Anda di halaman 1dari 19

Laporan Praktikum m.

k Dasar-dasar Akuakultur

Hari, Tanggal : Jumat, 31 Desember 2010 Asisten : 1. Prana Mahardika 2. Heru Aen Priatna 3. Hendar Kadarusman 4. Titi Nur Cahyati 5. Upmal Deswira

PEMBESARAN IKAN LELE Clarias sp.

Disusun oleh : Piepiel Sariel Setya C24090034

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERAIRAN BOGOR 2010

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Ikan lele merupakan ikan konsumsi yang menjadi komoditas utama di beberapa daerah di Indonesia. Selain dagingnya yang cocok dengan berbagai macam masakan, harga ikan lele juga tidak terlalu mahal. Karena biaya pemeliharaan yang tidak terlalu tinggi dan teknis operasionalnya pun tergolong mudah, maka banyak orang yang menjadikan pemeliharaan ikan lele sebagai sumber mata pencaharian. Namun hanya kriteria atau ukuran konsumsi tertentu yang dapat dijual di pasaran. Latar belakang pentingnya dilakukan praktikum pembesaran ikan lele adalah melatih mahasiswa untuk menangani usaha pembesaran ikan lele agar mencapai ukuran konsumsi yang diinginkan sebanyak mungkin sehingga mendapat profit semaksimal mungkin. 1.2 Tujuan Seperti yang telah ditarakan pada latar belakang, hanya kriteria ukuran dan bobot konsumsi tertentu yang diinginkan oleh penjual di pasaran. Apabila ukuran dan bobotnya melebihi atau kurang dari kriteria yang diinginkan, maka harganya di pasaran dapat berbeda jauh. Praktikum ini bertujuan untuk melatih mahasiswa dalam melakukan usaha pemeliharaan ikan lele agar menghasilkan ikan yang memenuhi kriteria ukuran dan bobot konsumsi tersebut dan menghindari adanya ikan yang ukuran dan bobotnya melebihi atau kurang dari kriteria tersebut.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Biologi Ikan Lele Ikan lele adalah salah satu ikan yang berasal dari Taiwan dan pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1985 melalui sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Lele (Clarias sp.) merupakan salah satu dari berbagai jenis ikan yang sudah banyak dibudidayakan di Indonesia. Dalam habitatnya, ikan lele sangat fleksibel, dapat dibudidaya dengan padat penebaran tinggi, pertumbuhannya sangat pesat, dan dapat hidup pada lingkungan dengan kadar oksigen rendah (Suryanto, 1986). Ikan lele merupakan ikan yang hidup di perairan tawar dan habitatnya di alam adalah di perairan tergenang yang relatif dangkal, ada pelindung atau tempat yang agak gelap dan lebih menyukai substrat berlumpur. Mangsanya berupa larva serangga, cacing tanah, kerang-kerangan, ikan-ikan kecil, tumbuhan air dan debris (Rahman, 1989). Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut, ikan ini tergolong ke dalam kingdom Animalia, filum Vertebrata, kelas Pisces, subkelas Teleostei, ordo Ostariophysi, subordo Siluroidea, famili Clariidae, dan genus Clarias (Saanin, 1984). Ikan lele memiliki beberapa jenis spesies, sehingga untuk spesiesnya hanya dituliskan Clarias sp. Morfologi ikan lele meliputi tubuhnya yang memanjang dan berkulit licin. Ikan ini tidak memiliki sisik, melainkan seluruh tubuhnya dilapisi lendir yang berguna untuk membantu pergerakannya di dalam air yang berlumpur. Bentuk kepalanya pipih dan memiliki tulang keras seperti batok yang berbentuk segitiga. Di sekitar mulutnya terdapat empat pasang kumis yang memanjang sebagai alat peraba, dan memiliki alat pernafasan tambahan yang disebut arborescent. Bagian depan badannya terdapat penampang melintang yang membulat, sedang bagian tengah dan belakang berbentuk pipih (Astuti, 2003). Ikan lele mempunyai jumlah sirip punggung D.68-79, sirip dada P.9-10, sirip perut V.5-6, sirip anal A.50-60 dan jumlah sungut sebanyak 4 pasang, 1 pasang diantaranya lebih panjang dan besar. Panjang baku 5-6 kali tinggi badan dan perbandingan antara panjang baku terhadap panjang kepala adalah 1: 3-4. Penglihatan lele kurang berfungsi dengan baik, akan tetapi ikan lele memiliki dua buah alat olfaktori yang terletak berdekatan dengan sungut hidung untuk mengenali mangsanya melalui perabaan dan penciuman. Jari-jari pertama sirip pektoralnya sangat kuat dan bergerigi pada kedua sisinya serta kasar. Jari-jari sirip pertama itu mengandung bisa dan berfungsi sebagai senjata serta alat penggerak pada saat ikan lele berada di permukaan (Rahardjo dan Muniarti, 1984). Kualitas air yang dianggap baik untuk kehidupan lele adalah suhu yang berkisar antara 2030oC, akan tetapi suhu optimalnya adalah 27oC, kandungan oksigen terlarut > 3 ppm, pH 6.5-8 dan NH3 sebesar 0.05 ppm (Khairuman dan Amri, 2002).

2.2

Kelangsungan Hidup Kelangsungan hidup adalah peluang hidup suatu individu pada suatu waktu tertentu karena ada faktor yang menunjang dan mempengaruhi peluang tersebut. Beberapa faktor tersebut diantaranya adalah padat penebaran, pakan, hama dan penyakit, dan kualitas air yang meliputi suhu, pH, dan kandungan zatzat terlarut (Effendi, 2004). Ikan lele memang dapat bertahan pada tempat yang sempit dengan padat tebar yang relatif tinggi, namun dalam batas tertentu. Padat tebar yang terlampau tinggi dapat menjadi faktor yang menyulitkan mengingat sifat ikan lele yang omnivora dan kanibalisme (cenderung memakan sesamanya). Kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan harus memenuhi kebutuhan nutrisi dan disesuaikan dengan hasil sampling yang dilakukan secara berkala demi mencapai ukuran konsumsi yang diinginkan dan mencegah terjadinya oversize (Yuniarti, 2006). Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang menggangu kehidupan lele baik secara langsung maupun tidak. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain ular, katak, burung, serangga, ikan gabus, dan belut. Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang adalah katak dan kucing. Penyakit yang menyerang ikan lele disebabkan oleh organism tingkat rendah seperti virus, jamur, bakteri dan protozoa berukuran kecil (Satya, 2005). Pengendalian hama dan penyakit ini dilakukan agar peluang hidup ikan semakin besar sehingga hasil produksi mencapai angka maksimal. 2.3 Pertumbuhan Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan berat nitrogen maupun protein, atau tingkat energi pada periode waktu tertentu dan tergantung pada obyek yang diteliti. Adapun faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan adalah sifat genetika, kondisi fisiologis, dan kondisi lingkungan diantaranya kandungan bahan kimia dalam air dan tanah, suhu, hasil ekskresi, kadar oksigen terlarut, dan ketersediaan pakan (Rustidja, 2004). Sifat genetika dan kondisi fisiologis merupakan faktor pertumbuhan internal, sedangkan kondisi lingkungan merupakan faktor eksternal. Sebagian besar kondisi lingkungan ini dipengaruhi oleh tingkat kepadatan ikan di kolam. Jika tingkat kepadatan tinggi, maka pemenuhan pakan dan oksigen bagi ikan akan menurun, sedangkan kandungan hasil ekskresi akan meningkat. Hal tersebut dapat menjadi hal yang merugikan mengingat usaha budidaya ikan lele dilakukan dengan tingkat kepadatan yang relatif tinggi.

2.4

Pakan Pakan adalah hal yang paling penting dalam pembudidayaan ikan, karena diperlukan untuk pertumbuhan dan aktivitas. Pakan terbagi menjadi pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami merupakan jasad-jasad hidup yang dibudidayakan, dan sangat penting bagi benih yang belum dapat memakan pakan buatan karena ukurannya yang sesuai dengan bukaan mulutnya (Rustidja, 2004). Frekuensi pemberian pakan merupakan jumlah pemberian pakan per satuan waktu. Pada praktikum pembesaran ikan lele, pakan diberikan tiga kali yaitu pada pagi, siang, dan malam hari. Banyaknya pakan yang diberikan dihitung berdasarkan FR atau Feeding Rate. Konversi pakan merupakan banyaknya pakan yang dibutuhkan untuk menaikan bobot sebesar satu kilogram. Semakin kecil nilai konversi pakan, semakin baik dalam kegiatan budidaya karena itu berarti pakan yang diberikan semakin efisien (Rustidja, 2004).

III. BAHAN DAN METODE


3.1 Waktu dan Tempat Praktikum pembesaran ikan lele dimulai pada tanggal 10 Oktober 2010 sampai 2 Desember 2010, berlangsung di kolam Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Adapun pemantauan pertumbuhan atau sampling dilakukan setiap hari Kamis dari pukul 15.00 hingga 18.00 WIB. 3.2 Alat dan Bahan Bahan yang menjadi obyek praktikum pembesaran ini adalah benih ikan lele dan pakan buatan merek Sinta berupa pelet. Alat yang digunakan adalah kolam air tenang berukuran 20m x 10m x 1m yang terbuat dari beton. Alat yang digunakan untuk proses sampling adalah timbangan, ember, penggaris, anco, dan jala. 3.3 3.3.1 Prosedur Kerja Persiapan wadah Persiapan wadah ini dilakukan untuk menyiapkan tempat pemeliharaan yang sesuai dan optimal untuk pertumbuhan ikan. Proses ini dilakukan dengan pemberian kapur untuk menaikan pH yang menurun akibat pengendapan sisa pakan yang tidak termakan dan untuk mematikan bakteri patogen, kemudian diberi pupuk alami untuk menaikan produktivitas fitoplankton yang akan dimanfaatkan sebagai pakan alami. 3.3.2 Penebaran benih Benih yang digunakan adalah benih hasil budidaya Departemen Budidaya Perairan di Kolam Percobaan Babakan. Penebaran ini bertujuan untuk menempatkan ikan pada wadah yang telah disiapkan sebelumnya dengan padat penebaran tertentu. Penebaran dilakukan pada pagi hari untuk menghindari suhu yang terlalu panas. Sebelum dimasukan ke wadah, benih ikan diaklimatisasi terlebih dahulu dengan memasukan air kolam sedikit demi sedikit ke wadah ikan sementara hingga ikan terbiasa, baru kemudian ikan ditebar di kolam wadah besar. Pada kolam MSP, benih yang ditebar sebanyak 7680 ekor dengan total biomassa 24 kg. 3.3.3 Sampling Sampling atau pemantauan pertumbuhan ikan lele dilakukan setiap hari Kamis pada saat praktikum Dasar-Dasar Akuakultur dari pukul 15.00 hingga 18.00 WIB. Pemantauan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ikan, tingkat konversi pakan, dan jumlah pakan yang harus diberikan pada minggu selanjutnya. Pada kegiatan ini, 30 ekor ikan diambil untuk diukur panjang tubuhnya, kemudian ikan diukur bobot rata-ratanya dengan menghitung ada berapa ekor ikan dalam satu kilogram. Terhitung sejak penebaran benih hingga pemanenan, tercatat dilakukan tujuh kali sampling.

3.3.4

Pemberian pakan Selain pakan alami, ikan juga diberi pakan buatan berupa pelet untuk membantu pertumbuhannya. Pakan yang diberikan setiap hari ditentukan berdasarkan Feeding Rate (FR) dikalikan total biomassa ikan. FR ini berkisar antara 5-8%. Frekuensi pemberian pakan setiap harinya adalah tiga kali, yaitu pada pagi hari sekitar pukul 06.00WIB, siang hari sekitar pukul 12.00 WIB, dan malam hari sekitar pukul 19.00 WIB. Karena ikan lele merupakan hewan yang aktif pada malam hari atau nocturnal, maka proporsi pemberian pakan dibagi sehingga lebih banyak pada malam hari, yaitu pagi hari 30%, siang hari 30%, dan malam hari 40%. Selain pemberian pakan, pada pagi hari suhu dan pH kolam juga diukur sebagai bagian dari pengelolaan kualitas air, 3.3.5 Pemanenan Pemanenan dilakukan pada tanggal 2 Desember 2010 setelah dibesarkan selama 53 hari terhitung sejak penebaran pada tanggal 10 Oktober 2010. Ikan yang dipanen adalah ikan yang telah mencapai size 8, yang artinya terdapat 8 ekor ikan dalam satu kilogram, atau bobot rata-rata mencapai 125 gram per ekor. Proses pemanenan dilakukan dengan air kolam dikeringkan terlebih dahulu dengan menggunakan pompa agar ikan lebih mudah dikumpulkan. Kemudian ikan disortir di atas terpal untuk memisahkan ikan yang memenuhi persyaratan ukuran konsumsi dengan ikan yang masih insize atau oversize. Setelah itu ikan yang memenuhi persyaratan dimasukan ke dalam wadah tertutup untuk mengurangi resiko selama pengangkutan.

3.4 3.4.1

Analisa Data Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup atau Survival Rate (SR) adalah peluang hidup suatu individu yang dipengaruhi faktor-faktor tertentu. Tingkat kelangsungan hidup ini dihitung berdasarkan rumus :
SR=NtNox 100%

Keterangan : SR = Tingkat Kelangsungan Hidup (%) Nt = Jumlah ikan yang hidup di akhir pemeliharaan (ekor) No = Jumlah ikan yang hidup di awal pemeliharaan (ekor) 3.4.2 Laju Pertumbuhan Harian Laju pertumbuhan harian atau Specific Grow Rate (SGR) adalah persentase pertumbuhan harian ikan dimana bobot rata-rata ikan di akhir dibagi dengan bobot rata-rata ikan di awal pemeliharaan dan kemudian diakarpangkatkan dengan waktu pemeliharaan ikan lele. Rumusnya sebagai berikut :
SGR= tWtWo- 1 x 100%

Keterangan : SGR Wt Wo t 3.4.3

= Laju Pertumbuhan Harian (%) = Bobot rata-rata ikan di akhir pemeliharaan (gram/ekor) = Bobot rata-rata ikan di awal pemeliharaan (gram/ekor) = Lama waktu pemeliharaan ikan (hari)

Pertumbuhan Bobot Harian Pertumbuhan bobot harian merupakan perhitungan bobot pada saat t dikurangi bobot pada saat o kemudian dibagi dengan waktu pemeliharaan.
GR = Wt Wo t

Keterangan : GR Wt Wo t 3.4.4

= Pertumbuhan mutlak (gram/ekor/hari) = Bobot rata-rata akhir (gram/ekor) = Bobot rata-rata awal (gram/ekor) = waktu pemeliharaan (hari)

Pertumbuhan Panjang Harian Pertumbuhan panjang harian merupakan selisih antara panjang ikan pada saat t dengan panjang pada saat o. P = Pt Po Keterangan : P = Pertumbuhan panjang (cm) Pt = Panjang pada saat t (cm) Po = Panjang pada saat o (cm) 3.4.5 Konversi Pakan Konversi pakan atau Food Conversion Ratio (FCR) adalah nilai yang menunjukkan banyaknya pakan yang dibutuhkan untuk menaikan satu kilogram
8

daging ikan. Semakin besar nilai FCR, semakin banyak pakan yang dibutuhkan dan biaya semakin besar, sehingga semakin tidak efisien. Rumusnya adalah sebagai berikut: FCR=
Pa Bt Bo + Bm

Keterangan : FCR Pa Bt Bo Bm

= Nilai konversi pakan = Jumlah pakan yang dihabiskan (kg) = Biomassa ikan pada hari ke-t (kg) = Biomassa ikan pada awal pemeliharaan(kg) = Biomassa ikan yang mati (kg)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 4.1.1 Hasil Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup ikan ditunjukkan oleh grafik dibawah ini, dimana terlihat tingkat kelangsungan hidup ikan lele yang paling tinggi terdapat pada kolam PSP dengan SR 95.88%, kemudian diikuti kolam THP dengan SR 90.75%, MSP dengan SR 79.19%, BDP dengan SR 65.51%, dan terakhir adalah ITK dengan SR 53.12%.

Gambar 1. Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Lele Clarias sp. 4.1.2 Laju Pertumbuhan Harian Laju pertumbuhan di kolam MSP mengalami perubahan tiap sampling dan ditunjukkan pada grafik di bawah ini. Pada hari ke-11, laju pertumbuhan mencapai 4.2%, kemudian sampling berikutnya pada hari ke-18 laju pertumbuhan mencapai 6.1%, pada hari ke-25 laju pertumbuhan mencapai 6.9%, lalu pada hari ke-32 laju pertumbuhan turun menjadi 6.4%, pada hari ke-39 laju pertumbuhan 6.5%, dan pada hari ke-46 laju pertumbuhan 6.4%. Terlihat bahwa laju pertumbuhan paling pesat terdapat pada dua dan tiga minggu pertama setelah penebaran.

Gambar 2. Laju Pertumbuhan Harian Ikan Lele (Clarias sp.)

10

4.1.3

Pertumbuhan Bobot Harian Grafik di bawah ini menunjukkan hubungan pertumbuhan bobot dengan waktu pemeliharaan. Terlihat pada grafik tersebut bahwa pertumbuhan bobot ikan lele di kolam departemen MSP relatif stabil antara 0.1 - 1.1 gram/ekor/hari.

Gambar 3. Pertumbuhan Bobot Harian Ikan Lele (Clarias sp.) 4.1.4 Pertumbuhan Panjang Harian Grafik di bawah ini menunjukkan hubungan pertumbuhan panjang dengan waktu pemeliharaan. Terlihat pada grafik tersebut bahwa pertumbuhan panjang ikan lele di kolam departemen MSP mempunyai range antara 0.03-0.24 cm/ekor/hari.

Gambar 4. Pertumbuhan Panjang Harian Ikan Lele (Clarias sp.)

11

4.1.5

Konversi Pakan Grafik di bawah menunjukkan nilai FCR atau nilai konversi pakan dari tiap departemen. Nilai FCR terbesar adalah ITK sebesar 3.05, kemudian THP 1.66, PSP 1.44, MSP 1.38 dan nilai FCR paling rendah adalah BDP sebesar 1.21.

Gambar 5. Konversi Pakan Ikan Lele (Clarias sp.) 4.1.6 Hasil Panen Tabel hasil panen di bawah menunjukkan jumlah ikan lele dengan ukuran konsumsi yang dipanen. Hasil paling banyak didapatkan oleh THP yaitu sebanyak 477 kg, kemudian PSP sebanyak 400 kg, BDP sebanyak 338 kg, ITK sebanyak 195 kg, dan MSP sebanyak 172 kg. Tabel 1. Hasil Panen Ikan Lele (Clarias sp.) HASIL PANEN DEPARTEME BS SORTIRAN DAGING N (Kg (Ekor) (Kg) ) BDP 340 338 31 MSP 348 172 3 THP 118 477 155 PSP 205 400 43 ITK 180 195 27

TOTA L 709 523 750 648 402

12

4.1.7

Kualitas Air Tabel di bawah ini menunjukkan kualitas air berdasarkan parameter fisika dan kimia dari setiap departemen. Adapun parameter yang digunakan untuk pengukuran kualitas air antara lain suhu dan pH. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa kisaran suhu pada pembesaran ikan lele 26C-31C dan pH sebesar 5-8. Tabel 2. Kualitas Air DEPARTEMEN BDP 26-31 5-7 MSP 26-30 6-7 THP 28-29 6 PSP 26-28 6-7 ITK 26-28 6-8

PARAMETER SUHU (oC) pH

13

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil panen tiap departemen, MSP adalah departemen dengan hasil panen BS paling sedikit, yaitu hanya tiga kilogram. Dari jumlah yang ditebar sebanyak 24 kilogram, didapat hasil sebanyak 172 kilogram. Nilai FCR pun tidak terlalu besar, sehingga dapat disimpulkan bahwa MSP telah mampu menangani usaha pembesaran ikan lele hingga mencapai ukuran dan bobot konsumsi. 5.2 Saran Salah satu kendala dalam pelaksanaan praktikum pembesaran lele ini adalah keterbatasan jumlah peralatan, seperti jala, sehingga setiap departemen harus bergantian menggunakannya. Tambah lagi kondisi bebrapa peralatan tersebut sudah mulai rusak. Untuk praktikum selanjutnya sebaiknya jumlah peralatan ditambah, atau dengan memperbaiki peralatan yang ada agar dapat menghemat waktu sampling.

14

DAFTAR PUSTAKA

15

Astuti, Asrini Budi. 2003. Interaksi Pestisida dan Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.). Skripsi. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta. Khairuman dan Amri, Khairul, 2002. Budidaya Lele Dumbo secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta. Rahardjo, MF dan Muniarti. 1984. Anatomi beberapa jenis Ikan ekonomis penting di Indonesia. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Rahman, A. K. A. 1989. Clarias batrachus (Philippine catfish). http://www.fishbase.org/clarias/clarias-batrachus [26 Desember 2010] Rustidja. 2004. Pembenihan Ikan-Ikan Tropis. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang. Saanin, 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Volume I dan II. Bina Rupa Aksara. Jakarta Suyanto, S.R. 1986. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya. Jakarta. 88 hal.

16

DOKUMENTASI KEGIATAN

Gambar 6. Sampling ketujuh menggunakan jala besar.

Gambar 7. Saat pemanenan. Ikan diambil sedikit demi sedikit dengan serokan

Gambar 8. Air dipompa keluar dari kolam dan dialirkan ke selokan.

17

Gambar 9. Ikan size 8 yang telah siap dipanen.

Gambar 10. Proses pemisahan antara ikan yang telah mencapai ukuran yang diinginkan dengan yang melebihi atau kurang dari ukuran tersebut.

Gambar 11. Ikan dimasukkan ke ember besar untuk kemudian disortir.

18

Gambar 12. Ikan diangkut dari kolam ke tempat penyortiran.

Gambar 13. Ikan hasil sortiran yang siap dibawa untul dijual.

Gambar 14. Ikan yang ukurannya kurang atau lebih dari ukuran konsumsi disimpan di jala sementara.

19