Anda di halaman 1dari 238

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Teori umum II.1.1 Pengertian Steril 1. Sterile Dosage Form; 37 Steril adalah suatu kondisi absolut dan harus tidak pernah digunakan atau dianggap secara relatif sebagai bahan atau hampir steril. 2. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1470 Steril adalah tidak adanya mikoroorganisme yang aktif. 3. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 399 Steril adalah bebas dari pencemaran mikroorganisme. 4. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy; 619 Steril mengindikasikan suatu kondisi yang mungkin terbebaskan dari mikroorganisme hidup yang dapat muncul dari metode, wadah dan rute pemberian dengan suatu pembatasan, kemungkinan tersebut tidak lebih 1 bagian non steril dalam sejuta bagian steril. 5. Kamus Saku Kedokteran: 1020 Steril didefiniskan sebagai keadaan yang tidak dapat menghasilkan keturunan, disebut juga barien atau aseptik. 6. Radiofarmasi: 92

Steril adalah batasan absolut yang menyatakan bebas dari mikroba yang hidup. Hidup artinya kemampuan berkembang biak. Kesimpulan : Steril adalah suatu kondisi absolut (2) di mana bebas dari mikroorganisme hidup (5, 19) yang dapat muncul dari metode, wadah dan rute pemberian (11) dengan suatu pembatasan, kemungkinan tersebut tidak lebih 1

bagian non-steril dalam sejuta bagian steril (11).

II.1.2 Definisi sterilitas 1. Remingtons Pharmaceutical Practise 18th Edition; 1470 Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan farmasetik bebas dari mikroorganisme hidup karena metode, wadah atau rute pemakaian. 2. Sterile Dosage Form; 15 Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan-sediaan farmasetik ini karena metode, wadah atau rute pemakaian. 3. Textbook of Pharmaceutics; 526 Sterilitas dapat didefinisikan sebagai tidak adanya kehidupan dari mikroorganisme dalam berbagai kondisi. 4. Dispensing Of Medication by Robert King; 165 Sterilitas menunjukkan tidak adanya kontaminasi makhluk hidup pada suatu sediaan parenteral. 5. Parenteral Technology Manual; 120

Sterilitas merupakan konsep mutlak dimana suatu produk hanya steril atau tidak steril. 6. Pharmaceutical Dosage Form by Aulton; 473

Sterilitas didefinisikan sebagai ketidakhadiran dari semua bentuk mikroorganisme. Kesimpulan : Sterilitas adalah karakteristik yang diisyaratkan untuk sediaan farmasetik (2, 5) bebas dari mikroorganisme hidup (18, 22) karena metode, wadah, atau rute pemakaian (2,5).

II.1.3 Definisi sterilisasi 1. Scovilles The Art of Compounding; 403

Sterilisasi adalah suatu proses membunuh atau menghilangkan bakteri dan mikroorganisme lain. 2. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 410

Sterilisasi adalah suatu proses seperti yang dilakukan terhadap sediaan farmasetik berarti penghancuran sempurna seluruh

mikroorganisme dan sporanya atau penghilangan mikroorganisme dari sediaan. 3. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy; 619

Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menghasilkan keadaan steril. Secara tradisional, keadaan steril adalah kondisi mutlak yang

tercipta

sebagai

akibat

penghancuran

dan

penghilangan

semua

mikroorganisme. 4. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics; 274 Sterilisasi adalah proses pembunuhan atau penghilangan

mikroorganisme dan spora yang hidup. 5. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1470

Sterilisasi adalah suatu proses dimana semua bentuk organisme hidup dihilangkan atau dirusak fungsinya yang mungkin. 6. Mikrobiologi Farmasi Dasar; 230

Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh atau memusnahkan semua mikroorgansime atau jasad renik yang ada, sehingga jika ditumbuhkan di dalam suatu medium tidak ada lagi mikroorganisme atau jasad renik yang dapat berkembang biak. 7. Dispensing Of Medication by Martin; 592 Sterilisasi adalah biasanya didefinisikan sebagai pemusnahan keseluruhan atau menghilangkan semua jenis-jenis kehidupan dari material-material. 8. Parenteral Technology Manual; 120

Sterilisasi adalah menghilangkan atau memusnahkan semua bentuk kehidupan suatu bahan dari benda atau material. 9. Textbook Of Pharmaceutics; 526

Sterilisasi adalah keseluruhan proses dimana sterilisasi dicapai. Entah disebabkan oleh bahan fisika atau kimia, ini merupakan proses umum

untuk memusnahkan, dan kedinamisan dari proses ini sama dengan desinfeksi. 10. Pharmaceutical Dosage Form by Aulton; 473

Sterilisasi adalah proses untuk mencapai keadaan steril dan itu dikarenakan proses tersebut memindahkan/menghancurkan semua

bentuk kehidupan, berupa bakteri (termasuk spora bakteri), jamur, virus, riketsia, dan mikoplasma. 11. Radiofarmasi; 92

Sterilisasi adalah proses untuk mencapai keadaan steril melalui cara: Panas kering dan basah Dingin zat kimia, filter, radiasi gas 12. The Art, Science and Technology of Pharmaceutical

Coumpounding; 74 Sterilisasi adalah proses dari penghancuran atau eliminasi

mikroorganisme yang hadir pada obyek atau sediaan. Kesimpulan : Sterilisasi adalah suatu proses mengurangi, menghilangkan,

menghancurkan, membunuh (6, 7, 11, 16, 17,18, 19, 23) mikroorganisme dan spora yang hidup (6, 18, 19, 23) dari sediaan, bahan atau material ( 16, 17, 19) untuk menghasilkan keadaan yang steril (11, 18, 22).

II.1.4 Definisi-Definisi

1. a.

Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1470 Antiseptika pertumbuhan adalah bahan untuk menahan atau

mencegah

mikroorganisme

dengan

menghambat

aktivitas mikroorganisme tanpa perlu menghancurkan mikroorganisme tersebut. b. Bakteriostatika adalah apapun yang dapat menahan

atau memperlambat pertumbuhan bakteri. c. mikroba. d. Germisida adalah sebuah bahan yang dapat membunuh Bakterisida adalah apapun yang dapat membunuh

mikroorganisme yang menyebabkan penyakit tertentu tetapi tidak spora bakterinya. e. f. Virusida adalah bahan yang dapat membunuh virus. Desinfeksi adalah sebuah proses memindahkan potensi

infeksi dengan menghancurkan mikroorganisme namun tidak spora bakteri. Istilah ini biasanya digunakan untuk menandakan akibat aplikasi dari bahan kimia untuk mematikan objek. 2. a. Scovilles The Art of Compounding: 403 Antiseptika sebagaimana yang didefinisikan

oleh Federal Food, Drug and Cosmetic Act disadari sebagai germisida, kecuali dalam hal obat yang dijual untuk menghambat bakteri pada saat digunakan sebagai pembalut basah, salep, serbuk halus atau

untuk fungsi yang mirip yang melibatkan kontrak yang diperpanjang dalam tubuh. b. Bakteriostatika adalah bahan yang

memperlambat pertumbuhan bakteri. c. membunuh mikroba. d. membunuh kuman. e. menghancurkan virus. f. infeksi. g. membunuh fungi. h. menghancurkan jamur. 3. a. Dispensing Of Medication by Martin; 593 Antiseptika adalah bahan yang pada Mikosida adalah bahan yang dapat Fungisida adalah bahan yang dapat Desinfektan adalah bahan penghancur Virusida adalah bahan yang dapat Germisida adalah bahan yang dapat Bakterisida adalah bahan yang dapat

mikroorganisme menjadikan mereka tidak bebahaya dengan cara membunuh atau mencegah pertumbuhannya. Istilah ini digunakan untuk sediaan kimia yang digunakan untuk jaringan hidup. b. Bakteriostatika adalah bahan kimia yang

memperlambat pertumbuhan bakteri.

c. membunuh bakteri tapi. d.

Bakterisida adalah bahan kimia yang dapat

Germisida adalah bahan kimia yang dapat

membunuh mikroorganisme tapi tidak spora bakteri germisida digunakan pada jaringan hidup termasuk antiseptik atau digunakan untuk mikroorganisme yang hidup pada objek yang mati seperti

desinfektan. e. Virusida adalah bahan yang dapat

menghancurkan virus atau inaktifasi virus. f. membebaskan dari Desinfektan infeksi. adalah bahan bahan yang yang

Desifektan

biasanya

menghancurkan bakteri patogen atau mikroorganisme lain yang berbahaya, namun tidak spora bakteri. g. Sporisida adalah sebuah proses atau bahan

yang menghancurkan spora mikroba, khususnya spora bakteri. 4. a. Textbook Of Pharmaceutics; 408 Bakteriostatika adalah bahan kimia yang

memperlambat pertumbuhan bakteri. b. Bakterisida adalah bahan kimia yang mampu

membunuh mikroba. c. Germisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk

membunuh semua mikroorganisme.

d.

Fungisida adalah bahan kimia yang dapat membunuh

fungi termasuk spora. 5. a. menghambat (bakteri). b. Bakteriosida adalah zat atau bahan yang dapat Mikrobologi Farmasi Dasar; 242 Bakteriostatika adalah zat atau bahan yang dapat atau menghentikan pertumbuhan mikroorganisme

membunuh mikroorganisme (bakteri). c. Fungistatika adalah zat atau bahan yang dapat

menghentikan pertumbuhan fungi. d. Antiseptika adalah senyawa kimia yang digunakan

untuk menghambat atau mematikan mikroorganisme pada jaringan hidup, yang mempunyai efek yang membatasi dan mencegah infeksi agar tidak menjadi lebih parah. 6. a. Farmakologi dan Terapi; 534 Antiseptika adalah zat yang digunakan untuk

membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme, biasanya merupakan sediaan yang digunakan pada jaringan hidup. 7. a. Radiofarmasi; 92 Bakterisida adalah bahan untuk mempercepat

kematian bakteri. b. Bakteriostatik adalah bahan yang dapat menghambat

multiplikasi atau berkembangnya bakteri.

8. a. bakteri. b.

Obat-Obat Penting; 228 Bakterisida adalah bahan untuk mempercepat kematian

Germisida

adalah

desinfektansia

yang

digunakan

untuk

mecegah infeksi pada benda mati, dengan jalan memusnahkan hama patogen pada, misalnya alat injeksi dan alat bedah dan air minum atau kolam renang. Kesimpulan : 1. mencegah Antiseptika adalah bahan untuk menahan atau pertumbuhan mikroorganisme dengan menghambat

aktivitas mikroorganisme (7, 9, 17, 23) tanpa perlu menghancurkan mikroorganisme tersebut (5) atau dengan menjadikan mikroorganisme tidak berbahaya (17), biasanya merupakan sediaan yang digunakan pada jaringan hidup (9). 2. Bakteriostatika adalah apapun yang dapat menahan

atau memperlambat pertumbuhan bakteri tapi tidak membunuhnya (5, 7, 17, 22, 23). 3. Bakterisida adalah apapun yang dapat membunuh

mikroba tetapi tidak sporanya (5, 7, 17, 22, 23). 4. Germisida adalah sebuah bahan yang dapat

membunuh semua mikroorganisme terutama yang menyebabkan penyakit tertentu tetapi tidak spora bakterinya yang ditujukan pada benda mati maupun jaringan hidup (5, 7, 17, 22).

5. (5, 7, 17).

Virusida adalah bahan yang dapat membunuh virus

II.1.5 Metode Sterilisasi 1. A. Scovilles The Art of Compounding; 404-419 Panas kering

1) Udara panas oven Bahan yang karena karakteristik fisikanya tidak dapat disterilisasi dengan uap destilasi dalam udara panas oven. Yang termasuk dalam bahan ini adalah minyak lemak, parafin, petrolatum cair, gliserin, propilenglikol. Serbuk steril seperti talk, kaolin dan ZnO, dan beberapa obat yang lain. Sebagai tambahan sterilisasi panas kering adalah metode yang paling efektif untuk alat-alat gelas dan banyak alat-alat bedah. Ini harus ditekankan bahwa minyak lemak, petrolatum, serbuk kering dan bahan yang sama tidak dapat disterilisasi dalam autoklaf. Salah satu elemen penting dalam sterilisasi dengan menggunakan uap autoklaf. Atau dengan adanya lembab dan penembusannya ke dalam bahan yang telah disterilkan. Sebagai contoh, organisme pembentuk spora dalam medium anhidrat tidak dibunuh oleh suhu sampai 121C (suhu yang biasanya digunakan dalam autoklaf bahkan setelah

pemanasan sampai 45 menit). Untuk alasan ini, autoklaf merupakan metode yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak, produk yang dibuat

dengan basis minyak, atau bahan-bahan lain yang mempunyai sedikit lembab atau tidak sama sekali. Selama pemanasan kering, mikroorganisme dibunuh oleh proses oksidasi. Ini berlawanan dengan penyebab kematian oleh koagulasi protein pada sel bakteri yang terjadi dengan sterilisasi uap panas. Pada umumnya suhu yang lebih tinggi dan waktu pemaparan yang dibutuhkan saat proses dilakukan dengan uap di bawah tekanan. Saat sterilisasi di bawah uap panas dipaparkan pada suhu 121C selam 12 menit adalah efektif. Sterilisasi panas kering membutuhkan pemaparan pada suhu 150C sampai 170C selama 1-4 jam. Suhu yang biasa digunakan pada sterilisasi panas kering 160C paling cepat 1 jam, tapi lebih baik 2 jam. Suhu ini digunakan secara khusus untuk sterilisasi minyak lemak atau cairan anhidrat lainnya. Bagaimanapun juga rentang 150-170C digunakan untuk sterilisasi panas kering dan lain-lain, sebagai contoh : bahan-bahan gelas, dapat disterilkan pada suhu 170C, dimana beberapa serbuk seperti sulfonilamid harus disterilkan pada suhu rendah dan waktu yang lebih lama. Tambahan waktu harus diijinkan untuk bahan yang sedang disterilkan untuk mencapai temperatur dari sterilisasi udara panas. Pada beberapa bahan seperti petrolatum atau serbuk talk, setidaknya akan membutuhkan 1 atau 2 jam tambahan paparan sebelum terselesaikan tergantung jumlah yang sedang disterilkan. Hal ini terutama untuk tingkat kelambatan panas yang ditransfer melalui bahan-bahan ini. Sebagai

contoh, 30 Gm dari petrolatum atau serbuk yang disebarkan pada lapisan setebal in. Membutuhkan kira-kira 1 jam untuk mencapai 160C dalam oven udara panas. Ketika bejana 4 oz dari bahan-bahan ini dipanaskan waktu yang dibutuhkan panas untuk mempenetrasikan penambahan massa antara 2-2 jam. Karena kelambatan di mana panas berpenetrasi ke dalam serbuk dan bahan berminyak, mereka harus dibagi dalam jumlah kecil sebelum sterilisasi. Serbuk harus dalam lapisan dengan ketebalan mendekati inchi atau dalam wadah dengan kapasitas volume tidak lebih dari 30 ml. Cawan petri dan tube uji merupakan wadah yang nyaman untuk serbuk atau minyak selama sterilisasi. Wadah serbuk atau salep mungkin juga digunakan. Erlenmeyer dan botol merupakan wadah yang nyaman untuk minyak. Larutan berminyak harus disterilkan dalam jumlah kecil. Jika bahan yang ingin disterilkan merupakan bahan dengan ukuran besar, maka dibagi dalam beberapa wadah kecil, atau waktu yang lebih lama harus diperbolehkan untuk mencapai suhu sterilisasi. Perawatan harus dilakukan dalam oven udara panas. Overload harus dihindari karena hal ini menunda penetrasi panas dari bahan yang akan disterilkan. Susun bahan-bahan dengan longgar di dalam oven. Jangan membolehkan terbungkus kertas atau kapas masuk menyentuh bagian bawah dari wadah, mereka akan terbakar jika terkena kontak dengan besi yang telah dipanaskan. Alat yang tidak dilindungi oleh kertas atau kapas, seperti sumbat botol karet, peralatan makan, pipet, ampul, dan wadah logam, bisa disterilkan pada temperatur 200C selama 45

menit. Untuk menghindari keretakan dari alat gelas, proses pemanasan dan pendinginan seharusnya dilakukan bertingkat. Sementara wadah di dalam autoklaf dipanaskan pada suhu 121C dengan memasukkan uap hanya ke dalam pembungkus, autoklaf tidak digunakan untuk sterilisasi panas kering. Alasan untuk ini adalah waktu yang lama (12 jam) dibutuhkan untuk sterilisasi pada suhu relatif di bawah 121C, dan kekurangan keakuratan berarti memeriksa suhu di dalam wadah pada autoklaf. 2) Minyak dan penangas lain Bahan kimia yang stabil dalam ampul bersegel dapat disterilisasi dengan mencelupkannya, dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 162C. Larutan jenuh panas dari natrium atau ammonium klorida dapat juga digunakan sebagai pensterilisasi. Ini merupakan metode yang digunakan untuk mensterilkan alat-alat bedah. Minyak dikatakan bereaksi sebagai lubrikan, untuk menjaga alat tetap tajam, dan untuk memelihara cat penutup. 3) Api langsung Pemijaran langsung digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas, filter logam Bekerfield dan filter bakteri lainnya. Mulut botol, vial, dan labu ukur, gunting, jarum logam dan kawat, dan alat-alat lain yang tidak hancur dengan pemijaran langsung. Papan salep, lumpang dan alu dapat disterilisasi dengan metode ini. Dalam berbagai keadaan waktu yang paling lama adalah 20 detik. Dalam keadaan darurat ampul dapat

disterilisasi dengan memposisikan bagian leher ampul ke arah bawah lubang kawat keranjang dan dipijarkan langsung dengan api dengan hatihati. Setelah pendinginan, ampul harus segera diisi dan disegel. B. Panas lembab

1) Uap bertekanan Penggunaan uap bertekanan atau metode sterilisasi yang paling umum memuaskan dan efektif yang ada. Ini adalah metode yang diinginkan untuk sterilisasi larutan yang ditujukan untuk injeksi pada tubuh, pembawa pada sediaan mata, bahan-bahan gelas untuk penggunaan darurat, pakaian dan alat kesehatan dan benda-benda karet. Kerugian yang paling utama dari penggunaan uap ini adalah ketidaksesuaiannya untuk penggunaan pada bahan sensitif terhadap panas dan kelembaban. Metode ini tidak dapat digunakan untuk sterilisasi misalnya, produk yang dibuat dari basis minyak dan serbuk. Uap jenuh pada 121C mampu membunuh secara cepat semua bentuk vegetatif mikroorganisme hidup dalam waktu 1 atau 2 menit. Uap jenuh ini dapat menghancurkan spora vegetatif yang tahan terhadap pemanasan tinggi. Keefektifan sterilisasi uap bertekanan tergantung pada 4 sifat dari uap jenuh kering yaitu : 1. 2. 3. 4. Suhu Panas tersembunyi yang berlimpah Kemapuan untuk membentuk kondensasi air Kontraksi volume yang timbul selama kondensasi

Keempat sifat ini cocok pada level optimal hanya pada saat gas dalam fase batas antara gas dan kondensatnya pada temperatur yang sama. Efek sterilisasi gas pada saat melewati fase batas

Pada saat uap pada tekanan atmosfer tidak pernah melebihi suhu 100C, jika dibatasi di antara wadah dari autoklaf temperatur meningkat jika tekanan dinaikkan. Tekanan hanya membuat pencapaian temperatur tinggi terjadi. Ini tidak ada hubungannya dengan sifat membunuh dari uap. Juga penting untuk diingat bahwa hanya tekanan yang didesak oleh uap yang sensitif; tekanan udara tidak efektif. Untuk alasan ini, udara seharusnya dihilangkan dari autoklaf untuk memastikan sterilisasi efektif. Uap bertekanan membunuh bakteri dan spora dengan koagulasi protein dari badan sel. Dengan adanya uap, koagulasi terjadi pada temperatur

yang lebih rendah ketika udara panas kering digunakan. Pada metode panas kering, kematian bakteri disebabkan oleh proses oksidasi. Panas yang tersembunyi dibentuk ketika pemanasan dilanjutkan setelah air telah mencapai suhu didihnya, untuk tekanan partikulat terlibat. Ini hanya ketika panas total telah ditingkatkan sebanyak kelipatan limanya ketika diuapkan. Uap terbentuk pada fase batas mempunyai fase yang sama dengan air mendidih pada saat terbentuknya, namun ini mengandung kelipatan panas yang tersembunyi, tanpa tetesan pada temperatur, merupakan keadaan yang cocok pada saat ada kontak dengan permukaan yang lebih dingin. Sebagai contoh, jika dibutuhkan 180 Btu panas untuk meningkatkan temperatur 1 pound air dari 32F212F, dibutuhkan tambahan panas latent 971 Btu untuk membentuk uap pada tekanan atmosfer. Kemampuan besar dari jumlah panas latent merupakan faktor penting dalam sterilitas efektif. Pada saat uap yang mengalami kontak dengan bahan yang disterilkan mengalami kondensasi dan dipindahkan dengan cepat panas tersembunyinya pada permukaan dari bahan, panas dari uap ditahan dengan kondensasi, jadi jika tidak ada tetesan dalam temperatur lokal selama kondensasi. Panas latent dan kondensasi penting dalam sterilisasi pembentukannya merupakan tenaga pembunuh uap sementara yang kemudian menyediakan hidrasi esensial dan faktor koagulasi. Pada umumnya, sel bakteri dengan presentasi air yang besar dibunuh dengan relatif mudah. Spora, yang mengandung presentasi air yang relatif rendah,

cukup sulit untuk dibunuh. Kehadiran air penting untuk mengefektifkan sterilisasi. Kontraksi volume terjadi selama sterilisasi ketika uap bersentuhan dengan bahan yang disterilkan. Karena permukaannya lebih dingin, hal ini menyebabkan uap lebih cepat masuk melalui uap air, batas fase air dan penguapan, dan pada waktu yang sama memberikan semua panas tersembunyinya. Sebagai contoh, 865 ml uap berkontraksi untuk memberikan 1 ml kondensat, memberikan 524 gram kalori panas pada bahan yang sedang disterilkan. Kontraksi ini menghasilkan tetesan lokal dalam tekanan yang akan menghasilkan penarikan lebih banyak uap pada permukaan yang sedang disterilkan. Proses ini berlanjut sampai obyek mencapai suhu ekuilibrium. Kontraksi volume uap selama proses sterilisasi sangat penting dalam sterilisasi pakaian bedah dan bahan berpori lainnya di mana penetrasi uap dari bahan dengan jumlah besar terlibat di dalamnya. Waktu yang dibutuhkan untuk sterilisasi uap bertekanan

merupakan total waktu pemanasan atau penetrasi dan waktu pemaparan, di mana masing-masing tergantung pada suhu yang sedang digunakan. Suhu pada 121C dengan waktu pemaparan minimal 12 menit umumnya diterima sebagai perhitungan yang cocok dalam waktu sterilisasi untuk kebanyakan sediaan farmasetikal dan untuk persediaan pembedahan. Waktu pemanasan atau penetrasi merupakan waktu yang dibutuhkan oleh bahan untuk mencapai 121C setelah termometer autoklaf merekam suhu

itu. Waktu ini akan bervarias karena, sebagai contoh, dengan volume larutan yang sedang disterilkan. Demikian, erlenmeyer Pyex 50 ml terdiri dari air membutuhkan waktu penetrasi 2 menit, sementara erlenmeyer 1000 ml membutuhkan kira-kira 12 menit untuk mencapai suhu 121C setelah termometer autoklaf merekam suhu ini. Waktu sterlisasi untuk erlenmeyer 50 ml akan menjadi 2 + 12 atau 14 menit, sementra erlenmeyer 1000 ml akan membutuhkan 12 + 12 atau 24 menit. Tabel di bawah ini menunjukkan hubungan antara tekanan dan temperatur dan waktu pemaparan umum untuk sterilisasi uap bertekanan. Penting untuk diingat bahwa waktu yang direkomendasikan harus ditambahkan pada waktu tambahan yang dibutuhkan panas untuk penetrasi bahan-bahan yang disterilkan. Tekanan 10 lb. 15 lb. 20 lb. 2) Sterilisasi larutan Sterilisasi larutan untuk injeksi melibatkan penggunaan berbeda dari uap bertekanan daripada sterilisasi alat atau pakaian. Larutan itu sendiri mengandung kelembaban yang diperlukan, jadi masalahnya adalah menyerap panas yang cukup dari gas. Sementara larutan sedang dipanaskan di bawah tekanan akan tidak ada luapan cairan walaupun melalui temperatur jauh dalam kelebihan titik didih normal air. Alasan untuk hal ini adalah tekanan gas Temperatur 115,5C (240 F) 121,5C (250 F) 126,5C (260 F) Waktu 30 menit 12 menit 9 menit

dari wadah selalu sama, atau berkelebihan, tekanan berkembang oleh larutan. Namun setelah, kecuali tekanan wadah dikurangi perlahan, larutan akan mendidih dengan keras, dimana tutup wadah akan keluar dan cairan akan hilang. Adapun untuk menghindari pendidihan cairan, tekanan harus dibolehkan untuk tingkat normal lebih dari 10-12 menit. Waktu yang diperpanjang dari pendinginan tidak diinginkan sejak bahan larutan kimia, rusak karena pemaparan terlalu lama dengan suhu tinggi. Larutan mungkin disterilkan dalam botol, vial, bejana, ampul tersegel, atau erlenmeyer. Wadah harus dibuat dari gelas keras dan netral, jika mungkin. Jika mungkin, tipe I gelas U.S.P harus dipakai untuk larutan parenteral. Ini resisten tinggi dan biasanya gelas borosilikat. U.S.P. juga mengenali tipe II, III, dan IV. Penggunaan wadah gelas lembut membolehkan jumlah besar larutan alkali yang cocok menghadapi beberapa kesulitan. larutan Kehadiran dekstrosa, alkali dalam gelas mempercepat yang tidak

karamelisasi

membawa

perubahan

diinginkan pada konsentrasi ion hidrogen dalam larutan lain, dan mungkin mengakibatkan pelepasan partikel silika, terutama ketika garam alkali dipanaskan pada gelas lembut. Walaupun gelas Pyrex lebih sering diinginkan namun lebih mahal. Tersedia beberapa merek wadah gelas yang keras dan netral. Mereka mungkin dibeli dengan kisaran ukuran 1 ml sampai beberapa ratus milimeter, diadaptasi untuk mengambil tutup karet diafragma untuk membolehkan penarikan dosis ganda; atau wadah membuat tutup bergalur mungkin digunakan; atau ampul bisa dibuat.

Pada saat wadah dosis ganda digunakan, larutan harus mengandung bahan bahan bakteriostatika menyadari metode sterilisasi, sampai cara yang disarankan dalam monograph. Erlenmeyer atau gelas FlorenceI juga bisa digunakan sebagai wadah dalam striliasasi cairan. Garis dari tutup berliku sangat penting. Beberapa penggaris mempunyai penutup plastik yang didisintegrasi di bawah tekanan panas dan jatuh pada larutan. Yang lainnya menahan panas di bawahnya; penggaris yang disusunkan adalah pensil minyak coklat muda stabil panas. Selama strelisasi tutup berliku harus ditutup rapat-rapat. Ketika tutup karet digunakan, mereka harus ditempatkan dalam tempat yang berat, atau wadah ditempatkan dalam peralatan spesial untuk

menghindari banyak tutup berliku yang keluar dari botol. Erlenmeyer atau gelas Florence ditutup dengan koyakan kertas dibawa leher yang kuat, kertas dengan permukaan halus. Katun bukan penutup botol yang dgunakan. Katun tidak cocok sebagai penutup kain tiras yang mungkin jatuh pada larutan. Jika kertas digunakan, akan ada 3 sampai 5 % kehilangan cairan selama evaporasi. Bagaimanapun, jika sepotong kecil karet terkoyak kertasnya, kehilangan selama evaporasi dihindari. c) Uap panas pada 100C Uap panas pada suhu 100C dapat digunakan dalam bentuk uap mengalir atau air mendidih. Metode ini mempunyai keterbatasan penggunaan uap mengalir dilakukan dengan proses sterilisasi bertingkat untuk mensterilkan media kultur. Metode ini jarang memuaskan untuk

larutan yang mengandung bahan-bahan karena spora sering gagal tumbuh dibawah kondisi ini, bentuk vegetatif dari kebanyakan bakteri yang tidak membentuk spora. Temperatur titik mati bervariasi, tetapi tidak ada bentuk nonspora yang bertahan. Bentuk vegetatif dari kebanyakan patogen dihancurkan dengan pemanasan dengan adanya kelembaban pada 55-60C selama 10 menit. Ini diartikan sebagai titik mati panas dari kebanyakan bakteri bukan pembentuk spora, temperatur yang paling rendah ditemukan bersifat destruktif pada bentuk vegetatif pada bakteri. Titik mati panas bervariasi, namun bentuk spora bisa bertahan pada suhu 80C selama 30 menit dengan adanya kelembaban. Harus ditekankan bahwa spora tidak dibunuh pada gas mengalir atau air mendidih sampai beberapa pemaparan dibuat pada interval yang diinginkan. Dalam prakteknya, 2 metode uap mengalir digunakan, suatu perpanjangan pemaparan uap selama 20-60 menit akan membunuh semua bentuk vegetatif bakteri tapi tidak akan menghancurkan spora. Untuk meyakinkan penghancuran spora, sterilisasi berjeda yang juga disebut sterilisasi fraksinasi, penyelaan, penghentian atau Tindalisasi digunakan. Penjedahan dan bertahap adalah tindalisasi digunakan. Dengan metode ini bahkan dipaparkan pada uap mengalir pada periode waktu bervariasi dari 20-60 menit setiap hari selama 3 menit. Antara pemaparan bahan terhadap uap yang disimpan pada suhu kamar atau pada inkubator pada 37C atau suhu kamar.

Prinsip dari metode ini adalah pada saat waktu pertama kali pemaparan pada uap membunuh bakteri vegetatif tapi tidak sporanya. Tapi pada saat bahan disimpan pada inkubator atau pada suhu ruangan selam 24 jam, banyak spora akan tumbuh ke dalam bentuk vegetatif bentuk spora yang telah tumbuh ini akan dimatikan pada pemanasan hari kedua. Kesuksesan dari proses ini tergantung pada spora yang berkembang ke bentuk vegetatif selama masa istirahat. Pertumbuhan seperti itu akan terjadi jika tersedia kondisi optimal seperti adanya bahan nutrien, pH yang cocok, dan adanya bahan bakteriostatik. Metode ini jarang digunakan untuk sterilisasi sediaan farmasi. Alat yang digunakan untuk sterilisasi dengan uap bebas aliran adalah alat pensteril Arnold, yang dibangun dengan dasar palsu sehingga volume minimal air dipanaskan untuk menghasilkan uap dengan cepat, sementara tangki utama diisi secara konstan dengan air dari penguapan yang dikumpulkan oleh pembungkus luar. Bagi farmasis yang hanya sesekali menggunakan metode sterilisasi ini, alat sederhana yang terdiri dari panci atau belanga logam mungkin digunakan. Ini disusun dengan sebuah alas palsu yang terdiri dari pelat seperti logam yang diangkat pada sokongan logam, pada tempat di mana bahan yang akan disterilisasikan ditempatkan. Teknik sterilisasi dengan uap mengalir sederhana. Bahan, dalam wadah tersegel, ampul, atau botol ditempatkan dalam alat pensteril sebelum dan sesudah uap mulai mengalir. Penting untuk mencatat waktu

hanya pada saat setelah isi wadah telah mencapai suhu yang diinginkan, dan kemudian untuk memperoleh suhu untuk periode waktu yang ditentukan. Setelah panas dihentikan dan alat pensteril didinginkan, bahan bisa dikeluarkan. 4) Pemanasan dengan bakterisida Ini menghadirkan aplikasi khusus dari pada uap panas pada 100C. Adanya bakterisida sangat meningkatkan efektifitas metode ini. Metode ini digunakan untuk larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil pada temperatur yang biasa diterapkan pada autoklaf. Larutan yang

ditumbuhkan bakterisida ini dipanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100C selama 20 menit dalam pensterilisasi uap atau penangas air. Bakterisida yang dapat digunakan termasuk 0,5%, fenol, 0,5% klorbutanol, 0,2% kresol atau 0.002% fenil merkuri nitrat. Saat larutan dosis tunggal lebih dari 15 ml larutan obat untuk injeksi intratekal atau gastro intestinal sehingga tidak dibuat dengan metode ini. 5) Air mendidih Penangas air mendidih mempunyai kegunaan yang sangat banyak dalam sterilisasi jarum spoit, penutup karet, penutup dan alat-alat bedah. Bahan-bahan ini harus benar-benar tertutupi oleh air mendidih dan harus mendidih paling kurang 20 menit. Setelah sterilisasi bahan-bahan dipindahkan dan air dengan pinset yang telah disterilisasi menggunakan pemijaran. Untuk menigkatkan efisiensi pensterilan dari air, 5 % fenol, 1-

2%

Na-karbonat

atau

2-3%

larutan

kresol

tersaponifikasi

yang

menghambat korosi bahan-bahan logam. C. Penyaring bakteri Larutan dapat dibebaskan dari mikroorganisme vegetatif dan sporanya melalui filter bakteri. Filter bakteri tidak dapat membebaskan larutan dari virus; bagaimanapun alat ini tidak mengurangi jumlah virus. Pada prinsipnya dengan absorbsi ke dalam dinding filter dan dengan menghilangkan partikel kasar dari bahan yang mengandung virus. Sterilisasi dengan filter bakteri digunakan untuk larutan farmasetik atau bahan biologi yang dipengaruhi oleh pemanasan. Berbeda dengan metode filtrasi lain, filter bakteri ditujukan untuk filtrat bebas bakteri. Metode sterilisasi ini membutuhkan penggunaan teknik aseptik yang benar. Sediaan obat yang disterilkan dengan metode ini membutuhkan penggunaan bahan bakteriostatik kecuali diarahkan lain. Larutan yang ditujukan untuk injeksi intratechal atau merupakan larutan dosis tunggal intravena dengan volume lebih dari 15 ml tidak boleh ditambahkan bahan bakterisid. Parafin cair dan minyak lain, tidak disterilkan dengan metode ini karena dapat meningkatkan permeabilitas dari filter terhadap bakteri. Untuk dapat membuat larutan bebas bakteri dan steril, digunakan filter dengan berbagai tipe. Tipe ini termasuk filter yang terbuat dari silikon murni, porselin, asbes, dan glass-fritted. Karena alat-alat ini mudah dibersihkan, filter Seitz yang menggunakan lapisan asbes dan fliter

Fritted-Glass mungkin lebih berguna untuk farmasis, yang kadang-kadang dibutuhkan untuk menyaring larutan dalam jumlah kecil. Mekanisme filtrasi bakteri kompleks. Meskipun ukuran pori filter penting, tapi bukan itu saja kriteria untuk keefektifan filtrasi. Filter dengan pori lebih kecil menghilangkan bakteri tetapi beberapa filtrasi sangat lambat untuk tujuan praktek. Dengan meningkatkan ketebalan filter lilin memungkinkan untuk mencapai efisiensi filtrasi, tetapi kerugiannya adalah bahwa kebanyakan bahan aktif dari larutan dihilangkan dengan

penyerapan oleh lilin. Bagaimanapun, dengan mengatur ukuran pori dan ketebalan filter yang optimum, mungkin diperoleh filter yang efisien dan baik secara cepat. Faktor lain dilibatkan dalam filtrasi bakteri termasuk keseimbangan permukaan antara bahan filter dan bakteri dalam larutan, suhu, tekanan yang digunakan, waktu filtrasi, muatan elektrik filter, pH bahan yang difiltrasi, dan adsorbsi protein dan bahan lain. Filter Seitz Filter ini dibuat dari bahan asbes yang dijepit pada dasar wadah besi. Keuntungan utama dari filter Seitz ini adalah lapisan filter dapat dibuang setelah digunakan dan masalah pembersihannya berkurang. Efisiensi tergantung pada pengembang serat dari lapisan filter dari air. Karena larutan alkohol pekat tidak membuat mengembang, filter ini tidak digunakan untuk mensterilkan larutan yang mengandung alkohol dalam jumlah besar.

Filter ini mampu dengan volume dari 30 ml hingga lebih dari 100 ml. Kerugian pertama dari filter ini adalah cenderung memberikan komponen magnesium pada filtrat. Bahan alkali ini dapat menyebabkan konsentrasi pengendapan alkaloid bebas dari garamnya dan dapat menginaktifkan seperti insulin, ekstrak pituari, epinefrin dan apomorfin. Hal ini dapat diatasi dengan perawatan pertama filter dengan dibasahkan dengan HCl lalu dibilas dengan air. Kerugian kedua dari Seitz adalah permukaan serat pada lapisan filter membuat larutan tidak cocok untuk injeksi. Ini dapat diatasi dengan menempatkan ayakan dari nilon atau sutra di bawah lapisan filter sebelum menempatkan lapisan dalam filter, atau sebuah filter glass fritted dapat ditempatkan pada saluran keluar untuk menghilangkan serat. Filter seitz ini juga cenderung untuk menghilangkan bahan dari filtrat bahan adsorbsi. Filter Swinny Sebuah adaptasi dari filter seitz, filter swinny mempunyai adat terkhusus yang terdiri dari lapisan asbes, bersama dengan screen dan pencuci. Utamanya untuk digunakan filter Swinny dibungkus dengan kertas dan diautoklaf. Bagian yang dipasang dihubungkan pada spoit Luer-Lok dan cairan dimasukkan melalui disk asbes dengan

menggunakan tekanan pada saluran spoit. Filter Fritted-Glass Filter Fritted-Glass disusun dari dasar serbuk, tombol bulat dari gelas digabung bersama dengan penggunaan panas untuk menentukan

sebelumnya ukuran dalam bentuk disk. Permeabilitas filter barbanding secara tidak langsung dengan ukuran butiran. Setelah disk dibentuk, kemudian disegel dengan pemanasan ke dalam corong gelas Pyrex dibentuk seperti corong buchner. Filter Fritted-Glass yang baru harus dicuci dengan penghisap dengan HCl panas dan kemudian dibilas dengan air sebelum digunakan. Filter dapat dibersihkan dengan membilasnya dengan air di bawah tekanan. Jika air tidak dapat membersihkan filter, suatu konsentrasi larutan asam sulfat mengandung 1 % sodium nitrat dipanaskan pada suhu 80oC dapat digunakan. Filter fritted dirancang utamanya untuk filtrasi vakum. Jika digunakan filtrasi dibawah tekanan, perbedaan maksimum pada diks harus tidak boleh dari 15 pon per inci persegi (p.s.i). Filter Berkefeld & Mandler Tes bentuk tube filter pembanding ini, yang dihubungkan dengan dasar logam dan saluran keluar tubuh adalah sama pada keduanya. Filter Mandler dibuat dari silikat murni, asbes, dan kalsium sulfat (gips dari paris); filter Berkefeld terdiri dari silika murni. Kedua filter ini bermuatan negatif. Fitlrer ini tersedia dalam beberapa tingkatan porositas

berdasarkan pada permeabilitas terhadap air, pada Berkefeld atau pada Mandler berdasarkan pada jumlah tekanan air dalam pon yang dibutuhkan untuk mendorong udara melalui saluran keluar melawan air. Saluran Berkefeld dan Mandler dibersihkan dengan menggunakan air destilasi melalui saluran dari luar ke dalam diikuti dengan menggosok

bagian luarnya menggunakan sikat dalam aliran air. Saluran Berkefeld dan Mandler dapat disterilkan dengan autoklaf pada 121oC selama 20 menit. Tabung harus dibungkus dengan kain atau kertas secara langsung setelah dibilas dan saat masih basah sebelum ditempatkan di autoklaf. Kehadiran kelembaban akan dengan cepat dan mendistribusikan panas di antara silinder dan melindungi cracking pada semen. Autoklaf harus dingin sebelum silinder dipindahkan. Dalam keadaan darurat, filter bisa disterilkan dengan air mendidih selama 1 jam. Ini lebih diinginkan untuk memiliki unit yang tersedia untuk penggunaan darurat. Dalam hal ini, filter lilin bisa digunakan dan dikoyakkan dengan mantel gelas yang bersifat sebagai wadah untuk larutan yang disterilkan. Ini mungkin disterilkan sebagai unit, atau jika lebih disukai, peralatan yang lebih lengkap mungkin dibuat dengan memasukkan logam tipis filter lilin ke dalam tutup karet dalam penerimaan gelas dan semua unit yang disterilkan. Filter Selas Filter porselen buatan Amerika sekarang tersedia dengan nama filter porselen mikropori Selas. Filter ini secara kimia inert, menjadi tahan terhadap semua larutan yang tidak menyerang silika. Karena partikel individu terdiri dari partikel filter dikumpul bersama selama proses pembuatan, ada bahaya kecil dari partikel yang berasal dari kejatuhan filter ke dalam larutan. Saluran filter Selas dapat dibersihkan dengan menggosoknya dengan sikat, dengan membilas, pencucian, dengan menggunakan alkali

atau detergen asam atau dengan pemanasan dalam tungku di laboratorium pada temperatur maksimum 1200oC dan dapat disterilkan dengan autoklaf. Saluran Filter Chamberland Pasteur Filter ini mempunyai bentuk yang mirip dengan Berkefeld tetapi filter ini terbuat dari porselen penyerap yang tidak berlapis dengan pori-pori kecil yang menghasilkan filtrasi yang lambat. Lilin ini tersedia dalam 9 porositas dari L1 sampai L9, L5 merupakan salah satu yang digunakan khususnya dalam bidang farmasetikal. Filter ini dapat dibersihkan dan disterilkan dengan cara yang sama dengan yang digunakan untuk saluran Berkefeld. Filter Doulton dibuat dari porselin berpori yang bukan gelas dan mirip dengan filter Pasteur-Chamberland. 2. 282 A. Uap bertekanan Adanya mikroorganisme lembab dihancurkan pada suhu rendah daripada dalam panas kering. Sterilisasi uap bertekanan dilakukan di dalam autoklaf, dengan wadah terselubung untuk memelihara atmosfer yang tersaturasi gas di atas 100C. Uap adalah air tanpa udara bertekanan. Tekanan atmosfir mempunyai suhu 100C. Tekanan autoklaf membolehkan hasil yang dicapai dari temperatur lembab panas yang lebih tinggi, misalnya temperatur dari uap jenuh pada 15 p.s.i adalah 121,5C. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics; 274-

Uap memberikan panas tersembunyinya pada obyek yang sedang disterilisasi dan diubah menjadi air pada suhu yang sama. Panas tersembunyi diabsorpsi oleh obyek sampai obyek dipanaskan pada suhu yang sama dengan uap, setelah tidak ada lagi pertukaran uap dan penguapan lebih jauh. Pertukaran panas oleh uap lebih cepat daripada melalui panas kering. Uap superpanas tidak memuaskan. Walaupun penguapan terjadi selama tingkat awal panas dengan uap superpanas, air kemudian diuapkan kembali, dan proses steriliasasi menjadi salah satu dari uap panas, untuk kondisi yang berbeda dan suhu sterilisasi lebih tinggi. Karena variasi suhu dengan tekanan, autoklaf dilengkapi dengan pengukur tekanan yang mengindikasikan tekanan. Jika suhu ditarik dari hubungan tekanan-suhu pada uap jenuh, kehadiran udara pada autoklaf memberikan suhu yang keliru, karena udara dan uap mendesak tekanan sebagiannya masing-masing, misalnya 50 % udara pada p.s.i memberikan suhu 112 menggantikan 121. Sebuah autoklaf kedap udara, wadah yang terbungkus dilengkapi dengan pintu, katup uap, katup tempat pembuangan gas, tempat pemasukan udara, pengukur tekanan dan suhu, dan katup yang aman untuk melindungi dari ledakan. Seperti alat pemasak yang menggunakan tekanan, sistem operasi manual, atau sistem siklus operasi otomatis ulang.

keseluruhan

secara

elektronik

dengan

yang

diatur

Penggunaan autoklaf dalam siklus sterilisasi adalah pemasukkan,

menaikkan muatan pada suhu dan tekanan yang cocok, sterilisasi, dan pendinginan dan tidak memuat lagi. Sangat penting bahwa uap mempunyai akses pada semua bagian dari bahan yang disterilkan. Muatan harus dibungkus untuk membolehkan aliran udara. Ampul seharusnya tidak ditumpuk acak namun diatur dalam sebuah nampan yang tidak menghambat aliran udara. Setelah autoklaf dimasukkan dengan barang-barang, uap

dimasukkan ke dalam pembungkus uap dengan koneksi pada wadah tertutup. Pada saat tekanan 15 sampai 20 p.s.i, uap diterima pada wadah dengan katup tempat pembuangan gas terbuka. Pada hampir semua autoklaf, uap masuk dari bagian atas wadah dan menyapu udara keluar melalui katup tempat pembuangan gas dengan penempatan di bawahnya. Tempat pembuangan gas dan thermometer ditempatkan pada bagian bawah autoklaf untuk memastikan pengeluaran sempurna udara.

Pengeluaran udara pentina karena (1) campuran udara dan uap menghasilkan suhu yang lebih rendah daripada uap murni pada tekanan yang diberikan, (2) saku lokal atau lapisan penyembunyi udara mempenetrasikan uap melalui muatan, dan (3) pembungkus uap pada suhu sterilisasi normal akan menyebabkan superpanas dari campuran udara-uap. Ketika aliran udara berat dari uap keluar dari katup pembuangan udara mengindikasikan bahwa udara telah digantikan dan suhu telah mencapai 100C, katup pembuangan udara ditutup dan tekanan udara

bertambah hingga 15 p.s.i. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu temperatur tergantung dari ukuran muatan, kapasitas panasnya, dan tingkat penetrasi uap. Waktu pada autoklaf merupakan rangkuman waktu sterilisasi dan waktu yang diperlukan untuk mencapai suhu sterilisasi. Dalam industri farmasetikal, pemeriksaan suhu ditempatkan pada beberapa lokasi di antara muatan, dan suhu selanjutnya direkam selama proses sterilisasi. Kehadiran bahan kesehatan dan pengawet mungkin memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk sterilisasi. Sebenarnya tiap produk diuji sterilisasi untuk mendemostrasikan uji daya tahan untuk produk individual. Kebanyakan larutan farmasetikal disterilkan dengan waktu sterilisasi 20 menit pada 15 p.s.i, misalnya 121C. Setelah sterilisasi, katup pembuangan dibuka untuk memperlambat dan mengurangi secara tetap mengurangi tekanan pada tekanan atmosfer, dan katup uap ditutup. Jika tekanan tiba-tiba diubah, tingkat kehilangan tekanan melebihi tingkat pengurangan suhu dan larutan mendidih dengan hebat. Pendidihan yang hebat bisa menyebabkan cairan berbusa keluar atau meledak keluar tutupnya. Tingkat pemanasan dan pendinginan ampul cepat karena tegangan spesifiknya yang tinggi. Jadi, setelah sterilisasi ampul, autoklaf dibuka dengan sedikit lambat. Dengan larutan berair dalam wadah tidak disegel rapat-rapat selama proses pemanasan, uap mengembun di dalamnya, memanaskan larutan dan meningkatkan volumenya. Jika tekanan secara bertahap diturunkan setelah sterilisasi, volume ekstra dari air mendidih

akan turun volumenya kembali pada volume asli. Absorpsi dari panas tersembunyi dari pendidihan menurunkan ekstra air ini mengurangi suhu cairan, dan secara umum pendidihan lebih lanjut tidak terjadi pada saat suhu atmosfer tercapai. Produksi dari cairan perfusi, di mana autoklaf mungkin menahan botol 1 liter 300 buah, pendinginan diperpanjang dan mungkin membutuhkan bagian hari yang lain untuk suhu untuk turun sehingga tidak ada tekanan di dalam botol. Dalam produksi skala besar kelembaban disebarkan dalam botol perfusi pada tingkat diatur pada tingkat pemindahan panas sehingga goncangan suhu dan kerusakan

diminimalkan. Sistem pendinginan cepat ini tidak hanya mengijinkan penanganan sementara dan waktu pengubahan namun ini lebih aman, sama pada saat botol dipindahkan dari autoklaf tidak meledak. Sejak

waktu total pada suhu ditingkatkan diperpendek, keuntungan diperoleh dari kekurangan degradasi produk, seperti perubahan warna larutan glukosa. Sterilisasi uap menggunakan autoklaf merupakan metode sterilisasi yang paling efektif dan memuaskan untuk larutan berair, peralatan gelas, dan bahan karet. Metode ini tidak memuaskan untuk larutan obat yang termolabil atau yang bisa didegradasi oleh adanya kelembaban. Larutan berminyak dan serbuk tidak dapat disterilisasi dengan autoklaf. B. Panas kering

Sterilisasi panas kering membutuhkan suhu yang lebih tinggi dan pemaparan yang lebih lama daripada autoklaf. Metode sterilisasi ini pada suhu 160-170 selama 2 jam. Waktu dan suhu ditentukan untuk setiap produk dan tergantung dari kealamian produk yang disterilkan, ukuran dari tiap wadah, dan distribusinya dalam oven. Pengoperasian oven sangat sederhana dan masalah utama adalah mendapatkan distribusi. Kipas dimasukkan dalam oven menyiapkan sirkulasi dari udara panas, bagaimanapun, sampai kipas mungkin mengherankan akan meledakkan serbuk yang disterilkan. Peralatan gelas yang disterilisasikan dengan panas kering dicuci dan dikeringkan. Kemudian diikat dengan kertas pada mulut botol yang disumbat dengan katun atau sepotong kertas yang digantung pada bagian yang terbuka. Hal ini melindungi terjadinya kontaminasi, pada saat udara memasuki oven pendingin setelah sterilisasi dan selama penyimpanan. Kemudian oven dimasukkan dengan barang-barang untuk membolehkan udara panas bersirkulasi. Panas diaplikasikan dan kaca ventilasi dibuka untuk membolehkan pengeluaran kelembaban yang tersisa. Pada saat suhu mencapai 110, kaca ventilasi ditutup dan temperatur dinaikkan dan tercapai pada suhu sterilisasi untuk waktu yang ditentukan. Pemanasan lambat dan derajat pendinginan dan temperatur tinggi diperlukan untuk membuat sterilisasi panas kering sebuah metode yang memerlukan waktu.

Campuran minyak dan serbuk tahan panas disterilkan dengan panas kering. Pemindahan panas lambat, volume kecil dari minyak dan lapisan tipis dari serbuk digunakan untuk memastikan temperatur yang bisa untuk bahan tanpa memperpanjang waktu untuk menyelesaikan operasi. C. Penyaringan bakteri Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan secara luas dalam farmasi untuk mensterilkan larutan tahan panas dan biologikal. Jelas dari metode sterilisasi lain bahwa sebenarnya pemindahan mikroorganisme dari filter, walaupun tidak memindahkan produk metabolit yang larut. Tipe dari media penyaring adalah porselin, silikon bumi murni, gelas, asbes, dan bahan selulosis. Filtrasi partikel sekecil mikroorganisme melibatkan interaksi dengan tenaga elektrostatik seperti mekanik. Penyaring biasanya bermuatan positif. Umumnya bakteri bermuatan negatif, dan mereka akan tolakmenolak dengan penyaring ini. Ini bisa diterima bahwa protein amfoter dari bakteri akan melepaskan muatan positif pada mikroorganisme dan akan diserap oleh penyaring. Kecepatan aliran melewati penyaring lambat, interaksi elektronik antara penyaring dan mikroorganisme meningkatkan sifat menahan dari bakteri. Pori dari filter medium mempunyai ukuran dan bentuk yang bervariasi. Dalam struktur sebuah filter kemungkinan seri lubang besar serupa dengan beberapa lapisan berturut-turut dengan pembentukan pori

berkelanjutan panjang yang lumayan atau melalui ketebalan penyaring sangat mudah. Struktur filter merupakan salah satu faktor yang tidak menentukan, bagian singkat dari variasi ukuran dan berliku-liku. Sebagai konsekuensinya, mikroorganisme secara mekanis terperangkap di dalam filter oleh ukuran, bentuk, dan keliku-likuan kekosongan dalam filter. Efisiensi dan tingkat filtrasi ditentukan oleh ukuran maksimum pori filter. Beberapa ukuran pori dispesifikan untuk penyaring yang tiba-tiba berubah karena ketidakteraturan, struktur kompleks dari filter. Ukuran pori umumnya disadari sebagai tekanan gelembung. Setelah penyaring direndam dalam air hingga udara dipindahkan dan pori diisi, tekanan udara kemudian diaplikasikan pada permukaan dari penyaring sampai gelembung udara melewati penyaring. Tekanan minimum dibutuhkan untuk melewatkan gelembung udara dinamakan tekanan gelembung dan dihubungkan dengan ukuran pori. Sebagai contoh, tekanan gelembung pada 15 p.s.i minimal untuk penyaringan yang dapat dipercaya dengan penyaring Berkefeld dan Doulton, di mana tekanan gelembung pada 55 p.s.i dibutuhkan untuk penyaring tipe Millipore. Filter Porselen Penyaring porselen dibuat dengan memanaskan pasir kuarsa dan dan kaolin pada suhu di bawah titik didih dan dibentuk hingga menjadi bentuk disk atau lembah silinder yang disebut lilin. Penyaring ini cocok untuk sejumlah tingkat porositas. Kebanyakan tingkatan digunakan

menjernihkan atau memindahkan bahan partikulat dari larutan dan hanya memindahkan beberapa mikroorganisme. Penyaring Penyaring ini porselen dibersihkan bisa digunakan asam secara kromat berulang-ulang. atau dengan

dengan

menggosoknya denga sikat dan dicuci dengan air. Metode yang paling baik untuk membersihkan adalah dengan memanaskan filter kering pada tungku saringan pada suhu 675C, di mana mengoksidasi dan memindahkan bahan organik yang terserap oleh filter. Disterilkan di dalam autoklaf. Beberapa fliter Porselen lain yang komersial adalah Pasteur, Chamberland, Doulton, dan Selas. Beberapa bahan dan kegunaan variasi ukuran pori penyaring Selas ditunjukkan oleh tabel di bawah ini :
Tabel Tipe Ukuran Pori dan Bahan Filter Porselen Selas Diameter Type 10 01 015 02 03 04,05, dst Maksimum Pori () 8,8 6,0 2,8 1,7 1,2 Diameter Pori yang Berarti () 4,4 3,0 1,4 0,85 0,6 Tekanan Gelembung (psi) 5,0 7,0 15,0 25,0 35 Kegunaan Umum Bahan kristalin runcing, klarifikasi awal Penggosokan Sterilisasi farmasetikal Penyaringan bakteri, sterilisasi farmasetikal Penyaringan bakteri, Sterilisasi farmasetikal Penyaringan gas

Filter Silikon Bumi

Filter silikon bumi dibuat dari melelehkan bahan yang lekat pada lilin dan dibakar menyerupai tembikar untuk memberikan kekuatan dan kekakuan. Filter lilin Berkefeld dan Mandler adalah contoh dari penyaring silikon bumi yang secara komersial pada beberapa tingkat porositasnya. Filter Berkefeld dan Mandler mempunyai yang ukuran pori mendekati 5 sukses dalam sterilisasi penyaringan karena adsorpsi mempunyai peranan penting dalam mengurangi mikroorganisme. Penyaring silikon bumi lebih cepat dari penyaring porselen. Filter ini dibersihkan dengan bahan mirip filter Porselen, namun mereka tidak dapat tahan lama. Asam tidak dapat digunakan untuk membersihkan. Silika bumi dan lilin porselen disediakan dengan pipa benang. Gabungan antara medium filter dan pipa merupakan sumber kelemahan konstruksi, dan perawatan dibutuhkan dalam penanganan dan sterilisasi untuk menghindari retakan pada saat penggabungan. Uji rutin dibutuhkan untuk mendeteksi lilin yang retak. Lilin atau alat filtrasi yang dipasang disterilkan dalam autoklaf. Filter Sintered-Glass Filter Sintered-Glass dibuat dengan memanaskan gelas yang diserbukkan dalam lelehan yang cocok dengan suhu di bawah titik campuran sehingga partikel menempel untuk membentuk lapisan berpori, di mana disegel di dalam corong Buchner menggunakan filtrasi vakum. Filter Sintered-Glass tersedia dalam beberapa tingkatan porositas; bagaimanapun, hanya tingkatan ultrafine yang cocok untuk filtrasi bakteri.

Filter Sintered-Glass mudah dibersihkan dengan asam dan disterilkan dengan autoklaf. Adsorpsi bahan-bahan dalam larutan kurang dari media filter nonmembran lainnya. Filter Asbes Kertas filter Seitz terdiri dari serat asbes yang dikompres menjadi sehelai kertas yang dipotong menjadi disk atau persegi. Tergantung dari tingkat kompresi dan kedalaman serat, beberapa tingkat porositas ada; hanya filter Seitz E.K. yang baik yang cocok untuk filtrasi bakteri. Kertas yang lembut dan lunak, terutama jika basah, tidak begitu kuat. Sejak tiap filter dibuang setelah filtrasi, penggunaan medium ini mempunyai keuntungan pembersihan eliminasi dari medium. Filter Seitz

disterilisasikan dengan panas kering atau dengan sterilisasi uap. Filtrasi melalui filter asbes dimaksdukan untuk meningkatkan kealkalian dan untuk melepaskan bahan magnesium, yang mungkin merupakan bahan alkaloid dari garamnya atau degradasi katalisis dari bahan obat. Jika filter dibersihkan dengan larutan asam hidroklorida dan dicuci dengan air sebelum digunakan, hal ini mungkin dihilangkan. Oleh karena filter asbes ini alami, digunakan untuk memberikan serat pada filtrat. Hal ini mungkin diulang dengan memasukkan lubang sutra di bawah kertas. Filter Membran

Filter Millipore merupakan filter membran ester selulosa yang secara komersial tersedia dalam 12 tingkatan ukuran pori, seperti yang ditunjukkan tabel di bawah ini. Tabel Ukuran Pori Filter Millipore dan Derajat Filtrasi pada 25C Dengan Perbedaan Tekanan 13,5 psi Diameter Pori Tipe Berarti () SO 8,0 SM 5,0 SS 3,0 RA 1,2 AA 0,80 DA 0,65 HA 0,45 PH 030 GS 0,22 VC 0,10 VM 0,05 VF 0,01 Fliter tipis, contohnya 150 Derajat Aliran Air Udara

(ml min-1cm-2) (liters min-1 cm-2) 950 55 560 35 400 20 300 14 220 9,8 175 8,0 65 4,9 40 3,7 22 2,5 3 1,0 1,5 0,7 0,5 0,3 , dan rapuh, sehingga butuh pendukung

penahan filter. Mendekati 80 % volume filter adalah hampa. Kehampaan yang besar dan ketipisan filter Millipore membuat tingkat filtrasinya lebih cepat untuk memberikan efisiensi sterilisasi daripada tipe filter lain. Karena filter ini tipis, tidak ada penarikan cairan di antara filter. Sterilitas dicapai dengan mekanisme pengayakan di mana menarik partikel memasuki ukuran pori. Adsorpsi bahan terapeutik dari larutan jarang. Ester selulosa inert dan tidak mengkontribusikan ion atau bahan partikulat pada filtrat. Karena filter dihancurkan dengan suhu melebihi

125C, tidak bisa disterilkan dengan panas kering dan biasanya disterilkan dengan autoklaf. Ukuran pori GS digunakan untuk sterilisasi larutan parenteral dan sera. Ukuran pori HA digunakan untuk mensterilkan air suling yang akan digunakan sebagai pelarut untuk larutan yang akan selanjutnya

disterilisasi. Minyak, dan produk lain dalam percobaan sebelumnya bisa diterima. Ukuran pori yang kecil dari filter bakteri melindungi aliran larutan sampai ada tekanan yang berbeda. Dengan filter Millipore dan Seitz, tekanan negatif dipertemukan dan biasanya digunakan. Alat yang bersih dan kering dipertemukan dan disterilkan dalam autoklaf. Pipa air harus terbuka, uap harus berpenetrasi masuk ke dalam penahan filter untuk disterilkan. Setelah di autoklaf selama 30 sampai 45 menit pada 121C, alat-alat diperbolehkan untuk didinginkan. Filter digabungkan dan kemudian dihubungkan dengan katup tekanan terdiri dari larutan yang disterilkan dan secara aseptik untuk katup penerima steril. Katup penerima dicocokkan dengan sebuah ventilasi untuk membolehkan pengeluaran udara yang sedang digantikan dengan filtrat. Ventilasi terdiri dari filter yang membolehkan pengeluaran udara namun melindungi pemasukan mikroorganisme. Untuk memulai filtrasi, katup inlet harus terbuka. Katup ventilasi pada bagian atas penahan filter terbuka untuk membolehkan penggantian udara yang tersisa, dan ditutup secepat mungkin setelah cairan muncul dalam aliran yang tetap dari lubang

ventilasi. Kebanyakan farmaseutikal akan menyaring dengan puas pada perbedaan 20 psi. Jika tekanan tetap dijaga di bawah tekanan gelembung, udara tidak akan melewati filter dan pembusaan ketika filtrasi telah sempurna dapat dihindari. Filtrasi skala kecil melalui filter Sintered-Glass dan filter Porselen sering menghasilkan tekanan negatif atau filtrasi alat bertekanan seperti yang ditunjukkan oleh gambar 126 A. Bejana penerima yang aman adalah botol yang diinginkan dengan perlengkapan pembukaan yang lebih rendah dengan tutup karet pada tempat pemberhentian untuk pengiriman filtrat steril ke dalam wadah akhirnya. Keseluruhan alat yang disatukan dan disterilkan dalam autoklaf. Larutan yang akan disterilisasikan dicampur ke dalam gelas silinder dikelilingi lilin, dan sisi lengan yang dilengkapi dengan steker katun dihubungkan dengan katun. D. Sterilisasi gas Sterilisasi gas adalah cara menghilangkan mikroorganisme dengan menggunakan gas atau uap yang membunuh mikroorganisme dan sporanya. Meskipun gas dengan segera berpotensi menyerap serbuk padat, sterilisasi ini adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme terhambat dengan kristal akan dibunuh. Sterilisasi gas digunakan dalam bidang farmasi untuk mensterilisasi bahan-bahan termolabil. Gas

bakterisida yang paling sering digunakan adalah gas Etilen Oksida. Meskipun sterilisasi uap merusak beberapa bahan dan dipindahkan dari bahan yang dicobakan melalui jalur sterilisasi. Gas ini tidak inert dan

kereaktifannya terhadap bahan yang disterilisasi antara lain : Tiamin, Riboflavin, Streptomisin kehilangan potensi dengan adanya etilen oksida. Etilen oksida bereaksi sebagai bakterisida dengan alkilasi asam, amin, hidroksil dan gugus sulfhidril dari protein dan sel enzim. Kelembaban dibutuhkan untuk etilen oksida berpenetrasi dan merusak sel. Pada kelembaban rendah, misalnya kurang dari 20 %, derajat kematian tidak logaritmik, namun mikroorganisme yang muncul dengan cepat menjadi resisten dengan penurunan kelembaban. Dalam praktek, kelembaban dalam wadah pensteril meningkat hingga 50 sampai 60 % dan bertahan sementara waktu sehingga permukaan dan membran sel menyerap kelembaban sebelum etilen oksida. Etilen oksida bersifat eksplosif ketika bercampur dengan udara. Sifat ini dapat dihilangkan dengan menggunakan campuran etilen oksida dengan CO2. Carboxide 20 atau campuran etilen oksida dengan hidrokarbon berfluoresensi, seperti Steroxcide 12. Kedua pelarut inert tersebut mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi daripada etilen oksida dan beraksi sebagai penolak dengan memaksa etilen oksida keluar dari silinder ke dalam wadah sterilisasi. Bahan yang tercampur mempunyai keuntungan melebihi karbon dioksida, yaitu campurannya bisa disimpan dalam wadah yang lebih ringan dan campuran membolehkan tekanan sebagian yang lebih tinggi dari etilen oksida dalam wadah pensteril pada tekanan total yang sama.

Etilen oksida merusak kulit dan toksik jika dihirup. Sejak gas ini dengan mudah berpenetrasi, alat pensteril harus disegel untuk melindungi operator. Alat pensteril adalah autoklaf vakum yang dimodifikasi yang bias digunakan untuk sterilisasi uap atau gas. Sebuah pensteril gas yang mudah dibawa mempunyai 10 oleh 16 in. Camber silider dan penggunaan tempat uap 21 oz diperbolehkan. Sterilisasi dengan gas berjalan lambat, waktu sterilisasi tergantung pada keberadaan kontaminasi, kelembaban, temperatur dan konsentrasi dari gas etilen oksida. Konsentrasi minimum adalah 450 mg/L pada tekanan 27 p.s.i.; konsentrasi ini pada 55 dan 50 % kelembaban relatif membutuhkan 4 sampai 5 jam pemaparan. Di bawah kondisi yang sama, 1000 mg liter-1 membutuhkan waktu sterilisasi 2 sampai 3 jam. Dalam kenyataannya, 6 jam pemaparan etilen oksida merupakan batas yang aman, dan untuk membolehkan waktu penetrasi gas ke dalam bahan. Setelah sterilisasi, sisa gas dibuang oleh terminal vakum diikuti dengan udara tercuci atau tersaring, udara steril. Cara ini digunakan digunakan untuk mensterilkan obat serbuk seperti Penisilin, juga telah digunakan unutk sterilisasi benang, plastik, tube. Penggunaan etilen oksida juga untuk sterilisasi akhir peralatan parenteral tertentu seperti kertas kraft dan lapisan tipis polietilen. Semprot aerosol etilen oksida telah digunakan untuk mensterilkan daerah sempit dimana dilakukan teknik aseptik. E. Sterilisasi radiasi

Radiasi UV langsung dari 2600 bersifat letal bagi mikroorganisme pada udara dan permukan yang terpapar; bagaimanapun ini tidak mempenetrasikan semua bahan dan tidak berguna dalam sterilisasi obat, makanan, dan kain. Radiasi UV berguna untuk mengurangi sejumlah bagian mikroorganisme yang naik ke udara. Pada daerah untuk produksi injeksi, guna dari lampu UV dalam menghubungkan teknik aseptik disadari sebagai latihan yang bagus. Karena radiasi UV mempunyai batas tertentu, udara harus dilewatkan dekat dengan lampu, yang ditempatkan dekat dengan saluran udara dan hamparan operasi steril; agar lebih efektif. Untuk produksi skala kecil, area bebas sampah tanpa udara atau mikroorganisme mungkin terselesaikan dengan lampu UV. Sebelum digunakan, tutup harus dibersihkan dengan larutan germisidal. Radiasi ionisasi, seperti sinar beta, sinar gamma, sinar X, atau akselerasi elektron, bisa digunakan untuk membunuh mikroorganisme. Ketika energi radiasi tingkat rendah menyerang molekul, elektron orbital memasuki tingkat energi yang lebih tinggi, menggantikan molekul dalam tingkat yang lebih reaktif. Dengan radiasi energi tinggi, elektron orbital hilang dari molekul yang tidak diradiasi; yang akan menjadi ion positif, dan bertukar menjadi molekul lain, membentuk ion negatif. Dengan energi radiasi yang sangat tinggi, nukleus molekul diserang, menghasilkan pembentukan radikal bebas. Iiradiasi merupakan fenomena kompleks di mana molekul dieksitasi, pasangan ion dibentuk, dan rantai reaksi dimasuki oleh radikal bebas. Sebagai akibatnya,konstituen selular

didegradasi pada tingkat molekular, dan setelah periode tertentu mikroorganisme dihancurkan. Sejak perubahan molekulal ini tidak terbatas pada mikroorganisme tapi bisa juga terjadi pada bahan-bahan pada sediaan, tipe radiasi yang digunakan dalam sterilisasi tidak boleh menyebabkan perubahan nukleus. Sterilisasi harus mempunyai kemampuan penetrasi yang bagus, sebagai suatu keuntungan yang diinginkan dalam sterilisasi radiasi yaitu untuk menyelesaikan sterilisasi dalam pembungkusan terakhir. Radiasi gamma dan akselerasi elektron merupakan sterilisasi yang paling praktis untuk menyelesaikan pengemasan barang karena mereka mensterilisasi tanpa transformasi nukleus atau induksi radioaktifitas ke dalam produk. Generator Van de Graatt memproduksi sorotan cahaya yang cepat dari elektron, yang memproduksi muatan negatif pada partikel,

mempunyai kemampuan penetrasi yang terbatas. Melalui penggunaan akselerator microwave linear penetrasi bisa ditingkatkan. Elektron dengan 8 juta eV mempenetrasikan air hanya sedalam 4 cm. Dengan penyinaran dari sisi yang berlawanan, dosis radiasi yang efektif dan seragam bisa diterapkan melalui bahan dengan ketebalan unit kelembaban mendekati 7 cm. Penetrasi lebih besar bisa dicapai dengan meningkatkan energi elektron; bagaimanapun resiko radioaktivitas residu mengikuti absorbsi energi oleh atom nukleus kemudian menjadi faktor yang penting. Radiasi gamma elektromagnetik diproduksi oleh Co 60, Cs 237, dan produk buangan. Co 60 mempunyai waktu paruh 526 tahun dan

energi sinar gamma 1,17 MeV, jadi tidak ada bahaya radioaktifitas residu pada bahan yang diradiasi. Sinar gamma berpenetrasi dengan baik; akan mensterilkan bahan dengan unit kelembaban, ketikan dipaparkan pada sisi yang berlawanan, pada ketebalan 25 cm. Radiasi gamma, oleh karena kemampuan penetrasinya yang besar, lebih disukai untuk mensterilkan spoit plastik. Sterilisasi radiasi tergantung pada jumlah total radiasi, yang bisa bervariasi intensitas radiasinya atau waktu pemaparan dari radiasi campuran. Dosis radiasi absorbsi, atau unit energi absorbsi dari berbagai tipe radiasi dalam berbagai medium: radiasi mewakili absorpsi energi 100 ergs g-1. Pemaparan pada 2,5 Mrads umumnya disadari letal untuk semua mikroorganisme dan sporanya. Sterilisasi radiasi digunakan untuk obat yang tidak tahan panas karena panas dilepaskan melalui absorpsi 1 Mrads adalah mendekati 2 cal. Penisilin, streptomisin, tiamin, dan riboflavin disterilisasi efektik dengan impuls 2 sampai 4 dari kapasitron 3 MeV; kortison asetat, kloramfenikol, dan oxytetrasiklin disterilkan dengan radiasi gamma. Produk farmasetik akan lebih resisten untuk degradasi atau perubahan jika dalam bentuk serbuk daripada bentuk cair. Larutan insulin dan heparin tidak aktif dengan radiasi. Plasma bisa disterilkan dengan radiasi gamma, namun tidak untuk darah secara keseluruhan, karena bisa terjadi hemolisis. Untuk setiap produk disterilkan dengan radiasi perlu diuji, hal ini

penting

untuk

membuktikan

tidak

ada

potensi

yang

berkurang,

pembentukan toksik dari bahan pirogen atau perubahan sifat fisika. Alat-alat bedah sekarang disterilkan dengan radiasi. Potensi yang lebih besar penggunaan sterilisasi radiasi adalah spoit logam, bahan plastik, dan karet. Dengan biaya tinggi dari peralatan untuk melindungi operator, terlihat bahwa sterilisasi radiasi terbatas pada produksi skala besar dan tidak akan menggantikan metode sterilisasi tradisional yang digunakan untuk sediaan injeksi.

3. A. 1)

The Theory and Practice of Industry Pharmacy; 1263-1286 Proses sterilisasi fisika Metode panas

Keefektifan letal mikroorganisme oleh panas tergantung pada derajat panas, lamanya pemaparan, dan lembab yang ada. Dalam kisaran temperatur pennsterilan, waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu efek letal berbanding terbalik dengan temperatur yang dipakai. Misalnya, sterilisasi bisa dilakukan dalam satu jam dengan pemanasan kering pada temperatur 170C, tetapi bisa memakan waktu 3 jam pada temperature 140C. dalam pelaksanaan umumnya, waktu siklus

diidentifikasikan dengan waktu pemaparan pada temperatur maksimum, input panas total bias dihitung dalam nilai F sebagaimana diterangkan sebelumnya; tetapi efek letal harus dihitung dalam lamanya waktu, di mana seluruh massa dari bahan tersebut dipanaskan. Mekanisme

terbunuhnya bakteri oleh panas diperkirakan sebagai koagulasi protein dari sel hidup. Data yang terdapat pada tabel di bawah di bawah ini menggambarkan prinsip ini, dengan menggunakan efek berbagai jumlah air terhadap temperatur yang dibutuhkan untuk mengkoagulasikan albumin telur. Tabel Pengaruh Lembab dan Panas pada Albumin Telur Air (%) Temperatur (C) Efek 50 56 Koagulasi 25 80 Koagulasi 6 145 Koagulasi 0 170 Koagulasi dan oksidasi Temperatur yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan lembab yang ada. Selanjutnya pengalaman dalam laboratorium telah menegaskan bahwa sterilisasi dengan metode panas bisa efektif pada temperatur yang lebih rendah dengan adanya lembab. Metode sterilisasi panas bias dengan mudah dibagi menjadi cara sterilisasi panas kering dan sterilisasi panas lembab. a) Pemanasan kering Zat-zat yang tahan peruraian pada temperatur di atas kira-kira 140C (284 F) bisa dibuat steril dengan cara pemanasan kering. Pemaparan selama 2 jam pada suhu 180C (356 F) atau 45 menit pada suhu 260C (500F) biasanya diharapkan dapat membunuh spora dan bentuk vegetatif dari semua mikroorganisme. Waktu siklus mensterilkan total ini biasanya meliputi lag time yang cukup besar agar zat-zat dapat mencapai temperatur pensterilan dari ruang oven, merupakan waktu

pendiaman yang tepat untuk mencapai sterilisasi, dan merupakan periode pendinginan agar bahan tersebut kembali ke suhu kamar. Faktor-faktor dalam Menentukan Waktu Siklus Waktu siklus tersusun dari 3 bagian : (1) waktu bertambahnya panas dari ruang dan muatan bahan yang akan disterilkan, dengan menganggap keduanya mulai pada temperatur kamar, (2) lamanya waktu pendiaman pada temperatur maksimum, dan (3) waktu pendinginan. Bahan memerlukan waktu yang lebih lama dalam meningkatkan temperatur ruangnya. Waktu yang dibutuhkan untuk semua bahan agar sesuai dengan temperatur ruang makin lama dengan makin banyaknya jumlah bahan, makin buruknya sifat penghantar panas, dan makin rendahnya kapasitas panas. Hubungan ketiga faktor ini harus ditentukan dengan teliti selama pengkajian validasi, sehingga waktu siklus efektif dapat direncanakan. Waktu siklus seringkali ditulis dengan istilah waktu pemaparan, misalnya, 2 jam pada temperatur 180C dengan pemanasan kering. Waktu pemaparan dapat diperlihatkan dengan pengindera yang

mendeteksi temperatur ruang pada titik paling dingin; walaupun demikian, indikasi yang lebih baik dari kondisi panas yang sebenarnya dapat

diperoleh dengan penginderaan tempat paling dingin pada muatan bahan yang akan disterilkan, biasanya menggunakan thermocouple. Bila lokasi seperti itu digunakan, dan bila tempat yang peling dingin diketahui dari pengkajian validasi sebelumnya, maka penentuan waktu yang diperlukan

untuk sterilisasi dapat deprogram dengan baik. Harus diingat bahwa bagian-bagian lain dari muatan bahan-bahan itu mungkin terkenan panas untuk waktu yang lebih lama, dan apabila panasnya tidak stabil, maka dapat terjadi peruraian. Oleh karena itu, stabilitas panas bahan yang akan disterilkan harus diketahui, dan metode sterilisasi yang paling tepat harus dipilih agar tercipta sterilisasi efektif terhadap keseluruhan massa bahan sambil menjaga stabilitas dan intergritasnya. Jenis-jenis Pensteril Oven yang digunakan untuk menciptakan sterilisasi udara panas terdiri dari dua jenis, pemindahan panas alamiah dan pemindahan panas buatan (paksaan). Sirkulasi dalam oven pemindahan panas alamiah tergantung pada aliran yang dihasilkan oleh kenaikan udara panas dan penurunan uadara dingin. Sirkulasi udara ini dapat dengan mudah dihambat oleh wadah yang mengakibatkan kurangnya efisiensi distribusi panas. Perbedaan temperature sebanyak 20C atau lebih dapat ditemukan pada berbagai rak, bahkan dari oven-oven kecil di laboratorium dari jenis pemindahan panas alamiah. Oven pemindahan panas buatan memakai pengisap buatan memakai pengisap udara untuk mengalihkan udara panas sekitar objek yang disterilkan dalam ruang. Hal ini menyebabkan konveksi buatan lebih efisien dari konveksi alamiah. Perbedaan temperatur pada berbagai lokasi di atas rak dapat dikurang sampai serendah 1C. lambannya waktu dari bahan muatan dalam hal ini juga banyak berkurang, karena udara panas

segar dialiirkan dengan cepat di sekitat objek. Kurva di bawah ini menggambarkan perbedaan dalam selisih waktu (lag time) beberapa wadah yang sama pada minyak jagung ketika dipanaskan dalam konveksi panas alamiah, bila dibandingkan dengan oven yang sama yang dilengkapi dengan alat-alat untuk sterilisasi buatan.

Jenis pensteril lain adalah unit terowongan dengan ban berjalan yang dirancang yang dirancang untuk mensterilkan botol-botol gelas dan barang sejenisnya secara termal ketika berjalan melalui terowongan, biasanya dengan memasukkannnya langsung ke dalam ruang aseptis dan dihubungkan dalam barisan yang bersambungan dengan sebuah mesin pengisi. Unit-unit seperti ini memerlukan validasi yang cermat. Efek Terhadap Bahan Penambahan temperatur agar tercipta sterilisasi udara panas yang efektif dalam waktu yang tidak terlalu lama, mempunyai efek yang berlawanan pada beberapa bahan. Bahan selulosa seperti kertas dan kain mulai hangus pada temperatur kira-kira 160C (320F). Pada temperatur ini, kebanyakan zat kimia akan terurai, karet cepat teroksidasi, dan bahann-bahan termoplastik meleleh. Oleh karena itu, cara sterilisasi ini digunakan secara luas untuk barang-barang dari gelas, logam, minyak anhidrat dan zat kimia yang tahan terhadap peningkatan temperatur tanpa terjadi peruraian. Pengembangan bahan akan kelihatan, ketika bahan ini

dipanaskan dari suhu kamar menjadi suhu sterilisasi. Oleh karen itu, barang-barang dari gelas tidak boleh dijejalkan berdesakan dalam ruang oven. Wadah untuk minyak harus cukup luas untuk memungkinkan mengembangnya minyak, dan cadangan tempat harus disediakan untuk mengembangnya bahan-bahan. Keuntungan dapat diperoleh dari keadaan anhidrat yang diciptakan dengan cara sterilisasi ini untuk mengeringkan barang-barang dari gelas dan logam pada akhir siklus pemanasan yang memadai. Peralatan dan wadah kering penting untuk pembuatan produk anhidrat, dan diperlukan untuk mencegah pengenceran produk berair. Juga peralatan kering akan lebih mudah tetap steril selama penyimpanan daripada peralatan basah. Lebih jauh, peralatan kering secara efektif menghancurkan pirogen, biasanya membutuhkan kira-kira 2 kali waktu pemaparan untuk sterilisasi. Untuk mempertahankan kondisi steril setelah sterilisasi,

kontaminasi lingkungan harus ditiadakan. Pembuka peralatan harus ditutup dengan bahan penghalang seperti aluminium foil. Sebagai alternatif, barang-barang yang akan disterilkan ditempatkan dalam kotak yang dilapisi baja antikarat atau wadah pelindung sejenisnya. b) Pemanasan lembab Untuk sterilisasi panas, pemanasan lembab lebih efektif daripada pemanasan kering. Tetapi harus diingat bahwa siklus pemanasan lembab normal tidak akan menghancurkan pirogen.

Pemanasan lembab menyebabkan koagulasi protein sel pada temperatur yang jauh lebih rendah daripada pemanasan kering. Di samping itu, kapasitas panas uap jauh lebih besar dibandingkan kapasitas udara dari udara panas. Pada titik kondensasi (titik embun), uap memberikan energi panas sama besar dengan panas karena penguapan. Jumlah ini kira-kira 540 kalori per gram pada 100C (212F) dan 524 kalori per gram pada 121C (250F). sebaliknya energi panas yang dibebaskan oleh udara kering panas kira-kira hanya 1 kalori per gram udara untuk tiap derajat pendinginan. Oleh karena itu, ketika uap jenuh mengenai objek yang dingin dan terkondensasi, uap jenuh ini membebaskan kira-kira 500 kali jumlah energi panas yang dibebaskan oleh udara panas dengan berat yang sama. Akibatnya objek ini dipanaskan jauh lebih cepat oleh uap. Di samping itu, bila digunakan uap di bawah tekanan, maka terhadap objek yang sedang dipanaskan dikenakan uap panas yang persediaannya cepat berubah. Hal ini terjadi karena tekanan di bawah mana uap itu digunakan, maupun karena vakum parsial yang dihasilkan pada tempat itu, di mana uap terkondensasi, karena volume uap menyusut kira-kira 99 % ketika uap terkondensasi. Pergantian Udara Kepadatan uap lebih rendah daripada kepadatan udara. Oleh karena itu, uap memasuki ruang autoklaf dan naik ke puncak, serta mendesak udara ke bawah sebagaiman dilukiskan dengan autoklaf pergantian gaya berat. Objek harus ditempatkan di ruangan dengan

sirkulasi yang cukup sekeliling objek, dan diatur sedemikian rupa sehingga udara dapat didesak ke bawah dan keluar dari ruangan melalui alat penghisap udara. Setiap udara yang terperangkap, seperti udara dalam wadah dengan sisi dan dasar yang bersambung, atau pada kantung yang tertutup rapat, akan mencegah penetrasi uap ke daerah-daerah ini, sehingga mencegah sterilisasi. Udara yang terperangkap seperti ini dipanaskan sampai temperature uap, tetapi udara panas pada temperatur 120C (248F) memberikan waktu siklus 60 jam untuk efek letal terhadap spora. Oleh karenanya, pemaparan selama 20 menit pada suhu ini dengan udara panas kering sama sekali tidak memadai. Faktor-faktor yang Menentukan Waktu Siklus Spora dan bentuk vegetative bakteri dapat dimusnahkan secara efektif dalam suatu autoklaf yang menggunakan uap di bawah tekanan selama waktu pemaparan 20 menit dengan tekanan sebesar 15 pon (121C atau 250F) atau selama 3 menit dengan tekanan 27 pon (132C atau 270F). Selisih waktu ini didasarkan atas asumsi bahwa uap telah mencapai celah terdalam dari bahan yang akan disterilisasi, dan bahwa suhu bahan itu tertahan paling sedikit setengah dari selisi waktu itu. Dalam hal botol-botol berisi larutan panas harus dihantarkan melalui dinding wadah, menaikan suhu kelarutan menjadi suhu lingkungan, dan gerakan uap masuk ke wadah dari air yang ada di dalamnya. Oleh karena itu diperlukan waktu pemaparan yang cukup lama sebelum larutan mencapai suhu sterilisasi.

Penentuan lag time dan peranannya dalam keseluruhan waktu siklus yang direncanakan tidak kurang pentingnya untuk sterilisasi panas lembab daripada untuk sterilisasi udara panas sebagaimana telah dibahas. Dengan gambaran seperti itu, diketahui bahwa 1200 ampul yang masing-masing berisi 5 ml larutan dapat disterilkan dengan efektif dalam suatu autoklaf pada suhu 121C atau 250F selama 20 menit pemaparan. Sebuah botol berisi larutan dengan volume yang sama (6 liter) membutuhkan waktu pemaparan 60 menit pada suhu 121C atau 250F.

Campuran udara uap Karena campuran udara uap mempunyai suhu yang lebih rendah dan kapasitas panas yang lebih rendah pula dibandingkan dengan uap murni, maka adanya udara dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan tekanan dalam ruang untuk sterilisasi produk dalam wadah yang berdinding fleksibel. Sebagai contoh, kantung plastik dari sediaan parenteral volume besar (LVPs) atau tube jeli cair yang dapat dikempiskan akan membengkak dan pecah dalam autoklaf yang menggunakanuap saja, khususnya selam fase pendinginan. Bila udara dicampur dengan uap dan tekanan udara dikendalikan dengan mudah, tekanan untuk bagian luar wadahdapat diatur sehingga sama dengan tekanan bagian dalam, sehingga wadah tidak pecah. Karena ada kecenderungan uap dan udara untuk membentuk lapisan sendiri (terpisah), maka keduanya harus diaduk terus-menerus dengan pengaduk.

Beberapa pendekatan untuk megurangi waktu siklus Lamanya pemanasan untuk sebagian besar objek ditentukan juga dari bahan yang akan disterilisasi. Sebagai contoh, bagian-bagian kain dan karet akan rusak karena hilangnya daya rentan, larutan akan mengalami perubahan kimiawi yang berlawanan dan bahan logam akan berlubang. Oleh karena itu, seluruh waktu siklus harus dikendalikan sehingga periode pemanasan tidak perlu terlalu lama. Biasanya hal ini paling baik dilaksanakan dengan memperpendek waktu penyulingan. Untuk perlengkapan dan wadah yang tidak disegel atau yang tidak mengandung larutan, uap dihisap keluar dengan cepat pada akhir siklus sterilisasi. Dengan demikian, objek sterilisasi didinginkan dengan cepat, khususnya bila dipindahkan dari ruang autoklaf. Cara seperti ini tidak bisa diterapkan pada larutan, baik larutan yang disimpan dalam wadah tertutup maupun terbuka, karena penglepasan tekana ruang dengan cepat akan ,menyebabkan peluapan atau pendidihan larutan panas, dengan percikan isi wadah terbuka dan ledakan wadah tertutup. Suatu metode untuk pengeluaran panas secara cepat dari wadah yang berisi larutan adalah menyemprot wadah itu berangsur-angsur dengan air pendingin, sementara tekanan dalam ruang dikurangi bersama-sama. Metode pendinginan cepat lainnya menggunakan

getaran/denyutan singkat uap tekanan tinggi terhadap kamar bermuatan. Ketika uap meluas di ruang itu, panas keluar dari wadaha larutan. Uap itu dihisap dari ruang dengan kecepatan yang memungkinkan pengurangan

tekanan secara berangsur-angsur bersamaan dengan penurunan suhu. Dengan metode-metode ini, kadang-kadang perlu getaran udara ke dalam ruang untuk mengganti semua atau sebagian uap sedemikian rupa, sehingga tekanan sekitar wadah tidak berkurang terlalu cepat. Dengan metode pendinginan semprot, dilaporkan bahwa waktu pendinginan untuk muatan 200 botol berisi 1 liter larutan dapat dikurangi dari kira-kira 20 jam menjadi 20 menit. Suatu pendekatan yang relatif baru terhadap pengurangan waktu siklus pemanasan total adalah pemakaian vakum prasiklus. Dalam suatu autoklaf yang didesain khusus, digunakan vakum prasiklus paling sedikit 20 mmHg. Pengkajian yang lebih akhir menunjukkan bahwa suatu vakum ganda yang digunakan berurutan sebelum siklus pemanasan,

mengeluarkan udara lebih efektif dari bahan-bahan berpori. Pemakaian uap berikutnya memungkinkan penetrasi yang cepat dan pemanasan muatan dengan pengurangan seluruh kantong udara. Karena waktu pemanasan total secara jelas berkurang disebabkan pengurangan waktu penambahan suhu. Metode seperti ini tidak bisa digunakan untuk larutan atau objek lain yang tidak tahan terhadap vakum tinggi. Sterilisasi dengan temperatur lebih rendah Pemanasan lembab juga digunakan untuk cara sterilisasi

temperatur rendah. Suhu 100C (212F) dan inspisasi menggunakan suhu serendah 60C (140F), secara relatif efektif dalam mengurangi jumlah mikroorganisme bentuk vegetatif, tetapi tidak dapat diandalkan dalam

melawan spora. Metode sterilisasi marginal ini, digunakan untuk bahanbahan yang diproses dengan suatu metode panas, tapi tidak tahan suhu tinggi tanpa adanya degradasi. Penerapan cara sterilisasi panas Cara sterilisasi panas dengan penggunaan panas lembap dibawah tekanan dianggap sebagai carayang paling terpercaya. Oleh karen itu cara sterilisasi ini harus digunakan kapan saja bila memungkinkan. Preparat farmasi dalam air dalam wadah terpatri rapat yang tahan temperatur autoklaf dapat dibuat steril dan tetap steril tanpa batas, kecuali bila terjadi kerusakan pada patri itu. Preparat bukan dalam air dalam wadah terpatri tidak dapat disterilkan dengan cara ini selama siklus normal, karena tidak ada air dalam wadah untuk menghasilkan uap, sehingga tidak ada efek sterilisasi. Sterilisasi panas lembap juga dapat dipakai untuk peralatan dan bahan-bahan seperti penutup karet, barang-barang dari gelas, dan alatalat lain dengan tempelan karet; berbagai jenis penyaring; dan pakaian seragam. Agar efektif, kantung-kantung udara harus dihilangkan. Untuk ini, barang-barang harus basah ketika ditempatkan diautoklaf. Barangbarang ini juga akan tetap basah pada akhir siklus sterilisasi. Bila uap lembap dapat keluar tanpa menimbulkan kerusakan pada kemasan, maka sebagian uap lembap dapat dihilangkan/disingkirkan dengan

menggunakan langkah pengosongan/evakuasi pada akhir siklus itu. Bahkan proses ini biasanya tidak dapat mengeringkan alat-alatdengan

sempurna. Oleh karena itu bila peralatan seperti ini digunakan dalam pemrosesan, harus dibuat kelonggaran untuk mengencerkan efek air ini, atau sebaliknya sebagian kecil produk dapat digunakan untuk

mengeringkan atau membilas air keluar dari peralatan. Dalam beberapa hal, bila diperlukan peralatan kering dan harus disterilisasidengan menggunakan autoklaf, maka peralatan itu dapatr dikeringkan dalam oven vakum sebelum digunakan. Sterilisasi panas kering digunakan untuk wadah dan peralatan kapan saja memungkinkan, karena siklus yang memadai diperoleh pada peralatan yang kering dan steril. Urutan pemrosesan kecepatan tinggi yang baru saja dikembangkan meliputi cerobong udara panas untuk sterilisasi terusmenerusdari wadah gelas yang dipanaskan dengan lampu inframerah, atau dengan udara yang dipanaskan secara elektris, disaring, dan bersirkulasi. Peralatan gelas dan logam biasanya tahan sterilisasi panas kering tanpa kesulitan, walaupun ekspansi panas yang tidak merata dapat menyebabkan keretaka dan distorti. Tetapi bahan-bahan karet dan selulosa akan mengalami degdarasi. Bahan-bahan tertentu seperti zat kimiawi dan zat pembawa minyak yang digunakan pada preparat farmasi steril kadang-kadang disterilisasi dengan panas kering paa temperatur rendah (biasanya 140C atau kurang). Dalam kasus seperti ini, harus diusahakan agar siklus pemanasan tidak mempunyai efek merusak terhadap bahan baku dan waktu siklus cukup memadai untuk sterilisasi. Bahan-bahan ini juga harus dilindungi secara cermat setelah sterilisasi

sampai bercampur secara aseptis dalam produk untuk mencegah kontaminasi lingkungan. 2) a) Sinar UV Sinar ultraviolet umumnya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi di udara dan pemusnahan selama proses di lingkungan. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 2537 nm. Sinar UV menembus udara bersih dan air murni dengan baik, tetapi suatu penambahan garam atau bahan tersuspensi dalam air atau udara menyebabkan penurunan derajat penetrasi dengan cepat. Untuk Cara bukan panas

kebanyakan pemakaian lama penetrasi dihindarkan dan setiap tindakan membunuh mikroorganisme dibatasi pada permukaan yang dipaparkan. Aksi Letal Ketika sinar UV melewati bahan, energi bebas ke elektron orbital dalam atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Absorpsi energi ini menyebabkan meningginya keadaan tertinggi atom-atom dan mengubah kereaktivannya. Ketika eksitasi dan perubahan aktivitas atom-atom utama terjadi dalam molekul-molekul mikroorganisme atau metabolit utamanya, organisme itu mati atau tidak dapat berproduksi. Pengaruh utamanya mungkin pada asam nukleat sel, yang diperhatikan untuk

menunjukkan lapisan absorpsi kuat dalam rentang gelombang UV yang panjang. Letalitas radiasi ultraviolet telah terbukti dengan baik, walaupun telah terbukti juga bahwa organisme yang dipaparkan ke radiasi ultraviolet kadang-kadang dapat sembuh/bertahan, suatu fakta yang tidak mengherankan bila teori letalitas yang telah diuraikan terdahulu itu benar. Kesembuhan bertambah dengan penambahan metabolit utama tertentu pada kultur, penyesuaian pH medium, atau pemaparan dengan sinar yang dapat dilihat tidak lama setelah pemaparan dengan radiasi ultraviolet. Oleh karena itu harus terjadi pemaparan yang memadai dengan radiasi itu sebelum timbul kepastian adanya efek sterilisasi. Efektivitas germisida sinar ultraviolet merupakan fungsi intensitas radiasi dan waktu pemaparan. Efektivitas ini juga bervariasi dengan kerentanan organisme. Data dalam tabel 21-4 menunjukkan kisaran kerentanan ini. Dari data ini terlihat bahwa intensitas radiasi pada suatu permukaan adalah 20 mikrowatt tiap cm2, yang merupakan intensitas minimum yang biasa di anjurkan, maka di perlukan kira-kira 1100 detik pemaparan untuk membunuh spora B. Subtilis, tetapi hanya kira-kira 275 detik untuk membunuh S. Hemolyticus. Intensitas radiasi ultraviolet dapat di ukur dengan pengukur cahaya khusus yang berupa tabung yang peka terhadap panjang gelombang 2537 A. Pemeliharaan dan penggunaan

Untuk mempertahankan efektivitas maksimum, lampu ultraviolet harus bebas dari debu, lemak, dan goresan untuk menghindari berkurangnya intensitas pemancaran yang besar. Juga lampu nini harus di ganti bila tingkat pemancaran berkurang banyak ( kira-kira 30-50% ) karena perubahan induksi energi dalam gelas yang menghambat pemancaran. Tenaga kerja yang berada di tempat-tempat dimana sinar ultraviolet menyala, haru dilindungi dari sinar langsung atau sinar pantulan. Sinar ini menyebabkan kulit memerah dan iritasi mata yang sangat perih. Asosiasi Medis Amerika menganjurkan pemaparan maksimum yang di anggap aman pada manusia dalam waktu 1 jam dibatasi sampai 2,4 mw/cm2. Lampu ultraviolet terutama di gunakan untuk efek germisida pada permukaan atau untuk efek penetrasi melalui udara dan air bersih. Oleh karena itu lampu-lampu ini sering dipasang dalam ruanganb, cerobong udara,dan peralatan besar di mana radiasi dapat tembus dan meradiasi udara, dan juga mencapai permukaan terpapar. Persediaan air juga di sterilisasi bila batas penetrasi ditetapkan secara cermat dan di kendalikan sedemikian rupa sehingga tercipta penyinaran yang memadai dan menyeluruh. b) Radiasi pengion Radiasi pengion adalah energi tinggi yang terpancar dari radiasi isotop radioaktif seperti kobalt-60 (sinar gamma) atau yang dihasilkan oleh

percepatan mekanis elektron sampai ke kecepatan den energi tinggi (sinar katode, sinar beta). Sinar gamma mempunyai keuntungan mutlak karena tidak menyebabkan kerusakan mekanik, namun demikian, kekurangan sinar ini adalah tidak dapat dihentikan, karena sinar ini membentuk sumber mekanik elektron akselerasi (yang dipercepat). Keuntungan elektron yang dipercepat adalah kemampuannya memberikan output laju dosis yang lebih seragam dan lebih tinggi Akselerator elektron Akselerator elektron terdiri dari 2 jenis umum yaitu akselerator linear dan akselerator Van de Graaff. Prinsip akselerator linear dapat diikuti dari gambar 21-5. Gelombang pendek dengan frekuensi sangat tinggi ( radar ) mengumpulkan elektron dari katoda dan mempercepatnya ketika elektron ini melewati tabung vakum, hampir mencapai kecepatan cahaya. Elektron-elektron itu dipancarkan dan diarahkan pada sasaran dengan kisaran energi 3 sampai 15 juta elektron volt ( me V ). Karena energi potensial 10 meV atau lebih tinggi bisa menghasilkan bahan radioaktif, akselerator linear labih dari 9 meV biasanya tidak di pakai untuk sterilisasi. Akselerator Van de Graaff sanggup menyediakan energi sampai 3 meV. Akselerator ini memakai daya yang di arahkan pada partikel bermuatan listrik dengan potensi voltase tinggi dalam suatu medan listrik sebagai cara percepatan partikel langsung. Penentuan Dosis

Dosis ditentukan oleh energi yang dilepas oleh sinar gamma, atau oleh sejumlah elektron yang mengenai tiap cm2 bahan yang menyerapnya (target). Rad adalah suatu radiasi yang diserap, satuan dosis yang sekarang sering digunakan. Secara kasar, rad didefinisikan sebagai absorbsi 100 erg enegi per gram bahan. Kedalaman penetrasi dalam suatu target dari dosis yang ditentukan berhubungan langsung dengan voltase elektron sumber, dan secara tidak langsung berhubungan dengan kepadatan bahan yang akan diradiasi. Aksi letal dan dosis Radiasi pengionan menghancurkan mikroorganisme dengan

menghentikan reproduksi sebagai akibat mutasi letal. Mutasi ini di akibatkan oleh transfer energi sinar radiasi menjadi molekul penerima pada jalannya, menurut teori pukul langsung ( direct-hit theory ). Mutasi juga bisa di sebabkan oleh tindakan tidak langsung, di mana molekulmolekul air diubah menjadi kesatuan yang berenergi tinggi seperti hidrogen dan ion hidroksil. Semua ini gilirannya mengakibatkan

perubahan energi pada asam nukleat dan molekul lain, sehingga menghilangkan keberadaannya bagi metabolisme sel bakteri. Radiasi pengion berbeda dengan sinar ultraviolet dalam hal efeknya terhadap bahan, terutama bahwa bradiasi pengion mempunyai derajat energi lebih tinggi yang sebenarnya menghasilkan ionisasi atom-atom konstituen. Spora bakteri dan virus umumnya empat sampai lima kali lebih resisten dibandingkan bakteri dan kapang vegetatif. Walaupun demikian, dosis 2

sampai 2,5 megarad dianggap memadai untuk menjamin sterilitas. Sekarang ini tidak ada bukti reaktivasi mikroorganisme sebagaimana telah diketahui pada sinar ultraviolet. Penerapan untuk sterilisasi Elektron yang dipercepat atau sinar gamma dapat digunakan untuk mensterilkan produk-produk pilihan dengan suatu proses

berkesinambungan. Kebanyakan prosedur sterilisasi produk lain harus diselenggarakan dalam batch. Sterilisasi dengan proses berkesinambung memerlukan pengendalian yang tepat, sehingga tidak ada

kekurangan/bagian yang lepas dari keefektifan sterelisasi. Jaminan pemberian dosis memadai, pencakupan produk secara sempurna dan seragam, dan penetrasi yang memadai telah tercipta dalam sterilisasi efektif dan rutin terhadap jahitan bedah dengan menggunakan akselerator linear. Pemberian dosis memadai biasanya ditentukan oleh efek energi yang diserap, pada kedalaman penetrasi yang ditetapkan maksimum, pada lapisan tipis fotografis, dan/atau pada indikator biologis Bacillus pumilus. Pemakaian radiasi meningkat dalam frekuensi dan luasnya pemakaian setelah diperoleh pengalaman dengan metode ini, khususnya untuk sterilisasialat medis plastik. Ada tantangan baru dengan adanya masalah tentang keselamatan etilenoksida dan rendahnya derajat kualitas lingkungan yang sekarang ini diperkenankan. Masalah ini dikemukakan oleh Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( AK3 ). Tersedianya

fasilitas untuk cara ini, yang menggunakan kedua sumber energi, semakin meningkat. Alat perlengkapan medis perorangan atau pabrik farmasi tidak cocok dengan tingginya biaya fasilitas sterilisasi radiasi, tetapi availabilitas yang makin meningkat dari pusat-pusat yang menyelenggarakan kontrak pelayanan telah membuat metode ini sebagai pilihan yang lebih membawa harapan. Sejumlah vitamin, antibioka, dan hormon dalam keadaan kering telah berhasil dibuat steril dengan radiasi. Sediaan farmasi cair lebih sulit disterilkan karena efek potensi radiasi terhadap sistem zat pembawa dan juga obat. d) Penyaringan Penyaringan dapat digunakan untuk memisahkan partikel-partikel termasuk mikroorganisme, dari larutan dan gas tanpa menggunakan panas. Idealnya, saringan tidak harus mengubah gas atau larutan dengan segala cara, juga tidak menghilangkan konstituen yang diinginkan atau pembawa komponen-komponen yang diinginkan. Karena kebanyakan penyaring membran hanya untuk sekali pakai ( disposable ), maka masalah mencuci setelah pemakaian terbatas pada rumah penyaring yang dapat dipakai kembali dan saringan penunjang. Penyaring membran ini biasanya terbuat dari baja antikarat atau polimer plastik yang keras yang agak mudah dibersihkan. Walaupun demikian, harus diberikan perhatian cermat untuk membongkar rumah penyaring

dan menyikatnya untuk mengangkat sisa-sisa yang dapat menimbulkan kontaminasi pada pemakaian berikutnya. Membran-membran ini biasanya dibuat hidrofilik dengan

memberikan bahan aktif permukaan pada waktu pembuatan. Jika hal ini tidak dilakukan, khususnya pada porositas paling rendah, maka suatu larutan berair tidak dapat dipaksa melalui penyaring, kecuali dibawah tekanan sangat tinggi. Walaupun demikian, bila diinginkan pembahasan tidak dengan air, seperti dengan larutan tidak berair misalnya etanol dan gas inert, maka polimer dibiarkan dalam bentuknya yang hidrofobik. Fungsi penyaring Penyaring membran terutama berfungsi dengan mengayak atau dengan menyaring partikel dari larutan atau gas, jadi menahannya diatas permukaan penyaring. Karena sifat penyaring membran dan ketebalannya yang terbatas, media penyaring mempunyai kemampuan menangkap hanya sedikit; hal ini merupakan suatu mekanisme yang dapat diterapkan pada fungsi penyaring yang mempunyai kedalaman seperti yang terbuat dari gelas dan kertas. Dalam beberapa hal, penyaring membran juga berfungsi dengan gaya tarik elektrostatis. Hal ini khususnya cocok untuk penyaringan gas kering, di mana muatan elektrostatiscenderung

meningkat karena efek gesekan gas yang mengalir. Pori-pori atau lubang melalui medium penyaring mana saja terdiri dari suatu rentangan ukuran. Contohnya bila suatu penyaring ditandai dengan porositas 0,2 mikron, porositas yang seringkali dipakai untuk

mengakibatkan sterilisasi, maksimum rata-rata garis tengah pori adalah 0,2 mikron, dengan banyak pori yang jauh lebih kecil dari ini dan sedikit pori yang lebih besar ukurannya. Pori yang lebih besar ukurannya ini mempunyai garis tengah sebesar 0,5 mikron, tetapi jumlahnya begitu sedikit sehingga kemungkinan spora mikroba ( biasanya garis tengahnya dihitungt 0,5 mikron ) menemukan pori-pori yang sedikit itu sangat jauh. Namun harus diakui bahwa kemungkinan ini bisa terjadi, walaupun jauh. Karena itu, penyaring-penyaring sperti ini tidak dapat lagi di anggap sebagai cara mutlak untuk sterilisasi suatu larutan. Untuk meningkatkan kemungkinan dalam menciptakan filtrat steril, beberapa peneliti

mengusulkan agar larutan dialirkan melewati serangkaian dua penyaring dengan porositas 0,2 mikron. Peneliti lain mengusulkan untuk

menggunakan penyaring dengan porositas 0,1 mikron, tetapi ini akan sangat mengurangi laju kecepatan aliran. Karena penyaring membran terutama berfungsi/bekerja dengan menayak, maka segala jenis partikel dalam larutan tertahan dipermukaan bila isi relatif tinggi, partikel-partikel mengumpul dipermukaan dan menyumbat penyaring, sehingga aliran larutan berkurang dan barangkali berhenti. Untuk menghindari masalah ini, bila larutan mempunyai kandungan padatan yang tinggi, khususnya bila kandungan padatan itu makromolekul yang berubah bentuk, maka larutan itu paling baik diproses dengan melewatkannya melalui satu atau lebih prafilter (penyaring awal), yang relatif berlubang. Dengan penyaring dalam, partikel secara bertahap

berpindah melalui penyaring itu bila waktu penyaringan diperpanjang, bila ada perbedaan tekanan tinggi, atau bila sering terjadi fluktuasi tekanan. Aliran cairan melalui penyarin Laju aliran suatu cairan melalui penyaring dipengaruhi oleh ukuran lubang melalui penyaring, volume lubang (perbandingan ruangan terbuka dengan kandungan padat/matriks), luas permukaan penyaring, diferensial tekanan sepanjang penyaring, dan viskositas cairan. Dari faktor-faktor ini, dua cara paling praktis untuk meningkatkan laju aliran adalah dengan menambah luas permukaan penyaring atau diferensial tekanan sepanjang penyaring. Ada batas praktis untuk menambah garis tengah lempengan penyaring; jadi bila diperlukan daerah permukaan yang lebih luas, maka sering digunakan penyaring yangdilipat dalam bentuk cartridge. Dengan cara ini, bisa diciptakan kenaikan yang besar dalam luas permukaan dengan dimensi menyeluruh yang relatif kecil. Dalam batas-batas kekuatan fisik penyaring dan rumahnya, diferensial tekanan dapat ditingkatkan menjadi beberapa ratus pon tiap inci persegi. Walaupun begitu, dalam praktek kefarmasian, diferensial tekanan yang dipakai jarang melebihi 25 sampai 30 pon tiap inci persegi. Biasanya tekanan positif digunakan pada cairan yang mengalir ke atas dari penyaring; tetapi vakum dapat menarik aliran arah ke bawah penyaring. Dalam hal vakum, maksimum diferensial yang dapat diciptakan adalah satu atmosfer, atau kira-kira 15 pon tiap inci persegi. Lagipula tekanan negatif dalam ruang filtrat membuat penyaring sulit mencegah kontaminasi bagian dalam dari

lingkungan. Oleh karena itu, bagi filtrasi yang dirancang untuk membuat larutanmenjadi steril, sebaiknya menggunakan tekanan arah ke atas dari penyaring dengan menggunakan gas yang disaring agar bebas dari mikroorganisme. Tiap kebocoran yang mungkin terjadi pada sistem seperti ini menyebabkan kerusakan pada bagian luar tanpa kontaminasi filtrat yang steril. Larutan yang mempunyai viskositas tinggi biasanya mempunyai laju aliran yang rendah. Dalam banyak hal, laju ini dapat ditingkatkan dengan menghangatkan larutan sehingga mengurangi viskositasnya, asal saja pemanasan ini tidak mempunyai efek berlawanan terhadap larutan. Sebagaimana disebutkan terdahulu, laju aliran melalui penyaring juga tergantung pada volume relatif lubang penyaring. Semua penyaring harus mempunyai kandungan padat yang membentuk kerangka untuk lubang-lubang. Makin rendah jumlah padat dibandingkan dengan ruangan lubang, makin tinggi volume lubang dan laju aliran. Jenis-jenis penyaring Membran penyaring dirancang untuk sekali pakai, kemudian dibuang; rumah penyaring yang tersusun dari polimer plastik dimaksudkan juga untuk digunakan sekali saja. Jadi tidak ada pembersihan setelah dipakai. Tambahan pual, penyaring membran dipatri dengan rumahnya oleh pabrik, sehingga risiko kebocoran menjadi minimal. Penyaring membran biasanya berbentuk lempengan atau silinder yang dilipat (cartridge). Silinder ini berkisar dari piringan 13 mm (kira-kira

0,8 cm2) sampai 20 inci atau cartridge yang lebih panjang (kira-kira 0,84 M2). Rumah penyaring biasanya terbuat dari baja antikarat atau berbagai plastik polimer. Beberapa tahun yang lalu, menggunakan penyaring yang dapat dipakai lagi adalah biasa, seperti tanah diatomae, sintered-glass, dan porselen yang tak diglazur. Karena adanya masalah-masalah

pembersihan yang memadai antara penggunaan dan pengujiannya, sekarang ini pemakaian penyaring-penyaring ini dibatasi. B. Sterilisasi Gas Sterilisasi gas bukanlah hal baru. Gas-gas seperti formaldehida dan sulfur dioksida telah digunakan untuk sterilisasi selama bertahun-tahun. Tetapi gas-gas ini merupakan zat kimia yang sangat reaktif, dan sulit hilang dari kebanyakan bahan setelah pemaparan. Oleh karena itu pemaparannya terbatas. Dua gas yang lebih baru, etilen oksida dan betapropiolakton, mempunyai kekurangan yang lebih sedikit daripada zat yang terdahulu, sehingga dianggap penting dalam sterilisasi. Tidak diragukan lagi, pengembangan bahan plastic dan perlunya metoda praktis untuk sterilisasi telah memacu pengembangan bahan pensteril gas yang baru, khususnya etilen oksida. Etilen Oksida Etilen oksida(ETO) adalah suatu eter siklis ((CH2)2O) dan suatu gas pada temperature ruangan.hanya saja etilen oksida sangat mudah Proses sterilisasi kimia

terbakar dan bila tercampur udara menjadi eksplosif. Bila dicampur dengan gas inert seperti karbon dioksida atau satu atau lebih hidrokarbon yang diflourinasi (Freon) dalam perbandingan tertentu, etilen oksida menjadi tidak mudah terbakar dan aman untuk dikelola. Zat ini inert secara kimiawi terhadap kebanyakan bahan padat. Dilain oihak dalam bentuk cairan seperti bila ditekan dalam silinder, etilen oksida melarutkan bahan-bahan plastic dan karet tertentu dan memerlukan perawatan khusus dalam penanganannya. Proses Sterilisasi Sterilisasi dengan etilen oksida mencakup prosedur yang

diberlakukan/disahkan secara cermat dengan menggunakan ruang bertekanan. Bahan yang akan disterilkan ditaruh dalam ruangan atau kamar, dan dipaparkan dengan kelembaban relative sampai 98 % selama 60 menit atau lebih. Kemudian bahan ini ditempatkan dalam kamar yang sebelumnya sudah dipanaskan sampai kira-kira 550 C dan dipasang suatu vakum awal kira-kira 27 inci hg. Setelah waktu pemaparan selama 6 sampai 24 jam, tergantung pada derajat kontaminasi, kemampuan penetrasi bahan dan konsentrasi ETO, maka gas dihisap keluar dan vakum dipasang kiar-kira 25 inci hg. Udara yang sudah disaring kemudian dimasukkan kedalam kamar sampai diperoleh tekanan sama dengan tekanan atmosfer. Suatu kamar yang dipanaskan digunakan untuk mengurangi waktu yang diperlukan untuk proses sterilisasi. Temperature 550 C tidak

mempunyai disarankan

efek bahwa

merugikan kenaikan

terhadap

kebanyakan 170 C

bahan.

Telah

temperature

memungkinkan

pemendekan waktu pemaparan kira-kiara setengahnya.

TABEL 21-6. Kondisi pemaparan yang digunakan dengan campuran Etilen Oksida pada temperature 550 C.
NAMA DAGANG Carboxide Oxyfume-20 Cry-Oxcide (benvecide) Pennoxides 10 etilen karbon 90 karbon dioksida 20 etilen oksida 80 karbon dioksida 11 etilen oksdia 54 triklorofluorometan 35 diklorodifluorometan 12 etilen oksida 88 diklorodifluorometan ISI CAMPURAN (%) KONSENT RASI ETO (mg/L) 450 670 920 450 850 650 TEKANAN KAMAR (Psig) 28 18 30 5 18 7 WAKTU PEMAPARAN MINIMUN (jam) 6 4 3 5 3 4

Kondisi pemaparan yang sangat sering digunakan dengan etilen oksida diperlihatkan pada table diatas. Perhatikanlah bahwa pada konsentrasi yang lebih tinggi dari konsentrasi minimum efektif dari 450 mg per liter volume kamar mengurangi periode pemaparan. Konsentrasi yang digunakan secara langsung berhubungan dengan tekanan berbagai campuran yang diperlukan untuk memperoleh konsentrasi itu. Peralatn yang tersedia dapat membatasi tekanan dan karenanya konsentrasi itu dapat diperoleh.

Biasanya

penghilangan

etilen

oksida

dari

bahan-bahan

diselesaikan dengan mudah pada akhir siklus sterilisasi melalui evakuasi yang diikuti oleh aerasi dalam waktu singkat, yakni pemaparan dengan atmosfer normal. Iritasi jaringan dapat terjadi jika etilen oksida tidak dihilangkan sama sekali. Kekhawatiran juga terjadi karena sifat-sifat karsimogenik dan mutagenic dari EtO dan sisa-sisa pada bahan-bahan yang digunakan untuk manusia. Mekanisme Aksi Etilen oksida dianggap menghasilkan efek letal terhadap

mikroorganisme dengan mengalkilasi metabolit esensial yang terutama mempengaruhi proses reproduktif. Alkilasi ini barangkali terjadi dengan menghilangkan hydrogen aktif pada gugus sulfidril, amino, karboksil, atau hidroksil dengan suatu radikal hidroksetil. Metabolit yang telah diubah tidak tersedia bagi mikroorganisme, sehingga mikroorganisme ini mati tanpa reproduksi. Penerapan Alkilasi dapat pula terjadi dengan molekul-miolekul obat pada preparat farmasi, khususnya dalam keadaan cairan. Oleh karena itu, sterilisasi etilen oksida terhadap sediaan farmasi dibatasi secara mendasar pada bubuk kering dari bahan-bahan yang diketahui tidak terpengaruh. Walaupun demikian, etilen oksida dipakai secara luas pada bahan plasti, barang-barang dari karet, dan alat-alat optok yang halus. Juga diketahui bahwa peralatan dari baja antikarat mempunyai masa

kegunaan yang lebih lama bila disterilisasi dengan etilen oksida ketimbang dengan uap. Kemampuan penetrasi efektif dari EtO memungkinkan mensterlisasi perangkat pemberian parenteral, jarum suntik, alat suntk plastic, dan beberpa bahan terkait yang tertutup dalam kemasan distribusi kardus kertas atau plastik. Beta-propiolakton Beta-propiolakton ((CH2)2OCO) adalah lakton siklis dan cairan yang tidak mudah terbakar pada temperature kamar. Zat ini mempunyai tekanan uap rendah, tetapi karena zat tersebut bersifat bakterisid terhadap sejumlah mikroorganisme pada konsentrasi felatif rendah, maka tidak ada kesulitan dalam memperoleh konsentrasi bakterisid dari uap ini. Zat ini merupakan zat pengalkilasi dan karenanya mempunyai cara kerja yang sama dengan EtO terhadap mikroorganisme. Beberapa pengkajian menunjukkan bahwa konsentrasi uap kira-kira 2 sampai 4 mg per liter ruangan adalah efektif pada temperature tidak kurang dari 24 0 C dan pada kelembaban nisbi sekurang-kurangnya 70% dengan waktu pemaparan paling sedikit 24 jam. Kemampuan penetrasi uap beta-propiolakton telah diketahui rendah. Oleh karena itu tampaknya pemakaiannya terutama untuk sterilisasi permukaan pada ruangan luas, seperti keseluruhan ruangan. 4. A. Dispending Of Medication by Robert King; 187-189 Panas lembab

Sterilisasi dengan uap panas bertekanan tersaturasi merupakan metode sterilisasi yang paling dipercaya. Oleh karena itu, metode ini merupakan metode pilihan jika mungkin. Bagaimanapun, tidak semua peralatan kesehatan akan tahan terhadap pemanasan, dari penetrasi panas lembab lokasi dari organisme hidup mungkin dihalangi oleh karakteristik bahan. Ini hanya pada saat panas lembab sebenarnya mencapai organisme dimana efek lokal bisa dicapai. Melalui larutan yang telah ditempatkan, panas ditransfer melalui konduksi dengan dinding dan konveksi diantaranya dan ini biasanya lebih cepat dari penetrasi uap ke dalam bahan noncair. Faktor yang merupakan masalah terbesar untuk sterilisasi uap adalah penetrasi yang sulit, kekurangan pemindahan air, kerusakan panas dan kelembaban, dan pembasahan bahan lain. B. Panas kering Wadah gelas kosong dan hampir semua bahan gelas atau logam yang digunakan untuk produk steril disterilisasi dengan panas kering. Kerusakan pirogen bisa terjadi bersama-sama, tetapi suatu pemaparan yang lebih lama dibutuhkan. Metode ini digunakan secara luas oleh industri farmasetik dan seharusnya digunakan dalam rumah sakit jika diperlukan. Distribusi panas secara normal terjadi dari sirkulasi uap panas dengan konduksi pada dan melalui alat yang disterilkan. Derajat konduksi akan lebih bervariasi dengan bahan yang bervariasi, menjadi sangat lama jika melewati udara, relatif lambat melewati gelas, namun relatif cepat

melewati

logam. Bagaimanapun,

refleksi

panas

cukup

kuat

dari

permukaan yang berkilauan seperti besi baja. Panas kering bisa digunakan untuk bahan-bahan yang tidak cocok dengan uap atau dalam hal ini konduksi merupakan mekanisme utama mencapai mikroba yang terkontaminasi. dimana panas bisa panas kering

Sterilisasi

digunakan untuk bahan gelas dan logam, terutama sekali jika alat-alat itu akan digunakan dalam keadaan kering dan perusakan kontaminan pirogen dibutuhkan, serbuk, dan salep dengan bahan lemak atau berminyak. Ini merupakan metode pilihan. C. Etilen oksida Etilen oksida (ETO) adalah eter siklik, gas pada temperatur kamar mudah terbakar, dan meledak ketika dikurung dan adanya oksigen. Bahaya peledakan bisa dihilangkan jika tidak ada cetusan dan/atau kehadiran O2. Juga bisa dikurangi dengan campuran ETO dengan gas seperti CO2 atau diklorodifuorometanol (freon). Jika pelarut digunakan, pengurangan potensi berarti, sejak campuran umum, dengan berat 10 % ETO dengan 90 % CO2 dan 11 atau 12 % ETO dengan 88 atau 89 % freon. ETO adalah gas beracun dan Badan Perlindungan Lingkungan baru-baru ini telah menurunkan maksimum dari 5 % menjadi 1 bagian per satu juta dalam kehadiran personal. Sterilisasi dengan ETO tergantung dari suhu, kelembaban relatif, konsentrasi gas, dan waktu pemaparan sama seperti fisika dan kimia alam dimana terdapat kontaminan mikroba, dan jenis dan jumlah

mikroorganisme dari lingkungan. Jika faktor-faktor ini dikontrol dengan baik, ETO menjadi bahan sterilisasi efektif. Perusakan mikroba umumnya terjadi melalui alkilasi dari kelompok nitrogen tersier dan ester asam fosfor dari asam nukleat. D. Larutan kimia Larutan kimia digunakan secara luas di rumah sakit dan industri untuk menghancurkan, mengontrol, atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Larutan kimia memenuhi syarat sebagai bahan pensteril, hanya dalam situasi terkontrol baik walaupun kemampuan mereka untuk mendesinfeksi atau mengontrol pertumbuhan mikroba merupakan nilai yang sangat besar. Lagipula, kegunaan utamanya sebagai desinfektan. Juga pada korosif, toksik atau bahan alam yang tidak stabil dari banyak larutan membatasi kegunaannya dalam situasi praktek. Bahan kimia yang digunakan sebagai larutan pensteril adalah glutaldehid (2 % dalam larutan alkali) dan formaldehid (2-8 % metanol atau 2-propanol). Bahan kimia lain seperti iodofor, hipoklorit, alkohol, dan fenol juga dapat mensterilkan bahan/alat di bawah situasi yang terkontrol. Fungsi efektif dari larutan kimia tergantung dari konsentrasi dan suhu dari larutan kimia, permukaan dari bahan yang disterilkan (lembut atau berpori), lamanya waktu kontak, tingkat inaktivasi dari kontaminan pada permukaan, dan tipe dan jumlah kontaminan banteri. E. Radiasi sinar UV

Rentan panjang gelombang germisidal UV dari 240-280 nm, dengan aktivitas maksimum pada 260 nm. Karena banyak faktor yang membatasi keefektifan faktor radiasi UV, kegunaannya hanya sebagai bahan desinfektan permukaan disadari hanya bisa efektif bersama dengan kebersihan dan biaya lampu. Bagaimanapun, di bawah kondisi yang pantas, radiasi UV bisa beraksi sebagai bahan efektif untuk mengurangi kontaminan mikroba pada permukaan. Reaksi germisidal utama adalah eksitasi fotokimia. Radiasi UV mempunyai kekuatan penetrasi kecil, aksi ini terutama pada permukaan yang langsung diradiasi. Secara konsekuen, tempat bayangan dengan menghalangi obyek yang tidak diradiasi. Juga, lapisan permukaan dari debu, bahan kimia dan bahan berminyak akan melindungi mikroorganisme dari pemaparan. Lagipula, tube germisidal UV, sebagaimana permukaan yang diradiasi, harus tetap bersih. Lebih jauh, intensitas cukup pada daerah mikroorganisme dibutuhkan untuk efek germisidal. Lagipula, lokasi pipa penting sebab intensitas radiasi menurun dengan kebalikan dengan jarak antara sumber UV dan permukaan yang telah teradiasi. Sumber radiasi UV buatan yang umum digunakan adalah lampu uap merkuri.

Kebanyakan radiasi (95%) dari lampu diemisi sebagai 253,7 nm dari garis resonansi merkuri. F. Radiasi ionisasi Walaupun sterilisasi radiasi berbeda dari radiasi UV, kebanyakan tidak pernah digunakan oleh farmasis, diskusi singkat dilakukan untuk

menggambarkan metode yang digunakan meningkat oleh perindustrian dalam sterilisasi produk kesehatan. Sterilisasi radiasi mungkin bekerja menggunakan radiasi elektromagnetik (foton, radiasi gamma, atau radiasi sinar X) atau radiasi sinar partikulat (partikel beta atau elektron energi tinggi). Dipercaya bahwa mekanisme dengan radiasi energi tinggi mempengaruhi mikroorganisme yaitu elektron orbital dikeluarkan dan digabungkan kembali dengan molekul terionisasai untuk membentuk intermediat kimia. Pada radiolisis udara, radikal bebas reaktif bisa dikombinasikan untuk membentuk hidrogen peroksida, menghasilkan kerusakan sel. Teori lain terlibat dalam aksi langsung dari struktur vital sel, seperti nukleoprotein kromosomal. Mungkin kombinasi dari kedua efek ada, mengakibatkan inaktivasi sempurna dan irreversibel dari mikroorganisme. Radiasi ionisasi digunakan untuk sterilisasi vitamin, antibiotik, steroid, hormon, transplantasi tulang dan lapisan, dan peralatan kesehatan seperti jarum plastik, spoit, pisau bedah, tube plastik, keteter, cawan petri, dan benang bedah. Walaupun tak ada kerugian keefektifan dari metode ini, harga dan ukuran instalasi menjadikan ini hanya untuk praktek untuk proses volume tinggi bahan-bahan dari pusat industri. G. Penyaringan Penyaringan larutan melalui penyaring bakteri digunakan secara luas dalam industri farmasetik.

5.

Pharmaceutical Dosage Form by Michael Aulton; 701-708 Metode sterilisasi dapat dikategorikan sebagai :

a) Proses yang membutuhkan peningkatan energi. Ini termasuk panas kering dan lembab, kombinasi panas dan bahan bakterisida, dan radiasi. b) Proses kimia menggunakan gas bakteri. c) pemindahan bakteri secara fisika dengan penyaringan. a. Sterilisasi panas lembab-autoklaf Panas lembab dalam bentuk uap bertekanan merupakan metode yang paling dipercaya dalam membunuh mikroorganisme. Uap digambarkan jenuh pada suhu yang sesuai pada titik didih cairan yang mendekati tekanannya. Beberapa karakterisitik dari uap kering jenuh disumbangkan pada efisiensi tingginya sebagai bahan pensteril. Bagian besar dari energi panas, sekitar 80 %, adalah bentuk panas tersembunyi. Pada saat uap jenuh mengembun, akan

membebaskan semua panas tersembunyinya dengan cepat. Ini terjadi dalam alat pensteril jika uap menyentuh permukaan dingin dari bahan di dalamnya. Panas tersembunyi yang diberikan pada bahan membuat penyumbangan besar untuk meningkatkannya pada suhu sterilisasi. Sejak semua panas yang sensitif diperoleh dengan kondensasi, tidak ada penurunan temperatur di sekitarnya. Uap yang mengembun juga menghidrasi kehadiran beberapa sisa mikroorganisme lebih sensitif.

Pada saat uap tersaturasi mengembun, ini mengakibatkan pengerutan volume kecil. Dalam kondisi turbulen, campuran uap air bisa membentuk tekanan total hanya tekanan sebagian dari uap terkontrol dari temperatur. Sebagai contoh, jika 90 % pada uap pada suhu 121C dicampur dengan 10 % udara pada tekanan akhir 15 p.s.i, temperatur akhir akan menjadi 118C (13,5 p.s.i. uap tekanan panas). Autoklaf Desain dari berbagai autoklaf harus memastikan muatan diserap dengan uap kering jenuh, di mana pembentukan uap supersaturasi diminimalkan secara efektif dari udara dihilangkan dari wadah dan muatan (jika berpori). Beberapa jenis autoklaf adalah autoklaf pemindahan turun, autoklaf pemberat vakum, autoklaf spray pendingin, autoklaf vakum tinggi, autoklaf berkelanjutan. Autoklaf penggantian penurunan Ini biasanya horizontal unit yang lebih kecil biasanya vertikal. Uap secara external bertekanan tinggi dan berkurang melalui pengurangan katup pada tekanan autoklaf. Pemisah digunakan untuk memindahkan tetesan air dan meminimalkan uap superpanas. Uap diterima pada bagian atas wadah melalui pengencang. Karena uap memiliki densitas lebih rendah daripada udara pada suhu yang sama, udara akan digantikan menurun dengan saluran. Kondensasi juga bisa dihilangkan dengan saluran. Saluran ini dilengkapi dengan kemampuan perangkap dekat dengan sistem dari penghentian udara dan kondensasi sementara uap

jenuh bertahan dalam wadah. Perhatian diberikan untuk melindungi sifon bagian belakang dari saluran ke dalam wadah autoklaf. Disadari bahwa wadah ketinggalan pembungkus uap dibutuhkan untuk autoklaf jenis ini, namum jika digunakan harus hati-hati untuk menghindari superpanas. Pengukuran suhu terjadi pada saluran, sedekat mungkin dengan wadah. Udara dan kondensat akan dikeluarkan sempurna ketika suhu ekuivalen dengan uap jenuh kering pada saat penggunaan tekanan. Kontrol suhu selama waktu sterilisasi adalah dengan pengaturan tekanan uap. Pada akhir waktu sterilisasi, isi autoklaf diperbolehkan untuk didinginkan hingga tekanan nol dan udara masuk ke dalam melalui filter bakteri asli. Kontrol keamanan juga dilakukan untuk memastikan bahwa autoklaf tidak dapat dibuka selama siklus sterilisasi atau hingga isi didinginkan hingga suhu di bawah 8C. Autoklaf pemberat udara Beberapa tahun belakangan ini wadah gelas telah digantikan dengan wadah plastik untuk cairan infus. Sterilisasi panas bisa mengakibatkan plastik melembut, dan penyimpangan wadah bisa terjadi selama penurunan tekanan pada akhir siklus sterilisasi. Beberapa autoklaf dengan desain modern mengganti penurunan tekanan dengan

memasukkan air steril hangat ke dalam wadah pada akhir siklus sterilisasi. Ini diistilahkan dengan pemberat gas. Autoklaf spray pendingin

Muatan besar dari cairan botol bisa membutuhkan waktu pendinginan hingga 80C karena kapasitas panasnya yang besar dan tidak adanya derajat pemindahan panas melalui dan berasal dari dinding gelas. Pengurangan signifikan pada waktu pendinginan bisa dicapai jika botol disemprot dengan kabut dari tetesan air suling. Pecahan botol diminimalkan jika ukuran penetes kecil. Beberapa autoklaf sekarang dilengkapi dengan alat penyemprot pendingin dengan atau tanpa pemberat gas. Penyemprot pendingin bukannya tanpa masalah dan kontaminasi cairan botol, biasanya diakibatkan dari sedikit pendekatan, telah dilaporkan. Autoklaf vakum tinggi Ada masalah yang disadari pada saat penggunaan autoklaf penggantian penurunan untuk sterilisasi muatan berpori yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan udara, dan kondensasi yang

mengakibatkan kekeringan muatan pada akhir siklus. Masalah ini diatasi dengan pengembangan autoklaf vakum tinggi atau autoklaf muatan berpori. Pada alat ini, udara dihilangkan dengan mengurangkan tekanan vakum dengan adanya pompa bersegel minyak atau cincin air, sering dilengkapi dengan termokompresor dan kondenser air dingin. Pada tingkat prevakum siklus, udara dihilangkan dari muatan dan wadah, baik dengan evakuasi wadah yang dipanaskan hingga tekanan absolut 15 mmHg yang diikuti dengan aplikasi berkelanjutan dari vakum, atau dengan perubahan injeksi gas dan evakuasi (penolakan) hingga tingkat residu air dicapai.

Uap diterima dengan segera dan cepat untuk kondisi operasi, biasanya 134C, 32 p.s.i dengan waktu penahan 3-5 menit. Selama tingkat postvakum, uap dengan cepat dipindahkan dengan evakuasi cepat hingga 50 mmHg. Vakum dijaga untuk waktu yang berbeda, biasanya 3-5 menit, tergantung retensi kondensasi muatan, dalam hal menghasilkan muatan yang kering. Udara steril kemudian diterima wadah sampai tekanan mencapai tekanan atmosfer. Jumlah waktu total harus tidak melebihi 30 menit. Autoklaf ini harus dilengkapi dengan alat untuk menentukan kesalahan pemindahan air dan kebocoran udara ke dalam wadah Autoklaf berkelanjutan Autoklaf secara normal dioperasikan dalam mode tidak

berkelanjutan dan produksi industri cairan steril botol sering terbatas pada kapasitas autoklaf dan kecepatannya. Masalah ini tidak seluruhnya teratasi dengan hanya meningkatkan jumlah dan ukuran autoklaf. Masalah yang hampir sama dalam produk industri pengalengan dan susu membawa pada pengembangan sterilisasi berkelanjutan Stock

Amsterdam Hydromatic merupakan contohnya. Ini terdiri dari menara vertikal tertutup besar (sampai tinggi 50 kaki) terdiri dari 3 bagian yang saling menghubungkan : 1. 2. 3. kolom berisi air untuk pemanasan wadah yang membawa pada kolom pusat sterilisasi berisi gas yang membawa pada kolom akhir pendingin berisi air, kadang dengan penyemprot

pendingin tambahan dan bagian pendingin wadah.

Tekanan uap pada kolom pusat diimbangi dengan tekanan hidrostatik pada kolom lain, yang juga menyegel bagian pusat. Suhu sterilisasi bervariasi. Wadah dibiarkan horizontal pada pembawa dan dipindahkan pada kolom pada rantai ascending dan dscending, waktu penahanan pada tingkat apapun dibantu dengan kecepatan rantai Protokol untuk Autoklaf Waktu pada siklus suhu yang direkomendasikan oleh British Pharmacopoeia diberikan oleh tabel di bawah ini.
Tabel waktu pada suhu putaran yang direkomendasikan dalam British Pharmacopeia 1980 untuk sterlisasi panas lembab Temperatur (C) Tekanan (p.s.i) Waktu tahanan minimum (menit)

115-118 10-12,5 30 121-124 15-18 15 126-129 20-24 10 134-138 30-40 3 Harus diingat bahwa siklus ini disusun dengan metode trial and error bukan dengan pendekatan kuantitatif matematik, tidak ekuivalen dalam efisiensi letalnya. Sebagai contoh, nilai D untuk B. Stearothermophilus NCTC 8919 spora dalam suspensi pada 121C dan 115C adalah 2 menit dan 10 menit. Siklus 15 menit pada 121C akan memiliki IF 107,5 melawan spora sedangkan siklus 30 menit pada 115C hanya akan memiliki IF 10 3. umumnya, suhu yang lebih tinggi, pencampuran dengan bahan yang diproses digunakan. Kombinasi lain waktu dan suhu juga digunakan jika bisa efektif. Karena ini adalah waktu pada suhu siklus, waktu yang cukup harus diperbolehkan untuk setiap bagian muatan untuk mencapai suhu

yang dibutuhkan sebelum waktu akhirnya. Waktu pemanasan ini harus ditentukan untuk tiap tipe muatan dan ditambahkan pada waktu penahan. b. Pemanasan dengan bakterisida Metode ini bisa digunakan untuk larutan berair dan suspensi dari obat-obatan yang tidak stabil pada temperatur autoklaf. Bakerisida pada konsentrasi yang dibutuhkan termasuk dalam sediaan yang kemudian didistribusikan oleh wadah akhir bersegel dan dipanaskan dengan waktu yang cukup untuk memastikan bahwa seluruh isi dari setiap wadah dipelihara pada 98-100C selama 30 menit. Bakterisida yang dianjurkan untuk injeksi adalah 0,1 % b/v klorokresol atau 0,002 % b/v fenil merkuri asetat atau nitrat. Dalam larutan mata, klorokresol tidak bisa digunakan namun 0,01 % b/v benzalkonium klorida, klorheksidin, atau tiomersal mungkin digunakan sebagai pilihan menggantikan garam fenil merkuri. Bakterisida dipilih dalam basis dari bebas toksik dan kesesuaian dengan produk, wadah, dan penutupan. Toksisitas bakterisida dihalangi dengan penggunaan teknik ini untuk berbagai tipe injeksi dan injeksi intravena di mana dosis tunggal yang diperbolehkan 15 ml. c. (LTSF) Kegunaan uap bertekanan pada tekanan sub-atmosfer (tekanan uap rendah) dalam kombinasi dengan formaldehid telah disarankan untuk sterilisasi panas sensitif barang dan alat berpori. Tujuan dari proses ini adalah untuk memaparkan barang-barang di antara wadah pensteril pada Temperatur uap rendah dengan formaldehid

campuran homogen dari campuran gas formaldehid monomerik dan uap kering bertekanan pada temperatur yang dipilih. Peralatan yang digunakan hampir sama detailnya untuk autoklaf vakum kering. Kontrol hati-hati dari temperatur autoklaf diperlukan untuk meminimalkan

penguapan dan kondensasi dan polimerisasi formaldehid pada wadah. Pada tipe LTSF, aliran udara pertama dipindahkan dari wadah dan dimasukkan melalui evakuasi dan getaran uap. Ini bisa melembabkan muatan. Protokol untuk sterilisasi LTSF Faktor yang menentukan kondisi umum untuk sterilisasi LTSF masih diinvestigasi dan ada range yang luas untuk protokol. Konsentrasi formaldehid antara 3,3 mgL-1 dan 100 mgL-1 menggunakan kisaran suhu 65-80C. Protokol yang diterima untuk sterilisasi LTSF di UK adalah pemaparan selama 2 jam untuk konsentrasi formaldehid 25 mgL-1 kombinasi dengan uap jenuh kering pada 732C (0,350,03 bar). d. Sterilisasi panas kering Sterilisasi panas kering umumnya dilakukan dalam oven udara panas. Ini seharusnya dipanaskan secara elektrik, dikontrol secara termostatik dan disediakan dengan sebuah kipas angin atau alat peniup turbo untuk menyediakan tenaga sirkulasi berkelanjutan udara. Oven harus mempunyai kontrol proses otomatis dan pintu harus dikunci dari dalam jadi siklus operasi tidak bisa dimulai sebelum ini aman dan tidak bisa dibuka hingga siklusnya telah selesai. Kontrol keamanan melawan

persediaan kegagalan elektrik dari panas yang berlebihan termasuk di dalamnya. Panas dipindahkan dari sumbernya ke dalam wadah dalam oven udara panas dengan konduksi, konveksi, dan radiasi. Konduksi

merupakan kepentingan minor oleh karena area yang kecil dari kontak antara produk dan rak. Pemanas disusun di sekitar wadah untuk memaksimalkan jumlah panas yang diradiasi dari dinding, namun alat-alat dekat dinding akan mencerminkan alat lainnya dalam oven. Hal ini penting untuk membuat fungsi maksimum dari pemindahan langsung panas dari udara dengan menyiapkan dari sirkulasi yang dipaksakan, dan

pemasukan alat-alat untuk membolehkan sirkulasi udara optimum. Sebelum memasukkan, oven harus dipanaskan sampai temperatur yang diperlukan untuk meminimalkan pemanasan alat-alatnya. Waktu

pemanasan bervariasi dan biasanya sangat panjang. Untuk setiap tipe dari pemeriksaan alat harus dikonduksikan dengan termokouple

dimasukkan dalam bagian yang bervariasi dari barang yang menentukan waktu pemanasan, di mana kemudian ditambahkan pada waktu istirahat. Artikel untuk sterilisasi udara panas membutuhkan pembungkusan yang hati-hati sejak tidak ada usaha untuk mensterilkan pemasukan udara pada siklus pada akhir siklus. Sterilizer udara panas berkelanjutan Waktu pemanasan yag diperpanjang, waktu pemanasan dan waktu pendinginan dikombinasi untuk membuat sterilisasi udara panas proses

yang memanfaatkan waktu dan energi intensif. Proses sterilisasi udara panas berkelanjutan telah dikembangkan menggunakan oven konveksi makanan dan oven infra merah. Pengoperasian oven ini pada suhu tinggi (>180C) dan mempunyai keuntungan waktu pemanasan yang singkat. Bahan yang disterilkan dimasukkan ke dalam oven untuk memberikan output yang lebih tinggi. Protokol untuk sterilisasi panas kering Panas kering kurang efisien sebagai bahan pensteril daripada panas lembab dan sebagai akibatnya, dibutuhkan suhu yang lebih tinggi dan waktu pemaparan yang lebih lama. Ini merupakan variasi yang disadari untuk waktu pada suhu siklus yang disarankan. Contoh dari siklus ini diberikan oleh tabel di bawah ini : Sumber Medical Research Cuncil Memorandum No. 41 (1962) 160 170 British Pharmacopoeia (1980) 180 160 60 40 20 60 Suhu (C) Waktu tahan minimum (menit)

180 11 British Pharmacopoeia merekomendasikan 150C selama 1 jam untuk sediaan cairan nonair namun ini umumnya sangat sedikit. Banyak sediaan farmasetik tidak dapat disubyekkan dengan suhu pada tabel di atas dan membutuhkan alternatif waktu pada suhu siklus untuk diperlihatkan.

Kombinasi lain dari waktu dan suhu yang digunakan untuk sterilisasi panas kering umumnya efektif. e. Sterilisasi radiasi Sterilisasi radiasi merupakan proses temperatur rendah dan mungkin sebagai alternatif lain untuk proses temperatur rendah lainnya seperti etilen oksida untuk sterilisasi bahan tidak stabil pada pemanasan. Tipe radiasi ionisasi, mekanisme aksinya dan faktor yang mempengaruh aktivitas bakterisidalnya. Hanya 2 tipe radiasi yang digunakan dalam sterilisasi, elektromagnetik (UV dan gamma) dan partikulat (elektron energi tinggi). Radiasi UV pada panjang gelombang antara 240 dan 280 nm adalah bakterisidal tapi mempunyai kemampuan penetrasi yang kecil. Ini harus digunakan untuk mensterilkan udara dan air dalam lapisan tipis, namun ini bukan sumber yang dapat diterima dalam sterilisasi radiasi untuk peralatan kesehatan atau obat-obatan. Radiasi Gamma Sumber utama sinar gamma yang digunakan untuk sterilisasi adalah isotop radioaktif
60

Co. Ini diproduksi dengan menampakkan kobalt

alam pada neutron dalam reaktor, dan mempunyai waktu paruh 5,3 tahun. Radiasi dari 60Co terdiri dari 2 proton (1,33 dan 1,17 MeV) dan 1 elektron (0,31 MeV) memberikan emisi total per disintegrasi 2,81 MeV. Fasilitas sterilisasi modern terdiri dari antara 106 dan 2x106 Ci sumber bahan radioaktif. Sangat mungkin bahwa 60Co akan digantikan dengan caesium137 yang merupakan produk disintergasi dari uranium.
137

Cs mempunyai

output energi yang lebih rendah (0,66 MeV) daripada 60Co. Kerumitan dan perhatian yang besar diberikan untuk melindungi lingkungan dan operator dari efek radiasi. Wadah radiasi dikelilingi beton. Isotop adalah bentuk butir dengan jumlah ganda, tube besi baja, dan ketika tidak digunakan bergabung sebagian dalam air. Bahan dibungkus dalam box dengan ukuran standar yang disuspensikan dari rel tunggal dan dibawa ke dalam dan keluar wadah untuk memastikan semua bagian menerima dosis yang sama. Perbedaan bisa diberikan jika waktu pemaparan berbeda. Emisi gamma berlanjut, dan ini bersama dengan kapital tinggi penggantian sisa harga metode yang hanya cocok untuk pengunaan skala besar. Elektron energi tinggi Ini merupakan partikel yang diakselerasi menjadi energi tinggi (5-10 MeV) dalam akselerator elektron. Pada tingkat energi ini penetrasi elektron memuaskan dan masalah radiasi yang diinduksi ke dalam produk minimal. Tingkat dosis dalam akselerator elektron lebih tinggi dari sumber gamma dan dosis sterilisasi bisa dicapai dengan cepat. Perlindungan lingkungan dan operator melawan radiasi elektron dibutuhkan sama seperti radiasi gamma. Protokol untuk sterilisasi radiasi Dosis sterilisasi yang diterima adalah 2,5 Mrad (25 kGy). Tidak seperti panas, efek radiasi kumulatif, dosis sterilisasi bisa dibagi. Metode sterilisasi lain yang menggunakan peningkatan energi

Iiradiasi dengan sinar laser telah disarankan sebagai metode sterilisasi yang mungkin dan menjanjikan aktifitas bakterisidal yang ditunjukkan dengan laser CO2 yang tidak fokus 50 W. Karena waktu pemaparan sangat singkat, pada 0,01 s, hanya ada kenaikan sedikit suhu, dan metode diaplikasikan untuk bahan yang thermolabil. Penggunaan frekuensi radio umumnya plasma argon, helium, oksigen, dan nitrogen sebagai bahan pensteril juga telah disadari. Kapasitas penetrasi baik dari laser beam dan plasma terbatas dan menyembunyikan potensinya untuk mensterilkan permukaan dan lapisan tipis. f. Walaupun peralatan yang banyak Sterilisasi gas bahan menghambat peralatan aktivitas yang antimikroba, dan

dibutuhkan

untuk

memadai

pemindahan efisien dari bahan yang berarti hanya bahan kimia yang beruap yang digunakan dalam sterilisasi. Etilen oksida, kebanyakan digunakan. Sterilisasi etilen oksida Konsentrasi, suhu, kelembaban relatif, dan waktu pemaparan kritis dan membutuhkan pengontrolan hati-hati selama proses sterilisasi. Perawatan harus diberikan untuk menghindari kemacetan pemuatan miroorganisme dan untuk memastikan penetrasi gas. Sterilizer komersial terdiri dari wadah yang dipanaskan yang kedap udara dan dapat untuk mempertahankan tekanan tinggi dan vakum. Ini berhubungan dengan pompa vakum efisiensi tinggi untuk

mengekstraksikan udara sebelum, dan campuran gas setelah sterilisasi. Wadah yang luas dan penukar panas digunakan untuk menguapkan dan menghangatkan gas yang diterima wadah melalui inlet. Pemeliharaan kelembaban relatif sekitar 33 % pada wadah juga disediakan. Muatan diprekondisikan selama 24 jam dengan kelembaban dengan kelebihan 60 % atau tingkat prekelembaban termasuk saat permulaan siklus. Wadah juga dipanaskan hingga suhu yang dibutuhkan dan pemasukan vakum untuk menarik air dari muatan tanpa mengeringkannya. Etilen oksida dan uap air juga diterima melalui wadah yang diperluas dan penukar panas untuk konsentrasi yang dibutuhkan, kelembaban relatif, dan tekanan. Kondisi sterilisasi diperoleh untuk waktu penahan yang dibutuhkan biasanya dengan getaran. Vakum tinggi juga kemudian ditarik dan ditahan untuk waktu yang cukup untuk memastikan pengeluaran gas dari wadah dan muatan dan udara steril diterima. Waktu jaminan setelah sterilisasi selama 24 jam dibutuhkan untuk memindahkan jumlah sisa etilen oksida dari muatan. Protokol untuk sterilisasi etilen oksida Harus ada penentuan individual untuk setiap produk oleh produk muatan standar terdiri dari potongan tes biologi yang bisa dipercaya. Konsentrasi etilen oksida antara 450 dan 1500 mgL-1 telah digunakan. Kisaran suhu dari 25 sampai 60C tergantung dari produk dengan tekanan wadah antara 2 dan 10 p.s.i. Sterilisasi etilen oksida merupakan proses

yang lambat dan membutuhkan waktu pemaparan sampai 36 jam pada suhu rendah. Waktu penahan 3 jam pada suhu tinggi telah digunakan. g. Sterilisasi penyaringan Larutan thermolabil mungkin disterilkan dengan filtrasi melalui filter bakteri yang cocok. Sterilisasi dengan filtrasi berbeda dengan proses sterilisasi lainnya sebab mikroorganisme dikeluarkan secara fisika dan tidak dihancurkan. Filter bakteri tersedia dalam beberapa variasi tipe termasuk filter keramik porselen berpori, filter asbestos/selulosa, filter sintered-glass dan filter membran. Filter seperti asbestos/selulosa mungkin bisa melepaskan serat atau partikel yang tidak cocok untuk penggunaan farmasetikal kecuali seperti prefilter. Filter membran adalah yang paling sering digunakan untuk sterilisasi filtrasi. Kecepatan filtrasi yang tinggi, bersamaan dengan retensi cairan yang lambat dan minimal absorpsi larutan, menghasilkan pembentukan porositas yang tinggi dan seragam merupakan sifat dari filter membran. Lebih jauh, karena fungsi ini umumnya lebih sebagai filter layar daripada filter di dalamnya, ada resiko organisme akan terperangkap di dalam matrix filter dan bertumbuh. Filter membran tersedia dalam kisaran ukuran pori dari 0,025 m sampai 14 m. Ukuran pori dari 0,2-0,22 m direkomendasikan untuk sterilisasi penyaringan. Kisaran bahan yang dibolehkan seleksi filter membran adalah yang cocok dengan produk. Filtrasi bisa dilakukan di bawah tekanan positif atau negatif. Tekanan negatif terbatas pada perbedaan tekanan maksimum 1 atmosfer

dan akan menyebabkan busa pada filtrat. Filtrasi tekanan positif dilakukan dengan menggunakan tekanan gas udara atau nitrogen pada sisi uap atas dari filter. Perbedaan tekanan dibatasi hanya dengan susunan dan konstruksi alat. Ketika menggunakan filter membran untuk larutan terkontaminasi berat, penggunaan filter dalam atas uap sebagai prefilter akan meminimalkan penyumbatan membran dan akan membolehkan proses filtrasi untuk mencapai efisiensi retensi absolut pada ukuran yang spesifik dan mempunyai kapasitas menahan partikel yang tinggi. Filter diproduksi dengan variasi ukuran: diameter 13 dan 25 mm akan mengatasi volume spoit sedangkan diameter 45 mm, 90 mm, dan 142 mm akan menangani volume 300 ml, 5 liter, dan 20 liter. Untuk filtrasi volume yang lebih besar, sistem filter multiple plate and pleated cartridge tersedia. Filter untuk sterilisasi filter bersama dengan penurunan distribusi alat harus disterilkan dan ini umumnya di autoklaf pada suhu 121C atau dengan etilen oksida. Sterilisasi penyaringan melibatkan filtrasi larutan melalui bahan penyaring steril diikuti aseptik dari wadah larutan yang terfiltrasi sebelumnya dan wadah aseptik. Ini merupakan proses aseptik dan harus dilakukan oleh operator terlatih di bawah kondisi aseptik. Penyaringan tidak mengarah pada proses validasi dengan metode fisika atau kimia yang terpercaya dan uji sterilisasi harus dilakukan untuk semua produk yang disterilkan dengan penyaringan. Pemilihan metode sterilisasi

Dengan penerapan metode sterilisasi energi ditingkatkan dan bahan kimia selalu ada kemungkinan bahwa proses akan menghasilkan efek yang berbahaya pada bahan yang disterilkan. Adapun pemilihan metode sterilisasi berhubungan antara resiko kegagalan yang bisa diterima untuk mencapai sterilitas dan kerusakan maksimum yang bisa diterima pada produk dan bungkusannya. Sterilisasi panas secara praktis merupakan metode pilihan. Sterilisasi panas lembab diaplikasikan pada variasi luas sediaan berair untuk rute parenteral dan nonparenteral. Ini juga bisa diaplikasikan untuk karet alami dan banyak plastik, termasuk PVC dan nilon. Peralatan gelas dan alat-alat lain bisa di autoklaf disiapkan bahwa penetrasi adekuat uap dan pemaparan kelembaban tidak merusak. Autoklaf merupakan metode sterilisasi yang paling efektif untuk pakaian bedah dan autoklaf vakum tinggi sebagian memuaskan peralatan esential yang dibutuhkan untuk pengeluaran total udara dan perlindungan dari penguapan berlebihan. Ketika bahan-bahan dirusak karena adanya kelembaban, misalnya minyak, basis salep, wax, dan serbuk, sterilisasi panas kering lebih mungkin digunakan. Ini merupakan metode pilihan untuk peralatan gelas, spoit, dan peralatan bedah. Pemanasan berlebih, dan juga resiko degradasi produk selama sterilisasi panas, bisa diminimalkan dengan menyadari penggabungan letalitas yang mendekati protokol sterilisasi. Juga, sejak parameter Arhenius untuk degradasi obat dan letalitas biasa ditandai berbeda, ini

mungkin untuk mengurangi jumlah degradasi obat, tanpa mempengaruhi letalitas secara signifikan, dengan menggunakan temperatur tinggi, protokol waktu pendek pada tempat dengan suhu rendah, protokol waktu panjang. Perawatan temperatur tinggi waktu singkat (HTST) selama 15-45 detik pada 130C dan perawatan temperatur ultra tinggi (UHT) selama 2-3 detik pada 140-150C digunakan pada kebanyakan sterilisasi panas bagi produk makanan yang sensitif terhadap panas bisa diaplikasikan untuk beberapa sediaan farmasetikal. Banyak bahan yang tidak dapat bertahan pada suhu yang digunakan pada sterilisasi panas dan membutuhkan teknik sterilisasi dingin. Etilen oksida telah digunakan untuk sterilisasi serbuk yang tidak stabil terhadap panas, beberapa plastik dan karet, peralatan bedah, misalnya bronkoskop, dan sitoskop, pakaian bedah dan selimut dari wol. Gas harus dapat berpenetrasi ke semua bagian dari bahan yang akan disterilkan. Sterilisasi LTSF (digambarkan di atas) juga diaplikasikan untuk selimut dari wol dan beberapa peralatan bedah. Sejak etilen oksida dan formaldehid merupakan bahan kimia dengan reaktifitas tinggi perlu dibuktikan bahwa tidak ada produk reaksi toksik yang dibentuk selama sterilisasi. Kemampuan metode sterilisasi gas dipertanyakan karena kondisi kritis dibutuhkan dan kesulitan memonitoring kondisi ini, dan metode ini hanya disarankan jika metode yang dapat dipercaya tidak dapat digunakan.

Metode alternatif sterilisasi dingin, radiasi, juga dipercaya, namun terlalu banyak kerugiannya termasuk degradasi dalam variasi yang luas pada bahan-bahan. Larutan berair sediaan farmasetikal tidak dapat disterilkan dengan radiasi degradasi yang luas akan membawa produk radialisis pada air. Metode ini digunakan untuk sterilisasi skala besar dari spoit plastik, cawan petri dan pakaian bedah, peralatan bedah, pakaian (sebagian pakaian yang adhesif), dan benang bedah. Ketika sterilisasi akhir dari salah satu metode sterilisasi di atas tidak dapat digunakan, sterilisasi dengan penyaringan dan proses aseptik merupakan satu-satunya metode yang digunakan. 6. Textbook of Pharmaceutics; 529 Proses yang digunakan untuk mengefektifkan sterilisasi sediaan farmasi diklasifikasikan atas : a) Proses yang melibatkan penggunaan fisika Ini mungkin melibatkan penggunaan panas dalam kehadiran atau ketiadaan kelembaban, atau aplikasi UV, atau radiasi ionisasi. b) Proses mekanik Untuk banyak penggunaan, penggunaan larutan kimia, untuk permukaan peralatan atau pada kulit, tidak menghasilkan sterilitas. Bakterisida kimia bisa digunakan dalam larutan bersamaan dengan penggunaan panas untuk sterilisasi untuk injeksi tidak tahan panas tertentu, metode ini dibolehkan dalam British Pharmacopoeia 1973, dalam

beberapa hal. Gas bakerisida juga bisa digunakan dalam sterilisasi alat dan bahan yang mungkin rusak oleh pemanasan. c) Proses kimia Pada metode ini, organisme tidak dibunuh in situ, tapi dihilangkan dengan penyaringan. Sterilisasi Panas Lembab a. Perendaman dalam air mendidih Ketika air mendidih akan membunuh organisme tidak berspora dengan cepat, kebanyakan spora mulai resisten, dan beberapa dapat hidup selama 5 jam atau lebih, walaupun secara umum nonpatogenik. Saat pendidihan hanya digunakan sebagai prosedur sterilisasi darurat untuk alat bedah, bisa dikatakan bahwa spora patogenik itu sendiri penting, namun ini resisten dengan baik, beberapa strain melawan pendidihan selama 95 menit. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, gambaran telah diberikan dari titik akhir tujuan dari titik kematian, yang menunjukkan variasi yang luas, dan tentu saja, Kelsey (1958), berpendapat bahwa pada 10C, dikalkulasi mendapatkan persamaan pembunuhan dalam 5 menit pada suhu 121C, yang disadari sebagai penawaran yang berharga dari keamanan, pendidihan selama 5 jam mungkin dibutuhkan. Ini tidak mengejutkan ketika di rumah sakit metode ini telah dibebaskan dan digantikan dengan penggunaan alat individual yang dibungkus dan steril, atau membentuk sumber komersial

memproduksi unit steril dispo. Beberapa vaksin disterilkan dengan

pemanasan dengan air pada suhu 55-60C. Vaksin ini, seharusnya merupakan suspensi mikroorganisme yang diketahui dan harus bebas dari spora, dan temperatur rendah digunakan untuk membunuh organisme yang ada tanpa merusak sifat antigeniknya. b. Sterilisasi dengan uap pada tekanan terelevasi Meskipun uap pada tekanan atmosfer bisa digunakan untuk sterilisasi kultur media sensitif panas, proses ini tidak dapat dipercaya, dan umumnya dihindari. Untuk banyak media yang disiapkan dengan granula kering, untuk sarung tangan karet, peralatan gelas atau wadah dengan tutup karet atau garis, untuk larutan injeksi dan pakaian bedah, sterilisasi dengan uap pada tekanan melebihi tekanan atmosfer umumnya digunakan. Proses ini disebut autoklaf. Autoklaf Prinsip dari sterilisasi uap Jika air dididihkan dalam wadah terbuka, misalnya tekanan atmosfer, dan jika wadah kemudian ditutup dan dipanaskan berkelanjutan, temperatur air dan uapnya akan melebihi titik didih normal dan tekanan juga akan meningkat. Dianggap bahwa semua udara telah dikeluarkan dari wadah sebelum ditutup, hubungan temperatur-tekanan akan

ditunjukkan dengan grafik di bawah ini. Tekanan dalam satuan kgf/cm 2 di atas tekanan atmosfer, dan fase batas dari kurva titik didih di mana gas dan air ekuilibrium dan gasnya telah disaturasi. Kolom 1 dan 2 dari tabel di bawah ini akan menggambarkan yang mana merujuk pada titik dari kurva.

Grafik :

Tabel
Efek hubungan suhu/tekanan dari uap dan udara Temperatur campuran uap tersaturasi Tekanan uap (di atas atmosfer) 0 lbf/in2 10 lbf/in2 15 lbf/in2 20 lbf/in2 30 lbf/in2 0 kgf/cm2 0,70 kgf/cm2 1,05 kgf/cm2 1,40 kgf/cm2 2,10 kgf/cm2 dengan prentase (oleh volume) adanya udara 0% 20 % 40 % 60 % 80 % 100 94 86 76 61 115 108 100 89 72 121 114 104 92 74 126 118 110 98 81 134 126 118 106 87

Uap tersaturasi Pada saat uap tersaturasi, ia mempunyai kapasitas maksimum untuk berkondensasi. Dalam melakukan hal ini, uap menghasilkan panas laten pada bahan yang terkondensasi. Panas yang meningkat pada bahan yang sedang disterilisasi pada suhu 115-135C adalah sangat cepat, karena energi panas yang dibebaskan sekitar - waktu yang dibutuhkan dalam jumlah yang sama untuk mengkondensasikan air. Air yang

terkondensasi juga membantu proses sterilisasi dengan menghidrasi mikroorganisme yang ada dan membiarkan mereka untuk mudah terbunuh. Lebih lagi, pada saat uap mengembun, kontraksi terjadi dan uap lebih banyak dibawa pada area untuk menstabilkan tekanan, sehingga melanjutkan pembentukan panas lokal sampai kondensasi sempurna. Uap superpanas Jika kondisi suhu dan tekanan dan efeknya yang diperlihatkan pada titik di atas fase batas pada grafik di atas, maka uap akan kurang dari yang tersaturasi, dan ini disebut uap superpanas. Uap tersaturasi bisa menjadi uap superpanas jika uap diisolasi dengan kontak dengan air dan dipanaskan lebih jauh atau disebabkan perluasan pengurangan tekanan, atau dengan kombinasi jika kedua kondisi bertemu. Hal ini, tentu saja, akan selalu terjadi jika temeperatur naik terjadi pada tekanan konstan, atau tekanan menurun pada saat suhu konstan, seperti yang ditunjukkan oleh garis XA dan XB pada grafik di atas. Sebaliknya, jika uap didinginkan pada tekanan yang diperbolehkan untuk meningkat, kondensasi akan terjadi jika kondisi terbalik fase batas pada titik di bawahnya. Uap juga bisa menjadi superpanas jika campuran dengan udara pada tekanan konstan, untuk sebagian tekanan uap air akan diturunkan dan kemampuan molekul air untuk berkondensasi akan berkurang. Tabel di atas menunjukkan bahwa efek dari larutan pada suhu dari uap tersaturasi pada tekanan berbeda keseluruhan. Jika terdapat bagian udara yang tidak diketahui pada autoklaf, baik pembacaan suhu maupun

tekanan akan ditampilkan tidak bersama-sama. Namun, jika kedua pembacaan terjadi bersamaan, bahwa kondisi ini tidak berhubungan dengan uap air murni, dan aksi yang mungkin diperlukan. Autoklaf industri dilengkapi dengan perekam temperatur dan tekanan, dan perhatian lebih harus diberikan untuk memastikan kondisi sterilisasi dicapai. Kepentingan ini telah ditunjukkan dengan insiden yang terjadi pada tahun 1971 karena pembacaan perekam suhu ditolak sebab diasumsikan sebagai kesalahan, walaupun pembacaan yang rendah itu meningkatkan kehadiran air yang tidak dikosongkan dari autoklaf. Superpanas juga bisa diproduksi jika tempat panas lokal terjadi misalnya penutupan dinding wadah dengan tutup autoklaf jika dipelihara pada suhu di atas wadah, atau dengan interaksi uap air dengan bahan yang disterilkan pada saat adsorpsi panas positif. Interaksi seperti ini terjadi pada saat serat katun diadsorpsi dan mengabsorpsi lembab dari uap, jika air bertindak sebagai efek batas dari cairan dan adsorpsi panas sama dengan jumlah panas laten dan sisa panas dari air. Serat akan dipanaskan dengan cepat, namun superpanas juga bisa terjadi. Hal ini akan terjadi bila bahan katun telh dikeringkan sebelumnya hingga kelembabannya kurang dari 1 %. Kain dan pakaian katun normalnya mengandung 5 % kelembaban, adsorpsi panas biasanya menghasilkan tingkat superpanas yang tidak berarti. Tingkat superpanas yang masih bisa ditoleransi

Jika ada bahan yang tidak larut dalam air, tekanan uapnya akan menurun dan larutan akan berada dalam ekuilibirum dengan uap yang akan tersuperpanas dengan air. Savage (1937) menyatakan bahwa substansi bakteri harusnya dihargai dengan cara ini, dan jika bisa ekuilibrium dengan uap menunjukkan beberapa derajat superpanas, sehingga kondensasi tidak akan terjadi. Ia mencoba efisiensi uap dengan memvariasikan tingkat superpanas yang mungkin terjadi dan masih menyediakan kenaikan kondisi sterilisasi yang memuaskan. Pada suhu autoklaf yang biasa, misalnya 115-120C, sterilisasi bisa dicapai di antara jadwal waktu normal, walaupun 2 atau 3 tingkat dari superpanas yang ada. Savage menyarankan prosedur ini untuk memastikan pakaian tetap kering setelah sterilisasi, namun Medical Research Councils Working Party (1959) menyarankan bahwa superpanas dapat terjadi pada pakaian selama adsorpsi panas dan tidak ada superpanas yang bisa ditoleransi. Mereka menyarankan bahwa uap harus ditambahkan pada wadah tanpa superpanas apapun. Uap Basah dan Kering Ketika uap dihasilkan oleh boiler, ini mengandungi dari boilers, namun tetesan air dalam jumlah banyak. Jika uap basah seperti sterilisasi itu, maka akan mengurangi kondensasi dari uap air, jadi panas laten akan dibuat uutuk menghasilkan pemanasan cepat. Apalagi jika objek yang disterilkan bersifat absortif, misalnya pakaian bedah, kertas saring, mereka akan menjadi basah kunyup. Sebelum masuk ke dalam autoklaf,

ada kelebihan kelembaban yang dihilangkan oleh pemisah. Uap akhir, bebas dari tetes air, disebut sebagai uap kering. Desain dan Penggunaan Autoklaf Autoklaf yang mudah dibawa Autoklaf yang mudah dibawa sangat mirip dengan pembuat kuebertekanan. Autoklaf ini terdiri dari aluminium atau besi baja tegak lurus, mesin silinder, dengan kapasitas 15 L, dilengkapi dengan penutup yang ditekan dengan delapan mur kepitan dan dibawa dengan ukuran tekanan, sebuah lubang angin, dan katup yang mudah dipindahkan. Penutup luar memastikan bahwa semua kapasitas mesin bisa digunakan, namun perubahan mengakibatkan kerugian. Jika salah satu penekan mengalami kerusakan, akan ada tekanan pada yang lain, yang dapat mengakibatkan peledakan. Sangat penting bahwa semua penekan harus benar-benar diamankan dan harus dirawat dengan baik. Penutup itu sendiri berat dan tidak mempunyai termometer, hal ini akan berbahaya jika penutup diturunkan, dan tidak mudah dibalikkan. Kondisi di dalam autoklaf diindikasikan secara tunggal oleh ukuran tekanan. Walaupun saturasi akan selalu dijaga dengan adanya air di dasar autoklaf, sangat penting bahwa semua udara harus dikeluarkan sebelum penutupnya ditutup, jika tidak pembacaan nilai tekanan akan mengindikasikan temperatur lebih tinggi dari yang dicapai. Rancangan yang lebih memuaskan ditunjukkan pada autoklaf bangku. Bagian tutup dicocokkan dengan bibir bawah dari pembuka pada

bagian atas bejana besi baja. Ini menawarkan keamanan maksimum, karena meningkatnya tekanan menjamin tutup lebih kuat. Keduanya, tutup dan pembuka bentuknya oval sehingga pembukanya dapat dimasukkan secara diagonal dengan sumbu sempit yang diberikan pada bagian yang lebih lebar dari pembukanya. Pembukanya kemudian diputar di bawah posisi benar dan lurus dengan pembuka dan dijamin dengan kayu melintang melalui gagang atau pegangan. Pada kayu terdapat klem sekrup 1 dari terakhir yang dapat dipasang di bawah bibir, lalu kayu dinaikkan dan penutupnya digantungkan padanya. Penutup dikelilingi oleh pelek karet dan ini di bawah dengan rapat berlawanan bagian bawah dari bibir bejana. Itu hanya spring loaded dengan katup aman dan ukuran tekanan dan sangat terang dan mudah ditangani. Termometer dengan lampu pelindung dimasukkan pada bibir dan bukan pada penutup sehingga tidak merusak ketika dimasukkan atau dikeluarkan. Bibir juga membantu termostat yang dapat diset kembali diperlukan untuk menjaga temperatur di autoklaf dan dapat di monitoring secara adekuat karena keduanya pembacaan suhu dan tekanan dapat di buat. Tipe dari autoklaf ini dideasin menjadi panas pada cincin gas, tetapi model panas secara elektrik juga mungkin. Bila objek yang disterilkan relative besar misalnya botol infus, ini ditempatkan pada lubang-lubang piring yang berada pada bagian bawah autoklaf. Pengaturan ini memberi ruang kepala maksimum, di mana perlu penyisipan penutup untuk

mengurangi ini. Artikel lebih kecil dapat ditempatkan pada suatu keranjang kawat kaki di mana menjaga mereka di atas air. Suatu blow-off klep dicoba di sisi autoklaf dalam rangka untuk mengosongkan udara. Karena gerakan turbulens dihasilkan ole air mendidih, udara dan uap dicampur dengan baik dan posisinya agak

rendah dari katup tidak menyebabkan kerusakan. Tidak seperti model pertama yang dipaparkan, katup tidak ditangkap oleh tube siphon yang ada di samping vessel. Ini digunakan untuk mengubah haluan kelebihan air kemudian uap air dari proses akhir autoklaf untuk menciptakan kondisi yang kering. Ini merupakan kenyataan dari arti penting pada sterilisasi pakaian dan autoklaf portable tidak cocok untuk ini. Leh karena itu tube sifon tidak diperlukan. Pengoperasian Pengoperasian dari tipe autoklaf ini sangat sederhana. Kira-kira 2 liter dari air ditempatkan pada vessel, objek yang akan disteilisasi dimasukkan di dalamnya dan bibir autoklaf ditutup. Lubang angin dibuka dan dipasang panas. Jika mengandung larutan dengan segel terbuka seperti kultur bakteriologi dalam tabung diisi, disterilisasi, tidak boleh diletakkan dalam autoklaf sampai airnya mulai mendidih konsentrasi dari larutan mungkin terjadi selama periode pemanasan. Ketika uap air telah dikeluarkan secara bebas dari lubang angin selama 5 menit, terakhir ditutup. Temperatur dan tekanan kemudian naik hingga jangkauan yang dulu dikendalikan oleh termostat. Ketika ini terjadi, pemanasan dilanjutkan

dan diperlukan waktu dan autoklaf dan selanjutnya dibolehkan untuk dingin. Segera tekanan dalam autoklaf tetesan dari atmosfer, ventilasinya di buka supaya meteran tidak rusak oleh ruang hampa udara. Mungkin juga beberapa penguapan menyebabkan wadah segel terbuka. Injeksi dalam ampul lebih banyak dipindahkan secara cepat, namun infus intravena dalam botol besar, karena saluran panas dari bahan yang sedikit, pendinginan lebih lambat daripada autoklaf itu sendiri. Oleh karena itu mereka mempertahankan tekanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan atmosfer untuk suatu waktu dan jika dipindahkan terlalu awal bisa meledak. Bila temperatur autoklaf dikontrol dengan thermostat, tidak absolut diperlukan untuk melepaskan udara dari autoklaf, karena kebenaran temperatur akan dicapai, dan diutamakan dan saturasi akan selalu terjadi dalam hubungannya dengan cadangan air. Lubang angin, bagaimanapun akan menurunkan resiko dari kantong udara sisa atau dalam objek untuk disterilkan dan memastikan suatu penetrasi uap air yang memuaskan. Autoklaf Horisontal Skala Besar Autoklaf yang mudah dibawa yang dijelaskan di atas dapat juga digunakan untuk beban kecil dari botol vaksin atau untuk satu atau dua botol transfusi. Untuk beban berat, autoklaf horizontal digunakan desain umum. Uap utama dilewati 1 kran reduksi untuk membawa tekanan hingga yang memerlukan untuk operasi dan kemudian melalui suatu mesin

pemisah B untuk memindahkan droplet air. Garis uap air kemudian dibagi dalam dua cabang, satu cabang melingkari jaket dari chamber dan yang lain mendorong ke arah puncak chamber itu sendiri di mana uap air diijinkan sampai penutup F. Chamber dilengkapi dengan tekanan P dan katup Penghilangan Udara Langkah selanjutnya terdiri dari proses yang memasukkan uap air ke dalam chamber dan menghilangkan udara darinya. Pemindahan yang Menurun Uap air yang telah selesai dimasukkan dalam chamber melalui F, dinding antar yang dirancang untuk memastikan bahwa uap air diarahkan pada puncak chamber dalam suatu pergolakan, sehingga sebuah kantong udara tidak dibentuk. Uap air sedikit lebih ringan dari udara pada temperatur yang sama, berangsur-angsur memindahkan udara dan campuran aliran udara dibawahnya dan tekanannya keluar melalui G. Ketika proses ini selesai, perekam temperatur pada G akan meningkat ke uap jenuh pada tekanan tersebut yang ditunjukkan oleh alat-alat pengukur tekanan chamber. Dalam praktek, suatu vakum yang rendah dapat ditarik sebelum pemasukan uap tetap untuk cairan-cairan dalam botol dan dapat membantu dalam memindahkan bagian udara sebelum uap air

dimasukkan untuk memindahkan sisa (Clothier Report 1972) Ketinggian Sebelum Proses Vakum

Pada proses ini udara dipindahkan melalui penurunan tekanan vakum hingga sekitar 20 mmHg. Vakum dapat diterapkan secara terusmenerus selagi uap air dimasukkan secara berlanjut (Alder 1970), tetapi biasanya aplikasi dari vakum dan pemasukan uap dibuat untuk mengubah; dua periode evakuasi seringkali dilakukan, masing-masing diikuti oleh pemasukan uap air. Sebuah vakum 20 mmHg (absolut) ditarik (Knox & Penikett), yang diikuti oleh ledakan pendek dari uap air untuk menaikkan tekanan diatas atmosfer. Vakum membentu penetrasi dari serat-serat oleh uap air yang menaikkan temperatur, tetapi aliran masuk yang berikut dari uap air juga udara yang masuk dan membawa kembali ke serat-serat, sehingga seperti uap air padat, kantong udara kecil dibentuk. Suatu vakum yang kedua dibutuhkan untuk memindahkan dan hal ini dibantu oleh boiling-out dari air kondensasi. Wilkinson dan Peacock (1961) memperlihatkan bahwa pada pengemasan bahan seperti handuk-handuk rumah sakit, hasil yang lebih baik diperoleh jika temperatur jaket ditetapkan pada 135C dan hingga uap air yang pertama penuh, tekanan dinaikkan hingga 200 mmHg. Uap air dengan temperatur cukup tinggi ditarik ke dalam serat-serat itu untuk menaikkan temperatur mereka hingga 45C dan untuk menyediakan fasilitas boiling-out yang baik ketika vakum kedua dari 20 mmHg diterapkan. Pada akhir ini, temperatur dari tetesan serat-serat hanya sampai 400 dan uap air diijinkan masuk kembali hingga 2,11 Kgf/cm2 (30lbf/in2) pada alat pengukur setiap 3 menit. Ketinggian prevakum, proses

temperatur tinggi sangat mengurangi waktu pengambilan suatu siklus sterilisasi lengkap sehingga masing-masing tahapan memiliki durasi yang pendek, tetapi tidak cocok untuk bahan yang sangat kering atau lembab sebelum sterilisasi. Henry dan Scott (1963) memperlihatkan bahwa boiling-out menjadi lebih siap dengan ruang penuh dari pada sebuah autoklaf yang mempunyai ruang udara yang luas telah ditinggalkan dan disarankan untuk menyingkirkan berbagai kesulitan dengan beban ringan suatu vakum tinggi lebih baik dari pada tekanan 15 mmHg digambarkan oleh suatu steam-jacketed, pompa oil-sealed. Waktu Pemanasan Ketika cairan dalam botol besar disterilkan, ini bisa dipertimbangkan, seperti panas penetrasi setiap materi dari beban melambat. Waktu yang diperlukan akan berbeda dari tiap volume botol dan temperatur uap air, dan tingkat penetrasi panas oleh karena itu ditentukan oleh penempatan thermocouples pada spesimen. Perekaman dari termometer chamber sering digunakan, tetapi itu hanya memberi suatu perkiraan dari kondisi dalam autoklaf. Untuk waktu pemanasan sebuah botol tranfusi 500 ml, menggunakan uap air pada 1150 sekitar 15 menit (Pharmaceutical Handbook 1970). Ketika proses high-vacuum digunakan untuk beban-beban yang menyerap, penetrasi cepat uap air dengan cepat menaikkan temperatur

dari bahan yang sedang disterilkan dan tidak perlu untuk memungkinkan waktu pemanasan lebih lama. Periode Sterilisasi Ketika semua udara telah dipindahkan dari chamber dan dari beban di dalam kasus dari objek yang menyerap dan ketika keseluruhan beban sudah dinaikkan pada temperatur sterilisasi, hal ini dilakukan dalam waktu yang diperlukan. Catatan tambahan 29 Of The British Pharmaceutical Codex 1973 daftar temperatur waktu kombinasi yang diusulkan oleh the Medical Research Council Working Party (1959). Pilihan dari kombinasi yang digunakan tergantung pada kemampuan dari material yang disterilkan. Temperatur (0C) 115-116 121-123 126-129 Corresponding nominal pressure in excess of atmospheric (Kgf/cm2) (lb/in2) 0,70 1,05 1,40 10 15 20 Recommended minimum holding time (min) 30 15 10 3

134-138 2,25 32 Pengeringan / Pembuangan Udara dan Kondensasi

Selama pemindahan menurun dari udara , ini adalah lubang melalui saluran pada bagian bawah chamber. Untuk mencegah hilangnya uap air secara berlebihan pada waktu yang sama, suatu perangkap uap air disisipkan di dalam garis jalan keluar. Ini bisa berupa suatu perangkap.

Kapsul fleksibel berisi suatu campuran cairan yang mendidih pada suatu temperatur sedikit lebih rendah dari air. Ketika udara lewat melalui katup kapsul tidak diperluas, tetapi setelah udara dikosongkan dan uap air masuk perangkap yang menaikkan temperatur, menyebabkan kapsul itu mengembang dan menutup jalan keluar. Perangkap itu perlu membuka dalam 3 dan menutup dalam 2 dari temperatur uap jenuh dan kemudian dikenal sebagai perangkap near-to-steam. Fakta bahwa kapsul itu adalah cairan fleksibel di dalamnya pada tekanan yang sama seperti lingkungan atmosfer; cairan itu akan mendidih pada temperatur yang lebih tinggi jika tekanan dinaikkan sehingga kondisi near-to-steam

dipertahankan. Seperti perangkap lubang udara, udara dan campuran uap air dan volume kecil dari kondensasi air dan dapat dengan sukses digunakan selama pemindahan yang menurun dari udara, tetapi selama periode sterilisasi, muatan berat dari benda tak menyerap, seperti botolbotol cairan, dapat menghasilkan pemadatan berlimpah dan bellowsoperated trap tidak mampu mengatasinya. Lekukan di atas operator dari tipe ini dapat digunakan untuk tujuan ini, tetapi Barson, Peacock Robins dan Wilkinson (1958) memperlihatkan bahwa dibawah kondisi test mereka baik lekukan di bawah operator maupun yang mengapung di atas operator tidak yang secara penuh memuaskan. Pembentuk itu bersifat insensitif terhadap sejumlah kecil dari udara yang belakangan hanya dapat digunakan untuk mengendalikan pengeluaran air. Barson dkk

mengusulkan bahwa katup dioperasi di bawah harus dilengkapi dengan

pelewat permanen kecil dan bahwa unit yang utuh harus disatukan di dalam badan chamber pengapung sehingga kedua katup dan pelewat semua opertif. Periode Pendinginan Ketika periode sterilisasi diselesaikan, perpindahan uap air kedalam chamber dihentikan dan autoklaf dibiarkan agar dingin. Botolbotol volume besar yang berisi cairan telah disterilkan dapat memrlukan waktu lama untuk dingin dan tekanan tidak dibiarkan turun dengan cepat atau akan meledak. Uap air itu kemudian keluar pelan-pelan melalui saluran atau suatu by-pass. Autoklaf akan kembali ke keadaan sampai temperature dari botol cairan turun hingga 100C sehingga autoklaf dapat dibuka dan beban dipindahkan tanpa menimbulkan bahaya bagi operator. Ketika pakaian/balutan disterilkan, tidak ada pertimbangan-pertimbangan tertentu dan setelah sterilisasi selesai, uap air dipindahkan oleh pompa dan suatu vakum ditarik menggantikan sisa kelembaban dari beban. Temperatur jaket dipertahankan untuk mencegah pemadatan/kondensasi lokal. Penikett, Rowe, dan Robson (1958) mengusulkan bahwa suatu vakum bertekanan 50-200 mmHg dipertahankan kurang dari 3 menit akan menghasilkan pakaian/balutan yang kering. Pada akhir periode ini, vakum itu rusak oleh pemasukan udara steril melalui filter bacteria-proof dan beban kemudian dipindahkan. Waktu penyejukan dari larutan dalam botol dapat direduksi dengan menyemprot dengan pancaran air hangat (Bowie 1959). Wilkinson,

Peacock dan Robins (1960) menemukan bahwa kerusakan berlebihan dari botol harus dihindari, penyemprot harus berasal dari kabut cukup halus untuk mencegah penyejukan yang terlokalisasi dan perubahan panas yang drastis dan volume kecil dari udara harus diberikan untuk mencegah reduksi tekanan yang bterlalu cepat di sekitar botol. Objek dari penyemprot penyejuk tidak hanya dalam waktu singkat dari penyejukan ekonomik, tetapi juga untuk mengurangi resiko letusan botol dengan

memastikan bahwa botol tersebut cukup sejuk sebelum pintu dari autoklaf dibuka. Allwood (1974) dan Myers (1974) menunjukkan bahwa

kontaminasi dapat terjadi pada permukaan luar dari penutup botol dan penghubung diantara leher botol dan skrup penutup aluminium untuk membatasi penutup. Jika isi dari botol dituangkan untuk penggunaan topical, atau jika diambil melalui penutup dengan menggunakan kanula, kontaminasi dari cairan dapat terjadi. Beverly dan kawan-kawan menemukan bahwa kontaminasi langsung dari bahan adakalanya terjadi selama proses sterilisasi dan semprot penyejuk, tetapi pada kasus ini botol tertutup cukup untuk mengijinkan pemasukan dari air dalam volume besar. Walaupun, komite Rosenheim (1972) menyarankan bahwa kontaminasi dapat dicegah dengan cukup menutup botol, Myers mempertimbangkan bahwa kehadiran dari botol infus (BS 2463,1962) dan standar DHSS untuk botol untuk air steril noninjeksi tidak cukup dan tidak dibutuhkan untuk meningkatkan design untuk botol untuk digunakan pada penyemprot penyejuk autoklaf.

Proses kontrol otomatis Mengingat tanggung jawab yang berat dari pekerja untuk

menyelesaian prosedur sterilisasi untuk memastikan bahwa tiap tahap cukup terlaksana dan termonitoring, dalam Standard British telah dibuat suatu ketetapan dan perbaikan yang menarik mengenai prosedur kendali otomatis. Tiap tahap di bawah kontrol otomatis dan temperatur dan waktu dikontrol dari tempat pemeriksa dalam beban dan dapat bervariasi untuk memberikan kondisi yang cocok untuk beban sterilisasi yang berbeda contoh baju, sarung tangan operasi, alat dan botol larutan. Untuk mengijinkan variasi tekanan atmosfer pada waktu dan tempat yang berbeda, tombol kontrol dari pompa vakum diubah secara barometrial. Pintu harus disusun sedemikian rupa agar uap tidak masuk ke dalam ruang sebelum pintu ditutup, dan pintu tidak dapat dibuka sampai tekanan dari ruang berkurang sampai 0,2kgf/cm2 dan ruang dihubungkan dengan atmosfer. Sistem alaram dibuat untuk memberi peringatan jika kesalahan terjadi pada tiap tahap. Tes pencapaian Walaupun monitoring prosedur sterilisasi telah dilakukan dengan pengamatan secara haati-hati dari temperatur dan tekanan dalam ruang, tetapi ini tidak memberikan indikasi bahwa proses telah dilakukan dengan baik. Ini membutuhkan tes tambahan untuk memastikan kesterilan dari produk karena ini tidak dapat diasumsikan bahwa kondisi pengamatan sampai ke dalam beban, untuk ini dapat bergantung pada alam,

kandungan kelembaban, dan pengemasan bahan yang telah disterilkan. Oleh karena itu, ini dibutuhkan untuk menyelesaikan tes rutin untuk memastikan bahwa kondisi steril penuh telah dicapai dan terpelihara pada beban. Satu jalan untuk melakukan ini dengan melakukan tes sterilitas dari sampel secara acak dari beban lainnya dengan membuat perkiraan kondisi dari beban itu sendiri. Ini dapat dilakukan dengan beberapa cara. Metode instrumental Kondisi temperatur dalam beban dapat diukur dengan

thermocouples atau thermosistor yang dimasukkan ke berbagai tempat. Pada kasus dari larutan, alat pemeriksa ditempatkan pada perwakilan dari botol-botol dan pada kasus baju, itu ditempatkan dengan baik dalam kemasan spesimen. Autoklaf harus disesuaikan dan akan dihubungkan dengan tempat untuk memastikan hantaran panas dan autoklaf

disambungkan dengan rekorder yang dapat memberikan langkah selanjutnya. Jika bukan metode ini, bagaimanapun diberikan informasi langsung. Metode bakteriologikal Penggunaan dari spora bakteri yang resisten telah digunakan oleh beberapa pekerja untuk menyediakan bukti satu-satunya yang paling memuaskan dari proses sterilisasi dan pilihan yang tepat untuk uji organisme. Spora biasanya dikeringkan ke potongan atau cakram dari kertas filter atau aluminium foil (Kelsey 1961, Beeby & Whitehouse 1965,

Cook & Brown 1965), Tiap bagian tes membawa sekitar 106 spora. Kelsey (1961) menemukan bahwa inokulum dari B. stearothermophilus

membutuhkan sterilisasi menggunakan waktu sekitar 10 menit pada 121C. Untuk penggunaan, bagian uji ditempatkan pada amplop khusus dan ditempatkan pada bagian tengah dari baju atau bahan lain yang akan disterilkan. Setelah proses sterilisasi telah selesai, mereka dipindahkan dan secara aseptik ditarik dari amplop dan dikulturkan pada medium yang akan memberikan kondisi pertumbuhan yang maksimal. Satu kerugian dari metode ini adalah inkubasi dari spora yang telah dipulihkan harus dilanjutkan selama beberapa hari. Kelsey (1951) menemukan bahwa sedikit yang menunjukkan hasil positif setelah 3 hari dan memilih 5 untuk memberikan batas keamanan, tetapi bahkan ini berarti bahwa hasil mungkin diketahi setelah bahan disterilkan, oleh karena itu tes bakteriologikal sebagai indikator kepuasan kondisi rutin, sebagai

pengaman pada proses khusus. Indikator Kimia Pertama-tama dari ini disebut saksi tube yang terdiri dari bahan Kristal tunggal yang diketahui titik leburnya dalam tube gelas contoh : sulfur (115C), asetanilid (116C), suksinid anhidrat (120C), asam benzoat (121C). Pencelup dapat dimasukkan untuk menunjukkan secara lebih jelas bahwa kristal telah melebur. Seperti alat, tentu saja hanya ditujukan untuk menunjukkan temperatur sesungguhnya yang telah dicapai, tetapi telah dilakukan usaha untuk menunjukkan waktu pemaparan dengan

meletakkan kristal pada akhir tube gelas jam, volume dari kristal dan diameter dari tube telah disesuaikan, jadi waktu untuk memindahkan lelehan sama dengan waktu sterilisasi dengan temperatur yang

dibutuhkan. Jika, bagaimanapun temperatur diatur berlebih selama proses sterilisasi, larutan dalam tube akan mengikuti arus sampai konstriksi lebih cepat dan hubungan waktu-temperatur baru tidak terlalu dibutuhkan untuk sterilisasi. Modifikasi dari proses ini telah dipikirkan oleh Simpkins dan Wilkinson (1964), di mana mereka menggunakan potongan kertas filter laminating dengan aluminium foil yang berperan sebagai pendistribusi panas. Salah satu ujung dari potongan dipenuhi dengan 2,4-

dinitrofenilhidrason dengan titik leleh yang sesuai dan pada pelelehannya, larutan berpindah sepanjang potongan kertas pada kecepatan terkontrol. Alat disegel dalam amplop propilen yang dilubangi sampai selesai diteliti. Metode lain digunakan dalam tube Brownes (A.Browne, Leitcester, Ltd) yang dikontrol reaksi kimia, melibatkan perubahan warna dari larutan merah sampai amber menjadi hijau. Untuk proses autoklaf, tersedia 2 tipe : tipe 1 merubah menjadi hijau penuh pada sekitar 16 menit pada 120C dan 10 menit pada 125C. Tipe 2 juga merubah sekitar 10 menit pada 120C. Kondisi ini layak disetujui menurut British Pharmaceutical Codex, tetapi pada temperatur lebih rendah mereka menyatakan tidak cukup aman. Karena hasil yang bergantung pada reaksi kimia, ini dapat tetap dilakukan dengan waktu pemaparan yang lebih panjang menjadi temperatur sub-letal, jadi jika waktu tambahan diijinkan untuk sterilisasi

beban khusus, hasilnya dapat menyesatkan. Tidak sama dengan metode yang melibatkan lelehan dari bahan murni. Sistem kimia yang digunakan memperkenalkan ketidakstabilan yang tidak bisa dipisahkan dan

penyimpanan yang hati-hati pada tempat sejuk dibutuhkan sebelum tube Brone digunakan (Brown & Ridout 1960) Metode kimia juga tersedia pada tipe adhesif berwarna (3Ms Ltd) atau lembaran kertas yang ditandai dengan garis yang dibuat menjadi peka. (E.S. &A. Robinson Ltd) mengubah ketika panas lembab digunakan. Tetapi ini hanya berguna ketika temperatur tinggi autoklaf (134o) digunakan dengan waktu tidak lebih dari 3,5 menit. (Alder 1970). Kelsey (1958) membuat diagram untuk menunjukkan karateristik dari indikator yang tersedia. Kelsey awalnya memplot waktu panas mati untuk patogen resisten yang memiliki nilai sekitar 100. Ia menyatakan penggunaan indikator yang akan menunjukkan slop untuk temperatur dan waktu yang sama yang bergantung pada kurva waktu kematian dari bakteri patogen. Garis menunjukan karateristik dari indikator ideal seharusnya di atas kepalsuan yang diberikan oleh waktu kematian dari bakteri patogen, tetapi di bawah itu mengindikasikan pembuktian waktu sterilisasi. Kelsey membantah bahwa indikator menunjukkan perubahan kompleks di bawah kondisi yang bersesuaian, terlalu dekat untuk digunakan untuk sterilisasi, terlalu banyak kesalahan negatif yang terekam. Simpkins dan Wilkinson memilih indikator karateristik yang bersesuaian sangat dekat dengan kondisi sterilisasi. Indkator ideal Kelsey

bereaksi secara pasti pada temperatur rendah unruk memastikan sterilitas absolut, itu artinya kurva cocok untuk spora resisten nonpatogen yang diketahui, itu palsu atas bahwa untuk indikator dan tentu saja di atas bagian yang lebih rendah dari kurva disediakan melaui waktu sterilisasi ofisial, tetapi referensi telah dibuat dari pandangan Sykes (1969) bahwa kejadian seperti organisme resisten pada bahan farmasetik jarang terjadi. Diagram Kelseys juga menunjukkan bahwa slop untuk tube Brownes lebih baik daripada pathogen atau waktu sterilisasi ofisial, jadi hanya pada temperatur tinggi dapat dipastikan sterilitasnya. Metode autoklaf yang lain Metode tekanan rendah Pada metode ini panas dimuat ke evakuasi autoklaf berikutnya untuk memberikan tekanan negatif sekitar 360 mmHg, menghasilkan suhu 80C. Kondisi ini dipertahankan selama 10 menit untuk membunuh semua bentuk vegetatif bakteri. Keefektifan dari proses ini dapat ditingkatkan dengan menambahkan uap formaldehid pada uap panas dan spora akan terbunuh jika kondisi berlangsung selama 2 jam (Alder 1970). Sisa formaldehid dikeluarkan pada akhir masa sterilisasi dengan menggunakan vakum. Metode ini telah digunakan untuk sterilisasi selimut wool dan alat bedah yang sensitif terhadap panas seperti stetoskop, dan bahan lain seperti pipa plastik. Metode counter tekanan

Sykes (1969) telah menunjukkan bahwa ketika wadah tersegel dari cairan disterilkan, udara tidak keluar dan tidak terlalu penting untuk mengeluarkannya dari autoklaf. Ini memiliki 2 keuntungan : menghasilkan kondensasi maksimum dari uap yang terkondensasi dan dapat terjadi korelasi yang mudah antara temperatur dan tekanan. Keuntungan ini dapat mengurangi kerugian dengan menggunakan uap yang tak tersaturasi pada tekanan yang lebih tinggi, menghasilkan tekanan pada autoklaf dengan temperatur yang ada dan bukan dari tekanan yang dihasilkan. Metode lain dari sterilisasi dengan panas lembab Tindalisasi Metode ini terdiri dari pemanasan bahan pada suhu 80C selama 1 jam, atau 100C, selama 3 hari berturut-turut. Ini didasarkan pada perkiraan bahwa setelah sel vegetatif dimatikan pada pemanasan pertama, spora dapat dimusnahkan sebelum pemanasan berikutnya, di mana akan dimatikan juga. Namun, beberapa spora masih dapat tahan sesaat lamanya dan spora yang dirusak oleh panas dapat lebih lambat dimusnahkan, jadi metode ini tidak terjamin sterilitasnya. Pemanasan dengan bakterisidal Davis (1940) pada penyelidikannya pada tindalisasi injeksi telah menunjukkan bahwa metode ini dapat berhasil jika menggunakan bakterisida. Sejak keefektifan dari larutan bakterisida diketahui untuk meningkatkan dengan tekanan, maka pengembangan yang lebih lanjut

adalah menggunakan bakterisida pada injeksi. Coulthard (1939) menemukan klorokresol dan fenilmerkuri nitrat efektif pada pemanasan 100C selama 30 menit dan Berry, dkk (1938) menjelaskan bahwa bakterisida harus terhindar dari toksikasi, sejalan dengan penggunaanya dan stabil selama proses sterilisasi dan penyimpanan. Pasteurisasi Walaupun bukan merupakan metode sterilisasi yang sempurna, sejak organisme yang ada tidak terlalu penting untuk dimatikan, ini penting untuk disebutkan. Ini ditemukan oleh Pasteur untuk meningkatkan penjagaan kualitas dari anggur dan kini diterapkan pada proses pembuatan susu untuk mematikan organisme patogen tanpa mempengaruhi rasa, kandungan nutrisi, atau emulsifikasi susu. 2 metode yang digunakan : Metod

e holding; susu dipanaskan pada tangki dengan suhu 62,8C selama 30 menit, susu akan teraduk dengan agitasi yang lembut. Mesin panas akan digunakan untuk dispersi busa pada permukaan. eratur tinggiwaktu singkat, atau proses yang singkat; susu dilewatkan pada pengubah panas yang terkontrol pada suhu 71,6C dan dipertahankan selama 15 detik, setelah itu dinginkan pada pengubah panas kedua. Dengan menurunkan kondisi proses ini dapat Temp

digunakan untuk sterilisasi untuk volume yang besar dari media, yang dapat diserang dengan cepat oleh fermentor. Sterilisasi Panas Kering Resisten terhadap panas kering Sterilisasi dengan panas kering membutuhkan temperatur yang tinggi dan waktu pemaparan yang lama dibandingkan penggunaan panas lembab. Rahn (1945) beranggapan bahwa ini diakibatkan perbedaan pada proses fundamental dan efek mematikan dari panas kering yaitu oksidasi, dimana dia memberi postulat bahwa aksi pensterilan panas lembab mengakibatkan denaturasi protein. Hansen dan Rieman (1963), walaupun mencari perbedaan mengakibatkan ada atau tidaknya air pada hidrasi pada molekul protein dan air dalam sel yang terjadi diantaranya. Ketika panas digunakan pada air yang tersedia, ikatan disulfit dan ikatan hidrogen diantara protein memilikimobilitas untuk membentuk hasil yang baru pada denaturasi protein, dimana, jika merupakan bagian dari enzim, akan membuatnya inaktif. Pada suasana bebas air , penyusunan ulang dari protein akan sulit dan banyak energi yang dibutuhkan untuk merusaknya. Hansen dan Rieman menerapkan argumen mereka hanya untuk organisme nonspora, yang praktis resisten pada panas kering dibanding panas lembab. Spora, bagaimana pun juga tidak seperti sel vegetatif , mengandung asam dipikolinik (DPA), dan telah terbukti bahwa resistensinya pada panas lebih besar diakibatkan pada tempat dimana protein terikat pada kalsium dipikolinat (Brown & Melling 1973), kompleks

terbentuk pada pencarian stabilitas dan perlindungan pada protein melawan panas. Perlengkapan ofisial Perlakuan minimum dibahas pada British Farmakope adalah dengan mensterilkan bahan pada suhu 150 selama 1 jam, ini diterapkan pada penetapan minyak dan larutan berminyak, dan juga direkomendasikan Codex untuk etyl oleat, parafin cair, dan gliserol. Banyak pekerja yang berharap pengaturan untuk meyakinkan sterilitas dan digunakan pada temperatur yang lebih tinggi yang mungkin dapat menguraikan substansi yang distrerilkan. Untuk alat-alat gelas, British Farmakope mengharuskan penggunaan suhu 160C selama 1 jam, sementara Codex menawarkan alternatif suhu 180C selama 11 menit. Udara panas oven Udara panas oven adalah peralatan yang umum digunakan pada sterilisasi panas kering. Ini dipanaskan dengan gas atau dengan listrik, tetapi pemanasan dengan listrik panasnya terkontrol, oven kebanyakan digunakan karena panasnya dapat memberikan distribusi panas yang paling baik. Bahan yang ditempatkan di oven menerima panas secara langsung dari udara panas yang berputar di dalam oven dengan radiasi dari dinding oven dan oleh konduksi. Transfer langsung panas dari udara yang berputar

Disebabkan pada panas rendah yang spesifik, udara memiliki bahan pemanas yang sedikit, jumlah yang diterima harus dapat melewati bahan agar timbul temperatur untuk oven. Radio Frekuensi Induksi Panas Pada proses ini radio frekuensi arus, membangkitkan osilator yang sesuai, ini merupakan tempat gulungan tembaga yang bekerja di sekelilingnya untuk menjadi steril. Trotman, (1969) penyokong ini digunakan untuk sterilisasi dengan merawat peralatan misalnya pipet logam dan kawat putaran, pada sistem automatik diagnostre. Objek ini wajib untuk sterilisasi, bagaimanapun, konduktor memiliki keterbatasan untuk digunakan pada metode ini, walaupun Trotman merangkan untuk dapat diadaptasi pada general yang telah digunakan pada artikel sebagai gulungan horizontal pada sebuah ban bergantung. Bukan konduktor yang harus berhimpit untuk sebuah konduksi suskeptor yang mana panas tidak akan kontak dengan konduktor. Sterilisasi dengan Filtrasi Sterilisasi ini merupakan tempat suatu filter bakteri nyata yang digunakan untuk larutan termolabil dan gas termasuk udara. Larutan termolabil juga terdapat kerugian jika subjek untuk sterilisasi panas. Proses ini juga digunakan kadang-kadang sebagai alternatif pada metode pemanasan untuk sterilisasi dengan larutan termolabil. Proses ini terdiri dari tiga golongan utama untuk larutan:

1. Tempat dari larutan untuk disterilisasikan terus-menerus sebelum filter unit yang mensterilkan. 2. Pemindahan secara aseptis dari flitrasi untuk wadaph steril di mana juga tertutup secara aseptis. 3. Tes untuk steril dengan mengangkat keluar pada hail filter. Dari ketiga golongan di atas prosesnya sejak lama berbahaya pada sterilisasi filtrasi. Oleh sebab itu suatu bakteri biasanya dimasukkan dalam larutan. Kerugian dari proses sering kali lebih banyak dari keuntungan ini dapat ditunjukkan sebagai berikut : Keuntungan : a) Pemanasan yang sedikit, jadi ideal untuk larutan termolabil. b) Menghilangkan semua bakteri menjernihkan larutan. c) Bermanfaat untuk proses sterilisasi dalam volume besar larutan. d) Bermanfaat untuk tetes mata, botol tetes ini tidak tahan dengan proses pemanasan. Kerugian : a) Membutuhkan teknik aseptis, ini membutuhkan susunan latihan yang lebih dan peralatan steril dan fasilitas b) Membutuhkan tes steril, kecuali dalam keadaan gawat, hasilnya tidak boleh sampai melewati tes. Kerusakan dapat terjadi dalam tujuh hari. dan jamur, dan sering kali

c) Virus, bagian filtrat dari bakteri, produk bakteri, begitu juga toksin dan pirogen, tidak dihilangkan atau dihancurkan. d) Filternya terperinci tiap waktu atau secara berangsur-angsur digunakan. Berangsur-angsur kesalahan mungkin tidak diketahui dengan cepat. e) Unit filter bisa bocor dan terbatas untuk udara nonsteril. Jadi unit filter akan memiliki beberapa kesamaan yang mungkin. Gunanya bagi tekanan positif (yaitu kekuatan larutan melewati filter dengan penekanan udara) keuntungan lebih tekanan negatif (yaitu menyerap larutan melewati filter, dengan vakum) kebocoran dari udara menjadi larutan dimana filter tidak terjadi. f) Penyerapan dapat terjadi dengan beberapa filter, misalnya lilin dan bahan berserat. g) Beberapa hasil filter fibres atau alkali, misalnya filter fibrous, tetapi alkali netral-filter bebas yang ada. h) Penyumbatan dapat terjadi dengan memperpanjang filtrasi,

walaupun ini dapat sedikit digunakan dengan prefiter yang cocok. Bakteri bisa tumbuh terus pada beberapa tipe filter, dengan lama filtrasi. i) Filtrasi tidak dapat digunakan untuk suspnsi steril. j) Oksidasi dapat terjadi pada besar filter, dan obat harus disesuaikan dengan pelarut.

Dua tipe utama dari unit yang tersedia. Tipe tekanan positif, dimana larutan yang dipaksa melewati filter dangan penekanan udara, dan tekanan negatif (vakum), di mana tipe larutan ini diserap terus dengan filter. Dahulu keuntungannya lebih lama, tetapi keduanya digunakan. Keuntungan dari Sistem Tekanan Positif dan Negatif Tekanan Positif Tekanan Negatif Udara tidak steril, tidak dapat Sama-sama bebas dari ikatan.

masuk lewat kebocoran yang sama Evaporasi dan Pembusahan dari

filtrat dikurangi. -

Membutuhkan

suatu

Pada skala besar pemindahan, sistem yang tidak tertutup.

aseptis dari tempat vakum ketitik yang digunakan tidak dibutuhkan. Tekanan diferensial adalah satuketerbatasan dengan

satunya

peralatan, tidak maximum pada 1 atmosfer dengan system tekanan

positif. Bakteri Filter nyata dari larutan Bermacam-macam tipe dari filter yang tersedia untuk sterilisasi mereka dapat berkembang menjadi empat kelas dasar: Keramik filter-biasanya dibuat dari penyerapan porselin atau kieselguhr. Lapisan berserat mengandung asbeator dan wood selolosa.

Sintered (Fritted) glass. Filter-tersebut dari bubuk-bubuk borosilikt glass.

Plastik berpori kecil atau membran filter-preparat dari eser selulosa, sebagian asetat dan nitrat. Terlepas dari kelas dasar di atas beberapa kelas filter tersedia, di mana menggabungkan keuntungan dari dua atau lebih kelas. Contohnya dari submicron filter terdiri dari nukron glass dan asbestos fibre batas ada epoty saturant. Filter ini (cox M-780) memiliki banyak keuntungan dari membran filter, sementara itu kurang mudah di tutupi. Filter keramik, salah satu dari filter keramik muda adalah Pasteur Chamberland, diperkenalkan pada 1884, mereka dibuat dari salah satu porselen atau kieselguhr. Mereka biasanya menemukan lilin silinder dengan termasuk dinding tebal. Filter dalam ini dengan dinding selular dan tersedia bermacam-macam ukuran dan angka dari jumlah yang menyerah. Contohnya pada lilin porselin merupakan pabrik dari Doulton & co. ltd., dan tipe kieselguhr dihasilkan oleh British Berkefeld Filter ltd. Mondter Filter adalah Amerika equivalent dari Berkefeld Filter. Kieselguhr Filter mempunyai sesuatu pori terkenal dengan berat jenis dari satu porselin dan untuk itu lebih permeable untuk cairan encer. Kieselguhr filter cukup lemah dengan bermacam porselin dan memiliki suatu thicker wall. Berkefeld Filter adalah pemsaran dari air sterilisasi, dan disebut selfsterilizing menjadi Berkefeld Filter (Sterasyl Filter). Filter ini mirip dengan standar kieselguhr Filter bisa juga Fitted dengan nozzle mount. Mount ini bisa melapisi porselin atau disebut logam

dan satu lipatan adalah kekurangan dari filter ini. Selama pembersihan dan sterilisasi celah dan kebocoran bisa menjadi sama. Unglazed dan unmounted porselin porcus lilin telah tersedia tetapi tidak dengan mudah fitted menjadi unit filtrasi. Ini merupakan keuntungan dari filter untuk keluar dari filter ini untuk mengurangi kebersihan di bagian dalam. Filter porselin dapat

membersihkan serat exterior dengan memasang bush, atau secara terusmenerus digunkan larutan sodium hipokiorit kuat. Textur ini lemah pada Kieselguhr Filter dengan artian suatu Softer Brush harus digunakan untuk serat atau pengobatan hypoklorit. Mereka dapat dikeringkan dengan sterilisasi panas, walaupun harus teliti mengambil secara terus-menerus pertambahan temperatur dan menggunakan filter untuk pendingin yang lambat, untuk memulai pencegaha. Asam kuat tidak akan digunakan pembersihan berkerfreld filter, dan asam kromik atau sintered glass filter karena ion kromik dapat menyerap dengan kuat oleh filter, tidak dapat menghilangkan kotoran, dan bisa oksida atau bereaksi dengan obat akibat digunakan filter ini. Keuntungan: a) Secara relatif murah, dan b) Range dari porosit yang ada Tabel 31.3 Perbandingan dari Dept dan Screen Filter Depth Filter. Screen Filter

Contohnya

Lapisan Fibrous (Seitz,Carlson-Ford) Selulosa membrane (otesid;milipore lilin keramik (Doultn,Berkefield) Sartorius dll)

Sintered glass (dan logam). Partikel berhenti pada titik dimana Partikel besar yang diukur porinya resisten yang sama untuk bergerak. mekanik Sicved, dari larutan, dan Filtrasi Pertambahan digerakkan beberapa tekanan dalam waktu partikel melewati harus menahan permukaan dari filter.

dan Pertambahan pada tekanan, dan filter. flukturasi tekanan partikel akan di tidak melwati menambah permukaan.

Particular ini tetap dengan tekanan menyebabkan fikturasi yang terjadi. Lapisan fibrous kurang tempat filter. mudah 0,22 m filter bakteri

menyumbat screen filter. Resisten kimia semua Keuntungan sangat tinggi.

Bakteria grow-through tidak terjadi. Tidak ada PH penyerapan sangat lama kecepatan lairan tinggi dengan larutan yang mengandung partikel

Kerugian : (a) lilin partikel kieselgurh, tidak begitu bagus; (b) adsorbsi partikel dan lilin kieselgurh tinggi; (c) mudah tersumbat dan terhambat; (e) tekanan yang dibutuhkan untuk penyaringan relative tinggi; (f) kebocoran sering ditemukan di mulut pipa; (g) sulit dicocokkan ke dalam unit saringan. Jika saringan digunakan untuk bahan berminyak yang lambat, tidak sangat efisien, rentang menjadi rusak dan sangat sulit untuk dibersihkan (Avis & Gershenfeld 1955).

Saringan alas berserat Alas yang digunakan kira-kira tebalnya 3 mm, biasanya berbentuk bulat dari unit saringan, tetapi yang digunakan dalam penekan saringan adalah lapisan kuadrat. Mereka sebagian besar dirubah dari serabut asbes, dikompres dengan campuran bahan-bahan serabut lainnya seperti kayu selulosa yang memberikan penyerapan cukup bersama dengan pengikatan dan penempatannya. Macam-macam jenisnya dapat dilihat pada gambar 31.8. Saringan asli dari Jerman yang dijual dengan nama dagang Seitz (tingkat EK yang mulai digunakan untuk penyaringan sterilisasi) dan dapat diperoleh di negeri ini dari Carlos Ford Ltd. Yang berakhir pada tingkat 40 dan dalam beberapa ratus pemotongan ukuran ( tingkat helai EKS dari saringan Carlson-Ford yang lebih sering digunakan dalam farmasetik). Mereka lembut dan mudah pecah ketika basah dan harus didukung dari sebuah logam yang dilubangi, plastik, dan cakram kaca. Perawatannya dibutuhkan dengan sterilisasi dalam autoklaf untuk mencegah terjadinya perubahan. Keuntungan : (a) sebuah alas basa digunakan untuk tiap penyaringan, sehingga saringan tidak terkontaminasi dengan residu penyaringan atau zat-zat pembersih; (b) alasnya tidak mahal; (c) aliran penyaringan keras dan kecenderungan yang kurang untuk tersumbat. Mereka lebih baik dari porselen dan saringan kaca kapur yang meleleh untuk kekentalan larutan.

Kerugian : (a) penyerapan dan pembersihan dari bakteri tergantung dari alas serabut yang memberikan air dan gelombang besar untuk mengurangi celah dalam saringan. Kemudian alas yang berserabut tidak pantas untuk sterilisasi bahan-bahan yang bukan cairan seperti alcohol dan sediaan minyak; (b) pembebasan basa boleh dari alas , karena endapan dari basa sensitive terhadap obat-obat (Browne 1942). Basa bebas tersedia sebelum saringan sterilisasi; (c) alasnya boleh berserabut. Ini dapat dipindahkan dari saringan yang diartikan dari sebuah tingkatan steril 3 atau 4; (d) adsorbs tinggi, partikel dimulai dari penyaringan; (e) tekanan yang berubah bias merusak alas yang basah. Penyaring Fritted-Glass Penyaring Fritted-Glass pertama kali dibuat oleh Jana Glass Works, Jerman. Kaca borosilikat adalah serbuk halus dalam sebuah penggiling dan partikel-partikel yang dibutuhkan dari ukuran yang terpisah oleh elusi udara. Pemilihan serbuk dari kumpulan dalam cetakan cakram dan pemanasan sampai tempat adhesi yang sesuai diantara granul. Lelehan dari akhir sumbu ke dalam corong dari ukuran dan bentuk yang sesuai (gambar 16.4) atau ke dalam batas saringan (gambar 31.9). lelehan saringan kaca tersedia dalam beberapa sifat penyerap yang berbeda, tapi untuk sebuah nomor penyerap sterilisasi atau tingkat 5, atau 5 dalam 3, harus digunakan . spesifikasi untuk kualitas, ukuran pori-pori dan permeabilitas dibutuhkan daalm sebuah spesifikasi standar inggris BS 1752 : 1963. penyerap menembus sebuah ketebalan dengan tingkat 5

(maksimum ukuran pori 2

m) saringan lambat, tapi bahan pencair

saringan tingkat 5 sangat mudah pecah dan kemudian saringan 5 dari 3 telah berkembang dengan saringan tipis tingkat 5 yang diperhatikan dalam sebuah lapisan tebal dari saringan tingkat 3 (ukuran pori 15-40 pembuatan m).

dan penggunaan dari lelehan saringan kaca digambarkan

oleh Smith (1944) dan mereka dirawat oleh Cooper (1951) dan Sykes (1958). Mikroorganisme akan cenderung untuk tumbuh melewati lelehan saringan kaca jika tangan kiri kontak lebih dari 18 jam (Morten 1943). Mereka mudah dibersihkan oleh nilai dari sebuah aliran terbalik dari air yang menembus saringan setelah digunakan. Bahan organic boleh dipindahkan dari nilai asam sulfur kuat dengan 1% dari sodium nitrat yang menembus saringan. Asam kromat tidak harus digunakan (lihat saringan porselen). Semua saringan harus menembus pencucian setelah pengujian kimia. Kemampuan retensi dari penyaring dapat diuji secara tidak langsung dengan teknik tekanan gelembung dan secara langsung dengan teknik bacteriological. Teknik tekanan gelembung Pengukuran langsung dari ukuran pori pada penyaring bakteri tidak praktis dan merupakan metode tidak langsung dari ukuran tekanan gelembung yang digunakan. Ini mengandung lilin yang tercelup dalam air (atau larutan lain) atau mengisi corong dengan larutan pada kasus dimana sebuah penyaring gelas mengandung kapur yang meleleh ke bawah

menjadi batu kapur, dan dengan perlahan-lahan dilakukan dengan peningkatan tekanan udara hingga gelembung yang pertama terlihat pada penyaring atau permukaan cairan. Alat yang cocok diperlihatkan pada gambar 31.10. Tekanan yang terbaca dapat dikonversi mendekati ukuran pori dengan formula Becbold, nilai equivalen dperlihatkan di bawah : Tekanan gelembung dalam air (mmHg) 413,7 620,5 775,7 Lbf/sq in 8 12 15 Ukuran pori yang mendekati (m) 5,3 3,5 2,8

930,9 18 2,3 Hasil yang dapat diperoleh dan memungkinkan perbedaan antara penyaring dengan ukuran pori yang berbeda adalah 0,25 m. Mulvaney (1969) menggambarkan alat yang sesuai untuk mengetes batas penyaring. Yang terkenal adalah pembuatan dari penyaring keramik sebagai standar pada tekanan gelembung adalah 17 lbf/in2. Tekanan ini ekuivalen untuk ukuran pori maksimum 2,5 m dimana akan menahan kembali Serratia marcescens dalam cairan suspense paling tidak 6-7 h. Metode tekanan gelembung diadaptasi dari British Standar (BS 1752 : 1963 ) untuk pengukuran ukuran pori. Tekanan ketika gelembung pertama terlihat mengindikasikan ukuran pori maksimum dari penyaring. Yang terakhir dijumlahkan dari persamaan : D = 30

P Di mana D = diameter dari pori, dalam mikro = gaya permukaan dari larutan uji (dynes/cm) P = tekanan gelembung (mmHg) Teknik bakteriologikal Walaupun uji tekanan gelembung terlihat pada keadaan yang sebenarnya, British Pharmaceutical Codex meminta bukti penyaring bakteri untuk menyetujui uji bacteriological. Sebuah cairan encer dari kultur Serratia marcescens (Chromobacterim prodigiosum) disaring sebelumnya melalui penyaring steril dan unit, menggunakan penyaring dengan perbedaan tekanan menyilang tidak kurang dari 400 mmH. Sedikitnya 50 ml hasil penyaringan diinkubasi selama 5 hari pada suhu 25o C, suhu optimum untuk tumbuh (dan produksi pigmen) dari organism.Penggunaan dari jenis chromogenik yang bagus (pigmen yang diproduksi) disarankan sejak penampakannya berwarna merah muda pada cairan inkubasi secara mudah menandakan adanya Serratia dan kegagalan dalam penyaringan. Penampakan dari pertumbuhan tanpa pigmen menandakan kontaminasi setelah lewat melalui penyaring atau beberapa puncak dalam unit. Pemilihan organism secara particular berguna karena bahannya kecil (panjang 0,3 - 1,3 m, lebar 0,3 0,4 m ), aerob, tidak pathogen, dan pertumbuhannya tetap untuk menghasilkan pigmen merah menjadi merah muda pada suhu 25o C. Penyaringan dengan Udara

Sterilisasi volume yang besar dengan udara menjadi penting untuk perkembangan dari proses fermentasi yang dalam pada pembuatan antibiotic dan produk lain dari metabolism mikroba. Kebanyakan obat

modern dilakukan dengan pengerjaan aseptic dan menggunakan jenis udara laminar yang mengalir dengan tujuan memproduksi udara bersih di sekelilingnya. Prinsip dan pelaksanaan dari udara laminar yang mengalir telah digambarkan oleh McDade (1969). Perlakuan dengan proses udara selama kultur didiskusikan oleh Elsworth (1969), dan factor yang mempengaruhi kehidupan bakteri pada udara dan gas oleh Sykes (1963). Metode yang tersedia untuk sterilisasi udara adalah : (a) filtrasi mekanik, (b) Presipitat elektrostatik, (c) metode pemanasan, (d) sinar ultraviolet, (e) penggunaan bahan kimia. Sebelum banyak digunakan penyaring mekanik, metode ini secara luas banyak digunakan untuk sterilisasi udara, keterbatasan dari metode yang lain menjadi tidak ada. Metode elektrostatik merupakan metode yang memerlukan biaya tetapi sangat efisien. Mekanisme perpindahan diperlihatkan pada gambar 31.12. metode pemanasan memerlukan biaya dan sedikit penting dalam sterilisasi udara. Alat sterilisasi panas digambarkan oleh Elsworth, Morris dan East (1961). Sinar ultraviolet memiliki kekuatan penertasi yang lemah dan tidak membunuh partikel yang ada pada pada partikel. Ini juga membiarkan beberapa kerugian lain seperti efek yang berbahaya pada mata dan kulit, pemaparan yang tinggi dan penggantian biaya, dan relative memiliki efesiensi rendah pada

kelembaban rendah. Penggunaan bahan kimia bakterisid di udara terbatas oleh aksi yang lambat, masalah dalam penangkapan kembali dari bahan kimia pada media fermentasi, dan efek yang tak jelas. Contoh bakterisida di udara yaitu glikol (propilen dan trietilen ), fenol (resorsinol dan heksiresorsinol ), dan natrium hipoklorit. Sama dengan sterilisasi filtrasi dari kedua larutan dalam dan lapisan penyaring tersedia untuk sterilisasi udara. Perbandingan dari dua tipe penyaring untuk sterilisasi udara volume besar diberikan oleh Russel (1971). Russell mengindikasi ketidakmurnian kompresi politropik dengan udara (metode panas), dan menyatakan bahwa pemilihan penyaring bergantung padakemurnian dan perubahan kontaminasi. Penyaring dalam dan lapisan lain digunakan untuk melengkapi situasi sebagai Millitube partum filter (gambar 31.13). Jenis utama penyaring dalam untuk

sterilisasi udara adalah granule contohnya arang aktif ; lapisan serat contohnya kapas wol, biji wol, gelas wol ; dan filter kertas, asbes selulosa, atau gelas berserat. Penyaring untuk sterilisasi udara harus dapat disterilkan dengan uap, mampu menghasilkan yang berkualitas, dan pasti lebih baik (memperlihatkan efisiensi 100 % ). Filter dalam tidak dapat dimasukkan secara pasti, tetapi sterlisasi uap ikatan resin gelas berserat berguna sebagai altrenatif untuk filter membran. Sterilisasi gas Bahan kimia yang mudah menguap telah terbatas penggunaannya dalam sterilisasi dingin dari bahan obat padat yang tidak tahan panas dan

peralatan rumah sakit yang tidak tahan panas, seperti peralatan karet, bahan elektrik, bahan karet, dan selimut. Mula-mula digunakan

Formaldehid, tetapi etilen oksida adalah gas utama yang digunakan sekarang untuk sterilisasi. Menurut laporan komisi pengobatan pada perlindungan kontaminasi mikroba pada produk obat (1973) proses sterilisasi dengan menggunakan etylen oksida tidak termasuk dalam metode fisika, dan sebagaiakibatnya, control mikrobiologik dan tes prosedur harus dilakukan. Komite komisi menerima jumlah dari ethylene oksida tetapi menyatakan bahwa aplikasinya pada produk pengobatan harus memperhatikan resiko dari incompabilitas kimia dan produksi residu toksik dan ketidak efisiensinya dalam melawan organism, termasuk dalam bentuk Kristal dari mikroorganisme atau bentuk perlindungan dari mikroorganisme terhadap gas. Walaupun demikian, etilen oksida adalah gas pensteril yang paling luas digunakaan dalam bidang farmasi dan pengobatan. Bahan kimia lain yang sering juga digunakan seperti : a. Formaldehid b. Betapropiolakton c. Propilen oksida Dan sebagai tambahan, beberapa glikol, metal bromide, dan alkohol telah digunakan dalaam sterilisasi ruangan. Etilen Oksida

Penggunaan etilen oksida adalah metode sterilisasi yang telah dikenal pada tahun 1973 baik dalam Farmakope British maupun pada British Pharmaceutical Codex. Pada Farmakope British, penggunaan etilen oksida adalah salah satu diantara prosedur sterilisasi bahan serbuk. Bahan dan kerja : Ini adalah eter siklik menguap dengan struktur : CH2 CH2 O Titik didihnya adalah 180oC dan ini dapat lebih mudah dicairkan. Mudah meledak bila bercampur dengan udara, tetapi kekurangannya ini dapat diatasi dengan mencampurkan 10% etilen oksida dengan 90% hidrokarbon terhalogenasi, atau dengan memindahkan 95% udara dari bagian sebelum penggunaan etilen dioksida. Metode terakhir dari pemaparan tekanan sub-atmosfer

diperkenalkan oleh Mayr (1961) dalam diskusinya yaitu peralatan untuk sterilisasi dengan etilen oksidaa. Ini mengiritasi dan vesicant dan oleh karena itu sarung tangan karet dan bahan lainnya yang mirip harus diangin-anginkan pada arus udara steril selama 24 jam sebelum digunakan. Mekanisme kerja antimikrobanya seperti bahan gas

antimikroba lainnya, itu karena kemampuan untuk mengaalkilasi grup SH, -OH, -COOH, dan NH2 pada enzim, protein, dan asam nukleat. Sebagai contoh : Protein-NH2 + C2H4O Protein-NH-(C2H4OH)

Protein-SH + C2H4O Protein-S-(C2H4OH)

Faktor efek efisiensi sterilitas Konsentrasi gas Kecepatan sterilisasi tergantung pada tekanan parsial dari gas dengan beban. Tekanan parsial dari gas dapat menjadi lemah dengan absorbs dari beban, contohnya selimut, karet, dan plastic, dan bahan pengemas (Royce 1959). Royce memberikan contoh absorbsi oleh beberapa bahan setelah kontak dengan gas pada konsentrasi 200mg/liter selama 24 jam pada suhu 25oC. Sedikit contoh diberikan dibawah ini : Bahan Polythene Polyvinylchloride Cardboard Kapas wol yang Jumlah yang terabsorbsi (mg/g) 2 19,2 10,4 4,1

tidak

menabsorbsi Penutup karet Neoprene 15,2 Range konsentrasi yang digunakan untuk sterilisasi dari 200 sampai 1000 mg/l, dan konsentrasi ini secara pasti telah menunjukkan cukup jika dibandingkan dengan kerja Phillips (1961). Phillips menentukan aktivitas dari etilen oksida dalam melawan spora Bacillus subtilis varian globigii (pada baju kering) pada 25oC. Beberapa hasilnya diberikan di bawah ini :

Konsentrasi etilen oksida (mg/l)

Waktu pemaparan untuk mendapatkan keadaan tidak ada organisme yang dapat dipulihkan

(jam) 44 24 88 10 442 4 884 2 Dari tabel dapat dilihat bahwa jika konsentari dinaikkan dua kali lipat, waktu pemaparan berkurang menjadi setengahnya. Temperatur dari beban Peningkatan dari temperatur meningkatkan aktivitas. Koefisien temperature adalah 2,7 berubah setiap 10o pada temperature, tetapi karena etilen oksida umumnya digunakan pada bahan yang termolabil, range yang biasanya digunakan 20o-60o. Efek kelembaban Menurut Phillips beberapa kelembaban dibutuhkan, tetapi sedikit lebih baik daripada banyak. Tingkat hidrasi pada permukaan dari mikroorganisme untuk disterilkan lebih penting daripada kelembaban relative dari gas. Kelembaban relative yang baik kira-kira 30 sampai 33% (Kaye&Phillips 1949). Organisme kering lebih resisten daripada yang lembab. Tipe permukaan juga berefek pada sterilisasi. Organisme kering pada permukaan keras dan impermeable seperti pada gelas, plastic, dan logam, kurang mudah untuk dibunuh dibandingkan organism kering pada permukaan yang menyerap, seperti kertas dan baju )Opfell,

Hohmann&Latham 1959; Royce&Bowler 1961).

Waktu pemaparan Ini tergantung pada tipe bahan yang akan disterilkan dan konsentrasi dari gas. Variasi kombinasi yang telah dengan sukses digunakan yaitu : 850-900mg/l selama 3 jam 45o 450 mg/l selama 5 jam pada 45o (Perkins&Lloyd 1961) 200 mg/l selama 16-18 jam (Royce 1959) Waktu pemaparan juga tergantung pada kekuatan penetrasi dari gas. Kertas sangat permeable, tetapi beberapa polyester tidak. Polythene dan kebanyakan karet sangat permeable. British Farmakope Codex menyatakan bahwa hidrasi dan pemanasan dari beban dapat lebih mudah dicapai dengan menempatkan pada kondisi atmosfer utama yang cocok untuk sterilisasi. Kondisi dan kemampuan akses dari organisme Organisme kering lambat untuk dihidratkan kembali oleh karena itu sulit untuk disterilkan (Gilbert dkk 1964). Organisme dapat terproteksi

dalam bentuk Kristal keras (Abbott, Cockton & Jones 1956; Royce & Bowler 1961; Beeby & Whitehouse 1965). Alat dan teknik sterilisasi etilen oksida Alat sterilisasi khusus dibuat secara komersial telah ada. Alatnya terdiri dari : a. Ruang gas kedap dengan penahan yang dibutuhkan untuk mengubah tekanan b. Ruang tersebut dicocokkan dengan efisien dari pompa vakum

c. Klep pengatur pemasukan gas, dihubungkan dengan control. Gas diatur oleh termol atau silinder setelah pemindahan dari ruang oleh pompa. Dinding pembatas mencegah kerusakan dari beban terhadap gas etilen oksida. d. Alat pengontrol, seperti pengukur tekanan (P), control

termostatik(T), dan control kelembaban (H). e. Kelembaban dapat disediakan dari uap sponge atau uap air. f. Pemanas coil atau mantel pemanas Bagaimanapun kecanggihan dari alat dan variasi pada beban tetap sangat dibutuhkan monitoring mikrobiologik dengan sangat hati-hati. Perhatian tertentu harus diberikan untuk menjaga kontaminasi mikroba dari bahan yang telah disterilisasi minimum. Beberapa tipe siklus digunakan secara komersial pada pensteril etilen oksida yang dikutip oleh Kelsey (1967) Perkins dan Llyod (1961) dan Mayr (1961) menggambarkan peralatan untuk sterilisasi etilen oksida. Konsentrasi etilen oksida (%) 90 10 10 Keuntungan : Konsentrasi etilen oksida (mg) 1500 400 1800 Tekanan (atm) <1 2 6 Temperatur (OC) 25 50 60 Waktu (jam) 18 4 1

a. Sedikit bahan rusak b. Temperatur rendah dapat digunakan contoh temperatur ruang c. Penetrasi ke dalam bahan dan beberapa plastik baik d. Efek residu sedikit

e. Efektif pada kelembaban rendah f. Bakterisid, bukan bakteriostatik g. Efektif melawan semua organisme Kerugian : a. Beberapa bahan pembungkus plastik dan nilon harus dibiarkan

terbuka dan disegel secara aseptis. Ini merupakan kerugiannya bila dibandingkan dengan sterilisasi radiasi. b. Lambat c. Sulit untuk mengontrol RH dan hidrasi organism d. Biaya lebih tinggi bila dibandingkan dengan proses panas e. Membutuhkan peralatan canggih yang khusus f. Toksik dan dapat menyebabkan pembengkakan Kontrol proses Proses harus dimonitoring secara bakteriologikal. Ini tidak cukup hanya dengan monitoring secara fisik. Efisiensi bakterisidal dimonitoring melalui : a. Penyisipan dari minimal 10 tes bakteriologikal pada bagian yang berbeda dari beban, sulit dicapai terutama pada gas. Tes ini terdiri dari aluminium foil yang telah mengeringkan suspense dari paling sedikit 106 spora dari Bacillus subtilis Camp Detrick galur NTCT 10073 (Bacillus subtilis var. globiggi). Organisme ini dipilih sebagai organism yang secara wajar resisten terhadap etilen oksida.

b. Tes sterilitas rutin secara acak pada beban. Royce dan Bowler (1959) telah menggambarkan alat control indicator untuk sterilisasi etilen oksida. Ini kurang penting dibanding etilen oksida dalam bidang farmaseutikal dan pengobatan. Propilen oksida; kurang efektif daripada etilen oksida, namun kurang eksplosif (mudah meledak). Formaldehid; sekarang ini paling utama digunakan untuk pengasapan ruang dan selimut rumah sakit. Formaldehid memiliki daya penetrasi yang kurang, polimerisasi menjadi paraformaldehid, dan mengiritasi dan tajam. Ini secara cepat meninaktifkan digunakan protein dan bahan organic. dari Ini 75%, harus dan

pada

kelembaban

lebih

konsentrasi tinggi sulit untuk dipertahankan. Betapropiolakton; Ini memiliki titik didih 163o dan harus digunakan alat penguap plat panas. Kemudian dengan formaldehid, dibutuhkan RH paling kurang 75%. Ini bersifat sangat virusidal, tetapi mengiritasi, vesicant, dan

karsinogenik terhadap hewan, oleh karena itu membutuhkan penanganan dari tenaga ahli Glikol; ini digunakan sebagai bakterisid pada konsentrasi 0,2-0,5 mg/l

Metil bromida dan metil alkohol; bentuk ini digunakan sebagai insektisida dan kemudian digunakan sebagai pembebasan gas beracun dari inkubator dan ruang dingin.

Kesimpulan : Metode sterilisasi : 1. Sterilisasi secara fisika : a. 1) 2) 3) b. 1) 2) 3) c. 1) 2) 3) 4) Pemanasan kering Udara panas oven (1, 6, 7, 10) Minyak dan penangas lain (7) Pemijaran langsung(7) Cara bukan panas Sinar UV (7, 10) Akselerator elektron (10) Radiasi pengion (10) Uap panas lembab Uap bertekanan (1, 6, 7, 10) Uap panas pada suhu 100C (7) Pemanasan dengan bekterisida (7) Air mendidih (7)

2. Sterilisasi kimia : sterilisasi gas (1, 6, 7, 10) 3. Sterilisasi mekanik : penyaringan bakteri(1, 6, 7, 10)

II.1.6 Keuntungan dan kerugian metode sterilisasi 1. Sterilsasi metode fisika

A. Sterilisasi Panas Kering Keuntungan : a. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy; 1263

Dapat digunakan untuk membunuh spora dan bentuk vegetatifnya dari semua mikroorganisme. b. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 413, 414 Umumnya digunakan untuk senyawa-

senyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas. Metode pilihan bila dibutuhkan peralatan

yang kering atau wadah yang kering seperti pada zat kimia kering atau larutan bukan air Kerugian : a. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy; 1263 suhu di

Hanya digunakan untuk zat-zat yang tahan penguraian pada atas kira-kira 140C. b. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 413

Karena panas kering efektif membunuh mikroba dengan

uap

air

panas, maka diperlukan temperatur yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang.

B. Sterilisasi Uap Panas Keuntungan : a. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 412, 413 Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan

kerusakan pada temperatur yang relative rendah daripada tidak ada kelembaban. Metode ini digunakan untuk sediaan farmasi dan

bahan-bahan yang dapat tahan terhadap temperatur yang digunakan dan penembusan uap tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap air. mudah dibunuh. Dipergunakan unutk larutan jumlah besar, alat-alat Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih

gelas, pembalut operasi dan instrument. b. Scovilles The Art of Compounding; 408

Dapat membunuh semua bentuk mikroorganisme vegetatif. Kerugian : a. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi :413 Tidak digunakan untuk mensterilkan

minyak-minyak lemak, sediaan berminyak dan sediaan yang tidak dapat ditembus oleh uap air atau pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap jenuh.

sukar dihancurkan.

Spora-spora yang kadar airnya rendah,

2. Keuntungan : a.

Sterilisasi Gas

Pengantar Bentuk Sedian Farmasi; 416

Beberapa senyawa yang tidak tahan terhadap panas dan uap dapat disterilkan dengan baik dengan memaparkan gas etilen oksida atau propilen oksida bila dibandingkan dengan cara lain. b. Pharmaceutical Technology Fundamental

Pharmaceutics; 280 Dapat digunakan untuk membunuh mikroorganisme dan spora lain. Kerugian : a. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 417 Gas-gas (etilen dan propilen oksida) mudah

terbakar bila tercampur dengan udara. Tindakan pengemasan yang lebih besar diperlukan

untuk sterilisasi dengan cara ini daripada dengan cara lain karena waktu, suhu, kadar gas dan kelembaban jumlahnya tidak setegas seperti pada sterilisasi panas kering dan lembab panas.

b.

The Theory and Practice of Industrial Pharmacy; 1283 Gas-gas sulit hilang dan kebanyakan bahan-bahan

setelah pemaparan. Iritasi jaringan dapat terjadi jika etilen oksida tidak

dihilangkan sama sekali, sifat karsinogenik dan mutagenik dari etilen oksida dari sisa-sisa pada bahan yang digunakan pada manusia. agak lama. 3. Keuntungan : a. partikel The Theory and Practice of Industrial Pharmacy; 1285 Penyaringan dapat digunakan untuk memisahkan termasuk mikroorganisme dari larutan gas tanpa Sterilisasi dengan Penyaringan Waktu siklus untuk sterilisasi dengan etilen oksida

menggunakan panas. cara. Tidak menghilangkan bahan yang diinginkan atau Saringan tidak harus mengubah larutan/gas segala

membawa komponen yang tidak diinginkan. b. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 416 Kecepatan penyaringan sejumlah kecil

larutan, kemampuan untuk mensterilkan secara efektif bahan tahan panas.

Peralatan yang digunakan relatif tidak mahal

dan mikroba hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua dihilangkan dari larutan. Kerugian : a. 414 Penyaringan cairan dengan Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi;

volume besar akan memerlukan waktu yang lebih lama terutama bila cairan kental dibandingkan dengan bila memakai cara sterilisasi lembab panas. Cara ini diharuskan menjalani

pengawasan yang ketat dan memonitoring karena efek hasil penyaringan dapat dipengaruhi oleh banyaknya mikroba dalam larutan. b. Compounding; 419 efektif menghilangkan virus dari larutan. Muatan dalam pH Filter bakteri tidak Scovilles The Art of

yang sesuai yang bersifat alkali menyebabkan kerusakan filter dan partiekel yang kecil pada filter merupakan problem yang khusus. c. of Industrial Pharmacy;1282-1283 The Theory And Practice

Tiap

kebocoran yang mungkin terjadi pada sistem ini menyebabkan kerusakan pada bagian luar tanpa kontaminan filtrat yang steril. Kesulit

an mempertahankan kondisi aseptis seperti merupakan masalah besar sehubungan dengan sterilisasi melalui penyaringan. Kesimpulan: 1. a. Sterilisasi panas kering Keuntungan Dapat digunakan untuk membunuh spora dan

bentuk vegetatifnya dari semua mikroorganisme (10). Umumnya digunakan untuk senyawa-

senyawa yang tidak efektif disterilkan dengan uap air panas (18). Metode pilihan bila dibutuhkan peralatan yang

kering atau wadah yang kering seperti pada zat kimia kering atau larutan bukan air (18) b. Kerugian : Hanya digunakan untuk zat-zat yang tahan

penguraian pada suhu di atas kira-kira 140C (10). Karena panas kering efektif membunuh

mikroba dengan uap air panas, maka diperlukan temperatur yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang (18). 2. Steriliasi uap panas

a.

Keuntungan Adanya uap air dalam sel mikroba menimbulkan

kerusakan pada temperatur yang relatif rendah daripada tidak ada kelembaban (18). Metode ini digunakan untuk sediaan farmasi dan

bahan-bahan yang dapat tahan terhadap temperatur yang digunakan dan penembusan uap tetapi tidak timbul efek yang tidak dikehendaki akibat uap air (18). Sel bakteri dengan kadar air besar umumnya lebih

mudah dibunuh (18). Dipergunakan unutk larutan jumlah besar, alat-

alat gelas, pembalut operasi dan instrument (18). Dapat membunuh semua bentuk

mikroorganisme vegetatif (7). b. Kerugian : Tidak digunakan untuk mensterilkan

minyak-minyak lemak, sediaan berminyak dan sediaan yang tidak dapat ditembus oleh uap air atau pensterilan serbuk terbuka yang mungkin rusak oleh uap jenuh (18). dihancurkan (18). 3. a. Sterilisasi gas Keuntungan Spora-spora yang kadar airnya rendah, sukar

Beberapa senyawa yang tidak tahan terhadap

panas dan uap dapat disterilkan dengan baik dengan memaparkan gas etilen oksida atau propilen oksida bila dibandingkan dengan cara lain (18). dan spora lain (6). b. Kerugian : Gas-gas (etilen dan propilen oksida) mudah Dapat digunakan untuk membunuh mikroorganisme

terbakar bila tercampur dengan udara (18). Tindak

an pengemasan yang lebih besar diperlukan untuk sterilisasi dengan cara ini daripada dengan cara lain karena waktu, suhu, kadar gas dan kelembaban jumlahnya tidak setegas seperti pada sterilisasi panas kering dan lembab panas (18). Gas-gas sulit hilang dan kebanyakan bahan-bahan

setelah pemaparan (10). Iritasi jaringan dapat terjadi jika etilen oksida tidak

dihilangkan sama sekali, sifat karsinogenik dan mutagenik dari etilen oksida dari sisa-sisa pada bahan yang digunakan pada manusia (10). siklus untuk sterilisasi dengan etilen oksida agak lama (10). 4. b. Sterilisasi penyaringan Keuntungan Waktu

ringan dapat digunakan untuk memisahkan partikel

Penya termasuk

mikroorganisme dari larutan gas tanpa menggunakan panas (10). an tidak harus mengubah larutan/gas segala cara (10). Tidak Saring

menghilangkan bahan yang diinginkan atau membawa komponen yang tidak diinginkan (10). Kecepatan penyaringan sejumlah kecil

larutan, kemampuan untuk mensterilkan secara efektif bahan tahan panas (18). Perala

tan yang digunakan relative tidak mahal dan mikroba hidup dan mati serta partikel-partikel lengkap semua dihilangkan dari larutan (18). b. Kerugian Penya

ringan cairan dengan volume besar akan memerlukan waktu yang lebih lama terutama bila cairan kental dibandingkan dengan bila memakai cara sterilisasi lembab panas (18). Cara

ini diharuskan menjalani pengawasan yang ketat dan memonitoring karena efek hasil penyaringan dapat dipengaruhi oleh banyaknya mikroba dalam larutan (18).

efektif menghilangkan virus dari larutan (7).

Filter bakteri tidak

Muata

n dalam pH yang sesuai yang bersifat alkali menyebabkan kerusakan filter dan partiekel yang kecil pada filter merupakan problem yang khusus (7). Tiap

kebocoran yang mungkin terjadi pada sistem ini menyebabkan kerusakan pada bagian luar tanpa kontaminan filtrat yang steril (10). Kesulit

an mempertahankan kondisi aseptis seperti merupakan masalah besar sehubungan dengan sterilisasi melalui penyaringan (10).

II.1.7 Validasi dan monitoring metode sterilisasi : 1. Farmakope Indonesia Edisi IV; 1110 Prinsip dasar untuk validasi dan sertifikasi suatu proses sterilisasi dijabarkan sebagai berikut : a. Pastikan bahwa peralatan yang digunakan mampu berfungsi

dan memenuhi parameter yang diisyaratkan. b. Tunjukkan bahwa peralatan pengendali kritis dan

instrumentasi mampu berfungsi sesuai dengan parameter yang seharusnya bagi peralatan bersangkutan.

c.

Lakukan siklus replikasi yang memiliki operasional yang

dipersyaratkan bagi peralatan bersangkutan dan gunakan produk sebenarnya atas simulasi. Tunjukkan bahwa proses telah dilaksanakan sesuai batasan protokol yang ditetapkan dan akhirnya kemungkinan mikroba yang masih hidup pada proses replikasi yang telah selesai tidak lebih besar dari batasan yang ditetapkan. d. Pantau proses yang divalidasi sewaktu pengerjaan berjalan

secara pasti. Jika perlu secara periodik peralatan dikalibrasi dan disertifikasi ulang. e. Lengkapkan protokol dan dokumentasikan langkah di atas

mulai nomor 1 hingga nomor 4. 2. 1261-1262 Validasi sebenarnya dari suatu proses sterilisasi harus mengikuti serangkaian tahap dan prosedur yang sistematis dan logis. Prosedur validasi untuk suatu proses sterilisasi uap bisa meliputi rancangan : a. Memberikan tanda bahwa pensteril sudah dicek secara The Theory and Practice of Industry Pharmacy;

mekanis dan memenuhi syarat. b. Pilihlah mikroorganisme indiktor biologis yang paling tepat

yang mempunyai daya tahan terhadap panas uap yang diinginkan, sambil merealisasi keunggulan dari bahaya bioindikator. c. Tentukan nilai D dan nilai Z dari bioindikator yang dipilih

secara eksperimen.

d.

Tentukan distribusi panas dalam pensteril kosong dan

identifikasi tempat yang paling dingin. e. Tentukan distribusi panas dari ukuran muatan dan

konfigurasi tertentu serta identifikasi tempat yang paling dingin. f. Tentukan penetrasi ke dalam unit produk pada tempat yang

paling dingin dan pada tempat yang dicurigai, di mana penetrasi panasnya paling lambat. g. Evaluasi efek dari tolak ukur siklus seperti waktu,

temperature, dan konfigurasi muatan pada pengrusakan bioindikator dan besarnya nilai Fo. h. Tentukan waktu proses sterilisasi yang digunakan untuk

mencapai harga Fo yang diinginkan dan tingkat probabilitas dari pengrusakan bioindikator. i. Ulangi proses tersebut sampai diperoleh ulangan yang

memuaskan dan dapat diandalkan. j. Tetapkan suatu program pemantauan untuk rekualifikasi

secara periodik dari siklus sterilisasi tersebut. k. Akhiri prosedur pelaksanaan standar dan tingkat aksi, kalau-

kalau ada perubahan dan perkembangan masalah di masa yang akan datang. Prosedur validasi untuk suatu proses penyaringan aseptis bila meliputi rancangan:

a.

Buatlah secara tepat evaluasi fasilitas dan daerah kritis

untuk fungsi peralatan yang tepat, kualitas udara dan kriteria teknik lainnya. b. Lakukan uji mikroba permukaan dan udara dalam daerah

pengisian untuk mengetahui dapat dipercayanya latar belakang kontaminasi mikroba. c. d. Pilih suatu medium pertumbuhan mikroba yang sensitif. Pilih mikroorganisme penantang yang paling tepat untuk

validasi penyaringan aseptis. e. Sterilkan medium pertumbuhan dan semua alat

penyaringan dengan metode sterilisasi yang sebelumnya telah divalidasi. f. Lakukan suatu uji simulasi proses dengan menyaring

volume yang diinginkan dari medium pertumbuhan mikroba, yang mengandung suatu konsentrasi mikroorganisme penantang yang diketahui ke dalam sejumlah wadah yang sesuai dan telah disterilkan sebelumnya. g. Inkubasi wadah yang sudah ada atau terisi pada kondisi

yang tepat dengan kontrol yang tepat pula. h. Tentukan persen tingkat kontraminasi menurut

persamaan berikut: %C= NG x 100 NT - ND

di mana :

NG = banyaknya wadah yang tidak dirusak dengan mikroorganisme NT = jumlah wadah yang diisi sebelumnya ND = banyaknya wadah yang rusak terkontaminasi

i. j.

Ulangi proses tersebut. Jika persen tingkat kontraminasi tidak dapat diterima,

misalnya > 0,1%, ulangi semua hasil uji lingkungan. Catatan sterilisasi dan data lain untuk menentukan langkah apa yang perlu diambil untuk mencapai persen tingkat kontraminasi kurang dari 0,1%. 3. a. Handbook of Formulation Sterile Product, e-book Validasi Studi validasi seharusnya dihubungkan dengan pembuktian efikasi dari sterilisasi melingkar. Studi pembatasan ulang juga seharusnya ditunjukkan pada basis periodik. Untuk kedua studi validasi dan produksi rutin, penggunaan bentuk beban terspesifikasi seharusnya

didokumentasikan pada catatan batch. Udara yang tidak dapat dipindahkan dari bahan pengisolasi menjaga panas lembab dari penetrasi, pemanasan bahan dan mencapai dengan uap jenuh. Sebagai akibatnya, terjadi energi panas yang jauh lebih lambat dan kecepatan pembunuhan yang lebih lambat dari panas kering pada lokasi yang terisolasi. Perhatian khusus harus diberikan pada tipe bahan natural untuk disterilkan dan penempatan indikator biologik dengan bahan sterilisasi.

Sulit untuk mencapai lokasi dengan bahan sterilitas dan bahan spesifik, seharusnya menjadi evaluasi yang penting untuk efikasi sterilisasi meningkat. Setelah itu, pembatasan ulang atau revisilidasi harus dilanjutkan untuk memusatkan pada daerah beban sebagai daerah paling sulit untuk terpenetrasi atau terpanaskan. 1) Pembatasan = chamber kosong.

Studi evaluasi distribusi temperatur di banyak tempat sebagai unit pensteril kosong (contoh: autoklaf, oven) atau alat penyambung (contoh: tangki besar, pipa yang tidak dapat digerakkan). Ini penting, bahwa studi ini memperkirakan keseragaman temperatur pada berbagai lokasi sampai pensteril untuk mengidentifikasi potensial tidak dingin dimana di sana dapat tidak cukup panas untuk mencapai sterilitas. Studi panas seragam atau temperatur pembuatan seharusnya dihubungkan dengan

menempatkan temperatur kalibrasi pada alat pengukur pada banyak lokasi sampai pada chamber. 2) Validasi = chamber beban.

Studi panas penetrasi seharusnya ditunjukkan dengan menggunakan alat beban pensteril yang dibuat. Validasi dari proses sterilisasi dengan pembuktian efek dari bahan pada pemasukan panas pada barang yang telah disterilisasi. Dan mungkin mengidentifikasi titik dingin di mana tidak cukup panas untuk mencapai sterilitas. Penempatan indikator biologik pada sejumlah posisi pada beban, termasuk tempat yang paling sulit disterilkan, adalah alat langsung untuk membuktikan efikasi dari beberapa

prosedur sterilisasi. Pada umumnya, thermocouple (Te) ditempatkan berdekatan dengan indikator biologik untuk memperkirakan hubungan antara leralitis mikrobial dan pemasukan panas. Sterilisasi dapat divalidasi melalui pendekatan setengah atau sebagian melingkar. Pada beberapa kasus, dasar digunakan untuk validasi sterilisasi. Untuk informasi lebih lanjut mengenai validasi dengan sterilisasi panas, mengikuti aturan FDA. b. Kontrol peralatan dan kalibrasi alat pengukur. Untuk kedua validasi dan kontrol rutin, kebenaran dari data umum melalui monitoring alat sterilisasi melingkar harus dipertimbangkan untuk menjadi sangat penting. Alat yang mengukur parameter melingkar harus secara rutin dikalibrasi. Prosedur yang telah ditulis harus dibuat untuk memastikan bahwa alat tepat pada tingkat kalibrasi. Monitoring alat temperatur untuk sterilisasi panas harus dikalibrasi pada interval yang sesuai, sebaik sebelum dan sesudah validasi berjalan. Alat yang digunakan untuk memonitoring waktu pada alat sterilisasi harus dikalibrasi secara periodik. Jumlah mikrobial dan jumlah O dari indikator biologikal seharusnya telah jelas sebelum studi validasi. Alat pengukuran digunakan untuk menentukan kemurnian dari uap seharusnya dikalibrasi. Untuk alat lubang panas kering di pirogenasi (seperti sensor dan transmiter) yang digunakan untuk mengukur kecepatan daerah sebenarnya secara rutin dikalibrasi. Peralatan sterilisasi seharusnya dipelihara dengan tepat untuk mendapatkan kepuasan dan konsistensi tinggi. Evaluasi dari penampilan

benda-benda steril seharusnya ada keseimbangan antara penelitian sebelumnya dan teori. 4. a. Formulasi steril; 98 Validasi dan monitoring. Sebelum menggunakan obat, kita harus terlebih dahulu

menvalidasikannya dapat menyatakan alat banyak dapat dipakai. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan : 1) Indikator biologi

Merupakan sediaan berisi populasi mikroorganisme aseptik dalam bentuk spora II bakteria/resisten terhadap beberapa parameter yang terkontrol dan terukur dalam suatu panas tertentu. Prinsip kerjanya adalah mensterilkan spora hidup mikroorganisme nonpatogenik dan sangat resisten dalam jumlah tertentu. Jika selama dalam proses spora tertentu, maka dapat diasumsikan bahwa mikroorganisme lainnya ikut terbunuh dan bisa dikatakan telah steril. Jenis yang digunakan adalah Bacillus stearotermophillus (sterilisasi uap) dan Bacillus sabtilis (sterilisasi gas etilen oksida dan panas kering). Beberapa jenis indikator biologi : - Beberapa strip kertas yang mengandung spora kering dikemas dalam kantong bersegel. Setelah disterilisasi, spora kering dipindahkan secara efektif dalam media pertumbuhan untuk melihat pertumbuhan koloni indikator biologi ini dibuat dalam wadah tersendiri, dimana strip terisi spora dikemas dalam vial bersama ampul yang berisi media pertumbuhan spora. Setelah sterilisasi, indikator ini diaktifkan dengan

menghancurkan ampul berisi media pertumbuhan. Sehingga spora mendapatkan lingkungan yang sesuai untuk tumbuh. Indikator kemudian diinkubasi sehingga mikroorgnisme yang bertahan hidup dapat tumbuh. - Jenis lain indikator biologi adalah yang mengandung sistem deteksi cepat (rapid). Sistem yang demikian bekerja berdasarkan adanya interaksi enzim dalam spora dengan bahan yang ada dalam media pertumbuhan. Apabila mendapatkan sinar UV, maka hasil positif akan memberikan flouresensi. Bila tidak terjadi flouresensi, maka kondisi sterilisasi telah mencapai dan spora telah terbunuh. Indikator demikian, memerlukan alat khusus untuk mendeteksi ada atau tidaknya flouresensi. Kita dapat membaca hasilnya selama 3 jam. Interprestasi hasil indikator biologi. Setelah masa inkubasi, kita melakukan pengamatan agar

mendapatkan interprestasi hasil indikator biologi. Hasil disebut positif bial terjadi kekeruhan dan pertumbuhan koloni (indikator konvensional), adanya flouresensi (indikator rapid) atau adanya perubahan warna (indikator mutakhir). Kitapun melakukan pengamatan terhadap kontrol positif, yaitu indikator biologi yang diaktifkan dan diinkubasi tanpa melewati proses sterilisasi. Kontrol positif harus menunjukkan hasil positif, keberhasilan sterilisasi ditandai hasil indikator biologi yang negatif. Sebaliknya, bila hasil positif, maka merupakan indikasi adanya kegagalan proses sterilisasi.

2)

Indikator kimia Chemical indikator atau indikator kimia adalah indikator yang

menandai terjadinya paparan sterilitas (uap panas atau gas etilen oksida) pada objek yang disterilkan dengan adanya perubahan warna, indikator kimia diproduksi dalam bentuk strip, tape, kartu, dan vial, indikator sensitif terhadap satu atau lebih parameter sterilisasi. Indikator memberikan informasi tercapainya validasi steril pada tiap kemasan, maka selalu digunakan di luar, adapula yang menggunakan di dalam beberapa indikator kimia yang dikenal adalah indikator eksternal dan indikator internal. Indikator eksternal berbentuk pita dan digunakan dibagian luar kemasan. Terjadinya perubahan warna indikator memberikan informasi bahan bagian kemasan benda yang disterilkan telah melewati proses sterilisasi. Kemudian, indikator internal berbentuk strip dan pemakaiannya diletakkan dalam setiap kemasan. Indikator internal memberikan informasi bahwa berada di dalam warna indikator. Terjadinya perubahan warna menunjukkan bahwa sterilan telah berpenetrasi di dalam kemasan. 3) Indikator fisika Indikator mekanik adalah instrumen mesin sterilisasi seperti garge, table, dan indikator suhu maupun tekanan yang menunjukkan apakah alat sterilisasi bekerja dengan baik. Kegunaannya sebagai berikut :

Pengu

kuran temperatur dan tekanan merupakan fungsi penting sistem monitoring sterilisasi. Apabila indikator mekanik berfungsi dengan baik, maka akan memberikan informasi segera mengenai temperatur, tekanan, waktu, dan mekanik lainnya dari alat. Memb erikan indikator adanya masalah apabila alat masuk dan memerlukan perbaikan. Contohnya adalah indikator hanya digunakan untuk Buvderick. Indikator ini digunakan untuk menilai efisiensi pompa vakum pada alat sterilisasi serta untuk mengetahui adanya kebocoran udara dalam ruang sterilisasi. Oleh karena itu, indikator hanya digunakan pada metode sterilisasi uap panas yang menggunakan sistem vakum. Jadi, indikator sama sekali bukan untuk mengetahui apakah kondisi sterilisasi telah tercapai kemudian keterbatasannya adalah : Indikator mekanik tidak menunjukkan bahwa keadaan steril sudah tercapai, melainkan hanya memberikan informasi tentang fungsi alat sterilisasi. Karena bersifat mekanis, maka bila tidak dilakukan kalibrasi alat dengan tepat atau pemakaian yang terlalu kering indikator dapat memberikan informasi yang tidak benar. Oleh karena itu, monitoring hanya dengan indikator mekanik tidak cukup. Kita masih

memerlukan indikator lainnya untuk memberikan jaminan bahwa proses sterilisasi berjalan baik.

II.I. 8 Macam macam sediaan steril : 1. Sterile Dosage Form; 15-16 a. Injeksi Larutan obat dalam bahan yang cocok dengan atau tanpa bahan tambahan, digunakan untuk penggunaan parenteral didefenisikan sebagai injeksi. Sebuah injeksi bisa disiapkan sebagai dosis tunggal atau dosis ganda, volumenya bisa sama kecilnya dengan setengah militer, seperti injeksi atropine sulfat, atau sebesar 1 liter, seperti injeksi dextrose. Istilah ini juga bisa digunakan sebagai emulsi steril. b. Cairan Cairan infus infus intravena merupakan kelompok injeksi yang

terkarakterisasi oleh metode pemberian. Ini termasuk sediaan yang digunakan sebagai nutrisi dasar, seperti injeksi dextrose, untuk

penyimpanan keseimbangan elektrolit, seperti injeksi ringer mengandung ion natrium, kalium, dan kalsium, untuk penggantian cairan, kombinasi seperti injeksi dextrose dan NaCl, dan untuk beberapa kegunaan lain, seperti hiperalimentasi parenteral. c. Radiofarmasetik Bahan radiofarmasetik yang digunakan untuk uji fungsi organ terpisah sebagai kelompok injeksi di bawah istilah radiofarmasetikal.

Mereka berbeda dari injeksi lain yaitu obat dalam bentuk radioaktif, teknik berbeda juga dibutuhkan dalam penyiapan dan penanganan.

d.

Padatan steril Sejak beberapa obat tidak memiliki stabilitas yang cocok dalam

larutan untuk membolehkan pembungkusan sebagai injeksi, mereka disiapkan sebagai padatan kering agar ditempatkan dalam larutan pada saat penggunaan. Jika padatan kering tidak mengandung buffer, pengisi, atau bahan tambahan lain, mereka dilabeli sebagai obat steril, seperti Natrium Nafcilin Steril. Jika bentuk kering dari obat juga mengandung buffer, pengisi, dan bahan tambahan lain, sediaan dilabeli sebagai obat untuk injeksi, seperti Amfoterisin B untuk injeksi. Perbedaan dalam pelabelan mengindikasikan kehadiran atau ketiadaan dari bahan. e. Suspensi steril Obat yang disuspensikan dalm bahan parenteral yang cocok dibuat sebagai suspensi obat steril, contohnya suspensi steril hidrokortison asetat. Jika obat dalam bentuk kering dan akan menjadi suspensi dengan penambahan bahan parenteral yang cocok, ditandai sebagai obat steril untuk suspensi, seperti Suspensi Steril Kloramfenikol. Tidak seperti injeksi, 2 tipe suspensi tidak pernah diberikan intravena atau diinjeksikan ke dalam kanal sum-sum tulang belakang. f. Larutan mata, suspensi dan salep

Obat dalam larutan diberikan dengan cara ditanamkan pada mata adalah sediaan steril, walaupun istilah steril tidak umum termasuk dalam namanya, contoh Larutan Mata Natrium Sulfasetamida atau Suspensi Mata Hidrokortison Asetat. Mereka juga berbeda dari sediaan sebelumnya yaitu tidak perlu bebas pirogen karena tempat penggunaannya. Dalam penyiapan salep mata, bahan obat baik dalam larutan atau padatan termikronisasi ditambahkan agar tidak mengiritasi basis salep. Salep disterilkan dengan panas kering atau dengan radiasi; beberapa disiapkan dengan penyiapan steril melalui kombinasi aseptik dari bahan steril. Mereka harus dikemas dalam wadah bersegel dan bebas dari bahan partikulat yang tidak diinginkan seperti partikel logam. g. Larutan irigasi Larutan yang digunakan untuk mencuci luka terbuka, didefenisikan sebagai larutan irigasi dan digunakan secara topikal, tidak pernah secara parenteral. h. Bahan diagnostik Larutan yang diberikan secara parenteral untuk tujuan diagnostik, seperti injeksi Evans Blue, digunakan untuk menentukan volume darah. i. Ekstrak allergenio Ekstrak allergenio adalah konsentrasi allergen atau bahan yang bertanggung jawab untuk sensitivitas yang tidak biasa dari beberapa individu, digunakan untuk diagnostik atau pengobatan reaksi allergenik. j. Larutan dialisis peritonial

Larutan

digunakan

dengan

teknik

dialisis

peritoneal

untuk

menurunkan sampah tubuh, cairan tubuh, elektrolit serum dan bahan racun.

Kesimpulan : Macam-macam sediaan steril adalah : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Injeksi Cairan infuse Radifarmasetik Padatan steril Suspensi steril Larutan mata, suspensi, dan salep Larutan irigasi Bahan diagnostik Esktrak allergnio Larutan dialysis peritonial

II.1.8 Teknik aseptik dan sterilisasi hasil akhir 1. Farmakope Indonesia Edisi III; 18 Proses aseptik adalah cara pengurusan bahan steril dengan menggunakan teknik yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya cemaran kuman hingga seminimum mungkin. Teknik aseptik dimasukkan untuk digunakan dalam pembuatan injeksi yang tidak dapat dilakukan

proses sterilisasi akhir, karena ketidakmampuan zatnya. Teknik ini tidak mudah diselenggarakan dan tidak ada kepastian bahwa hasil akhir sesungguhnya steril. Sterilitas hasil akhir hanya dapat disimpulkan , jika hasil itu telah memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada uji keamanan hayati. Teknik aseptik menjadi hal yang penting sekali diperhatikan pada waktu sterilisasi menggunakan cara sterilisasi

penyaringan dan pemanasan kering. Sewaktu memindahkan atau memasukkan bahan steril kedalam wadah akhir steril. Dalam hal tertentu, untuk meyakinkan terjadinya cemaran atau tidak sewaktu memindahkan atau memasukkan cairan steril kedalam wadah steril menggunakan cara ini, perlu diuji dengan cara sebagai berikut : kedalam salah satu wadah, masukkan medium biakan bakteri sebagai ganti cairan steril. Tutup wadah dan eramkan pada suhu 32oC selama 7 hari. Jika terjadi pertumbuhan kuman, menunjukkan adanya cemaran yang terjadi pada waktu

memasukkan atau memindahkan cairan ke dalam wadah akhir. Dalam pembuatan larutan steril, akhirnya ditutup kedap untuk melindungi terhadap cemaran kuman. Semua alat yang digunakan harus steril. Ruangan yang digunakan untuk melakukan pekerjaan ini harus disterilkan terpisah dan tekanan udaranya diatur positif dengan memasukkan udara yang telah dialirkan melalui penyaringan bakteri. Lagi pula, pekerjaan ini harus dilakukan dengan tabir pelindung atau dalam aliran udara steril. Pakaian pekerja harus khusus dan steril dilengkapi dengan penutup muka dan topi.

2.

Scovilles The Art of Compounding; 419 Sesuai dengan namanya, teknik aseptik merupakan cara yang biasa

dilakukan untuk menghindari masuknya bekteri ke dalam sediaan untuk injeksi, kemungkinan besar, bahaya dari kontaminasi suatu larutan berasal dari tangan, dan nafas dari orang yang melakukan pekerjaan ini. Tangan pekerja harus dibersihkan seluruhnya dan dibilas dengan bahan sterol seperti alcohol. Mulut dan hidung harus ditutup dengan masker yang terdiri dari 2 lapisan kain. Jika memungkinkan harus menggunakan jubah steril sebelum memulai pengerjaan untuk menghindari masuknya bakteri dari pakaian pekerja. 3. Textbook of Pharmaceutics; 555

Teknik aseptik adalah salah satu cara yang digunakan untuk melindungi kontaminasi bahan, alat, wadah selama penanganan. Sumber kontaminasi adalah udara, nafas, kulit, rambut, pakaian permukaan kerja. 4. Teori dan Praktek Farmasi Industri; 1282

Sterilisasi larutan dengan penyaring menghasilkan larutan yang sangat bersih, memisahkan parikel kotoran, juga mikroorganisme dalam kisaran ukuran mikron. Walapun begitu, filtrat harus dipindahkan dari penerima dan dibagi-bagi kembali menjadi wadah akhir tersendiri setelah sterilisasi. Tujuan proses ini, dikenal sebagai pemrosesan aseptis, adalah mengeluarkan tiap mikroorganisme dari tiap tahapan proses sesudah penyaringan.

Pemrosesan aseptis secara teknis bukanlah proses sterilisasi, tetapi dibicarakan di sini karena keterlibatan yang sangat erat dengan sterilisasi melalui penyaringan. Proses aseptis ini digunakan untuk produk yang tidak dapat disterilisasi pada tahap akhir, yakni setelah disegel dalam wadah akhir. Kesimpulan : Teknik aseptik adalah cara pengurusan bahan steril dengan menggunakan teknik (4) yang dapat memperkecil kemungkinan terjadinya cemaran kuman (4, 7, 21) hingga seminimum mungkin, sedangkan sterilisasi akhir hanya dapat disimpulkan, jika hasil itu telah memenuhi syarat uji sterilitas yang tertera pada uji keamanan hayati (4).

II.2. Teori Salep Mata II.2.1 Pengertian Salep Mata 1. Farmakope Indonesia Edisi III; 20 Salep mata adalah salep steril untuk pengobatan mata

menggunakan dasar salep yang cocok. 2. Farmakope Indonesia Edisi IV; 12 Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. 3. Scovilles The Art of Compounding; 356 Salep mata adalah salep khusus untuk pemakaian pada mata dimana membutuhkan perhatian khusus pada pembuatannya. 4.Sterile Dosage Form; 368

Salep

mata

memberikan

arti

lain

dimana

obat

dapat

mempertahankan kontak dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh cairan air mata. Basis untuk salep mata biasanya petrolatum putih walapun dalam beberapa kasus basis laruit air juga digunakan. Obat jika tidak larut didispersikan kedalam basis yang disterilkan dengan panas kering dan dicampur secara aseptis dengan obat dan bahan tambahan yang steril. 5. Dispensing on Medication by Robert King; 140 Salep mata adalah salep steril khusus untuk penggunaan pada mata. Salep ini dibuat dari bahan steril dibawah kondisi aseptis atau pada sterilisasi tahap akhir. 6. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1513 Salep mata adalah salep steril khusus untuk penggunaan pada mata, dapat juga digunakan untuk memberikan efek pengobatan yang bervariasi pada bagian luar dan tepi kelopak mata, konjungtiva, kornea dan iris. Perhatian yang khusus dilakukan dalam penyiapannya. Kesimpulan : Salep mata adalah sediaan steril yang mengandung bahan kimia steril (1, 2, 5) yang terbagi halus dalam basis, yang dibuat di bawah kondisi aseptik (1, 2), yang digunakan pada mata untuk memberikan efek pengobatan (1, 4, 6, 7) dimana obat dapat kontak dengan mata dan jaringan tanpa tercuci oleh air mata (2), di mana tempat kerjanya pada bagian luar tepi kelopak

mata, konjungtiva, kornea, dan iris (5), serta memerlukan perhatian khusus dalam pembuatannya (5, 7).

II.2.2 Syarat-syarat salep mata 1. a. Remingtons Pharmaeutical Science 18th Edition; 1585 Salep mata dibuat dari bahan yang disterilkan dibawah

kondisi yang bernar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi resmi. b. Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube

disempurnakan dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma. c. Salep mata harus mengandung bahan yang sesuai atau

campuran bahan untuk mencegah pertumbuhan atau menghancurkan mikroorganisme yang berbahaya ketika wadah terbuka selama penggunaan. Bahan antimikroba yang biasa digunakan adalah klorbutanol, paraben atau merkuri organik. d. e. membiarkan Salep akhir harus bebas dari partikel besar. Basis difusi yang obat digunakan melalui tidak mengiritasi sekresi mata mata, dan

pencucian

mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi penyimpanan yang sesuai. 2. Sterile Dosage Form; 357

a.

Sediaan untuk mata dari berbagai jenis produk yang

berbeda dapat berupa larutan tetes mata, pencuci mata atau salep mata. Kadang-kadang injeksi mata digunakan untuk hal-hal yang khusus. Sediaan mata sama dengan produk steril lainnya yaitu kesterilan dan bebas dari bahan partikulat. Dengan pengecualian jumlah yang terbatas dari injeksi mata. Sediaan untuk mata merupakan bentuk sediaan topikal yang digunakan untuk efek lokal. Oleh karena itu tidak perlu bebas pirogen karena metode penggunaan dan pemakaian obat sediaan mata berbeda dengan bahan yang diberikan secara parenteral dalam hal bahan yang ditambahkan untuk

meningkatkan aktivitas untuk memelihara stabilitasnya dan sterilitas produk. b. Sterilitas merupakan syarat yang paling penting, tidak

layak membuat sediaan larutan mata yang mengandung banyak mikroorganisme yang paling berbahaya adalah Pseudomonas

aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan, bahaya yang paling utama adalah memasukkan produk nonsteril kemata saat kornea digososk. Bahan partikulat yang dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien. 3. Scovilles The Art of Coumpounding; 247

Perhatian khusus harus dipenuhi untuk sediaan salep mata adalah menghasilkan produk yang steril bebas dari partikel yang mengiritasi. 4. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 567

a. Dasar salep pilihan untuk suatu salep mata harus tidak mengiritasi mata dan harus memungkinkan difusi bahan obat ke seluruh mata yang dibasahi karena sekresi cairan mata. b. Dasar salep yang ditambahkan untuk salep mata harus bertitik lebur atau titik melumer mendekati suhu tubuh.

5. Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery System by Ansel; 255 Basis salep yang dipilih untuk salep mata harus tidak mengiritasi mata dan harus membolehkan difusi bahan obat melalui sekresi air mata dari mata. Basis salep yang digunakan untuk mata harus mempunyai titik kelembutan mendekati tubuh untuk kenyamanan pasien maupun

pelepasan obat. 6. Farmakope Indonesia Edisi III; 30 digunakan Vaselin

Kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar

putih. Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian, dapat dipilih salah satu bahan dasar berikut : a. Dasar salep senyawa hidrokarbon

Vaselin putih, veselin kuning atau campurannya dengan malam putih, dengan malam kuning atau dengan senyawa hidrokarbon lain yang cocok. b. Dasar salep serap

Lemak bulu domba; campuran 3 bagian kolesterol, 3 bagian stearil alkohol, 8 bagian malam putih, dan 8 bagian vaselin putih; campuran 30 bagian malam kuning dan 70 bagian minyak wijen. c. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air

Emulsi minyak dalam air. d. Dasar salep yang dapat larut dalam air

Polietilenglikol atau campurannya.

Kesimpulan : Syarat-syarat salep mata, yaitu : Steril (2,5). Dibuat dari bahan-bahan yang disterilkan di bawah kondisi aseptik

(5). Sterilitas akhir dari salep dalam tube dengan radiasi gamma (5). Mengandung bahan untuk mencegah pertumbuhan

mikroorganisme yang berbahaya (2,5). Bebas dari partikel besar (2,5). Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata, mampu

mempertahankan aktivitas obat pada jangka waktu tertentu selama penyimpanan (5). Tidak perlu bebas pirogen (2).

II.2.3 Keuntungan dan Kerugian Salep Mata Keuntungan Salep Mata : 1. 1587 Salep mata memberikan keuntungan waktu kontak yang lebih lama dan bioavailabilitas obat yang lebih besar dengan onset dan waktu puncak absorbsi yang lebih lama Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1585,

2. Sterile Dosage Form; 368 Salep mata dapat dipertahankan kontak lama dengan mata dan jaringan disekelilingnya tanpa tercuci oleh air mata. 3. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 563

Keuntungan utama suatu salep mata daripada larutan untuk mata adalah penambahan waktu hubungan atau kontak antara obat dengan mata. Pengkajian telah menunjukkan bahwa waktu kontak antara obat dengan mata, 24 kali lebih besar apabila dipakai salep dibandingkan jika dipakai larutan garam. Kerugian Salep Mata : 1.Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1585

Salep mata akan mengganggu penglihatan kecuali jika digunakan pada waktu tidur. Onset dan waktu absorpsi yang lama, variasi dosis besar. Salep mata cenderung membentuk lapisan pada mata dan menyebabkan masalah-masalah pencampuran antara pembawa salep dengan cairan mata. 2. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi: 563 Salah satu kekurangan bagi salep mata adalah kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh dan menyebar melalui lensa mata. 3. Modern Pharmaceutics; e-book Kerugian penggunaan salep mata dalah penggunaan bahan berminyak dan pengaburan penglihatan yang digunakan. Umunya digunakan sebagai terapi pada malam hari, namun hal ini dilaporkan memperpanjang retensi ocular dibandingkan dengan tetes mata. Kesimpulan : Keuntungan : 1. Waktu kontak dengan mata lebih lama sehingga

bioavailabilitas obat lebih besar (2, 5, 19) 2. Tempat kerjanya lebih luas yakni pada kelopak mata,

kelenjar sebasea, konjungtiva, kornea dan iris dibandingkan dengan tetes mata (5). Kerugian : 1. Salep mata mengganggu penglihatan kecuali jika digunakan saat tidur (5, 19, 24).

2. Variasi dosis besar (5) 3. Ada kecendrungan pemcampuran antara pembawa salep dan cairan mata (5) 4. Kaburnya penglihatan ketika salep mata dioleskan (19, 24).

II.2.4 Anatomi dan Fisiologi Mata 1. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition:1581 Gambar anatomi mata :

Mata manusia adalah subjek yang menarik untuk pemberian topikal obat. Dasar ini dapat ditemukan dalam susunan anatomi dari jaringan permukaan dan dalam permeabilitas kornea. Tindakan perlidnungan dari kelopak mata dan sistem lakrimal adalah seperti penghilangan dengan cepat dari bahan yang dimasukkan kedalam mata, kecuali bahannya bervolume kecil dan secara kimia dan fisiologis dapat bercampur dengan jaringan permukaan.

Kelopak Mata Kelopak mata memiliki 2 tujuan : perlindungan mekanik terhadap bola mata dan mensekresikan suatu cairan optimum untuk kornea. Kelopak mata dilicinkan dan dijaga kandungan airnya oleh sekret kelenjar lakrimal dan dikhususkan pada sel-sel yang terletak pada konjungtiva bulbar. Ruang penyokong memiliki bentuk tipis yang terpisah secara langsung lewat didepan bola mata, dengan perluasan kantong menaik dan menurun. Kantong-kantong tersebut disebut ruang superior dan inferior serta semua tempat, cul-de-sac. Celah antara kelopak mata disebut celah palbebra. Bola mata Dinding bola mata manusia (bulbus, bula) disusun atas tiga lapisan konsentris : 1. 2. Lapisan fibrous luas Lapisan vaskular tengahsistem uvea atau traktus uveal,

mengandung koroid, badan siliar dan iris 3. Lapisan saraf retina Lapisan terluar kuat, dapat disentuh dan sedikit longgar. Pada bagian depan, bagian yang menghadap keluar. Struktur halus pada lapisan terluar sangat tertaur dan kandungan airnya sangat seksama diatur sehingga bertindak sebagai jendela yang jernih dan trasnparan (kornea). Ini mencegah pembuluh darah. Diatas 2/3 dari selaput serat yang tersisa nampak buram (bagian putih dari mata) dan disebut sklera.

Sklera mengandung mikrosirkulasi yang memberikan nutrisis jaringan pada bagian atas anterior dan biasanya putih kecuali ketika terjadi iritasi dan dilatasi pembuluh darah. Ruangan bola mata adalah suatu alat optik yang menyebabkan penampakan yang terbalik diperkecil yang terbentuk pada retina, yang mana merupakan membran tipis yang tembus cahaya. Secara berurutan alat optik terdiri dari : kornea, pupil, lensa kristal dan retina, dengan lapisan cairan yang jernih atau bahan seperti gel yang terjepit antara struktur yang padat. Pupil, lubang bulat dalam suatu bagian membran kontraktil (disebut iris), bertindak sebagai fungsi penampakan dari sistem. Lensa kristal adalah suatu unsur retraktif dengan kemampuan fungsi yang dikontrol dan didukung oleh suatu jaringan otot dalam badan siliar. Koroid adalah metabolit yang mendukung retina. Fungsi optikal dari mata harus stabil secara dimensi yang mana dilakukan oleh sebagian selaput bagian luar, keefektifannya adalah suatu faktor penstabil pada tekanan intraokuler, yang mana akan mengeluarkan tekanan yang sama pada jaringan disekitarnya. Tekanan intraokuler ini menghasilkan produksi cairan spesifik yang mantap, cairan homur yang asli dari proses siliar dan mata menjadi sistem yang berbeli-belit dari kanal alirannya. Tahanan yang ditemui selama pelewatan dan kecepatan pembentukan cairan merupakan faktor utama yang menentukan tingkat tekanan intraokular. Sebagai tambahan untuk fungsi mekanis hidronya, cairan humor bertindak sebagai carrier nutrient, substrat dan metabolit

untuk jaringan ovaskular mata. Tulang pada rangka juga mendukung bentuk yang mendekati piramid yang ditempati oleh bola mata, disebut orbit. Konjungtiva Membran konjungtiva menutupi permukaan terluar dari bagian putih mata dan bagian dalam dari kelopak mata. Pada kebanyak tempat terikat dengan longgar dan dengan demikian memungkinkan gerakan bebas dari bola mata. Ini memungkinkan pemberian injeksi subkonjungtival kecuali untuk kornea, konjungtiva merupakan bagian terluar dari mata Sistem lakrimal Permukaan konjungtiva dan kornea ditutupi dan dilicinkan oleh suatu lapisan air yang disekresi oleh kelenjar lakrimal dan konjungtiva. Sekresi dari kelenjar lakrimal, air mata, diantara ke beberapa duktus kecil ke dalam formix konjungtiva, sekretnya jernih, berair, mengandung berbagai garam-garam, glukosa, komponen organik lainnya, sekitar 0,7% protein dan enzim lisosom. Bagian kelenjar lakrimal dikondisikan pada fornix konjungtiva. Sekretnya cocok untuk melicinkan dan membersihkan di bawah kondisi biasa dan untuk mempertahankan lapisan tipis berair yang menutupi kornea dan konjungtiva (lapisan prekorneal). Lapisan protein musin dari lapisan khususnya penting dalam mempertahankan stabilitas dari lapisan. Kelenjar lakrimal utama disebut memerankan hanya pada fungsi yang khusus. Kelenjar sebaseus terdapat pada kelopak mata mensekresi cairan berminyak yang membantu mencegah air mata yang

berlebihan pada tepi kelopak dan mengurangi penguapan permukaaan yang terpapar pada mata dan menyebar di atas lapisan air mata. Kedipan mata membantu lapisan cair dengan menekan lapisan tipis dari cairan didepan tepi kelopak mata pada saat keluar bersama-sama. Kelebihan cairan menuju ke penampungan lakrimal, suatu daerah segitiga kecil terhampar pada sudut bagian paling dalam dari kelopak mata. Kulit kelopak mata tipis dan dapat terlipat dengan mudah, sehingga memberikan pembukaan yang cepat dan penutupan pada celah palpebral. Gerakan kelopak mata termasuk penyempitan celah palpebral dalam suatu kantong mata, seperti tindakan chantus lateral melewati chantus (chant : sudut dimata bertemu). Ini akan membantu transport atau gerakan cairan melewati bagian lakrimal. Lapisan Prekorneal Kornea harus basah untuk menjadi permukaan mata yang memadai, ketika kurang basah kornea kehilangan permukaannya yang halus dan sifat transparannya. La[isan prekorneal, bagian dari larutan air mata, memberikan kelembaban yang penting pada permukaan. Sifat dari lapisan prekorneal tergantung dari kondisi epitel kornea. Lapisan tersebut bercampur dengan sediaan mata berair dan lipid, disusun dari lapisan lipid tipis terluar. Lapisan berair yang tebal ditengah dan suatu lapisan mukoid tipis bagian dalam. Hal ini diperbaharui pada setiap kedipan dan ketika berkedip mengalami tekanan, baik oleh obat atau secara mekanik, akhirnya akan mengering pada potongannya. Ini memperlihatkan tidak

berpengaruhnya penambahan konsentrasi hingga 2 % NaCl terhadap cairan konjungtiva. pH dibawah 4 atau diatas 9 akan menyebabkan kekacauan lapisan. Lapisan ini mempengaruhi gerakan lensa kontak dan terbentuk cepat dengan mudah pada gelas daripada plastik. Kornea Kornea tebalnya 0,51 mm terdiri dari struktur berikut (dari depan ke belakang) : Epitel kornea Substantia propia (stroma) Endotel kornea Kornea transparan untuk mendifusikan cahaya secara luar biasa, besarnya cahaya karena susunan tegak lurus dari sel dan serat dan karena tidak adanya pembuluh darah. Pengaburan kornea mengkin satu dari beberapa faktor termasuk tekanan bola mata sebagai glaukoma; jaringan bebas luka karena dilukai, injkesi atau kekurangan O2 atau kelebihan air seperti yang dapat terjadi karena pemakaian kontak lensa.

2. Dispensing on Medication by King; 141 Gambar anatomi mata :

Mata adalah organ untuk melihat. Bola mata terletak dalam lubang tengkorak dan dialasi oleh lemak dan jaringan penghubung. Bagian anterior terpapar dan terdiri dari kornea yang transparan, sklera yang opak dan membran konjungtiva. Bola mata dilindungi oleh kelopak mata dan alis. Kulit dari kelopak mata lebih tipis daripada kulit bagian tubuh yang lain. Ini tentu saja mempermudah kelopak mata untuk membuka dan menutup. Permukaan kedua bagian dalam kelopak mata ditutupi oleh perluasan membrane seperti membran konjungtiva yang menutupi sklera. Sekresi kelenjar kelopak air mata memberikan perlindungan mata dengan membantu melindungi kehilangan cairan. Sekresi kelenjar meibomian adalah lipoidal dan membentuk bagian lapisan air mata pada prekornea. Sekresi meibomian juga membantu aliran air mata dari tepi ke kelopak mata. Permukaan kelopak mata bagian dalam membentuk cul de sac, terbagi atas fornix superior dan inferior.

Kornea adalah lensa pertama dalam sistem optalmik mata. Secara anatomi kornea adalah struktur multilayer, tidak mengandung pembuluh darah tetapi kaya akan saraf sensorik. Kornea terdiri dari tiga lapisan utama yaitu epithelium luar dan epitelium dalam yang kaya akan lemak, dan stroma tengah yang hidrofilik. Jaringan kornea biasanya mengandung air 75-80%. Keseimbangan air kritis terhadap integritas kornea. Kornea normal seluruhnya devoid aliran darah. Kekurangan vaskuler ini mungkin untuk perbaikan jaringan kornea normal yang rapat dan tinggi. kornea dan juga konjungtiva, namun demikian disupplay banyak oleh reseptor nyeri pada ujungnya. Sesungguhnya kornea adalah salah satudaerah pada tubuh yang paling sensitif. Kornea tak berpembuluh darah tergantung pada permeabilitas nutrisinya. Oksigen dan bahan-bahan lain diserap dari lapisan air mata dan cairan lain. Permeabilitas kornea juga faktor utama dalam penyerapan obat untuk penggunaan mata. Sisanya, penampakan "mata putih" dibuat dari yang rapat, opak, sklera fibrous dengan penutupnya membran konjungtiva. Membran konjungtiva menutupi permukaan luar sklera dan membentang permukaan dalam kelopak mata. Membran hanya kehilangan sambungan ke bola mata, memberikan kebebasan pergerakan, dengan pengangkatan membrane, injeksi subkonjungtival obat dapat digunakan.

Cairan air mata adalah cairan yang lebih kompleks yang terbuat dari elektrolit, protein, karbohidrat, enzim lisozim dan asam organik. Total padatan sekitar 1,8%. Cairan lakrimal terdiri dari kelenjar lakrimal dan sekresi kelenjar mukus dari konjungtiva. pH air mata kira-kira 7,4 dengan range 7,3-7,7. Konsentrasi osmotik yang sama dengan 0,9% NaCl. Permukaan mata dilapisi dengan lapisan air mata. Ini adalah lapisan ketiga dari komposisi yang sangat berbeda. Lapisan terdalam dari lapisan mata terbuat dari bahan yang dikeluarkan dari sel goblet konjugtiva. Bagian luar adalah lapisan ketiga yang superficial yang terbuat dari sekresi meibomian lipoid. Lapisan tengah, 6,5-7 m tebal, terbuat dari cairan air mata. Total volume cairan mata adalah kecil, tetapi kecepatan

pergerakannya adalah signifikan. Kira-kira 7L, cairan lakrimal kontak dengan kornea dalam beberapa waktu kecepatan pergerakan kira-kira 1 L/menit pada mata manusia. Normalnya, mata mengandung 10 L cairan mata dan beberapa keluar mengalir dengan cepat dari mata melalui sistem pengairan lakrimal. Regular rubber bulb dropper atau penetes tipis khusus dalam wadah plastik adalah maksud utama untuk penggunaan larutan mata. Volume satu drop/tetes dari maksud ini biasanya 25-50 L. oleh karena itu banyak larutan obat digunakan pada mata dengan segera hilang dengan cairan dari cul de sac. Kecepatan larutan melalui sistem drainase lakrimal juga meningkatkan volume larutan. Volume lebih kecil

(10 L) lebih pekat obatnya akan mungkin memberikan bioavailabilitas yang lebih baik daripada volume besar (50L) dari larutan yang mengandung 1/2-1/3 konsentrasi dari obat yang sama. 3. Modern Pharmaceutics; 492

Tabel 1 Struktur anatomi dari mata Konjungtiva Sac konjungtiva inferior Sac konjungtiva superior Iris Uvea Ruang posterior Zonules dari Zinn Lensa Vitreous humor Kapsul Tenon Retina Badan Silia (zone) Kelenjar Meibomian Ruang Posterior Ruang Vitreous

Kornea Epitelium Membrane Browmans Stroma (substansia propia) Membrane Descemet Endothelium Ruang anterior Sudut ruang anterior Kanal Schlemm Runang Fontana

4. 49

Ensyclopedia of Pharmaceutical Technology vol 11; 43-

Mata adalah salah satu dari banyak organ vital pada tubuh manusia dan memberikan harta benda yang paling berharga untuk manusia yaitu penglihatan. Mata terdiri dari dari dua bola, salah sati berada di luar dari yang lain. Bola luar lebih kecil diselubungi membran transparan, kornea, yang merupakan jendela pada mata. Lapisan yang paling jauh yang mengelilingi bola besar adalah sklera. Konjungtiva Konjungtiva tipis, membran mukus yang lembab yang berasal dari junction korneaskleral. Lapisan konjungtiva yang membentuk lapisan luar pada kelopak mata disebut palpebral. Lapisan yang menyelubungi mata, selain kornea, disebut, konjungtiva bubar. Area di mana kedua konjungtiva bertemu fornix.

Lapisan Luar Pada Mata a. Sklera

Sklera tebal, berbentuk serat yang mengandung sedikit pembuluh darah. Bagian depan dari sklera, disebut mata putih, diselubungi oleh kapsul Tenons dan bagian dari konjungtiva yang melewati pembuluh darah dapat dilihat. b. Kornea

Kornea adalah membran transparan yang membentuk one-sixth pada bola mata. Korne terdiri dari 5 lapisan: 1) 2) 3) 4) 5) Epitelium Membran Bowmans Substantia Propria (stroma) Membran Descemets Endotelium

c.

Badan Korneaskleral

Badan Korneaskleral terdiri dari meshwork trabecular dan kanal Schlemm yang membentuk sistem pengeringan pada ruang anterior. Dia memiliki dua lapisan, epitelum dan stroma. d. Meshwork Trabecular

Meshwork trabecular mengilingi lingkaran pada ruang anterior. Dia seperti penyerap yang memiliki diameter 2-3 m yang meneruskan aqueous mengalir ke kanal schlemm. e. Kanal Schlemm

Kanal schlemm adalah kanal berbentuk oval yang menutupi seluruh lingkaran pada ruang anterior. Dia terhubungkan ke sistem venous yang melewati 25-36 saluran pengumpul. Lapisan Tengah Mata

a.

Koroid

Koroid adalah lapisan vaskular yang memberikan supplai darah ke bagian yang berbatasan dengan retina pada mata. b. Badan Siliary

Badan siliary perpanjangan dari iris ke koroid. Ini dibagi dalam dua bagian, bagian uveal (terletak dekat sklera) dan bagian epitel (berbatasan dengan ruang posterior). Otot siliary adalah struktur yang paling menonjol dari bagian uveal dari badan siliary.

c.

Iris dan Pupil

Iris adalah bagian yang strukturnya seperti diagram dan terletak di depan lensa dan badan silia. Ini terpisah pada ruang anterior dan posterior. Fungsi iris sebagai mekanisme pengaturan cahaya pada mata, mengontrol cahaya yang masuk pada mata untuk memberikan

penglihatan yang jernih. Pembukaan pusat pada iris adalah pupil yang secara refleks mengontrol cahaya yang berhasil masuk ke mata. Iris di susun dari dua lapisan: bagian depan dekat stroma, dan posterior pada epitelium. Warna iris tergantung pada jumlah melamin pada stromanya. Iris tersusun dari dua jenis otot, otot sfingter dan otot dilator yang disebut radial.

d.

Lensa

Lensa seperti kristal, struktur bikonvex yang transparan yang terletak di belakang iris dan pupil dan di depan badan vitreous. Seperti kornea, lensa tidak memiliki pembuluh darah, jaringan saraf. Jaringan Dalam dari Mata a. Saraf Mata

Saraf mata adalah bagian dari jaringan traktus yang putih pada susunan saraf pusat yang terdiri dari akson pada ganglion retinal bersama dengan jaringan saraf yang menyampaikan dari otak menuji ke mata

Kesimpulan : No. Bagian Mata 1 Kelopak mata Fungsi Perlindungan Pustaka 5, 29

mekanik

terhadap bola mata Mensekresikan 2 Bola mata, terbagi: Lapisan fibrous terluar Sebagai jernih dan jendela yang 5, 29 cairan

optimum untuk kornea

membatasi

pembuluh darah Lapisan fibrous tengah Memberikan nutrisi

jaringan pada bagian atas anterior

Lapisan

Meneruskan impuls ke

saraf retina Konjungtiva

saraf mata Menutupi bagian terluar pada bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata

5, 29

Sistem Lakrimal

Sekretnya

cocok

untuk

melicinkan dan membersihkan 5 Lapisan prekorneal mata dan menjaga kelembaban Memberikan kelembaban pada kornea 6 Kornea Mendifusikan cahaya 1, 5, 29 5, 29

II.2.5 Alasan sediaan mata harus steril 1. Prescription Pharmacy; 181 Jika suatu anggapan batasan mekanisme pertahanan mata menjelaskan dengan sendirinya bahwa sediaan mata harus steril. Air mata tidak seperti darah tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk memproduksinya. Mekanisme utama untuk pertahanan melawan infeksi mata adalah aksi sederhana pencucian dengan air mata dan suatu enzim yang ditemukan dalam air mata (lizosim) yang mempunyai kemampuan menghidrolisa selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme, satu dari mikroorganisme yang tidak dipengaruhi oleh lizosim yakni yang paling mampu menyebabkan kerusakan mata yaitu Pseudomonas aeruginosa (Bacilllus pyocyamis). Infeksi serius yang disebabkan mikroorganisme ini

ditunjukkan dengan suatu pengujian literatur klinis yang penuh dengan istilah-istilah seperti enukleasi mata dan transplantasi kornea. Penting untuk dicatat bahwa ini bukan mikroorganisme yang jarang, namun juga ditemukan disaluran intestinal, dikulit normal manusia dan dapat menjadi kontaminan yang ada diudara 2. Sterile Dosage Form; 359 Sterilitas merupakan syarat yang paling penting. Larutan mata yang dibuat dapat membawa banyak mikroorganisme, yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini dapat menyebabkan kebutaan, ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk-produk nonsteril pada mata saat kornea terkena. Bahan partikulat dapat mengiritasi mata menghasilkan ketidaknyamanan pada pasien 3. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1583 Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyaneus, P. pyocyanea, Blue Pas bacillus). Ini merupakan mikroorganisme berbahaya dan opurtonis yang tumbuh baik pada banyak kultur media dan menghasilkan toksin dari produk antibakteri. Cenderung untuk membunuh kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni. Bacillus gram negatif juga tumbuh pada sediaan mata yang menjadi sumber infeksi serius dari kornea. Ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan pada 24-48 jam. Pada konsentrasi yang ditopleransi oleh jaringan mata menunjukkan bahwa semua zat

antimikroba didiskusikan pada bagian berikut dapat tidak efektif melawan beberapa strain dari organisme ini. 4. Dispensing on Medication by Martin; 892-893 Jika lapisan epitelia sekali rusak, maka tidak akan ada pertahanan dan organisme mungkin memasuki kornea secara bebas dan

menyebabkan infeksi. Satu mikroorganisme yang berbahaya, dan mikroorganisme opportunik, yang sebenarnya tumbuh dalam kornea lebih baik dari semua media yang lain yang dikenal adalah Pseudomonas aeruginosa. Oleh karena itu, ada 2 standar untuk sediaan mata yang direkomendasikan, yaitu : a. Untuk mata dengan bagian epitel kornea yang belum rusak,

larutan steril dikemas dalam wadah dosis ganda atau untuk penggunaan di rumah menggunakan penetes tunggal, sedangkan di rumah sakit dipisahkan penetes untuk tiap pasien. b. Untuk mata dengan bagian epitel kornea yang telah rusak, unit kecil yang mengandung larutan steril untuk

digunakan

penggunaan pasien tunggal. Kesimpulan : Sediaan mata harus steril karena mata tidak memiliki antibodi ataupun mekanisme untuk menghasilkan antibodi (3). Mata hanya dapat memproduksi air mata yang di dalamnya terkandung enzim lisozim yang berfungsi untuk menguraikan selubung polisakarida dari beberapa mikroorganisme (3). Namun, ada satu mikroorganisme yang tidak dapat

diuraikan oleh enzim lisozim, yakni Pseudomonas aeruginosa (2, 3, 5, 16). Hal ini disebabkan karena Pseudomonas aeruginosa banyak memiliki kandungan lipopolisakarisa. Jika Pseudomonas aeruginosa dalam mata, berpotensi menyebabkan kebutaan (3, 5). masuk ke

II.2.6 Cara Pembuatan Salep Mata 1. Scoville's The Art of Compounding; 357

Salep mata dibuat menggunakan salah satu dari dua metode di bawah ini. Jika bahan obat larut dalam air membentuk larutan yang stabil, bahan obat dilarutkan dalam volume minimum dari air untuk injeksi (API), larutan yang dihasilkan kemudian dicampurkan dengan basis yang sudah dilebur dan dicampur terus sampai membeku. Jika bahan obat tidak larut dalam air, bahan obat dibuat menjadi serbuk halus dengan melevigasikannya dengan sejumlah kecil basis. Campuran yang dihasilkan kemudian ditambahkan sisa basis. 2. Pharmaceutical Technology Fundamental

Pharmaceurtics; 369 Salep mata membutuhkan obat / bahan dalam bentuk micron atau dalam larutan. Ini baik dalam praktek pembuatan salep mata steril. Pada umumnya, bahan obta steril ditambahkan secara aseptis dalam basis steril. Setelah campuran salep seragam, diisikan ke dalam tube steril secara aseptis. 3. Textbook of Pharmaceutics ; 363

a.

Bahan obat yang larut air

Bahan obat yang larut air dilarutkan dalam sejumlah kecil air murni, larutan ini disterilkan melalui pemanasan pada autoklaf atau filtrasi dan larutan steril ditambahkan dalam campuran larutan yang sebelumnya, basis yang disterilkan melalui pengadukan hingga dingin dan pengerjaan dilakukan secara aseptis, sediaan kemudian dipindahkan ke tube salep mata yang telah disterilkan sebelumnya dan segera ditutup sehingga

terhindar dari mikroorganisme. Banyak bahan yang digunakan dalam salep mata adalah termolabil dan dalam keadaaan seperti itu filtrasi digunakan untuk sterilisasi.

b.

Bahan yang tidak larut air

Pada metode ini, bahan obat sebelumnya disterilisasi, pengerjaan dilakukan secara aseptis, obat serbuk terbagi halus dan ditriturasi dengan sejumlah kecil basis steril yang telah dilebur, campuran kemudian dicampurkan sampai basis meleleh dan salep mata dipindahkan ke dalam tube steril segera untuk mencegah masuknya mikroorganisme. Ini penting bahwa obat yang tidak larut harus diserbukkan sampai halus untuk mencegah kemungkinan adanya partikel besar dari obat yang masuk ke mata. 4. Pembuatan Farmakope Indonesia Edisi III; 20 bahan obat ditambahkan sebagai larutan steril

termikronisasi pada dasar salep steril, Hasil akhir dimasukkan secara

aseptis ke dalam tube steril. Bahan obat dan dasar salep disterilkan dengan cara yang cocok. 5. Ansel ; 562

Cara pembuatan salep mata. Zat obat ditambahkan ke dalam dasar salep dalam bentuk larutan atau dalam bentuk serbuk yang dibuat halus sekali sampai ukuran micron lalu obat dicampur sampai sempurna dengan dasar salep disterilkan dengan cara yang cocok. Kesimpulan : Bahan obat larut dalam air membentuk larutan yang stabil, bahan obat dilarutkan dalam volume minimum dari air untuk injeksi (API), larutan yang dihasilkan kemudian dicampurkan dengan basis yang sudah dilebur dan dicampur terus sampai membeku. Jika bahan obat tidak larut dalam air, bahan obat dibuat menjadi serbuk halus dengan melevigasikannya dengan sejumlah kecil basis. Campuran yang dihasilkan kemudian ditambahkan sisa basis.

II.2. 7 Cara Memasukkan Salep Ke Dalam Tube 1. Scovilles The Art of Compounding; 361 Cara yang paling mudah untuk mengisi tube yang dapat dilipat adalah dengan menempatkan salep pada selembar kertas lilin atau perkamen dan melipat kertas sehingga sisanya bertemu. Dengan menempatkan batang pengaduk pada bagian atas lipatan dan menggulung kertas mengarah ke bagian bawah lipatan, salep dalam kertas ditekan menjadi

bentuk silinder. Kertas tube kemudian dimasukkan pada bagian belakang yang terbuka besar dari tube yang dapat dilipat, dan ketika kertas ditarik keluar melalui jari, salep akan tertahan dan tertinggal di dalam tube. Pada saat memasukkan salep, penutup dari tube harus dibuka untuk memungkinkan pengisian yang sempurna. Tube seharusnya diisi hanya sampai jarak 1 inci dari ujung tube sehingga memberikan tempat untuk menutup tube. Penutupan tube dilakukan meratakan dasar salep dengan spatula dan melipatnya lebih dari dua kali dan menjaganya dengan penjepit khusus tube salep yang dilakukan dengan sepasang pinset.

2. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi ; 511 Pada skala kecil, pengisian tube dengan cara berikut: a. Salep yang telah dibuat digulung di atas kertas perkamen

menjadi bentuk silinder, diameternya sedikit lebih kecil dari tube supaya dapat diisikan dengan panjang kertas yang lebih kecil dari silinder. b. Dengan tutup dari tube dilepas supaya udara keluar, silinder

dari salep dengan kertas dimasukkan ke dalam bagian ujung bawah tube yang terbuka. c. Potongan kertas yang meliputi salep dipegang oleh satu

tangan sedang lainnya menekan dengan spatula yang berat ke arah tutup tube sampai penuh dan sambil menarik perlahan-lahan kertas

salep tadi dilepaskan, ratakan permukaan salep dengan spatula, kurang lebih inci dari ujung bawah. d. Bagian bawah yang disisikan lipatan 2 x inci dan dibuat

dari ujung bawah tube yang dipipihkan, ditekan/ jepit penyegel tepat di atas lipatan untuk menjamin bahwa sudah betul-betul tertutup, penjepitan dapat digunakan dengan tang tangan atau dengan mesin lipat (crimper) yang dijalankan dengan tangan atau kaki. Kesimpulan : Bahan-bahan yang telah dicampur, ditempatkan pada kertas yang telah dilapisi lilin, kemudian kertas dilipat hingga kedua ujungnya bertemu, dengan menempatkan batang pengaduk pada ujung lipatan dan menggulung kertas ke bagian bawah lipatan. Salep dalam kertas ditekan menjadi bentuk silinder. Kertas tube kemudian dimasukkan pada bagian belakang yang terbuka besar dari tube yang dapat dilipat dan ketika kertas ditarik keluar melalui jari, salep akan tertahan dan tertinggal dalam wadah.

II.2.8. Pewadahan salep 1. Textbook of Pharmaceutics; 363 Salep mata harus dikemas dengan wadah logam lunak atau tube plastik atau wadah dosis tunggal. Tube plastik digunakan untuk formulasi dari salep mata tapi tidak ada standar yang kosong. Tube metal yang lunak dibebaskan dari debu dan partikel logam yang dicapai dengan meniup menggunakan mesin peniup dan filtrat,udara bebas debu.

Pencucian kurang efektif dan sering kali bertambah lebih banyak. Formulasi yang tersedia dalam dosis tunggal bentuknya lonjong. Kartu gelatin fleksibel dengan satu yang mengerutkan dan dibuka melalui pemutusan kerutan akhir dengan gunting steril. Wadah/ kemasan diberi wadah/lkemasan mudah pecah berupa kertas tutup atau amplop plastik atau karbon tertutup. 2. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi; 563 Salep mata diisikan kedalam tube yang terbuat dari plastik atau timah dimana sebelumnya telah dibuat steril. Tube-tube ini khas kecil, yang isinya kurang lebih 3,5 gram salep dan dicocokkan dengan ujungnya yang berliku sempit yang memungkinkan lompatan segumpal kecil salep. Hal ini sesuai untuk menempatkan salep pada garis tepi kelopak mata, suatu tempat yang biasa dalam pemakaian obat. 3. Scovilles The Art of Compounding; 360 Tube yang lunak adalah wadah yang sangat baik untuk pencampuran salep halus dimana tidak non reaktif. Namun, salep yang keras atau kaku tidak disimpan dalam wadah itu. Tube-tube disediakan dalam variasi ukuran yang luas untuk salep. Khusus untuk digunakan pula pada salep untuk mata, telinga, rektum, dan vagina juga disediakan. 4. Modern Pharmaceutics; 522 Salep mata ditempatkan dalam tube kaleng kecil 3,5 gram, harganya murah dan sebagai alternatif bahan baku kaleng menjadi sebuah masalah, tapi merupakan pilihan kedua dari pewadahan. Tube plastik

dibuat dari resin LDPE yang fleksibel, tapi tidak mengempis dan cenderung menarik/ menghisap kembali salep. Variasi tipe tube logam disegel menggunakan lapisan adesif hanya menutupi bagian dalam dari dasar salep tube terbuka untuk membentuk lipatan yang tidak memiliki kontak dengan produk. 4. Sterile Dosage Form: 369 Tambahan dalam sterilisasi, salep mata juga harus melewati tes untuk membatasi jumlah dan ukuran kehadiran partikel logam. Ditemukan bahwa partikel logam terkontaminasi pada tube logam dimana salep dikemas.

Kesimpulan: a. Tube plastik (29) Terbuat dari resin dan tube jenis ini tidak dapat mengempis b. Tube aluminium/ logam (2, 29) Sebelum penggunaan dibebaskan dari debu dan partikel logam. Tube ini sering dipertimbangkan karena harganya yang murah. c. Tube tanah liat (7) Salep mudah tengik dan tempatnya tidak mudah dibersihkan.

II.2.9 Pengawet pada Salep 1. Formulasi Steril; 110

Bahan pengawet yang digunakan adalah thromersal 0,002%, garam fenil merkuri nitrat 0,002%, garam alkonium dan garam benzalkonium 0,002 0,01% dalam kombinasinya dengan Na2EDTA 0,1%, lalu yang lain adalah klorheksidin 0,005 0,01%, klorbutanol 0,5% dan benzil alkohol 0,5 1%. 2. Modern Pharmaceutics; 498 Pemilihan pengawet hanya terbatas pada beberapa bahan kimia seperti benzalkonium klorida, poliquad, thimerosol, metil dan propil paraben, phenylethanol, kloheksidin, dan polyamino propyl biguanida. Pengkhelat Na2EDTA kadang-kadang digunakan untuk meningkatkan aktivitas terhadap strain Pseudomonas khususnya dengan benzalkonium klorida. Benzalkonium Klorida Pengawet yang secara luas adalah benzalkonium klorida

digunakan dalam kombinasi dengan Na2EDTA. Benzalkonium klorida adalah golongan amonium kuarterner. Popularitas komponen ini

dikarenakan meskipun kompatibilitasnya terbatas, bahan ini sangat efektif dan merupakan pengawet aksi cepat dan mempunyai stabilitas kimia yang sangat baik. Stabil pada range pH yang luas dan tidak terurai dibawah kondisi penyimpanan yang panas. Bahan ini dikatakan sebagai surfaceactive dan aktivitasnya direduksi melalui adsorpsi. Konsentrasi yang bisa digunakan dari benzalkonium klorida dalam tetes mata adalah 0,01% dengan range 0,004 0,02%. Ambilan kembali

benzalkonium klorida kedalam jaringan okuler adalah terbatas namun konsentrasi rendah dari benzalkonium klorida meningkatkan penetrasi korneal dari bahan-bahan. Beberapa strain dari Pseudomonas aeruginosa resisten dengan benzalkonium klorida. Ini disebabkan peningkatan konsentrasi dari virulent nature dari organisme pada infeksi okuler. Oleh karena itu, kehadiran EDTA dapat dikombinasikan dengan bahan ini. Penggunaan Na2EDTA dianjurkan pada konsentrasi hingga 0,1%. Germisida amonium kuarterner lain, benzethonium klorida, telah digunakan dalam larutan mata. Ada kekurangan dari campuran ini, bagaimanapun tidak dapat menghasilkan efek bakterisid dari

benzalkonium klorida dan bahan ini memiliki batas incomp yang sama. Organik Merkuri Ketika benzalkonium klorida tidak dapat digunakan dalam formulasi seperti dengan pilokarpin nitrat, eserin salisilat, atau fluorescein sodium (karena asosiasi potensial anion-kation), satu dari ketiga organik merkuri, phenylmercuric nitrate, phenylmercuric asetat, dan thimerosal, sampai akhir tahun ini masih digunakan. Karena kondisi lingkungan, pemggunaan organik merkuri tidak disukai dan tidak ada dari bahan alternatif yang cocok. Pada berbagai situasi, range konsentrasi yang digunakan untuk komponen phenylmercuri adalah 0,002 0,004% dan untuk thimerosal adalah 0,02 0,1%. Meskipun mereka efektif digunakan pada beberapa

produk, bahan merkuri aktivitas antimikrobanya relatif lambat dan lemah. Merkuri organik umumnya dibatasi penggunaannya dalam larutan netral hingga alkali, mereka baik digunakan dalam formulasi asam lemah. Ion phenyl mercuri dapat bereaksi dengan ion halida membentuk garam dengan kelarutan rendah dan berkurang keefektifannya. Thimerosal mempunyai kelarutan yang lebih baikdan relatif lebih stabil dari komponen phenyl mercuri dan tidak mengendap dalam lensa mata. Fenomena terakhir dapat tlah diteliti pada komponen phenyl mercuri. Klorobutanol Aromatik ini merupakan pengawet efektif dan digunakan dalam beberapa produk mata. Beberapa tahun ini, bahan ini relatif aman untuk produk mata. Pada salah satu uji sistem, pengawet ini dipertimbangkan sebagai satu-satunya pengawet yang aman untuk produk mata

menggunakan aktivitas cytolytic sebagai criteron dan menghasilkan efek minimal pada uji lainnya. Pada penambahannya aktivitas relatif lambat, mempunyai beberapa formulasi dan pengemasan terbatas. Klorobutanol umumnya digunakan pada konsentrasi 0,5%,

kelarutan dalam air sekitar 0,7% pada suhu kamar, dan lambat larut. Pemanasan dapat meningkatkan disolusinya, tetapi juga menyebabkan dekomposisi dan sublimasi. Konsentrasi rendah sekitar 0,125%

memperlihatkan aktivitas antimikrobial. Metil dan Propil Paraben

Ester dari asam p-hidroksibenzoat digunakan paling utama untuk mencegah pertumbuhan tetapi pada konsentrasi tinggi mempunyai aktivitas antibakterial yang lemah. Penggunaan bahan ini dibatasi oleh kelarutan yang rendah dalam larutan dan telah dilaporkan menyebabkan sensasi menyengat dan membakar pada mata. Aktivitasnya menurun dengan kehadiran surfaktan nonionik dan polimer. Bahan ini biasa digunakan dalam kombinasi antara ester metil 0,03 0,1% dan ester propil 0,01 0,02%. Feniletil Alkohol Alkohol tersubtitusi digunakan pada konsentrasi 0,5% tetapi penambahannya memiliki aktivitas yang lemah dan mempunyai beberapa keterbatasan. Bahan ini mengalami penguapan dan akan kehilangan aktivitas melalui permeasi dalam wadah plastik. Kelarutannya dalam air dibatasi, dapat menyebabkan salted out dari larutan dan dapat menyebabkan sensasi menyengat dan membakar pada mata. Bahan ini direkomendasikan paling utama untuk penggunaan sistem kombinasi pengawet. Polyquad Pengawet ini relatif baru dalam sediaan mata dan merupakan germisida amonium kuarterner. Kerugian dari amonium kuarterner dapat dilihat dari ketidakmampuannya berpenetrasi dalam jaringan okuler, khususnya kornea. Tingkat efektifitas pengawet secara klinik, polyquad kira-kira 10 kali kurang toksik dari benzalkonium klorida. pengawet ini

bahaya digunakan untuk larutan lensa kontak karena ketidakmampuan larutan untuk teradsorpsi atau terabsorpsi kedalam lensa dan bahan ini tidak memiliki potensi sensitasi. Klorheksidin Klorheksidin suatu bisbiguanid telah didemonstrasikan adalah kurang toksik dibanding benzalkonium klorida dan thimerosal pada konsentrasi klinik yang relevant. Polyaminopropyl Biguanide Pengawet ini juga relatif baru dalam formulasi optalmic dan digunakan paling utama dalam lensa kontak. Pada konsentrasi yang digunakan dalam larutan, polyaminopropyl biguanide mempunyai potensi toksisitas yang rendah.

3. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1591 Beberapa kriteria yang digunakan dalam pemilihan pengawet : a. Harus memiliki spektrum luas, dan dapat aktif terhadap organisme gram positif dan gram negatif serta fungi. Memiliki aktivitas bakterisida terutama mikroorganisme seperti strain Pseudomonas aeruginosa b. Stabil pada kondisi yang luas termasuk temperatur dan range pH autoklaf c. Mampu bercampur dengan komponen preparasi lain dan dengan pewadahan

d. Toksisitas dan iritasi kurang, serta memiliki batas keamanan yang layak Pilihan bahan pengawet yang cocok untuk sediaan ophalmic adalah sedikit. Komponen bahan pengawet dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tipe R1 Amonium Kuarterner

Struktur R2 N R3 SHgC2H5 R4 Y-

Konsentrasi

Incomp Sabun Material anion

0,004 0,02%

Salisilat Nitrat Halida tertentu

Organik Merkuri COONa COOCH3

0,001 0,01%

dengan Phenylmercuri nitrat

Maksimum Para Hidroxy Benzoat Tipe OH Struktur CH3 Klorobutanol CH3 C OH CCl3 0,5% Konsntrasi 0,1%

Adsorpsi oleh makromolekul, aktivitas marginal Incomp Stabilitas tergantung pada pH, aktivitas dekat kelarutan

konsentrasi dengan maksimum

CH2OH Alkohol Aromatik 0,5 0,9% Kelarutan dalam air, rendah aktivitas

marginal Golongan Amonium Kuarterner Benzalkonium klorida adalah golongan amonium kuarterner dan benar-banar bahan pengawet yang paling umum digunakan dalam sediaan mata. Meskipun penggunaannya luas, namun mempunyai keterbatasan. Sebagai suatu kationik surface-active dengan berat molekul yang tinggi, tidak kompatibel dengan campuran anionik. Bahan ini incomp dengan salisilat dan nitrat dan dapat diinaktivasi oleh komponen anionik dengan berat molekul yang tinggi. Sebaliknya benzalkonium klorida memiliki stabilitas kimia yang sangat baik dan karakteristik antimikroba yang sangat bagus. Diberi alternatif yang lebih baik untuk memodifikasi suatu formulasi untuk mengatasi incompabilitas menjadi kompatibel tetapi hanya efektif pada sebagian kecil pengawet. Organik Merkuri Umumnya fenil merkuri nitrat atau fenil merkuri asetat digunakan pada konsentrasi 0,02%, digunakan sebagai pengganti dari benzalkonium klorida sebagai pengawet untuk salisilat dan nitrat, dan dalam larutan garam physostigmin dan epinefrin yang mengandung 0,1% sodium sulfit. Range konsentrasi berkisar 0,002 0,004%. Fenil merkuri borat kadangkadang digunakan untuk mengganti nitrat atau asetat.

Fenil merkuri nitrat mempunyai keuntungan dari beberapa organik merkuri lainnya, yakni tidak diendapkan pada pH asam lemah. Dibanding bahan merkuri lain, bahan ini memiliki aksi bakterisid yang lambat dan juga menghasilkan reaksi sensitasi. Ion phenylmercuri incomp dengan halida membentuk endapan. Thimerosal adalah organik merkuri dengan bakteriostatik dan aktivitas antifungi dan digunakan sebagai suatu pengawet antimikroba pada konsentrasi dari 0,005 0,02%. Ester Asam P-Hidroksi Benzoat Campuran metil dan propil paraben kadang-kadang digunakan sebagai pengawet antimikroba sediaan mata. Konsentrasi dari metil paraben 0,1 0,2%, ketika dikombinasikan dengan propil paraben kelarutannya dalam air sekitar 0,04%. Bahan-bahan ini tidak efisien

sebagai bakteriostatik dan memiliki aktivitas antrimikroba yang lambat. Iritasi okuler dan sensasi menyengat terjadi pada penggunaannya dalam sediaan mata. Fenol dan Alkohol Tersubstitusi Klorobutanol efektif terhadap bakteri gram positif dan negatif termasuk Pseudomonas aeruginosa dan beberapa fungi. Umumnya kebanyakan kompatibel dengan bahan-bahan lain dan konsentrasi normal yang digunakan 0,5%. Kombinasi dari klorobutanol dan fenil etil alkohol (masing-masing 0,5%) lebih efektif terhadap Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus

aureus, Proteus vulgaris dari antimikrobial tunggal. Juga persiapan larutan dari klorobutanol dalam phenylethyl alcohol dilakukan dalam air tanpa pemanasan. 4. Dispensing On Medication by Martin; 893 Polimiksin Sulfat Ketika diuji melawan kelompok strain Pseudomonas aeruginosa, polikmisin sulfat merupakan pilihan pengawet kimia. Kenyataannya, pengawet ini merupakan bahan antipseudomonas. Dalam dua tahun, penggunaan luas dari pengawet ini dalam konsentrasi 1000 unit l, tidak ada hal mengenai resistensi strain atau reaksi sensivitas. Bagaimanapun, karena selalu ada kemungkinan pengembangan dari satu atau komplikasi lain dalam penggunaan antibakterial lainnya, cukup bijak untuk yang diketahui. Ada beberapa bahan bakterisid lain yang pada tingkat yang lebih lambat melawan Pseudomonas aeruginosa dan Proteus vulgaris. Jika tingkat kontaminasi bakteri cukup rendah, dan jika tidak ada protein atau bahan inaktivasi lain yang ditambahkan, banyak pengawet bisa menyediakan polimiksin untuk infeksi pseudomonas

mensterilkan larutan mata dengan waktu yang cukup. Benzalkonium Klorida Benzalkonium klorida dalam range 1:10.000 1:100.000 telah dianjurkan sebagai pengawet untuk larutan mata. Jika konsentrasinya 1:3000 atau lebih kuat digunakan berulang-ulang, protein kornea akan

didenaturasi dengan cepat dan mungkin menyebabkan kerusakan irreversible. Pseudomonas aeruginosa yang dikondisikan untuk tumbuh pada konsentrasi kuarterner 0,2% dengan cepat dibunuh pada 0,01% (1:10.000) dengan kehadiran 0,01% Na2EDTA. Strain yang resisten dimasukkan logam kedalam sel yang dipindahkan dengan masuknya bahan pengkhelat dan sekali lagi kuarterner dapat membunuh resisten dari Pseudomonas aeruginosa. Ditemukan bahwa 1:10.000 benzalkonium klorida dan 0,01% Na2EDTA mensensitasi strain yang resisten terhadap kuarterner dan sterilitas dicapai kurang dari 3 menit pemaparan. Karena sifat kationik dan sifat aktif permukaan benzalkonium klorida diserap pada permukaan gelas, sebagian pada tempat yang kasar, dan pada katun, protein dan pada bahan permukaan negatif lainnya. Sayangnya, benzalkonium klorida menghasilkan incomp tertentu yang kemudian membatasi range dalam aplikasinya. Pengawet ini tidak bisa digunakan dengan nitrat seperti pilokarpin nitrat, dengan salisilat seperti eserin salisilat atau dengan bahan lain dengan ion besar, seperti fluoresin dan sulfonamida. Dengan semua keterbatasannya, benzalkonium klorida merupakan pengawet yang paling efektif dan aksinya meningkat dengan cepat dalam keadaan terkontrol, apalagi jika Na2EDTA ditambahkan untuk meningkat aktivitasnya. Mungkin disarankan untuk mengganti pilokarpin HCl untuk nitrat dan eserin sulfat untuk salisilat, daripada mengganti bahan antibakteri yang kurang efektif seperti fenil merkuri nitrat untuk benzalkonium klorida.

Klorobutanol Klorobutanol dalam tingkat tertentu dikenal sebgai pengawet untuk larutan mata. Karena keterbatasan dengan uji antibakterinya, namun jelas sekali bahwa bahan ini bakterisid relatif lambat menghambat bakteri gram positif dan negatif. Lawrence melaporkan bahwa pada konsentrasi 0,5% klorobutanol merupakan bakterisida lambat untuk strain tertentu dari Pseudomonas dan Proteus. Klorobutanol sangat lambat larut dalam air. Jadi panas biasanya digunakan untuk mempercepat proses. Klorobutanol telah dikombinasi dengan fenil etil alkohol, yang tidak memiliki aktivitas gram negatif namun juga bisa digunakan sebagi pelarut untuk

klorobutanol. Kombinasi ini akan membawa larutan tanpa penambahan panas, sementara uji bakteriostatik mengindikasikan aktivitas yang sinergik dari kombinasi serendah 0,4% masing-masing ketika diuji melawan strain Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan Proteus vulgaris. Merkuri organik Fenil merkuri nitrat (1:25.000 1:100.000) secara umum digunakan sebagai bahan antibakteri untuk larutan mata. Merkuri pada umumnya telah dikenal aktivitas bakteriostatiknya namun dikenal juga aksinya lambat dalam aktivitasnya sebagai bakterisida. Organisme Pseudomonas bertahan pada pemaparan konsentrasi 1:25.000 selama 1 minggu. Setelah 1 minggu organisme tetap mampu menghasilkan infeksi kornea dalam injeksi kedalam kornea keliner. Fenil merkuri nitrat hampir

terhidrolisasi sempurna dalam larutan berairnya dan hadir sehingga hidroksida terionisasi pada pH lebih dari 3 (Pkb =10). Pengawet ini berbeda dari bahan merkuri organik lainnya dimana tidak mengalami pengendapan dalam pH asam. Fenil merkuri nitrat dapat berfungsi sebagai pengganti benzalkonium klorida dalam pilokarpin nitrat dan larutan eserin salisilat dan larutan garam fluoresin. Ester Asam p-Hidroksi Benzoat Ester asam p-hidoksi benzoat (paraben) khususnya metil, propil dan ester butil telah digunakan dalam produk farmasetik sejak tahun 1940 sebagai fungisida dan dalam konsentrasi tinggi sebagai bahan antibakteri. The British Pharmaceutical Codex (1954) menyarankan penggunaan 0,0229% ester metil dikombinasi dengan 0,0114% ester propil.

Bagaimanapun Klein Millwood dan Wather menggambarkan perhatian bahwa konsentrasi ini paling tidak 3 kali cepat efektif melawan Pseudomonas aeruginosa. Klein dan Ridley merekomendasikan

penggunaan 0,1% metil paraben. Bagaimanapun, Hind dan Goyan melaporkan iritasi okuler yang dihasilkan dari penggunaan ester-ester ini lebih jauhberkualitas sebgai pengawet mata yang ideal. Bahan-bahan seharusnya di tes sterilisasi secara cepat dalam larutan yang

terkontaminasi. Fenol dan Alkohol Pengganti Penggunaan dari beberapa fenolik dan alkohol tersubtitusi sebagai pengawet mata telah dipelajari. Bahan berikut ini telah dilaporkan: (1)

bahan bakterisid melawan gram positif dan kebanyakan mikroorganisme gram negatif dan (2) relatif tidak mengiritasi apabila tidak kontak langsung dengan kornea : 0,03% p-kloro-meta-xylenol ; 0,05% p-kloro-meta-kresol ; 0,5% peroksi etanol ; 0,1% feniletil alkohol dan 0,25% fenol ; 0,5% feniletil alkohol dan 0,5% klorobutanol. Tidak ada satupun sistem yang dipelajari secara intensif untuk kegunaannya sebagai germisida (dengan cepat tersterilisasi) untuk organisme patogen.

II.2.10 Cara Penggunaan Salep Mata 1. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition; 1584 a. b. c. d. Cuci tangan. Buka tutup tube. Dengan satu tangan, tarik kelopak mata bagian bawah perlahan. Sambil melihat ke atas, tekan sejumlah kecil salep ke dalam

kelopak mata bagian bawah (- inci). Hati-hati untuk tidak menyentuhkan ujung tube pada mata, kelopak mata, jari. e. Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata ke segala arah

pada saat mata ditutup. Kadang-kadang penyebaran dapat dilakukan. f. Kelopak mata yang tertutup dapat digosok dengan lembut dengan

jari untuk mendistribusikan obat melalui fornix. g. Tutup kembali tube

Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat dibuka. Pada saat tube salep dibuka untuk pertama kalinya, tekan keluar 1/4 inci salep dan buang karena mungkin terlalu kering.

Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan apapun. Jika mempunyai lebih dari satu tube untuk salep yang sama, buka satu tube saja.

Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep pada waktu yang sama, tunggu sekitar 10 menit sebelum menggunakan salep yang lain.

Untuk memperbaiki aliran salep, pegang tube dalam tangan selama beberapa menit sebelum digunakan.

Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengan posisi di depan cermin.

2. Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System by Ansel; 409 Penting untuk mencuci tangan dengan sabun dan air. Tube salep dipegang diantara ibu jari dan telunjuk dan tube diletakkan sedekat mungkin dengan kelopak mata tanpa menyentuhnya. Pasien memiring dan dengan jari telunjuk dengan tangan yang lain, kelopak mata bawah harus ditarik ke bawah untuk membentuk kantong/ cup. Selapis dari obat diletakkan dalam kelopak mata bawah. Untuk memudahkan pemakaian, pasien menggunakan cermin atau menyuruh orang lain untuk memberi salep. Pasien harus memutar bola mata dan dengan tisu melap salep dari kelopak mata dan bekas kipasan. Terakhir tutup diletakkan kembali pada

tube salep. Pasien harus dinasehatkan bahwa mata akan buram ketika salep dimasukkan dalam mata. 3. Dispensing On Medication King; 143 a. Cuci tangan b. Buka tutup tube c. Dengan satu tangan, tarik kelopak mata bawah perlahan-lahan d. Sambil melihat ke atas tekan sejumlah kecil salep ke dalam kelopak mata bagian bawah (- inci). Hati-hati agar tidak menyentuh ujung tube e. Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata segala arah pada saat mata ditutup, kadang pengaburan sementara dapat terjadi f. Tutup kembali tube Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat

dibuka. Pada saat tube salep dibuka untuk pertama kalinya, tekan

keluar 1/4 inci salep dan buang karena mungkin terlalu kering. Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan

apapun. Jika mempunyai lebih dari satu tube untuk salep yang sama,

buka satu tube saja. Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep pada waktu

yang sama, tunggu sekitar 10 menit sebelum menggunakan salep yang lain.

Untuk memperbaiki aliran salep, pegang tube dalam tangan

selama beberapa menit sebelum digunakan. Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengan posisi di depan cermin. Kesimpulan (2, 3, 13): a. Cuci tangan dengan sabun dan air b. Buka tutup tube c. Tarik kelopak mata bagian bawah d. Sambil melihat ke atas, tekan tube hingga salep keluar (1/4-1/2 inci). Jangan menyentuhkan ujung tube pada mata e. Tutup mata dengan lembut, putar mata ke segala arah f. Kelopak mata yang ditutup dapat digosok dengan lembut dengan jari g. Tutup kembali tube : hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat dibuka. Pada Hati-

saat tube salep dibuka untuk pertama kalinya, tekan keluar 1/4 inci salep dan buang karena mungkin terlalu kering. n pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan apapun. Janga

Jika

mempunyai lebih dari satu tube untuk salep yang sama, buka satu tube saja. Jika

menggunakan lebih dari satu jenis salep pada waktu yang sama, tunggu sekitar 10 menit sebelum menggunakan salep yang lain. Untuk

memperbaiki aliran salep, pegang tube dalam tangan selama beberapa menit sebelum digunakan. Sanga

t bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengan posisi di depan cermin.

II.2.11 Obat untuk Mata a. Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System

Ansel; 408 Antiinflamasi, bahan ini melawan inflamasi pada mata

seperti alergi konjungtiva. Bahan digunakan secara topikal seperti hidrokortison, prednisolon, dan garam dexametason. Antibiotik atau bahan antimikroba, bahan antibiotik atau

bahan antimikroba digunakan khususnya untuk melawan infeksi pada mata. Bahan ini biasa digunakan baik secara sistemik dan lokal. Untuk penggunaan topikal pada mata seperti gentamisin, sulfacetamid,

tetracyclin, chlormycetin, cyprofloksasin, eritromisin, polimiksin B sulfat basitrasin, zink neomisin sulfat, tetramysin, dan tobramycin. Bahan antivural, untuk infeksi virus,untuk ulkus herpes

digunakan trifluridia, vidarabine. Adstrigen, bahan ini umumnya digunakan untuk pengobatan

konjungtivitis, kebanyakan preparat yang digunakan untuk tujuan ini seperti campuran zink sulfat sebagai adstrigen. Bahan beta adrenergik, ini diindikasikan untuk pengobatan

tekanan intraokuler dan glaukoma kronik sudut terbuka. Bahan ini termasuk Betaxolol HCl, atau timolol maleat. Anastetik lokal, anastetik lokal menghilangkan nyeri, trauma

berkelanjutan, dan selama pemeriksaan mata. Diantara anastetik lokal yang digunakan secara optalmik adalah henoxinate, propacaine, dan cocain. Miotik, digunakan secara umum untuk terapi glaukoma tetapi

boleh digunakan untuk kondisi lain sehingga akomodatif esotropia, konvergen, strabisaus untuk pengobatan lokal dari myasthenia gravis. Kebanyakan miotik mungkin menghasilkan efek yang tidak diinginkan pada beberapa pasien. Miotik mereduksi tekanan intraokuler yang dihubungkan dengan glaukoma. Miotik antara lain pilokarpin, echothiophat iodida, dan demecarium tromida. Sebagai tambahan carbotula anhidrase, inhibitor seperti acetozolamid (oral) dan betaadrenergik seperti betoxolol.

Midriatik dan cycloplegic, midriatik mengijinkan pengujian

dari fundus sampai dilatasi pupil. Midriatik yang paling kuat dan memiliki aksi durasi yang panjang dinamakan cycloplegic. Contoh: Atropin, skopolamin, cyclopentotase, naphazoline,cocain, dan fenilefrin. Pelindung topikal, larutan ini digunakan sebagai pengganti

air mata atau sebagai cairan kontak lensa. Contohnya metilselulosa dan hidroksi propril metilselulosa. Vasokontriksi,untuk menyejukkan, menyegarkan, dan

menghilangkan kemerahan yang disebabkan karena iritasi mata. Bahannya antara lain naphazolin HCl, oxymetazolin HCl dan tetrahidrozolin HCl.

Konsentrasi dari Bahan Obat Mata Adrenergik Naphazolin HCl Antialergi Garam kromolin Larutan mata Opticrom (Fisons) 4% Untuk pengobatan gangguan alergi mata sebagai konjungtivitis kernal Larutan Mata Naphcon A (Alcon) 0,025 % Digunakan sebagai vasokontriktor mata topikal Produk Komersial Bahan Aktif Keterangan

Konsentrasi dari Bahan Obat Mata Antibakteri Produk Komersial Bahan Aktif Keterangan

Kloramfenikol

Larutan Mata Ophtoclor (Parke

0,5 %

Ciprofloxacin HCl

Davis) Larutan Mata Steril

0,35 % Digunakan untuk 0,3 % infeksi superfisial mata akibat mudah 1% terkena miroorganisme 0,3 %

Gentamisin Sulfat

Ciloxan (Alcon) Larutan Mata

Tetrasiklin HCl

Geramycin (Schering) Suspensi Mata

Tobramycin

Achromycin (Lederle) Larutan Mata Tobrex

Na sulfasetamid

(Alcon) Larutan Mata Sulamyd (Schering)

10 dan 30 %

Antivirus Trifluridin Larutan Mata Viroptik (Borrougins Weilcome) Airmata Buatan Dextran 70, Hidroximetil Selulosa Konsentrasi dari Bahan Obat Mata Astringen Zink sulfat Larutan Mata Zincfrin (Alcon) 0,25 % Digunakan untuk memperbaiki ketidaknyamanan akibat Produk Komersial Bahan Aktif Keterangan Tears Nahirale II (Alcon) Untuk mata yang kering 1% Diindikasikan dalam pengobatan keratitis herpes simple X

iritasi minor pada mata seperti debu, alergi Antiinflamasi Na deksametoson sulfat Larutan Mata Steril Decadron Fosfat (Merck Sharp & Dohme) Kombinasi Antibakteri/Antiinflamasi Neomisin sulfat & Na deksametason sulfat Oxitetrasiklin dan Hidrokortison Asetat Tobramisin dan deksametason Larutan Mata Neodecadron (Merck Sharp & Dohme) Suspensi Mata TeraContril (Roerig) Suspensi Mata Steril TobraDex (Alcon) 0,35 % basis Untuk kondisi inflamasi mata yang sensitif steroid di mana terjadi infeksi bakteri atau resiko infeksi bakteri mata 0,1 % Mengobati inflamasi karena mekanik, kimia, atau imunologik

neomisin = 0,1 % deksametason 0,15 % oxitetrasiklin = 1,5 %

hidrokortison asetat 0,3 % Tobramisin & 0,1 % deksametason

Konsentrasi dari Bahan Obat Mata Bahan -adrenergik bloker Betaxolol HCl Larutan Mata steril Betoptic (Alcon) 0,5 % Digunakan hipertensi okular dan glaukoma sudut terbuka kronik Produk Komersial Bahan Aktif Keterangan

Timolol maleat

Larutan Mata Steril

0,25 % - 0,5 %

Digunakan untuk pasien

Timoptic (Merck Sharp & Dohme) Kolinergik Larutan Mata Pilokarpin HCl Larutan Mata Isopto Carpine (Alcon) 0,25 % - 10 %

dengan glaukoma sudut terbuka kronik dan pasien opakit dengan glaukoma Digunakan sebagai miotik dalam pengobatan glaukoma, khususnya dalam glaukoma sudut terbuka. Juga digunakan untuk menetralkan midriasis yang diikuti pembedahan

Penghambat kolinesterase Demecarium Br Larutan Mata Steril Humorsol (Merck & Co.) 0,125% dan 0,25 % Menghasilkan miosis intens dan kontraksi otot siliar untuk penghambatan kolinesterase. Digunakan untuk glaukoma sudut terbuka ketika mioitik aksi pendek tidak memberikan efek

II.2.12 Perbedaan levigasi dengan triturasi Scovilles ; 48, 353 Triturasi merupakan metode yang sering digunakan dalam peresepan. Biasanya disebut metode lumpang, digunakan untuk serbuk

dan pencampuran dan secara praktek kombinasi serbuk bias dicampur dalam lumpang dan alu jika membutuhkan teknik yang perlu untuk pulverasi lumpang dan alu. Levigasi merupakan proses yang membantu farmasis dalam membuat salep lembut. Bisa diartikan sebagai proses dimana bahan padatan ditriturasi dengan cairan yang tidak melarutkannya yang membuatnya terbagi dan menyebabkan kurangnya keadaan seperti berpasir dalam salep. Contoh yang tepat dalam proses ini adalah pembuatan salep yang mengandung ZnO.

DAFTAR PUSTAKA 1. King, R.E. Balmonte, Albert. Bond William.s. 1984. Dispensing of Medication 9th Edition. Mack Publishing Company. Philadelphia. 140-165. Turco, Salvabore. King Robert. 1974, Sterile Dosage Form, Lea and Febigger. Philadelphia. 15-16, 37, 357, 359, 368. Sprowl. J.B. 1970. Prescription Pharmacy. 2nd Edition. JB Lipicont Company. Toronto. 181, 249. Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI. Jakarta. 18, 20, 61, 474, 595, 606, 633. Gennaro, A.R. 1998. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition. Mack Publishing Company. Easton. 1215, 1310-1311, 1470, 1513, 1581-1595.

2. 3. 4. 5.

6.

Parrot, E.L. 1971. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics. Burgess Publishing Company. USA. 181, 274-282, 369. Jenkins, Glenn L. Froncke, Don. Brecht, Edward. Sperandio, Glen. 1957. Scovilles the Art of Compounding. Burgess Publishing Company. USA. 237, 341-342, 346, 354, 356-357, 360, 361, 403-425, 520 . Tjay, Tan Hoan. 1989. Obat-obat Penting Edisi IV. Depkes RI. Jakarta. 75, 77. Ganiswara, S.B. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi V. Bagian Farmakologi UI. Jakarta. Lachman, L. Lieberman. Herbert. Kanig. Joseph. 1986. The Theory and Practice of Industry Pharmacy. Lea and Febiger. Philadelphia, 619, 1261-1262, 1282-1286. Kibbe, Arthur H. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipient. The Pharmaceutical Association. New York. 12, 126, 262, 314, 334. Parfitt, K., 1994, Martindale The Complete Drug Reference, 32nd Edition, Pharmacy Press, (314, 318,. Katzung, Bertrand C., 2001,Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medik, Jakarta, (42) Mycek, Mary., 2001,Farmakologi Ulasan Bergambar, Widya Medika, Jakarta, (315, 318, . Groves, Michael J., 1988, Parenteral Technology Manual, Interpharm Press, Chicago, (120, . Martin, Eric W., 1971, Dispensing of Medication, Mack Publishng Company, USA, (592-593, 893-895) Aulton, Michael. E., 1988, Pharmaceutics; The Science of Dosage Form Design, Churcill Living Stone, Edinburg, London, Melbourne, New York. (473, 706-708). Ansel, H., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta, (399, 410, 412-414, 416, 417, 511, 562-563, .

7.

8. 9. 10.

11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.

18.

19.

Ansel, C. Howard.., 1933, Pharmaceutical Dosage Form Ansel 7th Edition, Lippincott Wiliams and Wilkins, Philadelphia, (332, 408410) American Society of Health-System Pharmacists., 1998, AHFS Drug Information, Customer Service Dept., USA, (339, 397, 404, 2865) Rawlins, E.A., 2003, Textbook of Pharmaceutics, Bailliere Tindall, London, (363, 408, 526-555). Djide, M. Natsir, 2006, Mikrobiologi Farmasi Dasar, Laboratorium Mikrobiologi Dasar, Farmasi Unhas, Makassar, (230, 242). Reynold, James E.F., 1989, Martindale, The Extra Pharmacopecia, The Pharmaceutical Press, London, (314, 318) Sulistia, G., 2007, Farmakologi dan Terapi Edisi 5, UI Press, Jakarta, (69, 534, 694, 697, 699). Mutschler, Ernit., 2001, Dinamika Obat, ITB, Bandung, (650). Lukas, Stefanus., 2006, Formulasi Steril, Penerbit Andi, Yogyakarta, (98, 110).

20.

21. 22.

23. 24. 25. 26. 27.

Kibbe, Arthur H., 1997, Handbook of Pharmaceutical Excipients, Pensylvania, London, (126, 606, 262, 314, 334) 28. Dirjen POM., 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta, (12, 1086, 1110) 29. 30. 31. Gilbert, S. Banker., 1987, Modern PharmaceuticaI 3rd Edition, Marcel Dekker Inc., New York, (492, 498, 523) Tim ISFI., 2007, Informasi Spesialite Obat Indonesia Volume 42, Penerbit ISFI, Jakarta, (450) Gonnors, Kenneth A., dkk., 1986, Chemical Stability of Pharmaceuticals, A Handbook for Pharmacists 2nd Edition, AwileInterscience, USA (99). 32. 33. 34. Excipient e-book edisi 5 Martindale e-book.edisi 35 Katzung e-book.

35. 36.

Handbook e-book. Modern Pharmaceutics e-book.