Anda di halaman 1dari 51

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Seiring dengan meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan di negara maju dan negara berkembang, maka bertambahlah usia harapan hidup penduduk negara tersebut. Hal ini berarti, akan bertambahnya populasi penduduk lanjut usia (lansia). Usia harapan hidup yang meningkat tidak selalu disertai dengan kesehatan yang senantiasa baik. Berbagai masalah fisik, psikologik dan sosial akan muncul akibat proses degeneratif yang muncul seiring dengan menuanya seseorang.1 Peningkatan usia harapan hidup tentunya berdampak lebih banyak terjadi gangguan atau penyakit pada lansia, salah satunya ialah depresi. Gangguan mental yang sering diderita para lanjut usia adalah gangguan depresi, gangguan kognitif, fobia dan gangguan pemakaian alkohol.2 Depresi menjadi salah satu problem gangguan mental yang sering ditemukan pada lanjut usia. Prevalensinya diperkirakan 10%-15% dari populasi lanjut usia dan diduga sekitar 60% dari pasien di unit Geriatri menderita depresi, sehingga gejala depresi yang muncul seringkali dianggap sebagai bagian dari proses menua.3 Depresi sering komorbid dengan penyakit fisik, oleh karena itu gejala dan keluhan sering tersamar dan tumpang tindih. Prevalensi depresi pada populasi umum 5,8%, pada usia lanjut sekitar 6,5%, sedangkan pada usia lanjut yang menderita penyakit fisik 1224%, pada rawat jalan 30%, rawat inap dengan penyakit kronik dan perawatan lama adalah 30-50%.1 Data WHO menyebutkan bahwa pada tahun 2020, depresi akan menjadi beban global penyakit kedua di dunia setelah penyakit jantung iskemik. Prevalensi per tahun depresi diperkirakan berkisar antara 5-10% per tahun sedangkan life time prevalence bisa mencapai dua kali lipatnya. Secara klinik gejala depresi dapat menjadi pervasif, memburuk, mengganggu perilaku sehari-hari serta muncul bersama penyakit lain. Depresi dapat berkomorbiditas dengan penyakit lain. Studi yang telah dilakukan mengatakan komorbiditas depresi, yaitu Kanker 6-25%, Pasca Stroke 23-29%, Diabetes Mellitus 927%, Jantung Koroner 18-23%, Infark Miokard 16-19%, Arthritis 12-28%, Penyakit

Parkinsons 2- 51%, HIV 4-18%, Penyakit Paru Kronik 30,9%, Gangguan Neurologik 37,5% serta Gangguan Pencernaan 22,4%.4 Penelitian lain menyebutkan Infark Miokard (OR 1.1, 95% CI 0.71.7), Hipertensi (OR 0.9, 95% CI 0.71.2), Asthma (OR 1.2, 95% CI 0.81.7), Epilepsy (OR 1.0, 95% CI 0.34.0) and Kanker (OR 1.1, 95% CI 0.81.8). Angina (OR 1.9, 95% CI 1.32.6), Stroke (OR 2.5, 95% CI 1.73.9), Diabetes (OR 1.7, 95% CI 1.22.6), Bronchitis kronis (OR 2.6, 95% CI 1.64.2), Arthritis (OR 1.5, 95% CI 1.22.0) and depression (OR 5.3, 95% CI 3.87.4).5 Penyakit pada usia lanjut dengan gejala khas yaitu multipatologi (lebih dari satu penyakit), kemampuan fisiologis tubuh yang sudah menurun, tampilan gejala yang tidak khas atau menyimpang, dan penurunan status fungsional (kemampuan beraktivitas). Penyakit-penyakit yang ditemukan pada pasien geriatri umumnya adalah penyakit degeneratif kronik. 1,4 Secara umum depresi ditandai oleh suasana perasaan yang murung, hilang minat terhadap kegiatan, hilang semangat, lemah, lesu, dan rasa tidak berdaya. Pada pasien usia lanjut tampilan yang paling umum adalah keluhan somatis, hilang selera makan dan gangguan pola tidur.1 Faktor penyebab depresi pada lansia antara lain adalah faktor biologi, psikologi, stres kronis, penggunaan obat. Adapun faktor biologi antara lain adalah genetik, perubahan struktural otak, risiko vaskular, dan kelemahan fisik. Faktor psikologi penyebab depresi pada lansia antara lain adalah tipe kepribadian dan dukungan sosial.2

1.2.Rumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Apakah ada hubungan antara depresi dengan penyakit kronis pada lansia? 1.3.Hipotesis
1. Ada hubungan antara depresi dengan penyakit kronis.

1.4.Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum Dengan mengetahui hubungan depresi dengan penyakit kronis pada lansia kita dapat mencegah lansia yang mempunyai penyakit kronis menjadi depresi. 1.4.2 Tujuan Khusus
1.

Mengidentifikasi berapa persen lansia yang mempunyai penyakit hipertensi yang mengalami depresi. Mengidentifikasi berapa persen lasia lansia yang mempunyai

2.

penyakit diabetes mellitus yang mengalami depresi.


3.

Mengidentikasi berapa persen lasia lansia yang mempunyai penyakit Osteoartritis yang mengalami depresi. Mengidentifikasi berapa persen lansia yang mempunyai penyakit kronis. Mengidentifikasi berapa persen lansia yang mempunyai penyakit depresi Mengidentifikasi faktor-faktor lain yang berhubungan terhadap timbulnya depresi pada lansia yang mempunyai penyakit kronis.

4.

5.

6.

1.5.Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi akademik

Memberikan informasi tentang hubungan depresi dengan penyakit kronis pada lansia dan faktor-faktor lain yang berhungan di Kelurahan Jati Padang.

Memberikan informasi tentang prevalensi suspek depresi pada lansia di Kelurahan Jati Padang.

1.5.2 Bagi pelayanan masyarakat

Institusi yang berkaitan dengan pelayanan lansia dapat melakukan upaya promotif dan preventif terkait penyakit kronis yang diderita lansia yang berperan dalam terjadinya depresi.

Untuk meningkatkan pengetahuan tentang faktor risiko terjadinya depresi pada lansia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Lansia 2.1.1. Definisi Lansia Dalam Undang-undang No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia menyatakan bahwa lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia, ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998). Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.

2.1.2.

Klasifikasi Lansia Lansia atau usia tua adalah suatu periode penutup dalam rentang hidup

seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahul yang lebih menyenangkan, atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat. Batasan lansia menurut WHO meliputi usia pertengahan (Middle age) antara 45 - 59 tahun, usia lanjut (Elderly) antara 60 - 74 tahun, dan usia lanjut tua (Old) antara 75 90 tahun, serta usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun. Menurut Depkes RI batasan lansia terbagi dalam empat kelompok yaitu pertengahan umur usia lanjut/ virilitas yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampakkan keperkasaan fisik dan kematangan jiwa antara 45 54 tahun, usia lanjut dini/ prasenium yaitu kelompok yang mulai memasuki usia lanjut antara 55 64 tahun, kelompok usia lanjut/ senium usia 65 tahun keatas dan usia lanjut

dengan resiko tinggi yaitu kelompok yang berusia lebih dari 70 tahun atau kelompok usia lanjut yang hidup sendiri, terpencil, tinggal di panti, menderita penyakit berat, atau cacat. Saat ini berlaku UU No. 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia yang menyebutkan lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas. Secara kronologis, young old secara umum yaitu usia antara
65-74 tahun, old-old berusia antara 75-84 tahun, dan oldest old berusia 85 tahun ke atas. 6

2.1.3.

Proses Menua Menua adalah proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi

seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadapa berbagai penyakit dan kematian.7 Dewasa akhir (late adulthood) atau lanjut usia, biasanya merujuk pada tahap siklus kehidupan yang dimulai pada usia 65 tahun. Ahli gerontologi membagi lanjut usia menjadi dua kelompok: young-old, berusia 65-74 tahun; dan old-old, berusia 75 tahun ke atas. Kadang-kadang digunakan istilah oldest old untuk merujuk pada orang-orang yang berusia 85 tahun ke atas . Idealnya seorang lansia dapat menjalani proses menua secara normal sehingga dapat menikmati kehidupan yang bahagia dan mandiri. proses penuaan yang sukses merupakan suatu kombinasi dari tiga komponen: (1) penghindaran dari penyakit dan ketidakmampuan; (2) pemeliharaan kapasitas fisik dan kognitif yang tinggi di tahun-tahun berikutnya; dan (3) keterlibatan secara aktif dalam kehidupan yang berkelanjutan .2 Teori-teori penuaan8 Terdapat banyak teori tentang penuaan yaitu teori biologis dan teori kejiwaan sosial. Teori-teori biologis terdiri dari teori sintesis protein, teori keracunan oksigen, teori sistem imun, teori radikal bebas, teori rantai silang, teori reaksi dari kekebalan sendiri dan lain-lain. Teori-teori kejiwaan sosial terdiri dari teori pengunduran diri, teori aktivitas, teori subkultur, dan teori kepribadian berlanjut.

Teori Biologis: Teori Seluler. Teori ini menyatakan bahwa kemampuan sel yang hanya dapat membelah dalam jumlah tertentu dan kebanyakan sel-sel tubuh diprogram untuk membelah sekitar 50 kali. Bila sebuah sel pada lansia dilepas dari tubuh dan dibiakkan di laboratorium, lalu diobservasi jumlah sel yang akan membelah akan terlihat sedikit .Pembelahan sel lebih lanjut mungkin terjadi untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan, justru kemampuan sel akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia. Sedangkan pada sistem saraf, sistem muskuloskeletal dan jantung, sel pada jaringan organ dalam sistem itu tidak dapat diganti jika sel tersebut dibuang karena rusak atau mati. Oleh karena itu, sistem tersebut beresiko mengalami penuaan dan memiliki kemampuan yang rendah untuk tumbuh dan memperbaiki diri dan sel dalam tubuh seseorang ternyata cenderung mengalami kerusakan dan akhirnya sel akan mati karena sel tidak dapat membelah lagi . Teori sintesis protein. Teori sintesis protein menyatakan bahwa proses penuaan terjadi ketika protein tubuh terutama kolagen dan elastin menjadi kurang fleksibel dan kurang elastis. Observasi dapat dilakukan pada jaringan seperti kulit dan kartilago, hal ini dihubungkan dengan adanya perubahan kimia pada komponen protein dalam jaringan tersebut. Pada lansia, beberapa protein terutama kolagen pada kartilago dan elastin pada kulit dibuat oleh tubuh dengan struktur yang berbeda dengan protein tubuh orang yang lebih muda. Banyak kolagen pada kartilago dan elstin pada kulit yang kehilangan fleksibilitasnya serta menjadi lebih tebal, seiring dengan bertambahnya usia, perubahan permukaan kulit yang kehilangan elastisitasnya akan cenderung berkerut. Teori keracunan oksigen. Teori ini menyatakan bahwa adanya sejumlah penurunan kemampuan sel di dalam tubuh untuk mempertahankan diri dari oksigen yang mengandung zat racun dengan kadar yang tinggi tanpa mekanisme pertahanan diri tertentu. Ketidakmampuan untuk mempertahankan diri dari toksik tersebut membuat struktur membran sel mengalami perubahan dan terjadi kesalahan genetik .Membran sel tersebut merupakan alat untuk memfasilitasi sel dalam berkomunikasi dengan lingkungan yang juga mengontrol proses pengambilan nutrien dan proses ekskresi zat toksik di dalam tubuh. Konsekuensi

dari kesalahan genetik adalah adanya penurunan repsoduksi sel oleh mitosis yang mengakibatkan jumlah sel anak di semua jaringan dan organ berkurang. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan kerusakan sistem tubuh. Teori sistem imun. Teori ini mengemukakan kemampuan sistem imun mengalami kemunduran, walaupun demikian kemunduran kemampuan sistem yang terdiri dari sistem limfatik dan khususnya sel darah putih, juga merupakan faktor yang berdistribusi dalam proses penuaan. Hal ini dimanifestasikan dengan meningkatnya infeksi autoimun dan kanker. Teori radikal bebas. menyatakan bahwa dalam teori terjadi ketidakstabilan radikal bebas sehingga oksidasi bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak mampu lagi beregenerasi. Teori Kejiwaan Sosial: Teori pengunduran diri. Teori ini menyatakan bahwa saat lanjut usia terjadi pengunduran diri yang mengakibatkan penurunan interaksi antara lanjut usia dengan lingkungan sosialnya. Teori kegiatan. Teori ini menyatakan bahwa pada saat seseorang menginjak usia lanjut, maka mereka tetap mempunyai kebutuhan dan keinginan yang sama seperti pada masa-masa sebelumnya. Mereka tidak ingin mengundurkan diri dari lingkungan sosialnya. Lansia yang aktif melaksanakan peranan-peranannya di masyarakat akan mencapai usia lanjut yang optimal. Teori kepribadian berlanjut. Teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seorang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe kepribadian yang dimiliki lansia tersebut. Perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia 9 Adapun beberapa faktor yang dihadapi lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah perubahan kondisi fisik, perubahan fungsi dan potensi seksual, perubahan aspek psikososial, perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan, dan perubahan peran sosial di masyarakat.

Perubahan Kondisi Fisik Setelah orang memasuki masa lansia, umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis. Misalnya, tenaga berkurang, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin rapuh, berkurangnya fungsi indra pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia misalnya badan menjadi bungkuk, pendengaran berkurang, penglihatan kabur, sehingga menimbulkan keterasingan. Perubahan Fungsi dan Potensi Seksual Perubahan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti gangguan jantung, gangguan metabolisme, vaginitis, baru selesai operasi (prostatektomi), kekurangan gizi (karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang), penggunaan obat-obatan tertentu (antihipertensi, golongan steroid, tranquilizer), dan faktor psikologis yang menyertai lansia seperti rasa malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia, sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya, kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya, pasangan hidup telah meninggal dunia, dan disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas, depresi, pikun, dan sebagainya. Perubahan Aspek Psikososial Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan fungsi psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian, dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan. Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia.

Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan lima tipe kepribadian lansia adalah sebagai berikut:
1. Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction Personality), biasanya tipe ini

tidak banyak mengalami gejolak, tenang, dan mantap sampai sangat tua.
2. Tipe Kepribadian Mandiri (Independent Personality), pada tipe ini biasanya

ada kecenderungan mengalami Post Power Syndrome. Apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.
3. Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent Personality), pada tipe ini biasanya

sangat dipengaruhi kehidupan keluarga. Apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana. Apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
4. Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility Personality), pada tipe ini setelah

memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi berantakan.
5. Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate Personality), pada lansia tipe ini

umumnya terlihat sengsara karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya. Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua, namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya karena pensiun sering diartikan kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status, dan harga diri. Perubahan dalam peran sosial di masyarakat Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatanm gerak fisik, dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada

10

lansia. Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan kabur, dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Jika keterasingan terjadi akan se makin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil. 2.2.Depresi
2.2.1.

Definisi Depresi Menurut Kaplan, depresi merupakan salah satu gangguan mood yang

ditandai oleh hilangnya perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Mood adalah keadaan emosional internal yang meresap dari seseorang, dan bukan afek, yaitu ekspresi dari isi emosional saat itu.2 Depresi ialah suasana perasaan tertekan (depressed mood) yang dapat merupakan suatu diagnosis penyakit atau sebagai sebuah gejala atau respons dari kondisi penyakit lain dan stres terhadap lingkungan. Depresi pada lansia adalah depresi sesuai kriteria DSM-IV. Depresi mayor pada lansia adalah didiagnosa ketika lansia menunjukkan salah satu atau dua dari dua gejala inti (mood terdepresi dan kehilangan minat terhadap suatu hal atau kesenangan) bersama dengan empat atau lebih gejala-gejala berikut selama minimal 2 minggu: perasaan diri tidak berguna atau perasaan bersalah, berkurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi atau membuat keputusan, kelelahan, agitasi atau retardasi psikomotor, insomnia atau hipersomnia, perubahan signifikan pada berat badan atau selera makan, dan pemikiran berulang tentang kematian atau gagasan tentang bunuh diri .2

11

2.2.2.

Etiologi Depresi 2 Kaplan menyatakan bahwa faktor penyebab depresi dapat secara buatan

dibagi menjadi faktor biologis, faktor genetik, faktor fisik dan faktor psikososial. a. Faktor biologis Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik, seperti: 5 HIAA (5-Hidroksi indol asetic acid), HVA (Homovanilic acid), MPGH (5 methoxy-0-hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada pasien gangguan mood. Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi adalah serotonin dan epineprin. Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada pasien bunuh diri, beberapa pasien memiliki serotonin yang rendah. Pada terapi despiran mendukung teori bahwa norepineprin berperan dalam patofisiologi depresi. Selain itu aktivitas dopamin pada depresi adalah menurun. Hal tersebut tampak pada pengobatan yang menurunkan konsentrasi dopamin seperti Respirin, dan penyakit dimana konsentrasi dopamin menurun seperti parkinson, adalah disertai gejala depresi. Obat yang meningkatkan konsentrasi dopamin, seperti tyrosin, amphetamine, dan bupropion, menurunkan gejala depresi. Disregulasi neuroendokrin. Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis neuroendokrin, menerima input neuron yang mengandung neurotransmiter amin biogenik. Pada pasien depresi ditemukan adanya disregulasi neuroendokrin. Disregulasi ini terjadi akibat kelainan fungsi neuron yang mengandung amin biogenik. Sebaliknya, stres kronik yang mengaktivasi aksis HypothalamicPituitary-Adrenal (HPA) dapat menimbulkan perubahan pada amin biogenik sentral. Aksis neuroendokrin yang paling sering terganggu yaitu adrenal, tiroid, dan aksis hormon pertumbuhan. Aksis HPA merupakan aksis yang paling banyak diteliti. Hipersekresi CRH merupakan gangguan aksis HPA yang sangat fundamental pada pasien depresi. Hipersekresi yang terjadi diduga akibat adanya defek pada sistem umpan balik kortisol di sistem limpik atau adanya kelainan pada sistem monoaminogenik dan neuromodulator yang mengatur CRH.2 Sekresi

12

CRH dipengaruhi oleh emosi. Emosi seperti perasaan takut dan marah berhubungan dengan Paraventriculer nucleus (PVN), yang merupakan organ utama pada sistem endokrin dan fungsinya diatur oleh sistem limbik. Emosi mempengaruhi CRH di PVN, yang menyebabkan peningkatan sekresi CRH. Pada orang lanjut usia terjadi penurunan produksi hormon estrogen. Estrogen berfungsi melindungi sistem dopaminergik negrostriatal terhadap neurotoksin seperti MPTP, 6 OHDA dan methamphetamin. Estrogen bersama dengan antioksidan juga merusak monoamine oxidase.10 Kehilangan saraf atau penurunan neurotransmiter. Sistem saraf pusat mengalami kehilangan secara selektif pada sel sel saraf selama proses menua. Walaupun ada kehilangan sel saraf yang konstan pada seluruh otak selama rentang hidup, degenerasi neuronal korteks dan kehilangan yang lebih besar pada sel-sel di dalam lokus seroleus, substansia nigra, serebelum dan bulbus olfaktorius. Bukti menunjukkan bahwa ada ketergantungan dengan umur tentang penurunan aktivitas dari noradrenergik, serotonergik, dan dopaminergik di dalam otak. Khususnya untuk fungsi aktivitas menurun menjadi setengah pada umur 80-an tahun dibandingkan dengan umur 60-an tahun. b. Faktor Genetik Penelitian genetik dan keluarga menunjukkan bahwa angka resiko di antara anggota keluarga tingkat pertama dari individu yang menderita depresi berat (unipolar) diperkirakan 2 sampai 3 kali dibandingkan dengan populasi umum. Angka keselarasan sekitar 11% pada kembar dizigot dan 40% pada kembar monozigot. Pengaruh genetik terhadap depresi tidak disebutkan secara khusus, hanya disebutkan bahwa terdapat penurunan dalam ketahanan dan kemampuan dalam menanggapi stres. Proses menua bersifat individual, sehingga dipikirkan kepekaan seseorang terhadap penyakit adalah genetik. c. Faktor Psikososial

13

Menurut Freud dalam teori psikodinamikanya, penyebab depresi adalah kehilangan objek yang dicintai. Ada sejumlah faktor psikososial yang diprediksi sebagai penyebab gangguan mental pada lanjut usia yang pada umumnya berhubungan dengan kehilangan. Faktor psikososial tersebut adalah hilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi, kematian teman atau sanak saudara, penurunan kesehatan, peningkatan isolasi diri, keterbatasan finansial, dan penurunan fungsi kognitif. Sedangkan menurut Kane, faktor psikososial meliputi penurunan percaya diri, kemampuan untuk mengadakan hubungan intim, penurunan jaringan sosial, kesepian, perpisahan, kemiskinan dan penyakit fisik. Penyakit fisik yang dapat menyebabkan terjadinya depresi pada lanjut usia antara lain gangguan metabolik, endokrin, infeksi, kardiovaskular, sistem pernafasan, saluran cerna, saluran kemih, inkontinentia, muskuIokeletal, neurologik maupun sistem lainnya. Selain itu juga karena gangguan penyakit kronis yang dapat berbentuk bermacam-macam, deprivasi sensorik (penglihatan, pendengaran dan lain-lain), kehilangan fungsi-fungsi fisik tertentu akibat penyakit lain (stroke, patah tulang, dan lain sebagainya) serta karena pemakaian obat-obat tertentu. 11 Faktor psikososial lainnya yang mempengaruhi depresi meliputi: peristiwa kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan dukungan sosial. Peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam depresi, klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset suatu episode depresi adalah kehilangan pasangan. Stressor psikososial yang bersifat akut, seperti kehilangan orang yang dicintai, atau stressor kronis misalnya kekurangan finansial yang

14

berlangsung lama, kesulitan hubungan interpersonal, ancaman keamanan dapat menimbulkan depresi. Faktor kepribadian. Beberapa ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada individu, seperti kepribadian dependen, anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid (kepribadian yang memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif) mempunyai resiko yang rendah. Faktor psikodinamika. Berdasarkan teori psikodinamika Freud, dinyatakan bahwa kehilangan objek yang dicintai dapat menimbulkan depresi. Dalam upaya untuk mengerti depresi, Sigmud Freud sebagaimana dikutip Kaplan (2010) mendalilkan suatu hubungan antara kehilangan objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi dengan objek yang hilang. Freud percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara satu-satunya bagi ego untuk melepaskan suatu objek, ia membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien terdepresi merasakan penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian. Faktor kognitif. Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme dan keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan depresi. Dukungan sosial yang buruk dan kegiatan religius yang kurang dihubungkan dengan terjadinya depresi pada lansia. Suatu penelitian komunitas di Hongkong menunjukkan hubungan antara dukungan sosial yang buruk dengan depresi. Kegiatan religius dihubungkan dengan depresi yang lebih rendah pada lansia di Eropa. Religious coping berhubungan dengan kesehatan emosional dan fisik yang lebih baik. Religious coping berhubungan dengan berkurangnya gejala-gejala depresif tertentu, yaitu kehilangan ketertarikan, perasaan tidak

15

berguna, penarikan diri dari interaksi sosial, kehilangan harapan, dan gejala-gejala kognitif lain pada depresi.
2.2.3.

Gambaran Klinis Depresi Pada Lanjut Usia 11

1.

Depresi Psikotik Depresi ditandai dengan adanya gejara depresi yang kemudian diikuti dengan gejala psikotik seperri waham, halusinasi dan sebagainya. Dilaporkan lebih dari 40% pasien usia lanjut yang dirawat menderita ganguan ini. Secara klinis gangguan Depresi psikotik mudah dikenali dengan adanya gejala depresi klasik yang timbul, yang baru kemudian diikuti adanya waham atau halusinasi ataupun perilaku bizzare. Kesulitan diagnosis timbul bila keluarga melaporkan bahwa pada pasien tidak didapati waham kejar bersamaan dengan gangguan perilaku yang menonjol.

2.

Depresi Terselubung Secara klinis pada pasien ini depresi ditampilkan sebagai keluhan somatik. Namun demikian bila dikaji, keluhan itu tidak mempunyai dasar anatomi maupun fisiologik atau keluhannya melebihi seharusnya. Diagnosis akan menjadi sukar bila keluhan somatik terjadi dan berhubungan dengan gangguan fisik yang jelas. Dalam keadaan ini klinisi harus peka dan mengikuti indikator objektif depresan dan tentu mempertimbangkan gejala neurovegetatif depresi. Peningkatan yang berlebihan dari beberapa keluhan somatik yang bertepatan dengan awal penyakit fisik atau terjadinya gejala fisik yang tidak masuk akal dan secara temporer berhubungan dengan stresor psikososiaharus mengingatkan klinis tentang kemungkinan adanya gangguan depresi.

3.

Depresi dengan Penurunan fungsi kognitif

16

Depresi dengan penurunan fungsi kognitif seringkali disebut sebagai sindroma demensia dari depresi atau pseudodemensia depresi. Pada tampilan ini, kadang-kadang menyulitkan klinis untuk membedakannya dengan demensia Alzheimer ataupun demensia vaskuler. Pada gangguan depresi gejala klasik depresi hampir tidak tampak dan harus dibedakan dengan demensia yang sesungguhnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari awal sampai kepada cara pasien meniawab pada saat wawancara dan tes yang dilakukan. 4. Anoreksia Tampilan klinis gangguan depresi disini berupa penolakan makan tanpa adanya gejala neurovegetatif depresi atau gangguan afek. Kondis.i ini biasanya terdapat pada usia lebih dari 75 tahun dan menderita penyakit dalam kondisi terminal. Keluarga biasanya mengatakan bahwa pasien "sudah siap untuk pergi, bahkan ada yang menyatakan sebagai bunuh diri secara pasif. 5. Regresi Perilaku Beberapa kasus pasien usia lanjut memperlihatkan penurunan aktivitas fisik dan dan sosial, tidak memperhatikan hygiene diri dan menolak pengobatan,kehilangan kontak dengan teman dan keluarga, membiarkan rumah berantakan dan kotor. Dalam pemeriksaan mereka menyangkal adanya penurunan afek ataupun menurunnya minat.dan kesenangan. pada keadaan ini klinisi jangan melupakan kemungkinan adanya gangguan depresi. 6. Agitasi Psikomotor Pada beberapa pasien tampilan ganguan depresi dapat berupa agitasi psikomotor. Agitasi ini diakibatkan ketidakmampuan pasien usia lannjut mengkomunikasikan keberadaannya, sehingga agitasi merupakan cara penya.mpaian "terbaik" yang dapat dilakukan. Ketidikmampuan

17

mengkomunikasikan keinginan ini membuat pasien frustasi dan depiesi yang berkaitan dengan menurunnya fungsi kognitif.

Sebagian besar dari depresi yang terjadi sesudah usia 65 tahun merupakan gejala primer yang timbul pertama kali dengan faktor pencetus, sakit fisik, gangguan fisik dan kematian.. Manifestasi depresi pada lansia berbeda dengan depresi pada pasien yang lebih muda. Gejala-gejala depresi sering berbaur dengan keluhan somatik. Keluhan somatik cenderung lebih dominan dibandingkan dengan mood depresi. Untuk pasien usia lanjut sering mereka tidak memberitahukan kepada dokter tentang perasaan depresinya. Kemungkinan karena mereka tidak ingin dikatakan depresi atau dikatagorikan sebagai orang-orang depresi sehingga mereka harus diterapi bersama penderita lain atau diisolasi dari masyarakat. Jadi lebih baik mereka tidak menceritakan sama sekali, atau mereka menyembunyikan gejalanya. Karena menutupi gejala tersebut pasien dapat mengeluhkan gejala lain seperti lelah, sakit seluruh tubuh atau sakit pada satu tempat (sakit kepala, berdebar-debar, sakit pinggang, sakit sendi), gangguan gastrointestinal dan sebagainya atau barangkali tidak dapat tidur. Inilah yang menyebabkan depresi pada lansia sering tidak terdiagnosa maupun diterapi dengan baik. Penyebab lain kesulitan dalam mengenal depresi pada lansia adalah baik lansia maupun keluarga biasanya tidak memperdulikan gejala-gejala depresif. Mereka menganggap bahwa gejala-gejala tersebut normal bagi orang yang telah mencapai usia tua. Lansia sendiri sering gagal mengenali depresi yang terjadi pada dirinya Dampak Depresi Pada Lansia Pada usia lanjut depresi yang berdiri sendiri maupun yang bersamaan

18

dengan penyakit lain hendaknya ditangani dengan sungguh-sungguh karena bila tidak diobati dapat memperburuk perjalanan penyakit dan memperburuk prognosis. Pada depresi dapat dijumpai hal-hal seperti di bawah ini : 12
1. Depresi dapat meningkatkan angka kematian pada pasien dengan penyakit

kardiovaskuler.
2. Pada depresi timbul ketidakseimbangan hormonal yang dapat memperburuk

penyakit kardiovaskular. (Misal: peningkatan hormon adrenokortikotropin akan meningkatkan kadar kortisol). 3. Metabolisme serotonin yang terganggu pada depresi akan menimbulkan efek trombogenesis.
4. Perubahan suasana hati (mood) berhubungan dengan gangguan respons

imunitas termasuk perubahan fungsi limfosit dan penurunan jumlah limfosit.


5. Pada depresi berat terdapat penurunan aktivitas sel natural killer. 6. Pasien depresi menunjukkan kepatuhan yang buruk pada program pengobatan

maupun rehabilitasi. Depresi pada lansia yang tidak ditangani dapat berlangsung bertahun-tahun dan dihubungkan dengan kualitas hidup yang jelek, kesulitan dalam fungsi sosial dan fisik, kepatuhan yang jelek terhadap terapi, dan meningkatnya morbiditas dan mortalitas akibat bunuh diri dan penyebab lainnya . Beberapa penelitian menunjukkan bahwa depresi pada lansia menyebabkan peningkatan penggunaan rumah sakit dan outpatient medical services.

2.2.4.

Derajat Depresi dan Penegakan Diagnosis 11

Menurut International Classification Diagnostic (ICD) 10, pada gangguan depresi ada tiga gejala utama yaitu: 1. Alam perasaan terdepresi (suasana perasaan hati murung/sedih) 2. Hilang minat atau gairah 19

3. Hilang tenaga dan mudah lelah, yang disertai gejala lain seperti:

konsentrasi menurun, harga diri menurun, perasaan bersalah, pesimis memandang.masa depan, ide bunuh diri atau menyakiti diri sendiri, pola tidur berubah, nafsu makan menurun.
Tingkat Depresi Ringan Sedang Berat Gejala Utama 2 2 3 Gejala lain 2 3 atau 4 >4 Fungsi Baik Terganggu Sangat Terganggu Keterangan Distress Berlangsung minimal 2 minggu Intensitas gejala sangat berat

Tabel 1. Penggolongan depresi menurut International Classification Diagnostic (ICD) 10

Sedangkan DSM IV, kriteria depresi berat yang meliputi adanya 1 atau lebih simptom depresi terjadi selama 2 minggu. Gejala ini bukan akibat kondisi medik umum atau akibat pemakaian zat dan menimbulkan gangguan yang bermakna dalam fungsi kehidupan seseorang. DSM IV, tidak membedakan diagnosis depresi berdasarkan usia, Kriteria diagnosis gangguan depresi tersebut adalah adanya 5 atau lebih gejala berikut dengan salah satu gejala adalah perasaan depresi atau kehilangan minat atau kehilangan kesenangan:

20

1. Perasaan depresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, dan secara

subjektif' dilaporkan pasien (seperti rasa sedih atau hampa atau disobservasi oleh orang lain (seperti mudah menangis); 2. Kehilangan minat atau kesenangan yang jelas dalam atau hampir semua, aktivitas sehari-hari, hampir setiap hari (dilaporkan sendiri ataupun diobservasi orang lain); 3. Penurunan berat badan yang bermakna tanpa diet atau peningkatan berat badan (lebih dari 5%) atau penurunan atau peningkatan selera makan hampir setiap hari;
4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari;

5. 6. 7.

Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari; Fatigue atau kehilangan tenaga hampir setiap hari; Merasa tidak berguna atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat (inapropriate) hampir setiap hari;

8.

Kemampuan berpikir atau berkonsentrasi menurun, atau ketidakmampuan dalam mengambil keputusan; dan

9.

Pikiran tentang kematian yang berulang atau ide bunuh diri yang berurang tanpa rencana khusus atau usaha bunuh diri atau rencana untuk bunuh, diri.

.
2.2.5.

Skrining Depresi pada Lansia dengan Geriatric Depression Scale 13 Skrining depresi pada lansia pada layanan kesehatan primer sangat

penting. Hal ini penting karena frekuensi depresi dan adanya gagasan untuk bunuh diri pada lansia adalah tinggi .Skrining juga perlu dilakukan untuk membantu edukasi pasien dan pemberi perawatan tentang depresi, dan untuk mengikuti perjalanan gejala-gejala depresi seiring dengan waktu. Skrining tidak ditujukan untuk membuat diagnosis depresi mayor, namun untuk mendokumentasikan

21

gejala-gejala depresi sedang sampai berat pada lansia apapun penyebabnya. Skrining depresi pada lansia memiliki kekhususan tersendiri. Gejala-gejala depresi seperti kesulitan-kesulitan tidur, energi yang berkurang, dan libido yang menurun secara umum ditemukan pada lansia yang tidak mengalami depresi. Pemikiran tentang kematian dan keputusasaan akan masa depan mempunyai makna yang berbeda bagi mereka yang berada pada fase terakhir kehidupan. Lagipula, kondisi medik kronik lebih umum pada pasien geriatri dan dapat berhubungan dengan retardasi motorik dan tingkat aktivitas yang berkurang. Komorbiditas dengan demensia dapat mempengaruhi konsentrasi dan proses kognitif. Geriatric Depression Scale (GDS) dirancang untuk menjadi tes untuk skrining depresi yang mudah untuk dinilai dan dikelola .Geriatric Depression Scale memiliki format yang sederhana, dengan pertanyaan- pertanyaan dan respon yang mudah dibaca. Geriatric Depression Scale telah divalidasi pada berbagai populasi lanjut usia, termasuk di Indonesia. Selain GDS, screening scale lain yang telah terstandardisasi adalah Center for Epidemiologic Studies Depression Scale, Revised (CES-D-R). Selain GDS dan CES-D-R, masih ada instrumen skrining lain seperti Hamilton Rating Scale for Depression, Zung Self-Rating Depression Scale, Montgomery-Asberg Depression Rating Scale (Holroyd dan Clayton, 2002), namun kedua instrumen inilah yang paling sering digunakan. Geriatric Depression Scale terdiri dari 30 pertanyaan yang dirancang sebagai suatu self-administered test, walaupun telah digunakan juga dalam format observer-administered test. Geriatric Depression Scale dirancang untuk mengeliminasi hal-hal somatik, seperti gangguan tidur yang mungkin tidak spesifik untuk depresi pada lansia .Skor 11 pada GDS mengindikasikan adanya depresi yang signifikan secara klinis, dengan nilai sensitivitas 90,11 % dan nilai spesifisitas 83,67% .Terdapat juga GDS versi pendek yang terdiri dari 15 pertanyaan saja. Pada GDS versi pendek ini, skor 5 atau lebih mengindikasikan depresi yang signifikan secara klinis. Geriatric Depression Scale menjadi tidak valid bila digunakan pada lansia dengan gangguan kognitif. Status kognitif harus terlebih dahulu dinilai dengan

22

Mini Mental State Examination (MMSE), karena kemungkinan yang besar dari komorbiditas depresi dan fungsi kognitif . Mini Mental State Examination adalah suatu skala terstruktur yang terdiri dari 30 poin yang dikelompokkan menjadi tujuh kategori: orientasi tempat, orientasi waktu, registrasi, atensi dan konsentrasi, mengingat kembali, bahasa, dan konstruksi visual. Mini Mental State Examination didesain untuk mendeteksi dan menjejaki kemajuan dari gangguan kognitif yang terkait dengan gangguan neurodegenerative seperti penyakit Alzheimer. Mini Mental State Examination telah terbukti merupakan instrumen yang valid dan sangat dapat dipercaya Nilai MMSE 0-16 menunjukkan suatu definite gangguan kognitif.

2.3.

Penyakit Kronis Pada Lanjut Usia Definisi Penyakit Kronis Penyakit kronis adalah penyakit yang di derita lebih dari 3 bulan. Penyakit

2.3.1.

kronis didefenisikan sebagai kondisi medis atau masalah kesehatan yang berkaitan dengan gejala-gejala atau kecacatan yang membutuhkan jangka panjang. Penyakit kronis adalah penyakit atau kondisi yang gejalanya berlangsung lebih dari tiga bulan, dan pada beberapa kasus selama kehidupan seseorang pemulihannya lambat dan terkadang tidak total. 14 Karakteristik penyakit kronis adalah penyebabnya tidak pasti, memiliki faktor resiko yang multipel, membutuhkandurasi yang lama, menyebabkan kerusakan fungsi atau ketidakmampuan, dan tidak dapat disembuhkan. Penyakit kronis ini tidak disebabkan oleh infeksi atau patogen melainkan oleh gaya hidup, perilaku beresiko, pajanan yang berkaitan dengan proses penuaan. Penyakit kronis cenderung menyebabkan kerusakan yang bersifat permanen yang memperlihatkan adanya penurunan atau menghilangnya suatu kemampuan untuk menjalankan berbagai fungsi, terutama fungsi muskulo skeletal dan organ-organ penginderaan. Penyakit kronis tidak dapat disembuhkan tetapi

23

dapat diminimalkan tingkat keparahannya dengan mengubah perilaku, gaya hidup dan pajanan terhadap faktor-faktor tertentu di dalam kehidupan.

2.3.2.

Macam-macam dan Permasalahan Penyakit Kronis Pada Lanjut Usia

Penyakit Kronis Pada Lansia Beberapa penyakit kronis yang diderita lansia: Osteoartritis Hipertensi
Diabetes Mellitus

Ateroskleosis Kanker Reumatoid Arthritis Penyakit Arteri Koroner Glukoma Stroke Penyakit Jantung Koroner

Masalah-masalah yang berhubungan dengan usia lanjut adalah masalah kesehatan baik kesehatan fisik maupun mental, masalah sosial, masalah ekonomi, dan masalah psikologis. Di banyak negara, penuaan dikaitkan dengan ketidakmampuan, defisit kognitif, dan kesendirian. Ketika manusia semakin tua, mereka cenderung untuk mengalami masalah-masalah kesehatan yang lebih menetap dan berpotensi untuk menimbulkan ketidakmampuan. Kebanyakan lansia memiliki satu atau lebih keadaan atau ketidakmampuan fisik yang kronis. Masalah kesehatan kronik yang paling sering terjadi pada lansia adalah artritis, hipertensi, gangguan pendengaran, penyakit jantung, katarak, deformitas atau kelemahan ortopedik, sinusitis kronik, diabetes, gangguan penglihatan. 2

24

Ketidakmampuan fungsional yang merupakan akibat dari beberapa penyakit medis yang terjadi bersama-sama dan ketidakmampuan ortopedik dan neurologik pada lansia merupakan suatu kehilangan yang besar. disebutkan bahwa ketidakmampuan fisik tampaknya membawa jumlah kejadian hidup negatif yang lebih tinggi. Ketidakmampuan fisik dapat menyebabkan keterbatasan untuk melakukan aktivitas sosial atau aktivitas di waktu luang (leisure activities) yang bermakna, isolasi, dan berkurangnya kualitas dukungan sosial. 2 Lansia lebih mudah untuk mengalami isolasi sosial. bahwa lansia memiliki jaringan dukungan sosial yang lebih kecil daripada orang yang lebih muda, dan jaringan ini didominasi oleh sanak saudara. Pengunduran diri (retirement) atau kehilangan fungsi utama di rumah, terutama ketika hal tersebut tidak direncanakan atau diinginkan, berhubungan dengan kelesuan, involusi (degenerasi progresif), dan depresi. Retirement berhubungan dengan pengurangan pendapatan personal sebesar sepertiga sampai setengahnya. Perubahan peran akan berdampak langsung pada penghargaan diri. Retirement juga akan menyebabkan perubahan gaya hidup pada pasangannya dan menyebabkan beberapa adaptasi dalam hubungan mereka. disebutkan bahwa sekitar 15% lansia mengalami kesulitan-kesulitan besar dalam penyesuaian diri terhadap retirement.2 Hal-hal di atas menyebabkan lansia menjadi lebih rentan untuk mengalami masalah kesehatan mental. Gangguan yang sering terjadi meliputi depresi, kecemasan, alkoholisme, dan gangguan dalam penyesuaian terhadap kehilangan atau disabilitas fungsional. 2
2.3.3.

Hipertensi pada Lanjut Usia Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi

peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke,

25

serangan jantung, gagal jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis. Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolic), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolic). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu.15,16

Klasifikasi Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa menurut JNC VII 17


Kategori Normal Pre Hipertensi Hipertensi Stadium 1 Hipertensi Stadium 2 160 mmHg (atau) 100 mmHg Tekanan Darah Sistolik < 120 mmHg 120-139 mmHg 140-159 mmHg Tekanan Darah Diastolik (dan) < 80 mmHg (atau) 80-89 mmHg (atau) 90-99 mmHg

Tabel.2. Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa menurut JNC VII Pada hipertensi sistolik terisolasi, tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih, tetapi tekanan diastolik kurang dari 90 mmHg dan tekanan diastolik masih dalam kisaran normal. Hipertensi ini sering ditemukan pada usia lanjut.16,17 Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.18

26

Dalam pasien dengan diabetes mellitus atau penyakit ginjal, penelitian telah menunjukkan bahwa tekanan darah di atas 130/80 mmHg harus dianggap sebagai faktor risiko dan sebaiknya diberikan perawatan. Gejala18,20 Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala; meskipun secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut: sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak napas, gelisah, pandangan menjadi kabur yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal. Penyebab hipertensi19,20 Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
1.

Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum

diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).


2.

Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat

dari adanya penyakit lain. Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).

2.3.4.

Diabetes Melitus Tipe 2 pada Lanjut Usia 27

Pada saat ini, jumlah usia lanjut (lansia, berumur >65 tahun) di dunia diperkirakan mencapai 450 juta orang (7% dari seluruh penduduk dunia), dan nilai ini diperkirakan akan terus meningkat. Sekitar 50% lansia mengalami intoleransi glukosa dengan kadar gula darah puasa normal.33,34 Studi epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi Diabetes Melitus maupun Gangguan Toleransi Glukosa (GTG) meningkat seiring dengan pertambahan usia, menetap sebelum akhirnya menurun. Dari data WHO didapatkan bahwa setelah mencapai usia 30 tahun, kadar glukosa darah akan naik 1-2 mg%/tahun pada saat puasa dan akan naik sebesar 5,6-13 mg%/tahun pada 2 jam setelah makan.33,34 Seiring dengan pertambahan usia, lansia mengalami kemunduran fisik dan mental yang menimbulkan banyak konsekuensi. Selain itu, kaum lansia juga mengalami masalah khusus yang memerlukan perhatian antara lain lebih rentan terhadap komplikasi makrovaskular maupun mikrovaskular dari DM dan adanya sindrom geriatri. Tulisan ini membahas perkembangan tata laksana DM tipe 2 pada lansia dengan penekanan pada aspek khusus yang berkaitan dengan bidang geriatri.21-24 Manifestasi Klinik Gejala klasik DM seperti poliuria, polidipsi, polifagia, dan penurunan berat badan tidak selalu tampak pada lansia penderita DM karena seiring dengan meningkatnya usia terjadi kenaikan ambang batas ginjal untuk glukosa sehingga glukosa baru dikeluarkan melalui urin bila glukosa darah sudah cukup tinggi. Selain itu, karena mekanisme haus terganggu seiring dengan penuaan, maka polidipsi pun tidak terjadi, sehingga lansia penderita DM mudah mengalami dehidrasi hiperosmolar akibat hiperglikemia berat.25-27 DM pada lansia umumnya bersifat asimptomatik, kalaupun ada gejala, seringkali berupa gejala tidak khas seperti kelemahan, letargi, perubahan tingkah laku, menurunnya status kognitif atau kemampuan fungsional (antara lain delirium, demensia, depresi, agitasi, mudah jatuh, dan inkontinensia urin). Inilah yang menyebabkan diagnosis DM pada lansia seringkali agak terlambat. Bahkan, DM pada lansia seringkali baru terdiagnosis setelah timbul penyakit lain. Berikut ini adalah data M.V. Shestakova

28

(1999) mengenai manifestasi klinis pasien lansia sebelum diagnosis DM ditegakkan.25

Table. 4. Manifestasi Klinis Pasien Lansia Sebelum Diagnosis DM Di sisi lain, adanya penyakit akut (seperti infark miokard akut, stroke, pneumonia, infeksi saluran kemih, trauma fisik/ psikis) dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Hal ini menyebabkan lansia yang sebelumnya sudah mengalami toleransi glukosa darah terganggu (TGT) meningkat lebih tinggi kadar gula darah sehingga mencapai kriteria diagnosis DM. Tata laksana kondisi medis akut itu dapat membantu mengatasi eksaserbasi intoleransi glukosa tersebut.25, 28 Diagnosis Pada usia 75 tahun, diperkirakan sekitar 20% lansia mengalami DM, dan kurang lebih setengahnya tidak menyadari adanya penyakit ini. Oleh sebab itu, American Diabetes Association (ADA) menganjurkan penapisan (skrining) DM sebaiknya dilakukan terhadap orang yang berusia 45 tahun ke atas dengan interval 3 tahun sekali. Interval ini dapat lebih pendek pada pasien berisiko tinggi (terutama dengan hipertensi dan dislipidemia). Berikut ini adalah kriteria diagnosis DM menurut standar pelayanan medis ADA 2010.29

29

Tabel.5. Kriteria Diagnosis DM Menurut ADA 2010 Sebagaimana tes diagnostik lainnya, hasil tes terhadap DM perlu diulang untuk menyingkirkan kesalahan laboratorium, kecuali diagnosis DM dibuat berdasarkan keadaan klinis seperti pada pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia. Tes yang sama dapat juga diulang untuk kepentingan konformasi. Kadangkala ditemukan hasil tes pada seorang pasien yang tidak bersesuaian (misalnya antara kadar gula darah puasa dan HbA1C). Jika nilai dari kedua hasil tes tersebut melampaui ambang diagnostik DM, maka pasien tersebut dapat dipastikan menderita DM. Namun, jika terdapat ketidaksesuaian (diskordansi) pada hasil dari kedua tes tersebut, maka tes yang melampaui ambang diagnostik untuk DM perlu diulang kembali dan diagnosis dibuat berdasarkan hasil tes ulangan. Jika seorang pasien memenuhi kriteria DM berdasarkan pemeriksaan HbA1C (kedua hasil >6,5%), tetapi tidak memenuhi kriteria berdasarkan kadar gula darah puasa (<126 mg/dL) atau sebaliknya, maka pasien tersebut dianggap menderita DM. 28,29
2.3.5.

Osteoarthritis pada Lanjut Usia

Definisi Kata arthritis berasal dari dua kata Yunani. Pertama, arthron, yang berarti sendi. Kedua, itis yang berarti peradangan.
30

Osteoartritis (OA) adalah penyakit

sendi degeneratif dengan etiologi dan patogenesis yang belum jelas serta mengenai populasi luas. Pada umumnya penderita OA berusia di atas 40 tahun dan

30

populasi bertambah berdasarkan peningkatan usia. Osteoartritis merupakan gangguan yang disebabkan oleh multifaktorial antara lain usia, mekanik, genetik, humoral dan faktor kebudayaan.31 Gejala dan Tanda Klinik Osteoartritis Pada umumnya, gambaran klinis osteoartritis berupa nyeri sendi, terutama bila sendi bergerak atau menanggung beban, yang akan berkurang bila penderita beristirahat. Nyeri dapat timbul akibat beberapa hal, termasuk dari periostenum yang tidak terlindungi lagi, mikrofaktur subkondral, iritasi ujung-ujung saraf di dalam sinovium oleh osteofit, spasme otot periartikular, penurunan aliran darah di dalam tulang dan peningkatan tekanan intraoseus dan sinovitis yang diikuti pelepasan prostaglandin, leukotrien dan berbagai sitokin.32 Selain nyeri, dapat pula terjadi kekakuan sendi setelah sendi tidak digerakkan beberapa lama (gel phenomenon), tetapi kekakuan ini akan hilang setelah sendi digerakkan. Jika terjadi kekakuan pada pagi hari, biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit (tidak lebih dari 30 menit).33 Gambaran lainnya adalah keterbatasan dalam bergerak, nyeri tekan lokal, pembesaran tulang di sekitar sendi, efusi sendi dan krepitasi. Keterbatasan gerak biasanya berhubungan dengan pembentukan osteofit, permukaan sendi yang tidak rata akibat kehilangan rawan sendi yang berat atau spasme dan kontraktur otot periartikular. Nyeri pada pergerakan dapat timbul akibat iritasi kapsul sendi, periostitis dan spasme otot periartikular.32 Beberapa penderita mengeluh nyeri dan kaku pada udara dingin dan atau pada waktu hujan. Hal ini mungkin berhubungan dengan perubahan tekanan intra artikular sesuai dengan perubahan tekanan atmosfir. Beberapa gejala spesifik yang dapat timbul antara lain adalah keluhan instabilitas pada penderita OA lutut pada waktu naik turun tangga, nyeri pada daerah lipat paha yang menjalar ke paha depan pada penderita OA koksa atau gangguan menggunakan tangan pada penderita OA tangan.33

31

Kriteria Diagnosa menurut ACR Untuk OA lutut:

Nyeri lutut + ada osteofit pada rontgen Atau

Nyeri lutut + minimal 3 dari 6 kriteria berikut : - Umur > 50 tahun - Kaku pagi < 30 menit - Krepitus - Nyeri tekan - Pembesaran tulang - Tidak panas pada perabaan

Untuk OA panggul :

Nyeri pinggul + osteofit pada femur atau acetabulum Atau

nyeri pinggul + penyempitan celah sendi, LED kurang dari 20 mm/jam.

Untuk OA tangan:

Nyeri pada tangan, tajam atau kaku + pembengkakan 2 dari 10 sendi (DIP jari 2 dan 3, sendi PIP jari 2 dan 3, sendi CMP ibu jari) + <3 pembengkakan sendi CMP (Metacarpophalangeal) + pembengkakan 2 sendi DIP (distal interphalangeal) atau deformitas 2 dari 10 sendi (DIP jari 2 dan 3, sendi PIP jari 2 dan 3, sendi CMP ibu jari).

32

Kerangka Teori

33

BAB III KERANGKA KONSEP


PENYAKIT KRONIS

3.1.

Kerangka Konsep

DEPRESI PADA LANSIA

PENYAKIT KRONIS

OSTEOATRI TIS DIABETES MELLITUS HIPERTENSI

3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6.


Faktor lain Karakterisik o o o Jenis kelamin Latar belakang pendidikan Status perkawinan

Kemandirian Dukungan keluarga

34

3.2.

Variabel 3.2.1. Variabel Dependen Pada penelitian ini variabel dependen adalah depresi pada lansia. 3.2.2. Variabel Independen Pada penelitian ini variabel independen adalah 1. Penyakit Kronis a. Osteoartritis
b. Hipertensi

c. Diabetes Mellitus 2. Karakteristik Individual a. Jenis kelamin b. Latar belakang pendidikan c. Status perkawinan 3. Kemandirian 4. Dukungan Keluarga 5. Dukungan dan Interaksi Sosial

35

3.2.3.

Definisi Operasional

No

Variabel

Fungsi

Alat ukur dan Cara Ukur Kuesioner Cara Ukur: Wawancara

Hasil Ukur

Skala Ukur

1.

Jenis Kelamin

Ciri atau karakteristik yang menunjukkan bahwa seseorang adalah laki-laki atau perempuan.

1.Laki-laki 2.Perempuan

Nominal

Kuesioner Latar belakang Pendidikan Tingkat pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. Cara Ukur: Wawancara

2.

1. Pendidikan rendah (Tidak sekolah, SD, SLTP) 2. Pendidikan sedang (SMU) 3. Pendidikan tinggi (Akademi, Universitas) 1. Menikah 2. Janda/duda di tinggal meninggal 3. Janda / duda ditinggal cerai

Ordinal

Kuesioner 3. Status Perkawinan Status perkawinan responden Cara Ukur: Wawancara

Ordinal

Numerik 4. Lamanya Penyakit Mengetahui lamanya sakit yang di derita oleh responden Kuesioner Cara Ukur: Wawancara Kuesioner 1. ADL (Activity Daily Living) Cara ukur : Wawancara 3 bulan

5.

Aktivitas kegiatan sehari hari

Menilai kemandirian responden dalam melakukan aktivitas sehari hari

1. Mandiri (20) 2. ketergantungan ringan (12-19) 3. ketergantungan sedang (9-11) 4. ketergantungan berat (5-8) 5. ketergantungan total (0-4)

Ordinal

36

No

Variabel

Fungsi

Alat ukur dan Cara Ukur Kuesioner: 2. IADL (Instrument Activity Daily Living) Cara ukur : Wawancara Kuesioner Montreal Cognitive Assesment Cara ukur : Wawancara

Hasil Ukur

Skala Ukur

1. Mandiri (9-6) 2. Perlu bantuan (15) 3. Tidak bisa melakukan apapun (0) 1. Normal (26-30) 2. Demensia ringan (21-25) 3. Demensia Sedang (10-20) 4. Demensia berat (0-9)

Ordinal

6.

Penurunan fungsi kognitif

Menilai adanya penurunan aktivitas mental, seperti berpikir, mengingat, belajar dan menggunakan bahasa

Ordinal

7.

Depresi

Menilai adanya gangguan alam perasaan berupa sedih yang berlebihan pada responden

Kuesioner GCS (Geriatric Depression Score) Cara ukur : Wawancara

Ordinal 1. Normal (0-9) 2. Depresi ringan (10-19) 3. Depresi berat (20-30)

Menilai adanya Kuesioner dukungan keluarga


8. Dukungan Keluarga

1.

Cara Ukur: Wawancara

Dukungan keluarga baik (14-20) 2. Dukungan keluarga cukup (7-13) 3. Dukungan keluarga kurang ( 1-6) 1. Dukungan dan Interaksi sosial baik (2333) 2. Dukungan dan Interaksi sosial cukup (1222) 3. Dukungan dan Interaksi

Ordinal

9.

Dukungan dan Menilai adanya Interaksi dukungan sosial dan Sosial menilai seberapa

Kuesioner

Ordinal

sering responden bersosialisai dengan sekitar.

Cara Ukur: Wawancara

37

sosial kurang (111) No Variabel Fungsi Alat Ukur dan Cara Ukur Sfigmomanome ter pegas merk ABN dan stetoskop merk Littman Wawancara dan pengukuran tekanan darah dengan duduk Glukosa stick Merk AccuChek Cara ukur : Wawancara dan pengukuran kadar gula darah Kuesioner Cara ukur : Wawancara Hasil Ukur Skala Ukur Nominal 1.Hipertensi 2. Tidak hipertensi

11.

Hipertensi

Riwayat penyakit Hipertensi yang diderita responden

Nominal 1.Diabetes Mellitus 2. Tidak Diabetes Mellitus

12.

Diabetes Mellitus

Riwayat penyakit Diabetes Mellitus yang diderita responden

13.

Osteoarthriti
s

Riwayat penyakit Osteoarthritis yang diderita responden

1. Osteoarthritis 2. Tidak Osteoarthritis

Nominal

38

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.1.

Desain atau Rancangan Penelitian Desain penelitian ini yang digunakan adalah penelitian Analitik

observasional dengan metode korelasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. 4.2.Lokasi dan Waktu 4.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di puskesmas Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang terdiri dari subjek yang tinggal di Kelurahan Jati Padang. Pemilihan populasi di daerah ini karena jumlah populasi lanjut usia yang mempunyai penyakit kronis lebih banyak dibandingkan dengan daerah yang lain.
Penyakit Pejaten barat 1 OA Hipertensi Diabetes Melitus Penyakit mata Jantung Saluran Nafas 164 144 7 15 10 201 Pejaten Barat 2 120 168 60 35 25 350 Pejaten Barat 3 112 162 25 31 14 200 Puskesmas Kelurahan Pejaten Timur 120 216 28 57 45 190 Pasar Minggu 116 180 120 90 170 152 Jati Padang 164 140 119 85 165 228 Kebag usan 180 158 35 35 2 245 Ragu nan 96 150 27 35 6 376 Juml ah

1072 1318 421 383 437 1942

Tabel.6. Data penyakit terbanyak pada Lanjut Usia di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu Tahun 2011

39

4.2.2

Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dari 14 April 2012 hingga 2 Juni 2012

4.3.

Populasi dan sampel Populasi Penelitian Populasi dalam penelitian ini seluruh lansia yang tinggal di Kelurahan Jati

4.3.1

Padang Kecamatan Pasar Minggu yang berjumlah 261 orang.


Golongan Umur 60-69 127 >70 39 166 Jumlah

Tabel.7. Data dasar Lansia Binaan Puskesmas Jati Padang tahun 2011 Keterangan: Cakupan pelayanan kesehatan Lansia yang di bina 57 %

4.3.2

Kriteria inklusi dan eksklusi Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Lanjut usia laki-laki dan perempuan berusia minimal 60 tahun yang

mempunyai penyakit kronis (Hipertensi, Diabetes Mellitus dan OA) yang berada di Kelurahan Jati Padang Kecamatan Pasar Minggu. b. Lanjut usia yang menderita penyakit kronik yang kooperatif menjadi responden. Kriteria eklusi penelitian sebagai berikut :
a. Lanjut usia yang tidak komunikatif

40

4.3.3

Sampel Penelitian Teknik pengambian sampel ini dilakukan dengan teknik simple random

sampling. Sampel yang digunakan adalah sebagian lansia yang tinggal di Kelurahan Jati Padang Kecamatan Pasar Minggu. Besar sampel Perkiraan besar sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan rumus. Rumus populasi infinit: Prevalensi depresi Prevalensi HT Prevalensi OA : 0,63 Prevalensi DM No Z P Q d : 0,45 = Z2 x P x Q d2 = Tingkat kemaknaan yang dikehendaki 95% besarnya 1,96 = Prevalensi HT yang diderita lansia di Kelurahan Jati Padang = 0,54 = Prevalensi/proporsi yang tidak mengalami peristiwa yang diteliti = 1 0,54 = 0,46 = Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p > 10% adalah 0,05 No = (1,96)2 x 0,54 x 0,46 (0,05)2 = 382 : 0,60 : 0,54

41

Rumus populasi finit: n n n0 N = n0 (1 + n0/N) = Besar sampel yang dibutuhkan untuk populasi yang finit. = Besar sampel dari populasi yang infinit = Besar sampel populasi finit

Karena jumlah lansia yang berusia sama dengan atau lebih 60 tahun di Kelurahan Jati Padang adalah 261 orang. n = 382 (1 + 382/261) = 155 lansia

42

4.4.Instrumen Penelitian Table 2. Instrumen penelitian dan fungsinya INSTRUMEN 1. Kuesioner FUNGSI INSTRUMEN Untuk mengetahui :

Usia Jenis kelamin Latar belakang Pendidikan Status perkawinan Fungsi kognitif Aktivitas kehidupan responden Skala depresi Skala partisipasi dan dukungan sosial Skala dukungan keluarga Kriteria Hipertensi Kriteria DM Kriteria OA

2. 3. 4.
Sfigmomanometer pegas merk ABN Stetoskop merk Littman Glukosa stick merk Accu-Chek

Untuk mengetahui hipertensi Untuk mengetahui hipertensi Untuk mengetahui DM

43

4.5.Pelaksanaan Penelitian Dan Pengumpulan Data


Peneliti meminta ijin administrasi ke puskesmas kecamatan Pasar Minggu dan Kelurahan Jati Padang

Peneliti ke kelurahan Jati Padang dan menemui responden yaitu lansia yang sudah di tentukan.

Peneliti memberikan penjelasan kepada responden tentang studi penelitian yang akan dilakukan

Setelah responden memahami penjelasan yang diberikan, peneliti meminta persetujuan dari responden menggunakan informed consent. Jika setuju responden mengisi kuesioner

Peneliti mengumpulkan data demografi seperti usia, jenis kelamin, alamat dan pendidikan melalui wawacara

Peneliti mewawancara pasien mengenai keluhan dan gejala klinis yang mendukung diagnosis

Peneliti mengukur tekanan darah dan gula darah sewaktu responden dan pemeriksaan fisik

Peneliti melakukan pengumpulan data dengan hasil wawancara dan kuesioner

44

4.6.Manajemen Data 4.6.1 Data Entry dan Data Cleaning Data yang telah berhasil diperoleh diolah secara elektronik setelah melalui proses penyuntingan, pemindahan data ke komputer dan tabulasi. Data yang terkumpul dari hasil kuesioner diolah, dianalisis, dengan menggunakan program SPSS Statistics 18.0. 4.6.2 Analisa Data a) Analisis Univariat Analisa univariat yang dilakukan terhadap karakteristik responden untuk mendeskripsikan variable penyakit kronik dan tingkat depresi dengan tidak melakukan analisis perbedaan atau hubungan antar variable. b) Analisis Bivariat Analisa bivariat dilakukan terhadap 2 variabel yang diduga berhubungan berkorelasi, dengan menggunakan uji Chi-Square yaitu digunakan untuk mencari hubungan atau mencari hipotesa antara 2 variabel atau lebih dan datanya ordinal.

4.6.3

Penyajian Data Data yang telah terkumpul dan diolah akan disajikan dalam bentuk:
o o

Tabular :penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan table Tekstular :penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan kalimat Grafik :penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan diagram batang yang menggambarkan sifat-sifat yang dimiliki.

45

4.7. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Time Table Minggu ke 4 5 6 7

Rencana Kerja Orientasi masalah penelitian Mengajukan usul judul penelitian Menyusun proposal penelitian Persiapan lapangan Presentasi proposal penelitian Pengumpulan data dan pencarian data penelitian Pengolahan data Analisa data/pembahasan Penyusunan hasil laporan dan POA Presentasi hasil penelitian Revisi 1 menentukan X untuk bahan 2 3

X X X X X X X X X X X

X X X

4.8.Etika Penelitian Penelitian dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari institusi pendidikan mengajukan izin kepada lembaga tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan dilakukan penelitian dengan menekankan etika yang meliputi :
1.

Informed consent (lembar persetujuan menjadi responden) Lembar persetujuan ini diberikan kepada calon responden yang akan diteliti dan mau menandatangani surat persetujuan bersedia menjadi responden penelitian. Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang akan dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah penggumpulan data, jika calon responden menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghonnati hak-haknya.

2. Anonymity (tanpa nama) 46

Peneliti menjaga kerahasiaan responden, dengan tidak mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data, tetapi cukup dengan memberi kode pada masing-masing lembar tersebut. 3. Confidentiality (kerahasiaan) Kerahasiaan informasi responden akan dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data-data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil penelitian.

47

BAB V TINJAUAN PUSTAKA


1. 2.

Kalbe (http-www.kalbe.co.idfilescdkfilescdk_156_Depresi.pdf) Kaplan, H.I., Sadock, B.J., and Grebb, J.A., 2010. Sinopsis Psikiatri : Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Edisi Ketujuh. Jilid Satu. Editor : Dr. I. Made Wiguna S. Jakarta : Bina Rupa Aksara : 777-858

3.

Soejono. 2000. Pedoman Pengelolaan Kesehatan Pasien Geriatric untuk Dokter dan Perawat. Jakarta : FK UI, 60-76

4.

Lueckenotte, A. G. (2000). Gerontologic Nursing, 2nd ed. St. Louis: Mosby ISBN:0323007570

5.
6.

(http-ageing.oxfordjournals.orgcontent325510.full.pdf) Papalia, D.E., Olds, S.W., and Feldman, R.D., 2005. Human Development. 10th ed. New York: McGraw-Hill.

7.

Setiati, S., Harimurti, K., dan Roosheroe, A.G., 2007. Proses Menua dan Implikasi Kliniknya. Dalam: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S., ed. IV Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1335-1340.

8.

Darmojo RB. Teori proses menua. Dalam: Martono H, Pranarka K (editor). Buku ajar boedhi-darmojo geriatri (ilmu kesehatan usia lanjut). Edisi ke-4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009: halaman 3-13.

9. 10.

Kuntjoro (2002). masalah kesehatan lansia . Jakarta : FKUI Unutzer, J., et al. 2002, Collaborative Care Management of Late Life Depression in The Primary Care Setting. Journal American Medical Association. Dec, 288, 28362845. Available from : http://jama.ama-assn.org/cgi/content/full/288/22/2836. [Accessed 25 April 2012]. 48

11.
12.

buku Mudjaddid, E., 2003. Depresi dan Komorbiditasnya pada Pasien Geriatri. Dalam: Supartondo, Setiati, S., dan Soejono, C.H., (eds). 2003. Prosiding Temu IlmiahGeriatri 2003 Penatalaksanaan Pasien Geriatri dengan Pendekatan Interdisiplin. Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta: 113-121.

13.

Blazer, D.G., 2003. Depression in Late Life: Review and Commentary. J Gerontology 2012] Med Sci 58A, No.3: 249-265. Available from: http://focus.psychiatryonline.org/cgi/content/full/7/1/118 [accessed 25 April

14.

Burqener,s., Buettner, L, Buckwalter, K, Beattie, E, Bossen, A. Fick, D., S. Fitzsimmons, A. Kolanowski, N. Richeson, K.Rose, A. Schieiner, Specth, J. Testad, I. Yu, F & S Mc Kenzie (2007) Consensus Report : Review of Scientific Evidance Addresing Prevalence, Documented Needs, and Interdisciplinary Research : Person in Early Stage Alzheimers Disease. Chicago : National Alzheimer Assosiate.

15.

Baruch L. Hypertension and the elderly: More than just blood pressure control. J Clin Hypertens 2004; 6:249-255

16.

Chobanian AV, Bakris GL, Black HR, et al. The Seventh report of The joint nasional Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure: The JNC 7 report. JAMA.2003;289(19):2560-72.

17.

Dickerson LM, Gobson MV. Management of Hypertension in older persons. Am Fam Physician 2005; 71:469-76.

18.

Guidelines Committee.2003 European Society of hypertension-European Socitey of cardiology guidelines for the management of arterial hypertension, J Hypertens 2003;21:1011-1053

19.

NICE clinical guideline 34. Hypertension: Management of hypertension in adults in primary care. National Institute for health and Clinical Excellence. June. 2006.

49

20.

Rochmah W. Diabetes Mellitus pada Usia Lanjut. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI; 2007.p.1915-18.

21.

Subramaniam I, Gold JL. Diabetes Mellitus in Elderly. J Indian Acad Geri. 2005;2:77-81. Available from: http://www.jiag.org/sept/diabetes.pdf

22.

Chau D, Edelman SV. Clinical Management of Diabetes in the Elderly. Clin Diab. 2001. Available from: http://clinical.diabetesjournals.org/content/19/4/172.full

23.

Burduli M. The Adequate Control of Type 2 Diabetes Mellitus in an Elderly Age. 2009. Available from: http://www.gestosis.ge/eng/pdf_09/Mary_Burduli.pdf

24.

Sclatter A. Diabetes in the Elderly: The Geriatricians Perspective. Can J Diab. 2003;27(2):172-5. Available from: http://www.diabetes.ca/files/ElderlySclaterJune03.pdf

25.

Ganesan VS, Balaji V, Seshaiah V. Diabetes in the Elderly. Int J Diab Dev Countries. 1994;14:119-23. Available from: http:// www.rssdi.org/1994_octdec/review_article1.pdf

26.

Meneilly GS, Tessier D. Diabetes in Elderly Adults. J Gerontol.2001;56A(1):M511. Available from: http://biomedgerontology.oxfordjournals.org/content/full/56/1/M5

27.

American Diabetes Association. Standards of Medical Care in Diabetes 2010. Diabetes Care. 2010;33(1):S11-4. Available from: http://care.diabetesjournals.org/content/33/Supplement_1/S11.extract

28.

Gupta V, Suri P. Diabetes in Elderly Patients. JK Practitioner. 2002;91(4):258-9. Available from: http://medind.nic.in/jab/t02/i4/jabt02i4p258o.pdf

29.

Saryono. Kumpulan instrument penelitian Kesehatan. Jakarta : Mulia Medika. 2010. p1-4.

50

30.

Osteoartritis. Dalam Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1996 : 1317

31.

Poole A.R. Cartilage in Health and Disease. In : Arthritis and Allied Conditions. Text Book of Rheumatology. 4th Edition. Editor : Koopman W.J. Lippincot Williams & Wilkins. Philadelphia, 2001 : 226 284.

32.

Price Sylvia A., Wilson Lorraine M. Patofisiologi, Konsep Klinis Prosesproses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1995 : 1218 - 1222.

33.

Haq I., Murphy E., Dacre J. Osteoarthritis Review. Postgrad Med J, 2003; 79 : 377 383.

51