Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN TUGAS DRAINASE DAN PENGENDALIAN BANJIR

Disusun oleh : Ahmad Faisol L2A008160

Dosen Pengampu : Ir. Abdul Kadir, Dipl.H.E., M.T. NIP 195005311985031001

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011

Mengatasi Banjir di Kota Semarang

Kota Semarang adalah kota yang unik. Sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah, Semarang memiliki kondisi geografis yang lengkap meliputi pegunungan, perbukitan, dataran rendah, serta pantai. Menurut Sobirin (2009), Semarang dibagi menjadi 4 kawasan, yakni kawasan Semarang atas, kawasan kaki bukit, kawasan Semarang kota, dan kawasan pantai. Kawasan Semarang atas adalah daerah tangkapan air (catchment area), berada di kaki gunung Ungaran yang berupa hutan lindung dan hutan rakyat yang berfungsi sebagai kawasan konservasi. Kawasan kaki bukit berfungsi sebagai kawasan penyangga, merupakan daerah transportasi yang mengalirkan air dari kawasan hulu ke hilir. Semarang kota sebagai kawasan budidaya merupakan pusat berbagai kegiatan manusia seperti pertanian, perdagangan, industri, serta sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Tengah. Kawasan kota berada di dataran rendah dan memiliki populasi yang tinggi. Kawasan pantai merupakan daerah yang dipengaruhi pasang surut air laut, memiliki prasarana penting seperti pelabuhan serta daerah industri dan budidaya tambak sehingga keberadaannya perlu dilindungi dengan cara penataan sempadan pantai serta reboisasi hutan bakau. Kawasan Semarang kota berada di daerah dataran rendah dan rawan terkena banjir, apalagi dengan kepadatan populasi yang tinggi, daerah resapan air semakin menyempit akibat pembangunan serta alih fungsi lahan yang tadinya berupa pertanian atau perkebunan diubah menjadi pertokoan, permukiman, pabrik, dan sebagainya. Air hujan yang turun tidak mampu diserap oleh tanah dengan maksimal, akibatnya surface run off tinggi sehingga dapat menimbulkan banjir. Populasi yang tinggi juga memicu eksploitasi tanah yang berlebih, baik untuk keperluan rumah tangga atau industri yang berakibat penurunan tanah. Hal ini memperburuk keadaan karena air laut

yang naik ke permukaan (rob) tiap tahun ketinggiannya meningkat serta waktu genangannya semakin lama. Salah satu program yang sedang dijalankan oleh pemerintah guna mengatasi permasalahan banjir di kota Semarang ialah Integrated Water Resources and Flood Management Project for Semarang IP-534 yang dibiayai dengan dana pinjaman dari Jepang melalui JICA senilai Rp 1,7 triliun. Lingkup pekerjaan IWRFMP for Semarang IP-534 meliputi : 1. Komponen A Perbaikan dan Peningkatan Fungsi Banjir Kanal Barat / Kali Garang Memperlebar kanal Revertment Meninggikan floodwall Pengerukan Normalisasi kali Garang / Banjir Kanal Barat sepanjang 9,2 km Rehabilitasi Bendung Simongan

2. Komponen B Pembangunan Waduk Jatibarang Jatibarang multipurpose dam rencananya akan dibangun pada Sungai Kreo 10 km di hulu pertemuan dengan Kali Garang. Nantinya waduk ini mempunyai tampungan efektif sebesar 13,6 juta meter kubik. Manfaat pokoknya adalah : Pengendali banjir Q 50 th Air minum 1005 l/det Tenaga listrik kapasitas 1500 Kw Tempat / obyek pariwisata Meningkatkan perekonomian Meningkatkan kualitas lingkungan

3. Komponen C Memperbaiki Drainase Perkotaan

Dengan adanya aktivitas pembangunan waduk Jatibarang, kegiatan di Kelurahan Kandri, Gunungpati Semarang menjadi meningkat terkait dengan penyelesaian pengerjaan terowongan pengelak air (diversion tunnel) dari kali Kreo. Pengerjaan terowongan tersebut menjadi signifikan sebab menjadi syarat bagi pengerjaan sebuah bendungan / dam atau waduk. Karena itu setelah air dari kali Kreo dialirkan melalui terowongan nantinya pengerjaan waduk dapat segera dimulai. Waduk Jatibarang ini nantinya memiliki fungsi untuk pengelolaan sumber daya air dan sekaligus untuk pengendalian banjir di kota Semarang. Pembangunannya menjadi satu paket dengan normalisasi Kaligarang / Banjir Kanal Barat dan drainase kota. Karena itu ketiganya diharapkan nantinya dapat mengurangi rob dan banjir yang senantiasa menggenangi kota Semarang. Studi pembangunan Waduk Jatibarang sebenarnya sudah sejak tahun 1970-an. Menilik geografis Kota Semarang, pembangunan waduk itu bersifat wajib. Waduk itu nanti akan bermanfaat sebagai tempat konservasi, penyediaan air minum baku, dan juga penanganan banjir, kata Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum. Dalam fungsinya sebagai pengolahan sumber daya air, nantinya waduk Jatibarang diharapkan dapat memasuk kebutuhan air bersih bagi masyarakat kota sehingga dapat mencegah penggunaan air tanah secara berlebihan yang pada gilirannya dapat mencegah penurunan tanah.

Dalam pembangunannya, waduk Jatibarang mengalami berbagai macam kendala seperti masalah pembebasan lahan. Pemkot akan melanjutkan pembebasan tanah untuk proyek Waduk Jatibarang yang belum tertuntaskan hingga akhir 2009 lalu. Tahun 2010 pembebasan lahan harus seratus persen terselesaikan sehingga pekerjaan fisik megaproyek pengendalian banjir itu bisa terlaksana sesuai waktu yang diagendakan.

Aktivitas pembangunan waduk Jatibarang Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA dan ESDM) Kota Semarang, Fauzi mengatakan, Pemkot mengajukan usulan dana pembebasan lahan dalam APBD 2010 yang besarannya mencapai Rp 1 miliar. Apabila dana itu sudah disetujui maka program Pemkot untuk dukungan pembangunan waduk berupa pembebasan lahan bisa terlaksana. Secara total, alokasi dana yang diajukan Pemkot untuk megaproyek itu sebesar Rp 3,5 miliar. "Untuk pembebasan lahan dalam pembangunan waduk ini memang menjadi beban Pemkot. Kami melaksanakannya secara bertahap dan sebagian sudah bisa dibebaskan dan warga bisa menerima dananya," katanya. Selain Pemkot, megaproyek pembangunan Waduk Jatibarang ini ditangani Pemprov dan Pemerintah Pusat. Kerjasama itu di antaranya berupa sharing pembiayaan. Pemerintah pusat menanggung biaya 50% dari total nilai proyek, sementara Pemprov dan Pemkot menanggung masing-masing 25%.

Hingga Desember 2009, pembebasan lahan di empat kelurahan belum semuanya beres. Kelurahan Kandri dan Kedungpane yang sudah dilaksanakan pembebasan masih menyisakan tanah yang belum dibebaskan, masing-masing 14,2 hektar dan 17,92 hektar. Sedangkan di kelurahan Jatirejo yang direncanakan ada pembebasan 44,16 hektar dan Jatibarang 2,4 hektar belum tersentuh sama sekali. Prioritas pembebasan lahan itu ditujukan pada daerah yang akan dijadikan sebagai tapak bendungan dan jalan akses menuju lokasi proyek.

Pembangunan diversion tunnel waduk Jatibarang Selain pembebasan tanah, Dinas PSDA juga berkewajiban untuk membersihkan bantaran Kali Garang dan Banjir Kanal Barat dari bangunan PKL. Sepanjang 2009, upaya itu sudah dilakukan mulai dari sosialisasi, pembongkaran, hingga pemberian tali asih kepada PKL. Namun hingga hari ini masih ada sejumlah PKL yang membandel dengan belum membongkar bangunannya bahkan tetap melakukan aktivitas jual beli. Upaya pembersihan bantaran itu bagian dari normalisasi drainase, yang merupakan salah satu paket pengendalian banjir di Kota Semarang, selain pembangunan Waduk Jatibarang. "Nantinya normalisasi itu akan dilakukan pengerukan lumpur dan pelebaran sungai," terangnya.

Desain waduk Jatibarang Perjalanan untuk memiliki waduk Jatibarang masih panjang. Beritanya pada tahun 2014 nanti baru dapat difungsikan dan normalisasi baru selesai pada tahun 2013. Dengan demikian masyarakat kota Semarang masih harus bersabar dan berrob ria atau berbanjir ria hingga 2 hingga 3 tahun kedepan.

SUMBER

http://berita.kapanlagi.com/ http://regional.kompas.com/ http://suaramerdeka.com/ http://www.bappedajateng.info/ http://www.swaberita.com/