Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN HASIL BELAJAR BLOK 18 UP 1 HEWAN KESAYANGAN 1

Oleh Y.E. Bagus Gede Dananjaya Giri 09/285717/KH/6301 Kelompok 14

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

LEARNING OBJECTIVES 1. Jelaskan tentang Hernia pada hewan kecil! 2. Jelaskan tentang Obat Anti Inflamasi Non Steroid!

1. Hernia Hernia merupakan proskusi atau penonjolan isi suatu rongga yang berisi berbagai organ internal akibat rusaknya otot atau jaringan yang mengelilinginya, tapi masih ada di dalam kulit. Dalam hernia, hal yang harus diperhatikan adalah kantung hernia, isi hernia dan cincin hernia. Jenis Hernia Berdasarkan terjadinya hernia dibagi atas: a. Hernia herediter, yaitu hernia yang terjadi akibat keturunan b. Hernia dapatan, yaitu hernia yang terjadi akibat trauma (terbentur, tertabrak, post operasi yang tidak benar).

Menurut sifatnya, hernia dapat dibedakan menjadi: a. Hernia reducible, yaitu bila hernia dapat keluar masuk rongga. Usus keluar jika berdiri atau mengejan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. b. Hernia ireducible, yaitu bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. Hal ini disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia.

Menurut tempatnya, terbagi menjadi : a. Hernia Inguinalis Hernia inguinalis adalah penonjolan organ, atau jaringan lemak melalui cincin inguinal, yaitu di pangkal paha dan otot yang memenuhi kaki belakang.

Terjadi karena keluar dari rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak sebelah lateral dari pembuluh darah epigastrika inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis dan jika cukup panjang, menonjol keluar dari annulus inguinalis eksternus. Apabila hernia ini berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum hingga disebut hernia skrotum. Hernia yang terdapat di selangkangan ini sering terjadi pada hewan betina yang sedang bunting dan mengalami konstipasi. Pada kasus hernia inguinalis, jaringan yang berada di belakang cavum abdominal menekan melalui daerah lemah yang dikelilingi arteri femoralis dan nervus. Gejala Klinis: Mundul benjolan kulit di daerah pangkal paha Mungkin tidak ada gejala, terutama bila hernia dapat direduksi, yaitu dapat didorong kembali ke dalam perut Tanpa perawatan, jaringan mengalami nekrosis, daerah yang terkena berubah menjadi abses dan ada rasa sakit parah, demam, lesu dan hewan menolak untuk makan atau minum. Diagnosa: Dapat dipalpasi dan dapat menggunakan Xrays di bagian perut

Prognosis: Sebagian besar hernia inguinal pada anak anjing akan menyusut dan menghilang seiring dengan pertumbuhan anak anjing Tanpa pengobatan, hewan biasanya akan mati dalam waktu 24 jam sampai 48 jam. (Slatter, 2003) b. Hernia Umbilikus Hernia umbilikalis dapat terjadi pada hewan jantan maupun betina. Dapat disebabkan karena kongenital dan perolehan. Hernia ini merupakan hernia yang terjadi pada daerah pusar hewan. Hewan yang menderita hernia ini memiliki benjolan di daerah perut yang lembut, tidak terasa sakit, dan ketika ditekan dapat masuk ke dalam rongga perut. Isi dari hernia ini biasanya hanya berupa lemak yang biasa pula disebut omentum yang biasanya letaknya menyeliputi usus.

Kondisi hernia yang parah adalah kondisi di mana hernia dapat menstrangulasi usus atau organ tubuh lainnya dan tersangkut. Hal ini akan menyebabkan cincin hernia menghambat suplai darah pada organ tersebut dan kemudian dapat menyebabkan cincin hernia menghambat suplai darah pada organ tersebut dan kemudian dapat menyebabkan kematian sel dan nekrosis. Gejala Klinis: Penonjolan di bagian ventrak dinding abdomen (daerah umbilikalis) Di palpasi terasa lunak, ada fluktuasi, dan tidak ada rasa sakit. Hernia yang padat biasanya organ dalam sudah mengalami adhesi dengan kulit Bila isi hernia abses, maka akan tampak gejala seperti demam, leukositosis, rasa sakit, dan terdapat akumulasi pus. Diagnosa: Gejala klinis berupa penonjolan di daerah umbilikus Bila direbahkan dorsal, kemudian daerah hernia ditekan

(Farrow, 2003)

c. Hernia Diafragmatika Hernia diafragmatika adalah hernia yang disbabkan karena sobeknya diafragma, yaitu dinding otot yang memisahkan antara rongga perut dan rongga abdomen. Hal ini dapat memungkinkan usus, hati atau ginjal dan organ di rongga perut lainnya menekan dan masuk ke rongga dada, sehingga dapat terdapat dipsnoe. Cedera diafragmatika merupakan hal yang umum dalam hewan kecil dan dapat terjadi akibat dari trauma langsung maupun tidak langsung. Cedera tidak langsung dari diafragma merupakan penyebab yang paling sering dan menyebabkan hernia diafragmatika. Trauma akan berakibat ada peningkatan tekanan pada daerah perut. Jika hal ini terus terjadi bersama dengan terbukanya glottis sebagai hasil dari peningkatan tekanan gradient tekanan pleuroperitoneal secara drastic dapat merusak diafragma. Ketika kerusakan diafragma ini terjadi dalam bentuk robekan, maka organ vicera dapat mengalami abnormalitas posisi. Cedera langsung pada diafragma sangat jarang namun dapat diakibatkan oleh luka tembak, gigitan, tusukan, dan kesalahan operasi.

Gejala Klinis: Berbeda-beda, mulali dari tidak tampak gejala hingga shock dan gangguan respirasi yang amat parah akibat terdesaknya paru-paru oleh usus Dipsnoe atau susah bernafas merupakan gejala yang paling umum, dan berhubungan denga berbagai macam faktor dari shock, disfungsi rongga dada, keberadaan cairan udara, ataupun organ lainnya di dalam pleura Aritmia dari jantung terlihat pada 12% dari hewan yang mengalami hernia diafragmatika. Diagnosa: Hal pertama yang harus diketahui dalam mendiagnosa hernia diafragmatika adalah dengan mengetahui cedera yang dialami. Kejadian cedera pada daerah thorax terjado 39% pada hewan kecil dengan trauma pada muskuloskeletal Perlu radiografi pada daerah dada amat penting untuk mengetahui apakah hewan mengalami cedera pada daerah dada. Lama rentang waktu antara trauma dan kejadian hernia amat bervariasi, mulai dari jam hingga 6 tahun. Anjing jantan muda memiliki tingkat resiko yang lebih besar. (Slatter, 2003) d. Hernia Perineal Hernia perineal ini terjadi akibat kegagalan/ lemahnya dari muskulus pada pelvis diafragma yang menyokong dinding rectum, yang kemudian menyebabkan dinding ini melebar dan berpindah posisi. Pelvis dan kadang-kadang isi dari rongga abdomen masuk ke dalam lubang antara rectum dan pelvic diafragma. Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya hernia ini adalah spesies, umur, dan jenis kelamin. Berdasarkan spesies, anjing amat jarang terkena hernia perinealis ini. Sedangkan umur yang rentan terhadap penyakit ini antara umur 5-7 tahun, dan bahkan sampai umur 9 tahun. Hernia ini sering terjadi pada jantan dan amat jarang terjadi pada hewan betina. Hal ini dipengaruhi oleh kekuatan dari penempelan rectum dari otot levator ani pada betina. Hernia ini terjadi karena melebahnya otot-otot terletak di bawah ekor di kedua sisi anus. Dalam anjing, terstosteron menyebabkan pembesaran kronis (hipertrofi) kelenjar prostat. Saat urinasi dan defekasi akan terlihat di sekitar prostat membesar, jaringan yang

berdekatan dengan rektum akan melemah, sehingga organ atau lemak yang ada di perut mendorong keluar hingga sekitar dubur dan membentuk kantong di bawah kulit. Kantong ini mungkin memperbesar jaringan ketika berusaha mendorong keluar dan saat kembali lagi hanya sebagai jaringan bergerak kembali ke perut. Gejala Klinis: Umumnya sebagaian besar gejala hernia perineal disebabkan oleh sembelit kronis, anjing terlihat berusaha untuk defekasi, dan terlihat bengkak di kedua sisi rektum Tanda-tanda lainnya mungkin termasuk berusaha untuk buang air kecil, rasa sakit pada buang air besar inkontensia fekal. Diagnosa : Cacat pada otot-otot diafragma pelvis atau sacculation (outpouching) dari dubur biasanya terdeteksi pada palpasi rektal. Jaringan lemak biasanya terlihat jika mengalami hernia Terkadang ditemukan satu bagian yang mengalami hernia, namun jika kedua bagian mengalami hernia akan menyebabkan rasa kesakitan. (Farrow, 2003)

Penanganan hernia Prinsip penanganan hernia adalah mengembalikan organ ke posisi semula dan menutup lubang/cincin hernia a. Non operatif Tindakan ini dapat dilakukan jika hernia bersifat reducible dan cincin hernia berdiameter kecil. Misal pada hernia umbilikalis, hewan dapat diletakkan rebah dorsal, hernia akan kempes dengan sendirinya, atau sambil ditekan perlahan, hernia akan kembali ke posisi semula. Dan lubang yang keicl (<0,5 cm) dapat menutup sendiri karena perkembangan jaringan kolagen. b. Operatif Lakukan anestesi umum Dicukur,didesinfektir daerah yang akan dioperasi.

Buat sayatan vertikal ditengah dari fossa paralumbal dan dibagian ventral processus transversus vertebrae lumbalis. Sayatan kulit ditekan secara halus,kemudian pisahkan kulit dengan subkutan dari m.obliq abdominis eksternus ,lapisan ini juga disayat vertikal sampai m obliq abd internus.

Sayatan dilanjutkan sampai m .abd.transversus dan akan terlihat peritoneum. Bagian cincin hernia dipotong dahulu untuk membuat jaringan terpotong, agar pada saat setelah dijahit jaringan akan menutup. Penutupan dilakukan lapis demi lapis dengan urutan pertama yaitu peritoneum dengan pola jahitan menerus atau kombinasi menerus dengan jahitan matras atau kombinasi dengan sederhana tunggal dengan catgut chromic ataupun benang katun. (Hosgood and Hoskins, 1998)

2. Obat Anti Inflamasi Non Steroid Obat anti-inflamasi nonstreoid (OAINS) merupakan kelompok obat yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia untuk mendapatkan efek analgetika, antipiretik, dan antiinflamasi. a. Efek Analgesik Sebagai analgesik, OAINS hanya efektif terhadapa nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang, misalnya sakit kepala, mialgia, antralgia, dismenorea, dan juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi atau kerusakan jaringan/ efek analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek analgesik opioat, tetapi OAINS tidak menimbulkan ketagihand an tidak menimbulkan efek samping sentral yang merugikan. Untuk menimbulkan efek analgesik, OAINS bekerja pada hipothalamus, menghambat pembentukan prostaglandin di tempat terjadinya radang, dan mencegah sensitisasi reseptor rasa sakit terhadap rangsang mekanik atau kimiawi. (Stringer, 2008)

b. Efek Antipiretik Temperatur tubuh secara normal diregulasi oleh hipothalamus. Demam terjadi bila terdapat gangguan pada sistem thermostat hipothalamus. Sebagai antipiretik, OAINS akan menurunkan suhu badan hanya dalam keadaan demam. Penurunan suhu badan berhubungan dnegan peningkatan pengeluaran panas karena pelebaran pembuluh darah superfisial. Antipiresis mungin disertai dengan mekanisme kerja, yaitu pembentukan prostaglandin di dalam susunan syaraf pusat sebagai respons terhadap bakteri pirogen dan adanya efek interleukin-1 pada hipothalamus. Aspirin dan OAINS lainnya menghambat baik pirogen yang diinduksi oleh pembentukan prostaglandin maupun respon susunan syaraf pusat terhadap interleukin-1 sehingga dapat mengatur kembali thermostat di hipothalamus dan memudahkan pelepasan panas dengan jalan vasodilatasi. (Stringer, 2008) c. Efek Anti-inflamasi Inflamasi adalah suatu respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi yang merusak rangsangan ini menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seprti histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin, dan lainnya yang

menimbulkan reaksi radang berupa panas, nyeri, merahm bengkak, dan disertai gangguan fungsi. Kebanyakan OAINS lebih dimanfaatkan pada pengobatan muskuloskeletal seperti artritis rheumatoid, isteoartritis, dan spondilitis ankilosa. Namun, OAINS hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan dengan penyakitnya secara simtomatik, tidak menghentikan, memperbaiki, atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan muskulosketletal. (Stringer, 2008) OAINS terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu : a. Nonselective Cyclooxygenase Inhibitors Derivat asam salisilat: aspirin, natrium salisilat, salsalat, diflunisal, cholin magnesium trisalisilat, sulfasalazine, olsalazine Derivat para-aminofenol: asetaminofen Asam asetat indol dan inden: indometasin, sulindak Asam heteroaryl asetat: tolmetin, diklofenak, ketorolak Asam arylpropionat: ibuprofen, naproksen, flurbiprofen,

ketoprofen,fenoprofen, oxaprozin

Asam antranilat (fenamat): asam mefenamat, asam mekloenamat Asam enolat: oksikam (piroksikam, meloksikam) Alkanon: nabumeton

b. Selective Cyclooxygenase II Inhibitors Diaryl-subtiued furanones: rofecoxib Diaryl-subtiued pyrazoles: celecoxib Asam asetat indol: etodolac Sulfonamid: nimesulid

DAFTAR PUSTAKA

Farrow, Charles. 2003. Veterinary Diagnostic Imaging: The Dog and Cat. Mosby: St.Louis, Missiouri. Hosgood, Giselle and Hoskins Johnny D. 1998. Small Animal Paediatric medicine and Surgery. Butterworth-Heinermann: Oxford. Slatter, Douglas H. 2003. Textbook of Small Animal Suergery. Saunders: Philadelphia.