Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS PSIKOTIK SKIZOFRENIA YTT (F20.

9)

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Agama Status Pekerjaan Alamat : : : : : : : Tn. R Laki-laki 24 tahun Islam Belum Menikah Buruh Kelapa Sawit Kajuara, Desa Awang Cenrana Kab. Bone

Alloanamnesis diperoleh dari : Nama Pendidikan Pekerjaan Alamat Hubungan : : : : : Ny.S SD Ibu Rumah Tangga Kajuara, Desa Awang Cenrana Kab. Bone Ibu Kandung

LAPORAN PSIKIATRIK I. RIWAYAT PENYAKIT A. Keluhan Utama: Berteriak-teriak dan bicara sendiri

B. Riwayat Gangguan Sekarang: a. Keluhan dan Gejala: Dirasakan sejak 3 bulan yang lalu (januari 2012), pasien sering berteriak-teriak dan berbicara sendiri secara tibatiba.Pasien sering berteriak-teriak sampai suaranya habis. Pada

saat berteriak pasien seperti ceramah dan mengaji. Setiap hari pasien sering pergi ke mesjid untuk mengaji dan menyanyinyanyi. Ketika pasien berbicara sendiri pasien seperti melihat sesuatu dan juga sering mendengar suara yang membisikinya untuk melakukan sesuatu. Pasien berteriak dan bicara sendiri hanya 2-3 hari dalam seminggu. Awalnya pasien dikecewakan oleh seorang wanita yang ia sukai di tempat kerjanya dimana wanita tersebut sudah memiliki kekasih, pada saat itulah pasien mulai menunjukkan perubahan sikap seperti melamun lalu berteriak-teriak dan juga sering membantah jika di nasehati oleh bos ditempat kerjanya. Menurut keterangan keluarga, pasien pernah mengalami hal yang sama sebelumnya yaitu 1 tahun yang lalu ketika ia bekerja di Malaysia sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit. Riwayat sebelumnya, pasien pernah berobat ke dokter praktek di Bone dan di beri obat kapsul dan tablet warna putih dengan dosis 1x1.

b. Hendaya / Disfungsi : Hendaya Sosial : (+) Hendaya pekerjaan : (+) Hendaya penggunaan waktu senggang : (+)

c. Faktor stressor psikososial: Dikecewakan oleh seorang wanita yang ia sukai

d. Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan psikis sebelumnya: Trauma kepala (-), Infeksi (+), Alkohol (-), NAPZA (-), Kejang (-)

C. Riwayat Gangguan sebelumnya: Pasien sebelumnya pernah mengalamai hal yang sama 1 tahun yang lalu dan sempat berobat jalan serta diberi obat namun pasien tidak teratur minum obat.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi: a. Riwayat Prenatal dan Natal Pasien lahir di Bone pada tanggal 15 oktober 1988, lahir normal, cukup bulan dan ditolong oleh dukun. Pada saat hamil ibu pasien tidak mengalami permasalahan persalinan, cedera atau kecatatan kelahiran. Pasien merupakan anak yang diinginkan. b. Riwayat Masa Kanak-Kanak Awal (1-3) tahun Pasien mendapatkan ASI dari ibunya, tapi tidak diketahu dengan jelas berapa lama dan sampai kapan. Perkembangan motorik dan psikologik normal. Pasien tergolong anak yang ceria diantara teman-temannya. c. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (3-11) tahun Pasien masuk SD di kampungnya. Semasa bersekolah di SD pasien dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Prestasi belajar cukup baik. d. Riwayat tahun Paseien menyelesaikan pendidikan hingga SMA dan tamat. Pasien tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena Masa Kanak-kanak Akhir/Pubertas/Remaja(11-18)

memutuskan untuk bekerja. Hubungan dengan temannya baik. Pasien dikenal mudah bergaul dan peramah. e. Riwayat Masa Dewasa (18 tahun keatas) Riwayat pekerjaan: Pasien bekerja sebagai buruh pabrik kelapa sawit Riwayat perkawinan : Pasien belum menikah

E. Riwayat Kehidupan Keluarga: Pasien anak ke 4 dari 5 bersaudara ( Pr,Lk,Pr,Lk,Pr) Hubungan dengan keluarga baik Riwayat keluarga yang menderita keluhan yang sama tidak ada

F. Situasi Sekarang : Saat ini pasien tinggal dirumah dengan keluarga besarnya. Pasien dipulangkan dari Malaysia (tempat kerjanya) karena mengalami gangguan tersebut.

G. Persepsi Pasien tentang Diri dan Kehidupannya: Pada saat ini pasien merasa dirinya tidak sakit dan tidak perlu mendapat pengobatan.

AUTOANAMNESA DM : Assalamualaikum, nama saya Rahmat atau anda boleh memanggil saya Zizou, saya dokter muda yang bertugas disini, boleh saya tau siapa nama anda? P DM P DM P DM P DM P DM P DM : : : : : : : : : : : : Waalaikumsalam, nama saya R dok, Bagaimana kabarnya hari ini? Baik dok. Kalau boleh tau umurnya berapa ? 24 tahun. Masih ingat berapa tanggal lahirnya? Lupa. Oh, R lupa yah? Iya. R tahu kenapa dibawa kesini? Tidak tahu. Kenapa R bisa nda tahu ?

P DM P DM P DM P

: : : : : : :

Karena hanya dibilang mau pergi ke rumah Keluarga. R tahu siapa yang bawa kesini ? itu sana yang putih-putih orangnya. Punya hubungan apa dengan orang itu? Ibu saya dok. R tahu ini dimana? Rumah sakit. Tapi tadi na bilang mace ku, mau pergi ke rumahnya keluarga.

DM

apakah

akhir-akhir

ini

merasa

pendengaran

atau

penglihatan anda lebih tajam dari orang lain? P DM P DM P DM P DM P DM : : : : : : : : : : Oh, iya. Seperti apa itu R? Saya biasa berbicara dengan makhluk halus dok. Apa yg R bicarakan? Itu rahasia antara saya dengan dia. Kenapa R tidak mau cerita sama saya? Yah namanya saja rahasia, jadi nda bisa dibilang-bilang dok. R sering berbicara dengan makhluk halus itu tiap harinya? Iye, sering dok Oh.Selain bercerita dengan makhluk halus, adakah yang biasa R lihat? P DM P : : : Bayangan-bayangan dok Bayangan apa itu? Orang lah. Satu laki-laki dan satunya lagi perempuan dan mereka menjadi Allah. DM : Seperti apa itu laki-laki dan perempuan yang kita lihat menjadi Allah? P DM : : Yah seperti kita ini dok punya mata, punya kaki Selain bercerita dengan makhluk halus, adakah kita dengar bisikan yang lain? P : Iya

DM P DM P DM P

: : : : : :

Bisikan seperti apa itu? Bisikan yang suruh ka lompat ke laut. R ikuti bisikan itu lompat ke laut? Iya dok. Kenapa anda lompat? Karena orang yang suruh saya itu baik orangnya karena dia banyak jasanya sama saya.

DM P DM

: : :

R kenal siapa dia? Tidak lah, tapi dia mengaku Allah Kenapa anda percaya? kalau saya tidak pernah tahu Allah itu bagaimana wujudnya hanya saya yakini kalau Allah itu ada, jadi saya tidak percaya kalau ada yang mengaku Allah.

P DM P

: : :

Makanya itu saya bilang dia setan. Tapi kenapa anda ikuti perintahnya Itumi tadi karena dia suruh saya lompat ke laut dan dia juga bilang dia itu Allah, yah. Tapi karena dia baik sama saya jadi saya ikutimi perintahnya.hehehe.

DM P DM P DM P DM P DM P DM P DM P

: : : : : : : : : : : : : :

R sering mendengar bisikan yang menyuruh seperti itu? Hanya satu kali itu ji dok Kalau bisikan yang tidak menyuruh? Iye, biasaka dengar suara-suara yang ceritai ka. Setiap hari itu R dengar? Iye. Dimana itu kejadianya anda lompat kelaut? Di Malaysia dok. Apa yang R lakukan di Malaysia. Kerja R kerja di Malaysia tahun berapa? Tahun 2005 R kerja apa disana? Kerja kelapa sawit

DM P DM P DM P DM P DM P

: : : : : : : : : :

Terus kenapa anda pulang lagi kesini? Karena disini saya juga kerja, jaga rumput laut ditengah laut Oo. R masih ingat sekolah dimana terakhir? SD. Bukan SMA? Bukan.. Lalu apa yang anda rasakan saat ini? Baik-baik saja. R tidak merasa sakit? Tidak, makanya saya juga tiidak mau minum obat, tapi karena dokter yang kasih itu obat warna orange makanya saya minum.

DM

Ooo,katanya anda pernah dikecewakan dengan perempuan yah?

Iya, tapi saya tidak pernah dendam dengan dia, yah namanya juga suka sama suka kan.

DM P DM P DM P DM

: : : : : : :

R tahu penyebab ditinggalkan oleh wanita itu? Namanya juga orang pacaran, dia ada pacar lain. R bisa ulangi apa yang saya bilang ini 2,4,6,7,8 2,4,6,7,8 R tahu artinya panjang tangan? Pencuri kan. Kalau misalnya kita ketemu dompet dijalan,apa yang kita lakukan?

P DM P

: : :

Saya ambil lah. R tidak kembalikan sama orangnya? Saya kembalikan kalau saya tahu orangnya, tapi kalau tidak saya simpan di mesjid..

DM P DM

: : :

R tahu 100-7? 93 93-7?

P DM P

: : :

86 86-7 79

DM P DM

: : :

Anda masih ingat nama saya? Rahmat kan. Oke, terima kasih yah, istirahat yang cukup dan jangan lupa minum obatnya supaya bisa cepat pulang

Iye

II. STATUS MENTAL A. Deskripsi Umum: a. Penampilan : Tampak seorang laki-laki, berkulit sawo matang, memakai baju kemeja lengan pendek kotak-kotak berwarna coklat, celana jeans panjang warna hitam, perawakan sedang,kurus, wajah lebih tua dari umur, kesan rapidan baik b. Kesadaran: berubah c. Perilaku dan aktivitas psikomotor Saat wawancara pasien duduk tenang dikursinya dan ada kontak mata. d. Pembicaraan Spontan, lancar, intonasi biasa e. Sikap terhadap pemeriksa kooperatif B. Keadaan Afektif (mood), Perasaan dan Empati: a. Mood b. Afek c. Empati d. Keserasian : sulit dinilai : inappropriate : tidak dapat dirabarasakan : tidak serasi

C. Fungsi Intelektual (kognitif) a. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan: sesuai taraf pendidikannya b. Daya Konsentrasi : baik c. Orientasi (waktu, tempat, dan orang): baik d. Daya ingat: Jangka panjang :baik Jangka pendek : baik Segera : baik

e. Pikiran abstrak : baik f. Bakat kreatif : tidak ada

g. Kemampuan menolong diri sendiri : cukup

D. Gangguan Persepsi a. Halusinasi : Visual : pasien melihat bayangan laki-laki dan perempuan yang menjadi Allah Auditorik : pasien sering mendengar suara-suara yang bercerita tentang dirinya. b. Ilusi : tidak ada c. Depersonalisasi : tidak ada d. Derealisasi : tidak ada

E. Proses Berfikir a. Arus pikiran a. Produktivitas : cukup b. Kontinuitas : kadang irrelevan, kadang asosiasi longgar c. Hendaya berbahasa : tidak ada b. Isi pikiran a. Preokupasi : tidak ada

b. Gangguan isi pikiran : Waham Kebesaran (Pasien mengaku dapat berbicara dengan makhluk halus). F. Pengendalian Impuls: Terganggu

G. Daya Nilai a. Norma Sosial : Terganggu b. Uji daya Nilai : Terganggu c. Penilaian Realitas : Terganggu

H. Tilikan sakit)

(Insight) : Derajat 1 (pasien menyangkal penuh dirinya

I. Taraf Dapat Dipercaya : Dapat dipercaya

III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT A. Pemeriksaan Status Internus .Keadaan pasien tampak tidak sakit. Tingkat kesadaran penuh (composmentis), tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 56x/menit, pernapasan 22x/menit, suhu 36,7C.

B. Pemeriksaan Status Neurologis GCS E4M6V5, gejala rangsang selaput otak : kaku kuduk (-), kernig sign (-), pupil bulat isokor. Fungsi motorik dan sensorik pasien dalam batas normal dan tidak ditemukan tanda bermakna lainnya dalam pemeriksaan neurologis.

IV. IKTISAR PENEMUAN BERMAKNA Seorang laki-laki, berumur 24 tahun masuk Rumah Sakit dengan keluhan utama berteriak-teriak dan bicara sendiri. Jika pasien berteriak

10

dan bicara sendiri pasien seperti mengaji dan ceramah.Pasien juga sering melihat bayangan laki-laki dan perempuan yang menjadi Allah serta mendengar suara Pasien bisikan pernah orang-orang mengalami hal yang yang sedang sama

membicarakanya.

sebelumnya 1 tahun yang lalu. Pernah berobat ke dokter praktek di Bone, diberi obat kapsul dan tablet warna putih diminum 1x1.Pasien dikenal pendiam, sabar, dan menurut jika dinasehati. Pada

pemeriksaan status mental tampak seorang laki-laki, perawakan sedang, kurus, rambut pendek, memakai kemeja lengan pendek warna coklat kotak-kotak, dan celana jeans hitam, wajah kelihatan tua dari umur, kesan rapi dan baik.Kesadaran berubah. Mood sulit dinilai.Afek inapropriate, empati tidak dapat dirabarasakan, tidak serasi. Pikiran abstrak baik, produktivitas cukup, kontinuitas kadang irrelevan kadang juga asosiasi longgar, taraf pendidikan sesuai, orientasi waktu, tempat, dan orang baik, daya ingat jangka panjang terganggu, jangka pendek baik, jangka segera baik. Daya nilai terganggu, tilikan 1 (penyangkalan penuh dirinya sakit). Dapat dipercaya.

EVALUASI MULTI AKSIAL Aksis I : Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis serta

pemeriksaan status mental ditemukan gejala klinis yang bermakna berupa berteriak-teriak dan bicara sendiri sehingga menimbulkan penderitaan dalam kehidupan pribadi pasien dan orang

disekitarnya, serta menimbulkan hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan, dan penggunaan waktu senggang, sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien menderita gangguan jiwa. Pada pemeriksaan status mental ditemukan adanya hendaya berat dalam menilai realita berupa gangguan isi pikiran yaitu halusinasi auditorik dan visual, serta waham curiga sehingga didiagnosa gangguan jiwa psikotik.

11

Pada pemeriksaan status internus dan neurologis tidak ditemukan adanya kelainan, sehingga kemungkinan adanya gangguan mental dapat disingkirkan dan didiagnosis gangguan jiwa psikotik non organik. Dari alloanamnesis, autoanamnesis dan pemeriksaan status mental ditemukan afek inappropriate, halusinasi auditorik yang berlangsung setiap hari serta adanya gangguan isi pikir berupa waham curiga, halusinasi auditorik dan visual yang berlangsung lebih dari 1 bulan, sehingga memenuhi kriteria Skizofrenia. Pada pasien ini terdapat halusinasi auditorik dan visual serta waham yang menonjol namun tidak ditemukan ciri khas dari salah satu tipe skizofrenia sehingga berdasarkan pedoman penggolongan

diagnosis jiwa (PPDGJ III) diagnosis diarahkan pada Skizofrenia YTT (F20.9).

Aksis II Dari

: yang dikumpulkan belum mencukupi untuk

data-data

diarahkan ke salah satu ciri kepribadian.

Aksis III

Tidak ditemukan kelainan organobiologik

Aksis IV

Dari data yang diperoleh, stressor psikososialnya adalah pernah di kecewakan oleh sorang wanita karena cintanya tidak dibalas.

Aksis V

GAF Scale 60-51 : gejala sedang (moderate), disabilitas sedang.

12

V. DAFTAR PROBLEM A. Organobiologik : tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang bermakna, tetapi diduga terdapat ketidak seimbangan

neurotransmitter, maka pasien memerlukan psikofarmakologi B. Psikologik : ditemukan hendaya berat dalam menilai realitas berupa halusinasi auditorik dan visual, serta gangguan isi pikir berupa waham sehingga perlu psikoterapi. C. Sosiologik : ditemukan hendaya berat dalam bidang sosia pekerjaan dan waktu senggang sehingga pasien memerlukan sosioterapi.

VI. PROGNOSIS Prognosis pada pasien ini adalah malam Faktor pendukung: Stressor jelas Gejala (+) tipe Skizofrenia Paranoid Faktor penghambat: Onset yang lama dan berulang Onset usia muda Ketidakpatuhan minum obat

VII.

RENCANA TERAPI

A. Farmakoterapi : Haloperidol 5 mg 3x1 B. Psikoterapi : a. Ventilasi : memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan keluhan dan isi hati sehingga pasien menjadi lega

13

b. Konseling : memberikan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya dan memahami kondisi dirinya lebih baik dan menganjurkan untuk berobat teratur C. Sosioterapi : pasien diberikan dorongan dan menciptakan

lingkungan yang kondusif

VIII.

FOLLOW UP Memantau keadaan umum pasien dan menilai perkembangan penyakitnya serta menilai efektivitas pengobatan yang diberikan dan kemungkinan timbulnya efek samping obat yang diberikan.

IX.

PEMBAHASAN / TINJAUAN PUSTAKA Berdasarkan PPDGJ III, pedoman diagnostik untuk skizofrenia ditegakkan bedasarkan gejala-gejala berikut selama kurun waktu 1 bulan atau lebih : 1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut yang amat jelas (dan biasanya 2 gejala atau lebih,gejala kurang jelas) a. Tought of echo, trught of insertion/withdrwal, tought of broadcasting b. Delusion of control, delusion of influence, delusion of passivity, delusion perception c. Halusinasi auditorik berupa: Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus pada prilaku pasien Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh d. Waham menetap jenis lain, yang menurut budaya setempat tidak wajar dan sesuatu yang mustahil misalnya perihal keyakinan agama atau politik

14

tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa. 2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini secara jelas: a. Halusinasi menetap dari panca indra apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif jelas, maupun disertai ide-ide berlebihan menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama bermingguminggu atau berbulan-bulan terus menerus. b. Arus pikiran menutup atau mengalami sisipan, berakibat inkoherensi atau pembicaraan tidak relevan atau neologisme c. Perilaku katatonik d. Gejala-gejala negatif Selain itu, harus ada perubahan konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dan beberapa aspek prilaku pribadi bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tidak

bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri, dan penarikan diri secara sosial.

15

GANGGUAN HIPOKONDRIASIS

BAB I PENDAHULUAN

Hipokondriasis

termasuk

ke

dalam

gangguan

somatoform.Gangguan somatoform

adalah suatu kelompok gangguan

yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinis bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.1 Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang - ulang disertai dengan permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokternya bahwa tidak ditemukan kelainan yang menjadi dasar keluhannya.penderita juga menyangkal dan menolak untuk membahas kemungkinan antara keluhan fisiknya dengan problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya, bahkan meskipun didapatkan gejala-gejala anxietas dan depresi.2 Ada lima gangguan somatoform yang spesifik yaitu: Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ. Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis. Hipokondriasis ditandai oleh focus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu. Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami

16

cacat. Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis. DSM IV juga memiliki dua kategori diagnostic residual untuk gangguan somatoform. Undifferentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.1

17

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Hipokondriasis adalah keterpakuan (preokupasi) pada ketakutan menderita, atau keyakinan bahwa seseorang memiliki penyakit medis yang serius, meski tidak ada dasar medis untuk keluhan yang dapat ditemukan. Berbeda dengan gangguan somatisasi dimana pasien biasanya meminta pengobatan terhadap penyakitnya yang seringkali menyebabkan terjadinya penyalahgunaan obat, menambah keparahan dari sakitnya.3 Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu. 1 Keadaan ini juga ditandai meningkatnya kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit yang serius. Keyakinan penderita ini tidak akan berkurang walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis dengan hasil tidak ditemukan kelaianan medis yang berarti. maka pada gangguan

hipokondrik pasien malah takut untuk makan obat karena dikira dapat

B. Etiologi dan Patofisiologi 1. Teori Psikodinamika atau Psikoanalitik Hipotesis psikoanalitik atau psikodinamika merupakan faktor etiologi yang dominan dalam kejadian hipokondriasis. Hipotesis ini dikemukakan oleh Freud yang menyatakan bahwa gangguan konversi atau histerikal bersifat psikis bukan fisik. Ini mendorong Freud mengembangkan teori pikiran yang tidak disadari. Ego berfungsi mengontrol impuls seksual dan agresif yang mengancam atau tidak dapat diterima yang berasal dari diri melalui mekanisme pertahanan diri seperti represi.5 Dalam teori psikodinamika terdapat dua fungsi dari symptom histerikal, yaitu keuntungan primer yang bisa didapat oleh individu adalah

18

memungkinkannya untuk dapat merepresi konflik internalnya.Individu tersebut menyadari symptom fisik yang muncul, tanpa menyadari adanya konflik yang diwakilinya dan hal ini terjadi secara otomatis. Terdapat juga keuntungan sekunder yang individu dapatkan adalah dapat menghindari tanggung jawab yang membebani dan bukan celaan dari orang disekitar mereka.5 2. Teori Belajar Teori yang juga menggambarkan tentang kelainan somatoform seperti hipokondriasis, yaitu teori belajar.Teori ini menitikberatkan pada hal-hal yang secara langsung dapat menguatkan simptom dan membantu individu untuk menghindari dari rasa tidak nyaman. Selain terhindar dari tugas individu tersebut juga akan mendapat simpati dan dukungan, penguatan seperti ini yang membuat mereka cenderung untuk belajar berperan sakit meskipun saat tidak sakit. Teori belajar juga

menghubungkan hipokondriasis dan gangguan dismorfik tubuh dengan obsesif kompulsif.Pada hipokondriasis terganggu karena adanya pikiranpikiran obsesif dan menimbulkan kecemasan mengenai kesehatan mereka.Perilaku kompulsif dapat terlihat dari perginya individu dari satu dokter ke dokter lainnya, yang diperkuat oleh hilangnya kecemasan untuk sementara saat diyakinkan oleh dokter bahwa ketakutan mereka tidak terbukti. Namun, pikiran-pikiran yang mengganggu kembali muncul dan mereka kembali ke dokter, hal ini terus berulang dan berulang.5 3. Teori Kognitif Berdasarkan teori kognitif, hipokondriasis merupakan self-

handicapping, yaitu cara menyalahkan kinerja yang rendah pada kesehatan yang buruk dan pada kasus lain ini merupakan cara mengalihkan perhatian dari masalah hidup pada keluhan fisik. Penjelasan kognitif lain berfokus pada pikiran yang terdistorsi, individu dengan hipokondriasis selalu menginterpretasikan symptom-simptom yang ringan sebagai tanda dari penyakit yang serius, yang menyebabkan kecemasan. Kecemasan tersebut yang dapat menyebabkan simptom tubuh yang tidak

19

menyenangkan dan menyebabkan kognisi semakin menghawatirkannya. 5

C. Epidemiologi Berdasarkan review yang dilakukan oleh Kellner (1991), didapatkan bahwa hipokondriasis umumnya terjadi 10-20% pada individu yang normal, dan sekitar 45 % pada individu yang mengalami gangguan neurotik di Amerika Serikat. Kellner juga memperkirakan sekitar 50% pasien yang datang ke psikiater menderita gejala hipokondrial primer atau gangguan somatik dengan gejala hipokondrial.3 Gangguan ini paling sering muncul antara usia 20 dan 30 tahun, meski dapat terjadi di usia berapapun. Angka kejadian antara wanita dan pria sama.6 Pasien dengan hipokondriasis memiliki tingkat komordibitas psikiatri yang cukup tinggi. Di praktek dokter, sekitar 88% pasien dengan hipokondriasis memiliki satu atau lebih gangguan kejiwaan yang tambahan, yang paling sering yaitu gangguan kecemasan (71%), gangguan distimik (45,2%), gangguan depresi (42,9%), gangguan somatisasi (21,4%), dan gangguan panik (16,7%).6

D. Gejala Klinis Ciri utama dari hipokondriasis adalah fokus atau ketakutan bahwa simptom fisik yang dialami seseorang merupakan akibat dari suatu penyakit serius yang mendasarinya, seperti kanker atau masalah jantung. 3 Rasa takut tetap ada meskipun telah diyakinkan secara medis bahwa ketakutan itu tidak berdasar. Orang dengan hipokondriasis tidak secara sadar berpura-pura akan simptom fisiknya. Mereka umumnya mengalami ketidaknyamanan fisik, seringkali melibatkan sistem pencernaan atau campuran antara rasa sakitdan nyeri. Berbeda dengan gangguan konversi yang biasanya ditemukan sikap ketidakpedulian terhadap simptom yang muncul, orang dengan hipokondriasis sangat peduli, bahkan benar-benar terlalu peduli padasimptom dan hal-hal yang mungkin mewakili apa yang ia takutkan.6 Pada gangguan ini, orang menjadi sangat sensitif

20

terhadap perubahan ringan dalam sensasi fisik, seperti sedikit perubahan dalam detak jantung dan sedikit sakit serta nyeri. Padahal kecemasan akan simptom fisik dapat menimbulkan sensasi fisik itu sendiri, misalnya keringat berlebihan dan pusing, bahkan pingsan. Mereka memiliki lebih lanjut kekhawatiran akan kesehatan, lebih banyak simptom psikiatrik, dan mempersepsikan kesehatan yang lebih buruk daripada orang lain. Sebagian besar juga memiliki gangguan psikologis lain, terutama depresi mayor dan gangguan kecemasan.6

E. Diagnosis Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, Untuk diagnosis pasti gangguan hipokondrik, kedua hal ini harus ada: 1) Keyakinan yang menetap adanya sekurang-kurangnya satu

penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak menunjang adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi yang menetap kemungkinan deformitas atau perubahan bentuk penampakan fisiknya (tidak sampai waham). 2) Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhan-keluhannya.2 Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) IV, Ciri-ciri diagnostik dari hipokondriasis yaitu: 1) Prokupasi (keterpakuan) dengan ketakutan menderita, ide bahwa iamenderita suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliruorang tersebut terhadap gejala-gejala tubuh. 2) Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medisyang tepat.

21

3) Tidak

disertai

dengan

waham

dan

tidak

terbatas

pada

kekhawatirantentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh). 4) Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinisatau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain. 5) Lama gangguan sekurangnya 6 bulan. 6) Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau gangguan somatoform lain.4

F. Pengobatan Tujuan pengobatan dari Hipokondriasis:6 1) Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak

membenarkan pemikiran/meyakinkan bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak untuk kehidupan nyata. 2) Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari testesdiagnosis, treatment, dan obat-obatan yang tidak perlu 3) Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid (memperparah kondisi) Strategi dan teknik penanganan pasien Hipokondriasis:6 1) Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama 2) Berikan gambaran tentang keadaan yang dialami oleh pasien 3) Tekankan pada pasien bahwa dia tidak gila 4) Kenalilah gejala pada pasien sebagai suatu bentuk komunikasi secara emosional. 5) Buat jadwal regular dengan interval waktu kedatangan yang memadai

22

6) Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan kemasalah sosial

Psikoterapi Beberapa literalatur menyarankan terapi kogniitf-behaviour sebagai terapi untuk mencegah tingkat kecemasan pada pasien dengan hipokondriasis. Melalui terapi ini diharapkan dapat mengutrangi ketakutan pasien akan penyakitnya. Pasien diberikan informasi untuk melakukan monitor tentang keraguan tentang penyakitnya dan evaluasi sikap realistis pasien. Psikoterapi dapat mengurangi kepercayaan mengenai penyakit pasien. Selain itu, bisa pula dilakukan psikoterapi terhadap pasien maupun keluarga pasien untuk mengurangi keadaan yang memperberat pasien karena pengaruh lingkungan dan keluarga.7

Farmakoterapi Untuk mengurangi gejala hipokondriasis, pasien dapat diberi SSRI, salah satunya adalah Flouxetine 60-80 mg/hari.6

G. Prognosis Hipokondriasis yang tidak diterapi dengan baik akan berkembang kearah penyakitn kronik, walaupun gejala yang dialami pasien mungkin muncul tidak bersamaan. Berdasarkan DSM IV faktor-faktor berikut ini berkaitan dengan prognosis yang baik dari hipokondriasis: gejala yang ada membaik, gejala yang ada relative ringan yang berkaitan dengan kondisi medis actual, dan tidak berkaitan dengan psikopatologi

komordibitas atau manfaat yang diperoleh dari penyakitnya. Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, ada 10 % pasien bisa sembuh, 65 % berlanjut menjadi kronik dengan onset yang berfluktuasi, 25 % prognosisnya buruk.3

23

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan Hipokondriasis termasuk ke dalam gangguan

somatoform.Gangguan somatoform

adalah suatu kelompok gangguan

yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang pada adekuat. ketakutan

Hipokondriasis

adalah

keterpakuan

(preokupasi)

menderita, atau keyakinan bahwa seseorang memiliki penyakit medis yang serius, meski tidak ada dasar medis untuk keluhan yang dapat ditemukan. Ada beberapa teori yang dapat menjelaskan terjadinya hipokondriasis ini, yaitu teori psikodinamika, teori belajar, dan teori kognitif.Untuk melakukan diagnosis dari penyakit ini bisa dilakukan dengan berdasar pada Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia (PPDGJ) III dan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) IV.Dalam pengobatan penyakit ini, diperlukan strategi pengobatan yang berkesinambungan dengan psikoterapi dan penanganan farmakologis.Pasien dengan hipokondriasis yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi gangguan yang kronik dan semakin menambah buruk kondisi pasien.

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Pardamean, Engelberta. Simposium Sehari Kesehatan Jiwa Dalam Rangka Menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia: Gangguan

Somatoform, 27 Oktober 2007. Diakses tanggal 31 Maret 2012. 2. Muslim, Rusdi, 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III. Jakarta: PT Nuh jaya. 3. Kay, Jerald and Allan Tasman.2006. Essential of Pschiatry. England: Jhon Wiley and Son Ltd. 4. Somatoform Disorders In Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth Edition DSM-IV. 5. Firdiansyah. Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIDT) 2007: Penatalaksanaan Psikosomatik dalam Praktek Umum. 6. Hilty, Donald. Hypocondriasis. Available on http://www.emedicine.com. 7. Barry, Danielle. Hypochondriasis. Availbale on

http://www.minddisorders.com/hypocondriasis.

25