Anda di halaman 1dari 9

ANALISA KASUS Cedera pada tulang servikal bagian bawah, yang kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas,

paling sering terjadi karena vertebra C IV, V, dan VI adalah vertebra servikal yang paling banyak bergerak. Penyebab tersering yang kedua adalah jatuh dari ketinggian. Berbagai macam mekanisme trauma yang dapat menimbulkan cedera pada tulang servikal adalah trauma pembebanan gaya aksial, trauma hiperfleksi, dan trauma cambuk. Mekanisme trauma tersebut dapat menyebabkan berbagai patologi, yaitu tipe vertikal, tipe kompresi, dislokasi faset sendi intervertebral unilateral, dan dislokasi faset sendi intervertebral bilateral. Dislokasi interfasetal bilateral merupakan suatu bentuk trauma tulang belakang khususnya di daerah servikal, dan merupakan suatu trauma yang serius dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian ataupun gangguan neurologi yang mempengaruhi produktifitas kerja penderita dan meningkatnya biaya pengobatan. Trauma servikal tidak selalu berdiri sendiri, sering disertai trauma kepala (20%), wajah (2%), penurunan kesadaran,dan multiple trauma. Kecenderungan meningkatnya trauma servikal sejalan dengan kepadatan arus lalu lintas yang mengakibatkan tingginya resiko angka kecelakaan. Penyebab lainnya adalah jatuh dari ketinggian tertentu, dan olah raga. Karenanya dalam mengevaluasi penderita trauma, seringkali diperlukan rekonstruksi trauma, memperhitungkan mekanisme trauma yang terjadi serta memperkirakan tipe dari trauma tersebut, dengan asumsi bahwa penderita trauma yang memperlihatkan gejala adanya kerusakan tulang belakang seperti nyeri leher, nyeri punggung, paresa ekstremitas atau perubahan sensibilitas, harus dirawat seperti merawat penderita dengan kerusakan tulang belakang sampai terbukti tidak. Dislokasi interfasetal bilateral bisa tanpa memberikan gejala neurologis (Frankel E) sampai paralisa komplet (Frankel A). Umumnya trauma pada vertebra servikalis terjadi pada dua tempat. Sepertiga dari trauma terjadi pada segmen C2 dan setengahnya terjadi pada segmen C6 atau C7. Dislokasi interfasetal bilateral paling sering terjadi C4 ,C5 ,C6 meskipun cedera ini bisa terjadi pada setiap level. Biomekanika trauma ini adalah akibat hiperfleksi yang hebat, dan secara patologinya merupakan cedera yang tidak stabil. Hal-hal yang dapat terjadi pada fraktur servikal : 1. Aktifitas dan istirahat : kelumpuhan otot terjadi kelemahan selama syok spinal

2.

Sirkulasi : berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi, hipotensi, bradikardia ekstremitas dingin atau pucat

3.

Eliminasi : inkontenensia defekasi dan berkemih, retensi urine, distensi perut, peristaltik usus hilang

4. 5.

Mengalami distensi perut, peristaltik usus hilang Neurosensori : kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki, paralisis flasid, hilangnya sensasi dan hilangnya tonus otot, hilangnya reflek, perubahan reaksi pupil, ptosis.

6.

Nyeri/kenyamanan : nyeri tekan otot, hiperestesi tepat diatas daerah trauma, dan mengalami deformitas pada derah trauma.

7. 8.

Pernapasan : napas pendek, ada ronkhi, pucat, sianosis Suhu yang naik turun

Pemeriksaan diagnostik 1. Sinar x spinal untuk menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur atau dislokasi) 2. 3. 4. 5. CT scan untuk menentukan tempat luka/jejas MRI untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal Foto rongent thorak mengetahui keadaan paru Analisa Gas Darah untuk menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi Penatalaksanaan Penilaian primary survey berpatokan pada urutan ABCDE: Airway, Breathing, Circulation, Disability, dan Exposure/environmental. A. Airway dengan kontrol servikal Hal yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Usaha harus membebaskan airway harus melindungi vertebra servikal, dalam hal ini dapat dimulai dengan melakukan

chin lift atau jaw thrust. Penderita dengan glasgow coma scale kurang dari 8 dan gerakan motorik yang tidak bertujuan memerlukan pemasangan airway definitif. Dalam hal dicurigai adana fraktur servikal, harus dipakai alat imobilisasi. B. Breathing dan ventilasi Ventilasi yang baik memerlukan fungsi yang baik dari paru, dinding dada, dan diafragma. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat. C. Circulation dengan kontrol perdarahan Suatu keadaan hipotensi pada pasien trauma harus dianggap disebabkan hipovolemia, sampai terbukti sebaliknya. Informasi mengenai keadaan hemodinamik dapat diperoleh dalam hitungan detik dari kesadaran, warna kulit, dan nadi. Nadi dinilai pada nadi besar seperti pada arteri femoralis dan arteri karotis, untuk kekuatan nadi, kecepatan, dan irama. Adanya perdarahan harus segera dihentikan. D. Disability Komponen yang harus dinilai pada tahap ini adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil, tanda-tanda lateralisasi, dan tingkal (level) cedera spinal.

E.

Eksposure Pada tahap ini, pakaian penderita harus dibuka keselurahannya untuk memeriksa dan mengevaluasi penderita. Setelah itu pasien harus diselimuti agar tidak kedinginan. Yang terpenting disini adalah mempertahankan suhu tubuh penderita.

Tehnik-tehnik mempertahankan air way pada fraktur servikal : 1. Tindakan head-tilt-chin-lift adalah kontraindikasi pada penderita yang dicurigai mengalami cedera leher (Fraktur servikal). Hal ini karena head tilt chin lift adalah tindakan pembebasan jalan napas yang mengakibatkan kepala pendeita menengadah

(Ekstensi/Hiperekstensi). 2. Semua tindakan (buka jalan napas atau yang lainnya) pada penderita trauma yang dicurigai fraktur servikal harus selalu menjaga agar posisi penderita tetap lurus / in line position. Jadi tindakan head tilt chin lift tidak dibenarkan dilakukan pada penderita dengan kecurigaan fraktur servikal. 3. Tindakan pembukaan jalan napas pada sumbatan karena pangkal lidah (dengan curiga fraktur servikal/patah tulang leher) dilakukan dengan manuver chin lift dan jaw thrust. 4. Tindakan jaw thrust dan chin lift adalah tindakan yang diperuntukan bagi orang awam yang tidak memiliki alat untuk pembebasan jalan napas karena sumbatan pangkal lidah pada penderita yang tidak sadar. sedangkan petugas profesional dalam membebaskan jalan napas karena sumbatan pangkal lidah menggunakan alat yang namanya oropharyngeal airway (OPA) atau Naso Pharyngeal airway (NPA) 5. Tindakan head tilt chin lift atau menengadahkan kepala penderita yang di curigai cedera leher justru akan berakibat fatal, semakin banyak menggerakan leher semakin besar kemungkinan akan terjadi cedera sekunder. karena di leher banyak sekali dilewati persyarafan, bukan tidak mungkin dengan menengadahkan kepala penderita, penderita akan mengalami henti napas dan henti jantung atau kelumpuhan yang permanen. 6. Pada penderita dengan kecurigaan cedera tulang leher, didalam menjaga jalan napasnya harus selalu menjaga agar selalu dalam posisi segaris (cervical control), jadi sangat dianjurkan untuk selalu memakai neck collar atau fiksasi secara manual. Tindakan Head Tilt dan Chin Lift bukan kontra indikasi pada pasien dengan cedera leher. Sejak tahun 2005, guideline yang dikeluarkan oleh AHA, ILCOR maupun ERC menyatakan bahwa pada pasien dengan cedera leher, prioritas pertama adalah mempertahankan/ membuka jalan nafas. Syarat jawtrust adalah : 1. 2. Harus dilakukan oleh tenaga medis profesional Dilakukan oleh minimal 2 orang tenaga medis profesional

Kenapa harus oleh tenaga medis profesional? Dari penelitian dinyatakan bahwa tenaga medis profesional- pun mengalami kesulitan dalam membuka jalan nafas yang adekuat dengan jawtrust.

Karena itu, protap jawtrust hanya diajarkan kepada tenaga medis. Seorang relawan kesehatan tidak diajarkan manuver ini, karena pada keadaan pasien gawat, yang terjadi adalah gagal dalam membuka jalan nafas. Selain itu, bila pelatihan mengajarkan bahwa Head tilt chin lift tidak boleh dilakukan pada pasien curiga cedera leher, maka hal itu akan menyebabkan banyak korban tidak tertolong dengan angka keberhasilan membuka jalan nafas yang rendah. Penggunaan colar neck pada pembukaan jalan nafas juga tidak dianjurkan, karena akan menghambat jalan nafas terbuka. Penggunaan colar neck hanya dianjurkan pada pasien dengan jalan nafas yang stabil.

Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot diafragma. Oleh karena itu diberikan oksigen. Kriteria hasil : ventilasi adekuat, PaO2 > 80, PaCo2 < 45, RR = 16-20 x/mt, tanda sianosis (). Intervensi keperawatan : 1. Pertahankan jalan nafas, posisi kepala tanpa gerak. Pasien dengan cedera cervicalis akan membutuhkan bantuan untuk mencegah aspirasi/ mempertahankan jalan nafas. 2. Lakukan penghisapan lendir bila perlu, catat jumlah, jenis dan karakteristik sekret. Jika batuk tidak efektif, penghisapan dibutuhkan untuk mengeluarkan sekret, dan mengurangi resiko infeksi pernapasan. 3. Kaji fungsi pernapasan. Trauma pada C5-6 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara partial, karena otot pernapasan mengalami kelumpuhan. 4. Auskultasi suara napas. Hipoventilasi biasanya terjadi atau menyebabkan akumulasi sekret yang berakibat pnemonia. 5. Observasi warna kulit. Menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang memerlukan tindakan segera 6. Kaji distensi perut dan spasme otot. Kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan diafragma 7. Anjurkan pasien untuk minum minimal 2000 cc/hari. Untuk membantu mengencerkan

sekret, meningkatkan mobilisasi sekret sebagai ekspektoran. 8. Lakukan pengukuran kapasitas vital, volume tidal dan kekuatan pernapasan. Untuk menentukan fungsi otot-otot pernapasan. Pengkajian terus menerus untuk mendeteksi adanya kegagalan pernapasan. 9. Pantau analisa gas darah. Untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas sebagai contoh : hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat. 10. Berikan oksigen dengan cara yang tepat : metode dipilih sesuai dengan keadaan isufisiensi pernapasan. 11. Lakukan fisioterapi nafas. Untuk mencegah sekret tertahan Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelumpuhan. Tujuan perawatan : selama perawatan gangguan mobilisasi bisa diminimalisasi sampai cedera diatasi dengan pembedahan. Kriteria hasil : tidak ada kontrakstur, kekuatan otot meningkat, pasien mampu beraktifitas kembali secara bertahap. Intervensi keperawatan : 1. Kaji secara teratur fungsi motorik. Mengevaluasi keadaan secara umum 2. Instruksikan pasien untuk memanggil bila minta pertolongan. 3. Lakukan log rolling, membantu ROM secara pasif 4. Pertahankan sendi 90 derajad terhadap papan kaki untuk mencegah footdrop 5. Ukur tekanan darah sebelum dan sesudah log rolling untuk mengetahui adanya hipotensi ortostatik 6. Inspeksi kulit setiap hari, gangguan sirkulasi dan hilangnya sensasi resiko tinggi kerusakan integritas kulit. 7. Berikan relaksan otot sesuai pesanan seperti diazepam, berguna untuk membatasi dan mengurangi nyeri yang berhubungan dengan spastisitas. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya cedera Intervensi keperawatan : 1. Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-5.

2. Bantu pasien dalam identifikasi faktor pencetus.

Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan,

ketegangan, suhu, distensi kandung kemih dan berbaring lama. 3. Berikan tindakan kenyamanan untuk memberikan rasa nyaman dengan cara membantu mengontrol nyeri. 4. Dorong pasien menggunakan tehnik relaksasi, memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol. 5. Berikan obat antinyeri sesuai pesanan untuk menghilangkan nyeri otot atau untuk menghilangkan kecemasan dan meningkatkan istirahat. Gangguan eliminasi alvi /konstipasi berhubungan dengan gangguan persarafan pada usus dan rektum. Tujuan perawatan : pasien tidak menunjukkan adanya gangguan eliminasi alvi/konstipasi Kriteria hasil : pasien bisa b.a.b secara teratur sehari 1 kali Intervensi keperawatan : 1. Auskultasi bising usus, catat lokasi dan karakteristiknya. Bising usus mungkin tidak ada selama syok spinal. 2. Observasi adanya distensi perut. 3. Catat adanya keluhan mual dan ingin muntah, pasang NGT. Pendarahan gantrointentinal dan lambung mungkin terjadi akibat trauma dan stress. 4. Berikan diet seimbang TKTP cair untuk meningkatkan konsistensi feces 5. Berikan obat pencahar untuk merangsang kerja usus Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan kelumpuhan syarat perkemihan. Tujuan perawatan : pola eliminasi kembali normal selama perawatan Kriteria hasil : produksi urine 50 cc/jam, keluhan eliminasi uirine tidak ada Intervensi keperawatan: 1. Kaji pola berkemih, dan catat produksi urine tiap jam.untuk mengetahui fungsi ginjal 2. Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih. 3. Anjurkan pasien untuk minum 2000 cc/hari untuk membantu mempertahankan fungsi ginjal.

4. Pasang dower kateter untuk membantu proses pengeluaran urine Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama. Tujuan keperawatan : tidak terjadi gangguan integritas kulit selama perawatan. Kriteria hasil : tidak ada dekibitus, kulit kering Intervensi keperawatan : 1. Inspeksi seluruh lapisan kulit. Kulit cenderung rusak karena perubahan sirkulasi perifer. 2. Lakukan perubahan posisi untuk mengurangi penekanan kulit 3. Bersihkan dan keringkan kulit untuk meningkatkan integritas kulit 4. Jagalah tenun tetap kering untuk mengurangi resiko kelembaban kulit 5. Berikan terapi kinetik sesuai kebutuhan untuk meningkatkan sirkulasi sistemik dan perifer dan menurunkan tekanan pada kulit serta mengurangi kerusakan kulit.

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, R. Wim de Jong. 2005. Buku Ajar ilmu Bedah. EGC : Jakarta Sudrajat, Jajat. 2009. Tehnik-tehnik Mempertahankan Air Way. www.indofirstaid.com

Asuhan Keperawatan Fraktur Servikalis. 2009. www.catatanperawat.byehost15.com Perputakaan Divisi Orthopaedi dan Traumatologi. 2008. Pengelolaan dan Penilaian Awal Pasien Trauma. FKUI : Jakarta. www.orthoui-rscm.org