Anda di halaman 1dari 8

Kasus Kota Fibres, Ltd

Adhy Listya Paramitha (P056111011.47) & Novina Eka S. (P056111291.47) Profil Perusahaan Kota Fibres.Ltd. adalah sebuah perusahaan yang memproduksi serat nilon yang telah berdiri sejak tahun 1962. Industri ini memiliki pabrik di Kota, India sekitar 100 km dari New Delhi bagian selatan. Kota Fibres memasok benang serat sintetis sebagai bahan baku pembuatan kain Sari (pakaian tradisional wanita India). Populasi wanita India mencapai 500 juta orang, rata-rata setiap wanita membutuhkan 8 yards kain, dan akan membeli kain sari sebanyak 3 kali dalam setahun, sehingga tingkat permintaan benang bisa mencapai 12 miliar yards. Permasalahan Pesanan produk untuk Kota Fibres sebenarnya berjalan lancar, dan industri juga mampu memenuhi permintaan tersebut. Akan tetapi truk pengiriman tidak dijinkan berangkat karena perusahaan tidak mampu membayar pajak cukai. Pembayaran pajak harus dilakukan cash. Book keeper Kota Fibres, Mr. Metha mengatakan bahwa cash yang dipegang kurang dan tidak mencukupi operasional. Akibat pengiriman yang terlambat maka kepuasan konsumen juga menurun. Kota Fibres juga tidak bisa lagi meminjam modal kerja ke Bank, karena sudah beberapa tahun ini tidak mampu menbayar utang jangka pendek mereka ke Bank. Mr Metha mengatakan bahwa sebenarnya perusahaan ini sangat menguntungkan, namun entah kenapa semakin lama semakin tergantung pada Bank. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis keuangan yang lebih terperinci. Kondisi Bisnis Tekstil Peak season terjadi saat perayaan Diwali dan pertengahan musim panas. Pertumbuhan industri per tahun diharapkan sebesar 15% Kondisi Bisnis Kota Fibres Dibutuhkan pengurangan terjadinya overstock Menggunakan sistem seasonal production sehingga terjadi hiring saat peak season dan lay-off Warehouse terletak di Calcutta dan membutuhkan waktu 10-15 hari, karena kondisi jalan yag buruk Company growth mencapai 18% pada tahun 2000 Gross sales sebesar INR 90,9 juta dan net profit sebesar INR 2,6 juta Memo on the desk Memo dari Field Sales Manager: Pondicherry Textiles sebagai konsumen dari Kota meminta pengunduran pembayaran produk dari 45 hari menjadi 80 hari dan total pembelian dari Pondicherry akan

meningkat INR 6 million. (memperpanjang account receivable turnover) Memo dari Transportation Manager: Penyediaan inventory dapat dikurangi dari 60 hari persediaan menjadi 30 hari. (Memperpendek operating cycle) Memo dari Purchasing Agent: Akibat adanya sistem Just-in-time dari Hibachi Chemical, maka inventory dari pellets dapat dikurangi dari 60 hari menjadi 2 atau 3 hari. (Memperpendek operating cycle) Memo dari Operations Manager: Gross profit margin akan meningkat 2% atau 3% karena adanya labor saving dan efisiensi produksi. Perekrutan dan pemecatan pegawai untuk memenuhi peak season sudah tidak penting, lebih baik menuntut pekerja bekerja lebih. Re-assessment 1. Komposisi COGS adalah 73,7% dari gross sales. 2. Operating Cost sebesar 6% dari sales. 3. Company Income Tax Rate adalah 30%, dan dibayarkan setiap 3 bulan. 4. Excise Tax adalah 15% dari sales dan harus dibayarkan saat truk akan mengirim produk dari warehouse. 5. Pembayaran deviden sebesar INR 500.000 dibayarkan setiap 3 bulan. 6. Total sales stabil di level 40% dari penjualan bulan sebelumnya ditambah dengan 60% penjualan 2 bulan sebelumnya. 7. Biaya pembelian bahan baku rata-rata sebesar 55% dari sales dan digunakan untuk produksi selama 2 bulan. 8. Upah dan pengeluaran lain pada bulan ini setara dengan 34% pembelian pada bulan sebelumnya. 9. Cash balance tidak kurang dari INR 750.000 10. Short term interest rate dari All-India Bank & Trust Company sebesar 14,5% 11. Seasonal line credit harus selesai paling lambat 30 hari setiap tahun, dan biasanya dilakukan pada bulan Oktober. Kota Fibres tidak berhasil bayar pada bulan Oktober dan berhasil dilunasi pada bulan November atau Desember. Analisis Rasio Finansial Analisis rasio finansial merupakan sebuah analisis yang secara cepat dapat memahami bagaimana kondisi keuangan perusahaan. Perhitungan ini akan mencova membandingkan kondisi keuangan Kota Fiber sekarang (actual) pada tahun 2000 dengan kondisi keuangan tahun 2001 (forecasted). Jika ternyata hasil peramalan tidak menunjukkan perbaikan, makaharus ada perubahan yang dilakukan melalui perencanaan finansial berdasarkan beberapa pengajuan proposal yang diinformasikan oleh para manajer. Tabel 1. Kondisi Rasio Keuangan Kota Fibres, Ltd

RATIOS

Tahun 2000 (Actual) 2001 (Forecasted)

PROFITABILITY 1. Profit Margin on Sales 2. Return on Investment 3. Return on Equity 4. Return on Assets 5. Gross Profit Margin 6. Net Profit Margin LIQUIDITY 1. Current Ratio 2. Quick Ratio 3. Cash Ratio TURNOVER 1. Assets Turnover (ATO) 2. Working Capital Turnover a. Gross Working Capital TO b. Net Working Capital TO 3. Fixed Assets Turnover 4. Inventories Turnover 5. Days Sales Outstanding EFFICIENCY 1. Cost of Goods Sold ratio 5. Total expenses ratio 6. Interest expense ratio SOLVENCY / LEVERAGE Times Interest Earned Ratio Debt to Equity Interest expense/Operating Income Total Debt/Total Equity (%) (%) 21,41% 12,18% 38,10% 39,69% Sales/Total Assets (times) 4,85 4,94 Current Assets/Current Liabilities (Current Assets Inventories)/Current Liablts. Cash/Current Liabilities (times) (times) (times) 3,24 2,38 0,53 1,51 1,01 0,17 Operating Profit/Net Sales Operating Profit/Invested Capital Net Income/Shareholders' Equity Net Income/Total Assets Gross Profit/Net Sales Net Income/Net Sales (%) (%) (%) (%) (%) (%) 8,98% 43,57% 21,52% 19,19% 16,47% 3,96% 6,24% 30,83% 11,94% 8,55% 13,29% 1,73%

Sales/Current Assets Sales/(Current Assets Current Liabilities) Sales/Fixed Assets (Inventories/COGS)*365 days (Accounts Receivable/Sales)*365 days

(times) (times) (times) (days) (days)

13,77 19,9 7,49 8,46 15,13

11,55 34,34 8,64 12,12 17,55

COGS/Sales (COGS + Operating) expenses/Sales Interests expense/Sales

(%) (%) (%)

84% 91,00% 1,92%

86,71% 94,00% 2,38%

Tabel di atas menunjukkan bahwa kondisi keuangan Kota Fibres diramalkan akan mengalami penurunan. Likuiditas perusahaan mengalami penurunan, ditunjukkan dengan nilai current ratio, cash ratio dan quick ratio yang menurun. Keadaan ini semakin memperkuat argumen bahwa Kota Fibres tidak mampu membayar utang jangka pendek mereka ke bank, bahkan cash ratio menunjukkan angka yang sangat kecil, Rp 1,00 hanya mampu menanggung Rp 5,88 current liabilities. 1,51 aset yang dimiliki

perusahaan dapat menanggung 1 kewajiban perusahaan. Angka ini tidak baik karena komposisinya terlalu kecil, sehingga working capital perusahaan tidak terpenuhi. Tidak hanya likuiditas perusahaan yang semakin menurun, namun tingkat profitabilitas perusahaan juga menurun. Keuntungan bersih dari perusahaan hanya sebesar 6,24% dari penerimaan bersih perusahaan. Kesejahteraan para pemegang saham akan menurun karena nilai return on equity yang diterima menurun dari 21,52% menjadi 11,94%. Kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba semakin menurun, kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena perusahaan sudah tidak lagi diperbolehkan untuk meminjam modal kerja pada bank. Kondisi profitabilitas perusahaan berkaitan langsung efisiensi produksi, jika efisiensi produksi membaik maka profitabilitas juga akan meningkat. Hal ini sejalan dengan keadaan pada Kota Fibres, Ltd. Penurunan kinerja perusahaan juga diramalkan akan menurun, perputaran aset, modal kerja, aset tetap, persediaan, dan penagihan piutang semakin memakan waktu lama, artinya ada aset perusahaan yang tertahan di luar aktivitas perusahaan. Masalah utama yang dihadapi oleh Kota Fibres sesungguhnya bukan pada tingkat profit perusahaan, namun mereka kekurangan modal kerja untuk menjalankan kegiatan operasional. Akibatnya banyak konsumen yang protes karena pesanan mereka tidak sampai tepat waktu. Selama ini permasalahan tersebut diatasi dengan meminjam modal kerja pada bank, tetapi akibat pengelolaan kas yang buruk Kota Fibres tidak lagi mampu membayar utang jangka pendek perusahaan sehingga Kota tidak boleh mengajukan pinjaman jangka pendek lagi ke bank. Salah satu indikator yang wajib diperhatikan untuk memperbaiki likuiditas perusahaan adalah dengan memperpendek operating cycle dan cash cycle. Kota Fibres harus memperpendek kedua siklus diatas melalui beberapa cara, yaitu: memperpanjang payable period, memperpendek receivable period, dan atau memperpendek inventory turn-over. Berikut hasil perhitungan cash cycle dan operating cycle tahun 2000 (actual) dan 2001 (forecasted).
Stock In Inventory Period 8,46 days Accounts Receivable Period 17,65 days

Time Payable Period 5,15 days

Cash Cycle 18,45 days

Cash Out Operating Cycle 23,59 days

Cash cycle dan Operating cycle Pada Tahun 2000


Stock In Inventory Period 12,12 days Accounts Receivable Period 17,55 days

Time Payable Period 6,31 days

Cash Cycle 23,37 days

Cash Out Operating Cycle 29,67 days

Cash cycle dan Operating cycle Pada Tahun 2001 Gambar di atas menunjukkan bahwa kondisi perputaran kas dan produksi perusahaan juga meningkat. Operating Cycle meningkat dari 23,59 hari menjadi 29,67 hari, posisi tersebut hampir pasti tidak baik bagi perusahaan. Semakin panjang operating cycle dan cash cycle perusahaan maka semakin banyak juga working capital yang harus disediakan oleh Kota Fibres. Kota sudah tidak mampu memenuhi posisi working capital sekarang dan tidak bisa meminjam kembali ke Bank, sehingga pasti Kota tidak bisa berproduksi optimum jika operating dan cash cycle meningkat. Akhirnya Kota Fibres mulai mempertimbangkan untuk mengambil salah satu dari kemungkinan perubahan alur bisnis yang diajukan oleh para manajer bagian. Diharapkan salah satu proposal yang diajukan dapat memperbaiki likuiditas perusahaan melalui pengurangan waktu operating cycle dan cash cycle sehingga perusahaan dapat membayar utang jangka pendek yang segera jatuh tempo. Gambaran sederhana dari setiap proposal yang diajukan adalah sebagai berikut:

Tabel Perbandingan Keuangan Setiap Alternatif


Base Case Debt Balance Jan 01 June 01 Dec 01 Gross Sales Excise Taxes Net Sales Cost of Goods Sold Gross Profit 1.146.269 32.950.665 3.463.702 90.900.108 13.635.016 77.265.092 66.993.380 10.271.712 Pondicherr y 1.344.093 35.809.122 3.897.616 96.900.108 14.535.016 82.365.092 71.415.380 10.949.712 Inventory 1.200.185 25.435.575 2.957.147 90.900.108 13.635.016 77.265.092 66.993.380 10.271.712 Hibachi JIT 1.353.298 24.728.089 1.844.640 90.900.108 13.635.016 77.265.092 66.993.380 10.271.712

Operating Expenses Depreciation Interest Expense (Income) Profit Before Taxes Income Taxes Net Profit Net Profit vs. Base Case Inventory Turnover Receivable Turnover Operating Cycle Payables Period Cash Cycle

5.454.006 1.073.731 1.835.620 1.908.354 572.506 1.335.848 12,12 14,92 27,04 4,65 22,40

5.814.006 1.073.731 2.024.489 2.037.485 611.246 1.426.240 90.392 11,37 15,93 27,30 4,36 22,94

5.454.006 1.073.731 1.442.475 2.301.500 690.450 1.611.050 275.202 9,96 14,92 24,88 4,78 20,09

5.454.006 1.073.731 11.145 2.407.054 722.116 1.684.938 258.698 3,35 14,92 18,27 4,02 14,24

1. Pondicherry; jika Kota Fibres mau memberikan tambahan jangka

waktu untuk pembayaran produk dari 45 hari menjadi 80 hari maka akan didapat tambahan penerimaan sebesar INR 6.000.000. Ternyata tambahan dana tersebut memang dapat meningkatkan jumlah profit yang diramalkan dari INR 1.335.848 menjadi INR 1.426.240. Namun yang harus segera ditindaklanjuti oleh Kota Fibres bukan dari sisi profitabilitas tapi likuiditas dan posisi utang perusahaan. Rasio likuiditas tidak berubah secara signifikan, dan ternyata menambah waktu cash cycle. Posisi utang jangka pendek perusahaan juga tidak berkurang tetapi meningkat dari INR 3.463.702 menjadi INR 3.897.616. 2. Inventory dapat direduksi dari pengadaan selama 60 hari menjadi 30 hari; Salah satu cara untuk mengurangi cash dan operating cycle adalah mengurangi jumlah inventory yang harus disediakan pada periode waktu tertentu. Adanya penurunan tersebut tidak hanya berdampak pada penurunan cash cycle menjadi 20,09 hari, tetapi juga meningkatkan profit dari INR 1.335.848 menjadi INR 1.611.050. Pengurangan cash cycle juga langsung berpengaruh kepada posisi utang perusahaan, karena kas berjalan lebih baik, sehingga posisi utang terakhir berada pada angka INR 1.844.640. 3. Hibachi JIT; Alternatif terakhir yang ditawarkan adalah dengan menggunakan Hibachi sebagai supplier, sehingga inventory menggunakan sistem Just in time (JIT). Kota hanya akan menyediakan inventory untuk persediaan 2-3 hari saja. Tentu saja efek yang diterima sangat baik, net profit meningkat menjadi INR 1.684.838, dan cash cycle juga menurun menjadi 14,24 hari. Pengurangan cash cycle yang sangat signifikan menyebabkan perputaran kas semakin baik, sehingga posisi utang juga berkurang dengan signifikan, menjadi INR 1.844.640. 4. Alternatif terkahir diajukan oleh manajer produksi Kota Fibres yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi. Efisiensi

berdampak langsung pada profitabilitas perusahaan, namun tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kondisi likuiditas perusahaan, terlebih lagi kenaikan gross profit hanya sebesar 2-3%. Perhitungan di atas secara sederhana dapat menghasilkan keputusan bahwa sebaiknya Kota Fibres, Ltd segera menyetujui proposal dari Hibachi untuk menerapkan konsep just in time dalam sistem penyediaan inventory. Data menunjukkan bahwa proposal yang diajukan oleh purchasing agent memberikan efek paling baik terhadap kinerja keuangan Kota Fibres, Ltd. Posisi utang perusahaan terhitung bulan Desember 2001 menjadi lebih rendah, profit yang diterima juga meningkat, dan cash cycle serta operating cycle-nya menurun signifikan.