Anda di halaman 1dari 5

TELAAH FASILITAS PEJALAN KAKI DI KAWASAN JALAN PURNAWARMAN BANDUNG

Husna Tiara Putri

Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan

Institut Teknologi Bandung

19911033

Abstrak

Fasilitas pejalan kaki merupakan salah satu bentuk fasilitas umum yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat. Fasilitas ini juga memiliki jumlah yang cukup banyak yang dapat ditemui hampir di semua kawasan di Indonesia. Namun pada kawasan-kawasan tertentu, kriteria standar fasilitas pejalan kaki masih sulit ditemukan. Penyimpangan dan penyalahgunaan fungsi juga kerap terjadi. Selain itu, masih banyak golongan masyarakat yang kurang mengerti dan mengabaikan hak-hak para pejalan kaki yang harus dihormati.

I. PENDAHULUAN

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fasilitas umum adalah segala sesuatu yang disediakan untuk kepentingan umum. Fasilitas umum yang dikelola oleh pemerintah ini beragam jenisnya. Namun, salah satu fasilitas umum yang paling banyak digunakan adalah fasilitas pejalan kaki. Fasilitas pejalan kaki merupakan semua bangunan yang disediakan untuk pejalan kaki guna memberikan pelayanan kepada pejalan kaki sehingga dapat meningkatkan kelancaran, keamanan dan kenyamanan pejalan kaki. Fasilitas ini meliputi trotoar, tempat penyeberangan yang

dinyatakan dengan marka jalan dan/atau rambu-rambu, jembatan penyeberangan dan terowongan penyeberangan (PP No. 43 : 1993).

Fasilitas pejalan kaki pada suatu kawasan dapat dipasang dengan mengacu pada kriteria sebagai berikut:

  • 1. Fasilitas pejalan kaki harus dipasang pada lokasi-lokasi dimana pemasangan fasilitas tersebut memberikan manfaat yang maksimal, baik dari segi keamanan, kenyamanan ataupun kelancaran perjalanan bagi pemakainya.

  • 2. Tingkat kepadatan pejalan kaki, atau jumlah konflik dengan kendaraan dan jumlah kecelakaan harus digunakan sebagai faktor dasar dalam pemilihan fasilitas pejalan kaki yang memadai.

  • 3. Pada lokasi-lokasi/kawasan yang terdapat sarana dan prasarana umum.

  • 4. Fasilitas pejalan kaki dapat di tempatkan di sepanjang jalan atau pada suatu kawasan yang akan mengakibatkan pertumbuhan pejalan kaki dan biasanya diikuti oleh peningkatan arus lalu lintas serta memenuhi syarat-syarat atau ketentuan- ketentuan untuk pembuatan fasilitas tersebut. Tempat-tempat tersebut antara lain daerah-daerah industri, pusat perbelanjaan, pusat perkantoran, sekolah, terminal bus, perumahan, dan pusat hiburan.

Adapun struktur formal dari fasilitas pejalan kaki adalah bahwa sebuah fasilitas pejalan kaki terdiri dari trotoar, penyebrangan (jembatan penyebrangan, zebra cross, pelican cross, terowongan), dan non trotoar. Sedangkan komponen pelengkap lain, diantaranya lapak tugu, rambu, marka, lampu lalu lintas, dan bangunan pelengkap.

Kota Bandung merupakan salah satu kota terpadat di Indonesia. Kota ini juga memiliki berbagai titik yang menjadi pusat aktivitas sosial penduduk, salah satunya di kawasan Jalan Purnawarman yang memiliki dua buah pusat perbelanjaan besar: Gramedia Book Store dan Bandung Electronic Center.

Seperti kawasan-kawasan ramai pada umumnya, para pejalan kaki di kawasan ini telah terfasilitasi oleh pemerintah. Namun perlu peninjauan kondisi fasilitas secara keseluruhan sebagai untuk mengetahui kelayakan dan nilai fungsional fasilitas pejalan kaki ini. Oleh karena itu, dilakukan observasi dan penelaahan lebih lanjut akan faktor-faktor yang terkait. Hasil telaah dan analisis ini disajikan dalam working paper, yang dimulai dengan Bab I: Pendahuluan; Bab II: Kondisi Fasilitas Pejalan Kaki; Bab III: Kesimpulan dan Daftar Pustaka.

II. KONDISI FASILITAS PEJALAN KAKI

2.1 Trotoar dan Non Trotoar

Kondisi komponen trotoar dan non trotoar sebagai jalur bagi para

pejalan kaki di kawasan Jalan Purnawarman ini terbilang cukup buruk. Banyak terdapat kerusakan dan penyalahgunaan fungsi trotoar, baik yang secara tidak sengaja dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, ataupun para penggunan jalan itu sendiri.

  • 1. Tata letak tanaman hijau Peletakan berbagai tanaman hijau di kawasan Jalan Purnawarman ini merupakan pilihan yang cukup baik. Terdapat berbagai jenis tanaman dan pepohonan di sepanjang trotoar. Namun sayangnya, beberapa pohon tumbuh membesar dan mulai mengganggu aktivitas para pejalan kaki. Lingkar batang yang cukup besar telah mempersempit jalur lintas yang ada. Bahkan di beberapa titik terdapat pagar besi yang membatasi jalur pejalan kaki dan pepohonan. Akibatnya, trotoar semakin sempit dan para pejalan kaki harus mengambil jalur kendaraan dengan berbagai risiko.

Seperti kawasan-kawasan ramai pada umumnya, para pejalan kaki di kawasan ini telah terfasilitasi oleh pemerintah. Namun

Gambar 1. Pohon besar berpagar besi memakan jalur pejalan kaki Sumber: dokumentasi pribadi

Seperti kawasan-kawasan ramai pada umumnya, para pejalan kaki di kawasan ini telah terfasilitasi oleh pemerintah. Namun

Gambar 2. Para pejalan kaki beralih ke jalan raya Sumber: dokumentasi pribadi

2. Lokalisasi pedagang kaki lima dan lahan parkir Tingginya aktivitas sosial yang terjadi di kawasan Jalan Purnawarman ini tentu saja menjadi suatu daya tarik bagi para pedagang kaki lima. Pemanfaatan lahan kosong berupa trotoar dan jalur pejalan kaki sebagai area berjualan dijadikan solusi atas terbatasnya kawasan. Akhirnya para pejalan kaki yang harus mengalah dan membagi lagi jalur kecilnya kepada para pedagang kaki lima ini. Selain itu, masalah selanjutnya adalah lahan parkir. Ada dua pihak yang menjadi pemicu masalah ini, yaitu pemilik kendaraan dan pengelola jasa parkir. Para pemilik kendaraan, terutama pengendara motor, cenderung enggan untuk menggunakan jasa parkir yang telah disediakan di pusat-pusat perbelanjaan (BEC, Gramedia, dll) dengan alasan lebih sulit dijangkau. Mereka lebih menyukai untuk menggunakan jasa parkir yang ada di sekitar jalan raya atau malah memilih parkir bebas meskipun sudah ada rambu larangan parkir yang jelas. Pada dasarnya, pengelolaan jasa parkir di Jalan Purnawarman ini cukup baik, yaitu untuk menata para pemarkir liar. Namun sayang, pemilihan lahan yang dilakukan kurang tepat. Para pengelola jasa

ini memanfaatkan trotoar sebagai lahan parkir tanpa memperhatikan para pejalan kaki yang ada disekitarnya. Dan pada jam-jam tertentu jumlah pemakai jasa ini akan menjadi cukup besar sehingga pihak pengelola harus melebarkan lagi lahannya menuju jalan raya.

ini memanfaatkan trotoar sebagai lahan parkir tanpa memperhatikan para pejalan kaki yang ada disekitarnya. Dan pada
ini memanfaatkan trotoar sebagai lahan parkir tanpa memperhatikan para pejalan kaki yang ada disekitarnya. Dan pada

Gambar 3 dan 4. Pedagang kaki lima di Jalan Purnawarman Sumber: dokumentasi pribadi

ini memanfaatkan trotoar sebagai lahan parkir tanpa memperhatikan para pejalan kaki yang ada disekitarnya. Dan pada

Gambar 5. Pemanfaatan trotoar sebagai lahan parkir Sumber: dokumentasi pribadi

ini memanfaatkan trotoar sebagai lahan parkir tanpa memperhatikan para pejalan kaki yang ada disekitarnya. Dan pada

Gambar 6. Parkir bebas pemilik kendaraan Sumber: dokumentasi pribadi

3. Tempat penimbunan sampah Terdapat satu titik di kawasan ini yang dijadikan sebagai tempat penimbunan sampah sementara oleh masyarakat, dan titik ini terletak pada jalur pejalan kaki. Terlihat bahwa pernah ada usaha dari ketua rukun tetangga dengan adanya himabauan untuk tidak membuang sampah pada titik tersebut, tetapi kejelasan mengenai pengalihan tempat penimbunan itu belum ada. Sehingga himbauan itu sampai saat ini hanya berupa pajangan belaka. Keberadaan tempat penimbunan sampah ini sangat mengganggu para pengguna jalan, khususnya para pejalan kaki yang harus mengambil jarak terhadap titik ini karena sampah-sampah ini memiliki bau tidak sedap yang menyengat dan juga kotor.

ini memanfaatkan trotoar sebagai lahan parkir tanpa memperhatikan para pejalan kaki yang ada disekitarnya. Dan pada

Gambar 7. Tempat penimbunan sampah di Jalan Purnawarman Sumber: dokumentasi pribadi

2.2 Penyebrangan

ini memanfaatkan trotoar sebagai lahan parkir tanpa memperhatikan para pejalan kaki yang ada disekitarnya. Dan pada

Gambar 8. Pejalan kaki yang melintas di titik penimbunan sampah Sumber: dokumentasi pribadi

Komponen alat bantu menyebrang bagi para pejalan kaki yang ada

di kawasan Jalan Purnawarman ini adalah zebra cross. Satu-satunya zebra

cross yang ada di kawasan ini berukuran kecil dan berada tepat di depan pintu masuk gedung Bandung Electronic Centre(BEC). Namun sayangnya, keberadaan alat penyebrangan ini belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar pengguna zebra cross merupakan pengunjung BEC yang berkebetulan menggunakan jasa angkutan umum yang mengharuskan mereka untuk menyebrang. Sedangkan sebagian pengguna jalan yang lain tidak terlalu memperhatikan komponen ini. Lebar jalan yang relatif kecil membuat mereka beranggapan bahwa setiap titik di sepanjang jalan merupakan area yang aman untuk menyebrang, tidak harus melalui zebra cross.

cross yang ada di kawasan ini berukuran kecil dan berada tepat di depan pintu masuk gedung

Gambar 9. Pejalan kaki yang sedang menyebrang

Sumber: dokumentasi pribadi

III. KESIMPULAN

Salah satu fasilitas umum yang harus mulai diperhatikan saat ini adalah fasilitas bagi para pejalan kaki karena banyak kawasan yang belum terfasilitasi dengan baik. Selain itu, tidak banyak jumlah masyarakat yang memperhatikan hak-hak para pejalan kaki. Bahkan sebagian dari mereka ada yang mengalihfungsikan fasilitas ini sebagai tempat mencari nafkah dan mengganggu para pengguna jalan lainnya, contoh nyatanya seperti hal-hal yang terjadi di kawasan Jalan Purnawarman ini.

Untuk masalah jalur trotoar dan non trotoar, ada tiga solusi yang dapat dilakukan. Pertama, merelokasikan para pedagang kaki lima ke area yang cukup lapang dan terjangkau lalu mengelolanya sebagai pusat jajanan (foodcourt). Kedua, menegaskan kepada para pemilik kendaraan untuk mematuhi rambu tidak memarkirkan kendaraannya di sembarang tempat. Dan yang terakhir, menyediakan sebuah tempat penimbunan sampah tertutup, agar tidak merusak lingkungan dan mengganggu para pejalan kaki yang ada. Sedangkan untuk masalah jalur penyebrangan, sebaiknya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat. Bukan hanya semata-mata bertujuan untuk menggunakan fasilitas yang ada, tetapi juga menjaga kelengkapan fasilitas yang sudah ada tersebut. Karena bukan hanya pemerintah yang bertanggung jawab akan fasilitas ini, tetapi juga para pengguna jalan serta masyarakat yang ada di sekitar kawasan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga.Tata Cara Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan.

1995.http://www.scribd.com/doc/82930633/Tatacara-an-Fasilitas-

Pejalan-Kaki-DiKawasan-Perkotaan (diakses pada 18 April 2012 pukul 22.50)

Kamus Besar Bahasa Indonesia. http://www.kamusbesar.com/50397/ fasilitas-umum (diakses pada 18 April 2012 pukul 19.30)

Peraturan Presiden No.43 tahun 1993 tentang Prasarana Jalan Bagian VII pasal 39 ayat 1dan 2