Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi perkembangan suatu negara. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan sumberdaya manusia yang baik, karena untuk mencapai kemajuan negara yang mantap dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas baik. Pemerintah senantiasa berupaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah dengan memperbaiki sistem pendidikan. Perbaikan ini dalam rangka mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Beberapa upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan diantaranya peningkatan sarana dan prasarana, perubahan kurikulum dan proses belajar mengajar, peningkatan kualitas guru, penyempurnaan sistem penilaian, dan usahausaha lain yang tercakup dalam komponen pendidikan (Ramli, 2011). Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan melakukan pembaharuan kurikulum. Kurikulum yang berlaku saat ini merupakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan perwujudan dari kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang dikembangkan sesuai dengan relevansinya baik untuk kelompok, satuan pendidikan, maupun untuk satuan sekolah yang berada di bawah koordinasi Dinas Pendidikan. Sejalan dengan penerapan KTSP di setiap satuan pendidikan, maka pembelajaran di sekolah tidak lagi berpusat kepada guru, melainkan berpusat dan berorientasi kepada siswa.

2 Peran aktif siswa dalam pembelajaran dibutuhkan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena siswa terlibat secara langsung. Pembelajaran yang dilaksanakan juga diharapkan mampu untuk mengembangkan potensi siswa yang mencakup semua ranah baik ranah afektif, kognitif, dan psikomotor. Selama ini, pembelajaran lebih terpusat kepada guru, di mana siswa hanya berpartisipasi pasif dan menerima informasi yang disampaikan oleh guru. Hal ini yang menjadikan siswa malas untuk berpikir dalam menghadapi suatu masalah yang dihadapi, sehingga siswa kurang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya, dan mengembangkan potensi siswa yang mencakup semua ranah baik afektif, kognitif, dan psikomotor. Peran aktif siswa dituntut, sehingga guru juga dituntut untuk dapat menciptakan suatu pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, yang salah satu caranya dengan pemilihan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa (Zaini,2004). Mengacu dari aspek kegiatan pembelajaran, maka pembelajaran yang baik perlu dikembangkan. Karakteristik pembelajaran yang baik yaitu menyenangkan, menantang, mengembangkan kemampuan keterampilan berpikir kritis, mendorong siswa untuk bereksplorasi, memberi kesempatan kepada siswa untuk sukses agar siswa dapat tumbuh rasa percaya diri, dan memberi umpan balik dengan segera sehingga siswa tahu keberhasilkan dan kegagalannya (Depdiknas, 2005). Karakteristik tersebut dimaksudkan untuk dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas secara keseluruhan. Pendidikan IPA merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengungkap gejala-gejala alam dengan menerapkan langkah-langkah ilmiah serta untuk membentuk kepribadian atau tingkah laku siswa sehingga siswa dapat memehami proses IPA yang kemudian dapat dikembangkan di masyarakat. Pendapat Sund (1975) menyatakan bahwa: IPA mencakup 3 aspek

3 terpadu yaitu (a) science attitudes (sikap ilmiah), (b) science methods (metode ilmiah), dan scientific product (produk ilmiah). Permendiknas No. 22 tahun 2005 menyatakan, pembelajaran IPA merupakan perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di segala tingkat harus terus menerus dilaksanakan. Berbagai upaya telah dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan memberikan pengaruh cukup besar terhadap keberhasilan belajar siswa. Guru diharapkan terampil dalam memilih metode dalam proses pembelajaran, sehingga tercipta suasana belajar menyenangkan dan siswa dapat berkembang ke arah yang lebih baik (Susilo, 2004 dalam Setriarini, 2010). Potensi yang dimiliki siswa dapat

dimanfaatkan untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif. Siswa aktif, berarti mereka akan dapat mendominasi aktivitas pembelajaran, sehingga siswa dapat secara aktif menggunakan otak untuk menemukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan, maupun mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam suatu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata (Zaini, 2004). Belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Siswa yang pasif atau hanya menerima informasi dari guru ada kecendrungan untuk cepat melupakan apa yang diterima (Zaini, 2004). Belajar aktif adalah salah satu cara untuk dapat mengikat informasi yang baru untuk kemudian menyimpan dalam otak. Menurut Schafersman (1991) cara yang lebih efektif dalam pemberian pembelajaran adalah dengan mengajarkan kepada siswa bagaimana berpikir, yakni bagaimana menggunakan fakta dan konsep yang diketahuinya untuk membangun satu ide baru. Sudrajat (2008) menyatakan bahwa proses berpikir adalah berkembangnya ide dan konsep dalam diri seseorang. Proses berpikir tidak dapat

4 berkembang dengan sendirinya, melainkan harus selalu dilatih. Dharma (2008, dalam Setriarini, 2010) mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis dan kreatif merupakan salah satu tuntutan abad 21 yang ditandai dengan kompetisi global. Pendidikan nasional diharapkan mampu menghasilkan manusia Indonesia yang cerdas untuk mengembangkan potensi dan karakter siswa, sehingga memiliki kemampuan memecahkan masalah hidup yang dihadapi serta dapat membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Salah satu bentuk belajar aktif yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan dapat meningkatkan hasil belajar kognitif dan afektif siswa, yaitu dengan cara melibatkan mereka berperan sebagai guru atau tutor bagi temannya sendiri sehingga akan merasa tepacu untuk lebih banyak menguasai materi. Salah satu bentuk strategi pembelajaran tutor sebaya adalah Peer Mediated Instruction and Intervention (PMII). PMII merupakan sebuah alternatif pengaturan kelas yang di dalamnya siswa mengajar di dalam kelas atau di luar kelas kepada siswa lain. Hall (2003) mengemukakan salah satu tipe PMII adalah Classwide Peer Tutoring (CWPT). CWPT adalah sebuah bentuk pembelajaran tutor sebaya di mana siswa dipasang-pasangkan oleh guru. Satu berperan sebagai tutor (pembelajar), sedangkan yang satunya sebagai tutee (pebelajar). Siswa yang berperan sebagi tutor berfungsi sebagai pembelajar yaitu bertugas menyampaikan materi pembelajaran, sementara siswa yang berperan sebagai tutee merespons apa yang disampaikan oleh tutor. Siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi dapat berperan sebagai tutor sebaya, memberi bantuan kepada siswa yang memiliki kecepatan belajar rendah (Arends, 2004). Pembelajaran tutor sebaya merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran kooperatif ( Arend, 2004). Pembelajaran tutor sebaya menuntut siswa sebagai pebelajar dan sekaligus sebagai pembelajar

5 Terkait dengan penerapan strategi yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar siswa, tidak terpisahkan dari kemampuan akademik siswa. Menurut Usman (1996, dalam Halim 2011) hasil belajar berhubungan dengan kemampuan akademik siswa. Siswa dengan kemampuan akademik atas akan memahami materi pembelajaran dengan mudah dibandingkan dengan siswa yang berkemampuan akademik bawah. Siswa yang memiliki tingkat kmampuan akademik berbeda kemudian diberi pengajaran yang sama maka hasil belajar kognitif akan berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemampuannya karena hasi belajar berhubungan dengan kemampuan siswa dalam mencari dan memahami materi yang dipelajarinya. Laurance (1998, dalam Sabilu, 2008) mengemukakan bahwa siswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi pencapaian kemampuan berpikir tingginya lebih baik daripada siswa yang mempunyai kemampuan akademik rendah, hal ini disebabkan pengetahuan yang digunakan untuk memecahkan persoalan kompleks yang menyangkut kognitif tinggi telah dimiliki siswa dengan kemampuan akademik tinggi. Siswa yang mempunyai tingkat kemampuan akademik tinggi lebih mudah merespon terhadap pegetahuan baru yang diterimanya sehingga berdampak pada proses dan hasil belajar yang dicapainnya (Halim, 2011) Mengingat kelas atau rombongan belajar terdiri dari siswa dengan berbagai latar belakang, termasuk suku, bahasa, kebiasaan, sikap, dan kecerdasan atau

potensi akademik, maka aspek heterogenitas kelas menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam penelitian ini. Slavin (2000) berpendapat bahwa kecerdasan anak berkorelasi dengan proses dan hasil belajaranya. Anak yang mempunyai kecerdasan tinggi, mempunyai kecenderungan lebih mampu dalam melakukan analisis, sintesis, dan berpikir kritis. Siswa yang mempunyai kecerdasan lebih tinggi berpeluang lebih mudah dalam memahami materi yang dipelajarainya. Pendapat

6 lain yang dinyatakan oleh Richard (2002), bahwa berdasarkan kemampuan akademik, maka ada 3 kelompok siswa, yaitu siswa yang berkemampuan akademik atas, siswa yang berkemampuan akademik sedang, dan siswa yang berkemampuan akademik bawah. Menurut Aderson dan Pearson (1984 dalam Mahanal, 2009), apabila siswa yang memiliki kemampuan akademik berbeda diberi pengajaran yang sama, maka hasil belajar akan berbeda sesuai dengan tingkat kemampuan akademiknya. Dengan demikian, perbedaan tingkat kemampuan berpikir kritis, hasil belajar kognitif, dan afektif dapat ditemukan dalam satu kelas meskipun mereka sama-sama belajar dengan suatu strategi belajar. Oleh karenanya, perlu dilihat bagaimana peran potensi akademik terhadap kemampuan berpikir kritis, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif siswa. Penelitian dengan penerapan PMII telah banyak dilakukan oleh peneliti di luar negeri, tetapi di Indonesia belum banyak diterapkan dalam proses pembelajaran maupun penelitian. Setriarini (2010) telah mencoba menerapkan strategi pembelajaran PMII tipe Reverse Role Tutoring di SMPN I Pasuruan untuk mengetahui pengaruh kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa kelas VII Pasuruan. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa PMII tipe Reverse Role Tutoring berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar kognitif siswa. Berdasarkan hasil penelitian di atas, penerapkan strategi pembelajaran PMII dapat dilaksanakan tetapi pada tipe yang berbeda berdasarkan kemampuan akademiknya pada lingkungan yang berbeda, yaitu pada lingkungan SMK teknologi yang memiliki siswa mayoritas laki-laki. Kota Bontang sebagian besar Sekolah Menengah Atas terdiri atas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), karena kota Bontang termasuk salah satu kawasan industri. Kegiatan siswa di SMK lebih cendrung ke kegiatan praktik, sehingga para

7 siswa kurang tertarik terhadap teori. Saat pembelajaran berlangsung, guru memberikan kesempatan untuk bertanya dan mengungkapkan pendapat atau memberikan alasan akan tetapi siswa lebih banyak memilih diam dan tidak memberikan respon atas apa yang disampaikan oleh guru. Hal demikian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis masih rendah dalam

membandingkan, sebab akibat, memberi alasan, menyimpulkan, berpendapat, mengelompokkan, menerapkan, dan menganalisis. Kemampuan berpikir kritis di SMK Negeri I Bontang selama ini masih kurang terukur dengan baik oleh guru, padahal merupakan indikator penting dalam mengukur keberhasilan siswa. Pembelajaran IPA Biologi di SMKN 1 Bontang masih di dominasi dengan metode belajar konvensional yaitu metode pembelajaran dengan ceramah dan penugasan dengan LKS. Hasil observasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa siswa kelas XI SMKN 1 Bontang sebanyak 290 siswa yang tersebar ke dalam 9 kelas memiliki nilai rapor khusus mata pelajaran IPA Biologi beragam mulai dari nilai terendah atau di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) nilai 70 sebesar 40% hingga nilai tinggi atau di atas nilai KKM sebesar 25%. Keberagaman tersebut terungkap bahwa di kelas XI hasil belajar siswa mencapai nilai di atas KKM 70 masih sedikit dibandingkan dengan siswa yang mencapai nilai di bawah KKM. Hasil belajar kognitif IPA Biologi siswa dalam hal mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, menilai, dan mencipta masih sangat kurang. Selain hasil belajar kognitif IPA Biologi siswa yang masih kurang, aspek afektif siswa dalam hal menerima, menanggapi, menghargai, mengorganisasi, dan mengkarakterisasi masih kurang sehingga dengan strategi pembelajaran PMII tipe CWPT, siswa di tuntut untuk dapat meningkatkatkan hasil belajar afektif terutama pengelolaan lingkungan dalam menghadapi banyaknya limbah dan polusi di lingkungan sekitarnya, dan dapat memperoleh gambaran nyata bahwa suatu

8 tindakan atau aktifitas dapat menimbulkan konsekuensi yang merugikan dan menguntungkan, baik terhadap masyarakat, maupun terhadap alam sendiri. Siswa diharapkan untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan, sebagai tindakan antisipatif yang dibutuhkan saat ini untuk mencegah dampak yang lebih parah dari kerusakan lingkungan. Terkait dengan kemampuan berpikir kritis, hasil belajar kognitif, dan hasil belajar afektif siswa. Materi IPA yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah limbah dan jenisnya serta Polusi di lingkungan kerja. Strategi pembelajaran Peer Mediated Instruction and Intervention dengan bermacam tipenya belum pernah diterapkan di SMK Negeri I Bontang dan kemampuan akademika dihubungkan dengan hasil belajar kognitif dan hasil belajar afektif belum pernah diteliti di sekolah tersebut, sehingga peneliti mencoba menerapkan strategi tersebut dengan tipe yang lain yaitu tipe Classwide Peer Tutoring di SMK Negeri I Bontang. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti merumuskan judul penelitian sebagai berikut: Pengaruh Strategi Pembelajaran Peer Mediated Instruction and Intervention tipe Classwide Peer Tutoring dan Kemampuan Akademik terhadap Kemampuan Berpikir Kritis, Hasil Belajar Kognitif, dan Afektif IPA Biologi Siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang Tahun Ajaran 2011/2012. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah yang di kemukakan sebagai berikut. 1. Apakah penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012?

9 2. Apakah penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif IPA Biologi siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012? 3. Apakah penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring berpengaruh terhadap hasil belajar afektif IPA Biologi siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012? 4. Apakah kemampuan akademik berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis Siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012? 5. Apakah kemampuan akademik berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif IPA Biologi siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012? 6. Apakah kemampuan akademik berpengaruh terhadap hasil belajar afektif IPA Biologi siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012? 7. Apakah interaksi antara penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dengan kemampuan akademik berpengaruh terhadap

kemampuan berpikir kritis siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012? 8. Apakah interaksi antara penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dengan kemampuan akademik berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif IPA Biologi siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012? 9. Apakah interaksi antara penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dengan kemampuan akademik berpengaruh terhadap hasil belajar afektif IPA Biologi siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012?

10 C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian di rumuskan sebagai berikut. 1. Mengetahui pengaruh penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012. 2. Mengetahui pengaruh penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring terhadap hasil belajar kognitif IPA Biologi siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012. 3. Mengetahui pengaruh penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring terhadap hasil belajar afektif IPA Biologi siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012. 4. Mengetahui pengaruh kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir kritis Siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012. 5. Mengetahui pengaruh kemampuan akademik terhadap hasil belajar kognitif IPA Biologi siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012. 6. Mengetahui pengaruh kemampuan akademik terhadap hasil belajar afektif IPA Biologi siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012. 7. Mengetahui pengaruh interaksi antara penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dengan kemampuan akademik terhadap kemampuan berpikir kritis siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012. 8. Mengetahui pengaruh interaksi antara penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dengan kemampuan akademik terhadap hasil

11 belajar kognitif IPA Biologi siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012. 9. Mengetahui pengaruh interaksi antara penerapan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dengan kemampuan akademik terhadap hasil belajar afektif IPA Biologi siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012.

D. Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012 yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional. 2. Ada perbedaan hasil belajar kognitif IPA Biologi siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012 yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional. 3. Ada perbedaan hasil belajar afektif IPA Biologi siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012 yang diajar dengan menggunakan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dengan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional. 4. Ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012 antara siswa yang berkemampuan akademik atas dengan siswa yang berkemampuan akademik bawah.

12 5. Ada perbedaan hasil belajar kognitif IPA Biologi siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012 antara siswa yang berkemampuan akademik atas dengan siswa yang berkemampuan akademik bawah. 6. Ada perbedaan hasil belajar afektif IPA Biologi siswa kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012 yang berkemampuan akademik atas dengan yang berkemampuan akademik bawah. 7. Ada perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012 dengan menginteraksikan strategi

pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dan kemampuan akademik. 8. Ada perbedaan hasil belajar kognitif siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012 dengan menginteraksikan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dan kemampuan akademik. 9. Ada perbedaan hasil belajar afektif siswa Kelas XI di SMK Negeri I Bontang tahun ajaran 2011/2012 dengan menginteraksikan strategi pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dan kemampuan akademik. E. Kegunaan Penelitian Penerapan Pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring di harapkan dapat memberi kegunaan sebagai berikut. 1. Kegunaan Teoritis a. Memotivasi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran. b. Meningkatkan pengetahuan dan pengalaman tentang macam-macam strategi pembelajaran. 2. a. Kegunaan Praktis, Bagi siswa

13 1). Meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, aktif, mandiri, dewasa dan punya rasa setia kawan yang tinggi. 2). Meningkatkan hasil belajar kognitif IPA Bologi siswa. 3). Meningkatkan hasil belajar afektif IPA Biologi siswa. b. Bagi guru Memotivasi guru agar lebih kreatif dalam mencoba menggunakan berbagai macam strategi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kualitas siswa dalam belajar. F. Asumsi Penelitian Asumsi yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Kemampuan Akademik dapat diukur berdasarkan nilai rata-rata yang tercatat dalam buku laporan hasil belajar siswa. 2. Kemampuan berpikir kritis dapat diukur dengan menggunakan tes kemampuan berpikir kritis. 3. Hasil belajar kognitif IPA Biologi dapat diukur dengan menggunakan tes hasil belajar kognitif. 4. Hasil belajar afektif IPA Biologi dapat diukur dengan menggunakan tes sikap menggunakan skala Likert. G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian Ruang lingkup dan keterbatasan penelitian dijabarkan sebagai berikut. 1. Ruang Lingkup Penelitian a. Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas yaitu Pembelajaran PMII tipe Classwide Peer Tutoring dan strategi konvensional. Variabel moderator berupa kemampuan akademik atas dan kemampuan akademik bawah. Variabel terikat adalah kemampuan berpikir kritis IPA Biologi, hasil belajar kognitif IPA

14 Biologi, dan hasil belajar afektif IPA Biologi. Variabel kontrol terdiri atas guru yang sama, materi pelajaran yang diajarkan sama, alat evaluasi yang di berikan sama, serta alokasi waktu belajar yang digunakan juga sama untuk semua kelas. b. Subyek Penelitian adalah siswa Kelas XI yang terdiri atas 6 kelas, yaitu Teknik Kendaraan Ringan (TKR) sebanyak 19 orang, Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL) yang berjumlah 22 orang, dan Teknik Permesinan (TP) sebanyak 23 orang yang diajar dengan menggunakan strategi Pembelajaran konvensional dan Teknik Pendingin Tata Udara (TPTU) sebanyak 15 orang, Teknik Otomasi Industri (TOI) sebanyak 18 orang, dan Teknik Pengelasan (TL) sebanyak 26 orang diajar dengan menggunakan strategi Pembelajaran PMII Tipe CWPT. Penelitian dilakukan di SMKN 1 Bontang Kalimantan Timur tahun ajaran 2011/2012 pada semester ganjil pada bulan Juli sampai Agustus pada Standar Kompetensi memahami polusi dan dampaknya pada manusia dan

lingkungannya dengan Kompetensi Dasar limbah dan polusi di lingkungan kerja.

2. Keterbatasan Masalah Materi pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini hanya mencakup limbah dan jenisnya, serta polusi di lingkungan kerja. Kelas XI yang dijadikan sampel penelitian terdiri atas 6 kelas yaitu Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL), Teknik Pendingin Tata Udara (TPTU), Teknik Otomasi Industri (TOI), Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Permesinan (TP), dan Teknik Pengelasan (TL).

15 Observer tidak diberikan kesempatan untuk mengajar sesuai sintaks keinginan peneliti, akan tetapi observer hanya diberikan pengarahan secara lisan tentang tatacara mengisi Lembar Observasi. keterlaksanaan strategi pembelajaran. Gambaran dan penjelasan tentang penjabaran variabel penelitian secara detail dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut.

Tabel 1.1 Penjabaran Variabel Penelitian


No 1. Variabel Variabel Bebas : a. Strategi PearMediated Instruction and Intervention tipe Classwide Peer Tutoring b. Pembelajaran Konvensional Indikator Empiris Jenis Data Nominal

Pembentukan dua kelompok besar Pembentukan pasangan c. Pelaksanaan pembelajaran oleh tutor c. Pelaksanaan penilaian d. Bertukar peran

a. b.

a. b. c. d.

Membangkitkan motivasi Ceramah Pemberian tugas dengan LKS Pelaksanaan Penilaian

Nominal

2.

Variabel Moderator : a. Kemampuan Akademik Atas b. Kemampuan Akademik Bawah Siswa yang memiliki nilai rapor kisaran 33,3% dari nilai teratas Siswa yang memiliki nilai rapor kisaran 33,3% dari nilai terbawah a. Membandingkan Nominal Nominal

3.

.Variabel Terikat : a. Kemampuan

Interval

16
Berpikir Kritis

b. Menjelaskan sebab akibat


c. d. e. f. Memberi alasan Menyimpulkan Mengeluarkan pendapat Mengelompokkan Membuat analisis Interval

g.
b. Hasil Belajar Kognitif IPA Biologi a. b. c. d. e. f.

Mengingat (C1) Memahami (C2) Menerapkan (C3) Menganalisis (C4) Menilai (C5) Mencipta (C6)

c. Hasil Belajar Afektif IPA Biologi

a. Menerima b. Menanggapi
c. d. e. Menghargai Mengorganisasi Mengkarakterisasi

Interval

H. Definisi Istilah/Operasional Variabel-variabel di atas dapat didefinisikan sebagai berikut. 1. Peer Mediated Instiction and Intervention (PMII) tipe Classwide Peer Tutoring merupakan suatu strategi pembelajaran yang dikoordinasi oleh guru dengan indikator pembentukan dua kelompok besar, pembentukan pasangan,

pelaksanaan pembelajaran oleh tutor, pelaksanaan penilaian, dan bertukar peran. 2. Pembelajaran Konvensional adalah pembelajaran yang telah biasa dilaksanakan di lokasi penelitian dengan indikator membangkitkan motivasi, ceramah, pemberitaan tugas dengan LKS dan pelaksanaan penilaian. 3. Kemampuan Akademik adalah gambaran tingkat kemampuan siswa terhadap materi pelajaran sebelum pemberian perlakuan. Kemampuan akademik atas adalah siswa yang memiliki nilai rapor kisaran 33,3% dari nilai ter atas.

17 Kemampuan akademik bawah adalah siswa yang memiliki nilai rapor kisaran 33,3% dari nilai ter bawah. Alat ukur untuk kemampuan akademik adalah nilai rapor rata-rata hasil belajar siswa yang diperoleh di kelas X. 4. Kemampuan berpikir kritis adalah pengorganisasian proses mental dan kemampuan yang ditunjukkan siswa dengan indikator membandingkan, hubungan .sebab-akibat,. memberi.alasan,. menyimpulkan,. berpendapat,

mengelompokkan, mengaplikasikan,dan menganalisis. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis adalah tes kemampuan berpikir kritis dalam bentuk tes uraian. 5. Hasil belajar kognitif adalah hasil belajar yang diukur dengan menggunakan taksonomi Blom dengan indikator terdiri atas: C1 (mengingat), C2 (memahami), C3 (menerapkan), C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (Mencipta). Alat ukur yang digunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif adalah tes hasil belajar kognitif dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda. 6. Hasil belajar afektif adalah hasil belajar dengan indikator menerima, menanggapi, menghargai, mengorganisasi, serta mengkarakterisasi. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur hasil belajar afektif adalah tes sikap yang mengunakan skala Likert yang menyediakan empat pilihan jawaban yaitu sangat setuju (SS), Setuju (S), Tidak setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STJ dengan skor tiap item adalah SS=4, S=3, TS= 2, Serta STS =1.