Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, referat Ilmu Radiologi tentang bronkiektasis dapat kami selesaikan. Referat ini kami susun sebagai bagian dari proses belajar kami selama kepaniteraan klinik di bagian radiologi dan kami menyadari bahwa referat ini tidaklah sempurna. Untuk itu kami mohon maaf atas segala kesalahan dalam pembuatan referat ini.

Kami berterima kasih kepada dosen pembimbing kami, dr. Witjaksono Walujo, Sp.Rad atas bimbingan dan bantuannya dalam penyusunan referat ini. Kami sangat menghargai segala kritik dan masukan sehingga karya tulis ini bisa menjadi lebih baik dan dapat lebih berguna bagi pihak-pihak yang membacanya di kemudian hari.

Surabaya, Desember 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Lembar pengesahan Kata Pengantar Daftar Isi Bab I Pendahuluan I.1 I.2 I.3 I.4 I.5 I.6 Umum Batasan Maksud dan tujuan Definisi Etiologi Epidemiologi

1 2 3

4 4 5 5 5 5

Bab II Pembahasan II.1 II.2 Anatomi Patofisiologi 6 8

Bab III Diagnosa III.1 Pemeriksaan Fisik III.2 Gejala Klinik III.3 Pemeriksaan Laboratorium III.4 Pemeriksaan Radiologi III.5 Diagnosa Banding Bab IV Prognosis Bab V Komplikasi Bab VI Manajemen Terapi Bab VII Kesimpulan Daftar Pustaka 12 12 12 13 19 20 21 22 23 24

BAB I PENDAHULUAN

I.1 UMUM

Kemajuan dalam bidang kesehatan di Indonesia sudah sangat pesat. Banyak fasilitas kesehatan yang canggih serta tempat pelayanan kesehatan yang tersedia di berbagai wilayah di Indonesia. Akan tetapi sebagian besar masyarakat belum mengerti manfaatnya bahkan kurang menyadari pentingnya kesehatan. Masih banyak masyarakat yang tidak mematuhi anjuran terapi dari dokter. Sehingga, penyakit yang diderita tidak sembuh total dan bahkan sering berulang. Hal ini mengakibatkan banyak timbulnya sumber penyakit di masyarakat.

Penyakit yang sering timbul di masyarakat biasanya adalah penyakit inflamasi. Salah satu contoh penyakit inflamasi adalah penyakit infeksi saluran pernafasan. Penyakit ini mudah menyebar, sulit disembuhkan, dan sering berulang. Infeksi pernafasan berulang dapat menyebabkan penyakit bronkiolitis.

Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk mengenal lebih dalam tentang bronkiolitis dalam hubungannya dengan inflamasi. Sehingga hal inilah yang mendasari pembuatan referat ini.

I.2 BATASAN Dalam referat ini kami mengangkat topik BRONKIOLITIS yang dititikberatkan pada pemeriksaan penunjang radiologis berupa foto polos thorax, bronkogram dan CT Scan .

I.3 MAKSUD DAN TUJUAN

Referat ini ditulis agar dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses belajar rekan sejawat sehingga dapat lebih mudah memahami mengenai Bronkiolitis. Selain itu agar bronkiolitis dapat dicegah secara dini dalam ruang lingkup masyarakat luas.

I.4 DEFINISI Bronkiolitis adalah penyakit infeksi saluran pernapasan bagian bawah yang ditandai dengan adanya inflamasi pada bronkiolus. Umumnya,disebabkan oleh virus. Secara klinis ditandai dengan episode pertama wheezing pada bayi yang didahului dengan gejala infeksi saluran napas akut.

I.5 ETIOLOGI Bronkiolitis sebagian besar disebabkan karena Respiratory Syncytial Virus (95%). Orenstein menyebutkan pula penyebab lain seperti parainfluenza virus, influenza B, Adenovirus types 1, 2, 5, Rhinovirus dan mycoplasma. I.6 EPIDEMIOLOGI Bronkiolitis merupakan infeksi saluran napas terserng pada bayi. Paling sering terjadi pada usia 2-24 bulan, puncaknya pada 2-8 bulan. 95% kasus terjadi pada anak di bawah 2 tahun dan 75% diantaranya terjadi pada anak berusia di bawah 1 tahun. Orenstein menyatakan bahwa bronkiolitis paling sering terjadi pada bayi laki-laki berusia 3-6 bulan yang tidak mendapat ASI, dan hidup di lingkungan padat penduduk. Louden menyatakan, bahwa bronkiolitis terjadi 1,25 kali lebih banyak pada anak laki-laki daripada pada anak perempuan. Dominasi pada anak laki-laki yang dirawat juga disebutkan oleh Shay, yaitu 1,6 kali lebih banyak daripada anak perempuan. Sedangkan Fjaerli menyebutkan 63% kasus bronkiolitis adalah laki-laki. Sebanyak 11,4% anak berusia di bawah 1 tahun dan 6% anak berusia 1-2 tahun di AS pernah mengalami bronkiolitis. Penyakit ini menyebabkan 90.000

kasus perawatan di RS dan menyebabkan 4500 kematian setiap tahunnya. Bronkiolitis merupakan 17% dari semua kasus perawatan di RS pada bayi. Frekuensi bronkiolitis di Negara-negara berkembang hampir sama dengan di AS. Insidan terbanyak pada Negara tropis yaitu pada musim hujan. Rerata insidens perawatan sethun pada anak berusia di bawah 1 tahun adalah 21,7 per 1000 dan semakin menurun seiring pertambahan usia. Median lama perawatan adalah 2-4 hari, kecuali pada bayi premature dan kelainan bawaan seperti penyakit jantung bawaan. Bradley menyebutkan bahwa penyakit akan lebih berat pada bayi muda, hal itu ditunjukkan dengan lebih rendahya saturasi O2. Beberapa predictor lain untuk beratnya bronkiolitis atau yang akan menimbulkan komplikasi yaitu bayi dengan masa gestasi<34 minggu, usia<3 bulan, sianosis, saturasi O2<90%, laju respiratori>70 x/menit, adanya ronki dan riwayat dysplasia bronkopulmoner. Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi di Negara-negara berkembang daripada di Negara maju. Hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya status gizi dan ekonomi serta kepadatan penduduk. Angka mortalitas di Negara berkembang pada anak-anak adalah 1-3%.

BAB II PEMBAHASAN

Dalam referat ini kami menitikberatkan pada pemeriksaan radiologi sebagai pemeriksaan penunjang dari bronkiolitis, sehingga perlunya memahami anatomi untuk membantu dalam pembacaan foto polos thoraks, bronkogram dan CT scan.

II.1 Anatomi

Thorax adalah bentuk silinder yang ireguler dengan pintu atas thorax ( Appertura Thoracis Superior ) dan pintu bawah thorax ( Appertura Thoracis Inferior ). Rongga ini dipisahkan dari rongga abdomen oleh diafragma dan memiliki hubungan ke atas dengan pangkal leher melalui pintu atas thorax.(3)

Bagian thorax 1. Dinding Thorax Dinding thorax terdiri dari skeletal dan musculus : Dinding posterior dibentuk oleh vertebra thoracal I XII dan diantaranya dipisahkan oleh discus intervertebralis. Dinding lateral dibentuk oleh costae dan tiga lapisan dinding thorax. Dinding anterior dibatasi oleh sternum yang terdiri dari manubrium sterni, corpus sternum dan processus Xyphoideus.(4)

2. Appertura thoracal superior Appertura thoracal superior seluruhnya dikelilingi oleh skeletal dan merupakan rongga pleura, yang mengelilingi paru serta juga berhubungan dengan mediastinum.( 4)

3. Appertura thoracal inferior Appertura thoracal inferior dibatasi oleh diafragma. (4)

4. Diafragma Diafragma memisahkan rongga thorax dan abdomen. Pada umumnya serat muskulus dari diafragma secara radial dari tepi appertura thoracal inferior, dan menyebar membentuk tendon. (4)

5. Mediastinum Mediastinum adalah ruangan tengah di rongga dada, sebelah anterior dibatasi oleh sternum, sebelah posterior dibatasi vertebra thoracal dan sebelah lateral dibatasi pleura. (4)

6. Pleura Pleura terdiri dari : pleura viceralis yang melekat pada paru pleura parietalis yang membatasi dinding dada, diafragma, serta sisi perikardium dan mediastinum. Rongga pleura mengandung sedikit cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas untuk mengurangi friksi antara kedua pleura. (4) 7. Paru paru Paru-paru merupakan organ respirasi. Pertukaran udara terjadi di paru melalui bronkus, yang merupakan cabang dari trakea. (4)

8. Trakea dan Percabangan Bronkus Trakea terdiri dari 16 20 cincin tulang rawan yang berbentuk setengah lingkaran atau bulan sabit ( cresent shaped ). Tulang rawan yang bersifat elastis kuat ini, bersama-sama membentuk trakea dalam arahan laterolateral sehingga trakea menjadi kaku. Bagian posterior trakea dibentuk oleh jaringan elastis bersamasama dengan otot polos. Kedua jaringan ini membentuk suatu lapisan yang disebut pars membranasea dari trakea. Otot di daerah ini akan aktif berkontraksi saat ekspirasi dalam atau batuk sehingga lumen dalam menyempit.(1)

Bronkus dimulai dari bagian distal trakea yang membagi 2 menjadi bronkus utama kanan dan kiri. Selanjutnya brokus utama ini membagi diri menjadi bronkus lobaris. Bronkus lobaris terdapat 3 pada sisi kanan dan 2 pada sisi kiri yang disebut bronkus segmental. Bronkus segmental membagi diri menjadi lobus subsegmental, bronkiolus, dan cabang terakhir alveoli. (1)

Bifukarsi trakea terletak sedikit di kanan midline pada ketinggian vertebra toracalis IV V. Benda-benda asing yang tersedak biasanya masuk ke bronkus primer kanan.(6)

II.2 PATOFISIOLOGI

Infeksi RSV

Kolonisasi & replikasi di mukosa (terminal bronkiolus : >>)

Nekrosis sel bersilia bronkioli

Proliferasi limfosit, sel plasma & makrofag

Edema mukosa

kongesti

debris & mukus

Penyempitan lumen bronkioli (total/sebagian)

Respon paru

10

BAB III DIAGNOSA

III.1 Pemeriksaan fisik

Pada pemeriksaan fisik di dapatkan :


-

takipneu takikardi sianosis Peningkatan suhu > 38,5oC Pernapasan cuping hidung dan retraksi interkostal anak gelisah dada mengembang retraksi sela iga bawah hati dan limpa terdorong ke bawah perkusi : hipersonor auskultasi : suara nafas melemah rales halus akhir inspirasi ekspirasi memanjang dan wheezing expirasi

III.2 Gejala klinis Terutama < 2 thn dan terbanyak < 6 bln. Kontak dengan penderita ISPA dewasa /anak besar Didahului ISPA atas ringan (pilek encer, bersin,batuk) Kondisi memberat : distres nafas (takipnu, retraksi, nafas cuping hidung, sianosis, takikardi) Terdapat wheezing, ekspirasi memanjang, crackles Hepar & lien teraba karena pendorongan diafragma Kadang-kadang : konjungtivitis ringan, otitis media, faringitis

11

III.3 Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium tidak memberi gambaran yang khas untuk diagnosa bronkiolitis. Kadang kadang terjadi leukositosis penting untuk mendiagnosa banding dengan pneumonia dan pertusis. Pada bronkiolitis juga di lakukan TES SEROLOGI dengan antigen RSV bisa juga dilakukan ANALISA GAS DARAH untuk penderita berat, khususnya yang membutuhkan ventilator mekanik.

III.4 Pemeriksaan radiologis

1. Pemeriksaan foto polos thorax

Tampak gambaran hyperaerated, patchy infiltrates, diafragma mendatar

12

Hyperexpanded lung fields, bilateral interstitial densities, and atelectasis of the right upper lobe.

Hyperaerated Lung, Infiltrate at the upper part of right hemithorax

III.5 DIAGNOSA BANDING Infeksi Non infeksi : bronkopneumonia, pertussis : asma, gastroesophageal reflux, corpus alienum saluran napas, tracheoesophageal fistula, cystic fibrosis

13

BAB V KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering: 1. Bayi kecil : dehidrasi oleh karena kurang minum. 2. 3. 4. nd/nf bakteri : febris tinggi, terjadi lekositosis Pneumothorax, emphysema mediastinal Gagal nafas

14

BAB VI MANAJEMEN TERAPI

ALGORITMA TATALAKSANA BRONKIOLITIS


Penyebab Usia : RSV, parainfluenze, influenza,adenovirus, mycoplasma. : < 2 tahun

Gejala : Panas , pilek, batuk disusul sesak napas, wheezing ekspiratoir, sianosis (Bayi kecil : apnea) Foto Dada : hiperinflasi, penebalan peribronkial, atelektasis , infiltrat

Periksa : kesadaran , pernapasan, wheezing, warna kulit, status hidrasi, Skor RDAI

Ringan: RDAI <3 Makan/minum normal Dehidrasi Retraksi Rawat Jalan Suportif Pastikan: pengetahuan orang tua transportasi ke RS

Sedang : RDAI 3-15 Retraksi +, Takipnea +, Wheezing + Sianosis Resiko tinggi +

Berat: RDAI > 15 Sianosis +, Sesak hebat Dehidrasi +, Hipoksia +, Apnea +, Makan/minum -

Rumah Sakit Oksigenasi Salbutamol inhalasi : 0,1 mg/kg/dosis Ribavirin Antibiotika : disesuaikan Suportif

ICU/ UPI Cek : Foto Dada, Gas Darah, EKG, Elektrolit. Oksigen, ventilasi mekanik Nebulasi Albuterol, Steroid: deksametason 0,1-0,2 mg/kg/dosis IV, Ribavirin Antibiotika spektrum luas Suportif

15

BAB VII KESIMPULAN

Bronkiolitis adalah dilatasi yang ireversibel dari saluran pernafasan yang disebabkan oleh kerusakan dinding saluran pernafasan akibat inflamasi. Penyakit ini masih banyak diderita karena kesadaran masyarakat terhadap kesehatan masih sangat kurang. Selain itu, masyarakat belum mengerti manfaat dari fasilitas dan pelayanan kesehatan yang tersedia.

Padahal dengan pemeriksaan fisik dan radiologi seperti foto polos thorax, bronkogram dan CT-scan dapat membantu menegakkan diagnosa bronkiolitis terutama jika disertai dengan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium. Diagnosa serta penatalaksanaan yang cepat dan tepat diharapkan dapat menurunkan angka kematian.

16

DAFTAR PUSTAKA

1.

Alsagaf, H.: Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Universitas Airlangga, Surabaya, 2009, P: 256-261

2.

Data pasien Bronkiektasis di paviliun dan poli paru RSAL dr.Ramelan Surabaya Drake, Richard L., Vogl, Wayne., Mitchell, A.w.m.,: Grays Anatomy for students. Elsevier, 2005, P: 102

3.

4. 5.

Faiz, O., Moffat, D.,: At a Glance Anatomy. Erlangga, 2005, P: 3-13 Mandel, W., B., C.: Principles of Pulmonary Medicine. 5th Edition. Sounders Elsevier, Philadelphia, 2008, P: 110-115 Netter, F.H.: Netters Atlas of the Human Body. Ed I, Barrons Educational Series, Inc, US, P: 79-81

6.

7.

Sutton, D.: Radiology And Imaging. Vol.I, Churchill Livingstone, 2003, P: 163-165

8.

Shanks, C.S., Kerley, P.: Text Book Of X Ray Diagnosis. Ed II, Volume II, London, 1951, P : 314-317

9.

Sudoyo, A.W., Setiyohadi B., Alwi I., Simadibrata M., Setiadi S.: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, Ed IV, Dep IPD FK UI, Jakarta, 2007, P: 1038

10. West, J., B.: Pulmonary Pathophysiology The Essentials. 7th Edition. Wolters Kluwer, Philadelphia, 2005, P: 52 11. Zevitz, M.: Pulmonary Medicine Review. Second Edition. Mc GrawHilMedical Publishing Division, New York, 2006, P: 61-62

17