Anda di halaman 1dari 14

A.

Istilah dan Pengertian Perjanjian Istilah Perjanjian terkadang digunakan bersamaan dengan istilah lainnya seperti kontrak, untuk itu perlu adanya penegasan tentang kata atau istilah yang tepat untuk digunakan. Dikatakan demikian karena terkadang secara teoritis dan bahkan praktiknya penggunaan suatu istilah jika tidak tepat akan membingungkan dan mengaburkan arti atau konsep dasarnya, dalam arti apakah terminologi yang akan digunakan, apakah kontrak dan atau perjanjian. Pembatasan demikian sangat diperlukan untuk menyamakan persepsi tentang penggunaan istilah yang tepat dalam pembahasan materinya. Istilah perjanjian ini, terumus dalam bahasa Belanda dengan istilah overeenkomst, yang biasanya diterjemahkan dengan perjanjian dan atau persetujuan. Kata perjanjian menunjukkan adanya makna, bahwa para pihak dalam perjanjian yang akan diadakan telah sepakat tentang apa yang mereka sepakati berupa janji-janji yang diperjanjikan. Sementara itu, kata persetujuan menunjukkan makna bahwa para pihak dalam suatu perjanjian tersebut juga sama-sama setuju tentang segala sesuatu yang mereka perjanjikan. Artinya terjemahan istilah tersebut dapat dikatakan sama, terkadang bahkan digunakan bersamaan, hal ini disebabkan antara keduanya ditafsirkan sama, karena perjanjian itu sendiri sebenar juga adalah persetujuan. Dari apa yang dikemukakan di atas, dapat dikatakan bahwa penggunaan istilah perjanjian dan kontrak terkadang disamakan saja, hal ini disebabkan karena kontrak ini sebenarnya juga sebagai suatu perjanjian. Kontrak diartikan sebagai suatu kesepakatan yang diperjanjikan. Sebaliknya perjanjian juga merupakan suatu perbuatan hukum yang pada asasnya lahir karena ada kesepakatan. Hal ini berarti perjanjian dimaksud bermakna cukup luas, dalam perakteknya biasa saja terjadi dengan cara atau bentuk lisan, sebaliknya kontrak dalam praktiknya biasanya dilakukan dalam cara atau bentuk tertulis. Melihat apa yang dikemukakan tersebut, tanpa mengurangi perbedaan berbagai istilah yang digunakan, sebenarnya banyak para ahli yang menyamakan penggunaan istilah dimaksud, dikatakan demikian karena pada satu sisi suatu kontrak yang diadakan menjadi kebiasaan dilakukan secara tertulis. Sebaliknya, perjanjian dimungkinkan tidak dalam bentuk tertulis. Namun pada prinsipnya padanan kedua kata tersebut sering digunakan dalam praktiknya. Mengenai pengertian perjanjian, sebagai patokan awal, dalam hal ini dapat dipedomani rumusan yang terdapat dalam Pasal 1313 KUHPerdata, dimana rumusan dalam ketentuan undang-undang itu tidak hanya menggunakan istilah perjanjian, tetapi dalam pasal lainnya digunakan juga istilah kontrak, seperti dikenalnya asas kebebasan berkontrak yang terdapat dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata. Dalam Pasal 1313 KUHPerdata ditegaskan bahwa suatu perjanjian adalah; suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Rumusan perjanjian dalam Pasal 1313 KUHPerdata diatas mendapat kritikan dari beberapa ahli, karena dirasakan kurang lengkap artinya terdapat beberapa kelemahannya. Menurut Abdul Kadir Muhammad, kelemahan tersebut, antara lain: Seolah-olah perjanjian tersebut bersifat sepihak saja, sedangkan perjanjian bersifat dua pihak. Hal ini dilihat dari perumusan ....satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih

lainnya. Perkataan mengikatkan disini sifatnya hanya datang dari satu pihak saja, bukan dari kedua belah pihak. Perumusan itu seharusnya ....saling mengikatkan dirinya... sehingga dengan begitu terdapat konsensus antara pihak-pihak . Jadi, perjanjian baru akan terjadi apabila sudah ada kesepakatan antara kedua belah pihak. Sementara itu, perkataan perbuatan dalam perumusan Pasal 1313 KUHPerdata mengandung pengertian menyangkut juga tindakan atau perbuatan tanpa konsensus dan termasuk juga disini perbuatan melawan hukum. Penggunaan kata yang lebih tepat adalah dengan memakai kata persetujuan. Sedangkan mengenai pengertian perjanjian dalam Pasal 1313 KUHPerdata juga terlalu luas. Hal ini disebabkan karena pengertian perjanjian yang dirumuskan dalam Pasal 1313 KUHPerdata tersebut mencakup juga pengertian perjanjian dalam lapangan hukum keluarga, sedangkan yang dimaksud adalah hubungan hukum yang terjadi antara debitur dan kreditur yang terletak dalam lapangan hukum harta kekayaan. Demikian juga dalam rumusannya tidak menyebutkan tujuan. Pengertian perjanjian yang dirumuskan dalam Pasal 1313 KUHPerdata tersebut tidak menyebutkan tentang apa yang menjadi tujuan diadakannya perjanjian atau untuk apa pihak-pihak saling mengikatkan diri untuk melakukan perjanjian, sehingga dapat menimbulkan pengertian yang sangat luas. (Abdul Kadir Muhammad, 1982; 77). Berdasarkan kelemahan-kelemahan yang dikemukakan oleh Abdul Kadir Muhammad di atas, maka seharusnya rumusan tersebut: Perjanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan sesuatu hal dalam lapangan harta kekayaan. (Ibid). Demikian juga halnya dengan R. Setiawan menganggap perlu diadakan perbaikan mengenai pengertian perjanjian tersebut, yaitu: Perbuatan harus diartikan sebagai perbutan hukum, yaitu perbuatan yang bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum. Menambahkan perkataan atau saling mengikatkan dirinya... dalam Pasal 1313 KUHPerdata tersebut. Dengan demikian perumusannya menjadi: Persetujuan adalah suatu perbuatan hukum dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. (R. Setiawan, 1994; 49). Dalam pada itu yang dimaksud dengan kontrak adalah suatu kesepakatan yang diperjanjikan diantara dua pihak atau lebih yang dapat memodifikasi atau menghilangkan hubungan hukum. Dari pengertian-pengertian perjanjian di atas, maka dapat dikatakan bahwa kedua istilah dan pengertian tersebut pada prinsipnya tidak jauh berbeda, dikatakan demikian, karena pengertian perjanjian dan kontrak dimaksud dilahirkan karena adanya kesepakatan dan pada akhirnya menimbulkan suatu perjanjian dan melahirkan hubungan hukum atau perikatan. B. Pengaturan Mengenai Perjanjian Peraturan yang dijadikan sebagai dasar hukum perjanjian adalah KUHPerdata Buku III Bab II yang berjudul Perikatan-perikatan yang Dilahirkan dari Kontrak atau Perjanjian. Secara sistematis pengaturan mengenai perjanjian dalam KUHPerdata ini terdiri dari empat bagian, yakni dari Pasal 1313 1351 KUHPerdata, yang terdiri dari : Bagian Kesatu yang mengatur tentang ketentuan umum (Pasal 1313 1319 KUHPerdata)

Bagian Kedua yang mengatur tentang syarat-syarat sahnya suatu perjanjian (Pasal 1320 1337 KUHPerdata) Bagian Ketiga yang mengatur tentang akibat-akibat dari perjanjian (Pasal 1338 1341 KUHPerdata) Bagian Keempat yang mengatur tentang penafsiran perjanjian-perjanjian (Pasal 1342 1351 KUHPerdata) Selain itu, terdapat beberapa ketentuan tambahan mengenai pengaturan perjanjian, yakni: Pasal 1266 dan 1267 Bab I Buku III KUHPerdata yaitu tentang perikatan-perikatan bersyarat yang merupakan syarat-syarat putus yakni wanprestasi. Pasal 1446 1456 KUHPerdata tentang kebatalan dan pembatalan. C. Subjek dan Objek Kontrak/Perjanjian Dalam suatu perjanjian terdapat pihak-pihak yang mengadakan atau melaksanakan perjanjian dan juga terikat dengan perjanjian tersebut. Pihak itulah yang biasa disebut dengan subjek perjanjian. Menurut Abdul Kadir Muhammad, subjek perjanjian dapat berupa : (Abdul Kadir Muhammad, 1994; 79). a. Manusia pribadi (Natuurlijk Persoon) b. Badan hukum (Recht persoon) Jadi, dapat dikatakan bahwa setiap subjek hukum dapat menjadi subjek dalam perjanjian, dan setiap subjek perjanjian harus mampu dan wenang melakukan perbuatan hukum seperti yang ditetapkan dalam Undang-undang. Pada dasarnya, suatu perjanjian berlaku bagi pihak yang mengadakan perjanjian itu sendiri, hal inilah yang biasanya disebut dengan asas pribadi (Pasal 1315 jo Pasal 1340 KUHPerdata). Sedangkan para pihak tidak dapat mengadakan perjanjian yang mengikat pihak ketiga kecuali dalam apa yang disebut dengan janji guna pihak ketiga (Pasal 1317 KUHPerdata). Sementara itu, suatu perjanjian harus mempunyai objek yang akan diperjanjikan. Ketentuan dalam Pasal 1320 KUHPerdata menyatakan bahwa salah satu syarat sahnya suatu perjanjian adalah adanya hal tertentu. Ada hal tertentu inilah yang disebut dengan objek perjanjian atau pokok perjanjian. Objek perjanjian dapat berupa benda ataupun berupa prestasi tertentu, yakni berupa benda berwujud atau benda tidak berwujud bisa juga berupa benda yang ada atau benda yang akan ada. D. Unsur-unsur Perjanjian Dalam suatu perjanjian, terdapat unsur-unsur sebagai berikut, antara lain : a. Para pihak yang sedikit-dikitnya dua orang, Pihak-pihak inilah yang disebut dengan sebagai subjek perjanjian. b. Ada persetujuan antara pihak-pihak itu. Persetujuan disini bersifat tetap, bukan sedang dalam tahap berunding. Persetujuan tersebut ditujukan dengan penerimaan tanpa syarat atas suatu tawaran, mengenai syaratsyarat dan mengenai objek perjanjian.

c. Ada tujuan yang akan dicapai dengan diadakannya perjanjian. Tujuan tersebut yaitu untuk memenuhi kebutuhan para pihak dalam perjanjian, dimana tujuan tersebut sifatnya tidak dilarang oleh undang-undang dan juga tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan. d. Ada prestasi yang akan dilaksanakan. Prestasi adalah kewajiban yang akan dipenuhi oleh pihak-pihak sesuai dengan syaratsyarat yang diperjanjikan. Pada sistem hukum Anglo Saxon istilah prestasi ini biasa disebut dengan considerans. Dimana dengan adanya persetujuan maka akan timbul kewajiban untuk melaksanakan suatu prestasi oleh para pihak dalam perjanjian. e. Adanya bentuk tertentu. Bentuk disini perlu ditentukan, karena ada ketentuan Undang-undang yang menyatakan bahwa hanya dengan bentuk tertentu suatu perjanjian mempunyai kekuatan mengikat dan kekuatan bukti. f. Ada syarat-syarat tertentu Syarat-syarat tertentu ini merupakan isi perjanjian, yang mana dari syarat-syarat itu dapat diketahui hak dan kewajiban para pihak. Syarat disini ada yang berupa syarat pokok dan ada pula yang berupa syarat tambahan. E. Asas-Asas Dalam Perjanjian Dalam Hukum Perjanjian dikenal beberapa asas. Asas-asas tersebut diantaranya adalah : 1) Asas Kebebasan Berkontrak Asas kebebasan berkontrak maksudnya adalah bahwa setiap orang bebas mengadakan perjanjian apa saja baik sudah ataupun belum diatur oleh Undang-undang, bebas untuk tidak mengadakan perjanjian, bebas untuk mengadakan perjanjian dengan siapa pun dan juga bebas untuk menentukan isi, syarat dan luasnya perjanjian. Kebebasan dalam asas ini asalkan tidak melanggar ketentuan Undang-Undang, tidak melanggar kepentingan umum dan kesusilaan sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 1337 KUHPerdata. Pembatasan ini diberikan sebagai akibat dari : a. Perkembangan masyarakat, dimana dengan perkembangan ekonomi membuat orangorang menggabungkan diri dalam bentuk usaha bersama atau membentuk usaha swasta. b. Adanya campur tangan pemerintah untuk melindungi kepentingan umum. c. Adanya aliran masyarakat yang bersifat sosial ekonomi. 2) Asas Konsensualisme Asas konsensualisme maksudnya adalah bahwa pada asasnya suatu perjanjian atau perikatan yang timbul atau lahir adalah sejak detik tercapainya sepakat mengenai hal-hal pokok dan tidak diperlukan suatu formalitas. Ini berarti bahwa perjanjian itu lahir sejak kata sepakat telah tercapai, walaupun dalam pelaksanaannya Undang-undang menetapkan tetap adanya suatu formalitas tertentu. Misalnya adanya keharusan menuangkan perjanjian

kedalam bentuk tertulis atau dengan akta notaris. Sedangkan guna perjanjian dituangkan dalam bentuk tertulis yaitu adalah dalam hal sebagai alat bukti. 3) Asas Kepatutan Asas ini berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian. Pengaturan asas ini ditegaskan dalam Pasal 1339 KUHPerdata, yakni: Perjanjian-perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat persetujuan, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau Undang-undang. Menurut Prof.Dr. Mariam Darus Badrulzaman, asas kepatutan ini menentukan ukuran mengenai hubungan yang ditentukan juga oleh rasa keadilan dalam masyarakat. 4) Asas Kekuatan Mengikat Asas ini dinyatakan secara tegas dalam Pasal 1338 Ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi: Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya. Hal tersebut berarti bahwa para pihak mempunyai keterikatan pada perjanjian yang mereka buat. 5) Asas Keseimbangan Asas keseimbangan menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian yang telah mereka buat dan mereka sepakati. Dimana masing-masing pihak harus memenuhi prestasi yang telah disepakati bersama dengan itikad baik, sehingga tercipta keseimbangan antara kedua belah pihak dalam perjanjian tersebut. 6) Asas Kepastian Hukum Perjanjian sebagai suatu bentuk produk hukum hendaklah mengandung kepastian hukum. Dalam menciptakan kepastian hukum bagi kedua belah pihak maka perjanjian itu haruslah mempunyai kekuatan mengikat layaknya sebagai Undang-undang bagi para pihak yang mengadakan perjanjian tersebut. 7) Bersifat Obligatoir Perjanjian yang dibuat oleh para pihak itu baru dalam tahap menimbulkan hak dan kewajiban, belum sampai pada tahap memindahkan hak milik. Hak milik baru akan berpindah jika telah diperjanjikan tersendiri, hal ini biasanya disebut dengan perjanjian yang bersifat kebendaan. 8) Bersifat Pelengkap Bersifat pelengkap maksudnya yaitu pasal-pasal dalam Undang-undang boleh disingkirkan apabila para pihak dalam perjanjian menghendakinya, dan mereka sepakat membuat ketentuan sendiri. Tapi jika mereka tidak menentukan mengenai hal tersebut maka ketentuan dalam Undang-undang tetap berlaku. Buku Ketiga KUHPerdata pada Pasal 1338-1341 mengatur mengenai akibat dari perjanjian, antara lain sebagai berikut: a. Berlaku sebagai Undang-Undang Dasar hukum bahwa perjanjian berlaku sebagai Undang-undang adalah Pasal 1338 Ayat (1) KUHPerdata. Sehingga, jika ada salah satu pihak dalam perjanjian yang melanggar perjanjian itu maka ia dianggap telah melanggar Undang-undang. Terhadap pelanggaran yang dilakukan akan menimbulkan akibat hukum tertentu yaitu berupa pemberian sanksi.

Hukuman bagi yang melanggar perjanjian ditetapkan oleh hakim berdasarkan Undangundang atau berdasarkan permintaan pihak lainnya. Adapun bentuk sanksi yang diberikan dapat berupa: 1. Membayar ganti kerugian (Pasal 1234 KUHPerdata) 2. Perjanjian dapat diputuskan (Pasal 1266 KUHPerdata) 3. Menanggung beban resiko (Pasal 1237 Ayat (2) KUHPerdata) 4. Membayar biaya perkara jika sampai dibawa kehadapan hakim pengadilan (Pasal 181 Ayat (1) HIR). b. Tidak dapat ditarik kembali Perjanjian yang telah dibuat secara sah dan mengikat para pihak yang membuat perjanjian tidak dapat ditarik kembali secara sepihak. Akan tetapi perjanjian tersebut dapat saja ditarik kembali apabila: 1. Memperoleh persetujuan dari pihak lainnya. 2. Adanya alasan-alasan yang cukup kuat menurut Undang-undang. 3. Alasan-alasan yang dimaksud adalah alasan yang KUHPerdata yakni pada Pasal 1571, 1587, 1814 dan 1817. c. Pelaksanaan perjanjian dengan itikad baik Maksud dari pelaksanaan perjanjian dengan itikad baik disini adalah sebagaimana yang diatur dalam pasal 1338 KUHPerdata yaitu pelaksanaan perjanjian itu hendaknya berjalan dengan memperhatikan norma-norma kepatutan, kesusilaan serta Undang-undang, yakni menyangkut nilai-nilai yang patut, pantas, sesuai, cocok, sopan , layak dan beradab yang ada dalam masyarakat. F. Syarat-syarat Sahnya Perjanjian Perjanjian yang sah adalah perjanjian yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh undang-undang. Menurut ketentuan yang terdapat dalam Pasal 1320 KUHPerdata, syaratsyarat sah tersebut antara lain: 1. 2. 3. 4. Adanya persetujuan kehendak antara para pihak yang membuat perjanjian; Adanya kecakapan para pihak untuk membuat perjanjian; Ada suatu hal tertentu; Ada suatu sebab yang halal. terdapat dalam

Syarat pertama dan kedua di atas disebut syarat subjektif, karena melekat pada diri orang yang menjadi subjek perjanjian. Jika syarat ini tidak dipenuhi, perjanjian dapat dibatalkan. Tetapi jika tidak dimintakan pembatalan kepada Hakim, perjajian itu tetap mengikat pihakpihak, walaupuin diancam pembetalan sebelum lampau waktu lima tahun (pasal 1454 KUHPdt). Syarat ketiga dan kempat merupakan disebut syarat objektif, karena mengenai sesuatu yang menjadi objek perjanjian. Jika syarat ini tidak dipenuhi, perjanjian batal. Kebatalan ini dapat diketahui apabila perjanjian tidak mencapai tujuan karena salah satu pihak tidak memenuhi

kewajibannya. Kemudian diperkarakan ke Muka hakim, dan Hakim menyatakan perjanjian batal karena tidak memenuhi syarat objektif. Persetujuan Kehendak Persetujuan kehendak adalah kesepakatan antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian, dalam arti apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu juga dikehendaki oleh pihak yang lainnya. Persetujuan kehendak tersebut sifatnya bebas, artinya tidak ada paksaan, tekanan dari pihak manapun, betul-betul atas kemauan sukarela pihak-pihak. Dalam persetujuan kehendak dimaksud juga tidak ada kekilafan dan tidak ada penipuan. Dikatakan tidak ada paksaan, apabila orang yang melakukan perbuatan itu tidak berada dibawah ancaman, baik dengan kekerasan jasmani maupun dengan upaya menakutnakuti, misalnya akan membuka rahasia, sehingga dengan demikian orang itu terpaksa menyetujui perjanjian yang akan diadakan (Pasal 1324 KUHPerdata). Dikatakan tidak ada kekilafan atau kekeliruan ataupun kesesatan, apabila salah satu pihak tidak kilaf atau tidak keliru mengenai pokok perjanjian atau sifat-sifat penting objek perjanjian atau mengenai orang dengan siapa diadakan perjanjian itu. Menurut Pasal 1322 ayat (1) dan (2) KUHPerdata, kekeliruan atau kekilafan tidak mengakibatkan batal suatu perjanjian, kecuali apabila kekeliruan atau kekilafan itu terjadi mengenai hakekat benda yang menjadi pokok perjanjian atau mengenai sifat khusus/keahlian khusus diri orang dengan siapa diadakan perjanjian. Akibat Hukum tidak ada persetujuan kehendak (karena paksaan, kehilafan, penipuan) ialah bahwa perjanjian itu dapat dimintakan pemabatalannya kepada Hakim (vernietigbaar, voidable). Menurut ketentuan pasal 1454 KUHPdt, pembatalan dapat dimintakan dalam tenggang waktu lima tahun, dalam hal ada paksaan dihitung sejak hari paksaan itu berhenti; dalam hal ada kehilafan dan penipuan dihitung sejak hari diketahuinya kekhilafan dan penipuan itu. G. Berakhirnya Perjanjian Berakhirnya suatu perjanjian memang tidak diatur secara tersendiri dalam Undangundang. Akan tetapi, mengenai berakhirnya perjanjian ini dapat disimpulkan dari beberapa ketentuan yang terdapat dalam Undang-undang. Berakhirnya persetujuan harus benar-benar dibedakan dari pada hapusnya perikatan, karena suatu perikatan dapat hapus sedangkan persetujuannya yang merupakan sumbernya masih tetap ada. Hal tersebut bisa ditemukan dalam perjanjian jual beli, dimana apabila harga sudah dibayar maka perikatan mengenai pembayaran sudah hapus, tetapi perjanjiannya belum hapus karena perjanjian penyerahan barang belum terlaksana. Berakhirnya perjanjian sebagai akibat dari berakhirnya semua perikatan ini tidaklah berlaku secara mutlak, karena ada perjanjian yang menyebabkan suatu perikatan hapus atau berakhir. Hal tersebut dapat kita temui dalam suatu perjanjian yang berlaku surut, misalnya saja akibat dari pembatalan yang disebabkan oleh salah satu pihak melakukan wanprestasi (Pasal 1266 KUHPerdata) maka segala perikatan yang telah terlaksana menjadi hapus.

Berkaitan dengan hapusnya perjanjian dimaksud, dalam praktiknya disebabkan beberapa hal, antara lain : 1. Ditentukan terlebih dahulu dalam persetujuan oleh para pihak; Misalnya persetujuan yang dibuat ditentukan untuk batas waktu tertentu, bila perjanjian sampai pada batas waktu yang ditentukan maka perjanjian akan berakhir. 2. Undang-undang menentukan batas waktu berlakunya; Waktu tertentu tersebut dijelaskan lagi dalam pasal 1066 ayat (4) yang berbunyi : Persetujuan yang sedemikian hanyalah mengikat untuk selama lima tahun, namun setelah lewatnya tenggang waktu ini, dapatlah persetujuan itu diperbaharui. 3. Oleh para pihak atau oleh Undang-undang ditentukan bahwa dengan terjadinya peristiwa tertentu; Jika salah satu pihak meninggal dunia maka persetujuan menjadi hapus. 4. Salah satu pihak atau kedua belah pihak memberikan pernyataan menghentikan atau mengakhiri perjanjian (opzegging); Opzegging ini hanya ada pada persetujuanpersetujuan yang bersifat sementara, seperti pada perjanjian kerja dan perjanjian sewa menyewa. 5. Adanya putusan hakim untuk mengakhiri suatu perjanjian yang diadakan; 6. Telah tercapainya tujuan diadakan dalam perjanjian.

Prestasi Prestasi adalah yang wajib dipenuhi oleh debitur dalam setiap perikatan. Prestasi adalah objek perikatan. Dalam hukum perdata kewajiban memenuhi prestasi selalu disertai jaminan harta kekayaan debitur. Dalam pasal 1131 KUH Perdata dinyatakan bahwa semua harta kekayaan debitur baik bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan pemenuhan utangnya terhadap kreditur. Tetapi jaminan umum ini dapat dibatasi dengan jaminan khusus berupa benda tertentu yang ditetapkan dalam perjanjian antara pihak-pihak. Menurut ketentuan pasal 1234 KUH Perdata ada tiga kemungkinan wujud prestasi, yaitu (a) memberikan sesuatu, (b) berbuat sesuatu, (c) tidak berbuat sesuatu. Dalam pasal 1235 ayat 1 KUH Perdata pengertian memberikan sesuatu adalah menyerahkan kekuasaan nyata atas suatu benda dari debitur kepada kreditur, misalnya dalam jual beli, sewa-menyewa, hibah, perjanjian gadai, hutang-piutang. Dalam perikatan yang objeknya "berbuat sesuatu", debitur wajib melakukan perbuatan tertentu yang telah ditentukan dalam perikatan. Dalam melakukan perbuatan itu

debitur harus mematuhi semua ketentuan dalam perikatan. Debitur bertanggung jawab atas perbuatnnya yang tidak sesuai dengan ketentuan perikatan. Dalam perikatan yang objeknya "tidak berbuat sesuatu", debitur tidak melakukan perbuatan yang telah ditetapkan dalam perikatan. Apabila debitur berlawanan dengan perikatan ini, ia bertanggung jawab karena melanggar perjanjian. Sifat prestasi Prestasi adalah objek perikatan. Supaya objek itu dapat dicapai, dalam arti dipenuhi oleh debitur, maka perlu diketahui sifat-sifatnya, yaitu: 1. Harus sudah ditentukan atau dapat ditentukan. Hal ini memungkinkan debitur memenuhi perikatan. Jika prestasi itu tidak tertentu atau tidak dapat ditentukan mengakibatkan perikatan batal (niegtig); 2. Harus mungkin, artinya artinya prestasi itu dapat dipenuhi oleh debitur secara wajar dengan segala usahanya, jika tidak demikian perikatan batal (nietig); 3. Harus diperbolehkan (halal), artinya tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan kesusilaan, tidak bertentangan dengan ketertiban umum, Jika prestasi itu tidak halal, perikatan batal (niegtig). 4. Harus ada manfaat bagi kreditur, artinya kreditur dapat menggunakan, menikmati, dan mengambil hasilnya. Jika tidak demikian, perikatan dapat dibatalkan (verniegtigbaar). 5. Terdiri dari satu perbuatan atau serentetan perbuatan. Jika prestasi itu berupa satu kali perbuatan dilakukan lebih dari satu kali dapat mengakibatkan pembatalan perikatan (vernietigbaar). Wanprestasi Wanprestasi artinya tidak memenuhi sesuatu yang diwajibkan seperti yang telah ditetapkan dalam perikatan. Tidak dipenuhinya kewajiban oleh debitur disebabkan oleh dua kemungkinan alasan, yaitu: 1. Karena kesalahan debitur, baik dengan sengaja tidak dipenuhinya kewajiban maupun karena kelalaian. 2. Karena keadaan memaksa (overmacht), force mejeure, jadi di luar kemampuan debitur. Debitur tidak bersalah. Untuk menentukan apakah seorang debitur bersalah melakukan wanprestasi, perlu ditentukan dalam keadaan bagaimana debitur dikatakan sangaja atau lalai tidak memenuhi prestasi. Ada tiga keadaan, yaitu:

1. debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali, 2. debitur memenuhi prestasi, tetapi tetapi tidak baik atau keliru, 3. debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak tepat waktunya atau terlambat. Untuk mengetahui sejak kapan debitur dalam keadaan wanprestasi, perlu diperhatikan apakah dalam perkataan itu ditentukan tanggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi atau tidak. Dalam hal tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi "tidak ditentukan", perlu memperingatkan debitur sepaya ia memenuhi prestasi. Tetapi dalam hal telah ditentukan tanggang waktunya, menurut ketentuan pasal 1238 KUH Perdata debitur dianggap lalai dengan lewatnya tenggang waktu yang telah ditetapkan dalam perikatan. Bagaimana cara memperingatkan debitur agar ia memenuhi prestasinya? Debitur perlu diberi peringatan tertulis, yang isinya menyatakan bahwa debitur wajib memenuhi prestasi dalam waktu yang ditentukan. Jika dalam waktu itu debitur tidak memenuhinya, debitur dinyatakan telah lalai atau wanprestasi. Peringatan tertulis dapat dilakukan secara resmi dan dapat juga secara tidak resmi. Peringatan tertulis secara resmi dilakukan melalui Pengdilan Negeri yang berwenang, yang disebut "somatie". Kemudian Pengadilan Negeri melalui perantaraan Jurusita menyampaikan surat peringatan tersebut kepada debitur, yang disertai berita acara penyampaiannya. Peringatan tertulis tidak resmi misalnya melalui suart tercatat, telegram, atau disampaikan sendiri oleh kreditur kepada debiotur dengan tanda terima. Surat peringatan disebut "ingebreke stelling". Akibat hukum bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi adalah hukuman atau saksi hukum berikut ini: 1. Debitur diwajibkan membayar ganti kerugian yang telah diderita oleh kreditur (pasal 1243 KUH Perdata); 2. Apabila perikatan itu timbal balik, kreditur dapat menuntut pemutusan/pembatalan perikatan melalui Hakim (pasal 1266 KUH Perdata); 3. Dalam perikatan untuk memberikan sesuatu, resiko berlaih kepada debitur sejak terjadi wanprestasi (pasal 1237 ayat 2); 4. Debitur diwajibkan memenuhi perikatan jika masih dapat dilakukan, atau pembatalan disertai pembayaran ganti kerugian (pasal 1267 KUH Perdata); 5. Debitur wajib membayar biaya perkara jika diperkarakan di muka Pengadilan Negeri, dan debitur dinyatakan bersalah;

Keadaan Memaksa (overmacht) Keadaan memaksa ialah keadaan tidak dipenuhinya prestasi oleh debitur karena peristiwa yang yang tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga akan terjadi ketika membuat perikatan. Dalam keadaan memaksa, debitur tidak dapat dipersalahkan, karena keadaan ini timbul diluar kemauan dan kemampuan debitur. Unsur-unsur keadaan memaksa adalah sebagai berikut: 1. Tidak dipenuhinya prestasi karena terjadi peristiwa yang membinasakan/

memutuskan benda objek perikatan; atau 2. Tidak dipenuhinya prestasi karena terjadi peristiwa yang menghalangi perbuatan debitur untuk berprestasi; 3. Peristiwa itu tidak dapat diketahui atau diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan. Dalam hal ini keadaan memaksa yang memenuhi unsur satu dan tiga, maka keadaan memaksa ini disebut "keadaan memaksa objektif". Vollmar menyebutnya dengan absolute overmacht. Dasarnya ialah ketidakmungkinan (impossibility) memenuhi prestasi, karena bendanya lenyap/musnah. Dalam hal terjadinya keadaan memaksa yang memenuhi unsur dua dan tiga, keadaan memaksa ini disebut "keadaan memaksa yang subjektif". Vollmar menyebutnya dengan relative overmacht. Dasarnya ialah kesulitan memenuhi prestasi, karena ada peristiwa yang menghalagi debitur untuk berbuat. Di sini debitur mengalami kesulitan memenuhi prestasi. Dalam peristiwa ini debitur bukannya tidak mungkin memenuhi prestasi, tetapi sulit memenuhi prestasi, bahkan kalau dipenuhi juga memerlukan waktu dan biaya yang banyak. Keadaan memaksa dalam hal ini bersifat sementara. Perikatan tidak berhenti (tidak batal) hanya pemenuhan prestasinya tertunda. Jika kesulitan sudah tidak ada lagi pemenuhan prestasi diteruskan. Tetapi jika prestasi itu sudah tidak berarti lagi bagi kreditur karena sudah tidak diperlukan lagi, maka perikatan "gugur" (verbal). Perbedaan antara perikatan batal dengan perikatan gugur terletak pada ada tidaknya objek perikatan dan objek tersebut harus mungkin dipenuhi. Pada perikatan batal, objek perikatan tidak ada karena musnah, sehingga tidak mungkin dipenuhi oleh debitur (sifat prestasi). Sedangkan pada perikatan gugur, objek perikatan ada, sehingga mungkin dipenuhidengan segala macam usaha debitur, tetapi tidak mempunyai arti lagi bagi kreditur. Jika prestasi betul-betul dipenuhi oleh debitur, tetapi kreditur tidak menerima karena tidak

ada arti (manfaat) lagi, perikatan "dapat dibatalkan" (vernietigbaar). Persamaannya ialah pada perikatan batal, gugur, keduanya itu tidak memcapai tujuan. Dalam KUH Perdata keadaan memaksa tidak diatur secara umum, melainkan secara khusus pada perjanjian-perjanjian tertentu saja, misalnya pasal 1237 KUH Perdata perjanjian sepihak, pasal 1460 KUH Perdata perjanjian jual beli, pasal 1545 KUH Perdata perjanjian tukar menukar, pasal 1553 KUH Perdata perjanjian sewa-meyewa, Karena itu, pihak-pihak bebas memperjanjikan tanggung jawab itu dalam perjanjian yang mereka buat, apabila terjadi keadaan memaksa. Dalam keadaan memaksa pada perjanjian hibah, resiko ditanggung oleh kreditur (pasal 1237 KUH Perdata). Pada perjanjian jula beli, resiko ditanggung oleh kedua belah pihak (SEMA. No. 3 tahun 1963 mengenai pasal 1460 KUH Perdata). Pada perjanjian tukar menukar, risiko ditanggung oleh pemiliknya (pasal 1545 KUH Perdata). Pada perjanjian sewa-meyewa, risiko ditanggung oleh pemilik benda (pasal 1553 KUH Perdata). Ganti Kerugian Menurut ketentuan pasal 1243 KUH Perdata, ganti kerugian karena tidak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan apabila debitur setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetapi melalaikan, atau sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya. Maksud "kerugian" dalam pasal di atas ialah kerugian yang timbul karena debitur melakukan wanprestasi (lalai atau sengaja untuk memenuhi prestasi). Kerugian tersebut wajib diganti oleh debitur terhitung sejak ia dinyakan lalai. Ganti rugi itu terdiri dari tiga unsur, yaitu: 1. Ongkos atau biaya yang telah dikeluarkan; 2. Kerugian sesungguhnya karena kerusakan, kehilangan benda milik kreditur akibat kelalaian debitur; 3. Bunga atau keuntungan yang diharapkan. Ganti kerugian harus berupa uang, bukan barang, kecuali jika diperjanjian lain. Dalam ganti keragian, tidak selalu ketiga unsur itu harus ada. Yang ada itu mungkin hanya kerugian yang sesungguhnya, atau mungkin hanya ongkos-ongkos atau biaya, atau mungkin kerugian sesungguhnya ditambah dengan ongkos atau biaya. Untuk melindungi debitur dari tuntutan sewenang-wenang pihak kreditur, undang-undang memberikan pembatasan terhadap ganti kerugian yang harus dibayar oleh debitur sebagi

akibat dari kelalaiannya (wanprestasi). Kerugian yang harus dibayar oleh debitur hanya meliputi : 1. Kerugian yang dapat diduga ketika membuat periktan. Dapat diduga itu tidak hanya mengenai kemungkinan timbulnya kerugian, melainkan juga meliputi besarnya jumlah kerugian. Jika jumlah kerugian melampaui batas yang dapat diduga, kelebihan yang melampaui batas batas yang diduga itu tidak boleh dibebankan jkepada debitur, kecuali jika debitur ternyata melakukan tipu daya (pasal 1247 KUH Perdata). 2. Kerugian sebgai akibat langsung dari wanprestasi (kelalaian) debitur, seperti yang

ditentukan dalam pasal 1248 KUH Perdata. Untuk menentukan syarat "akibat langsung" dapat dipakai teori adequate. Menurut teori ini, akibat langsung ialah akibat yang menurut pengalaman manusia normal dapat diharapkan atau dapat diduga akan terjadi. Dengan timbulnya wanprestasi, debitur selalu manusia normal dapat menduga akan merugikan kreditur. Teori adequte ini diikuti dalam praktek peradilan. 3. Bunga dalam hal terlambat membayar sejumlah hutang (pasal 1250 KUH Perdata). Besarnya bunga didasarkan pada ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah. Menurut yurisprudensi, pasal 1250 KUH Perdata tidak dapat diberikan terhadap perikatan yang timbul karena perbuatan melawan hukum.

Pelaksanaan Perjanjian Yang dimaksud dengan pelaksanaan disini adalah realisasi atau pemenuhan hak dan kewajiban yang telah diperjanjikan oleh pihak- pihak supaya perjanjian itu mencapai tujuannya. Pelaksanaan perjanjian pada dasarnya menyangkut soal pembayaran dan penyerahan barang yang menjadi objek utama perjanjian. Pembayaran dan penyerahan barang dapat terjadi secara serentak. Mungkin pembayaran lebih dahulu disusul dengan penyerahan barang atau sebaliknya penyerahan barang dulu baru kemudian pembayaran. Pembayaran 1. Pihak yang melakukan pembayaran pada dasarnya adalah debitur yang menjadi pihak dalam perjanjian. 2. Alat bayar yang digunakan pada umumnya adalah uang. 3. Tempat pembayaran dilakukan sesuai dalam perjanjian.

4. Media pembayaran yang digunakan. 5. Biaya penyelenggaran pembayaran. Penyerahan Barang Yang dimaksud dengan levering atau transfer of ownership adalah penyerahan suatu barang oleh pemilik atau atas namanya kepada orang lain, sehingga orang lain ini memperoleh hak milik atas barang tersebut.

Syarat- syarat penyerahan barang atau levering adalah sebagai berikut: 1. 2. Harus ada perjanjian yang bersifat kebendaan. Harus ada alas hak (title), dalam hal ini ada dua teori yang sering digunakan yaitu teori kausal dan teori abstrak. 3. 4. Dilakukan orang yang berwenang mengusai benda. Penyerahan harus nyata (feitelijk).

Penafsiran dalam Pelaksanaan Perjanjian Dalam suatu perjanjian, pihak- pihak telah menetapkan apa- apa yang telah disepakati. Apabila yang telah disepakati itu sudah jelas menurut kata- katanya, sehingga tidak mungkin menimbulkan keragu-raguan lagi, tidak diperkenankan memberikan pengertian lain. Dengan kata lain tidak boleh ditafsirkan lain (pasal 1342 KUHPerdata). Adapun pedoman untuk melakukan penafsiran dalam pelaksanaan perjanjian, undangundang memberikan ketentuan- ketentuan sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Maksud pihak- pihak. Memungkinkan janji itu dilaksanakan. Kebiasaan setempat. Dalam hubungan perjanjian keseluruhan. Penjelasan dengan menyebutkan contoh. Tafsiran berdasarkan akal sehat.