Anda di halaman 1dari 30

MASA PERKEMBANGAN REMAJA MENUJU KEDEWASAAN

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia

DISUSUN OLEH:
DEWI NOVIANTI DINI DWIYANI GERVINIA NURUL FITRIANI MUHAMMAD LUTHFI REZA Kelas : XI IPA 5

PEMERINTAH KOTA CIMAHI DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA SMA NEGERI 4 CIMAHI JALAN KIHAPIT BARAT NO 323 TELEPON (022) 6671498 LEUWIGAJAH CIMAHI SELATAN Tahun 2012

HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya tulis yang berjudul MASA PERKEMBANGAN REMAJA MENUJU KEDEWASAAN . Dipersembahkan kepada ibu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Ibu Dra. Sabariah untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran yang bersangkutan. CIMAHI, Februari 2012 Tim Penulis

HALAMAN PENGESAHAN
MASA PERKEMBANGAN REMAJA MENUJU KEDEWASAAN
DEWI NOVIANTI DINI DWIYANI GERVINIA NURUL FITRIANI MUHAMMAD LUTHFI REZA

Ketua kelompok

Wakil Ketua Kelompok

MUHAMMAD LUTHFI REZA Nisn.

Dini Dwiyani Nisn. 9951128169

Menyetujui, Ibu Guru Mata Pelajaran

Dra. Sabariah Nip. 1956 0827 1985 03 2003


ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi karunia yang tiada henti kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ini yang berjudul MASA PERKEMBANGAN REMAJA MENUJU KEDEWASAAN. Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada guru Bahasa Indonesia yang telah membimbing kami dalam menyusun karya ilmiah juga bagi semua pihak yang telah membantu pembuatan karya tulis. Penulisan karya tulis ilmiah ini dimaksudkan sebagai wacana untuk memenuhi persyaratan tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kami menyadari penulisan karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan dan memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca untuk penulisan karya tulis ini. Semoga penulisan gagasan ini bermanfaat bagi kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

Cimahi, 1 Februari 2012

Penyusun

iii

DAFTAR ISI

Halaman Persembahan............................................................................i Halaman Pengesahan.............................................................................ii Kata Pengantar......................................................................................iii Daftar Isi...............................................................................................iv Bab I : Pendahuluan 1.1 Latar belakang masalah.......................................................1 1.2 Identifikasi masalah.........................................................................1 1.3 Maksud dan tujuan .......................2 1.4 Perumusan masalah.............................................................3 Bab II : Landasan Teori..........................................................................4 Bab III: Metodelogi Pembahasan 3.1 Metode Pembahasan...........................................................6 Bab IV : Pembahasan 4.1 Pengertian remaja...............................................................7 4.2 Ciri-ciri remaja...................................................................8 4.3 Perkembangan psikologi remaja.........................................9
4.3.1 Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif......................................................9 4.3.2 Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua.......................................................................................................9 4.3.3 Remaja mampu bergaul lebih matang dengan lawan jenisnya..............................................................................................10 4.3.4 Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri............................10

4.4Masalah di kalangan remaja..............................................12 4.5 Beberapa kiat....................................................................16 Bab V : Penutup 5.1 Kesimpulan.......................................................................19 5.2 Saran.................................................................................22 Daftar Pustaka......................................................................................25

iv

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah
Remaja adalah bagian dari aset negara yang harus dibina dan dibimbing untuk pada akhirnya menjadi tonggak perubahan bangsa yang lebih baik dihari depan. Namun, dewasa ini problematika remaja menunjukan gejala peningkatan baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Data yang berhasil dihimpun oleh Biro Pusat Statistik dari Direktorat Rehabilitasi Tuna Sosial, bahwa di Jawa Barat masalah kenakalan remaja kian meningkat dari tahun ketahun. Masalah umum yang sering dialami oleh remaja adalah : putus sekolah, kenakalan, masalah penyesuaian diri, ketergantungan pada keluarga, penggunaan obat terlarang, dan yang mencengangkan adalah masalah perilaku seksual yang terlampau bebas dan terlalu dini, yang berakibat pada penularan virus HIV/AIDS yang dalam jangka panjang menimbulkan berbagai kerugian bahkan kematian serta perusakan perusakan yang bisa di buat oleh kalangan remaja.

I. 2 Identifikasi Masalah
Masalah remaja bukan hanya berasal dari pembawaan remaja itu sendiri, sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan. Secara umum sebab-sebab masalah remaja dipengaruhi faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri remaja yang dipengaruhi oleh perkembangan seksualitas, emosi, kemauan dan pikiran. Sedangkan

faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari luar diri remaja, seperti : lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan pergaulan. Perkembangan seksualitas pada usia remaja memang seringkali menimbulkan banyak problematika moral dan sosial. Dimana seharusnya pada masa itu remaja sebagai generasi muda penerus bangsa semestinya bersiap dengan keadaan yang menuntut dirinya sebagai contoh perubahan bangsa yang lebih baik. Namun disisi lain gejolak pubertas yang bermuara pada titik seksualitas tidak dapat dicegah karena pada kurun usia seseorang 12-22 tahun adalah memasuki fase pubertas yang dalam kamus kesehatan berarti proses perubahan fisik (biologis atau seksual) dan psikis pada diri manusia dari fase anak-anak menjadi dewasa yang berlansung kurang lebih tiga sampai lima tahun. Nama lain pubertas disebut dengan transisi karena proses pendewasaan yang singkat namun meninggalkan kesan mendalam. Salah satu tahap yang akan dilalui seorang remaja pada masa pubertas adalah perkembangan seksualitas yang seringkali tak terkendali.

I.3 Maksud dan Tujuan


Masalah perkembangan perilaku seksualitas remaja dijadikan obyek penelitian dengan alasan sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui tugas perkembangan remaja secara umum. 2. Untuk mengetahui klasifikasi tugas perkembangan remaja, karakteristik, dan faktor-faktor yang mempengaruhi. 3. Bahwa masalah remaja - dalam hal ini perkembangan seksualitas bersifat kritis, cenderung meningkat dan memerlukan pemecahan sesegera mungkin.

4. Masalah remaja yang diteliti mempunyai pengaruh terhadap peningkatan kehidupan dan berkaitan dengan fungsi pekerjaan sosial yaitu fungsi pencegahan, pengembangan dan sosialisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami dan menganalisa permasalahan dan karakteristik dengan berdasar pada pengalaman seksualitas yang akhirnya menunjukan sejauh mana tingkat perilaku seksual dikalangan remaja saat ini. Selanjutnya dengan penelitian ini penyusun dapat menyumbangkan pemikiran dan hasil penelitian ini kepada pihak yang ingin mengetahui tingkat perilaku seksualitas remaja.

1.4 Perumusan Masalah


1. Apa pengertian remaja? 2. Apa saja ciri-ciri remaja? 3. Bagaimanakah perkembangan secara fisik dan mental remaja pada masa kini? 4. Kasus kasus kriminal yang pernah terjadi di kalangan remaja? 5. Apa sajakah yang sudah mempengaruhi perkembangan remaja er a modern?

BAB II LANDASAN TEORITIS


Andolesen dan Hubungannya dengan Remaja Dalam Pandangan Seksualitas, oleh : Anna Freud Andolesensia adalah masa yang meliputi proses perkembangan, dimana terjadi perubahan-perubahan dalam hal motivasi seksuil, organisasi daripada ego, dalam hubungannya dengan orang tua, orang lain dan cita-cita yang dikejarnya. ( Singgih D. Gunarsa, DR, 1991, hal; 7) Batas-Batas Masa Remaja Sesuai dengan Tempat Hidupnya, Lingkungan Sosialnya dan Pandangan Sosiologis, oleh : Neidhart Andolesensia merupakan masa peralihan dan ketergantungan pada masa anak ke masa dewasa, dimana ia harus sudah dapat berdiri sendiri. Patokan Proses Perkembangan Dengan Hasil Perkembangan yang Jelas dan Mudah Diamati, oleh : Hurlock Patokan batas umur yakni ditandai fisik yang menunjukan kematangan seksuil dengan timbulnya gejala-gejala biologis. Andolesensia Dalam Bidang Psikologi Berhubungan dengan Perkembangan Psikis yang Terjadi, oleh : E.H.Erikson Andolesensia merupakan masa dimana terbentuk suatu perasaan baru mengenai identitas. Identitas mencakup cara hidup pribadi yang dialami sendiri dan sulit dikenal oleh orang lain. Secara hakiki ia tetap sama walaupun telah mengalami berbagai perubahan.

Dr Nafsiah Mboi, dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Perempuan sangat rentan terkena HIV/AIDS. Bahkan remaja putri mempunyai kemungkinan lima sampai enam kali lebih banyak terkena kasus HIV positif daripada laki-laki (Suara Pembaruan, 19/10/2004). Singgih, D. Gunarsa, Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991 Penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak. Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal dunia remaja, 1987 Pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan. Handbook of Adolecent psychology, 1980 Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri.

BAB III METODE PEMBAHASAN


3. 1 Metode Pembahasan
Teknik pengumpulan data yang penyusun pergunakan adalah kajian literatur yaitu studi kepustakaan untuk mengumpulkan data dari buku dan internet. Teknik analisa data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah bersifat kualitatif, yaitu menguraikan data dengan kalimat logis dalam berbagai aspek dan melihat saling keterkaitannya. Pengumpulan data ini pula kami lakukan juga dengan analisis kepada objek pembahasan yaitu teman teman sebaya kami yang dikategorikan sebagai remaja.

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pengertian Remaja
Remaja pada umumnya merujuk kepada golongan manusia yang berumur 12-22 tahun. Dari sudut perkembangan manusia, remaja merujuk kepada satu peringkat perkembangan manusia, yaitu periode transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Semasa seseorang itu mengalami zaman remaja dia akan mengalami berbagai perubahan yang drastis, termasuk perubahan jasmani, sosial, emosi, dan bahasa. Akibatnya, remaja merupakan orang yang emosinya tidak stabil, dan senantiasa "bermasalah".

Pembahasan mengenai remaja sering dihubungkan dengan istilah-istilah asing. Pubertas, Andolesensia, Youth, Teenagers. Untuk mengindari kesimpang-siuran dan kesalahpahaman, maka akan dijelaskan terlebih dahulu.

a. Puberty, berasal dari Bahasa Inggris yang berarti kelaki-lakian, kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian. b. Adulescentia, berasal dari bahasa latin yang dimaksudkan masa muda, yakni antara 17 dan 30 tahun. Dalam kepustakaan lain didapat istilah Pubis yang lebih ditonjolkan hubungan antara masa dan perubahan yang terjadi bersamaan dengan tumbuhnya pubic hair atau bulu rambut pada daerah kemaluan. Penggunaan istilah ini lebih terbatas dan menunjukan tercapainya

kematangan seksual. Istilah pubertas ini sering dikaitkan dengan pengertian masa tercapainya kematangan seksual ditinjau dari aspek biologisnya.

SATU DARI LIMA ORANG INDONESIA ADALAH REMAJA


Pembengkakan jumlah penduduk usia remaja tengah terjadi di berbagi negara di dunia, termasuk Indonesia.Saat ini 44 juta remaja bertumbuh di tanah air kita, artinya, satu dari lima orang Indonesia berada dalam rentang usia remaja .Merekalah bakal orang tua bagi generasi mendatang.Bisa dibayangkan betapa besar pengaruh segala tindakan yang mereka lakukan saat ini pada hari-hari mendatang mereka sebagai orang dewasa, dan lebih jauh lagi pada bangsa kita di masa depan. Menjadi remaja berarti menjalani proses berat yang membutuhkan banyak penyesuaian dan menimbulkan kecemasan, karena lonjakan pertumbuhan badani dan pematangan organorgan reproduksi sering memunculkan perasaan asing terhadap diri. Tetapi kecemasan yang dialami ketika melangkah dari kanak-kanak menuju dewasa hanya samar-samar diingat oleh hampir semua dewasa,yang merasa telah melewati masa pubernya dengan sukses. (kespro.net: jumat, 16 April 2004 @ 13.58.50)

4.2 Ciri-Ciri Remaja

Suka bergaul dengan rekan sebaya daripada orangtuanya. Pada peringkat ini, manusia remaja akan mulai belajar bergaul dengan orang lain selain dari anggota keluarga mereka. Ini bermaksud bahwa masa remaja merupakan masa perkembangan sosial seseorang.

Suka berangan-angan Remaja yang normal mempunyai angan-angan sehat mengenai masa depan mereka. Mereka senantiasa memikirkan apa yang akan mereka perbuat pada waktu mendatang.

Senang Terpengaruh oleh Emosi Orang remaja merupakan orang yang senang terpengaruh oleh emosi. Ini adalah karena pikiran mereka masih berkembang dan belum sampai ke satu tahap yang mantap.

4.3

Perkembangan Psikologi Remaja

Pada umumnya remaja didefinisikan sebagai masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.

Setiap tahap perkembangan manusia biasanya dibarengi dengan berbagai tuntutan psikologis yang harus dipenuhi, demikian pula pada masa remaja. Sebagian besar pakar psikologi setuju, bahwa jika berbagai tuntutan psikologis yang muncul pada tahap perkembangan manusia tidak berhasil dipenuhi, maka akan muncul dampak yang secara signifikan dapat menghambat kematangan psikologisnya di tahap-tahap yang lebih lanjut. Berikut ini merupakan berbagai tuntutan psikologis yang muncul di tahap remaja yaitu: 4.3.1 Remaja dapat menerima keadaan fisiknya dan dapat memanfaatkannya secara efektif Sebagian besar remaja tidak dapat menerima keadaan fisiknya. Hal tersebut terlihat dari penampilan remaja yang cenderung meniru penampilan orang lain atau tokoh tertentu. Misalnya si Dewi merasa kulitnya tidak putih seperti bintang film, maka Dewi akan berusaha sekuat tenaga untuk memutihkan kulitnya. Perilaku Dewi yang demikian tentu menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Mungkin Dewi akan selalu menolak bila diajak ke pesta oleh temannya sehingga lama-kelamaan Dewi tidak memiliki teman, dan sebagainya. 4.3.2 Remaja dapat memperoleh kebebasan emosional dari orang tua Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku pemberontakan dan melawan keinginan orang tua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah , maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang senasib dengannya. Jika orang tua tidak menyadari akan pentingnya tugas
9

perkembangan ini, maka remaja Anda dalam kesulitan besar. Hal yang sama juga dilakukan remaja terhadap orang-orang yang dianggap sebagai pengganti orang tua, guru misalnya. 4.3.3 Remaja mampu bergaul lebih matang dengan lawan jenisnya Pada masa remaja, remaja sudah seharusnya menyadari akan pentingnya pergaulan. Remaja yang menyadari akan tugas perkembangan yang harus dilaluinya adalah mampu bergaul dengan kedua jenis kelamin maka termasuk remaja yang sukses memasuki tahap perkembangan ini. Ada sebagaian besar remaja yang tetap tidak berani bergaul dengan lawan jenisnya sampai akhir usia remaja. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam perkembangan remaja tersebut. 4.3.4 Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri

Banyak remaja yang belum mengetahui kemampuannya. Bila remaja ditanya mengenai kelebihan dan kekurangannya pasti mereka akan lebih cepat menjawab tentang kekurangan yang dimilikinya dibandingkan dengan kelebihan yang dimilikinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja tersebut belum mengenal kemampuan dirinya sendiri. Bila hal tersebut tidak diselesaikan pada masa remaja ini tentu saja akan menjadi masalah untuk perkembangan selanjutnya (masa dewasa atau bahkan sampai tua sekalipun). Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma Skala nilai dan norma biasanya diperoleh remaja melalui proses identifikasi dengan orang yang dikaguminya terutama dari tokoh masyarakat maupun dari bintang-bintang yang dikaguminya. Dari skala nilai dan norma yang diperolehnya akan membentuk suatu konsep mengenai harus menjadi seperti siapakah aku ?, sehingga hal tersebut dijadikan pegangan dalam mengendalikan gejolak dorongan dalam dirinya. Maka penting bagi orang tua dan orang-orang yang dianggap sebagai pengganti orang tua untuk mampu menjadikan diri mereka sendiri sebagai idola bagi para remaja tersebut. Selain berbagai tuntutan psikologis perkembangan diri, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:

Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat Emosinya tidak stabil Perkembangan Seksual sangat menonjol Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat) Terikat erat dengan kelompoknya

Secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan. Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:

10

1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya:

Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi Anak mulai bersikap kritis

b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:


Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya Memperhatikan penampilan Sikapnya tidak menentu/plin-plan Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib

c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya:

Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria

2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:

perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis mulai menyadari akan realitas sikapnya mulai jelas tentang hidup mulai nampak bakat dan minatnya

Dengan mengetahui berbagai tuntutan psikologis perkembangan remaja dan ciri-ciri usia remaja, diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya. Permasalahan yang sering muncul sering kali disebabkan ketidaktahuan para orang tua dan pendidik tentang baerbagai tuntutan psikologis ini, sehingga perilaku mereka seringkali tidak mampu mengarahkan remaja menuju kepenuhan perkembangan mereka. Bahkan tidak jarang orang tua dan pendidik mengambil sikap yang kontra produktif dari yang seharusnya diharapkan, sehingga semakin mengacaukan perkembangan diri para remaja tersebut. Sebuah PR yang panjang bagi orang tua dan pendidik, yang menuntut mereka untuk selalu mengevaluasi sikap yang diambil dalam pendidikan remaja yang dipercayakan kepada mereka. Dengan demikian, diharapkan para orang tua dan pendidik dapat memberikan rangsangan dan motivasi yang tepat untuk mendorong remaja menuju pada kepenuhan dirinya.

11

4.4 Masalah Di Kalangan Remaja


Masa remaja adalah masa-masa sulit dalam kehidupan hampir setiap orang. Ada banyak masalah yang terjadi pada remaja, mulai dari jerawat, perubahan emosi, hingga masalah yang tergolong serius.

Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa pemberontakan. Pada masa-masa ini, seorang anak yang baru mengalami pubertas seringkali menampilkan beragam gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, serta mengalami banyak masalah, baik di rumah, sekolah atau di lingkungan pertemanannya. Orangtua harus selalu waspada dan memberi perhatian penuh pada setiap perubahan tingkah laku atau rutinitas remaja agar putra putri kesayangan Anda tidak lepas kendali. Berikut beberapa masalah remaja yang sudah tergolong serius: 1. Depresi Mood jelek dan kemarahan bisa menimpa remaja mana pun. Bila terjadi dalam waktu panjang, perilaku atau perubahan suasana hati tersebut bisa menyebabkan remaja mengalami depresi. Jika tidak diobati, depresi dapat menyebabkan masalah di sekolah dan rumah, penyalahgunaan obat, alkohol atau kecanduan internet, gangguan makan, kecelakaan diri, kekerasan atau perilaku berbahaya, bahkan yang lebih buruk bunuh diri. Gejala bisa berupa kesedihan luar biasa, putus asa, rasa bersalah, gelisah, merasa tidak berharga, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan, kehilangan minat dalam aktivitas, jarang menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman, makan atau tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, banyak menangis, atau bahkan melarikan diri dari rumah. 2. Gangguan makan Remaja perempuan biasanya terobsesi memiliki tubuh yang sempurna hingga akhirnya berbagai cara dilakukan bahkan hingga akhirnya menyebabkan gangguan makan seperti anorexia nervosa, bulimia nervosa atau binge eating disorder. Remaja yang anoreksia akan makan sangat sedikit, karena khawatir menjadi gemuk dan mengalami masalah kesehatan jangka panjang seperti penurunan berat badan yang parah, penghentian siklus menstruasi, pertumbuhan terhambat, kulit sangat kering dan rambut rontok. Remaja dengan gangguan makan mungkin merasa kesepian, malu, cemas dan depresi, serta memiliki citra diri yang sangat rendah. 3. Kehamilan Kebanyakan kehamilan remaja tidak direncanakan dan banyak ibu-ibu muda yang menghadapi konsekuensi yang berat. Banyak remaja hamil melahirkan bayi dengan berat badan rendah dan perkembangan organ yang lambat. Sebagian besar merupakan hasil dari kegagalan ibu remaja untuk memelihara diri dan mendapatkan perawatan prenatal yang tepat.

12

4. Narkoba Remaja menghadapi banyak tekanan kuat dari teman sebaya untuk mencoba obat-obatan, alkohol dan rokok di pesta-pesta dan dalam situasi sosial. Menurut National Institute on Drug Abuse, kebanyakan remaja mencoba narkoba setidaknya sekali pada usia 13 tahun. Obat yang biasa digunakan oleh para remaja termasuk halusinogen, heroin, inhalansia dan metamfetamin (ekstasi), yang semuanya sangat adiktif dan dapat mengakibatkan kesulitan keuangan, medis dan emosional seumur hidup. Penyalahgunaan alkohol dapat menyebabkan kerusakan hati atau otak, kekurangan sistem kekebalan tubuh atau bahkan kanker. 5. Bunuh diri Depresi, penyalahgunaan obat-obatan atau alkohol dan agresi bisa menjadi tanda-tanda remaja ingin melakukan bunuh diri. Remaja seperti ini dapat menjadi tidak tertarik pada kegiatan biasanya, menarik diri dari keluarga dan teman-teman, tidur atau makan lebih atau kurang dari biasanya, mengeluh tentang sakit dan nyeri, kehilangan minat di sekolah dan biasanya banyak berbicara tentang bunuh diri lebih sering dari biasanya. Menurut Agus Mochtar, Ketua Sahara Indonesia, banyaknya mahasiswa yang menjadikan kos-kosan sebagai tempat melakukan hubungan seks karena ada kecendrungan pola hubungan sosial sangat renggang antara pemilik kos dengan penghuni yang bersifat hubungan transaksional. Ini juga menyebabkan tempat kos bebas tanpa ada yang mengawasi. Dari sekitar 1000 remaja peserta konsultasi (curhat) dan polling yang dilakukan Sahara Indonesia selama tahun 2000 - 2002, tempat mereka melakukan hubungan seksual terbesar dilakukan di tempat kos (51,5%). Menyusul kemudian di rumah (30%), di rumah perempuan (27,3%), di hotel (11,2 %), di taman (2,5%), di tempat rekreasi (2,4%), di kampus/sekolah (1,3%), di mobil (0,4%) dan tak diketahui (0,7%).

Akibatnya, sebanyak 72,9% responden mengaku hamil. Sebanyak 91,5% di antaranya mengaku telah melakukan aborsi lebih dari satu kali. Aborsi umumnya dilakukan dengan bantuan dukun/nonparamedik (94,8%) dan hanya 5,2% dilakukan dengan bantuan paramedik.

13

Seks bebas erat kaitannya dengan penyakit kelamin yang dapat menular dari pasangan saat melakukan hubungan intim. 95% dari responden mengetahui kerugian yang ditimbulkan dari perilaku seks bebas. Diantara jawaban yang paling banyak dilontarkan adalah HIV/AIDS,

Kasus AIDS di Indonesia setiap tahunnya terus menunjukkan kecenderungan meningkat hingga selama rentang dari 1996 sampai Maret 2006 jumlahnya mencapai 5.823 kasus. Dr I Nyoman Kandun MPH, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Depkes, di Bandung, Selasa, mengatakan, dari 5.823 kasus AIDS di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir itu, 80,9 persen di antaranya menimpa pada kaum laki-laki dan 18,1% pada kaum perempuan. terjadi peningkatan kasus AIDS di tanah air setiap tahunnya mulai 2002 sebanyak 1.172 kasus kemudian terus meningkat 2003 menjadi 1.488 kasus, 2004 menjadi 2.683 kasus, 2005 menjadi 5.321 kasus dan 2006 menjadi 5.823 kasus. Mereka juga tahu bahwa ada beberapa jenis penyakit yang ditularkan dari hubungan seksual. Misalnya 93% tahu tentang AIDS dan 34% tahu Sipilis. Kalau tentang AIDS, mereka 82% tahu dari televisi, 20% dari internet dan hanya 10% yang tahu dari orang tuanya (Camita Wardhana, Project Director Synovate Reseach).

Sumber Masalah Kesehatan Reproduksi 1. Seks dengan sembarang orang 2. Seks tanpa alat pengaman (kondom) 3. Melakukan hubungan seksual saat perempuan sedang haid 4. Seks tidak normal, misalnya seks anal (melalui dubur) 5. Oral seks dengan penderita gonore, menyebabkan faringitis gonore (gonore pada kerongkongan)

14

6. Seks pada usia terlalu muda, bisa mengakibatkan kanker serviks 7. Perilaku hidup tidak sehat dapat mendatangkan penyakit (tekanan darah tinggi, jantung koroner, diabetes melitus) yang dapat memicu disfungsi ereksi (DE) 8. Kehidupan seks menimbulkan trauma psikologis juga faktor pemicu DE

Dalam hal perilaku seks yang aman 40% menjawab lebih memilih melakukan petting daripada making love dengan menggunakan kondom, dengan alasan kondom dapat bocor dan tidak terjamin keamanannya. Sebanding dengan itu 40% lainnya berpendapat bahwa seks dengan kondom itu tidak besar resikonya dibanding petting. Sisannya mengaku tidak tahu. Disinggung tentang aman tidaknya melakukan seks dengan menggunakan alat kontrasepsi 50% menjawab tidak, 3% tidak tau dan lainnya mengaku aman.

Pemuasan Nafsu
Terkadang para remaja tidak dapat mengendalikan nafsu yang sedang bergejolak. Dan terungkap bahwa 38% responden sebagai objek penelitian, melakukan masturbasi sendiri atau oleh temannya setelah menyaksikan sesuatu yang membuat nafsu meningkat. Fenomena ini mungkin saja terjadi bagi remaja yang tidak dapat menahan diri namun sadar akan norma-norma agama, dimana seseorang dilarang melakukan hubungan seks sebelum menikah. Dari penelitian penyusun 65% responden mengaku pernah menonton, melihat video, gambar, film dan audio visual yang berbau seks.

15

4.5 Beberapa Kiat


Pendidik yang terbaik adalah orang tua dari anak itu sendiri. Pendidikan yang diberikan termasuk dalam pendidikan seksual. Dalam membicarakan masalah seksual adalah yang sifatnya sangat pribadi dan membutuhkan suasana yang akrab, terbuka dari hati ke hati antara orang tua dan anak. Hal ini akan lebih mudah diciptakan antara ibu dengan anak perempuannya atau bapak dengan anak laki-lakinya, sekalipun tidak ditutup kemungkinan dapat terwujud bila dilakukan antara ibu dengan anak laki-lakinya atau bapak dengan anak perempuannya. Dalam memberikan pendidikan seks pada anak jangan ditunggu sampai anak bertanya mengenai seks. Sebaiknya pendidikan seks diberikan dengan terencana, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan anak. Sebaiknya pada saat anak menjelang remaja dimana proses kematangan baik fisik, maupun mentalnya mulai timbul dan berkembang kearah kedewasaan. Beberapa hal penting dalam memberikan pendidikan seksual, seperti yang diuraikan oleh Singgih D. Gunarsa (1995) berikut ini, mungkin patut diperhatikan:

Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu atau malu.

Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidaktidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi, boleh mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya : proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional.

Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun t belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin,

16

karena perkembangan dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masalah tersebut.

Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapat disesuaikan dengan keadaan khusus anak.

Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidikan seksual perlu diulang-ulang (repetitif) selain itu juga perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh anak, juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) apa yang telah diketahui agar benar-benar menjadi bagian dari pengetahuannya.

Bekerjasama Dengan Pemerintah


Pemerintah Republik Indonesia pun memaklumkan pentingnya kesehatan reproduksi remaja dalam PROPENAS 2000,yang akan diwujudkan oleh BKKBN. Bagitu banyak hal terkait yang bisa dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah dengan berbagai pihak lain, diantara kebijakan itu : Mengembangkan kebijakan dan program berdasar paradigma baru yang bebas bias gender, sekaligus lebih ramah pada remaja, dengan menempatkan remaja sebagai subyek aktif yang patut didengar, dilibatkan, dan dengan demikian turut bertanggung jawab atas kepentingan mereka sendiri. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja, termasuk di dalamnya informasi tentang keluarga berencana dan hubungan antar gender, diberikan tak hanya untuk remaja

17

melalui sekolah dan media lain, tetapi juga untuk keluarga dan masyarakat Membuka wacana pengkajian ulang Undang-undang nomor 1 tahun 1974 yang memberikan celah bagi terjadinya pernikahan dini, dan Undang-undang nomor 10 tahun 1992 yang mengganjal pelayanan kontrasepsi untuk pasangan ( baca: remaja) yang belum menikah, serta aturan-aturan yang dibuat berlandaskan Undang-undang tersebut.

18

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 KESIMPULAN
Tugas-tugas perkembangan remaja yang meliputi tugas kehidupan pribadi sebagai individu, kehidupan pendidikan dan karier, serta kehidupan keluarga merupakan langkah awal seorang remaja dalam melaksanakan kehidupan bermasyarakat agar diterima sebagai individu yang mandiri dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi masyarakat yang sangat kompleks. Kelalaian untuk menanggapi kebutuhan remaja akan informasi tentang kesehatan reproduksi dan seks yang bertanggungjawab ternyata berbuah pahit. Begitu populernya perilaku berisiko,begitu banyak korban berjatuhan,begitu tinggi biaya sosial yang harus dibayar. Perasaan seksual yang menguat tak bisa tidak dialami oleh setiap remaja meskipun kadarnya berbeda satu dengan yang lain, juga kemampuan untuk mengendalikannya. Ketika mereka harus berjuang mengenali sisi-sisi diri yang mengalami perubahan fisik - psikis sosial,akibat pubertas,masyarakat justru berupaya keras menyembunyikan segala hal tentang seks,meninggalkan remaja dengan berjuta tanda tanya yang lalu lalang di kepala mereka. Pandangan bahwa seks adalah tabu, yang telah sekian lama tertanam,membuat remaja enggan untuk berdiskusi tentang kesehatan reproduksi dengan orang lain. Yang lebih memprihatinkan, mereka justru sering merasa paling tidak nyaman bila harus membahas seksualitas dengan orang tuanya. Tak tersedianya informasi yang akurat dan benar tentang kesehatan reproduksi memaksa

19

remaja bergerilya mencari akses dan melakukan eksplorasi sendiri. Arus komunikasi dan informasi mengalir deras menawarkan petualangan yang menantang. Majalah,buku, dan film pornografi yang memaparkan kenikmatan hubungan seks tanpa mengajarkan tanggung jawab yang harus disandang dan risiko yang harus dihadapi menjadi acuan utama mereka.

cara lain untuk menekan masalah yang berkaitan dengan seks bebas dan penyakit HIV/AIDS di kalangan remaja yaitu denganpendidikan seksual. Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis, moral, unsur hak asasi manusia, kultur dan agama. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan lebih lengkap sebagai berikut :

Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.

Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggungjawab)

Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi

Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.
20

Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.

Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya.

Untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan.

Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orang tua, anggota masyarakat.

Jadi tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. Tetapi lebih sebagai bawaan manusia, yang merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya anak-anak itu bisa belajar menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.

21

5.2 SARAN
Kami juga mempunyai kiat kiat untuk menghindari masalah masalah yang berkaitan dengan remaja. Beberapa hal penting dalam memberikan pendidikan seksual, seperti yang diuraikan oleh Singgih D. Gunarsa (1995) berikut ini, mungkin patut diperhatikan:

Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu atau malu.

Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidaktidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi, boleh mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya : proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional.

Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun t belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin, karena perkembangan dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masalah tersebut.

Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapat disesuaikan dengan keadaan khusus anak.

22

Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidikan seksual perlu diulang-ulang (repetitif) selain itu juga perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh anak, juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) apa yang telah diketahui agar benar-benar menjadi bagian dari pengetahuannya.

Orang tua harus mengetahui karakteristik anaknya sehingga memudahkan orang tua itu sendiri untuk bisa menjadi lebih dekat dengan sang anak

Orang tua harus bisa memposisikan diri sebagai sahabat atau teman si anak, dimana anak tersebut menjadi nyaman bercerita pada orang tuanya.

Berilah informasi sebanyak banyaknya kepada anak tentang apa apa saja yang di larang oleh norma norma yang kita anut dan apa apa saja yang tidak di larang oleh norma norma yang kita anut.

Berikan penjeasan mengenai peraturan rumah kepada si anak sejak dini, agar anak mengerti benaar apa yang dilarang dan tidak.

Jangan selalu salahkan anak, karena dia sedang dalam masa pembelajaran. Lebih baik arahkan anak supaya lebih bisa menatap masa depan

Lebih baik arahkan anak kepada bidang bidang yang dia gemari agar waktu anak bisa terisi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya

Arahkan pergaulan anak sejak dini Ajarkan kepada anak bagaimana cara memilih pergaulan Berilah nasihat nasihat yang tidak terlalu membuat anak merasa terkekang , namun harus bisa membuat si anak kapok

Orang tua tidak boleh membiarkan anak yang sudah terkena pergaulan yang tidak sehat
23

Beri rambu rambu yang tegas pada si anak Beri perhatian lebih pada anak Jangan terlalu cuek pada anak

24

DAFTAR PUSTAKA
- D. Gunarsa, Singgih : Psikologi Remaja. Jakarta, BPK Gunung Mulia 1991. - Siswanto, Joko : Skripsi Pandangan Orang Tua Tentang Kesejahteraan Remaja Di RW Kebon Kangkung Kiaracondong Kotamadya Dati II Bandung. Bandung, STKS 1985. - D. Gunarsa, Singgih : Pendidikan Seksual Remaja. Jakarta, BPK Gunung Muulia 1995.

25