Anda di halaman 1dari 3

2.1.

Penerapan Konsep Radiant City, Garden City dan Broadacre City di Indonesia
2.1.1. Konsep radiant city di Indonesia Apartemen merupakan sebuah model tempat tinggal yang hanya mengambil sebagian kecil ruang dari suatu bangunan. Suatu gedung apartemen dapat memiliki puluhan bahkan ratusan unit apartemen. Lahan yang dapat dikembangkan di dalam suatu perkotaan semakin sempit tetapi kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal selalu naik, sehingga solusi terbaik dalam menangani hal ini adalah didirikannya suatu apartemen. Apartemen juga merupakan bangunan yang didirikan secara vertikal sehingga mengikuti konsep dari radiant city (modern city), dimana sebuah kota diarahkan pembangunan bangunan/gedung ke arah vertikal untuk mengefisienkan lahan yang digunakan. Contoh superblok di Indonesia adalah superblok Podomoro City yang terletak di kawasan Jakarta Barat. superblok tersebut terdiri atas 5 menara, yakni 3 menara Central Park Residences yang masing-masing menara berjumlah 340 unit apartemen dan 2 menara Royal Mediterania Garden sebanyak 1619 unit apartemen. Dalam superbok tersebut terdapat office tower 46 lantai, Central Park Mall seluas 115 m2, 15 menara apartemen sebagai pusat hunian, The Pullman Hotel bintang 5 dan taman hijau Tribeca Park seluas 1,5 hektare sebagai pusat aktivitas sosial bagi masyarakat dengan nuansa alam. keseluruhan superblok seluas 21 hektare, tersisa 2,5 hektare. masyarakat umum dan penghuni yang tinggal di kawasan tersebut dapat menikmati taman hijau seluas 1,5 hektare yang dilengkapi dengan kolam ikan koi, air terjun mini, ruang terbuka untuk duduk santai dan sebuah lokasi dancing fountain yang dapat menjadi pusat hiburan bernuansa alam.

2.1.2. Konsep garden city di Indonesia Kota Bandung yang pada awalnya dibangun dengan konsep garden city, terutama di kawasan Cibeunying dan sekitarnya. Namun akibat terjadinya pemusatan atau konsentrasi penduduk di kawasan Bandung Utara. Sebagai daerah wilayah pengembangan yang terletak di kawasan utara Bandung, Cibeunying tentu saja terkena dampak dari pertumbuhan ini, diantaranya adalah peningkatan fasilitas perumahan dan fasillitas lain yang dibutuhkan warga, serta berkurangnya lahan kosong ataupun lahan hijau. seiring dengan berkembang tingkat kebutuhannya maka pertumbuhan bangunan bangunan (sebagai naunagan bagi manusia untuk berkegiatan) ataupun infrastruktur (sebagai sarana penunjagnya) menjalar di setiap ruas ruas kota, secara amorph semakin bertolak belakang dengan konsep awalnya.konsep awal sebagai garden city

di kota bandung terbukti pada daerah daerah pusat kota yang memiliki banyak persimpangan jalan, taman taman kota dan pedestrian pedestrian jalan yang sedemikian rupa dibangun dengan maksud mempernyaman jalur sirkulasi pejalan kaki.dengan konsep tersebut maka aplikasi bangunan yang skalatis dengan skala manusia menunjang pengalaman ruang yang manusiawi dengan mudah dapat dinikmati dengan mata telanjang .penataan kota yang semula dibuat memadai dan nyaman untuk pejalan kaki tersebut kemudian kian berkembang dengan wajah wajah bebangunan yang terkadang tidak menghiraukan kualitas visual. Pembangunan bangunan bangunan dengan ketinggian ketingian menjulang yang memiliki jarak minim dari tepian jalan, ketinggian bangunan dan bebangunan yang memotong jarak pandang dan ruang ruang publik kota yang kurang bersahabat sehingga menimbulkan gradasi fungsi kualitas ruang merupakan beberapa contoh dari permasalahan permasalahan yang cenderung memperburuk kualitas visual ruang yang tercipta sebagai lingkungan binaan seharusnya memberikan pengalaman pengalaman ruang yang nyata kemudian terimplementasikan dari berbagai sudut pandang baik dari segi fungsi,estetis dan kualitasnya.

2.2.

Ketahanan Konsep Tersebut Pada Masa yang Akan Datang

2.2.1. Radiant city Konsep radiant city di Indonesia yang diimplementasikan dalam bentuk superblok, sangat basar kemungkinannya untuk bertahan. Karena konsep superblok sendiri adalah konsep modern dimana tempat tinggal dan bekerja dipadukan dalam satu kawasan sehingga diharapkan dapat mengatasi masalah-masalah di masa mendatang seperti meningkatnya tingkat kemacetan dan semakin berkurangnya ruang yang dapat dikembangkan. 2.2.2. Garden city Konsep garden city di indonesia yang telah dikembangkan sejak jaman kolonial Belanda, sepertinya sulit untuk diimplementasikan kembali pada penatan kota di indonesia. Pasalnya, kota-kota yang dulunya sempat menanut konsep garden city, sekarang telah menyimpang jauh dari perencanaan awalnya. Hal ini dikarenakan pertambahan penduduk yang tajam di kawasan perkotaan sehingga ruang terbuka hijau harus beralih fungsi menjadi fasilitas umum dan permukiman agar pelayan umum berjalan maksimal. Konsep garden city yang memerlukan lahan yang sangat luas, hanya dapat dikembangkan apabila permasalahan pertambahan penduduk yang sangat tajam ditambah dengan indeks primacy yang tinggi pada kota-kota di Indonesia dapat diatasi dengan baik.

Anda mungkin juga menyukai