia. KASUS Wanita, 24 tahun, datang dengan keluhan kedua mata kabur jika melihat jauh sejak 6 bulan yang lalu. Terlihat jelas jika melihat benda dari jarak dekat. Pasien sering membaca di tempat yang redup dan cenderung menyipitkan mata jika untuk melihat jauh. Pasien belum pernah memeriksakan diri sebelumnya, riwayat keluhan serupa dalam keluarga disangkal. Pada pemeriksaan fisik didapatkan, kondisi umum baik, kesadaran composmentis. Pemeriksaan subyektif, visus OD 6/15 UCVA dan OS 6/12 UCVA. Dilakukan koreksi visus dengan trial lens diperoleh hasil pada mata kanan Syp (-1,5) 6/6 dan pada mata kiri Syp (-1,0) 6/6. DIAGNOSIS Miopia ODS TERAPI Pemakaian kacamata sferis negatif OD -1,5D dan OS -1,0D. Edukasi pasien diharapkan jika membaca dalam jarak 30 cm, dan menghindari membaca di tempat yang redup serta kontrol 6 bulan sekali. DISKUSI Miopia atau rabun jauh adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinar-sinar sejajar akan dibiaskan pada suatu titik di depan retina pada mata tanpa akomodasi. Miopia dapat terjadi karena ukuran bola mata yang relatif panjang atau karena indeks bias media yang tinggi. Pada penderita miopia, keluhan utamanya adalah penglihatan yang kabur saat melihat jauh, tetapi jelas untuk melihat dekat. Kecendrungan penderita untuk menyipitkan mata waktu melihat jauh untuk mendapatkan efek pinhole agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dalam menegakkan diagnosis miopia, harus dilakukan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan yang dilakukan dengan pemeriksaan refraksi subjektif dan objektif, setelah diperiksa adanya visus yang kurang dari normal tanpa kelainan organik. Penatalaksanaan penderita miopia dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata, kontak lensa atau melalui operasi. Terapi terbaik pada miopia adalah dengan penggunaan kacamata atau kontak lensa yang akan mengkompensasi panjangnya bola mata dan akan memfokuskan sinar yang masuk jatuh tepat di retina. Kacamata (Lensa Konkaf) Koreksi miopia dengan kacamata, dapat dilakukan dengan menggunakan lensa konkaf (cekung/negatif) karena berkas cahaya yang melewati suatu lensa cekung akan menyebar. Bila permukaan refraksi mata mempunyai daya bias terlalu tinggi atau bila bola mata terlalu panjang seperti pada miopia, keadaan ini dapat dinetralisir dengan meletakkan lensa sferis konkaf di depan mata. Lensa cekung yang akan mendivergensikan berkas cahaya sebelum masuk ke mata, dengan demikian fokus bayangan dapat dimundurkan ke arah retina (Guyton, 1997). Lensa kontak Lensa kontak dari kaca atau plastik diletakkan dipermukaan depan kornea. Lensa ini tetap ditempatnya karena adanya lapisan tipis air mata yang mengisi ruang antara lensa kontak dan permukaan depan mata. Sifat khusus dari lensa kontak adalah menghilangkan hampir semua pembiasan yang terjadi dipermukaan anterior kornea, penyebabnya adalah air mata mempunyai indeks bias yang hampir sama dengan kornea sehingga permukaan anterior kornea tidak lagi berperan penting sebagai dari susunan optik mata. Sehingga permukaan anterior lensa kontaklah yang berperan penting. Cara operasi pada kornea, yaitu : 1. Radial keratotomy (dengan pisau) yaitu operasi dengan menginsisi kornea perifer sehingga kornea sentral menjadi datar. Hal ini menyebabkan sinar yang masuk ke mata menjadi lebih dekat ke retina. 2. Excimer laser (PRK) yaitu merupakan prosedur bedah refraksi dengan cara mengupas lapisan luar kornea (epitel) kemudian menipiskan lapisan stroma dengan sinar laser. Lapisan luar kornea (epitel) akan tumbuh kembali dalam beberapa hari. 3. Keratomileusis (LASIK/LASEK) yaitu bila kornea yang terlalu cembung di insisi kemudian dikurangi kecembungannya dan dilengketkan kembali. Pada PRK/LASEK, lapisan epitelium pada kornea diambil dan dibuang sebelum laser ditembakkan ke mata. Karena PRK tidak membutuhkan sayatan permanen pada lapisan epitelium, namun lapisan epitelium dibuang dan dibiarkan tumbuh dengan sendirinya, maka struktur kornea lebih stabil dibandingkan LASIK. Prosedur ini berbeda dengan LASIK, dimana bagian epitelium kornea dibuat suatu sayatan / flap dengan menggunakan mikrokeratome (pisau bedah halus), untuk menghasilkan sayatan

/ flap pada kornea setebal 100 hingga 180 micrometer sebelum laser ditembakkan ke mata, yang nantinya sayatan akan ditutup dan menyatu kembali dengan sendirinya oleh lapisan yang diambil sebelumnya. Untuk rasa sakit yang ditimbulkan, PRK menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan LASIK, dikarenakan pengambilan lapisan epitelium dilakukan secara keseluruhan. Pada pasien ini dianjurkan untuk memakai kacamata untuk memperbaiki tajam penglihatannya, dengan pertimbangan lebih mudah pemakaian dan perawatannya dibandingkan dengan pemakaian kontak lensa. Karena jenis miopia pasien yang masih tergolong ringan dan dengan perbedaan minus yang tidak terlalu besar pada kedua mata, maka koreksi miopia dengan kacamata sudah cukup. Selain itu, pasien disarankan untuk menghindari perilaku membaca di tempat yang redup. KESIMPULAN Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan pasien didiagnosis dengan OD/S miopia dan diterapi dengan penggunaan kacamata dengan lensa sferis (negatif) OD syp (-1,5) 6/6 dan OS syp (-1,0) 6/6. Penatalaksanaan yang diberikan kepada pasien ini sudah sesuai dengan penatalaksanaan pada pasien miopia. REFERENSI 1. Vaoughan et all, 2000, Optalmology Umum, Edisi 14, Widya Medika. 2. Ilyas, S., 2007. Ilmu penyakit Mata. Edisi Ke-3. Jakarta, FK UI. 3. Curtin. B., J., 2002. The Myopia. Philadelphia Harper & Row. p.348-381. PENULIS Alstonia Marginata (20060310003), Bagian Ilmu Penyakit Mata, RSUD Temanggung

Kelainan Refraksi MIOPIA BATASAN Kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) akan dibias membentuk bayangan di depan retina PATOFISIOLOGI Miopia disebabkan karena pembiasan sinar di dalam mata yang terlalu kuat untuk panjangnya bola mata akibat : 1.Sumbu aksial mata lebih panjang dari normal (diameter antero-posterior yang lebih panjang, bola mata yang lebih panjang ) disebut sebagai miopia aksial 2.Kurvatura kornea atau lensa lebih kuat dari normal (kornea terlalu cembung atau lensa mempunyai kecembungan yang lebih kuat) disebut miopia kurvatura/refraktif 3.Indeks bias mata lebih tinggi dari normal, misalnya pada diabetes mellitus. Kondisi ini disebut miopia indeks 4. Miopi karena perubahan posisi lensa Posisi lensa lebih ke anterior, misalnya pasca operasi glaukoma GEJALA KLINIS Gejala utamanya kabur melihat jauh Sakit kepala (jarang) Cenderung memicingkan mata bila melihat jauh (untuk mendapatkan efek pinhole), dan selalu ingin melihat dengan mendekatkan benda pada mata Suka membaca, apakah hal ini disebabkan kemudahan membaca dekat masih belum diketahui dengan pasti.

PEMBAGIAN Berdasarkan besar kelainan refraksi, dibagi : 1. miopia ringan : -0,25 D s/d -3,00 D 2. myopia sedang : -3,25 D s/d -6,00 D 3. myopia berat : -6,25 D atau lebih Berdasarkan perjalanan klinis, dibagi : 1. myopia simpleks : dimulai pada usia 7-9 tahun dan akan bertambah sampai anak

berhenti tumbuh ( 20 tahun ) 2. myopia progresif/maligna : myopia bertambah secara cepat ( 4.0 D / tahun ) dan sering disertai perubahan vitero-retinal ada satu tipe miopia pada anak dengan miopia 10 D atau lebih yang tidak berubah sampai dewasa

DIAGNOSIS/CARA PEMERIKSAAN Refraksi Subyektif Metoda trial and error Jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 kaki Digunakan kartu Snellen yang diletakkan setinggi mata penderita Mata diperiksa satu persatu Ditentukan visus / tajam penglihatan masing-masing mata Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis negatif Refraksi Obyektif a.Retinoskopi : dengan lensa kerja +2.00 pemeriksa mengamati refleks fundus yang bergerak berlawanan arah dengan arah gerakan retinoskop (against movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sferis negatif sampai tercapai netralisasi b.Autorefraktometer (komputer) PENATALAKSANAAN 1.Kacamata Koreksi dengan lensa sferis negatif terlemah yang menghasilkan tajam penglihatan terbaik 2.Lensa kontak Untuk : anisometropia Myopia tinggi 3.Bedah refrakstif a. bedah refraktif kornea : tindakan untuk mengubah kurvatura permukaan anterior kornea ( Excimer laser, operasi lasik ) b. bedah refraktif lensa : tindakan ekstraksi lensa jernih, biasanya diikuti dengan implantasi lensa intraokuler KOMPLIKASI 1.Ablatio retina terutama pada myopia tinggi 2.Strabismus a.esotropia bila myopia cukup tinggi bilateral b.bexotropia pada myopia dengan anisometropia 3.Ambliopia terutama pada myopia dan anisometropia

HIPERMETROPIA BATASAN Kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi ) akan dibias membentuk bayangan di belakang retina PATOFISIOLOGI 1.Hipermetropia aksial karena sumbu aksial mata lebih pendek dari normal 2.Hipermetropia kurvatura karena kurvatura kornea atau lensa lebih lemah dari normal 3.Hipermetropia indeks karena indeks bias mata lebih rendah dari normal GEJALA KLINIS 1.Penglihatan jauh kabur, terutama pada hipermetropia 3 D atau lebih, hipermetropia pada orang tua dimana amplitude akomodasi menurun 2.Penglihatan dekat kabur lebih awal, terutama bila lelah, bahan cetakan kurang terang atau penerangan kurang

3.Sakit kepala terutama daerah frontal dan makin kuat pada penggunaan mata yang lama dan membaca dekat 4.Penglihatan tidak enak (asthenopia akomodatif=eye strain) terutama bila melihat pada jarak yang tetap dan diperlukan penglihatan jelas dalam waktu yang lama, misalnya menonton TV, dll 5.Mata sensitif terhadap sinar 6.Spasme akomodasi yang dapat menimbulkan pseudomiopia 7.Perasaan mata juling karena akomodasi yang berlebihan akan diikuti oleh konvergensi yang berlebihan pula PEMBAGIAN Berdasarkan besar kelainan refraksi, dibagi : 1. Hipermetropia ringan : -0,25 s/d -3,00 2. Hipermetropia sedang : -3,25 s/d -6,00 3. Hipermetropia berat : -6,25 atau lebih Berdasarkan kemampuan akomodasi, dibagi : 1.Hipermetropia laten : kelainan hipermetropik yang dapat dikoreksi dengan tonus otot siliaris secara fisiologis, di mana akomodasi masih aktif 2.Hipermetropia manifes, dibagi : a.Hipermetropia manifes fakultatif : kelainan hipermetropik yang dapat dikoreksi dengan akomodasi sekuatnya atau dengan lensa sferis positif b.Hipermetropia manifes absolut : kelainan hipermetropik yang tidak dapat dikoreksi dengan akomodasi sekuatnya 3. Hipermetropia total : Hipermetropia yang ukurannya didapatkan sesudah diberikan sikloplegia DIAGNOSIS/CARA PEMERIKSAAN Refraksi Subyektif Metoda Trial and Error Jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 kaki Digunakan kartu Snellen yang diletakkan setinggi mata penderita Mata diperiksa satu persatu Ditentukan visus / tajam penglihatan masing-masing mata Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis positif Pada anak-anak dan remaja dengan visus 6/6 dan keluhan asthenopia akomodativa dilakukan tes sikloplegik, kemudian ditentukan koreksinya Refraksi Obyektif a.retinoskopi : dengan lensa kerja +2.00, pemeriksa mengamati refleks fundus yang bergerak searah dengan arah gerakan retinoskop ( with movement), kemudian dikoreksi dengan lensa sferis positif sampai tercapai netralisasi b.autorefraktometer (komputer) PENATALAKSANAAN 1.Kacamata Koreksi dengan lensa sferis positif terkuat yang menghasilkan tajam penglihatan terbaik

2.Lensa kontak Untuk : anisometropia Hipermetropia tinggi KOMPLIKASI 1.Glaukoma sudut tertutup 2.Esotropia pada hipermetropia >2.0 D 3.Ambliopia terutama pada hipermetropia dan anisotropia. Hipermetropia merupakan penyebab tersering ambliopia pada anak dan bisa bilateral ASTIGMATISME

BATASAN Suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar dengan garis pandang oleh mata tanpa akomodasi dibiaskan tidak pada satu titik tetapi lebih dari satu titik. PATOFISIOLOGI 1.Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar kornea tidak teratur 2.Adanya kelainan pada lensa dimana terjadi kekeruhan pada lensa 3.Intoleransi lensa atau lensa kontak pada postkeratoplasty 4.Trauma pada kornea 5.Tumor GEJALA KLINIS 1.Pengelihatan kabur atau terjadi distorsi 2.Pengelihatan mendua atau berbayang - bayang 3.Nyeri kepala 4.Nyeri pada mata PEMBAGIAN Berdasarkan posisi garis focus dalam retina Astigmatisme dibagi menjadi 1.Astigmatisme Reguler Dimana didapatkan dua titik bias pada sumbu mata karena adanya dua bidang yang saling tegak lurus pada bidang yang lain sehingga pada salah satu bidang memiliki daya bias yang lebih kuat dari pada bidang yang lain. a.Astigmatisme With the Rule Bila pada bidang vertical mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang horizontal. b.Astigmatisme Against the Rule Bila pada bidang horizontal mempunyai daya bias yang lebih kuat dari pada bidang vertikal 2.Astigmatisme Irreguler Dimana titik bias didapatkan tidak teratur Berdasarkan letak titik vertical dan horizontal pada retina Astigmatisme dibagi : 1.Astigmatisme Miopia Simpleks 2.Astigmatisme Miopia Kompositus 3.Astigmatisme Hiperopia Simpleks 4.Astigmatisme Hiperopia Kompositus 5.Astigmatisme Mixtus DIAGNOSIS Refraksi Subjektif 1.Trial and Error 2.Pemeriksaan Fogging Technique dengan grafik Astigmatisme 3.Cross Cylinder Technique Refraksi Objektif 1.Retinoskopi 2.Refraktometri 3.Topografi kornea 4.Keratometri PENATALAKSANAAN 1.Kaca Mata 2.Lensa Kontak 3.LASEK 4.Astigmatisme Keratotomy PRESBIOPIA

BATASAN Suatu kelainan refraksi simana hilangnya daya akomodasi terjadi bersamaan dengan proses penuaan. PATOFISIOLOGI Adanya proses penuaan membuat daya akomodasi lensa menjadi semakin lemah. GEJALA KLINIS 1.Pengelihatan kabur pada jarak dekat maupun jarak jauh. 2.Kesulitan pada waktu membaca dekat huruf dengan cetakan kecil, untuk membaca lebih jelas maka penderita cenderung menegakkan punggungnya atau menjauhkan objek yang dibacanya 3.Pengelihatan kabur bertambah seiring dengan usia. DIAGNOSIS 1.Kartu SNELLEN 2.Kartu Jaeger PENATALAKSANAAN 1.Kaca Mata bifocal atau trifokal Dengan pedoman bila diatas 40 tahun ditambah S+1.00 dan setiap 5 tahun diatasnya ditambah S+0.50 2.Conductive Keratoplasty