Anda di halaman 1dari 3

Catatan Kajian

Topik: Ramadan 2 Tanggal: Agustus 2012 Fasilitator: Bapak Muchlisin Aziz E-Mail: emuchtar@gmail.com Blog: http://chippingin.wordpress.com

TOPIK: RAMADAN 2 (NUZULUL QURAN DAN LAILATUR QADR)


Ayat yang paling populer sebagai acuan berpuasa di bulan Ramadan adalah: QS 2:183 - Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Kita dapat memilahnya menjadi tiga bagian dalam memaknai puasa: Ada persiapan atau kesiapan diri (sebelum menjalani puasa Ramadan). Panggilan ditujukan kepada orang-orang beriman. Dikatakan persiapan diri memenuhi panggilan ini bahkan sudah dilakukan dua-tiga bulan sebelumnya, sejak isra miraj di bulan Rajab dan selama bulan Syaban dengan memperbanyak membaca Al Quran dan mulai berpuasa. Pengerjaan puasa di bulan Ramadan itu sendiri. Hasilnya. Agar kamu bertakwa.

Puasa (dari kata shaum= shad- waw- mim) pada intinya adalah imsak, yaitu menahan atau mengendalikan diri dari segala sesuatu yang menghalangi pertemuan kita dengan Allah. Shad shumtun = Diam, hening. Keadaan berpuasa seyogyanya diterapkan pula pada puasa bicara, yaitu dengan hanya berbicara yang bermanfaat dan memperbanyak dialog dengan diri (kontemplasi). Waw waraun = wara = Meninggalkan. Yaitu meninggalkan segala sesuatu yang menodai atau pun mengurangi kemuliaan kita. Mim = malakun = malak = mengekang nafsu agar tak lepas. Derita manusia dimulai ketika malakun kendur. Keresahan, ketakutan dan penderitaan pun melanda.

Dengan demikian, puasa tak cukup sekedar lahir. Perlu dilakukan lahir dan batin. Tidak sekedar syariat, harus meliputi hakikat pula, dengan menahan diri terhadap segala sesuatu yang mengurangi nilai ibadah kita. Sheik Abdul Nasir mengatakan inti puasa adalah ujung pedang pengendalian diri yang terus terhunus untuk melawan kehendak ego yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Belajarlah untuk tak terikat dengan hal yang bersifat fisik. Tekan yang fisik, tingkatkan yang spiritual. Sehingga semakin jelas mana yang haqq (benar, Truth). Semua ini terserah atau tergantung upaya kita. Di akhir QS 2:183, dikatakan laallakum tattaquun, yang maknanya lebih dekat dengan kata semoga kamu bertakwa. Semoga, jadi belum tentu. Semua tetap tergantung kita. Puasa adalah sebuah metode yang ditawarkan oleh Tuhan untuk meningkatkan ketakwaan kita. Hasil yang dicapai, tergantung upaya kita. Ciri-ciri manusia bertakwa: (1) Secara vertikal, omnipresent: Hadirnya kesadaran akan Allah secara terus-menerus. (2) Secara horizontal, biasanya mereka yang senantiasa giat melakukan transformasi sosial di mana pun ia berada. Mengubah umat dari tidak baik menjadi baik, sedih menjadi gembira, bodoh menjadi pintar. Mereka yang selalu siap mengemban misi untuk menjadi agen rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Siapkan diri untuk dilatih menjadi agen. Syukuri apa yang ada, nanti akan ditambah. Yang dilakukan sekarang: Sudah maksimal atau belum?

Selain itu, sebenarnya dalam Ramadan masih ada beberapa hal inti yang perlu dimaknai, yaitu: 1. 2. 3. Nuzulul Quran Itikaf Lailatul Qadr

1. NUZULUL QURAN Bila kita meneruskan membaca QS 2:183, maka kita dapat melihat bahwa QS 2:185 mengingatkan kita akan turunnya Al Quran pada Bulan Ramadan. QS 2:185 - Bulan Ramadan adalah yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yag ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur. Disebutkan dalam ayat itu, Al Quran adalah huda (petunjuk), bayinat (penjelasan), furqan (pembedakesadaran untuk melihat jelas mana yang benar, mana yang salah). Peristiwa turunnya Al Quran, atau dalam istilah Bapak Quraish Shihab pembumian Al Quran, sebenarnya adalah diturunkannya Al Quran ke dalam hati manusia, melingkupi hidup, dan menjelma menjadi suatu perilaku, suatu cara hidup. Mempelajari (tadarus) Al Quran tidaklah semata membaca, namun juga menerjemahkan, menafsirkan, merasakan, mengamalkan. Singkatnya, menjadikan Al Quran sebagai akhlak kita. Al Quran sejatinya merupakan media penghubung dan komunikasi dengan Allah. Dikatakan dalam hadits, Barangsiapa yang ingin berdialog dengan Allah, bacalah Al Quran. Di hadits lain, dikatakan Sesungguhnya Al Quran adalah tali Allah yang paling kuat. Barangsiapa yang memegang teguh kepada Quran dengan benar, ia tidak pernah sesat dalam hidupnya. Perlakukanlah kitab yang mulia ini sesuai adab yang benar. Berwudhulah, sucikan lahir dan bathin dan mulailah membaca. Bila kita dapat menerapkan Al Quran sebagai media berkomunikasi kita dengan Allah, bila kita telah menjadi ahli Quran (yaitu orang-orang yang telah menerapkan AL Quran dalam kesehariannya), insya Allah, Al Quran akan menjadi cahaya yang terang. Yang mampu membantu kita melihat segalanya apa adanya. Dengan demikian, kita mengetahui arah mana yang perlu kita tempuh. Al Quran menjadi obat yang amat bermanfaat, terutama bagi bathin yang gelisah, gundah, dan bingung. Insya allah sakinah. Al Quran adalah isma (penjaga) bagi orang yang memegang kokoh Al Quran. Sehingga orang tersebut terjaga tak keluar dari koridor. Allah senantiasa terlibat dalam hidup kita. Al Quran sebagai sumber keselamatan bagi siapa yang mengikuti ajarannya. Kita pun menjadi saksi Al Quran. Dalam pengertian, kita merupakan ekspresi nilai yang diperintahkan oleh Al Quran, yang tercermin dalam pikiran, ucapan dan perilaku keseharian kita. Inilah sejatinya tujuan Nuzulul Quran untuk membumikan Al Quran, menghadirkan dan menetapkannya dalam hati manusia, dan menciptakan manusia-manusia yang berakhlak Al Quran. 2

2. ITIKAF Itikaf berakar pada kata akif, yang berarti hening. Secara fiqih, itikaf diartikan berdiam diri di mesjid untuk mendekat diri kepada Allah. Secara hakikat, masjid berarti tempat bersujud, yaitu di mana pun kita istiqamah bersujud pada Allah. Dengan demikian, sebenarnya apa pun yang mendekatkan diri kepada allah merupaan itikaf. Hal ini dapat kita lakukan dengan meluangkan waktu setiap hari untuk sejenak menarik diri, hening, berkontemplasi, dan fokus untuk berdialog dengan Allah.

3. LAILATUL QADR (QS 97) Dikatakan bahwa surat ini turun sebagai jawaban kepada para sahabat Rasulllah SAW yang risau karena merasa tak mampu mendapatkan kemuliaan layaknya orang-orang shalih terdahulu. QS97:1-5 Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam qadr. Dan tahukah kamu apakah malam qadr itu? Malam qadr itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Salaam sampai terbit fajar. Pada ayat (1) dikatakan inna anzalnahu. Hu = nya. Menandakan turunnya kesadaran atau keyakinan hakiki akan Al Haqq, Kebenaran sejati. Saat qadr (ketentuan) Allah menjadi jernih. Yang hadir pada malam hari. Malam sebagai simbol hening. Kondisi keheningan yang benar. Dengan demikian, kesadaran akan Kebenaran Sejati serta pemahaman yang jernih atas ketentuan Allah akan hadir di hati manusia yang telah hening. Ayat (2) menanyakan apakah kita tahu malam qadr itu seperti apa? Pertanyaan ini tidak diikuti oleh penjelasan definisi secara terperinci, melainkah hanya mengindikasikan betapa tinggi nilai malam ini di ayat (3). Malam ini lebih dari 1.000 bulan (kurang lebih 83 tahun, simbol usia manusia). Jadi bila kita bisa menemukan Kebenaran Sejati, Al Haqq, maka nilainya akan melebihi dari usia seumur hidup kita. Ayat (4) dan (5) memberikan ciri-ciri orang yang mendapatkan lailatul qadr. Malaikat dan Ruh turun. Malaikat sebagai sumber cahaya, cahaya yang menerangi kehidupan. Demikian dengan Ruh kehidupan sejati yang menghadirkan pengetahuan langsung ke hati manusia. Dengan izin Allah dan berbekal cahaya dan Ruh ini, manusia ini pun akan mengurus segala urusan dengan cara dan perspektif berbeda. Semua akan sesuai dengan ketentuan, perlindungan, dan bimbingan-Nya. Ayat (5) mengindikasikan dan hidup pun akan menjadi salaam, penuh kedamaian, bahagia, tenteram, tanpa ada rasa takut maupun khawatir. Dan salaam ini akan terus hadir hingga terbit fajar, yaitu ketika semua menjadi terang, tidak ada hijab lagi yang menghalangi padangan kita dalam melihat kebenaran. Mata saya lantas membaca ayat selanjutnya: QS 2:186 Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah-)Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. Tuhan itu dekat dan pengabul doa hamba-Nya, bila kita berdoa kepada-Nya, memenuhi perintah-Nya, dan beriman kepadaNya. Saya suka sekali dengan penjelasan bahwa iman itu tidak sekedar percaya. Orang beriman adalah orang-orang yang sudah merasa nyaman untuk memilih dan bersama Tuhannya. Semoga bermanfaat. Lebih kurangnya, saya meminta maaf. Salaam.