Anda di halaman 1dari 27

De sain dan Pemilihan Material

Mater ial Selection for C NG Tank

dan Pemilihan Material Mater ial Selection for C NG Tank Nama : Mia Diniati NPM: 1106154324

Nama : Mia Diniati NPM: 1106154324

Departeme n Teknik Metalurgi dan Mat terial Universitas Indonesia

2012

Desain dan Pemilihan Material

I.

Pendahuluan

1. Latar belakang

Dewasa ini gas alam merupakan sumber energi yang paling sering digunakan.

Biasanya gas alam digunakan untuk pemanasan dan pendinginan serta aplikasi lainnya.

Selain itu, lebih dari 85000 kendaraaan berbasis compressed natural gas (CNG) dapat

beroperasi dengan sukses. Kendaraan yang berbasis CNG akan menghasilkan gas buang yang

lebih ramah akan lingkungan dibandingkan dengan gas buang yang dihasilkan bensin.[1]

CNG tersebut tidak berbau, berwarna dan berasa dimana terdiri dari metana (CH 4 )

yang berasal dari sumur gas atau yang dihasilkan dari produksi minyak mentah. Kendaraan

yang menggunakan CNG menyimpan gas alam pada tekanan yang tinggi sekitar 3000 – 3600

lb/in 2 . Pembau biasanya ditambahkan ke CNG untuk alasan keamanan.[1]

CNG terbuat dari gas alam yang dikompresi hingga kurang dari 1% volume di bawah

tekanan standar atmosfer. CNG disimpan dan didistribusikan di tangki pada tekanan 200 –

248 bar yang berbentuk silinder atau bulat. Penggunaan kendaraan berbasis CNG di daerah

Asia – Pasifik, Amerika Latin, Eropa, dan Amerika semakin meningkat karena harga bensin

yang semakin mahal. Pada tahun 2010 penggunaan kendaraan berbasis CNG mencapai 12,6

juta dimana mengalami peningkatan sebesar 11,6% dari tahun sebelumnya dimana jumlah

kendaraan berbasis CNG di negara Pakistan sebesar 2,74 juta, Iran sebesar 1,95 juta,

Argentina sebesar 1,9 juta, Brazil sebesar 1,6 juta, India sebesar 1,1 juta, area Asia – Pasifik

5,7 juta, dan area Amerika Latin hampir 4 juta kendaraan berbasis CNG. Penggunaan CNG

dimulai dari kendaraan truk, bis sekolah dan kereta.[2]

Desain dan Pemilihan Material

Desain dan Pemilihan Material Gambar 1. Pengisian CNG pada bus di Madrid (Spanyol)[2] Jumlah kendaraan berbasis

Gambar 1. Pengisian CNG pada bus di Madrid (Spanyol)[2]

Jumlah kendaraan berbasis CNG di Indonesia dari tahun 1987 hingga 2000

mengalami peningkatan dari 300 unit hingga 6630 unit namun di tahun 2004 terjadi

penurunan menjadi 1500 unit dan 1 unit bus. Hal tersebut disebabkan karena terbatasnya

tempat pengisian CNG, harga converter kit yang mahal (sekitar 8 – 10 juta rupiah), investasi

yang tinggi untuk membangun tempat pengisian CNG, dan sedikitnya partisipasi dari

perusahaan swasta dan kemauan pemerintah untuk mendukung program ini.[9]

Namun sejak tahun 2005 pemerintah telah menetapkan peraturan untuk

mengembangkan energi alternatif seperti dari batubara, gas alam, green fuel untuk

mengurangi kebutuhan Indonesia akan produksi minyak karena seperti yang diketahui sejak

tahun 2002, Indonesia telah mengimport minyak. Gas alam sendiri telah digunakan untuk

kendaraan bermotor di Indonesia sejak tahun 1989 dimana pada saat ini terdapat 11 tempat

pengisian bahar bakar gas dengan 600 kendaran dan 60 bis yang menggunakan bahan bakar

jenis gas ini.[7]

2.

Ketersediaan

Terdapat dua tipe dari sistem bahan bakar CNG yang biasanya ditemui di pasaran

biasanya disebut dengan dedicated vehicles dimana hanya dapat beroperasi dengan

menggunakan gas alam dan dual-fuel vehicles yang dapat menggunakan bensin dan gas alam.

Pada negara – negara dengan distribusi gas alam penggunaan CNG akan sangat dipermudah.

Contohnya saja di Amerika pada tahun 2002, sudah terdapat 1300 tempat pengisian ulang gas

di 46 kota dan angka tersebut terus meningkat seiring waktu. Selain itu pemiliki kendaraan

berbasis CNG juga dapat mengisi ulang gas di rumah dengan memasang kompresor kecil

Desain dan Pemilihan Material

yang berhubungan langsung dengan pemasok gas. Di negara tersebut pemasaran CNG lebih

stabil dibanding dengan pemasaran bensin. Harga CNG biasanya lebih murah 15 – 40%

dibandingkan dengan bensin dan diesel. CNG membutuhkan proses pengisian ulang lebih

sering karena hanya terdiri dari seperempat energi volume dari bensin. Selain itu, harga

kendaraan berbasis CNG biasanya lebih mahal $3500 - $6000 dibandingkan kendaraan

dengan bensin. Hal tersebut disebabkan biaya yang mahal pada silinder bahan bakar tersebut.

Namun apabila produksi kendaraan berbasis CNG semakin meningkat maka diperkirakan

harganya pun akan menurun.[1]

Untuk pasokan dan distribusi gas alam di Indonesia hanya ada di daerah tertentu saja

misalnya Jakarta, Surabaya, Batam, Medan, dan Palembang. Hal tersebut dapat dilihat pada

Gambar 2 berikut ini.[9]

Hal tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.[9] Gambar 2. Supply dan Distribusi Gas Alam

Gambar 2. Supply dan Distribusi Gas Alam di Indonesia[9]

3.

Performa

Tingkat oktan di CNG lebih tinggi dibandingkan di bensin hal tersebut akan

berpengaruh pada kekuatan CNG, meningkatan akselerasi dan kecepatan dapat melebihi

kekuatan kendaraan berbasis bensin. Selain itu karena pembakaran yang dihasilkan CNG

lebih bersih atau ramah lingkungan maka kendaraan berbasis CNG dapat berjalan lebih

efisien dibandingkan kendaraan berbasis bensin dan juga dapat memperpanjang umur pakai

Desain dan Pemilihan Material

kendaraan. Pada kendaraan yang berat, mesin CNG menghasilkan kebisingan yang lebih

sedikit bila dibandingkan dengan penggunaan diesel.[1]

Selain itu keuntungan dari menggunakan CNG pada kendaraan adalah karena tidak

adanya timbal dan benzena yang terkandung di dalam CNG maka pengotoran busi dapat

dieliminasi, kendaraan berbasis CNG memiliki harga perawatan yang lebih murah

dibandingkan dengan kendaraaan berbasis bensin, sistem bahan bakar CNG dikemas dengan

baik sehingga dapat menghindari kebocoran atau penguapan, meningkatkan umur pakai dari

oli karena CNG tidak mengkontaminasi dan merusak rumah mesin oli, CNG dapat bercampur

dengan mudah dan bahkan di udara menjadi bahan bakar gas, CNG memiliki temperatur

pembakaran yang tinggi yaitu 540 o C dan rentang mudah terbakar yang sempit (5% -15%) dan

yang tidak kalah penting adalah menghasilkan polusi yang lebih sedikit dan lebih efisien.[3]

Namun kendaraaan berbasis CNG akan membutuhkan tempat penyimpanan bahan

bakar yang lebih memakan tempat dibandingkan pada kendaraan berbasis bensin seperti pada

Gambar 3 ini. Tapi hal tersebut dapat diselesaikan dengan factory – built CNG yang dipasang

di bawah kendaraan. Atau tanki CNG tersebut juga dapat dibasang di atas kendaraan

(biasanya di bis) dimana kendaraan tersebut harus memiliki kekuatan yang baik.[4-6]

kendaraan tersebut harus memiliki kekuatan yang baik.[4-6] Gambar 3. Penyimpanan gas di dalam mobil[2] 4. Keamanan

Gambar 3. Penyimpanan gas di dalam mobil[2]

4.

Keamanan

CNG merupakan gas yang mudah terbakar namun memiliki rentang mudah terbakar

yang sempit sehingga membuat gas tersebut menjadi bahan bakar yang aman. Standar

keamanan pada CNG sama baiknya dengan pada kendaraan yang berbasis bensin. Pada

kejadian kebocoran atau adanya kecelakaan, CNG tidak akan berbahaya untuk lingkungan

atau air dimana dia tidak beracun. CNG juga terdispersi secara cepat sehingga meminimalisir

resiko kebakaran seperti yang sering dialami pada kendaraan berbasis bensin. CNG secara

Desain dan Pemilihan Material

umum merupakan metana dimana dapat berkontribusi pada perubahan iklim global pada saat

terjadi kebocoran. Metana hanya dapat sedikit larut dalam air dan di bawah kondisi

lingkungan tertentu (anaerobik) tidak dapat biodegrade, diman apabila terjadi kelebihan gas,

gas dapat menjadi gelembung – gelembung di air dan dapat berpotensi terhadap kebakaran.

Seperti pada kasus yang sudah terjadi sebelumnya dilaporkan bahwa terdapat bus yang

terbakar akibat kegagalan pada mesin bukan pada penggunaan gas alam. Bus berbasis gas

alam tersebut memiliki detektor gas dan peralatan keamanan dan keselamatan lainnya

mialnya tank safety valve yang berfungsi untuk aliran abajan bakar ketika mesin menyala.

Selain itu tanki tersebut harus diinspeksi dan disetujui oleh U.S Department of Transportation

setelah waktu penggunaan tertentu. [1]

5. Perawatan

Harus terdapat pelatihan yang sesuai untuk seluruh personel yang bekerja pada bidang

kendaraan berbasis CNG. Oli pada kendaraan berbasis CNG tidak terlalu sering diganti

karena pembakaran CNG lebih bersih pada pembakaran kendaraan berbasis bensin sehingga

akan menghasilkan deposit yang lebih sedikit di oli.

6. Properties dari CNG

Berikut ini merupakan beberapa sifat dari CNG yang harus diketahui, yaitu:[5,8,10,14]

a. Dikompresi hingga 3600 psi pada suhu 70 o F di dalam tabung silinder. Temperatur

berbanding lurus dengan tekanan.

b. Tingkat oktana yang tinggi hingga mencapai 120 - 130

c. BTU per # = 22800 dimana bensin sebesar 18900

d. 1 tanki CNG 200 bar setara dengan 70 liter bensin

e. Tidak menjadi cair saat dikompres tapi menjadi gas yang sangat padat

f. Tidak sama dengan gas alam yang dicairkan (LNG) karena pada LNG membutuhkan

suhu cryogenic

g. Memiliki temperatur self – ignition sebesar 700 o C dimana pada bensin sebesar 450 o C

h. Silinder CNG didesain dan dibuat dari material yang spesial yang dapat menahan tekanan

tinggi sehingga akan lebih aman dibandingkan tanki bensin

i. Biaya produksi dan penyimpanan lebih murah dibandingkan LNG

Desain dan Pemilihan Material

j.

Lebih rindah dibandingkan udara sehingga ketika dilepaskan akan langsung bergabung

dengan udara

k.

LEL/UEL sebesar 4 – 16% dimana bensin sebesar 1.3 – 7,6%

l.

1 cubic foot dari CNG sama dengan 245 cu.ft dari gas alam di level air (yang tidak

dikompress)

m.

1 cu.ft dari CNG memiliki berat 13# dimana 5,66# sama dengan 1 Gasoline gallon

equivalent (GGE).

7.

Teknologi Tanki CNG

Terdapat 4 jenis tipe dasar dari desain tanki berdasarkan ISO 11439 dimana terbagi at

berdasarkan berat dan harga seperti yang dapat terlihat pada Gambar 4.

berat dan harga seperti yang dapat terlihat pada Gambar 4. Gambar 4. Macam – macam jenis

Gambar 4. Macam – macam jenis desain tanki CNG[13]

Berikut ini merupakan tipe – tipe tanki CNG, yaitu:[10]

a. Tipe 1

Seluruh logam (aluminum atau baja). Tipe 1 ini murah tapi berat.

b. Tipe 2

Metal liner dengan penguat menggunakan wrap komposit (serat karbon atau glass) di

pertengahan (hoop wrapped). Komposisi dari matriks dan komposit sebesar 50 – 50 dari

Desain dan Pemilihan Material

stress yang disebabkan oleh tekanan internal. Tipe 2 ini lebih ringan namun lebih mahal

dibandingkan tipe 1.

c. Tipe 3

Metal liner dengan penguat komposit yang membungkus seluruh tanki (full wrapped).

Jumlah dari liner hanya mengambil sedikit dari stress. Tipe 3 ini ringan tapi lebih mahal

dibandingkan tipe 2.

d. Tipe 4

Plastic gas liner dengan penguat komposit yang membungkus seluruh tanki (full

wrapped) .seluruh kekuatan dari tanki didapatkan dari penguat komposit. Tipe 4 ini

ringan namun mahal dan tipe ini dapat dilihat pada Gambar 5.

ringan namun mahal dan tipe ini dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5 . Desain tipe

Gambar 5. Desain tipe 4 tanki CNG[10]

Pada Gambar xx dapat dilihat contoh desain tanki CNG pada Honda Civic.

xx dapat dilihat contoh desain tanki CNG pada Honda Civic. Gambar. desain tanki CNG pada Honda

Gambar. desain tanki CNG pada Honda Civic[5]

8. Cara Kerja Konversi CNG di Kendaraan

Desain dan Pemilihan Material

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat kendaraan berbasis CNG

seluruhnya ada juga yang kombinasi dengan bensin. Untuk kendaraan berbasis kombinasi

CNG dan bensin pergantian dari CNG ke bensin dilakukan secara manual maupun otomatis.

[11] Pada Gambar xx dapat dilihat contoh sistem pembakaran pada CNG.[13] Berikut ini

merupakan tahapan bagaimana konversi CNG di kendaraan:[11]

a. CNG dimasukkan ke dalam silinder bertekanan tinggi

b. Ketika mesin kendaraan membutuhkan energi, CNG akan meninggalkan silinder

penyimpan dan melewati master manual shut – off valve.

c. CNG akan masuk ke dalam mesin melalui pipa dengan tekanan tinggi

d. Regulator akan meneriman CNG dan mengurangi tekanan dari 3000 psi hingga

mendekati tekanan atmosfer

e. Solenoid valve gas alam membiarkan aliran gas alam dari regulator ke gas mixer atau fuel

injectors dan juga mematikan aliran gas alam ketika mesin dimatikan.\

f. CNG akan bercampur dengan udara dan mengalir melewati karburator atau fuel injection

system dan masuk ke dalam engine combustion chamber.

atau fuel injection system dan masuk ke dalam engine combustion chamber. Gambar. Sistem pembakaran CNG[13] Tugas

Gambar. Sistem pembakaran CNG[13]

Desain dan Pemilihan Material

9.

Contoh Standar yang Berkaitan dengan CNG

Terdapat beberapa standar untuk tanki CNG, yaitu:

a.

Berdasarkan peraturan federal dengan kode CFR 49 part 571 pada standar 304

Compressed natural gas fuel container integrity.[5] Dimana terdapat flame test standard

dimana flame impigement menyebabkan 1550 – 1650 o F pada permukaan untuk silinder

yang panjang atau 20 menit atau hingga bahan bakar benar – benar sudah keluar melalui

PRV.[5]

b.

Standar untuk material silinder CNG yaitu Indian Standards:15490:2004 yaitu Cylinders

for on – Board Storage of Compressed Natural Gas as a Fuel for Automotive Vehicles –

Specifications[8]

c.

Seluruh kendaraan berbasis CNG harus memenuhi ANSI/CSA NGV2 mengenai Basic

Requirements for Compressed Natural Gas Vehicle Fuel Containers. Standard industri ini

lebih komprehensif dan baru dibandingkan standar federal 304.[10]

d.

Standar ISO 11439 yang mengenai “Gas cylinders, High Pressure Cylinders for the on-

board storage of natural gas as a fuel for automotive vehicles. Standar ini terdiri dari 4

jenis tipe tanki CNG.

10.

Pengujian untuk Mengetahui Performa CNG

Terdapat beberapa pengujian yang dilakukan untuk mengetahui performa dari CNG

seperti yang dapat terlihat pada Gambar xx,[13] yaitu:[10]

a. Hydraulic pressure cycle testing, dimana pengujian ini menggunakan air dan mode

kegagaln harus bocor bukan rusak.

b. Low temperature pressure cycling, dimana pengujian hydraulic pressure cycle dilakukan

saat tanki didinginkan pada suhu -40 o F dan tanki kemudian dipanaskan pada suhu 149 o F

dan diikuti dengan pengujian pressure cycle.

c. Drop impact testing, pada Gambar xx dapat dilihat contoh hasil pengujian ini pada desain

tipe 4 dengan material berupa komposit dengat serat karbon.

Desain dan Pemilihan Material

Desain dan Pemilihan Material Gambar. Hasil pengujian drop impact d. Drop test failure during pressure cyle

Gambar. Hasil pengujian drop impact

d. Drop test failure during pressure cyle testing

e. Bonfire test, untuk memastikan gas dapat keluar sebelum silinder rusak ketika terpapar

dengan api

f. Environmental exposure test, menggunakan larutan yang berbeda dimana saat tanki

mengenai larutan juga diberikan pressure cyclces.

g. Environemtal test failure

h. CNG permeation test

i. Gunfire test

j. Vibration of vehicle fuel system

k. Hydraulic crush test, menggunakan hydraulic ram untuk menabrak tanki yang bertekanan.

Desain dan Pemilihan Material

Desain dan Pemilihan Material Gambar xx. Macam – macam pengujian[13] II. Kualitas Gas CNG Sejak tahun

Gambar xx. Macam – macam pengujian[13]

II. Kualitas Gas CNG

Sejak tahun 1995 – 2005 sudah terdapat 15 kecelakaan kendaraan berbasis CNG

dimana penyebab meledaknya tanki tersebut belum diketahui. Beberapa alasan menyebutkan

bahwa hal tersebut terkait dengan pemasangan yang kurang baik dimana tidak mengacu pada

standar dan prosedur dan alasan lainnya menyebutkan bahwa hal tersebut dapat disebabkan

karena kualitas gas CNG yang rendah sehingga dapat mempercepat korosi dan retak pada

silinder sehingga dapat menyebabkan tanki meledak. Untuk masalah tersebut, untuk

membantu mengembangkan gas alam untuk sumber bahan bakar kendaraan maka pada Mei

2006 di Program Nasional dideklarasikan bahwa Kualitas gas harus di desain untuk

membantu program CNG dan harus terjamin untuk seluruh pengguna.[7]

Gas alam pada CNG biasnya dilakukan proses kompresi hingga tekanan 200 bar

dimana terdiri dari 2 komponen utama yaitu metana dan etana. Untuk menjamin kualitas gas

dari CNG yang digunakan pada kendaraan aman terdapat beberapa parameter yang harus

diperhatikan sesuai standar dan spesifikasi yaitu komponen hidrokarbon, gas inert (CO 2 , O 2 ,

N 2 ), kandungan gas asam, merkuri , kandungan air, nilai heating, relative density, wobbe ,

Desain dan Pemilihan Material

density, bau, kandungan partikel. Pada Tabel xx dapat dilihat spesifikasi CNG berdasarkan

Oil and Gas Director General Number 10K/34/ddjm/1993 pada Februari 1993 dan pada

Tabel xx merupakan spesifikasi CNG dari beberapa negara.[7]

Tabel. Spesifikasi CNG di Indonesia sekarang[7]

Parameter

Unit

Batas Nilai

Metode Pengujian

Minimum

Maksimum

ASTM

Lainnya

1. Komponen:

         

Metana + Etana

% vol

62

D1945

 

Propana

% vol

8,0

D1945

Butana

% vol

4,0

D1945

Pentana

% vol

1,0

D1945

N

2

% vol

2,0

D1945

H

2 S

ppm vol

14,0

D2385

Hg

ppb vol

9,0

AAS

O

2

% vol

0,2

D1945

CO 2

% vol

5,0

Gravimetri

H

2 O

% vol

0,035

D1945

2. Relative

         

Density pada

Kj/Kg

0,56

0,89

28

o C

3. Calorific Value

         

pada 15 o C dan

44.000

1 atm

 

Tabel. Spesifikasi CNG dari Beberapa Negara[7]

Desain dan Pemilihan Material

Desain dan Pemilihan Material Parameter kritis dari kualitas CNG harus ditingkatkan yaitu parameter yang dapat menyebabkan

Parameter kritis dari kualitas CNG harus ditingkatkan yaitu parameter yang dapat

menyebabkan peningkatan laju korosi di silinder misalnya kandungan air (16 LB/MMSCF -

< 3 LB/MMSCF) , propana dan yang lebih berat ( 13% vol - <6,5 %vol) dan juga parameter

yang dapat berakibat pada keamanan misalnya odorant harus ditambahkan ke gas untuk CNG

dan partikel harus terbatas atau diminamilisir. Berikut ini merupakan spesifikasi kualitas gas

CNG yang sesuai pada Tabel xx.[7]

Tabel. Spesifikasi gas alam yang sesuai untuk CNG[7]

 

Parameter

Unit

Batas Nilai

 

Minimum

Maksimum

1.

Komponen:

     

Metana

% vol

77

 

Etana

% vol

8,0

 

Propana

% vol

4,0

Butana

% vol

1,0

Pentana

% vol

1,0

Heksana

% vol

0,5

 

N

2

% vol

3,0

O

2

% vol

0,1

CO 2

% vol

5,0

Desain dan Pemilihan Material

 

Hg

ppb vol

 

9,0

H

2 O

lb/mmscf

3,0

H

2 S

ppm vol

10

2. Relative Density pada 15 o C

 

0,56

0,85

3. Heating Value pada 15 o C dan 1 atm

BTU/ft 3

960

1175

4. Wobbe Index

BTU/ft 3

1050

1313

 

CNG tidak boleh mengandung pengotor, pasir,

karet, minyak atau objek apapun yang dapat

5. Partikel

membahayakan peralatan di tempat pengisian ulang

CNG dan juga saat pemasangan sistem bahan bakar

6. Odor

CNG harus diberikan pembau (odorant)

Untuk mendapatkan gas yang berkualitas untuk kendaraan berbassi CNG yang dapat

menjamin keamaan pengguna harus ditetapkan kebijaksanaan seperti:[7]

a. Seluruh tempat pengisian CNG harus memasang gas dryer system untuk mengurangi

kandungan air

b. Gas yang didistribusikan ke tempat pengisian CNG harus memilik parameter standar

dan harus diberikan pembau

c. Compressor di tempat pengisian CNG harus disaring untuk mengurangi adanya oli

yang terbawa dari compressor dan pipeline untuk dispenser nozzle.

Pada Tabel xx dapat dilihat karakteristik umum dari gas alam CNG dari salah satu

tempat pengisian bahan bakar di Jakarta.[9]

Tabel. Karakteristik Umum CNG di Salah Satu Tempat Pengisian CNG di Jakarta[9]

Parameter

Unit

Nilai

Komponen:

   
 

Nitrogen

% Mol

0,2389

Karbon dioksida

% Mol

4,7818

 

Metana

% Mol

84,7297

Etana

% Mol

3,6687

Propana

% Mol

3,9832

i

– Butana

% Mol

0,8198

n

– Butana

% Mol

0,9451

Desain dan Pemilihan Material

i

– Pentana

% Mol

0,3364

n

– Pentana

% Mol

0,2280

Heksana

% Mol

0,1656

Heptana

% Mol

0,0681

Oktana

% Mol

0,0279

Nonana

% Mol

0,0065

Dekana

% Mol

0,00004

Kandungan Sulfur Hidrogen sulfida Merkaptana Karbonil sulfida

ppm

5,9856

ppm

2,3475

ppm

0,4521

Kandungan Logam Hg Fe

ppb

Nil

ppm

0,0086

Kandungan air

Lb/MMSCF

22,00

Karakteristik fisika Relative density Gross Heating Value (GHV) Net Heating Value (NHV)

 

0,7016

BTU/CF

3

1115,4753

BTU/CF

3

1008,8974

III.Desain Material untuk Tanki CNG

1. Desain tanki

Tabung CNG diisi gas yang dikompresi hingga 200 bar atau lebih dimana dengan

volume tersebut dimaksud agar didapatkan volume pengisian maksimum atau setara dengan

volume bahan bakar konvensional. Tabung dengan bertekanan 200 bar pada kendaraan

tersebut akan jadi berbahaya karena dapat meledak pada kondisi panas berlebih dan tabrakan

oleh sebab itu desain, pemilihan material tabung CNG harus sesuai standar.[14]

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat mendesain tanki, yaitu:[10]

a. Harus terbatas pada umur kendaraan

b. Tanki harus mengalami kebocoran sebelum rusak.

c. Harus terdapat perlindungan terhadap api dengan menggunakan thermally activated

pressure relief device (PRD) untuk memproteksi setiap tanki.

Tugas 2

Desain dan Pemilihan Material

Tanki CNG dapat dikategorikan sebagai bejana bertekanan (pressure vessel) karena

memiliki tekanan operasi yang cukup tinggi. Untuk mendesain bejana bertekanan kita dapat

mengacu pada ASME VIII division 1. Seperti yang disebutkan dalam buku Michael F.Ashby,

desain dari bejana bertekanan ini akan bervariasi tergantung ukuran untuk ukuran yang kecil

biasanya harus mengalami peluluhan (yield) sebelum rusak sehingga dengan adanya

peluluhan tersebut akan menyebabkan distorsi dan tekanan dapat dilepas secara aman.

Sedangkan untuk bejanan bertekanan besar harus mengalami kebocoran sebelum rusak

karena kebocoran tersebut mudah dideteksi dan dapat melepas tekanan dengan aman. Untuk

bejana bertekanan kecil dapat performa keamanan yang baik dari material dapat ditinjau dari

tidak terdapatnya retak atau cacat dengan diamter yang lebih besar dibandingkan diameter

cacat kritis dimana ukuran cacat yang dapat ditolereansi akan semakin besar dengan memilih

material dengan performa indeks seperti pada persamaan xxx dengan Kic merupakan fracture

toughness dan σf merupakan yield stress. Sedangkan untuk keamanan bejanan bertekanan

tinggi akan semakin tinggi apabila performa indeks pada persamaan xx semakin tinggi.

1 =

2 =

Selain itu desain bejanan bertekanan lainnya yang harus diperhatikan lainnya adalah

ketebalan dinding dari bejanan bertekanan diusahakan harus kecil untuk mengurangi berat

dan biaya. Ketebalan dinding akan didapatkan semakin kecil apabila nilai titik luluh dari

material yang digunakan semakin besar seperti apda persamaan xx.[12]

3 =

2.

Sifat Material yang Dibutuhkan

a.

Density

Density harus diperhatikan dimana density yang diharapkan sekecil mungkin. Karena

apabila tanki CNG memiliki density besar dapat mempengaruhi performa dari kendaraan

yang menggunakan tanki CNG tersebut karena akan semakin berat dan juga akan

mengeluarkan biaya yang lebih tinggi lagi.

Desain dan Pemilihan Material

b. Yield strength

Yield strength merupakan kriteria penting untuk stabilitas mekanik material. Nilai yield

stress yang diharapkan sebesar mungkin karena pada tanki CNG memiliki high internal

pressure. Selain itu dengan nilai yield strength yang tinggi pula berdasarkan persamaan

xx akan didapatkan ketebalan dinding yang semakin kecil dan tanki CNG juga akan

semakin ringan.

c. Fracture Toughness

Fracture toughness merupakan sifat yang menunjukan kemampuan material yang

mengandung cacat untuk menahan kegagal dan sifat ini merupakan salah satu sifat

penting di material. Fracture toughness dari material tanki CNG diusahakan harus

sebesar mungkin. Hal tersebut berkaitan dengan keamanan dari material tanki CNG

tersebut. Seperti yang ditunjukkan pada persamaan xx dan xx bahwa keamanan dari

material tanki CNG dapat ditingkatkan dengan meningkatnya fracture toughness dari

material tersebut.

d. Modulus Elastisitas

Tanki CNG harus memiliki modulus elastisitas yang sebesar mungkin, agar tetap dapat

memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan tegangan dan juga tetap dapat menahan

bentuknya pada saat pemberian beban.

e. Toughness Index

Toughness Index untuk tanki CNG harus didapatkan nilai sebesar mungkin. Hal tersebut

dikarenakan dengan menggunakan toughness index kita dapat mengetahui kombinasi dari

berbagai sifat yaitu ketahangguhan, ketahanan terhadap beban kejut dan juga ketahanan

terhadap beban fatik dimana ketiga sifat tersebut sangat diperlukan untuk tanki CNG.

Dengan ketangguhan yang baik maka akan didapatkan peningkatan performa dari tanki

CNG yang baik pula. Seperti diketahui tanki CNG harus memiliki ketahanan terhadap

pembebanan yang secara tiba – tiba misalnya pada saat terjadi benturan atau kendaraan

mengalami tabrakan karena apabila material tanki CNG tidak tangguh pada saat terkena

pembeban tanki CNG akan langsung hancur. Selain itu juga harus memiliki ketahanan

Desain dan Pemilihan Material

terhadap fatik terutama pada saat pengisian ulang dimana terdapat perubahan tekanan

yang dapat menyebabkan fenomena fatik.

f. Specific heat

Sifat termal pada tanki CNG juga merupakan salah satu yang harus diperhatikan. Specific

heat menunjukkan berapa banyak panas yang dapat diserap oleh material. Nilai dari

spesific heat sebanding dengan kemungkinan untuk menyerap panas. Untuk material

tanki CNG kita harus memilih material dengan specific heat yang sekecil mungkin.

Karena dengan nilai yang lebih kecil akan mengurangi kehilangan cool down.

g. Thermal expansion

Thermal expansion menunjukkan kemungkinan perubahan volume karena adanya

perubahan temperatur. Untuk material tanki CNG diharapkan nilai dari thermal expansion

sekecil mungkin. Karena dengan nilai thermal expansion yang semakin kecil tersebut

kemungkinan terjadinya thermal stress dapat dikurangi karena seperti yang diketahui

temperatur di dalam tanki CNG sangat bervariasi misalnya pada saat dilakukan pengisian

maupun pada kondisi operasi nya sendiri.

h. Thermal conductivity

Thermal conductivity merupakan perhitungan secara kuantitatif pada kemampuan

material untuk mengkonduksi panas. Nilai dari thermal conductivity yang diharapkan

adalah sekecil mungkin. Hal tersebut dikarenakan seperti yang kita ketahui bahwa tanki

CNG digunakan pada tekanan tinggi, apabila temperatur berbeda di lingkungan sekitar

dan silinder tingi maka transfer panas akan terjadi dan hal tersebut tidak dapat dibiarkan.

Oleh sebab itu, harus diusahakan untuk menjaga perbedaan temperatur untuk tetap

konstan dengan memilih konduktifitas panas yang paling kecil sehingga dapat

meminimalisir terjadinya transfer panas yang dapat menyebabkan ekspansi karena

perbedaan temperatur dan tekanan yang tinggi.

i. Ketahanan korosi

Ketahanan korosi material tanki CNG harus sebaik mungkin. Harus sangat diperhatikan

karena tanki CNG tersebut dilewati oleh berbagai gas seperti yang dapat dilihat pada

Tabel xxxx, dimana senyawa kimia (sangat rentan terjadinya stress corrosion cracking)

Desain dan Pemilihan Material

tersebut dapat memberikan kecendrungan untuk korosi. Apabila material tanki CNG

terkorosi maka umur pakai dari material tersebut akan semakin berkurang dan kegagalan

dari material tersebut akan semakin cepat oleh sebab itu harus dihindari ataupun

diminimalisir.

Desain dan Pemilihan Material

3. Tahapan Pemilihan Material

Metode pemilihan material yang digunakan untuk mendesain material tanki CNG menggunakan metode weighted property index method.

a. Pairwise comparison

Decision number Sifat - sifat 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Decision number
Sifat - sifat
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
Yield Strength
0
1
0
1
1
1
1
1
Fracture
Toughness
1
1
0
1
1
1
1
1
Modulus
Elastisitas
0
0
0
0
0
0
1
0
Toughness
Index
1
1
1
1
1
1
1
1
Densitas
0
0
1
0
1
1
1
1
Konduktivitas
Panas
0
0
1
0
0
0
0
0
Termal
Ekspansi
0
0
1
0
0
1
1
0
Heat Specific
0
0
0
0
0
1
0
0
Corrosion
Resistance
0
0
1
0
0
1
1
1

Desain dan Pemilihan Material

b.

Weighting Factors

 

Sifat - Sifat

Positive Desicions

Weighting Factors

Yield Strength

6

0,166666667

Fracture Toughness

7

0,194444444

Modulus Elastisitas

1

0,027777778

Toughness Index

8

0,222222222

Densitas

5

0,138888889

Konduktivitas Panas

1

0,027777778

Termal Ekspansi

3

0,083333333

Heat Specific

1

0,027777778

Corrosion Resistance

4

0,111111111

Total

36

 

c.

Sifat – Sifat Material Kandidat untuk Tanki CNG

 
 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

Material

Yield

Strength

Fracture

toughness [Mpa

Modulus

elastisitas

Toughness

Index

Densitas

[ g/cm3]

Ekspansi

thermal

Konduktivitas

panas

Specific

heat [J/gK]

Corrosion

Resistance

[Mpa]

m-1/2]

[Gpa]

[10-6/oC]

[W/moC]

AISI 4130

435,0

135,0

205,0

140,9

7,9

12,3

42,7

0,5

Excellent

AISI 4340

472,0

50,0

207,0

133,9

7,9

12,3

21,0

0,5

Excellent

Aluminum 5083

228,0

43,0

70,3

2,5

2,7

24,2

117,0

0,9

Excellent

Aluminum 6061 T6

275,0

29,1

69,0

49,7

2,7

23,4

167,0

0,9

Good

Aluminum 7075

505,0

24,0

71,0

59,2

2,8

23,4

170,0

1,0

Good

Desain dan Pemilihan Material

GFRP (E-glass fiber epoxy matrix)

600,0

60,0

45,0

18,6

2,1

6,6

0,2

0,3

Excellent

CFRP (high modulus carbon fiber epoxy matrix)

500,0

45,0

220,0

1,9

1,7

0,3

8,5

0,8

Excellent

Aramid Fibre Epoxy Matrix Composite

1.790,0

70,0

76,0

34,8

1,4

4,0

0,5

1,1

Excellent

Keterangan Tambahan:

AISI 4130: Material ini merupakan baja dengan paduan Cr-Mo. Material ini memiliki ketangguhan yang baik, elongasi yang Material ini merupakan baja dengan paduan Cr-Mo. Material ini memiliki ketangguhan yang baik, elongasi yang baik, dan juga ketahanan korosi yang baik. Jenis yang material yang digunakan dapat yang telah dikenai proses quench dan temper namun jangan pada normalized AISI 4130 karena memiliki ketahanan SCC yang sangat buruk pada lingkungan di dalam CNG tank terutama dengan kualitas gas seperti di Indonesia yang dapat terlihat pada Tabel xx.

AISI 4340: material ini terdiri dari 0.38-0.43% karbon (C), 0.60-0.80% Mangan (Mn), 0.035%(max) Fosfor (P), 0.04%(max) Sulfur material ini terdiri dari 0.38-0.43% karbon (C), 0.60-0.80% Mangan (Mn), 0.035%(max) Fosfor (P), 0.04%(max) Sulfur (S), 0.15-0.30% Silicon (Si), 0.70-0.90% Chromium (Cr), 1.65-2.00% Nikel (Ni), 0.20-0.30% Molybdenum (Mo), dan besi sebagai logam dasarnya (Fe). Memiliki kekuatan dan malleability yang baik. Selain itu, juga memiliki ketahanan aus yang baik, durabilitas yang baik, ketahanan fatik yang baik dan juga merupakan konduktor panas yang buruk.

Aluminum 7075: Merupakan paduan aluminum series 7xxx Al-Zn-Mg-Cu yang memiliki kekeuatan yang tinggi dan memiliki ketahanan terhadap Merupakan paduan aluminum series 7xxx Al-Zn-Mg-Cu yang memiliki kekeuatan yang tinggi dan memiliki ketahanan terhadap stress corrosion cracking yang cukup baik (moderate).

Aluminum 6061T6: Merupakan aluminum dengan kualitas yang baik dimana meiliki sifat mekanik dan ketahanan korosi yang baik. Merupakan aluminum dengan kualitas yang baik dimana meiliki sifat mekanik dan ketahanan korosi yang baik. T6 menunjukkan bahwa material tersebut diperoleh dari artificial aging. Komposisi dari aluminum 6061 adalah 0,15 – 0,4% Copper (Cu), 0,1% Mangan (Mn), 0.4-0.8% Silicon (Si), 0.04-0.35% Chromium (Cr), 2,2 – 2,8% besi (Fe), 0,45% Magnesium (Mg), 0,1 %max Zinc (Zn), 0,15 %max titanium (Ti)

Desain dan Pemilihan Material

Aluminum 5083: Terdiri dari 5,2% magnesium (Mg), 0,1% Mangan (Mn), 0,1% kromium (Cr). Pada kondisi temper memiliki Terdiri dari 5,2% magnesium (Mg), 0,1% Mangan (Mn), 0,1% kromium (Cr). Pada kondisi temper memiliki kekuatan yang baik, formability yang baik dan juga ketangguhan yang baik. Selain itu juga memiliki ketahanan korosi yang baik, densitas yang rendah, namun konduktifitas termal tinggi.

CFRP: Merupakan carbon fiber reinforced polymer/plastic memiliki kekuatan yang baik, high strength to weight ratio¸ kekakuan Merupakan carbon fiber reinforced polymer/plastic memiliki kekuatan yang baik, high strength to weight ratio¸kekakuan baik, ketahanan korosi baik.

GFRP: Merupakan glass reinfored plastic dimana sangat ringan, kekuatan tinggi, strength to weight ratio yang baik Merupakan glass reinfored plastic dimana sangat ringan, kekuatan tinggi, strength to weight ratio yang baik dan ketahanan korosi yang baik

Aramid Epoxy Matrix: merupakan material dengan ketahanan impak yang tinggi, densitas yang rendah, kekuatan yang jauh lebih tinggi merupakan material dengan ketahanan impak yang tinggi, densitas yang rendah, kekuatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan baja, modulus kekakuan yang tinggi, tahan akan korosi, tahan akan api (dimana tanki CNG juga memerlukan sifat ini), koefisien termal ekspansi rendah.

d. Scaled property and WP Index

 

1

2

3

4

5

6

7

8

9

 

Material

Yield

Fracture

Modulus

Toughness

Index

 

Ekspansi

Konduktivitas

Specific

 

Weighted

Strength

[Mpa]

toughness

[Mpa m-1/2]

elastisitas

[Gpa]

Densitas

[ g/cm3]

thermal

[10-6/oC]

panas

[W/moC]

heat

[J/gK]

Corrosion

Resistance

property index

AISI 4130

24,3

100,0

93,2

100,0

17,8

2,4

0,4

62,9

100,0

63,9

AISI 4340

26,4

37,0

94,1

95,0

17,8

2,4

0,9

61,9

100,0

50,9

Aluminum 5083

12,7

31,9

32,0

1,7

52,6

1,2

0,2

33,3

100,0

29,0

Aluminum 6061 T6

15,4

21,6

31,4

35,3

51,9

1,3

0,1

34,5

50,0

29,3

Aluminum 7075

28,2

17,8

32,3

42,0

50,0

1,3

0,1

31,3

50,0

31,9

GFRP (E-glass fiber epoxy matrix)

33,5

44,4

20,5

13,2

66,7

4,5

100,0

100,0

100,0

44,0

CFRP (high modulus carbon fiber epoxy

27,9

33,3

100,0

1,3

82,4

100,0

2,2

40,0

100,0

46,3

Desain dan Pemilihan Material

matrix)

                   

Aramid Fibre Epoxy Matrix Composite

100,0

51,9

34,5

24,7

100,0

7,5

35,1

27,3

100,0

60,6

e. Ranking Materials

     

Weighted Property Index

   

Material

Relative Cost (a)

Cost of Unit Strength x 100

Figure of Merit

Rank

AISI 4130

1,0

0,0

63,9

3.538,5

1

AISI 4340

3,1

0,1

50,9

998,6

3

Aluminum 5083

3,0

0,0

29,0

834,0

5

Aluminum 6061 T6

3,4

0,0

29,3

887,6

4

Aluminum 7075

11,3

0,1

31,9

511,0

6

GFRP (E-glass fiber epoxy matrix)

27,5

0,1

44,0

457,6

7

CFRP (high modulus carbon fiber epoxy matrix)

250,0

0,9

46,3

54,4

8

Aramid Fibre Epoxy Matrix Composite

68,8

0,1

60,6

1.126,1

2

IV. Kesimpulan

Dari Hasil seleksi desain yang telah dilakukan untuk tanki CNG berdasarkan sifat – sifat yang dibutuhkan dan kesesuaiannya maka dibandingkan dengan 7 material lainnya, material AISI 4130 merupakan material yang paling sesuai untuk tanki CNG karena sifat nya sudah memenuhi standar yang dibutuhkan untuk tanki CNG dan harganya pun relatif lebih murah dibandingkan dengan yang lain dan juga ketersediannya mudah untuk didapatkan.

Desain dan Pemilihan Material

Referensi

1. United States Environmental Protection Agency. Clean Alternative Fuels: Compressed Natural Gas. EPA Alternative Fuels, 2002.

2. Natural Gas Vehicle Statistics Section. Natural gas vehicle statistics. NGV Global International Association for Natural Gas Vehicles. 2011 diakses pada tanggal 9 Maret 2012 pukul 20.15 WIB (http://www.iangv.org/tools-resources/statistics.html)

3. Advantages CNG diakses pada tanggal 9 Maret 2012 pukul 20. 34 WIB (http://www.gailonline.com/gailnewsite/businesses/citygasdistributionadvantage.html)

4. Clean Vehicle Education Foundation. How Safe are Natural Gas Vehicles?. Technology Commitee Bulletin, 2010

5. Operations Division. Presentation of Firefigther Near Miss – Auto Fire with Compressed Natural Gas (CNG) Fuel Tank Explosion. Seattle:

City of Fire Dept. Seattle. 2007

6. Christine, Scott Gable. How Safe is Natural gas?. Alternative Fuels. Diakses pada tanggal 9 Maret 2012 pukul 20.45 WIB (http://alternativefuels.about.com/od/naturalgaspropane/a/safenaturalgas.htm)

7. Wibowo, Edi , Yusep K. Caryana. Presentation of the 5th Asian Petroleum Technology Symposium “Fuel Quality Improvement & Technology Development” - Gas Quality Challenges to Support Developing of Natural Gas as Fuel for Vehicles in Indonesia. Jakarta:

Research and Development Centre for Oil and Gas Technology “Lemigas”. 2007

8. Bhattacharjee, G, S. Bhattacharya, S. Neogi, S.K. Das. “CNG cylinder burst in a bus during gas filling – lesson learned”. Safety Science 48 (2010): 1516 -1519

Desain dan Pemilihan Material

9. Wibowo, Edi , Yusep K. Caryana. Presentation of the 4th Asian Petroleum Technology Symposium – Compressed Natural Gas (CNG) Utilization Policy to Improve Urban Air Quality. Cambodia: Research and Development Centre for Oil and Gas Technology “Lemigas”.

2006

10. Gambone, Livio. Presentation of NG Transit Users Group Meeting – CNG Cylinders 101. Lawrenceville: Powertech. 2005

11. CNG United. How does CNG Conversion Work. CNG United. Diakses pada tanggal 9 Maret 2012 pukul 21.00 WIB (http://www.cngunited.com/support/how-does-cng-conversion-work)

12. Ashby, Michael F. Materials Selection in Mechanical Design 2nd Edition. Butterworth Heinemann, 1999

13. Sirosh, Neel. Workshop of ARPA – E Natural Gas Vehicle Technologies – Compressed Natural Gas On – Board Storage. Houston. 2012

14. Marwoto, Heru A, Djoko W. Karmiadji. “Analisis Tabung CNG Baja AISI 4130 untuk Bis Terhadap ISO 11439”. M.P.I. Vol.2 No.1 (2008):

66 - 73