Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN USAHA KECIL DAN KOPERASI DI UKM MINO ARTO DAN KUD MINO SAROYO BIDANG

KAJIAN USAHA KABUPATEN CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH

Disusun Oleh : Nofita Utami H3410012

PROGRAM D-III AGRIBISNIS FAKULTAS PETERANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN USAHA KECIL DAN KOPERASI DI UKM MINO ARTO DAN KUD MINO SAROYO BIDANG KAJIAN USAHA KABUPATEN CILACAP PROVINSI JAWA TENGAH

Disusun dan diajukan Oleh : Nofita Utami H3410012

Dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Surakarta, Juni 2012

Mengetahui Direktur D-III Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Dosen Penguji

Ir. Wartoyo, S.P, M.Si NIP. 19520915 1979 03 1 003

R. Kunto Adi, S.P, M.P NIP.19731017 2003 121 002

INTISARI

Nofita Utami H3410012, koperasi merupakan salah satu sektor dalam ekonomi kerakyatan. Disamping orientasi pemerataan koperasi juga menjalankan fungsi lain yang mendukung pembangunan ekonomi dan mobilitas ekonomi. Koperasi memiliki definisi yaitu badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Laporan Praktikum Manajemen Usaha Kecil dan Koperasi bidang kajian permodalan di KUD Mino Saroyo dan usaha kecil menengah Mino Arto di cilacap. Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2012 bertujuan agar mahasiswa dapat mensinergikan antara teori dibangku kuliah dengan aplikasinya di lapangan. Mengetahui secara langsung bagaimana sejarah perkembangan dan pengembangan pengelolaan badan usaha yang bersangkutan. Memperluas pengetahuan mahasiswa tentang berbagai bentuk-bentuk organisasi ekonomi di Indonesia khususnya UKM dan koperasi. Mahasiswa mampu memahami dinamika pembangunan perkoperasian, serta kendala-kendala pertumbuhan UKM dan koperasi terutama dari faktor internal dan dapat memberikan pemecahan masalahnya. Mengkaji usaha-usaha yang telah dilakukan serta membandingkan kelebihan dan kekurangan dari UKM dan koperasi. Metodologi yang digunakan meliputi metode dasar, metode pengumpulan data dan metode analisis data. Metode dasar yang digunakan dalam praktikum Koperasi ini adalah deskriptif analitis. Metode pengumpulan data dengan menghimpun keterangan dengan ceramah dan tanya jawab dari pengurus ketua umum KUD Mino Saroyo dan UKM Mino arto. Data juga diperoleh dari laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas kepada RAT. Unit usaha yang dikembangkan oleh KUD Minosaroyo adala : unit produksi, unit simpan pinjam, unit pemasaran, unit penangkapan ikan, unit jasa. Dalam menjalankan unit usahanya, koperasi bekerjasama dengan beberapa pihak guna memenuhi kebutuhan modal. Koperasi ini bermitra dengan beberapa bank

yang ada didaerah cilacap, seperti Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI dan sebagainya. Untuk unit usaha yang ada di UKM Mino arto, jenis kegiatannya meliputi pengolahan ikan asin. UKM Mino arto yang terletak di Jl. Bakung No. 19 Cilacap ini bermitra dengan Dinas-dinas di Kabupaten Cilacap, Kodim, dan Bank di Cilacap terutama dalam hal promosi dan UNICEF yang dalam hal ini merupakan mitra setia dari UKM Mino Arto.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allh SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan hasil Praktikum Manajemen Usaha Kecil dan Koperasi ini. Penulisan laporan hasil praktikum ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Usaha Kecil dan Koperasi Dalam pelaksanaan praktikum dan penulisan hasil praktikum, penyusun banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Maka penyususn menyampaikan banyak terima kasih kepada : 1. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Dosen Pengampu mata kuliah Manajemen Usaha Kecil dan Koperasi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 3. Teman-teman serta semua pihak yang telah membantu, baik dalam pelaksanaan maupun penulisan laporan Praktikum Manajemen Usaha Kecil dan Koperasi. Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Akhirnya penyusun berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca.
Surakarta, Juni 2012

Penyusun

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... INTISARI ...................................................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................. DAFTAR TABEL ......................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................................... I. PENDAHULUAN ................................................................................... A. Latar Belakang ................................................................................... B. Permasalahan ...................................................................................... C. Tujuan dan Kegunaan ......................................................................... II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI ............................ A. Tinjauan Pustaka ............................................................................... B. Kerangka Teori .................................................................................. III. METODOLOGI ...................................................................................... A. Metode Dasar ................................................................................... B. Metode Pengumpulan Data ............................................................... C. Metode Analisis Data ........................................................................ IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... A. Kondisi Umum UKM dan KUD ........................................................ B. Kondisi Bidang Kajian UKM dan KUD ........................................... V. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. A. Kesimpulan ......................................................................................... B. Saran .................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kelompok Nelayan di KUD Mino Saroyo..................................... Tabel 2. Sarana Usaha di KUD Mino Saroyo .................................................

Tabel 3.Volume Usaha di KUD Mino Saroyo ................................................

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang UKM merupakan tulang punggung perekonomian di Indonesia, meskipun pengembangan UKM mengalami berbagai hambatan dan

tantangan.UMKM masih diharapkan mampu menjadi andalan perekonomian di indonesia, karena mayoritas masyarakat indonesia melakukan

UMKM.Perekonomian nasional dapat didukung dengan jumlah yang sangat banyak usaha kecil berpotensi menciptakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat Indonesia dan sesuai dengan system yang dianut Indonesia adalah padat karya. Menurut Sutrisno dan Hs (2004), "Perekonomian nasional tahun 1997 telah diporak-porandakan akibat krisis ekonomi sehingga membangkitkan pentingnya peran Usaha Kecil dan Menengah (UKM)". Namun masih banyak juga masyarakat yang enggan untuk berwirausaha. Hal tersebut disebabkan karena alasan minimnya modal. Indonesia memang memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi. Masih banyak masyarakat Indonesia yang masih jauh dari kemakmuran. Memilki penghasilan yang minim, pekerjaan yang tidak tetap atau kerja serabutan, bahkan tidak sedikit pula penduduk Indonesia yang malah tidak memiliki pekerjaan sama sekali atau pengangguran menjadikan masyarakat Indonesia jauh dari kemakmuran. Hal tersebut disebabkan karena minimnya pendidikan serta keahlian yang dimiliki. Banyaknya masyarakat Indonesia yang belum mampu mengenyam bangku sekolahan menjadi salah satu faktor penyebab dari banyaknya angka pengangguran di Indonesia, apalagi saat ini jenjang pendidikan sangat diperhatikan dalam dunia kerja. Dewasa ini banyak sekali kesempatan untuk berwirausaha bagi setiap orang yang mampu melihat peluang bisnis tersebut. Karier kewirausahaan dapat mendukung kesejahteraan masyarakat serta memberikan banyak pilihan barang dan jasa bagi konsumen, baik dalam maupun luar negeri. Meskipun perusahaan raksasa lebih menarik perhatian publik dan sering kali menghiasi

berita utama, bisnis kecil tidak kalah penting perannya bagi kehidupan sosial dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dan karena itu pemerintah mengharapkan para sarjana yang baru lulus mempunyai kemampuan dan keberanian untuk mendirikan bisnis baru meskipun secara ukuran bisnis termasuk kecil, tetapi membuka kesempatan pekerjaan bagi banyak orang. Pihak perguruan tinggi bertanggung jawab dalam mendidik dan memberikan kemampuan dalam melihat peluang bisnis serta mengelola bisnis tersebut serta memberikan motivasi untuk mempunyai keberanian menghadapi resiko bisnis. Peranan perguruan tinggi dalam memotivasi para sarjananya menjadi young entrepreneurs merupakan bagian dari salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Menurut Ali (2006)," Perekonomian Indonesia secara garis besar dalam kegiatan UKM dan Usaha Mikro telah mencapai banyak manfaat bagi masyarakat indonesia dalam menanggulangi kemiskinan dan pengangguran yang tejadi pada bangsa indonesia. Kegiatan ini sangatlah penting untuk kemajuan negara maupun bangsanya sendiri. Pemerintah telah mencapai tujuannya dengan membantu perekonomian bangsa yang kurang mampu dengan kegiatan ini. Program pemerintah ini akan terus menerus berjalan dengan baik untuk kemajuan negara indonesia. B. Permasalahan 1. Apakah UKM itu ? 2. Jenis usaha apa yang terdapat dan mana yang diprioritaskan ? 3. Dengan siapa saja UKM menjalin kemitraan ? 4. Bagaimana perencanaan dan pengembanga usaha UKM tersebut kedepan ? 5. Sistem pemasaran yang bagaimana yang diterapkan ? C. Tujuan dan Kegunaan 1. Agar mahasiswa memahami dan mengerti bagaimana sebuah UKM itu berkembang 2. Agar mahasiswa dapat mengsinergikan antara teori di bangku kuliah dengan aplikasinya di lapangan

3. Agar mahasiswa dapat memahami dinamika pembangunan Ukm dan perkoperasian 4. Agar mahasiswa dapat memahami kendala-kendala pertumbuhan UKM dan koperasi, terutama faktor internal

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

A. Tinjauan Pustaka Perekonomian Indonesia secara garis besar dalam kegiatan UKM dan Usaha Mikro telah mencapai banyak manfaat bagi masyarakat indonesia dalam menanggulangi kemiskinan dan pengangguran yang tejadi pada bangsa indonesia. Kegiatan ini sangatlah penting untuk kemajuan negara maupun bangsanya sendiri. Pemerintah telah mencapai tujuannya dengan membantu perekonomian bangsa yang kurang mampu dengan kegiatan ini. Program pemerintah ini akan terus menerus berjalan dengan baik untuk kemajuan negara indonesia ( Ali, 2006). Pengertian koperasi menurut UU Koperasi No. 12 Tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian adalah sebagai berikut : Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi yang berwatak sosial , beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang merupakan tata susunan ekonomi usaha bersama atas asas kekeluargaan (Anoraga , 1995). Koperasi pertanian (koperasi yang bergerak di bidang usaha pertanian), dalam hal ini koperasi tidak semata-mata berusaha menyelenggarakan produksi saja, melainkan juga membantu para anggotanya dalam usaha pengolahan hasil-hasil pertanian pada tingkat yang lebih tinggi baik kuantitas maupun kualitas, membantu usaha-usaha pemasaran, membantu menyediakan saranasarana pertanian (alat-alat pertanian, pupuk, obat-obat pemberantas hama), membantu menyediakan barang-barang kebutuhan sehari-hari bagi para anggota dengan harga yang wajar dan dapat dibeli secara kredit dan menyediakan kredit investasi lainnya guna menunjang keberhasilan usahatani (Kartasapoetra , 2000). Koperasi unit desa ini berdasar Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 4 Tahun 1973, adalah merupakan bentuk antara dari Badan Usaha Unit Desa (BUUD) sebagau suatu lembaga ekonomi berbentuk koperasi, yang dalam perkembangannya kemudian dilebur atau disatukan menjadi satu KUD. Dengan keluarnya Instruksi Presiden RI No. 2 Tahun1978, KUD bukan lagi

merupakan bentuk antara dari BUUD tetapi telah menjadi organisasi ekonomi yang merupakan wadah bagi pengembangan berbagai kegiatan masyarakat pedesaan itu sendiri serta memberikan pelayanan dan masyarakat pedesaan (Anonim,2012). Setiap koperasi memiliki tiga alat perlengkapan organisasi yaitu Rapat Anggota koperasi, Pengurus dan Badan Pemeriksa. Ketiga-tiganya harus ada, jika tidak koperasi itu tidak lengkap organisasinya. Rapat Anggota koperasi merupakan kekuasaan tertinggi dalam kehidupan koperasi. Untuk

membicarakan sesuatu tentang koperasi di kalangan anggota, maka diadakan Rapat Anggota, dimana seluruh anggotanya diundang. Dalam rapat ini, para anggota boleh berbicara, memberikan usul dan pertimbangan, menyetujui sesuatu usul atau menolaknya. Keputusan yang diambil Rapat Anggota mengikat semua anggota untuk ditaati dan juga mengikat pengurus koperasi untuk melaksanakannya. Walaupun demikian, tidak semua urusan dalam koperasi harus melalui Rapat Anggota (Sagimun, 1984). Struktur organisasi koperasi adalah mekanisme untuk mencapai tujuan koperasi yang telah ditetapkan, dimana diletakkan pembagian pekerjaan dari unsur-unsur / fungsi-fungsi yang ada menurut suatu sistem yang cocok dengan maksud dan tujuan organisasi, hubungan kerja antara fungsi-fungsi, kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab masing-masing yang semuanya harus dilaksanakan secara murni dan konsekuen (Kusumah, 1982). B. Kerangka Teori Dalam Ketentuan Umum Peraturan Pemerintah Nomor. 44 Tahun 1997 terutama dalam Pasal 1 menyatakan bahwa : Kemitraan adalah kerjasama usaha antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah dan atau dengan Usaha Besar disertai pembinaan dan pengembangan oleh Usaha Menengah dan atau Usaha Besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan Menurut Penjelasan Undang-undang No.5 Tahun 1995 Kerjasama usaha, yang didasari oleh kesejajaran kedudukan atau mempunyai derajat yang sama bagi kedua pihak yang bermitra, tidak ada pihak yang dirugikan dalam

kemitraan dengan

tujuan bersama untuk meningkatkan keuntungan atau

pendapatan melalui pengembangan usaha tanpa saling mengeksploitasi satu sama lain serta saling berkembangnya rasa saling percaya diantara mereka

III. METODOLOGI

A. Metode Dasar Menurut Narbuko dan Achmadi (2004), metode deskriptif bertujuan untuk pemecahan masalah secara sistematis dan factual mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi sehingga mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Pada umumnya menyajikan potret keadaan yang bisa mengajukan hipotesis atau tidak 2. Merancang cara pendekatannya, hal ini meliputi macam datanya, penentuan sampelnya, penentuan metode pengumpulan datanya, melatih para tenaga lapangan dan sebagainya 3. Mengumpulkan data 4. Menyusun laporan B. Metode Pengumpulan Data Dalam penyusunan laporan praktikum Manajemen Usaha Kecil dan Koperasi, kami berusaha mengumpulkan data dengan menggunakan berbagai metode guna mempermudah dan menambah materi dalam penulisan laporan ini. Adapun sebagai metode yang kami gunakan yaitu sebagai berikut : 1. Observasi (Pengamatan) Metode ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data penunjang dengan cara melakukan pengamatan secara langsung. 2. Interview Metode ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau tanya jawab secara langsung. 3. Pencatatan Metode ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data penunjang yang dilakukan dengan pengambilan data-data dari narasumber maupun dari media massa yang relevan kita tulis sebagai bahan penyusunan laporan ini.

C. Metode Analisis Data Dalam proses pengolahan data, ada sejumlah langkah-langkah ilmiah yang perlu dilakukan untuk memudahkan proses pengolahan data. Dari beberapa referensi tentang metode penelitian ilmiah, ada sejumlah langkahlangkah yang perlu dilakukandalam proses pengolahan data, yaitu: (1) editing; (2) mengkode data atau kodefikasi data; dan (3) membuat tabulasi.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum UKM dan KUD 1. Kondisi Umum KUD KUD Mino Saroyo Cilacap yang beralamat di Jalan Kolonel Sugiono No.57 Kelurahan Cilacap Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah. Koperasi Perikanan ini mulai berdiri pada tahun 1942 dengan nama Gyo-gyo Kumiai, selanjutnya menyesuaikan Undangundang Koperasi Tahun 1958 menjadi Primer Koperasi Perikanan Laut (KPL), dengan keluarnya Inpres No. 2 Tahun 1978, maka KPL dan BUUD diamalgamasikan/dileburkan menjadi KUD Mino Saroyo Cilacap dengan Badan Hukum Nomor 2479/12-67/6174/a/BH/VI. Telah beberapa kali mengalami perubahan sehingga sekarang Badan Hukum Nomor 2479/1267/6174/d/BH/PAD/KWK.11/IX/96 Tanggal 30 September 1996. Tanggal 15 Januari 1990 KUD Mino Saroyo Cilacap mendapat predikat menjadi KUD Mandiri, tanggal 15 Februari 1990 SK KUD Mandiri diserahkan oleh Bapak Dirjen Binus Koperasi. KUD Mino Saroyo Cilacap memiliki Visi dan Misi, Visi dari KUD Mino Saroyo Cilacap sendiri adalah terwujudnya koperasi nelayan sebagai kekuatan ekonomi rakyat yang tangguh dan profesional dengan kerja sama yang saling menguntungkan anggota dan untuk Misi KUD Mino Saroyo Cilacap antara lain meningkatkan partisipasi anggota dalam menumbuhkan usaha koperasi, meningkatkan produktivitas daya saing dan pangsa pasar koperasi dalam kegiatan usaha, meningkatkan kualitas SDM koperasi mengembangkan organisasi dan manajemen koperasi dan meningkatkan citra koperasi sebagai pelaku ekonomi yang tangguh, profesional, mandiri sebagai basis ekonomi kerakyatan dan meningkatkan akses permodalan bagi koperasi dengan melakukan kemitraan usaha dengan BUMN maupun swasta dan memberikan kemudahan, kepastian berinvestasi serta

menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Wilayah kerja meliputi 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap Utara dan Cilacap Tengah dengan 8 koperasi. Regenerasi KUD Mino Saroyo mengalami perubahan yaitu ketua umum dari periode 1942-2012 sebagai berikut : Djumingan, Atas Munandar, Indon Tjahjono, Narsim, Rosikin, Paijan dan Untung Jayanto. Kepengurusan KUD Mino Saroyo adalah sebagai berikut : Susunan Pengurus Ketua Umum Ketua I Ketua II Ketua III Sekretaris I Sekretaris II Bendahara : Untung Jayanto : Subari : Darman M : Paijan : Wawan Suwardo, A.Md : Tri Martono : Suwarno

KUD Mino Saroyo mempunyai badan pengawa dengan masa jabatan 3 tahun. Badan pengawas bertugas untuk mengawasi dan memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam menyelesaikan suatu masalah. Untuk masa jabatan tahun 2012 Badan pengawas terdiri dari 3 orang yaitu : Susunan Pengawas Ketua Anggota Anggota : Sujono : Wachman : Yogi Nofyan

Dalam melaksanaan tugas sehari-hari untuk pelayanan kepada Anggota dan masyarakat, Pengurus dibantu oleh Karyawan sebanyak 110 orang yang dipimpin oleh Manager : Kusiyati. Usaha pokok melayani kebutuhan-kebutuhan anggota nelayan dan kebutuhan perbekalan melaut sampai pemasaran hasil perikanan, penjualan hasil tangkapan ikan nelayan dijual melalui tempat pelelangan ikan (TPI) sebanyak 9 unit.

Tabel 1. Kelompok Nelayan di KUD Mino Saroyo NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 KETERANGAN Kel. Sentolokawat Kel. Sidakaya Kel. Pandanarang Kel. Tegalkatilayu Kel. Lengkong Kel. B. Donan Kel. PPSC Kel. Kemiren Total Sumber : Company Profile Yang terletak dimasing-masing Kelompok Nelayan dimana di Tempat Pelelangan ikan tersebut terdapat pula sarana usaha milik KUD Mino Saroyo Cilacap yang terdiri dari : Th.2009 2.570 orang 984 orang 1.062 orang 766 orang 915 orang 803 orang 915 orang 340 orang Th.2010 2.556 orang 1.046 orang 977 orang 758 orang 909 orang 795 orang 912 orang 332 orang Th.2011 2.538 orang 963 orang 1.033 orang 757 orang 905 orang 792 orang 957 orang 333 orang

8.355 orang 8.285 orang 8.278 orang

Tabel 2. Sarana Usaha di KUD Mino Saroyo NO SARANA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bongkar Muat SPBB SPDN (Solar Packed Dealer Nelayan) PPDN (Premiun Packed Dealer Nelayan) Freezing Center / Cold Storage Waserda Fish Basket Mesin Foto Copy Mobil Jenasah Gedung Pertemuan Swamitra Usp Apotik Pelayanan Air Bersih Refil Isi Ulang Air Galon / AMDK Balai Pengobatan (3 Dokter ) Pelayanan Listrik Unit Kontraktor Unit Penangkapan (2 Kapal) Gedung Olah raga Futsal Perpustakaan

JUMLAH 9 Buah 1 Buah 1 Unit 1 Unit 2 Unit 1 Unit 2 Unit 500 Buah 2 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 2 Unit 1 Unit 1 Unit

Sumber : Company Profile

Volume Usaha

2. Kondisi Umum UKM Mino Arto merupakan suatu UKM yang bergerak di bidang pengolahan ikan laut. UKM Mino Arto dimiliki oleh Ibu Pujiyanti yang merupakan generasi kedua dari pemilik terdahulu. UKM ini berlokasi di Jl. Bakung no 19 Cilacap. UKM ini berdiri sejak tahun 1984, hingga sekarang UKM ini berkembang menjadi sentra ikan asin dan pusat oleh-oleh. Usaha ini pada awalnya berkembang dengan tenaga kerja sendiri tanpa adanya karyawan, sekarang karyawan tetap yang dimiliki UKM ini sebanyak 10 orang. Pada musim panen yang melimpah jumlah karyawan musiman bertambah hingga 5 orang bahkan lebih. Karyawan tetap berasal dari daerah sekitar, dengan pendidikan yang tidak diperhatikan. Hal ini tergantung pada jumlah bahan baku produksi yaitu ikan laut yang diperoleh dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Jenis ikan laut yang diolah antara lain ikan pari, ikan jambal, ikan lendra, ikan tuna, ikan tiga waja dan ikan bilis. Pengolahan ikan dilakukan dengan cara tradisional. Produk hasil olahan ikan diantaranya abon ikan, ikan asin, balado ikan teri dan balado udang. Produk dipasarkan didaerah sekitar dengan mebuka toko oleh-oleh. B. Kondisi Bidang Kajian 1. Kondisi Bidang Usaha pada KUD Mino Saroyo Tentu, bukan soal banyaknya umur atau kenyang makan asam garam yang membuat koperasi beranggotakan 8.382 orang ini eksis. Alih generasi (regenerasi) pengelolaan yang terus berjalan yang membuatnya tetap bertahan. Sedang pengayaan pengalaman hanya menjadi salah satu pemicu, sehingga KUD di bibir pantai Teluk Penyu ini pun maju. Kepercayaan anggota terus tumbuh dan koperasi pun utuh. Bahkan ditegaskannya, KUD Mino Saroyo yang turut diawakinya menjadi salah satu koperasi yang tidak ikut runtuh tergerus badai krismon akhir 1997 lalu. Berkat telah menerapkan kaidah-kaidah yang benar, sehingga koperasi perikanan di pesisir pantai selatan Jawa ini pun selamat. Tak peduli era pemanjaan dari pemerintah telah berakhir. Intinya, pengurus selalu berupaya memberikan pelayanan pada anggota dengan memuaskan. Untuk melayani kebutuhan anggota

sehari-hari mudah dan nyaman misalnya, pengurus membaginya dalam tujuh kelompok, yakni kelompok Sentolokawat, Sidakaya, Pandanarang, Tegal katilayu, Lengkong, Donan dan PPSC. Anggota bisa memilih tempat melelang hasil tangkapan di sembilan Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Unit-unit usaha lain yang dikembangkan untuk melayani anggota yang tersebar di 10 kelurahan di wilayah Kota Cilacap. Bidang usaha dapat dibagikan dalam 2 (dua) kelompok yaitu unit-unit usaha yang peka terhadap perkembangan produksi di TPI dimana kesuksesan TPI berpengaruh besar terhadap kesuksesan unit tersebut dan unit-unit usaha yang tidak berpengaruh terhadapa perkembangan TPI. Untuk yaitu unit-unit usaha yang peka terhadap perkembangan produksi di TPI antara lain Unit Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Unit Simpan Pijam (USP) khususnya Pinjaman Juragan, Unit Persewaan Keranjang, Unit Waserda khususnya Barang Alat Perikanan, Unit Perbekalan ke laut (SPBU, SPDN, PPDN dan Air), Unit Cold Storage/Freezing Centre dan Unit Penangkapan Ikan, sedangkan untuk unit-unit usaha yang tidak berpengaruh terhadapa perkembangan TPI antara lain Unit Waserda, Unit Listrik, Unit Fotocopy, Unit Persewaan Mobil Jenazah, Unit Apotik, Unit Refil Mina Qua, USP Swamitra, Unit Kontraktor dan Unit futsal. Sarana penunjang lain yang dimiliki KUD Mino Saroyo adalah kapal menangkap ikan bagi anggota seperti armada kapal berbadan besar sebanyak 1.797 unit. Masing-masing berjenis kapal Ex Trwal/Jalur III sebanyak 210 unit dan Kapal Inboard/Jalur II sebanyak 236 unit, compreng mesin 663 unit dan jukung mesin 668 unit. Untuk alat mengalami penurunan jumlah sejak periode 2003. Total armada yang dimiliki pada tahun buku 2009 sebanyak 1.233 unit dan padan tahun buku 2010 sebanyak 1.236 unit dan pada tahun 2012 sebanyak 1797 unit. Namun mulai tahun 2009 kapal tidak dioperasikan sehingga memerlukan biaya-biaya perawatan rutin dan kondisi kapal semakian rusak maka Pengurus KUD Mino Saroyo melakukan langkah-langkah yaitu menjual satu unit kapal dengan harga Rp. 250.000.000,00 dan dari hasil penjualan kapal tersebut untuk

menyelamatkan dua unti kapal yang masih ada dengan melapisi Fiber glass estimasi perhitungan setelah kapal dilapisi Fiber glass maka biaya rutin perawatan kapal lebih efisien dan nilai jual kapal lebih tinggi. Dan pada tahun 2012 KUD Mino Saroyo melakukan perbaikan dua kapal dengan biaya Rp. 357.006.975,00. Volume usaha sejak tahun buku 2009 mengalami penurunan, dari Rp 106,395 miliar turun menjadi Rp 94,639 miliar pada 2010 dan pada 2011 berjumlah Rp 105,729 miliar. Unit-unit usaha yang mengalami kenaikan yaitu SPBU, jasa kontraktor, fish basket, jaasa cold storage, jasa futsal dan apotik. Sejak tahun buku 2009 permodalan yang dimiliki KUD Mino Saroyo merambat turun. Koperasi yang berjalan dalam rel yang benar, walau merupakan badan usaha namun tidak meninggalkan watak sosial. Oleh karena itu, KUD Saroyo Mino juga melaksanakan misi tersebut. Langkah-langkah yang telah ditempuh diantaranya mengajak anggota untuk gemar menabung dengan cara melakukan pemotongan penghasilan sesuai kesepakatan saat

melakukan penjualan ikan melalui lelang di TPI. Untuk lebih meningkatkan pelayanan permodalan terhadap anggota, KUD juga menjalin kerja sama dengan Bank Bukopin dengan membentuk Swamitra. Walau dibentuk belum lama telah menunjukan pertumbuhan lumayan bagus. Sehingga keberadaan lembaga keuangan mikro tersebut sudah dirasakan manfaatnya. Sebab, Swamitra ini telah memiliki pangsa pasar yang jelas, yakni para anggota KUD Mino Saroyo yang berprofesi sebagai bakul ikan basah. Swamitra yang didirikan 1 Mei 2005 dengan menginvestasikan modal sekitar Rp 100 jutaan, kini asetnya sudah lebih dari Rp 1 miliar. Per 31 Oktober 2006 telah membukukan sekitar Rp 35 juta SHU. Jumlah pinjaman yang telah digulirkan kepada 396 nasabah per 31 Oktober 2006 mencapai Rp 600 juta lebih. Plafon yang diberikan Rp 1 juta Rp 50 juta tetapi maksimal kredit yang diberikan baru Rp 30 juta. Semua peminjam adalah para pengusaha mikro dilingkungan nelayan, dengan jangka waktu maksimal dua tahun.

Bukti Swamitra ini berjalan baik selain menyalurkan pinjaman juga menghimpun dana dari anggota KUD. Jumlah simpanan reguler sebesar Rp 460 juta dan simpanan berjangka Rp 160 juta. Bunga pinjaman sebesar 2 persen per tahun, bunga simpanan 10% dan bunga deposito 12% per tahun. Bukti Swamitra ini eksis, tingkat kemacetan rata-rata hanya 1,5% per bulan. Untuk perencanaan dan pengembangan KUD Mino Saroyo sendiri telah mempunyai ancang-ancang antara lain menumbuh kembangkan usaha yang telah ada dengan skala prioritas sesuai dengan kelayakan usaha, bekerjasama dengan pihak lain untuk mengembangkan usaha diluar sektor perikanan, meningkatkan sarana dan prasarana TPI yang dikelola oleh KUD Mino Saroyo Cilacap guna meningkatkan pelayanan kepada anggota dan meningkatkan SDM karyawan untuk memperluas usaha-usaha KUD Mino Saroyo Cilacap terutama Unit Kontraktor. Sedangkan untuk sistem pemasaran sendiri KUD Mino Saroyo Cilacap bukan hanya mencakup Kabupaten Cilapacap saja namun telah sampai luar negeri, seperti Jepang. Utnuk lokal hanya mencapai prosentase 30% dan untuk ekspor sendiri mencapai 70%. KUD Mino Saroyo dalam pemasaran ke luar negeri mereka bekerjasama dengan perusahaan Ekstindo Prima dan Tuan Muara Baru. 2. Kondisi Bidang Usaha pada UKM Mino Arto Nama membawa berkah, itulah yang setidaknya dialami oleh Wagirah Pariman. Nama Mino Arto yang dalam bahasa Indonesia berarti ikan yang mendatangkan uang, benar-benar membawa berkah bagi dirinya dan Ibu Romlah Wagiman. Mino Arto diberikan langsung oleh Istri dari Bupati Poedjono Pranoto tahun 1984, kenang Ibu Wagirah. Dari sepuluh orang penerima bantuan UNICEF, hanya tinggal Ibu Wagirah dan Ibu Romlah yang masih bertahan menjalankan usaha ikan asin hingga sekarang. Dua wanita tersebut berbagi peran yakni urusan pemasaran dipegang oleh Ibu Romlah, sedangkan urusan pengolahan diserahkan kepada Ibu Wagirah. Sejak tahun 1984, Ibu Wagirah mulai mengolah jenis ikan asin super seperti jambal roti, pari, ikan lendra (lidah), tiga waja dan bilis. Jenis ikan asin super memiliki ciri-ciri bentuk fisik mulus, warna putih dan ukuran

seragam. Pada mulanya, Ibu Wagirah hanya mampu memproduksi 10-20 kg ikan asin karena pemasarannya masih terbatas dan produknya belum begitu dikenal. Kini, dalam sehari ia mampu mengolah 2 kuintal ikan jambal kering, 2 kuintal lagi jenis lainnya. Pasokan bahan baku ikan ia peroleh dari bakul-bakul ikan di TPI Cilacap. Saat musim paceklik, kadang ia harus mencari bahan baku dari luar karena pasokan lokal tidak mencukupi salah satunya dari Juwana. Kualitas bahan baku lokal sebenarnya lebih baik daripada dari luar, tuturnya bersemangat. Pemasaran yang awalnya hanya di meja rumah, sejak tahun 1990 Wagirah dan Romlah punya toko sendiri di depan rumahnya. Wagirah mengaku banyak dibantu oleh Dinas-dinas di Kabupaten Cilacap, Kodim, dan Bank di Cilacap terutama dalam hal promosi. Menurutnya, tiap ada tamu instansi tersebut selalu memborong ikan asin produksinya. Ikan asin Mino Arto juga kerap diikutkan dalam pameran sebagai produk olahan ikan khas Cilacap. Setiap bulan, Ia juga rutin memasok ikan pari asin dan jambal roti sebanyak 2 kuintal ke Cirebon. Ikan asin jambal dijual seharga Rp50.000/kg, pari asin Rp70.000/kg, sedangkan bilis, tiga waja dan lendra ia banderol dengan harga yang sama yaitu Rp35.000/kg. Menurut Ibu Wagirah, saat ini bahan baku sulit diperoleh sehingga produksi ikan asinnya turun. Selain itu, harga bahan baku juga cenderung naik. Jika pada kondisi normal harga ikan jambal Rp8.000/kg naik menjadi Rp11.000/kg, pari Rp5.000/kg menjadi

Rp7.000/kg, tiga waja dan bilis dari Rp2.000/kg menjadi Rp3.500/kg dan ikan lendra (lidah) Rp6.000/kg. Itupun barangnya susah dicari, ujarnya. Meskipun harga bahan baku naik, namun ia tidak memberlakukan kenaikan harga pada harga ikan asin produksinya. Toko Mino Arto tidak hanya menjual ikan asin, tetapi juga menyediakan olahan produk perikanan lainnya seperti kerupuk ikan, getas, keripik belut, teri nasi dan abon ikan. Bagi pembeli yang hendak membawa produk dari Mino Arto dalam jumlah banyak, toko ini siap membungkus dalam kemasan kardus yang rapih dan cantik. Untuk jasa ini, pembeli

dikenakan tambahan biaya Rp5.000-7.000/kardus tergantung ukurannya. Jadi, bagi anda yang hendak mengunjungi Cilacap, jangan lupa mampir ke toko Mino Arto. Dijamin ikan asinnya bikin anda ketagihan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilaksanakan ini maka dapat ditarik kesimpulan antara lain: 1. KUD Mino Saroyo dan UKM Mino Arto adalah koprasi mandiri dengan klasifikasi A 2. KUD Mino Saroyo Cilacap yang beralamat di Jalan Kolonel Sugiono No.57 Kelurahan Cilacap Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap Provinsi Jawa Tengah. 3. Unit-unit usaha lain yang dikembangkan untuk melayani anggota yang tersebar di 10 kelurahan di wilayah Kota Cilacap itu di antaranya, unit usaha produksi yaitu memproduksi ikan basah dan es batu. 4. Unit pemasaran meliputi waserda, SPBU, air bersih, voucher ponsel, apotik, unit simpan pinjam, unit penangkapan ikan dan unit usaha jasa di antaranya fish basket, wartel, fotocopy freezing center, listrik dan jasa ambulan. 5. Pemasaran lokal hanya mencapai 30% sedangkan 70% diekspor ke luar negeri seperti Jepang yang bekerjasama dengan perusahaan Ekstido Prima dan Tuan Muara Baru. B. Saran Setelah melakukan praktikum dan menganalisis keadaan pada KUD Getasan dan koperasi Kendali Harta maka terdapat beberpa saran, yaitu: 1. Peningkatan partisipasi anggota dalam segala bentuk kegiatan yang dilaksanakan agar nantinya koperasi dapat meningkatkan perannya sebagai lembaga pembelajaran bagi anggota. 2. Diadakan penyuluhan kepada anggota agar distribusi informasi dapat berjalan dengan baik. 3. Menjalin kerja sama dengan pihak luar agar perkembangan koperasi dapat maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Pandji, SE, ME. 1995. BUMN, Swasta, dan Koperasi, Tiga Pelaku Ekonomi. Pustaka Jaya: Jakarta. Chaniago, A. 1984. Perkoperasian Indonesia. Penerbit Angkasa: Bandung Moch Hatta, 1971. Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun. Pusat Koperasi Pegawai Negeri. Jakarta Riyanto., Bambang 1993. Koprerasi Dalam Teori Dan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta David, B. Gordon. 1995. Kerangka Dasar Sistem Informasi Manajemen Bagian III ; Struktur Pengembangan. Pustaka Binaan Pressindo. Jakarta. Martino, R.L. 1986. Manajemen Informasi. Bina Aksara. Jakarta. Nasution, M. 1983. Pengembangan Perkoperasian Dalam Usaha Usaha Meningkatkan Taraf Hidup Petani Berlahan Sempit dan Buruh Tani. UI. Press. Jakarta. Reskohadiprojo, S. 1974. Manajemen Koperasi. BPFE. Yogyakarta. Sagimun. 1983. Koperasi Indonesia. Depdikbud. Jakarta. Swasono, Sri E. 1987. Koperasi di Dalam Orde Ekonomi Indonesia. UI Press. Jakarta. Yusuf, Amir. 1995. Sistem Informasi Manajemen. Salemba Empat. Jakarta.