Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar belakang Seiring dengan terus menggelindingnya berbagai fenomena pendidikan dewasa ini, sebagai akibat globalisasi yang kian merambah berbagai dimensi kehidupan, kehadiran pendidikan Islam diharapkan mampu membri solusi terhadap berbagai persoalan tersebut. Dalam Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, ditegaskan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. Hal ini dengan jelas memposisikan pendidikan agama sebagai salah satu muatan wajib dalam kurikulum pendidikan apapun. Disamping itu juga, menurut undang-undang ini keberadaan pendidikan Islam diakui secara jelas, hanya saja yang menjadi persoalan bagaimana pendidikan Islam itu sendiri menempatkan dirinya pada posisi yang tepat dan strategis, sehingga dapat menunjukkan eksistensinya. Sekarang ini, paling tidak secara kuantitatif, dunia pendidikan Islam di Indonesia mencatat sejumlah kemajuan. Dalam bidang institusi misalnya, baik pesantren, madrasah maupun sekolah, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, kian bermunculan. Kenyataan ini tentu saja menyebabkan jumlah murid, tenaga pengajar maupun pelaksana pendidikan Islam yang lain juga bertambah banyak. Dalam satu sisi, hal ini merupakan sesuatu yang menggembirakan. Meskipun secara kualitas kenyataannya demikian, lain halnya secara kualitatif, dalam konteks ini pendidikan Islam di Indonesia masih terus berbenah, bahkan berusaha mengejar berbagai ketinggalan dalam beberapa segi. Memang kita mengakui, bahwa perkembangan pendidikan Islam dalam

penyelenggaraannya mempunyai sejumlah keterbatasan. Memang kini pendidikan Islam dihadapkan kepada persoalan yang cukup sulit, terutama setelah munculnya isu-isu baru dan aktual, dalam hal pergulatan internal misalnya, sosialisasi kelembagaannya pun mendapat berbagai hambatan, baik secara konsepsional maupun dalam kerangka realitas praktis apalagi dengan

digulirkannya konsep link and match yang kini menjadi isu sentral pendidikan nasional, pada esensinya pendidikan Islamn yang merupakan bagian dari subsitem pendidikan nasional, mau tidak mau harus mengarah ke sana. Tentu saja ini menambah rumitnya persoalan yang dihadapi. Apalagi bila link and match tersebut diterjemahkan dengan kesiapan menghadapi dunia kerja, dalam pendidikan Islam khususnya Indonesia, dunia kerja masih merupakan suatu proyeksi dari salah satu aspek universal bagian sikap keagamaan sistem institusinya yang memang belum diprioritaskan. Oleh karena itu, dunia kerja merupakan sesuatu yang masih bersifat marginal bagi tujuan sistem pendidikan Islam di Indonesia. Dengan diberlakukannya Kurikulum 1994, sebagai bagian dari strategi yang dikembangkan ummat Islam di Indonesia, diharapkan mampu memberikan nuansa baru bagi pendidikan Islam di Indonesia. Dengan diberlakukannya Kurikulum 1994, sebagai bagian dari strategi yang dikembangkan ummat Islam di Indonesia, diharapkan mampu memberikan nuansa baru bagi pendidikan Islam, terutama dalam perannya bagi pembangunan bangsa dan negara, kendatipun tidak sedikit orang yang pesimis terhadap kenyataan itu. B. Pertanyaan-pertanyaan Pokok : 1. Bagaimana Pendidikan Islam pada Sekolah Umum di Indonesia? 2. Bagaimana bentuk sistem pendidikan Pesantren? 3. Bagaimana pula dengan lembaga pendidikan Islam semisal Madrasah?

BAB II PENGENALAN BUKU Kapita Selekta Pendidikan Islam dirancang sebagai buku wajib Mahasiswa Fakultas Tarbiyah pada jurusan pendidikan Agama Islam (PAI) dan Kependidikan Islam (KI), sesuai silabus IAIN tahun akademik 1995 / 1996. Di dalamnya tersaji perkembangan pendidikan Islam di Indonesia terutama sekali yang berkaitan dengan isu, lembaga, dan tokoh-tokohnya. Tak lupa pula buku ini juga mengangkat persoalan bagaimana pendidikan Islam dapat menempatkan diri pada posisi yang tepat dan strategis, sehingga dapat menunjukkan eksistensi dan sumbangannya bagi program dan pendidikan itu sendiri dan sumber daya manusia nasional. Buku ini penting untuk dibaca, karena selain memberikan gambaran historis, juga menunjukkan tantangan-tantangan aktual yang tengah dihadapi dunia Pendidikan Islam di Indonesia dewasa ini.

BAB III PEMBAHASAN A. Pendidikan Islam pada Sekolah Umum Antar ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan, karena perkembangan masyarakat islam, serta tuntunannya dalam membangun manusia seutuhnya (jasmani dan rohani) sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan yang dicerna melalui proses pendidikan. Proses pendidikan tidak hanya menggali dan mengembangkan sains, tetapi juga, dan lebih penting lagi yaitu dapat menemukan konsepsi baru ilmu pengetahuan yang utuh, sehingga dapat membangun masyarakat Islam sesuai dengan keinginan dan kebutuhan yang diperlukan. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan dalam pendidikan haruslah berorientasi pada nilai-nilai Islami, yaitu ilmu pengetahuan yang bertolak dari metode ilmiah dan metode profetik. Ilmu pengetahuan tersebut bertujuan menemukan dan mengukur paradigma dan premis intelektual yang berorientasi pada nilai dan kebaktian dirinya pada pembaharuan dan pembangunan masyarakat, juga berpijak pada kebenaran yang merupakan sumber dari segala sumber. Pendidikan Islam tidak menghendaki terjadinya dikotomi keilmuan, sebab dengan adanya sistem dikotomi menyebabkan sistem pendidikan Islam menjadi sekularitas, rasionalistis-empiris, intuitif dan materialistis. Keadaan yang demikian tidak mendukung tata kehidupan umat yang mampu melahirkan peradaban Islam. Dan memang di dalam Islam tidak mengenal adanya pemilahan dan perbedaan bahkan pemisahan antara ilmu pengetahuan yang bersifat umum dengan ilmu-ilmu agama. Sebagai contoh ketika Islam berada dalam masa keemasannya, di mana ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat, kita mengenal banyak tokoh yang ahli dalam berbagai hal. Ibnu Khaldun misalnya, beliau disamping dikenal sebagai seorang ulama, juga dikenal seorang intelektual, filosof, dokter bahkan politikus. Realitas membuktikan bahwa pendidikan agama (Islam) dan pendidikan umum selama ini sering diberikan batasan pengertian sebagai berikut :

1. Pendidikan agama yaitu penyelenggaraan pendidikan yang memberikan materi atau mata pelajaran agama, sedang pendidikan umum yaitu penyelenggaraan pendidikan yang memberikan materi atau mata pelajaran umum. 2. Pendidikan agama sebagai lembaga pendidikan pada madrasah atau sejenisnya, sedangkan pendidikan umum sebagai lembaga pendidikan umum seperti SD, SMP, SMA dan sejenisnya. Dari batasan yang dikemukakan tersebut, tampaknya memberikan kesan adanya dikotomi antara bidang studi agama dan bidang studi umum atau adanya perbedaan yang jelas antara sekolah umum dengan sekolah agama. Kenyataan tersebut semakin tampak dengan keberadaan departemen yang membina, yaitu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) saat ini telah diganti menjadi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk lembaga pendidikan umum, dan Departemen Agama (Depag) untuk lembaga pendidikan agama atau madrasah dan sejenisnya. Karena itulah, dengan diundang-undangkannya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUS-PN) Nomor 2 tahun 1989, maka kerancuan pengertian selama ini telah diluruskan dengan penegasan batasan sebagai berikut: 1. Pada pasal 11 butir 2 disebutkan; pendidikan umum merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan. 2. Pada pasal 11 butir 6 dinyatakan bahwa pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan. 3. Pada pasal 39 ayat 2 disebutkan bahwa isi kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang wajib memuat: Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. Sementara itu pada ayat 3 lebih dipertegas lagi, bahwa Pendidikan Agama merupakan salah satu isi kurikulum

pendidikan dasar sebagai bahan kajian dan pelajaran dari 13 bahan kajian dan pelajaran yang ditetapkan. Dari beberapa uraian tersebut terlihat jelas bagaimana posisi pendidikan agama di sekolah umum, dimana Pendidikan Agama merupakan salah satu dari 3 mata pelajaran wajib yang diajarkan pada sekolah. B. Lembaga Pendidikan Islam : PESANTREN 1. Latar Belakang Historis Pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional Islam untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat sehari-hari. Pesantren sendiri menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri. Sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Disamping itu kata pondok mungkin juga berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti hotel atau asrama. Tentang kehadiran pesantren secara pasti di Indonesia pertama kalinya, di mana dan siapa pendirinya, tidak dapat diperoleh keterangan yang pasti. Berdasarkan hasil pendataan yangdilaksanakan oleh Departemen Agama pada tahun 1984-1985 diperoleh keterangan bahwa pesantren tertua didirikan pada tahun 1062 di Pamekasan Madura, dengan nama Pesantren Jan Tampes II. Akan tetapi hal ini juga diragukan, karena tentunya ada Pesantren Jan Tampes I yang lebih tua. Kendatipun demikian, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang peran sertanya tidak diragukan lagi, adalah sangat besar bagi perkembangan Islam di Nusantara. Dalam perkembangannya, pondok pesantren memang sangat pesat, pada zaman Belanda saja jumlah pesantren di Indonesia besar kecil tercatat sebanyak 20.000 buah. Perkembangan selanjutnya mengalami pasang surut, ada daerah tertentu yang membuka pesantren baru, ada pula pesantren di daerah lain yang bubar karena begitu tidak terawat lagi. Tetapi perkembangan yang paling akhir, dunia pesantren menampakkan trend lain. Disamping masih ada yang mempertahankan sistem tradisionalnya, sebagian pesantren telah membuka

sistem madrasah, sekolah umum, bahkan ada diantaranya yang membuka semacam lembaga pendidikan kejuruan seperti bidang pertanian, peternakan, pertukangan, teknik dan sebagainya. 2. Tujuan dan Sistem Pengajaran Adapun tujuan didirikannya pondok pesantren ini pada dasarnya terbagi kepada dua hal, yaitu: a. Tujuan Khusus; Yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kiai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat. b. Tujuan Umum; Yakni membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang

berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya. Dalam hal penyelenggaraan sistem pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren sekarang ini, paling tidak dapat digolongkan kepada tiga bentuk, yaitu : a. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara nonklasikal (sistem bandungan dan sorogan), dimana seorang kiai mengajar santri-santri berdasrkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama besar sejak abad pertengahan; sedang para santri biasanya tinggal dalam pondok atau asrama dalam pesantren tersebut. b. Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada dasarnya sama dengan pondok pesantren tersebut di atas, tetapi para santrinya tidak disediakan pondokan di komplek pesantren, namun tinggal tersebar di sekitar penjuru desa sekeliling pesantren tersebut (santri kalong) di mana cara dan metode pendidikan dan pengajaran agama Islam

diberikan dengan sistem weton, yaitu para santri datang berduyun-duyun pada waktu-waktu tertentu. c. Pondok pesantren dewasa ini merupakan lembaga gabungan antara sistem pondok dan pesantren yang memberikan pendidikan dan pengajaran agama Islam dengan sistem bandungan, sorogan ataupun wetonan, dengan para santri disediakan pondopkan pesantren modern memenuhi kriteria pendidikan non formal serta menyelenggarakan juga pendidikan formal berbentuk madrasah dan bahkan sekolah umum dalam berbagai bentuk tingkatan dan aneka kejuruan menurut kebutuhan masyarakat masingmasing. Adapun ciri-ciri khas pondok pesantren yang sekaligus menunjukkan unsur-unsur pokoknya, serta membedakannya dengan lembaga-lembaga

pendidikan lainnya adalah sebagai berikut: 1. Pondok Tempat tinggal kiai dan para santri 2. Mesjid Dalam konteks ini, mesjid adalah sebagai pusat kegiatan ibadah dan belajar mengajar. 3. Santri Santri biasanya terdiri dari 2 kelompok, yaitu : a. Santri mukim; ialah santri yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam pondok pesantren. b. Santri kalong; ialah santri yang berasal dari daerah-daerah sekitar pesantren dan biasanya mereka tidak menetap dalam pesantren, dan pulang kerumah masing-masing. 4. Kiai Kiai merupakan tokoh sentral yang memberikan pengajaran, karena kiai menjadi salah satu unsur yang paling dominan dalam kehidupan suatu pesantren.

5. Kitab-kitab Islam klasik atau biasa dikenal dengan kitab kuning, yang dikarang oleh ulama-ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan bahasa Arab. Secara garis besar sistem pengajaran yang dilaksanakan di pesantren, dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, di mana di antara masing-masing sistem mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu : a. Sorogan Kata sorogan berasal dari bahasa Jawa yang berarti sodoran atau yang disodorkan. Maksudnya suatu sistem belajar secara individual di mana seorang santri berhadpan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. b. Bandungan Sistem bandungan ini sering disebut dengan halaqah, di mana dalam pengajian, kitan yang dibaca oleh kiai hanya satu, sedangkan para santrinya membawa kitab yang sama, lalu santri mendengarkan dan menyimak bacaan kiai. c. Weton Istilah weton berasal dari bahasa Jawa yang diartikan berkala atau berwaktu. Pengajian weton tidak merupakan pengajian rutin harian, tetapi dilaksanakan pada setiap selesai shalat Jumat dan sebagainya. C. Lembaga Pendidikan Islam : MADRASAH 1. Latar Belakang Historis Kelahiran Madrasah Madrasah merupakan isim makan kata darasa dalam bahasa Arab, yang berarti tempat duduk untuk belajar atau populer dengan sekolah. Lembaga pendidikan Islam ini mulai tumbuh di Indonesia pada awal abad ke-20. Kelahiran madrasah ini tidak terlepas dari ketidakpuasan terhadap sistem pesantren yang semata-mata menitik beratkan agama, di lain pihak sistem pendidikan umum justru ketika itu tidak menghiraukan agama. Dengan demikian, kehadiran madrasah dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memberlakukan secara berimbang antara ilmu agama dengan ilmu 9

pengetahuan umum dalam kegiatan pendidikan di kalangan ummat Islam. Atau dengan kata lain madrasah merupakan perpaduan sistem pendidikan pesantren dengan sistem pendidikan kolonial. Dengan demikian, setidak-tidaknya kehadiran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam mempunyai beberapa latar belakang, yaitu : 1. Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam. 2. Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren ke arah suatu sistem pendidikan yang lebih memungkinkan lulusannya untuk memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum. 3. Adanya sikap mental pada sementara golongan ummatv Islam, khususnya santri yang terpukau pada barat sebagai sistem pendidikan mereka. 4. Sebagai upaya untuk menjembatani antara sistem pendidikan tradisional yang dilaksanakan oleh pesantren dan sistem pendidikan modern dari hasil akulturasi. Sebagai madrasah pertama yang didirikan di indonesia adalah madrasah Adabiyah di Padang (Sumatera Barat), yang didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Pada mulanya madrasah Adabiyah ini bercorak agama semata-mata, baru kemudian pada tahu 1915 berubah menjadi HIS (Holand Inland School) Adabiyah. hIS Adabiyah merupakan sekolah pertama yang memasukkan pelajaran umum ke dalamnya. 2. Sistem Pendidikan dan Pengajaran di Madrasah Sistem pendidikan dan pengajaran yang digunakan pada madrasah merupakan perpaduan antara sistem pondok pesantren dengan sistem yang berlaku pada sekolah-sekolah modern. Proses perpaduan antara sistem pondok pesantren dengan sistem yang berlaku pada sekolah-sekolah modern. Proses perpaduan tersebut berlangsung secara berangsur-angsur, mulai dari mengikuti sitem klasikal. Sistem pengajian kitab, diganti dengan bidang-bidang pelajaran tertentu, walaupun masih menggunakan kitab-kitab yang lama. Kenaikan tingkat ditentukan oleh penguasaan terhadap sejumlah bidang pelajaran tertentu.

10

Pada perkembangan berikutnya sitem pondok mulai ditinggalkan, dan berdiri madrasah-madrasah yang mengikuti sistem yang sama dengan sekolahsekolah modern. Namun demikian, pada tahap-tahap awal madrasah tersebut masih bersifat diniyah yang cuma mengajarkan pengetahuan agama. Tampaknya, ide-ide pembaharuan yang berkembang di dunia Islam dan kebangkitan nasional bangsa Indonesia sangat besar pengaruhnya, sedikit demi sedikit pelajaran umum masuk ke dalam kurikulum madrasah, dan terus berproses sebagaimana digambarkan terdahulu. Buku-buku pelajaran agama mulai disusun khusus sesuai dengan tingkatan madrasah, sebagaimana halnya dengan buku-buku pengetahuan umum yang berlaku di sekolah-sekolah umum. Bahkan kemudian timbullah madrasah-madrasah yang mengikuti sistem penjenjangan dan bentukbentuk sekolah-sekolah modern seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI) untuk tingkatan dasar, Madrasah Tsanawiyah (MTs) untuk tingkatan SMP, dan ada pula Kuliah Muallimin (pendidikan guru) yang disebut normal Islam.

11

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Realitas membuktikan bahwa pendidikan agama (Islam) dan pendidikan umum selama ini sering diberikan batasan pengertian sebagai berikut : 1) Pendidikan agama yaitu penyelenggaraan pendidikan yang memberikan materi atau mata pelajaran agama, sedang pendidikan umum yaitu penyelenggaraan pendidikan yang memberikan materi atau mata pelajaran umum. 2) Pendidikan agama sebagai lembaga pendidikan pada madrasah atau sejenisnya, sedangkan pendidikan umum sebagai lembaga pendidikan umum seperti SD, SMP, SMA dan sejenisnya. Adapun ciri-ciri khas pondok pesantren yang sekaligus menunjukkan unsur-unsur pokoknya, serta membedakannya dengan lembaga-lembaga

pendidikan lainnya adalah sebagai berikut: 1) Pondok 2) Mesjid 3) Santri 4) Kiai 5) Kitab-kitab Islam klasik Kehadiran madrasah dilatarbelakangi oleh keinginan untuk

memberlakukan secara berimbang antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum dalam kegiatan pendidikan di kalangan ummat Islam. Atau dengan kata lain madrasah merupakan perpaduan sistem pendidikan pesantren dengan sistem pendidikan kolonial.

12

DAFTAR PUSTAKA Hasbullah. 1999. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo

13