Anda di halaman 1dari 5

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan tujuan pembangunan yang berwawasan kesehatan dan kesejahteraan maka pemerintah telah menetapakan pola dasar pembangunan yaitu pembangunan mutu sumber daya manusia di berbagai sektor serta masih menitik beratkan pada program-program pra-upaya kuratif dan

rehabilitatif yang didukung oleh informasi kesehatan secara berkesinambungan sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berperilaku hidup sehat, lingkungan sehat dan memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri serta dapat menjangkau pelayanan kesehatan yang berkualitas di tahun 2015. (Depkes RI, 2009). Ruptur perineum adalah robeknya perineum yang terjadi ketika persalinan. Ruptur perineum merupakan hal yang bisa terjadi baik pada primi maupun multigravida. Hal ini tidak bisa di prediksikan sebelumnya, karena ruptur perineum ini dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain paritas, konsistensi perineum, berat badan bayi dan keterampilan bidan itu sendiri dalam memberi support perineum saat akan melahirkan kepala (Herdiana, 2007). Ruptur perineum dapat terjadi karena adanya ruptur spontan maupun episiotomi yang biasa dilakukan atas indikasi bayi besar, perineum kaku, persalinan dengan kelainan letak, persalinan dengan menggunakan alat baik forceps maupun vacum. Karena apabila episiotomi itu tidak dilakukan atas indikasi dalam keadaan yang tidak perlu dilakukan dengan indikasi di atas, maka menyebabkan peningkatan kejadian dan beratnya kerusakan pada daerah

perineum yang lebih berat. Sedangkan luka perineum itu sendiri akan mempunyai dampak tersendiri bagi ibu yaitu gangguan ketidaknyamanan (Wiknjosastro, 2006) Menurut Stefen, seorang tokoh WHO dalam bidang Obgyn di seluruh dunia pada tahun 2009 terjadi 2,7 juta kasus ruptur perineum pada ibu bersalin. Angka ini diperkirakan mencapai 6,3 juta pada tahun 2050, seiring dengan semakin tingginya bidan yang tidak mengetahui asuhan kebidanan dengan baik. (Hilmy, 2010). Penelitian di Rumah Sakit Benin, Nigeria, mengemukakan bahwa prevalensi ruptur perineum kurang lebih 46,6%, terlebih pada ibu primigravida 90% mengalami ruptur perineum (Elsevier B.V, 2009). Di Asia ruptur perineum juga merupakan masalah yang cukup banyak di masyarakat, 50% dari kejadian ruptur perineum di dunia terjadi di Asia (Campion, 2009). Prevalensi ibu bersalin yang mengalami ruptur perineum di Indonesia pada golongan umur 25 30 tahun yaitu 24% sedang pada ibu bersalin usia 32 39 tahun sebesar 62% (Hilmy, 2010). Hasil studi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Bandung, yang melakukan penelitian dari tahun 20092010 pada beberapa propinsi di Indonesia didapatkan bahwa satu dari lima ibu bersalin yang mengalami ruptur perineum akan meninggal dunia dengan persen (21,74%). (Siswono, 2003).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ruliati (2010) yang berjudul pengaruh pijat perineum pada kehamilan terhadap kejadian ruptur perineum pada Persalinan di Bidan Praktek Swasta Siswati dan Siti Zulaikah Jombang, dengan hasil penelitian pada kelompok yang diberikan intevensi pijat perineum : primigravida tidak mengalami ruptur sebanyak 44,4%, ruptur derajat I 55,6%, sedangkan pada multigravida tidak mengalami ruptur perineum sebanyak 55,6%, ruptur derajat I sebanyak 44,4%. Pada kelompok kontrol : primigravida yang tidak mengalami ruptur perineum sebanyak 22,2%, ruptur perineum derajat I sebanyak 22,2%, dan ruptur perineum derajat II sebanyak 55,6%. Sedangkan untuk multigravida yang tidak mengalami ruptur perineum sebanyak 11,1%, 33,3% mengalami ruptur perineum derajat I, dan 55,6% dengan ruptur perineum derajat II. Hasil studi pendahuluan di Kecamatan Cipatujah menunjukkan pada tahun 2011 dari 205 ibu bersalin primigravida 117 orang (57%) mengalami ruptur. Dari kasus tersebut 64% (75 orang) terjadi karena perineum kaku, 27% (32 orang) karena janin besar dan 9% (10 orang) karena oedema vulva. Untuk di bagian Pelayanan Obstetri Dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) Puskesmas dengan Tempat Perawatan (DTP) Cipatujah menunjukkan bahwa pada tahun 2011 dari 41 ibu bersalin primigravida terdapat 27 orang (66%) mengalami ruptur. Dari 27 orang (66%) terjadi karena perineum kaku 13 orang (48%), berat badan bayi lebih dari 4000 gram 8 orang (30%) dan karena partus presipitatus 6 orang (22%).

Berdasarkan data di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengaruh Pijat Perineum terhadap Kejadian Ruptur Perineum pada Primigravida di BPS Bidan N dan BPS Bidan W Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya Periode Juni-Juli 2012.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian adalah Bagaimanakah Pengaruh Pijat Perineum terhadap Kejadian Ruptur Perineum pada Primigravida di BPS Bidan N dan BPS Bidan W Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya Periode Juni-Juli 2012? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui pengaruh pijat perineum terhadap ruptur perineum pada primigravida di BPS Bidan N dan BPS Bidan W Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya periode Juni-Juli 2012. 2. Tujuan Khusus
a. Mendapatkan data kejadian ruptur perineum. b. Mendapatkan data tentang pengaruh pijat perineum pada primigravida

terhadap kejadian ruptur saat melahirkan. c. Mendapatkan data kejadian ruptur pada kelompok kontrol.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis Hasil penelitian yang diperoleh dapat menjadi sumber pengetahuan dan strategi bagi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil khususnya tentang pengaruh pijat perineum terhadap kejadian ruptur perineum.
2. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam proses pembelajaran dan menjadi referensi pada penelitian selanjutnya. E. Keaslian Penelitian Penelitian tentang ini sebelumnya dilakukan oleh Ruliati (2010) dengan judul Pengaruh Pijat Perineum pada Kehamilan terhadap Kejadian Ruptur Perineum pada Persalinan di Bidan Praktek Swasta BPS Siswati dan BPS Siti Zulaikah Jombang, Perbedaan dengan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu terletak pada judul, populasi dan sampel. Persamaan dengan penelitian yang akan penulis lakukan yaitu metode penelitian eksperrimental dan analisis data dengan analisis univariat dan bivariat.