ANGKATAN LUAR PUJANGGA BARU
Dosen pengampu mata kuliah:[Link],[Link]
Disusun oleh kelompok 4:
Mira Anggraini (
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH
2026
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiran Allah Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya kami kelompok 4 bisa
menyelesaikan makaĺah yang berjudul " Angkatan luar pungjaga baru " (1933–1942)”ini dapat
diselesaikan dengan baik
Makalah ini bertujuan mengkaji perkembangan sastra Indonesia secara lebih luas dengan mengkaji
para sejarah sastra yang tidak tergabung dalam gerakan Pujangga Baru namun memiliki kontribusi
penting dalam perkembangan sastra nasional.
Kami kelompok 4 berharap makalah ini dapat memperluas pemahaman bagi pembaca bahwa
sejarah sastra Indonesia tidak bersifat tunggal, melainkan terbentuk melalui berbagai arus
pemikiran dan praktik kesastraan.
Kata Pengantar...........................................................................................................................
Daftar Isi......................................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................
1.1 Latar Belakang......................................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan..................................................................................................................
1.4 Manfaat Penulisan...............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................
2.1 Situasi Sastra Indonesia Awal Abad ke-20.........................................................................
2.2 Lahirnya Angkatan Pujangga Baru......................................................................................
2.3 Konsep dan Pengertian Angkatan Luar Pujangga Baru....................................................
2.4 Faktor Sosial, Politik, dan Budaya Kemunculan Angkatan Luar Pujangga Baru..............
2.5 Media Massa sebagai Ruang Sastra Alternatif..................................................................
2.6 Tokoh-Tokoh Angkatan Luar Pujangga Baru.....................................................................
2.7 Tema dan Ideologi Karya Sastra..........................................................................................
2.8 Corak Estetika dan Bahasa Sastra.......................................................................................
2.9 Sastra Religius, Populer, dan Realisme Sosial.....................................................................
2.10 Perbandingan Angkatan Pujangga Baru dan Luar Pujangga Baru....................................
2.11 Kontribusi Angkatan Luar Pujangga Baru terhadap Perkembangan Sastra Indonesia...
BAB III PENUTUP........................................................................................................................
3.1 Kesimpulan...........................................................................................................................
3.2 Saran.....................................................................................................................................
Daftar Pustaka...........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah sastra Indonesia modern mengalami perkembangan pesat pada dekade 1930-an. Tahun
1933 menjadi tonggak penting dengan lahirnya majalah *Pujangga Baru* yang membawa
semangat pembaruan sastra nasional. Kelompok ini memperkenalkan konsep sastra modern yang
menekankan individualisme, nasionalisme budaya, serta pembaruan bahasa Indonesia.
Namun, perkembangan sastra Indonesia pada masa tersebut tidak sepenuhnya berada dalam
pengaruh Pujangga Baru. Banyak sastrawan lain berkarya secara mandiri melalui surat kabar,
majalah keagamaan, dan penerbit umum. Mereka dikenal sebagai Angkatan Luar Pujangga Baru.
Kelompok ini memiliki orientasi berbeda. Jika Pujangga Baru cenderung intelektual dan modernis,
maka sastrawan luar kelompok lebih dekat dengan kehidupan sosial masyarakat. Mereka menulis
tentang realitas rakyat, persoalan agama, adat, kemiskinan, pendidikan, serta konflik sosial akibat
kolonialisme.
Oleh karena itu, kajian mengenai Angkatan Luar Pujangga Baru penting untuk memahami sejarah
sastra Indonesia secara menyeluruh dan tidak bersifat elitis.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi sastra Indonesia sebelum munculnya Pujangga Baru?
2. Apa yang dimaksud dengan Angkatan Luar Pujangga Baru?
3. Faktor apa yang melatarbelakangi kemunculannya?
4. Siapa tokoh utama dan bagaimana karakter karyanya?
5. Apa kontribusinya bagi sastra Indonesia modern?
1.3 Tujuan Penulisan
Mengkaji perkembangan sastra Indonesia periode 1930-an.
Menjelaskan eksistensi Angkatan Luar Pujangga Baru.
Menganalisis ciri karya dan pemikiran sastrawannya.
Menunjukkan peran mereka dalam pembentukan sastra nasional.
1.4 Manfaat Penulisan
Menambah wawasan sejarah sastra Indonesia.
Memberikan perspektif alternatif dalam kajian sastra.
Menjadi bahan referensi akademik.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Situasi Sastra Indonesia Awal Abad ke-20
Pada awal abad ke-20, perkembangan sastra Indonesia berada di bawah pengaruh penerbit kolonial
Balai Pustaka. Pemerintah Hindia Belanda mengontrol isi bacaan masyarakat melalui kebijakan
penerbitan.
Ciri sastra masa Balai Pustaka:
Bersifat moralistik dan didaktis
Menghindari kritik politik
Menggunakan bahasa Melayu baku
Bertujuan mendidik masyarakat kolonial
Situasi ini menimbulkan kebutuhan akan sastra yang lebih bebas dan ekspresif.
2.2 Lahirnya Angkatan Pujangga Baru
Tahun 1933 lahir majalah Pujangga Baru yang dipelopori oleh:
Sutan Takdir Alisjahbana
Armijn Pane
Amir Hamzah
Mereka membawa gagasan:
Modernisasi kebudayaan Indonesia
Pembentukan identitas nasional
Kebebasan berekspresi
Pengaruh humanisme Barat
Pujangga Baru menjadi pusat sastra modern, tetapi tidak mewakili seluruh aktivitas kesusastraan.
2.3 Konsep Angkatan Luar Pujangga Baru
Angkatan Luar Pujangga Baru bukan organisasi resmi, melainkan istilah untuk menyebut sastrawan
yang hidup sezaman tetapi berada di luar lingkaran majalah *Pujangga Baru*.
Karakter umum mereka:
Tidak terikat ideologi modernisme Barat
Lebih dekat dengan pembaca umum
Berkembang melalui media populer
Mengangkat realitas sosial dan religius
2.4 Faktor Sosial, Politik, dan Budaya
a. Nasionalisme Indonesia
Kesadaran kebangsaan meningkat setelah Sumpah Pemuda 1928 sehingga sastra menjadi sarana
ekspresi identitas bangsa.
b. Perkembangan Pendidikan
Muncul golongan terpelajar baru yang membutuhkan bacaan ringan namun bermakna.
c. Pertumbuhan Pers Nasional
Surat kabar berkembang pesat dan membuka ruang bagi penulis di luar kelompok elit.
d. Realitas Kolonial
Kemiskinan, ketidakadilan sosial, dan konflik adat menjadi inspirasi karya sastra.
2.5 Media Massa sebagai Ruang Sastra Alternatif
Media massa memiliki peran sangat penting.
Fungsi pers bagi Angkatan Luar Pujangga Baru:
Sarana publikasi bebas
Menjangkau pembaca luas
Membentuk budaya membaca
Mengembangkan roman bersambung
Melalui pers, sastra menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
2.6 Tokoh-Tokoh Angkatan Luar Pujangga Baru
1. Hamka
Tokoh sastra religius yang menggabungkan nilai Islam dengan realitas sosial. Novel-novelnya
menggambarkan konflik adat, cinta, dan moralitas masyarakat.
2. Sariamin Ismail (Selasih)
Pelopor sastrawan perempuan Indonesia. Karyanya membahas pendidikan perempuan, tradisi,
serta perubahan sosial.
3. Matu Mona
Penulis roman sejarah dan petualangan yang sangat populer di kalangan masyarakat.
4. Penulis Pers dan Roman Bersambung
Banyak penulis anonim turut membangun tradisi sastra populer yang memperluas jangkauan sastra
Indonesia.
2.7 Tema dan Ideologi Karya
Tema dominan Angkatan Luar Pujangga Baru:
Konflik adat dan modernitas
Kritik sosial masyarakat kolonial
Kehidupan rakyat kecil
Nilai religius dan moral
Pendidikan dan emansipasi perempuan
Ideologi yang muncul lebih bersifat sosial-humanistik dibanding idealisme estetis Pujangga Baru.
2.8 Corak Estetika dan Bahasa
Karakter estetikanya:
Bahasa sederhana dan komunikatif
Narasi realistis
Alur cerita jelas
Emosi dan konflik sosial kuat
Mudah dipahami masyarakat umum
Sastra menjadi sarana komunikasi sosial, bukan sekadar eksperimen estetika.
2.9 Sastra Religius, Populer, dan Realisme Sosial
Angkatan Luar Pujangga Baru melahirkan tiga arus penting:
Sastra Religius
Mengajarkan nilai moral dan spiritual masyarakat.
Sastra Populer
Roman cinta, sejarah, dan petualangan yang digemari pembaca luas.
Realisme Sosial
Menggambarkan kondisi nyata masyarakat Indonesia di bawah kolonialisme.
Ketiga arus ini memperkaya bentuk sastra nasional.
2.10 Perbandingan dengan Pujangga Baru
| Aspek | Pujangga Baru | Luar Pujangga Baru |
| Orientasi | Modernisme | Sosial dan religius |
| Media | Majalah sastra | Surat kabar |
| Bahasa | Artistik | Komunikatif |
| Pembaca | Elit intelektual | Masyarakat luas |
| Tema | Budaya & idealisme | Kehidupan nyata |
2.11 Kontribusi terhadap Sastra Indonesia
Peranan penting Angkatan Luar Pujangga Baru:
1. Membumikan sastra Indonesia di tengah masyarakat.
2. Memperluas basis pembaca nasional.
3. Menghadirkan realitas sosial bangsa Indonesia.
4. Menjembatani sastra menuju Angkatan ’45 yang lebih revolusioner.
5. Menunjukkan bahwa sastra nasional berkembang secara plural.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Angkatan Luar Pujangga Baru merupakan bagian penting dalam sejarah sastra Indonesia modern.
Mereka hadir sebagai arus alternatif yang menyeimbangkan dominasi Pujangga Baru.
Melalui karya realistis, religius, dan populer, kelompok ini berhasil mendekatkan sastra dengan
kehidupan masyarakat. Peran mereka membuktikan bahwa perkembangan sastra Indonesia
terbentuk melalui berbagai tradisi dan pendekatan yang berbeda.
3.2 Saran
1. Kajian sastra Indonesia hendaknya tidak hanya berfokus pada kelompok besar tertentu.
2. Penelitian terhadap sastra populer dan daerah perlu diperluas.
3. Generasi muda diharapkan mempelajari sejarah sastra secara lebih kritis dan menyeluruh.
DAFTAR PUSTAKA
Alisjahbana, Sutan [Link] Sejarah Sastra Indonesia.
Teeuw, A. Sastra Indonesia Modern.
Rosidi, Ajip. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia.
Damono, Sapardi Djoko. Sosiologi Sastra.
Hamka. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
Ismail, Sariamin. Kalau Tak Untung.