Anda di halaman 1dari 16

Kepmenaker No.

220/MEN/X/2004

MOMT Decree No. 220/MEN/X/2004

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: KEP. 220/MEN/ X/2004 TENTANG SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KEPADA PERUSAHAAN LAIN

THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA DECISION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER: KEP. 220/MEN/X/2004 REGARDING CONDITIONS FOR THE HANDOVER OF PART OF WORK EXECUTIONS TO OTHER COMPANIES

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 65 ayat (5) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, perlu diatur mengenai perubahan dan/atau penambahan syarat-syarat penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain; b. bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri;

THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, Considering : a. that as the implementation of article 65 paragraph (5) of Act No. 13 Year 2003 on Manpower, it needs to be regulated about changes and/ or additions on the conditions for the handover of part of work executions to other companies; b. that for said purpose, there needs to be promulgated a Ministerial Decree.

II.C 381

Kepmenaker No. 220/MEN/X/2004

MOMT Decree No. 220/MEN/X/2004

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1951 tentang Pernyataan Berlakunya Undangundang Pengawasan Perburuhan Tahun 1948 Nomor 23 dari Republik Indonesia untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 4); 2. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279); 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 228/M Tahun 2001 tentang Pembentukan Kabinet Gotong Royong; Memperhatikan : 1. Pokok-pokok Pikiran Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 23 April 2004; 2. Kesepakatan Rapat Pleno Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 19 Mei 2004;

In view of: 1. Act Number 3 Year 1951 regarding the Validation of the Labor Supervision Act No. 23 Year 1948 of the Republic of Indonesia throughout the whole territory of Indonesia (the Republic of Indonesia State Gazette Year 1951 Number 4); 2. Act Number 13 Year 2003 regarding Manpower (the Republic of Indonesia State Gazette Number 39, the Republic of Indonesia Sate Gazette Amendment Number 4279); 3. Decree of the President of the Republic of Indonesia Number 228/M Year 2001 regarding the reform of Gotong Royong Cabinet. Observing: 1. Principal Thoughts of the National Tripartite Cooperation Body on 23 April 2004; 2. Agreement reached at the Plenary Meeting of the National Tripartite Cooperation Body on 19 May 2004;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG SYARATSYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN KEPADA PERUSAHAAN LAIN

RESOLVES
To determine: THE DECISION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION REGARDING CONDITIONS FOR THE HANDOVER OF PART OF WORK EXECUTIONS TO OTHER COMPANIES

II.C 382

Kepmenaker No. 220/MEN/X/2004

MOMT Decree No. 220/MEN/X/2004

PASAL 1
Dalam Keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan : (1) Perusahaan yang selanjutnya disebut perusahaan pemberi pekerjaan adalah : a. setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain; b. usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. (2) Perusahaan penerima pemborongan pekerjaan adalah perusahaan lain yang menerima penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan dari perusahaan pemberi pekerjaan. (3) Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja pada perusahaan penerima pemborongan pekerjaan dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.

ARTICLE 1
In this Ministerial Decision, the meaning of: (1) Company is: a. all business type, whether a legal entity or not, owned by an individual person, a federation, or a corporate body, whether in private or public sector that employs worker/laborer through the payment of wages or other forms of compensation; b. social work and other forms of work that are managed by a management committee and employ labor through the payment of wages or other forms of compensation. (2) A company that receives work contracts is a company that is given part of a work execution from the providing company. (3) Worker/laborer is one who is working at the company receiving work contracts, receiving wages or compensation in other forms.

PASAL 2
(1) Perusahaan pemberi pekerjaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan penerima pemborongan pekerjaan. (2) Penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan melalui perjanjian pemborongan pekerjaan secara tertulis.

ARTICLE 2
(1) The company providing works can handover part of the executions of work to the company receiving work contracts. (2) The handover of part of the executions of work meant in paragraph (1) is implemented with written work contract agreements.

II.C 383

Kepmenaker No. 220/MEN/X/2004

MOMT Decree No. 220/MEN/X/2004

PASAL 3
(1) Dalam hal perusahaan pemberi pekerjaan akan menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan pemborong pekerjaan harus diserahkan kepada perusahaan yang berbadan hukum. (2) Ketentuan mengenai berbadan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikecualikan bagi : a. perusahaan pemborong pekerjaan yang bergerak di bidang pengadaan barang; b. perusahaan pemborong pekerjaan yang bergerak di bidang jasa pemeliharaan dan perbaikan serta jasa konsultansi yang dalam melaksanakan pekerjaan tersebut mempekerjakan pekerja/buruh kurang dari 10 (sepuluh) orang. (3) Apabila perusahaan pemborong pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan menyerahkan lagi sebagian pekerjaan yang diterima dari perusahaan pemberi pekerjaan, maka penyerahan tersebut dapat diberikan kepada perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbadan hukum. (4) Dalam hal perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbadan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) tidak melaksanakan kewajibannya memenuhi hak-hak pekerja/ buruh dalam hubungan kerja maka perusahaan yang berbadan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertanggung jawab dalam memenuhi kewajiban tersebut.

ARTICLE 3
(1) In the case of the company providing works handover part of work executions to the contractor company, the company should handover to a legal entity. (2) The stipulation on the corporate body meant in paragraph (1) is excepted for: a. Contractors that are goods suppliers; b. Contractors having business in maintenance and repair services and consultation services and execute the works employing less than 10 (ten) workers/ laborers. (3) If the contractor meant in paragraph (1) decides to re-handover some works received from the company providing the works, the re-handover can be done to a contractor that is not a legal entity. (4) In the matter that the contractor which is not a legal entity as meant in paragraph (3) is not implementing its obligation in fulfilling the rights of workers/ laborers in working relationship, the company that is a legal entity mentioned in paragraph (1) is responsible in fulfilling the obligation.

PASAL 4
(1) Dalam hal di satu daerah tidak terdapat perusahaan pemborong pekerjaan yang berbadan hukum atau terdapat perusahaan pemborong pekerjaan berbadan hukum tetapi tidak memenuhi kualifikasi untuk dapat

ARTICLE 4
(1) In the matter that in an area there is no contractor that is a legal entity or there exists a contractor that is a legal entity but cannot fulfill the qualifications to execute some works from the company providing works, the

II.C 384

Kepmenaker No. 220/MEN/X/2004

MOMT Decree No. 220/MEN/X/2004

melaksanakan sebagian pekerjaan dari perusahaan pemberi pekerjaan, maka penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan dapat diserahkan pada perusahaan pemborong pekerjaan yang bukan berbadan hukum. (2) Perusahaan penerima pemborongan pekerjaan yang bukan berbadan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertanggung jawab memenuhi hak-hak pekerja/buruh yang terjadi dalam hubungan kerja antara perusahaan yang bukan berbadan hukum tersebut dengan pekerjanya/buruhnya. (3) Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus dituangkan dalam perjanjian pemborongan pekerjaan antara perusahaan pemberi pekerjaan dengan perusahaan pemborong pekerjaan.

handover of some works can be done to the contractor that is not a legal entity. (2) The company receiving work contracts which is not a legal entity meant in paragraph (1) is responsible to fulfill the rights of the workers/ laborers that is stated in the working relationship between the company with that is not a legal entity and its workers/laborers. (3) The responsibilities that are mentioned in paragraph (2) have to be stated in the work contract between the company providing the work and the company receiving it.

PASAL 5
Setiap perjanjian pemborongan pekerjaan wajib memuat ketentuan yang menjamin terpenuhinya hak-hak pekerja/buruh dalam hubungan kerja sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan.

RTICLE 5

All work contract agreements must contain stipulations guarantying the fulfillment of the rights of the workers/laborers in working relationships as stipulated under on-going laws and regulations.

PASAL 6
(1) Pekerjaan yang dapat diserahkan kepada perusahaan pemborong pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama baik manajemen maupun kegiatan pelaksanaan pekerjaan; b. dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari pemberi pekerjaan dimaksudkan untuk memberi penjelasan tentang cara melaksanakan pekerjaan agar sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh perusahaan pemberi pekerjaan;

ARTICLE 6
(1) Works allowed to be handed-over to contractors meant in Article 2 paragraph (1) must fulfill the following conditions: a. Carried out separately from main activities, both management or work execution activities; b. Being done with direct or indirect orders from the company providing the works in order to give explanations on how to execute the works appropriately according to the standards determined by the company providing the works; c. Is an auxiliary activity that supports the company as a whole, meaning of which

II.C 385

Kepmenaker No. 220/MEN/X/2004

MOMT Decree No. 220/MEN/X/2004

merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan, artinya kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang mendukung dan memperlancar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan alur kegiatan kerja perusahaan pemberi pekerjaan. d. tidak menghambat proses produksi secara langsung artinya kegiatan tersebut adalah merupakan kegiatan tambahan yang apabila tidak dilakukan oleh perusahaan pemberi pekerjaan, proses pelaksanaan pekerjaan tetap berjalan sebagaimana biasanya. (2) Perusahaan pemberi pekerjaan yang akan menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaannya kepada perusahaan pemborong pekerjaan wajib membuat alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan. (3) Berdasarkan alur kegiatan proses pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) perusahaan pemberi pekerjaan menetapkan jenis-jenis pekerjaan yang utama dan penunjang berdasarkan ketentuan ayat (1) serta melaporkan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan setempat.

c.

it is an activity that supports and accelerates the execution of works according to the workflow of the company providing the works. d. Does not inhibit production process directly means that the activity is an additional activity that if it is not executed by the company providing the works, the work execution process will go on as usual. (2) The company providing the works which will handover part of the work executions to the contractor has to create a workflow of the work executions process. (3) Based on the workflow meant in paragraph (2), the company providing the works determines the main and supporting types of work based on paragraph (1) and report to the local manpower authority.

PASAL 7
(1) Perusahaan pemberi pekerjaan yang telah menyerahkan pelaksanaan sebagian pekerjaan kepada perusahaan pemborong pekerjaan sebelum ditetapkan Keputusan Menteri ini tetap melaksanakan perjanjian penyerahan sebagian pekerjaan kepada perusahaan pemborongan pekerjaan sebagaimana telah diperjanjikan sampai berakhirnya perjanjian pemborongan pekerjaan tersebut.

ARTICLE 7
(1) The company providing the works which has handed-over part of the work executions to the contractor before this Minister Decree is stipulated is still allowed to continue implementing the agreement of work handovers to the contractor as agreed until the expiration of the contract agreement. (2) In the case of expiration of the work contract agreement as stated in paragraph (1), from thereupon adherence towards this Ministerial Decree will be an obligation to the companies involved.

II.C 386

Kepmenaker No. 220/MEN/X/2004

MOMT Decree No. 220/MEN/X/2004

(2) Dalam hal perjanjian pemborongan pekerjaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berakhir, maka selanjutnya wajib menyesuaikan dengan Keputusan Menteri ini.

PASAL 8
Keputusan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

ARTICLE 8
This Ministerial Decree shall come into force on the day of its promulgation.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 19 Oktober 2004 MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, ttd JACOB NUWA WEA

Stipulated in Jakarta On 19 October 2004 MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, sgd JACOB NUWA WEA

II.C 387

Permen No. 03/MEN/I/2005

MR No. 03/MEN/I/2005

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER-03/MEN/I/2005 TENTANG TATA CARA PENGUSULAN KEANGGOTAANDEWAN PENGUPAHAN NASIONAL

THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA REGULATION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA NUMBER: PER-03/ MEN/ I/ 2005 CONCERNING THE PROCEDURE FOR PROPOSING CANDIDATES FOR MEMBERSHIP OF THE NATIONAL WAGE COUNCIL

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 13 ayat (6) Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 2004 tentang Dewan Pengupahan, perlu diatur mengenai Tata Cara Pengusulan Keangaotaan Dewan Pengupahan Nasional dengan Peraturan Menteri; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);

THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA, Considering: That as implementation of subsection (6) of Article 13 of Presidential Decision Number 107 of the Year 2004 concerning Wage Council, it is necessary to adopt a regulation concerning the Procedure for Proposing [Candidates] for Membership of the National Wage Council with a Ministerial Regulation; In view of: 1. Act Number 13 of the Year 2003 concerning Manpower (State Gazette of the Republic of Indonesia of the Year 2003 Number 39, Supplement to State Gazette of the Republic

II.C 389

Permen No. 03/MEN/I/2005

MR No. 03/MEN/I/2005

2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107 Tahun 2004 tentang Dewan Pengupahan; 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; Memperhatikan : 1. Pokok-pokok Pikiran Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 2 Desember 2004: 2. Kesepakatan Rapat Pleno Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional tanggal 13 Desember 2004;

of Indonesia Number 4279); 2. The Decision of the President of the Republic of Indonesia Number 107 of the Year 2004 concerning Wage Council; 3. The Decision of the President of the Republic of Indonesia Number 187/M of the Year 2004 concerning the Formation of the United Indonesia Cabinet; Paying attention to: 1. The Gist of Thoughts of the Secretariat of the National Tripartite Cooperation Forum on December 2, 2004; 2. The Agreement of the Plenary Meeting of the National Tripartite Cooperation Forum on December 13, 2004;

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENGUSULAN KEANGGOTAAN DEWAN PENGUPAHAN NASIONAL

DECIDING:
To adopt: REGULATION OF THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA CONCERNING THE PROCEDURE FOR PROPOSING CANDIDATES FOR MEMBERSHIP OF THE NATIONAL WAGE COUNCIL

II.C 390

Permen No. 03/MEN/I/2005

MR No. 03/MEN/I/2005

BAB I KETENTUAN UMUM PASAL 1


Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Dewan Pengupahan Nasional yang selanjutnya disebut Depenas adalah suatu lembaga non struktural yang bersifat tripartit. 2. Serikat Pekerja/Serikat Buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan Untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keIuarganya. 3. Organisasi pengusaha adalah Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). 4. Pperguruan Tinggi adalah Perguruan Tinggi Negeni atau Swasta. 5. Pakar adalah seseorang yang mempunyai keahlian dan pengalaman di bidang pengupahan. 6. Menteri adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

CHAPTER I GENERAL DEFINITIONS ARTICLE 1


Under this Ministerial Regulation, the following definitions shall apply: 1. The National Wage Council (Dewan Pengupahan Nasional), which shall hereinafter be referred to using its Indonesian abbreviation as the Depenas for short, is a nonstructural, tripartite institution. 2. A Trade Union/Labor Union is an organization that is formed from, by, and for workers/ laborers in an enterprise or outside of an enterprise, which is free, open, independent, democratic, and responsible to fight for, defend, and protect the rights and interests of workers/laborers and to increase the welfare of workers/laborers and their family. 3. The employers organization is the Association of Indonesian Employers (APINDO). 4. Schools/ institutions for higher education [universities] refer to both state and private institutions for higher education. 5. An expert is a person who has expertise and experience in the field of wages. 6. Minister is Minister of Manpower and Transmigration.

II.C 391

Permen No. 03/MEN/I/2005

MR No. 03/MEN/I/2005

BAB II KEANGGOTAAN BAGIAN PERTARNA JUMLAH ANGGOTA PASAL 2


Anggota Dewan Pengupahan Nasional berjumlah 23 (dua puluh tiga) orang, yang terdiri dari: a. Unsur pemerintah sebanyak 10 (sepuluh) orang; b. Unsur serikat pekerja/serikat buruh sebanyak 5 (lima) orang: c. Unsur Organisasi pengusaha sebanyak 5 (lima) orang; dan d. Unsur pergunuan tinggi dan pakar sebanyak 3 (tiga) orang.

CHAPTER II MEMBERSHIP PART ONE NUMBER OF MEMBERS ARTICLE 2


The National Wage Council has 23 constituent members of whom: a. 10 (ten) are Government representatives; b. 5 (five) are trade union/labor union representatives; c. Another 5 (five) are employers organization representatives; and d. 3 (three) are higher education institutions [university] and expert representatives.

BAGIAN KEDUA KETERWAKILAN MASING-MASING UNSUR PASAL 3


(1) Keanggotaan Dewian Pengupahan Nasional dari unsur pemerintah terdiri dari: a. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebanyak 3 (tiga) orang; b. Kantor Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian 1 (satu) orang; c. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 1 (satu) orang. d. Badan Pusat Statistik 1 (satu) orang; e. Departemen Perindustrian 1 (satu) onang; f. Departemen Perdagangan 1 (satu) orang; g. Departemen Pertanian 1 (satu) orang; h. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral 1 (satu) orang.

PART TWO REPRESENTATIVE OF EACH CONSTITUENT ARTICLE 3


(1) The constituent members of the National Wage Council who represent the government consist of: a. 3 (three) representatives from the Minister of Manpower and Transmigration; b. 1 (one) representative from the Office of the Coordinating Minister for Economy; c. 1 (one) representative from the National Development Planning Agency; d. 1 (one) representative from the Central Bureau of Statistics; e. 1 (one) representative from the Ministry of Industry; f. 1 (one) representative from the Ministry of Trade;

II.C 392

Permen No. 03/MEN/I/2005

MR No. 03/MEN/I/2005

(2) Keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional dari unsur organisasi pengusaha diwakili oleh APINDO. (3) Keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional dari unsur seriikat pekerja/serikat buruh ditetapkan sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP. 16/MEN/2001 tentang Tata Cara Pencatatan Serikat Pekerja/ Serikat Buruh dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP. 201/MEN/2001 tentang Keterwakilan Dalam Kelembagaan Hubungan Industrial. (4) Keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional dari unsur perguruan tinggi dan pakar terdiri dari: a. Akademisi, b. Pakar Ekonomi.

1 (one) representative from the Ministry of Agriculture; h. 1 (one) representative from the Ministry of Energy and Mineral Resources. (2) The constituent members of the National Wage Council who represent employers organizations are represented by the APINDO. (3) The constituent members of the National Wage Council who represent trade unions/ labor unions shall be determined in accordance with the provisions of the Decision of the Minister of Manpower and Transmigration Number KEP. 16/ MEN/ 2001 concerning Procedure for Putting Trade Unions/ Labor Unions into the Official Records and the Decision of the Minister of Manpower and Transmigration Number KEP. 201/ MEN/ 2001 concerning Representative in Industrial Relations Institutions. (4) The constituent members of the National Wage Council who represent universities and experts consist of: a. Academicians; b. Economic experts.

g.

BAB III PROSEDUR PENGUSULAN KEANGGOTAAN BAGIAN KESATU UNSUR PEMERINTAH PASAL 4
Calon anggota Dewan Pengupahan Nasional dan unsur Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Penguruan Tinggi dan Pakar ditunjuk oleh Menteri.

CHAPTER III THE PROCEDURE FOR PROPOSING CANDIDATES FOR MEMBERSHIP PART ONE CONSTITUENT MEMBERS REPRESENTING THE GOVERNMENT ARTICLE 4
Prospective constituent members of the National Wage Council representing the Ministry of Manpower and Transmigration, universities and experts shall be appointed by Minister.

II.C 393

Permen No. 03/MEN/I/2005

MR No. 03/MEN/I/2005

PASAL 5
Permintaan nama calon anggota dari instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), huruf b sampai dengan huruf h disampaikan oleh Menteri kepada Pimpinan Departemen atau Kementrian atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bersangkutan.

ARTICLE 5
A request for the names of prospective constituent members from government agencies as referred to under subsection (1) of Article 3 from letter b to letter h shall be submitted by Minister to the respective Leadership [Management] of the Ministerial Departments or the Ministries or the Non-departmental Government Institutions.

BAGIAN KEDUA UNSUR ORGANISASI PENGUSAHA PASAL 6


Permintaan nama calon anggota dan organisasi pengusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2), disampaikan oleh Menteri kepada Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPN APINDO).

PART TWO CONSTITUENT MEMBERS REPRESENTING EMPLOYERS ORGANIZATIONS ARTICLE 6


The request for the names of prospective constituent members from employers organizations as referred to under subsection (2) of Article 3 shall be submitted by Minister to the National Executive Board of the Association of Indonesian Employers (DPN APINDO).

BAGIAN KETIGA UNSUR SERIKAT PEKERJA/SERIKAT BURUH PASAL 7


(1) Permintaan nama calon anggota dari unsur serikat pekerja/serikat buruh disampaikan oleh Menteri kepada serikat pekerja/serikat buruh yang berhak duduk di Dewan Pengupahan Nasional. (2) Penentuan serikat pekerja/serikat buruh yang berhak duduk di Dewan Pengupahan Nasional sehagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP. 16/MEN/2001 tentang Tata Cara Pencatatan Serikat Pekerja/Serikat Buruh dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan

PART THREE CONSTITUENT MEMBERS REPRESENTING TRADE UNIONS/ LABOR UNIONS ARTICLE 7
(1) The request for the names of prospective constituent members from trade unions/ labor unions shall be submitted by Minister to the trade unions/ labor unions that are entitled to sit on the National Wage Council. (2) The determination concerning which trade unions/ labor unions shall be entitled to sit on the National Wage Council as referred to under subsection (1) shall be made in accordance with the provisions of the Decision of the Minister of Manpower and Transmigration KEP. 16/MEN/2001 concerning the Procedure by which a Trade

II.C 394

Permen No. 03/MEN/I/2005

MR No. 03/MEN/I/2005

Transmigrasi Nomor KEP. 201/MEN/2001 tentang Keterwakilan Dalam Kelembagaan Hubungan Industrial.

Union/ Labor Union is to be entered into the Official Records and the Decision of the Minister of Manpower and Transmigration Number KEP. 201/MEN/2001 concerning Representative in Industrial Relations Institution.

BAB IV SUSUNAN KEANGGOTAAN PASAL 8


Susunan keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional yang diusulkan oleh Menteri kepada Presiden: a. Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan lndustrial Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai Ketua merangkap anggota; b. satu orang wakil dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sebagai wakil ketua merangkap anggota; c. satu orang wakil dari Serikat Pekerja/ Serikat Buruh sebagai wakil ketua merangkap anggota: d. Direktur Pengupahan, Jaminan Sosial dan Kesejahteraan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai sekretaris merangkap anggota; e. anggota.

CHAPTER V MEMBERSHIP STRUCTURE ARTICLE 8


The membership structure [lineup] of the National Wage Council that is proposed by Minister to President is as follows: a. Director General for Industrial Relations Development from the Ministry of Manpower and Transmigration as the Chairperson doubling as member; b. One representative from the Association of Indonesian Employers (APINDO) as deputy chairperson doubling as member; c. One representative from the Trade Union/ Labor Union as deputy chairperson doubling as member; d. Director of Wages, Social Security and Welfare from the Ministry of Manpower and Transmigration as secretary doubling as member; e. Members.

PASAL 9
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

ARTICLE 9
This Ministerial Regulation shall start to come into force upon the date of its adoption.

II.C 395

Permen No. 03/MEN/I/2005

MR No. 03/MEN/I/2005

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 31-1-2005 MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, ttd FAHMI IDRIS

Adopted in Jakarta On January 31, 2005 MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OFTHE REPUBLIC OF INDONESIA sgd FAHMI IDRIS

II.C 396