Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Latar Belakang Herpes zoster juga dikatakan penyakit infeksi pada kulit yang merupakan lanjutan dari pada chickenpox (cacar air) karena virus yang menyerang adalah sama. Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun karena tidak dipengaruhi oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia. Hanya terdapat perbedaan dengan cacar air. Herpes zoster

memiliki ciri cacar gelembung yang lebih besar dan berkelompok pada bagian tertentu di badan, bisa di bagian punggung, dahi atau dada. Bagi yang pernah mengalami cacar air dan kemudian sembuh, sebenarnya virus tidak 100% hilang dari dalam tubuhnya, melainkan bersembunyi di dalam sel ganglion dorsalis sistem saraf sensoris penderita. Ketika daya tahan tubuh (imun) melemah, virus akan kembali menyerang dalam bentuk Herpes zoster dimana gejala yang ditimbulkan sama dengan penyakit cacar air (chickenpox). Bagi seseorang yang belum pernah mengalami cacar air, apabila terserang virus varicella zoster maka tidak langsung mengalami penyakit herpes zoster akan tetapi mengalami cacar air terlebih dahulu. (Wisesa, 2002) Herpes zoster intinya memang berurusan dengan daya tahan tubuh. Tak heran kalau penyakit ini banyak menyerang kaum lanjut usia atau mulai di atas 50 tahun. Pada usia di atas 50 tahun, banyak orang yang terserang akibat daya tahan tubuhnya lemah. Orang-orang pada usia produktif juga mudah terserang jika kebetulan masuk golongan rentan. Misalnya, mereka yang terinfeksi HIV, penderita keganasan, atau penerima transplantasi organ tubuh. Juga terhadap orang yang menerima terapi imunosupresif, kemoterapi, dan radiasi seperti penderita kanker. (Suara Merdeka,2005) Menurut Wahyuni (2009), insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara pria dan wanita. Angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia.

Diperkirakan terdapat antara 1,3-5 per 1000 orang per tahun. Lebih dari

2/3 kasus berusia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% kasus berusia di bawah 20 tahun.

Batasan Topik

Kasus Ny. A (35 tahun) datang ke poliklinik kulit mengeluh badannya terasa meriang setelah seminggu yang lalu punya hajatan menikahkan anaknya. Ny. A mengeluh 3 hari yang lalu muncul bula di punggung sebelah kiri dengan diameter 3-5 mm berisi cairan bening bergerombol dari punggung atas sampai bawah. Dokter memberikan obat Aciclovir salep dan asam mefenamat 3x500 mg. Kemudian dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan serologi. Ada riwayat varicella.

Student Learning Objective (SLO): 1. Definisi Herpes zoster 2. Etiologi Herpes zoster 3. Patofisiologi 4. Manifestasi klinis 5. Pemeriksaan diagnostic 6. Penatalaksanaan medis 7. Pencegahan 8. Asuhan keperawatan

PEMBAHASAN

1. Definisi Menurut Kumala (1998), herpes zoster atau yang disebut juga dengan shingle atau cacar ular merupakan penyakit radang akut

unilateral dan sembuh sendiri yang mengenai ganglia selebralis dan ganglia radiks saraf posterior dan saraf tepi dalam distrubi segmental. Herpes zoster merupakan hasil dari reaktivasi virus varicella zoster yang memasuki saraf kutaneus selama episode awal chicken pox (cacari air) (scribd).

2. Etiologi Herpes zoster (nama lain: shingles atau cacar ular cacar api) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Herpes Zoster yang menyebabkan erupsi kulit yang terasa sangat nyeri berupa lepuhan yang berisi cairan. Setelah seseorang menderita cacar air, virus varicella-zoster akan menetap dalam kondisi dorman (tidak aktif atau laten) pada satu atau lebih ganglia (pusat saraf) posterior. Apabila seseorang mengalami penurunan imunitas seluler maka virus tersebut dapat aktif kembali dan menyebar melalui saraf tepi ke kulit sehingga menimbulkan penyakit herpes zoster. VZV dalam subfamilialfa mempunyai sifat khas menyebabkan infeksi primer pada sel epitel yang menimbulkan lesi vaskuler. Frekuensi penyakit pada pria dan wanita sama, lebih sering mengenai usia dewasa . Reaktivasi virus varicella dipicu oleh berbagai macam

rangsangan seperti pembedahan, penyinaran, penderita lanjut usia, dan keadaan tubuh yang lemah meliputi malnutrisi, seorang yang sedang dalam pengobatan imunosupresan jangka panjang, atau menderita penyakit sistemik (Amnil, 2010). 3. Patofisiologi BAGAN PATOFOSIOLOGIS HERPES ZOSTER Herpes Zoster

Varicella Zoster Virus

Serabut Saraf Sensorik

Daya tahan tubuh menurun

Reaktivasi virus meningkat

Peradangan di Ganglion saraf Sensorik

Imunitas hospes turun

Infeksi Sel Epitel Sumsum tulang belakang dan batang otak Virus Replikasi

Neuritus

Lesi Zoster

Keluar zat racun

Munuju kulit membentuk bula

Suhu tubuh naik

Respon tubuh

Nyeri Inflamasi Erupsi kulit

Reaksi Infeksi &

Intoleran Aktivitas Perubahan ketidaknyamanan

Pelepasan Agen Inflamasi dan Pelepasan Mediator

Teori : Herpes Zooster disebabkan oleh Varicella Zoster Virus. Virus ini menyerang ke bagian ganglia saraf sensorik dan membuat daya tahan tubuh menurun. Karena daya tahan tubuh menurun, reaktivasi dari virus ini akan meningkat. Yang pertama, reaktivasi virus ini akan membuat peradangan di ganglia saraf sensorik, lalu menuju ke sumsum tulang belakang dan batang otak dan akan menimubulkan nyeri di daerah yang terkena. Biasanya akan timbul bula berisi cairan

secara bergerombol. Bula ini akan membuat erupsi kulit dan perubahan ketidaknyamanan pada penderita. Yang kedua reaktivasi virus menyebabkan system imun dari hospes menurun dan menyebabkan infeksi sel epitel. Dari infeksi tersebut, virus akan mengadakan replikasi yang mengeluarkan lesi zoster yang nantinya akan menyebabkan suhu tubuh meningkat dan timbul nyeri. Nyeri inilah yang membuat intoleransi aktvitas pada penderita. Selain lesi zoster, virus juga akan mengeluarkan zat racun yang membuat respon tubuh mengalami reaksi inflamasi dan reaksi infeksi. Dari reaksi inflamasi dan infeksi ini akan melepaskan agen inflamasi yang dapat menyebabkan nyeri dan virus akan melepaskan mediatornya yang nantinya menimbulkan bula di kulit penderita (Medical Centre, 2011).

4. Manifestasi Klinis Dibagi menjadi tiga yaitu: 1. Fase pre eruptive (preherpeticneurolgia) Rasa sakit dalam dermatoma Timbulnya lesi dengan jangka waktu 48-72 jam Mengalami malaise, myalgia, sakitkepala, fotofobia, demam

2. Fase acute eruptive Erupsivesikuler Lesidari macula eritematosadanpapula yang berkembangmenjadivesikel Lesi baru terbentuk pada hari ke 3-5 Lesi-lesibergabung menjadi bula Lesi pecah menjadi borok dan kemudian menjagi kerak/mengering Saat pecah ada rasa nyeri (neuritis akut)

3. Fasekronis (post herpetic neuralgia) Nyeri presisten berlangsung selama 30 hari / lebih

Setelah semua lesi berkerak Nyeri terbakar, paresthesia, dysesthesia, hyperesthesia

(NCIRS, 2009).

5. Pemeriksaan Diagnostik Diagnosa Herpes zoster biasanya ditegakkan berdasarkan riwayat kasus dan gambaran klinisnya yang khas, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium. Meskipun begitu, pemeriksaan laboratorium direkomendasikan jika gambaran klinis tidak khas atau untuk menentukan status imun terhadap virus Varisela-zoster pada orang yang beresiko tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan meliputi:
1. Tzank Smear -

Preparat diambil dari discraping dasar vesikel yang masih baru, kemudian diwarnai dengan pewarnaan yaitu hematoxyclineosin, Giemsas, Wrights, toluidine blue ataupun Papanicolaous. Dengan menggunakan mikroskop cahaya akan dijumpai multinucleated giant cells.

Pemeriksaan ini sensitifitasnya sekitar 84% Test ini tidak dapat membedakan antara virus varicella zoster dengan herpes simpleks virus

2. Direct fluorescent assay (DFA) -

Preparat diambil dari scraping dasar vesikel tetapi apabila sudah berbentuk krusta pemeriksaan dengan DFA kurang sensitive

Hasil pemeriksaan cepat Membutuhkan mikroskop fluorescence Tes ini dapat menemukan antigen virus varicella zoster Pemeriksaan ini dapat membedakan antara VZV dengan herpes simpleks virus

3. Polymerase chain reaction (PCR)

Pemeriksaan dengan metode ini sangat cepat dan sangat sensitive

Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat seperti scraping dasar vesikel dan apabila sudah berbentuk krusta dapat juga digunakan sebagai preparat dan CSP

Sensitifitasnya berkisar 97-100% Tes ini dapat menemukan nucleic acid dan viru varicella zoster

4. Biopsi kulit

Hasil

pemeriksaan

histopatologis:

tampak

vesikel

intraepidermal dengan degenarasi sel epidermal dan acantholysis. Pada dermis bagian atas dijumpai adanya lymphocytic infiltrate
5. Kultur virus -

Cairanlepuhandimasukkandalam media virus Analisa di lab virology

6. Ujiserologi -

ELISA (enzyme linked immunosurbant assay) biasadigunakanuntukmendeteksi herpes zoster

Mampumendeteksibeberapajenis antibody Menggunakan reader, computer, washer

(Amnil, 2010; Lubis, 2008; Moon, 2011) 6. Penatalaksanaan Medis Tujuan utama terapi herpes zoster pada orang dewasa usia lanjut adalah selain mempercepat proses penyembuhan juga untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri akut dan mencegah terjadinya neuralgia pasca herpes. Pemberian obat antivirus merupakan salah satu dari beberapa intervensi untuk mempercepat proses

penyembuhan dan mempersingkat lamanya nyeri (Pusponegoro, 2009). Pada anak imunokompeten, biasanya tidak diperlukan

pengobatan yang spesifik dan pengobatan yang diberikan bersifat simtomatis, yaitu:

Lesi masih berbentuk vesikel, dapat diberikan bedak agar tidak mudah pecah

Vesikel yang sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat diberikan salep antibiotic untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder

Dapat diberikan antipiretik dan analgetik, tetapi tidak boleh golongan salisilat (aspirin) untuk menghindari terjadinya sindrom Reye

Obat Antivirus:
-

Pemberian antivirus dapat mengurangi lama sakit, keparahan, dan waktu penyembuhan

Pemberian antivirus sebaiknya dalam jangka waktu kurang dari 4872 jam setelah erupsi di kulit muncul

Golongan antivirus yang dapat diberikan yaitu asiklovir, valasiklovir, dan famasiklovir

Dosis antivirus (oral): Neonatus selama 10 hari Anak (2-12 tahun) : Asiklovir 4x20 mg/kg BB/hari/oral selama 5 hari Pubertas dan dewasa: Asiklovir 5x800 mg/hari/oral selama 7 hari Valasiklovir 3x1 gr/hari/oral selama 7 hari Famasiklovir 3x500 mg/hari/oral selama 7 hari : Asiklovir 500 mg/m2 IV setiap 8 jam

Pengobatan Non-Farmakologi
-

Selama fase akut, pasien tidak dianjurkan keluar rumah karena dapat menular ke orang lain.

Usahakan agar vesikel tidak pecah Untuk mevcegah infeksi skunder, jaga kebersihan badan Kuku jari tangan harus dipotong untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder akibat garukan

(Lubis, 2008) 7. Pencegahan Tindakan pencegahan yang dapat diberikan yaitu: 1. Imunisasi pasif
-

Menggunakan VZIG ( Varicella zoster immunoglobulin) Pemberiannya dalam waktu 3 hari (kurang dari 96 jam) setelah terpajan VZV, pada anak-anak imunokompeten terbukti mencegah varicella sedangkan pada anak

imunokompromais pemberian VZIG dapat meringankan gejala varicella


-

VZIG dapat diberikan pada yaitu: Anak-anak yang berusia < 15 tahun yang belum pernah menderita varicella atau herpes zoster Usia pubertas > 15 tahun yang belum pernah menderita varicella atau herpes zoster dan tidak mempunyai antibody terhadap VZV Bayi yang baru lahir, dimana ibunya menderita varicella dalam kurun waktu 5 hari sebelum atau 48 jam setelah melahirkan Bayi premature dan bayi usia kurang sama dengan 14 hari yang ibunya belum pernah menderita varicella atau herpes zoster Anak-anak yang menderita leukemia atau lymphoma yang belum pernah menderita varicella

Dosis : 125 U/10 kg BB Dosis minimum : 125 U dan dosis maximal : 625 U

Pemberian secara IM tidak diberikan IV Perlindungan yang didapat bersifat sementara

2. Imunisasi aktif
-

Vaksinasinya menggunakan vaksin varicella virus (Oka strain) dan kekebalan yang didapat dapat bertahan hingga 10 tahun

Digunakan di Amerika sejak tahun 1995 Daya proteksi melawan varicella berkisar antara 71-100% Vaksin efektif jika diberikan pada umur lebih sama dengan 1 tahun dan direkomendasikan diberikan pada usia 12-18 bulan

Anak yang berusia kurang sama dengan 13 tahun yang tidak menderita varicella direkomendasikan diberikan dosis

tunggal dan anak lebih tua diberikan dalam 2 dosis dengan jarak 4-8 minggu
-

Pemberian secara subkutan Efek samping: Kadang-kadang dapat timbul demam ataupun reaksi lokal seperti ruam makulopapular atau vesikel, terjadi pada 3-5% anak-anak dan timbul 10-21 hari setelah pemberian pada lokasi penyuntikan

Vaksin varicella: Varivax Tidak boleh diberikan pada wanita hamil oleh karena dapat menyebabkan terjadinya congenital varicella

(Lubis, 2008). 8. Asuhan Keperawatan A. IDENTITAS KLIEN


-

nama usia jenis kelamin

: Ny.A : 35tahun : perempuan : menikah

status pernikahan

B. STATUS KESEHATAN SAAT INI 1. keluhan utama : badannya meriang,muncul bula yang nyeri dan panas di punggung sebelah kiri 2. lama keluhan : 3 hari yang lalu

3. kualitas keluhan : terasanyeri dan panas 4. factor pencetus : muncul bula di punggung sebelah kiri 5. factor pemberat : riwayat varicella

6. keluhan saat pengkajian

: 3 hari yang lalu muncul bula

dengan diameter 3-5mm berisi cairan bening bergerombol di punggung sebelah kiri dari atas sampai bawah. Bula yang muncul terasa nyeri dan panas. C. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI Tiga hari yang lalu muncul bula dengan diameter 3-5mm berisi cairan bening bergerombol di punggung sebelah kiri dari atas sampai bawah. Bula yang muncul terasa nyeri dan panas. Lalu pasien datang ke poliklinik kulit dan mengeluh badannya meriang. D. RIWAYAT KESEHATAN TERDAHULU 1. Riwayat penyakit yang pernah dialami : a. penyakit : varicella E. PEMERIKSAAN FISIK a. Kulit
-

ada bula di punggung sebelah kiri bula berisi cairan bening dan bergerombol diameter bula 3-5mm

F. TERAPI a. Obat Aciclovir salep b. Asam mefenamat c. Pemeriksaan serologi ANALISIS DATA No Data 1. Etiologi Masalah Nyeri akut

Pasien mengeluh nyeri Agen cedera fisik terhadap tumbuh punggungnya bula yang di

2.

Mengeluh meriang dan sejak 3 hari yang lalu muncul bula di

Virus Varicella Zoster (riwayat penyakit Ny. A)

Kerusakan Integritas Kulit

punggung sebelah kiri dengan diameter 3-5 mm bening bergerombol berisi cairan yang

Serabut saraf sensoris Ganglion sensoris Daya tahan tubuh (kecapean) Virus aktif Merusak ganglion saraf sensoris Sumsum tulang belakang dan otak Virus multiplikasi Suhu tubuh Menuju kulit Erupsi kulit Lesi zooster

3.

Pasien mengeluh nyeri dan panas

Gangguan rasa nyaman

PRIORITAS DIAGNOSE KEPERAWATAN 1. Nyeri akut berhubungan berdasarkan pada agen cedera fisik yang ditandai dengan pasien mengeluh nyeri terhadap bula yang tumbuh di punggungnya. 2. Kerusakan Integritas Kulit berdasarkan pada penurunan sirkulasi dan gangguan sensasi karena adanya bula dan lesi 3. Gangguan rasa nyaman yang ditandai dengan pasien mengeluh nyei dan panas

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Diagnose 1 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik yang ditandai dengan pasien mengeluh nyeri terhadap bula yang tumbuh di punggungnya Tujuan : Setelah 2x24 jam nyeri sudah terkontrol Kriteria hasil : nilai indikator criteria hasil = 5 NOC : Kontrol Nyeri

No Indicator hasil 1

Never Rarely Sometimes Often consistenly 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu

penyebab nyeri) 2. Melaporkan bahwa nyeri

berkurang

Interventions ( NIC ) : Managemen / kontrol nyeri : a. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi , frekuensi, dan kualitas nyeri. b. Memberikan analgesic untuk mengurangi nyeri. c. Memonitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali untuk mengetahia kondisi pasien. Diagnose 2 : Kerusakan Integritas Kulit berdasarkan pada penurunan sirkulasi dan gangguan sensasi karena adanya bula dan lesi Tujuan :

Setelah 7x24 jam infeksi terobati NOC : Skin integrity impaired


1. Tissue Integrity : Skin & Mucous Membranes Indikator
Severely Comprom ised 1 Subtantly Compromi sed 2 Moderatly Compromi sed 3 Mildly Compromi sed 4 No Compromi sed 5

1. Skin Integrity 2. Texture 3. Sensatio n Severe 1 4. Skin Lession 5. Scar tissue Substanti al 2

Moderate 3 Mild 4 None 5

2. Treatment Behavior : Illness or injury Indikator


Never Compro mised 1 Rarely Compromi sed 2 Sometimes Compromi sed 3 Often Compromi sed 4 Consistent Compromi sed 5

1. Perform prescrib ed prosedu re 2. Follow medicati on regimen 3. Monitor treatme nt side effect 4. Monitor change

in deases status

Interventions ( NIC ) : Skin Surveillance : a. Amati warna, kehangatan, bengkak, tekstur, edema, dan ulserasi dari lesi b. Periksa kulit dan selaput lendir c. Memantau untuk infeksi, terutama daerah adematous d. Dokumentasi perubahan kulit atau selaput lendir Diagnose 3 : Gangguan rasa nyaman yang ditandai dengan mengeluh nyeri dan panas Tujuan : Setelah 1x24 jam akan merasa nyaman Kriteria hasil : nilai indikator criteria hasil = 5 NOC : Comfort status: physical

No Indicator hasil

Never Rarely Sometimes Often consistenly 1 Symptom control 2 Personal grooming and hygiene 3 Physical well being 4 Body temperature

Interventions ( NIC ) : Skin care: Topical Treatments :

a. pasien menggunakan pakian yang longgar b. memposisikan pasien dengan menghindari lesi tertekan c. mendokumentasikan derajat kerusakan kulit

RINGKASAN Ny. A berumur 35 tahun datang ke poliklinik kulit mengeluh meriang seminggu yang lalu. Tiga hari yang lalu Ny. A Mengeluh muncul bula di punggung sebelah kiri dengan diameter 3-4 mm berisi cairan bening bergerombol dari punggung atas sampai bawah. Ny. A mengeluh bulanya terasa nyeri dan panas. Ny. A memiliki riwayat Varicella. Dokter memberikan obat Aciclovir salep dan asam mefenamat 3x500mg. Kemudian dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan serologi. Dari kasus tersebut, beberapa gejala yang dialami Ny. A mengarah pada Herpes Zoster. Gejala- gejala tersebut yaitu 1. Saat datang ke poliklinik Ny. A mengeluh meriang selama seminggu dan 3 hari setelahnya muncul bula di punggung sebelah kiri. Bula tersebut berdiameter 3-4 mm dan berisi cairan bening dan bergerombol. Pada herpes zoster ada beberapa fase. Fase tersebut adalah preeruptive (preherpetic neuralgia), fase erupsi akut, dan fase kronis (postherpetic neuralgia) - Preeruptive fase Fase ini ditandai dengan sensasi kulit yang tidak biasa atau rasa sakit dalam dermatom yang terkena dampak yang bentara timbulnya lesi dengan 48-72 jam. Selama ini, pasien mungkin juga mengalami gejala yang salah satunya demam. - Fase erupsi akut Fase ini ditandai dengan munculnya erupsi vesikular. Seperti pada fase preeruptive, pasien mungkin juga mengalami gejala seperti malaise, mialgia, sakit kepala, dan demam. Lesi mulai sebagai makula eritematosa dan papula yang dengan cepat berkembang menjadi vesikel. Lesi baru cenderung membentuk selama 3-5 hari, kadang-kadang penggabungan untuk membentuk bula. esi melalui tahap di mana mereka pecah, melepaskan isinya, memborok, dan akhirnya kerak di atas dan menjadi kering. Hampir semua orang dewasa pasien mengalami rasa nyeri (misalnya, neuritis akut) selama fase erupsi. Gejala dan lesi pada fase erupsi cenderung

untuk menyelesaikan lebih dari 10-15 hari. Namun lesi mungkin membutuhkan sampai satu bulan untuk benar-benar menyembuhkan, dan rasa sakit yang terkait dapat menjadi kronis. - Fase kronis (postherpetic neuralgia) Postherpetic neuralgia adalah nyeri persisten atau berulang berlangsung 30 hari atau lebih setelah infeksi akut atau setelah semua lesi berkulit. Kebanyakan orang melaporkan nyeri terbakar atau nyeri yang dalam, paresthesia, dysesthesia, hyperesthesia, atau kejutan listrik seperti nyeri. Bahkan dapat menjadi parah dan melumpuhkan.(sumber :penanganan terkini vrus herpes zoster.htm) Disini dapat dikatakan bahwa gejala yang dialami Ny. A merupakan fase Erupsi akut. 2. Ny. A memiliki riwayat Vericella Pengertian dari Herpes Zooster adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varicella-zoster. Setelah seseorang menderita cacar air, virus varicella-zoster akan menetap dalam kondisi dorman (tidak aktif atau laten) pada satu atau lebih ganglia (pusat saraf) posterior. Apabila seseorang mengalami penurunan imunitas seluler maka virus tersebut dapat aktif kembali dan menyebar melalui saraf tepi ke kulit sehingga menimbulkan penyakit herpes zoster. Karena Ny. A sebelumnya memiliki riwayat Vericella, maka disaat system imun Ny. A lemah, Virus Vericella yang sebelumnya laten akan hidup dan mengakibatkan herpes zoster yang ditandai dengan gejala gejala tersebut. 3. Dokter memberikan salep obat ancyclovir dan asam mefenamat Dalam indikasi salep acyclovir sendiri terdapat nukleusida purin asiklik yang mempunyai aktivitas menghambat vius herpes. Dalam kasus ini virus herpes yang terkait dengan gejala yang dialami Ny. A adalah Herpes Zoster. Sehingga dari sini dapat dipastikan bahwa Ny. A terserang Virus Herpes Zoster. Asam mefenamat yang diberikan dokter pada Ny. A adalah untuk menghambat rasa nyeri yang dirasakan Ny. A. 4. Dokter menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan serologi. Pemeriksaan serology yang dilakukan dokter adalah untuk membantu menegakkan diagnose, sehingga penyakit yang dialami Ny. A dapat dipastikan bahwa Ny. A terserang Virus Herpes Zoster. Kesimpulan Jadi dalam kasus ini dapat disimpulkan bahwa dari gejala peratama Ny. A sudah masuk ke dalam fase kronis,. Nyeri dan panas yang dirasakan karena bula yanga ada di punggung sebelah kiri Ny. A adalah terdapat banyak sekali saraf sensoris, sebelumnya dikatakan bahwa virus

varicella menyerang saraf sensoris, maka dari itu Ny. A merasakan nyeri dan panas.

Bagan etiologi herpes zoster yang menyerang Ny. A


Virus Varicella Zoster (riwayat penyakit Ny. A) Serabut saraf sensoris Ganglion sensoris Daya tahan tubuh (kecapean) Reaksi Virus

Merusak ganglion saraf sensoris

imunitas Virus multiplikasi Lesi zooster

Reaksi radang

Sumsum tulang belakang dan otak

Suhu tubuh Menuju kulit Erupsi kulit

Ketidaknyamanan pasien

Daftar Pustaka Amnil, Andriana. 2010. Postherpetic Neuralgia Setelah Menderita Herpes Zoster Oris (Laporan Kasus). http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/16560. Diakses tanggal 6 Juni 2012. Health Woman. 2002. Herpes Bukan Hanya Penyakit Kelamin. http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=health+w oman&y=cybermed|0|0|14|340. Accessed on June,6 2012 on 17.24 WIB. http://www.scribd.com/alexander_gunawan_8/d/95040600-ReferatHerpes-Zoster-Poppy Kumala, Poppy. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorlan. Jakarta: EGC Lubis, Ramona Dumasari. 2008. Varicella dan Herpes Zoster. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3425/1/08E00895.p df. Diakses tanggal 6 juni 2012. Medical Centre. 2011. Penyakit Herpes. http://mzntrock2011.student.umm.ac.id/download-aspdf/umm_blog_article_22.pdf. Accessed on June,6 2012 on 23.22 WIB. Moon, Jame E. 2011. Herpes Zoster. Jakarta: Yayasan Spiritia NCIRS. 2009. Factsheets: Herpes Zoster. http://www.ncirs.com. Pusponegoro, Erdina HD. 2009. Herpes Zoster (Shingles, Cacar Ular). http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/29_171Herpeszoster.pdf/29_17 1Herpeszoster.pdf. Diakses tanggal 6 Juni 2012 Suara Merdeka. (2005). Imunisasi untuk Mencegah Herpes. http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/09/nas23.htm. Accessed on June, 6 2012 on 19.38 WIB Wahyuni, Ningrum (2009). Herpes Zoster. http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/05/29/herpeszoster/. Accessed on June 7,2012 on 18.02 WIB

Beri Nilai