LOVASKET 2

FOR THE LOVE OF THE GAME

Luna Torashyngu

Cerita ini adalah cerita fiksi, bukan merupakan kejadian yang sebenarnya.

Cerita sebelumnya:

THE ROSES, geng cewek di SMA Altavia—SMA swasta paling elite di Bandung— bubar. Vira, pemimpin geng itu, terpaksa pindah sekolah karena papanya ditangkap dengan tuduhan korupsi dan semua kekayaan keluarganya disita. Vira terpaksa pindah ke sebuah sekolah negeri di pinggiran kota yang kebanyakan muridnya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Keadaan sekolah itu berbeda 180 derajat dengan SMA Altavia yang kebanyakan muridnya merupakan anak pejabat atau orang kaya. Nggak cuman pindah sekolah, Vira juga harus rela kehilangan teman-temannya, pacar, dan yang terpenting, peluangnya sebagai kandidat kuat kapten tim basket putri SMA Altavia sekaligus ketua ekskul basket di sekolah itu. Semua kejadian yang menimpanya membuat Vira frustrasi. Batin Vira tertekan dan sifatnya berubah. Vira yang dulu periang menjadi pendiam dan lebih suka mengurung diri di kamar sepulang sekolah. Niken adalah Ketua OSIS SMA 31—sekolah baru Vira. Sebagai ketua OSIS, Niken bingung menghadapi keinginan pihak sekolah yang berniat mengurangi jumlah kegiatan ekstrakurikuler di SMA itu karena masalah biaya. Pihak sekolah memberikan wewenang pada OSIS untuk menentukan ekskul mana yang bisa dihapus. Niken tentu saja pusing seribu keliling karena harus menginvestigasi masing-masing ekskul untuk mengetahui kegiatan mereka. Niken juga merasa nggak enak pada temen-temennya yang tentu berharap agar ekskul mereka nggak dihapus.

Kedekatan mereka membuat Niken cemburu. Dengan berbagai cara. Ternyata bergabungnya Vira dengan tim basket putri SMA 31 nggak berjalan mulus. kapten tim basket putri SMA 31. Vira menganggap kematian Diana adalah tanggup jawab Stella dan pihak SMA Altavia. Dia juga semakin dekat dengan Rei. Tapi kejadian bunuh dirinya Diana.Salah satu ekskul yang terancam akan dihapus adalah basket. walau kabarnya memiliki sejumlah pemain yang baik. sampe munculnya penolakan atas kehadiran dirinya dari sebagian pemain. Vira akhirnya bisa meyakinkan Rida untuk menerima kehadirannya dalam tim. Ini membuat Niken merasa nggak enak pada Rei. Banyak hambatan yang menghadang Vira. Ekskul basket menjadi kandidat kuat untuk dihapus karena tidak pernah berprestasi bagus. Padahal Rei— ketua ekskul ini—adalah teman Niken sejak kecil. membuat mata hari Vira terbuka. Akhirnya dia bersedia bergabung dengan tim basket SMA 31. Kedekatan Niken pada mama Vira membuatnya tahu Vira adalah pemain basket yang berbakat. apalagi mereka sering keluar malam bersama untuk bermain streetball atau basket jalanan. Turnamen basket antar-SMA sekota Bandung menjadi ajang pembuktian bagi Vira untuk membalaskan dendamnya pada bekas sekolahnya. Mamanya yang ikut membujuk juga nggak berhasil meluluhkan hati Vira. Walau di babakbabak awal sempat mengalami masalah dan kesulitan. termasuk ketika harus bertanding satu lawan satu dengan Stella. terutama dari Rida. karena itu Vira berniat memberikan pelajaran pada mantan sahabat dan sekolahnya itu dengan cara mempermalukan tim basket putri SMA Altavia yang sering memenangi berbagai kejuaraan. mulai dari kondisi permainan tim yang berantakan dan tanpa strategi bermain yang jelas. akhirnya tim putri SMA 31 . Tapi bujukan Niken itu nggak ditanggapi Vira yang sedang depresi dan bersumpah nggak akan main basket lagi untuk selamanya. salah satu anggota The Roses yang juga sahabat Vira. Rida nggak yakin kehadiran Vira dapat membuat permainan tim putri SMA 31 lebih baik dan berprestasi. Niken mati-matian membujuk Vira untuk bergabung dengan tim basket putri SMA 31.

Vira dan teman-temannya justru yang lebih mendapat sambutan meriah dari seluruh penonton yang menyaksikan langsung pertandingan itu. Walau melawan SMA Altavia yang lebih diunggulkan. serta membuat ekskul basket SMA 31 nggak jadi dihapus. Rida sebagai kapten tim lalu memutuskan SMA 31 tetap bertanding tanpa Vira. tapi dia mendapat “kemenangan” lain yang jauh lebih penting. Vira nggak berhasil menuntaskan “dendamnya” secara langsung pada bekas sekolahnya. Dan walaupun akhirnya SMA 31 gagal mengalahkan SMA Altavia dengan angka sangat tipis. terutama Stella. SMA 31 nggak gentar. Vira cedera di menit-menit akhir pertandingan dan harus keluar lapangan. Sayang. Dia juga berhasil menyatukan Niken dan Rei. Vira akan berhadapan dengan mantan tim dan teman-teman basketnya.berhasil maju ke babak final. hingga akhirnya Vira muncul di pertengahan quarter kedua. Kejar-kejaran angka berlangsung seru. Tapi cederanya Vira ternyata nggak memadamkan semangat bertanding teman-temannya. Saat final. Kehadiran Vira menambah panas suasana pertandingan. SMA 31 yang selalu tertinggal dalam perolehan angka mulai bangkit mengancam lawannya. . diiringi drama dan bumbu persaingan antara Vira dan mantan teman-temannya. dan menghadapi SMA Altavia. Mereka bisa mengimbangi permainan lawannya. ternyata Vira nggak muncul. bahkan sempat unggul dari SMA Altavia.

. “Eehh... Hampir.” ujar seorang cowok kelas satu yang datang menghampiri Niken. . Kak. “Liat-liat dong kalo maen!” sungut Niken sambil memperhatikan cowok yang mengambil bola basket yang tergeletak nggak jauh dari tempat Niken berdiri itu.SATU DUK! “Aduh!” Hampir aja Niken jadi korban hantaman benda bulat berwarna oranye yang meluncur deras ke arahnya. siapa suruh berdiri di dalam lapangan.” Niken baru sadar dia emang berdiri sedikit di dalam lapangan basket.. “Eh. “Salah kamu sendiri. maaf. “Kamu nyariin Vira?” Rei malah balik nanya. nggak?” tanya Niken tanpa basa-basi.. itu. “Kamu liat Vira..” Terdengar suara cowok dari arah samping Niken. “Emang kamu mikirin apa sih? Sampai nggak sadar berdiri di dalam lapangan?” tanya Rei sambil cengar-cengir.. Niken menoleh dan melihat Rei yang tau-tau udah berdiri di sampingnya.. jadi nggak melihat wajah Niken yang memerah menahan malu... karena benda itu cuman nyerempet bahu kirinya dikit.. Untung cowok kelas satu yang tadi melempar bola ke arahnya udah pergi.

“Reiiii!!!” *** Vira emang sahabat baik Niken. Masa dia nggak bilang ke kamu?” Niken menggeleng. Debi. Rei.. Mungkin itu sebabnya kali ini Vira nggak ngajak Niken nonton pertandingan. Kamu liat Vira. andalam tim basket cewek SMA 31.. Niken juga selalu lupa peraturan-peraturan basket. “Kamu nggak diajak?” tanya Niken. Malah boleh dibilang soulmate. Basket. HP-nya nggak aktif.. Amel juga nggak tau.. nenek kamu!” jawab Niken kesal. ya pasti nyariin tuh cewek. tapi aku kan ada janji dengan pacarku tersayang..” sungut Niken. Pake nanya segala! Rei malah jadi ngakak mendengar jawaban Niken. Vira terkenal jago basket.. Pas ditelepon. dan selalu nanya ke Rei atau Vira kalo nonton pertandingan basket bareng mereka. sebulan belajar basket. itu juga nggak selalu masuk. kecuali satu.” “Jangan mulai jayuz. nggak?” Rei menghentikan ketawanya dan malah menatap Niken. bikin Niken tambah tersipu-sipu..” goda Rei. dia pergi bareng Rida.. “Bilang apa? Pas bel pulang tuh anak langsung ngabur nggak bilang-bilang..“Bukan. Mia.. dia baru bisa menembak bola ke ring. Kalo dalam hal satu ini boleh dibilang kedua cewek ini bagai bumi dan langit. “Kamu tambah cantik deh kalo lagi kesel. jangan bercanda. Udah jelas dia nanyain Vira. Rei kembali ngakak sambil mengacak-acak rambut Niken. “Diajak sih. Kalo nggak salah.. “Udah deh.. “Dia nggak bilang ke kamu?” Rei balik nanya lagi.. dan anak-anak basket cewek lainnya.” “Vira kan mo nonton pertandingan basket di C‟tra. Mungkin Vira pengin sekali ini menikmati pertindangan tanpa diganggu . Mereka kompak dalam segala hal. Sedang Niken.

Pertandingan ini merupakan salah satu ajang latihan bagi kedua tim yang akan menghadapi kualifikasi kejuaraan nasional (kejurnas) yang akan berlangsung bulan depan. siang ini Vira bersama temen-temen setimnya bergabung bersama ribuan penonton lain yang menyaksikan pertandingan persahabatan antara tim basket putri Jawa Barat melawan tim basket putri Kalimantan Timur.. Jelas aja..” kembali Vira menjelaskan.. Mungkin itu juga sebabnya Vira juga nggak ngajak Amel.. Dia juga banyak bikin angka. yang bisa diajak diskusi soal pertandingan yang mereka tonton. Maennya udah kayak cowok... dia kan atlet nasional.” kata Mia... “Iya.. Apa pun alasannya. Lusi..” Vira menjelaskan...” jawab Vira sambil cengengesan. “Mira Wulandari? Dia pemain nasional juga.. “Hebaat!” seru Rida sambil bertepuk tangan ketika salah seorang pemain putri Jabar berhasil memasukkan bola ke ring lawan dengan caray lay-up. “Aku kan baca koran. tapi tetap aja Amel bisa ketiduran tanpa terganggu suara-suara ribut di sekelilingnya). “Yang nomor 9 itu hebat ya. termasuk SEA GAMES kemaren... Andalan Indonesia di berbagai event internasional. “Kamu tau banyak soal mereka. ya?” tanya Rida.. gitu yaaa.. walau nggak selalu jadi starter.. Lusi siapa tadi?” “Lusi Chyndana Dewi. “Maksud kamu Lusi Chyndana Dewi?” Vira balik nanya.” “Yang nomor 7 juga bagus tuh maennya. *** . “Ooo. karena nggak mau terganggu suara dengkuran Amel yang selalu ketiduran setiap diajak nonton pertandingan (padahal suasana pertandingan pasti rame.pertanyaan-pertanyaan seperti: “Kenapa sih disentuh dikit aja langsung pelanggaran?” Mungkin kali ini Vira pengin nonton basket bareng temen-temen setimnya.” lanjut Rida.

. tapi emang sengaja dimatiin supaya nggak ngeganggu keasyikan Vira nonton basket.. Vira menunggu apa yang akan dilakukan Stella kali ini. Dia nggak mau ngeladenin Niken.. nggak usah dipikirin. “Masih tetep sombong aja dia!” sungut Mia. lalu buru-buru ke kamarnya. “Sori.” sahut Vira sambil nyengir. juga Rida. Dia melengos dan melanjutkan langkahnya. Tapi ternyata Stella nggak ngelakuin apa-apa. dia dapet omelan dari Niken. Mending makan yuk! Kan dari tadi kita belum makan siang. Yang ditanya cuman mengangguk. baterainya abis. Biarin aja Niken. Udah bisa ditebak. . Tuh anak kalo udah ngomel-ngomel mending jangan diladenin. Apalagi kalo Niken sampe meriksa HP Vira. Soalnya baterai HP itu sebenarnya tidak habis. Mia. langsung membuat wajah ketiga temennya itu berubah seperti baru dapet undian berhadiah aja! *** Vira baru pulang menjelang magrib..” sahut Vira. diikuti teman-temannya. “Itu bukannya Stella?” tanya Rida lirih pada Vira. tambah panjang urusannya. yang juga akan keluar dari pintu yang sama. Aku lupa nge-charge tadi malem.. Mending mandi.. “Aku yang traktir. “Udahlah. Dan Stella pun melihat mereka. Ternyata nggak cuman Vira.. Seketika itu juga terlihat wajah ragu-ragu dari Debi. besok pasti dia udah biasa lagi.. “Dari mana aja sih kamu? Pergi kok nggak bilang-bilang? Kenapa HP-nya dimatiin?” semprot Niken. Vira melihat sosok yang begitu dikenalnya.. kalo nggak mau urusannya bisa panjang... Stella! batin Vira.Saat akan keluar dari C‟tra Arena setelah pertandingan selesai.” lanjut Vira. yang lainnya pun melihat kehadiran Stella bersama anak-anak basket Altavia. trus ngerjain PR buat pelajaran besok.

“Kamu tau aku ketemu siapa di GOR kemaren?” Vira mencoba membuka pembicaraan. sementara kedua ortunya tinggal di Jakarta. “Tadi kan kamu bilang ketemu ama seseorang di GOR. Masih pake seragam sekolah. Baca novel sambil nonton TV. Sejak tiga bulan yang lalu Niken emang tinggal bareng Vira. “Ya udah kalo nggak mau tau. “Emang kamu ketemu siapa?” tanya Niken tiba-tiba.” Vira menggaruk-garuk kepalanya. di rumah yang dulunya dikontrak Vira bareng mamanya. dia pun kembali melanjutkan kegiatannya tadi sebelum Vira pulang. Contohnya ya kayak sekarang. Toh rumah Vira juga deket dengan rumahnya. lagi! *** Pagi harinya. nggak menjawab ucapan Vira. Pancingannya mengena! “Hah? Apa?” tanya Vira sambil berbalik. dan ibunya juga ngizinin. Dia lalu berdiri dan siap-siap berangkat ke sekolah. Niken diminta tinggal di situ buat nemenin Vira... . Niken sih oke-oke aja.. “Kamu ketemu siapa di sana?” tanya Niken. sama sekali nggak negur Vira. Niken yang disiplin dan tegas itu diharapkan bisa mengatur Vira yang kadang-kadang suka seenaknya sendiri... dia cuman diam. Dengan wajah mendung. Vira yang membelakangi Niken tersenyum. Buktinya waktu sarapan roti yang dibikin Bi Sum.” ujar Vira lagi. pembantunya). itu.. ternyata Niken masih kesel ama Vira. Niken cuman diam. Kalo ada apa-apa tinggal lompat pagar pembatas kompleks. “Siapa? Ketemu di mana?” tanya Vira berlagak bloon. Siapa?” “Ooo.Niken merengut begitu Vira nggak meladenin omelannya. Vira baru pulang pas menjelang malem. Karena Vira sendirian (sebetulnya berdua bareng Bi Sum.. Rumah itu lalu dibeli oleh keluarga Vira dan direnovasi seperlunya untuk tempat tinggal Vira di Bandung. Lagi pula dengan tinggal bareng.

. Tapi gagal. Soal prestasi. termasuk yang Bapak katakan. pemain basket. Bagi mereka yang terpenting sekarang adalah diri sendiri. Tapi untuk berjaga-jaga.“Ya banyak.. fanatisme kedaerahan bagi mereka sudah tidak penting lagi.” “Membentuk tim baru? Tapi apa mungkin? Dengan waktu yang semakin dekat.” “Apa Anda ingin kita mengundurkan diri? Mau ditaruh di mana muka kita kalau sampai hal itu terjadi? Belum lagi kita pasti mendapat sanksi dari pengurus pusat.” .. masih banyak pemain berbakat di luar sana yang punya fanatisme kedaerahan dan tidak semata-mata bermain untuk kepentingan diri sendiri.” “Saya yakin.” “Apa mereka tidak punya fanatisme kedaerahan lagi?” “Menurut saya.” “Kamu sudah bilang mengenai kondisi kita dan bilang soal itu kita bicarakan setelah babak final?” “Saya sudah coba semua cara untuk meyakinkan mereka. Maksud kamu yang mana?” jawab Vira sekenanya. “Viraaaa.” “Besok saya akan coba bicara langsung dengan mereka.. bikin Niken cuman melongo.. sampe tukang parkir. sebaiknya mulai sekarang Anda bersiap-siap untuk membentuk tim baru. satpam. Vira segera meninggalkan Niken yang lima detik kemudian baru sadar dirinya baru aja dikerjain..” “Saya tahu.. mungkin harus kita lupakan dulu tahun ini.. anak sekolah lain.!!!” *** “Jadi semuanya menolak main kalau tuntutan mereka tidak kita kabulkan?” “Mereka bilang begitu. Mereka tetap pada tuntutan mereka. ada wasit.

sedang menuju ke arahnya. Matanya menangkap sosok yang begitu dikenal.” Niken ikut-ikutan menimpali. tim basket cewek udah lima kali melawan SMA lain. “Maksudnya?” tanya Niken yang duduk di sampingnya. “Kalo tim cowoknya. Lay-up manis dari Rida menjadi angka terakhir.. karena nggak lama kemudian pertandingan berakhir. Sampai saat ini tim putri SMA 31 masih unggul 43-27 dan kelihatannya keunggulan itu akan terus bertahan sampai akhir pertandingan. Mendengar pertanyaan Vira. Vir! Ajarin cara maen basket yang bener biar bisa menang. “Vir. “Lima-kosong. . Tapi dia segera terdiam. kamu yakin nggak punya saudara cowok yang juga jago maen basket kayak kamu?” sahut Rei. “Atau kamu ikut aja tim basket cowok.DUA PERTANDINGAN persahabatan basket putri antara tim SMA 31 melawan SMA 12 sudah memasuki detik-detik akhir. Rei cuman nyengir.” ujar Rei menyambut yang duduk di pinggir lapangan. Vira cuman bisa ngakak. “Sejak final turnamen antar-SMA.” jawab Rei dengan nada bangga. Mendengar ucapan Rei dan Niken.. dan belum pernah kalah.. Rei?” celetuk Vira yang lagi ngelap keringatnya.

... Mia. *** “Bapak nggak mungkin sengaja datang ke sini cuman untuk melihat Vira main. Kamu besok tidak ada acara.. kan?” tebak Vira.. Da?” tanya Niken pada Rida.” “Jangan merendah. dan pemain cewek SMA 31 lainnya. Bapak juga ingin meminta kamu untuk datang besok sore ke GOR Padjadjaran. “Memang ada apa..“Bentar yaa. selain ingin melihat permainanmu. Lagi pula.. Yang ditanya cuman mengangkat bahu tanda nggak tahu. pada dasarnya kamu memang berbakat. “Untuk melihat perkembangan permainan kamu. Semua ini juga berkat Bapak yang ngelatih saya dari awal. “Ngapain dia ke sini?” Kali ini Rei menggeleng.. “Ah.. Juga Debi.. “Memang.. jadi Bapak hanya tinggal memoles kamu sedikit. “Pak Andryan. Pak?” tanya Vira. . Yang ditanya cuman mengangguk...” jawab Pak Andryan. Bapak tahu kamu sudah main basket sejak SMP. Ternyata permainan kamu meningkat pesat ya. lalu menghampiri seorang pria berusia setengah baya yang sangat dikenalnya. Bapak bisa aja. tanda tidak tahu.” ujar Vira.. Bapak ada di sini? Ada apa?” tanya Vira sambil menjabat tangan Pak Andryan. *** “Itu bukannya bekas pelatih Vira di Altavia?” tanya Niken pada Rei. kan?” Vira menggeleng.” Vira cuman menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir. pelatih basket SMA Altavia. “Kamu tau.

Ada yang duduk atau berdiri di pinggir lapangan basket sambil ngobrol. Dari luar GOR Padjadjaran emang terlihat sepi. “Alexa?” sapa Vira heran. “Kok kayak mo latihan. bermaksud mengambil bola miliknya. ada juga yang di tengah lapangan sambil latihan. Kalian berdua. tapi saat mereka berdua masuk ke dalam. Lebih dari dua puluh orang ada di dalam GOR.” *** Keesokan sorenya. shooting.” Vira menoleh ke arah yang ditunjuk Pak Andryan. kebanyakan cewek. Vir?” tanya Rida. Rida?” “Iya. yang jelas masih ada hubungannya dengan basket. teman setimnya dulu di Altavia yang sekarang jadi rivalnya. “Maksud Bapak. Bareng Rida tentunya. “Kok sepi. .. Tapi. Bapak tunggu yaa. “Vira?” Vira nggak nyangka bakal ketemu Alexa. Cewek yang dipanggil Alexa menengadahkan kepalanya. atau yang lainnya.. Itu yang nomor 23. jam tiga kurang dikit. ya?” komentar Vira. Nggak laam kemudian cewek pemilik bola basket tersebut mendekat. jangan-jangan ada..” Rida salah.. sekalian ajak juga temen kamu yang rambutnya diikat ke belakang. baik latihan dribel. Vira udah ada di depan GOR Padjadjaran. jangan telat dan bawa perlengkapan untuk main.“Nanti kamu juga tau. “Oya. Sebuah bola basket menggelinding dan berhenti di dekat Vira. Rida cuman mengangguk. “Emang kamu ngarepin apa? Banyak orang?” “Kirain ada pertandingan.” Ucapan Pak Andryan itu jelas membuat Vira bertanya-tanya. kalo ada Alexa di sini. suasananya agak ramai.

“Dia? Maksud lo Pak Andryan?” “Siapa lagi. emang lo aja yang boleh ikut seleksi?” jawab Stephanie sambil tertawa. Vira menoleh ke arah datangnya suara dari tribun di belakangnya. lalu memeluk Stephanie yang berdiri di sana.” jawab Stella. ..“Lo juga dateng!?” Stella berdiri nggak jauh dari Vira.” Alexa yang menjelaskan. “Maksud lo?” tanya Vira. Tanpa memedulikan Stella.. karena dia kan pelatih lo. “Stephanie!” seru Vira. “Pasti dia yang nyuruh lo ke sini. Dan kenapa sih lo makin songong aja? Lo boleh nggak suka ama Pak Andryan.” Suara yang memotong ucapan Stella itu terasa lembut di telinga Vira.. tapi lo harus hormati dia.?” “Iya.” Ucapan Stella itu bikin heran Vira.... “Oya? Sejak kapan?” “Sejak dia merasa dirinya sebagai pelatih besar dan terlalu banyak bicara daripada melatih.. “Jadi lo belum tau? Dia nggak cerita ke lo?” “Cerita apa?” “Pak Andryan udah nggak jadi pelatih basket di Altavia lagi... di sebelah Alexa. membuat rivalnya itu balik menatap tajam ke arahnya. Vira menatap Stella. “Kok gue ngerasa kalo ini ulah lo?” ujar Vira sambil melototi Stella.. “Lo jangan macem-macem. “Lo juga ada di sini?” “Iya dong.” “Nggak lagi. Viraa. Vira naek ke tribun diikuti Rida.” “Halo. ya?” tanya Stella dengan angkuh.

kami harap Adik-adik bisa mengeluarkan kemampuan terbaik Adik-adik dalam seleksi.. karena saat itu terdengar suara peluit berbunyi. karena kami hanya memilih yang terbaik. Rida apalagi. “Tuh! Kita udah disuruh kumpul! Ntar aja ganti bajunya!” tukas Stephanie sambil menepuk pundak Vira.” Demikian Pak Dibyo menjelaskan. *** Seleksi yang dilakukan ternyata bermain basket. Adikadik akan mengikuti seleksi untuk pembentukan tim junior Jawa Barat untuk kejuaraan beberapa bulan lagi. Para calon yang diseleksi dibagi menjadi dua tim yang berhadapan. Pak Andryan berdiri di sampingnya. Mendengar itu. Vira makin bingung. Vira dan Rida berpandangan. apalagi setelah melihat mantan kakak kelasnya itu udah memakai pakaian basket lengkap dengan sepatunya. “Seleksi? Seleksi apa?” Stephanie nggak perlu menjawab pertanyaan Vira. “Mungkin Adik-adik sudah tahu maksud Adik-adik diundang kemari. . Namanya Pak Dibyo dan dia mengaku sebagai salah satu pelatih basket tim Jawa Barat. Yang meniup peluit itu seorang pria setengah baya.” lanjut Pak Dibyo. Karena itu..Ucapan Stephanie tentu aja membuat Vira makin bingung. *** Pria di samping Pak Andryan memperkenalkan diri. “Nanti kami akan memilih dua belas orang sebagai anggota tim.. Bukan hasil pertandingan yang dilihat. Seleksi untuk tim basket Jawa Barat? Mereka nggak tahu itu sebelumnya. tetapi kemampuan individu.

Vira cuman tersenyum mendengar ucapan Rida. ya?” “Seperti biasa. bagus tapi *** “Aku tadi mainnya jelek. Nggak tahu kenapa. Beberapa kali dia malah melakukan kesalahan yang mendasar seperti salah mengoper.. maen di turnamen tingkat internasional. kalo kamu nervous..” jawab Vira sambil mengikat tali sepatunya......” kata Vira. kamu optimis aja. “Kamu inget waktu kita lawan SMA 2 di semifinal kejuaraan basket antar-SMA dulu?” Vira balik nanya.” Pak Dibyo mengingatkan. dan Stephanie. “Udah deh..” lanjutnya menghibur Rida. Kita tunggu aja hasilnya.. atau tembakannya nggak akurat. Apa kamu nggak pengin terpilih juga?” “Ya pengin juga sih.“Tapi jangan lupakan kerja sama tim. “Kamu pengin jadi anggota tim provinsi?” “Tentu aja. “Tapi nggak papa kok. Dan itu merupakan salah satu penyebab timnya kalah melawan tim merah yang dimotori Stella. Kami lebih memilih pemain yang bisa bekerja sama secara tim daripada pemain yang punya skill individualis. Kirain tadinya cuman diundang untuk main atau sekedar latihan. terutama Rida.. Siapa sih yang nggak bangga kalo terpilih mewakili daerahnya? Apalagi dengan cara itu.” keluh Rida. ya?” tanya Rida pada Vira saat mereka ganti pakaian usai seleksi..” lanjutnya. aku juga sedikit kaget karena nggak nyangka bakal ikut seleksi untuk tim provinsi.. siapa tau kamu terpilih masuk tim. siapa tau aku bisa jadi atlet nasional... “Aku kayak gitu lagi. Alexa. Rida tadi satu tim bareng Vira di tim biru. mereka berdua tadi mainnya nggak sebagus biasanya. *** .. “Kayaknya aku nggak bakal lolos seleksi.

. Dia lalu mengambil HP dari tasnya. Pasti Mom nggak pulang lagi! batinnya. Cuman itu suara yang didengar Stella melalui HP-nya.. “Mom udah pulang.” jawab pembantunya pendek.. tapi yang jelas malam ini dirinya akan kembali tidur sendirian di dalam rumah yang mewah ini. dia lalu memasuki rumah besar dan mewah yang udah terlihat sepi dan lengang. Non. Bi?” tanya Stella pada pembantunya yang usianya udah hampir setengah abad. Dia nggak tahu alasan HP Mom-nya nggak aktif..Jam dua belas malam tinggal kurang dikit saat mobil yang dikemudikan Stella memasuki halaman rumahnya. dan menghubungi sebuah nomor. Stella lalu mematikan HP dan berjalan dengan gontai menuju kamarnya di lantai dua. Setelah memarkir mobilnya di garasi. Stella hanya menghela napas... seperti beberapa malam sebelumnya. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. “Belum.

.. rekor nggak pernah telat Niken udah tercoreng.. Niken adalah salah satu anak SMA 31 yang selalu dateng paling awal ke sekolah. Akibatnya mereka berdua telat juga sampe ke sekolah dan harus berhadapan dengan guru piket supaya diizinkan masuk ke kelas. Kalo ditanya. . sampe telat bangun gara-gara ngerjain PR (alasan yang terakhir ini kayaknya bohong deh. mulai dari jalanan macet. alasan Rei bisa macem-macem. Ini udah ketiga kalinya dia telat masuk sejak jadian dengan Rei. Tapi sekarang... yang sering telat kalo menjemput Niken.TIGA PAGI-PAGI Niken udah kesel bin sebel bin mangkel ama Rei. Bahkan kadang-kadang pintu gerbang sekolah belum dibuka. “Tau gini kan aku bisa pergi sendiri ato ikut Vira?” sungut Niken saat keluar dari ruang guru piket. soalnya Niken tahu siapa Rei sebenarnya. saingan dengan satpam sekolah yang bertugas membuka pintu gerbang. dan ngerjain PR bukan merupakan salah satu hobi cowoknya itu). Niken pantes kesel. hi hi hi. Dan semuanya gara-gara makhluk bernama Rei. Itu gara-gara Rei telat menjemput dia. ban kempes. Rei cuman diem. nih anak udah ngejogrok di depan pintu gerbang. Nggak ding! Jangankan telat. selalu nggak dateng. bahkan berkalikali. Padahal biasanya kan..

Abis itu paling udah biasa lagi.” sahut Rei. Bakal lama marahnya... Vira tertawa. Dia juga nggak sadar Vira lagi menatapnya dari bangku belakang dengan tampang kasihan. kamu kan tau Niken sekarang tinggal bareng aku. kamu kan cuman temennya. “Bukannya sekarang juga Niken udah marah ke kamu karena kamu sering telat jemput die?” “Beda.. Niken bisa bilang ke Kak Aji. “Rei.” Mendadak Rei ganti topik. alasan kamu sering telat bangun?” tanya Vira pada Rei saat ketemu di jam istirahat.. dia kan masih penasaran ama kamu. jadi dia bisa langsung duduk.” “Kalo kamu nggak berani bilang ke Niken. kenapa sih kamu nggak pernah ikut lagi?” tanya Rei.. “Tapi.. Niken baru masuk kelas sekitar dua puluh menit dari saat Bu Narsih memulai pelajaran biologinya. apalagi garagara ikut streetball. Nah kalo sampe dia tau aku sering pulang pagi. Dia pasti nggak begitu marah ke kamu. *** “Kenapa kamu nggak jujur aja sih bilang ke Niken.Alhasil. “Nggak mungkin lah.. apalagi bawa-bawa kaos dan celana basket... bisa ngamuk dia. “Gara-gara Rei lagi?” tanya Amalia yang duduk di sebelah Niken.” .. Apalagi Elmo. Untung Bu Narsih nggak ngomong apa-apa setelah Niken menunjukkan surat izin masuk dari guru piket..” “Ya kamu bilang aja mo ke mana kek... apa aku juga berani? Apalagi kita tau sifat dia.” jawab Rei... Kalo aku telat sih. malah langsung mengambil buku dari tasnya..” “Bedalah..... Niken nggak menjawab.” “Sama aja. anak-anak nanyain kamu tuh! Kamu udah lama nggak nongol... Pasti dia bakal curiga liat aku pergi malem-malem. bisa-bisa Niken marah ke aku. “Bilang Elmo tunggu aja.. kalo dia nggak keburu mati penasaran!” ujar Vira di sela-sela ketawanya. “Oya. Mendengar ucapan Rei.. Niken paling marah sampe jam istirahat.

” Vira cuman nyengir. Aku lewat depan kelasnya juga nggak keliatan.” ujar Rei. Nggak masuk. karena gitu-gitu Rei sedikit tahu soal mesin motor. yang penting.. Dan bisa ditebak.. Niken emang nggak pulang bareng Rei.. *** “Kamu tau nggak.. “Ke kelas Rida. kamu liat Rida nggak?” Rei menggelengkan kepala. Katanya sih mo bantuin betulin motor.” tegas Vira. bukan karena masih kesel (walau sebetulnya emang masih kesel sih).. mastiin soal ini. . Vir?” tanya Rida. dan aku yakin. kamu juga pasti lolos. “Masa sih?” *** Ucapan Rei emang seratus persen ngawur.. kenapa Rei suka banget telat akhir-akhir ini?” tanya Niken di dalam mobil.. Ngapain aku boong? Pak Andryan yang nelpon sendiri ke aku. saat pulang sekolah. “Berarti bakal ada acara makan-makan nih. “Dari tadi pagi nggak liat tuh. tapi karena Rei mo ke rumah temennya.” “Makan-makan sih gampang. kali.. Vira udah menduga.Vira lalu hendak meneruskan langkahnya.. Rida ternyata ada di kelasnya.. kan?” tebak Rei. “Bener. “Kamu tau dari mana?” “Nebak aja. Ada berita penting buat dia. “Iya.” “Dia lolos seleksi untuk tim provinsi. “Mo ke mana?” tanya Rei. cepat atau lambat Niken bakal nanya soal Rei. dia girang banget mendengar kabar baik yang dibawa Vira.

“Kalo aku yang nanya.. sampe kecapekan gitu? Perasaan dulu-dulu nggak pernah deh.” “Tapi Rei nggak pernah cerita soal dia selalu telat. “Tunggu deh. Mungkin karena sekarang lebih menantang. tapi tetep aja nggak bisa. “Yang bener.” Rei celingak-celinguk. kali. kali ya? Lagi pula aku punya rencana tersendiri.. Tapi dia udah berjanji untuk nggak membocorkan kegiatan Rei yang sebenarnya. nanti juga aku yang akan ngomong langsung ke Niken.. Dan Rei juga udah kecapekan. Rei?” tanya Vira nggak percaya. “Kenapa sih? Mo ngejar setoran? Dulu juga kamu cuman maen malam Minggu aja.. jawaban Rei pasti macem-macem. atau dia pernah cerita ke kamu.. tapi sekarang hampir tiap hari.” “Oya? Kejutan apa?” “Hmmm.” jawab Vira. Aku biasanya maen tiga sampe empat kali..” “Bukan masalah maennya. Mungkin aja kamu tau. Boleh dibilang untuk Niken. cuman kalo lagi rame. “Tapi sampe kapan. Rei bisa maen tiga bahkan empat kali semalam. Dalam hati Vira sebetulnya kasihan juga melihat ekspresi Niken.” Vira pura-pura balik nanya. Tiga juga jarang banget. Rei? Cepat atau lambat Niken pasti bakal curiga. aku tau dia nyembunyiin alasan yang sebenarnya. Apalagi kamu akhir-akhir ini lebih sering telat jemput dia. “Hmmm. Tapi sekarang. tapi kali ini beda.” “Emang kamu maen berapa kali sih. Tapi mo gimana lagi? Aku udah berusaha bangun pagi.” “Yaaa.“Kok kamu malah nanya aku sih? Kamu kan pacarnya.” tanya Vira... tentu aja bohong. apa pun yang terjadi. Aku sih sebetulnya juga nggak mau telat. Duitnya lebih gede.” kata Rei saat meminta supaya Vira nggak cerita ke Niken.. Kan kamu suka ngobrol ama dia pas latihan basket. Itu juga badan Vira udah terasa remuk.. Kecapekan. .” “Sampe empat kali?” Vira cuman geleng-geleng. dulu dia ama Rei paling cuman maen dua atau tiga kali setiap ikut streetball. Tapi yang jelas. Pantes aja kalo dia selalu telat bangun... Seingat dia. sebelum mendekati Vira dan membisikkan sesuatu di telinga cewek itu.

“Bener... gue cuman juga bingung harus berpihak ke siapa! batin Vira... aku cuman lagi konsentrasi nyetir ke depan.. nggak.. Maafin gue ya. .. Masa sih aku boong soal ini?” “Vir.. Untung Niken nggak bertanya apa-apa lagi.” Suara Niken membuyarkan lamunan Vira..” tukas Vira.. aku nggak bengong kok. “Kok malah bengong sih? Awas.” “Masa” “Iya. ntar nabrak loh!” Niken memperingatkan Vira... “Eh. lagi-lagi bohong.

. Kayak pejabat aja pake pidato-pidatoan segala. “Adik-adik terpilih setelah melewati seleksi yang ketat. Pak Isman juga akan menangani tim junior. dan Stephanie. Vira juga melihat wajah-wajah yang dikenalnya waktu turnamen antar-SMA kemaren yang tentu aja merupakan pemain andalan sekolah mereka masing-masing. mau berlatih keras. termasuk Vira. Stella. Kami menilai berdasarkan penampilan Adik-adik di berbagai turnamen yang Adik-adik telah ikuti. “Adik-adik tentu sudah tahu. untuk latihan pertama. MEREKA yang terpilih sebagai anggota tim basket junior Jawa Barat udah berkumpul di GOR Padjadjaran. saya harap Adik-adik mampu menjaga penampilan Adik-adik. Adik-adik semua terpilih untuk mewakili Jawa Barat pada kejuaraan basket tingkat nasional nanti...EMPAT Minggu pagi. Karena itu. Rida.. Alexa. Dan suatu kejutan.” Pak Isman memulai “pidato” pembukaannya.. Di antara cewek-cewek yang terpilih itu terdapat Vira. karena selain menangani tim senior. Sepertinya mereka bukan berasal dari Bandung.. pelatih yang kemarin sukses membawa tim senior putri Jawa Barat lolos ke putaran vinal kejurnas yang akan diselenggarakan sebulan lagi di Jakarta. Tapi ada juga wajahwajah yang baru dilihatnya sekarang. Di hadapan wajah-wajah muda ini sekarang berdiri seorahg pelatih yang udah dikenal sebagian dari mereka.. hingga seleksi akhir dua hari yang lalu. Dia adalah Isman Sujana. dan harus punya tekad .

“Kami akui. . Dia malah menatap Rida. KAMI BERSEDIA!!!” Kayak anak TK aja. agak terlambat untuk membentuk tim ini. Cewek-cewek muda di hadapannya menyahuti dengan penuh semangat dan hampir serentak.. Ternyata kali ini gebrakannya itu manjur. “Pak Andryan nggak masuk dalam tim karena ada kerjaan di tim lain. Pak Andryan nggak kelihatan dari tadi. “ADIK-ADIK MAU MELAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK JAWA BARAT!!??” Pak Isman mengulangi ucapannya. Tapi sudah tidak ada waktu. Tapi kami juga tahu..untuk berbuat yang terbaik bagi Jawa Barat... bisa ngelatih tim provinsi?” tiba-tiba Stella yang kebetulan ada di dekat situ dan mendengar pembicaraan Vira dengan Rida ikut nyeletuk. Apa Adik-adik semua mau melakukan hal itu!!??” Semua diam. “YA. Kalian juga akan kami carikan tempat tinggal dengan tanggungan kami. “Seingat gue. “Hei! Lo mau cari gara-gara lagi!?” Vira yang maju membela Rida. Kita akan latihan setiap sore. kali ini dengan suara keras. “Gue nggak ngomong ama lo!” bales Vira. Jadi kami akan memberikan toleransi untuk yang bersekolah. kecuali pada hari Minggu atau libur. kemaren lo maennya jelek banget... Jadi kami minta yang terbaik dari Adik-adik semua. nggak ada yang menyahuti ucapan Pak Isman.. kita latihan dari pagi. Untuk yang berasal dari luar Bandung. Tapi kok bisa kepilih ya? Apa lo kenal ama pelatihnya? Atau lo nyogok?” ujar Stella sinis.” sahut Vira. Anehnya. Stella nggak menanggapi ucapan Vira. “Pak Andryan nggak ikut ngelatih?” tanya Rida ke Vira.. sebagian besar Adik-adik di sini masih bersekolah. Dia sekadar membantu menyeleksi pemain untuk tim ini. “Dia ngelatih di sini? Jangan mimpi! Emang dia kira dia siapa.. Anehnya. kami sedang mengusahakan untuk memindahkan sekolah kalian untuk sementara ke sini.” “Pidato pembukaan” dari Pak Isman disusul dengan perkenalan seluruh anggota tim dan tim pelatih yang ada.

Pak Dibyo. Kalo lo masih maen ama anak kampung ini. “Jangan. Kamu bisa dihukum.. bisa-bisa lo jadi cadangan abadi juga. dan melihat tatapan mata Rida yang seperti memohon.. Vir! Mulai dari sekarang gue peringatin lo.” Vira maju hendak menampar Stella.. atau ofisial lainnya?” tanya Vira.” jawab Rida. Vir. tapi aku punya impian untuk masuk tim ini. “Maksud kamu?” “Kalo kamu nampar dia. Dan sebetulnya itu yang diinginkan Stella. akan timbul keributan.. “Tapi apa kamu nggak sakit hati dengan ucapan Stella tadi?” tanya Vira. makanya dia manfaatin itu.” Dalam hati.. “Kamu kenapa sih nggak biarin aku nampar dia?” tanya Vira masih dengan nada kesal.“Mungkin lo bisa masuk dalam tim.” “Kamu kenal ama Pak Isman.” “Lo emang ember. atau bahkan dikeluarin dari tim. Yang ditanya cuman mendengus. “Lo mau dikeluarin dari tim?” tanya Stephanie dengan nada ketus pada Stella. Rida menahan tangannya. “Sakit hati sih.. Stella buru-buru ditarik Stephanie yang juga melihat situasi yang mulai panas. Jadi aku nggak mau hal-hal sekecil tadi ngerusak impianku. Tumben kamu pinter. Vira mengakui kebenaran ucapan Rida. . Dan lo juga. Apalagi kata-kata Stella tadi juga ada benernya. lalu pergi dari situ. tapi secara nggak terduga. Rida cuman tersenyum. Untun gaja.” cegah Rida lirih. tapi jangan harap bisa ngegeser gue untuk jadi starter. Mereka nggak tau soal ucapan Stella sebelumnya. Dia tau kalo kamu pasti ngebela aku.” ujar vira. Gue kasian aja ama lo. “Karena itu yang dia mau. Dan orang-orang di sini akan jadi saksi kamu yang pertama nampar... “Kamu bener. Vira menoleh ke arah Rida. Sampe sekarang aku juga heran kenapa bisa lolos.

dan akhirnya ditutup dengan sebuah mini game sesama pemain. yang tersembunyi.. tapi yang jelas.” *** Latihan pertama hari itu adalah latihan fisik. kamu masuk tim ini karena kemampuan kamu. Tapi karena satu hal. bahkan sudah mendekati para senior.” “Kamu nyogok supaya masuk tim?” “Jangan bercanda. “Kamu emang paling bisa kalo ngasih semangat.” “Tapi mereka masih muda dan belum berpengalaman.“Nggak. Sayang. Hanya mereka harapan kita satu-satunya. Vira pindah sekolah. Yang rambutnya diikat dan yang memakai kaus biru. Mungkin kamu nggak sadar. “Bermusuhan? Maksudnya?” “Mereka tadinya satu tim di sekolah.. ditambah ada sedikit masalah pribadi antara mereka berdua. “Tidak ada jalan lain. “Anda yakin dengan kemampuan mereka?” tanya Pak Dibyo saat melihat permainan anak-anak asuhannya. Terutama yang dua itu.” Pak Dibyo melihat ke arah yang ditunjuk Pak Isman. duit dari mana?” Vira menepuk pundak Rida. kamu pasti bisa. Bapak tidak melihat turnamen antar-SMA beberapa bulan yang lalu. mereka-mereka itu lebih bisa melihat kemampuan kamu yang sebenarnya. Apa Pak Andryan juga bilang mereka berdua bermusuhan?” tanya Pak Dibyo.” .” “Walau begitu mereka punya teknik dan bakat yang bagus. Mereka berdua punya teknik di atas yang lainnya. Persis seperti yang dibilang Pak Andryan. Dan sekarang mereka bersaing untuk sekolah masing-masing. disusul sedikit latihan teknik. Percaya deh!” tukas Vira. “Kalo begitu. “Vira dan Stella. Karena itu buktiin dong kamu bisa masuk starter. Kalo kamu maennya seperti di turnamen dulu.

.. Kita juga tidak bisa mencoret salah satu. Karena itu untuk latihan saya tidak pernah memasukkan keduanya dalam satu tim... Buktinya kan setelah aku bales maen agak kasar... “Kenapa? Lo udah mulai lembek?” Stella malah balas mengejek. “Agak sih. dia bakal ngelunjak. dia jadi diem. tapi untungnya sih masih bisa aku kontrol.... heee... Kalo Stella mungkin. takut emosi Vira mulai “terpancing”. aku nggak bakal kok berbuat hal-hal yang konyol. ya?” tanya Vira pada Rida seusai latihan.. “Dasar cumi! Lo kira gue nggak bisa kayak lo!?” Vira bangun lalu mengejar Stella yang lagi memegang bola. emang sih tadi agak kelepasan. “Sori..” jawab Rida. Kalo dibiarin. Kamu tenang aja.” Tiba-tiba Vira meringis sambil memegang betisnya. tapi tadi sebetulnya aku emang sengaja kok ngelakuin itu. *** “Lo kalo maen bisa nggak sih kalo nggak kasar?” seru Vira ke Stella setelah untuk kesekian kalinya bertabrakan (atau sengaja ditabrak) dengan cewek itu.. Rida yang melihat adegan tersebut jadi deg-degan..” “Tapi kamu juga dapet peringatan.“Saat itu saya berada di luar kota.. hee. Biar Stella tau aja. lalu meninggalkan Vira. ..” “Begitu ya?” Pak Isman manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Dibyo. kalau saja mau bekerja sama dan melupakan permusuhan mereka. karena kita membutuhkan kedua-duanya. Vira dan Stella merupakan duet yang hebat. *** “Aku tadi kelihatan mulai emosi. Jadi sampai sekarang mereka masih bermusuhan?” “Benar. Lagi pula menurut Pak Andryan.” “Hee.

Nggak ada meja yang tersisa. Nggak usah yang mahalmahal. Vira nggak langsung pulang. Tapi ternyata foodcourt penuh banget. Maklum aja.” “Tapi. tapi nggak terlalu mengganggu. Capek dan laper.. “Udah.“Kambuh lagi?” tanya Rida sedikit cemas. “Kamu udah periksain betis kamu ke dokter?” tanya Rida lagi.. Ntar kalo ada apa-apa. Vira.” Vira cuman tersenyum. “Udah nggak papa kok. bukan kafe atau sejenisnya. dan berkeliling mencari meja yang kosong. ini cedera lama kok..” “Itu kan udah lama.” “Ya ampun.. “Dikit.” “Udah.. Vira yang baru sowan ke tempatnya Kolonel Sanders (alias KFC) cuman bisa bengong. Dia nggak mau dapet “ceramah” lagi gara-gara pulang kemaleman. Karena itu setelah mendapat apa yang dicarinya.. Kenapa dia tadi nggak nyari meja dulu baru mesen. Sambil menenteng-nenteng baki berisi makanan.” katanya. Vira udah berjalan normal lagi. saat ini Vira malah pengin makan di foodcourt. Karena itu dia mampir dulu ke mal.. *** Setelah nganterin Rida. “Tenang aja deh. . Kalo sekarang?” “Belum.” tandas Vira sambil membuka pintu mobilnya. Ada yang mau dibelinya. Dalam hati Vira menyesali kebodohannya. Tahu nggak dapet tempat kan mending dia makan di restoran atau kafe. itu yang dirasakan Vira sekarang. Biasa-biasa aja. nggak usah dipikirin..” “Kapan?” “Abis turnamen dulu. pas jam makan malam.” Tapi nggak sampe semenit... Emang kadang-kadang kambuh. Tentu aja sebelumnya Vira ngasih tau Niken lewat telepon. dia langsung menuju tempat makan.

“Hah? Elo?” Raut wajah Vira berubah begitu melihat wajah si cewek.. boleh ikut duduk nggak? Soalnya meja yang lain udah penuh.. dan.. Vira akhirnya nyerah juga. Kalo nanti cewek itu bisa diajak ngobrol ya tinggal ngobrol. Tangannya juga udah pegel nenteng-nenteng baki yang lumayan berat (karena pesanan Vira emang banyak. asal masih ada kursi yang kosong.” tegur Vira seramah mungkin.. jadi Vira nggak begitu merasa kagok. . Harapan untuk mendapat meja yang kosong udah nggak ada. Itung-itung nambah temen. Biarin deh gue semeja kalo emang dibolehin ama dia! batin Vira. Laper berat dia!). Lagian cewek itu kelihatannya cuman sendiri.Setelah hampir lima menit berkeliling di area foodcourt. ya paling diemdieman aja kayak di angkot! “Permisi. Wajah yang pernah dikenalnya. Dan pandangan Vira langsung tertuju ke sebuah meja dengan empat kursi. Dia seolah-olah baru melihat hantu. Tapi kalo ternyata si cewek termasuk penganut aliran “diam itu emas”. tapi hanya ditempati oleh seorang cewek berambut pendek yang duduk membelakanginya. Hal yang sama juga terjadi pada si cewek. Cewek yang lagi asyikmakan mi hotplate itu menoleh ke arah Vira. Satu-satunya jalan paling gabung dengan orang lain dalam satu meja.

sesuai jam pelajaran.. kamu nggak keluar kelas. dari kelas 1-A. “Kamu tumben ke sini?” Vira malah balik nanya.” “Heh. “Tumben. nggak keluar pas istirahat. Lagi tapa?” tanya Amel. gue Vira.” jawab cewek yang berambut agak ikal.. . Kenalin. Sedang temennya yang lebih tinggi serta berwajah setengah bule cuman diam sambil memandang orang yang baru dateng dan mengganggu keasyikan bermain mereka. Kata Amalia. bengong aja!” Suara cempreng Amel mengagetkan Vira yang lagi bengong di bangkunya. “Kalo gitu sama dong. nggak?” Suara itu menghentikan dua cewek yang lagi asyik bermain basket di lapangan sekolah.” jawab Vira ngasal. “Gue Hera. “Nggak.. “Ikut ekskul basket juga?” tanya cewek berambut pendek tersebut. Lagi males keluar kelas aja. Kami berdua dari kelas 1-D.” ujar cewek yang berambut pendek itu sambil mengulurkan tangan yang disambut oleh cewek berambut agak ikal yang tadi menjawabnya. Seorang cewek berambut pendek mendatangi mereka. Dia dan Amel emang beda kelas. dan ini Stella.. Ada apa sih?” tanya Amel lagi. “Iya.LIMA “BOLEH ikut gabung. nggak ada apa-apa. “Abis nggak liat kamu di kantin.

kamu kabarnya satu tim ama Stella.” Vira menatap Amel. nggak ada apa-apa.” sahut Amel lirih. Lagi males keluar aja. Percaya deh. Padahal kata Niken rapat kali ini cukup penting. tapi itu udah cukup untuk Amel.. *** Pandangan Vira tertuju ke arah pintu kelas. Tapi emang salah Niken juga sih. ngadain rapat OSIS pas jam istirahat. .. “Nggak jadi rapat.. yaitu tentang rencana pemilihan ketua OSIS baru.” Amel duduk di sebelah Vira.... “Ya udah kalo gitu. “Ya nggak sih.. Dari sana Niken masuk sambil membawa seabrek map dan kertas-kertas lainnya. takut Vira tersinggung lagi..” “Kenapa?” “Ruang OSIS-nya dikunci. pas istirahat harus ikut rapat yang kadang-kadang juga bikin pusing.” jawab Vira pendek. “Dia nggak berubah. ya? Gimana dia?” tanya Amel lagi. Ya jelas aja banyak yang nggak setuju. Pasti itu ulah salah satu pengurus OSIS yang nggak pengin ada rapat. pengin tau aja.. “Kali ini beda. “By the way. any way.” Vira cuman senyum-senyum mendengar jawaban Niken... “Beres dari Hongkong!?” jawab Niken ketus.” tukas Vira. Udah otak pusing dijejelin materi pelajaran di kelas... eh. Emang kenapa sih?” “Nggak. “Emang penting kamu nanya soal itu?” Vira balik nanya dengan nada rada ketus.. Nggak tau kuncinya dipegang siapa..“Bener?” “Iya. Bikin Amel jadi sedikit mengkeret. Waktu ada masalah dengan papa kamu. busway. Cuman Amel liat kamu terakhir kayak gini waktu kita masih di Altavia. “Kok udah beres?” tanya Vira yang tahu kalo jam istirahat ini Niken mo ngadain rapat OSIS..

Sita juga jago tembakan tiga angka. cuman Sita lebih kurus. kecuali mungkin Vira. Sita juga tipe temen yang baik. Masing-masing dari Tasikmalaya. Vira . Salah seorang dari mereka bernama Sita. nama lengkapnya Sita Setyasari.” Begitu alasan Niken. Selain berat di ongkos. Vira sendiri secara nggak sengaja bisa kenal lebih deket dengan Sita di hari pertama latihan karena satu tim saat mini game. yang bukan pengurus OSIS sekalipun. *** Selain yang berasal dari Bandung... dan Bogor.. ditanggung deh pasti bakal banyak yang ikutan. terpaksa ketiga orang itu pindah sementara ke Bandung (karena nggak mungkin harus tiap hari bolak-balik dari dan ke kota asal mereka. hi.. Hi. Pertama kali kenal. yang skill-nya nggak kalah dari pemain-pemain dari kota besar.“Abis kalo rapatnya setelah bubaran sekolah. Apalagi tubuh Sita emang menunjang banget untuk jadi pemain basket. Rida. Dan karena berasal dari luar kota padahal latihan dilakukan setiap hari. Alexa.. Selain maennya bagus dan bisa diajak kerja sama. Vira udah suka ama Sita. hampir sama dengan Vira. Orangnya sedikit pendiam dan nggak banyak bicara. malah banyak yang kabur. kota kecil seperti Tasik punya seorang pemain basket yang berbakat. Mungkin karena dia belum kenal semua orang di sini. hi. Coba deh kalo rapatnya diselingi ama acara makan-makan gratis plus doorprize. sementara untuk sekolah (karena kebetulan ketiganya masih SMA) dititipkan di salah satu SMA Negeri yang ditunjuk oleh Pengda PERBASI Jawa Barat. Mereka akhirnya mencari tempat tinggal sementara di Bandung. Tapi nggak tahu kenapa. bahkan kayaknya itu merupakan spesialisasinya. Kalo soal rapat OSIS pasti banyak yang nggak berminat. Dan nggak disangka. dari dua belas orang anggota tim basket junior cewek Jawa Barat kali ini. Sebetulnya hampir semua anggota tim juga belum pada saling kenal sih. Emang serbasalah sih. Tubuhnya tinggi. Purwakarta. berasal dari salah satu SMA swasta di Tasik.. juga ngabisin waktu dan tenaga). atau Stephanie. tiga di antaranya berasal dari kota lain di Jawa Barat. Stella.

Kadang-kadang Vira juga nganterin ke sekolah. point guard dari SMA 2 Bandung yang juga anak seorang perwira tinggi kepolisian.. Monika jadi “pengikut setia” Stella. atau Mama tidur bareng kamu. Ke mana-mana selalu ngikutin. bikin Vira ngikik. kalo bangunnya nggak kesiangan. Atau Vira ngejemput Sita saat pulang. pasti dia ikut walau dia sama sekali nggak punya urusan di situ. “Kan masih ada sofa di ruang tamu. Udah lama dia nggak melihat Lisa. Vira langsung nawarin Sita untuk tinggal di rumahnya. dan Niken juga nggak keberatan.” kata Vira. Bahkan saat tahu Sita lagi cari tempat kos selama tinggal di Bandung (sementara ini katanya dia numpang di rumah temen bapaknya sampe dapet tempat kos yang murah tapi layak). yang biasanya dipake kalo papa-mama Vira ke Bandung. Sebab yang dia tahu. ntar Papa tidur di mana?” tanya Vira.. Salah satunya Monika. Paling nggak buat menghadapi Stella yang kayaknya juga mulai menyebarkan pengaruh ke anggota tim lainnya. sekalian ngajak jalan-jalan sebelum latihan.” kata mama Vira lewat telepon saat dikasih tahu Vira. Boleh dibilang. tempat yang jarang-jarang dia datengin. Kebetulan di rumah Vira emang masih ada satu kamar kosong. Jadi Sita cukup satu kali naek angkot untuk pulang-pergi ke sekolah. “Gratis kok. Ada-ada aja! Kebetulan sekolah tempat Sita belajar selama tinggal di Bandung satu jurusan dengan angkot yang lewat di depan kompleks rumah Vira.. “Lho. Lisa itu soulmate-nya Stella.. jadi Sita bisa lebih mengenal Bandung.lebih deket aja ke Sita sebagai temen barunya dibanding yang lain... Sita mau. Lisa juga pasti selalu ngejogrok di . yang juga jadi “buntut” Stella. Stella selalu datang ke GOR sendirian. Aneh! batin Vira. “Kalo Mama ama Papa nanti ke Bandung kan bisa nginep di hotel. Vira jadi ingat Lisa. Hehe. Ke mana pun Stella pergi. Itung-itung buat bikin rumah tambah rame. Mama Vira juga nggak keberatan kalo kamarnya dipake sementara untuk Sita. kayak buntut aja.” jawab mamanya. Dulu saat Vira dan Stella latihan basket di Altavia. Dekat dengan Sita membuat Vira jadi punya tambahan pendukung di tim... Melihat Monika. selain Alexa.

Stephanie benar. ya? Vira membantah pikirannya sendiri. agar setiap pemain terbiasa bermain dengan rekan tim lainnya. Tapi kok kayaknya nggak mungkin. Misalnya belajar. Bakal kacau nih! batin Stephanie. dan walau Vira nggak yakin. yaitu mendribel bola keliling lapangan sebanyak sepuluh kali.” Belum apa-apa Stella udah ngeluarin ancaman ke Vira.. sebetulnya tim merah lebih unggul. Dan kali ini Pak Isman mengubah susunan pemain setiap tim. Siapa tahu Lisa punya urusan lain yang lebih penting dari sekadar jadi buntut orang ke mana-mana. Vira juga berpikiran positif aja. Padahal dari materi tim. Selain Stella dan Vira. Stephanie yang juga satu tim dan kebetulan mendengar ucapan mereka berdua cuman bisa geleng-geleng kepala. Tapi Vira nggak terlalu mikirin soal nggak adanya Lisa sekarang. atau malah ngaret. Apalagi dia kan udah kelas 3. ada juga Stephanie yang kemampuan tekniknya di atas rata-rata . Tim Merah yang diperkuat Vira dan Stella emang bener-bener kacau-balau. mereka harus bekerja sama untuk bisa memenangi permainan.. “Jangan harap gue mau oper bola ke lo. tim yang kalah mendapat hukuman. atau ikut bimbel. nggak hura-hura lagi serta lebih serius untuk belajar. Tapi udahlah. Tujuannya jelas. tapi mungkin aja Lisa udah insaf. Beda dengan Amel dan almarhumah Diana yang datengnya lebih sering kalo latihan udah mo selesai. Lumayan capek juga. buat apa juga dia mikirin urusan orang lain? *** Sore ini sesi latihan kembali ditutup dengan mini game.pinggir lapangan dari awal latihan sampe selesai. “Lo kira gue sudi nerima bola dari lo?” bales Vira. Mereka berdua jadi satu tim! Mau nggak mau. Selain karena udah males berurusan dengan segala sesuatu yang berbau Stella. Soalnya dalam mini game ini. bikin yang lain nunggu. Apa yang ditakutkan Vira (dan mungkin juga Stella) akhirnya datang juga.

dengan harapan kalian mengeluarkan kemampuan terbaik kalian. kan?” tanya Pak Isman. “Bapak tidak ingin tahu apa masalah kalian dan bagaimana menyelesaikannya. bukan individu. Nggak heran kalo tim putih yang diperkuat Rida. seperti yang pernah Bapak dengar dari Pak Andryan tentang kalian. Tapi udah terlambat. sedang Stella cuman diam. Yang ada adalah tim yang kacau dan sama sekali nggak ada kerja sama antarpemain. yang terpenting adalah mereka yang bisa bekerja sama dalam tim. Apalagi pada Vira dan Stella. percuma saja jika kalian tidak bisa bekerja sama. “Kamu Stella?” Stella cuman mengangguk. keunggulan tim putih tetap bertahan. bukan yang tekniknya paling bagus. Karena itu Bapak sengaja memasang kalian dalam satu tim. “Bapak sebetulnya sudah mendengar tentang perselisihan kalian. tunjukkan kemampuan terbaik kalian.” jawab Vira. tim merah ini merupakan “bayangan” tim inti nanti. Kalian masih mau masuk dalam tim ini.” Vira dan Stella cuman bisa diam mendengar ucapan Pak Isman. disusul Stella beberapa menit kemudian. tapi nggak separah lawannya. Permainan tim merah agak membaik begitu Vira ditarik keluar. Vira dan Stella dipanggil oleh Pak Isman.yang lain. . seusai latihan. Kalian mengerti kan maksud Bapak?” Vira mengangguk pelan. tapi tadinya Bapak yakin perselisihan kalian itu tidak memengaruhi tim ini. Tapi harapan Bapak salah. Basket itu permainan tim. Akibat buruknya permainan mereka. walau sebetulnya kerja sama antarmereka belum juga begitu baik. dan Sita bisa menguasai permainan. Tapi di lapangan. “Walau kalian berdua punya teknik yang termasuk paling bagus di antara yang lain. Alexa. Pak. “Mau. Bahkan boleh dibilang. Dan hukuman harus diterima anggota tim merah. semua itu nggak terlihat. Sampai peluit panjang dibunyikan Pak Isman tanda selesainya pertandingan. Jika kalian berdua ingin tetap dalam tim ini. Dan bagi Bapak.

Stella menuruni tangga menuju ruang tengah rumahnya. seorang wanita berusia empat puluh tahunan. Jam dua pagi! Walau udah tahu penyebab suara berisik itu. wanita yang ternyata adalah mamanya itu langsung merebahkan diri di sofa panjang yang ada di ruang tengah.. Tanpa menunggu jawaban Stella. Stella tetap bangun dan keluar dari kamarnya. kamu belum tidur?” wanita itu malah balik bertanya. “Bantu angkat Mom ke kamar. Keadaan terlihat remang-remang karena cuman beberapa lampu di sudut-sudut ruangan yang dinyalakan. Lima hari lagi kita akan beruji coba dengan salah satu tim mahasiswa.“Kalau begitu buktikan bahwa kalian pantas berada di tim ini.” Stella segera memanggil pembantunya. menoleh ke arah Stella. Dan Bapak harap saat itu kalian bisa membuktikan bahwa kalian pantas berada dalam tim ini. “Mom. Untung pembantunya belum tidur. Berdua mereka memapah tubuh mama Stella menuju kamar. Terlihat lampu di ruang tengah dinyalakan seseorang. Mengerti?” Vira dan Stella mengangguk hampir berbarengan. “Mom! Are you drunk again?” Yang ditanya. Bau alkohol yang kuat tercium dari mulut wanita itu. Dan Stella tahu siapa. walau juga nggak langsung dateng begitu dipanggil. Cukup susah walaupun tubuh mamanya nggak begitu gede. Mereka harus naik tangga menuju .” perintah Stella. *** Suara berisik di luar membangunkan Stella yang udah tertidur lelap. “Mom!” Stella mendekati mamanya yang ternyata udah tertidur lelap di sofa. “Stella. Cewek itu lalu melirik jam yang tergantung di depan tempat tidurnya.. Suasana di luar kamarnya sangat sepi.

Dad! Where are you? tanya Stella dalam hati. Stella segera melepaskan sepatu mamanya. Setelah hampir setengah jam dan dengan keringat yang membasahi tubuh masing-masing. C’mon. Telepon yang dihubungi lagi sibuk. hasilnya sama aja. Tapi ternyata nggak tersambung.kamar yang berada di lantai dua. sebelum akhirnya keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya. . Stella mengambil HP-nya dan menelepon seseorang. Di kamarnya. Beberapa kali mencoba. Beberapa saat lamanya dia menatap wajah mamanya. akhirnya mama Stella sukses juga dibaringkan ke tempat tidurnya.

Maksudnya.” jawab Rei yang lagi asyik ngutak-ngutik HP-nya. kali... . “Niken?” tanya Vira. suka ngambil minuman sendiri di kulkas (bahkan kadang-kadang ikutan ngambil makanan).ENAM VIRA baru aja pulang dari latihan ketika melihat Rei lagi duduk di teras rumahnya.. “Rei. Itung-itung ikut memberantas kelaparan di negeri ini (ceilee.. Di sini aja.. biasanya Rei selalu masuk ke dalam kalo ke rumah Vira.” jawab Rei. Tinggal Vira yang sering bingung kalo camilan yang dia taruh di kulkas maupun yang ada di meja makan sering hilang tanpa bekas. nggak. tanpa ragu-ragu Rei suka duduk sendiri di ruang tengah tanpa perlu dipersilakan. lebay amat yaa.. Hari ini adalah hari libur walau bukan hari Minggu. Di kamar. bahkan udah menganggap rumah Vira sebagai rumahnya sendiri. Tapi untungnya Vira nggak pernah marah kalo ada makanannya yang hilang. Baginya itu udah takdir.). jadi latihan dilakukan pagi sampe siang. tumben di luar? Nggak masuk?” sapa Vira. atau bahkan sering ketiduran di kursi kalo lagi ngantuk. “Eh. Heran juga.. Kayaknya sih lagi SMS-an.. tapi dia nggak masuk. Vira melongok ke dalem rumahnya. “Ada di dalem.

“Kenapa sih kamu nggak bilang aja?” kata Vira lirih. “Dia lagi ke Tasik... takut kedengeran Niken. “Ada apa lagi.” Vira diam sebentar mendengar ucapan Rei sambil mengambil minum dari dalam tas sport-nya.“Kamu cuman sendiri? Sita mana?” Rei balik nanya..” Vira duduk di kursi yang ada di samping Rei. tapi bukan sekarang.” “Tapi kan kalian tetep latihan?” “Iya.” “Kali ini masalahnya apa?” “Biasalah. tapi demen amat perang dingin. tapi Niken belum juga keluar dari kamarnya. “Kalian itu.” “Terserah deh..” “Bukan aku. Sebelumnya dia celingukan dulu ke dalam rumahnya. soal yang kemaren-kemaren. Kakaknya hari ini married. Rei?” tanya Vira.” “Tapi kapan? Daripada kalian berantem mulu?” “Tenang aja. “Hah? Apaan?” “Perang dingin lagi?” Rei cuman menggaruk-garuk kepalanya.. memastikan keadaan aman. “Jangan. Dia emang udah kenal Sita..” *** Setengah jam berlalu. Risiko tanggung sendiri. baru jadian bentar. karena pernah suatu saat ke rumah Vira.. pas Sita yang bukain pintu. jadi kalo ngobrol cepet nyambungnya. kan aku udah bilang.. tapi Sita udah minta izin buat absen selama dua hari.. pasti deh aku cerita. “Ngapain juga Rei masih di sini? Aku kan udah nyuruh dia pulang!” bentak Niken saat Vira berusaha membujuknya dari luar pintu kamar.. Apalagi mereka berdua sama-sama pemain basket. . Niken yang mulai terus. Bahkan usaha Vira untuk membujuknya keluar kamar nggak berhasil. belum saatnya.

Ntar aku bantuin bujuk dia deh. Saat ditanya Vira kenapa nggak dateng latihan. Kenapa? Tertarik lagi? Tapi bukannya sekarang duit bukan masalah buat kamu?” Rei balik bertanya. “Tapi jangan cerita soal itu yaa. “Tenang aja.. kamu kan tau sifat Niken. Besok juga dia udah biasa lagi. Dulu Rida begitu semangat masuk tim Jawa Barat. Dan walau tim junior Jawa Barat kalah. Rida nggak mau menjawab. Vir?” Vira mendekat ke arah Rei. “Iya..” janji Vira. “Bukan buat aku..... karena masih ada Stella sebagai starter.Akhirnya Rei nyerah juga setelah Niken nggak keluar-keluar. Bahkan saat uji coba melawan Tim Putri Universitas Parahyangan (Unpar). tapi dia sama sekali belum bisa mengerti jalan pikiran cewek itu.. Tapi tibatiba. tapi orang lain...” Saat Rei udah mau menstarter motornya.. “Rei. Bukan karena sakit. karena emang yang dihadapi adalah salah satu tim basket . tiba-tiba Vira seperti ingat sesuatu..” “Siapa?” *** Udah berbulan-bulan Vira mengenal Rida.” “Berapa banyak?” “Berapa ya? Mungkin bisa sampe tiga kali lipat dari yang dulu. Pak Isman nggak kecewa. udah dua hari ini dia nggak ikut latihan. Untung aja kedatangan Rida nggak begitu memengaruhi tim.” “Nggak bakal. Trust me. “Hmm. Rei. Selain itu dia harus ikut bimbel sore nanti. Apa bener di tempat yang sekarang duitnya lebih gede?” tanya Vira.. karena Rida tetep masuk sekolah setiap hari. “Ada apa. Rida juga nggak dateng. bentar!” Rei menoleh..

Kalahnya juga tipis.. Dadanya sakit. Vira cuman mencibir. “Gitu dong kalo maen basket.” kata Debi saat Vira nanyain soal Rida pas jam istirahat. terutama dalam hal kerja sama tim. Pikirnya. walau mungkin belum sekompak dulu saat Vira masih di SMA Altavia. lebih mentingin soal sekolah daripada basket walau itu berarti membuat cita-citanya untuk jadi pemain nasional. *** Tadinya Vira juga nggak begitu memperhatikan absennya Rida. mereka kan udah kelas 3. “Emang ibunya sakit apa?” “Katanya sih sesak napas gitu. “Lo kira gue juga rela dikeluarin dari tim gara-gara lo?” balas Vira. jadi dia pulang sekolah harus nungguin ibunya. atau lagi konsen ke pelajaran.” ledek Stephanie pada Vira saat mereka mo ganti baju. mungkin Rida lagi bosan main basket. Maklum. Jadinya. Ternyata mereka berdua berhasil menyingkirkan ego masing-masing dan bekerja sama. Stella dan Vira juga udah menunjukkan kemampuan mereka. Akhirnya Vira tahu alasan Rida nggak dateng lagi ke latihan dari Debi.” ucap Stella pada Vira sebelum pertandingan. Yang penting permainan tim udah menunjukkan sedikit kemajuan. Jadi nggak boleh main-main soal pelajaran..putri mahasiswa terbaik di Jawa Barat.” “Terus kenapa dia sekarang nggak masuk?” . Mereka bisa bermain secara tim. Vira sengaja nanya ke Debi karena hari ini Rida nggak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. duet Stella dan Vira bermain kompak dalam pertandingan sore ini. “Ibu Rida lagi dirawat di rumah sakit. Bisa aja Rida sekarang udah berubah pikiran. “Gue nggak mau dikeluarin dari tim gara-gara lo. Vira dan Stella pun selamat dari kemungkinan dikeluarkan dari tim. Itu yang mengobati kekecewaan Pak Isman dan sedikit melupakan nggak hadirnya Rida yang emang dipersiapkan sebagai pengganti Stella. Sebentar lagi bakal menghadapi ujian kelulusan.

. Dan setiap tahap operasi memakan biasa yang nggak sedikit. . soalnya Ibu ngelarang aku berhenti sekolah. Itu juga kata Vira dibayarnya nanti aja kalo keluarga Rida udah punya uang. Ini yang jadi masalah bagi Rida dan keluarganya sekarang.” Sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu. Rida cerita keluarganya kesulitan membiayai pengobatan ibunya. dua kakak yang semuanya udah bekerja. Selain kata Rida nggak mau bikin repot Vira. dan adiknya yang masih kelas 2 SMP.. Cara yang bisa diterima Rida.” ujar Rida. Soal jantung emang nggak boleh main-main. bisa berakibat fatal.Debi cuman mengangkat bahunya tanda nggak tahu. Bahkan mungkin nanti di sekolah. Vira harus mencari cara lain untuk menolong Rida.. Mungkin aku bakal cari kerjaan part time. seperti yang diajarkan Ayah dan Ibu. itu sih minjem-minjem juga. tapi juga menghasilkan duit yang lumayan gede. apalagi kalo utangnya nanti terlalu besar. Ibu Rida harus menjalani operasi sampai beberapa kali untuk menormalkan fungsi jantungnya. keluarganya juga masih berusaha mendapatkan uang bukan dengan cara berutang. Saat Vira menyempatkan diri membesuk di rumah sakit. sakit yang diderita ibunya bukanlah masalah enteng. walau kecil. Paling nggak kami nggak minta belas kasihan orang lain. Karena Rida tetep nggak mau menerima bantuin dari Vira walau udah dipaksa.. Aku pengin bantu cari uang untuk biaya operasi ibu. Padahal. “Karena itu. sedang aku juga masih sekolah. tapi nggak tau gimana caranya.” Sebetulnya Rida nggak perlu terlalu pusing kalo aja dia mau menerima tawaran Vira yang berniat meminjamkan uang untuk biaya operasi ibunya.” “Tapi beda. Rida emang tinggal bareng ibu. Tapi Rida nggak mau. Ternyata nggak cuman itu.” “Yah. dari mana keluarga kamu mendapat uang?” “Kakak mo jual motornya. “Trus. Aku juga berusaha ikut bantuin. Selain itu mungkin kami akan menggadaikan sertifikat rumah. aku nggak bisa konsen dulu di basket. “Kami takut nggak bisa bayar.

anu.Setelah lama berpikir. Vira dan Rida masuk ke gedung futsal yang masih buka... Dia seakan berkata pada dirinya sendiri. kan?” *** Malam harinya.” “Siapa juga yang mo ngajak kamu maen futsal?” Vira melirik secarik kertas yang dari tadi dipegangnya. tempatnya bener. Vira memarkir mobilnya di halaman parkir sebuah gedung yang biasa digunakan untuk bermain futsal. tiba-tiba Vira menepuk keningnya. tempat buat maen basket di mana ya?” tanya Vira sambil celingukan ke dalam. Mas. Sekilas di dalam emang cuman kelihatan lapangan futsal. “Kita mo maen futsal?” tanya Rida. “Bener kok. Udah jam sembilan malem lewat dikit. Yah. “Ya. . ikut aja. malah nggak aktif! “Vir. “Kenapa.. “Udah. Alamatnya bener kok! katanya dalam hati.. “Dasar pikun!” ucap Vira. Vira lalu mengambil HP-nya dan menghubungi HP Rei. sama sekali nggak ada bau-bau basketnya.. walau udah terlihat agak sepi. “Hmmm. tapi aku kan nggak bisa maen futsal.... “Hmmm. Dari seragam yang dipakainya. Vir?” tanya Rida heran.. “Yuk!” ajak Vira sambil membuka pintu mobilnya. jelas menunjukkan dia karyawan di situ. kamu mau dapet duit lumayan banyak tapi nggak ngutang. Dengan sedikit ragu-ragu. “Ada yang bisa saya bantu?” Seorang cowok di meja depan menegur Vira dan Rida...” jawab Vira. kan?” tanya Rida lagi..” jawab Vira sambil melirik jam tangannya. walau dirinya juga nggak yakin dengan jawabannya itu. Katanya mo maen basket.

Hati-hati. “Tumben lo ke sini. emang di sini kok..” Vira memberi alasan. kenalin temen gue. Rida. bukan lapangan basket..” katanya sambil melirik ke arah Rida yang dari tadi diem aja. “Halah alesan aja lo! Rei juga kelas tiga..” “Kalo Rei sih nggak ngaruh.. Dik. mo ikut streetball ato nggak.” Vira seperti teringat sesuatu. “Oya. tau Mas..“Maen basket? Ini lapangan futsal.. Lagian dia kan punya misi tersendiri. temennya Rei. tapi nggak sempet aja. ini Elmo.” “VIRA!!” Vira—juga Rida—menoleh ke arah suara itu. “Da. tapi dia hampir tiap hari dateng. Kata Rei lo udah nggak mau main lagi. Dia memakai kaus dan celana basket. Ngeluyur mulu. Ternyata seorang cowok berambut panjang diikat yang memanggil dia... “Tapi tadi gue tanya karyawan di sini. ya?” “Cuman tim junior. jadi harus konsen belajar.. “Coba aja kalo bisa. Gue kan udah kelas tiga.” celoteh si cowok. posisi lo bisa tergeser ama dia. tapi. cuman masih pake sandal jepit..” balas cowok bernama Elmo itu sambil terkekeh.” ujar Vira setengah berpromosi. Kita sering jadi tim kalo main bertiga. juga temen di tim basket.” jawab Elmo. “Rida temen sekolah gue. denger-denger lo ikut tim basket Jabar... “Iya. Mo!” balas Vira mengenali cowok itu. Bentar lagi ujian.. baik tim basket sekolah maupun tim Jabar.” “Oya. “Iya. “Bukan nggak mau.” “Lo nanyanya gimana?” .. “Bener tempatnya di sini? Kok di gedung futsal?” tanya Vira.” Rida menyambut uluran tangan Elmo. tetep aja dia nggak pernah belajar. maennya jago banget. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan disambut oleh Vira. Cowok berambut panjang itu mendekat. “Hai.” jawab cowok itu.

ketutup kegiatan futsal di sini. berarti tuh anak belum sukses membujuk Niken yang masih kesel bin sebel bin mangkel. Trus.” ujar Vira. Makanya tempatnya juga di dalam gedung. Mereka bertiga turun ke basement. “Kalo lo ditanya di meja depan. Begitu pintu terbuka. “Nggak papa. Dan duaduanya tentu aja dipake untuk maen futsal. Saat Vira hendak mengikuti Elmo. Dan kalo sampe sekarang belum dateng ke tempat ini. terdapat tangga ke bawah.” tukas Vira sambil menunjuk karyawan yang tadi dia tanyai.“Gue tanya tempat maen basket di sini. buktinya dia nggak ditanya-tanya karyawan yang ada di meja depan. yang di sampingnya terdapat sebuah konter kecil yang menjual makanan dan minuman ringan. seolah-olah bisa membaca pikiran Rida. Oleh pemilih yang baru. cuman senyum aja. dia emang nggak bakal ngasih tau.” kata Elmo sambil membuka pintu. tangannya dicekal Rida. Tadi abis magrib dia dateng ke rumah. nggak kayak dulu bisa siapa aja. ya? Emang di gedung futsal yang cukup besar itu terdapat dua lapangan. bilang aja mo maen di lapangan dua tiga perempat. Tanpa ragu-ragu Elmo langsung turun menyusuri tangga. Lalu tutup karena nggak laku dan gedung beserta tanahnya dijual. Kayaknya dia udah dikenal di sini. Sekarang ini kita mesti hati-hati. Kok mirip-mirip Harry Potter. Lapangan dua tiga perempat? batin Vira. “Rei kayaknya belum dateng. Kita masuk aja dulu. Sekarang cuman orang yang tau atau diundang aja yang boleh dateng. “Tempat ini tadinya pusat perbelanjaan grosir. Karena itu rahasia.” Elmo lalu memberi tanda untuk mengikuti dia masuk ke dalam gedung. “Kalo lo nanyanya gitu. Tapi basement bekas tempat parkir masih . Itu sandinya. di mana tempat untuk streetball? Elmo menuju sebuah pintu yang berada pada salah satu sudut gedung.” kata Elmo sambil terus berjalan. Tapi si mas itu bilang nggak ada. tempat ini bener-bener dijaga. Ternyata basement gedung futsal itu sangat luas. Vira udah bisa nebak kenapa Rei belum datang. gedung ini lalu direnovasi dan diubah jadi gedung futsal.

sementara Rida tiba-tiba bergidik ngeri. Vira mengernyitkan keningnya. sedang yang punya nggak pengin lantainya rusak. Sayup-sayup terdengar suara keramaian. Ide dibikin arena streetball di basement juga dari dia. Jadi kita taruh aja drum bekas buat pembatas.ada dan jarang dipake. “Jangan kuatir. Lagi pula sejak dipindah ke sini. Sebagai gantinya ditaruh drumdrum bekas di sepanjang sisi lapangan. Anaknya yang punya gedung ini emang pemain streetball. Nggak ada ram-ram besi seperti di arena yang dulu.” Dari kejauhan. Jadi bisa banyak game yang dimainkan. “Nggak ada ram besinya?” tanya Vira. karena yang dateng kebanyakan males parkir di basement.. “Canggih juga idenya.. Suara yang nggak terdengar dari atas.” jawab Elmo sambil terkekeh. Tapi apa pemilik gedung tau kalo basement-nya dijadiin tempat streetball?” tanya Vira. “Susah bikin ram di sini tanpa merusak lantai. Vira udah bisa melihat arena streetball yang belum begitu rame. . Ya kalo keluar lapangan lumayan lah kebentur drum. kita bisa mulai agak sorean.” Elmo menjelaskan. Tersembunyi dan nggak menarik perhatian. Jadi kita aman. karena nggak takut lagi ada penggerebekan.

Nggak berkata apa-apa. Walau matahari udah setinggi Gunung Tangkuban Perahu.. Tapi Vira melihat matanya berkaca-kaca.. Dia masih tetap diam. “Ken. Paling nggak sampe sore nanti. Tadi malam dia pulang jam dua dini hari. “Ada apa?” tanya Vira bingung. Niken cuman diam di samping tempat tidur. Vira nggak peduli.. Lalu dia menutup wajahnya dengan tangan dan menangis sesenggukan. Nike nggak menjawab. ada apa sih? Jangan bikin orang bingung dong. Apalagi sekarang hari Minggu. “Niken. aku.” suara Niken terdengar bergetar. “Aku. saat dia harus pergi latihan..” . jadi Vira bisa bebas tidur semau dia.TUJUH PAGI-PAGI kamar Vira udah kedatangan tamu yang nggak diundang.” Vira bangun dan duduk di sebelah Niken. Vira pikir Niken akan membahas soal kenapa dia pulang jam dua pagi sambil ngomel-ngomel.... Tapi ternyata nggak. Niken tibatiba masuk ke kamarnya dan ngebangunin dia. jadi sekarang masih ngantuk. Lalu dia mengguncang bahu sahabatnya itu. “Ada apa?” tanya Vira lagi. Setelah sukses membangunkan Vira.. Itu bikin Vira tambah bingung.. “Ada apa sih?” tanya Vira yang masih setengah sadar.

” ujar Niken lirih. .. “Aku. aku putus ama Rei. Mendadak dirinya serasa berada di tepi jurang yang dalam.. “Siapa yang mutusin?” tanya Vira. Vira segera merengkuh Niken ke pelukannya. “Aku. Mau menyelamatkan diri.. bahkan kalopun Niken sampe ngambek atau marah berat.. Tapi Vira juga ingat.” “Kenapa?” Niken nggak langsung menjawab pertanyaan Vira... ato pikirannya ke mana-mana. Rei berulang kali mengingatkan Vira supaya nggak ngomong apa-apa ke Niken.“Aku.. Tapi pas ditanya emang dia ngapain aja sampe capek gitu. “Ken. apa pun yang terjadi.. akhir-akhir ini sering nggak nepatin janji.” Vira cuman menghela napas. “Rei.. Rei cuman bilang dia capek...” “Aku rasa. Dia juga udah nggak merhatiin aku kalo lagi ngobrol. kali ini terdengar lebih keras.... dia ingin lebih memastikan lagi apa yang didengarnya. dan itu sama juga boong. Kalo ditanya alasannya. Dia ingin memberitahukan itu supaya Niken nggak salah sangka atau bahkan putus dari Rei. “Apa?” Walaupun sebetulnya Vira udah mendengar ucapan Niken.. Diam di tempat.. dirinya pasti bakal terbakar. Rei udah nggak sayang lagi ama aku. satu-satunya jalan cuman loncat ke dalam jurang. dan di belakangnya terdapat kobaran api yang siap membakar tubuhnya. bikin Vira tambah bingung. Dia tahu sebagian alasan Rei sampai sering nggak nepatin janji ke Niken. dia malah sesenggukan lagi. sering terlambat.. hampir-hampir nggak terdengar oleh Vira.” Niken mengulangi ucapannya.. aku udah putus ama Rei. Serbasalah. dia nggak mau bilang.” jawab Niken akhirnya. Kalopun nepatin... lalu membelai rambut sahabatnya itu. “Kok bisa gitu? Kamu tau dari mana?” Niken menengadahkan wajahnya. Kadang-kadang suka ketiduran. disusul dengan tangis sesenggukan. Aku rasa ada yang dia sembunyiin..

Dia udah nggak sesenggukan lagi...” Suara HP Vira memotong ucapannya..” Niken seolah-olah mengerti apa yang ada di pikiran Vira.. Dia harus menyelamatkan hubungan mereka. Dengan perasaan malas. Nanti juga dia akan mengerti. . sebenarnya.. kan?” tanya Niken. “Pagi-pagi gini?” “Ya.” “Tapi. “Ng.. jangan kamu cerita apa pun soal aku. tapi HP-nya berbunyi terus. Niken masih di rumah?” Terdengar suara cempreng Rei dari seberang telepon. “Rei bilang apa? Dia nanyain aku. nggak.” jawab Vira lirih.... Vira beringsut dari tempat tidur dan meraih HP-nya yang berada di atas meja belajar.” “Vira. aku tahu Niken. apa pun yang dikatakan Rei nanti. supaya apa pun yang terjadi. Rei. “Enggg. Aku nelepon kamu bukan untuk nyari dia kok... Aku cuman mo ngingetin janji kamu. atau ke mana kek...Tapi ini kan Niken mo putus! Dan Vira nggak bisa membiarkan Niken mengambil keputusan atas dasar dugaan yang salah. “Kenapa nggak diangkat?” tanya Niken.” “Halo.. Vira harus ngomong semua yang dia ketahui.. Jangan kuatir. Tapi kalo dia nanya aku. bilang aku udah pergi.. “Siapa?” tanya Niken. bilang aja aku pulang ke rumah.... bahkan sampai Rei mengakhiri pembicaraan.” “Aku tahu risikonya.. Dia menoleh pada Niken. Dari Rei! batin Vira.” “Nggak masalah kalo dia udah pergi. “Jawab aja. ke sekolah.. Tadinya Vira ingin mengabaikan panggilan di HP-nya. Ken. seolah-olah dia meminta persetujuan Niken untuk menjawab telepon itu.. “Rei.” Vira nggak ngomong apa-apa lagi. Rei..

. paling nggak uang yang aku dapat tadi malam bisa meringankan biaya rumah sakit... “Kamu bilang aku udah pergi. . “Ternyata kamu keras kepala juga ya.. dia harus mulai dengan bicara yang sebenarnya.” kata Rida pada Vira saat mereka mau mulai latihan.. “Hah? Apa?” “Tadi. Rei udah nggak jujur ke aku.. Mungkin nginep sampe besok. kamu tadi mo ngomong apa?” tanya Niken lagi..Vira mengangguk pelan. Dulu-dulu....” “Ngomong? Oh itu. Rei cuman pesen aku bilang ke kamu nanti kalo dia nyariin kamu. sebelum Rei nelepon. kan?” Niken terdiam saat Vira mengulangi ucapannya.” Vira mengalihkan pembicaraan.” Vira menepuk keningnya. teringat ucapan Rei tadi di telepon..” ujar Vira. kayaknya kamu mo ngomong sesuatu.. mana dia peduli aku ada di mana. kan?” “Kamu dengar sendiri. “Aku mo pulang dulu ke rumah. Kan bisa dibicarain baik-baik.. sebenarnya kalian nggak perlu putus.. “Nggak. kan?” “Bukan itu masalahnya.. “Buat apa? Sekarang sok sibuk nyariin aku. Kalo dia pengin bicarain soal ini. *** “Makasih yaa. Niken nggak mengacuhkan ucapan Vira. “walau belum cukup untuk membiayai pengobatan Ibu.. aku cuman mo ngomong... “Nggak ada yang perlu dibicarain.” jawab Vira berbohong.” Niken mengalihkan pembicaraan sambil beranjak dari tempat tidur..” “Kamu masih cinta Rei.” lanjutnya. Vira cuman geleng-geleng kepala melihat kelakuan Niken. “Oya.” “Tapi kamu sebetulnya masih cinta dia..” Vira cuman diam....

” tandasnya. Padahal aku udah berkali-kali bilang latihan basket bareng kamu.” “Aku nggak tau. Tapi sesuai hasil rapat Pengda PERBASI Jabar kemarin dan berdasarkan .” jawab Vira.“It’s okay. Pak Nurdin memulai cuap-cuapnya. “Kalo kamu mau. Tadi aja aku diinterogasi kakak-kakakku. “Nanti aja kalo aku udah temukan alasannya. bukan?” tanya Pak Nurdin seperti guru SD aja.. Rida menggelengkan kepalanya. “Rencananya Adik-adik memang akan dikirim mengikuti Kejuaraan Nasional Junior. Nanti malam juga bisa.. tapi juga seorang pria lain berpakaian rapi yang usianya kira-kira hampir sama dengan Pak Isman. kamu bisa ikut lagi. kok baru pulang jam dua pagi. Pak Isman lalu memperkenalkan pria di samping kanannya itu sebagai Pak Nurdin Tahir. salah seorang anggota pengurus daerah PERBASI Jawa Barat.. Tapi kali ini ada yang berbeda.” “Jadi kamu belum nyerahin duit hasil maen tadi malam ke kakak kamu?” tanya Vira. Pak Isman pun mempersilakan Pak Nurdin untuk berbicara. Setelah memperkenalkan. Diawali dengan batuk-batuk kecil kayak pejabat yang mo pidato.. “Adik-adik sebelumnya tentu sudah tahu untuk apa Adik-adik berkumpul dan berlatih di sini. *** Seperti biasanya. sebelum latihan para pemain dikumpulkan dulu untuk menerima pengarahan soal materi latihan pagi ini dan cuap-cuap lain dari para pelatih. Nggak semua menjawab pertanyaan itu. ia mengenakan kaus berkerah hijau yang dibungkus jaket parasut dan celana katun serta sandal kulit. Di samping Pak Isman nggak cuman berdiri Pak Dibyo sebagai asisten pelatihnya.. Mereka nanya dari mana. tepatnya di bidang Pembinaan Prestasi. Aku kira lama-lama kamu bisa membiayai seluruh biaya pengobatan ibu kamu. Aku sendiri sampe sekarang masih bingung kalo kakakkakakku nanya dari mana asal uang yang aku dapat tadi malam.

Turun di Kejurnas Senior? Kalimat itu sontak menimbulkan kegaduhan di antara pemain. Paling nggak untuk tahun ini. Kejurnas Junior baru diadakan tahun depan.. seolah-olah menunggu reaksi dari para pemain. paling cuman bisik-bisik.. “Apa lo semua nggak pernah baca berita? Dari awal nggak ada yang namanya Kejurnas Junior. “Maksud lo?” tanya salah seorang pemain.” komentar salah seorang pemain. “Gilaa. membuat para pemain tambah ribut..Kami akan menurunkan Adik-adik pada Kualifikasi Kejuaraan Nasional Basket Putri Tingkat Senior yang akan berlangsung di Bandung.” lanjut Pak Nurdin. satu angkatan dengan Stephanie. Seminggu lagi? Semua pemain berpandangan mendengar ucapan Pak Nurdin.. karena Kualifikasi Kejurnas ini sudah dekat. dan terlalu awal kalo mulai latihan sekarang... saya minta Adik-adik berlatih dengan lebih serius. “Jangan pesimis dulu. Kami ingin memberi kesempatan pada Adik-adik untuk menimba pengalaman dan mengasah kemampuan Adik-adik.” Ucapan Pak Nurdin seketika itu juga mengubah suasana. Namanya Agnes.evaluasi hasil latihan Adik-adik.” Pak Nurdin berhenti sebentar.” “Karena itu.. yaitu seminggu lagi. Saat ini mungkin mereka semua punya pikiran yang sama. kita mo ditandingin ama tim senior daerah lain? Bisa abis kita.... Nggak salah tuh!? *** “Gue udah yakin kalo kita dari awal emang mo diturunin di kualifikasi Kejurnas.” kata salah seorang pemain saat mereka udah selesai latihan dan lagi pada ganti baju. “.. Kejuarana berskala nasional ... Tapi nggak ada yang bereaksi secara berlebihan. kami bermaksud menyampaikan berita gembira untuk Adik-adik. Mereka saling bisik-bisik sendiri dan nggak memedulikan ucapan Pak Nurdin selanjutnya. dan sekarang kuliah di Unpar..

“.yang diadakan tahun ini adalah kualifikasi Kejurnas. tujuan kita dari awal dipanggil emang untuk ikut Kejurnas Senior?” tanya Alexa. “Yup... “Temen kuliah gue. kita dipanggil untuk menggantikan Tim Senior. kapan dia melatih tim senior?” “Jadi. pria itu nggak membantah atau mengiyakan..” jawab Stephanie.” Stephanie tiba-tiba ikutan ngomong.?” kata Vira.. Cuman pernah terlihat beberapa cewek yang dikenal sebagai anggota tim senior Jawa Barat di sekitar GOR. *** Saat Vira menanyakan apa yang dibicarakan oleh Agnes dan Stephanie pada Pak Isman langsung. “Mungkin mereka latihan di tempat lain. Beberapa minggu latihan.dan selama kita latihan di sini. Padahal kualifikasi kejurnas udah deket. bahkan hampir seharian.” “Lo tau dari mana soal ini?” tanya Alexa. Pemainnya menuntut uang saku dan fasilitas yang sama dengan tim putra. apa kita pernah melihat tim putri senior latihan?” Ucapan Agnes seakan menyadarkan yang lain.. nggak pernah terlihat satu pun para pemain senior latihan. tapi kenapa dia juga melatih kita.... Padahal tim junior latihan hampir tiap hari. Kakaknya salah satu pemain senior Jabar. Mungkin karena nggak mau menanggung malu karena kualifikasi kejurnas bakal diadain di Bandung. dan finalnya sebulan lagi di Jakarta.” Agnes menjelaskan.” “Agnes benar... Karena pihak pengurus nggak mau nurutin keinginan mereka dengan alasan dana terbatas dan semua udah dianggarkan dari awal. .. akhirnya para pemain jadi mogok latihan. tapi bukan dalam rangka latihan. Pak Isman adalah pelatih tim senior. “Udah lama gue denger kabar ada masalah di tim senior putri. “Nggak mungkin.. Benar juga. Kalo tiap hari.

. Sama sekali nggak nyambung dengan pertanyaan Vira.“Siapa pun lawan kalian dan mau diturunkan di event mana pun. Bapak minta kalian tetap berlatih serius dan sepenuh hati..” jawab Pak Isman.. .

” “Tapi gue kan nggak sengaja. “Lo mo ngikut dia!?” Diana cuman diam. ini soal kecil.. “Lo serius. kenapa lo harus kayak gini?” tukas Stella... Stella yang berada di dekat Hera segera memeluk temannya itu. .. Itu karena ucapan itud itunjukan padanya.. “Soal kecil apanya? Dia udah nyakitin perasaan gue.. TERUTAMA Hera.” jawab Hera. “Terserah lo mo pindah ke mana! Mo ke Arab kek. Air mata mulai keluar dari kedua matanya. gue nggak tau itu bakal nyakitin perasaan lo. tapi justru itu membuat Vira berbalik menatap dirinya. NGERTI!?” Ucapan keras Vira tentu aja membuat anggota The Roses lainnya kaget. gue mo pindah sekolah ke mana?” tanya Hera dengan suara bergetar sambil menahan tangis.” Diana mencoba membela Hera. Gue kan udah minta maaf.. ke Planet Mars kek. “Tapi... Lalu dia balik menatap Hera.. Begitu juga Amel dan Lisa yang berdiri di dekatnya.. jangan lo gede-gedein.. “Lo kira gue main-main!?” Vira balik bertanya dengan suara keras. “Dengar. Ini soal kecil. Vir?” tanya Stella. gue nggak mau liat wajah lo di sini. gue nggak mau tau! Pokoknya besok gue nggak mau liat wajah munafik lo di sini!” tegas Vira pada Hera..DELAPAN “MULAI besok.. EGP!” “Vir.. “Diana bener.

H-E-R-A. Baso yang udah mo ditelannya keluar lagi ke dalam mangkoknya.” “Gue nggak mau lo ikut susah..” kata Hera sambil mulai terisakisak. gue nggak mau liat muka dia lagi di sini.. Emosinya mulai terpancing melihat kelakuan Vira. “Udah.” kata Vira. “Iya. Nggak tahu ke mana dan Vira nggak bermaksud mencari tahu. itu bisa ngobatin sakit hati gue?” jawab Vira sambil tersenyum sinis.. udah.. Her. lo nggak usah belain gue. *** Di sekolah saat jam istirahat. “Bukannya tadi gue udah bilang. “Kamu bilang Hera?” tanya Amel setelah menenangkan diri dan mengatur napas. “Tapi. Vira tahu Niken butuh waktu untuk menyendiri. Terserah gimana caranya kalo dia tetep mau sekolah di sini! Kalo sampe gue ketemu dia. . Gue cuman nggak mau ketemu atau liat wajahnya di sini. Vira malah ngomongin soal lain dengan Amel... Paling kalo nggak ke ruang OSIS ya ke perpustakaan. “Mau lo apa sih.” Stella cuman bisa memeluk Hera yang menangis terisak-isak sambil memandang Vira dengan tatapan penuh amarah..” “Itu saja aja lo nyuruh Hera pindah sekolah!” “Jadi lo tetep belain dia!? Lo mau bernasib sama dengan dia!?” “Lo. dia akan gue buat lebih menderita daripada sekarang.“Lo kira dengan minta maaf.. “Lo nggak bisa seenaknya nyuruh orang pindah sekolah!” seru Stella... Vira berdua bareng Amel di kantin. Amel yang lagi menyantap mi baso merasa lehernya baru aja dipukul dari belakang. “Aku ketemu Hera. Dia bukan anggota The Roses lagi!” tukas Vira. Vir?” tanya Stella. Percuma.” Vira mengeja huruf demi huruf nama Hera... “Gue nggak nyuruh dia pindah sekolah.. Hera.!!” Ucapan Stella terhenti karena Lisa menggamit lengannya. Niken nggak ikut karena begitu bel istirahat berbunyi tuh anak langsung ngabur keluar kelas.

tapi sempet ngobrol.. “Gue udah selesai... Dia nggak sekadar say hello pada Hero. “Kalian cerita soal apa?” tanya Amel setelah Vira selesai cerita. biar gue yang pergi.” “Makanan lo belum abis. “Dan lo?” tanya Vira. “Gimana kabar lo?” Itu kalimat pertama yang diucapkan Vira setelah hampir lima belas menit dia dan Hera cuman diam menikmati makanan masing-masing. kan?” Kali ini Vira mengangguk.” kata Hera yang melihat Vira memesan cream soup selain ayam dan nasi.” Suara Hera terdengar lain di telinga Vira.. Jadi gue akan tetap di sini ngehabisin makanan gue.” Vira langsung membalikkan badannya.” “Di mana kamu ketemu dia?” Vira lalu cerita soal pertemuan nggak sengaja mereka di foodcourt. “Dia kebetulan udah selesai makan.. makanan gue belum abis. . “Cream soup nggak enak kalo udah dingin. Lo boleh duduk di sini. walau juga nggak bisa dibilang ramah. Amel nggak tahu kalo Vira berbohong.” Vira masih berdiri di tempatnya. “Masih sekolah di Singapura?” Hera mengangguk pelan. Vira menggelengkan kepalanya... “Lo mo ke mana?” tanya Vira saat Hera hendak berdiri dari kursinya. dan mo pergi. Dia seperti ragu-ragu dengan ucapan Hera. Vira membalikkan badannya.. “Tapi sempet say hello. “Singapura kan deket dari sini.. Kalo lo nggak suka ketemu gue. “Baek.“Dia ada di sini? Bukannya Stella pernah bilang Hera pindah sekolah ke Singapura?” tanya Amel lagi.. “Nggak usah. hendak mencari meja lain. “Seperti lo bilang tadi.” jawab Vira. Orang kayak Hera bisa bolak-balik kapan aja dia mau. Kali ini nada bicara Hera nggak seketus tadi. walau nggak lama..” jawab Hera pendek.

“Diana selalu baek ke gue.. gue nggak pernah kontak Stella lagi.. “Gue tau soal lo dari banyak sumber. gue pasti akan mencegah dia ngelakuin tindakan bodoh itu. raut wajah Hera berubah. Gue juga nggak pernah kontak semuanya.” Ucapan Hera serasa menampar wajah Vira. rumah lo yang disita. “Lo denger dari siapa? Stella? Lo ama dia masih sering kontak-kontakan?” Hera terdiam sebentar mendengar pertanyaan Vira. Dia pasti mau ngedengerin ucapan gue. Dulu dia salah satu yang mau dengerin curhat gue selain Stella.. “Nggak. Gue bener-bener sedih... sampe pertandingan final antara SMA lo melawan Altavia. ngelamun lagi. “Lo sendiri? Gue denger lo juga udah pindah dari Altavia?” Hera balik nanya setelah mereka kembali diam sejenak. jadi gue bisa maen-maen ke sini. Semuanya. marah. Tadi dia emang ngambil tahu isi lima biji dan dia sendiri baru makan sebiji. Kalo aja saat itu gue ada di sana.” Vira merasa tubuhnya makin mengecil di hadapan Hera.. “Jadi.“Sekarang lagi libur.” ujar Hera. surat kabar. juga cerita dari orang lain. Jadi seharusnya tinggal tiga biji. Berita soal ditangkapnya bokap lo. dan Internet. Kamu mau?” Vira memandang tahu isi yang ada di piringnya.. dan tertekan.” Suara Amel membuyarkan Vira dari lamunannya. Mendengar nama Diana. Gue pengin ngelupain semua hal yang berhubungan dengan Altavia. terutama kalo dia ingat masa lalunya saat masih sekolah di Altavia. sekalian ngunjungin kakek dan nenek gue. “Her?” “Sejak gue pindah sekolah.. tapi yang jelas bukan Stella atau temen-temen lainnya. Amel cuman mo bilang tahu isi di piring kamu tinggal satu. “Tuh kan. “Hah? Ada apa?” tanya Vira.. Semua bisa gue dapetin dari TV. Tapi kenapa sekarang cuman tinggal satu? . dari mana lo tau soal gue?” tanya Vira. Amel sebiji sambil makan baso.. “Tentang Diana?” tanya Vira. Gue ganti nomor HP gue dan gue bilang ke keluarga gue supaya jangan ngasih tau nomor HP gue ke siapa pun..” jawab Hera..

.” . ya? Pedes nih..” potong Rei.. Aku tahu harus bagaimana menghadapi dia.. “Tolong bayarin ya.” katanya. Vira menyodorkan piring berisi tahu isi yang tinggal sebiji itu pada Amel.” kata Vira sambil meletakkan selembar uang dua puluh ribuan di depan Amel. lalu segera ngacir mengejar Rei. Rei! Niken tuh serius mo putus ama kamu!” kata Vira..“Kalo kamu nggak mau. “Kamu jangan maen-maen. “Tapi kamu nggak berusaha untuk.” kata Amel sambil mulutnya berdesis kayak ular. Saat itu ekor matanya menangkap bayangan seorang cowok melintas di depan kantin..?” sahut Rei setelah tawanya berhenti. “Mo ke mana?” tanya Amel.. Eh begitu lagi nggak dicariin.. “Siapa juga yang maen-maen.” “Aku kenal Niken dari kecil. Aku tau sifat dia. sekarang cowok itu melintas di hadapannya.. Jadi kamu nggak usah kuatir.. HP-nya juga selalu sibuk atau nggak aktif.. “Ada perlu sebentar. Rei! Dari kemarin Vira mencari Rei. “Bukannya dari tadi kamu udah ngambil? Kenapa sekarang pake minta izin?” tanya Vira. kan?” “Ya nggak lah. tapi nggak pernah ketemu... membuat muka Amel memerah karena malu. *** Rei cuman ngakak saat Vira menanyakan soal kelanjutan hubungannya dengan Niken.. buat Amel..” “Dan kamu bener-bener yakin soal ini?” “Yakin seribu persen. “Tapi kamu nggak berniat putus ama dia. Vira segera berdiri dari kursinya. Dia cuman bisa nyengir...

. Diawali dari laporan pembantunya tentang papanya.” “Mom?” “Ada di kamar.” “Aku tunggu.. “Thanks. ntar kelamaan.. “Mom.*** Pulang sekolah.. aku masih ada urusan. Niken yang mendengar ucapan Vira malah menatap wajah sahabatnya dengan heran.” katanya.. tapi sayup-sayup Stella mendengar isak tangis tertahan di dalam kamar. Aku mo ketemu Pak Danang.. kan?” tanya Vira. Nggak ada jawaban... di mana dia?” “Pergi lagi. nggak tau ke mana. “Mom!” . Soalnya aku juga mo ke toko buku dulu.. mo nyerahin berkas-berkas OSIS. Niken lalu langsung melangkah keluar kelas. “Tadi Tuan datang. Non.” *** Kejutan nggak menyenangkan menanti Stella saat tiba di rumahnya. “Kamu nggak papa.” Stella segera menuju kamar mamanya. Itu membuatnya punya keberanian untuk membuka pintu kamar yang ternyata nggak terkunci. Vira mendekati Niken yang lagi beresin tas sekolahnya.... Kamu ntar sore kan mau latihan. “Nggak pulang bareng?” Vira menawarkan.” “Dad datang? Terus..” panggil Stella sambil mengetuk pintu kamar mamanya pelan-pelan. ya?” “Nggak usah. “Emang kenapa? Aku nggak papa kok. Katanya mo ada pertandingan minggu depan?” “Iya sih. Kayaknya mereka habis bertengkar hebat...

Lalu wanita itu pingsan di pelukan anaknya. kenapa?” tanya Stella sambil membelai rambut mamanya. Setelah pelan-pelan menghentikan tangisnya. Wajah mamanya terlihat biru lebam. .....Stella mendapati mamanya terpuruk di pinggir tempat tidur.. terutama di sekitar mata.” ujar mamanya lirih di sela-sela isak tangisnya. akan bercerai dengan Dad. Darah masih mengalir dari mulut dan hidungnya akibat benturan keras.. “Mom.. mamanya menatap wajah Stella.. Mom. “Mom. Who did this to you? Dad?” tanyanya.. Segera dia memasuki kamar yang ternyata berantakan. Bahkan lampu meja yang ada di samping tempat tidur pecah berantakan di lantai. menangis terisakisak dengan wajah tertelungkup ke tempat tidur... “Mom.. “Mom. malah menangis keras di pelukan Stella. are you okay?” Stella membalikkan wajah mamanya dan terkejut melihat apa yang ada di depannya. Mama stella nggak menjawab pertanyaan anaknya..

Tentu aja ini kejutan besar mengingat dia nggak pernah absen latihan.. Stella bahkan rela melupakan sebentar pemusuhan mereka supaya bisa jadi starter tim. Stella membuang kesempatan emas untuk jadi pemain daerah dan berarti juga membuang kesempatan merintis jalan menjadi pemain nasional. Melalui Alexa.. sama-sama basketball freak! Stella juga menganggap basket bagian dari hidupnya dan akan melakukan apa pun untuk bisa main basket. Stella nggak mungkin melakukan hal itu tanpa alasan yang bener-bener kuat.SEMBILAN STELLA nggak dateng latihan sore ini. Apalagi Vira! . Alexa yang ditanya cuman menggeleng tanda dia sendiri nggak tahu. Tapi nggak cuman itu. Nggak jelas alasannya. Tapi sekarang. Vira yang kenal siapa Stella tentu terkejut mendengar kabar dari Alexa. bahkan kalo harus main di Kutub Selatan sekalipun pasti bakal dilakoninya. Bukan apa-apa. terbersit keinginan Stella untuk mundur dari tim. Stephanie mengarahkan pandangannya ke Vira. Stella hampir sama dengan dirinya. Dan Vira tahu. Itu berarti bermain basket adalah segala-galanya bagi dia. Tapi sekarang. “Kira-kira Stella kenapa ya?” tanya Stephanie yang juga nggak percaya mendengar keinginan Stella itu.

. Bukan berarti Vira nggak bisa bekerja sama dengan yang lain. Bahkan Sita juga nggak dia ajak. apalagi Bandung kota gede. tapi nggak tahu kenapa. Mereka berdua emang musuhan. *** . Sendirian. Vira juga nggak punya niat mulia untuk membujuk Stella membatalkan keinginannya itu. “Kamu punya temen di Bandung?” tanya Vira.” “Kamu yakin?” “Yakin dua ratus persen. “Nggak papa.. dan aku yakin dia nggak bakal macemmacem ke aku... baru kenal.. Selesai latihan. Walau itu dengan risiko dia bakal disambut dengan wajah dingin Stella. karena nggak yakin Stella mau ngomong dengan dirinya.*** Vira penasaran soal rencana mundurnya Stella dari tim. Dia nggak mau ngajak siapa-siapa karena udah bertekad bakal melakukan ini sendiri. Orangnya baik kok. Dia sengaja nggak nelepon. Untung Sita bisa ngerti. apa yang bisa membuat Stella mengabaikan basket. Dia cuman pengin tahu. Vira langsung menuju rumah Stella. Kali ini Vira minta Sita pulang sendiri naek taksi dengan alasan mo menjenguk teman yang sakit.” kata Sita. padahal biasanya kan mereka pulang bareng.” “Siapa? Hati-hati loh dengan orang yang baru kamu kenal. nanti aku minta temenku untuk jemput.” “Jangan kuatir. Rasa penasaran Vira membuat dia bertekad datang ke rumah Stella..” Vira nggak ngomong apa-apa lagi. atau mungkin sikap ngajak perang dari cewek itu. “Iya. hanya dengan Stella-lah Vira bisa mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya. tapi bagaimanapun Vira harus mengakui bahwa Stella adalah partner bermain basket yang menyenangkan.

sementara Vira menunggu di beranda rumah. Dulu. Vira coba melihat apakah tanda tangan-tanda tangan itu ada. kan?” Pria yang dipanggil Mang Uce mengangguk. dari mulai rujak party sampai pajamas party. mengamati situasi. Vira menekan bel yang ngumpet di balik nomor rumah.. Bahkan ring basket yang terpasang di depan garasi juga masih ada. Pintu pagar tertutup rapat. ada. Neng. hanya di beberapa bagian temboknya telah dicat ulang dengan warna yang berbeda. Kalo siang rumah Stella emang sepi. Vira ingat. Tapi sekilas Vira melihat cat papan pantul itu masih sama.. karena mamanya pasti kerja dan Stella cuman tinggal dengan dua pembantu dan seorang penjaga rumahnya. jadi kemungkinan tanda tangan mereka di situ juga masih ada. The Roses rame-rame menandatangani papan pantulannya. walau udah berusaha dengan berbagai cara. . Mang Uce masuk ke rumah melalui pintu samping. Mang Uce masih ingat.. Vira dan anggota The Roses lainnya emang sering maen ke sini. Vira mengira ada tamu di rumah Stella.. Ini kan. Rumah itu nggak berubah... Mang?” tanya Vira pada seorang pria setengah baya yang membuka pintu pagar. Jadi mereka bisa bebas di rumah Stella. baru dia turun. kecuali kalo Stella udah menghapusnya. Dia diam dulu. “Stella ada.Mobil Vira sampai ke depan rumah Stella sekitar jam tujuh malam. sebelum dipasang.. Lima menit kemudian. Sebuah BMW hitam udah lebih dulu diparkir di depan tembok rumah Stella sehingga Vira harus memarkir mobilnya di belakang BMW tersebut. “Engg. ada. ya Mang Uce itu. Sambil menunggu Stella—Vira sendiri nggak tahu apa anak itu mau nemuin dia—Vira memperhatikan keadaan sekeliling rumah. Ring itu pemberian Vira setelah dia mematahkan ring yang sebelumnya dipasang Stella. Penasaran. Nggak lama kemudian pintu pagar terbuka. Tapi ternyata rumah itu kelihatan sepisepi aja. walau nggak digembok. Vira nggak langsung turun dari mobilnya. mo ngapain aja.. masih sama seperti saat terakhir kali dia ke sini... Tapi cahaya lampu yang dipasang di sekitar garasi masih kurang terang hingga Vira nggak bisa melihat papan pantul dengan jelas.?” “Vira.

Lagi pula. “Heh. Nggak ada yang nyuruh gue ke sini.. Gue dateng atas kemauan gue sendiri. Stella tersenyum sinis mendengar ucapan Vira... “Lo berani juga dateng ke sini..” timpal Vira. Mo ngajak ribut di sini?” hardik Stella lagi. Vira menoleh dan melihat wajah jutek Stella keluar dari balik pintu. tetap dengan suara keras. . Gue tau siapa lo. “Gue tau.“Ngapain lo ke sini!?” Suara itu nggak asing di telinga Vira. “Gue sama sekali nggak mau ngajak lo ribut.” “Bagi gue iya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. kan? Atau lo juga mo sekalian nanya kenapa gue mundur dari tim? Pasti menurut lo itu aneh karena nggak sesuai dengan sifat gue. “Mo ngomong apa?” tanya Stella. “Atau.. “Jangan ge-er lo. lo mo tanya kenapa gue nggak ikut latihan hari ini. Dan lo bener. Lo nggak usah deh jadi rese atau sok care ama gue. Gue cuman mo ngomong..” potong Vira.” “Apa yang gue lakuin. kan?” Vira tetap berusaha tenang. ya?” “Mereka bukan orang-orang kampung.. itu terserah gue.. lo disuruh Pak Isman ngebujuk gue supaya nggak jadi mundur?” tebaknya lagi. Stella seakan-akan bisa membaca pikiran Vira.” “Tapi rese.. Gue cuman heran aja dengan tindakan lo..” “Gue nggak sok care ama lo. gue emang penasaran ama sikap lo yang aneh. Lo nggak mungkin mau ninggalin basket tanpa sebab yang kuat. Seperti ekspresi kesedihan. Suka-suka gue mo ngapain. Karena itu dia berusaha untuk nggak terpancing dengan ucapan Stella yang bernada provokatif..” Vira sadar.” katanya lagi. Stella mulai cari gara-gara lagi. “Terserah lo mo bilang apa.. Vira melihat ada ekspresi lain di balik wajah jutek Stella... sejak kapan lo jadi orang yang pengin tau urusan orang lain? Gue rasa sejak lo berteman dengan orang-orang kampung itu.

“Besok semua anggota tim bakal nginep di Sheraton Inn.. Peluang kita untuk menang di kualifikasi jadi semakin kecil. orang yang udah nikam gue dari belakang saat gue lagi susah.“Pak Isman bilang. meninggalkan Stella sendirian di teras depan.” “Ya. Terserah kalo lo nggak percaya. Selama pertandingan... kami tinggal di sana. jadi sori kalo gue nggak bisa dengerin ocehan lo lama-lama di sini. “Itu kata Pak Isman atau kata lo?” “Kata Pak Isman.” “Jangan sotoy lo. “Gue lagi ada tamu dan bentar lagi mo pergi.” kata Vira. Suasana hening kayak kuburan. Sesaat lamanya. lo pasti ngerasa permainan tim basket Altavia sedikit berubah.” “Dan menurut lo?” Vira menghela napas. “Gue emang benci ama lo. walau gue masih yakin peluang untuk menang di kualifikasi masih besar. Mungkin sama aja saat gue pindah dari Altavia. Tim kita emang sedikit berubah permainannya tanpa lo. Dia segera beranjak menuju depan pagar. *** “Temen lo?” .” ujarnya.. kekuatan tim berkurang tanpa lo.. permainan tim nggak sama tanpa lo. “Jangan harap gue bakal berubah pikiran. tanpa lo sekalipun.. Kalo aja lo berubah pikiran.” Vira nggak mengacuhkan ucapan terakhir Stella.” kata Vira.. Tapi gue juga bukan orang egois. Stella sendiri langsung masuk ke dalam rumah.. lo bisa langsung nyusul ke sana. Stella diam mendengar ucapan Vira. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. walau lo nggak mau mengakui itu.” ujar Stella akhirnya. Tapi jujur gue akuin. Gue lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan gue sendiri. itu terserah lo. dan gue nggak bisa lupain soal itu begitu aja.

. Cewek itu berwajah blasteran seperti Stella. sambil duduk di sofa lain yang ada di situ..” “Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?” “Nyonya kan masuk rumah sakit.” jawab Mang Uce polos.. seperti penyanyi-penyanyi hip-hop Amrik.” jawab Stella pendek.” jawabnya di sela-sela tawanya. membuat Vira terenyak. Emang ada apa? Kayaknya lagi ada masalah. iseng-iseng Vira bertanya pada Mang Uce yang mengantarnya keluar. “Mang. kira-kira tau nggak Stella mo pergi ke mana? Kok wajahnya suntuk gitu?” “Lho? Emang Non Stella nggak bilang ke Non Vira?” Mang Uce malah balik nanya. “Teman tim basket?” “Lo tadi nguping?” Cewek itu cuman tertawa mendengar pertanyaan Stella. ya?” “Non Stella mo ke rumah sakit. “Gue tahu lebih banyak dari yang lo kira.Seorang cewek yang duduk di ruang tengah menegur Stella yang baru aja masuk. . dipukulin ama Tuan. “Nggak tuh.. dengan rambut panjang sebahu yang dipilih kecil-kecil. Vira menggeleng. *** Saat sampe di pintu gerbang. “Iya...

..” “Gimana ya?” gumam Vira sambil menggaruk-garuk kepalanya yang rambutnya mulai panjang lagi. “Hmmm.. “Halo.. Dua hari lagi gue ada pertandingan. “Ayolah. gak tau ya.. Bayarannya gede.” “Siapa sih? Cowok ato cewek?” “Cewek lah. Vir..” “Lo dateng deh..... ada apa?” “Lo mo maen malem ini?” Terdengar suara Elmo dari seberang telepon. .. “Emang berapa sih duitnya?” tanya Vira.. Katanya penasaran pengin lawan lo one on one..... Pokoknya lo harus dateng yaa.” “Siapa?” “Ntar lo bakal liat sendiri deh.. iya.. gue harus jaga kondisi. ada yang mo nantangin lo. dia sengaja cari-cari lo.SEPULUH VIRA baru aja memasukkan mobilnya ke garasi saat HP di dalam tas sport-nya berbunyi.” bujuk Elmo.” “Nantangin gue?” “Iya.. Mo..

.. Aksen bahasa Indonesianya kedengeran aneh. Usianya juga diperkirakan Vira lebih tua daripada dirinya. cuman di mana Vira lupa. berambut dipilin kecil-kecil kayak penyanyi hip-hop cewek Amrik dan badannya lebih tinggi sedikit daripada Vira. “Lo?” Cewek itu mengulurkan tangan. Gue pasti dateng.. Emang lo nggak janjian ama dia? Biasanya kan kalian datengnya barengan?” “Nggak. bawel amat sih lo. .” “Bener nih? Bener lo mo dateng?” “Iyaaa. Mo. masa lo nggak tanggepin tantangannya? Ntar apa pikiran dia dan yang lain yang ada di sini? Dikiranya lo takut... Belum makan.” “Masalahnya gue capek. Gue hampir seharian ini nggak ketemu dia.. lagi.” “Emang kenapa kalo ada Rei?” “Nggak papa. Tunggu aja. Soalnya dia bukan orang Bandung. Mungkin tingginya hampir sama dengan Stella..” *** Di hadapan Vira berdiri seorang cewek. kan?” “Ada Rei nggak di sana?” “Rei? Belum keliatan.. “Jadi lo yang namanya Vira?” tanya si cewek... Ya udah. Besok udah harus balik ke Jakarta. “Vir? Lo mau... Tapi tadi gue telepon sih katanya dia mo dateng. nanya aja..“Bukan masalah duitnya.” Vira melenguh pelan. Vira tidak pernah melihat cewek ini sebelumnya di arena streetball. Tapi rasarasanya sih dia pernah melihatnya. Apa nggak bisa hari lain? Abis gue pertandingan gitu?” “Dia maunya malam ini. Dia pengin tau kemampuan Ratu Streetball kita. tapi ini masalah kehormatan. tunggu gue di sana deh. Mungkin sekitar tiga-empat tahun di atas dirinya..

“Makanya jangan sampe kalah. “Oke. sistem pertandingannya satu babak dan memakai satu sisi lapangan.” Elmo membacakan aturan permainan... “Sure. menyikut. Aku taruhan banyak buat kamu. bergabung dengan teman-temannya. Gue denger lo cewek yang paling jago di sini. yang melakukan pelanggaran akan kehilangan giliran untuk menyerang. lalu ngeluyur begitu aja. atau tindakan lain yang nggak sportif yang dengan sengaja dilakukan untuk melukai lawan.“Panggil aja gue Bianca.” katanya sambil menepuk bahu Vira.” jawab Bianca pendek sambil terus menatap Vira.. “Kamu harus menang. Nggak ada free throw.. Ucapannya itu membuat Vira menoleh.” Vira membalas uluran tangan cewek bernama Bianca itu... pertandingan akan dimulai lima menit lagi. atau bahasa kerennya rules of the game... lalu mengangguk. ... “Kamu taruhan banyak?” “Lumayan buat nambah-nambah kalo menang.” lanjutnya. Siapa yang lebih dulu memperoleh angka lima belas. dia pemenangnya. ya?” tanya Elmo di antara gemuruh suara penonton.” kata Rei.” “Kalo kalah?” Rei cuman mengangkat bahunya.. “. Free body contact diperbolehkan kecuali memukul. menendang. “Vir?” Vira menoleh ke arah Elmo. jadi pertandingannya one on one. Setiap bola masuk mendapat poin satu. kecuali lembaran dari luar area three point shot akan mendapat dua poin. “Okee. makanya gue pengin liat kemampuan lo.. *** Rei mendekati Vira yang lagi mengikat tali sepatunya. Elmo mendekati kedua cewek yang lagi perang saraf itu.silakan bersiap-siap...

Itu terlalu kebetulan. Jangan beri mereka ruang menembak! . Vira coba menghadang sambil mengukur kemampuan lawan. *** Dia seorang shooting guard! Dan jago menembak tiga angka! Sekarang Vira tahu posisi Bianca dan dia tahu cara menghadapi penembakpenembak jarak jauh. Vira mengira Bianca akan coba menerobos dari sebelah kanan dirinya. Dia nggak akan menembak dari jauh dua kali. lalu berbalik dan siap menyerang kembali. Untuk kedua kalinya Bianca melakukan tembakan dari luar area three point shot. Bianca mencoba masuk melalui sisi kiri Vira. atau duitnya yang bakal melayang. Vira menunggunya di depan garis three point shot. Dia malah mundur hingga masuk ke area three point shot. Vira nggak terpancing gerakan Bianca. Penonton bersorak riuh. sambil tangannya menggapai merebut bola. Dribel sebentar. Vira yang kelihatan nggak berdaya di awal pertandingan. Entah apa yang dipikirkannya. Dia coba memblokir gerakan Bianca. Tapi dugaan Vira salah. Rei menepuk keningnya. Gerakan memutar! Udah basi! batin Vira. Dan masuk! 4-0 untuk sang penantang. Tentu aja Vira nggak mau membiarkan Bianca lolos begitu aja. Secara nggak terduga. Tiba-tiba aja Bianca memutarkan badannya 250 derajat. Bianca langsung melakukan tembakan dari luar area three point shot. Masuk! 2-0 langsung di awal pertandingan. Bianca membawa bola ke garis tengah. kecuali dia seorang shooting guard! batin Vira.*** Bianca mendapat giliran menyerang pertama. Tapi dia salah.

Dia tahu. Tapi Vira nggak terkecoh. Tapi baru aja dia akan melakukan hal itu. Vira coba melakukan gerakan menipu dengan seolah-olah mau masuk dari sisi sebelah kanan Bianca. Vira cuman bisa pasrah membiarkan Bianca melewatinya dan memasukkan bola ke ring dengan sebuah layup yang cantik. Dan ternyata Bianca emang nggak menembak. 5-0! Dia benar-benar hebat! Tanpa sadar Vira memuji dalam hati. seakan-akan menunggu Bianca maju menerjang. Bianca ternyata secara jitu berhasil menyelundupkan bola di antara kedua kaki Vira. Dia mencoba menerobos lewat kiri bawah. lalu tiba-tiba gerakannya berubah ke sisi kiri. menembak bola dalam posisi berdekatan dan jarak yang masih jauh dari ring adalah pekerjaan sia-sia. Saat Bianca masih mendribel bola. Sempat terjadi saling dorong. Tapi Bianca nggak terpancing. Ternyata tuh cewek nggak cuman bisa menembak jauh. Kali ini Vira maju menghadang. Vira yang nggak menyangka Bianca bakal melakukan hal itu mencoba menghadang. Dia nggak langsung masuk. Kontak badan yang lumayan keras terjadi. Vira kembali bersiap. tapi jago mengontrol bola dan dribel. tapi Vira yang tahu gerakannya bergerak lebih cepat. Bianca menatapnya sinis. Tapi tiba-tiba dia merasa kakinya jadi berat. Penonton bersorak riuh termasuk Rei. Curang! sungut Vira dalam hati. Vira tersentak dan hampir jatuh tersungkur. seperti ditahan tangan raksasa dari bawah. tangan kirinya menyambar bola. Bianca maju menerjang dirinya. Pegangannya pada bola terlepas dan Bianca memanfaatkan kesempatan untuk mengambilnya. Gerakan melewati lawan tadi adalah gerakan yang sangat sulit. Tapi Bianca bisa melakukannya dengan sempurna. Vira berhasil mencuri bola! Giliran Vira melakukan serangan.Bianca kembali menyerang. Salah perhitungan sedikit. hingga Vira akhirnya memutuskan untuk maju. Vira lalu melakukan gerakan memutar dan tangan kanannya menangkap bola yang akan terlempar. Bianca coba mengecoh Vira dengan seakan-akan melakukan tembakan. tapi hanya mendribel bola di sekitar garis tengah. . bola akan terlepas. Serangan Bianca dihadapinya dengan lebih agresif.

Niken baru tahu itu dari Amel yang meneleponnya. Tadi sih udah pulang. Dia tahu reputasi Vira dalam hal mengepak pakaian.. Lagi pula Vira harus mengepak pakaiannya karena sepulang sekolah dia langsung pindah ke hotel. Dia sama sekali nggak punya kesempatan untuk mendapat poin..” Niken melirik jam tangannya.. kan?” tanya Sita. fisik Vira terlihat jeblok. Kamu tidur sini.. Dia tau kalo gue pemain tim Jawa Barat? Siapa dia? “Siapa sebenarnya lo?” tanya Vira..” jawab Bianca sambil bersiap menyerang kembali. bikin malu aja. Udah hampir jam sepuluh.“Jadi cuman segini kemampuan pemain yang jadi andalan tim Jabar? Heh. atau kalo besoknya libur. Dia emang bener-bener kecapekan.. Nggak seperti biasanya. Niken mengangguk. Berantakan! “Tunggu aja. Niken nggak menjumpai temannya itu. Cuman biasanya dia melakukannya pas malam Minggu. “Nggak tau. Cuman ada Sita yang ternyata belum tidur. *** Pertandingan baru berjalan sekitar lima belas menit. . Apalagi fisiknya kepayahan mengimbangi permainan cepat Bianca... Tapi besok kan sekolah. tapi terus pergi lagi. Ke mana sih dia? tanya Niken dalam hati.” kata Bianca sinis. “Bukan siapa-siapa. Makanya dia bela-belain dateng malem-malem pakai sepeda untuk bantu sahabatnya itu beres-beres. tapi Vira udah tertinggal 9-0. “Vira ke mana?” tanya Niken. Sebetulnya kebiasaan keluar malam dan pulang dini hari udah sering dilakukan Vira. *** Sesampai di rumah Vira.

Bianca kembali berhasil mengecoh Vira dan dengan sedikit pamer melakukan gerakan slam saat memasukkan bola ke dalam ring. 10-0. Gue kenapa sih? tanya Vira dalam hati. Seluruh kemampuannya mendadak hilang malam ini. Vira seperti orang yang baru belajar maen basket. Bianca mengangkat tangannya seperti ketika meminta time-out. “Pertandingan selesai!” teriaknya lantang sambil menatap sinis pada Vira. “Apa maksud lo?” tanya Elmo. Sebagai jawaban, Bianca menunjuk papan skor. “Kalo gue terusin, kasian dia. Gue nggak mau dia mati kecapekan malam ini. Apalagi dia harus bertanding di Kejurnas dua hari lagi,” jawab Bianca, meremehkan Vira. Vira menatap Bianca dengan kesal. Apalagi mendengar ucapan Bianca yang meremehkan dirinya. Kalo aja gue nggak kecapekan! Kalo aja gue udah makan! “Lagian percuma diterusin, toh kita udah tau siapa yang bakal menang. Gue juga mo langsung balik ke Jakarta malam ini biar bisa langsung tidur di rumah.” Elmo sebagai “panitia pertandingan” nggak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, dia membenarkan ucapan Bianca. Percuma kalo pertandingan diteruskan. Vira nggak mungkin bisa mengejar ketinggalannya. Bukan cuman karena skornya yang ketinggalan jauh, tapi karena fisik Vira kelihatan udah nggak memungkinkan. Elmo menatap Vira seolah minta persetujuan. Tapi Vira diem aja, lagi sibuk mengatur napas. “Payah...” Bianca berjalan meninggalkan arena pertandingan. Sebelum keluar, dia menoleh pada Vira. “Jaga fisik lo. Kalo fisik lo masih kayak gini, lo bakal mampus di Kejurnas nanti...,” kata Bianca, seolah-olah sedang menggurui Vira. Vira cuman mendengus kesal sambil tetap menatap Bianca. Tiba-tiba matanya terbelalak. Sepertinya dia ingat sesuatu. Shit! Kenapa gue bisa lupa! Dia kan... “Tunggu!”

Seruan Vira membuat Bianca kembali menoleh ke belakang. “Pertandingan belum berakhir. Belum ada yang nyampe angka lima belas!” seru Vira lagi. Bianca membalikkan tubuh. “Jangan maksain diri deh! Lo jelas udah kalah...,” balas Bianca. “Siapa bilang? Selama belum ada yang nyampe angka lima belas, belum bisa dibilang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Gue masih punya peluang untuk ngejar dan menangin pertandingan,” tandas Vira. “Heh! Lo ngigo? Berdiri aja lo udah kepayahan, mo ngomong soal menang...” “Lo yang ngigo kalo udah nyatain diri jadi pemenang. Gue belum merasa kalah. Gitu kan, Mo?” Bianca dan Vira sama-sama menatap Elmo yang dari tadi diam, minta keputusan darinya. “Apa pertandingan udah dinyatakan selesai sedang belum ada yang nyampe angka lima belas?” tanya Vira. Sekonyong-konyong terdengar seruan dari arah penonton. Seruan yang tadinya hanya berasal dari satu-dua orang, tapi lalu membesar, hingga akhirnya hampir seluruh penonton menyerukan kata yang sama. “TERUS!! TERUS!!! TERUS!!!” “Ini konyol...,” gumam Bianca. “Kenapa? Lo takut ngelanjutin pertandingan?” ejek Vira. “Takut? Nggak kebalik?” Vira kembali memandang Elmo. “Mo, gimana?” tanya Vira lagi. Setelah berdiam diri beberapa saat, Elmo mengangkat tangan kanannya ke atas. “Pertandingan belum selesai!” seru Elmo yang disambut sorak-sorai penonton.

*** Di sebuah kamar VIP di Rumah Sakit Borromeus Bandung...

Stella duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi wajah mamanya yang tertidur pulas. Luka-luka di wajah dan sekujur tubuh mamanya sebagian udah mulai membaik. Tapi tetap aja butuh waktu yang nggak sebentar untuk memulihkan tubuh mamanya seperti semula, dan bisa butuh waktu lebih lama lagi untuk memulihkan luka kejiwaan yang diderita akibat peristiwa penganiayaan yang baru menimpanya. Don‟t worry, Mom! Stella nggak akan ngelepasin Dad setelah apa yang dia lakukan pada Mom. Stella janji, Dad pasti akan menerima ganjaran yang setimpal! batin Stella sambil mengelus tangan mamanya.

SEBELAS

PAGI-PAGI, Vira udah mendapat telepon dari Amel. “Ada apa, Mel?” tanya Vira sambil mengusap-usap rambutnya yang basah pake handuk. Dia baru aja selesai mandi. “Udah baca koran pagi ini?” tanya Amel, bikin Vira heran. Tumben Amel nelepon dia pagi-pagi cuman buat nanyain apa dia baca koran atau nggak. “Nggak. Koran apaan?” “Apa aja... hampir di semua koran ada kok beritanya.” “Berita apaan?” “Soal mamanya Stella...” Penasaran, Vira segera mencari surat kabar pagi ini, yang ternyata lagi dibaca oleh Sita. “Berita tentang apa?” tanya Sita sambil menyerahkan surat kabar yang ada di tangannya. “Tentang mamanya Stella...” “Stella? Stella Winchest? Temen setim kita?” “Siapa lagi...?” Setelah agak lama mencari, akhirnya Vira menemukan berita yang dimaksud Amel, di bagian berita kota Bandung dan sekitarnya. Ini dia! batin Vira.

Bareng Sita, Vira membaca judul berita yang dimaksud:

ISTRI WNA ASAL INGGRIS DIANIAYA SUAMINYA. Polwiltabes Bandung menahan pialang Wall Street. Membaca berita tersebut, Vira dan Sita berpandangan, seolah-olah mempunyai pikiran yang sama.

***

Saat kembali dari membeli makanan di depan rumah sakit, Stella melihat dua orang berdiri di depan pintu kamarnya. Dua orang yang sangat nggak dia harapkan kehadirannya. “Ngapain kalian ke sini?!” tanya Stella. Vira dan Amel yang sedang berdiri di depan pintu kamar menoleh. “Gue cuman mo nengokin keadaan nyokap lo,” jawab Vira pendek. Sementara Amel cuman diam. “Nengokin? Buat apa? Mom kan bukan nyokap lo! Buat apa lo urusin? Dan lo juga, Mel! Berani-beraninya lo nongol lagi di depan muka gue!” semprot Stella. “Disemprot” kayak gitu, Amel langsung mengkeret, sementara Vira tetap tenang. “We are sorry about what happened to your mother.. Kami baru tau beritanya dari koran pagi tadi, jadi baru sekarang sempet ke sini...,” ujar Vira. “Apa urusan lo ama nyokap gue, sampe lo sok care gitu?” “Mungkin lo lupa, tapi dulu nyokap lo sangat baek ke gue. Gue nggak mungkin ngelupain nyokap lo begitu aja, walau gue benci ama lo. Apalagi saat ini nyokap lo lagi dalam kesusahan...” “Siapa bilang nyokap gue lagi dalam kesusahan? Dia baek-baek aja...” “Lo nggak usah nutup-nutupin lagi. Berita tentang apa yang terjadi pada nyokap lo dimuat di hampir semua koran pagi tadi. Bahkan di TV juga. Dan gue, juga Amel, prihatin atas apa yang terjadi pada nyokap lo. Lupain dulu soal

permusuhan kita. Kami cuman mo liat keadaan nyokap lo, wanita yang udah gue anggap sebagai ibu gue sendiri.” Kali ini Stella terdiam mendengar ucapan Vira. Dia nggak berkata apa-apa lagi, langsung membuka pintu kamar dan masuk, sedang Vira dan Amel tetap menunggu di luar. Mereka berdua memutuskan baru akan masuk setelah dipersilakan. Nggak lama kemudian, wajah Stella muncul di balik pintu. “Nyokap gue lagi tidur. Sori, tapi dia butuh banyak istirahat. Apalagi seharian ini dia baru aja divisum untuk keperluan kasusnya di polisi.” Vira dan Amel menatap Stella. Mereka nggak tahu Stella berkata jujur atau nggak. Tapi Vira nggak mau bikin suasana jadi runyam. Ini rumah sakit dan dia nggak mau ribut di situ. Stella langsung menutup pintu kamar. “Gimana nih?” tanya Amel. Vira cuman mengangkat bahu. “Kita nggak bisa maksa dia. Itu haknya,” kata Vira, lalu melangkah meninggalkan pintu kamar, disusul oleh Amel. Baru sekitar sepuluh meter mereka melangkah, pintu kamar kembali terbuka. “Woi...!” panggil Stella, membuat Vira dan Amel menoleh. “Kalian boleh masuk...,” kata Stella pendek.

***

Jarum jam udah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi Vira belum bisa memejamkan mata. Nggak tahu kenapa. Padahal dari pagi dia belum sempat istirahat. Sepulang sekolah, Vira langsung membesuk mama Stella di rumah sakit bareng Amel. Trus dia pulang, membereskan bajunya dan langsung pergi latihan. Seusai latihan, Vira langsung pergi ke hotel. Lalu tadi habis makan malam, ada brifing sebentar dari Pak Isman. Sampai jam setengah sembilan lebih, baru setelah itu pergi tidur. Tapi Vira sama sekali nggak merasa mengantuk setelah melakukan

“Steph. Vira memilih tempat duduk di pojok. itu artinya Amel udah tidur. atau bahkan ngakak. Kadang-kadang suka ngikik. Vira bangkit dari tempat tidurnya. Amel. Apalagi kalo lagi ngobrol dengan Amel. Panggilan itu nggak membuat Stephanie membuka mata. Mereka udah pada tidur belum ya? tanya Vira dalam hati. Sekadar ngobrol. atau lagi bermimpi indah karena dia baru aja terpilih secara aklamasi sebagai kapten tim tadi. Dinginnya AC kamar hotel nggak membuat dia bisa memejamkan mata. Vira tahu. Setelah lama menunggu. Dan mengganti baju tidurnya dengan T-shirt dan celana selutut. . Saat akan menekan tombol di HP-nya Vira baru ingat ada orang tidur di sebelahnya.. Bukan karena Amel nggak mau diganggu. Dia bermaksud menelepon temen-temennya. Amel atau Niken ya? Vira menekan nomor HP Amel. ternyata cuman dijawab pesan yang mengatakan nomor yang dituju nggak aktif atau di luar jangkauan. Have a nice dream aja deh! batin Vira. Dia tahu kebiasaan Amel yang selalu mematikan HP-nya kalo tidur.. Vira bermaksud pergi ke lobi hotel.. tapi karena dia merasa nggak enak sama anggota keluarganya yang lain kalo tengah malam HP-nya berbunyi. supaya nggak terganggu orang yang lalu-lalang. Ada-ada aja alasannya. Di sana dia bisa menelepon sepuasnya tanpa mengganggu orang lain. Stephanie terlihat udah tidur. Vira melirik ke tempat tidur di sebelahnya.berbagai aktivitas seharian ini. *** Lobi hotel masih ramai dengan beberapa tamu yang sedang asyik mengobrol. Dia udah tertidur pulas. Mungkin karena kecapekan. atau siapa aja kek. padahal kan bisa aja HP-nya tetep nyala tapi deringnya di-set silent atau getar doang. Menyadari hal ini. Gimana kalo nanti suaranya terlalu keras dan bikin Stephanie bangun? Apalagi kalo ngobrol kadang-kadang dia nggak inget tempat.” panggil Vira perlahan. Vira meraih HP-nya.. Niken..

apalagi postur tubuhnya. hingga Vira nggak bisa melihat wajahnya. secara nggak sengaja pandangan Vira tertuju ke pintu masuk hotel. Sita? Cewek yang baru masuk ke lobi emang Sita. Walau begitu Vira merasa nggak asing dengan jaket dan topi yang dipake cowok tersebut. karena saat itu perhatiannya sedang tertuju pada Sita dan cowok yang bersamanya. pada sepasang remaja yang baru aja masuk ke lobi. “Halo. Dia kan. . Sedang cowok yang bareng dia memakai jaket dan topi..Vira lalu menekan nomor HP Niken. Saat menunggu Niken menjawab teleponnya. Vira? Halo?” Tentu aja Vira nggak menjawab panggilan Niken. Terdengar nada sambung..

Hari pertama kualifikasi dibuka dengan pertandingan antara tuan rumah Jawa Barat melawan Lampung. Kualifikasi di Bandung diikuti tiga provinsi. dan Lampung. Sistem pertandingannya adalah setengah kompetisi. Apalagi saat tim Jawa Barat masuk. yaitu Jawa Barat sebagai tuan rumah. “Sejauh ini prestasi Lampung memang di bawah kita. Banten. Tim dengan nilai kemenangan tertinggi akan menjadi juara grup dan berhak ikut babak final di Jakarta sebulan lagi.DUA BELAS PERTANDINGAN kualifikasi Kejuaraan Nasional Bola basket Putri dimulai. Apalagi ini pertama kalinya kalian bermain di turnamen tingkat nasional. Tapi kita tetap harus waspada. tepuk tangan terdengar lebih bergemuruh. tapi Bengkulu mengundurkan diri karena masalah intern di kepengurusan PERBASI daerahnya. *** Penonton yang memadati GOR C‟tra Arena bertepuk tangan meriah saat pemain kedua tim memasuki lapangan.” pesan Pak Isman di ruang ganti pemain. . Jangan gugup dan tetap fokus pada permainan. yaitu setiap tim akan saling bertemu. Seharusnya ada empat peserta.

Vira menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru arena. . Pertandingan quarter pertama dimulai. Jadi mereka belum sempat ngobrol banyak. Alexa. beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. tim Jawa Barat menurunkan Vira. Apalagi beberapa hari ini Niken nginep di rumah ortunya dan baru balik ke rumah Vira malam sebelum Vira nginap di hotel. Sekarang dia kembali berada di GOR ini. Rei juga bilang bakal datang. terutama saat di final melawan SMA Altavia. Stephanie. membuat barisan pertahanan tim Jawa Barat sedikit pontangpanting. Penonton memenuhi hampir seluruh tempat duduk GOR yang berkapasitas sekitar lima ribu penonton itu. termasuk Vira. terutama dalam hal dribel. apalagi itu dilakukan sambil berjalan. apalagi ngobrol dengan cewek itu. dan sedikit dibantu oleh Poppy. Walau begitu Vira yakin. dan Poppy sebagai starter. Mengerti!?” Pak Isman memberikan instruksi di pinggir lapangan. Bapak tahu skill mereka tidak sebagus kalian.“Terkenang masa lalu?” celetuk Stephanie lirih pada Rida yang berada di sampingnya. Indriyati. Pikirannya teringat saat bersama tim SMA 31 di turnamen basket antar-SMA se-Bandung Raya. Mereka langsung melakukan serangan kilat melalui operan panjang langsung ke depan. kecuali yang bernomor punggung 6. Rida. memakai kostum biru-biru. Cuman Niken yang Vira nggak tahu bakal datang atau nggak. Vira coba mencari orang-orang yang dikenalnya. Rida merasa peristiwa itu baru kemarin. “Walau usia para pemain Lampung lebih tua daripada kalian. dengan tim dan event yang lain. Belakangan ini dia jarang ketemu. Amel udah janji bakal nonton dan ngajak yang lainnya. pasti ada teman-temannya yang datang menonton. Yang lainnya bermain ofensif. Rida cuman tersipu malu. tapi nggak gampang mencari seseorang di antara ribuan penonton. Di quarter pertama. Tim Lampung memenangi perebutan bola di udara. Dia pindahan dari Jawa Tengah dan Bapak tahu dia punya skill yang bagus. Karena itu Bapak tugaskan Rida untuk menjaga dia. sedangkan Tim Lampung memakai kostum kuning-kuning. Untuk quarter pertama ini kita harus langsung tancap gas untuk menjatuhkan mental mereka.

Vira mendribel bola. Gerakan Rida dihalangi oleh center lawan yang bertubuh lebih tinggi darinya. coba merebut bola. dengan cerdik dioperkannya bola pada Rida yang udah . Dribel sebentar. Masuk! Nilai pertama untuk tim Lampung. Poppy nggak mau berduel dan langsung memberikan bola pada Vira yang telah melewati garis tengah. “Steph. “Ayo. mencari teman. 6! Jadi ini pemain pindahan dari Jawa Tengah itu! Boleh juga! batin Vira. Stephanie langsung menusuk ke ring dari sisi kiri. jangan patah semangat!” Stephanie sebagai kapten memberi semangat teman-temannya. yang membawa bola hingga melewati garis tengah..Salah seorang pemain Lampung berhasil menerobos hingga ke bawah ring. Vira sempat melirik pemain yang baru aja masukin bola.. memutar badannya dan melakukan layup cantik. Vira berlari hendak mengambil bola. Dengan sigap dia berhasil menangkap bola yang dioperkan rekannya dari tengah.. Diterima baik oleh Rida dan dia mencoba langsung menuju ring. dan memutar badan membelakangi lawannya.. Vira mengoper bola pada Rida dengan cara memantulkannya ke lantai.” Stephanie bersiap menerima bola operan Rida. Bola pun terpental liar. Bola sekarang berada di tangan tim Jawa Barat. Rida melirik ke kanan dan ke kiri. Dia berhasil menggapai bola lebih cepat dan langsung mengoper ke Stephanie. “Da. Sambil mendribel bola. Tiba-tiba Vira melakukan gerakan cepat. Saat itulah salah seorang pemain lawan yang berada di dekatnya mulai menghadang.” Dengan cerdik. Tapi seorang pemain lawan yang ada di dekatnya berhasil menghadang operan Rida. No... Alexa mendribel bola sebentar sebelum memberikannya pada Poppy. Seorang pemain lawan mendekati Vira. Vira tertahan oleh tangan lawan yang coba menutup gerakannya. saat dia kembali dihadang. berpacu dengan pemain lawan di dekatnya. lalu berhasil berkelit dari hadangan Poppy. badannya sedikit dibungkukkan dan dia coba melewati lawannya dari samping kiri bawah.

Pertandingan pun berakhir dengan skor 71-56 untuk kemenangan tim Jawa Barat. Selanjutnya. hingga permainan nggak bisa berkembang. Rida berhasil mencegat operan panjang ke area three point shot. kualitas teknik dari para pemain Jawa Barat mulai terlihat. dan masuk! Kedudukan sekarang sama kuat. Lampung sempat menampilkan perlawanan di quarter ketiga. saat beberapa pemain tim Jawa Barat seperti Vira dan Stephanie diganti.menunggu di tengah. Tim Jawa Barat tetap mendominasi perolehan angka. Tim Jawa Barat memimpin dan perlahan-lahan mulai menemukan bentuk permainannya. hingga perbedaan angka antara kedua tim jadi menipis. Tapi itu nggak berlangsung lama. Bahkan yang terlihat di lapangan. Apalagi setelah pemain andalan mereka berhasil dimatikan. apakah mereka bisa mengemban tugas yang sangat berat. . tim Lampung yang kelihatan jadi gugup. dia langsung mengoper bola pada Stephanie yang datang dari belakang. Saat guard lawan menghadangnya. Walau masih berusia muda. Stephanie langsung masuk ke bawah ring dan melakukan lay-up. Tapi kali ini tim Jawa Barat udah siap. Bola masuk ke ring dengan mulus. Tim Lampung kembali mengatur serangan. Mereka mencoba kembali dengan operan panjang. Di quarter kedua dan seterusnya. Hingga quarter pertama berakhir. Apalagi setelah Stephanie dan Vira masuk lagi di quarter keempat. Stephanie menjadi pencetak angka terbanyak di quarter pertama dan Vira jadi penyumbang assist (operan yang menghasilkan angka) terbanyak. keadaan tetap nggak berubah. Rida menembak langsung. sambil berpelukan dengan yang lain. “Kita menang!” teriak Poppy dengan wajah gembira. Fast break! Vira berlari cepat ke depan. Dan langsung memberikannya pada Vira. Jawa Barat unggul 16-7. Ini ujian pertama bagi Tim Bola Basket Putri Jawa Barat yang sebetulnya merupakan tim junior. karena para pemain cadangan tim Jawa Barat pun pelan-pelan mulai menunjukkan mereka nggak kalah dengan para starter. para Young Guns ini nggak terlihat gugup menghadapi lawan yang jauh lebih senior dan berpengalaman. perbedaan angka kembali menjauh.

Lagian ibunya juga menyuruh dia tinggal di sini selama Vira nggak ada. nggak mampir dulu ke toko buku sebagaimana hobinya beberapa bulan terakhir ini. Nggak sendiri banget sih karena ada Bi Sum. “Jangan dulu gembira. dia isi waktunya dengan mengerjakan PR. kalo aja Vira nggak nitipin rumahnya ke dia. supaya biayanya nggak terlalu berat. Tapi Niken nggak mau. Dia nggak mau terus-terusan berutang budi pada Vira walaupun . atau latihan soal untuk persiapan Ujian Nasional (UN) atau ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).” kata ibunya. Pertandingan berikutnya akan lebih berat. karena Vira dan Sita nginep di hotel selama pertandingan. Kalo nggak tidur.. tapi kan Bi Sum selalu sibuk dengan tugasnya sebagai pembantu. Vira sebetulnya pernah menawari Niken untuk ikut salah satu bimbingan belajar (bimbel). jadi nggak bisa terus menemani Niken ngobrol kalo Niken kesepian. dengan biaya ditanggung Vira.” Pak Isman mengingatkan di tengah-tengah euforia kegembiraan anak-anak didiknya.bertanding di Kejurnas tingkat senior. Niken pengin tinggal di rumahnya sendiri. Menjaga rumah Vira selama dia nggak ada itu merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kamu. *** Di rumah sendirian lama-lama bikin Niken bete.. jadi Niken sering mampir barang satu atau dua jam sepulang sekolah atau kalo hari libur untuk sekadar numpang baca buku-buku atau majalah di situ. supaya persiapan lebih mantap. Kalo sepi begini. Sekali-sekali kamu juga harus punya tanggung jawab. Mal di dekat sekolah udah selesai dibandung dan di dalamnya ada toko buku. Niken emang punya cita-cita meneruskan kuliah di PTN. Dari kemarin Niken emang cuman tinggal sendiri di rumah Vira. Jadilah sekarang setiap pulang sekolah Niken selalu langsung pulang. Karena itu dia harus belajar sungguh-sungguh supaya keinginannya tercapai. Dan mereka telah melewati ujian tersebut dengan cukup mudah. “Kamu jangan kalo lagi seneng aja mau tinggal di situ. Niken sebetulnya udah berusaha mengusir kesepiannya.

karena ibunya harus menjaga warung serta membuat pesanan kerupuk dan gorengan tiap hari. nonton TV. liat aja ntar. Kata ibunya. hingga cowok itu menyerah dan nggak pernah berusaha menemuinya lagi. Mengajak Panji . karena Vira sendiri nggak pernah cerita soal itu. yaitu jalur khusus merekrut mahasiswa baru tanpa ujian. Kalo udah capek belajar. Dan keberhasilan Vira yan gpernah membawa SMA Altavia juara turnamen basket se-Jawa dianggap cukup untuk membawa dia lolos PMDK. Apalagi kalo Vira berhasil membawa Tim Basket Jawa Barat menjadi juara di Kejurnas yang lagi diikutinya. sebetulnya justru Vira yang punya peluang besar masuk PTN dibandingkan Niken. yaitu melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). sejak pemilihan ketua OSIS minggu lalu. biasanya prestasi di bidang akademik. peluangnya akan semakin besar. Sejak putus. Niken sendiri nggak tahu Vira mendaftar untuk ikut PMDK atau ngak. Sebetulnya Vira mengizinkan Niken mengajak salah satu atau beberapa teman sekolah mereka untuk menginap di rumahnya. Vira sendiri juga nggak ikut bimbel. biasanya Niken membaca surat kabar. dia cuman menjawab dengan wajah pasrah. Rei jug audah nggak pernah lagi datang menemuinya. Jadi dia nggak punya alasan buat ngadain rapat sepulang sekolah sampe sore seperti yang duludulu. Jadi dia tetap berusaha sendiri dan tetap optimis walau tanpa ikut bimbel. Kalo ditanya apa dia bakal ikut ujian masuk PTN. olahraga. Lagi pula kalo ntar ada apa-apa di rumah karena ada orang lain yang menginap. Niken bisa kena getahnya. atau seni.Vira-nya sendiri nggak pernah mikirin soal utang budi. Tapi ibu Niken melarang. Niken sendiri nggak mungkin mengajak ibunya ikut nginep. atau nyetel DVD.. “Yaaa..” Tapi walau nggak sepinter Niken. Lengkaplah udah kesepian Niken. Tapi Niken tahu diri. Niken emang selalu berusaha menghindar dari Rei. Tapi tetap aja itu nggak bisa mengusir kesepian yang dirasakan Niken. Niken nggak boleh mengajak orang lain menginap di rumah orang lain kalo yang punya rumah nggak ada di rumah—walau itu diperbolehkan yang punya rumah dan itu temen sekolah mereka sendiri. Apalagi dia udah nggak jadi ketua OSIS lagi. yang dianggap punya prestasi tersendiri.

Niken takut adiknya ntar malah bikin ulah di rumah Vira.. seolah-olah nggak melihat raut wajah Vira yang udah kayak benang kusut. kali ini Vira menyambut uluran tangan Rei dengan wajah dingin. kan Niken dan ibunya yang nggak enak ke Vira. tapi it’s okay for a start. Panji nggak bisa diem. Kenapa sih dia tiba-tiba ngundurin diri?” Rei menanyakan soal Stella. Sekarang aku capek dan kita harus cepet-cepet balik ke hotel. walau mungkin Vira-nya sendiri bisa maklum. Saat menunggu bus berangkat... Nggak seperti biasanya. masuk ke bus.. Vira yang duduk di dalam bus sempat melihat melalui jendela.. “Ntar aja. . Jadi sori ya. Rei cuman bisa bengong melihat sikap Vira. Penting. Walau dia yang mutusin hubungan mereka.. “Thanks.” kata Rei sambil mengulurkan tangan. Saat sedang sendiri begini. *** Rei udah nunggu di depan bus yang akan membawa rombongan Tim Jawa Barat kembali ke hotel. “Rei. Rei... Niken kadang-kadang teringat pada Rei. Aku pengin ngomong sesuatu ama kamu. ntar aku hubungi kamu... “Mo ngomong apa?” tanya Rei. Bukan apa-apa. Tapi nggak sekarang. mungkin kalian bisa maen lebih bagus dari ini. Tapi cuman sebentar. Vira cuman memandang Rei dengan tatapan yang lain dari biasanya. Rei sedang ngobrol dengan seseorang di luar bus dengan akrab. sekarang aku nggak bisa ngobrol banyak...adalah hal yang paling dihindari Niken.” jawab Vira pendek. Kalo ada barang yang rusak atau hilang karena ulah Panji.. “Kalo temen kamu waktu di Altavia masuk tim.. Niken cuman nggak suka dengan sikap Rei yang nggak mau terus terang dan terkesan nutup-nutupin sesuatu ke dia. Rei. walau aku rasa kamu maennya belum maksimal. Niken nggak bisa mungkin bahwa dia masih sayang Rei. “Selamat ya.” jawab Vira.” sahut Vira. kenapa sih kamu jadi gitu? tanya Niken dalam hati. Lalu Vira langsung berjalan melewati Rei..

Cowok itu bahkan sempat memberi selamat pada orang itu dan menepuk-nepuk pipinya. . Dugaan Vira mengenai Rei kini semakin kuat.

Kalo dipotong paling sampai sebatas bahu lewat dikit.... Karena kondisi mamanya membaik. lama nggak ketemu. sampai di atas kerah seragam sekolahnya.. “Hai. Lis. Stella yang udah tiga hari membolos pun mulai masuk sekolah lagi.. kondisi mama Stella udah agak mendingan. Lisa memotong rambutnya pendek. Tapi sekarang. Begitu membuka pintu kamar rawat.” sapa Vira ramah begitu tahu siapa yang datang. Stella kaget sekali melihat siapa yang ditemuinya di dalam kamar mamanya. Vira berkomentar demikian karena saat dia masih sekolah di Altavia. “Hai.TIGA BELAS SETELAH dirawat beberapa hari di rumah sakit. mengupas jeruk yang dibawanya. sepulang sekolah Stella langsung pergi ke rumah sakit. untuk kemudian diberikannya pada mama Stella.” sapa Vira pada Lisa. Tumben lo potong rambut. Stel. Dia lagi! Vira lagi duduk di samping tempat tidur mama Stella. Siang ini. Lisa selalu membiarkan rambutnya panjang. Kali ini dia bareng Lisa. Luka-luka di sekujur tubuhnya juga udah mulai mengering. . Sekarang beliau udah bisa makan sendiri sambil duduk di tempat tidur. Vira kemudian melihat Lisa yang berada di belakang Stella.

Dia pasti akan membela Vira. *** . Stella menggeleng. Mamanya sangat sayang pada Vira dan menganggap Vira seperti anaknya sendiri. soalnya kayaknya porsinya lumayan banyak.. “Nggak papa kok. maksud Stella. Vira kan sekarang lagi pertandingan dan harusnya nginep di hotel bareng timnya. Nggak papa kan. Lisa kalo mau. belum sempet makan. jadi gue bisa keluar sebentar. Dalam hati. Sebetulnya buat Mom. Stella terdiam mendengar ucapan Vira. makan aja. Vira tertawa geli melihat Stella yang jadi salah tingkah di depan mamanya. Andai tahu kelakuan anaknya terhadap Vira saat peristiwa keluarnya Vira dari SMA Altavia. “Nggak usah.Lisa nggak menjawab sapaan Vira. Stella menggeleng. “Kalo belum. Kok bisa ada di sini?” Stella pura-pura memberi alasan. Mom. Stella emang nggak bisa bertindak dan ngomong seenak hatinya. “Engg. Stella belum laper kok. “Hari ini nggak ada pertandingan.” jawab Vira. “Kamu udah makan?” tanya mama Stella pada anaknya. nih tadi kebetulan Vira bawa nasi dan gurame asam pedas. mama Stella pasti nggak akan membiarkan anaknya bertindak sewenang-wenang terhadap Vira. Kayaknya dia masih takut ketemu Vira. Dari sekolah dia emang langsung ke rumah sakit. Jadi buat kamu aja deh. daripada nanti nggak enak kalo dingin. Tante. Vir?” kata mama Stella.” Stella berusaha menolak secara halus. “Stella!” Mama Stella memperingatkan anaknya untuk menjaga sikap. Di depan mamanya. “Ngapain lagi lo ke sini?” tanya Stella jutek. Untung Vira nggak ambil pusing dengan sikap Lisa itu.” sahut Vira sambil melirik Stella. tapi Mom barusan makan jatah dari rumah sakit.. tetap “ngumpet” di belakang Stella.

“Gue nggak suka lo sering-sering nemuin nyokap gue,” kata Stella saat berjalan bareng Vira menyusuri koridor rumah sakit. Pada mamanya, Stella beralasan akan mengantar Vira yang akan pulang. Sedang Lisa tetap di kamar. “Kenapa?” “Pokoknya gue nggak suka aja! Lo mo cari muka di hadapan nyokap gue!?” Vira terdiam sebentar mendengar ucapan Stella. “Terserah lo mo nganggap gue cari muka ke nyokap lo atau apa pun. Yang jelas, gue sering nengokin nyokap lo karena gue care ama dia. Kalo ada orang yang baik ama gue, gue juga akan baik ke dia. Juga sebaliknya.” Ucapan Vira itu serasa menyindir Stella. “Ingat... apa yang gue lakuin terhadap lo itu akibat ulah lo juga. Gue nggak akan pernah lupa perbuatan lo ke Hera,” kata Stella nggak mau kalah. “Kenapa lo selalu aja ngungkit soal itu? Gue kan udah pernah bilang saat itu gue emang salah, dan gue udah ngakuin kesalahan gue.” “Lo kira ngakuin kesalahan aja udah cukup? Apa yang lo lakuin udah ngubah hidup seseorang! Ngubah hidup Hera. Dia sampai pindah sekolah. Lo udah ngancurin hidup dia!” Mendengar ucapan Stella, Vira menghentikan langkahnya dan menatap Stella. “Apa lo yakin hidup Hera jadi ancur gara-gara gue?” kata Vira. “Maksud lo!? Jelas aja lo udah ngancurin hidup dia. Lo udah bikin dia keluar dari Altavia!” “Jadi lo pikir kalo Hera nggak sekolah di Altavia, hidupnya akan hancur? Apa lo udah pernah ketemu dia setelah kejadian itu?” “Ketemu? Hera jadi stres, frustrasi, dan dia nggak mau lagi ketemu atau ngobrol dengan gue, dengan Lisa, dan semua anak Altavia. Hera jadi hilang dari kehidupan gue, padahal dia orang pertama yang jadi temen gue saat gue baru masuk Altavia. Dia yang bikin gue mencintai basket, dari sekadar hobi, lalu menjadi bagian hidup gue. Gue tau Hera sangat betah dan senang sekolah di Altavia. Dia punya impian di sana. Dan lo udah ngancurin impian dia.” Udah gue duga! batin Vira. Dia ingat ucapan Hera saat ketemu dulu.

“Gue nggak tau apa harus benci atau malah harus berterima kasih ama lo. Setelah pindah dari Altavia, gue malah mendapat berbagai pengalaman menarik yang membuat gue merasa menjadi diri gue yang sebenarnya. Dan terus terang, semua itu nggak akan gue dapetin, kalo gue masih ada di Altavia.” Vira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Stella. Lalu tanpa berkata sepatah kata pun, dia melanjutkan langkahnya, tapi bahunya dicekal Stella. “Lepasin...!” kata Vira. “Jangan ganggu lagi kehidupan gue, atau keluarga gue. Gue nggak mau liat wajah lo lagi, apalagi deket-deket nyokap gue, atau...” “Atau apa?” Stella mendengus kesal dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vira. “Gue bisa berbuat lebih dari yang gue udah lakuin di Altavia!” tandas Stella. Vira melepaskan cekalan tangan Stella. “Lo jangan kuatir... gue nggak akan jenguk nyokap lo lagi. Lagi pula nyokap lo udah baekan, jadi gue nggak kuatir lagi dengan kondisinya...,” jawab Vira, lalu pergi meninggalkan Stella. Baru beberapa langkah, Vira berhenti lagi dan kembali menoleh ke arah rivalnya itu. “Oya, soal Hera. Kalo lo bener-bener sahabat dia, harusnya lo cari tau soal dia dan gimana keadaannya sekarang. Jangan lo berkoar-koar soal kondisi dia setelah keluar dari Altavia berdasarkan kesimpulan lo sendiri!” ujar Vira. “Maksud lo?” Vira nggak menjawab pertanyaan itu. Dia kembali melangkah, meninggalkan Stella yang kebingungan dengan ucapannya.

***

HP Pak Isman berbunyi. Pak Isman yang akan kembali ke kamarnya mengambil HP dari pinggangnya. “Halo...”

“Maaf mengganggu, Pak Isman. Sekarang kami tunggu kehadiran Bapak di kamar 521.” “Ke... ada apa?” “Ada perubahan strategi untuk pertandingan besok.”

menggantikan posisi Poppy sebagai shooting guard. Untuk itu kalian harus banyak memberikan bola pada Sita jika dia dalam keadaan bebas. Tapi ini juga bisa merupakan kerugian. Tim Jawa Barat sebetulnya mempunyai keuntungan karena punya waktu istirahat lebih lama daripada Tim Banten yang baru aja bertanding dua hari yang lalu. Terbukti di pertandingan sebelumnya mereka membantai Tim Lampung dengan angka lebih telak. Semoga hal ini nggak terjadi pada mereka. 85-26. Fast break-nya sangat cepat. Ada dua pemain mereka yang merupakan anggota Tim Nasional. bahkan boleh dibilang di atas rata-rata Tim Jawa Barat. “Mereka rata-rata berpostur tinggi. Untuk pertandingan kali ini Sita diturunkan sebagai starter. Tim Banten punya pemain dengan kemampuan teknik lebih baik. Dia menyaksikan pertandingan antara Tim Banten dan Tim Lampung dua hari lalu.EMPAT BELAS LAWAN kedua bagi Tim Jawa Barat adalah Tim Banten. penampilan sebuah tim bisa menurun. Dibanding Tim Lampung. Skill anggota tim lainnya juga cukup baik. karena dengan waktu istirahat yang lama. apalagi kalo tim itu sedang bagusbagusnya.” Pak Isman memberikan instruksi. Jangan melakukan tembakan tiga angka. . Susunan starter lainnya tetap sama seperti saat menghadapi Lampung.

. bawel aja lo! Sana gih kalo lo mo ke rumah Gita duluan. “Kita nggak bisa maen kayak gini terus!” kata Vira pada Stephanie yang ada di dekatnya.” Lisa mengkeret mendengar ancaman Stella. Stella memberikan HP-nya pada Lisa. “Lo telepon Gita.. Sebagai jawaban. Sejak quarter pertama dimulai. Tim Banten terus mengambil inisiatif serangan dan mengajak bermain cepat. setelah sebelumnya beberapa kali serangan mereka dapat dipatahkan oleh guard-guard Tim Banten yang bertubuh tinggi besar.*** Stella yang sedang menyetir tiba-tiba membelokkan mobilnya di sebuah persimpangan. karena saat itu seorang pemain lawan menghadang dirinya yang membawa bola. Vira melakukan pivot . nggak heran kalo dalam lima menit pertama Tim Banten udah unggul 8-2.. Satu-satunya angka bagi Tim Jawa Barat dibuat oleh Vira yang berhasil menembus masuk pertahanan Tim Banten.” “Emang kita mo ke mana sih?” “Udah. “Kita akan ke rumah temen lama. Mereka seolah punya tenaga ekstra. “Maksud lo?” Vira nggak sempat menjawab pertanyaan Stephanie. Diimbangi dengan teknik dan strategi permainan yang lebih matang daripada Tim Jawa Barat. “Lho? Kok belok? Rumah Gita kan lurus..... saat Tim Banten baru aja mencetak angka ke-12.” ujar Stella akhirnya.. Gue turunin lo di jalan. jadi mungkin agak sorean ke sana. bilang gue ada urusan sebentar.” tanya Lisa yang duduk di samping Stella. *** Dugaan bahwa stamina Tim Banten bakal terkuras karena waktu istirahat yang lebih sebentar ternyata nggak terbukti.

Vira heran... dan mencoba masuk ke daerah pertahanan lawan. posisi kamu bagus!” seru Pak Isman lagi.. “Sita. Karena itu Sita memilih mendengarkan seruan Pak Isman. “Jangan tembak! Oper lagi!” Sita mendengar seruan Vira. tapi dia juga berada dalam posisi yang bagus untuk menembak. Dia menembak.. “Pass. Shit! rutuk Vira dalam hati. Dia mencari bel pintu yang agak tersembunyi di balik pintu. Tapi lawannya yang merupakan pemain nasional yang udah senior nggak terpancing gerakan Vira.(memutar badan sambil mendribel dengan satu kaki sebagai poros putaran) untuk memancing lawan mengikuti gerakannya. “Shoot!” seru Pak Isman dari pinggir lapangan. Dia mencoba mencari temannya melalui ekor matanya. Pemain nasional yang punya lompatan tinggi. Ada Rida.. dan. *** Rumah mewah itu dari luar terlihat sepi. Sita yang sebetulnya berada agak jauh dari Vira pun demikian. kok Pak Isman nggak tahu soal ini? “Tembak.. Dia tahu siapa yang menghadang Sita sekarang. Pagarnya tertutup rapat.” Operan Vira ke arah Sita yang tiba-tiba membuat lawannya kaget. Tapi gerakan Sita nggak jauh karena keburu dihadang. Tapi akhirnya dia sukses menangkap operan Vira. Alexa..” “Trus. Vira pernah melihatnya di TV saat membela Tim Nasional di ajang SEA Games dan dia masih ingat penampilannya saat itu.. kenapa lo ke sini?” Stella nggak menjawab pertanyaan Lisa. Vira yakin Sita nggak akan berhasil kalo memaksakan diri menembak. . “Gue nggak tau. “Rumah Hera? Apa Hera ada di sini?” tanya Lisa. Dia tetap menunggu di belakang Vira. pass!” seru Vira tiba-tiba.

.. *** Seorang bapak gendut berusia setengah baya keluar dari pintu pagar.. dan bola keluar lapangan... ada yang cari yang namanya Hera.” “Siapa. . “Cari siapa?” tanyanya.. “Ini. Mama kenal?” jawab si bapak. “Hera ada?” tanya Stella. seorang wanita yang usianya nggak terpaut jauh dengan si bapak keluar.” Si bapak cuman manggut-manggut. “Nggak ada yang namanya Hera di sini. *** Ribuan penonton di C‟tra Arena hampir serentak mengeluarkan seruan kecewa saat tembakan tiga angka Sita dapat diblok oleh lawannya. Dia kan pemain nasional. “Itu lho. “Dari mana kamu tahu tembakan Sita bakal diblok?” tanya Rida. Kan Bu Irfan pernah cerita.” “Nggak ada? Tapi ini kan rumahnya. Pak. “Hera?” Nggak lama kemudian. “Hera?” Bapak itu mengernyitkan keningnya... Pa!?” terdengar seruan dari dalam halaman rumah..” Rida cuman manggut-manggut mendengar penjelasan Vira.Masih di situ! batin Stella.. “Aku udah pernah liat lawannya. “Mama kenal?” si bapak mengulangi pertanyaannya. Stella dan Lisa mengangguk. Vira cuman geleng-geleng kepala. Dia udah memperingatkan tadi. Stella baru kali ini melihat pria itu. Dia menekan bel. Ma. anaknya Bu Irfan yang katanya lagi sekolah di Singapura.” “Ooo. “Adik-adik mencari Hera?” tanya wanita itu.

“Kita nggak bakal bisa menang kalo begini terus.” wanita itu menjelaskan pada Stella..” bisik Stephanie lagi. Harapannya mendadak hilang. Yang lain juga....” Mendengar penjelasan si Ibu. Strategi yang Bapak terapkan saat melawan Lampung kemaren itu tepat. Kita justru harus tampil menyerang untuk punya peluang menang. Tim Banten emang lebih senior dan punya teknik yang bagus. Kalo tidak salah sih di daerah Mampang atau di mana gitu. Vira. sehingga kita bisa menang. alamat jelasnya Ibu tidak tahu. Stella menjadi sedikit lemas.. Rumah ini udah dijual ke kami sekitar delapan bulan yang lalu... “Vira. “Apa maksud kamu?” tanya Pak Isman.” Stephanie memperingatkan Vira supaya diam. Itu sama aja kita menyerahkan diri untuk dibantai.“Maaf ya..... “Vir. kita nggak bakal menang.” potong Vira tiba-tiba. juga Rida... “Wah. Dik. “Kalian kurang konsentrasi. “Dijual? Trus mereka pindah ke mana?” tanya Stella. “Saya tidak tahu tujuan Bapak menerapkan strategi bertahan. kamu jangan terlalu maju ke depan. “Jadi kamu mo bilang strategi Bapak salah? Bapak tidak becus memasang strategi untuk kalian?” balas Pak Isman dengan nada suara mulai meninggi.” kata Vira. *** Quarter pertama berakhir. Tapi untuk pertandingan ini. kemudian mengandalkan serangan balik... menurut saya strategi bertahan itu keliru.” Pak Isman memberi instruksi. Yang namanya Hera sudah tidak tinggal di sini lagi. “Saya nggak bilang begitu.. Ibu cuma tahu bekas pemilik rumah ini pindah ke Jakarta. Saat ini kedudukan 21-9 masih untuk keunggulan Tim Banten.. tapi bukan berarti kita diam aja menunggu mereka menyerang. Tapi dengan strategi seperti ini. Dia kelihatan nggak senang dengan ucapan Vira.” . fokus pada pertahanan.

dengan strategi yang tepat. Vira! Kalo kamu tidak setuju dengan strategi yang Bapak terapkan. “Saya pikir juga begitu. menyerang adalah strategi terbaik saat ini. Walau begitu nggak ada yang berani bersuara.” kata Stephanie akhirnya. “Bapak pelatih kalian! Dan Bapak tahu apa yang terbaik untuk tim ini! Tugas kalian hanya bermain dan menuruti instruksi Bapak! Siapa yang tidak mau menuruti instruksi Bapak.. tapi bukan berarti nggak bisa dikalahkan.” Dalam hati. sekarang ini strategi untuk quarter kedua... semua membenarkan perkataan Vira..” sambung Alexa. “Ucapan Bapak sudah jelas!?” Terdengar suara mengiyakan ucapan Pak Isman..“Kamu tau apa? Kamu mau kita melayani mereka secara terbuka? Dengan keunggulan teknik dan pengalaman mereka.. Vira hanya bisa mengangguk nggak rela. Dan menurut saya. termasuk Vira. silakan keluar dari tim ini! Terutama kamu.. Apalagi kita udah ketinggalan lumayan jauh.. “Cukup!” kata Pak Isman dengan suara agak keras. “Saya kira Vira benar. apa kalian mampu?” “Mereka boleh dibilang lebih unggul teknik dan pengalaman. Bertahan malah akan membuat mereka terus menambah angka.” . “Baik. Bapak tidak memaksa!” Ucapan Pak Isman yang agak keras membuat para pemain terdiam.

. “Lo gila! Emang bisa?” “Potong leher gue kalo sampe akhir quarter ini kita nggak bisa menang atau minimal ngedeketin poin mereka.” “Trus. Lo mo dikeluarin dari tim?” Stephanie mengingatkan. asal kita punya strategi yang tepat... Padahal walaupun kita dianggap tim junior.LIMA BELAS “GUE nggak rela kalah dengan cara begini. kita bisa ngalahin Tim Banten. tapi. Lo juga ngerasa begitu..” jawab Vira dengan nada yakin. Strategi Pak Isman itu salah. Skill mereka nggak beda jauh dengan kita... pasti semua bilang. Vir. “Iya sih.” “Kalo kita kalah dan gagal ke putaran final.” sungut Vira saat berjalan memasuki lapangan untuk memulai pertandingan quarter kedua. lo mo ngapain?” Vira membisikkan sesuatu di telinga Stephanie. kan?” tukas Vira sambil melirik ke arah Pak Isman yang lagi ngobrol dengan Pak Dibyo.. “Yakin?” . wajar karena kita masih tim junior.. “Gue nggak bakal mulai macem-macem kalo gue nggak yakin tindakan gue bener.. “Lo jangan mulai macem-macem.

Lo kasih tau Hanna. “Apa-apaan ini!? Mereka bermain tidak sesuai instruksi kita!” kata Pak Dibyo. . dan Rida.“Yakin. Dengan posisi demikian. Kamu ingat kan saat kita melawan SMA 2?” Rida mengangguk. “Yup. “Yang bener?” tanya Rida nggak percaya. Vira. Tapi jangan sampe ketauan Pak Isman atau Pak Dibyo. dia mengambil alih posisi Hanna sebagai power forward. Perubahan strategi “dadakan” yang dibuat Vira membawa hasil. “Kalo kita menang dengan cara ini. Dia cuman terus menatap Vira. gue kasih tau Rida dan Sita. Vira sekarang berada di depan. Lalu dia beralih ke Sita. Saat pertandingan quarter kedua dimulai. Pak Isman nggak menjawab pertanyaan asisten pelatihnya itu. dia pasti nggak bakal marah. Stephanie. Awas kalau dia berani macam-macam! batin Pak Isman.” jawab Vira sambil mengedipkan mata. *** Vira mulai melaksanakan rencananya. Tim Bantel sebetulnya emang udah mengira di quarter kedua ini Tim Jawa Barat bakal tampil lebih ofensif daripada quarter pertama. “Apa yang dilakukan Vira?” tanya Pak Dibyo yang melihat Vira sibuk mondarmandir di lapangan. Keringat dingin mulai terlihat di wajahnya. Steph udah setuju. Tim Jawa Barat berubah menjadi tim yang lebih ofensif karena tiga pencentak angka terbanyaknya berada di depan.” Vira setengah berlari menghampiri Rida dan setengah berbisik ke cewek itu. Apa-apaan ini? tanya Pak Isman dalam hati. Tapi mereka nggak mengira Tim Jawa Barat bakal mengubah formasi pemainnya. menjadi otak serangan Tim Jawa Barat. Posisinya sebagai point guard diambil alih Hanna. “Pak Isman setuju?” tanyanya.

tapi tangannya kurang panjang. Angka mendekat menjadi 23-17. Gagal! Bola hanya mengenai pinggir ring dan memantul kembali ke lapangan. Vira dan Stephanie menjadi bintang dengan bergantian mencetak angka. Rida mengoper bola pada Stephanie yang ada di sampingnya. Tim Jawa Barat seolah tidak memiliki strategi yang jelas. Mereka seakan cuman berlari mengejar bola ke mana pun. Saat itu Vira yang berada di bawah ring langsung me-rebound bola dan memasukkannya kembali ke ring dengan dibayang-bayangi seorang pemain lawan. Di sisi lain. waktu istirahat berpengaruh saat permainan. Telapak tangannya cuman sempat menyentuh bola. Tapi sebetulnya ini malah merepotkan Tim Banten. Tim Jawa Barat nggak langsung mundur ke daerahnya.Permainan di lapangan emang terlihat kacau. hingga bola berbelok arah dan menuju Hanna. Walau masih setengah dari angka tim lawan. Dia langsung mengoper pada Rida dan melakukan fast break ke daerah pertahanan Tim Banten. Nggak heran kalo Tim Jawa Barat dapat menghasilkan angka sedikit demi sedikit dan mulai memperpendek ketinggalannya. Saat lawan membangun serangan. Penonton yang sebagian besar merupakan suporter Tim Jawa Barat yang tadinya lesu karena timnya ketinggalan di quarter pertama jadi bersemangat lagi. Rida coba memotongnya. permainan cepat yang diterapkan Tim Jawa Barat lama-lama membuat stamina para pemain Banten yang rata-rata udah berumur menjadi sedikit kedodoran. perainan Tim Jawa Barat menimbulkan secercah harapan. C‟tra Arena pun jadi kembali bergemuruh oleh sorak sorai yang mendukung Vira cs. tapi menunggu lawan di garis tengah. Nggak jarang para pemain Tim Banten harus mengalami shot clock violation (kehabisan waktu untuk menembak) karena ketatnya penjagaan Tim Jawa Barat. Operan panjang dari guard Tim Banten langsung ke depan. Perebutan bola . Tanpa buang waktu Stephanie langsung melakukan jump shoot dari three point shot area sebelum bisa dihalangi lawannya. Sita berhasil mencuri bola dari salah satu pemain Banten. Mereka jadi nggak bisa bebas melakukan serangan karena terus ditempel putri-putri Jawa Barat tersebut. Dihadang oleh salah seorang pemain lawan. Setelah mencetak angka. mereka langsung mendekat. Di sini baru terlihat.

Hanna memenangi perebutan bola dan langsung mendribelnya. Vira menatap ke arah Stephanie. Pak. kamu akan tetap di bangku cadangan sampai pertandingan ini selesai.” Stephanie berusaha membela Vira. karena saya tahu dia juga bagus dalam menerobos ke bawah ring. Pak Isman langsung meluapkan kekesalannya. Vira! Kamu mau jadi pelatih di sini!? Silakan kalau begitu! Kalian bermain saja sesuka hati kalian!!” semprot Pak Isman. Tim Banten meminta time out.. Dia tahu. Setelah itu baru nanti akan diputuskan apakah kamu masih bisa berada di dalam tim ini atau tidak. Semua pemain tertunduk mendengar ucapan Pak Isman. hingga kedudukan sekarang menjadi 23-19. Empat angka lagi! kata Vira dalam hati sambil melihat ke papan skor. Saya yang memaksa teman-teman untuk bermain menyerang. Si pemain lawan yang nggak rela bolanya lepas berusaha menghalangi Hanna dengan menyenggolnya. Tinggal Pak Dibyo sebagai asisten pelatih Pak Isman yang berusaha menenangkan atasannya itu. Vira sendiri udah pasrah dengan apa yang akan menimpa diirnya.” Vira mencoba membela teman-temannya. “Mau kalian apa sih!? Kalian udah nggak menganggap Bapak sebagai pelatih kalian!? Terutama kamu. terutama pada Vira. belum sempat menyamakan kedudukan sebelum time out.. “Pak. Dan benar. Bahkan ada kemungkinan Vira bakal diganti.. Dia cuman menyesal. “Bapak tahu! Dan sebagai hukuman. . Tapi terlalu keras hingga Hanna tersungkur. pasti Pak Isman bakal mencak-mencak karena strateginya dikacaukan oleh Vira. Foul! Hanna sendiri berhasil mengeksekusi dua kali tembakan bebas.” Walau udah menduga Pak Isman akan menjatuhkan hukuman pada Vira. “Kalian ternyata sama saja! Sama-sama susah diatur!” “Saya yang salah. tapi kami semua udah sepakat untuk lebih menyerang. nggak urung ucapan pelatih Tim Jawa Barat ini membuat kaget seluruh pemain. Bahkan saya yang mengusulkan agar Vira jadi forward. ini bukan kesalahan Vira.terjadi antara Hanna dan salah seorang pemain Tim Banten.

“kata Pak Isman di depan bangku cadangan. Gue udah puas kok karena apa yang gue rencanain berhasil dengan baik walau gue menyesal kita belum bisa nyamain kedudukan.. ikut diganti. “Nggak masalah. Suaranya udah nggak sekeras tadi. *** “Thanks udah belain gue tadi. Stephanie juga ternyata ikut diganti oleh Agnes.” Vira menengahi Stephanie.. sementara Hanna diganti oleh Poppy. lo nggak usah membela gue.. Seperti udah diduga..” . Siapa tau ada keajaiban.” “Udahlah. “Tapi gara-gara gue. nggak menanggapi ucapan Pak Isman.” *** Pertandingan quarter kedua kembali dilanjutkan. Pak Isman agak aneh hari ini. Banyak yang menyayangkan Vira diganti.” tanya Amel. “Ini semua salah gue...” jawab Stephanie. Pak. Hanna juga. tapi.. Nggak biasanya kan dia marah-marah begitu. Nggak tahu dia bertanya pada siapa. dan kita bisa menang. Steph. Kita liat aja ntar apa yang terjadi. Semua pemain cuman diam.“Kamu coba membela Vira?” “Bukan.. posisi Vira diganti oleh Alexa.” ujar Vira pada Stephanie. “Kok Vira diganti sih? Stephanie juga. nggak usah dipikirin. Gue rasa lo bener.” “Udah. lo jadi ikut susah. Digantinya Vira tentu aja menimbulkan pertanyaan di kalangan penonton. “Suatu saat kalian akan mengerti untuk apa Bapak lakukan semua ini. padahal dialah motor serangan Tim Jawa Barat yang lagi on fire... Padahal tadi kan Pak Isman bilang cuman gue yang diganti.

*** Tapi keajaiban yang diharapkan ternyata nggak kunjung terjadi. disusul oleh Hanna... Saat quarter ketiga dimulai. Tim Banten pun memenangi pertandingan dengan skor 63-47 dan berhak lolos ke babak final di Jakarta... dan gue nggak perlu nitip absen kalo ada kuliah sore. Tapi sampai pertandingan berakhir.” celetuk Stephanie pada Vira seperti menghibur dirinya sendiri. Tim Jawa Barat tetap nggak terbantu. teriakan-teriakan bernada nggak puas mulai terdengar... “Stephanie! Kamu masuk.” sahut Rendy. Strategi bertahan tim membuat mereka selalu tertinggal dalam pengumpulan angka. sebelum Rida membuat dua angka dari rebound hasil pantulan tembakan tiga angka dari Sita.” perintah Pak Isman. Tim Banten terus menambah angka hingga 29-19. “Jangan-jangan cederanya kambuh lagi.. “Kenapa sih Vira nggak masuk lagi? Apa dia cedera?” tanya Rei yang nonton bersama anak-anak basket SMA 31... “Yah. ambil aja sisi baiknya. . dan perbedaan angka kembali membesar. Kembalinya Tim Jawa Barat ke strategi bertahan dan digantinya beberapa pemain inti mereka membuat Tim Banten kembali menguasai permainan. Banyak yang meminta supaya Vira dimasukkan lagi dan Tim Jawa Barat kembali bermain menyerang. Tapi walau Stephanie kembali masuk ke lapangan. Rei.. Para penonton pun mulai gemas. Paling nggak lo bisa jalan-jalan lagi sepulang sekolah. Tim Jawa Barat pun kembali tertekan. Dari kedudukan 23-19. Vira nggak masuk lagi ke lapangan..

” kata Niken. ya sekalian aja aku bikinin kamu. “Thanks.. udah mulai konsen lagi maen game NBA LIVE di PS3-nya. “Aku mo ikut bimbel. Niken emang udah balik lagi ke rumah Vira. secara nggak resmi Tim Jawa Barat emang bisa dibilang udah bubar walau belum ada pengumuman resmi dari Pak Isman atau pihak PERBASI Jawa Barat. Tadi aku mo bikin roti sendiri.. jadi nggak perlu lagi ada pemusatan latihan. nggak sedih atau bete kayak dulu. Bibi mana?” “Ada di belakang. Mereka udah gagal lolos ke babak final bulan depan... gitu.ENAM BELAS DUA hari kemudian. Dia udah mulai konsentrasi ke pelajaran. Dia udah mulai bersikap biasa lagi. Vira udah siap berangkat ke sekolah.. nih udah aku bikinin roti... Dia juga udah bersikap biasa lagi. Dia mulai bisa melupakan kekalahan Tim Jawa Barat. mulainya ntar sore.. Pasca-pertandingan.. Pagi ini. Soalnya emang udah nggak ada kegiatan lagi.” “Ooo. . “Hai. Vira udah kembali ke rumahnya... Sita udah balik ke Tasik kemaren.” sapa Niken yang lagi asyik makan roti sambil membaca surat kabar. Vir..” Vira emang cuman kembali tinggal berdua bareng Niken. tumben kamu yang bikin. juga udah mulai kembali ketiduran di kelas kalo lagi ngantuk berat..

“Oya? Bagus dong? Ntar aku bayarin deh... Bimbel mana?” tanya Vira. “Makasih, tapi nggak usah. Ini bimbel punya tante teman SMP-ku. Bukan bimbel gede sih... tapi lumayan lah. Tante temanku itu nawarin aku buat bimbel di sana. Nggak bayar, tapi sebagai gantinya aku bantu-bantu di sana sebelum dan sesudah bimbel...” “Bantu-bantu? Kamu nggak disuruh ngepel di sana, kan?” “Ya nggak lah... Aku cuman bantuin soal administrasi, paling bantuin ngetik, masukin data di komputer, atau yang sejenisnya. Soalnya mereka kekurangan tenaga administrasi karena ada pegawainya yang cuti hamil, jadi aku diminta bantuin sementara. Sebagai imbalannya aku boleh ikut salah satu kelas bimbel yang sore tanpa bayar. Itu juga bantuinnya nggak full time kok. Paling aku bantuin satu jam sebelum les, dan sehabis les sebentar. Sebelum magrib juga udah pulang.” “Ya udah deh kalo itu mau kamu.”

***

“Vira!” Setengah berlari, Rendy menghampiri Vira. “Ada apa, Ren?” tanya Vira. “Kamu tau nggak di mana Rei?” “Rei?” Vira mengernyitkan keningnya. “Kok tanya ke aku? Kan dia satu kelas ama kamu?” “Dia nggak masuk hari ini.” “Nggak masuk? Kenapa?” “Lha... nggak tau. Telepon ke rumahnya sih kata ibunya dari kemaren dia pergi ke Tasik. Tapi sampe sekarang belum balik.” Rei pergi ke Tasik? Kemaren? Vira tambah heran. “Kenapa kamu nggak coba nelepon ke HP-nya?” tanya Vira lagi. “Nggak aktif mulu. Mampus deh...” Rendy tiba-tiba menepuk keningnya. “Emang ada apa?”

“Rei tuh minjem buku fisika-ku dan nanti abis istirahat bakal ada latihan soal. Aku nggak tau dia mo nggak masuk hari ini.” “Lho... kenapa baru ribut sekarang? Kalopun buku fisika kamu dibalikin ama Rei hari ini, emang kamu bisa belajar dalam waktu singkat?” tanya Vira. “Ya nggak... tapi kan masih sempet bikin sontekan dari situ.” “Dasar...”

***

Pulang sekolah, Vira pergi ke sekretariat PERBASI Jawa Barat di GOR Padjajaran. Tadi di sekolah dia di-SMS Pak Isman, menyuruhnya datang. Katanya untuk membicarakan soal kasus Vira saat pertandingan melawan Tim Banten. Vira sendiri sebetulnya udah malas ketemu Pak Isman, apalagi membahas kasusnya. Tapi akhirnya dia datang juga, karena Pak Isman bilang ini sangat penting. Sekretariat PERBASI Jawa Barat kelihatan sepi. Nggak ada satu orang pun yang kelihatan. Vira sendiri nggak heran dengan suasana seperti ini, karena para pengurus PERBASI, seperti juga organisasi olahraga lainnya di Indonesia, biasanya punya pekerjaan lain yang tetap dan dianggap lebih penting. Jadi, mengurus organisasi olahraga cuman dianggap sebagai hobi atau kerja sampingan. Nggak heran kalo prestasi olahraga di Indonesia nggak berkembang seperti negara lain, karena pengurusnya aja jarang ada yang serius. “Kamu Vira, kan?” Suara cewek di belakangnya membuat Vira menoleh. Seorang cewek yang lebih tinggi darinya dan berambut pendek seperti cowok berdiri di hadapannya. Vira mengenali cewek itu sebagai Lusy Chyndana Dewi. Di belakang Lusi berdiri dua cewek lain yang tingginya kira-kira hampir sama. “Selamat ya... berkat kalian, untuk pertama kalinya Tim Putri Jawa Barat nggak lolos ke final Kejurnas. Kalian emang hebat...,” sindir Lusi sambil memandang sinis ke arah Vira.

Vira nggak membalas sindiran Lusi. Dia lagi nggak mood buat cari ribut. Dan lagian, ngapain Lusi dan yang lainnya di sini? Mereka kan udah nggak masuk tim daerah lagi? “Harusnya kalian sadar... Kejurnas itu bukan level kalian. Kalian tuh masih junior, masih harus banyak belajar sebelum turun di Kejurnas,” lanjut Lusi sambil menunjuk pada Vira. “Vira!” Untung suara Pak Isman bisa meredam hati Vira yang mulai panas. Pak Isman menghampiri Vira. “Kalian masih di sini?” tanya Pak Isman pada Lusi dan kawan-kawannya. Lusi nggak menjawab pertanyaan itu, melainkan langsung melengos dan pergi bersama teman-temannya. “Pak, mereka...” “Sudah... jangan pedulikan mereka...,” potong Pak Isman. “Ayo kita jalan-jalan,” lanjutnya sambil memberi tanda supaya Vira mengikutinya.

***

Vira dan Pak Isman memasuki lapangan basket di dalam GOR Padjajaran. Seperti di Sekretariat PERBASI, suasana di dalam GOR juga terlihat sepi, karena emang nggak ada yang bertanding atau latihan di situ. Cuman terlihat tiga petugas kebersihan sedang menyapu lantai GOR. “Lihat ring basket itu?” tanya Pak Isman sambil berjalan menyusuri pinggir lapangan. “Berapa tingginya?” Vira heran mendengar pertanyaan Pak Isman. Kok malah nanyain tinggi ring basket ke dia? “Berapa, Vira?” tanya Pak Isman mengulangi pertanyaannya. “Ehmm... sekitar tiga meter, atau tepatnya tiga meter lebih lima sentimeter,” jawab Vira. Jelas aja dia tahu. Masa pemain basket nggak tahu tinggi ring basket? “Betul... dan tahukah kamu ada berapa cara untuk memasukkan bola ke ring itu?” tanya Pak Isman lagi, kembali membuat Vira heran.

“Seperti juga ada berbagai macam cara untuk mencapai tujuan kita.. Pak?” “Kamu baca sendiri aja. Kalau ada cara yang lebih baik. tembakan tiga angka. Tapi raut wajahnya langsung berubah begitu melihat siapa yang menabraknya.. Pak?” tanya Vira. Bapak ingin memberitahukan langsung kepada kamu. Dia mulai menerka-nerka ke mana arah pembicaraan Pak Isman.” “Kesimpulannya. Raut wajahnya langsung berubah. lay-up. maaf. tembakan bebas. “Eh.. *** Stella lagi asyik memilih gaun di sebuah butik di mal Parijs Van Java. “Rapat apa...” Pak Isman menjelaskan. Pak Isman menyodorkan selembar kertas yang digulung pada Vira. . dan selesai siang tadi. bisa dengan cara menembak biasa.” kata orang yang menabrak Stella.“Nggg. ada berbagai macam cara untuk memasukkan bola ke dalam ring.” Vira membaca salinan faks yang diberikan Pak Isman. kenapa tidak?” kata Pak Isman lagi. Stella memalingkan wajahnya. “Tadi pagi Komisi Disiplin PB PERBASI pusat mengadakan rapat di Jakarta. Makanya Bapak segera undang kamu ke sini. kan?” Vira mengangguk. Berita ini bakal ada di surat kabar besok. Pak Isman mengangguk mengiyakan. Hasilnya langsung difaks kemari.. “Yang bener. tidak harus dengan cara yang sama. “Maksud Bapak?” Sebagai jawaban. bermaksud akan “menyemprot” cewek yang menabraknya.. saat merasa dirinya ditabrak oleh seseorang. nggg.

padahal hasil pertandingan sudah tidak menentukan lagi. kenapa Bapak yakin protes kita bakal diterima? Lagi pula. saat tahu berita ini. walau dengan konsekuensi bakal kalah. tapi mereka nggak menggubris peringatan itu dan tetap menurunkannya saat melawan Lampung. kenapa kemarin Bapak memerintahkan kalian untuk bermain bertahan dan tidak terlalu ngotot?” tanya Pak Isman.” Vira bersorak dalam hati. “Seperti yang kamu baca di situ..” “Trus.. “Jadi kamu sekarang tahu kan. yang menggantikan tempat mereka di babak final?” “Tentu saja wakil dari grup yang sama.“Hera?” *** “Jadi Tim Putri Banten didiskualifikasi dari Kejurnas karena memakai pemain yang nggak sah?” tanya Vira nggak percaya. Apa yang kamu tunjukkan di quarter .” “Tapi. “Kita? Kita ke Jakarta?” “Iya. Tim Banten sebetulnya sudah diperingatkan supaya jangan memakai pemain yang sedang jadi rebutan dengan daerah lain. Dia udah membayangkan raut wajah yang lain. yang menjadi peringkat kedua di grup.. Tapi pihak pengurus meyakinkan Bapak bahwa protes kita pasti diterima. dan itu berarti kalian.. jadi Bapak putuskan untuk ambil risiko dengan menginstruksikan kalian untuk bermain bertahan. Bapak tidak ingin kalian ada yang cedera..” “Sebetulnya Bapak juga tidak begitu yakin. terutama Rida. “Maksud Bapak? Pak Isman udah tahu soal ini?” “Kasus ini sebetulnya sudah bergulir sejak lama.” Vira nggak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Jadi pihak kita sepakat dengan Tim Lampung untuk protes soal ini. Dan baru hari ini keputusannya keluar.. cuma nggak sampai terekspos media. itu kan sebetulnya nggak sportif.

.” “Kenapa Bapak nggak bilang aja terus terang kemarin?” “Nggak mungkin. Stephanie dan Stella untuk menjadi inspirator bagi yang lain... Karena itu Bapak segera menarik kamu keluar. Tapi sayang. Dia malu karena udah menuduh Pak Isman yang nggak-nggak. Ingat. Saya waktu itu cuman. Vira jadi tertunduk malu. Bapak juga pernah muda. apakah bisa diandalkan untuk babak final nanti. Vira sekarang sadar. ternyata Pak Isman punya rencana lain untuk tim.kedua kemarin sangat besar risikonya.” Vira cuman manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Isman.. Bapak tahu kamu.. Kita hanya menegakkan peraturan yang ada. Dan sebetulnya Bapak sangat mengandalkan kamu. jadi bisa memahami sikap kalian. mereka yang lebih dulu tidak sportif dengan memainkan pemain yang tidak sah. Stella mengundurkan diri.” Mendengar ucapan Pak Isman.” “Sudahlah. lawan-lawan di babak final bakal lebih berat daripada kemarin.dan soal sportivitas. tentu kalian akan lebih kecewa. “Maafin saya. Apalagi Bapak tahu cedera yang pernah menimpa kamu. Bapak juga minta maaf karena kemarin juga sempat emosi. . Soalnya Bapak tidak mengira kamu bisa berani seperti itu. Pak. jadi Bapak hanya tinggal berharap pada kamu dan Stephanie. Kalau ternyata perkiraan Bapak salah. Jadi Bapak nggak ingin memberi harapan terlalu jauh pada kalian. Selain itu Bapak juga ingin lebih memantau permainan tim.. “. Bpak aja waktu itu belum terlalu yakin.

*** Vira dan anggota Tim Jawa Barat lain memang sangat menantikan pemanggilan mereka ke dalam pemusatan latihan. Soalnya harus nunggu mereka yang dari luar Bandung dan udah balik ke daerah masing-masing. “Iya. . Besok pasti beritanya ada di koran. Padahal pertandingan babak final kurang dari sebulan lagi. Sampai suatu saat.” “Jadi kita yang akan ke babak final?” Rida masih nggak percaya.TUJUH BELAS SEPERTI perkiraan Vira.. Stephanie menelepon Vira. belum ada yang menghubungi mereka.” jawab Vira. membawa berita yang mengejutkan. Tapi sampai hampir satu minggu setelah berita yang dibawa Pak Isman.. kita akan ke Jakarta bulan depan. Rida hampir nggak percaya saat diberitahu soal ini lewat telepon. Vir?” tanya Rida. “Yang bener. kan? Atau ada perubahan pemain?” “Nanti dihubungi lagi satu-satu oleh Pak Isman. “Bener.” “Kalo begitu. kapan kita mulai latihan lagi? Tetep tim yang lama.

“Maaf. “Tapi Bapak kan pelatihnya. Bapak harusnya berhak menentukan. Keesokan harinya Vira melihat dengan mata kepala sendiri Pak Isman dan Pak Dibyo melatih Tim Basket Putri Senior. ..” “Bapak tahu siapa yang terbaik!” Vira menatap Pak Isman dengan tajam. Tapi semua ini adalah keputusan pihak pengurus.” *** Stephanie emang nggak bohong.“Kita nggak bakal ikut Kejurnas. bukan Bapak yang menentukan!” Pak Isman mulai keras lagi suaranya..” kata Pak Isman saat Vira mendatanginya seusai latihan.” Pak Isman cuman diam mendengar ucapan Vira. Tapi mana? Bapak nggak menghargai perjuangan kami di babak kualifikasi. Telah terjadi kata sepakat dengan Tim Senior..” kata Stephanie di seberang telepon. Vira.. “Tim Jawa Barat emang pasti lolos. siapa yang seharusnya lebih berhak bertanding di babak final. jadi seharusnya kita dong yang ikut babak final. tapi bukan kita yang akan menjadi anggota Tim Jawa Barat di babak final.” “Oya? Kalo gitu kenapa tadi sore gue liat Lusi dan anggota Tim Senior lainnya latihan di GOR Padjajaran? Dan lo tau siapa yang ngelatih mereka?” “Siapa?” “Pak Isman dan Pak Dibyo.” “Bukan kita? Maksud lo apa? Kita kan udah berjuang di babak kualifikasi. Bapak tidak punya wewenang untuk menentukan siapa yang akan bertanding. “Bapak bilang akan memberikan kepercayaan pada saya dan anggota lainnya. “Nggak ikut gimana? Kita kan lolos ke babak final? Apa keputusannya berubah lagi?” tanya Vira.” “Sudah Bapak bilang. “Tapi Bapak harusnya tahu siapa yang terbaik yang layak masuk babak final.

. “Bapak ingin tau siapa yang terbaik? Beri kami kesempatan. Biar mereka bisa belajar dari kita. Mobil yang dikemudikan Vira berhenti di depan sebuah bangunan yang udah lama dihindarinya.. *** Stephanie baru aja selesai makan siang di kantin di kampusnya saat HP-nya yang diletakkan di atas meja berbunyi.. Kami pun bisa menang melawan Tim Senior kalo dikasih kesempatan. Pak Isman juga menganggap kemampuan kami masih di bawah mereka? Bapak sendiri juga menganggap kami nggak layak mewakili Jawa Barat dibanding mereka? Apa Bapak lupa kekalahan kemarin di babak kualifikasi itu karena strategi?” tanya Vira dengan penuh emosi.” lanjut Vira. SMA Altavia! batin Vira. Apa kau bisa mengumpulkan mereka dalam dua hari?” *** Sorenya.“Atau jangan-jangan... ...” “Stephanie? Secepat apa kamu bisa mengumpulkan teman-temanmu di Bandung?” “Maksud Bapak?” “Anggota Tim Basket Junior Jawa Barat.” kata Lusi yang ternyata berdiri di belakang Pak Isman dan sedari tadi mendengarkan pembicaraan pelatihnya dengan Vira. “Halo. Dari Pak Isman! batin Stephanie. Lalu dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Pak Isman yang masih termangu. “Saya kira bertanding melawan anak-anak junior itu boleh juga.

Dia pun masih mengenali Vira. Balik ke Singapura. Hera memutar tubuh dan sedikit merunduk. Hera terkecoh. “Oya? Met jalan aja deh.” ujar Hera sambil coba menghadang Vira. “Gue mo pulang besok. Dia asyik berlatih menembakkan bola ke dalam ring.Untuk beberapa saat lamanya Vira hanya memandang ke bekas sekolahnya dulu. Vira udah berada di dalam gedung basket SMA Altavia dengan seragam basket lengkap dengan sepatunya.” jawab Hera sambil mendribel bola. tapi cuman sementara. Vira mengulurkan tangan. Rambutnya yang panjang sebahu diikat ke belakang. bergantian dengan Hera yang sekarang berada di dalam area three point shot. mencoba merebut bola. . “Udah siap nih?” Vira menoleh. walau Vira udah lama nggak berstatus siswi di sini. dan penjagaannya pada Hera lepas sehingga Hera dengan leluasa mendekati ring dan memasukkan bola ke dalamnya. Makanya Vira dibolehin masuk dan Vira juga nggak lupa menyelipkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangan si penjaga sekolah yang berusia lima puluh tahunan itu. Nggak berapa lama. Hera sedikit mendorong bola hingga Vira agak terdorong. Vira langsung menembak bola. Keadaan SMA Altavia masih sama seperti saat dia pergi dulu. Nggak ada yang berubah. Hera terlihat memasuki gedung dengan T-shirt dan celana training.. Nggak ada pilihan lain. baik kenangan indah maupun buruk.. “Lo yang ngundang gue ke sini. Bahkan petugas jaganya pun masih sama. Vira berjalan menuju ke garis tengah. Sekolah yang banyak menyimpan kenangan baginya. Masuk! “Lo udah ceritain semuanya?” tanya Vira. Hera lalu maju ke arah ring. “Gue udah ketemu Stella. Vira coba mengecoh dengan mendribel bola ke sisi lapangan sebelah kiri. dan Vira mencoba menghalang-halanginya. Ada apa?” tanya Vira sambil melemparkan bola pada Hera.” ujar Vira sambil mengambil bola yang baru dimasukkan ke ring. Dia mundur dan kembali menghadang Vira..

Vira melihat seseorang baru aja keluar dari pintu pagar rumahnya.” Vira cuman manggut-manggut mendengar penjelasan Hera. *** Beberapa meter dari depan rumahnya.” “Ooo.. Vira kembali menghadang. Dia memutar tubuh. Tapi Hera yang sekarang kayaknya punya kemampuan di atas dirinya.” katanya.” Vira nggak segan-segan memuji gerakan Hera. tapi mendadak Hera berlari ke sisi kiri. Lalu dia membuka celana training-nya. dia melakukan gerakan slam. lalu disusul dengan dunk sambil menceploskan bola ke ring. “Cerita apa?” “Temen sebelah kamar gue orang Filipina.. Kakaknya adalah pemain basket profesional di Liga Basket Filipina atau PBA. padahal dulu boleh dibilang kemampuan Hera berada di bawah dirinya atau Stella. “Dan tanggapan dia?” Sebagai jawaban. dari dalam mobil. “Hebat.Hera mengangguk. Bahasa gaul para pebasket di Indonesia. Hera cuman mengangkat bahu. Dia nggak menyangka Hera bisa melakukan hal itu... Gerakan Hera yang nggak kalah dengan aksi pemainpemain NBA yang sering dilihat Vira di TV itu membuat Vira ternganga. Nombok adalah kata lain dari slam dunk. . Dan tanpa diduga. tapi gerakan Hera lebih cepat.. hingga sekarang memakai celana basket pendek. “Dari mana lo belajar nombok?” tanyanya. “Apa gue belum cerita ke lo?” Hera malah balik bertanya sambil menghela napas. atau bahkan Stella. Gue diajarin berbagai macam gerakan saat kakaknya dateng berlibur di Singapura.. “Diem aja tuh. Hera lalu maju menyerang. lalu kembali coba menerobos masuk.. Dia langsung menusuk dari sisi kanan.. Hera terus merangsek hingga dekat ring. Vira nggak terkecoh. Setelah itu Hera mengambil bola dan mulai mendribel. Dia mencoba merebut bola dari Hera.

Ada apa Rei dateng ke rumahnya saat dia nggak ada di rumah. Apa Niken nggak jadi pulang ke rumah ibunya? tanya Vira dalam hati. “Rei!” panggil Vira. Rei turun dan membuka pintu pagar. Vira yang datang nggak lama kemudian memarkir mobilnya agak jauh dari motor Rei. tapi dia menolak. Motor Rei ternyata berhenti di sebuah bangunan kecil yang kelihatannya lagi direnovasi. Pertanyaan Vira terjawab ketika ada seorang cewek keluar dari rumahnya. beberapa saat setelah Rei keluar. “Vira? Kok kamu bisa ada di sini?” tanya Rei. Nggak lama kemudian Rei menyalakan motor dan memakai helmnya. Dia menoleh dan mendapati Vira sedang menuju ke arahnya. Rei yang akan membuka pintu depan terkejut mendengar suara Vira. Vira nggak mau membuang waktu. Sita dan Rei nggak melihat mobil Vira karena tertutup kegelapan malam. Dia kembali menyalakan mesin mobilnya. lalu menjalankannya. . Lalu dia juga keluar dari mobil.Rei! Vira mengernyitkan keningnya. Vira sendiri nawarin untuk menjemput Sita. Dia mematikan mesin mobil dan memutuskan untuk tetap diam di tempatnya. lalu cabut dari situ. Sita emang rencananya mo dateng hari ini. melihat apa yang akan terjadi. Mereka kelihatan mesra. karena ibunya dapet pesanan kerupuk yang cukup banyak untuk acara sunatan tetangganya. Apa mo ketemu Niken? Tapi kan tadi siang Niken bilang setelah les dia mo pulang ke rumah ibunya. Katanya dia udah minta temennya buat jemput di terminal bus. mengejar motor Rei. Sita? Vira ingat. sesekali ketawa-ketiwi. Jadi Niken mo bantu-bantu dan kemungkinan nginep di sana. Sita udah dateng dan ternyata yang menjemput dia itu Rei! Sita kelihatan mengobrol dengan Rei yang duduk di atas motornya.

.“Aku mo ngomong ama kamu.” “Ngomong soal apa?” “Ya soal kamu.” “Soal aku?” ..

Karena ingin memenangi pertandingan dan tampil di babak final Kejurnas itulah.. Stephanie.. terutama yang berada di luar kota Bandung.. Setidaknya itulah janji pengurus PERBASI Jawa Barat bagi pemenang pertandingan ini. Rida. . Pertandingan antara Tim Basket Putri Junior Jawa Barat melawan Tim Basket Putri Senior untuk menentukan siapa yang terbaik dan berhak mewakili Jawa Barat di Kejurnas nanti. Jadi sekarang cuman ada sepuluh orang yang masih mencoba menggapai impian mereka.. lalu membagikan kostum basket berwarna kuning keemasan pada seluruh anggota tim. Dibilang hampir semua karena ada dua orang yang berasal dari Subang dan Cirebon yang nggak datang dengan alasan yang berbeda.. “Untuk sementara kita pakai ini. Emang nggak mudah mengumpulkan para anggota tim yang udah kembali ke aktivitas mereka sehari-hari hanya dalam waktu dua hari. dan pemain Tim Junior Jawa Barat udah berkumpul di GOR Padjajaran. Hari ini mereka akan menghadapi pertandingan yang boleh dibilang sangat penting bagi remaja-remaja putri itu. VIRA.” katanya.DELAPAN BELAS Minggu sore. hampir semua pemain junior Tim Jawa Barat kembali berkumpul di Bandung. Vira yang baru aja datang membuka tas besar yang dibawanya.

.. Aku rasa peluang kita untuk menang kecil. Vira cuman nyengir mendengar ucapan Stephanie. datang Pak Isman. katanya untuk kita udah disiapkan ruang ganti pemain di sebelah timur. Dia balik menatap Lusi. Vira memergoki Lusi sedang menatap dirinya dengan pandangan merendahkan.. *** “Itu mereka. “Oke..“Tadi aku dikasih tau salah seorang petugas di sini. Apa kamu mau ngelakuin semua ini untuk sesuatu yang menurut kamu adalah sia-sia?” Sita cuman terdiam mendengar ucapan Vira. Tentu aja setelah Sita nggak ada di dekat Vira. dan beberapa orang ofisial tim serta pengurus PERBASI Jawa Barat. Mereka memakai kostum basket berwarna biru muda...” sambung Stephanie.” “Kalo kamu nggak yakin menang. berseberangan dengan Vira cs.” Semua pemain Tim Junior Jawa Barat yang udah bersiap di pinggir lapangan menoleh ke arah pintu masuk yang ditunjuk Poppy. “Kalo kamu?” Vira malah balik nanya. semua sudah siap!?” tanya Pak Dibyo.. Lusi dan para pemain Tim Senior memasuki arena. “Mereka lebih senior daripada kita. Pandangan pertama menentukan! Jangan sampai kalah sebelum bertanding! Nggak lama kemudian. . Tim Senior menempati sisi lain lapangan. Pengalaman bertanding lebih banyak. kenapa kamu ada di sini? Perjalanan dari Tasik ke Bandung kan jauh. “Lo emang paling jago kalo ngemotivasi orang. dengan logo provinsi di dada sebelah kiri.” ujar Stephanie lirih yang mendengar ucapan Vira pada Sita. *** “Apa kamu yakin kita bakal menang?” tanya Sita pada Vira di ruang ganti pemain. Pak Dibyo.

walau mungkin hasil pertandingan sangat menentukan bagi kalian. dan Poppy. Dia emang nggak janji mo datang karena lagi seneng-senengnya belajar. Alexa. mereka menurunkan pemain terbaik mereka sebagai starter. Niken juga nggak kelihatan. penentuan itu pun dimulai. Jadi kedua tim bermain tanpa pelatih. dan satu tujuan. juga ada pemain senior lain seperti Dini. Karena kedua tim dilatih oleh pelatih yang sama. sedang Pak Isman dan ofisial lainnya duduk di tribun penonton. Rida. Ada beberapa orang yang terlihat duduk di tribun. Selain Lusi dan Mira. Bapak ingin agar kalian tetap bermain secara sportif dan menjunjung tinggi nilainilai fair play. *** Vira mengedarkan pandangannya ke seluruh area GOR.” Pak Isman memberikan pengarahan sebelum pertandingan. Demikian juga Tim Senior. Rei sempat melihat ke arahnya dan mengacungkan jempol. Bapak nggak ingin ada yang saling mencederai. Anak-anak basket cewek SMA 31 nggak kelihatan karena mereka pada waktu yang bersamaan lagi melakukan pertandingan di SMA Balawa. Tim Junior menurunkan starter dengan kekuatan terbaiknya.*** Akhirnya. dan Dewi yang merupakan tulang punggung Jawa Barat saat mereka menjadi runner-up Kejurnas dua tahun lalu. satu daerah. Stephanie. Kita ini masih satu tim. Dua orang wasit dan satu wasit cadangan yang berstatus wasit nasional membantu pertandingan ini. Vira. Clara. yang emang udah dijadwalkan jauh-jauh hari. Nggak tahu apakah mereka sekadar duduk-duduk atau ingin menonton pertandingan. Vira maklum. bersama Rendy dan anak-anak basket cowok SMA 31. Sedang temen-temennya yang lain nggak . Vira sempat melihat Rei di salah satu sisi tribun. untuk pertandingan kali ini. baik Pak Isman maupun Pak Dibyo nggak berada di pinggir lapangan untuk mendampingi salah satu tim. “Ingat.

apa strategi kali ini?” tanya Stephanie pada Vira. Anak-anak basket mungkin tahu dari Rei. *** “Oke. *** Para starter dari kedua tim udah berada di lapangan. Vira yang tahu sifat Rida nggak mau temannya itu terintimidasi oleh Mira dan kalah sebelum bertanding. *** Tim Senior Jawa Barat boleh dibilang emang unggul segalanya dari juniornya. karena Vira emang nggak bilang-bilang soal pertandingan ini di sekolah..datang mungkin karena nggak tahu. Keduanya bertatapan. tapi bikin Mira jadi gregetan. “Kalian bermimpi untuk memakai kostum ini lagi? Jangan harap!!” kata Mira sambil menunjuk kostum dan logo Jawa Barat yang dikenakannya. pengalaman. yang biasanya dilakukan oleh seorang center. Wasit meniup peluit dan quarter pertama pun dimulai. “Kostum yang lo pake udah jadul.” jawab Vira ngasal. sedang Niken jelas aja tahu. Unggul teknik. kenapa lo dulu bisa jadi kapten di Altavia. terutama kalo dalam situasi kayak gini. Nggak heran kalo dalam lima menit . “Hah? Kok nanya gue?” “Kan lo biasanya jago strategi. Kami akan membuat sendiri yang modelnya lebih keren. ya?” sindir Vira. serta stamina. Kali ini Vira emang mengambil posisi Rida untuk perebutan bola di tengah pertama kali. Kali ini giliran Stephanie yang nyengir. “Gue heran.” Vira cuman geleng-geleng kepala mendengar ucapan Stephanie.. Kali ini Vira berhadapan langsung dengan Mira di garis tengah. wong tinggal serumah dengan Vira.

Rida datang membantu. Lusi bergerak cepat menyusur sisi kanan daerah pertahanan Tim Junior dengan dibayang-bayangi Poppy. Vira coba maju untuk mencegat Mira. Vira nggak menanggapi ucapan Lusi.” kata Rida pada Vira saat quarter pertama berakhir. tapi dihadang oleh Clara. Lusi yang mengeksekusi tembakan bebas berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Gerakan Lusi yang cepat membuat Poppy panik hingga dia melakukan kesalahan dengan mencoba memukul bola yang masih berada dalam genggaman tangan Lusi. bahkan udah mampu mengalahkannya. Lusi menoleh dan tersenyum sinis pada Vira yang lagi mengatur napas. “Asal kalian tahu. dua tahun yang lalu kami membantai Lampung dan Banten dengan skor yang sangat telak. Dia langsung mendribel. Stephanie mengoper pada Rida.” kata Lusi pada Vira. Stephanie benar-benar nggak bisa bergerak ditempel terus oleh Clara. tapi Mira langsung mengoper pada Lusi yang datang dari belakang. *** “Strategi kamu nggak berjalan. Turn over! Fast break cepat Tim Senior membuat barisan pertahanan Tim Junior kelabakan. tapi malah mengenai tangan cewek itu. Foul! Tembakan bebas untuk Tim Senior. “Steph!” Stephanie menerima bola operan dari Poppy. Mereka bener-bener kuat! batin Vira.pertama Tim Senior langsung unggul 7-0 melalui permainan cepat dan terkoordinasi dengan rapi. . tapi operannya cepat dipotong oleh Mira yang langsung berlari ke tengah lapangan. Sama gembiranya saat Vira tahu bahwa skill Hera meningkat pesat sejak dia pindah dari Altavia. Tapi dalam hati dia gembira bertemu dengan orang yang skill-nya melebihi dirinya... Tim Senior semakin jauh meninggalkan adik-adiknya.

” *** “Lo yakin dengan ide lo ini?” tanya Stephanie dengan nada ragu-ragu. Aku juga nggak berani menjamin ideku ini bisa berhasil. “Ada yang punya?” Vira malah balik bertanya. . Kita semua sudah tahu hasilnya.” sahut Vira.” balas Pak Isman. *** “Sudah saya katakan mempertandingkan mereka adalah ide buruk. Ini baru quarter pertama. Yang jelas pertandingan belum berakhir. Yang lain menggeleng. Apa lo yakin?” Stephanie mengulangi pertanyaannya.. Padahal di quarter pertama mereka cuman mendapat empat angka. permainan mereka di babak kualifikasi? Di sini mereka belum mengeluarkan seluruh kemampuan yang mereka miliki. tapi sangat aneh. walau aku pikir kita harus mencobanya.” kata Pak Nurdin yang duduk di samping Pak Isman. Permainan mereka belum seperti saat pertandingan kualifikasi.. dia tetap tenang.. “Apa mereka bisa menang jika permainan mereka sebaik saat kualifikasi?” “Lihat saja. nggak kelihatan panik sedikit pun.. Lagi pula Bapak sudah lihat kan. “Gue udah bilang kan ide ini mungkin sedikit aneh. “Sebetulnya aku udah punya strategi.. soalnya ini rada gila dan nggak masuk akal.. “Lo nggak punya strategi lain?” tanya Stephanie.” ujar Vira. tapi aku nggak yakin kalian bakal setuju.. “Sebaiknya Bapak jangan underestimate dulu.” sahut Stephanie sambil tersenyum. kontras dengan Tim Senior yang menutup quarter pertama dengan enam belas angka. Ini hanya akan menjatuhkan mental anak-anak muda itu.” “Bukan sedikit. Anehnya.“Aku tau. “Gue suka kalo lo udah punya ide-ide gila..

“Nggak bisa... Sementara itu.. Gimana kalo ternyata perkiraan kamu meleset dan mereka bisa kembali menambah banyak poin?” “Kalo gitu.” *** Sebuah kejutan kecil dibuat Tim Junior saat quarter kedua. ya anggap aja sebagai takdir kita. cedera lamanya kambuh lagi .” kata Dini pada Nita. “Benar..” jawab Vira.” ujar Rida. Mereka tetap nggak bakal bisa ngalahin kita. Vira nggak main. Tapi dirinya nggak bisa memungkiri bahwa strategi itu juga menyelamatkan dirinya. Vir.. kenapa lo cetusin ide ini?” tanya Hanna. Betis kanan Vira mulai terasa kaku dan nyeri. Mau apa dia? tanya Pak Isman dalam hati.. Kita nggak bisa secara frontal melawan mereka. “Mereka kayaknya ngubah formasi lagi tuh.” sahut Lusi. Kalo dia tetep ikut main sekarang. aku kok jadi ragu-ragu ya.” “Bagaimana kalo kita menyerang aja seperti waktu melawan Tim Banten di quarter kedua dulu?” usul Poppy. Vira duduk di pinggir lapangan sambil sesekali memegangi betis kanannya. kemungkinan nyeri di betis kanannya akan bertambah dan permainannya pasti nggak maksimal. ini sangat berisiko.“Nggak. Bahkan Pak Isman pun nggak bisa menyembunyikan kekagetannya. “Nggg... Vira ternyata digantikan oleh Agnes.. Karena itu hanya ide ini yang terpikir sama gue. dan Alexa diganti oleh Monika. “Makanya gue bilang. “Biarin aja. Jangan lagi! batin Vira.. Pergantian dirinya emang merupakan bagian dari strategi yang Vira rencanakan dari awal. Mo seratus kali ngubah formasi juga nggak ngaruh.” “Kalo nggak. Vira kuatir.. kalo aja ada ide yang lebih baik.

Tapi Vira nggak peduli. Dia cuman mengharapkan sesuatu yang ada di tribun penonton dan yang diharapkannya belum ada.” jawab Vira berbohong. “Bawel ah. Lo gue butuhin nanti. “Strategi apaan sih? Lo nggak mau ngasih tau gue?” “Ntar lo juga tau kalo udah waktunya. nggak tau berasal dari mana. Mereka bermain lebih menyerang dan nggak memberi kesempatan bagi juniornya untuk melakukan serangan balik.. Gue cuman ngurut-ngurut kaki gue aja biar nggak kram.. Beberapa orang menonton pertandingan ini. *** . nggak kok. “Kok gue juga diganti sih? Kita kan butuh angka banyak untuk ngejar ketinggalan? Kok malah Monika yang masuk?” protes Alexa yang nggak rela dirinya diganti... karena Vira nggak punya rencana untuk istirahat lama-lama. Vira melirik ke arah tribun penonton. walau nggak mudah karena Tim Junior berusaha bertahan sebisanya. Dia pasti bakal masuk lapangan lagi. Vir?” tanya Hanna yang duduk di samping Vira dan melihat Vira sering memegangi betisnya. Permainan bertahan yang diperlihatkan Tim Junior membuat Tim Senior menguasai lapangan. ini bagian dari strategi.justru di saat-saat yang penting baginya. Vira melihat papan skor. Ayolah! Jangan terlalu jauh bedanya! harapnya. terlihat penampilan Tim Junior akan sedikit bertahan. “Eh.” sahut Vira sambil mengurut-urut betisnya.” “Lo nggak papa. Entah apa alasannya. Formasi baru ini ternyata nggak berjalan dengan baik. Angka demi angka berhasil dikumpulkan Tim Senior. Dengan nggak tampilnya Vira dan Alexa. *** Pertandingan quarter kedua dimulai.

. *** “Kita nggak mungkin ngandelin three point terus. “Vira nelepon siapa?” tanya Alexa pada Stephanie.. Sebisa mungkin usahakan melakukan fast break.. “Ini bagian dari strategi. Saat ini skor 23-7. Ini cuman sementara kok. Strateginya lumayan sukses. karena dalam waktu lima menit Sita dua kali memasukkan bola dari tembakan tiga angka. . kapan lo mo keluarin strategi rahasia lo? Quarter kedua udah mo abis.. Hingga skor pun mendekat jadi 25-13. kan?” tanya Stephanie yang kelihatannya juga nggak rela dia diganti.Di pertengahan quarter kedua. lalu dia menekan tombol HP yang dari tadi dipegangnya.. “Nggak jauh dari Hongkong. Lama-lama mereka pasti akan mengantisipasinya. Lalu dia menuju ke bangku cadangan tim senior. “Pokoknya usahakan jangan terlalu jauh tertinggal. tapi nggak bakal lama. Jabatan kapten tim untuk sementara dipegang Rida.” sungut Alexa sambil melihat papan skor.” Vira memberi instruksi. *** Untuk mengejar angka. Vira memasukkan Sita untuk menggantikan Poppy. Vira menjauh dari bangku cadangan dan kelihatan berbicara dengan seseorang.” jawab Lusi. Rina.” “Bentar lagi. supaya kita nggak terlalu tertinggal dari mereka.” komentar Stephanie. “Trus. kalian berdua siap-siap masuk!” Lusi memberikan instruksi. masih untuk keunggulan Tim Senior.. “Mereka ngandelin three point. Vira mengangguk. “Gue tau. masih dengan gaya tenang. “Gue tau. “Dewi.” kata Vira.” jawab Vira.” kata Mira. Stephanie diganti oleh Erina.

” ujar Alexa lagi.. tapi gue yakin dia nggak bakal sengaja bikin kita kalah. Gue juga tau jalan pikiran dia yang kadang-kadang nggak bisa dimengerti oleh siapa pun.... “Mo ngapain?” tanya Stephanie.” “Apa lo yakin dengan strategi Vira? Dia kayaknya sengaja bikin kita kalah.. . “Gue emang nggak yakin dengan strategi dia.” katanya sambil mengedipkan mata kanannya.” katanya sambil mengambil tasnya. “Gue ke kamar ganti pemain dulu. Vira tersenyum.. Nggak lama kemudian Vira kembali ke bangku cadangan. dia nggak pernah mau kalah dari siapa pun. Gue kenal Vira.“Meneketehe...” tandas Stephanie. “Sudah saatnya kita ngeluarin senjata rahasia kita....

gue juga ngerasa gue nggak maksimal mainnya. “GUE butuh bantuan lo buat ngalahin mereka.SEMBILAN BELAS Beberapa jam sebelumnya.. Skill individu.” balas Vira. tapi serasa ada yang kurang. Nggak tau kenapa. pagi-pagi Vira udah nongol di depan rumahnya.” kata Hera. “Gue tau kenapa. Kalo ada lo.. tim lo bagus. Untuk bisa nandingin apalagi ngalahin.” “Tapi gue bisa maen dengan siapa aja kok.” kata Vira. tapi demi tim. atau paling nggak mendekati.. kita harus bisa seperti mereka. gue lupain sementara rasa sebel gue.. Dia masih nggak percaya. Menurut gue. Lo juga tau gimana hebatnya mereka. tepat saat dirinya akan pergi latihan basket di SMA Altavia. paling nggak kekuatan tim kita bertambah. Kemampuan lo nggak keluar semua di tim itu.” Vira ingat ucapan Hera tadi malam. “Gue masih tetap sebel ama lo. Karena lo nggak punya partner yang tepat. Stella yang berdiri di hadapannya cuman diam nggak menjawab. Gue sadar gue butuh tenaga lo kalo mo menang lawan Tim Senior.. “Iya. “Gue lihat pertandingan kualifikasi Kejurnas kemaren.” .. kerja sama. semua di atas rata-rata tim kita. pengalaman.

Apa lo tega ngeliat impian mereka kandas begitu aja?” ujar Vira.” tandas Stella. karena gue nggak mau disalahin kalo tim lo kalah. *** Kembali ke pertandingan. “Gue nggak minta lo sekali ini aja.” lanjutnya. tapi buat temen-temen tim. gue akan dateng.... ya? Sebab gue udah perhitungin.. Lo udah tau juga kan kemampuan mereka saat Kejurnas dua tahun lalu? Kita kan nonton bareng finalnya di Jakarta. Gue aja nggak tau apa yang ada di pikiran Vira sekarang. kan?” tanya Vira.” jawab Stephanie sedikit sewot. tanpa lo kita nggak mungkin bisa menang. yang juga temen-temen lo.. Terserah lo mo ikut ke Jakarta atau nggak. Lo jangan lakuin ini buat gue. Gue udah pernah liat lo waktu bermain di Altavia.. Cuman satu pertandingan dan gue nggak akan ganggu lo lagi. Kalo mood gue lagi bagus. dia?” “Kalo gue nggak mau?” Stella akhirnya buka suara.. “Liat ajar ntar. “Gue juga nggak mau bahas itu. mungkin istilahnya bantuan. setelah melihat Stella tetap terdiam.. “Lo jangan nanya melulu ke gue. Tapi gue harap lo masih punya hati nurani. . pengin menjajal kemampuan mereka? Pertandingannya ntar jam tiga sore di GOR Padjajaran. gue nggak bisa maksa lo. “Emang apa senjata rahasia kita?” tanya Alexa pada Stephanie.“Gue tau.” ralat Vira.. “Lo udah ketemu Hera.” sentak Stella. “Gue nggak mau bahas soal itu. dan gue tau cuman satu orang yang bisa bikin lo dan tim lo sekarang ini jadi lebih baik lagi..” kata Vira.. tapi partner lo nggak ada yang bisa ngeluarin kemampuan terbaik lo.” “Iya. “Ya udah.” “Yang lo maksud. “Bukan tim gue. Gue ke sini cuman mo minta..... Tapi jangan ngandelin gue.. tapi tim kita..” “Lo pasti juga penasaran kan.. gue nggak lupa.

Non. Dan dia nggak sendiri.” sambung Hanna..dan keajaiban. ada tamu. Tapi baru beberapa langkah.” potong Hanna... “Biar gue aja.” “Siapa.. Mudah-mudahan dia membawa kabar baik untuk kita.” Niken keluar dari kamarnya di lantai atas dan terkejut begitu melihat siapa yang ada di ruang tamu. “Kak Aji?” *** “Jadi.. “.. Vira belum balik..“Trus. Vira terlihat masuk dari pintu timur.. “Tuh Vira udah balik!” Seluruh anggota tim berbalik ke arah yang ditunjuk Hanna. “Tunggu aja sampe Vira balik. Saat ini kedudukan adalah 30-17.. “Gue susul dia ke ruang ganti. ini senjata rahasia kita?” tanya Stephanie.” Stephanie mengambil keputusan. *** Tapi sampai berakhirnya quarter kedua.” jawab Stephanie. .” sambung Alexa. kita harus ngapain nih? Nggak ada yang kasih instruksi. “Gimana nih?” tanya Monica dengan napas senen-kemis. *** “Non Niken.. masih untuk Tim Senior.. lalu dia beranjak pergi. Bi?” “Nggak tau.. Hanna berhenti.

. “Nggak. Sekarang udah menit keberapa?” potong Vira.” sambar Stephanie.. Stella Winchest. Hanna.. Lumayan juga ketinggalannya! batin Vira. *** Quarter ketiga dimulai.... dan Alexa.” tanya Pak Nurdin. udah. kontan wajah Lusi berubah. dia bagus?” “Lumayan.“Senjata rahasia? Senjata rahasia apaan?” Stella yang datang bersama Vira jadi bingung. gimana nih?” tanya Hanna. Melihat Stella. sekarang udah mo quarter tiga.. apa dia masuk tim kita lagi? Kok saya belum dengar soal itu?” . “Itu bukannya pemain kita yang udah ngundurin diri.. “Stella. Stella.. “O iya.. “Udah.” “Kamu kenal dengan pemain baru mereka?” “Stella. “Iya.” jawab Pak Isman. iya. dia dulu anggota mereka..? Siapa namanya? Ssstt. nggak papa.. Sttt. Lus?” tanya Mira. “Menit apaan? Quarter dua udah abis. makanya kita jangan sampai lengah.. “Kenapa.. Stephanie.. melihat skor sementara. sekarang kita harus fokus pada pertandingan..” Vira melirik ke papan skor. tapi keluar karena masalah pribadi..” *** Nggak cuman di kubu lawan. Non. “Trus. “Mereka nurunin pemain baru tuh! Siapa?” tanya Mira......” “Oooo.... komentar saat Stella masuk lapangan juga terdengar di tribun penonton. Di quarter ketiga ini Tim Junior menurunkan formasi pemain Vira...

“Ini seperti saat kejuaraan antar-SMA se-Jawa-Bali. kan?” “Lo udah ngerti. Bedanya cuman Hanna. “Iya. tim kita akan pincang. Bener.” “Karena itu kita butuh Stella..“Hmm.?” goda Stephanie pada Vira. Gue sengaja nggak nyebut-nyebut soal ini di hadapan yang lain. yang dulu nggak masuk sebagai starter.” sahut Pak Isman lagi. “Untuk ngalahin mereka. Satu-satunya jalan adalah memakai tim yang udah terbukti solid dan udah tau kemampuan pemainnya satu sama lain.. Tapi setelah ini.. kita harus punya tim yang solid. karena di dalam tim ada temen-temen gue juga. jangan harap sikap gue ke lo berubah. formasi Tim Junior saat ini emang hampir sama dengan formasi starter saat SMA Altavia juara di turnamen antar-SMA se-Jawa-Bali setahun yang lalu.. Vira sudah bicara dengan saya soal ini. dan itu nggak bisa kita wujudkan dalam waktu satu hari.. Gue lakuin ini. “Itu kita... Tanpa dia.. “Gue lakuin ini bukan karena gue mo baikan ama lo. Dan demi mereka gue rela ngelupain sebentar permusuhan kita..” Vira menjelaskan. anak-anak basket Altavia. “Siapa bilang?” Vira ingat ucapan Stella saat di kamar ganti. sebenarnya. Nggak sama sekali!” Stella menegaskan. gue tau. “Kapan? Kenapa saya tidak diberitahu?” *** “Udah damai nih. Padahal kita tetap butuh yang lain sebagai pemain pengganti. takut menyinggung perasaan mereka karena ngerasa nggak dibutuhin.. Stephanie benar. kan?” tanya Stephanie.” . kan? Tim bola basket terbaik yang pernah dimiliki oleh SMA Altavia?” “Yup.” “Vir?” Sapaan Stephanie mengembalikan Vira ke alam nyata.

Kayaknya dia setengah hati untuk pergi memenuhi permintaan Niken....” “Kamu tau kan kalo aku nggak suka basket?” “Tau.. Gue tau Stella. Dia pasti bakal bersifat profesional... The battle continues.. “Jangan kuatir..“Itulah kenapa gue dipilih jadi kapten tim dulu hee. hee. Trus soal lo dan Stella?” tanyanya lagi.. kan?” Aji mengangguk males-malesan.” Stephanie jadi narsis.. *** “Kak Aji nggak pergi ke GOR Padjajaran?” tanya Niken. cuman kan ini Vira yang main. “Nonton basket.. Kak Aji belum ketemu Vira.” Peluit tanda quarter ketiga dimulai berbunyi. gue ama Stella udah sepakat bakal ngelupain persoalan antara kami sementara ini. “Ke GOR? Ngapain?” tanya Aji sambil makan kue nastar yang disuguhkan Niken. Tapi dia segera kembali tersadar pada kondisi yang sedang mereka hadapi. “.tapi kita udah lama nggak pernah bermain bersama.... . hee...

.DUA PULUH MASUKNYA Stella memang benar-benar mengubah permainan Tim Junior. Nggak heran kalo banyak foul yang dibuat Tim Senior yang merupakan keuntungan bagi Tim Junior.. mereka bisa menyamakan kedudukan. Apalagi dia baru main di quarter ketiga. kenapa mereka mendadak jadi hebat gitu? Emang mereka pake doping?” . akurasi menembak. Stephanie. Dari 30-17 pada awal quarter ketiga. dan stamina yang prima. diperkecil hingga 39-31.. tapi juga Vira. “Pemain baru itu..” tukas Lusi.. setelah temannya melakukan foul terhadap Alexa hingga menghasilkan tembakan bebas bagi Tim Junior. Nggak heran. Delapan angka lagi. Permainan cepat yang diperlihatkan Tim Junior juga membuat lawan kelabakan dan sedikit panik. Tim Junior mampu menipiskan ketinggalan.. “Trus.” tanpa sadar Dini memuji lawannya. “Bukan pemain baru itu yang hebat. jadi tenaganya masih fresh.. Stella punya segalanya. “Kenapa sih kalian!? Ayo semangat!” seru Lusi memberi semangat pada temantemannya. Teknik.. Sebagai center. Angka yang didapat Tim Junior bukan cuman berasal dari Stella. bahkan Alexa. Kemampuannya nggak jauh beda dengan yang lain. ternyata dia hebat juga.

Vir!” seru Stephanie. Makanya dia bisa kalah duel ama Stella. “Defend!” seru Lusi memberi komando. Steal! Dan turn over! Tanpa banyak gerakan. Sorak-sorai terdengar di kubu Tim Junior. Sekarang mereka nggak seperti menghadapi Tim Junior.” kata Lusi. dan kedua pilihan itu nggak mudah. kali ini Stella berhasil memenangi duel tersebut. Dia harus mengoper bola atau menembak ke ring. secara nggak terduga Vira . seolah-olah mereka mendapat kekuatan baru. Nggak ada yang tau apa artinya.“Nggak tau kenapa. Enam angka lagi selisih angka kedua tim. Di luar dugaan. Dewi coba membantu temannya hingga sekarang posisi Vira terjepit. salah satu indikasi bahwa stamina Lusi udah terkuras juga. Stella langsung mengoper bola pada Vira yang datang dari arah belakang. Alexa coba mengganggu gerakan Lusi. Duel dua center kembali terjadi. Dengan skill-nya. Dribel sebentar. Vira membawa bola menyisiri sisi kiri lapangan lawan. dia berhasil melewati hadangan Alexa dan terus mendribel hingga melewati garis tengah lapangan. Dini memegang bola. dan nggak seperti sebelumnya. hingga dia nggak mungkin lagi meneruskan mendribel. atau akan terkena double. karena dia satu-satunya pemain Tim Senior yang belum pernah digantikan sampai quarter ketiga ini. Ucapan Lusi ada benarnya. Dua kali tembakan bebas Alexa masuk. bertukar posisi dengan Alexa yang mundur ke belakang. sampai Vira bersiap melakukan posisi menembak. Saat Dewi berusaha memblok tembakan Vira. “Tembak. Duel dua center kembali terjadi. Vira mengangkat tangan kirinya dan jarinya membentuk huruf O. menghasilkan angka 39-33. Dengan dibayang-bayangi Ilana. Vira udah berhenti dan menangkap bola. sementara dua pemain lawan terus mengganggunya. tapi cewek itu lebih sigap. tapi menghadapi lawan yang punya kelas yang sama. Suaranya udah terdengar serak dan nggak begitu lantang lagi. dia mengoper pada Lusi. dan Stella mencoba menghadangnya. Lo nggak liat kemampuan yang lain juga jadi meningkat? Seakan-akan tadi mereka belum ngeluarin kemampuan mereka. dan nggak seperti sebelumnya.

. tinggal tiga menit lagi. Itu memang salah satu kebisaan mereka. sampai seseorang yang berada di tengah lapangan menangkap bola yang dilemparkan Vira. Walau cuman beberapa orang plus pemain cadangan.memutar badannya sedikit ke kanan. walau sudah lama. Tapi Lusi nggak menggubris permintaan Dini.” komentar Pak Nurdin.” kata Vira pada Stella. Mulanya nggak ada yang tahu kenapa Vira tiba-tiba melempar bola ke tengah lapangan tanpa melihat arah lemparannya. *** Mira berhasil menambah angka untuk Tim Senior melalui jumping shot-nya.” sahut Pak Isman. Stella nggak menanggapi ucapan Vira.. terutama Vira. . dan tanpa terkawal dia melakukan lay-up manis. “Time-out.” Lusi memberi alasan. “Saya belum pernah melihat yang seperti tadi. 39-35! Gor Padjadjaran kembali bergemuruh dengan sorak-sorai pendukung Tim Junior. sorakan mereka memberikan keriuhan tersendiri. Stella langsung berlari menuju ring.. “Tanggung. “Saya pernah melihatnya.. dan tiba-tiba melemparkan bola ke arah tengah. Vira melakukan blind pass dan yang menangkap bolanya adalah Stella! Belum sempat kekaguman lawan atas blind pass yang dilakukan Vira. Lus!” Dini minta Lusi sebagai Kapten Tim Senior supaya mengajukan time-out. Dia cuman mendengus pelan. Tapi Tim Junior balik membalas melalui tembakan tiga angka Sita yang masuk menggantikan Hanna. Bahkan Pak Isman pun sampai bertepuk tangan menyambut aksi Vira dan Stella.. *** “Untung lo masih ingat kode kita dulu.

atau strategi yang dijalankan nggak berhasil. Selain itu dia masih penasaran dengan duel terakhirnya melawan Stella. . dia kembali mencoba melewati Vira. nggak mau berduel dengannya. Vira juga melepas Lusi. Tapi Stella nggak mau terpancing. tapi terus menempel Lusi.. Tapi selama quarter ketiga ini. Giliran Tim Senior menyerang. dan berikutnya giliran Vira yang menghadang.Sebetulnya permintaan Dini itu wajar. Inisiatif selalu diambil oleh Tim Junior yang udah minta dua kali time-out.!” Teriakan teman-temannya seakan nggak didengar Lusi. Mereka terus mendapat tekanan dari para junior dan keunggulan angka yang cukup jauh berhasil dipangkas. kalo nggak bisa dibilang menurun.. Sementara waktu terus berjalan. Para pemain bisa beristirahat sejenak sambil merencanakan strategi berikutnya. Pertanyaan Lusi terjawab saat Stella kembali menghadangnya. Lusi memutar badannya sambil mendribel. Dengan skill individunya. Dia sibuk berusaha lepas dari tempelan Stella. Tapi entah apa yang ada di pikiran Lusi. time-out adalah jalan terbaik. Lusi harus segera menembak bola ke ring atau dia akan terkena shot violation. “Oper. Dari garis tengah dia membawa bola mendekati area three point shot Tim Junior. menenangkan mental para pemain yang biasanya jadi down kalo ditekan tim lawan terus-terusan. Dan aneh. tapi tetap menerapkan strategi bermain yang hampir sama. Apa-apaan ini? tanya Lusi dalam hati sambil terus membawa bola. Lusi kali ini nggak mau kecolongan lagi. Duel dua center kembali terjadi. seperti juga Stella. jika suatu tim mendapat tekanan terus-menerus dari lawan. “Oper. Dalam permainan basket. Dia malah melepas Lusi. atau sekadar menarik napas. Lus!” seru Mira. Tim Senior nggak pernah meminta inisiatif timeout. Dia berusaha mengecoh Stella dengan melakukan gerakan ke kanan. sejak awal quarter ketiga permainan Tim Senior nggak berkembang. Kali ini Stella nggak melepasnya seperti tadi. Mereka cuman berulang kali mengganti pemainnya. Karena walaupun masih unggul 41-38. Lusi yang mendapat operan bola dari Clara memutuskan untuk mencoba menerobos pertahanan Tim Junior sendirian.

. ke arah Stephanie. ternyata anak-anak junior itu nggak sebodoh yang kita kira. Kedudukan saat ini adalah 41-40. tempat seseorang udah siap menanti. Dia berhasil melewati Mira yang udah kecapekan. Vira? Vira menerima bola muntahan hasil duel Stephanie versus Dewi dan langsung menggiringnya menuju ring. Dia kemudian langsung menuju ring dan siap memasukkan bola. *** “Kamu kenapa sih? Beberapa menit terakhir ini kamu selalu maen sendiri!” tanya Mira dengan nada kesal pada Lusi saat quarter ketiga berakhir. Apa kamu nggak sadar mereka udah ngincer kamu?” Ucapan Mira membuat Lusi terperangah.. Stephanie berduel dengan Dewi di udara untuk mendapatkan bola operan Stella. “Tadi apa buktinya? Kamu bisa oper ke yang lain. “Ngincer aku? Maksud kamu?” “Heh. saat tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang aneh. Sementara itu Stella langsung melemparkan bola ke depan. satu-satunya pemain yang belum pernah . Lusi berhasil lepas dari hadangan Stella. Tim Senior sekarang cuman unggul satu angka dari Tim Junior.Dengan susah payah.. Mana bolanya? Ternyata Lusi udah nggak memegang bola. Mereka cukup cerdik untuk terus ngincer kamu. Bagaimana bisa? Kapan dia merebut bola? Lusi berusaha merebut kembali bola dari Stella. dan menembak langsung. tapi langkahnya tiba-tiba terasa berat. Benda bulat berwarna oranye itu sekarang ada dalam genggaman Stella.. Nggak ada yang mendapat bola karena secara nggak terduga Stephanie cuman mendorong bola kembali ke tengah lapangan. “Siapa yang maen sendiri?” elak Lusi. membawa selisih angka kedua tim makin menipis. tapi kamu maksain untuk masukin sendiri.

“dengan keluarnya Lusi. Vira tersenyum lebar.” Quarter keempat pun dimulai. Kamu terlalu capek..” “Lusi.” kata Alexa... Sebaiknya kamu diganti dulu. “Akhirnya Lusi diganti juga tuh. jangan bandel.” sahut Vira..” Ucapan Mira yang didukung pemain lain akhirnya membuat Lusi menyerah. center mereka dua kali berturut-turut berhasil mencuri bola dari kamu. walau mungkin untuk sementara. Buktinya. . udah deh. Nanti di pertengahan quarter keempat. suasana mendung masih belum hilang dari wajahnya. kekuatan mereka jadi berkurang.diganti sejak pertandingan dimulai.. mereka pasti bakal ngelakuin ini. Aku kira kalo saat ini ada pelatih di antara kita.. kamu bisa masuk lagi. bahkan yang terakhir dilakukan dengan mudah. “Berarti strategi kita berhasil. Mereka tau kamu udah kecapekan. Nanti kita tetapkan strategi yan gudah kita susun pada menit kelima. Walau begitu. seperti merebut permen dari anak kecil aja!” “Aku nggak kecapekan kok! Sumpah! Aku kuat maen sampe empat quarter tanpa diganti..

Sita menghadang.” Menit-menit pertama quarter keempat atau quarter penentuan. sedang Poppy masuk lagi menggantikan Alexa. Mira berhasil lolos dan langsung mengoper pada Dewi. sedang Poppy ada di belakangnya. karena Alexa.” Vira coba menghibur Sita yang merasa bersalah. coba merebut bola. Tin junior sekarang memegang bola. Operan panjang Ilana dari belakang diterima dengan baik oleh Mira.DUA PULUH SATU STEPHANIE digantikan Agnes di quarter keempat. Tapi gerakan Sita malah mengganggu pergerakan Dewi. Kelihatan banget Sita kebingungan mengoper bola pada siapa. Vira membisikkan sesuatu ke telinga Sita. Tim Senior yang kali ini tanpa Lusi coba melakukan fast break. Dua kali tembakan bebas masuk. Kelihatannya Tim Junior akan melakukan strategi bertahan. dan Vira dijaga ketat masingmasing oleh pemain lawan. “Kamu bisa. yang langsung mendribel hingga tengah lapangan. “Nggak papa. Sita coba memancing lawan supaya terpecah konsentrasinya dengan mencoba masuk ke area three point . “Mudah-mudahan. Tembakan bebas untuk Tim Senior. Dari Poppy dioper pada Sita. Saat Dewi mencoba mendribel bola. kan?” tanya Vira pada Sita. yang lalu mencoba lolos dari hadangan Poppy. Stella. tenang aja. Mengubah kedudukan menjadi 43-40. hingga terjadi foul.

tapi Mira bisa berkelit dan masuk ke daerah three point shot. Tim Senior rupanya udah tahu bahwa otak Tim Junior adalah Stella dan Vira. seperti memberi isyarat pada Sita.” Ucapan Vira itu seakan memberikan kepercayaan baru pada Sita. tapi posisinya kurang menguntungkan. Ada Clara di sana. Fast break! Stella berlari cepat. Tapi Vira udah tahu hal itu. Dewi mencoba menerobos masuk. lakukan. melewati hadangan Vira. Jadi para pemain Tim Senior menjaga ketat Vira dan Stella. dan Tim Junior akan kehilangan setengah kekuatan mereka. Dewi mencoba berkelit ke samping. yang dibangun oleh Mira. Poppy berhasil meraih bola. Sekali berkelit. Vira mengangkat tangannya. Dihadang oleh Agnes. dan langsung mengoperkan pada Stella. Mira memberikan bola pada Clara. Matikan keduanya. Vira mencoba mengganggu pergerakan Dewi. bahkan sampai dua orang pemain menutup pergerakan mereka.shot. Wajah Sita terlihat ragu-ragu. Tangan kanannya berhasil menepis bola lepas dari tangan Dewi. Clara memilih mengoper bola kembali pada Mira. Clara yang berusia hampir tiga puluh tahun kalah tenaga dan stamina dibanding Stella yang jauh lebih muda. tapi ada Poppy di situ. Masuk! Kedudukan sekarang imbang 43-43. Kapan dan di mana aja. tapi nggak ada yang terpancing. langsung menuju ring lawan. tapid ia kembali teringat ucapan Vira saat berbisik tadi. Vira mengacungkan jempolnya ke arah Sita. Sita mencoba menghadang. Dari tengah lapangan. ada Vira yang berlari dari tengah lapangan. Dari jarak yang cukup jauh di luar area three point shot. Bola liar ke sisi kanan. Nggak masuk! Bola mengenai bibir ring dan memantul lagi ke dalam lapangan. Kembali Tim Senior melakukan serangan. membuat Sita tersenyum lebar. Sita menembak. Mira mengoper bola pada Dewi. yang bergerak lebih cepat daripada Ilana. Nggak disangka-sangka. yang kemudian berlari menyusuri lapangan. Kita butuh kesempatan mendapat poin sekecil apa pun. “Kalo ada kesempatan menembak tiga angka. Vira melompat dan . berhadapan dengan Stella. Stella langsung menembakkan bola tanpa ada satu pun lawan yang membloknya.

Lusi juga masuk lagi tuh! Apa dia bisa nandingin Lusi?” ucapan Stella merujuk pada Rida. “Siapa sih yang ngasih kewenangan lo jadi pelatih? Kenapa nggak lo aja yang diganti?” Stella mendengus kesal dan duduk di kursi pemain cadangan.. Rida. tapi ini strategi.. Alexa masuk gantiin Poppy. dan angka masih ketat. kamu gantiin Stella. “Mana gue tau!” jawab Stella sambil menatap Vira dengan pandangan iri. Ucapan Vira membuat Stella yang lagi minum menoleh ke arahnya. *** Selanjutnya. “Strategi apaan? Waktu tinggal enam menit lagi. dan Sita?” “Siapa bilang gue ikut maen?” “Jadi?” . “Da. seperti yang udah-udah. Vira bisa nombok?” tanya Stephanie pada Stella.berhasil menangkap bola yang masih berada di udara.. lo.. Alexa. angka seperti berkejar-kejaran. slam dunk! 43-45! Untuk pertama kalinya Tim Junior memimpin perolehan angka..” “Tunggu!” Stephanie memotong ucapan Vira.” “Lho..” kata Vira. Tetep lima lah.” kata Stella. Emang lo mampu nandingin dia yang kembali segar bugar? Mending lo istirahat dulu dan kasih kesempatan Rida yang masih fresh.. “Justru itu. Tumben.. “Gue masih kuat kok. jadi Rida gantiin Stella dan Stephanie masuk lagi. dan langsung tukar posisi dengan Agnes. “Agnes nggak keluar? Kalo gitu ada enam orang dong... “Bukan masalah lo masih kuat atau nggak. hingga menit keenam saat Tin Senior meminta time-out. “Oke. dia nggak menyebut Rida dengan sebutan anak kampung.” “Nggak. lalu coba memasukkannya ke dalam ring dengan cara. berarti yang maen gue.” sahut Vira.” Stella pengin menanggapi ucapan Vira. Agnes. tapi pundaknya ditepuk Stephanie.

*** “Vira dan Stella diganti? Nekat benar mereka. “Jangan kuatir. Jangan pernah memandang remeh kemampuan teman kita. apalagi lo juga ikutikutan diganti. Dengan kembali masuknya Lusi..” komentar Pak Nurdin saat pertandingan dilanjutkan lagi. Udah nggak ada waktu lagi kalo lo mo nerapin berbagai macam strategi...“Lo gantiin gue. saat ini emang boleh dibilang Tim Senior turun dengan kekuatan terbaiknya... “Saya rasa mereka punya pertimbangan tersendiri.. Kepercayaan merupakan salah satu kunci untuk membangun kebersamaan dalam sebuah tim. trus Agnes tuker posisi dengan Alexa. “Ya maulah. Yang ditanya mengangguk. Masih banyak waktu kok. ya!? Ngeganti gue aja udah merupakan kesalahan. Lo bisa jadi guard. kan?” tanya Vira ke Agnes.” sahut Pak Isman yang udah mulai bisa memahami jalan pikiran anak-anak didiknya. “Trus kenapa tim cadangan yang turun? Kecuali Alexa dan Steph.” jawab Vira. yang lainnya kalah skill dari mereka. *** “Lo gila. Saat ini kalo mo menang. lalu tuker posisi dengan Agnes.. Lo mo menang nggak sih?” omel Stella di bangku cadangan.” tandas Stella. karena mungkin suatu saat kita akan bergantung kepada teman yang . Kita harus kasih kepercayaan ke yang lain untuk nunjukin kemampuan mereka juga. Liat. mereka ternyata lebih ngerti daripada kita. “Gue nggak tau jalan pikiran lo!” *** Vira benar..” sahut Vira tenang. the best team and the best strategy should be shown.

Rida cepat mengulurkan tangannya. Pada angka 51-49. Akibatnya kaus Rida ikut tertarik ke bawah. . “Heh! Maen yang bener dong!” omel Dini sambil menunjuk Rida. Tapi anehnya.kita remehkan itu. menimpa tubuh Lusi. hingga pertandingan tetap berlangsung ketat. Sebelum terjatuh Lusi sempat memegang kaus Rida. “Yang bener apanya? Udah jelas pemain lo yang coba ngejar dan narik baju. Siapa yang nggak bener!?” Alexa yang maju menanggapi. Bola yang dipegang pemain berusia 26 tahun itu berhasil ditepis Rida. Sementara itu Lusi digotong ke pinggir lapangan sambil menunggu tim medis. Shit! rutuk Lusi dalam hati. Untung suasana nggak keburu memanas karena masing-masing keburu ditenangkan rekan-rekan setimnya. dan itu membuat Rida berhasil merebut bola. tapi Rida bisa berkelit. Saat Lusi berkelit. Dia masih mengerang kesakitan. kontrol bola Lusi nggak seketat dalam posisi diam. Lusi tetap tergeletak sambil memegangi betis kirinya dan meringis kesakitan. ternyata Rida dan kawan-kawan bisa mengimbangi permainan Tim Senior yang udah turun dengan pemain-pemain terbaiknya. Saat akan melewatinya. Akibat terlalu memaksakan diri mengikuti gerakan tubuh Rida. Lusi berusaha merebut kembali bola dari Rida. Lusi terlibat duel di tengah lapangan. dan Rida ikut terjatuh. Steal! Rida berhasil memanfaatkan stamina Lusi yang belum sepenuhnya pulih. Dia tentu aja nggak rela bolanya direbut. dan terjatuh. Lusi nggak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya. Beberapa di antaranya terpancing emosinya melihat rekan satu tim mereka terkapar kesakitan. Pemain Tim Senior lainnya segera mengerubungi Lusi. Faktor stamina yang lebih segar karena sempat beristirahat membuat perbedaan skill mereka dengan Tim Senior menipis. Dan walau boleh dibilang hanya menurunkan tim cadangan. Foul! Rida segera bangun dan pergi ke sisi lapangan. tapi bisa ditangkap lagi olehnya. apalagi oleh anak junior yang dianggapnya belum tahu apa-apa.

yang rugi daerah kita juga. “Gue mo masuk. “Mo main lagi nggak?” tawar Vira pada Stella. “Secara pribadi. Posisinya digantikan oleh Ilana.. Terserah kalo lo nggak mau. “Mudah-mudahan cederanya nggak parah dan dia bisa main lagi.” Vira memberi alasan. “Sialan lo. Tapi mungkin ini kesempatan terakhir lo main bareng gue.” sambung Vira. apalagi parah. ngedoain orang yang baik-baik kan dapet pahala. gue nggak punya masalah ama dia. Iya.“Lusi kenapa? Cedera?” tanya Hanna dari bangku cadangan. Saatnya main habis-habisan. nggak?” lanjut Vira. bikin Stella tambah kesel. “Lagi pula. ini malah ngedoain dia bisa main lagi!” sungut Stella. kemudian menghabiskan minuman yang dipegangnya dan berdiri menyusul Vira.” Vira meneguk minumannya. daripada ngedoain yang jelek-jelek.. *** Cederanya Lusi serta masuknya kembali Vira dan Stella membuat hasil akhir pertandingan sepertinya udah diketahui. Pertandingan emang tinggal tersisa kurang dari dua menit lagi.” lanjut Vira. Apalagi suka atau nggak suka. “Dasar orang aneh! Justru cederanya dia adalah keuntungan buat kita. “Emang kenapa? Tim kita masih ketinggalan. jadi gue nggak ngedoain cederanya jadi parah. lalu menuju ke tengah lapangan. Lusi adalah salah satu pemain terbaik Jawa Barat. Bahkan dia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mengatasi cederanya. Kalo dia sampe cedera. Vir!” rutuk Stella. Eh. *** Lusi akhirnya emang nggak bisa melanjutkan sisa pertandingan. Setelah Rida menyamakan kedudukan . “Dengan sisa waktu segini?” Stella balik nanya.

kemenangan ini juga membuktikan bahwa kemampuan Tim Junior nggak kalah dengan para seniornya.. Vira dan Stella bahkan dua kali membuat blind pass. Mereka udah kecapekan dan udah nggak mampu lagi mengimbangi stamina juniornya yang masih kelihatan segar. seolaholah mereka udah jadi juara di suatu turnamen. *** Lima. “Kita akhirnya ke Kejurnas!” teriak Poppy meluapkan kegembiraannya. Tim Senior seperti anak ayam kehilangan induk.. dan hal itu benar-benar dimanfaatkan juniornya. Di akhir-akhir pertandingan. *** “Pertandingan yang menarik. Dia lalu memeluk Sita yang juga sedang meluapkan kegembiraan. gemuruh kegembiraan langsung terpancar di kubu Tim Junior.... dan Vira sekali lagi melakukan slam dunk yang dipelajarinya dari Hera. Hasil yang cukup meyakinkan mengingat lawan yang mereka hadapi. Vira dan Stella dibantu Stephanie seperti menguasai lapangan.. dua. Selain sebagai tiket mereka ke babak final Kejurnas.. “Jadi akhirnya kita akan mengirim Tim Junior?” tanya Pak Isman.” komentar Pak Nurdin.. Tim Junior berhasil memenangi pertandingan dengan hasil akhir 62-56. . empat. Begitu wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir. tapi tetap nggak bisa memperbaiki keadaan mereka. Fast break yang mereka lakukan membuat para pemain senior keteteran.. sekaligus memupuskan keraguan sebagian pihak tentang kemampuan mereka. Kontras dengan suasana di kubu Tim Senior yang terlihat lesu dan muram. Sebagian dari para pemain cadangan bahkan masuk ke lapangan dan memeluk rekan-rekannya yang bertanding. Tim Senior melakukan dua kali time-out untuk mengubah strategi dan mengganti pemain. tiga..lewat dua kali tembakan bebas. satu.

kita bicarakan dalam rapat besok pagi. Stella melirik Vira dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun pergi menuju ruang ganti. soal itu.” jawab Pak Nurdin singkat. *** Vira mendekati Stella yang lagi minum di pinggir lapangan..“Hmm.. . Meninggalkan yang lain yang masih larut dalam kegembiraan.” ujar Vira.... “Makasih.

yaitu menjadi pemain basket putri provinsi Jawa Barat. Salah satunya adalah sekolah. Vira sebetulnya lebih suka melihat ekspresi wajah anggota Tim Senior saat quarter keempat berakhir daripada melihat ekspresi wajah teman-temannya. tapi karena Vira mengawali hari ini dengan sesuatu yang baru. apalagi jika rutinitas itu dirasa membosankan. Tapi bagi Vira. tapi Vira merasa baru kemarin dia resmi menyandangnya setelah Tim Junior Jawa Barat berhasil mengalahkan seniornya. Emang. Ya. Vira juga menyesalkan cederanya Lusi. atau hari ini dia menang undian. Ekspresi wajah yang kelihatan begitu kesal dan seakan-akan seperti nggak ada harapan untuk hidup lagi. hari ini adalah Senin yang membahagiakan. saat orang-orang kembali ke aktivitas dan rutinitas semula setelah menikmati liburan akhir pekan. Vira juga gembira karena bisa bermain kembali bersama Stella dalam satu tim dan .DUA PULUH DUA I don’t like Monday! Itu adalah istilah yang sering terdengar setiap Senin. Bukan karena hari ini nggak ada ulangan. mulai hari ini dia menambah satu lagi catatan pentingnya. Meskipun kebahagiaannya sedikit berkurang akibat cederanya Lusi. walau itu bukan salah siapa-siapa. Status itu sebetulnya udah disandang Vira sejak dia ikut kualifikasi Kejurnas. setelah liburan paling malas untuk kembali ke rutinitas sehari-hari. Dia nggak tahu apakah cedera pemain senior itu parah atau nggak. Tapi.

“Vir?” “Heh?” . “Nggak.. tapi nggak tega karena kamu pasti kecapekan.” Vira manggut-manggut. Tadinya dia mo bangunin kamu.” “Gitu ya. tadi subuh. Vira turun ke lantai bawah. “Jangan harap.. Makanya dia cuman nitip salam lewat aku.. “Sita pergi ke terminal bus ama siapa?” tanya Vira seperti teringat sesuatu. Kalo dia sih mending minta ulangan susulan daripada bela-belain ngejar waktu. walau mereka berdua belum berdamai. Di sana cuman ada Niken yang lagi mengerjakan latihan soal di ruang tengah. Temennya nunggu pake motor di ujung jalan. Vira sendiri sangsi. “Sita udah pergi?” tanya Vira. *** Selesai mandi dan berpakaian seragam sekolah.” jawab Stella. Katanya dia nggak mau suara motornya bangunin orang karena masih subuh. Siapa lagi yang nganterin Sita kalo bukan Rei? batin Vira. Dia udah pamitan kok tadi malem..menikmati salah satu pertandingan terbaiknya. “Lo nggak akan berubah pikiran untuk masuk lagi ke dalam tim? Kita mungkin bisa juara kalo lo ikut.. “Aku tau. Apalagi katanya hari ini ada ulangan di kelasnya..” “Katanya?” “Sita bilang gitu. “Kenapa?” tanya Niken. apa Sita bisa ngerjain ulangan padahal nggak sempet belajar. “Udah..” jawab Niken.” Vira lalu menyantap nasi goreng sosis bikinan Bi Sum.. Sementara Niken meneruskan mengerjakan latihan soalnya.” Sita emang pulang ke Tasik pagi-pagi karena dia nggak mau bolos sekolah. “Katanya sih ama temennya.. nggak papa.” tanya Vira pada Stella.

.” Niken melihat nomor yang tertera di phonebook HP Vira. “Vir?” “Ya?” . “Boleh. kali. Pertanyaan Vira membuat Niken menoleh dan menatap tajam ke arahnya. dan aku tadi malem lupa ngecharge.” sahut Vira.” jawab Vira tergagap-gagap... “HP-nya dimatiin...” ujar Niken.. Kak Aji selalu nyalain HP-nya..” Niken seolah-olah bicara pada dirinya sendiri. tau. kan?” “Tentu aja. “Kamu nggak punya nomor HP Kak Aji yang baru? Berarti selama dia di sini kamu belum pernah telepon-teleponan ama dia?” “Eh.... “Eh. HP-ku baterainya abis.. Kak Aji lagi ada di Bandung?” tanya Niken. Ini nomor Kak Aji yang lama. “Eh. “Nggak aktif...” “Pinjem HP-mu dong.” “Trus....” kata Niken.. kali. ke pacarnya sendiri. dia nggak ngasih tau kamu? Dan dia nggak ngasih tau kamu kalo mo ke Bandung? Tega bener kakakku ya. “Dia mo kasih surprise. Emang no nelepon siapa?” “Kak Aji. di mana pun.” “Nggak...... pas dia ganti nomor. “Pantes aja.. eh. Dan dia juga nggak pernah lupa nge-charge baterai HP-nya kalo udah low.. Kamu nggak punya nomor HP Kak Aji yang baru?” tanya Niken. “Udah ketemu dia?” “Belum. emang dia ganti nomor. Ambil sendiri di tas deh.“Udah ketemu Kak Aji?” Ucapan Niken membuat Vira menghentikan gerakannya yang akan menyuap nasi ke dalam mulut. Nomor Kak Aji yang di sini ada di phonebook kamu. “Kamu tau kan..” Niken menekan nomor telepon Aji di HP Vira. kan aku sibuk latihan. ya?” Vira malah balik nanya. Aku lupa mo ngomong sesuatu ke dia. atau baterainya abis. Paling ntar pulang sekolah... Nggak lama kemudian..

aku nggak bakal ikut campur soal hubungan kalian. Aku cuman mo jaga perasaan kamu..” Dua bulan? Dan selama itu Niken nggak tahu? Dia juga nggak menangkap perubahan tingkah laku Vira dua bulan yang lalu...” Mendengar jawaban Vira.. Aku ngambil kesimpulan ini setelah liat kalian berdua. . bahkan mulai menyendok nasi gorengnya lagi. Tapi bukan berarti aku bakal maksain kamu harus jadian ama dia.. siapa yang menyangka kalo Vira udah putus dengan kakaknya? “Jangan tanya kenapa.. Beberapa menit kemudian dia mengangguk. “Apa?” “Kapan kalian putus?” “Udah agak lama sih. Dia nggak cerita apa-apa. Seolah-olah nggak saling kenal.” tandas Niken... walau dia kakakku. Bukannya aku nggak peduli. ya mo gimana lagi. kenapa sih harus mikirin perasaanku? Walau aku temen kamu dan Kak Aji itu kakakku. kenapa kamu ngerahasiain ini ke aku? Kak Aji juga. Yan gaku heran..... “Vira. Dan aku juga minta Kak Aji untuk berbuat hal yang sama.. gitu. sekitar dua bulanan.” “Aku emang sengaja ngerahasiain ini. Jadi. Aku seneng kamu bisa deket ama Kak Aji.” Vira terdiam mendengar ucapan Niken. Vira. Bahkan kalo Kak Aji macem-macem ke kamu. ya?” “Kata siapa?” “Vira.. contohnya dirinya. Niken cuman tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.” “Kapan?” tanya Niken lagi setelah Vira kelihatan cuek aja.. “Jangan kuatir. Kalo emang kalian nggak jodoh. Kak Aji kan kakak kamu.” tandas Vira. “Kak Aji yang bilang ke kamu?” tanya Vira. “Nggak. nggak seperti orang lain kalo putus cinta.. karena aku nggak bakal membahasnya. aku akan membela kamu.“Kamu udah putus ama Kak Aji. aku nggak bakal nanya...

walau udah dicari jalan keluarnya.” Vira melirik jam tangannya. Kalo Pak Isman udah pulang ya udah. jadi pasti Pak Isman ada di sana. Ternyata Rida belum pulang.. “Berangkat yuk! Ntar terlambat lagi! Kamu mo bareng aku.” *** Pulang sekolah. lagi. Mo ngebahas soal kemungkinan masuknya Stella ke dalam tim kita.“Jangan kuatir. lagi ngobrol bareng temen-temennya. Kami putus bukan karena dia macemmacem atau aku yang salah. Kamu?” “Belum juga.” “Kenapa nggak nelepon dulu?” “Nggak usah.” Saat Vira akan mengambil tasnya yang ada di ruang tengah. kan?” kata Vira.” sahut Vira. “Belum.” kata Niken sambil tersenyum jail. Nomor dia tetap yang ada di phonebook HP kamu. “Emang mo bareng siapa lagi? Kamu udah selesai makannya?” “Udah. “Dasar kamu. ntar ngeganggu. “Kamu udah dapet SMS dari Pak Isman?” tanya Vira. “Syukur deh kalo begitu. Kamu mau ikut?” “Emang Pak Isman ada di sana?” “Kemaren sih kata Pak Isman ada rapat pengurus PERBASI dan jajaran pelatih sampe siang.. Niken menyerahkan HP Vira yang sedari tadi dipegangnya.. “Kak Aji nggak pernah ganti nomor kok. Aku mo ke GOR Padjadjaran pulang sekolah ini. Kami putus cuman karena ngerasa udah nggak cocok aja. Karena itu kami sepakat untuk putus secara baik-baik.” Rida mengangguk mengiyakan. dan ada perbedaan pandangan di antara kami yang sukar disatukan. . Vira setengah berlari menuju kelas Rida. Kakakmu orang baik kok. Mo ikut nggak? Sekalian kamu bantu aku ngomong. nggak masalah.

karena kemampuan tekniknya tidak kalah dari seniornya. *** “Digabung?” Vira nggak percaya dengan apa yang didengarnya dari Pak Isman. Vira. untuk babak final Kejurnas nanti akan segera dibentuk satu tim baru. Lalu dia memperkenalkan Vira dan Rida ke beberapa pengurus PERBASI Jabar yang ada di situ dan belum mengenal mereka berdua. Sebagian pengurus masih lebih yakin dengan kemampuan Tim Senior yang dua tahun lalu berhasil masuk final. “Maksudnya apa?” tanya Rida. Juga ke Rida. “Hai. ada beberapa pemain junior yang akan dimasukkan. hingga diharapkan dua tahun lagi para pemain junior itu dapat menggantikan peran para seniornya.*** Saat Vira sampe di Sekretariat PERBASI Jawa Barat.” Pak Isman menjelaskan. kebetulan. Dia dan Rida segera menghampiri si pelatih.. Vira harus menunggu hampir satu jam sebelum dia melihat para peserta rapat keluar dari ruangan. Bapak pengin membicarakan sesuatu ke kamu. Walau begitu. termasuk Pak Isman.. “Tadi rapat pengurus dan pelatih memutuskan. . nggak ada satu pun dari para pengurus itu yang memberi ucapan selamat atas kemenangan Tim Junior kemarin.” kata Pak Isman. yang pemainnya merupakan gabungan antara Tim Senior dan Junior. Demikian juga Rida. Tapi Vira nggak peduli soal itu. ternyata rapat belum selesai. Selain itu juga untuk memuluskan proses regenerasi di tim hingga para pemain junior itu akan memperoleh pengalaman di Kejurnas. Anehnya.

Nggak janji deh. soal pembentukan tim dan sebagainya ditentukan oleh Badan Tim Nasional. “Kenapa. Tapi Bapak pastikan Vira bakal masuk tim.. Bapak sendiri secara pribadi tidak masalah siapa yang akan pergi. Kita kan hanya akan membawa paling banyak dua belas pemain. Bapak hanya bertugas melatih dan merekrut pemain. Tapi mendengar kabar yang di luar dugaannya itu. kalau Stella bagaimana? Dia mau bergabung lagi?” Justru inilah yang akan dibicarakan Vira. “Dan asal kalian tahu. tentu saja dengan kriteria yang ditetapkan mereka. Oya. Pak?” tanya Vira. Mungkin dari Tim Junior hanya akan dipilih sekitar empat atau lima orang.” Pak Isman berhenti sebentar sebelum melanjutkan. tanpa embel-embel bakal digabung dengan Tim Senior. “Kenapa apa?” “Kenapa bukan kami semua yang pergi? Padahal mereka udah janji. tapi ternyata pihak pengurus punya rencana tersendiri. bisa jadi pilihan alternatif kita di Kejurnas nanti. pemenang pertandingan kemaren bakal dikirim ke babak final. Mira. . Bapak baru akan membicarakan soal ini dengan tim pelatih.Vira nggak bisa membayangkan dirinya berada satu tim dengan Lusi. Vira memutuskan untuk nggak membahas soal ini. padahal duet kalian berdua tidak kalah dengan duet Lusi dan Mira.. kita nggak semuanya tampil di babak final?” tanya Vira.” lanjut Pak Isman. Ditambah Stephanie. sebetulnya soal ini diputuskan setelah ada protes dari Tim Senior soal pertandingan kemarin. dan Bapak tidak bisa berbuat apa-apa karena Bapak tidak punya wewenang di situ. “Tim Junior? Tentu saja tidak. Kenapa mereka mengingkari janji lagi?” Pak Isman menghela napas mendengar pertanyaan Vira.. “Kamu kan tahu. karena baik kalian maupun Tim Senior punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. “Sayang. Apalagi harus bekerja sama dengan mereka. atau pemain senior lainnya yang memandang remeh kemampuannya. Bapak ingin Tim Junior yang pergi sesuai perjanjian kemarin.” Nggak kalah dengan duet Lusi dan Mira? Kami lebih baik dari mereka! batin Vira.. “Jadi. tergantung evaluasi nanti. Rida juga kemungkinan bisa masuk. Karena itu dia cuman menggeleng pelan.

mudah-mudahan bisa sore ini. “Kehadiran Stella. membentuk tim baru berarti memulai semuanya dari nol. Ucapan Vira ada benarnya juga.” “Ini bukan solusi terbaik. Kita punya peluang besar di Kejurnas kalo ada dia.. tapi tidak ikut ke babak final. .. Dan Bapak lihat kalian rata-rata dapat beradaptasi dengan mudah. Tapi secara administratif dia sudah bukan bagian dari tim.“Protes? Soal apa.” kata Vira. Paling lambat besok sudah akan terpilih anggota tim. Mereka menganggap itu curang. Seharusnya Bapak tahu. Jadi kehadirannya kemarin dipertanyakan. pemanggilan akan segera dilakukan. Kalau saja kemarin tidak ada Stella. dan muncullah rencana penggabungan tim sebagai solusi terbaik. Saya sendiri baru aja mo minta bantuan Bapak untuk membujuk dia supaya mau bergabung lagi. Yang jelas. Kerja sama. Lusi dan kawan-kawan telah melihat itu sebagai sebuah lubang di kemenangan kalian. dan mudah-mudahan perkiraan Bapak ini tepat. kita bakal kalah dan nggak bakal pergi! batin Vira. Pak Isman pun mengakui hal itu.” “Kenapa harus masalahin soal administrasi? Itu kan cuman masalah kertas? Nggak penting banget!” “Bagi sebagian orang.” Tapi jawaban Pak Isman kelihatannya nggak memuaskan Vira. justru masalah administrasi sangat penting. dia nggak mungkin kelihatan kalah di depan anak didiknya.” Kalo nggak ada Stella. “Memang. Karena itu para pengurus dan pelatih mengadakan rapat untuk mencari jalan tengahnya. pasti mereka tidak bakal protes dan kalian akan pergi semuanya.” tandas Vira. “Tapi Stella kan bagian dari tim juga. “Karena itu. dan mereka memanfaatkan lubang itu untuk menggagalkan hasil pertandingan kemarin. strategi. Tapi sebagai pelatih. Pak?” tanya Rida. walau dibentuk dari pemain-pemain terhebat sekalipun. Mereka tahu Stella sudah keluar dari tim. Apalagi mereka juga tahu Stella hanya membantu kalian supaya bisa menang di pertandingan itu. dan membentuk tim baru adalah sebuah kesalahan. dan yang lain. Waktu kita nggak banyak.

Jadi tinggal mencari dua orang lagi.“Begini saja. Itu berarti setengah anggota tim.. walau katanya tidak parah.. Dan untuk Vira. Bapak akan usahakan hingga enam orang dari kalian masuk tim. juga Rida akan Bapak masukkan.. Berikutnya mungkin Stephanie dan Stella.” tolak Vira.. Apa kalian ada usulan siapa kira-kira?” tanya Pak Isman. .. tapi Bapak lebih tau mana yang terbaik untuk tim. “Makasih. kalau dia mau. apalagi Rida bisa jadi pelapis Lusi yang sedang cedera.

Main basket ya main basket. jalan menuju babak final yang udah terbentang lebar jadi belok-belok lagi. “Tapi gue merasa nggak enak aja ama temen-temen. Dia bermain basket untuk hobi. mereka nggak bakal bisa menang. tapi yang lain nggak. di luar permainan basket itu sendiri. nothing else! Apalagi Pak Isman bilang keputusan pernyatuan kedua tim dipicu oleh kehadiran Stella dalam pertandingan kemarin.” hibur Stephanie saat ketemu Vira malamnya di sebuah kafe di daerah Dago. Tanpa Stella. Dan Vira nggak seneng kalo kenikmatan bermain basket yang dia rasakan dicampuri hal-hal lain. Gue harus ngomong apa ke mereka?” . “Nggak usah merasa bersalah. Mereka udah bela-belain dateng ke sini cuman buat pertandingan kemarin.DUA PULUH TIGA VIRA benar-benar nggak menyangka. Bener kata lo. Tapi nggak cuman itu tujuan Vira bermain basket.. kita nggak bakal menang tanpa Stella. Tampil di Kejurnas emang merupakan impian setiap pemain. itu nggak membuat Vira puas. tapi lalu dibikin kayak gini. Itu membuat Vira jadi merasa bersalah. Tapi saat itu dia nggak punya pilihan lain. Malah kita semua nggak jadi pergi. Walau Pak Isman menjamin dirinya bakal masuk tim inti. Gue bisa ikut ke babak final. dan memiliki tempat berbagi. karena dia yang membujuk dan membawa Stella. Terutama yang dari luar kota kayak Sita. kesenangan. termasuk dirinya..

” sungut Bi Sum yang merasa jerih payahnya nggak dihargai. Gue yakin anak-anak yang lain pasti bisa ngerti.” *** Akibat terlalu banyak berpikir. Dia bilang belum dapat kabar dari Pak Isman. Pemain yang lain juga kurang-lebih begitu. alasannya masih kenyang. karena gue yang udah menghancurkan impian mereka.Suara HP menghentikan obrolan mereka berdua. “Niken juga nggak mau makan?” tanya Vira..” sahut Stephanie. Trus dia masuk ke kamar dan sampe sekarang nggak keluar-keluar lagi. “Tadi pas Bibi tawarin. Mungkin kita udah gagak di babak kualifikasi. Tapi nggak lama.” “Jangan berprasangka buruk.” kata Vira.” Vira heran.. dan kalo bukan karena lo. nggak ada masalah. Sita salah satu yang paling bersemangat untuk ikut Kejurnas.” “Tapi gue tetep aja merasa nggak enak. Vira jadi pusing sendiri. Vira emang sempat beberapa kali memergoki Niken lagi bengong sendiri dan seperti nggak konsen ke pelajaran. Di kelas juga Niken bersikap biasa. . Besok kita mulai latihan jam tiga sore. Lo udah berbuat yang terbaik bagi tim. kita nggak bakal bisa sejauh ini. Dia bahkan rela bolak-balik Tasik-Bandung cuman untuk memastikan keikutsertaan kita. kenapa Niken nggak mau makan? Padahal tadi pagi dia kelihatan fine-fine aja. Akibatnya dia nggak nafsu makan. “Tadi Non Niken juga nggak mau makan. yang lalu berbalik menjadi kebencian pada diri gue. “Gue sih udah dapet SMS dari Pak Isman tadi sekitar jam limaan. nanyain kapan mulai latihan. Gue nggak tega liat kekecewaan mereka. “Dari Sita. “Gue nggak tau harus jawab apa. Vira mengambil HP dan melihat SMS yang masuk. Sama sekali nggak mau menyentuh makan malam yang udah disiapkan Bi Sum. sekarang Non Vira.

” Vira beranjak keluar kamar Niken. trus pergi lagi deh. Paling sekali Rei ke sini.. “Ya udah. “Hmm. Paling nggak malam ini. kali ini Vira nggak mau memaksa Niken untuk ngaku. apa Rei sering ke sini?” Vira tertegun mendengar pertanyaan Niken. “Emang kenapa?” tanya Vira. “Ha?” “Nggak biasanya kamu nggak mau makan. “Aku belum laper.. “Bentar lagi. Tumben.. Dia lagi mengutak-ngutik HP-nya. Pas ada aku di rumah sih nggak pernah tuh. kecuali kalo udah makan di rumah kamu. “Kamu belum makan?” tanya Vira.” “Nggak ada apa-apa. tapi ingin mengorek. Aku belum laper kok. Kamu belum mo tidur?” kata Vira.” jawab Niken.” jawab Vira. Tapi kelihatan jelas dia menyembunyikan sesuatu.Pintu kamar Niken ternyata nggak dikunci. Niken memanggilnya. karena Rei emang nggak pernah datang saat dia ada di rumah. aku mo ke kamar dulu. Jadi dia akhirnya tahu juga! batin Vira. “Ada apa lagi?” tanya Vira. dan Niken belum tidur. Waktu Sita tinggal di sini dan aku lagi nginep di rumah. sejauh mana Niken tahu soal Rei dan Sita.. . “Vir?” “Eh. Pikirannya sendiri udah pusing dengan masalahnya. tapi dia nanyain kamu. Dia bertanya bukannya belum tahu... Vira masuk ke kamar dan duduk di pinggir tempat tidur Niken. dan dia nggak mau menambah pikirannya dengan masalah lain.” tandas Niken. Niken termangu mendengar jawaban Vira. “Ada apa?” tanya Vira. Tapi saat mencapai pintu. Paling nggak dia ngasih jawaban yang jujur. nggak tau.

kan? Kalian berdua emang kompak kalo soal begini. jadi aku harus berangkat lebih pagi.” “Kamu juga mo tidur?” “Iya.” “Soal Kejurnas. Kenapa masih pusing-pusing? Dia mo pacaran lagi kek.” balas Vira. ama siapa aja.. Toh kamu dan Rida tetep masuk dalam tim. Vira tahu. walau hatinya sering merasa miris kalo melihat Niken memikirkan soal Rei dan hubungan mereka. “Nggak.” .. Niken tahu dia sering main streetball? Dari mana? “Nggak usah ngelak. “Ya udah kalo begitu. “Udahlah. Dia lalu menghela napas. Aku capek.” Niken mencoba menghibur dirinya sendiri. ya? Nggak usah dipikirin. tapi..” Niken nggak melanjutkan ucapannya. aku kan udah putus ama dia.. Kamu kira aku nggak tau kamu sering keluar malem buat main streetball? Kadang-kadang juga ama Rei. tapi dia nggak mau menunjukkannya secara terbuka.. apa Niken juga tahu Rida pernah ikutan main? “Malme ini kamu nggak main?” tanya Niken lagi.. Tapi dia udah bersumpah untuk nggak mengatakan apa pun tentang yang diketahuinya soal Rei pada Niken. iya. aku juga belum begitu ngantuk. “Eh. “Katanya kamu mo ke kamar? Kok malah bengong?” suara Niken membuyarkan lamunan Vira. mata Niken berkaca-kaca. Rei! batin Vira. Tapi Vira bisa melihat dengan jelas. Aku mo tidur... kamu mo ngomong sesuatu? Atau cerita? Nggak papa kok. Tega kamu.“Aku nggak nyangka. Niken menggeleng. Niken sebetulnya masih sayang pada Rei. Dan Vira nggak mau melanggar sumpahnya.” Vira berpikir.” jawab Niken dengan suara masih bergetar. Rei dan Sita. “Nggak. itu udah bukan urusanku lagi. Besok jadwal piketku.” “Nggak main streetball?” Ucapan Niken kembali mengejutkan Vira. Lagi pula.

” Gaya Niken udah kayak Mama Vira aja. lalu beranjak menuju pintu kamar.“Bukan itu masalahnya.” “Aku tau.. kan?” Vira cuman diam. “Thanks.. Semua itu tergantung kamu.” tandas Niken. Aku akan selalu mendukung kamu.” ...” ujar Vira. Apa pun keputusan yang kamu ambil. Kamu ngerasa nggak enak dengan yang lain.. “Goodnight to you too. Vira tersenyum... aku yakin itu yang terbaik. kamu mo tidur... kan? Jangan sampe besok telat bangun.” “Ya udah. “Goodnight.

. Vira melirik ke arah Stephanie.” sapa Rida. dan ada lima orang dari Tim Junior. Anggota tim yang lain ternyata udah berkumpul. “Sori. mereka semua nggak senang dengan apa yang terjadi. ada enam orang termasuk Lusi yang kaki kanannya terlihat masih memakai pelindung kaki dan duduk di tribun paling depan dengan dikerumuni rekan-rekannya. sebab Pak Isman dan pelatih lainnya belum kelihatan di lapangan.. Vira menghitung anggota Tim Junior yang datang. Ada enam orang pemain dari Tim Senior. karena bagaimanapun mereka punya ambisi masing-masing untuk tampil di Kejurnas. Iseng. Semua merasa dibohongi. Kalo ada dua belas orang yang bakal dipanggil dan Pak Isman menepati janjinya. Dan semuanya berasal dari Bandung.. Untung aja latihan belum dimulai.” sahut Vira. Pemain dari Tim Senior berkerumun di sana.DUA PULUH EMPAT VIRA terlambat datang pada latihan pertamanya sebagai anggota tim gabungan Jawa Barat.. Juga Alexa dan Poppy yang ada di tempat itu. tadi ada perlu. Ada lima orang termasuk dirinya. Kali ini kapten Tim Junior itu terlihat diam. Tapi nggak ada yang bisa diperbuat. sama sekali nggak bicara sepatah kata pun. Vira tahu. . “Kamu terlambat.. Vira menghitung. Pandangan Vira kemudian beralih ke kerumunan lain di sisi lapangan.

. “Kenapa? Kamu ngarepin Lusi cedera parah!?” potong Mira. “Mo ke mana.” gumam Stephanie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menuju ke Lusi yang duduk dan tertutup pemain lain. “Sebentar. Dan kelihatannya Vira bisa menebak siapa yang akan menjadi pemain kedua belas. see you later.. “Ya udah. “Nggak papa kok.” lanjutnya.. Ucapan Vira yang terdengar lembut dan bersahabat membuat tatapan mata Lusi berubah.” Vira berhenti sebentar sebelum melanjutkan. Kedatangannya tentu aja menimbulkan kehebohan di kedua kubu. Vir?” tanya Rida yang melihat Vira akan beranjak dari tempatnya.berarti masih ada satu tempat lagi yang bakal diisi oleh pemain dari Tim Junior.......” tukas Stephanie sambil tersenyum. Dia kan udah pernah ngelakuin ini sebelumnya. Kedatangan Vira yang “tanpa diundang” jelas menjadi perhatian di kubu Tim Senior.. “Mo apa kamu?” kata Mira menyambut kedatangan Vira. Vira.. lalu kembali ke teman-temannya diikuti tatapan para pemain senior. dari yang tadinya kelihatan “sangar” jadi sedikit melembut. “Mir.. “Aku harap nggak parah.. kalian kayak nggak tau Vira aja....” Vira menuju kerumunan pemain Tim Senior. “Vira.. Vira nggak menggubris perkataan Mira. kan?” tanya Vira.. “Nggak tau.” lanjut Vira.” Lusi memperingatkan temannya. Sebab kamu sangat dibutuhin dalam tim ini. Minggu depan juga aku udah bisa main lagi.. *** . “Nggak usah kuatir.” jawab Lusi. “Vira mo ngapain?” tanya Poppy harap-harap cemas. “Cedera kamu nggak parah. Lalu dia menatap ke arah Vira.” jawab Alexa... “Syukur deh kalo begitu.

” jawab Alexa sekenanya. “Pak.” Ucapan Vira singkat.” kata Vira. Ucapannya membuat Pak Isman dan yang lainnya terkejut.” Vira mengangguk mantap. “Maaf. Melihat kedatangan pelatihnya. saya mo bicara. “Alasannya?” “Nggak ada alasan bagi saya untuk tetap berada di tim ini.” kata Vira.Lima menit kemudian Pak Isman dan ofisial tim lainnya datang ke lapangan. diikuti yang lainnya. Pak Isman yang baru aja menaruh tasnya di bangku menoleh ke arah Vira. kita nggak akan bisa bermain dengan baik. Saya udah nggak punya lagi motivitasi dan hati untuk bermain di sini.. dan nggak berguna bagi tim. Vira segera menghampiri. Karena itu saya lebih baik memberi tempat saya pada orang lain yang mungkin lebih berguna bagi tim.” kata Vira mantap.... “Vira mo ngapain lagi?” tanya Poppy (lagi).” “Oke. kali. “Kamu sudah pikirkan baik-baik keputusanmu itu? Kamu adalah salah satu pemain yang sangat dibutuhkan tim. “Vira? Nanti saja kalau mau bicara. Stephanie beranjak menyusul Vira. “Sebentar saja. kamu mau bicara apa?” Vira menatap tajam wajah pelatihnya. Salah satu pemain yang bisa mengubah permainan sesuai kondisi di lapangan. Juga Pak Dibyo dan ofisial lain yang ada di dekat situ. Sekarang kita sudah terlambat latihan.. dan kita membutuhkan itu semua. tapi langsung menuju sasaran.. termasuk Stephanie dan pemain Tim Junior lainnya yang ada di belakang Vira. Dan Bapak pasti tahu tanpa itu semua. . “Apa kata kamu?” tanya Pak Isman. tapi saya nggak bisa masuk dalam tim ini. Tanpa diduga. “Saya keluar dari tim.. Hanya lima detik.” sahut Pak Isman. “Mo protes.

” “Belum tentu kesempatan seperti ini akan datang dua kali. Dan saya sudah memikirkan masak-masak keputusan ini. Nggak ada solidaritas tim di sini. walau Bapak menyayangkan keputusan kamu. Gue nggak akan nganjurin yang lain untuk ikut-ikutan mengundurkan diri.” “Tapi kamu tidak akan menolak kalau suatu saat nanti dipanggil lagi untuk mewakili daerah. Pak. dengan alasan pribadi gue. nggak usah merasa ada beban. dan sejenak mengedarkan pandangannya. *** “Vir. “Baiklah.” kata Vira.. harus punya alasan yang kuat dan keluar dari pribadinya sendiri.” jawabnya..” ujar Stephanie saat Vira akan pergi..” potong Vira. Dan bagi yan ginin keluar. .” jawab Vira sambil tersenyum. “Ini keputusan gue sendiri. tapi Bapak tidak bisa memaksa kamu untuk tetap masuk tim. Semoga tim ini juga bisa sukses.” ujarnya. “Terima kasih. “Impian kamu jadi pemain nasional. “Tapi.“Tapi saya tidak akan berguna jika tidak bisa bermain sepenuh hati. Vira lalu memegang pundak Rida yang ada di dekatnya. kan? Jangan sia-siakan kesempatan ini.. Semoga ini keputusan terbaik yang kamu buat. Pak Isman menghela napas. kan?” “Tentu saja nggak. Bagi yang ingin tetap bergabung di tim ini silakan saja. Ini keputusan terberat yang pernah saya ambil.” kata Pak Isman akhirnya..

.DUA PULUH LIMA Sore hari. “Lo kira gue punya temen yang harus dikunjungi di daerah pinggiran kayak gini?” jawab Stella. “Ganti mobil nih? Audi lo ke mana?” seru Vira.” sahut Stella sambil melihat ke arah lantai lapangan yang beberapa bagian semennya udah mulai pecah atau retak-retak. Dari mana lo tau alamat gue?” “Dari Amel.” “. Vira menghentikan aktivitasnya dan memperhatikan mobil jenis SUV itu. Stella yang sore ini memakai T-shirt putih dan celana katum krem nggak menanggapi seruan Vira. nggak susah nemuin lapangan basket yang cuman satu-satunya. . Dari dalam mobil. “Lo mo ketemu gue?” tanya Vira. keluar Stella. Masih kelihatan angkuh. tapi kata pembantu lo... “Tumben. Biasanya gue yang ngejar-ngejar lo.. Dia berjalan memasuki lapangan. lo lagi ada di lapangan kompleks. Rambutnya yang agak pirang dan dibiarkan tergerai berkibar ditiup angin sore yang sepoi-sepoi. VIRA lagi asyik bermain basket sendirian di lapangan kompleks rumahnya saat sebuah Honda CRV berhenti di pinggir lapangan.” “Kompleks perumahan kecil kayak gini. Gue tadi ke rumah lo.dan lo langsung bisa nemuin gue.

mendingan baca-baca dulu di toko buku. Kepala Niken seolah mau meledak begitu melihatnya. karena tugas administrasi yang dia kerjakan kebetulan nggak terlalu banyak. *** Hari ini bimbel tempat Niken belajar selesai lebih cepat karena salah satu pengajar yang harusnya memberi pelajaran mendadak sakit. Saat melewati tempat parkir motor pelataran toko buku. kan?” tanya Vira. ibunya menelepon. “Apa gunanya nelepon kalo HP lo nggak aktif?” Mendengar ucapan Stella. Jadi daripada dia bete nunggu di rumah dan digangguin Panji.Kaki gue bisa ancur kalo main di sini! batin Stella. tapi bersama seseorang.” gumamnya kemudian. *** “Lo dapet panggilan dari Pak Isman.. Dan yang membuat Niken nggak percaya dengan penglihatannya. ternyata Rei nggak sendiri. nanti pas mo magrib baru pulang. baterainya abis.. Dia mengambil HP-nya yang disimpan di dalam tas. Karena pulang cepet. baru pulang.. Niken bisa pulang lebih cepat. Vira langsung membuka tas ranselnya yang diletakkan di bawah ring... Sebelumnya dia akan mampir ke rumah karena tadi pagi sebelum Niken berangkat sekolah. Paling pepesnya belum jadi! batin Niken. berpesan supaya sepulang sekolah dia mampir dulu ke rumah untuk mengambil pepes ayam buatan ibunya yang merupakan salah satu makanan favoritnya. kan?” tanya Vira. Niken melihat Rei baru keluar dari toko buku sambil menenteng dus berukuran sedang. “Yah. “Iya. Baca-baca sebentar di sana.” . Niken memutuskan untuk mampir dulu ke toko buku. Nggak mungkin! batin Niken. “Kenapa lo nggak nelepon gue dulu? Amel pasti ngasih nomor HP gue.

” kata Stella. Jadi nggak ada alasan lo nggak masuk lagi ke tim... Gue nggak bakalan balik lagi ke tim daerah.” balas Vira. Atau ada alasan lain?” tanya Vira.” tukas Stella. “Maksud lo? Steph.” “Tapi karena kondisi nyokap lo... “Jadi.. Sekali-sekali kuping lo perlu dikorek tuh biar nggak budek. nggak update. “Kok lo jadi maksa gue masuk tim sih?” “Siapa yang maksa?” “Lagian buat apa gue masuk sekarang? Nggak ada pemain yang gue kenal.” Vira terkejut.. semua yang lo kenal. Apa lo kira mereka semua masuk tim? Boleh telepon satu-satu pake HP. udah keluar dari rumah sakit. Sita.. kan? Tapi nyokap lo kan udah sembuh. Gue keluar dari tim sama sekali nggak ada hubungannya ama lo...“Trus. Stella malah geleng-geleng kepala sambil menatap tajam ke arah Vira. “Gue kira kemaren gue udah ngomong dengan jelas deh. Yang jelas bukan di GOR Padjadjaran. kenapa lo malah di sini? Nggak latihan dengan yang lain?” Mendengar ucapan Vira.. lagi di mana mereka. “Yaaa.” “Termasuk Rida?” “Gue bilang kan semuanya. Alexa.. itu kan lo kenal semua.” *** ... Ucapan Stella membuat Vira heran. mulai budek lagi deh.... Gue juga masih inget kok apa yang lo bilang.. “Nggak perlu. Tapi gue kira lo nggak mau balik ke tim karena ada gue.” “Jangan ge-er.. mereka juga keluar dari tim? Semuanya?” tanya Vira. “Lo jadul banget sih.

Dengan HP model terbaru yang baru sebulan dibelinya itu. “Batal? Maksud lo apa? Gue tambah nggak ngerti. Akhirnya Stella mendapatkan apa yang diinginkannya. Tapi gue harus ngucapin salut ke lo. Lo bisa ngelakuin apa yang nggak kepikiran oleh orang lain sebelumnya. Niken segera menghambur ke kamarnya. jadi belum ada di TV atau koran.. “Dasar daerah pinggiran! Sinyal aja lemot gini!” sungut Stella. Stella mengeluarkan HP-nya.” kata Stella. Dia kembali mendribel bola lalu menembaknya. nggak perlu mamakai komputer atau laptop. “Lo ngomong apa sih?” tanya Vira heran. baca sendiri. “Nih.Sampai di rumah. Dia nggak peduli walaupun di kamarnya saat ini ada Aji yang lagi tidur siang. “Soal lo ngundurin diri dari tim. Vira cuman tersenyum mendengar sungutan Stella. Vira membaca headline di sebuah situs portal berita yang dibuka di HP Stella. “Niken?” Aji yang terbangun tiba-tiba mendapati adiknya lagi menangis sesenggukan di meja belajarnya. Lo udah tau Tim Jawa Barat batal ke Kejurnas.” Stella menyodorkan HP-nya ke Vira.” “Lo belum tau? Nggak ada yang ngasih tau lo?” Stella balik nanya. “Ngasih tau apa?” Sebagai jawaban. *** “Gue sebetulnya nggak kepikiran bakal ngomong hal ini sebelumnya ke lo. dia bisa menjelajah dunia maya dengan lebih cepat dan leluasa. kan?” Vira tambah heran mendengar ucapan Stella. . Ini berita dua jam yang lalu... Bola hanya mengenai bibir ring dan kembali ke tengah lapangan..

“Gue kira masalahnya bakal jadi panjang. “Ini beneran?” tanya Vira nggak percaya. Nggak ada yang dikirim ke babak final. Tidak diturunkannya salah satu andalan Tim Jawa Barat. sebetulnya Tim Basket Putri Jawa Barat berpeluang besar menang atas Tim Basket Putri Banten... bahkan para pemain bisa ikut terlibat kalo mereka ternyata tau dan ikut mendukung. tapi akibatnya gue malah nggak diizinin main lagi. Savira Priskila sejak quarter kedua tanpa alasan yang jelas juga mengundang pertanyaan. dinyatakan menggunakan pemain yang sah.. ofisial tim diduga terlibat.. Bahkan gue udah coba ngelawan.” . walau hanya menurunkan Tim Junior. walau sempat mengubah strateginya di quarter kedua tapi tidak berlangsung lama.” “Lo harus bisa buktiin soal itu kalo nanti ditanya. “Kalo nggak percaya..” Kenapa jadi begini? batin Vira. kalo emang bener yang lo ceritain ke gue waktu itu.. tanya aja langsung ke Pak Isman. TIM BASKET PUTRI JAWA BARAT DIUSUT PENGDA PERBASI Buntut dari diterimanya banding Tim Banten. Tapi entah apa alasannya.” Vira membaca salah satu paragraf di berita tersebut. Dia mengembalikan HP pada Stella.. “. mojang-mojang Priangan itu melakukan strategi bertahan.” ujar Stella.” lanjut Stella.. “Tapi kita sama sekali nggak tau soal ini. “Yang mana? Soal yang kita disuruh ngalah waktu lawan Banten?” Stella kembali memberikan HP-nya. “Kasus ini bakal panjang.” ujar Stella.TIM BASKET PUTRI BANTEN TETAP KE BABAK FINAL KEJUARAAN NASIONAL Banding mereka diterima. DIDUGA SENGAJA MENGALAH. “Apa pun hasil pertandingan dua hari yang lalu nggak berpengaruh.

Nyokap gue sekarang baik-baik aja.” tandas Vira. Walau begitu. Papa punya banyak kenalan pengacara hebat di Bandung dan Jakarta. Kita bertanding. “Bales dendam apaan? Lo kira gue selama ini nyari kesempatan untuk bales dendam ke lo? Gue cuman pengin tau keadaan nyokap lo aja. kan?” Stella mengangguk. Sepatu aja gue nggak bawa. “Lo belum jawab pertanyaan pertama gue. Tapi dia juga tahu siapa Vira.” kata Vira lagi. “Tanding apa? Lo pati menang karena gue pake pakaian kayak gini. ya? Lo kayak bukan Stella yang gue kenal. “Jadi. Salah satu kelemahan Vira yang diketahui Stella adalah tembakan tiga angkanya sangat lemah. dan kalo lo mau. . tapi lo nggak usah tau soal gue dan bokap gue. Karena itu gue nggak bakal nantang lo One on One. lo bias cerita soal kasus lo dan bokap lo. Siapa tau gue bias bantu. seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Vira emang punya skill dan kemampuan di atas ratarata. Kalo gue menang.” “Thanks. selengkap-lengkapnya.” ajak Vira. Tapi itu juga kalo lo mau cerita. lo harus cerita soal kasus lo. seperti memikirkan ucapan Stella.” “Kenapa? Lo udah nggak percaya lagi ke gue?” Stella cuman diam. Kenapa lo ke sini? Nggak mungkin lo ke sini cuman untuk ngasih kabar soal ini. lo masih bisa three point. “Kenapa gue ke sini? Cuman iseng aja. Gue juga pengin bertanding secara fair…” “Trus. lo setuju?” Sebetulnya Stella adalah tipe orang yang tertutup. “Kenapa sih lo pengin tau? Mo bales dendam?” Stella malah balik nanya.” “Gue tau. lo mo nantang gue apa?” “Dengan pakaian kayak gini. “Taruhan yuk. udah kerja lagi. yang nggak mau kehidupan pribadinya diketahui orang lain. “Gimana kabar nyokap lo? Trus gimana kasus ama bokap lo?” tanya Vira. Kalo nggak ya nggak papa. Vira melemparkan bola pada Stella. tapi dia juga punya kelemahan.Vira diam sejenak. Emang nggak boleh?” “Cuman iseng? Lo salah makan.

statistik tembakan tiga angkanya lebih buruk daripada Stella.Bahkan ketika Vira masih di SMA Altavia. pasti dia udah melakukan sesuatu untuk memperbaiki statistiknya. karena saat latihan bersama di tim daerah. “Lo mo minta gue ngelakuin apa? Asal gue sanggup. “Kalo lo kalah?” tanya Stella.” Stella terdiam sejenak. ingin tahu sampai di mana kemajuan Vira. “Ajarin gue nombok….” “Bener?” “Iya. pasti gue lakuin.” ujarnya lirih. Asal lo jangan minta yang macem-mcem. Ucapannya itu menunjukkan dia mulai tertarik menerima tantangan Vira. Vira nggak pernah kelihatan latihan atau menunjukkan kemampuan tiga angkanya. sebelum akhirnya berkata lagi. Dan Stella penasaran juga. Vira sendiri tahu itu. . Karena itu kalo dia sampai dengan pedenya menantang Stella bertanding tembakan tiga angka.

“Panji juga boleh ikut… Ibu juga boleh ikut kalo mau…. Vira juga mo ngajak Niken keluar. *** .” tandas Vira.” katanya. Mendengar pertanyaan Aji. “Ibu mau ada pengajian di masjid malam ini.” jawab ibu Niken. Vira menatap kakak Niken yang juga bekas pacarnya itu. Dia tidak mau keluar. “Panji…. “Mo ke mana sih Kak Vira? Makan-makan ya? Panji juga boleh ikut. “Kak Aji juga boleh ikut kalo mau….” kat Vira. Vira mengangguk.” ibunya memperingatkan Panji supaya bersikap sopan.DUA PULUH ENAM KEDATANGAN Vira ke rumah Niken disambut ibu Niken yang supercemas. Tapi di luar dugaan. Kak?” tibatiba Panji yang lagi asyik main PS nyeletuk. “Kebetulan.” lapor ibu Niken. jadi tidak bisa ikut…. “Ke mana?” tanya Aji yang ada di ruang tamu. “Dari tadi Niken cuman di kamar. apalagi makan. membuat Panji melompat kegirangan. Bu. Nak.

” kata Vira. Aku mo ngajak kamu pergi…. Vira nggak langsung menuju mobilnya. nggak?” tanya Vira sambil menunjukk rolling door yang tertutup. Tapi tadi. kenapa kita ke sini? Katanya mo makan-makan?” protes Panji. Dia juga nggak menanyakan kenapa Sita bisa ada di Bandung. cepet kamu cuci muka. Niken ingat. “Aku liat Rei bareng Sita tadi sore.” Anehnya. padahal dia nggak kepilih masuk tim. “Kenapa ke sini? Emang ruko ini punya siapa?” tanya Niken. kan?” tanya Niken. “Kak Aji.” “Mereka ikut?” “Iya… makanya cepet kamu ganti baju. “Ke mana?” “Ntar kamu juga tau. trus ganti baju. Dia malah menuju sebuah ruko yang kelihatan kosong dari luar. aku liat sendiri mereka berdua di ruko depan.” “Kamu lagi nggak nyiapin kejutan. “Iya.” kata Niken. Kak Vira. “Bukannya kamu udah tau sebelumny?” Niken menggeleng.Vira akhirnya berhasil menemui Niken di kamarnya. Vira seperti nggak terkejut dengan ucapan Niken. “Tadinya aku cuman denger dari Bi Sum kalo Rei sering ke rumah kamu untuk ketemu Sita. “Kejutan apaan? Kak Aji dan Panji juga ikut kok.” *** Sampai di ruko tempat Vira biasa memarkir mobilnya kalo dia pergi ke rumah Niken (karena jalan di depan rumah Niken nggak cukup dilewati mobil). ini ruko yang sama tempat dia melihat Rei dan Sita keluar tadi malam. Dan seperti biasa. bisa bantuin buka ini. . “Ya udah. Kasian mereka udah nungguin. cuman pada Vira Niken mau bicara.

” ajaknya. “Surprise!” kata Vira. nggak ada cahaya sedikit pun. Mereka bertiga masuk ke ruko yang gelap gulita.” sungut Panji. dan terlihat bagian depan ruko yang dindingnya berupa kaca. Sekarang ruangan ruko itu jadi terang benderang. lalu bocah berusia sepuluh tahun itu berlari pulang ke rumahnya. jadi pengetahuan mereka bisa bertambah dan waktu senggang mereka nggak digunakan untuk main atau ngelakuin hal-hal yang nggak berguna. kita ini…” Ucapan Niken terhenti karena secara tiba-tiba lampu di dalam ruko menyala. “Terutama untuk bacaan anak-anak. Vira membuka pintu ruko yang ternyata nggak terkunci. “Seperti cita-citaku?” Vira masih ingat. Niken dan Aji hanya bisa mengikuti Vira masuk ke dalam. “Panji pulang aja deh… katanya mo makan-makan…. ini…” “Taman bacaan… seperti cita-cita kamu. Saat itulah mereka bertiga baru bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan.” kata Aji.” kata Niken waktu itu. “Ayo masuk. seperti layaknya toko buku. “Vira. supaya anak-anak di daerahku bisa membaca secara gratis. Sebuah meja berukuran sedang berada di dekat pintu masuk. dengan berbagai aksesori di dalamnya. “Ini… taman bacaan punya siapa? Punya kamu?” tanya Niken.“Liat aja…” Aji mengangkat rolling door yang ternyata nggak dikunci. . “Panji!” panggil Niken. Ruangan ruko dicat biru laut. “Vira. “Udah biarin aja…. Berbagai rak buku tersusun rapi di pinggir dan tengah ruangan. suatu hari Niken pernah bilang ke dia tentang cita-citanya untuk memiliki sebuah taman bacaan. Di dalam ruko terlihat gelap.” tandas Vira. Vira menggeleng.

tibatiba pintu terbuka. Ken?” tanya Aji. di sana terpampang papan besar dengan tulisan: KEN‟s BOOK RENTAL. “…dan dia…. “Siapa. Lalu tanpa ada aba-aba. Liat aja…” Vira menunjuk ke arah dinding depan mereka. Nggak mungkin dia yang bikin semua ini! Kalo bukan Vira. muncul wajah Rei. siapa lagi? batin Niken.” Niken memandang ke sekeliling ruangan. “Ya siapa lagi…? Cuman kamu yang bisa ngelakuin ini semua. “Ken. “Emang cuman aku satu-satunya yang tau soal cita-cita kamu?” “Ya iya… aku cuman cerita ke kamu…” Tiba-tiba ucapan Niken terhenti. “Ken… kependekan dari Niken. Dibikin supaya mereka bisa membaca dengan santai. Niken tetap melangkah menuju ke luar tanpa menoleh lagi. Vira tertawa melihat Niken yang kebingungan. dia langsung balik badan dan pergi. Kamu juga satusatunya yang tau soal cita-citaku itu. “Udah.” jawab Niken. Mo liat?” lanjutnya. “Kenapa sih kalian selalu berpikir aku yang membuat semua ini?” Vira malah balik nanya. lalu nanti akan dikelola oleh Niken. Gitu. “Tunggu dulu… Apa maksud kamu dengan semua ini?” tanya Niken masih nggak percaya. hampir mengenai Niken. Dia seperti teringat sesuatu. . “Kamu membuat taman bacaan ini.“Ini punya kamu.” jawab Vira. tunggu!” Vira mencoba menahan Niken. “Rei… aku pernah cerita juga ke dia. “Kamu!” seru Niken. Rei! Jangan ngumpet mulu!” seru Vira. “Ruang untuk membaca ada di lantai atas. kan?” Aji juga ikut-ikutan bertanya.” Vira menjelaskan. Dari balik salah satu rak buku. “Punya aku? Jangan bercanda…” Aku nggak bercanda. Sesampainya di dekat pintu.” lanjut Niken lirih. tapi sia-sia.

“Nyewa ruko? Duitnya dari mana? Aku tau Rei. Katanya biar ini jadi kejutan buat kamu. “Apa dananya hasil dari… streetball?” Vira hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum.” Vira menjelaskan. Aku aja baru tau setelah proyek ini jalan.” “Tapi aku tetap nggak percaya. Aku nggak ikut campur.” kata Niken. Nggak mungkin dia yang ngelakuin ini semua.” sangkal Vira. dia bisa mendanai semua ini. Vira mengangguk mengiyakan. “Niken?” *** “Jadi.Seorang cewek masuk. “Aku udah bilang. Mendengar itu Niken menatap Vira yang cuman senyum-senyum aja. Vira berhasil menahan Niken yang pengin pergi dari situ. Mulai dari menyewa ruko dan membangunnya menjadi taman bacaan. “Tapi masa hasil dari streetball bisa untuk nyewa ruko? Kan sewanya puluhan juta…” “Sebetulnya untuk ruko bukan aku yang nyewa. Ada donatur…. dan dia langsung mengenali siapa yang ada di balik pintu. “Dan kamu ngerahasiain ini ke aku seperti Rei?” “Dia yang minta. Tiba-tiba dia menatap Vira. ini semua kerjaan Rei. Nggak mungkin minta ke ortunya. . Rei yang membangun semua ini?” tanya Niken saat berbicara berdua Vira di luar ruko.” potong Rei yang tiba-tiba udah ada di belakang Vira dan Niken.” “Kenapa kamu nggak percaya? Emang kenapa kalo Rei bisa membuat semua ini?” “Dananya? Pinjem kamu?” Vira menggeleng. “Semua ini dibangun Rei sendiri.

jadi aku nggak bisa nerima pemberian kamu ini. Niken menghela napas. Aku enjoy aja ngelakuin semua ini…” “Dengan pulang pagi hampir tiap hari? Terlambat masuk sekolah? Ketiduran di kelas? Please. Mendengar pertanyaan Rei. Hasil karya dia. sampai embusan napasnya terasa oleh Niken. Melihat Rei sudah bisa menguasai keadaan. “Sita?” “Kamu lagi deket ama Sita. .” Rei mendekat ke arah Niken. “Kenapa ketawa? Bener kan kamu lagi deket ama Sita?” tanya Niken lagi. Lagi pula aku nggak bisa menerima pemberian kamu ini. “Apa-apaan sih. di luar soal sewa ruko. “Kamu masih marah ke aku?” tanya Rei kemudian. Rei… aku nggak mau kamu kayak gitu. hingga cewek itu merasa jengah sendiri.” Niken tertunduk mendengar ucapan Vira. “Aku cuman pengin ngewujudin cita-cita kamu. Rei sedikit mundur sambil tertawa kecil. Dan Rei tentu aja ngelakuin ini semua untuk kamu. “Tapi nggak harus sekarang. Di sisi lain. “Ehhmm… sebetulnya belum semuanya selesai. “Kamu nggak perlu ngelakuin semua ini Rei!” kata Niken setelah Vira kembali masuk ke dalam. Untung di luar ruko suasana gelap sehingga wajah merah Rei yang kayak kepiting rebus nggak kelihatan.” “Aku nggak ngerasa ngorbanin diri. diam-diam Vira menyelinap ke dalam ruko.” kata Rei. Tapi kita udah nggak ada hubungan apaapa.” Rei diam mendengar ucapan Niken. “Aku sayang kamu… masih dan tetap sayang kamu. “Aku udah nggak marah ke kamu. kali… Apalagi dengan ngorbanin diri kamu sendiri. yang lainnya itu emang ide Rei. wajah Rei memerah.” kata Rei.“Oke. Papan nama untuk di depan baru selesai besok. kan?” Mendengar ucapan Niken. Rei…? Gimana kalo Sita liat?” Niken berusaha menghindar.” Rei mengalihkan pembicaraan.

Aku tau sifat kamu. ngapain aku capek-capek nerusin proyek ini buat kamu?” “Vira tau soal ini?” Rei mengangguk. “Sekarang ini Sita nggak nginep di tempat Vira karena dateng bareng kakaknya yang lagi cuti. Sita membantuku mendapatkan koleksi buku-buku dari toko tempat kakaknya kerja dengan harga miring. dan yakin suatu saat kamu pasti bisa ngerti apa yang kulakukan untuk kamu. “Kakak Sita kepala cabang toko buku terbesar di Tasik. Tapi karena kakaknya sendiri harus kerja.“Emang…” “Kenapa kau berani ngedeketin aku…” “Aku emang deket ama Sita… sebagai temen. “Sita juga ngebantu aku buat ngedekorasi taman bacaan. desain interior dari taman bacaan yang dibuat Rei sangat bagus. Kakaknya juga membantu mencarikan koleksi lainnya di Bandung yang jelas lebih lengkap. “Kamu kira dari mana aku dapat koleksi buku sebanyak itu? Sebagian esar buku anak-anak sesuai keinginan kamu…. kan?” Rei melanjutkan. dan menunjuk ke arah ruko. jadi aku dan Sita yang harus mengurusnya sendiri. Mereka berdua nginep di hotel. atau bahkan gratis. Rei… Aku pernah liat kamu bareng Sita di toko buku. aku tetap larang dia. Jadi dia sekalian belajar. Bahkan saat kita putus.” ujar Rei. Bisa menarik perhatian dan membuat betah mereka yang membaca di tempat.” Rei menggamit lengan Niken. Niken diam.” ujar Rei lagi. Hasilnya bagus. dengan bantuan teman-teman kerjanya di sini. Jadi ya jelas aja aku bareng Sita bolak-balik ke toko buku untuk ngedapetin koleksi yang belum ada. Niken emang harus mengakui.” “Jangan boong. “Jadi… kamu ama Sita nggak ada hubungan apa-apa?” “Ya nggak lah… kalo aku ada apa-apa dengan Sita. “”Vira emang aku larang ngomong apa pun ke kamu.” . nggak menjawab pertanyaan itu. baik layout maupun pewarnaannya. karena cita-cita dia emang mo jadi desainer interior.

Gimana kalo tau-tau aku punya cowok baru? Bakal gigit jari kamu…” kata Niken. tangan Aji pelan-pelan menggenggam tangannya dan si pemilik tangan itu menatapnya dengan pandangan penuh arti. *** “Kayaknya mereka udah damai tuh.” kata Vira yang melihat (atau boleh dibilang mengintip) dari balik pintu.” sahut Aji yang berdiri di samping Vira. Nada bicaranya udah nggak setegang tadi. . Tanpa disadari Vira. tau. Dia lega karena kelihatannya Niken udah nggak marah lagi. “Syukur deh…. “Yeee… emangnya aku nggak laku?” Niken dan Rei tertawa.“Yeee… ge-er… kamu udah maenin perasaan aku. “Emang masih ada yang mau ama kamu?” Rei balik nanya dengan mimik bercanda.

apalagi pake cat tembak! Itu semua bukan karena anjuran pihak sekolah yang melarang aksi corat-coret baju saat kelulusan. para siswa SMA 31 sama sekali nggak pakai acara corat-coret baju. Jadi tetap aja anak-anak kelas 3 datang ke sekolah sejak pagi untuk meluapkan kegembiraan bersama teman-temannya. cat semprot. tapi berkat Niken yang dalam beberapa minggu ini mengadakan gerakan sosial yang melibatkan anak-anak . jadi wajar mereka sekalian mencari info siapa teman yang nggak lulus. Tentu aja. baik menggunakan bolpoin. yaitu dengan mengirimkan pengumuman kelulusan ke rumah masing-masing. sebab hari ini adalah pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN). Sebetulnya pengumuman UN untuk SMA 31 dan SMA lainnya di Bandung dilakukan secara nggak langsung. Para siswa juga bisa mengetahui kelulusan mereka dari Internet mulai tengah malam tadi. Tapi berbeda dengan SMA lain. merayakan kelulusan bareng. nggak afdal rasanya kalo nggak ngumpul-ngumpul di sekolah. dalam merayakan kelulusan mereka.DUA PULUH TUJUH Tiga bulan kemudian… “SELAMAT yaa…” Niken saling pelut dan bersalaman dengan teman-teman sekolahnya. Wajahnya terlihat bahagia. Apalagi ada gosip tahun ini tingkat kelulusan di SMA 31 nggak 100%. spidol. Tapi namanya tradisi.

karena dia yang jadi koordinatornya.” kata Amel. Mel. . Soalnya biaya sekolah dan perlengkapannya sekarang emang serbamahal dan kadang-kadang membuat orangtua pusing tujuh belas keliling. Karena itu.” balas Niken. kan?” kata Amel sambil memeluk Niken. segala perlengkapan sekolah yang udah nggak bakal dipakai lagi bisa disumbangkan. Banyak amat…. termasuk anak-anak baru nanti. sopir Amel langsung keluar. Bukan untuk disumbangkan ke panti asuhan atau yayasan sosial seperti yang biasa dilakukan. tapi untuk disimpan di sekolah. buku-buku pelajaran. “Selamat juga yaa… kamu lulus. tentu aja dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga baju seragam baru. selain berbagi kegembiraan dengan teman-temannya. mulai dari tas. Hal ini tentu aja bakal membantu siswa-siswi SMA 31 yang sebagian besar berasal dari golongan menengah ke bawah. sampai bolpoin untuk dijual kembali dengan harga murah.” katanya akhirnya sambil menunjuk ke salah satu sudut ruangan yang masih kelihatan cukup kosong. “Oya… makasih banget. “Hai… nih Amel bawain baju-baju seragam Amel dan juga perlengkapan sekolah lainnya. Dia harus selalu stand by di ruang OSIS yang dijadiin posko pengumpulan sumbangan. kotak pensil. “Di situ aja….kelas 3 yang mo lulus. Amel muncul di ruang OSIS bersama sopirnya sambil membawa sebuah dus yang ukurannya lumayan gede. Niken mengusulkan supaya baju-baju sekolah anak kelas 3 yang pasti sebentar lagi nggak kepakai dikumpulkan. “Iya… ditaruh di mana?” “Hmm…” Pandangan Niken berkeliling ke ruangan yang kelihatan penuh sumbangan dari anak-anak lainnya. Bahkan nggak cuman seragam sekolah. Setelah meletakkan dus yang dibawanya di tempat yang ditunjuk Niken. sedang Amel masih tinggal di dalam ruangan. Rencananya baju-baju ini nanti setelah diseleksi akan dijual kembali melalui koperasi sekolah untuk siswa-siswi SMA 31 yang butuh. dibantu juga oleh dua anak kelas 1 dan 2 yang jadi panitia. Niken juga sibuk menerima sumbangan baju dan peralatan sekolah lainnya.

Selain karena lapangan ini biasa dipakai olahraga pada sore hari. Dan setelah berlangsung selama lima hari. Dengan susah payah. Nggak lama. kan?” “Iya. kan?” sahut Niken sambil membalas pelukan Amel. . Niken buru-buru turun dari angkot yang membawanya ke GOR Saparua. Niken langsung menuju lapangan basket. Niken akhirnya melihat Amel yang duduk di bagian depan. Nggak heran kalo jarak dari SMA 31 ke Lapangan Saparua yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit jadi molor hampir dua kali lipatnya. Apalagi beberapa kali angkot yang ditumpangi terhalang konvoi anak sekolah yang merayakan kelulusan. ya?” tanya Amel. di mana-mana jalan di Bandung macet berat.” Amel menawarkan. sampai ke bagian tribun mini yang ada di sekeliling lapangan. Dia harus berjuang menembus kerumunan penonton.“Lulus dong… kamu juga. Setelah lama mengedarkan pandangannya ke seluruh tribun.” jawab Niken. penuh sesak. juga karena di lapangan basket yang terletak di salah satu sisi sedang digelar ajang Streetball Competition. Semuanya lulus. dia tahu dirinya datang terlambat. Melihat lapangan basket yang ramai dan riuh karena teriakan penonton. Katanya mo latihan pagi ini. kan?” “Lulus kok. Sabtu sore ini digelar pertandingan final. Keterlambatan yang sebetulnya nggak disengaja. Niken akhirnya bisa sampai ke tempat Amel. “Maunya sih… ntar deh kalo kerjaan di sini udah selesai. lalu mereka melepaskan pelukan mereka. “Vira nggak dateng. *** Suasana di GOR Saparua sore ini ramai. Kamu ntar sore mo nonton.” jawab Niken. Tapi karena weekend. Kamu juga? Barengan aja kalo mau. Rida juga nggak dateng tuh. Kan finalnya ntar sore. “Nggak. Sampe Niken sempat ketiduran di angkot. “Tapi mereka lulus. karena Niken udah cabut dari sekolah satu setengah jam sebelumnya setelah tugasnya sebagai koordinator sumbangan selesai.

Tas itu rupanya untuk menutupi tempat duduk di sebelahnya supaya nggak diduduki orang lain. “Eh… D‟Roses…. cuman hubungannya nggak begitu baik. “D‟Roses?” Niken mengernyitkan kening. Di papan skor terlihat dua tim yang bertanding. Bukan dari waktu. Dia melihat ke papan skor. tegangnya. “Siapa yang menang?” tanya Niken.” “Lama permainan streetball emang nggak sama dengan basket biasa. dan dua di antaranya tentu aja dikenal baik oleh Niken. “Udah lama mulai.“Hai… sori telat…. Bola basket biasa aja dia nggak tahu. Niken baru kali ini melihat streetball. “Iya… kerjaan baru beres. Mereka adalah Vira dan Rida. ya?” tanyanya. Parah…. FUZZY versus D‟ROSES dengan kedudukan sekarang 11-13 untuk D‟Roses. Vira dan Ria kira-kira masuk tim yang mana ya? tanya Niken dalam hati sambil menduga-duga. kadang-kadang sampe berteriak memberi semangat saking . Ada enam cewek yang bertanding di sana. Sedang yang seorang lagi dikenal Niken. Dia ingin bertanya pada Amel. apalagi ini. “Udah mo selesai kayaknya. tapi dari siapa yang mencapai angka tertentu lebih dulu.” ujar Niken. tapi nggak enak setelah melihat Amel lagi asyik menonton pertandingan. “Oooo… gitu…” NIken kembali mengarahkan pandangan ke lapangan (atau tepatnya setengah lapangan karena pertandingan hanya menggunakan setngah lapangan basket normal dan satu ring basket).” kata Niken. trus tadi macet banget.” Amel menjelaskan.” jawab Amel.” “Kok cepet amat. Niken duduk di sebelah Amel. yaitu… Stella. Lalu dia melihat ke lapangan. “Kok baru dateng?” tanya Amel sambil mengambil tasnya yang dia letakkan di sampingnya. jadi dia sama sekali nggak tahu peraturannya.

satu angka lagi dan D‟Roses akan memenangi pertandingan!” Demikian suara komentator pertandingan yang terus cuap-cuap kayak tukang obat di pinggir jalan. Sebuah tembakan lain dari Rida dapat diblok lawan. Jadi nggak ada angka khusus untuk tembakan tiga angka. dia dihadang seorang pemain lawan. Stella memutar tubuh dan coba berkelit. Stella mengangkat tangan dan mengoper bola ke belakang. Seorang pemain lawan yang berbadan lebih besar coba menghalangi. hingga lawannya kesulitan menghalangi geraknya. Dia meliukkan tubuh agak rendah. dan dia langsung mencega bola operan lawannya. .” kata Vira pada Stella. Tubuh Stella yang lebih tinggi membuat dia dapat menahan lawannya hingga lawannya terpaksa mengoper bola pada temannya.*** Dalam posisi menyeang. Dalam pertandingan ini. Masuk! “Iya. Ketika lawan coa menghadang pergerakan bolanya. dari jarak berapa pun. Itu suara Rida! Vira nggak punya pilihan lain. Steal! “Satu angka lagi…. hingga sekarang giliran tim Fuzzy menyerang. Waktu lagi mendribel. tapi Vira lebih cerdik. untuk keunggulan D‟Roses. tiap bola yang masuk emang akan dihitung satu angka.. Niken melihat papan skor berubah 11-14. Dia mengoper bola dengan cara yang unik. Blind Pass! Dari belakang muncul Vira yang menerima blind pass dari Stella dan langsung menusuk ke ring. Tapi posisi Vira jadi sulit untuk menembak. “Oper…” Sebuah suara terdengar di belakang Vira. Stella menghadangnya dengan ketat. Stella memimpin serangan. Jadi namanya D‟Roses! batin Niken. yaitu menggelindingkannya! Rida menerima bola dari VIra dan langsung menembak dari suut yang sempit. Seorang pemain lawan yang merupakan kapten tim mencoba masuk ke daerah pertahanan D‟Roses. Tapi di situ ada Vira.

dia langsung meliuk dan menyusuri sisi kiri lapangan. Saat pemain terakhir lawan coba menghadangnya. hingga dia dikerumuni dua orang. yang lalu mendesak Vira hingga ke sudut lapangan. Penonton pun bertepuk tangan. Gerakan Vira memancing seorang lawannya mendekat. wasit nggak meniup peluit tanda pelanggaran. Bagus! Bisa juga lo show off! batin Vira melihat gaya Rida yang impresif. Dalam streetball emang ada peraturan satu pemain hanya boleh dihadapi oleh satu orang. tapi malah mendorongnya ke sisi kanan. Di sana telah ada yang menunggunya… Stella. mengarahkan bola ke arah ring. SLAM DUNK!! . Kali ini Vira bermain lambat dengan mendribel bola dengan santai. Tapi anehnya. Stella melompat sambil bergerak maju.“Gue tau…” Tim D‟Roses ganti menyerang. “Foul!” teriak salah seorang penonton. Vira terpaksa mengoper pada Rida. Itu karena salah seorang pemain yang pertama kali membayangi Vira lalu mundur dan menyerahkan tugas pada temannya. Rida nggak menangkap bola operan Vira. Operan tinggi dari Vira menuju Rida. saat salah seorang lawannya datang mendekat. Nggak ada jalan lain. Tapi anehnya. Stella yang nggak terkawal menerima operan Rida dan melangkah ke arah ring dengan cepat. Rida melompat menyambut operan Vira dengan dibayangi oleh salah seorang pemain lawan.

akhirnya memutuskan untuk bercerai. Bokap gue nggak mau. “Nyokap udah lama merasa disakiti Bokap. Udah cukup yang gue dengar. Nyokap nggak tahan. bahkan udah punya anak di New York. Bokap selingkuh. Nyokap nggak akan nuntut Bokap atas penganiayaan yang dilakukannya. Bokap jadi marah dan sering memukuli Nyokap.” “Sebab… Nyokap ternyata memegang dua pertiga saham perusahaan keuangan yang didirikan oleh mereka.” lanjutnya. Tapi di sisi lain. “Nyokap dan Bokap bikin perjanjian.” ujar Vira. Makanya Bokap tadinya mati-matian nggak mau cerai dari Nyokap. tanda dia udah mulai terbawa perasaan. Bokap bisa kehilangan perusahaannya dan jatuh bangkrut. Kalo sampai Nyokap dan Bokap cerai. dia nggak mengubah kelakuannya…” Stella berhenti sebentar. Kalimat terakhirnya diucapkan dengan suara tergetar. “Nyokap-bokap lo mo cerai? Kenapa?” tanya Vira yang duduk di samping Stella. “Kalo lo nggak mau lanjutin cerita. ya udah. makaya dia nyusuk ke sini untuk membatalkan keputusan Nyokap itu. Sebagai imbalannya.” “Kenapa bokap lo nggak mau? Kan dia sendiri yang salah. Saat Nyokap tau soal ini. “It‟s okay…” . Tanpa sepengetahuan Nyokap.DUA PULUH DELAPAN “BOKAP gue udah keluar dari penjara…” Stella mulai bercerita. Bokap harus mau mengabulkan gugatan cerai Nyokap dan nggak boleh lagi nemuin Nyokap atau gue untuk selamanya….

Salah satunya dengan menukar mobil-mobil yang kami punya ke mobil yang lebih murah. Vira melihat cewek itu menitikkan air mata.” kata Amel sambil menyalami dan memeluk Vira. Ini pasti pukulan yang sangat berat baginya. Tapi dia lebih baik daripada Lisa yang juga . karena gue dan Nyokap sekarang cuman inggal ngandelin uang hasil penjualan saham dan gaji Nyokap sebagai pialang saham di sini. “Selamat yaa…. lalu mendongak ke langit. atau ke apartemen.” Stella menatap Vira dengan pandangan nggak percaya. Kan lo mo belajar… Masih ada waktu sekitar sejam sebelum gelap. Bahkan saat kehilangan Hera dulu. “Gue kan kalah…” “Siapa bilang lo harus menang untuk bisa belajar nombok?” *** Aksi slam dunk Stella mengubah skor menjadi 11-15. Dengan kata lain. Gue juga begitu… “…karena itu. Amel kelihatan kagok. Sorak-sorai pendukung D‟Roses pun nggak tertahan. Dalam waktu dekat mungkin kami berdua juga akan pindah ke rumah yang lebih kecil. Hal yang sama dia lakukan juga pada Rida. Saat giliran Stella. “Yuk…. nyokap gue melepas perusahaan yang dirintisnya dari nol ke tangan Bokap.” Untuk pertama kalinya sejak mengenal Stella. Gue ajarin dasarnya aja. Akhirnya dia cuman menyalami Stella. Nyokap minta gue untuk mulai hidup hemat. lo pasti ntar bisa ngembangin sendiri. “Mo ngapain?” tanya Stella. Vira melihat jam tangannya. Stella sama sekali nggak mengeluarkan air mata. dan itu berarti mengantar D‟Roses menjadi juara Streetball Competition untuk kelas putri. mereka masuk lapangan untuk menyalami cewek-cewek “bunga mawar” itu. Nyokap udah nggak mau berhubungan lagi dengan Bokap. “Nyokap akhirnya memutuskan untuk menjual seluruh saham miliknya di perusahaan. “Gue ajarin nombok.” ajaknya kemudian sambil berdiri. Itu supaya Bokap nggak ngejar-ngejar dia untuk menuntut perusahaannya.Stella melanjutkan ceritanya.

” balas Vira sambil tersenyum. “O… iya…” Lisa pura-pura lupa. “Jadi kalian nggak eksklusif lagi? Nggak ada syarat khusus untuk jadi anggota D‟Roses?” tanya Stephanie lagi.” sambung Stella. dan Amel sebagai bekas anggota The Roses. Aku tau sibuknya pejabat sekolah. “Dan apa?” “Dan semua yang pengin gabung… siapa aja….” jawab Stella. Tentu aja Rei jadi misuh-misuh diejek kayak gitu. “Selamat yaa… Sori aku telat. dan Stephanie yang kali ini datang bareng cowoknya. Abis macet…. . gue harus tolak keinginan lo jadi anggota. “Bukan The Roses. Lis?” tanya Stella. tapi D‟Roses… pake „D‟. Vira. Lisa. seakan Stella lupa sesuatu. lalu dia menyalami Vira dan Rida dengan perasaan terpaksa. Ntar aja lo daftar lagi kalo udah operasi kelamin…. “Gue. sedang yang lainnya cuman ngakak. juga sebagian anak-anak basket SMA Altavia. “Vira ama Rida nggak dikasih ucapan selamat. Di tengah-tengah kegembiraan sang pemenang. ditambah Niken. dua pria setengah baya datang menghampiri. dan Rida sebagai anggota baru…. “Sekarang siapa aja anggotanya?” “Siapa ya…” Vira melirik ke arah Stella.menonton pertandingan di tribun lain dan ikut memberi selamat tapi cuman ke Stella. termasuk Niken. “Dan….” sindir Stephanie.” kata Niken pada Vira.” Vira menambahkan sambil terus menatap Stella.” ejek Vira tiba-tiba pada Rei yang ada di dekat Niken. Ucapan selamat juga datang dari Rei dan anak-anak basket SMA 31 yang juga ikut nonton. “Tetep ada syaratnya dong….” tandas Vira. “Jadi The Roses ada lagi nih….” Vira mengoreksi. Rei. “Apa?” “Di harus cewek… Jadi sori. “Nggak papa kok.

Apalagi prestasi klub yang sering disingkat PMB itu lumayan mentereng. Jadi.” kata salah satu pria itu. Stella. Namanya belum ditentukan. Pak Wisnu tadi telah melihat permainan kalian bertiga. Pak. Bergabung dalam sebuah klub dan ikut kompetisi rutin selama setahun dan dibayar Itu tawaran yang benar-benar sulit untuk ditolak. dua kali masuk final. . Sekali juara liga. “Ini Pak Wisnu Tanujaya. Siapa yang nggak kenal Patriot Muda? Klub basket itu tergabung dalam Indonesia Basket League (IBL). Nah.” Vira menyambut uluran tangan Pak Andryan. “Benar.” kata Pak Andryan lagi. Stella yang pandangannya agak menunduk karena dilihatin Pak Andryan menerima uluran tangan itu. “Oya… ada seseorang yang ingin Bapak perkenalkan kepada kalian…. lalu tangan orang yang datang bersama mantan pelatihnya di SMA Altavia itu. dan Rida mengangguk. Patriot Muda akan membentuk tim wanita untuk ikut liga. Bagaimana?” Ucapan Pak Andryan benar-benar mengejutkan trio D‟Roses.” kata Pak Andryan sambil mengulurkan tangan.” ujar Tella singkat. “Pak Andryan? Bapak datang juga… makasih. Vira. yaitu liga basket profesional Indonesia. Beliau adalah pemilik klub basket Patriot Muda Bandung. dan beliau tertarik untuk mengajak kalian bergabung. Melihat permainan kalian. untuk itu.“Selamat ya…. Pak Andryan menatap Stella. Pak?” tanya Vira. pemain basket kota Bandung pasti nggak ada yang nggak mengenal klub itu. “Bapak senang… Akhirnya kamu bisa menemukan nilai-nilai olahraga yang sesungguhnya. jadi kami merekrut pemain-pemainnya untuk diseleksi. “Musim depan rencananya IBL akan membentuk liga basket profesional wanita. kan?” Pak Andryan memperkenalkan orang yang bersamanya—seorang pria bermata sipit berusia sekitar 50 tahunan dengan rambut mulai memutih dan perut agak buncit. Kalian tahu. “Bener nih. dan beberapa kali masuk final four. “Ma… makasih…. Kami akan membentuk tim wanita.

Kita sudah tidak ada waktu. Tapi kenapa Vira malah sok jual mahal gini? “Sampai berapa lama? Kita harus cepet-cepet membentuk tim karena musim kompetisi sudah dekat.Bapak optimis kalian bisa masuk. eh nggak jadi bertanding. “Pak Andryan pelatihnya? Asyiik dong… bisa minta ditraktir lagi kalo abis latihan. Pak?” kata Pak Andryan menegaskan. “Husss… ngaco!” potong Pak Andryan. . Jadi. Kontrak itu berkekuatan hukum tetap. atau akan dikenakan sanksi. Tapi Bapak pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi. dan hal-hal lain yang merupakan hak dan kewajiban antara pemain dan klub. membuat Rida dan Stella menatap tajam kepadanya. “Bapak sudah mendengar apa yang terjadi pada kalian dan Bapak ikut prihatin. Dan kontrak itu tidak boleh dilanggar oleh salah satu pihak. “Betul. Bagi mereka. pelatihnya adalah Pak Andryan sendiri. jadi kalau ada yang tidak sesuai dengan isi kontrak. jumlah bayaran kalian. “Oya. Kontrak itu mencakup sampai kapan kalian bermain di klub. selain itu di tim wanita nanti.” celetuk Vira.” jawab Vira. kalian akan diberi kontrak sebagai pemain.” Pak Wisnu ikut menjelaskan. Kalian nanti akan dikontrak penuh sebagai pemain profesional selama satu musim kompetisi. Pak…. pihak yang dirugikan bisa menuntut sampai ke pengadilan. Misalnya kalian menuntut pihak klub.” tandas Vira. Jadi kalian bertiga berpeluang besar. itu bisa saja.” desak Pak Andryan. “Tapi bagaimana? Tertarik?” “Hmmm… pikir-pikir dulu deh. dan setelah itu bisa diperpanjang kembali untuk musim berikutnya.” Pak Wisnu yang menjawab. ini tawaran yang bagus. Bukan begitu. “Ntar kita diboongin lagi… Udah capek-capek ikut seleksi dan latihan. karena kami punya kebijakan untuk merekrut pemain-pemain muda yang berbakat untuk dibina lebih lanjut. Kenapa? Karena kali ini kalau lulus seleksi. Di situ kalian bisa lihat apa hak dan kewajiban kalian. Pak Andryan tersenyum mendengar ucapan Vira.” tambah Pak Wisnu kemudian. apa yang kalian lakukan dalam klub sudah sangat jelas dan transparan dan tidak bisa diubah begitu saja.

Di antara kegembiraan bersama teman-temannya. Amel sepertinya melihat bayangan Diana sedang melihat ke arahnya dari kejauhan. . bikin semua melongo.“Halah.” jawab Vira akhirnya. jitakan bertubi-tubi mampir ke kapal Vira yang cuman bisa teriak-teriak pasrah.” sergah Vira. seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan tematemannya saat ini. “Lima detik?” “Nggak deh…. “Nggak?” “Iya… Nggak nolak!” Nggak ayal lagi. Diana tersenyum manis sambil mengacungkan ibu jarinya. Bapak… Masa ngasih waktu lima detik buat mikir aja nggak mau? Pelit ah….

DUA PULUH SEMBILAN APA pendapat kalian soal permainan bola basket? Wiki(pedia) Olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke keranjang lawan. lemesnya kyak nggak makan berhari-hari. Amalia (Siswi SMA 31) Bola keranjang? Amel (Siswi SMA 31) Itu permainan favorit sahabat-sahabat Amel. Lisa (Siswi SMA Altavia) Bikin gue capek karena gue harus nonton Stella kalo dia main. padahal gue sama sekali nggak ngerti dan nggak tertarik dengan basket. Kalo sehari aja mereka nggak maen basket. Niken (Mantan Ketua OSIS SMA 31) .

Oya. Bangga kan kalo salah seorang putri daerahnya bisa jadi pemain nasional. iseng-iseng ikut ekskul basket di sekolah. Padahal kan cowokku pemain basket… Stephanie (Alumnus SMA Altavia) Apa ya? Kelihatannya keren sih kalo bisa main basket. Gara-gara Vira juga sih yang bikin aku jadi lebih mencintai basket. Gue mendapat banyak pelajaran dari sana terutama pelajaran tentang kehidupan. lama-lama jadi keterusan. Vira (Siswi SMA 31) Basket bukan sekadar olahraga dan hobi bagi gue. aku ingin mengangkat nama daerahku. basket bikin status gue lebih tinggi daripada anak-anak lain. Rei (Siswa SMA 31) Tempat menyalurkan hobiku selain naik motor. . Apalagi kalo dapet duit dari situ… Sita (Siswi SMA Puri Luhur Tasikmalaya) Dengan basket.Permainan yang aku nggak pernah bisa. tambah semangat aja deh mainnya. Stella (Siswi SMA Altavia) Yang jelas. Apalagi kalo diliatin cowokcowok keren bin licin. Eh. tapi udah merupakan gaya hidup dan cara gue menjalani hidup ini. karena basket juga aku jadi punya teman-teman yang menyenangkan… Elmo (Streetballer) Sarana buat nyari duit! Lumayan… Rida (Siswi SMA 31) Tadinya sih cuman hobi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful