Anda di halaman 1dari 6

Suatu Laporan Kasus: Perlekatan Kembali Fragmen Fraktur pada Gigi Insisivus Sentralis Sulung Rahang Atas

Dhingra R* Avasthi K *MDS, Reader, Department of Pedodontics & Preventive Dentistry , Manav Rachna Dental College, Faridabad, Post Graduate student, Department of Pedodontics & Preventive Dentistry , SGT Dental College, Budhera, Gurgaon, India. Contact: renukadhingra@rediffmail.com

Abstrak :
Fraktur pada gigi anterior yang disebabkan oleh trauma merupakan masalah umum yang terjadi pada anak-anak dan remaja akibat dari pola hidup mereka yang aktif dan tanpa beban. Perlekatan kembali fragmen fraktur ke gigi yang tersisa dapat memberikan estetika yang baik dan bertahan lama karena anatomi gigi asli, warna, dan tekstur permukaan tetap dipertahankan. Perlekatan kembali fragmen fraktur juga dapat mengembalikan fungsi, memberikan respon psikologis yang positif dan merupakan suatu prosedur yang relatif sederhana. Laporan kasus ini mendeskripsikan perlekatan kembali fragmen gigi insisivus sentralis sulung rahang atas pada seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dengan fraktur yang meluas hingga melibatkan trauma pada pulpa. Kata kunci : trauma, fracture fragment, reattachment

Pendahuluan Fraktur korona pada gigi anterior merupakan bentuk umum dari trauma gigi yang terutama terjadi pada anak-anak dan remaja. Mayoritas cedera gigi melibatkan gigi anterior, terutama gigi insisivus rahang atas, karena posisinya berada pada lengkung rahang; sedangkan gigi insisivus sentralis rahang bawah dan gigi insisivus lateralis rahang atas lebih jarang terlibat. Beberapa penelitian telah dilakukan oleh dokter di seluruh dunia mengenai cedera pada gigi anterior dan insiden rata-rata yang dilaporkan dalam literatur berkisar 4 hingga 46% dengan 11 hingga 30% pada pertumbuhan gigi primer dan 6 hingga 29% pada gigi permanen. Gigi yang dulu mengalami fraktur telah direstorasi menggunakan resin akrilik atau dengan restorasi keramik kompleks yang disatukan dengan logam. Perbaikan progresif saat ini di bidang kedokteran gigi adesif memungkinkan dokter untuk melekatkan kembali secara mekanik dan kimiawi fragmen gigi yang rusak ke struktur gigi yang tersisa. Laporan klinis mendeskripsikan perlekatan kembali fragmen gigi insisivus sentralis sulung rahang atas pada seorang berusia 4 tahun dengan fragmen yang luas hingga melibatkan trauma pada pulpa.

Laporan kasus: Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dilaporkan ke Department of Pedodontics and Preventive Dentistry, Sri Govind Tricentenary Dental College and Research Institute, Budhera, Gurgaon, dengan keluhan adanya gigi tambahan yang dihubungan dengan fraktur pada gigi insisivus sentralis sulung rahang atas. Riwayat mengungkapkan bahwa trauma terjadi sekitar 2-2 kesehatan tidak tersedia. Pemeriksaan klinis intra-oral awalnya tampak seperti gigi aksesori, yang muncul seperti terdapat supernumerary tooth yang berhubungan dengan gigi insisivus sentralis sulung sebelah kiri. Namun pemeriksaan lebih lanjut mengungkapkan adanya fraktur luas yang melibatkan email, dentin dan pulpa. Gigi terpotong dalam bulan yang lalu, riwayat

bidang horizontal yang diperluas ke arah subgingiva, sehingga gigi terlihat seperti adanya gigi tambahan menurut orang tua (gambar 1). Gigi menunjukkan tidak ada mobilitas. Terdapat sedikit cedera pada jaringan lunak, tetapi tidak sampai ke tulang alveolar. Pemeriksaan radiografi menampakkan bahwa tidak terdapat fraktur akar yang terkait dan tidak ada resorpsi akar (gambar 2).

Gambar 1. Foto sebelum operatif

Gambar 2. Radiografi sebelum operatif

Di bawah anestesi lokal fragmen fraktur dikeluarkan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kerusakan baik pada fragmen atau gigi yang tersisa. Adaptasi fragmen diperiksa. Fragmen fraktur disimpan di salin normal.

Rubber dam ditempatkan untuk mengisolasi gigi yang mengalami fraktur agar memastikan kontrol kelembaban. Perawatan endodontik dilakukan untuk gigi yang mengalami fraktur dan obturasi dengan metapex (gambar 3). Jalan masuk ke saluran akar ditutup dengan semen glass ionomer. Dentin ruang pulpa dan email dietsa dengan gel asam fosforik 37%, dibilas dan dilapisi dengan system adesif berbasis etanol. Adesif tersebut tidak di-light cured pada saat ini. Permukaan fragmen yang fraktur dirawat dengan gel asam fosforik 37% selama 30 detik dilanjutkan dengan pembilasan dengan lembut. Sistem adesif diaplikasikan ke permukaan yang telah dietsa. Resin komposit diaplikasikan pada fragmen dan permukaan gigi. Bagian yang fraktur kemudian ditempatkan secara akurat pada gigi. Ketika posisi aslinya telah dibangun kembali kelebihan resin dibuang dan area tersebut di-light cured selama 40 detik, memastikan tidak ada pergeseran fragmen terjadi sebelum polimerisasi resin selesai. Finishing dan polishing dilakukan. Oklusi diperiksa dan disesuaikan secara hati-hati. Daerah yang telah diperbaiki hampir tidah dapat dibedakan dan hasilnya sangat estetik (gambar 4). Pasien diberi instruksi untuk menghindari pengunaan fungsi yang berat pada gigi tersebut dan untuk mengikuti prosedur perawatan di rumah seperti biasa.

Gambar 3. Radiografi setelah operatif- obturasi dengan metapex

Gambar 4. Hasil akhir setelah perlekatan kembali fragmen gigi

Pada kunjungan tindak lanjut berikutnya pada 1 dan 2 bulan setelah operatif, gigi telah ditemukan tanpa gejala.

Diskusi: Trauma pada gigi anterior relatif umum terjadi pada anak-anak dan para remaja. Prosedur ini memberikan estetika yang optimal dan sangat ekonomis. Fraktur pada gigi mungkin insiden yang paling traumatis bagi seorang pasien muda, tetapi telah ditemukan bahwa terdapat emosional positif dan respon sosial dari pasien untuk pemeliharaan struktur alami gigi. Kemajuan yang luar biasa dari sistem adesif dan resin komposit yang telah mengembalikan fragmen gigi suatu prosedur yang tidak lagi menjadi restorasi sementara, melainkan teknik restoratif yang menawarkan prognosis yang menguntungkan. Namun, teknik ini dapat digunakan hanya ketika fragmen gigi yang utuh masih ada. Perlekatan kembali fragmen gigi harus menjadi pilihan pertama untuk merestorasi gigi yang mengalami fraktur jika suatu fragmen yang dapat digunakan masih ada. Perlekatan kembali fragmen gigi yang fraktur menawarkan pilihan restorasi yang layak untuk dokter karena mengembalikan fungsi gigi dan estetika dengan penggunaan yang sangat konservatif dan pendekatan yang hemat biaya. Teknik ini menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan restorasi komposit konvensional.

Perlekatan kembali fragmen ke gigi yang fraktur dapat memberikan estetika baik dan bertahan lama seperti bentuk gigi aslinya, warna dan tekstur permukaan dipertahankan. Hal ini dapat megembalikan fungsi, menghasilkan respon psikologis yang positif dan merupakan suatu hemat biaya yang layak dan pilihan restorasi yang mudah. Dan juga, perlekatan fragmen gigi memungkinkan restorasi gigi dengan pengorbangan yang minimal dari struktur gigi yang tersisa sehingga pendekatannya lebih konservatif. Selain itu, teknik ini kurang memakan waktu dan menyediakan pemakaian jangka panjang yang lebih dapat diprediksi daripada ketika composite langsung digunakan. Pada kasus fraktur yang rumit, dimana terapi endodontik diperlukan, ruang yang disediakan oleh kamar pulpa dapat digunakan sebagai inner reinforcement, sehingga menghindari preparasi lebih lanjut dari fraktur gigi. Namun, pada kasus tersebut, estetika dapat menjadi masalah penting seperti pulpa lebih sedikit sehingga bagian translusensi dan kecerahannya hilang. Fabrikasi suatu mouth guard dan pendidikan pasien mengenai keterbatasan perawatan dapat meningkatkan keberhasilan klinis sebagai kegagalan perlekatan kembali dapat terjadi dengan trauma baru atau kebiasaan parafungsional. Kesimpulan Dengan demikian, bersamaan dengan bahan yang tersedia saat ini dan teknik yang tepat, hasil estetika dapat dicapai dengan hasil akhir yang dapat diprediksi. Jadi, perlekatan kembali dari fragmen gigi merupakan teknik layak yang mengembalikan fungsi dan estetika dengan pendekatan yang sangat konservatif, dan harus dipertimbangkan ketika merawat pasien dengan fraktur korona pada gigi anterior, terutama pada pasien yang lebih muda.