Anda di halaman 1dari 13

CAPTOPRIL ANDALAN HIPERTENSI

OLEH: NAMA NIM FAK/PS : NI KADEK ANGGI JULIANTI : 1208505005 : MIPA/Farmasi

UNIVERSITAS UDAYANA JIMBARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang

memungkinkan setiap orang hidup produktif secara social dan ekonomis (Anonim, 1992). Peningkatan kesehatan sebagai salah satu upaya pembanguan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujudnya tingkat kesehatan masyarakat yang optimal. Dalam mencapai hal tersebut,masyarakat mulai mengkonsumsi obat guna menunjang kesehatan jasmeni serta rohaninya. Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia) . Menurut PerMenKes

917/Menkes/Per/x/1993, obat adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Di zaman era globalisasi, dan dengan adanya kemajuan di didang ilmu pengetahuan dan teknologi, obat semakin berkembang. Ada berbagai jenis obat yang beredar di kalangan masyarakat luas. Dimana, obat di perlukan oleh masyarakat untuk dikonsumsi sebagai pemulih kesehatan mereka dari berbagai penyakit, baik ringan maupun berat. Salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia adalah hipertensi. Hipertensi didefinisikan sebagai keadaan dimana kenaikan tekanan darah sistolik 140mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 90mmHg atau lebih dan diukur lebih dari satu kali kesempatan. Obat pilihan yang digunakan dalam terapi farmakologi pasien

hipertensi adalah Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor. Salah satu obat yang tergolong dalam ACE inhibitor adalah Captopril yang merupakan ACE inhibitor pertama yang digunakan secara klinis. Hipertensi yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan komplikasi. Sehingga dalam penanganannya perlu pemahaman dan ketelitian dalam mencapai kesembuhan yang maksimal. Oleh karena itu, penting untuk kita mengetahui penanganan pasien hipertensi dengan mengggunakan salah satu obat yang telah di anjurkan, guna menghindari kesalahan yang fatal dalam proses penanganannya.

1.2

Rumusan Masalah Dari latar belakang tersebut diatas, maka diajukan rumusan masalah

sebagai berikut: 1.2.1 1.2.2 Apa yang dimaksud dengan CAPTOPRIL? Bagaimana cara penanganan Pasien hipertensi dengan

menggunakan captopril?

1.3

Tujuan Berdasarkan rumusan masalah diatas , maka tujuan penulisan makalah ini

adalahh sebagai berikut : 1.3.1 Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan captopril 1.3.2 Untuk mengetahui cara penanganan yang baik dan sesuai prosedur pasien hiperyttensi dengan mengggunakan obat Captopril

1.4

Manfaat Manfaat yang diharapkan dengan adanya ulasan makalah ini adalah : 1.4.1 Bagi mahasiswa Dapat memperdalam ilmu farmasi, khususnya di bidang obat-obatan dalam penanganan penyakit 1.4.2 Bagi masyarakat a. Dapat mengetahui cara penanganan pada penyakit hipertensi

b. Dapat

memperoleh

informasi

tentang

penggunaan

obat

Captopril dengan penanganan tepat terhadap pasien Hipertensi.

1.5

Ruang lingkup Untuk menghindari melebarnya permasalahan yang dibahas, dalam tulisan

ini di perlukan ruang lingkup yang jelas. Ruang lingkup dalam tulisan ini adalah : 1.5.1 Hanya terbatas pada penanganan pasien hipertensi menggunakan obat Captopril

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Hipertensi Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh

masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia. Hipertensi didefinisikan sebagai keadaan dimana kenaikan tekanan darah sistolik 140mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 90mmHg atau lebih dan diukur lebih dari satu kali kesempatan. Darah tinggi bukanlah tingkat emosi yang berlebihan. Emosi dan stres dapat mengakibatkan tekanan darah meningkat, namun hanya sementara. Darah tinggi atau hipertensi berarti tekanan tinggi didalam arteri-arteri. Arteri-arteri adalah pembuluh-pembuluh yang mengangkut darah dari jantung yang memompa ke seluruh jaringan dan organ-organ tubuh. Tekanan darah terdiri dari sistolik (tekanan didalam arteri ketika jantung berkontraksi dan memompa darah maju ke dalam arteri-arteri), dan diastolik (mewakili tekanan di dalam arteri-arteri ketika jantung istirahat (relax) setelah kontraksi). Hipertensi yang tidak ditangani dengan benar dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi tersebut berkaitan dengan kenaikan tekanan darah yang tetap (dengan konsekuensi terjadinya perubahan pada sistem vaskular tubuh dan jantung) atau berkaitan dengan artherosclerosis yang menyertai dan dipercepat karena adanya hipertensi yang lama (long-standing hypertension). Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah penyakit kardiovaskular yang ditandai dengan adanya kenaikan tekanan darah yang abnormal. Komplikasi yang berkaitan dengan jantung adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas dalam hipertensi esensial, dan mencegahnya merupakan tujuan utama dari terapi. Hipertrofi pada ventrikular jantung bagian kiri dapat menyebabkan congestive heart failure (CHF), myocardial ischemia (MI), aritmia ventrikular, dan kematian mendadak.

2.2

ACE Inhibtor ACE inhibitor memiliki mekanisme aksi menghambat sistem renin-

angiotensin-aldosteron dengan menghambat perubahan Angiotensin I menjadi Angiotensin II sehingga menyebabkan vasodilatasi dan mengurangi retensi sodium dengan mengurangi sekresi aldosteron. Oleh karena ACE juga terlibat dalam degradasi bradikinin maka ACE inhibitor menyebabkan peningkatan bradikinin, suatu vasodilator kuat dan menstimulus pelepasan prostaglandin dan nitric oxide. Peningkatan bradikinin meningkatkan efek penurunan tekanan darah dari ACE inhibitor, tetapi juga bertanggungjawab terhadap efek samping berupa batuk kering. ACE inhibitor mengurangi mortalitas hampir 20% pada pasien dengan gagal jantung yang simtomatik dan telah terbukti mencegah pasien harus dirawat di rumah sakit (hospitalization), meningkatkan ketahanan tubuh dalam beraktivitas, dan mengurangi gejala. ACE inhibitor harus diberikan pertama kali dalam dosis yang rendah untuk menghindari resiko hipotensi dan ketidakmampuan ginjal. Fungsi ginjal dan serum potassium harus diawasi dalam 1-2 minggu setelah terapi dilaksanakan terutama setelah dilakukan peningkatan dosis. Salah satu obat yang tergolong dalam ACE inhibitor adalah Captopril yang merupakan ACE inhibitor pertama yang digunakan secara klinis. ACE inhibitor merupakan antihipertensi yang efektif dan efek sampingnya dapat ditoleransi dapat dengan baik. Efek samping penggunaan ACE inhibitor antara lain sakit kepala, takikardi (peningkatan denyut jantung), berkurangnya persepsi pengecapan, dizziness(ketidakseimbangan saat berdiridari posisi duduk atau tidur), nyeri dada, batuk kering, hiperkalemia, angiodema, neutropenia, dan pankreatitis. ACE inhibitor dapat digunakan sebagai obat tunggal maupun dikombinasikan dengan obat lain (biasanya dikombinasikan dengan diuretik). Selain sebagai antihipertensi, ACE inhibitor juga dapat digunakan sebagai vasodilator, terapi congestive heart failure (CHF), left ventricular

dysfunction, myocardial infarction, dan diabetes melitus. ACE inhibitor bekerja dengan menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin II bekerja di ginjal dengan menahan ekskresi cairan

(Na+ dan H2O) yang dapat menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan tahanan perifer. Meningkatnya tahanan perifer akan berefek pada peningkatan tekanan darah. Dengan adanya ACE inhibitor maka tidak akan terbentuk angiotensin II, mengurangi retensi cairan, terjadi vasodilatasi, dan mengurangi kerja jantung.

2.3

Captopril Jenis ACE inhibitor yang dapat digunakan sebagai antihipertensi antara

lain

Benazepril,

Captopril,

Enalapril,

Fosinopril,

Lisinopril,

Moexipril,

Perindropil, Quinapril, Ramipril, Trandolapril.. Salah satu golongan ACE inhibitor yang paling banyak digunakan sebagai antihipertensi adalah Captopril. Captopril sebagai dosis tunggal mempunyai durasi selama 6-12 jam dengan onset 1 jam. Captopril diabsorpsi sebanyak 60-75% dan berkurang menjadi 33-40% dengan adanya makanan serta 25-30% Captopril akan terikat protein. Waktu paruh Captopril dipengaruhi oleh fungi ginjal dan jantung di mana waktu paruh Captopril pada volunteers sehat dewasa 1,9 jam; pasien CHF 2,06 jam; dan pasien anuria 20-40 jam. Captopril diekskresikan melalui urin (95%) dalam waktu 24 jam. Captopril merupakan obat yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi (hipertensi), dapat digunakan sendiri atau bersama dengan obat-obatan lain. Tekanan darah tinggi menambah beban kerja jantung dan arteri. Captopril bekerja dengan menghambat enzim dalam tubuh yang menghasilkan zat yang

menyebabkan pembuluh darah mengencang, sehingga dapat menurunkan tekanan darah serta meningkatkan pasokan darah dan oksigen ke jantung. Captopril memiliki mekanisme aksi menghambat system renin adalah enzim yang dihasilkan ginjal dan bekerja pada globulin plasma untuk memproduksi angiotensin I yang bersifat inaktif. Angiotensin Converting Enzyme(ACE) akan mengubah angioensin I menjadi angoitensin II yang bersifat aktif dan sekresi aldosteron dalam korteks adrenal. Peningkatan sekresi aldosteron akan mengakibatkan ginjal meretensi natrium dan cairan, serta mensekresi kalium. Pemberian captropil akan menghambat kerja ACE, akibatnya pembentukan

angiotensin II terhambat, timbul vasodilatasi, penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal mensekresi natrium dan cairan serta mensekresi kalium. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan tekanan darah dan mengurangi beban jantung sehingga terjadi peningkatan kerja jantung.

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Captopril sebagai Obat Hipertensi Obat pilihan yang digunakan dalam terapi farmakologi pasien hipertensi

adalah Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor. ACE inhibitor direkomendasikan sebagai obat pilihan pertama didasarkan pada sejumlah studi yang menunjukkan penurunan morbiditas dan mortalitas. Akan tetapi, diuretik juga menjadi bagian dari terapi lini pertama (first line therapy) karena dapat memberikan penghilangan gejala udem dengan menginduksi diuresis. Penanganan yang tepat pada pasien hipertensi akan menghasilkan hasil yang memuaskan dalam proses penanganannya.

3.1.1 Nama Obat anti hipertensi dikalangan masyarakat umum di kenal dengan Captopril (tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg). Namun Captopril ini sendiri memiliki beberapa nama di pasaran, seperti : a. Acendril (Harsen) tablet 12,5 mg; 25 mg b. Capoten (Bristol-Myers Squibb Indonesia) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg c. Dexacap (Dexa Medica) tablet 12,5 mg; 25 mg; 50 mg d. Farmoten (Fahrenheit) tablet 12,5 mg; 25 mg e. Metopril (Metiska) tablet salut selaput 12,5 mg; 25 mg; kaplet salut selaput 50 mg

3.1.2 Indikasi Secara umum, captopril merupakan ACE inhibitor pertama yang digunakan secara klinis. penggunaan obat captopril pada kesehatan khususnya bagi pasien penderita hipertensi, baik Hipertensi esensial (ringan sampai sedang) dan hipertensi yang parah. merupakan langkah yang bagus karena Captopril bekerja dengan menghambat enzim dalam

tubuh yang menghasilkan zat yang menyebabkan pembuluh darah mengencang, sehingga dapat menurunkan tekanan darah serta

meningkatkan pasokan darah dan oksigen ke jantung.. Selain itu, captopril bias digunakaan sendiri atau di kombinasikan dengan obat-obatan lain. Captopril juga digunakan pada beberapa pasien setelah serangan jantung. Setelah serangan jantung, beberapa otot jantung rusak dan melemah. Otot jantung dapat terus melemah seiring berjalannya waktu. Hal ini membuat lebih sulit bagi jantung untuk memompa darah. Captopril dapat dimulai dalam beberapa hari pertama setelah serangan jantung. Selain itu, kaptopril digunakan untuk mengobati gagal jantung kongestif atau dapat digunakan untuk kondisi lain seperti yang ditentukan oleh dokter. Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter.

3.1.3 Dosis Dosis merupakan jumlah tertentu yang di tunjukan dengan jumlah gram atau volume dan frekuensi pemberian obat untuk dicatat sesuai dengan umur dan berat badan pasien. Captopril sebagai obat antihipertensi, dosis yang di anjurkan adalah a. b. Dosis awal: 6.25-12.5 mg melalui mulut (per oral), 3 kali sehari. Sesuaikan dosis secara bertahap berdasarkan reaksi yang muncul. c. Dosis rumatan: 25-50 mg melalui mulut (per oral), 2-3 kali sehari atau 75 mg melalui mulut (per oral), 2 kali sehari d. Dosis maksimum: 150 mg/hari

3.1.4 Aturan Pakai Dalam penanganan pasien hipertensi, ada beberapa aturan. Aturan ini hendaknya di lakukan untuk menghindari penyalah gunaan obat yang nantinya dapat berakibat fatal bagi pasien Diberikan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan)

a.

Captopril digunakan setelah penggunaan antihipertensi lain dihentikan selama 1 minggu, kecuali pada pasien

denganaccelerated or malignant hypertension atau hipertensi yang sulit dikontrol b. Pasien yang tidak dapat menggunakan sediaan padat secara oral dapat dibuat larutan oral Captopril dengan cara menyerbuk 25 mg tablet Captopril yang dilarutkan dalam 25 atau 100 ml air dan diaduk hingga bercampur lalu segera diminum tidak lebih dari 10 menit karena sifat Captopril yang tidak stabil dalam bentuk larutan

3.1.5 Efek Samping Efek samping obat adalah setiap respon obat yang merugikan dan tidak diharapkan terjadi karena penggunaan obat dengan dosis atau takaran normal pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis, dan terapi. Dalam penggunaan obat captopril ada beberapa efek samping , seperti : ruam, berkurangnya persepsi pengecapan, sakit kepala, batuk kering, hipotensi sementara, neutropenia, dan proteinurea. Hipotensi dapat terjadi 1-1.5 jam setelah dosis pertama dan beberapa dosis berikutnya, tapi biasanya tidak menimbulkan gejala atau hanya menimbulkan rasa pusing ringan. Tetapi bila mengalami kehilangan cairan, misalnya akibat pemberian deuretik, diet rendah garam, dialysis, muntah, diare, dehidarsi amka hipotensi tersebut telah menjadi berat. Maka pengobatan untuk Captoprilperlu dilakukan pengawasan medis yang ketat, terutama pada pasien penderita gagal jantung yang umumnya memiliki tekanan darah normal atau rendah. Hipotensi berat dapat diatasi dengan infuse garamfaal atau dengan menurunkan dosis Captopril atau diuretiknya.

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan Dari pembahasan diatas dapat di simpulkan bahwa pasien hipertensi dapat

di di obati dengan pemberian obat Captopril. dengan penanganan yang tepat, dapat menghindari resiko terjadinya komplikasi terhadap gangguan yang lain. Di dalam penangannan pasien diperlukan juga keahlian dan ketelitian dalam memilih obat dan dosis yang tepat. Captopril dalam bentuk kemasan yang beredar di pasaran juga perlu di perhatikan karena hal itu penting untuk menjamin keberhasilan pengobatan pada pasien hipertensi.

4.2

Saran Penggunaan obat di kalangan masyarakat di zaman globalisasi seperti ini,

terus mengalami perkembangan. Pentingnya obat dalam kehidupan masyarakat memang tidak bias dipungkiri, namun masyarakat hendaknya berhati- hati dan pintar memilih obat yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan tubuh. Pemilihan obat yang kurang tepat dapat menimbulkan akibat yang fatal bagi penderita. Sehingga masyarakat perlu menambah wawasan tentang pemakaian obat dalam dosis yang tepat dan aturan pakai yang benar.

DAFTAR PUSTAKA

Wijoyo, Yosef.2011.Penggolongan Obat.Yogyakarta:Citra Aji Parama. Mcarthur, Jonathan.2010.Kamus Farmasi.Jakarta:Prestasi Pustaka Publisher. Konsil Kedokteran Indonesia, 2007, MIMS edisi Bahasa Indonesia, volume 8, 5156, CMP Medika, Jakarta.