Anda di halaman 1dari 5

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU PADA ALAT FIXED BED REACTOR BIOFILTRASI AEROBIK (FBRBA)

Oleh:

KUN AMINAH SRI REZEKY S. (122007012.P)

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG 2012

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU PADA ALAT FIXED BED REACTOR BIOFILTRASI AEROBIK
(FBRBA)

SKRIPSI

Oleh :

Kun Aminah Sri Rezeky S. (122007012.P)


Disetujui Untuk Jurusan Teknik Kimia

Pembimbing I,

Pembimbing 11,

Ir. M. Arief Karim, Msc

Sri Martini, ST. MT

Ketua Jurusan Teknik Kimia

Ir. Rifdah, MT

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Proses produksi tahu menghasilkan 2 jenis limbah, limbah padat dan limbah cairan. Pada umumnya, limbah padat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan limbah cair dibuang langsung ke lingkungan. Limbah cair pabrik tahu ini memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi. Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuatan tahu adalah cairan kental yang terpisah dari gumpalan tahu yang disebut air dadih (whey). Limbah cair ini sering dibuang secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga akan mencemari lingkungan sekitar. Sumber limbah cair lainnya berasal dari pencucian kedelai, pencucian peralatan proses, pencucian lantai dan pemasakan serta larutan bekas rendaman kedelai. Jumlah limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuat tahu kira-kira 15-20 l/kg bahan baku kedelai, sedangkan bahan pencemarnya kira-kira untuk TSS sebesar 30 kg/kg bahan baku kedelai, BOD 65 g/kg bahan baku kedelai dan COD 130 g/kg bahan baku kedelai (EMDI & BAPEDAL, 1994). Hasil studi kasus tentang Karakteristik Air Buangan Industri Tahu di Palembang (Bappeda, 2010), dilaporkan bahwa air buangan industri tahu mengandung BOD, COD, TSS dan minyak/lemak berturut-turut sebesar 4583, 7050, 4743 dan 26 mg/L. Bila dibandingkan dengan data baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri menurut keputusan Menteri Lingkungan Hidup N0. 51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan Industri, kadar maksimum yang diperbolehkan untuk BOD, COD dan TSS berturut-turut adalah 50, 100 dan 200 mg/L, sehingga jelas bahwa limbah cair industri tahu telah melampaui baku mutu yang dipersyaratan. Banyak pabrik tahu skala rumah tangga di Indonesia khususnya di kota Palembang tidak memiliki proses pengolahan limbah cair. Ketidakinginan pemilik pabrik tahu untuk mengolah limbah cairnya disebabkan karena kompleks dan tidak efisiennya proses pengolahan limbah, ditambah lagi menghasilkan nilai tambah. Sehingga menjadi permasalahan yang dikeluarkan industri tahu tersebut bagi lingkungan sekitarnya, karena pada umumnya industri rumah tangga ini mengalirkan limbahnya langsung ke selokan

atau sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Keadaan yang seperti inilah yang menyebabkan bahwa masih banyak pengrajin tahu yang belum mengerti akan kebersihan lingkungan. Upaya untuk menurunkan kandungan bahan organik dalam air buangan industri tahu telah dilakukan, diantaranya Uji coba penggunaan biofilter untuk mendegradasi bahan-bahan organik polutan dalam limbah cair industry tahu dengan kombinasi anaerob dan aerob berkapasitas 10-16 m3/hari telah dilakukan oleh BPPT (2010) memakai media plastic sarang tawon. Uji coba yang telah dilakukan di daerah Jakarta dalam mengolah limbah cair industri tahu menggunakan packing dari bahan plastik berbentuk sarang tawon dalam kondisi anaerob-aerob membuktikan adanya penurunan BOD, COD dan TSS yang cukup signifikan (BPPT, 1997a). Akan tetapi, penggunaaan packing dari bahan plastik mempunyai kelemahan yaitu biaya packing relatif tinggi (MetCalf dan Eddy, 2003) dan kecenderungan kehilangan padatan biologis yang lebih besar (Rittmann dan McCarty, 2001). Dalam penelitian ini, penulis akan menerapkan teknologi pengolahan limbah cair industri tahu dengan proses biofilter anaerob dengan menggunakan media batu kerikil sebagai media biofilter dalam alat fixed bed reactor. Diharapkan pemilihan media kerikil ini mampu menggantikan posisi bahan penyerap lainnya seperti oksida silica, oksida kalsium, oksida alumina sehingga teknologi yang dihasilkan dapat mengurangi biaya investasi dan biaya produksi serta guna mengurangi kehilangan padatan biologis yang lebih besar. Dan menetapkan parameter yang diuji yaitu variasi Ketinggian unggun ( 10 cm, 20 cm, 30 cm, 40 cm dan 50 cm) serta waktu sirkulasi 4 - 10 jam. Biofilter merupakan suatu reaktor biologis film-tetap (fixed-film) menggunakan packing berupa kerikil, plastik atau bahan padat lainnya dimana limbah cair dilewatkan melintasinya secara kontinyu. Adanya bahan isian padat menyebabkan mikroorganisme yang terlibat tumbuh dan melekat atau membentuk lapisan tipis (biofilm) pada permukaan media tersebut (MetCalf dan Eddy, 2003). Biofilter berupa filter dari medium padat tersebut diharapkan dapat melakukan proses pengolahan atau penyisihan bahan organik terlarut dan tersuspensi dalam limbah cair. Filtrasi merupakan proses pemisahan padatan material tersuspensi yang ada didalam air dengan melewatkannya melalui media berpori (Montgomery, 1985). Adanya bahan organik dan aktivitas biologis menyebabkan terjadinya perubahan sifat pelekatan material tersuspensi terhadap media filter. Proses biofilter disebut juga aerasi kontak sebab air limbah akan kontak dengan mikroorganisme

yang menempel ada permukaan media sehingga dapat meningkatkan efisiensi penguraian zat organik. Proses biofilter ini dibedakan menjadi dua bagian, yaitu proses biofilter aerob dan anaerob. Penelitian ini dilakukan pada skala laboratorium dan diujikan pada limbah cair industri tahu yang bertempat di jalan Padang Selasa Bukit Besar Palembang. 1.2 Rumusan Masalah Dengan melihat berbagai kelemahan penelitian sebelumnya, maka yang akan menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana mendapatkan persentase penurunan parameter limbah hasil pengolahan tahu (BOD, COD dan TSS) sesuai

keputusan Kep-51/MENLH/10/1995 dengan melihat pengaruh ketinggian unggun krikil serta waktu aerasi menggunakan alat Fixed Bed Reaktor Biofilter Aerobik (FBRBA). 1.3 Tujuan Penelitian Dengan mengambil permasalahan diatas, maka tujuan tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh variasi ketinggian unggun krikil serta waktu aerasi secara konfrehensif dengan didasari berbagai konsep ilmiah terhadap persentase penurunan parameter limbah hasil pengolahan tahu (BOD, COD dan TSS ) menggunakan alat

Fixed Bed Reaktor Biofilter Aerobik (FBRBA). 1.4 Manfaat Penelitian Jika tujuan penelitian ini dapat dicapai, akan didapat berbagai konsep ilmiah serta data - data aktual yang dapat dipertanggungjawabkan pada rentang proses penurunan konsentrasi parameter limbah tahu (BOD, COD dan TSS) menggunakan alat Fixed Bed Reaktor Biofilter Aerobik (FBRBA) dan data data tersebut dapat dijadikan konsep untuk kepentingan pengembangan proses penelitian dimasa yang akan datang. UNTUK MENDAPATKAN FILE SKRIPSI INI SILAHKAN KIRIM EMAIL : tuwah_md@yahoo.com

TELP : 0815 325 22 177