Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN HASIL DISKUSI

BLOK 9

DIAGNOSIS DAN INTERVENSI TERAPI TINGKAT SEL DAN JARINGAN


PEMICU 1

BAHAYA RADIASI

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011

Disusun Oleh : Ketua Sekretaris Anggota : Aryani Agiza Agustian : Rosmi Alvida : 100600028 100600029 100600030 100600031 100600032 100600034 100600035 100600036 100600037 100600038 100600039 100600040 100600041 100600042 100600043 100600044 100600045 100600046 100600047 100600048 100600049 100600050 100600051 100600054 100600033 100600053

1. Febie Lulu Karina 2. Cynthia Anggraini Putri 3. Khairullah 4. Ayuni Alfiyanda Pane 5. Runny Putri Yanti 6. Adelina Rahmayani 7. Diajeng Retno Ariani 8. Ferianny Prima 9. Natasya Claudia 10. Shinta 11. Alfina Subiantoro 12. Roderick Bastian 13. Wilson 14. Joseph Dede Hartanta 15. Jessalyn 16. Franky Wielim 17. Widianto Meydhyono 18. Fajarini 19. Sunny Chailes 20. Rose Diana 21. Fajri Akbar 22. Vivi Leontara 23. Ummi Kalsum 24. Kelvin Gohan

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas rahmat dan karuniaNya,kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini berisi tentang laporan hasil diskusi yang berjudul Bahaya Radiasi. Laporan ini berisi tentang hal-hal yang harus diperhatikan oleh kita yang akan menjadi seorang dokter gigi agar mengerti secara teori bagaimana bahaya radiasi sangat penting dalam melaksanakannya praktik kedepannya. Laporan ini tidak akan selesai tanpa bimbingan dari dosen pembimbing dan begitu pula dengan fasilitator yang sudah membantu kami dalam diskusi dan memberikan kami masukan-masukan yang berarti. Untuk kesempurnaan makalah ini di masa mendatang, saran dan pendapat yang konstruktif dari pembaca sangat diharapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa selaku peserta didik serta pihak-pihak lain. Atas perhatiannya,kami ucapkan terima kasih.

Medan, 10 September 2011

Tim Penyusun

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kelainan adanya dampak radiasi ditandai dengan kecenderungan untuk mudah mengalami perdarahan, mual, pusing, yang bisa terjadi akibat kelainan pada pembuluh darah maupun kelainan pada darah. Kelainan yang terjadi bisa ditemukan pada faktor pembekuan darah atau trombosit. Dalam keadaan normal, darah terdapat di dalam pembuluh darah (arteri, kapiler dan vena). Jika terjadi perdarahan, darah keluar dari pembuluh darah tersebut, baik ke dalam maupun ke luar tubuh.

1.2 Deskripsi Topik Nama Pemicu Narasumber : Bahaya Radiasi : 1. Dr. Trelia Boel,drg.,M.Kes., Sp.RKG (K) 2. Sukimin, dr., Sp.PA 3. Prof. Burhanudin Nst, dr., Sp.PK (K) 4. Zainul Arifin, dr., Sp.A.,DAFK Moderator Tanggal Skenario : drg. Amrin Thahir : 10 September 2011 : Seorang operator radiologi dental sering tidak menjaga keselamatan kerja saat melakukan pekerjaan dilintasan radiasi. Setelah lebih dari 10 tahun bekerja sebagai operator radiografi terjadi keluhan mual, lemas, pusing. Dari hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan dokter ternyata operator Radiologi dental tersebut menderita Leukimia.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pemeriksaan diagnostik pada sistem hematologi 2.1.1 Biopsi sumsum tulang Biopsi adalah satu-satunya cara pasti untuk mengetahui apakah sel-sel leukemia ada atau tidaknya dalam sumsum tulang. Hal ini memerlukan anestesi lokal untuk membantu mengurangi rasa sakit. Dokter akan mengambil beberapa sumsum tulang dari tulang pinggul atau tulang besar, ada dua cara yang dilakukan : 1. Aspirasi sumsum tulang yaitu, menggunakan jarum berongga tebal yang diambil hanya sumsum tulang. 2. Biopsi sumsum tulang yaitu, sangat tebal untuk mengangkat sepotong kecil tulang dan sumsum tulang. Tujuan dari biopsi tulang adalah sebagai berikut: 1. Menilai selulerits sum-sum tulang 2. menentukan adanya keganasan hematology dan non hematologi (metatastik) 3. menentukan adanya fibrosis sum-sum tulang. Cara melakukan tindakan biopsi sum-sum tulang adalah sebagai berikut: 1. Klien diminta untuk buang air besar/kecil sebelum tindakan dimulai 2. Posisikan klien pada posisi tengkurap 3. Cuci tangan 4. Gunakan sarung tangan steril 5. Aseptik dan antiseptik pada daerah sekitar lokasi, yaitu krista iliaka superior dan posterior 6. Lakukan setiap tindakan secara steril 7. Pasang duk bolong 8. Anestesi dengan lidokain 2% pada krista illiaka posterior3-6 cc sampai mencapai periostinum 9. Suntikan jarum biopsi dengn cara twisting morion sambil melakukan

penekanan sampai terasa menembus tulang dan dilanjutkan sepanjang 1-2 cm

10. Melakukan gerakan empat arah (atas, bawah, kiri, dan kanan), setelah itu angkat jarumnya 11. Luka biopsi ditutup kasa steril yang dibasahi povidone iodine dan di tutup dengan kasa kering kemudian di plaster dan tidak boleh dibasahi selama 3 hari 12. Rapikan klien 13. Cuci tangan 2.1.2 Vena punksi Dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah yaitu, laboratorium akan melakukan hitungan darah lengkap untuk memeriksa jumlah sel darah putih, sel darah merah dan platelet. Leukimia menyebabkan jumlah sel darah putih sangat tinggi. Juga sering kali ditemukan rendahnya tingkat trombosit dan hemoglobin dalam sel darah merah. Tujuan mengambil darah dari vena punksi sebagai berikut :

Mengumpulkan darah, memasukan obat, memulai infus IV, atau menginjeksikan bahan kontras untuk pemeriksaan sinar X dari bagian atau sistem tubuh atau menginjeksikan substansi untuk uji nuklir. Cara melakukan pengambilan darah dari vena punksi adalah sebagai berikut: 1. Pengambilan darah dapat dilakukan sebelum dan sesudah intervensi pada jam 09.0012.00. 2. Bersihkan kulit diatas lokasi tusuk dengan alkohol 70% dan biarkan sampai kering. 3. Lokasi penusukan harus bersih dari luka. 4. Darah diambil dari vena mediana cubiti pada lipatan siku. 5. Pasang ikatan pembendungan (tourniquet) pada lengan atas dan responden diminta untuk menggempalkan dan membuka telapak tangan berulang kali agar vena jelas terlihat. 6. Lokasi penusukan didesinfeksi dengan kapas alkohol 70% dengan car berputar dari dalam keluar. 7. Spuit disiapkan dengan memeriksa jarum dan penutupnya. 8. Setelah vena mediana cubiti ditusuk dengan posisi sudut 45 dan jarum menghadap ke atas. 9. Darah dibiarkan mengalir kedalam jarum kemudian jarum diputar menghadap kebawah, agar aliran bebas responden diminta untuk membuka kepalan tangannya, kemudian darah dihisap sebanyak 10 ml. 10. Torniquet dilepas, kemudian jarum ditarik dengan tetap menekan lubang penusukan dengan kapas alkohol agar tidak sakit.

11. Tempat bekas penusukan ditekan dengan kapas alkohol sampai tidak keluar darah lagi. 12. Setelah itu bekas tusukan ditutup dengan plester. 2.1.3 Pemeriksaan lain sebagai Penunjang 1. Sitogenetik yaitu, laboratorium akan meneliti kromosom dari sampel darah, sumsum tulang atau kelenjar getah bening. Jika kromosom abnormal (kromosom Philadelphia) ditemukan pada tes akan menunjukkan jenis leukimianya. 2. Spinal tap yaitu, Dokter mengambil beberapa cairan cerebrospinal (cairan yang mengisi ruang di dalam dan sekitar otak dan sumsum belakang) dengan menggunakan jarum panjang tipis untuk mengeluarkan cairan dan memakan waktu sekitar 30 menit, setelah itu laboratorium akan memeriksa cairan untuk meneliti adanya sel-sel leukemia. 3. X-ray dada yaitu, dapat menunjukkan pembengkakan kelenjar getah bening atau tanda-tanda dari penyakit di dalam dada. 2.2 Sinar penunjang diagnostik 2.2.1 Sinar x Sinar x adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang listrik, radio, infra merah panas, cahaya, sinar gamma, sinar kosmik dan sinar ultraviolet tetapi dengan panjang gelombang yang sangat pendek. Panjang gelombang sinar X yaitu, 100,01 nm dan energinya 120 ev sampai 120 kev. Sifat-sifat sinar X : Daya tembus Sinar x dapat menembus bahan atau massa yang padat dengan daya tembus yang sangat besar seperti tulang dan gigi. Pertebaran Berkas sinar x yang melalui suatu bahan atau zat, maka berkas sinar akan menimbulkan radiasi sekunder.

Penyerapan Sinar x akan diserap oleh bahan atau zat yang sesuai dengan berat atom atau kepadatan bahan atau zat tersebut. Sebagai contoh, penyerapan sinar x dalam photo rontgen. Karna tubuh manusia terdiri bentuk atas unsur yang sangat kompleks sehingga penyerapan unsure x pada setiap bagian tubuh tidak sama. Tulang akan lebih banyak menyerap sinar x karena lebih padat dari pada lemak dan otot. Jadi pada saat bagian otot, daging atau otot yang sakit menebal, maka semakin banyak sinar x yang diserapnya. Fluoresensi Sinar x menyebabkan bahan-bahan tertentu seperti kalsium tungstat atau zink sulfide memendarkan cahaya. Ionisasi Efek primer dari sinar x apabila mengenai suatu bahan atau zat dapat menimbulkan ionisasi partikel-partikel atau zat tersebut. Efek biologi Sinar x dapat menimbulkan perubahan-perubahan biologi pada jaringan. 2.2.2 Sinar gamma Sinar gamma adalah radiasi gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang yang sangat pendek (dalam orde Angstrom) yang dipancarkan oleh inti atom yang bersifat radioaktif. Panjang gelombang sinar gamma yaitu, 10 keV/2,42 EHz/124 pm. Sifat- sifat sinar gamma: a. Tidak memiliki massa b. Memiliki daya tembus sangat kuat (dapat menembus lempeng timbel setebal 20 cm) c. Daya ionisasinya paling lemah d. Tidak bermuatan listrik, oleh karena itu tidak dpt dibelokkan oleh medan listrik

2.3 Patogenese efek radiasi rontgen terhadap neoplasma Kerusakan yang ditimbulkan akibat radiasi pada sumsum tulang menyebabkan sumsum tulang berpoliferasi membentuk sel darah putih. Sel darah putih yang dihasilkan pada sumsum tulang akan mengalami peningkatan dan kemudian terjadilah leukima.

2.4 Peraturan perundang-undangan keselamatan kerja radiasi 2.4.1 Peraturan Pemerintah nomor 11 tahun 1975 KETENTUAN UMUM Pasal 1 Yang dimaksudkan dalam Peraturan Pemerintah ini dengan: a. Dosis Radiasi adalah jumlah energi yang dipindahkan dengan jalan ionisasi kepada suatu volume tertentu atau kepada seluruh tubuh, yaitu biasanya disamakan dengan jumlah energi yang diserap oleh jaringan atau zat lainnya tiap satuan massa pada tempat pengukuran, sedangkan satuannya ialah rad, ekuivalen dengan jumlah energi yang diserap sebesar 100 erg tiap gram zat yang terkena radiasi itu. b. Nilai Batas yang Diizinkan adalah dosis radiasi yang masih dapat diterima oleh seseorang tanpa menimbulkan kelainan-kelainan genetik atau somatik yang berarti menurut tingkat kemajuan/pengetahuan pada dewasa ini, tidak termasuk untuk tujuan kedokteran. c. Petugas Proteksi Radiasi adalah petugas yang ditunjuk oleh Penguasa Instalasi Atom dan oleh Instansi yang berwenang dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan persoalan proteksi radiasi. d. Ahli Proteksi Radiasi adalah seorang yang telah mendapat pendidikan khusus dalam kesehatan e. kerja terhadap radiasi yang menurut penilaian Instansi yang berwenang dianggap mempunyai cukup keahlian dan kemampuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan proteksi radiasi dan diangkat oleh Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi sebagai Ahli Keselamatan Kerja atas usul Instansi yang berwenang. f. Pekerja Radiasi adalah setiap orang yang karena jabatannya atau tugasnya selalu berhubungan dengan medan radiasi dan oleh Instansi yang Berwenang senantiasa memperoleh pengamatan tentang dosisdosis radiasi yang diterimanya. g. Penguasa Instalasi Atom adalah Kepala/Direktur Instalasi Atom atau orang lain yang ditunjuk untuk mewakilinya. h. Kecelakaan adalah suatu kejadian di luar dugaan yang memungkinkan timbulnya bahaya radiasi, dan kontaminasi, baik bagi pekerja radiasi maupun bukan pekerja radiasi. i. Sampah Radioaktif adalah zat-zat radioaktif dan bahan-bahan serta peralatan yang telah terkena zat-zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena operasi-operasi nuklir dan tidak dapat dipergunakan lagi.

j. Instansi yang Berwenang adalah Badan Tenaga Atom Nasional PETUGAS DAN AHLI PROTEKSI RADIASI Pasal 4 Setiap Instalasi Atom harus mempunyai sekurang-kurangnya seorang Petugas Proteksi Radiasi. Pasal 5 (1) Setiap Penguasa Instalasi Atom, dengan persetujuan Instansi Yang Berwenang, diwajibkan menunjuk dirinya sendiri atau orang lain dibawahnya selaku Petugas Proteksi Radiasi. (2) Petugas Proteksi Radiasi bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berhubungan dengan keselamatan setiap orang dalam lingkungan kekuasaannya kepada Penguasa Instalasi Atom. Pasal 6 Petugas Proteksi Radiasi berkewajiban menyusun Pedoman Kerja, Instruksi dan lain-lain yang berlaku dalam lingkungan Instalasi atom yang bersangkutan. Pasal 7 (3) Untuk mengawasi ditaatinya peraturan-peraturan keselamatan kerja terhadap radiasi, perlu ditunjuk Ahli Proteksi Radiasi oleh Instansi Yang Berwenang. (4) Ahli Proteksi Radiasi diwajibkan memberikan laporan kepada Instansi Yang Berwenang dan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi secara berkala.

2.4.2 Peraturan Pemerintah nomor 63 tahun 2000 Ketentuan umum Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Keselamatan dan kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion yang selanjutnya disebut keselamatan radiasi adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan kondisi yang sedemikian agar efek radiasi pengion terhadap manusia dan lingkungan hidup tidak melampaui nilai batas yang ditentukan.

2. Tenaga nuklir adalah tenaga dalam bentuk apapun yang dibebaskan dalam proses transformasi inti, termasuk tenaga yang berasal dari sumber radiasi pengion. 3. Instalasi adalah instalasi zat radioaktif dan atau instalasi sumber radiasipengion. 4. Radiasi pengion adalah gelombang elektromagnetik dan partikel yang karena energi yang dimilikinya mampu mengionisasi media yang dilaluinya. 5. Nilai batas dosis adalah dosis terbesar yang diizinkan oleh Badan Pengawas yang dapat diterima oleh pekerja radiasi dan anggota masyarakat dalam jangka waktu tertentu tanpa menimbulkan efek genetik dan somatik yang berarti akibat pemanfaatan tenaga nuklir. 6. Dosis radiasi adalah jumlah radiasi yang terdapat dalam medan radiasi atau jumlah energi radiasi yang diserap atau diterima oleh materi yang dilaluinya. 7. Catatan dosis adalah catatan tentang nilai dosis yang diterima oleh pekerja radiasi selama bekerja di medan radiasi. 8. Pengusaha instalasi adalah pimpinan instalasi atau orang lain yang ditunjuk untuk mewakilinya dan bertanggung jawab pada instalasinya. 9. Petugas proteksi radiasi adalah petugas yang ditunjuk oleh pengusaha instalasi dan oleh Badan Pengawas dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan yang berhubungan dengan proteksi radiasi. 10. Pekerja radiasi adalah setiap orang yang bekerja di instalasi nuklir atau instalasi radiasi pengion yang diperkirakan menerima dosis radiasi tahunan melebihi dosis untuk masyarakat umum. 11. Kecelakaan radiasi adalah kejadian yang tidak direncanakan termasuk kesalahan operasi, kerusakan ataupun kegagalan fungsi alat atau kejadian lain yang menjurus timbulnya dampak radiasi, kondisi paparan radiasi dan atau kontaminasi yang melampaui batas keselamatan. 12. Badan Pelaksana adalah badan yang bertugas melaksanakan pemanfaatan tenaga nuklir. 13. Badan Pengawas adalah badan yang bertugas melaksanakan pengawasan terhadap segala kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir. Sistem manajemen keselamatan radiasi Bagian Pertama Umum Pasal 7

Pengusaha instalasi harus menerapkan sistem manajemen keselamatan radiasi, yang meliputi organisasi proteksi radiasi, pemantauan dosis radiasi dan radioaktivitas, peralatan proteksi radiasi, pemeriksaan kesehatan, penyimpanan dokumen, dan jaminan kualitas, serta pendidikan dan pelatihan. Bagian Kedua Organisasi Proteksi Radiasi Pasal 8 Pengusaha instalasi harus memiliki organisasi proteksi radiasi yang sekurang-kurangnya terdiri atas unsur pengusaha instalasi, petugas proteksi radiasi dan pekerja radiasi. Pasal 9 (1) Setiap pengusaha instalasi yang memanfaatkan tenaga nuklir harus mempunyai sekurangkurangnya 1 (satu) orang petugas proteksi radiasi. (2) Pengusaha instalasi wajib menunjuk orang lain atau dirinya sendiri sebagai petugas proteksi radiasi. (3) Persyaratan petugas proteksi radiasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Badan Pengawas. Bagian Keenam Penyimpanan Dokumentasi Pasal 25 Pengusaha instalasi harus tetap menyimpan dokumentasi yang memuat catatan dosis, hasil pemantauan daerah kerja, hasil pemantauan lingkungan dan kartu kesehatan pekerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, Pasal 14, Pasal 15 dan Pasal 22 selama 30 (tiga puluh) tahun terhitung sejak pekerja radiasi berhenti bekerja.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Bahaya radiasi yang terjadi pada pasien di kasus skenario akibat terjadinya kesalahan dalam proses keselamatan yang masih diperlukannya proteksi yang lengkap dan penyuluhan yang lebih tepat lagi. Apabila kita memiliki profesi sebagai operator pada bagian radiologi diharapkan perlunya pengecekkan berkala tentang kesehatan yang berkala. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk mendiagnosis adalah dari laboratorium patalogi anatomi dengan melakukan biopsi pada sumsum tulang belakang pasien yaitu dengan Fine Needle Biopsy Aspiraton (FNAB) dan patologi klinis dengan memeriksa darah lengkap pasien. Penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan dilakukannya khemoterapi untuk menghilangkan dampak radiasi yang terjadi.

3.2 Saran dan Kritik Saran dari kami adalah diharapkan pada pasien untuk bisa melakukan proses proteksi dengan tepat dan benar. Proteksi yang dilakukan adalah untuk bisa menjaga keselamatan pasien yang baik dan benar. Apabila terpapar dengan radiasi yang sudah terlalu lama, maka diperlukan pemeriksaan dini sehingga tidak terjadi tingkat keparahan seperti pada kasus ini.

DAFTAR PUSTAKA
1. Trelia B. Dental Rdiografi Prinsip dan Teknik. Medan: USU press, 2010: 3-5. 2. Cancer help. Gejala Kanker Darah. www.cancerhelps.com/gejala-kanker-darah.htmindonesia. (10 September 2011). 3. Evawan A. Teknik Pengambilan Darah. www.damandiri.or.id/file/evawanaritonagipblampiran.pdf (10 September 2011). 4. Ni Putu P D. Biopsi Sumsum Tulang. www.scribd.com/doc/26152606/Biopsi-SumsumTulang (10 September 2011). 5. Pamungkas R. Sifat Sinar Gamma. http://pamungkasrestu420.blogspot.com/2011/05/sifat-sinar-gamma.html. (16 September 2011). 6. Produk Hukum. http://storange.jak.stik.ac.id/ProdukHukum/Ristek/PP%20632000%20rADIASI-1.PDF (16 September 2011).