Anda di halaman 1dari 8

AUTOPSI PADA INFANTICIDE Hal-hal yang perlu diperiksa pada autopsi mayat bayi baru lahir antara lain

adalah: 1. Usia bayi dalam kandungan (prematur, matur , postmatur) 2. Viabilitas bayi di luar kandungan ibu 3. Apakah bayi sudah bernapas (lahir hidup) atau lahir mati 4. Apabila lahir hidup, apakah bayi sudah mendapatkan perawatan atau belum 5. Bila sudah dirawat, berapa usia bayi setelah dilahirkan 6. Penyebab kematian pada bayi yang lahir hidup 7. Adakah kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup bayi 8. Identitas bayi 1. Usia bayi dalam kandungan Bayi dikatakan cukup bulan apabila telah dikandung selama 37 minggu tetapi kurang dari 42 minggu. Terdapat karakteristik khusus yang dapat membantu dalam mengidentifikasi usia bayi dalam kandungan. Adapun ciri-ciri antropometrik bayi yang cukup bulan antara lain adalah: Berat badan berkisar antara 2500-4000 gram Panjang badan kepala-tumit 46-50 cm Lingkar kepala oksipito-frontal 30-34 cm Lingkar dada 30-33 cm Lingkar perut 28-30 cm Usia bayi juga dapat ditentukan berdasarkan ciri-ciri eksternalnya yaitu: Rambut kepala relatif kasar, tampak mengilat, dan terpisah satu sama lain. batas rambut pada dahi jelas. Alis mata lengkap hingga ke bagian lateral. Daun telinga telah menunjukkan pembentukan tulang rawan yang sempurna. Pada bagian dorsokranial heliks teraba tulang rawan yang keras dan bila dilipat akan cepat kembali ke keadaan semula. Putting susu berbatas tegas, dengan diameter 7 mm atau lebih. Areola menonjol di atas permukaan kulit. Processus xyphoideus melengkung ke arah dorsal. Kulit cukup tebal sehingga pembuluh darah besar pada dinding perut tidak tampak dengan jelas. Panjang kuku jari tangan sudah melebihi ujung jari. Ujung distalnya tegas dan relatif keras sehingga terasa bila digarukkan pada telapak tangan. Terdapat garis-garis yang relatif lebar dan dalam pada seluruh telapak kaki, mulai dari depan hingga tumit. Pada bayi laki-laki, testis sudah turun dengan sempurna hingga dasar skrotum dan rugae sudah lengkap. Pada bayi perempuan, labia mayor sudah menutup labia minor dengan sempurna.

Usia bayi juga dapat ditentukan berdasarkan pusat-pusat penulangan. Jika tidak ditemukan pusat penulangan maka bayi belum mencapai umur tersebut atau mungkin ada keterlambatan pembentukan pusat penulangan. Pusat Penulangan Klavikula Tulang panjang (diafisis), metacarpal, dan metatarsal Ischium Ramus superior pubis Kalkaneus Manubrium sterni Talus, segmen 1 sternum Sternum bawah Distal femur, tulang kuboid Usia (bulan) 1,5 2 3 4 5 6 7 8 9 atau setelah lahir

Menurut Haase dan Streeter, usia bayi dalam kandungan juga dapat ditentukan berdasarkan panjang puncak kepala-tumit dan panjang puncak kepala-tulang ekor. Usia (bulan) Haase (panjang puncak kepala-tumit) 1 1x1 = 1 2 2x2 = 4 3 3x3 = 9 4 4x4 = 16 5 5x5 = 25 6 6x5 = 30 7 7x5 = 35 8 8x5 = 40 9 9x5 = 45 10 10x5 = 50 2. Streeter (panjang puncak kepala-tulang ekor) 0.23 6.10 11.60 16.40 20.80 24.70 28.30 32.10 36.20

Viabilitas bayi Bayi dikatakan viable jika memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Telah dikandung setidaknya selama 28 minggu 2. Tidak memiliki cacat berat (anensefalus, ectopia cordis, rakiskisis, atresia esophagus, dsb.) Adapun tanda-tanda bayi telah dikandung selama 28 minggu adalah: a. Tanda terukur Berat badan 1500 gram atau lebih Panjang badan kepala-tumit 35 cm atau lebih Lingkar kepala oksipito-frontal 32 cm atau lebih b. Tanda tidak terukur Jenis kelamin sudah dapat dibedakan

Bulu badan, alis, dan bulu mata sudah tumbuh Kuku sudah melewati ujung jari Pusat penulangan pada kalkaneus atau talus Pertumbuhan gigi sudah mencapai tingkat kalsifikasi Apabila bayi dikandung selama kurang dari 28 minggu atau bayi menunjukkan ciri-ciri usia setidaknya 28 minggu tapi memiliki cacat berat maka bayi dikatakan non-viabel. Bayi non-viabel dapat dilahirkan hidup. Sebaliknya, bayi viable pun dapat dilahirkan dalam keadaan sudah mati (stillbirth). Kelahiran mati dapat disebabkan antara lain oleh: kerusakan otak saat persalinan kekurangan oksigen kelahiran plasenta infeksi intrauterine kelainan darah 3. Lahir hidup atau lahir mati Penentuan apakah mayat bayi yang ditemukan lahir hidup atau mati sangat penting dalam memutuskan tuntutan bagi ibu. Pada kasus lahir mati maka sang ibu hanya bisa dikenakan tuntutan menyembunyikan kelahiran dan kematian orang. Lahir mati (stillbirth) dapat diartikan sebagai kematian konsepsi sebelum keluar atau dikeluarkan oleh ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan. Kematian ditandai oleh janin yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan seperti adanya pernapasan, denyut jantung, denyut tali pusat, gerakan otot rangka, menangis, dan lain sebagainya. Pada bayi yang lahir hidup, tanda-tanda ini tetap ada ketika seluruh tubuh bayi telah terpisah dari ibunya. Pada dasarnya, bayi dapat dikatakan lahir hidup atau mati berdasarkan ada atau tidaknya: udara dalam paru-paru udara dalam lambung atau usus serta telinga tengah makanan dalam lambung Selain yang telah disebutkan di atas, harus dilakukan pula pemeriksaan yang menyeluruh pada sistem pernapasan, pencernaan, potongan tali pusat, dan sistem kardiovaskuler. Sistem Pernapasan Pada bayi yang sistem pernapasannya pernah berfungsi akan ditemukan tanda-tanda sebagai berikut: Dada sudah mengembang yang ditandai dengan letak diafragma yang rendah yaitu setinggi iga kelima atau keenam. Tulang iga terlihat lebih mendatar Sela iga lebar Paru-paru: Memenuhi rongga dada sehingga menutupi sebagian jantung

Berwarna merah-ungu Memberikan gambaran mozaik berupa daerah-daerah poligonal yang berwarna lebih muda dan menimbul berselang-seling dengan daerah yang berwarna lebih tua dan kurang menimbul. Hal ini disebabkan adanya perbedaan tingkat pengisian udara (aerasi) pada paru-paru. Tepinya tumpul Teraba adanya derik udara (krepitasi). Apabila dilakukan pada sepotong jaringan paru yang dibenamkan di air maka akan tampak gelembung-gelembung udara. Bila ditimbang maka beratnya sekitar 1/35 berat badan, lebih berat bila dibandingkan dengan paru-paru pada bayi yang belum bernapas. Memberikan hasil positif pada tes apung paru Pada pemeriksaan mikroskopik akan tampak jaringan paru dengan alveoli yang mengembang dengan dinding tipis yang batasnya rata.

TES APUNG PARU Hal yang ditentukan dalam tes apung paru (tes hidrostatik, docimacia pulmonum, hydrostatica) adalah berat jenis paru yang dipengaruhi oleh pengisian udara. Paru-paru yang belum mengalami aerasi akan tenggelam sedangkan yang sudah mengalami aerasi akan mengapung. Prinsip dasar pada tes ini adalah bahwa pada kelahiran mati maka paru-paru belum mengalami aerasi sehingga akan terbalik. Sebaliknya, pada kelahiran hidup, bayi sudah bernapas sehingga seluruh atau sebgaian paru sudah terisi udara dan akan mengapung. Pada tes ini, pertama-tama paru-paru, trakea, dan bronki dilepaskan. Sebelum melepaskan paru-paru, trakea harus diikat terlebih dahulu agar tidak ada udara yang masuk. Paru-paru kemudian dimasukkan ke dalam air dengan suhu kamar atau air dingin dengan suhu 4 derajat Celsius. Setelah itu paru kiri dan kanan dites secara terpisah, begitu pula dengan masing-masing lobus. Selanjutnya dibuat potongan-potongan kecil dari masing-masing paru dan dites kembali. Tenggelam atau mengapungnya paru-paru menunjukkan adanya pengisian udara dan memungkinkan pemeriksa menentukan apakah bayi tersebut lahir hidup atau mati. Pada bayi-bayi yang telah mati selama beberapa hari maka akan terjadi proses pembusukan. Proses ini ditandai dengan dihasilkannya gas pembusukan yang tersebar pada interstisial paru-paru. Paru-paru yang telah membusuk juga akan mengapung dalam air. Udara yang telah mengisi paru-paru hampir tidak mungkin dikeluarkan. Oleh karena itu, untuk membedakannya dari paru-paru yang terisi udara pernapasan dapat dilakukan penekanan potongan jaringan paru diantara dua karton sehingga gas pembusukan dapat terdesak keluar. Tes apung paru dinyatakan positif apabila paru-paru yang telah mengalami penekanan tetap mengapung dalam air. Namun pada kondisi paru-paru yang sudah sangat membusuk, maka alveoli bisa pecah atau pecah pada penekanan sehingga udara residual pun akan tersingkirkan. Akibatnya paru-paru akan tenggelam walaupun sebelumnya telah terisi udara.

Ada hal-hal yang harus diperhatikan pada tes apung paru antara lain: a. Pernapasan buatan pada bayi yang lahir dalam keadaan apnea atau asfiksia dapat memberikan hasil yang positif. Namun kemungkinan pemberian pernapasan buatan dapat disingkirkan pada ibu yang menghendaki kematian bayinya. b. Walaupun jarang sekali terjadi, dalam keadaan tertentu bayi dapat menarik nafas dalam rahim (vagitus uterinus) atau vagina (vagitus vaginalis). Hal ini dapat terjadi karena adanya manipulasi ginekologik pada ketuban yang telah pecah sehingga udara masuk ke dalam uterus. Hal ini juga dapat memberikan hasil yang positif. Namun kemungkinan terjadinya hal ini dapat diabaikan karena manipulasi tersebut hanya bisa dilakukan oleh orang lain. Apabila hasil tes apung paru negatif, hanya dapt dibuat kesimpulan bahwa bayi mungkin belum bernapas. Kepastian bayi belum bernapas dapat diperoleh setelah hasil tes ini digabungkan dengan hasil gambaran mikroskopik paru-paru, yaitu adanya gambaran crumpled sac alveoli pada paru yang belum mengalami aerasi. Tes lain yang dapat dilakukan untuk mendukung tes apung paru adalah tes telinga tengah Wreden-Wendt (middle ear test). Tes ini sangat bermanfaat terutama pada kasuskasus mutilasi dimana hanya ditemukan bagian kepala bayi. Dasar tes ini adalah bahwa jika bayi bernapas ketika dilahirkan maka ia dapat melakukan gerakan menelan yang menyebabkan tuba eustachii terbuka sehingga udara bisa masuk ke telinga tengah. Cara melakukan tes ini adalah dengan membuka segmen timpani pada kedua telinga dengan gunting atau pahat di dalam air kemudian melihat apakah ada gelembung-gelembung yang keluar dari telinga tengah. Jika ada maka hasilnya positif. Pada bayi yang sudah bernapas akan didapatkan hasil positif unilateral atau bilateral. Hasil negatif belum tentu menunjukkan bahwa bayi belum bernapas karena bayi mungkin tidak menelan udara sewaktu dilahirkan. Sistem pencernaan Adanya udara dalam lambung menunjukkan bahwa bayi menelan udara setelah dilahirkan hidup. Udara dalam saluran cerna dapat dilihat melalui adanya gelembunggelembung yang mucul ketika diperiksa dalam air maupum melalui foto rontgen. Udara dalam duodenum atau saluran yang lebih distal menunjukkan bayi telah hidup 6-12 jam. Jika terdapat udara dalam usus besar maka bayi telah hidup selama 12-24 jam. Temuan yang lebih reliable dalam menentukan bayi lahir hidup atau mati adalah ditemukannya makanan atau bakteri dalam usus. Hal ini menunjukkan bahwa bayi pernah diberikan makanan dan menelannya. Potongan tali pusat Adanya proses pelepasan tali pusat juga dianggap sebagai temuan yang reliable. Proses ini dimulai dari pengeringan dan pengisutan potongan tali pusat pada hari kedua. Setelah itu akan terbentuk garis pemisah berwarna merah (red line of separation) pada pangkal

potongan dan kemudian terjadi pemisahan sempurna pada hari keempat sampai keenam. Epitelialisasi terjadi pada hari kesembilan sampai kedua belas. Bila tali pusat telah terpisah dari uri, yang harus diperiksa adalah: Apakah potongannya rata atau tidak. Hal ini dapat dilihat dengan memasukkan potongan ke dalam air. Apakah sudah terikat dan diberikan obat antiseptic Apakah ada tanda-tanda kekerasan Apakah hematoma tau whartons jelly berpindah tempat Apakah terputus di dekat uri atau pusat bayi. Sistem kardiovaskuler Pemeriksaan sistem kardiovaskuler dianggap pemeriksaan yang paling reliable. Pada bayi yang lahir hidup akan terjadi perubahan arah aliran darah dalam jantung karena berfungsinya paru-paru. Foramen ovale akan menutup. Arteri dan vena umbilikalis tidak berfungsi lagi dan akan mengalami obliterasi. Namun menutupnya foramen ovale serta obliterasi arteri dan vena umbilikalis baru dapat dilihat setelah beberapa minggu. 4. Tanda-tanda perawatan Bayi yang sudah mendapatkan perawatan akan memberikan gambaran yang jelas yaitu tubuhnya sudah dibersihkan, tali pusat sudah dipotong dan diikat, lemak pada permukaan dan lipatan-lipatan tubuh bayi sudah dibersihkan, dan terkadang bayi sudah diberikan pakaian atau pembungkus. Adapun bayi yang baru dilahirkan dan belum mendapatkan perawatan dapat diketahui dari tanda-tanda sebagai berikut: Tubuh masih berlumuran darah Plasenta maih melekat dengan tali pusat dan masih berhubungan dengan umbilikus Bila plasenta sudah tidak ada maka ujung tali pusat akan tampak tidak beraturan dan belum diikat Terdapat verniks kaseosa (lemak) padavdaerah dahi dan daeah lipatan-lipatan kulit Usia bayi setelah dilahirkan Terdapat beberapa pemeriksaan medis yang harus dilakukan pada autopsi untuk menentukan berapa lama bayi telah hidup sebelum kemudian dibunuh: a. Perubahan warna kulit. Kulit bayi baru lahir berwarna merah terang dan disertai lapisan verniks kaseosa. Warna kulit menjadi lebih gelap pada hari kedua dan ketiga hingga akhirnya berubah menjadi merah bata dan sedikit kekuningan. Warna kulit normal akan tampak setelah 1 minggu. b. Perubahan pada kaput suksedaneum. Pada proses persalinan, jaringan kulit kepala bayi mengalami pembengkakan yang berisi cairan darah atau serum. Pembengkakan ini akan hilang setelah 1 hingga 3 hari.

5.

c.

d. e. f.

Udara pada saluran cerna. Apabila terdapat udara pada duodenum atau saluran yang lebih distal maka bayi telah hidup selama 6-12 jam. Apabila terdapat udara di dalam usus besar maka bayi telah hidup selama 12-24 jam. Perubahan pada mekonium. Jika mekonium telah hilang sama sekali berarti bayi telah hidup selama 4 hari. Perubahan pada cephal hematom. Apabila telah hilang berarti bayi tersebut telah hidup selama 8-14 hari. Perubahan pada umbilikus: Bekuan darah pada bekas potongan: setelah 2 jam Tali pusat masih menempel tapi sudah mulai mengering: 12-14 jam Peradangan pada sekitar tali pusat: 36-48 jam Pengeringan dan pengisutan tali pusat: setelah 48 jam Tali pusat terlepas dari bayi: 5-8 hari Penyembuhan luka dan epitelialisasi: 8-12 hari

6.

Penyebab kematian pada bayi yang lahir hidup Tindakan pembunuhan terhadap bayi yang baru lahir dapat dilakukan melalui berbagai cara. Cara yang banyak dijumpai adalah cara yang menimbulkan keadaan mati lemas atau asfiksia seperti penjeratan, pencekikan, pembekapan, serta pembenaman ke dalam air. Adapun tanda-tanda yang dapat ditemukan pada pemeriksaan medis adalah: a. Tanda-tanda asfiksia: Sianosis pada bibir dan ujung jari Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva serta jaringan longgar lainnya Lebam mayat yang lebih gelap dan lebih luas Busa halus yang berwarna putih atau kemerahan yang keluar dari lubang hidung dan atau mulut Tanda-tanda bendungan pada alat dalam b. Mulut dan daerah sekitar: Luka lecet tekan yang biasanya berbentuk bulan sabit Memar pada bibir bagian dalam yang berhadapan dengan gusi Benda-benda asing seperti gumpalan koran atau kain yang mengisi rongga mulut Leher dan daerah sekitarnya: Luka lecet yang melingkari sebagian atau seluruh bagian leher yang merupakan bekas jerat sebagai akibat tekanan dari penjerat yang digunakan Luka lecet kecil-kecil berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh tekanan dari ujung-ujung kuku pelaku pencekikan Luka lecet dan memar yang tidak beraturan yang dapat disebabkan oleh tekanan ujung jari pelaku pencekikan Luka tusuk atau sayat pada daerah leher, mulut, atau bagian lainnya

c.

Tanda-tanda terendam: Tubuh yang basah dan mungkin berlumpur Washer woman's hand Cutis anserine Adanya benda-benda asing terutama dalam saluran pencernaan, berbentuk pasir, lumpur, tumbuhan atau binatang air