Anda di halaman 1dari 28

INSIDER TRADING: SUATU TINJAUAN HUKUM DAN EKONOMI

AGA PARSAORAN SAMUEL MARPAUNG Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII Fakultas Hukum Universitas Indonesia

These defendants developed their sources of information in the hopes of running that insider trading business as a money-making machine, and for a little while it worked, netting millions of dollars. Michael J. Garcia Former U.S. Attorney for the Southern District of New York

I.
I.1.

INSIDER TRADING
Pengertian Insider Trading Insider Trading adalah:

Perdagangan efek yang dilakukan oleh mereka yang tergolong orang dalam perusahaan (dalam artian luas), perdagangan mana didasarkan atau dimotivasi oleh adanya suatu informasi orang dalam.1 Sedangkan menurut The Council of Europes Convention yang diadaptasi oleh beberapa negara antara lain Luxemburg dan Italia, Insider Trading didefinisikan sebagai berikut:

irregular operation on an organized stock market, carried out by a president, or a member of a board of directors or other administrative or supervisory organ, or an authorized agent or employee of an issuer of securities, who knowingly uses information, not yet disclosed to the public, which is likely to have significant influence on the stock market, with a view to securing an advantage to himself or a third party.2 [kegiatan yang tidak beraturan dalam suatu pasar saham yang terorganisir, yang dilakukan oleh presiden direktur, atau anggota dewan direksi atau organ administratif/ atasan lain, atau agen atau karyawan yang telah mendapat persetujuan dari perusahaan yang
Reno Rahmat Fajar, Transaksi Berdasarkan Pelaksanaan Keterbukaan Informasi (Suatu Perspektif Insider Trading), <http://www.lkht.net/artikel_lengkap.php?id=31>, diunduh 3 Januari 2012. 2 Asril Sitompul, Pasar Modal: Penawaran Umum dan Permasalahannya, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 142.
1

Page

1 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

mengeluarkan saham dimana ia diketahui telah menggunakan informasi yang belum diumumkan kepada publik yang mengakibatkan dampak yang signifikan pada pasar saham untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri atau pihak ketiga.] Batasan pengertian insider trading pada mulanya hanya mengenai transaksi yang dilakukan oleh orang dalam. Namun seiring dengan perkembangan zaman, batasan insider trading menjadi banyak sekali karena peraturan-peraturan yang dibuat harus disesuaikan dengan kebutuhan agar dapat tercipta suatu keteraturan dalam pasar modal dengan mengakomodasi seluruh pihak yang bersangkutan tanpa harus ada yang merasa dirugikan. Sedangkan Donald C. Langervoort memberikan definisi insider trading yang luas sebagai:

A term of art that refers to unlawful trading in securities by person who posses material non public information about company whose shares are traded or the market for it shares.3 [Suatu keadaan yang merujuk pada transaksi illegal dalam perdagangan saham yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki material non-public information mengenai perusahaan yang sahamnya diperdagangkan atau keadaan pasar untuk saham tersebut.] Kemudian definisi insider trading lainnya diberikan oleh Harry J. Weiss, Associate Director dari Division of Enforcement Securities and Exchange Commission menjelaskan:

Purchasing or selling securities while in possession of material non public information concerning such securities, or tipping such information, where the trader or tipper breaches a fiduciary duty or a duty arising out of relationship of trust or confidence.4 [Membeli atau menjual suatu saham yang terkait dengan material non-public information, atau memberitahukan (tipping) informasi tersebut dimana pihak yang melakukan perdagangan atau memberikan informasi tersebut melanggar fiduciary duty atau segala kewajiban yang timbul akibat hubungan kepercayaan atau kerahasiaan.] Dengan demikian keterbukaan informasi menjadi hal yang fundamental bagi para investor, maka dalam setiap transaksi sekuritas, informasi tersebut akan dijadikan acuan bagi investor untuk mengambil keputusan menginvestasikan modalnya dalam Pasar Modal. Harga saham akan terkoreksi, sehingga nilai per saham akan naik jika ada informasi material yang positif mengenai

Page

Najib A. Gisymar, Insider Trading dalam Transaksi Efek, cet. 1, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), hal. 31-33. Priyatno Yoopie TS., Perdagangan oleh Orang Dalam dan Penggunaannya oleh Otoritas Pasar Modal (Suatu Studi Perbandingan Pasar Modal Indonesia dan Amerika Serikat), (Skripsi Sarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 1997), hal. 68.
4

2 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

saham tersebut. Sebaliknya dengan informasi material yang negatif, maka secara otomatis harga saham akan turun.5 Harga saham yang ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan informasi seperti ini, dapat berpotensi menyebabkan terjadinya praktik insider trading, dengan cara menyebarkan informasi material mengenai Emiten yang belum menjadi informasi publik (non public information) untuk digunakan dalam perdagangan saham.6 Perkembangan Pasar Modal Indonesia telah membawa dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan perekonomian dalam sektor perdagangan Efek. 7 Sebagai salah satu indikator perekonomian, Pasar Modal sebagai salah satu sub industri keuangan mempunyai karakter yang sangat spesifik dalam perdagangan sahamnya. Keterbukaan informasi menjadi sangat signifikan bagi investor untuk memilih dan menempatkan investasi mereka pada portofolio Efek yang ditawarkan dalam pasar perdana maupun pasar sekunder, sehingga pilihan investasinya pada salah satu portofolio Efek dapat menghasilkan keuntungan.

II.

SANKSI DAN LATAR BELAKANG PELARANGANNYA


Perdagangan dengan informasi orang dalam (insider trading) adalah tindakan berbahaya

dan merugikan bagi pasar modal, insider trading itu sendiri dapat diartikan juga dengan kolusi yang memang harus diberantas karena sangat merugikan dan menimbulkan ketidakadilan bagi para pelaku pasar modal. Dalam Undang-Undang Pasar Modal, insider trading memang digolongkan sebagai tindak pidana dengan sanksi pidana cukup berat yaitu maksimum 10 (sepuluh) tahun penjara dan denda maksimum Rp. 15.000.000.000,- (lima belas miliar Rupiah). Sedangkan yang menjadi latar belakang pelarangannya itu sendiri karena tindakan tersebut dapat menimbulkan bahaya bagi, antara lain: 8 II.1. Mekanisme Pasar yang Fair dan Efisien

Page

Secara teoritis, tren dari harga saham dapat berfluktuasi bilamana ada informasi yang benar-benar signifikan terhadap saham tertentu. Donald Moody Pangemanan, Peraturan Insider Trading dalam Pasar Modal Indonesia: Studi Mengenai Penerapan Teori Penyalahgunaan dalam Praktik Insider Trading. Jurnal Hukum dan Pasar Modal (Juli 2005), hal. 48-49. 6 Ibid. 7 Sofyan A. Djalil, Manipulation and Insider Trading, (Makalah disampaikan dalam Pendidikan dan Latihan Modul Capital Market Studies Program (CMSP) Bagi Profesi Penunjang untuk Konsultan Hukum Pasar Modal, Jakarta, 10-28 Juni 1996), hal. 1. 8 Munir Fuady, Pasar Modal Modern (Tinjauan Hukum), cet. 1, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 168169.

3 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

Dapat diibaratkan bahwa jika suatu insider trading tidak dilarang, maka berjalannya pasar adalah seperti berjalannya sebuah mobil tanpa minyak pelumas. Hal ini disebabkan karena: a. Pembentukan Harga yang Tidak Fair (Informed Market Theorie) Jika ada insider trading, akan tidak terbentuk harga yang fair berhubung kurangnya informasi tentang keadaan barang yang sebenarnya. Padahal harga yang fair tersebut merupakan sinyal yang akurat mengenai jumlah sumber daya yang perlu dialokasi. 9 b. Perlakuan yang Tidak Adil di Antara Para Pelaku Pasar (Market Egalitarism atau Fair Play Theorie) Suatu pasar yang baik adalah pasar dimana semua anggota pasar diperlakukan secara sama dan adil. Dan, di pasar modal, semua pelaku berhak atas informasi yang sama. Sedangkan dengan adanya insider trading, maka hanya sebagian kecil atau bahkan satu orang saja yang mempunyai informasi tertentu.10 c. Berbahaya bagi Kelangsungan Hidup Pasar Modal Jika keadaan pasar tidak fair, akan banyak orang meninggalkan pasar modal yang bersangkutan untuk beralih ke pasar modal di negeri lain ataupun ke jenis-jenis investasi lainnya. Maka dengan begitu, eksistensi pasar modal yang bersangkutan akan terancam.11

II.2.

Berdampak Negatif Bagi Emiten Dengan adanya insider trading, pihak investor akan hilang kepercayaannya terhadap Emiten

itu sendiri. Dan, sekali nama baik Emiten jatuh, akan sulit baginya untuk berkembang atau menambah permodalan selanjutnya. Bahkan mungkin saja pihak pelaku insider trading tersebut berbuat hal-hal yang merugikan Emiten agar berfluktuasi, sehingga dia dapat mengambil keuntungan dari kejadian tersebut. Unjust Enrichment (memperkaya diri secara tidak sah dengan memiliki apa yang bukan haknya).

II.3.

Kerugian Materiil Bagi Investor Memang dengan terjadinya perbuatan yang dapat digolongkan ke dalam insider trading ini,

maka pihak investor akan mengalami kerugian secara langsung. Mungkin dia telah membeli surat berharga dengan harga yang terlalu mahal, ataupun menjualnya dengan harga yang terlalu murah.

Page

Ibid., hal. 168. Ibid. 11 Ibid., hal. 168-169.


10

4 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

Bahkan investor dapat dikatakan telah dikhianati oleh pihak insider trader tersebut. Padahal dimana-mana, perlindungan publik (investor) selalu menjadi fokus inti dari pengaturan hukum di bidang pasar modal.12

II.4.

Kerahasiaan Itu Miliknya Perusahaan (Business Property Theory) Informasi rahasia itu miliknya perusahaan sesuai dengan asas pengakuan hak milik

intelektual. Karena itu, tidaklah pada tempatnya milik perusahaan tersebut dimanfaatkan oleh pihak lain selain perusahaan itu sendiri.13

III.

SYARAT TERJADINYA INSIDER TRADING


Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal sendiri tidak memberikan

batasan insider trading secara tegas. Undang-Undang Pasar Modal hanya memberikan batasan terhadap transaksi yang dilarang antara lain yaitu Orang dalam dari emiten yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan transaksi penjualan atau pembelian atas efek emiten atau perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan.14 Berdasarkan batasan tersebut di atas, maka dapat ditentukan bahwa perdagangan efek dapat tergolong sebagai praktek insider trading apabila memenuhi 3 (tiga) unsur minimal yaitu: 1. Adanya orang dalam; 2. Informasi material yang belum tersedia bagi masyarakat atau belum disclosure; dan 3. Melakukan transaksi karena informasi material.

III.1.

Pihak-Pihak yang Termasuk Sebagai Insider Trading (Yang Dimaksud Orang Dalam) Undang-Undang Pasar Modal lewat penjelasan resmi atas Pasal 95 memberi arti kepada

orang dalam sebagai pihak-pihak yang tergolong ke dalam:15 1. Komisaris, Direktur atau pegawai perusahaan terbuka. 2. Pemegang saham utama perusahaan terbuka.

Page

Ibid., hal. 169. Ibid. 14 Indonesia (A), Undang-Undang Tentang Pasar Modal, UU No. 8 Tahun 1995, LN No. 64 tahun 1995, TLN No. 3608, Ps. 95. 15 Ibid., Penjelasan Ps. 95.
13

12

5 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

3. Orang yang karena kedudukannya, profesinya atau karena hubungan usahanya dengan perusahaan terbuka memungkinkan memperoleh informasi orang dalam. Dengan kedudukan disini dimaksudkan sebagai lembaga, institusi atau badan pemerintahan. Sementara yang merupakan hubungan usaha adalah hubungan kerja atau kemitraan dalam kegiatan usahanya, seperti nasabah, pemasok, kontraktor, pelanggan, kreditur, dan lain-lain. 4. Pihak yang tidak lagi menjadi pihak sebagaimana tersebut dalam angka 1, 2, dan 3 tersebut sebelum lewat jangka waktu 6 (enam) bulan. Kata kedudukan dalam Penjelasan Pasal 95 huruf c Undang-Undang Pasar Modal tersebut adalah jabatan pada lembaga, institusi, atau badan Pemerintah. Hubungan usaha yang dimaksud dalam Penjelasan Pasal 95 huruf c tersebut adalah hubungan kerja atau kemitraan dalam kegiatan usaha, antara lain hubungan nasabah, pemasok, kontraktor, pelanggan dan kreditur. Profesi yang dimaksud dalam Penjelasan Pasal 95 huruf c tersebut, misalnya adalah Konsultan Hukum atau Pengacara.16 Ada juga yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan orang dalam adalah para pemegang saham dari suatu perusahaan terbuka yang juga menjabat suatu posisi eksekutif. Juga terhadap para pedagang menurut jabatannya, seperti yang dibedakan dari seorang anggota dari masyarakat yang menanam modalnya, yang dikenal sebagai seorang insider atau lamb.17 Dengan kata lain, yang termasuk orang dalam pada Penjelasan Pasal 95 Undang-Undang Pasar Modal tersebut adalah Corporate Insiders. Secara teknis Corporate Insiders dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:18 1. Traditional Insiders Traditional Insiders merupakan pihak yang berada dalam fiduciary position (pihak yang wajib menjalankan fiduciary obligation di dalam perusahaan) di dalam Emiten atau Perusahaan Publik. Yang termasuk dalam traditional insiders adalah Komisaris, Direktur, Pegawai, Pemegang Saham Utama Emiten atau Perusahaan Publik. 2. Temporary Insiders
Law Office atau Law Firm di Amerika Serikat mempunyai kebijakan dalam usaha melindungi atau menjaga informasi orang dalam. Lebih lanjut lihat Business and Corporations Law Section Los Angeles County Bar Association, Report on Law Firm Policies Relating to Confidentiality and Safeguarding Inside Information, 21 Maret 1985, hlm. 1-7. 17 A. Abdurrahman, Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan, (Jakarta: PT Pradnya Paramita, 1991), hal. 540. 18 Gustiyudha E. U. et. al., Penegakan Hukum Praktek Insider Trading di Indonesia, <http:// http://www.scribd.com/doc/32239908/PENEGAKAN-HUKUM-PRAKTEK-INSIDER-TRADING-DI-INDONESIA>, diakses 4 Januari 2012.
16

Page

6 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

Temporary Insiders atau Quasi Insiders adalah pihak luar perusahaan mempunyai hubungan trust dan confidence dengan perusahaan atau mempunyai hubungan jangka pendek yang mengakibatkan fiduciary obligations mereka kepada perusahaan. Oleh karena hubungan tersebut memungkinkan pihak luar tersebut memperoleh inside information. Yang termasuk dalam temporary insiders adalah konsultan hukum, notaris, akuntan atau penasihat keuangan dan investasi, serta pemasok atau kontraktor yang bekerja sama dengan Emiten atau Perusahaan Publik tersebut.

III.2.

Informasi Orang Dalam (Inside Information) Menurut Undang-Undang Pasar Modal, yang dimaksud dengan informasi orang dalam

adalah informasi (dalam bentuk apapun termasuk mengenai suatu fakta) yang material sifatnya, yang dimiliki oleh orang dalam yang belum tersedia untuk umum. 19 Sementara menurut Pasal 1 angka 7, informasi atau fakta material adalah informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian atau fakta yang dapat mempengaruhi harga efek pada Bursa Efek dan/ atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut. Ada juga yang memberi pengertian kepada inside information sebagai segala sesuatu yang merupakan kejadian dalam perusahaan (corporate affairs) yang belum terbuka untuk umum, dimana pihak officers dari perusahaan yang bersangkutan telah terlebih dahulu mengetahui informasi tersebut, misalnya jika perusahaan akan melakukan akuisisi, atau earnings report yang terakhir berbeda jauh dengan informasi yang telah terlebih dahulu di-release. Informasi tersebut tidak dibenarkan untuk menjadi dasar pertimbangan dalam hal melakukan perdagangan.20 Mengenai jenis-jenis informasi atau fakta material yang harus diumumkan segera selambatlambatnya di akhir hari kerja kedua kepada masyarakat dan diberitahukan kepada Bapepam, diberikan contoh-contoh informasi yang dimaksudkan dalam Peraturan No. X.K.1 tentang Keterbukaan Informasi yang Harus Segera Diumumkan Kepada Publik, menyebutkan peristiwa, informasi, atau fakta material yang diperkirakan dapat mempengaruhi harga efek atau keputusan investasi, antara lain:

19 20

Indonesia (A), Loc. Cit.. Jack P. Friedman, Dictionary of Business Terms (New York, USA: Barons Educational Series, Inc., 1987), hal.

Page

288.

7 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

1) Penggabungan usaha (merger), pembelian atau pengambilalihan saham (acquisition), peleburan usaha (consolidation), atau pembentukan usaha patungan (joint venture); 2) Pemecahan saham atau pembagian dividen saham; 3) Pendapatan dari dividen yang luar biasa sifatnya; 4) Perolehan atau kehilangan kontrak penting; 5) Produk atau penemuan baru yang berarti; 6) Perubahan dalam pengendalian atau perubahan penting dalam manajemen; 7) Pengumuman pembelian kembali atau pembayaran efek yang bersifat utang; 8) Penjualan tambahan efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang material jumlahnya; 9) Pembelian atau kerugian penjualan aktiva yang material; 10) Perselisihan tenaga kerja yang relatif penting; 11) Tuntutan hukum yang penting terhadap perusahaan dan/ atau direktur dan komisaris perusahaan; 12) Pengajuan tawaran untuk pembelian efek perusahaan lain; 13) Penggantian akuntan yang mengaudit perusahaan; 14) Penggantian wali amanat; 15) Perubahan tahun fiskal perusahaan.21 Kelima belas hal tersebut di atas hanyalah merupakan contoh-contoh saja dari informasi atau fakta materil, yang tentunya masih terbuka bagi informasi atau fakta lainnya. Jadi sebenarnya, melihat akan adanya kewajiban disclosure dalam waktu yang cukup cepat dari kejadian atau keputusan penting dari suatu perusahaan terbuka, maka kecil ruang bagi pihak insider untuk melakukan trading.

III.3.

Terjadinya Perdagangan (Trading) Salah satu syarat yang harus dipenuhi agar terjadinya suatu insider trading adalah terjadinya

suatu perdagangan (trading), Sehingga apabila seseorang mempunyai informasi orang dalam tetapi belum terjadi transaksi, belumlah dapat dikatakan telah melakukan insider trading, tetapi mungkin telah melanggar kewajiban disclosure. Menurut Undang-Undang Pasar Modal, yang termasuk trading yang dilarang adalah:22 1) Orang dalam yang melakukan pembelian atau penjualan atas efek perusahaan dimana informasi berasal, serta efek perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan perusahaan terbuka tersebut; 2) Orang dalam yang mempengaruhi pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek tersebut;

21

M. Irsan Nasarudin dan Indra Surya, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2004), hal. Indonesia (A), Op. Cit., Ps. 95, 96 dan 97.

152-153.

Page

22

8 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

3) Orang dalam yang memberi informasi orang dalam kepada pihak lain manapun yang patut diduga dapat menggunakan informasi tersebut untuk melakukan penjualan atau pembelian atas efek tersebut; 4) Orang lain yang secara melawan hukum memperoleh informasi orang dalam dari orang dalam tersebut lalu digunakannya dengan untuk melakukan transaksi seperti angka 1, 2, dan 3 di atas; 5) Orang lain yang berusahan untuk memperoleh informasi orang dalam secara tidak melawan hukum, tetapi penyediaan informasi tersebut dengan pembatasanpembatasan (seperti kewajiban merahasiakan), kemudian menggunakan informasi tersebut dengan cara-cara seperti dimaksud dalam angka 1, 2, dan 3 tersebut; 6) Perusahaan efek yang memiliki informasi orang dalam arti suatu perusahaan terbuka yang melakukan transaksi seperti dimaksud dalam angka 1, 2, dan 3 tersebut, dengan pengecualian bila transaksi dilakukan bukan atas perintah nasabah, dan perusahaan efek tersebut tidak memberikan rekomendasi kepada nasabahnya mengenai efek yang bersangkutan. Delik insider trading baru dapat dikatakan sempurna bila adanya pihak yang tergolong insider, memiliki informasi material yang masih rahasia, kemudian insider itu melakukan transaksi atas efek tersebut, barulah dapat dikatakan terjadi insider trading sehingga berdasarkan fakta tersebut dapat mulai dilakukan tindakan penyidikan dengan tindak pidana yang diatur dalam Pasal 95 Undang-Undang Pasar Modal.

III.4.

Pengecualian Terhadap Insider Trading Tidak semua informasi orang dalam yang diperdagangkan dapat dikategorikan sebagai

tindakan insider trading. Ini merupakan prinsip lain dari hukum pasar modal yang dianut di banyak negara. Sebaliknya ada juga peristiwa dimana informasi memang tidak perlu bahkan tidak boleh didisclose, tetapi juga tidak boleh menjadi dasar suatu trading.23 Bapepam telah mengeluarkan ketentuan yan berhubungan dengan kegiatan dari orang dalam atau pihak yang dikategorikan sebagai insider. Ketentuan tersebut tentang Transaksi Efek yang Tidak Dilarang Bagi Orang Dalam yang tertuang di dalam surat keputusan Ketua Bapepam No. Kep-58/PM/1998 yaitu Peraturan XI.C.1 yang dikeluarkan pada tanggal 2 Desember 1998. Dalam hal yang berhubungan dengan ketentuan tentang larangan atas transaksi yang berbau informasi material yang berasal dari orang dalam atau merupakan informasi yang diberikan oleh orang dalam. Larangan tersebut terdapat di dalam Pasal 95, 96, 97 dan 98.24

Page

Fuady, Op. Cit., hal. 180. Indra Safitri, Transaksi Efek Yang Tidak Dilarang Bagi Orang <http://www.geocities.com/improve_your_communication/samples.html>, diunduh 3 Januari 2012.
24

23

Dalam,

9 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

Bila kita kaitkan keluarnya peraturan XI.C.1 tersebut di tengah-tengah tuntutan dan masalah yang menyelimuti dugaan adanya kasus insider trading di saham Semen Gresik pada masa awal proses privatisasi,25 maka langkah Bapepam dengan membuat ketentuan tersebut tentunya memiliki alasan yang mungkin dapat dianalisis secara jernih, yaitu bahwa peraturan tersebut dikeluarkan langsung atau tidak langsung berhubungan dengan maraknya persoalan tentang perselingkuhan di pasar modal. Tidak hanya yang berkaitan dengan gegap gempitanya polemic di sekitar Semen Gresik, namun banyak transaksi lain yang juga diduga berbau insider trading. Kemudian dapat dilihat begitu banyak hal yang terjadi di sekitar persoalan yang berhubungan dengan langkah restrukturisasi sistem keuangan, yang menyebabkan berbagai langkah yang diambil oleh BPPN, dapat menyebabkan timbulnya kemungkinan peralihan ataupun transaksi yang berlandaskan kepada informasi yang material. Hak dan kewenangan yang dipergunakan oleh Bapepam adalah yang tercantum di dalam Pasal 99, yaitu Bapepam dapat menetapkan transaksi efek yang tidak termasuk transaksi efek yang dilarang sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 95 dan 96.26 Sehingga bila kita melihat isi daripada Peraturan XI.C.1, maka ketentuan yang berhubungan dengan transaksi orang dalam yang tidak
PT Semen Gresik (Persero) Tbk. merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pertama yang go public dengan menjual 40.000.000 (empat puluh juta) lembar saham atau 27% dari sahamnya kepada masyarakat pada tanggal 8 Juli 1991. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan 1997 tampaknya telah menjadi berkah tersembunyi bagi para pemodal internasional untuk memborong perusahaan-perusahaan Indonesia dengan harga sangat murah. Selain itu, krisis ekonomi telah menyebabkan semakin jauhnya pemerintah Indonesia terpuruk ke dalam perangkap utang. Untuk membiayai bunga utang yang bermuara pada deficit APBN tersebut, secara sangat halus pemerintah kemudian dipaksa untuk menjual BUMN dengan harga murah. Selanjutnya, krisis ekonomi juga telah menyebabkan pemerintah Indonesia terpaksa meminjam uang dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund atau IMF), dimana IMF kemudian mewajibkan pemerintah untuk melaksanakan sejumlah agenda reformasi ekonomi yang dikenal sebagai program penyesuaian struktural (Structural Adjustment Program). Salah satu di antaranya adalah program privatisasi atau penjualan BUMN. Akibatnya, sebagian besar BUMN yang berada dalam kondisi sehat kini berada dalam incaran para pemodal internasional. Pada awal bulan April tahun 1998, pemerintah melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) menyatakan akan melepas kepemilikannya di PT Semen Gresik untuk mendapatkan suntikan dana di tengah krisis. Pada pertengahan Mei 1998, tiga raksasa industri semen dunia mulai melakukan due diligence terhadap PT Semen Gresik, yakni PT Cemex (Meksiko), Holderbank (Swiss), dan Heidelberger Zement AG (Jerman). Guna memuluskan proses privatisasi BUMN itu, pemerintah menunjuk penasihat keuangan yang akan membantu tim privatisasi di bawah Departemen Pendayagunaan BUMN. Tiga penasihat swasta di luar Departemen Pendayagunaan BUMN, yaitu Bahana Sekuritas, Danareksa Sekuritas, dan Jardine Fleming. Kemudian, informasi mengenai rencana privatisasi PT Semen Gresik ini dimanfaatkan oleh perusahaan sekuritas yang juga merupakan penasihat keuangan PT Semen Gresik dalam proses privatisasi dan juga pihak-pihak tertentu yang berkaitan dengan membeli saham PT Semen Gresik (Persero) Tbk. untuk mendapatkan keuntungan. Dugaan itu muncul setelah melihat order transaksi pembelian saham PT Semen Gresik dalam jumlah besar dilakukan perusahaan sekuritas itu. Dari transaksi saham PT Semen Gresik, Bapepam mendata ada 90 (sembilan puluh) pihak yang diduga terlibat dan mengetahui proses privatisasi PT Semen Gresik. Dari jumlah itu, ada tiga pihak yang telah secara langsung diduga memperoleh keuntungan sekitar Rp 55 miliar. 26 Indonesia (A), Op. Cit., Ps. 99.
25

Page

10 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

dilarang dengan sendirinya secara jelas peraturan itu memperbolehkan transaksi dengan mempergunakan informasi orang dalam yang memenuhi ketentuan:27 1. Dimana transaksi dapat terjadi bila antara para pihak telah mengetahui informasi yang berkaitan dengan tujuan dari transaksi itu sendiri; 2. Dimana transaksi dapat dilakukan untuk dan dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati; 3. Dimana transaksi dapat berlangsung karena disebabkan oleh ketentuan hukum atau keputusan pengadilan. Sebagai contoh, para ahli independen, yang dengan keahlian dan ketajaman analisisnya, dia dapat mengetahui atau memperkirakan dengan persis apa yang sedang terjadi dalam suatu perusahaan, termasuk persoalan yang masih termasuk ke dalam golongan inside information. Maka apabila pihak analis tersebut misalnya melakukan trading, tidaklah pantas dia dipersalahkan dan dihukum karena telah melakukan insider trading.28 Sehingga apa yang disebut dengan bonafide insider transaction sering kali dianggap tidak melakukan insider trading. Jadi dalam hal ini, persoalan apakah si pelaku beritikad baik atau tidak merupakan faktor yang sangat menentukan. Sungguhpun diakui bahwa hal tersebut tidak selamanya mudah diketahui dalam praktik.29 Selain itu, ada juga informasi yang tidak perlu bahkan tidak boleh di-disclose, yaitu antara lain:30 1. Informasi yang belum matang untuk di-disclose. Misalnya sebuah perusahaan

pertambangan menemukan sumur baru yang belum begitu pasti; 2. Informasi yang apabila di-disclose akan dimanfaatkan oleh pesaing-pesaingnya, sehingga merugikan perusahaan tersebut; 3. Informasi yang memang sifatnya bersifat rahasia. Ini sering disebut rahasia perusahaan. Misalnya jika ada kontrak dengan pihak ketiga, tetapi dalam kontrak tersebut ada klausula yang menyatakan bahwa apa-apa yang ada dalam kontrak tersebut adalah bersifat rahasia di antara para pihak tersebut. Selain itu, pihak-pihak seperti konsultan hukum pasar modal, akuntan publik, appraiser, notaris, investment bankers, dan lain-lain juga terikat untuk tidak melakukan trading untuk saham
27 28

Page

Safitri, Loc. Cit.. Ibid., hal. 181. 29 Ibid. 30 Ibid.

11 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

dari emiten yang bersangkutan, berdasarkan teori yang dikenal dengan sebutan Contractual Obligation of Confidentiality.31 Dengan demikian, terdapat beberapa pengecualian terhadap delik insider trading, ada juga pengecualian bagi perusahaan efek atau pialang yang karena hubungan usahanya termasuk sebagai orang dalam, sebagaimana yang disebutkan oleh Pasal 98 Undang-Undang Pasar Modal, yaitu:32

Perusahaan Efek yang memiliki informasi orang dalam mengenai Emiten atau Perusahaan Publik dilarang melakukan transaksi Efek Emiten atau Perusahaan Publik tersebut, kecuali apabila: a. Transaksi tersebut dilakukan bukan atas tanggungannya sendiri, tetapi atas perintah nasabahnya; dan b. Perusahaan Efek tersebut tidak memberikan rekomendasi kepada nasabahnya mengenai Efek yang bersangkutan.

IV.
IV.1.

INDIKATOR TERJADINYA INSIDER TRADING


Return or Negative Return Tujuan melakukan insider trading adalah untuk memperoleh keuntungan yang tinggi

(abnormal return) lebih dari biasanya. Perolehan keuntungan abnormal return berindikasi kuat disebabkan oleh insider trading. Untuk menelisik perolehan keuntungan yang lebih tinggi, maka return dapat dijadikan salah satu indikator terhadap adanya dugaan insider trading.33

IV.2.

Return Volatility Dalam kegiatan perdagangan, terjadinya insider trading diindikasikan dengan adanya

volatilitas, yaitu suatu kecenderungan harga untuk berubah secara tidak terduga. Ada 2 (dua) tipe volatilitas, yaitu Fundamental Volatility dan Transitory Volatility. Fundamental volatility disebabkan oleh perubahan yang tidak diantisipasi pada nilai instrument, dan transitory volatility disebabkan oleh aktivitas perdagangan oleh pedagang yang tidak diketahui.34

IV.3.

Nilai Transaksi

Page

Ibid., hal. 173. Indonesia (A), Op. Cit., Ps. 98. 33 Arman Nefi, Return, Volatilitas, Nilai Transaksi, dan Dominasi Anggota Bursa Di Seputar Dugaan Insider Trading, (Tesis Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, 2005), hal. 33-34. 34 Ibid.
32

31

12 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

Nilai transaksi perdagangan saham akan terlihat sangat berbeda, apabila transaksi tersebut diduga mengalami insider trading, akan terdapat nilai transaksi yang sangat drastis dalam jangka waktu tertentu akibat adanya informasi material yang belum diungkap ke publik, tetapi digunakan oleh para insider. Dengan demikian nilai transaksi sangat penting untuk dijadikan sebagai salah satu indikator adanya dugaan insider trading.35

IV.4.

Dominasi Anggota Bursa Dominasi anggota bursa dapat dijadikan sebagai salah satu indikasi terjadinya insider

trading, karena akan terlihat pola-pola atau kebiasaan-kebiasaan anggota bursa dalam bertransaksi. Apakah suatu anggota bursa sangat dominan dalam melakukan transaksi suatu saham jika dibandingkan dengan transaksi anggota bursa yang lain. Walaupun para insider kemungkinan besar akan memecah atau mendistribusikan pesanan transaksinya pada beberapa anggota bursa, akan dapat terlihat dari kebiasaan anggota bursa bertransaksi pada perdagangan yang normal. 36

V.

PENERAPAN TEORI DISCLOSE OR ABSTAIN, FIDUCIARY DUTY, DAN MISAPPROPRIATION DALAM PERDAGANGAN EFEK DI PASAR MODAL INDONESIA

V.1.

Disclose or Abstain Theory Orang yang memiliki hubungan pekerjaan (orang dalam) dengan emiten dilarang melakukan

perdagangan terhadap sekuritas dari emiten tersebut karena adanya informasi yang belum terbuka kepada masyarakat investor. Mahkamah Agung Amerika dengan jelas menyatakan bahwa seseorang yang berposisi sebagai fiduciary diharuskan untuk membuka informasi yang dimilikinya kepada orang lain (investor).37 Berdasarkan informasi yang dimilikinya, maka orang dalam terhadap masalah tersebut dapat menentukan pilihannya, yaitu membuka informasi tersebut (disclose) kepada pedagang atau investor lain atau tidak membuka informasi material tetapi juga tidak boleh melakukan transaksi perdagangan (abstain) atau tidak merekomendasikan kepada pihak lain untuk melakukan transaksi

35 36

Page

Ibid. Ibid. 37 Gisymar, Op. Cit., hal. 39.

13 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

di bursa terhadap sekuritas perusahaan. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah disclose or abstain theory.38 Kewajiban untuk melakukan disclose or abstain tersebut mempunyai 2 (dua) unsur minimal, yaitu:39 1. Informasi orang dalam tersebut hanya untuk kepentingan perusahaan, dan bukan untuk kepentingan pribadi siapapun; 2. Merupakan suatu ketidakadilan (inherent unfairness) jika ada pihak yang mengambil keuntungan atas suatu informasi dimana dia mengetahui bahwa pihak lain tidak mengetahui informasi tersebut. Berdasarkan tradisi common law yang berkaitan dengan pasar modal, insider berkewajiban membuka kepada publik informasi material yang dimilikinya yang dapat mempengaruhi harga saham dan apabila tidak mau melakukannya, maka seharusnya tidak melakukan transaksi.40

V.2.

Fiduciary Duty Theory Fiduciary Duty Theory didasarkan kepada doktrin hukum common law yang menegaskan

bahwa setiap orang yang mempunyai fiduciary duty atau hubungan lain yang berdasarkan kepercayaan (trust or confidence) dengan perusahaan.41 Berdasarkan teori tersebut, siapa saja yang digaji oleh perusahaan untuk melaksanakan tugas yang diberikan, maka dia mempunyai duty kepada perusahaan untuk menjalankan tugas tersebut sebaik-baiknya (due diligence) dengan ukuran etis dan ekonomis yang tinggi. Dalam menjalankan tugasnya, yang bersangkutan tidak boleh mengambil manfaat bahkan harus mengorbankan kepentingan pribadi untuk kepentingan perusahaan.42 Teori ini banyak disebut para akademisi sebagai teori yang klasik, yang penerapannya dalam kasus-kasus insider trading modern sudah menjadi tidak efektif, oleh karena teori ini tidak mampu

Page

Langervoort, Op. Cit., hal. 69-71. Terdapat 2 (dua) pengecualian terhadap teori tersebut berdasarkan Rule 14e-3(c) Act of 1934, yaitu: Subsection (1) excludes purchase by a broker or by another agent on behalf of an offering person; (2) provides that sales by any person to the offering person are exclude from the abstain or disclose proscription. 39 Fuady, Op. Cit., hal. 178-179. 40 Gisymar, Op. Cit., Hal. 39-40. 41 Sofyan A. Djalil, Manipulation and Insider Trading, (Makalah Pendidikan dan Pelatihan Bagi Profesi Penunjang Untuk Konsultan Hukum Pasar Modal Angkatan VII, LMKA-BPLK, 21 Oktober-8 November 1996). 42 Fuady, Op. Cit., hal. 179.

38

14 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

untuk menjangkau para pelaku praktik insider trading yang tidak mempunyai fiduciary duty kepada perusahaan seperti secondary tippee.43 Sejarah perkembangan teori ini mulanya diterapkan secara ketat kepada para direksi professional yang mengelola perusahaan. Para direksi ini dituntut berdasarkan teori tersebut untuk menjaga kerahasiaan perusahaan. Sejalan dengan perkembangan Hukum Pasar Modal Amerika yang telah mempunyai tradisi yang sangat kuat dan telah melahirkan yurisprudensi yang baku, maka teori fiduciary duty digunakan oleh hakim-hakim common law dalam berbagai putusan pengadilan mengenai pelanggaran-pelanggaran dalam praktik insider trading. Untuk menentukan pelaku praktik insider trading, pengadilan mengadopsi teori tersebut sehingga melahirkan yurisprudensi dalam hukum pasar modal. Konstruksi hukum dari teori fiduciary duty secara tradisional menentukan bahwa komisaris, direksi, pemegang saham utama dan pegawai perusahaan adalah sebagai orang dalam (insiders).44 Komisaris dan direksi dikategorikan sebagai insider adalah didasarkan atas pertimbangan bahwa mereka termasuk orang yang diwajibkan memegang fiduciary obligation dalam hal loyalitasnya kepada perusahaan untuk menjaga setiap informasi milik perusahaan, sebab mereka memiliki informasi perusahaan yang paling sensitif. Begitu pula terhadap pemegang saham utama, apabila dilihat dari aspek hukum perusahaan, maka fiduciary obligation tetap dituntut dari mereka. Sebagai pengendali aktivitas perusahaan, akses untuk mendapatkan informasi setiap saat dapat dilakukan oleh pemegang saham utama. Sedangkan bagi pegawai perusahaan, loyalitas untuk menjaga kerahasiaan dituntut dengan standar integritas yang tinggi, mengingat setiap informasi material milik perusahaan dengan mudah didapat oleh pegawai perusahaan tersebut sebab pegawai tersebut adalah pelaksana dari tugastugas direksi, sebelum perusahaan tersebut berdasarkan peraturan di pasar modal diwajibkan mempublikasikan kepada publik setiap informasi material milik perusahaan. Dengan demikian, pengertian fiduciary duty berdasarkan doktrin common law adalah hubungan lain berdasarkan kepercayaan (trust or confidence).45 Konstruksi hukum teori fiduciary duty juga telah menjangkau serta telah menentukan setiap pihak di luar perusahaan yang mempunyai hubungan kerja dalam waktu yang pendek dengan perusahaan secara otomatis mempunyai fiduciary obligation kepada perusahaan, seperti konsultan
Donald Moody Pangemanan, Peraturan Insider Trading Dalam Pasar Modal Indonesia: Studi Mengenai Penerapan Teori Penyalahgunaan Dalam Praktik Insider Trading, Jurnal Hukum dan Pasar Modal 2 (Juli 2005) : 52. 44 Ibid. 45 Ibid., hal. 53.
43

Page

15 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

hukum, notaris, akuntan, penasihat investasi, dan underwriter, dan dalam Undang-Undang Pasar Modal disebut dengan orang dalam sementara (temporary insider atau quasi insider). Tetapi di lain pihak, berbagai kelemahan yang sangat signifikan ditunjukkan teori ini seperti dalam putusan pengadilan dalam perkara United States v. Chiarella, 588 F.2D 1358 (1978). United States v. Chiarella, putusan pengadilan tersebut menyatakan bahwa Chiarella, karyawan perusahaan Pandick Press yang mencetak surat-surat berharga di bidang perdagangan dan keuangan, mengetahui dari dokumen yang akan dicetak mengenai suatu rencana take over. Chiarella memanfaatkan informasi rencana take over tersebut dengan membeli saham perusahaan target take over. Ia memperoleh keuntungan pada saat informasi take over disampaikan oleh karena harga perusahaan tersebut naik. Chiarella tidak dikategorikan sebagai insider trading, walaupun pada mulanya ia dituntut atas dasar Section 10 (b) Securities Act 1993 dan Rule 10b-5 Securities Exchange Act 1934, yang melarang penipuan dalam perdagangan saham. Hal ini disebabkan Chiarella tidak memiliki fiduciary duty dengan perusahaan yang menjadi target dalam take over tersebut.46 Orang dalam yang mempunyai informasi material tetapi dia tidak membuka kepada publik dengan alasan apabila informasi tersebut dibuka maka dapat merugikan perusahaan dan berarti harus bertanggung jawab kepada perusahaan karena melanggar fiduciary duty, maka ia harus menahan atau tidak melakukan transaksi.47 Berkaitan dengan hal tersebut, Mahkamah Agung Amerika dalam kasus United States v. Chiarella48 mengatakan bahwa:

One who fails to disclose material information prior to consummation of transaction commits fraud only when he is under duty to do so. [Seseorang yang tidak mempublikasikan informasi yang bersifat material terlebih dahulu untuk digunakan dalam bertransaksi dianggap melanggar hukum hanya apabila ia memiliki kewajiban untuk melakukannya.] Dalam kasus ini, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan bahwa tidak ada kewajiban untuk mengungkapkan hubungan khusus yang timbul dari antara pembeli dan penjual, tidak ada tanggung jawab pidana menurut Section 10 (b) Securities Act 1993. Akan tetapi, tidak adanya keterbukaan bisa merupakan penipuan menurut Rule 10b-5 Securities Exchange Act 1934,

46 47

Page

Ibid., hal. 54. Djalil, Op. Cit., hal. 8. 48 Langervoort, Op. Cit., hal. 47-55.

16 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

bila ada kewajiban untuk mengungkapkan yang timbul dalam hubungan khusus. Pengadilan dalam kasus Chiarella tersebut berpendapat bahwa: Pertama, tidak ada kewajiban yang timbul dari transaksi impersonal market; dan kedua, tidak ada kewajiban secara luas untuk mengungkapkan yang semata-mata ada karena seseorang memiliki informasi non-publik. Namun dalam bagian lainnya dalam perkara ini, Hakim mempertimbangkan bahwa seseorang yang mempelajari dokumen rahasia sebuah perusahaan dalam hubungannya dengan pembelian atau penjualan saham sebelum saatnya informasi tersebut disampaikan kepada publik adalah termasuk dalam perbuatan melawan hukum.49 Seseorang yang melakukan transaksi sekuritas dengan mempergunakan informasi orang dalam sedangkan ia sendiri tidak mempunyai fiduciary duty kepada perusahaan, maka tidak dianggap melakukan insider trading.50 Pertimbangan tersebut dipergunakan oleh Mahkamah Agung Amerika dalam hal pertanggungjawaban hukum dari penerima informasi (tippee). Dalam kasus Dirk v. Securities Exchange Commission (SEC),51 Mahkamah Agung Amerika Serikat menyatakan:

The Tippees duty to disclose or abstain is derivative from the insider duty. [Kewajiban dari penerima informasi untuk mempublikasikan atau untuk tidak memberitahukan informasi tersebut sama dengan kewajiban dari orang dalam (insider)] Apabila seseorang memperoleh tip informasi dari orang dalam dan yang bersangkutan tidak melanggar fiduciary duty-nya kepada perusahaan, maka tidak ada larangan bagi penerima tip tersebut untuk melakukan trading.52 Dengan kelemahan teori seperti ini, maka Bismar Nasution mengatakan sebagai berikut:

Dengan demikian teori klasik insider trading yang menentukan bahwa suatu pelanggaran dalam insider trading adalah didasarkan kepada hubungan para pihak dalam transaksi atau mempunyai fiduciary duty. Apabila teori klasik insider trading ini dianut dalam menyelesaikan masalah insider trading, maka seseorang yang tidak mempunyai fiduciary duty, tetapi ia melakukan perdagangan saham dengan menggunakan material non-public information tidak dianggap melakukan insider trading. Akibat teori ini, apa yang diinginkan peraturan insider trading sebagai perlindungan investor tidak akan tercapai secara maksimal, karena teori klasik yang mendasarkan kategori insider kepada fiduciary duty memberikan kesempatan atau tidak ada larangan bagi seseorang yang tidak mempunyai
49 50

Page

Ibid., hal. 55. Djalil, Loc. Cit.. 51 Langervoort, Op. Cit., hal. 102-108. 52 Djalil, Loc. Cit..

17 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

fiduciary duty melakukan insider trading. Misalnya apabila tippee mendapatkan informasi fakta material dari insider dan tippee itu tidak melanggar fiduciary duty, maka tippee tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.53 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 jo. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas secara tidak langsung menganut prinsip fiduciary duty. Hal tersebut terdapat dalam Pasal 79 ayat (1) dan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 jo. Pasal 92 ayat (1) dan Pasal 98 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas. Berdasarkan kedua pasal tersebut dapat dikatakan bahwa direksi mempunyai wewenang ganda yaitu melaksaakan pengurusan dan menjalankan perwakilan perseroan.54

V.3.

Teori Penyalahgunaan (Misappropriation Theory) Missappropriation Theory adalah teori mengenai transaksi yang dilakukan oleh orang luar

perusahaan secara tidak sengaja berdasarkan informasi yang belum tersedia bagi masyarakat, maka dianggap sama dengan telah melakukan insider trading. Teori ini sangat komprehensif, artinya teori tersebut mampu menjangkau praktik transaksi efek yang dilakukan oleh seseorang berdasarkan informasi secara tidak langsung atau dengan kata lain teori tersebut dapat diterapkan terhadap orang yang mendapat tip dari orang dalam. Seorang penulis Amerika Serikat menyimpulkan bahwa:

Misappropriates material, nonpublic information from any source, and uses that information to his (her) advantage insecurities transaction, is guilty of insider trading.55 [Penyalahgunaan material non-public information yang diperoleh dari sumber manapun serta menggunakan informasi tersebut untuk keuntungan pribadinya, dinyatakan bersalah karena telah melakukan insider trading.] Teori Penyalahgunaan ini berkembang sejalan dengan timbulnya banyak permasalahan dalam pertanggungjawaban hukum insider, Securities Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat memperluas konsep kategori insider dengan menggunakan pendekatan melalui teori

penyalahgunaan. Menurut teori penyalahgunaan, seseorang tidak harus mempunyai pelanggaran


53

Page

Bismar Nasution, Diktat Kuliah Hukum Pasar Modal 2: Hukum Pasar Modal Dalam Perdagangan Saham, (Jakarta, Program Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Pancasila, 2001), hal. 25. 54 Fred B. G. Tumbuan, Fiduciary Duties Direksi Dalam Perseroan Terbatas Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1995, Newsletter, No. 23/Tahun VI (Desember 1995) : 2. 55 Ibid.

18 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

dari suatu fiduciary duty. Jadi, menurut teori penyalahgunaan, seseorang yang menggunakan informasi yang belum tersedia untuk publik milik orang lain dalam perdagangan saham dianggap telah melakukan insider trading. Seseorang tersebut adalah misappropriators, sama dengan pihak yang melakukan pelanggaran dari suatu fiduciary duty atau pihak yang mempunyai hubungan trust dan confidence dengan Emiten atau pemegang saham.56 Pasal 95 Undang-Undang Pasar Modal apabila dianalisis lebih jauh dengan memperhatikan teori-teori sebagaimana tersebut di atas, maka masih terdapat celah hukum yang dapat dipakai oleh orang dalam maupun tippee untuk melakukan transaksi efek yang dilarang atau insider trading. Pasal 95 Undang-Undang Pasar Modal, hanya menjangkau orang dalam kapasitas fiduciary duty, sehingga para pelaku yang masuk dalam kategori misappropriation theory hampir dapat dipastikan terhindar dari pelaksanaan Pasal 104 Undang-Undang Pasar Modal.57

V.4.

Kendala-Kendala yang Dihadapi dari Penerapan Teori Penyalahgunaan (Misappropriation) dalam Praktik Insider Trading di Pasar Modal Indonesia Kasus-kasus dugaan pelanggaran praktik insider trading di pasar modal Indonesia mulai

terungkap sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang Pasar Modal. Berdasarkan laporan tahunan Bapepam sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2001 dan press release-nya, Bapepam telah melakukan pemeriksaan atas kasus dugaan pelanggaran praktik insider trading di Pasar Modal Indonesia. Oleh karena itu, untuk menentukan lingkup pelakunya dalam suatu transaksi efek dikenal 3 (tiga) macam teori, yaitu Disclose or Abstain Theory, Fiduciary Duty Theory, dan Misappropriation Theory. Namun, kalau dilihat larangan insider trading dalam Undang-Undang Pasar Modal, maka doktrin Hukum Pasar Modal Indonesia hanya menentukan orang yang mempunyai fiduciary duty kepada perusahaan saja yang dianggap sebagai insider, dengan demikian teori Penyalahgunaan (Misappropriation) masih mengalami kendala untuk diterapkan dalam menentukan pelaku insider trading di pasar modal Indonesia. Disclose or Abstain Theory dapat diterima dengan baik di Amerika Serikat dalam kasus insider trading tradisional setelah kasus Chiarella v. United States. Tetapi teori tersebut gagal

Page

Pangemanan, Op. Cit., hal. 56. Setiap pihak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90, Pasal 91, Pasal 92, Pasal 93, Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97 ayat (1) dan Pasal 98 diancam pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 15.000.000.000,- (lima belas miliar Rupiah).
57

56

19 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

menangkap kasus-kasus insider trading yang dilakukan oleh orang yang melakukan transaksi berdasarkan informasi orang dalam tanpa melanggar fiduciary duty. Disclose or Abstain Theory dan Fiduciary Duty Theory dalam pelaksanaannya58 masih dianggap belum lengkap, hal ini disebabkan adanya transaksi efek berdasarkan informasi yang belum terbuka kepada masyarakat tetapi pelakunya tidak dapat dikenakan ketentuan mengenai insider trading. Berdasarkan kenyataan tersebut, Securities Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat memperluas konsep insider trading dengan mengembangkan konsep baru yang disebut Misappropriation Theory.59 Masalah yang sangat signifikan terjadi dalam pasar modal Indonesia adalah mengenai insider trading. Standar penentuan ketentuan hukum bagi kasus-kasus insider trading hanya dibatasi pada tanggung jawab yang menyangkut dengan doktrin fiduciary duty. Untuk menerapkan teori penyalahgunaan dalam konstruksi hukum pasar modal sehubungan terjadinya kasus-kasus insider trading, menjadi tidak jelas dan terhambat dengan masalah-masalah yang klasik, seperti peraturan pasar modal yang belum mengadopsi doktrin misappropriation dalam ketentuan larangan melakukan insider trading.60 Mencermati Undang-Undang Pasar Modal Indonesia dan peraturan-peraturan

pelaksanaannya yang dikeluarkan oleh otoritas pasar modal, maka rumusan dalam aturan-aturan mengenai larangan terhadap insider trading telah diatur dalam Pasal 95 sampai dengan Pasal 98 Undang-Undang Pasar Modal, tetapi peraturan ini sangat terbatas dan hanya dapat menjangkau pihak-pihak tertentu yang mempunyai fiduciary obligation sampai kepada penerima informasi (tippee), ketentuan-ketentuan mengenai perluasan peraturan larangan insider trading yang didasarkan pada teori Penyalahgunaan (misappropriation theory) tidak diatur sama sekali. Tidak adanya pengaturan mengenai larangan insider trading yang didasarkan pada teori Penyalahgunaan terlihat dari konstruksi yuridis larangan mengenai insider trading dalam UndangUndang Pasar Modal. Dalam penyusunan naskah Rancangan Undang-Undang Tentang Perubahan Undang-Undang Pasar Modal, tidak juga terlihat pasal yang secara khusus mengatur larangan insider trading yang mengacu pada teori Penyalahgunaan. Ketiadaan peraturan insider trading yang mengacu penuh pada teori Penyalahgunaan menjadikan pasar modal Indonesia berpotensi terhadap adanya pelanggaran praktik insider trading. Hal yang sama juga terlihat dalam peraturan
Khususnya di Amerika Serikat, sedangkan untuk kasus Indonesia permasalahan tersebut belum teruji dalam praktik transaksi efek. 59 Djalil, Op. Cit., hal. 9. 60 Pangemanan, Op. Cit., hal. 64.
58

Page

20 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

yang dikeluarkan oleh Bapepam yang belum memperhatikan pentingnya pengaturan secara khusus larangan insider trading yang didasarkan pada teori Penyalahgunaan. Melihat hal ini, seharusnya otoritas pasar modal reaktif merespons atas ketidakberdayaan hukum pasar modal yang menyangkut dengan insider trading.61 Dalam kaitannya dengan pengaturan larangan insider trading yang didasarkan pada teori Penyalahgunaan, Bismar Nasution menyatakan sebagai berikut:

Undang-Undang Pasar Modal Indonesia telah mengatur ketentuan kategori insider di luar traditional insider, seperti kategori insider sementara (temporary insider atau quasi insider), juga Undang-Undang Pasar Modal Indonesia telah mengatur ketentuan kategori seseorang disebut insider walaupun seseorang tersebut tidak mempunyai hubungan fiduciary duty, seperti terdapatnya ketentuan dalam Undang-Undang Pasar Modal Indonesia yang menentukan penerima informasi (tippee) sebagai insider. Namun, Undang-Undang Pasar Modal tersebut tidak mengatur ketentuan Pihak Lain yang menerima informasi tidak langsung dari insider, tetapi informasi diterima dari tippee yang lain (secondary tippee) sebagai kategori insider. Tidak adanya pengaturan secondary tippee sebagai insider menandakan Undang-Undang Pasar Modal Indonesia dalam mengatur kategori insider belum secara maksimal mengatur rambu-rambu insider trading dan keadaan pengaturan tersebut membuktikan Undang-Undang Pasar Modal Indonesia belum secara menyeluruh menerapkan pertanggungjawaban hukum insider trading sesuai dengan pendekatan teori Penyalahgunaan. Masalah yang menonjol dalam ketentuan insider trading sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang Pasar Modal Indonesia adalah pertama, berkaitan dengan ketentuan kategori insider yang belum cukup memadai. Di satu sisi, ketentuan kategori insider dalam Undang-Undang Pasar Modal telah ada kemiripan dengan yang berkembang di Pasar Modal Amerika Serikat mengenai kategori insider. Perkembangan penerapan teori Penyalahgunaan dalam pengaturan insider trading perlu untuk dikaji dalam rangka perlindungan investor dari praktik insider trading. Tanpa penerapan teori Penyalahgunaan akan menghadapi masalah dalam menentukan kategori insider dan sekaligus menjadi hambatan dalam menjaring pelaku-pelaku insider trading.62 Dengan belum diaturnya secara penuh peraturan mengenai larangan insider trading yang didasarkan pada konsep teori Penyalahgunaan, dapat berpengaruh juga terhadap independensi perusahaan sekuritas, sebab biasanya kasus-kasus insider trading cenderung melibatkan perusahaan sekuritas sebagai temporary insider.63

VI.

PRAKTEK INSIDER TRADING DI INDONESIA


61 62

Page

Ibid., hal. 65. Bismar Nasution, Keterbukaan Dalam Pasar Modal, cet. 1, (Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Program Pasca Sarjana, 2001), hal. 25. 63 Pangemanan, Op. Cit., hal. 66.

21 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

Sudah hampir lebih dari 31 tahun Pasar Modal Indonesia beroperasi dan berbagai upaya telah dilakukan untuk memajukan pasar modal sehingga pasar modal Indonesia dapat berkembang menjadi pendorong berkembangnya dunia usaha di negara kita. Pasar modal Indonesia telah mengalami serangkaian reformasi semenjak pertama kali beroperasi hingga s e k a r a n g . B u r s a efek yang dulu terbagi menjadi 2 (dua), yaitu BEJ (Bursa Efek Jakarta) dan B E S ( B u r s a E f e k S u r a b a y a ) s e k a r a n g t e l a h terintegrasi menjadi BEI (Bursa Efek Indonesia). Lembaga pengawasan pasar modal yang dulu belum terintegrasi pun, sekarang sudah terintegrasi menjadi BAPEPAM-LK (Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan) sejak Desember 2005. N a m u n , s a n g a t d i s a y a n g k a n m a s i h b a n y a k t e r j a d i p r a k t i k p r a k t i k p e l a n g g a r a n p r i n s i p k e t e r b u k a a n d i dalamnya. Pelanggaran tersebut tidak hanya dilakukan oleh emiten-emiten swasta tetapi juga banyak dilakukan oleh emiten BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Mulai dari pelanggaran kecil, seperti keterlambatan penyampaiaan informasi material perusahaan emiten, sampai dengan pelanggaran berat yangtermasuk tindak pidana pasar modal, seperti manipulasi pasar dan Insider Trading. Kasus-kasus ataupun dugaan praktek insider trading dalam pasar modal kita cukup banyak. Namun, t a k s a t u p u n d a r i kasus tersebut yang pernah dibawa dalam proses litigasi (peradilan

d i pengadilan).

VI.1.

Praktek Insider Trading dalam Kasus PT Bank Mashill Utama Tbk. PT Bank Mashill Utama Tbk. merupakan perusahaan publik yang mencatatkan sahamnya di

Bursa Efek Jakarta pada tanggal 22 April 1994. Komposisi kepemilikan saham PT Bank Mashill Utama setelah go public adalah sebagai berikut:
1. PT Mashill Asia Finance 2. PT Putra Kertawisejati 3. PT Sumatra Central Prima 4. Janti Tutty Surjati 5. A. T. Windoe dan Leo Yasin Satiadi 6. Edwin Jaya Wijayanto 7. Hariman Kosaki 8. Publik

40,68% 10,32% 23,96% 6,44% 3,79% 1,83% 0,55% 12,43% 100,00%

JUMLAH

Page

Jensen Kohardjo selain sebagai anggota Dewan Direksi PT Bank Mashill Utama, juga sebagai

22 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

Komisaris pada PT Sumatra Central Prima, dalam hal ini PT Sumatra Central Prima merupakan salah satu pemegang saham mayoritas PT Bank Mashill Utama. Jensen Kohardjo pada tanggal 8 dan 9 April 1996 mewakili PT Sumatra Central Prima menjual seluruh saham PT Bank Mashill Utama yang dimilikinya sebesar 23,96% atau sejumlah 26.069.500 lembar saham melalui pialang jual PT Surya Damai Securindo. Pada tanggal 11 April 1996, A. T. Windoe dan Leo Yasin Satiadi menjual seluruh saham PT Bank Mashill Utama yang dimilikinya sebesar 3,79%. Saham-saham PT Bank Mashill Utama tersebut dibeli oleh 2 (dua) investor besar, yaitu: Pertama, oleh Duncanmill Holding Inc. Yang berkedudukan di Virgin Island, yang dimiliki oleh konsorsium Titi Prabowo, Tito Sulistiyo, Jopie Wijaya serta Henry Tanoesoedibjo. Kedua, oleh Castlemere Enterprises milik Amir Gunawan yang berkedudukan di Singapura. Pembelian sahamsaham tersebut dilakukan melalui 5 (lima) investor beli pada tanggal 8 sampai dengan 15 April 1996; 23 April 1996; 7 Mei 1996; dan 31 Mei 1996. Harga saham PT Bank Mashill Utama per 1 April 1996 sebesar Rp 1.375,-, tetapi ketika saham tersebut dijual, terjadi kenaikan harga yang sangat signifikan yaitu Rp 2.700,- per lembar pada tanggal 9 April 1996. Besarnya jumlah saham PT Bank Mashill Utama yang ditransaksikan menimbulkan kecurigaan Bapepam, sehingga akhirnya Bapepam meneliti kasus tersebut, apakah telah terjadi insider trading atau tidak. Penjualan saham PT Bank Mashill Utama yang dimiliki oleh PT Sumatra Central Prima yang dilakukan oleh Jensen Kohardjo adalah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak manajemen PT Bank Mashill Utama maupun membuka informasi rencana tersebut kepada masyarakat. Penjualan saham PT Bank Mashill Utama sebanyak 23,69% merupakan suatu jumlah yang sangat signifikan. Penjualan saham tersebut oleh PT Sumatra Central Prima sebagai salah satu pemegang saham mayoritas PT Bank Mashill Utama sangat memungkinkan terjadinya perubahan komposisi manajemen perusahaan. Hal itu berkaitan erat dengan isu yang berkembang di lantai bursa bahwa Titi Prabowo (putri almarhum mantan Presiden Soeharto) akan duduk sebagai salah seorang direktur pada PT Bank Mashill Utama. Isu tersebut merupakan faktor penyebab naiknya harga saham PT Bank Mashill Utama dari Rp 1.375,- menjadi Rp 2.700,- per lembar saham. Tindakan Jensen Kohardjo tersebut di atas meupakan suatu fakta material yang seharusnya di-disclose kepada masyarakat. Penjualan saham PT Bank Mashill Utama yang dimiliki PT Sumatra

Page

23 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

Central Prima sangat memungkinkan sekali terjadi perubahan manajemen PT Bank Mashill Utama. Berdasarkan penelitian Bapepam, Jensen Kohardjo dinyatakan sebagai orang dalam terbukti melakukan insider trading dan untuk itu dikenakan denda sebesar Rp 500.000.000,- (lima ratus juta Rupiah). PT Bank Mashill Utama dikenakan denda Rp. 7.000.000,- (tujuh juta Rupiah) karena dianggap terlambat menyampaikan informasi kepada Bapepam mengenai fakta material yang terjadi. Bursa Efek Jakarta mendapat peringatan dari Bapepam karena terlambat mengambil tindakan terhadap kasus tersebut, sedangkan Tito Sulistio juga mendapat peringatan dari pihak Bapepam dengan alasan bahwa Tito Sulistio adalah Komisaris PT Bursa Efek Jakarta dan PT KDEI, sehingga segala tindakannya akan selalu diperhatikan oleh investor, sedangkan A. T. Windoe dan Leo Yasin Satiadi tidak dikenakan hukuman apapun, sebab mereka melakukan transaksi setelah harga saham tinggi artinya mereka tidak mengetahui terlebih dahulu mengenai rencana Jensen Kohardjo menjual saham PT Bank Mashill Utama yang dimiliki PT Sumatra Central Prima. Praktek Insider Trading dalam Kasus PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.64 Kasus PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. dengan kode emiten PGAS ini bermula dari terjadinya penurunan secara signifikan harga saham PGAS di Bursa Efek Indonesia, yaitu 23,36% dari Rp 9.650,- (harga penutupan pada tanggal 11 Januari 2006) menjadi Rp. 7.400,- per lembar saham pada tanggal 12 Januari 2007. Penurunan harga saham tersebut sangat erat kaitannya dengan siaran pers yang dikeluarkan manajemen PGAS sehari sebelumnya (11 Januari 2007). Dalam siaran pers tersebut dinyatakan bahwa terjadi koreksi atas rencana besarnya volume gas yang akan dialirkan, yaitu mulai dari (paling sedikit) 150 MMSCFD menjadi 30 MMSCFD. Selain itu, juga dinyatakan bahwa tertundanya gas in (dalam rangka komersialisasi) yang semula akan dilakukan pada akhir Desember 2006 tertunda menjadi Maret 2007. Informasi yang dirilis tersebut sebenarnya sudah diketahui oleh manajemen PGAS sejak tanggal 12 September 2006 (informasi tentang penurunan volume gas) serta sejak tanggal 18 Desember 2006 (informasi tertundanya gas in). Kedua informasi tersebut dikategorikan sebagai informasi yang material dan dapat memengaruhi harga saham di bursa efek. Hal tersebut tercermin dari penurunan harga saham PGAS pada tanggal 12 Januari 2007. Bahwa pada periode 12

VI.2.

Page

64

Gustiyudha E. U. et. al., Loc. Cit..

24 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

September 2006 sanpai dengan 11 Januari 2007, orang dalam PGAS yang melakukan transaksi saham PGAS yaitu: 1. Adil Abas (Mantan Direktur Pengembangan PGAS); 2. Nursubagjo Prijono; 3. W. M. P. Simanjuntak (Mantan Direktur Utama dan sekarang sebagai Komisaris PGAS); 4. Widyatmiko Bapang (Mantan Sekretaris Perusahaan PGAS); 5. Iwan Heriawan; 6. Djoko Saputro; 7. Hari Pratoyo; 8. Rosichin; dan 9. Thohir Nur Ilhami. Tentu saja ini melanggar Pasal 95 Undang-Undang Pasar Modal tentang perdagangan oleh orang dalam. Menurut Pasal 95 Undang-Undang Pasar Modal, orang dalam dari emiten atau perusahaan publik yang mempunyai informasi orang dalam dilarang melakukan pembelian atau penjualan atas efek emiten atau perusahaan publik dimaksud, atau perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan. Sementara dalam Pasal 96 disebutkan bahwa orang dalam dilarang memengaruhi pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek dimaksud; atau memberi informasi orang dalam kepada pihak mana pun yang patut diduganya dapat menggunakan informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek. Pasal 104 Undang-Undang Pasar Modal mengatur bahwa setiap pihak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90, Pasal 91, Pasal 92, Pasal 93, Pasal 95, Pasal 96, Pasal 97 ayat (1), dan Pasal 98 diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 15.000.000.000,- (lima belas miliar Rupiah). Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Bapepam-LK menetapkan sanksi administratif berupa denda terhadap kesembilan pengurus PGAS sebagai berikut: 1. Adil Abas 2. Nursubagjo Prijono 3. W. M. P. Simanjuntak 4. Widyatmiko Bapang 5. Iwan Heriawan 6. Djoko Saputro Rp Rp 30.000.000,53.000.000,-

Rp 2.330.000.000,Rp Rp 25.000.000,76.000.000,-

Page

Rp 154.000.000,-

25 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

7. Hari Pratoyo 8. Rosichin 9. Thohir Nur Ilhami

Rp

9.000.000,-

Rp 184.000.000,Rp 317.000.000,-

Sanksi tersebut menurut Bapepam, ditetapkan antara lain dengan mempertimbangkan pola transaksi dan akses yang bersangkutan terhadap informasi orang dalam. Dari contoh-contoh kasus di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Bapepam-LK sebagai otoritas dan regulator pasar modal kita kurang tegas dalam menindak-lanjuti kasus insider trading. Kebanyakan kasus hanya diselesaikan dengan pengenaan sanksi administratif yang kurang bisa menimbulkan efek jera bagi para pelaku tindak pidana pasar modal tersebut. Akibatnya para pelaku yang pernah melakukan praktik curang tidak akan terdisinsentif untuk tidak mengulangi perbuatannya. Seperti yang diungkapkan oleh Yanuar Rizqi, seorang praktisi hukum pasar modal, bahwa:

Dampak dari hilangnya penegakan sanksi pidana adalah efek jera. Sehingga, ruang gerak pelaku di kemudian hari tidak bisa dipersempit. Saat ini, jika ada yang menelusuri daftar hitam Bapepam-LK atau meriset publikasi media soal kecurangan pasar modal di Indonesia, hasilnya pasti mayoritas pelaku-pelaku yang melakukan tindak kecurangan adalah pihakpihak yang sama. Bapepam sepertinya enggan dalam menyelesaikan kasus-kasus tersebut ke prosses litigasi walaupun sebenarnya kasus tersebut merupakan tindak pidana pasar modal. Dalam makalahnya, Elfira Taufani menyebutkan bahwa keengganan Bapepam dalam membawa kasus tersebut ke dalam proses litigasi dikarenakan proses litigasi insider trading dan tindak pidana pasar modal lainnya cenderung memakan waktu dan biaya lama serta pembuktian dari kasus-kasus tersebut juga sulit. Jika keengganan yang menyebabkan tidak terlaksana proses pelaksanaan hukum pidana tersebut terus berlangsung maka dapat dipastikan lama-kelamaan pasar modal kita akan ambruk karena investor, baik domestik maupun asing, sudah tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap pasar modal. Pertumbuhan ekonomi akan melambat karena investor akan lebih memilih berinvestasi di pasar modal negara lain yang lebih sehat dan dapat dipercaya. Indra Safitri mengungkapkan bahwa pasar modal tidak akan menjadi instrumen penggerak investasi ekonomi apabila rapuhnya penegakan hukum masih belum dapat diselesaikan.

Page

26 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

CATATAN

Page

27 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII

CATATAN

Page

28 of 28 | Insider Trading: Suatu Tinjauan Hukum dan Ekonomi | Panitia Kompetisi Peradilan Semu Tingkat Nasional Piala Mutiara Djokosoetono VII