Anda di halaman 1dari 4

INFEKSI LATEN Proses Penularan (INFEKSI) Pengetahuan tentang waktu dan cara infeksi penting sekali untuk mengembangkan

program penegndalian penyakit yang efektif. Buah-buha yang masih ada di pohon dapat tertulari oleh penetrasi langsung jamur pathogen menembus kutikula yang masih utuh, melalui luka atau lubang-lubang alami yang terdapat pada permukaan tumbuhan inang. Selain dari itu, banyak sekali penyakit pasca panen dimulai dari luka-luka pada komoditi-komoditi selama dan sesudah pemanenan, seperti batangbatang yang dipotong dan kerusakan mekanik pada sel-sel permukaan selama penanganan dan pengangkutan. Infeksi Sebelum Pemanenan Beberapa jamur seperti Colletotrichum, Gleosporium, Guignardia, Diplodia, Phomopsis, Dothiorella, dan Alternaria membentuk spora pada luka-luka di batang, daun dan bagian bunga tanaman. Spora-spora tersebut berkecambah di permukaan buah-buah yang berkembang dan setelah beberapa jam ujung buluh hifa jamur membengkak dan membentuk alat pelekat. Dan setelah 24 sampai 72 jam, tergantung suhu dan tingkat kemasakan buah, selanjutnya terjadi infeksi melalui bagian bawah alat pelekat dan menembus kutikula dengan tekanan mekanik. Pada tingkat ini infeksi terhenti dan jamur menjadi dorman. Peristiwa ini dinamakan infeksi laten. Pada waktu buah matang beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian jamur yang dorman akan menjadi aktif, membentuk cabang-cabang dan menembus selsel inang dan membentuk luka-luka pembusukan pada buah yang matang. Semua buah jeruk, mangga, papaya, alpukat, dan pisang yang tumbuh di daerah tropis basah menderita infeksi laten oleh Colletotrichum gloeosporiodes dan Gloesporium musarum pada kulit sewaktu pemanenan. Beberapa penelitian telah membukytikan bahwa kebanyakan infeksi laten berkembang menjai luka-luka pembusukan bila buah mencapai suatu tingkat kematangan tertentu. Secara relatif pada buah-buah matang hanya sedikit terjadi luka-luka pembusukan, meskipun

pada buah-buah itu masih terdapat alat-alat pelekat yang masih berdaya hidup. Pemberian spora-spora pada permukaan buah yang masih muda tidak menghasilkan luka-luka pembusukan setelah buahnya matang, meskipun terdapat alat-alat pelekat yang berdaya hidup selama umur buah. Spora-spora jamur dan bakteri pathogen dapat mengakibatkan kebusukan pascapanen berkaitan dengan tanah dan debu yang berterbangan atau percikan air dengan tanah pada buah-buah yang bergantungan rendah. Contoh-contoh kelompok ini adalah: Rhizopus, Fusarium, Geotrichum, Phytophthora, Trichoderma, dan Erwinia. Luka-luka yan g terdapat pada permukaan buah yang masak dengan sendirinya menuju kepembusukan oleh mikroorganisme ini yang terdapat dimanamana. Asal luka-luka itu tidak mongering dan membentuk perintang pada luka sebelum infeksi terjadi. Serangga, terutama lalat buah (Pterandrus rosa dan Ceratites capitaia), ngengatngengat dan kupu-kupu penggerek buah tidak saja menimnulkan luka-luka pada permukaan buah-jeruk dan buah-buah tropis lain tapi juga terkontaminasi berat oleh spora-spora, sejumlah jamur penyebab pembuahan. Busuk asam pada jeruk manis berasal dari serangan kupu-kupu penggerek dan beberapa jenis serangga. Buahbuah yang terinfeksi biasanya akan jatuh dari pohon pada waktunya. Tetapi bila serangga menyerang buah bebebrapa hari selama pemanenan atau bila buahnya belum matang penuh, maka buah-buah yang terinokulasi tidak dapa dikenali dengan mudah dan kemungkinan akan dikemas bersama dengan buah-buah yang sehat yang kemudian akan menjadi busuk dalam penyimpanan atau selama pengangkutan. Infeksi buah-buah selama dan sesudah pemanenan. Buah dan sayur segar tidak dapat dipanen tanpa menimbulkan luka-luka sehingga mikroorganisme pathogen memperoleh jalan untuk memasuki komoditi itu dan akhirnya akan menyebabkan pembusukan pasca panen. Selain pada batang yang dipotong, tidak dapat dihindarkan terjadinya kerusakan pada jaringan-jaringan permukaan selama pemungutan, pengemasan, dan pengangkutan. Luka-luka harus ditekan sampai sekecil mungkin, dan komoditi yang telah dipanen harus ditempatkan pada kondisi yang memungkinkan pengeringan atau penyembuhan

luka-luka, dengan begitu terbukti menguntungkan dalam menghindarkan infeksi. Perlakuan dengan fungisida dan pendinginan merupakan praktek yang biasa dan efektif, yang dapat mencegah atau menghambat laju infeksi pada komoditi yang telah dipanen. Sebenarnya tiap buah dan sayuran bersifat rentan terhadap satu penyakit pasca panen yang dimulai pada batang yang terpotong. Contohnya adalah busuk ujung pada sisir pisang, busuk hitam (Ceratocystis) pada buah nenas dan busuk ujung batang Botryodiplodia pada pangkal buah pepaya dan mangga. Lukaluka acak pada permukaan buah yang disebabkan oleh penanganan kasar, dan kerusakan-kerusakan fisiologis seperti kerusakan akibat pendinginan merupakan jalan masuk utama bagi parasit-parasit yang menyerang luka-luka. Penyakit-penyakit pacsa panen yang dimulai pada luka-luka yang terjadi selama atau sesudah pemanenan dapat dikendalikan dengan pemeberian fungisida, bila perlakuan dapat dilakukan sebelum pathogen masuk jauh ke dalam jaringan inang. Infeksi laten atau dorman lainnya yang dimulai pada waktu perkembangan buah di kebun, sukar dihilangkan dengan fungidsida pelindung konvensonal meskipun mengenai soal ini dapat dicapai kemajuan-kemajuan besar selama beberapa tahun akhir ini dengan fungisida sistemik baru. Faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit 1. Kerentanan inang Buah dan sayur mempunyai sifat kimia dan fisiologi yang dapat mengubah kerentanan terhadap infeksi dan perkembangan penyakit pascapanen. Sebaliknya, factor inang yang dapat mempengaruhi berat tidaknya serangan penyakit, dapat pula dipengaruhi oleh lingkungan pascapanen. 2. Kemasakan. Buah umumnya makin rentan oleh infeksi terhadap pathogen pascapanen bila buah itu menjadi semakin matang. Hal ini menyangkut factor-faktor nutrisi, enzim-enzim, zat-zat racun, dan metabolism energy. Tapi terdapat perkecualian, yaitu pada pembusukan buah apel oleh Penicillium expansum hanya sedikit saja dipengaruhi oleh kematangan dan busuk lunak yang disebabkan oleh bakteri berkembang lebih cepat pada buah-buah tomat yang

hijau tetapi sudah tua bila dibandingkan dengan buah yang merah. Oleh karena itu tidak mengherankan jika pembusukan pascapanen dapat ditekan dengan perlakuan seperti penyimpanan dalam suhu rendah, udara terkendali, dan pemberian zat kimia yang menghambat pematangan. Penyimpanan dalam udara terkendali akan mengurangi pembusukan oleh Rhizopus dan Alternaria pada tomat hijau yang sudah tua, tidak mempengaruhi serangan bakteri busuk lunak. Sebaliknya C2H4 yang mempercepat kematangan banyak jenis buah, juga menyebabkan kenaikan pembusukan pada pangkal buah jeruk manis yang ditimbulkan oleh Diplodia natalensis. 3. Penyembuhan luka. Kentang, ubi, dan ketela rambat membentuk lapisan periderm pada bagian yang berbatasan dengan luka-luka yang berfungsi sebagai penghalang masuknya bakteri dan jamur-jamur parasit. Kondisi optimal untuk pembentukan periderm luka adalah RH sekitar 90% dan suhu 60-70oF untuk kentang dan 84-90oF untuk ubi jalar dan ubi. Penyimpanan dalam lingkungan demikian selama 7 sampai 10 hari untuk member kesempatan pembentukan periderm, sangat mengurangi pembusukan pada penyimpanan. Pada buah jeruk manis yang disimpan pada suhu 86oF dan RH90% untuk beberapa hari, pembusukan yang disebabkan oleh Penicillium digitatum jauh lebih sedikit daripada buah-buah yang disimpan pada suhu ruang dalam waktu yang sama. Peristiwa ini disebabkan oleh pembentukan lignin pada jaringan-jaringan flavedo yang terluka dibawah kondisi lingkungan seperti telah diutarakan.