Anda di halaman 1dari 28

BAB I LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI Nama Umur Jenis Kelamin Nama Ayah Nama Ibu Berat badan Panjang badan Agama Bangsa Alamat MRS : Yogise : 13 tahun : Perempuan : Martono : Rusni : 43 Kg : 151 cm : Islam : Indonesia : Desa tanjung baru : 21 November 2011

II.

ANAMNESIS (Autoanamnesis dengan penderita, tanggal 21 November 2011) Keluhan utama Keluhan tambahan : Nyeri di ulu hati sejak 1 hari smrs : Mual

Riwayat Perjalanan Penyakit Sejak 1 SMRS, penderita mengeluh nyeri pada ulu hatinya, nyeri timbul pada saat penderita sedang belajar disekolah. Lalu penderita meminta izin untuk pulang. Setelah dirumah, penderita diberikan makan oleh orangtuanya, tetapi nyeri yang dirasakan belum hilang ketika penderita makan, nyeri yang dirasakan terus-menerus, Penderita juga mengeluh mual setelah makan, dan ingin muntah tapi tidak muntah. Demam sebelumnya (-), batuk (-), pilek (-), BAK biasa, frekuensi sering, @3-4 kali, @ > gelas aqua, warna kuning biasa, nyeri pada saat buang air kecil (-), BAB biasa, frekuensi @2kali, berwarna kuning, tidak cair ataupun keras, berdarah (-), 1

berlendir (-). Nafsu makan berkurang. Lalu penderita dibawa oleh orang tuanya ke RSUD Ibnu Sutowo untuk diberian pengobatan lebih lanjut.

Riwayat Penyakit Dahulu Penderita sebelumnya tidak pernah mempunyai penyakit yang sama seperti ini.

Riwayat Penyakit dalam Keluarga Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran Masa kehamilan Partus Ditolong oleh Berat badan Panjang badan Keadaan saat lahir : 9 bulan 5 hari : spontan : Bidan : 3000 gram : 48 cm : langsung menangis

Riwayat vaksinasi BCG DPT Polio Hepatitis B Campak Kesan : (+) ada skar : (DPT I-III) lengkap : ( polio 0-III) lengkap : ( Hepatitis B 0-III) lengkap : sudah : Imunisasi dasar sesuai umur Lengkap

Riwayat Perkembangan Fisik Tengkurap Duduk : 4 bulan : 6 bulan

Berdiri Berjalan Kesan

: 9 bulan : 11 bulan : Perkembangan fisik anak sesuai umur

Riwayat Sosial Ekonomi Secara ekonomi, Bapaknya bekerja sebagai buruh dengan penghasilan tidak menentu. Kesannya keluarga penderita tergolong menengah kebawah

Riwayat Keluarga

Ayah, 49 tahun, buruh

Ibu, 48 tahun, IRT

Hardi, 25 th, karyawan

Santi, 19 th, kuliah

Y, 13th Sekolah

III. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Berat badan Tinggi badan Anemis Sianosis : Kompos Mentis : 100/70 mmHg : 88 x/m, isi dan tegangan cukup : 24 x/m : 36,7 C : 43 Kg : 151 cm : tidak ada : tidak ada

Ikterus Edema umum

: tidak ada : tidak ada

Keadaan gizi

BB/U = 43 / 45 x 100 = 95 % (gizi baik) TB/U = 151 / 154 x 100 = 98 % (gizi baik) BB/TB = 43 / 39 x 100 = % (gizi baik)

Kesan : Status gizi baik

Keadaan Spesifik Kepala Bentuk Rambut Mata : : : bulat, simetris hitam, tidak mudah dicabut kelopak mata cekung (-/-), konjungtiva palpebra tidak anemis, sklera tidak ikterik, refleks cahaya normal,

pupil bulat, isokor 3 mm, bitot spot tidak ada, xeroptalmia tidak ada, keratomalasia tidak ada Hidung : sekret tidak ada, nafas cuping hidung tidak ada, septum deviasi (-) Telinga : sekret tidak ada, nyeri tarik tragus (-), nyeri tekan aurikula (-) Mulut : sianosis sirkum oral (-), bibir kering (-), stomatitis angularis tidak ada, atrofi papil lidah tidak ada. Tenggorokan Leher : : tonsil T1-T1, hiperemis (-) tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening

Thorax Paru-paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : : : : statis, dinamis simetris, retraksi tidak ada Stemfremitus kanan=kiri Sonor pada kedua lapangan paru vesikuler normal, ronki tidak ada, wheezing tidak ada

Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : : : iktus kordis tidak terlihat thrill tidak teraba Batas jantung atas pada ICS II dilinea mid clavikularis sinistra Batas jantung kiri pada ICS IV dilinea aksilaris anterior sinistra Batas jantung kanan dipara sternalis dextra Auskultasi : HR 88x/menit, irama reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen Inspeksi Palpasi : : datar lemas, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (+) di daerah epigastrium. Perkusi Auskultasi : : timpani bising usus (+) meningkat

Lipat paha dan genitalia Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada

Ekstremitas Akral dingin tidak ada, edema ada, sianosis tidak ada, CRT < 1

Pemeriksaan neurologis Pemeriksaan Gerakan Tungkai Kanan Segala arah Kiri Segala arah Lengan Kanan Segala arah Kiri Segala arah Kekuatan Tonus Klonus Refleks fisiologis Refleks patologis ++ Eutoni + ++ Eutoni + ++ Eutoni + ++ Eutoni + -

Fungsi sensorik Fungsi nervi craniales

: dalam batas normal : dalam batas normal

Gejala Rangsang Meningeal : kaku kuduk (-)

IV. DIAGNOSIS BANDING Gastritis akut Kolelitiasis, kolesisitis

V.

DIAGNOSIS KERJA Gastritis akut

VI. RENCANA PEMERIKSAAN Darah rutin, urin rutin, feses rutin, USG, dan Endoskopi VII. PENATALAKSANAAN IVFD D5% + 1/5NS gtt 20 makro Ranitidin 2 x 1 tab Antasida sirup 3 x 1 cth Menghindari makanan asam, pedas, panas dan dingin. Diet lambung III

Diit Lambung III Diit Lambung III Untuk penderita gastritis yang tidak begitu berat atau ringan. Bentuk makanan harus lunak dan diberikan enam kali sehari. Makanan berbentuk lunak atau biasa bergantung pada toleransi pasien Makanan inii cukup energi dan zat gizi lainnya

VIII. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : dubia at bonam : dubia at bonam

Follow-up
Tanggal pemeriksaan 21/11/111 S : Nyeri di ulu hati (+) O : T : 36,4oc N: 108 x/m P : 24 x/m TD : 100/70 mmHg Kepala: conj anemis (-/-), NCH (-/-), edema palpebra (-/-) mata sembab(-/-),faring hiperemis(-) Thoraks: simetris, retraksi (-), vesikuler(+)N,ronkhi(-), wheez (-). Abdomen: cembung,tegang, BU (+)N, nyeri tekan (+) di Perjalanan Penyakit Instruksi dokter (Pengobatan) IVFD D5% + 1/5 NS gtt 20 makro Ranitidin tab 2 x 1 Cek urin Reduksi (-), protein (-), bilirubin (-), sedimen (leukosit 15-20, eritrosit 4-8, sel epitel penuh, kristal amorf (+)

epigastium,shifting dullness(-). Ekstremitas: edema (-). Akral pucat (+/+), CRT <1 Dx: Gastritis akut

22/11/11

S : Nyeri di ulu hati berkurang O : T : 36oc N: 112 x/m P : 28x/m TD : 100/70 mmHg Kepala: conj anemis (-/-), NCH (-/-), edema palpebra (-/-) mata sembab(-/-),faring hiperemis(-) Thoraks: simetris, retraksi (-), vesikuler(+)N,ronkhi(-), wheez (-). Abdomen: cembung,tegang, BU (+)N, nyeri tekan (+) di

IVFD D5% + 1/5 NS gtt 20 makro Ranitidin tab 2 x 1

epigastium,shifting dullness(-). Ekstremitas: edema (-). Akral pucat (+/+), CRT <1 Dx : Gastritis akut perbaikan 23/11/11 S : Nyeri di ulu hati (-) O : T : 36oc N: 112 x/m P : 28x/m TD : 100/70 mmHg Kepala: conj anemis (-/-), NCH (-/-), edema palpebra (-/-) mata sembab(-/-),faring hiperemis(-) Thoraks: simetris, retraksi (-), vesikuler(+)N,ronkhi(-), wheez (-). Abdomen: cembung,tegang, BU (+)N, nyeri tekan (+) di IVFD D5% + 1/5 NS gtt 20 makro Ranitidin tab 2 x 1 (boleh pulang)

epigastium,shifting dullness(-). Ekstremitas: edema (-). Akral pucat (+/+), CRT <1

Dx : Gastritis akut perbaikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Pengertian Gastritis atau lebih dikenal sebagai magh berasal dari bahasa yunani yaitu gastro yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi /peradangan. Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung. Gastritis adalah inflamasi pada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa lambung.

II.2

Klasifikasi Biasanya, peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi oleh bakteri yang sama dengan bakteri yang dapat mengakibatkan borok di lambung yaitu Helicobacter pylori. Tetapi factor factor lain seperti trauma fisik dan pemakaian secara terus menerus beberapa obat penghilang sakit dapat juga menyebabkan gastritis. Gastritis atau lebih dikenal sebagai magh berasal dari bahasa yunani yaitu gastro, yang berarti perut/lambung dan itis yang berarti inflamasi/peradangan. Gastritis bukan merupakan penyakit tunggal, tetapi terbentuk dari beberapa kondisi yang kesemuanya itu mengakibatkan peradangan pada lambung. Biasanya, peradangan tersebut merupakan akibat dari infeksi oleh bakteri yang sama dengan bakteri yang dapat mengakibatkan borok di lambung yaitu Helicobacter pylori. Tetapi factor factor lain seperti trauma fisik dan pemakaian secara terus menerus beberapa obat penghilang sakit dapat juga menyebabkan gastritis. Pada beberapa kasus, gastritis dapat menyebabkan terjadinya borok (ulcer) dan dapat meningkatkan resiko dari kanker lambung. Akan tetapi bagi banyak orang, gastritis bukanlah penyakit yang serius dan dapat segera membaik dengan pengobatan.

10

II.3

Penyebab Lambung adalah sebuah kantung otot yang kosong, terletak pada bagian kiri atas perut tepat dibawah tulang iga. Lambung orang dewasa mempunyai panjang berkisar antara 10 inchi dan dapat mengembang untuk menampung makanan atau minuman sebanyak 1 gallon. Bila lambung dalam keadaan kosong, maka ia akan melipat, mirip seperti sebuah akordion. Ketika lambung mulai terisi dan mengembang, lipatan lipatan tersebut secara bertahap membuka. Lambung memproses dan menyimpan makanan dan secara bertahap melepaskannya ke dalam usus kecil. Ketika makanan masuk ke dalam esophagus, sebuah cincin otot yang berada pada sambungan antara esophagus dan lambung (esophageal sphincter) akan membuka dan membiarkan makanan masuk ke lambung. Setelah masuk ke lambung cincin in menutup. Dinding lambung terdiri dari lapisan lapisan otot yang kuat. Ketika makanan berada di lambung, dinding lambung akan mulai menghancurkan makanan tersebut. Pada saat yang sama, kelenjar kelenjar yang berada di mukosa pada dinding lambung mulai mengeluarkan cairan lambung (termasuk enzim - enzim dan asam lambung) untuk lebih menghancurkan makanan tersebut. Salah satu komponen cairan lambung adalah asam hidroklorida. Asam ini sangat korosif sehingga paku besi pun dapat larut dalam cairan ini. Dinding lambung dilindungi oleh mukosa - mukosa bicarbonate (sebuah lapisan penyangga yang mengeluarkan ion bicarbonate secara regular sehingga menyeimbangkan keasaman dalam lambung) sehingga terhindar dari sifat korosif asam hidroklorida. Gastritis biasanya terjadi ketika mekanisme pelindung ini kewalahan dan mengakibatkan rusak dan meradangnya dinding lambung. Beberapa penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya gastritis antara lain :

11

Infeksi bakteri. Sebagian besar populasi di dunia terinfeksi oleh bakteri H. Pylori yang hidup di bagian dalam lapisan mukosa yang melapisi dinding lambung. Walaupun tidak sepenuhnya dimengerti bagaimana bakteri tersebut dapat ditularkan, namun diperkirakan penularan tersebut terjadi melalui jalur oral atau akibat memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri ini. Infeksi H. pylori sering terjadi pada masa kanak - kanak dan dapat bertahan seumur hidup jika tidak dilakukan perawatan. Infeksi H. pylori ini sekarang diketahui sebagai penyebab utama terjadinya peptic ulcer dan penyebab tersering terjadinya gastritis. Infeksi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan peradangan menyebar yang kemudian mengakibatkan perubahan pada lapisan pelindung dinding lambung. Salah satu perubahan itu adalah atrophic gastritis, sebuah keadaan dimana kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung secara perlahan rusak. Peneliti menyimpulkan bahwa tingkat asam lambung yang rendah dapat mengakibatkan racun-racun yang dihasilkan oleh kanker tidak dapat dihancurkan atau dikeluarkan secara sempurna dari lambung sehingga meningkatkan resiko (tingkat bahaya) dari kanker lambung. Tapi sebagian besar orang yang terkena infeksi H. pylori kronis tidak mempunyai kanker dan tidak mempunyai gejala gastritis, hal ini mengindikasikan bahwa ada penyebab lain yang membuat sebagian orang rentan terhadap bakteri ini sedangkan yang lain tidak.

Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus. Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid (AINS) seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung dengan cara mengurangi prostaglandin yang bertugas melindungi dinding lambung. Jika pemakaian obat - obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya dilakukan secara terus menerus atau pemakaian yang berlebihan dapat

mengakibatkan gastritis dan peptic ulcer.

Penggunaan alkohol secara berlebihan. Alkohol dapat mengiritasi dan mengikis mukosa pada dinding lambung dan membuat dinding lambung

12

lebih rentan terhadap asam lambung walaupun pada kondisi normal. Tapi etiologi ini jarang ditemukan pada anak-anak.

Penggunaan kokain. Kokain dapat merusak lambung dan menyebabkan pendarahan dan gastritis. Tapi etiologi ini jarang ditemukan pada anakanak.

Stress fisik. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis dan juga borok serta pendarahan pada lambung.

Kelainan autoimmune. Autoimmune atrophic gastritis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat yang berada dalam dinding lambung. Hal ini mengakibatkan peradangan dan secara bertahap menipiskan dinding lambung, menghancurkan kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung dan menganggu produksi faktor intrinsic (yaitu sebuah zat yang membantu tubuh mengabsorbsi vitamin B-12). Kekurangan B-12, akhirnya, dapat mengakibatkan pernicious anemia, sebuah konsisi serius yang jika tidak dirawat dapat mempengaruhi seluruh sistem dalam tubuh. Autoimmune atrophic gastritis terjadi terutama pada orang tua.

Crohn's disease. Walaupun penyakit ini biasanya menyebabkan peradangan kronis pada dinding saluran cerna, namun kadang-kadang dapat juga menyebabkan peradangan pada dinding lambung. Ketika lambung terkena penyakit ini, gejala-gejala dari Crohn's disease (yaitu sakit perut dan diare dalam bentuk cairan) tampak lebih menyolok daripada gejala-gejala gastritis.

Radiasi and kemoterapi. Perawatan terhadap kanker seperti kemoterapi dan radiasi dapat mengakibatkan peradangan pada dinding lambung yang selanjutnya dapat berkembang menjadi gastritis dan peptic ulcer. Ketika tubuh terkena sejumlah kecil radiasi, kerusakan yang terjadi biasanya sementara, tapi dalam dosis besar akan mengakibatkan kerusakan tersebut menjadi permanen dan dapat mengikis dinding lambung serta merusak kelenjar-kelenjar penghasil asam lambung. Tapi etiologi ini jarang ditemukan pada anak-anak.

13

Penyakit bile reflux. Bile (empedu) adalah cairan yang membantu mencerna lemak-lemak dalam tubuh. Cairan ini diproduksi oleh hati. Ketika dilepaskan, empedu akan melewati serangkaian saluran kecil dan menuju ke usus kecil. Dalam kondisi normal, sebuah otot sphincter yang berbentuk seperti cincin (pyloric valve) akan mencegah empedu mengalir balik ke dalam lambung. Tapi jika katup ini tidak bekerja dengan benar, maka empedu akan masuk ke dalam lambung dan mengakibatkan peradangan dan gastritis.

Faktor-faktor lain. Gastritis sering juga dikaitkan dengan konsisi kesehatan lainnya seperti HIV/AIDS, infeksi oleh parasit, dan gagal hati atau ginjal.

II.4

Manifestasi Klinik Walaupun banyak kondisi yang dapat menyebabkan gastritis, gejala dan tanda

tanda penyakit ini sama antara satu dengan yang lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain :

Perih atau sakit seperti terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk ketika makan

Mual Muntah Kehilangan selera Kembung Terasa penuh pada perut bagian atas setelah makan Kehilangan berat badan

Gastritis yang terjadi tiba tiba (akut) biasanya mempunyai gejala mual dan sakit pada perut bagian atas, sedangkan gastritis kronis yang berkembang secara bertahap biasanya mempunyai gejala seperti sakit yang ringan pada perut bagian atas dan terasa penuh atau kehilangan selera. Bagi sebagian orang, gastritis kronis tidak menyebabkan apapun. Kadang, gastritis dapat menyebabkan pendarahan pada lambung, tapi hal ini jarang menjadi parah kecuali bila pada saat yang sama juga terjadi borok pada

14

lambung. Pendarahan pada lambung dapat menyebabkan muntah darah atau terdapat darah pada feces dan memerlukan perawatan segera. Karena gastritis merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit pencernaan dengan gejala - gejala yang mirip antara satu dengan yang lainnya, menyebabkan penyakit ini mudah dianggap sebagai penyakit lainnya seperti :

Gastroenteritis. Juga disebut sebagai flu perut (stomach flu), yang biasanya terjadi akibat infeksi virus pada usus. Gejalanya meliputi diare, kram perut dan mual atau muntah, juga ketidaksanggupan untuk mencerna. Gejala dari gastroenteritis sering hilang dalam satu atau dua hari sedangkan untuk gastritis dapat terjadi terus menerus.

Heartburn. Rasa sakit seperti terbakar yang terasa di belakang tulang dada ini biasanya terjadi setelah makan. Hal ini terjadi karena asam lambung naik dan masuk ke dalam esophagus (saluran yang menghubungkan antara tenggorokan dan perut). Heartburn dapat juga menyebabkan rasa asam pada mulut dan terasa sensasi makanan yang sebagian sudah dicerna kembali ke mulut.

Stomach ulcers. Jika rasa perih dan panas dalam perut terjadi terus menerus dan parah, maka hal itu kemungkinan disebabkan karena adanya borok dalam lambung. Stomach (peptic) ulcer atau borok lambung adalah luka terbuka yang terjadi dalam lambung. Gejala yang paling umum adalah rasa sakit yang menjadi semakin parah ketika malam hari atau lambung sedang kosong. Gastritis dan stomach ulcers mempunyai beberapa penyebab yang sama, terutama infeksi H. pylori. Penyakit ini dapat mengakibatkan terjadinya gastritis dan begitu juga sebaliknya.

Nonulcer dyspepsia. Merupakan kelainan fungsional yang tidak terkait pada penyakit tertentu. Penyebab pasti keadaan ini tidak diketahui, tetapi stress dan terlalu banyak mengkonsumsi gorengan, makanan pedas atau makanan berlemak diduga dapat mengakibatkan keadaan ini. Gejalanya adalah sakit pada perut atas, kembung dan mual.

15

II.5 a.

Patofisiologi Gastritis akut dapat disebabkan oleh stress, zat kimia, obat-obatan dan alkohol, makan yang pedas maupun panas dan asam. Pada orang yang mengalami stres akan terjadi perangsangan saraf simpatis NV (nervus vagus) yang akan memproduksi asam klorida (HCl) di dalam lambung. Adanya Hcl yang berada didalam lambung akan menimbulkan rasa mual, muntah dan anoreksia. Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan menyebabkan sel epitel kolumnet yang berfungsi untuk menghasilkan mukus, mengurangi produksinya. Sedangkan mukus itu berfungsi untuk proteksi mukosa lambung agar tidak ikut tercerna. Respon mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi diantaranya vasodilatasi sel gaster. Lapisan mukosa gaster terdapat lapisan sel yang memproduksi HCl (terutama daerah fundus dan pembuluh darah). Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan produksi HCl meningkat. Anoreksia dapat menyebabkan rasa nyeri kontak HCl dengan mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa gaster akan mengakibatkan erosi pada sel-sel mukosa. Hilangnya sel mukosa akibat erosif pendarahan. Pendarahan dapat mengancam jiwa atau hidup pasien, namun dapat juga berhenti sendiri karena proses regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam waktu 24-48 jam setelah pendarahan. Gastritis kronis Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini menyerang sel permukaan gaster, memperberat timbulnya deskuamasi sel dan muncullah respon radang kronis pada gaster yaitu destruksi kelenjar dan metaplasia. Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh teradap iritasi, yaitu dengan menggantikan sel mukosa gaster, misalnya dengan sel desquamosa yang lebih kuat. Karen sel desquamosa lebih kuat, maka

b.

16

elastisitasnya berkurang. Pada saat mencerna makanan, lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel penggantinya tidak elastis maka akan timbul kekakuan yang pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia menyebabkan hilangnya sel mukosa pada lapisan lambung, sehingga akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah lapisan mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan pendarahan.

II.6

Pemeriksaan Penunjang Bila seorang pasien didiagnosa terkena gastritis, biasanya dilanjutkan dengan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui secara jelas penyebabnya. Pemeriksaan tersebut meliputi :

Pemeriksaan darah. Tes ini digunakan untuk memeriksa adanya antibodi H. pylori dalam darah. Hasil tes yang positif menunjukkan bahwa pasien pernah kontak dengan bakteri pada suatu waktu dalam hidupnya, tapi itu tidak menunjukkan bahwa pasien tersebut terkena infeksi. Tes darah dapat juga dilakukan untuk memeriksa anemia, yang terjadi akibat pendarahan lambung akibat gastritis.

Pemeriksaan pernapasan. Tes ini dapat menentukan apakah pasien terinfeksi oleh bakteri H. pylori atau tidak.

Pemeriksaan feces. Tes ini memeriksa apakah terdapat H. pylori dalam feses atau tidak. Hasil yang positif dapat mengindikasikan terjadinya infeksi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap adanya darah dalam feces. Hal ini menunjukkan adanya pendarahan pada lambung.

Endoskopi saluran cerna bagian atas. Dengan tes ini dapat terlihat adanya ketidaknormalan pada saluran cerna bagian atas yang mungkin tidak terlihat dari sinar-X. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang kecil yang fleksibel (endoskop) melalui mulut dan masuk ke dalam esophagus, lambung dan bagian atas usus kecil. Tenggorokan akan terlebih dahulu dimati-rasakan (anestesi) sebelum endoskop dimasukkan 17

untuk memastikan pasien merasa nyaman menjalani tes ini. Jika ada jaringan dalam saluran cerna yang terlihat mencurigakan, dokter akan mengambil sedikit sampel (biopsy) dari jaringan tersebut. Sampel itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tes ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang, kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resiko akibat tes ini. Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop.

Ronsen saluran cerna bagian atas. Tes ini akan melihat adanya tandatanda gastritis atau penyakit pencernaan lainnya. Biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu sebelum dilakukan ronsen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di ronsen.

II.7

Pentalaksanaan Terapi gastritis sangat bergantung pada penyebab spesifiknya dan mungkin

memerlukan perubahan dalam gaya hidup, pengobatan atau, dalam kasus yang jarang, pembedahan untuk mengobatinya. Terapi terhadap asam lambung Asam lambung mengiritasi jaringan yang meradang dalam lambung dan menyebabkan sakit dan peradangan yang lebih parah. Itulah sebabnya, bagi sebagian besar tipe gastritis, terapinya melibatkan obat-obat yang mengurangi atau menetralkan asam lambung seperti :

Anatsida. Antasida merupakan obat bebas yang dapat berbentuk cairan atau tablet dan merupakan obat yang umum dipakai untuk mengatasi gastritis ringan. Antasida menetralisir asam lambung dan dapat menghilangkan rasa sakit akibat asam lambung dengan cepat.

18

Penghambat asam. Ketika antasida sudah tidak dapat lagi mengatasi rasa sakit tersebut, dokter kemungkinan akan merekomendasikan obat seperti cimetidin, ranitidin, nizatidin atau famotidin untuk mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi.

Penghambat pompa proton. Cara yang lebih efektif untuk mengurangi asam lambung adalah dengan cara menutup pompa asam dalam sel-sel lambung penghasil asam. Penghambat pompa proton mengurangi asam dengan cara menutup kerja dari pompa-pompa ini. Yang termasuk obat golongan ini adalah omeprazole, lansoprazole, rabeprazole dan

esomeprazole. Obat-obat golongan ini juga menghambat kerja H. pylori.

Cytoprotective

agents. Obat-obat

golongan

ini

membantu

untuk

melindungi jaringan-jaringan yang melapisi lambung dan usus kecil. Yang termasuk ke dalamnya adalah sucraflate dan misoprostol. Jika meminum obat-obat AINS secara teratur (karena suatu sebab), dokter biasanya menganjurkan untuk meminum obat-obat golongan ini. Cytoprotective agents yang lainnya adalah bismuth subsalicylate yang juga menghambat aktivitas H. pylori. Terapi terhadap H. pylori Terdapat beberapa regimen dalam mengatasi infeksi H. pylori. Yang paling sering digunakan adalah kombinasi dari antibiotik dan penghambat pompa proton. Terkadang ditambahkan pula bismuth subsalycilate. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri, penghambat pompa proton berfungsi untuk

meringankan rasa sakit, mual, menyembuhkan inflamasi dan meningkatkan efektifitas antibiotik. Terapi terhadap infeksi H. pylori tidak selalu berhasil, kecepatan untuk membunuh H. pylori sangat beragam, bergantung pada regimen yang digunakan. Akan tetapi kombinasi dari tiga obat tampaknya lebih efektif daripada kombinasi dua obat. Terapi dalam jangka waktu yang lama (terapi selama 2 minggu dibandingkan dengan 10 hari) juga tampaknya meningkatkan efektifitas.

19

Untuk memastikan H. pylori sudah hilang, dapat dilakukan pemeriksaan kembali setelah terapi dilaksanakan. Pemeriksaan pernapasan dan pemeriksaan feces adalah dua jenis pemeriksaan yang sering dipakai untuk memastikan sudah tidak adanya H. pylori. Pemeriksaan darah akan menunjukkan hasil yang positif selama beberapa bulan atau bahkan lebih walaupun pada kenyataanya bakteri tersebut sudah hilang. Syarat-syarat Diet : Mudah dicerna, porsi kecil dan sering diberikan Energi dan protein cukup,sesuai dengan kemampuan pasien unutuk menerimanya. Lemak rendah, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total yang ditingkatkan secara bertahaphingga sesuai dengan kebutuhan. Rendah serat, terutama serat yang tadak larut air yang ditingkatkan secara bertahap. Cairan cukup, terutama bila ada muntah Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara termis, mekanis, ,maupun kimia (dusesuaikan dengan daya terima perorangan) Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa; umumnya tidak dianjurkan minum susu terlalu banyak. Makan secara perlahan dilingkungan yang tenang. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48 jam untuk memberi istirahat pada lambung.

Tujuan diet ini adalah untuk menghilangkan gejala penyakit, menetralisir asam lambung, mengurangi gerakan paristaltik lambung serta memperbaiki kebiasaan makan penderita. Dengan cara itu diharapkan luka di dinding lambung perlahan-lahan akan sembuh. Syarat diet penyakit gastritis Makanan yang disajikan harus mudah dicerna, tidak merangsang tetapi dapat memenuhi kebutuhan energi dan gizi, jumlah energipun harus disesuaikan dengan kebutuhan penderita. 20

Sebaliknya, asupan protein harus cukup tinggi (sekitar 20-25% dari total jumlah energi yang biasa diberikan), sedangkan lemak perlu dibatasi. Protein berperan dalam menetralisir asam lambung. Bila terpaksa menggunakan lemak, pilih jenis lemak yang mengandung jenis asam lemak tak jenuh. Pemberian lemak atau minyak perlu dipertimbangka dengan teliti. Lemak yang berlebihan dapat menimbulkan rasa mual, rasa tidak enak di ulu hati dan muntah karena tekanan dari dalam lambung meningkat.

Untuk Diet makanannya menurut persagi (1999) dan Indikasinya : Diit Lambung I Diet lambung ini diberikan kepada pasien gastritis akut, ulkus peptikum, paska perdarahan, dan tifus abdominalis berat. Makanan diberikan dalam bentuk saring dan merupakan

perpindahan dari Diet pasca hematemesis-melena, atau setelah fase akut teratasi. Makanan diberikan setiap 3 jam selama 1-2 hari saja karena membosankan serta kurang energi, zat besi, tiamin, dan vitamin C. Diit Lambung II Diit lambung II diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung I, kepada pasien dengan ulkus peptikum atau gastritis kronis dan tifus abdominalis ringan. Untuk penderita gastritis akut yang sudah dalam perawatan. Makanan yang diberikan merupakan makanan saring atau cincang pemberiannya sama 3 jam sekali. Makanan berbentuk lunak, porsi kecil serta diberikan berupa 3 kali makanan lengkap dan 2-3 kali makanan selingan. Makanan ini cukup energi, protein, vitamin C, tetapi kurang toamin. Diit Lambung III Diit lambung III diberikan sebagai perpindahan dari diet lambung II pada pasien dengan ulkus peptikum, gastritis kronik, atau tifus 21

abdominalis yang hampir sembuh. Diit Lambung III Untuk penderita gastritis yang tidak begitu berat atau ringan. Bentuk makanan harus lunak dan diberikan enam kali sehari. Makanan berbentuk lunak atau biasa bergantung pada toleransi pasien Makanan inii cukup energi dan zat gizi lainnya.

Diit Lambung IV Orst ini diberikan pada penderita gastritis ringan, makanan dapat berbentuk lunak atau biasa. Jenis makanan yang boleh diberikan pada penyakit gastritis. Sumber sumber makannya: Sumber hidrat arang (nasi atau penggantinya) Beras, dibubur atau ditim, kentang direbus atau dipures, makaroni, mi bihun direbus, roti, biskuit, marie, dan tepung-tepungan dibuat bubur atau puding. Sumber protein hewani (daging atau penggantinya) Ikan, hati, daging sapi empuk, ayam digiling atau dicincang dan direbus, disemur, ditim, atau dipanggang, telur ayam direbus, didadar, diceplok air, atau dicampurkan dalam makanan, susu. Sumber protein nabati Tahu, tempe, direbus, ditim atau ditumis, kacang hijau direbus dan dihaluskan. Lemak Margarin, minyak (tidak untuk menggoreng) dan santan encer. Sayuran Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas, misalnya : bayam, labu siam, wortel, tomat direbus atau ditumis. Buah-buahan Pepaya, pisang rebus, sawo, jeruk garut, sari buah (sebaiknya dimakan bersama nasi).

II.8

Komplikasi

22

Jika dibiarkan tidak terawat, gastritis akan dapat menyebabkan peptic ulcers dan pendarahan pada lambung. Beberapa bentuk gastritis kronis dapat meningkatkan resiko kanker lambung, terutama jika terjadi penipisan secara terus menerus pada dinding lambung dan perubahan pada sel-sel di dinding lambung. Kebanyakan kanker lambung adalah adenocarcinomas, yang bermula pada sel-sel kelenjar dalam mukosa. Adenocarcinomas tipe 1 biasanya terjadi akibat infeksi H. pylori. Kanker jenis lain yang terkait dengan infeksi akibat H. pylori adalah MALT (mucosa associated lymphoid tissue) lymphomas, kanker ini berkembang secara perlahan pada jaringan sistem kekebalan pada dinding lambung. Kanker jenis ini dapat disembuhkan bila ditemukan pada tahap awal. II.9 Pencegahan Walaupun infeksi H. pylori tidak dapat selalu dicegah, berikut beberapa saran untuk dapat mengurangi resiko terkena gastritis :

Makan secara benar. Hindari makanan yang dapat mengiritasi terutama makanan yang pedas, asam, gorengan atau berlemak. Yang sama pentingnya dengan pemilihan jenis makanan yang tepat bagi kesehatan adalah bagaimana cara memakannya. Makanlah dengan jumlah yang cukup, pada waktunya dan lakukan dengan santai.

Hindari alkohol. Penggunaan alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapisan mukosa dalam lambung dan dapat mengakibatkan peradangan dan pendarahan.

Jangan merokok. Merokok mengganggu kerja lapisan pelindung lambung, membuat lambung lebih rentan terhadap gastritis dan borok. Merokok juga meningkatkan asam lambung, sehingga menunda

penyembuhan lambung dan merupakan penyebab utama terjadinya kanker lambung. Tetapi, untuk dapat berhenti merokok tidaklah mudah, terutama bagi perokok berat. Konsultasikan dengan dokter mengenai metode yang dapat membantu untuk berhenti merokok.

23

Lakukan olah raga secara teratur. Aerobik dapat meningkatkan kecepatan pernapasan dan jantung, juga dapat menstimulasi aktifitas otot usus sehingga membantu mengeluarkan limbah makanan dari usus secara lebih cepat.

Kendalikan stress. Stress meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke, menurunkan sistem kekebalan tubuh dan dapat memicu terjadinya permasalahan kulit. Stress juga meningkatkan produksi asam lambung dan melambatkan kecepatan pencernaan. Karena stress bagi sebagian orang tidak dapat dihindari, maka kuncinya adalah mengendalikannya secara effektif dengan cara diet yang bernutrisi, istirahat yang cukup, olah raga teratur dan relaksasi yang cukup.

Ganti obat penghilang nyeri. Jika dimungkinkan, hindari penggunaan AINS, obat-obat golongan ini akan menyebabkan terjadinya peradangan dan akan membuat peradangan yang sudah ada menjadi lebih parah. Ganti dengan penghilang nyeri yang mengandung acetaminophen.

II.10

Prognosis Dubia at bonam

24

BAB III ANALISIS KASUS

Seorang anak perempuan, 13 tahun datang dengan keluhan utama nyeri di uluhati . Sejak 1 SMRS, penderita mengeluh nyeri pada ulu hatinya, nyeri timbul pada saat penderita sedang belajar disekolah. Lalu penderita meminta izin untuk pulang. Setelah dirumah, penderita diberikan makan oleh orangtuanya, tetapi nyeri yang dirasakan belum hilang ketika penderita makan. Penderita juga mengeluh mual setelah makan, dan ingin muntah tapi tidak muntah. Demam sebelumnya (-), batuk (-), pilek (-), BAK biasa, frekuensi sering, @3-4 kali, @ > gelas aqua, warna kuning biasa, nyeri pada saat buang air kecil (-), BAB biasa, frekuensi @2kali, berwarna kuning, tidak cair ataupun keras, berdarah (-), berlendir (-). Nafsu makan berkurang. Lalu penderita dibawa oleh orang tuanya ke RSUD Ibnu Sutowo untuk diberian pengobatan lebih lanjut. Dari autoanamnesis yang diperoleh dari pasien ditemukan nyeri tekan pada epigastrium, ada rasa mual dan muntah jika makan dan nafsu makan berkurang. Gejala ini menunjukkan bahwa adanya suatu penyakit yang disebabkan adanya gangguan pada saluran pencernaan (lambung) yang dapat dijumpai oleh siapapun. Dari riwayat penyakit dahulu tidak adanya riwayat penyakit yang sama sebelumnya. Dalam riwayat keluarga juga tidak didapati penyakit dengan gejala sama sehingga kemungkinan ini secara primer terjadi akibat gangguan pada lambung itu sendiri dengan ada penyebab lain. Pada pemeriksaan fisik umum didapatkan tanda-tanda nyeri tekan pada epigastrium atau perut kiri atas.. Namun tanda-tanda gangguan sirkulasi seperti nadi dan nafas yang cepat, akral ekstremitas yang dingin dan letargi tidak dijumpai. Berdasarkan gejala-gejala tersebut maka disebut dengan gastritis dikarenakan belum dapat mengetahui

penyebabnya.

25

Status gizi pasien ini menunjukkan keadaan gizi baik yakni dengan ratio BB/TB berada pada rentang antara +2 SD - -2 SD. Pada pasien ini di lakukan laboratorium, karena sangat penting dan ditemukannya pada laboratorium, Reduksi (-), protein (-), bilirubin (-), sedimen (leukosit 1520, eritrosit 4-8, sel epitel penuh, kristal amorf (+) Penatalaksanaan pada pasien ini, IVFD D5% + 1/5NS gtt 20 makro, Ranitidin tablet 2x1, dan antasida 3x1 cth Mengatasi kedaruratan medis yang terjadi, Mengatasi atau menghindari penyebab apabila dapat dijumpai. Pemberian obat-obat antasida dan obat-obat ulkus yang lain dan bila mampu makan melalui mulut diet mengandung gizi dianjurkan, Bila gejala menetap, cairan diberikan secara parenteral dan untuk menetralisir asam gunakan antasida umum dan diet lambung III. Prognosis pada penderita ini adalah dubia at bonam , karena pada gastritis dapat kambuh kembali.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3. 4.

Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak RSMH. 2008


Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya http//www.pediatrik.com.mht

Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman pelayan medis. 2010 http://www.scribd.com/doc/30384752/114/GASTRITIS-AKUT

27

28