Anda di halaman 1dari 26

SESI/PERKULIAHAN KE : 6

TIK : Pada akhir pertemuan ini mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan prinsip kerja penyearahan terkendali satu-fasa. 2. Menyelesaikan perhitungan mengenai penyearah terkendali satufasa. 3. Merancang penyearah terkendali satu-fasa.

Pokok Bahasan

: Konversi Daya ac ke dc

Deskripsi Singkat : Dalam pertemuan ini Anda akan mempelajari konverter satu-fasa. Dengan mempelajari pokok bahasan tersebut maka Anda akan mampu menyelesaikan perhitungan dan merancang beberapa peralatan yang berhubungan dengan konversi daya ac ke dc, khususnya konverter satu-fasa.

I.

Bahan Bacaan Reston Publishing Company, Inc. 1981, Bab V.

1. Pearman, R. A. Power Electronics. (Solid State Motor Control). Virginia : 2. Rashid, M. H. Power Electronics (Circuits, Devices, and Applications). 2nd Edition. New Jersey : Prentice Hall International, Inc, 1993, Bab V. II. Bacaan Tambahan 1. Berde, M. S. Thyristor Engineering. (An Introductory Book on Converters, Inverters, Motor Drives and Other Applications of Thyristors in Electrical Control of Power). Third Edition. Delhi : Khanna Publishers. 1984, Bab VII. 2. Bose, B. K. Power Electronics and AC Drives. New Jersey : Prentice-Hall. 1986, Bab III.

115

3. Datta, S.K. Power Electronics and Controls. Virginia : Reston Publishing Company, Inc. 1985, Bab IV. 4. Davis, R. M. Power Diode and Thyristor Circuits. London : Cambridge at the University Press, and the Institution of Electrical Engineers. 1971, Bab III dan IV. 5. Kusko, A. Solid-State DC Motor Drives. Massachusetts : The M.I.T. Press. 1969, Bab III. 6. Ono, E., et al. Introduction to Power Electronics. Oxford : Clarendon Press, 1988, Bab IV. III. Pertanyaan Kunci Ketika Anda membaca bahan-bahan bacaan, gunakanlah pertanyaan berikut untuk memandu Anda :. IV. Tugas Carilah peralatan elektronik apa saja yang menerapkan penyearahan terkendali satu-fasa ! Ada berapa macam konverter satu-fasa ?

116

3.5 PENYEARAH TERKENDALI SATU-FASA


Penyearahpenyearah yang dibahas sebelumnya adalah tak terkendali, dimana tegangan keluarannya bersifat tetap. Untuk mendapatkan tegangan yang berubahubah (terkendali) maka digunakan tiristor sebagai ganti dioda. Disini akan digunakan kata konverter untuk menyingkat penulisan penyearah terkendali. [Perhatikan bahwa kata penyearah pada pembahasan yang lalu mempunyai arti penyearah tak terkendali]. Bergantung pada suplai sisi masukannya, konverter dapat dikelompokkan atas : 1. Konverter satu-fasa 2. Konverter tiga-fasa (atau fasa-banyak) Baik konverter satu-fasa maupun konverter fasa-banyak dapat lagi dikelompokkan ke dalam : a. Konverter semi-penuh b. Konverter penuh c. Konverter kembar (dual converter) Untuk mempermudah analisa selanjutnya, maka diasumsikan beban R-L mempunyai arus yang kontinu (sinambung) dan bebas kerut (ripel). Ini karena dianggap sifat induktif dari beban itu cukup tinggi. [Meskipun tidak diasumsikan demikian, unjuk kerja konverter untuk beban R-L tetap dapat dianalisa dengan metode Fourier atau persamaan diferensial]. Dengan mengendalikan sudut penyalaan (firing angle, ) atau sudut penundaan (delay angle) dari tiristor pada konverter, maka tegangan keluarannya dapat divariasikan. Dalam Gambar 3.15 diperlihatkan rangkaian-rangkaian untuk konverter satu-fasa. Konverter a) b) *) *) satu-fasa yang akan dibahas dalam hal ini dapat dikelompokkan atas dua bagian yaitu : Konverter satu-fasa setengah-gelombang (half-wave single-phase converter). Konverter satu-fasa gelombang-penuh (full-wave single-phase converter). Konverter satu-fasa semi-jembatan (single-phase semi-converter). Konverter satu-fasa jembatan-penuh (single-phase full-converter).
117

Konverter satu-fasa gelombang-penuh dapat dikelompokkan lagi menjadi :

Fungsi penyearahan dalam konverter satu-fasa setengah-gelombang dilakukan oleh sebuah tiristor seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 3.15(a), untuk semi-jembatan dilakukan oleh 2 (dua) buah pasangan tiristor dan dioda seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 3.15(b), dan untuk jembatan-penuh dilakukan oleh 4 (empat) buah tiristor seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 3.15 (c). Bentuk gelombang tegangan masukan tetap diasumsikan seperti dalam Gambar 3.3(a).

is = iT

+ io

AC

Vs

vo

Beban

(a)

+ T1 T2 T1 T3

is

io

is

AC

Vs

Dm

vo

Beban

AC

Vs

D2

D1

T4

(b)

(c)

Gambar 3.15 Rangkaian konverter satu-fasa. (a) Setengah-gelombang. (b) Semi-jembatan (c) Jembatan-penuh.

Tegangan masukan untuk semua konverter dalam Gambar 3.15 diasumsikan sebagai :

+ io vo
Beban

T2

118

vs = Vm sin t = Vs 2 sin t dan T = 2/ dalam hal ini :

.............................. (3-142)

= 2 f = frekuensi sudut gelombang tegangan masukan ........................ (3-143) f= 1 = frekuensi gelombang tegangan masukan Tin ................................... (3-144)

3.5.1 KONVERTER SATU-FASA SETENGAH-GELOMBANG DENGAN BEBAN RESISTIF 3.5.1.1 Prinsip Kerja Untuk setengah siklus positif dari vs yaitu 0 wt , tiristor mendapat prategangan maju (forward biased) sehingga cenderung untuk konduksi, akan tetapi dalam selang tersebut tiristor tidak langsung konduksi. Tiristor baru konduksi jika pada wt = ia disulut. Jadi tiristor konduksi dalam selang wt . Jika diasumsikan tiristor tidak mempunyai jatuh tegangan dalam keadaan konduksi, maka tegangan yang muncul di beban adalah vs dalam selang wt . Dengan demikian akan ada arus yang mengalir dalam jalur : tiristor T beban sumber tegangan. Untuk setengah siklus negatif dari vs yaitu wt 2 , tiristor mendapat prategangan balik (reverse biased) sehingga memblok. Dengan demikian tidak ada arus yang mengalir dalam rangkaian sehingga tegangan beban sama dengan nol. Untuk 2 wt 3 siklus kembali berulang seperti pada interval 0 wt . Dari Gambar 3.15(a) terlihat bahwa arus masukan (is), arus tiristor (iT) dan arus beban (io) adalah sama sehingga bentuk-bentuk gelombangnya juga sama. Nampak pula bahwa bentuk gelombang tegangan input maupun tegangan output mempunyai periode yang sama. Jadi juga mempunyai frekuensi yang sama. Persamaan untuk tegangan keluaran sesaat adalah : vo = Vm sin t untuk t dan To = Persamaan untuk arus beban sesaat adalah : 2 ............................ (3-145)

119

2 V io = m sin t = Im sin t untuk t dan To = ........ (3-146) R Implementasi dari persamaan (3-145) tentang tegangan keluaran penyearah serta persamaan (3-146) tentang arus beban dapat dilihat pada Gambar 3.16.

vo
vm

To
0

2 +

io = is = iT
Im

To
0

2 +

Gambar 3.16 Bentuk gelombang tegangan keluaran (vo) dan arus beban (io) dari konverter satu-fasa setengah-gelombang berbeban resistif.

3.5.1.2

Harga Rata-Rata dan Harga Efektif


To

1 Vdc = To =

v o dt =
o

1 V cos t Vm sin t dt = m2 2

Vm (1 + cos ) ..................................................................................... (3-147) 2 1 To


To

Vrms =

v
o

2 o

dt =

1 2 (Vm sin t ) dt = Vm 2

1 t sin 2t 2 2 4 ............................ (3-148)

= Vm

1 1 ( + sin 2) 4 2

Karena Vm = Vs 2 maka dapat ditulis : Vs 2

Vdc =

(1 + cos )

................................................................... (3-149)
120

Vrms = Vs Selanjutnya :

1 1 ( + sin 2) 2 2 Vs R 2

.............................................. (3-150)

V Idc = Is(av) = IT = dc = R

(1 + cos )

................................... (3-151) ................ (3-152)

V V Irms = Is = IT(rms) = rms = s R R

1 1 ( + sin 2) 2 2

Terlihat dari persamaan (3-147) atau (3-149) bahwa harga rata-rata tegangan keluaran dapat divariasikan dengan mengambil harga antara 0 dan . Jika = 0 maka Vdc = Vdc(max) = 0,3183 Vm dan jika = maka Vdc = Vdc(min) = 0. CONTOH 3-6 : Sebuah konverter satu-fasa setengah-gelombang yang rangkaiannya seperti dalam Gambar 3.15(a) mempunyai tegangan jala-jala 120 V; 50 Hz dengan beban R = 10 . Harga rata-rata tegangan keluaran yang diperoleh adalah 25% dari nilai terbesar harga rata-rata tegangan keluaran. Hitunglah : a). Sudut penundaan dari tiristornya. b). Harga rata-rata arus beban. c). Harga efektif arus beban. d). Harga rata-rata arus tiristornya. e). Harga efektif arus tiristornya. Pembahasan : Dalam hal ini Vs = 120 V, maka Vm = 120 2 volt. Harga maksimum dari tegangan keluaran rata-rata adalah apabila = 0 dari persamaan (3-147) : Vdc(max) = Vm ................................................................................................. (3f-1) Vdc = 25% Vdc(max) = 0,25 Vm , kemudian

a). Dalam hal ini diketahui

disubstitusikan ke persamaan (3-147) :


121

0,25 Vm V = m (1 + cos ), sehingga : 2 cos = - 0,5 = cos-1(-0,5) = 120 (= b) Dari persamaan (3-151) diperoleh : Idc = c) Vs R 2 (1 + cos ) = 120 10 2 (1 + cos 120) = 1,35 A 2 rad) 3

Dari persamaan (3-152) diperoleh : Irms = Vs R 1 1 120 1 2 1 ( + Sin 2) = ( + sin 240) 2 2 10 2 3 2 A

= 3,752

d) Arus tiristor sama dengan arus beban, jadi : IT = 1,35 e) A

Juga diperoleh : IT(rms) = 3,752 A

3.5.2 KONVERTER SATU-FASA SETENGAH-GELOMBANG DENGAN BEBAN INDUKTIF Berbeda dengan kasus beban resistif, maka pada kasus beban induktif bentuk gelombang vo dan io berbeda. Gambar 3.17 memperlihatkan rangkaian konverter ini yang melayani beban induktif.

is = iT

+ io

AC

Vs

Dm

vo

Beban Induktif

122

Gambar 3.17 Diagram rangkaian dari konverter satu-fasa setengahgelombang berbeban induktif.

Rangkaian dalam Gambar 3.17 diperlengkapi dengan dioda freewheeling (Dm). Untuk beban-beban resistif maka dioda freewheeling tak akan berfungsi karena tidak pernah konduksi. Jadi untuk beban-beban induktif dioda freewheeling dapat dipakai atau dapat pula tidak. Jika tidak diperlengkapi dengan dioda freewheeling, maka adanya sifat induktif (L) dalam beban akan menyebabkan arus beban (io) masih berlanjut mengalir melewati t = , dan baru berhenti pada t = . Sudut dalam hal ini disebut sudut padam (extinction angle). Ini menyebabkan terjadinya tegangan negatif pada keluaran konverter atau pada beban. Selanjutnya keberadaan bagian negatif pada tegangan keluaran akan menyebabkan kerut (ripel) yang besar serta harga ratarata (Vdc) yang kecil. Untuk mengurangi faktor kerut dari tegangan keluaran serta untuk meningkatkan Vdc, maka rangkaian diperlengkapi dengan dioda freewheeling (Dm). Bentuk-bentuk gelombang dari besaran pada konverter satu-fasa setengah gelombang berbeban induktif baik yang memakai dioda freewheeling maupun yang tidak, dapat dilihat dalam Gambar 3.18 dan 3.19. Dalam keadaan tidak diperlengkapi dengan dioda freewheeling, arus sesaat yang mengalir di beban adalah : L dio + R io = Vm sin t .................................................................. (3-153) dt

Jika pada saat t = arus beban masih nol maka jawaban untuk persamaan (3-153) di atas adalah : io = Vm sin( t ) sin( ).e ( t ) / tan Z

untuk t ............... (3-154)

Jika pada saat t = arus beban menjadi nol kembali maka diperoleh persamaan untuk menghitung secara trial and error : sin( ) sin( ).e ( ) / tan =0 .................................... (3-155)

123

Adapun persamaan tegangan beban adalah : vo = Vm sin t untuk t dan To = 2 .............................. (3-156)

Implementasi dari persamaan (3-154) dan (3-156) dapat dilihat pada Gambar 3.18.

vo
vm

2 + 3

2 +

io = is = iT
Io(max)
2 + 2 +
t

Gambar 3.18 Bentuk-bentuk gelombang tegangan dan arus beban dari konverter satu-fasa setengah-gelombang berbeban induktif yang tidak diperlengkapi dengan dioda freewheeling.

Dalam keadaan diperlengkapi dengan dioda freewheeling, tegangan sesaat yang muncul di beban adalah seperti yang dinyatakan dalam persamaan (3-145). Untuk menentukan persamaan arus beban maka dapat ditinjau dua modus. Modus 1 berlangsung dalam interval t . Dalam hal ini beban disuplai oleh arus dari tiristor. Dengan menerapkan Hukum Kirchoff maka dapat ditulis : L di T1 + R i T1 = Vm sin t dt ........................................................ (3-157)

Jika pada saat t = arus beban mencapai harga minimumnya yaitu I2 maka jawaban untuk persamaan (3-157) di atas adalah : Vm V sin( t ) + I 2 m s in ( ) e ( t ) / tan Z Z

iT =

.................. (3-158)

124

Modus 2 berlangsung dalam interval t 2 + . Dalam hal ini beban disuplai oleh arus dari dioda Dm. Dengan menerapkan Hukum Kirchoff maka dapat ditulis : L di Dm + R i Dm = 0 dt ................................................................... (3-159)

Jika pada saat t = arus beban mencapai harga maksimumnya yaitu I1 maka jawaban untuk persamaan (3-159) di atas adalah : iDm = I1 e ( t ) / tan ........................................................................... (3-160)

Untuk menentukan I2 dalam persamaan (3-158) dan I1 dalam persamaan (3-160) maka diterapkan kondisi bahwa pada saat t = , arus modus 1 akan mencapai nilai maksimumnya yaitu I1, sedangkan pada saat t = 2 + , arus modus 2 akan mencapai nilai minimumnya yaitu I2. Dengan demikian akan diperoleh : Vm sin( ) sin( ) e ( ) / tan I1 = Z 1 e 2 / tan dan : Vm sin( ) e ( + ) / tan sin( ).e 2 / tan I2 = Z 1 e 2 / tan

................................. (3-161)

.................... (3-162)

Implementasi dari persamaan (3-158) dan (3-160) dapat dilihat pada Gambar 3.19.

vo
vm

2 +

io
I1 I2 0

iT

iDm

125

2 +

Gambar 3.19 Bentuk-bentuk gelombang tegangan dan arus beban dari konverter satu-fasa setengah-gelombang berbeban induktif yang diperlengkapi dengan dioda freewheeling.

Dalam Gambar 3.19 dapat terlihat bahwa keberadaan dioda freewheeling mencegah terjadinya tegangan negatif pada beban. Dalam interval waktu t beban disuplai oleh arus dari tiristor, sedangkan dioda Dm dalam keadaan memblok. Dalam interval t 2 + , beban disuplai oleh arus dari dioda freewheeling. Pada t = 2 + , siklus kembali berulang seperti pada t = . 3.5.2.1 Harga Rata-Rata dan Harga Efektif pada Kondisi dengan Dioda Freewheeling 1 To

Vdc = =

To

v o dt =

1 Vm Vm sin tdt = 2 [ cos t ] 2

Vm (cos -cos ) ................................................................... (3-163) 2 1 To


To

Vrms =

v
o

2 o

dt =

1 2 (Vm sin t ) dt 2 ............................... (3-164)

= Vm

1 1 + 2 (sin 2 sin 2) 4

Karena Vm = Vs 2 maka dapat ditulis : Vs 2 (cos -cos ) ................................................................ (3-165) 1 1 + 2 (sin 2 sin 2) 2 ............................... (3-166)

Vdc =

Vrms = Vs

Harga rata-rata arus beban adalah :

126

V Idc = Is(av) = IT = dc = R

Vs R 2

(cos -cos ) ................................. (3-167)

Harga efektif arus-beban didapatkan dengan mensubstitusikan persamaan (3-154) ke dalam (3-18) : 1 2 i o dt 2

Irms = Is = IT(rms) = 3.5.2.2

...................................................... (3-168)

Harga Rata-Rata dan Harga Efektif pada Kondisi dengan Dioda Freewheeling Terlihat dari Gambar 3.19 bahwa bentuk gelombang tegangan keluarannya

sama dengan bentuk gelombang tegangan keluaran pada kasus beban resistif, sehingga : Vm (1 + cos ) ....................................................................... (3-169) 2 1 1 ( + sin 2) 4 2 ................................................ (3-170)

Vdc =

Vrms = Vm

Karena Vm = Vs 2 maka dapat ditulis : Vs 2 (1 + cos ) .................................................................... (3-171) 1 1 + 2 sin 2 2 .............................................. (3-172)

Vdc =

Vrms = Vs

Harga rata-rata arus beban didapatkan dengan cara mensubstitusikan persamaan (3158) dan (3-160) sampai (3-162) ke dalam (3-17) : 1 Idc = i T dt + 2
2 +

Dm

dt

.................................................... (3-173)

Harga rata-rata arus beban juga didapatkan dengan cara mensubstitusikan persamaan (3-158) dan (3-160) sampai (3-162) ke dalam (3-18) :

127

Irms =

1 2 i T dt + 2

2 + 2 Dm

dt

............................................... (3-174)

3.5.3 KONVERTER SATU-FASA SETENGAH-GELOMBANG DALAM KASUS BERBEBAN INDUKTIF TINGGI (HIGHLY INDUCTIVE) Bentuk-bentuk gelombang tegangan dan arus beban akibat beban ini diperlihatkan dalam Gambar 3.20.
vo
vm

2 + 3

io
Ia 0
t

iT = is
Ia 0

2 +

iDm
Ia

2 +

4 +

Gambar 3.20 Bentuk-bentuk gelombang besaran-besaran pada konverter satu-fasa setengah-gelombang berbeban induktif tinggi yang diperlengkapi dengan dioda freewheeling.

Telah dijelaskan pada Sub Bab 3.3.2 bahwa beban-beban induktif yang mempunyai 2fL >> R atau (2fL - 2fC ) >> R disebut beban induktif tinggi atau sangat induktif (highly inductive). Motor arus searah (dc) dapat dipertimbangkan ke dalam jenis beban ini.
1

128

Untuk pembahasan beban induktif tinggi selanjutnya, maka diasumsikan bahwa arus yang ditarik oleh beban bersifat kontinu (tidak terputus) dan bebas kerut. Arus seperti ini dihasilkan dari rangkaian yang diperlengkapi dengan dioda freewheeling seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 3.17. Dengan memperhatikan Gambar 3.20, maka dapat dinyatakan beberapa harga rata-rata dan harga efektif sebagai berikut : Vdc = Vm (1 + cos ) ....................................................................... (3-175) 2 1 1 ( + sin 2) 4 2 ( ) I a 2 2 ................................................ (3-176)

Vrms = Vm Idc = Irms = Ia IT = Is(av) =

................................................................................ (3-177) ..................................................................... (3-178) ................................................................... (3-179)

IT(rms) = Is = I a IDm = ( + ) I a 2

............................................................................. (3-180) ....................................................................... (3-181)

IDm(rms) = I a

+ 2

3.5.4 KONVERTER SATU-FASA SEMI-JEMBATAN Rangkaian yang umum untuk konverter satu-fasa semi-jembatan telah diperlihatkan dalam Gambar 3.15(b). Diperlengkapinya rangkaian dengan dioda freewheeling karena dianggap bahwa bahwa pada umumnya konverter tersebut akan melayani beban induktif misalnya motor arus searah, yang dalam hal ini diasumsikan sebagai beban induktif tinggi (highly inductive). Rangkaian konverter satufasa semi-jembatan mempunyai rangkaian yang sama dengan rangkaian konverter satufasa jembatan-penuh, hanya saja 2 buah tiristornya telah diganti dengan dioda. Selain itu, rangkaian semi-jembatan diperlengkapi dengan dioda freewheeling.

129

Dari diagram rangkaian pada Gambar 3.15(b) dapat disimpulkan bahwa dalam selang 0 t dari gelombang tegangan masukan, tiristor T1 dan dioda D1 mendapat prategangan maju sehingga cenderung untuk konduksi, dan dalam selang t 2 dari gelombang tegangan masukan, tiristor T2 dan dioda D2 mendapat prategangan maju sehingga cenderung untuk konduksi. Perlu diketahui bahwa dioda tidak dipengaruhi oleh nilai dari tiristor, jadi tidak mengalami penundaan konduksi. Di lain pihak, saat kapan mulainya tiristor konduksi dipengaruhi oleh tadi, jadi mengalami penundaan konduksi bila 0. Pola-pola konduksi untuk rangkaian ini diperlihatkan dalam Gambar 3.21.

T1

T2

D1
0

D2 2
t

(a )

T2

T1 D1
D2

T2

( b)

T2
D1 0

T1
D2 2
t

( c)

Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dibuat tabel pola pembentukan tegangan keluaran atau tegangan beban.

Gambar 3.21 Pola-pola konduksi tiristor dan dioda dalam konverter satufasa semi-jembatan. (a) Pada = 0. (b) Pada 0 < < . (c) Pada = .

130

Tabel 3.8 Pola pembentukan tegangan keluaran atau tegangan beban pada konverter satu-fasa semi-jembatan untuk = 0 dan = . = 0 Selang
Komponen yang cenderung konduksi Tegangan beban untuk semua jenis beban Komponen yang cenderung konduksi Tegangan beban untuk beban resistif atau induktif dengan dioda freewheeling

Tegangan beban untuk beban induktif tanpa dioda freewheeling

0 t t 2

T1, D1 T2, D2

vs - vs

T2, D1 T1, D2

0 0

- vs vs

Tabel 3.9 Pola pembentukan tegangan keluaran atau tegangan beban pada konverter satu-fasa semi-jembatan untuk 0 < < .
Beban resistif atau beban induktif tinggi dengan dioda freewheeling Komponen yang Tegangan pada cenderung konbeban duksi Beban induktif tinggi tanpa dioda freewheeling Komponen yang Tegangan pada cenderung konbeban duksi

Selang 0 t < t < t < + + t 2

T2, D1 T1, D1 T1, D2 T2, D2

0 vs 0 - vs

T2, D1 T1, D1 T1, D2 T2, D2

- vs vs vs - vs

Berdasarkan Tabel 3.8 dan Tabel 3.9, dihasilkanlah bentuk-bentuk gelombang seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 3.22 sampai 3.24.

vo
Vm

+ 2

io
Im
t

131

+ 2

Gambar 3.22 Bentuk-bentuk gelombang tegangan dan arus beban dari konverter satu-fasa semi-jembatan yang berbeban resistif (dengan atau tanpa menggunakan dioda freewheeling).

vo
Vm

+ 2

io
Ia 0
t

Gambar 3.23 Bentuk-bentuk gelombang tegangan dan arus beban dari konverter satu-fasa semi-jembatan yang berbeban induktif tinggi dengan menggunakan dioda freewheeling. vo
Vm

2 +

3 + 4

io
Ia 0
t

132

Gambar 3.24 Bentuk-bentuk gelombang tegangan dan arus beban dari konverter satu-fasa semi-jembatan yang berbeban induktif tinggi tanpa menggunakan dioda freewheeling.

Dengan memperhatikan Gambar 3.22 sampai 3.24, maka dapat dinyatakan beberapa harga rata-rata dan harga efektif sebagai berikut. Untuk beban resistif (dengan atau tanpa menggunakan dioda freewheeling) : Vdc = Vm (1 + cos ) ....................................................................... (3-182) 1 1 ( + sin 2) 2 2 ................................................. (3-183)

Vrms = Vm Idc = Irms =

Vm (1 + cos ) ........................................................................ (3-184) R Vm R 1 1 ( + sin 2) 2 2 .................................................. (3-185)

IT = Id =

Vm (1 + cos ) ................................................................ (3-186) 2R Vm R 1 1 ( + sin 2) 4 2 .................................. (3-187)

IT(rms) = Id(rms) =

Is(av) = 0 ............................................................................................. (3-188) Is = Vm R 1 1 ( + sin 2) 2 2 .................................................... (3-189)

Untuk beban induktif tinggi dengan menggunakan dioda freewheeling :


133

Vdc =

Vm (1 + cos ) ....................................................................... (3-190) 1 1 ( + sin 2) 2 2 ................................................. (3-191)

Vrms = Vm Idc = Irms = Ia IT = Id =

................................................................................. (3-192) ......................................................................... (3-193) 2 ............................................................... (3-194)

( ) I a 2

IT(rms) = Id(rms) = I a

Is(av) = 0 ............................................................................................. (3-195) Is = I a


.................................................................................. (3-196)

IDm =

Ia

...................................................................................... (3-197) .............................................................................. (3-198)

IDm(rms) = I a

Untuk beban induktif tinggi tanpa menggunakan dioda freewheeling : Vdc = Vrms =
2 Vm Vm 2

cos .............................................................................. (3-199) = Vs ........................................................................... (3-200) ................................................................................. (3-201) ........................................................................................ (3-202) ....................................................................................... (3-203)

Idc = Irms = Ia IT = 0,5 Ia IT(rms) =


Ia 2

Is(av) = 0 ............................................................................................. (3-204) Is = Ia ............................................................................................... (3-205) CONTOH 3-7 : Sebuah konverter satu-fasa semi-jembatan yang rangkaiannya seperti dalam Gambar 3.15(b) mempunyai tegangan jala-jala 120 V; 50 Hz dengan beban R = 10

134

. Harga rata-rata tegangan keluaran yang diperoleh adalah 50% dari nilai terbesar harga rata-rata tegangan keluaran. Hitunglah : a). Sudut penundaan dari tiristornya. b). Harga rata-rata arus beban. c). Harga efektif arus beban. d). Harga rata-rata arus tiristornya. e). Harga efektif arus tiristornya. Pembahasan : Dalam hal ini Vs = 120 V, maka Vm = 120 2 volt. Harga maksimum dari tegangan keluaran rata-rata adalah apabila = 0 dari persamaan (3-182) : Vdc(max) = 2 Vm .............................................................................................. (3g-1) Vm , kemudian disubstitusikan ke

a). Dalam hal ini diketahui Vdc = 50% Vdc(max) = persamaan (3-182) : Vm V = m (1 + cos ), sehingga : cos = 0 = cos-10 = 90 (= rad) 2 b) Dari persamaan (3-184) diperoleh : Idc = c)

Vm 120 2 (1 + cos ) = (1 + cos 90) = 5,4 R 10

Dari persamaan (3-185) diperoleh : Irms = Vm R 1 1 120 2 ( + sin 2) = 2 2 10 A 1 1 ( + sin 180) 2 2 2

= 8,485

d) Arus tiristor diperoleh dari persamaan (3-186), jadi : IT = e) Vm 120 2 (1 + cos ) = (1 + cos 90) = 2,7 2R 20 A

Arus tiristor diperoleh dari persamaan (3-187), jadi :


135

IT(rms) =

Vm R

1 1 120 2 ( + sin 2) = 4 2 10 A

1 1 ( + sin 180) 4 2 2

=6

3.5.5 KONVERTER SATU-FASA JEMBATAN-PENUH Rangkaian yang umum untuk konverter satu-fasa semi-jembatan telah diperlihatkan dalam Gambar 3.15(c). Tidak diperlengkapinya rangkaian dengan dioda freewheeling adalah dengan maksud untuk memperoleh harga rata-rata tegangan keluaran yang lebih bervariasi, disamping untuk membedakannya dari konverter satu-fasa semi-jembatan. Dari diagram rangkaian pada Gambar 3.15(c) dapat disimpulkan bahwa dalam selang 0 t dari gelombang tegangan masukan, pasangan tiristor T1 dan T2 mendapat prategangan maju sehingga cenderung untuk konduksi, dan dalam selang t 2 dari gelombang tegangan masukan, pasangan tiristor T3 dan T4 mendapat prategangan maju sehingga cenderung untuk konduksi. Saat kapan mulainya tiristor konduksi dipengaruhi oleh , jadi mengalami penundaan konduksi bila 0. Pola-pola konduksi untuk rangkaian ini diperlihatkan dalam Gambar 3.25. Bentuk-bentuk gelombang tegangan dan arus beban untuk beban resistif adalah sama seperti yang dinyatakan dalam Gambar 3.22, sedangkan untuk beban
T1
T3

induktif tinggi adalah sama seperti yang dinyatakan dalam Gambar 3.24.
T2 T4


T3 T4
(a)

T1
T2

T3
T4

0
(b)

T3

T1 T2

136
t

T4
0

(c)

Gambar 3.25 Pola-pola konduksi tiristor dan dioda dalam konverter satufasa jembatan-penuh. (a) Pada = 0. (b) Pada 0 < < . (c) Pada = .

Berdasarkan Gambar 3.25 dan uraian di atas, dapatlah dibuat tabel pola pembentukan tegangan keluaran atau tegangan beban. Tabel 3.10 Pola pembentukan tegangan keluaran atau tegangan beban pada konverter satu-fasa jembatan-penuh untuk = 0 dan = . = 0 Selang 0 t t 2
Komponen yang cenderung konduksi Tegangan beban untuk semua jenis beban Komponen yang cenderung konduksi

=
Tegangan beban untuk beban resistif Tegangan beban untuk beban induktif

T1, T2 T3, T4

vs - vs

T3, T4 T1, T2

0 0

- vs vs

Tabel 3.11 Pola pembentukan tegangan keluaran atau tegangan beban pada konverter satu-fasa jembatan-penuh untuk 0 < < .

137

Selang 0 t < t < t < + + t 2

Beban resistif Komponen yang Tegangan pada cenderung konbeban duksi

Beban induktif tinggi Komponen yang Tegangan pada cenderung konbeban duksi

T3, T4 T1, T2 T1, T2 T3, T4

0 vs 0 - vs

T3, T4 T1, T2 T1, T2 T3, T4

- vs vs - vs

Akhirnya dapat dinyatakan beberapa harga rata-rata dan harga efektif sebagai berikut. Untuk beban resistif : Karena bentuk-bentuk gelombang untuk kasus berbeban resistif ini sama dengan bentuk-bentuk gelombang pada rangkaian semi-jembatan yang berbeban resistif maka harga rata-rata dan efektif dari beberapa besaran adalah sama dengan yang dinyatakan dalam persamaan (3-182) sampai (3-189). Untuk beban induktif tinggi : Karena bentuk-bentuk gelombang untuk kasus berbeban induktif tinggi ini sama dengan bentuk-bentuk gelombang pada rangkaian semi-jembatan yang berbeban induktif tinggi tanpa menggunakan dioda freewheeling maka harga rata-rata dan efektif dari beberapa besaran adalah sama dengan yang dinyatakan dalam persamaan (3-199) sampai (3-205). CONTOH 3-8 : Sebuah konverter satu-fasa jembatan-penuh yang rangkaiannya seperti dalam Gambar 3.15(c) mempunyai tegangan jala-jala 120 V; 50 Hz dengan beban R = 10 . Harga rata-rata tegangan keluaran yang diperoleh adalah 25% dari nilai terbesar harga rata-rata tegangan keluaran. Hitunglah : a). Sudut penundaan dari tiristornya. b). Harga rata-rata arus beban. c). Harga efektif arus beban.
138

d). Harga rata-rata arus tiristornya. e). Harga efektif arus masukan konverter. Pembahasan : Dalam hal ini Vs = 120 V, maka Vm = 120 2 volt. Harga maksimum dari tegangan keluaran rata-rata adalah apabila = 0 dari persamaan (3-182) : Vdc(max) = 2 Vm .............................................................................................. (3g-1)

a). Dalam hal ini diketahui Vdc = 25% Vdc(max) = persamaan (3-182) : Vm V = m (1 + cos ), sehingga : 2 cos = - 0,5 = cos-1(- 0,5) = 120 (= b) Dari persamaan (3-184) diperoleh : Idc =

Vm , kemudian disubstitusikan ke 2

2 rad) 3

Vm 120 2 (1 + cos ) = (1 + cos 120) = 2,7 R 10

c)

Dari persamaan (3-185) diperoleh : Irms = Vm R 1 1 120 2 ( + sin 2) = 2 2 10 A 1 2 1 ( + sin 240) 2 3 2

= 5,306

d) Harga rata-rata arus tiristor diperoleh dari persamaan (3-186), jadi : IT = e) Vm 120 2 (1 + cos ) = (1 + cos 120) = 1,35 2R 20 A

Harga efektif arus masukan diperoleh dari persamaan (3-189), jadi : Is = Vm R 1 1 120 2 ( + sin 2) = 2 2 10 1 2 1 ( + sin 240) 2 3 2

139

= 5,306 A

140