Anda di halaman 1dari 1

Advokasi Keperawatan

Secara tradisional, keperawatan telah berjalan dengan komitmen utamanya terhadap klien, dan akhir-akhir ini advokasi klienpun telah disahkan dalam peranan keperawatan itu sendiri. Pengertian advokasi, seperti yang sudah dibahas pada Chapter 24 adalah Perlindungan dan dukungan terhadap hak-hak orang lain. Sebagai kewajiban moral yang jelas bagi perawat, hal ini (advokasi) telah menemukan justifikasi (pembenaran) kepada pendekatan keperawatan yang didasarkan pada prinsip maupun asuhan, kedalam etika keperawatan. Dan bagi perawat yang ingin menerapkan ini dalam praktek keperawatannya diharuskan :

Memastikan bahwa loyalitas mereka terhadap institusi atau kolega yang mempekerjakan mereka tidak mempengaruhi komitmen utama mereka terhadap klien. Memberikan prioritas utama terhadap kebutuhan individual klien dibandingkan kebutuhan sosial secara umum. Secara hati-hati mengevaluasi antara otonomi (yang didasarkan pada keinginan klien) dan kesehatan klien itu sendiri.

Yang dimaksud menghormati otonomi klien, adalah perawat menghormati dan mendukung hak klien untuk membuat keputusannya sendiri. Seperti dalam Informed Consent, yang sudah dibahas pada Chapter 7. Lalu, saat meningkatkan kesehatan klien, perawat juga harus menunjukan sikap mendukung klien. Dan idealnya, kedua hal tersebut (otonomi dan kesehatan klien) harus ditingkatkan pada masing-masing interaksi perawat-klien. Walaupun, konflik kadang-kadang meningkat. Sebagai contoh, ada seorang pria tua dengan penyakit paru-paru kronis yang mengerti dengan baik tentang bahaya merokok, tetapi tetap meminta perawat untuk membelikannya sebungkus rokok. Disini perawat harus memutuskan antara menghormati otonomi klien dan menuruti permintaannya atau menolaknya demi kebaikan dan kesehatan klien. Perawat yang sensitif dalam menghargai otonomi dan meningkatkan kesehatan klien kadang akan menemui berbagai konflik dalam sikapnya itu, tapi mereka yang seperti itulah yang lebih disukai dibanding perawat yang hanya menuruti saja semua keinginan klien tanpa mempertimbangkannya.