Anda di halaman 1dari 6

SALMONELOSIS DAN KOKSIDIOSIS PADA BABI (Sus Scrofa)

AmandaRasul,DVM Pada tanggal 2 April 2007 telah dilakukan euthanasia dan nekropsi terhadap seekor babi (Sus scrofa) jantan berumur 3 bulan dengan berat badan 10 kg milik Bapak Sugiharto yang beralamat di Kadipiro Yogyakarta. Berdasarkan anamnesa diketahui populasi babi berjumlah 6 ekor, tidak ada kematian dalam 1 minggu terakhir. Babi ini dipisah karena terlalu kecil. Pakan berupa ampas tahu, dedak dan konsentrat. Sumber air minum dari sumur. Kandang berupa kandang permanen dari tembok dengan alas semen. Gejala klinis berupa diare kuning cair dalam beberapa hari, nafsu makan menurun, kondisi tubuh kurus, lemas. Pemeriksaan patologis secara makroskopis, pada hepar terlihat adanya bintik putih keruh multifokal di sebagian besar lobus dengan diameter 1-2 cm dan bidang sayatan rata. Pulmo juga terlihat adanya eksudat putih keruh multifokal pada lobus diafragmatikus dengan diameter 1-2 cm. Mukosa usus terlihat berwarna kemerahan. Secara mikroskopis pada hepar terdapat infiltrasi limfosit disekitar vena sentralis, serta adanya kongesti pada sinusoid hepar. Pada pulmo terdapat infiltrasi neutrofil pada septa interalveolaris, sehingga terjadi penebalan septa interalveolaris. Duodenum dan kolon terdapat infiltrasi neutrofil serta limfosit, juga terjadi erosi pada epitel Pemeriksaan parasitologi , pemeriksaan feses secara natif dan sentrifus ditemukan oosista eimeria sp. pada pemeriksaan Mac master diperoleh jumlah oosista 143x 50 = 7150 oosita per gram tinja. Kerokan usus, perasan hepar, pulmo dan preparat apus darah menunjukkan hasil negatif. Pemeriksaan mikrobiologi diperoleh bakteri Salmonella choleraesuis. Pemeriksaan patologi klinik terhadap preparat apus darah dan sampel darah yang diberi antikoagulan EDTA, babi dengan nomor protokol C8 menunjukkan gambaran darah anemia normositik normokromik, leukopenia dengan limfopenia, eosinopenia dan monositopenia. Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan laboratorik maka babi dengan nomor protokol C8 mengalami salmonelosis dan koksidiosis

TINJAUAN PUSTAKA Salmonella sp. Salmonella termasuk kedalam famili Enterobakter, yang merupakan bakteri gram negatif, batang; motile, aerobic dan fakultatif anaerob (Anonim, 2001). Salmonella memiliki panjang yang bervariasi. Sebagian besar yang telah diisolasi motil dengan peritrichous flagella. Salmonella tumbuh cepat dalam media yang sederhana, tetapi hampir tidak pernah memfermentasi laktosa dan sukrosa. Salmonella membentuk asam dan kadang gas dari glukosa dan mannosa. Kadang membentuk H2S dan tahan hidup dalam air membeku pada periode yang lama (Jawetz et al., 2001). Salmonella choleraesuis bersifat motil, mempoduksi asam dan gas pada glukosa, maltosa dan manitol, serta negatif pada laktosa, sukrosa dan salicin. Indol negatif dan tidak menghasilkan H2S (Stuart dan Rustigian, 1944), dilaporkan pula salmonella choleraesuis bersifat variable terhadap adanya H2S (Smith, 1976). Klasifikasi kelompok salmonella-arizona cukup rumit karena organisme merupakan rangkaian kesatuan dibanding spesies tertentu. Satu sistem klasifikasi terdiri dari tiga spesies utama, salmonella choleraesuis (satu serctipe), salmonella typhi (satu serotipe) dan salmonella enteridis (sekitar 2000 serotipe) (Carter dan Wise, 2004).

Anggota jenis salmonella biasanya diklasifikasikan menurut dasar epidemiologi, jenis inang, reaksi biokimiawi, dan struktur antigen O, H, dan V. Studi tentang DNA hibridisasi memperlihatkan bahwa ada 7 kelompok evolusioner (Jawetz et al., 2001). Beberapa spesies dari grup Salmonella secara khusus hanya mampu beradapatasi pada hospes yang spesifik, sementara spesies yang lain tidak mempunyai hospes tertentu namun bersifat parasitik pada hampir semua hospes dengan sama baiknya. Salmonella sering patogen untuk manusia dan hewan. Mereka disebarkan dari binatang dan produk hewan ke manusia, dimana mereka dapat menyebabkan enteritis, infeksi sistemik, dan demam enterik (Jawetz et al., 2001). Infeksi salmonella hampir selalu berawal dari makanan dan minuman yang terkontaminasi. Penyakit kadang-kadang bersifat endemik pada suatu peternakan. Hewan yang masih muda lebih sering dan lebih mudah terinfeksi. Salmonella menginfeksi lapisan epitel ileum dan kolon dan dapat bertahan. Kejadian enterokolitis dan diare terjadi karena: Memamakan salmonella Kolonisasi pada intestinum bagian bawah dengan invaginvasi mukosa. Produksi sitotoksin. Radang akut dengan atau tanpa ulcer. Sintesis prostaglandin, produksi enterotoksin, sintesa proinflamatory sitotoksin dari sel epitel. Dengan invasi pada mukosa, aktifnya adenilat siklase dan terjadi peningkatan siklik AMP menginduksi sekresi sehingga terjadi peningkatan cairan yang menyebabkan diare. Infeksi intestinal akan menyebar menjadi bakterimia atau septisemia (Carter dan Wise, 2004). Salmonellosis merupakan penyakit yang sering menyerang babi muda. Terjadinya salmonelosis ini biasanya dikarenakan kekurangan pakan, kandang yang buruk, cacingan yang berat, ataupun karena daya tahan dari babi (Anthony, 1961). Sebagian besar serotipe Salmonella mempunyai reaksi biokimia yang yang identik dengan memanfaatkan substratsubstrat yang umum dipakai, karena itu untuk melakukan identifikasi yang spesifik dari genus ini harus melalui penentuan antigennya. Bentuk septisemia akut mempunyai angka kematian yang tinggi. Gejala yang muncul berupa kelemahan umum, gemetar, demam, ada lesi kemerahan sianosis di kulit telinga, anggota gerak, dan punggung, diare cair kekuningan, kemungkinan juga muncul gejala pneumonia, perubahan patologis meliputi hemoragi petekiae dan ekimose pada kulit, namun lesi ini kurang spesifik. Perubahan yang lebih menciri adalah pembesaran lien, limfaadenitis hemoragi, dan sering juga terjadi ikterus. Hemoragi petekiae dan ekimose juga terjadi di permukaan serosa, mukosa laring dan vesica urinaria, dan di parenkim ginjal (Dunne, 1975). Eimeria spp. Oosista dari anggota eimeria berisi empat sporokista, masing-masing dengan sporozoit setelah matang. Koksidiosis pada babi disebabkan oleh parasit intraseluler pada saluran pencernakan, trutama pada duodenum dan jejunum (Levine, 1994; Vitovec dan Koudela, 1990). Penyebab koksidiosis yang telah diidentifikasi ialah 8 spesies genus eimeria yakni Eimeria debliecki, Eimeria perminuta, Eimeria suis, Eimeria polita, Eimeria neodebliecki, Eimeria porci, Eimeria scabra dan Eimeria spinosa (Chhabra dan Mafukidze, 1992) serta satu isospora yakni Isospora suis. Koksidiosis yang disebabkan oleh eimeria spp. merupakan kejadian yang sering ditemukan pada feses babi sehingga sering dianggap normal karena memiliki potensial yang rendah terhadap kejadian penyakit pada babi (Lindsay et al., 1987; Vitovec dan Koudela, 1990; Koudela dan Vitovec, 1992; Daughschies et al., 2004). Meskipun babi yang terinfeksi koksidiosis karena eimeria menimbulkan perubahan akan terjadinya atrofi vili, erosi epitel mukosa, adanya keradangan pada bagian tunika propia pada bagian anterior jejunum, namun kondisi tersebut tidak menimbulkan gejala klinis pada babi (Vitovec dan Koudela, 1990). Berbeda dengan koksidiosis yang disebabkan oleh eimeria, dilaporkan koksidiosis pada babi yang disebabkan oleh Isospora suis yang dinokulasikan selama 3 hari sebanyak 300.000 sporulated oosista, babi mengalami diare non hemoragik yang umumnya terjadi pada akhir hari ke 6 dan 10 setelah diinokulasi, peningkatan dehidrasi

dan kelemahan umum, dengan angka moertalitas mencapai 20,4% (Lindsay et al., 1985). Siklus hidup dari semua anggota eimeria tidak jauh berbeda. Oosista yang keluar bersama tinja terdiri dari satu sel, sporon. Sel ini diploid yang selanjutnya akan menjadi haploid. Perumbuhan oosista membutuhkan oksigen. Sporon membagi menjadi empat sporoblas, masing-masing akan menjadi sebuah sporokista, dan dua sporozoit akan terbentuk di dalamnya (Levine, 1994). MATERI DAN METODE Materi Peralatan yang digunakan meliputi seperangkat alat nekropsi hewan (gunting, pinset, pisau, gunting tulang), nampan, spuit, kaca obyek, kaca penutup, kontainer sampel, tabung eppendorf, cawan petri, gelas bekker, tabung reaksi, alat sentrifus, mikroskop, pipet leukosit, pipet eritrosit, kamar hitung Neurbauer, mikrohematokrit, penangas air, TS meter, alat pembaca PCV, spektrofotometer, counter, counter diferensial leukosit, usa dan bunsen. Sampel yang digunakan adalah seekor babi (Sus scrofa) umur 3 bulan, berat badan 10 kg dengan nomor protokol C8. Bahan yang digunakan meliputi EDTA, larutan methanol, larutan giemsa absolut, larutan buffer phosphat, formalin 10%, larutan NaCl jenuh, minyak emersi, xilol, reagen Turk, larutan Drabkins, larutan NaCl fisiologis, media Brilliant Green Agar (BGA), Triple Sugar Iron (TSI), kaldu pepton, media Methyl Red Voges Proskauer, media sitrat, agar urea, agar semisolid, gula-gula (arabinosa, dulcitol), larutan gentian violet, lugol, alkohol 95%. Metode Metode diawali dengan mencatat anamnesa, gejala klinis, dan pemeriksaan fisik terhadap sampel babi. Pengambilan darah dilakukan sebelum eutanasi, dilakukan secara intrakardial dengan spuit 10 ml, jarum ukuran 21 G. Darah yang didapat segera ditampung di tabung eppendorf yang dindingnya telah dilapisi dengan EDTA sebagai antikoagulan. Sebagian darah yang ada di spuit diteteskan di atas kaca obyek untuk dibuat preparat apus darah. Setelah kering, apusan darah difiksasi dengan methanol dan dicat dengan pewarna giemsa 10% selama 30 menit. Pemeriksaan darah yang dilakukan meliputi penghitungan total eritrosit, penghitungan total leukosit, Hb, PCV, TPP, fibrinogen, dan penghitungan diferensial leukosit. Babi dieutanasi dengan emboli intrakardial yaitu dengan memasukkan udara ke dalam jantung menggunakan spuit. Setelah mati dilakukan nekropsi dengan cara mengincisi linea mediana ke anterior dan posterior, sehingga rongga abdomen terbuka. Irisan diteruskan ke rongga dada, memotong diafragma, dan memotong kostae di bagian kostokondral. Irisan diteruskan ke rongga pelvis, kemudian dibuka ke arah lateral ke ekstremitas-ektremitas. Setelah organ dalam terekspos, dilakukan pemeriksaan makroskopik untuk mengamati lesilesi yang ada secara inspeksi, palpasi, dan incisi. Organ dengan perubahan yang menciri diambil sampel patologi (sebesar 2 cm) dan dimasukkan ke dalam formalin 10%. Sampel untuk pemeriksaan mikrobiologi diambil dari organ dengan lesi menciri, dimasukkan dalam plastik kontainer steril, dan segera disimpan dalam freezer untuk pemeriksaan mikrobiologi lebih lanjut. Sampel yang diambil berupa potongan hepar. Sampel dikultur di media BGA sebagai media selektif untuk isolasi dan identifikasi bakteri Salmonella sp. Dari hasil kultur, setelah didapat biak murni dari media BGA, dilanjutkan dengan subkultur ke media TSI dan pengecatan Gram. Biak murni yang didapat dari media TSI diuji biokimiawi dengan uji IMViC, urease, motility, dan gula-gula. Sampel untuk pemeriksaan parasitologi berupa feses, usus, pulmo dan hepar, diambil dan disimpan dalam refrigerator untuk segera diperiksa. Sampel feses diperiksa secara natif dan sentrifus dan Mac master. Kerokan usus, perasan hepar, pulmo dan preparat apus darah

diperiksa di bawah mikroskop. HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIK A. Pemeriksaan Laboratorium Patologi Berdasarkan pemeriksaan patologi, babi dengan nomor protokol C8 mengalami hepatitis, pneumonia intertisialis dan enteritis. B. Pemeriksaan Laboratorium Patologi Klinik Berdasarkan pemeriksaan patologi kliniki, babi dengan nomor protokol C8 mengalami anemia normositik normokromik, leukopenia dengan limfopenia, eosinopenia dan monositopenia. C. Pemeriksaan Laboratorium Parasitologi Berdasarkan pemeriksaan parasitologi, babi dengan nomor protokol C8 mengalami koksidiosis D. Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi Berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi, babi dengan nomor protokol C8 terinfeksi bakteri Salmonella choleraesuis. DISKUSI Babi dengan nomor protokol C8 didiagnosa menderita salmonellosis dan koksidiosis. Babi berasal dari peternakan babi di daerah Kadipiro Yogyakarta. Sebelum babi dieuthanasi, babi menunjukan gejala diare, lemah, anoreksi dan kondisi tubuh kurus. Pemeriksaan mikrobiologi diisolasi bakteri salmonella choleraesuis. Bakteri tersebut diisolasi dari hepar. Hal ini dilakukan karena dugaan salmonellosis yang sudah bersifat septikemia. Kondisi ini juga didukung oleh gejala klinis serta kondisi patologis yang terjadi pada saluran intestinal, pulmo, dan hepar. Salmonella choleraesuis merupakan genus salmonella yang paling sering menginfeksi babi (Merchant, 1950). Pemeriksaan patologis secara makroskopis, pada hepar terlihat adanya bintik putih keruh multifokal di sebagian besar lobus dengan diameter 1-2 cm dan bidang sayatan rata. Pulmo juga terlihat adanya eksudat putih keruh multifokal pada lobus diafragmaticus dengan diameter 1-2 cm. Mukosa usus terlihat berwarna kemerahan. Secara mikroskopis pada hepar terdapat infiltrasi limfosit disekitar vena sentralis, serta adanya kongesti pada sinusoid hepar. Pada pulmo terdapat infiltrasi neutrofil pada septa interalveolaris, sehingga terjadi penebalan septa interalveolaris. Duodenum dan kolon terdapat infiltrasi neutrofil serta limfosit, juga terjadi erosi pada epitel. Adanya infiltrasi sel radang di hepar maupun pulmo dikarenakan infeksi salmonella yang sudah bersifat bakterimia. Kejadian bakterimia pada kasus salmonellosis yang disebabkan oleh salmonella choleraesuis merupakan kejadian tertinggi dibanding oleh jenis salmonella lainnya (Threlfall et al., 1992). Pemeriksaan parasitologi, babi menderita koksidiosis yang disebabkan oleh eimeria suis. Koksidiosis pada babi yang disebabkan oleh eimeria spp. merupakan kondisi yang umum pada babi dan jarang menimbulkan gejala klinis (Lindsay et al., 1987; Vitovec dan Koudela, 1990; Koudela dan Vitovec, 1992; Daughschies et al., 2004). Pemeriksaan patologi klinis babi mengalami anemia normositik normokromik, leukopenia dengan limfopenia, eosinopenia dan monositopenia. Kejadian tersebut dikarenakan salmonella merupakan bakteri Gram negatif yang mempunyai faktor virulensi endotoksin membran lipopolisakarida, enterotoxin dan sitotoksin (Carter dan Wise, 2004). LPS akan dilepaskan dari bakteri yang mati, lalu masuk ke darah, dan terikat ke LPS-binding protein atau lipoprotein yang sangat padat, ia akan mengaktifkan sel (monosit, makrofag, sel endotel,

platelet, dan sel hemis lain) dan sistem komplemen, koagulasi, atau bradikinin-kinin. Aktivasi sel atau sistem tersebut mula-mula akan menyebabkan neutropenia yang akan diikuti dengan neutrofilia, limfopenia, dan trombositopenia. Selanjutnya anemia akibat penyakit infeksi akan dipicu dengan pemendekan life span eritrosit dan penurunan eritropoiesis (Evans, 2000). Kondisi anemia normositik normokromik dapat terjadi karena adanya radang yang bersifat kronis (Hariono, 1993). Kondisi limfopenia dapat diakibatkan pula oleh adanya penghancuran yang meningkat yang dapat disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis (Dharma et al., 1994). Endotoksin dari salmonella akan menstimulir sekresi kortisol pada babi (Evans, 2000), sehingga mengakibatkan limfopenia. Sedangkan kondisi eosinopenia dapat terjadi pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi korteks adrenal dan pengobatan dengan kortikosteroid. Pemberian epinefrin dapat menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam klinis (Dharma et al., 1994). PATOGENESIS KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasar pemeriksaan di laboratorium Patologi, Parasitologi, Patologi Klinik, dan Mikrobiologi, babi dengan nomor protokol C8 didiagnosa menderita salmonellosis dan koksidiosis Saran Pencegaham merupakan hal yang paling utama. Untuk mencegah terjadinya koksidiosis pada peternakan babi dapat dilakukan program pencucian, disinfektan dengan phenol, steam cleaning pada kandang, dan penanganan dengan amprolium HCL saat keluar masuk kandang (Ernst et al., 1985). Sanitasi kandang dan lingkungan harus lebih diperhatikan, terutama kontak dengan lingkungan luar, serta sirkulasi hewan harus diawasi. Pengobatan salmonellosis dengan pemberian antibiotik yang efektif untuk bakteri Gram negatif, antara lain ampicillin, streptomycin, tetracycline, chloramphenicol, golongan kuinolon maupun golongan sulfa. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2001. Office of Laboratory MSDS. Health. Canada Anthony, D.J. 1961. Diseases of the Pig. Bailliere, Tindall and Cox. London. 154-159 Carter, G.R., Wise, D.J. 2004. Esentials of Veterinary Bacteriology and Mycology. Iowa Atate Press.137-139. Chhabra, R.C dan Mafukidze, R.T. 1992. Prevalence of coccidia in pigs in Zimbabwe. Vet Parasitol. 41(1-2):1-5. Daugschies, A., Imarom, S., Ganter, M., dan Bollwhahn, W. 2004. Prevalence of Eimeria spp. In Sows at Piglet-producing Farms in Germany. Am J Vet Res. Volume 51 issue 3. Page 135. Dharma, R., Immanuel,S., dan Wirawan, R. 1994 Penilaian Hasil Pemeriksaan Hematologi Rutin. Cermin Dunia Kedokteran. No.30.

Dunne, Howard, W., 1975. Disease of Swine, 4th Edition. the Iowa State University Press, Ames, Iowa. Hal. 780-788, 801-805 Ernst, J.V., Lindsay, D.S., dan Current, W.L. 1985. Control of Isospora suis-induced Coccidiosis on a Swine Farm. Am J Vet Res. Mar;46(3):643-5 Evans, W.E. 2000, Schalms Veterinary Hematology, 5th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. Hal 411-415. Hariono, B., 1993, Buku Pedoman Kuliah Patologi Klinik, Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteraan Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hal 40. Jawetz, Melnick, & Adelberg, 2001. Medical Microbiology. Diterjemahkan oleh Bagian mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Penerbit Salemba Medika, Jakarta. Hal. 364-367 Koudela, B dan Vitovec, J. 1992. Biology and Pathogenicity of Eimeria spinosa (Henry 1931) in Experimentally Infected Pigs. Int. J. Parasitol. 22, 651-656. Levine, N.D. 1994. Parasitologi Veteriner, terjemahan Textbook of Veterinary Parasitology. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Hal. 58-68. Lindsay, D.S., Blagburn, B.L., dan Boosinger, T.R. 1987. Experimental Eimeria deblecki Infection in Nursing and Weaned Pigs. Vet. Parasitol. 25, 39-45. Lindsay, D.S., Current, W.L., dan Taylor, J.R. 1985. Effect of Experimentally Induced Isospora suis Infection on Morbidity, Mortality, and Weight gains in Nursing Pigs. Am J Vet Res. 46(7):1511-2. Merchant. I.A. 1950. Veterinery Bacteriology and Virology. 4th Edition. Iowa State College Press, Ames Iowa hal. 368-369. Smith, A.L. 1976. Microbiology and Pathology. The C.V. Mosby Company.hal. 204. Stuart, C. A. dan Rustigian, R. 1944. Strains of Salmonella Cholerae-suis Producing Acetylmethylcarbinol. Biological Laboratory, Brown University, Providence, Rhode Island. pub.sept.26. 498. Threlfall, E.J., Hall, M.L.M., dan Rowe,B. 1992. Salmonella bacteraemia in England and Wales, 1981-1990. J Clin Pathol ;45:34-36 Vitovec, J dan Koudela, B. 1990. Pathogenicity and ultrastructural pathology of Eimeria debliecki (Douwes, 1921) in experimentally infected pigs. Folia Parasitol (Praha). 37(3):1939