Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN KASUS NON PSIKOSIS Gangguan Campuran Ansietas dan Depresi

IDENTITAS PASIEN Nama : Ny. NR Perempuan 34 tahun Islam Indonesia Bugis Makassar Sudah Menikah S1 Guru SMP Mandai, Makassar 30 Agustus 2012

Jenis Kelamin : Umur Agama : :

Warga Negara : Suku Status Pendidikan Pekerjaan Alamat : : : : :

Tanggal MRS :

LAPORAN PSIKIATRI I. RIWAYAT PENYAKIT


A. Keluhan Utama

: Cemas

B. Riwayat gangguan sekarang A. Keluhan dan gejala

Pasien merasakan keluhan ini sejak 5 bulan terakhir, awalnya pasien sering mengeluh sakit dada dan sakit kepala. Namun dalam sebulan terakhir sakit dirasakan semakin bertambah. Pasien merasa bahwa sakit dada dan sakit kepala yang dideritanya ini adalah sakit parah. Namun setelah satu kali berobat ke dokter ahli penyakit dan dua kali berobat ke dokter ahli saraf, pasien dinyatakan tidak ada kelainan dan tidak menderita penyakit yang parah seperti yang dikira. Hasil pemeriksaan CT Scan kepala dan foto thorax x-ray menunjukkan tidak ada kelainan spesifik. Namun setiap memikirkan penyakitnya pasien merasa seluruh tubuhnya dingin, bahu menjadi kaku, dan kadang leher terasa seperti tercekik. Pasien juga sering keringat dingin. Pasien juga mengaku sulit untuk tidur dalam 2 bulan terakhir, sulit berkonsentrasi, mudah lelah, dan tidak bersemangat dalam beraktivitas. Pasien sudah cuti 2 hari dari pekerjaannya karena merasa tidak bersemangat lagi.
B.

Hendaya/disfungsi

Hendaya sosial (-) Hendaya pekerjaan (+) Hendaya waktu senggang (+) C. Faktor stressor psikososial

Tidak jelas

D.

Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat fisik dan psikis

sebelumnya Tidak ada E. Riwayat gangguan sebelumnya

Riwayat trauma, kejang tidak ada.. Riwayat penggunaan Narkotik tidak ada, Alkohol tidak ada dan Merokok tidak ada.

F.

Riwayat kehidupan pribadi 1. Riwayat prenatal dan Natal Pasien lahir normal, cukup bulan, di Rumah, dan di bantu oleh dukun. Ibu pasien tidak pernah sakit berat selama kehamilan. Pasien anak bungsu dari 4 bersaudara (L,P, L,P ) 2. Riwayat masa kanak awal (1-3 tahun) Pasien mendapatkan ASI dari Ibunya hingga 2 tahun, pertumbuhan dan perkembangan sesuai umur, tidak ada riwayat trauma dan infeksi pada masa ini. Pasien mendapatkan kasih sayang dari orang tua dan kakakkakaknya. 3. Riwayat masa kanak pertengahan (4-11 tahun) Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya. Pertumbuhan dan

perkembangan baik. Pasien masuk sekolaj negeri dikampungnya pada umur 6 tahun. Pertumbuhan dan perkembangan sama dengan anak seusianya. 4. Riwayat masa kanak dan remaja (12-18 tahun)

Pasien melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA. Prestasi cukup memuaskan. Pasien juga dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dan mempunyai banyak teman. Tidak mempunyai masalah dalam keluarga.
5. Riwayat dewasa (18 - sekarang)

Pasien melanjutkan pendidikan S1 di UNM jurusan pendidikan Matematika. Selesai tepat waktu, kemudian bekerja sebagai guru di SMP Inpress Mandai sampai sekarang. 6. Pasien sudah menikah dengan laki-laki pilihannya sendiri selama 10 tahun dan telah memiliki 2 Orang anak laki-laki.
G.

Riwayat kehidupan Keluarga

Pasien anak bungsu dari 4 bersaudara (L,P, L,P ). Hubungan dengan keluaga baik Hubungan dengan saudara baik Tidak ada riwayat menderita penyakit yang sama dalam keluarga H. Situasi sekarang

Pasien tinggal bersama suami dan kedua anaknya beserta mertua perempuan. I. Persepsi pasien tentang diri sendiri dan keluarganya

Pasien menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan seorang dokter.

II.

AUTOANAMNESA (30 AGUSTUS 2012)

Autoanamnesa

(DM DM P DM

: Dokter mudaP : Selamat siang Ibu.

: Pasien)

: Iye, Selamat siang dok. : Perkenalkan Ibu saya Khaerisman dokter muda disini. Apa boleh saya bicara-bicara sdikit dengan Ibu?

P DM P DM P DM P DM P DM P DM P

: Bisaji dok. : Iya Bu, makasih sebelumnya, bisa tau nama Ibu siapa? : dengan Ibu Rahma : Ibu Rahma, sudah berkeluarga? : Iye, sudah. : Ibu, punya berapa anak? : Sudah ada 2 dok, dua-duanya laki-laki. : Iya Ibu, bisa saya tahu kenapa datang kesini? : Nda enak perasaanku kurasa dok. : Maksud Ibu? : Sepertinya ada penyakitku dok. : Penyakit apa itu Bu? : Begini dok, sudah hampir 5 bulan terakhir ini saya sering sakit kepala sama sakit dada, tapi akhir-akhir ini sepertinya tambah berat.

DM

: Bisa Ibu ceritakan lagi apa yang ibu rasa?

: Begitumi dok, kalau saya pikir lagi penyakitku, kayak sesak kurasa, pundak jadi kaku, kalau sudah parah sekalimi dok ini leher kayak tercekik.

DM P DM P

: Sebelumnya sudah pernah periksa ke dokter? : Sudah dok, saya sudah periksa ke dokter penyakit dalam dan saraf. : Terus, apa yang dokter penyakit dalam dan saraf katakana kepada Ibu? : Dokter bilang baekji bedeng, normal semua, nda ada sakitku yang parah, Cuma perlu istirahat katanya. Hasil ct scan dan foto dada juga normal.

DM P DM P DM P

: Kalau menurut Ibu sendiri, sebenarnya ibu sakit apa? : Ada kayaknya penyakit jantungku dok. : Kenapa bisa bilang begitu? : Itumi dok, sering sakit dada sama kepalaku. : Kemudian, apa yang lagi Ibu rasakan? : Begitumi dok, tanganku dingin baru gemetaranka, cepatka capek biar sedikit dikerja. Baru susahka tidur. Akhir-akhir ini juga menurun kayaknya nafsu makanku.

DM P

: Ada yang ibu khawatirkan? : Iya dok, takutka kalau betul-betul parah penyakitku, takutka tidur baru nda bangun lagi, takutka mati dok.

DM P DM

: Ibu sekarang tinggal sama siapa? : Sama suamiku, sama anak-anakku dok. : Bagaimana dengan pekerjaan Ibu?

: Sudah 2 hari ini saya tidak mengajar lagi dok. Nda semangatka kayak dulu.

DM P DM P DM

: Kalau Ibu nantinya tidak merasa sakit lgi, apa yang akan ibu lakukan? : Mauka kasih bahagia keluargaku, trus mauka bekerja seperti biasa lagi. : Ibu masih ingat nama saya? : iye, Khaerisman toh? : Ok, kalau begitu ibu, Istirahat yang cukup dan jangan lupa minum obatnya. Terima kasih sudah bicara-bicara sama saya. Semoga cepat sembuh.

P III.

: Iye, terima kasih dok.

STATUS MENTAL A. Deskripsi Umum : 1. Penampilan : Tampak seorang wanita. memakai kemeja abu-abu dan rok panjang hitam. Perawakan tinggi dan sedang, wajah sedikit lebih tua dari umur. Perawatan diri baik. 2. Kesadaran : Baik 3. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Tenang 4. Pembicaraan: Lancar, spontan, intonasi biasa. 5. Sikap terhadap pemeriksa :
7

Kooperatif

B.

Keadaan Afektif :
1. Mood : Cemas 2. Afek

: Depresif.

3. Keserasian : Serasi 4. Empati : Dapat dirabarasakan.

C.

Fungsi Intelektual 1. Taraf pendidikan, pengetahuan, dan kecerdasan : Sesuai. 2. Daya konsentrasi : Baik 3. Orientasi :

Waktu : Baik Tempat: Baik Orang : Baik

4. Daya ingat : Jangka Panjang Jangka Sedang : Baik Jangka Pendek : Baik Jangka Segera : Baik : Baik
8

: Baik

5. Pikiran Abstrak

6. Kemampuan menolong diri sendiri

: Baik

D.

Gangguan Persepsi 1. Halusinasi 2. Ilusi : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

3. Depersonalisasi 4. Derelisasi

E.

Proses Berfikir 1. Arus berfikir Produktivitas Kontinuitas 2. Isi pikiran Preokupasi : Khawatir berlebihan pada kesehatannya : Cukup : Relevan dan Koheren

Gangguan isi pikir : Tidak didapatkan

F. Baik

Pengendalian Impuls

G.

Daya Nilai 1. Norma sosial : Baik

2. Uji daya nilai : Baik 3. Penilaian realitas : Baik

H.

Tilikan

Derajat VI: Pasien menyadari dirinya sakit dan butuh pengobatan.

I.

Taraf dapat dipercaya

Dapat dipercaya

IV.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT Pemeriksaan Fisis : 1. Status internus TD Nadi Suhu : 120/80 mmHg : 80x/menit : 36.7oC

Pernafasan : 24x/menit

2. Pemeriksaan status neurologis GCS : E4 M6 V5, Compos mentis

Rangsang meninges : Kaku kuduk -/-, kernig sign -/Pupil bulat isokor 2,5/2,5 mm

10

Refleks cahaya +/+ Tidak ditemukan reflex patologis

V.

IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA Ny. R, 34 tahun. Dengan keluhan tidak enak perasaan / cemas. Keluhan dialami sejak 5 bulan terakhir. Keluhan diawali semenjak pasien sering sakit kepala dan sakit dada, pasien merasa bahwa itu adalah penyakit yang parah. Pasien sudah pernah berobat ke dokter spesialis penyakit dalam akan tetapi menurut dokter yang memeriksa pasien tidak menderita penyakit apapun. Pasien terlalu mengkhawatirkan penyakitnya. Apabila memikirkan penyakitnya pasien merasa sesak, bahu menjadi kaku, keringat dingin, dan gemetaran. Kadang apabila sangat parah pasien merasa seperti tercekik. Pasien juga dalam 2 bulan terakhir mengalami sulit tidur, sulit berkonsentrasi, mudah lelah walaupun hanya sedikit beraktivitas, nafsu makan menurun dan semangat menurun untuk bekerja. Pasien sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak laki-laki. Dari hasil pemeriksaan fisik status internus dan status neurologis didapatkan dalam batas normal. Dari hasil pemeriksaan status mental : Penampilan : Tampak seorang wanita. memakai kemeja abu-abu dan rok panjang hitam. Perawakan tinggi dan sedang, wajah sedikit lebih tua dari umur. Perawatan diri baik. Kesadaran : Baik. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Tenang. Pembicaraan: Lancar, spontan, intonasi biasa.. Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif.. Mood : Cemas. Afek : Depresif. Keserasian : Serasi. Empati : Dapat dirabarasakan. Isi pikiran terdapat preokupasi : pasien terlalu mengkhawatirkan penyakitnya. Produktivitas : Cukup. Kontinuitas : Koheren dan Relevan. Tilikan VI serta dapat di percaya.

VI.

EVALUASI MULTI AKSIAL

11

A. Aksis I Berdasarkan Alloanamnesa dan autoanamnesa didapatkan adanya gejala klinis yang bermakna, berupa kekhawatiran yang berlebihan terhadap sakit yang dirasakannya. Sehingga apabila memikirkan penyakitnya pasien merasakan seperti sesak, leher seperti kaku, Keringat dingin, sering gemetaran dan kadang sampai merasa leher seperti tercekik. Keadaaan ini menimbulkan disstress bagi pasien dan keluarganya dan menimbulkan disability dalam pekerjaan dan penggunaan waktu senggang, sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami Gangguan jiwa. Pada pasien tidak ditemukan hendaya berat, tetapi melainkan hanya hendaya ringan berupa hendaya pekerjaan dan penggunaan waktu senggang. Sehingga pasien didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa Non Psikotik. Pada riwayat penyakit sebelumnya dan pemeriksaan status interna dan neurologis tidak ditemukan adanya kelainan yang mengindikasi gangguan medis umum yang menimbulkan gangguan fungsi otak serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita pasien saat ini, sehingga diagnosa Gangguan mental dapat disingkirkan dan didiagnosa Gangguan Jiwa Non Psikotik Non-organik. Dari autoanamnesa dan pemeriksaan pada status mental ditemukan adanya gejala rasa tidak enak / cemas / khawatir berlebihan terhadap penyakit yang dideritanya. Sehingga apabila memikirkan penyakitnya pasien merasa sesak, kaku di pundak, keringat dingin, gemetar dan kadang merasa seperti tercekik. Pasien juga mengalami insomnia, mudah lelah, dan nafsu makan menurun. Pada pasien juga ditemukan Afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan dan berkurangnya energi / rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja dan menurunnya aktivitas. Karena terdapat gejala ansietas dan depresi dimana masing-masing tidak menunjukan gejala berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri maka berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan

12

Jiwa III (PPDGJ III) di diagnosa dengan Gangguan Campuran Ansietas dan Depresi (F41.2).

B. Aksis II Pasien adalah orang yang mempunyai banyak teman walaupun agak pendiam sehingga digolongkan dalam ciri kepribadian tidak khas.

C. Aksis III Tidak ditemukan kelainan organobiologik.

D. Aksis IV Stressor psikososial tidak jelas.

E. Aksis V GAF scale 70-61 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik)

VII.

DAFTAR PROBLEM A. Organobiologik : Tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang bermakna, tetapi karena terdapat ketidakseimbangan neurotransmitter maka pasien memerlukan psikofarmakoterapi.
B. Psikologik : Ditemukan adanya gejala cemas dan depresi sehingga

membutuhkan psikoterapi.
13

C. Sosiologik

: Ditemukan adanya hendaya ringan dalam pekerjaan dan

penggunaan waktu senggang, sehingga pasien membutuhkan sosioterapi. VIII. PROGNOSIS Dubia et bonam
a.

Faktor pendukung : Keinginan yang jelas dari pasien untuk sembuh Tidak ada kelainan organobiologik Adanya dukungan dari keluarga Pendidikan Pekerjaan

b. c. d. e.

Faktor penghambat : a. Stressor psikososial tidak jelas

IX.

PEMBAHASAN / TINJAUAN PUSTAKA Berdasarkan PPDGJ III untuk mendiagnosis pasien Gangguan campuran

Ansietas dan Depresi (F41.2) adalah memenuhi kriteria umum sebagai berikut :

Terdapat gejala-gejala ansietas maupun depresi, dimana masing-masing tidak menunjukan Bila ditemukan ansietas berat beserta depresi yang lebih ringan, maka harus dipertimbangkan Bila ditemukan sindrom depresi dan ansietas yang cukup berat untuk mendiagnosis masing-

rangkaian gejala yang cukup berat umtuk menegakkan diagnosis tersendiri untuk ansietas dan depresi. kategori gangguan ansietas lainnya atau ansietas fobik. masing, maka kedua diagnosis harus dikemukakan dan diagnosis gangguan campuran tidak dapat
14

digunakan. Jika karena suatu hal hanya dapat dikemukakan satu diagnosis maka gangguan depresif harus diutamakan. Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stres kehidupan yang jelas, maka harus digunakan kategori F43.2 , gangguan penyesuaian. Pasien merasakan tidak enak perasaan / cemas sejak 5 bulan terakhir. Awalnya pasien mencemaskan penyakitnya karena sering sakit kepala dan sakit dada, pasien menduga bahwa dia menderita penyakit yang parah. Namun setelah berobat ke dokter penyakit dalam, menurut dokter pasien tidak menderita penyakit yang parah. Apabila pasien memikirkan penyakitnya maka pasien merasa sesak, kaku pada pundak, keringat dingin, gemetaran dan kadang merasa leher seperti tercekik. Akhir-akhir ini juga pasien merasakan kurang bersemangat dalam bekerja, cepat lelah walaupun sedikit beraktivitas, sulit tidur dan nafsu makan menurun. Dalam golongan ini pasien tidak termasuk gangguan panik karena tidak adanya ansietas berat, pada pasien juga ditemukan gejala depresi namun tidak bisa digolongkan dalam depresi berat. Maka dalam gejala diatas terdapat kriteria Gangguan Campuran Ansietas dan Depresi (F41.2). X. RENCANA TERAPI Farmakoterapi Clobazam 10mg 0-- Fluoxetine 20mg 1-0-0 Pada pasien ini diberikan terapi berupa Clobazam. Clobazam yaitu obat untuk mengatasi keadaan ansietas dan psikoneurotik yang disertai ansietas, obat ini termasuk golongan benzodiazepin yang bekerja berdasarkan potensi inhibisai neuron dengan asam gama-aminobutirat (GABA) sebagai mediator. Clobazam memiliki efek antikonvulsi, ansiolitik, sedatif dan relaksasi otot. Sedangkan Fluoxetine adalah anti depresan golongan SSRI (Selective Serotonin Re-uptake Inhibitor). Psikoterapi suportif Ventilasi : Memberikan kesempatan kepada pasien untuk

menungkapkan isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa lega.


15

Konseling

: Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien

tentang kondisi penyakitnya agar pasien dapat memahami kondisi dirinya, memahami cara menghadapinya, serta memberikan motivasi agar pasien tetap mengkonsumsi obat secara teratur. Sosioterapi Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang terdekat pasien tentang gangguan yang dialami pasien, sehingga tercipta dukungan sosial dalam lingkungan yang kondusif yang pada akhirnya akan membantu proses penyembuhan pasien. Juga memberikan kesempatan pada pasien untuk lebih banyak berbicara.

XI.

FOLLOW UP Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta efektivitas terapi serta kemungkinan efek samping obat yang diberikan.

16