Anda di halaman 1dari 30

Kepmenaker No.

51/MEN/IV/2004

MOMT Decree No. 51/MEN/IV/2004

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 51/MEN/IV/2004 TENTANG ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU

THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION ON THE REPUBLIC OF INDONESIA THE DECISION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER : KEP. 51/MEN/ IV/ 2004 CONCERNING LONG PERIOD OF REST AT CERTAIN ENTERPRISES

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 79 ayat (4) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, perlu diatur mengenai perusahaan tertentu yang wajib melaksanakan istirahat panjang; b. bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undangundang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari Republik Indonesia Untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 4);

THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, Considering: a. That in order to implement subsection (4) of Article 79 of Act Number 13 year 2003 concerning Manpower, it is necessary to determine certain enterprises that are obliged to provide long periods of rest; b. For the above purpose, a Ministerial Decision is required. In view of: 1. Act Number 3 Year 1951 concerning The Statement to Apply The Labor Inspection Act Year 1948 Number 23 of the Republic of Indonesia for All Indonesians (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 1951 Number 4);

II.B 181

Kepmenaker No. 51/MEN/IV/2004

MOMT Decree No. 51/MEN/IV/2004

2. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan di Perusahaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 39; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3201); 3. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279); 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 228/M Tahun 2001 tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong. Memperhatikan: 1. Pokok-pokok Pikiran Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 23 Maret 2004; 2. Kesepakatan Rapat Pleno Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 23 Maret 2004;

2. Act Number 7 Year 1981 concerning Obligatory Manpower Report in Enterprises (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 1981 Number 39, Supplement to State Gazette of the Republic of Indonesia Number 3201); 3. Act Number 13 Year 2003 concerning Manpower (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 2003 Number 39, Supplement to State Gazette of the Republic of Indonesia Number 4279); 4. Presidential Decision Number 228/M Year 2001 concerning the Formation of the Gotong Royong Cabinet; Paying Attention to 1. The Gist of Thoughts of the Secretariat of the National Tripartite Cooperation Forum on 23 March 2004; 2. Agreement of the Plenary Meeting of the National Tripartite Cooperation Forum on 23 March 2004;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG ISTIRAHAT PANJANG PADA PERUSAHAAN TERTENTU

DECIDING :
To Stipulate: THE DECISION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA CONCERNING LONG PERIODS OF REST AT CERTAIN ENTERPRISES

II.B 182

Kepmenaker No. 51/MEN/IV/2004

MOMT Decree No. 51/MEN/IV/2004

PASAL 1
Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Istirahat panjang adalah istirahat yang diberikan kepada pekerja/buruh setelah masa kerja 6 (enam) tahun secara terus menerus pada perusahaan yang sama. 2. Perusahaan yang sama adalah perusahaan yang berada dalam satu badan hukum. 3. Menteri adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

ARTICLE 1
Under this Ministerial Decision, the following definitions shall apply: 1. A long period of rest shall refer to rest provided to workers/laborers after a period of continuous employment of 6 (six) years with the same enterprise. 2. The same enterprise shall refer to enterprises that exist within one legal entity. 3. Minister is Minister of Manpower and Transmigration.

PASAL 2
Perusahaan yang wajib melaksanakan istirahat panjang adalah perusahaan yang selama ini telah melaksanakan istirahat panjang sebelum ditetapkannya Keputusan Menteri ini.

ARTICLE 2
Enterprises that are obliged to provide a long period of rest are enterprises that have so far already provided long periods of rest prior to the adoption of this Ministerial Decision

PASAL 3
(1) Pekerja/buruh yang melaksanakan hak istirahat panjang pada tahun ketujuh dan kedelapan, tidak berhak atas istirahat tahunan pada tahun tersebut. (2) Selama menjalankan hak istirahat panjang pekerja/buruh berhak atas upah penuh dan pada pelaksanaan istirahat panjang tahun kedelapan pekerja/buruh diberikan kompensasi hak istirahat tahunan sebesar setengah bulan gaji. (3) Gaji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) terdiri dari upah pokok ditambah tunjangan tetap.

ARTICLE 3
(1) Workers/laborers who are exercising their right to take a long period of rest in the seventh year and in the eight year of their employment are not entitled to take their annual leave in those years. (2) Workers/laborers who are exercising their right to take a long period of rest are entitled to receive their wages in full during such long period of rest and upon exercising their right to take a long period of rest in the eight year, the relevant workers/laborers shall be provided with a compensation amounting to half their wages. (3) The wages as referred to under subsection (2) shall consist of basic wages plus fixed allowances.

PASAL 4
(1) Pengusaha wajib memberitahukan secara tertulis kepada pekerja/buruh tentang saat

ARTICLE 4
(1) The employer is obliged to notify workers/ laborers in writing of when their entitlements

II.B 183

Kepmenaker No. 51/MEN/IV/2004

MOMT Decree No. 51/MEN/IV/2004

timbulnya hak istirahat panjang selambatlambatnya 30 (tiga puluh) hari sebelum hak istirahat panjang timbul. (2) Hak istirahat panjang gugur apabila dalam waktu 6 (enam) bulan sejak hak atas istirahat panjang tersebut timbul pekerja/buruh tidak mempergunakan haknya. (3) Hak istirahat panjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak gugur apabila pekerja/ buruh tidak dapat mempergunakan haknya tersebut karena kehendak pengusaha.

to long periods of rest occur, within a period of 30 (thirty) days at the latest prior to the emergence of such entitlements. (2) A worker/laborers right to take a long period of rest shall expire if the worker/laborer does not use the right within a period of 6 (six) months after the right occurs. (3) The right to take a long period of rest as referred to under subsection (1) shall not expire, if the worker/laborer is unable to use his/her entitlement because of the will of the employer.

PASAL 5
(1) Perusahaan dapat menunda pelaksanaan istirahat panjang untuk paling lama 6 (enam) bulan terhitung sejak timbulnya hak atas istirahat panjang dengan memperhatikan kepentingan pekerja/buruh dan atau perusahaan. (2) Penundaan pelaksanaan istirahat panjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

ARTICLE 5
(1) Enterprises may postpone the performance of the long period of rest for their workers/ laborers for no longer than 6 (six) months since their right to the long period of rest occurs by taking into account the interests of the worker/laborer and or the interests of the enterprise. (2) The postponement of the exercise of the worker/laborers right to take a long period of rest as referred to under subsection (1) must be regulated under work agreements, company regulations or collective labor agreements.

PASAL 6
Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja, tetapi pekerja/buruh belum menggunakan hak istirahat panjangnya dan hak tersebut belum gugur atau pengusaha menunda pelaksanaan istirahat panjang tersebut, maka pekerja/buruh berhak atas suatu pembayaran upah dan kompensasi hak istirahat panjang yang seharusnya diterima.

ARTICLE 6
In the event of termination of employment where the worker/laborer has not used his/her entitlement to a long period of rest and the entitlement has not expired or the employer postponed his/her rights, the worker/laborer shall be entitled to a payment of wages and compensation for the long period of rest that he/ she should entitled.

II.B 184

Kepmenaker No. 51/MEN/IV/2004

MOMT Decree No. 51/MEN/IV/2004

PASAL 7
(1) Dalam hal perusahaan telah memberikan hak istirahat panjang lebih baik dari ketentuan yang telah diatur dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan ketentuan dalam Keputusan Menteri ini, maka perusahaan tidak boleh mengurangi hak tersebut. (2) Dalam hal perusahaan telah memberikan hak istirahat panjang kepada pekerja/buruh tetapi lebih rendah dari ketentuan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Keputusan Menteri ini, maka perusahaan wajib menyesuaikan dengan ketentuan peraturan perundangundangan tersebut.

ARTICLE 7
(1) In case an enterprise provides the right to a long period of rest that is more favorable than the one provided under Act Number 13 Year 2003 concerning Manpower and under this Ministerial Decision, then the enterprise is not allowed to reduce the more favorable right. (2) In case an enterprise has provided its workers/ laborers with the right to a long period of rest that is less favorable than the one provided under Act Number 13 Year 2003 concerning Manpower and under this Ministerial Decision, then the enterprise is obliged to make adjustments to comply with the provisions provided for under those laws and legislations.

PASAL 8
Pelaksanaan istirahat panjang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.

ARTICLE 8
The implementation of the right to a long period of rest shall be regulated under work agreements, company regulations or collective labor agreements.

PASAL 9
Menteri dapat menetapkan perubahan perusahaan yang wajib memberikan istirahat panjang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 sesuai dengan perkembangan ketenagakerjaan.

ARTICLE 9
Minister may introduce changes to the enterprises that are obliged to provide the right of long period of rest as referred to under Article 2 pursuant to the manpower development.

PASAL 10
Keputusan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

ARTICLE 10
This Ministerial Decision shall come into force upon the date of its stipulation.

II.B 185

Kepmenaker No. 51/MEN/IV/2004

MOMT Decree No. 51/MEN/IV/2004

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 8 April 2004

Stipulated in Jakarta On April 8, 2004

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, ttd JACOB NUWA WEA

MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, sgd JACOB NUWA WEA

II.B 186

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP. 102/MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR

MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA THE DECISION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER: KEP. 102/MEN/VI/2004 CONCERNING OVERTIME WORK AND OVERTIME PAY

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 78 ayat (4) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan perlu diatur mengenai waktu kerja lembur dan upah kerja lembur; b. bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri; Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UndangUndang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari Republik Indonesia untuk seluruh Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 4);

MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, Considering: a. that in order to implement subsection (4) Article 78 of Act No. 13 Year 2003 concerning Manpower, it is necessary to determine overtime work and overtime pay; b. that for the above purpose, a Ministerial Decision is required. In view of: 1. Act Number 3 Year 1951 concerning The Statement to Apply the Labor Inspection Act Year 1948 Number 23 of the Republic of Indonesia for All Indonesians (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 1951 Number 4);

II.B 187

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 228/M Tahun 2001 tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong; Memperhatikan: 1. Pokok-pokok Pikiran Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 23 Maret 2004; 2. Kesepakatan Rapat Pleno Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 23 Maret 2004;

2. Act Number 22 Year 1999 concerning Regional Government (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 1999 Number 60, Supplement to the State Gazette of the Republic of Indonesia Number 3839); 3. Act Number 13 Year 2003 concerning Manpower (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 2003 Number 39, Supplement to the State Gazette the Republic of Indonesia Number 4279); 4. Government Regulation Number 25 Year 2000 regarding the Authority of Government and the Authority of Province as the Autonomous Territory ( State Gazette of the Republic of Indonesia Year 2000 Number 54, Supplement to the State Gazette the Republic of Indonesia Number 3959); 5. Presidential Decision of the Republic of Indonesia Number 228/M Year 2001 concerning the Formation of the Gotong Royong Cabinet. Observing: 1. The Gist of Thoughts of the National Tripartite Cooperation Body on 23 March 2004; 2. Agreement of the Plenary Meeting of the National Tripartite Cooperation Institution on 23 March 2004;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR

DECIDING:
To Stipulate: THE DECISION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION CONCERNING OVERTIME WORK AND OVERTIME PAY

II.B 188

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

PASAL 1
Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. Waktu kerja lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 (tujuh) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 8 (delapan) jam sehari, dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmi yang ditetapkan Pemerintah. 2. Pengusaha adalah : a. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahan milik sendiri; b. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya; c. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. 3. Perusahaan adalah : a. setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain; b. usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. 4. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan

ARTICLE 1
Under this Ministerial Decision, the following definitions shall apply: 1. Overtime is a working time that more than 7 (seven) hours a day and 40 (forty) hours 1 (one) week for 6 (six) working days in 1 (one) week or 8 (eight) hours a day and 40 (forty) hours 1 (one) week for 5 (five) working days in 1 (one) week or working time on weekly rest day and or on official holiday determined by Government. 2. An Entrepreneur is: a. An individual, a partnership or a legal entity that runs an enterprise that he or she or it owns; b. An individual, a partnership or a legal entity that independently runs an enterprise that does not belong to him, her or it; c. An individual, a partnership or a legal entity that is situated in Indonesia representing an enterprise as referred to under point a and point b that has its domicile outside the territory of Indonesia. 3. An Enterprise is: a. Every form of business, which is either a legal entity or not, which is owned by an individual, a partnership or a legal entity that is either privately owned or state owned, which employs workers/ laborers by paying them wages or other forms of remuneration; b. Social undertakings and other undertakings with officials in charge and which employ people by paying them wages or other forms of remuneration. 4. Manpower is everyone who capable to perform job to produce goods and/ or services for both fulfilling their needs and societies.

II.B 189

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. 5. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. 6. Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/ buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. 7. Menteri adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

5. A worker/ a laborer shall refer to every person who works for a wage or other forms of remuneration. 6. Wages is the right of worker/laborer which is received and turned out in the form of money as repayment from the entrepreneur or the employer to the labor/worker which is determined and paid according to a working contract, an agreement or laws and legislations, including allowance for worker/ laborer and their families based on jobs and/ or services that have been or will be done. 7. Minister is the Minister of Manpower and Transmigration.

PASAL 2
(1) Pengaturan waktu kerja lembur berlaku untuk semua perusahaan, kecuali bagi perusahaan pada sektor usaha tertentu atau pekerjaan tertentu. (2) Perusahaan pada sektor usaha tertentu atau pekerjaan tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur tersendiri dengan Keputusan Menteri.

ARTICLE 2
(1) The arrangement of overtime work is valid for all enterprises except for enterprises in certain business sectors or certain works. (2) Enterprises in certain business sectors or certain works as meant in subsection (1) will be separately regulated in a Ministerial Decision.

PASAL 3
(1) Waktu kerja lembur hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu. (2) Ketentuan waktu kerja lembur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk kerja lembur yang dilakukan pada waktu istirahat mingguan atau hari libur resmi.

ARTICLE 3
(1) Overtime work can only be executed for maximum 3 (three) hours in 1 (one) day and 14 (fourteen) hours in 1 (one) week. (2) The stipulation of overtime work as meant in subsection (1) does not include overtime work executed on weekly rest day or on official holiday

II.B 190

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

PASAL 4
(1) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/ buruh melebihi waktu kerja, wajib membayar upah lembur. (2) Bagi pekerja/buruh yang termasuk dalam golongan jabatan tertentu, tidak berhak atas upah kerja lembur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dengan ketentuan mendapat upah yang lebih tinggi. (3) Yang termasuk dalam golongan jabatan tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah mereka yang memiliki tanggung jawab sebagai pemikir, perencana, pelaksana dan pengendali jalannya perusahaan yang waktu kerjanya tidak dapat dibatasi menurut waktu kerja yang ditetapkan perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

ARTICLE 4
(1) Entrepreneurs who require workers/laborers to work longer than the working hours are under an obligation to pay overtime pay (2) For the workers/laborers who are within particular job category, not entitled for overtime pay as meant in subsection (1), provided that they receive higher wages (3) Those in this particular job category as meant in subsection (2) are them who have responsibility as thinker, planner, operator, and controller of enterprises operation in which the working hours can not be limited according to the working hours determined by the enterprise referring to the prevailing legislation law.

PASAL 5
Perhitungan upah kerja lembur berlaku bagi semua perusahaan, kecuali bagi perusahaan pada sektor usaha tertentu atau pekerjaan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.

ARTICLE 5
The calculation of overtime pay is valid for all enterprises, except for enterprises in certain business sectors or certain works as meant in Article 2.

PASAL 6
(1) Untuk melakukan kerja lembur harus ada perintah tertulis dari pengusaha dan persetujuan tertulis dari pekerja/buruh yang bersangkutan. (2) Perintah tertulis dan persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuat dalam bentuk daftar pekerja/buruh yang bersedia bekerja lembur yang ditandatangani oleh pekerja/buruh yang bersangkutan dan pengusaha. (3) Pengusaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus membuat daftar pelaksanaan kerja

ARTICLE 6
(1) For performing overtime work, there should be a written instruction from the entrepreneur and a written agreement from the respective workers/laborers. (2) The written instruction and written agreement as meant in subsection (1) can be prepared in the form of a workers/laborers list who are willing to work overtime, which is signed by the respective workers/laborers and the entrepreneur. (3) The entrepreneur as meant in subsection (2) must prepare list of overtime work execution,

II.B 191

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

lembur yang memuat nama pekerja/buruh yang bekerja lembur dan lamanya waktu kerja lembur.

which consists of name of the workers/ laborers who will perform overtime work and the length of the overtime work.

PASAL 7
(1) Perusahaan yang mempekerjakan pekerja/ buruh selama waktu kerja lembur berkewajiban : a. membayar upah kerja lembur; b. memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya; c. memberikan makanan dan minuman sekurang-kurangnya 1.400 kalori apabila kerja lembur dilakukan selama 3 (tiga) jam atau lebih. (2) Pemberian makan dan minum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c tidak boleh diganti dengan uang.

ARTICLE 7
(1) Company assigning workers/laborers during overtime work is under obligation to: a. pay overtime pay; b. provide chance for having an enough rest; c. provide meals and drinks at least 1.400 calories if the overtime work is executed for 3 (three) hours or more (2) The meals and drinks provided as meant in subsection (1) letter c cannot be replaced by money.

PASAL 8
(1) Perhitungan upah lembur didasarkan pada upah bulanan. (2) Cara menghitung upah sejam adalah 1/173 kali upah sebulan.

ARTICLE 8
(1) The calculation of overtime pay is based on monthly wage. (2) The calculation method of one-hour wage is 1/173 times a month wage.

PASAL 9
(1) Dalam hal upah pekerja/buruh dibayar secara harian, maka penghitungan besarnya upah sebulan adalah upah sehari dikalikan 25 (dua puluh lima) bagi pekerja/buruh yang bekerja 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau dikalikan 21 (dua puluh satu) bagi pekerja/buruh yang bekerja 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu. (2) Dalam hal upah pekerja/buruh dibayar berdasarkan satuan hasil, maka upah sebulan adalah upah rata-rata 12 (dua belas) bulan

ARTICLE 9
(1) In the case that the wages of workers/laborers are paid daily, the calculation of a month wages is a day wage times 25 (twenty five) for workers/laborers who work for 6 (six) working days in 1 (one) week or times 21 (twenty one) for workers/labors who work for 5 (five) working days in 1 (one) week. (2) In the case that the wages of workers/laborers were paid based on a product unit, the onemonth wage is the average wage of the last 12 months.

II.B 192

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

terakhir. (3) Dalam hal pekerja/buruh bekerja kurang dari 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka upah sebulan dihitung berdasarkan upah rata-rata selama bekerja dengan ketentuan tidak boleh lebih rendah dari upah minimum setempat.

(3) In the case that the workers/laborers work for less than 12 (twelve) months as meant in subsection (2), the one-month wage is calculated based on average wage received during their work with a condition that the amount must not be lower than the regional minimum wage.

PASAL 10
(1) Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap maka dasar perhitungan upah lembur adalah 100% (seratus perseratus) dari upah. (2) Dalam hal upah terdiri dari upah pokok, tunjangan tetap dan tunjangan tidak tetap, apabila upah pokok tambah tunjangan tetap lebih kecil dari 75% (tujuh puluh lima perseratus) keseluruhan upah, maka dasar perhitungan upah lembur 75% (tujuh puluh lima perseratus) dari keseluruhan upah.

ARTICLE 10
(1) In the case that the wage consists of basic wage and fixed allowance, the basic of calculation of overtime pay is 100% (one hundred per one hundred) of the wage. (2) In the case that the wage consists of basic wage, fixed allowance and non-fixed allowance, if the sum of basic wage plus fixed allowance is lower than 75% (seventy five per one hundred) of total wage, the basic of calculation of overtime pay is 75% (seventy five per one hundred) of total wage.

PASAL 11
Cara perhitungan upah kerja lembur sebagai berikut : a. apabila kerja lembur dilakukan pada hari kerja: a.1 untuk jam kerja lembur pertama harus dibayar upah sebesar 1,5 (satu setengah) kali upah sejam; a.2 untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah sebesar 2 (dua) kali upah sejam. b. apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja 6 (enam) hari kerja 40 (empat puluh) jam seminggu maka : b.1 perhitungan upah kerja lembur untuk 7 (tujuh) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, dan jam kedelapan dibayar 3 (tiga) kali upah sejam dan jam lembur

ARTICLE 11
Calculation methods of overtime pay are as follows: a. If the overtime work is executed on working day: a.1 for the first overtime hour, must be paid a pay amounted to 1.5 (one and half ) times of one-hour pay; a.2 for each next overtime hour, must be paid a pay amounted to 2 (two) times of onehour pay. b. If the overtime work is executed on weekly rest day and/ or official holiday for working time of 6 (six) working days 40 (forty) hours a week, therefore: b.1 calculation of overtime pay for the first 7 (seven) hours is 2 (two) times of one-hour pay, and the eighth hour is 3 (three) times of one-hour pay and the ninth and

II.B 193

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

c.

kesembilan dan kesepuluh 4 (empat) kali upah sejam; b.2 apabila hari libur resmi jatuh pada hari kerja terpendek perhitungan upah lembur 5 (lima) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, jam keenam 3 (tiga) kali upah sejam dan jam lembur ketujuh dan kedelapan 4 (empat) kali upah sejam. apabila kerja lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan dan/atau hari libur resmi untuk waktu kerja 5 (lima) hari kerja dan 40 (empat puluh) jam seminggu, maka perhitungan upah kerja lembur untuk 8 (delapan) jam pertama dibayar 2 (dua) kali upah sejam, jam kesembilan dibayar 3 (tiga) kali upah sejam dan jam kesepuluh dan kesebelas 4 (empat) kali upah sejam.

c.

tenth hours is 4 (four) times of one-hour pay; b.2 if the official holiday falls on the shortest working day, the calculation of overtime pay for the first 5 (five) hours is 2 (two) times of one-hour pay, the sixth hour is 3 (three) times of one-hour pay and the seventh and eighth hours is 4 (four) times of one-hour pay. If the overtime work is executed on weekly rest day and/ or official holiday for working time of 5 (five) working days and 40 (forty) hours a week, the calculation of overtime pay for the first 8 (eight) hours is 2 (two) times of one-hour pay, the ninth hour is 3 (three) times of one-hour pay and the tenth and eleventh hours is 4 (four) times of one-hour pay.

PASAL 12
Bagi perusahaan yang telah melaksanakan dasar perhitungan upah lembur yang nilainya lebih baik dari Keputusan Menteri ini, maka perhitungan upah lembur tersebut tetap berlaku.

ARTICLE 12
For enterprises who have implemented the basic of overtime calculation, which the nominal is better than this Ministerial Decision, hence the overtime calculation is still valid.

PASAL 13
(1) Dalam hal terjadi perbedaan perhitungan tentang besarnya upah lembur, maka yang berwenang menetapkan besarnya upah lembur adalah pengawas ketenagakerjaan Kabupaten/Kota. (2) Apabila salah satu pihak tidak dapat menerima penetapan pengawas ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka dapat meminta penetapan ulang kepada pengawas ketenagakerjaan di Provinsi. (3) Dalam hal terjadi perbedaan perhitungan tentang besarnya upah lembur pada perusahaan yang meliputi lebih dari 1 (satu)

ARTICLE 13
(1) In the case there is a difference in calculating the overtime pay, the person authorized to determine the amount of overtime pay will be the regent/city manpower inspector. (2) If one of the parties cannot accept the determination by the manpower inspector as meant in subsection (1), it is possible to request for a re-determination to a manpower inspector in the province. (3) In the case there is a difference in calculating the overtime pay at an enterprise throughout more than 1 (one) regent/city in 1 (one) same province, the person authorized to determine the amount of the overtime pay will be the province manpower inspector.

II.B 194

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

Kabupaten/Kota dalam 1 (satu) Provinsi yang sama, maka yang berwenang menetapkan besarnya upah lembur adalah pengawas ketenagakerjaan Provinsi. (4) Apabila salah satu pihak tidak dapat menerima penetapan pengawas ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) dapat meminta penetapan ulang kepada pengawas ketenagakerjaan di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

(4) If one of the parties cannot accept the determination by the manpower inspector as meant in the subsection (2) and subsection (3), it is possible to request for a redetermination to the manpower inspector at Department of Manpower and Transmigration.

PASAL 14
Dalam hal terjadi perbedaan perhitungan tentang besarnya upah lembur pada perusahaan yang meliputi lebih dari 1 (satu) Provinsi, maka yang berwenang menetapkan besarnya upah lembur adalah Pengawas Ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

ARTICLE 14
In the case there is a difference in calculating the overtime pay at enterprises throughout more than 1 (one) province, the person authorized to determine the amount of the overtime pay will be the manpower inspector at Department of Manpower and Transmigration.

PASAL 15
Dengan ditetapkannya Keputusan ini, maka Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP72/MEN/1984 tentang Dasar Perhitungan Upah Lembur, Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-608/MEN/1989 tentang Pemberian Izin Penyimpangan Waktu Kerja dan Waktu Istirahat Bagi Perusahaan-perusahaan Yang Mempekerjakan Pekerja 9 (sembilan) Jam Sehari dan 54 (lima puluh empat) Jam Seminggu dan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor PER- 06/MEN/1993 tentang Waktu Kerja 5 (lima) Hari Seminggu dan 8 (delapan) Jam Sehari, dinyatakan tidak berlaku lagi.

ARTICLE 15
With the stipulation of this decision, therefore the Decision of the Minister of Manpower Number KEP-72/MEN/1984 concerning the Basic of Calculation of Overtime Pay, Decision of the Minister of Manpower Number KEP-608/ MEN/1989 concerning Permit for Deviation of Working Time and Rest Time for Companies Employing Workers for 9 (nine) Hours a Day and 54 (fifty four) Hours a Week, and the Regulation of the Minister of Manpower of Republic of Indonesia Number PER-06/MEN/1993 concerning Working Time of 5 (five) Days a Week and 8 (eight) Hours a Day are declared no longer valid.

PASAL 16
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

ARTICLE 16
This Ministerial decision shall come into force upon the date of its stipulation.

II.B 195

Kepmenaker No. 102/MEN/VI/2004

MOMT Decree No. 102/MEN/VI/2004

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 Juni 2004

Stipulated in Jakarta On 25 June 2004

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, ttd JACOB NUWA WEA

MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, sgd JACOB NUWA WEA

II.B 196

Kepmenaker No. 115/MEN/VII/2004

MOMT Decree No. 115/MEN/VII/2004

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 115/MEN/VII/2004 TENTANG PERLINDUNGAN BAGI ANAK YANG MELAKUKAN PEKERJAAN UNTUK MENGEMBANGKAN BAKAT DAN MINAT

THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA THE DECISION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER: KEP. 115/MEN/VII/2004 CONCERNING PROTECTIONS FOR CHILDREN PERFORMING WORK FOR DEVELOPING TALENTS AND INTERESTS

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 71 ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, perlu diatur perlindungan bagi anak yang melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minat; b. bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya UndangUndang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948

THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, Considering: a. That in order to implement subsection (3) Article 71 of Act Number 13 Year 2003 concerning Manpower, it is necessary to determine protection for children performing work for developing talents and interests; b. That for the above purpose, a Ministerial Decree is required. In view of: 1. Act Number 3 Year 1951 regarding The Statement to Apply the Labor Inspection Act Year 1948 Number 23 of the Republic of Indonesia for All Indonesians (State Gazette

II.B 197

Kepmenaker No. 115/MEN/VII/2004

MOMT Decree No. 115/MEN/VII/2004

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Nomor 23 dari Republik Indonesia untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 4); Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2918); Undang-undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan ILO Convention Nomor 138 Convention Minimum Age for Admission to Employment (Konvensi ILO mengenai Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja)(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3835)); Undang-undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan ILO Convention No 182 Concerning The Prohibition and Immediate Action for The Elimination of The Worst Form of Child Labour (Konvensi ILO Nomor 182 mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera untuk Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 30, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3941)); Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 109, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4235); Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279); Keputusan Presiden Nomor 228/M Tahun 2001 tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong;

2.

3.

4.

5.

6.

7.

of the Republic of Indonesia Year 1951 Number 4); Act Number 1 Year 1970 regarding Working Safety (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 1970 Number 1, Supplement to the State Gazette of the Republic of Indonesia Number 2918); Act Number 20 Year 1999 regarding the Ratification of ILO Convention Number 138 Convention Minimum Age for Admission to Employment (ILO Convention concerning Minimum Age for Admission to Employment) (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 1999 Number 56, Supplement to the State Gazette of the Republic of Indonesia Number 3835); Act Number 1 Year 2000 regarding the Ratification of ILO Convention Number 182 Concerning the Prohibition and Immediate Action for the Elimination of The Worst Form of Child Labor (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 2000 Number 30, Supplement to the State Gazette the Republic of Indonesia Number 3941); Act Number 23 Year 2002 regarding Child Protection (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 2002 Number 109, Supplement to the State Gazette of the Republic of Indonesia Number 4235); Act Number 13 Year 2003 concerning Manpower (State Gazette of the Republic of Indonesia Year 2003 Number 39, Supplement to the State Gazette the Republic of Indonesia Number 4279); Presidential Decision Number 228/M Year 2001 regarding the Formation of Gotong Royong Cabinet.

II.B 198

Kepmenaker No. 115/MEN/VII/2004

MOMT Decree No. 115/MEN/VII/2004

Memperhatikan : 1. Pokok-pokok Pikiran Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 19 Mei 2004; 2. Kesepakatan Rapat Pleno Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 19 Mei 2004;

Observing: 1. The Gist of Thoughts of the Secretariat of the National Tripartite Cooperation Institution on 19 May 2004; 2. Agreement of the Plenary Meeting of the National Tripartite Cooperation Institution on 19 May 2004;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERLINDUNGAN BAGI ANAK YANG MELAKUKAN PEKERJAAN UNTUK MENGEMBANGKAN BAKAT DAN MINAT

DECIDING:
To Stipulate: DECISION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA CONCERNING PROTECTION FOR CHILDREN PERFORMING WORK FOR DEVELOPING TALENTS AND INTERESTS

II.B 199

Kepmenaker No. 115/MEN/VII/2004

MOMT Decree No. 115/MEN/VII/2004

PASAL 1
Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. Pengusaha adalah : a. orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri; b. orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya; c. orang perorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. 2. 1 (satu) hari adalah waktu selama 24 (dua puluh empat) jam. 3. Seminggu adalah waktu selama 7 (tujuh) hari. 4. Bakat adalah kemampuan khusus yang dimiliki seorang anak yang dibawa sejak lahir. 5. Minat adalah ketertarikan seseorang anak pada sesuatu bidang.

ARTICLE 1
Under this Ministerial Decision, the following definitions shall apply: 1. Entrepreneur is: a. An individual, a partnership or a legal entity that runs an enterprise that he or she or it owns; b. An individual, a partnership or a legal entity that independently runs an enterprise that does not belong to him, her or it. c. An individual, a partnership or a legal entity that is situated in Indonesia representing an enterprise as referred to under point a and point b that has its domicile outside the territory of Indonesia. 2. 1 (one) day is a time of 24 (twenty four) hours. 3. One week is a time of 7 (seven) days. 4. Talent is a special capability owned by a child, brought since his/ her birth. 5. Interest is an attraction of a child to a particular field.

PASAL 2
(1) Anak dapat melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minatnya. (2) Pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi kriteria : a. pekerjaan tersebut biasa dikerjakan anak sejak usia dini; b. pekerjaan tersebut diminati anak; c. pekerjaan tersebut berdasarkan kemampuan anak; d. pekerjaan tersebut menumbuhkan kreativitas dan sesuai dengan dunia anak.

ARTICLE 2
(1) A child can perform work to develop his/ her talent and interest. (2) The work as meant in subsection (1) must fulfill the following criteria: a. the work is usually done by children since very young ages; b. the work is interested by children; c. the work is based on childrens capabilities; d. the work grows creativities and appropriate to childrens world.

II.B 200

Kepmenaker No. 115/MEN/VII/2004

MOMT Decree No. 115/MEN/VII/2004

PASAL 3
(1) Pelibatan anak dalam pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minat harus memperhatikan kepentingan terbaik untuk anak. (2) Kepentingan terbaik untuk anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan cara antara lain : a. anak didengar dan dihormati pendapatnya; b. anak diperlakukan tanpa menghambat tumbuh kembang fisik, mental, intelektual dan sosial secara optimal; c. anak tetap memperoleh pendidikan; d. anak diperlakukan sama dan tanpa paksaan.

ARTICLE 3
(1) The involvement of children in the work to develop talents and interests must consider the best interests of the children. (2) The best interests of the children as meant in subsection (1) are among others performed with following ways: a. childrens opinions are listened and respected; b. children are treated without inhibiting the optimal growths of their physics, mental, intellectual and social. c. children remains obtaining educations; d. children are treated equally and without pressure.

PASAL 4
(1) Pengusaha dilarang mempekerjakan anak untuk mengembangkan bakat dan minat tanpa pengawasan langsung orang tua/wali. (2) Pengawasan langsung oleh orang tua/wali sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan : a. mendampingi setiap kali anaknya melakukan pekerjaan; b. mencegah perlakuan eksploitatif terhadap anaknya; c. menjaga keselamatan, kesehatan dan moral anaknya selama melakukan pekerjaan;

ARTICLE 4
(1) Entrepreneur must not employ children for developing talents and interest without direct observation from their parents/guardians. (2) Direct observations by parents/guardians as meant in subsection (1) are conducted with: a. Accompanying whenever their children perform the work; b. Preventing exploitative treatments to their children; c. Taking care the safety, health and moral of their children while performing the work;

PASAL 5
(1) Pengusaha yang mempekerjakan anak yang berumur kurang dari 15 (lima belas) tahun untuk mengembangkan bakat dan minat, wajib : a. membuat perjanjian kerja secara tertulis dengan orang tua/wali yang mewakili

ARTICLE 5
1. The entrepreneur who employs children whose ages below 15 (fifteen) years old for developing talents and interests is under obligation to: a. Make a written working agreement with the parents/guardians who representing the children which consists of working

II.B 201

Kepmenaker No. 115/MEN/VII/2004

MOMT Decree No. 115/MEN/VII/2004

anak dan memuat kondisi dan syarat kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku; b. mempekerjakan di luar waktu sekolah; c. memenuhi ketentuan waktu kerja paling lama 3 (tiga) jam sehari dan 12 (dua belas) jam seminggu; d. melibatkan orang tua/wali di lokasi tempat kerja untuk melakukan pengawasan langsung; e. menyediakan tempat dan lingkungan kerja yang bebas dari peredaran dan penggunaan narkotika, perjudian, minuman keras, prostitusi dan hal-hal sejenis yang memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan fisik, mental dan sosial anak; f. menyediakan fasilitas tempat istirahat selama waktu tunggu; dan g. melaksanakan syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja. (2) Waktu tunggu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf f paling lama 1 (satu) jam. (3) Dalam hal waktu tunggu melebihi 1 (satu) jam, maka kelebihan waktu tersebut termasuk di dalam waktu kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c.

conditions and requirements according to the prevailing regulations; b. Assign outside school hours; c. Fulfill the working hour regulation, at the maximum of 3 (three) hours a day and 12 (twelve) hours a week; d. Involve parents/ guardians at the working location to do direct supervision; e. Provide places and working environments which are free from circulations and consumptions of narcotics, gambling, alcoholic drinks, prostitutions and similar matters which have bad influences to the growths of children physics, mental and social; f. Provide facilities to take a rest during waiting times; and g. Implement the occupational safety and health conditions. 2. The waiting time as meant in subsection (1) letter f is for 1 (one) hour at the longest. 3. In the case that the waiting time is more than 1 (one) hour, the excess time is included in the working hour as meant in subsection (1) letter c.

PASAL 6
(1) Pengusaha yang mempekerjakan anak untuk mengembangkan bakat dan minat harus melaporkan dengan menggunakan formulir sebagaimana terlampir. (2) Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di Kabupaten/Kota pada lokasi anak dipekerjakan, dengan tembusan kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan serta instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan di Provinsi yang bersangkutan.

ARTICLE 6
(1) The entrepreneur who employs children for developing talents and interests should report by applying the form as attached. (2) The report as meant in subsection (1) is submitted to the authorized manpower institution in the district/city at the location where the children are employed, with copies to the Minister authorized in manpower matters and the authorized manpower institution in the relevant province. (3) The report as meant in subsection (2) is submitted in 14 (fourteen) days at the latest before the entrepreneur employs the children.

II.B 202

Kepmenaker No. 115/MEN/VII/2004

MOMT Decree No. 115/MEN/VII/2004

(3) Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) disampaikan paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum pengusaha mempekerjakan anak.

PASAL 7
Keputusan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

ARTICLE 7
This Ministerial Decision shall come into force upon the date of its stipulation.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 Juli 2004 MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, ttd JACOB NUWA WEA

Stipulated in Jakarta On 21 June 2004 MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, sgd JACOB NUWA WEA

II.B 203

Lampiran Kepmenaker No. 115/MEN/VII/2004

Attachment MOMT Decree No. 115/MEN/VII/2004

LAMPIRAN
LAPORAN PENGUSAHA YANG MEMPEKERJAKAN ANAK DALAM RANGKA MENGEMBANGKAN BAKAT DAN MINAT NAMA DAN ALAMAT PERUSAHAAN : ............................ .......................Telp.:.Fax:................... Email:.......... NAMA DAN ALAMAT PIMPINAN PERUSAHAAN: .......................Telp.:.Fax:................... Email:.......... JENIS USAHA : .................................................................... ALAMAT/LOKASI KERJA ANAK : ...................................... ANAK YANG DIPEKERJAKAN: .......................................... NO ANAK NAMA 1. 2. 3. 4. ALAMAT L/P TEMPATTGL LAHIR

ATTACHMENT
REPORT OF ENTREPRENEUR EMPLOYING CHILDREN FOR DEVELOPING TALENTS AND INTERESTS COMPANY NAME AND ADDRESS : ................................. .......................Telp.:.Fax:................... Email:.......... COMPANY CHAIRMAN NAME AND ADDRESS: .......................Telp.:.Fax:................... Email:.......... BUSINESS SECTOR: .......................................................... CHILDREN WORKING ADDRESS/ LOCATION : ......... CILDREN BEING EMPLOYED :........................................ TANGGAL DIPEKER JAKAN JENIS PEKERJAAN JML JAMKERJA

ORANG TUA/WALI NAMA ALAMAT/ TELP

NO

CHILD DETAILS NAME ADRESS

M/F PLACE & DATE PARENT/GUARDIAN EMPLOYOF BIRTH MENT DATE ADRESS/ NAME TELP

TYPE OF JOB

NUMBER OF WORKING HOUR

1. 2. 3. 4.

TTD

CAP

SIGNATURE

CHOP

JACOB NUWA WEA

(NAMA PIMPINAN PERUSAHAAN)

JACOB NUWA WEA

(COMPANY CHAIRMAN NAME)

II.B 204

Permen No. 09/MEN/V/2005

MR No. 09/MEN/V/2005

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER.09/MEN/V/2005 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN LAPORAN PELAKSANAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN

REGULATION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER : PER.09/MEN/V/2005 CONCERNING PROCEDURES FOR THE SUBMISSION OF REPORTS ON THE CONDUCT OF LABOR INSPECTION

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 179 Undang - Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan perlu diatur mengenai Tata Cara Penyampaian Laporan Pelaksanaan Pengawasan Ketenagakerjaan dengan Peraturan Menteri; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan berlakunya Undangundang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 Dari Republik Indonesia Untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 4);

THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, Considering : That within the framework of the implementation of the provision of Article 179 of Act Number 13 of the Year 2003 concerning Labor, it is necessary to regulate procedures for the submission of reports on the conduct of labor inspection through the adoption of a Ministerial Regulation; In view of : 1. Act Number 3 of the Year 1951 concerning the Statement on the Coming into Force of Labor Inspection Act of the Year 1948 Number 23 of the Republic of Indonesia for the Whole of Indonesia (State Gazette of the Republic of Indonesia of the Year 1951

II.B 205

Permen No. 09/MEN/V/2005

MR No. 09/MEN/V/2005

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1987 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2819); 3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279); 4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2003 tentang Pengesahan ILO Convention Nomor 81 Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce (Konvensi ILO Nomor 81 mengenai Pengawasan Ketenagakerjaan Dalam Industri dan Perdagangan) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4309)); 5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu;

Number 4); 2. Act Number 1 of the Year 1970 concerning Occupational Safety (State Gazette of the Republic of Indonesia of the Year 1987 Number 1, Supplement to the State Gazette of the Republic of Indonesia Number 2819); 3. Act Number 13 of the Year 2003 concerning Labor (State Gazette of the Republic of Indonesia of the Year 2003 Number 39, Supplement to State Gazette of the Republic of Indonesia Number 4279); 4. Act Number 21 of the Year 2003 concerning the Ratification of ILO Convention Number 81 Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce (State Gazette of the Republic of Indonesia of the Year 2003 Number 91, Supplement to State Gazette of the Republic of Indonesia Number 4309);5. T h e Decision [Decree] of the President of the Republic of Indonesia Number 187/M of the Year 2004 concerning the Formation of the United Indonesia (Indonesia Bersatu) Cabinet;

DECIDES : MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN LAPORAN PELAKSANAAN PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN To adopt : THE REGULATION OF THE MINISTER OF MANPOWER OF THE REPUBLIC OF INDONESIA CONCERNING PROCEDURES FOR THE SUBMISSION OF REPORTS ON THE CONDUCT OF LABOR INSPECTION

II.B 206

Permen No. 09/MEN/V/2005

MR No. 09/MEN/V/2005

PASAL 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. Pengawasan Ketenagakerjaan adalah kegiatan mengawasi dan menegakkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. 2. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan adalah pegawai teknis berkeahlian khusus yang ditunjuk oleh Menteri dan diserahi tugas mengawasi serta menegakkan pelaksanaan peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. 3. Laporan pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan adalah laporan yang memuat hasil kegiatan dan evaluasi pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan baik laporan individu pegawai pengawas ketenagakerjaan maupun laporan unit kerja pengawasan ketenagakerjaan. 4. Unit kerja pengawasan ketenagakerjaan pusat adalah unit kerja pelaksana yang menjalankan tugas dan fungsi pengawasan ketenagakerjaan pada Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 5. Instansi di Kabupaten/Kota adalah instansi yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagakerjaan di Kabupaten/ Kota. 6. Instansi di Provinsi adalah instansi yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagakerjaan di Provinsi. 7. Unit kerja pengawasan ketenagakerjaan Kabupaten/Kota atau Provinsi adalah unit kerja pelaksana yang menjalankan tugas dan fungsi di bidang pengawasan ketenagakerjaan pada instansi yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagakerjaan di Kabupaten/Kota atau Provinsi.

ARTICLE 1
Under this Ministerial Regulation, that which is meant by : 1. Labor inspection is the act of inspecting and enforcing the implementation of labor laws and regulations. 2. A Labor Inspector Government Employee is a technical government employee with a special expertise who is appointed by Minister and invested with the duty to inspect and to enforce the implementation of labor laws and regulations. 3. A report on the conduct of labor inspection is a report that contains the results of activities associated with, as well as evaluation of, the conduct of labor inspection, be it an individual report prepared by each labor inspector or a report prepared by a labor inspection working unit. 4. The central labor inspection working unit is the implementer working unit that carries out labor inspection duties and functions at the Ministry of Manpower and Transmigration. 5. Government agencies in districts/cities are government agencies whose scope of duties and responsibilities are in the field of labor in [the] districts/ cities. 6. Government agencies in Provinces are government agencies whose scope of duties and responsibilities is in the field of labor in [the] provincies. 7. District/city or provincial labor inspection working units are implementer working units that carry out labor inspection duties and functions at government agencies whose scope of duties and responsibilities is in the field of labor in districts/ cities or provinces. 8. Director General is Director General for Supervising Labor Inspection.

II.B 207

Permen No. 09/MEN/V/2005

MR No. 09/MEN/V/2005

8. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan. 9. Menteri adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

9. Minister is Minister of Manpower and Transmigration.

PASAL 2
(1) Instansi di Kabupaten/Kota mengumpulkan, mengolah, mencatat dan menyimpan serta menyajikan data pengawasan ketenagakerjaan. (2) Data pengawasan ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. pegawai pengawas ketenagakerjaan; b. objek pengawasan ketenagakerjaan; c. objek pengawasan norma jamsostek; d. kegiatan pemeriksaan dan pengujian; e. perijinan objek pengawasan ketenagakerjaan; f. jenis kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja; g. jenis pelanggaran dan tindak lanjut; h. penyidikan.

ARTICLE 2
(1) Government agencies in districts/cities shall collect, process, record, and keep as well as present labor inspection data. (2) The labor inspection data as referred to under subsection (1) shall cover: a. Labor inspector government employees; b. Objects of labor inspection; c. Objects of inspection of jamsostek [social security for workers] norms; d. Examination and testing activities; e. Licensing aspects of objects of labor inspection; f. Types of occupational accidents and occupational diseases; g. Types of violations and follow-ups; h. Investigations.

PASAL 3
(1) Pegawai pengawas ketenagakerjaan secara individual wajib membuat laporan setiap kegiatan pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. (2) Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menggunakan formulir yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. (3) Laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan kepada atasan langsung pegawai pengawas ketenagakerjaan yang bersangkutan setiap selesai melaksanakan tugas atau setiap tahap penyelesaian untuk kegiatan yang bersifat berkelanjutan.

ARTICLE 3
(1) Individually, a labor inspector government employee is obliged to make a report for each activity associated with the discharge of duty that falls under his/her responsibility. (2) The report as referred to under subsection (1) shall be made using a form that has been determined by Director General. (3) The report as referred to under subsection (1) shall be submitted to the direct superior of the labor inspector government employee in question every time he/she completes his/ her duty or at every stage of completion if the activity is of continuing nature.

II.B 208

Permen No. 09/MEN/V/2005

MR No. 09/MEN/V/2005

PASAL 4
(1) Berdasarkan laporan individu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) instansi di Kabupaten/Kota menyampaikan laporan pelaksanaan pengawasan kepada instansi di Provinsi. (2) Instansi di Provinsi menyusun rekapitulasi laporan pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan dari instansi di masingmasing Kabupaten/Kota di wilayah provinsi yang bersangkutan. (3) Instansi di Provinsi menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) kepada Direktur Jenderal. (4) Direktur Jenderal menyampaikan laporan pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan secara nasional kepada Menteri. (5) Dalam hal unit kerja pengawasan ketenagakerjaan tidak berada dalam lingkup tugas dan tanggung jawab instansi di Kabupaten/Kota atau di Provinsi maka unit kerja pengawasan tersebut menyampaikan laporan pelaksanaan pengawasan kepada instansi di Provinsi atau Direktur Jenderal.

ARTICLE 4
(1) Based on the individual report as referred to under subsection (1) of Article 3, a government agency in a district/city shall submit its inspection report to the government agency in the province. (2) The government agency in the province draw up a recapitulation of all the reports on the conduct of labor inspection from government agencies in respective districts/cities situated within the province in question. (3) The government agency in the province shall submit the report as referred to under subsection (2) to Director General. (4) Director General shall submit a national report on the conduct of labor inspection to Minister. (5) In case a labor inspection working unit that is situated in a given district/city or province does not fall within the scope of duties and responsibilities of the government agency in the given district/city or province, the labor inspection working unit in question shall submit its report on the conduct of labor inspection to either the government agency in the province or to Director General.

PASAL 5
(1) Laporan unit pengawasan ketenagakerjaan Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (1) menggunakan formulir sebagaimana terlampir dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini. (2) Laporan unit pengawasan ketenagakerjaan Provinsi sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (2) menggunakan formulir sebagaimana terlampir dalam Lampiran II Peraturan Menteri ini.

ARTICLE 5
(1) The report of the district/city labor inspection unit as referred to under subsection (1) of Article 4 shall be made using the form as attached under Appendix I of this Ministerial Regulation. (2) The report of the provincial labor inspection unit as referred to under subsection (2) of Article 4 shall be made using the form as attached under Appendix II of this Ministerial Regulation.

II.B 209

Permen No. 09/MEN/V/2005

MR No. 09/MEN/V/2005

PASAL 6
Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam rangka pengambilan keputusan, penyusunan kebijakan pengawasan ketenagakerjaan dan penyempurnaan peraturan perundang-undangan.

ARTICLE 6
The report as referred to under Article 4 shall be used as a consideration in making decision, drawing up a labor inspection policy, and revising laws and regulations.

PASAL 7
Peraturan Menteri ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 25 Mei 2005 MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, ttd FAHMI IDRIS

ARTICLE 7
This Ministerial Regulation shall come into force upon the date of its adoption. Adopted in Jakarta on the date of May 25, 2005 MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, sgd FAHMI IDRIS

II.B 210