Anda di halaman 1dari 13

A.

CHILDBEARING FAMILY Periode childbearing adalah waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu dan

seluruh keluarga. Orang tua dan saudara sekandung harus beradaptasi terhadap perubahan struktur karena adanya anggota baru dalam keluarga, yaitu bayi. Dengan kehadiran bayi maka sistem dalam keluarga akan berubah dan pola interaksi dalam keluarga harus dikembangkan (May, 1994). Tahap ini dimulai dengan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai usia 30 bulan. Transisi ke masa menjadi orang tua adalah salah satu kunci dalam siklus kehidupan keluarga. Dengan kelahiran anak pertama, keluarga menjadi kelompok trio, membuat sistem permanen pada keluarga untuk pertama kalainya ( McGoldrick, Heiman dan Carter, 1991 ). Walaupun menjadi orang tua menunjukkan tujuan yang sangat penting bagi sebagian besar pasangan, namun sebagian besar menemukan bahwa menjadi orang tua adalah masa transisi kehidupan yang penuh stress. Sebuah periode ketidakseimbangan tidak dapat dihindari pada saat keluarga berpindah dari satu tahap ke tahap lainnya ( Martell dan Imle, 1996). Seringkali, ketidakseimbangan ini memerlukan begitu banyak perubahan yang menurut beberapa peneliti dapat menyebabkan krisis keluarga ( Clark, 1996; Hobs dan Cole 1976; LeMasters 1957), menyebabkan perasaan tidak memadai menjadi orang tua dan menyebabkan gangguan dalam pernikahan. Miller dan Myers-Walls (1983), berdasarkan tinjauan penelitian mereka tentang orang tua baru, merangkum stressor spesifik dalam peran menjadi orang tua yang diidentifikasi di dalam literature. Stressor yang paling sering disebutkan tampaknya adalah kehilangan kebebasan personal akibat tanggung jawab menjadi orang tua; selain itu, kurangnya waktu dan hubungan persahabatan dalam pernikahan juga sering teridentifikaasi. Penyesuaian terhadap pernikahan biasanya tidak sesulit seperti penyesuaian terhadap keadaan menjadi orang tua. Walaupun merupakan pengalaman yang paling berarti dan paling memuaskan bagi sebagian besar orang tua., hadirnya bayi membutuhkan perubahan yang tiba-tiba sampai menuntut peran yang tidak henti-hentinya. Biasanya, hal ini pada awalnya karena perasaan tidak memadai sulit dari orang tua yang baru; kurangnya bantuan dari keluarga dan teman; saran

yang bertentangan dari teman, keluarga dan professional pelayanan kesehatan yang selama ini membantu; dan sering terbangunnya bayi di waktu malam yanag biasanya berlanjut sampai sekitara tiga sampai empat minggu. Dengan demikian, ibu menjadi lelah secara psikologi dn fisiologi. Selain mengasuh bayinya ibu sering merasa terbebani oleh tugas rumah tangga dan mungkin juga oleh tanggung jawab pekerjaan. Tugas ini terutama akan dirasa sulit jika ibu memiliki penyakit atau melalui tahap persalinan dan kelahiran yang panjang dan sulit atau melalui seksio sesar. Dua factor terpenting ikut menyebabkan kesulitan dalam mendapatkan peran menjadi orang tua. Sebgian besar masyarakat saat ini tidak dipersiapkana untuk menjadi orang tua, dan banyak mitos yang merusak dan tidak masuk akal mewarnai pengasuhan anak di dalam masyarakaat kita ( Szarfan, 1996 ). Menjadi orang tua adalah satu-satunya peran utama yang hanya sedikit dipersiapkan, dan kesulitan dalam transisi peran berpengaruh buruk pada kualitas hubungan pernikahan dan hubungan orang tua-anak. Hadirnya bayi baru ke dalam rumah menciptakan perubahan bagi setiap anggota keluarga dan bagi setiap perangkat hubungan. Selain bayi yang baru dilahirkan, seorang ibu, ayah, dan kakek/ nenek juga dilahirkan. Istri saat ini harus berhubungan dengan suami dan memperlakukannya sebagai seorang pasangan dan seorang ayah dan sebalikya. Dan dalam keluarga yang telah memiliki anak, dampak kehadiran bayi baru bagi seorang kakak sama pentingnya dengan dampak yang dialami oleh orang tua baru. Perubahan yang dramatik dalam masyarakat Amerika sejaka tahun 1950-an juga berpengaruh pada orang tua baru. Besarnya proporsi wanita yang bekerja di luar rumah dan memiliki karier, meningkatnya angka perceraian dan ketidakstabilan pernikahan, sering menggunakan alat kotrasepsi dan melakukan aborsi, serta besarnya peningkatan biaya dalam memiliki dan mengasuh anak adalah semua factor yang mempengaruhi jalur dalam melewati tahap siklus kehidupan pengasuhan anak pertamaa kali ( Bradt, 1988; Dobson, 2001; Miller daan Myers-Walls, 1983).

B.

PERKEMBANGAN KELUARGA CHILDBEARING Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama) a. Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan : b. Persiapan menjadi orang tua c. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan sexual dan kegiatan keluarga d. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan

C.

TUGAS PERKEMBANGAN KELUARGA Setelah hadirnya anak pertama, keluarga memiliki beberapa tugas

perkembangan penting. Suami, istri dan anak harus mempelajari peran barunya, sementara unit keluarga inti mengalami pengembangan fungsi dan tanggung jawab. Hal ini melibatakan pertautan yang simultan dari tugas perkembangan setiap anggota keluarga dan keluarga sebagai keseluruhan ( Duvall dan Miller, 1985 ). Kelahiran anak membuat perubahan radikal dalam pengorganisasian keluarga. Fungsi pasangan harus berbeda untuk memenuhi tuntutan yang baru dalam perawatan dan pengasuhan bayi. Bagaimana tanggung jawab ini dipenuhi sangat bervariasi sesuai dengan posisi sosiokultural pasangan. Walaupun sebagian besar orang tua terus melanjutkan untuk memikul peran tradisional atau pembagian tanggung jawab, dalam masyarakat kontemporer, umum bagi ibu dan ayah untuk berbagi dalam tugas perawatan bayi ( Tiller, 1995). Hubungan dengan orang tua dan pernikahan dalam keluarga besar juga harus disejajarkan kembali selama tahap ini. Peran baru perlu ditetapkan dengan mengahargai peran menjadi kakek/ nenek dan hubungan antara orang tua dan kakek / nenek ( American Association of Retired Person, 2000; Bradt, 1998). Perubahan peran dan adaptasi terhadap tanggung jawab orang tua yang baru sering kali lebih cepat dipelajari oleh ibu dibandingkan ayah. Anak lebih cepat dirasakan sebagai sebuah kenyataan bagi calon ibu dibandingkan bagi ayah, yang

biasanya mulai merasa menjadi seorang ayah pada saat anaknya lahir, kurang lebih lama dari itu ( Minuchin, 1974). Ibu dan ayah menumbuhkan peran mereka menjadi orang tua sebagai respons terhadap perubahan tuntutan dan tugas perkembangan yang kontinu pada anak remaja yang sedang berkembang keluarga secara keseluruhan dan mereka sendiri. Menurut Friedman (1957), orang tua melalui lima tahap perkembangan secara berurutan. Satu dari dua tahap adalah fase kehidupan keluarga ini. Pertama, selama masa bayi orang tua mempelajari makna isyarat yang diekspresikan oleh bayi mereka untuk mengetahui kebutuhan bayi tersebut. Orang tua akan melalui tahap yang sama ini karena mereka akan menyesuaikan dengan setiap isyarat unik yang diberikan bayi, pada setiap anaak secara berturut-turut. Tahap kedua perkembangan prenatal adalah belajar untuk menerima pertumbuhan dan perkembangan anak, yang terjadi pada masa toddler. Hanya pada awal dan selamaa tahap ini, orang tua terutama orang tua yang memiliki anak pertama memerlukaan panduan dan dukungan. Orang tua perlu memahami tugas yang berusaha dikuasai anak dan kebutuhan anak akan keamanan, keterbatasaan, dan pelatihan eliminasi (toilet training). Mereka perlu memahami konsep kesiapan perkembangan, atau peristiwa yang dapat diajarkan. Pada saat yang sama, orang tua memerlukan panduan dalam memahami tugas yang harus dikuasai oleh diri mereka sendiri selama tahap ini. Feldman (1961) mengobservasi bahwa orang tua bayi sedikit berbicara satu sama lain dan sedikit memiliki kesenangan, kurang menstimulasi percakapan, dan menurunkan kualitas interaksi pernikahan mereka. Beberapa orang tua merasa kewalahan dengan bertambahnya tanggung jawab, terutama pada keluarga yang suami dan istrinya bekerja penuh waktu. HAL HALYANG DITERAPKAN OLEH KELUARGA PADA ANAK 1) Moral Moral merupakan nilai-nilai yang harus ditanamkan pada anak sejak dini, dimana moral timbul dari hati tanpa ada paksaan dari luar, dan juga disertai pula dengan tanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Oleh

D.

sebab itu keluarga sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak terutama dalam memberikan pendidikan moral. 2) Akhlak Dalam hal ini setiap orang tua harus dapat memberikan bimbingan tentang akhlak kepada anaknya sejak dini, karena dengan akhlak anak tersebut dapat mengatur pola sikap dan tindakan ataupun perbuatan tanpa mengharapkan imbalan. 3) Etika Dalam hal ini etika wajib diberikan kepada anak oleh orang tuanya baik melalui bimbingan atau arahan agar anak tersebut dapat bertingkah laku sesuai dengan etika.

E.

MASALAH YANG SERING MUNCUL PADA KELUARGA CHILD BEARING : a. Keluarga seksual & sosial terganggu b. Suami merasa diabaikan c. Interupsi jadwal kontinu d. Peningkatan perselisihan

F.

PERHATIAN KESEHATAN Perhatian kesehatan keluarga pada tahap ini dimulai dengan persiapan

menjadi orang tua. Konseling keluarga berencana harus dimulai selama periode pranatal atau pscapartum karena banyak pasangan yang tidak menunggu untuk memulai kembali hubungan seksual sampai pemeriksaan pascapartum tradisional yang berlangsung selama enam minggu. Orang tuaa harus didukung untuk mendiskusikan jarak kehamilan dan perencanaan keluarga secara terbuka. Karena peningkatan tuntutan personal dan keluarga yang disebabkan bayi, orang tua harus menyadari bahwa kehamilan yang sering dan berjarak dekat dapat membahayakan ibu, ayah dan unit keluarga lainnya. Pendidikan maternitas yang berpusat pada keluarga dengan besarnya keragaman kelas prenatal dan pascanatal tersedia untuk membantu

mempersiapkan orang tua muda guna pengalaman persalinan dan transisi menjadi

orang tua ( Szafran, 1996 . tindaak lanjut kunjungan rumah setelah persalinan disarankan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan dukungan keluarga yang mengasuh anak pada hari-hari pertaama menjadi orang tua ( Evans, 1991; William dan Cooper, 1993). Perawatan bayi yang baik, pengenalan awal dan ketepatan penatalaksanaan masalah kesehatan fisik, imunisasi, pertumbuhan dan

perkembangan normal, tindakan keamanan, interaksi keluarga dan promosi kesehataan umum (gaya hidup) adalah semua area yang penting untuk diskusi. Perhatian lain tentang kesehatan keluarga selama peride kehidupan keluarga ini adalah kesulitan mengakses dan tidak memadainya fasilitas perawatan anak pada ibu bekerja, hubungan orang tua anak, hubungan antar sibling, menjadi orang tua dan masalah transisi peran menjadi orang tua.

G.

PERAN PERAWAT Salah satu tugas penting perawat keluarga dalam mengakaji ketika bekerja

dengan childbearing family adalah mengakaji peran menjadi orang tua ( parental ), bagaimana kedua orang tua berinteraksi dan mengasuh bayi yang baru lahir dan bagaimana berespons. Klaus dan Kendall ( 1976 ), kendall ( 1974), Rabin ( 1967a, Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai sarana/penyalur. Peran perawat keluarga secara rinci adalah sebagai berikut: a) Pendidik Perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan keluarga secara mandiri. Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga b) Koordinator Diperlukan pada perawatan berkelanjutan agar pelayanan yang

komprehensif dapat tercapai. Koordinasi juga sangat diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau terapi dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan c) Pelaksana

Perawat yang bekerja dengan klien dan keluarga baik di rumah, klinik maupun di rumah sakit bertanggung jawab dalam memberikan perawatan langsung. Kontak pertama perawat kepada keluarga melalui anggota keluarga yang sakit. Perawat dapat mendemonstrasikan kepada keluarga asuhan keperawatan yang diberikan dengan harapan keluarga nanti dapat melakukan asuhan langsung kepada anggota keluarga yang sakit d) Pengawas kesehatan Sebagai pengawas kesehatan, perawat harus melakukan home visite atau kunjungan rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga. e) Konsultan Perawat sebagai narasumber bagi keluarga di dalam mengatasi masalah kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, maka hubungan perawat-keluarga harus dibina dengan baik, perawat harus bersikap terbuka dan dapat dipercaya f) Kolaborasi Perawat komunitas juga harus bekerja dama dengan pelayanan rumah sakit atau anggota tim kesehatan yang lain untuk mencapai tahap kesehatan keluarga yang optimal g) Fasilitator Membantu keluarga dalam menghadapi kendala untuk meningkatkan derajat kesehatannya. Agar dapat melaksanakan peran fasilitator dengan baik, maka perawat komunitas harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan (sistem rujukan) h) Penemu kasus Mengidentifikasi masalah kesehatan secara dini, sehingga tidak terjadi ledakan atau wabah. i) Modifikasi lingkungan Perawat komunitas juga harus dapat mamodifikasi lingkungan, baik lingkungan rumah maupun lingkungan masyarakat, agar dapat tercipta lingkungan yang sehat.

H.

Tujuan Perawatan Kesehatan Keluarga a) Tujuan umum : Meningkatkan kemampuan keluarga dalam

memelihara kesehatan keluarga mereka, sehingga dapat meningkatkan status kesehatan keluarganya. b) Tujuan khusus : 1) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi masalah kesehatan yang dihadapi oleh keluarga. 2) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam menanggulangi masalah-masalah kesehatan dasar dalam keluarga. 3) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengambil

keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah kesehatan para anggotanya. 4) Meningkatkan kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap anggota keluarga yang sakit dan dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarganya. 5) Meningkatkan produktivitas keluarga dalam meningkatkan mutu hidupnya

I.

PERUBAHAN IBU PADA PROSES CHILDBEARING Masa nifas adalah masa setelah melahirkan hingga pulihnya rahim dan

organ kewanitaan yang umumnya diiringi dengan keluarnya darah nifas, berlangsung selama kurang lebih 6 pekan.

Pada masa nifas ini ibu akan mendapati beberapa perubahan pada tubuh maupun emosi. Bagi yang belum mengetahui hal ini tentu akan merasa khawatir akan perubahan yang terjadi, oleh sebab itu penting bagi ibu memahami apa saja perubahan yang terjadi agar dapat menangani dan mengenali tanda bahaya secara dini. 1. Rahim Setelah melahirkan rahim akan berkontraksi (gerakan meremas) untuk merapatkan dinding rahim sehingga tidak terjadi perdarahan, kontraksi inilah yang menimbulkan rasa mulas pada perut ibu. Berangsur angsur rahim akan mengecil seperti sebelum hamil, sesaat setelah melahirkan

normalnya rahim teraba keras setinggi 2 jari dibawah pusar, 2 pekan setelah melahirkan rahim sudah tak teraba, 6 pekan akan pulih seperti semula. Akan tetapi biasanya perut ibu masih terlihat buncit dan muncul garis-garis putih atau coklat berkelok, hal ini dikarenakan peregangan kulit perut yang berlebihan selama hamil, sehingga perlu waktu untuk memulihkannya, senam nifas akan sangat membantu mengencangkan kembali otot perut. 2. Jalan lahir (servik,vulva dan vagina) Jalan lahir mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, sehingga penyebabkan mengendurnya organ ini bahkan robekan yang memerlukan penjahitan, namun insyaalloh akan pulih setelah 2-3 pekan (tergantung elastis tidak atau seberapa sering melahirkan), walaupun tetap lebih kendur dibanding sebelum melahirkan. Jaga kebersihan daerah kewanitaan agar tidak timbul infeksi (tanda infeksi jalan lahir bau busuk, rasa perih, panas, merah dan terdapat nanah). 3. Darah nifas (Lochea) Darah nifas hingga hari ke dua terdiri dari darah segar bercampur sisa ketuban, berikutnya berupa darah dan lendir, setelah satu pekan darah berangsur-angsur berubah menjadi berwarna kuning kecoklatan lalu lendir keruh sampai keluar cairan bening di akhir masa nifas. Darah nifas yang berbau sangat amis atau busuk dapat menjadi salah satu petunjuk adanya infeksi dalam rahim. 4. Payudara Payudara menjadi besar, keras dan menghitam di sekitar puting susu, ini menandakan dimulainya proses menyusui. Segera menyusui bayi sesaat setelah lahir (walaupun ASI belum keluar) dapat mencegah perdarahan dan merangsang produksi ASI. Pada hari ke 2 hingga ke 3 akan

diproduksi kolostrum atau susu jolong yaitu ASI berwarna kuning keruh yang kaya akan anti body, dan protein, sebagian ibu membuangnya karena dianggap kotor, sebaliknya justru ASI ini sangat bagus untuk bayi. 5. Sistem perkemihan

Hari pertama biasanya ibu mengalami kesulitan buang air kecil, selain khawatir nyeri jahitan juga karena penyempitan saluran kencing akibat penekanan kepala bayi saat proses melahirkan. Namun usahakan tetap kencing secara teratur, buang rasa takut dan khawatir, karena kandung kencing yang terlalu penuh dapat menghambat kontraksi rahim yang berakibat terjadi perdarahan. 6. Sistem pencernaan Perubahan kadar hormon dan gerak tubuh yang kurang menyebabkan menurunnya fungsi usus, sehingga ibu tidak merasa ingin atau sulit BAB (buang air besar). Terkadang muncul wasir atau ambein pada ibu setelah melahirkan, ini kemungkinan karena kesalahan cara mengedan saat bersalin juga karena sembelit berkepanjangan sebelum dan setelah melahirkan. Dengan memperbanyak asupan serat (buah-sayur) dan senam nifas insyaalloh akan mengurangi bahkan menghilangkan keluhan ambein ini. 7. Peredaran darah Sel darah putih akan meningkat dan sel darah merah serta hemoglobin (keeping darah) akan berkurang, ini akan normal kembali setelah 1 minggu. Tekanan dan jumlah darah ke jantung akan lebih tinggi dan kembali normal hingga 2 pekan. 8. Penurunan berat badan Setelah melahirkan ibu akan kehilangan 5-6 kg berat badannya yang berasal dari bayi, ari-ari, air ketuban dan perdarahan persalinan, 2-3 kg lagi melalui air kencing sebagai usaha tubuh untuk mengeluarkan timbunan cairan waktu hamil. Rata-rata ibu kembali ke berat idealnya setelah 6 bulan, walaupun sebagian besar tetap akan lebih berat daripada sebelumnya. 9. Suhu badan Suhu badan setelah melahirkan biasanya agak meningkat dan setelah 12 jam akan kembali normal. Waspadai jika sampai terjadi panas tinggi, karena dikhawatirkan sebagai salah satu tanda infeksi atau tanda bahaya lain.

10. Perubahan emosi Emosi yang berubah-ubah (mudah sedih, khawatir, tiba-tiba bahagia) disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adanya perubahan hormon, keletihan ibu, kurangnya perhatian keluarga, kurangnya pengetahuan akan cara merawat bayi serta konflik dalam rumah tangga. Perubahan ini memiliki berbagai bentuk dan variasi dan akan berangsur-angsur normal sampai pada pekan ke 12 setelah melahirkan. Yang perlu diingat, masa nifas bukan berarti ibu terlepas sama sekali dari nilai-nilai ibadah, dzikir adalah salah satu ibadah lisan dan hati yang cukup efektif untuk membuat ibu merasa tenang, sabar dan tegar menjalani masa nifas ini.

DAFTAR PUSTAKA

Friedman, M. 2010. Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC.


http://bingar.wordpress.com/2008/06/13/konsep-keluarga/ , pada hari kamis, 14 maret 2012, pukul 20.30

http://tiztez.blogspot.com/2011/11/normal-0-false-false-false.html, kamis, 14 Maret 2012, pukul 20.33

pada

hari

http://www.scribd.com/doc/4857129/KONSEP-KELUARGA, pada hari kamis, 14 Maret 2012, pukul 20.41

MATA KULIAH DOSEN

: KEPERAWATAN KELUARGA : MARIA VONNY H. RUMAMPUK, S.Kp.,M.Si

KELAS/ SEMESTER : A/ VI

CHILD BEARING FAMILY

DISUSUN OLEH: KELOMPOK II

ROLIN NDJARIWU MARGARETHA P. SUPIT FENTY SEWOW GRACE LOMBOTE SASMITHA NEGHE PATRISILIA SUMONDAKH NOVITA MAMATO

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE MANADO 2012