Anda di halaman 1dari 10

Laporan saraf lumbalis 1 Yang disusun untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah Neuro science Yang dibimbing

oleh Bpk. Saichudin

Oleh Desi Wandira 100154400265

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR BIASA Mei 2012

1. PLEXUS LUMBALIS Dibentuk oleh ramus anterior nervus lumbalis 1 4, terletak pada m.psoas major. Dari plexus lumbalis dipercabangkan : nervus iliohypogastricus nervus ilioinguinalis nervus cutaneus femoris lateralis nervus femoralis nervus genito femoralis nervus obturatorius. Pleksus Lumbalis tersusun dari cabang anterior saraf spinal L1,2,3 dan sebagian L4 yang memberikan percabangan N. kutaneus femoralis lateralis, n.femoralis, n. genitofemoralis dan n. obturatorius. Nervus iliohipogastrikum, n. ilioinguinalis tidak berasal dari pleksus lumbalis, melainkan merupakan cabang langsung dari saraf spinal L1 Saraf lumbal 1 dan 2 membentuk nervus genito femoralis yang mengurus persarafan kulit daerah genitalia dan paha atas bagian medial. Persyarafan Pelvis Plexus Lumbalis. Mempersyarafi otot-otot di sekitar persendian paha. M. Pasos mayor danminor (L1 L5) M. Quadratis Lumborum (TM L3) dan Mm, iliocastel LumborumPlexus Lumbalis berhubungan dengan Nm. Intercostalis. Nervus iliohipogastricus (T12 L1) Berjalan di bagian dalam M. quadratus lumborum, menyilang di permukaan posterior ginjal, selanjutnya berjalan di antara M. transversus abdominis dan M.obliquus internus

abdominis.Mempersarafi : otot dinding abdomen.Kedua cabang kutaneus : mempersarafi kulit di atas aponeurosis M. obliquus externaabdominis dan kulit daerah pelvik. Nervus iliongunalis. Berjalan sepanjang ligamentum inguinale melalui canalis inguinalis bersamaligamentum teres uteri, menuju labium majus pudenda ipsilateral.Mempersarafi : otot-otot yang menyusun dinding abdomenCabang kutaneus mepersarafi : kulit mons pubis dan sisi anterior kulit labium majus.

Nervus genitofemoralis. Di M. Psoas bercabang manjadi 2 yaitu ;a.Cabang genitalisBerjalan di atas ligamentum inguinale menuju canalis inguinalis bersamaligamentum teres uteri, menuju labium majus pudenda ipsilateral. Cabangkutaneus mempersarafi labium majus pudenda ipsilateral dan kulit pada bagiandalam kontralateral. b.Cabang femoralisBerjalan di bawah ligamentum inguinale, kemudian melalui hiatus saphenus didalam fascia. Cabang kutaneus : kulit paha atas disebelah lateral bagian tersebutdipersarafi oleh cabang genital. Plexus lumbosacralis. Dibentuk dan ramus ventrales atau anteriores, radikal lumbalis dan sacralis.Mempersarafi : serat saraf motorik dan sensorik pada kaki. Pluxus lumbalis : -Tersebut dari cabang L1 sampai L4-Akarnya terletak di medial M. Psos-Merupakan origo N. obsturatorius dan femoralis. 2. Hubungan saraf L1 dengan kandung kemih. Anatomi Internal Bledder Vesika urinaria (kandung kemih) terletak tepat dibelakang os pubis, merupakan tempat penyimpanan urine yang berdinding otot yang kuat, bentuknya bervariasi sesuai dengan jumlah urine yang diakandung. Kandung kemih pada waktu kosong terletak dalm rongga pelvis, sedangkan dalam keadaan penuh dinding atas terangkat masuk ke dalam region

hipogastrika. Apeks kandung kemih terletak dibelakang pinggir atsa simpisis pubis dan permukaan posteriornya berbentuk segitiga . Bagian sudut superolateral merupakan muara ureter dan sudut inferior membentuk uretra.

Bagian atas kandung kemih ditutupi oleh peritoneum yang membentuk eksavasio retro vesikalis, sedangkan bagian bawah permukaan posterior dipisahkan dari rectum oleh duktus deferens, vesika seminalis, dan vesika retrovesikalis. Permukaan superior seluruhnya ditutupi oleh peritoneum dan berbatasan dengan gulungan ileum dan kolon sigmoid sepanjang lateral permukaan peritoneum melipat ke dinding lateral pelvis. a. Lapisan otot kandung kemih Lapisan otot kandung kemih terdiri atas otot polos yang tersusun dan saling berkaitan disebut muskulus detrusor vesikae. Peredaran darah vesika urinaria berasal dari arteri vesikalis superior dan inferior yang merupakan cabang dari arteri iliaka interna.

Venanya membentuk pelvikus venosus vesikalis berhubungan dengan pleksus prostatikus yang mengalirkan darah ke vena iliaka interna. b. Pembuluh Limfe Pembuluh limfe kandung kemih mengalirkan cairan limfe ke dalam nodi limpatik iliaka interna dan eksterna. c. Persarafan Persarafan vesika urinaria berasal dari pleksus hipogastrika inferior. Serabut ganglion simpatikus berasal dari ganglion lumbalis I dan II, yang berjalan turun ke kandung kemih melalui pleksus hipogastrikus. Serabut preganglion parasimpatis yang keluar dari nervus splenikus pelvikus yang berasal dari nervus II, III, dan IV berjalan melalui hipogastrikus inferior mencapai dinding vesika urinaria.

Sebagian besar serabut aferen sensoris yang keluar dari kandung kemih menuju system susuna saraf melalui nervus splanknikus pelvikus berjalan bersama saraf

simpatis melalui pleksus hipogastrikus masuk ke dalam segmen lumbal 1 dan 2 medula spinalais. c. Pengisian dan pengosongan kandung kemih
o

Pengisian

Dinding ureter mengandung otot polos yang tersusun dalam berkas spiral longitudinal dan sekitar lapisan otot yang tidak terlihat. Kontraksi peristaltic ureter 1-5 kali/menit akan menggerakkan urine dari pelvis renalis ke dalam kandung kemih dan disemprotkan setiap gelombang peristaltic. Ureter yang berjalan miring melalui dinding kandung kemih untuk menjaga ureter tertutup kecuali selama gelombang peristaltic untuk mencegah urine tidak kembali ke ureter. Apabila kandung kemih terisi penuh permikaan superior membesar, menonjol ke atas masuk ke dalam rongga abdomen. Peritoneum akan menutupi bagian bawah dinding anterior kolum kandung kemih yang terletak di bawah kandung kemih dan permukaan atas prostat. Serabut otot polos dilanjutkan sebagai serabut otot polos prostat kolum kandung kemih yang dipertahankan pada tempatnya oleh ligamentum pubovesikalis pada wanita yang merupakan penebalan fasia pubis. Membrane mukosa kandung kemih dalam keadaan kosong akan berlipat-lipat. Lipatan ini akan hilang apabila kandung kemih terisi penuh. Daeraah membrane mukosa meliputi permukaan dalam basis kandung kemih yang dinamakan trigonum. Vesika ureter menembus dinding kandung secara miring membuat seperti katup untuk mencegah aliran balik urine ke ginjal pada waktu kandung kemih terisi.
o

Pengosongan

Kontraksi otot muskulus detrusor bertanggung jawab pada pengosongan kandung kemih selama berkemih (mikusturasi). Berkas otot tersebut berjalan pada sisi uretra, serabut ini dinamakan sfingter uretra interna. Sepanjang uretra terdapat sfingter otot rangka yaitu sfingter uretra membranosa (sfingter uretra eksterna). Epitel kandung kemih dibentuk dari lapisan superfisialis sel kuboid.

3. Terapi untuk mengatasi masalah pada kandung kemih

Mengompol

Mengompol merupakan masalah yang sering timbul pada anak-anak terutama balita, namun tidak jarang mengompol juga dialami oleh orang dewasa baik pria maupun wanita. Sehingga mengompol merupakan salah satu problem yang mengenai segala usia. Mengompol merupakan gangguan yang tidak membahayakan dalam arti tidak menyebabkan kematian namun akibat yang ditimbulkan dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Apa yang menyebabkan mengompol? Sebelum menjelaskan tentang penyebab dari mengompol, perlu diketahui tentang mekanisme terjadinya proses miksi. Proses miksi dimulai pada saat kandung kemih sudah cukup penuh, hal ini akan membangkitkan impuls saraf yang terdapat pada kandung kemih untuk diteruskan ke susunan saraf pusat. Hal ini juga akan mengakibatkan otot-otot sfingter uretra yang terdapat pada muara kandung kemih berkontraksi dan otot kandung kemih relaksasi sehingga urine tidak dapat keluar. Hal ini disebut sebagai keadaan yang kontinens. Bila seseorang sudah berada di toilet maka akan terjadi hal yang sebaliknya yang disebut dengan mekanisme miksi dimana otot-otot sfinger uretra akan berelaksasi dan otot kandung kemih akan berkontraksi sehingga urine dapat mengalir keluar.

Ada suatu keadaan dimana otot-otot sfingter uretra mengalami kelemahan sehingga urine yang terdapat dalam kandung kemih akan sedikit bocor keluar. Keadaan tersebut disebut dengan inkontinensia stress. Inkontinensia stress sering terdapat pada orang-orang yang sudah lanjut usia dan terutama pada wanita yang sudah melahirkan. Hal ini bisa terjadi pada keadaan dimana terdapat peningkatan tekanan dalam rongga perut atau abdomen seperti pada saat seseorang batuk bersin, tertawa terbahak-bahak atau mengangkat beban berat. Pada inkontinensia stress keluarnya urine hanya sedikit-sedikit.

Keadaan lain dimana terjadi kontraksi yang berlebihan dari otot kandung kemih sehingga mengakibatkan gejala mengompol. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah Overactive Bladder atau sering disingkat dengan OAB. Penyebab OAB hingga saat ini belum diketahui. Keadaan ini tidak disebabkan akibat adanya infeksi atau kelainan patologi pada saluran kemih.

Selain itu ada juga yang merupakan gabungan dari keduanya yaitu sfingter uretra yang sudah lemah dan aktivitas otot kandung kemih yang berlebihan. Hal ini dikenal dengan nama Mixed Incontinence atau Inkontinensia Campuran.

Keadaan lain yang dapat menyebabkan mengompol adalah karena kandung kemih sudah terlalu penuh menyebabkan sfingter uretra sudah tidak mampu lagi untuk menahan tekanan dalam kandung kemih sehingga urine keluar dan mengompol. Hal ini dikenal dengan istilah Overflow Incontinence.

Pada anak-anak usia dibawah 5 tahun, mengompol dapat dikatakan sebagai suatu hal yang normal karena anak balita terutama usia 3-4 tahun otak belum berkembang dengan sempurna. Pada usia tersebut sedang terjadi fase peralihan mekanisme miksi yaitu mekanisme miksi yang diatur oleh suatu busur refleks yang terdapat pada sumsum tulang belakang yang kemudian dialihkan ke susunan saraf pusat sesuai dengan bertambahnya usia. Busur refleks akan langsung memberikan respon segera setelah impuls saraf yang menyatakan kandung kemih dalam keadaan penuh diterima oleh sistem tersebut dan akan langsung direspon berupa perintah untuk segera mengosongkan kandung kemih tanpa mempedulikan kapan dan tempat sehingga anak mengompol. Fungsi dari sistem ini dapat dialihkan dengan cara melatih anak untuk berkemih pada tempatnya atau disebut dengan toilet training.

Bagaimana mengatasi mengompol ? Pada anak-anak apalagi anak balita, mengompol dapat diatasi dengan berbagai cara antara lain :

Latihlah anak untuk berkemih pada toilet atau kamar mandi Biasakan anak untuk berkemih sebelum tidur Bangunkan anak pada saat tidur pada malam hari untuk berkemih misalnya 2-3 jam setelah dia tidur

Catat pola kemih anak pada malam hari, pada jam berapa anak mengompol. Hal ini dapat dilakukan beberapa hari sehingga 1-2 jam sebelum mengompol anak bisa dibangunkan untuk berkemih

Hindari minum terlalu banyak sebelum tidur Hindari minuman yang meningkatkan jumlah urine seperti : teh, kopi atau minuman bersoda.

Jangan memarahi anak bila ia mengompol tetapi beritahu secara baik-baik dan beri pengertian sehingga dia akan berusaha untuk tidak mengompol. Memarahi anak bila mengompol akan menimbulkan kecemasan sehingga anak tidak akan berhenti mengompol.

Jangan permalukan anak didepan orang lain bila ia mengompol sehingga anak tidak menjadi stress dan frekuensi mengompol makin sering.

Pada orang dewasa mengatasi mengompol biasanya didasarkan pada penyebabnya misalnya :

Adanya infeksi saluran kemih maka penanganan dapat dilakukan dengan pemberian antibiotika serta obat-obatan lain yang dapat menghilangkan gejala akibat infeksi

Penyakit lain yang menyebabkan mengompol seperti stroke atau dementia biasanya memerlukan fisioterapi serta memerlukan penanganan ahli rehabilitasi medik

Akibat aktivitas otot kandung kemih yang berlebihan dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan. Saat ini sudah banyak obat-obatan dari golongan antimuskarinik yang efektif mengatasi mengompol.

Akibat lemahnya otot-otot pada sfingter dapat diatasi dengan cara latihan penguatan otot-otot dasar panggul atau operasi.

Bagaimana dengan mengompol yang disebabkan karena Overactive Bladder (OAB)? Overactive Bladder atau disingkat OAB adalah keadaan dimana terdapat aktivitas otot detrusor kandung kemih yang berlebihan. Otot detrusor adalah otot-otot yang melapisi dinding kandung kemih. Penyebab aktivitas otot yang berlebihan ini belum ditemukan hingga sekarang. Diduga bahwa penyebabnya adalah adanya gangguan saraf yang mempersarafi otot-otot kandung kemih akibat faktor usia atau sebab lainnya. OAB tidak hanya mengenai orang tua tetapi juga dapat mengenai orang dewasa muda hingga anak-anak. OAB ditandai dengan gejala-gejala seperti :

Berkemih lebih dari 8 kali per hari atau disebut dengan frekuensi Sulit menahan berkemih atau disebut dengan urgensi Bangun pada malam hari untuk berkemih lebih dari 1 kali pada malam hari (nokturia) Mengompol atau disebut inkontinensia urgensi

Seseorang didiagnosis OAB bila tidak ditemukan gangguan patologi seperti : infeksi saluran kemih, batu pada saluran kemih, pembesaran prostat, atau kelainan patologi yang lain namun memiliki gejala-gejala seperti tersebut di atas. Gejala-gejala tersebut belum tentu semuanya muncul, kadang-kadang hanya terdapat satu atau dua gejala saja. Namun hal tersebut sudah bisa dikatakan sebagai Overactive Bladder atau OAB. Terdapat beberapa cara yang digunakan untuk mempermudah diagnosis OAB antara lain dengan mengisi kuesioner yang berisi tentang gejala-gejala yang dialami selama berkemih. Kuesioner tersebut terdiri atas 8 pertanyaan sehingga dikenal dengan nama kuesioner OAB-V8. Selain itu untuk membantu menegakkan diagnosis, dokter juga akan memberikan suatu daftar yang harus diisi oleh pasien berkaitan dengan pola makan dan minum, jumlah urine selama berkemih dan frekuensinya. Daftar tersebut dikenal dengan nama Bladder Diary (Buku Harian Berkemih)

Setelah didiagnosis menderita OAB maka seseorang harus menjalani pengobatan yang memerlukan waktu cukup lama tergantung dari berat ringannya gejala. Saat ini banyak golongan obat yang digunakan untuk mengatasi problem saluran kemih namun terapi yang tepat untuk OAB adalah obat-obatan dari golongan antimuskarinik yang bekerja dengan cara menghambat rangsangan saraf parasimpatis pada kandung kemih sehingga kontraksi otot kandung kemih dapat dikurangi. Dengan demikian gejala-gejala OAB dapat dikurangi atau dihilangkan sama sekali. Obat yang saat ini terbukti efektif dari golongan antimuskarinik adalah Tolterodine. Dari berbagai penelitian terbukti bahwa setelah penggunaan lebih dari 2 minggu maka gejala-gejala OAB dapat dikurangi bahkan dihilangkan sehingga pasien menjadi terbebas dari problem yang sangat mengganggu dan dapat menurunkan kualitas hidupnya.