Anda di halaman 1dari 3

Fisika merupakan pengetahuan mengenai fakta-fakta dan hukum-hukum yang didasari atas pengamatan dan penemuan yang disusun

secara teratur dalam sebuah sistem. Proses pengamatan dan penemuan di dalam fisika ini merupakan hasil interaksi dengan lingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari yang muncul sebagai fenomena-fenomena alam. Dalam pembelajaran, pelajaran fisika melatih siswa untuk dapat memahami fenomena-fenomena alam tersebut dan juga dapat menggunakannya sebagi pengetahuan dasar dalam kehidupan seharihari. Serta diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa dalam proses pengamatan dan penemuan tadi. Pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang mengembangkan bidang pendidikan untuk menghasilkan proses dan output pendidikan yang berkualitas. Terobosan terbaru yaitu dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diharapkan dapat menunjang proses dan output dari pembelajaran di sekolah, khususnya dalam kelas. Dalam KTSP salah satu tujuan mata pelajaran fisika yaitu Mengembangkan kemampuan bernalar dalam berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip fisika untuk menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaian masalah baik secara kualitatif maupun kuantitatif. (Depdiknas, 2006: 160) Kemampuan berpikir analisis induktif dan deduktif termasuk dalam keterampilan berpikir khususnya berpikir tingkat tinggi (higher order thinking). Ini jika dikaitkan dengan teori berpikir dari taksonomi Bloom dapat dikategorikan dalam level analisis, sintesis. Untuk itu pembelajaran di kelas dapat diarahkan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa (higher order thinking skills). Guru sebagai pendidik dapat menggunakan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai siswa, dengan panduan dari KTSP bahwa pembelajaran dalam kelas harus memiliki paradigma pembelajaran yang orientasi yang awalnya berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada murid (student centered); metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori menjadi partisipatori; dan pendekatan yang semula lebih banyak tekstual menjadi kontekstual (Komarudin dalam Trianto, 2007) Dalam pasal 10 UU Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru dan dosen yang profesional harus mempunyai empat kompetensi atau kemampuan utama yaitu: kompetensi pedagogik,

profesional, kepribadian dan sosial. Pada penjelasan UU Guru dan Dosen disebutkan bahwa untuk kompetensi pedagogik, guru dan dosen harus memiliki kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Ini menunjukkan bahwa guru dan dosen diharuskan untuk mampu menyiapkan materi pelajaran, mengajarkannya di kelas, dan mengevaluasinya. Salah satu kemampuan pedagogik dalam mengevaluasi berarti guru dan dosen dapat menyelenggarakan penilaian, evaluasi proses dan hasil belajar, dengan kompetensi inti diantaranya dapat menentukan aspek-aspek proses dan hasil belajar yang penting untuk dinilai dan dievaluasi serta mengembangkan instrumen penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar. Sehingga dalam hal ini seorang guru diperlukan kemampuan untuk mendesain dan mengembangkan sendiri soal-soal yang digunakan siswa. Dalam mengevaluasi siswa dan pembelajaran, untuk dapat mengevaluasi pembelajaran fisika sesuai dengan tujuan pembelajaran fisika, pendidik menguji hasil belajar peserta didik pada aspek kognitif dengan menggunakan instrumen penilaian yang dapat mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan soal yang memicu siswa untuk berpikir dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Melalui soal-soal berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skill/HOTS) siswa dilatih untuk berpikir kritis, logis, reflektif, metakognisi dan kreatif. Bentuk soal dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan divariasikan sehingga siswa mengetahui bentuk nyata dalam kehidupan sehari-hari tetapi merupakan hal baru dalam menjawab soal sehingga terdapat tantangan bagi siswa. Siswa juga nanti diharapkan dapat memiliki keterampilan dalam menjelaskan, mengambil keputusan, menyajikan dan menghasilkan produk dalam menjawab soal. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru dan beberapa siswa kelas XI SMA Negeri 1 Inderalaya, soal yang digunakan dalam evaluasi, baik evaluasi formatif maupun sumatif, tidak ditekankan pada soal yang memiliki level berpikir tingkat tinggi. Soal-soal esai yang berbentuk soal cerita sebenarnya sudah diberikan, tetapi soal-soal tersebut baru sebatas pemahaman konsep, sedangkan soal dengan tingkat kognitif yang lebih tinggi seperti soal analisis masih jarang diberikan. Selain itu siswa masih mengalami kebingungan untuk memahami maksud soal dan mengubah soal menjadi model matematika. Oleh karena itu, dengan adanya soal-soal HOTS dengan berdasar pada konteks sehari-hari diharapkan siswa

dapat terbiasa menyerap makna dari soal tersebut serta dapat membiasakan untuk berpikir lebih tinggi dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan. Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengembangkan soal-soal yang menguji keterampilan tingkat berpikir tinggi siswa (Higher Order Thinking Skill). Sehingga penulis mengambil judul Pengembangan Soal Higher Order Thingking Skill Fisika Pokok Bahasan Kinematika di Kelas XI SMA