Anda di halaman 1dari 6

TUGAS TUTORIAL MAKA KULIAH IRIGASI DAN DRAINASE DRAINSPACE

Anggota Kelompok :

1. Abi Anggara 2. Syamsu Agung Wijaya

(10504020311009) (105040204111002)

Kelas : J

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI MALANG 2012

Data Perhitungan Drain Spacing :

Soal Diskusi: 1. Pengaruh sifat fisik tanah dan kondisi cuaca (itensitas dan durasi hujan) terhadap pengaturan drain spacing? 2. Bagaimana kebutuhan (jenis tanaman) disesuaikan dengan kondisi alam (tanah dan cuaca) ? 3. Apa kesimpulan dan saran yang bisa dikemukakan dari perhitungan ini?

Jawaban : 1. Pengaruh sifat fisik berhubungan dengan tekstur struktur, konsistensi dll. Sifat fisik tanah yang berupa tekstur mempengaruhi drainase. Misalnya sifat fisik pada tanah bertekstur pasir antara lain besarnya berperanan sebagai butir-butir yang berpisah. Butir-butir pasir bentuknya membulat atau sangat tidak teratur tergantung pada abrasi yang didiami. Daya resap air pada pasir tinggi dan karena ruang-ruang diantara butir-butir pasir besar, daya pelulusan air besar juga. Karena itu drainase dapat berjalan lancar dan lalu lintas berjalan dengan baik. Tanah-tanah yang dikuasai oleh pasir sifatnya terbuka, drainase dan aerasi berjalan baik sebab dalam keadaan lepas dan gembur. Sedangkan untuk tanah bertekstur liat mempunyai pori-pori yang lebih kecil sehingga daya menyimpan airnya kuat. Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa tanah A merupakan tanah bertekstur liat karena air drainase yang keluar paling banyak dibandingkan dengan tanah B dan C. Untuk itensitas dan durasi hujan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman, itensitas hujan yang terlalu tinggi dan tanah telah mengalami jenuh air maka akan mempengaruhi perakaran tanah. Akar tanah yang terkena jenuh air akan membusuk, untuk menghindari hal tersebut di butuhkan drainase tanah yang sesuai. Penurunan air drainase tergantung pada kedalaman perakaran tanaman. Dari hasil data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi

intensitas hujan sedangkan tekstur porinya kecil maka tanah tersebut didominasi oleh liat sehingga daya serap air kacil namun daya alir permukaan/ run off semakin besar sehingga daya drainase besar yang menyebabkan jarak pipa drainasenya semakin kecil

2.

Tanaman kelapa sawit Faktor Tanah. Tanaman kelapa sawit dapat dibudidayakan pada berbagai jenis tanah. Tanaman ini tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah subur bersolum dalam, berdrainase baik, pH berkisar 5.5 7.0. Tanah demikian terutama pada tanah-tanah bertekstur lempung liat berpasir yang biasa dijumpai pada tanah-tanah aluvial. Tanaman kelapa sawit memerlukan drainase yang relatif baik. Pada keadaan drainase yang terhambat ataupun jumlah air yang berlebihan, misalnya dalam keadaan tegenang, pertumbuhan akan terhambat. Tekstur tanah berperan terhadap aerasi tanah, efisiensi pemupukan dan lain-lain. Tanah-tanah dengan tekstur berat (liat) akan menyebabkan terhambatnya perkembangan akar kelapa sawit, tetapi tanah demikian mempunyai kemampuan besar dalam meretensi pupuk yang ditambahkan. Sedangkan tanah bertekstur ringan (pasir) mempunyai efisiensi pemupukan yang rendah (Panjaitan dan Wibowo, 1975 dalam Hazriani, 2004). topografi lahan juga merupakan faktor lingkungan yang penting ikut menentukan efisiensi usaha perkebunan kelapa sawit. Beberapa unsur topografi yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman adalah relief, sudut lereng, arah lereng, dan ketinggian lahan di atas permukaan laut. Keseluruhan unsur tersebut bersamasama mempengaruhi iklim lokal kebun tersebut. Curah hujan. Tanaman kelapa sawit tumbuh dengan baik pada kawasankawasan dengan curah hujan tahunan 2000 2500 mm dan menyebar merata sepanjang tahun (Fauzi et al., 2002). Sebaran curah hujan merupakan faktor yang penting untuk perkembangan bunga. Pada umumnya sewaktu musim hujan terbentuk lebih banyak tandan bunga betina, sedang pada musim kemarau terbentuk lebih banyak bunga jantan dikarenakan mulai awal musim kemarau pemisahan bunga cenderung ke arah bunga jantan. Suhu udara dan ketinggian tempat. suhu udara akan semakin menurun dengan bertambahnya ketinggian lokasi pertanaman. Ketinggian tempat yang ideal untuk pertanaman kelapa sawit

mulai dari 5 m sampai 200 m di atas permukaan laut. Ketinggian lebih dari 600 m di atas permukaan laut tidak dianjurkan untuk budidaya kelapa sawit (Sianturi, 1991 dalam Hazriani, 2004). Tanaman kelapa sawit tumbuh dan berkembang baik pada kawasan yang mempunyai suhu udara rata-rata 24 28o C (Ferwerda, 1977 dalam Hazriani, 2004). Untuk produksi yang tinggi dibutuhkan suhu maksimum rata-rata pada kisaran 29 32o C dan suhu minimum rata-rata pada kisaran 22 24o C (Hartley, 1977). Ferwerda (1977, dalam Hazriani, 2004) menyatakan bahwa suhu udara di bawah 22o C menghambat pertumbuhan dan mengurangi hasil. Kelembaban udara dan angin. Kelembaban udara dan angin merupakan faktor yang cukup penting untuk menunjang pertumbuhan kelapa sawit. Kelembaban dapat mengurangi penguapan, sedangkan angin akan membantu penyerbukan secara alami. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelembaban ini antara lain suhu, radiasi surya, curah hujan dan evapotranspirasi. Tanaman palawija Kondisi tanah Kapasitas menahan air dari setiap tanah tidak sama, hal ini tergantung dari tekstur dan kandungan bahan organik tanah. Tanah yang memiliki tekstur baik serta mengandung bahan organik yang cukup akan lebih mampu menahan air dibandingkan dengan tanah-tanah yang mengandung sedikit bahan organik. Biasanya tanah-tanah dengan kandungan bahan organik tinggi akan memiliki kapasitas menahan air empat kali dibandingkan tanah yang bertekstur liat . Tidak semua jumlah air yang berada dalam tanah dapat dikatakan tersedia (available) untuk segera digunakan oleh tanaman. Keadaan air tersedia yang terdapat dalam tanah yang rendah akan mengakibatkan tanaman menjadi layu meskipun diadakan penambahan air ke dalam tanah, karena air tersebut diikat oleh koloid tanah. Kondisi cuaca Suhu. keadaan pergerakan molekul ditentukan oleh temperatur atau suhu. Makin tinggi suhu, maka akan mepercepat proses kehilangan air dari tanaman dan sebaliknya. Kecepatan angin. Pergerakan udara akan menyebabkan terjadinya angin, dimana makin tinggi tingkat pergerakan udara atau makin kencangnya angin, akan mengakibatkan makin cepatnya molekul uap air keluar dari jaringan tanaman.

Tanaman sayuran Kondisi tanah Pola kadar air tanah dalam satu musim tanaman berfluktuasi tergantung pda keseimbangan antara curah hujan dan evapotranspirasi. Evapotranspirasi merupakan jumlah air yang hilang dari tanah dan tanaman dalam satuan waktu tertentu yang jumlahnya bergantung pada jenis tanaman, jenis tanah serta kondisi cuaca pada lingkungan sekitar tanaman terutama suhu dan kelembaban. Pada prinsipnya evapotranspirasi sama dengan kebutuhan air tanaman. Bila curah hujan melebihi evapotranspirasi, air akan disimpan di dalam tanah sampai batas maksimum tanah menyimpan air yang selanjutnya akan digunakan oleh tanaman untuk evapotranspirasi. Evapotranspirasi aktual merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada keadaan sebenarnya status air tanah aktual. Kondisi cuaca Suhu dan Kelembaban Tanaman kentang dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan dengan suhu rendah yakni 15 sampai 20 0C, cukup sinar matahari dan kelembaban udara sekitar 8090 %. Hal ini berarti kndisi cuaca seperti suhu dan kelembaban sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman kentang (Sunarjono 2007). Menurut Ashandi dan Gunadi (2006) daerah yang memiliki suhu udara maksimum 30 0C dan suhu udara minimum 15 0C adalah daerah yang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman kentang daripada daerah yang memiliki suhu relatif konstan ratarata 24 0C. Peningkatan suhu di lingkungan tumbuh tanaman kentang akan mempengaruhi aktivasi energi pada reaksi kimia seperti penggunaan energi hasil proses fotosintesis untuk proses respirasi (Ashandi dan Gunadi, 2006). Respirasi tumbuhan akan meningkat dengan peningkatan suhu dan akan menurun saat suhu mencapai 400C dan pada suhu tersebut penyusun enzim akan mulai rusak (Sutcliffe 1977). b. Curah hujan Sulistiono (2005) menyatakan bahwa curah hujan yang dibutuhkan tanaman kentang sekitar 3001000 mm / tahun. Apabila curah hujan terlalu tinggi akan mengakibatkan umbi kentang mudah terserang hama dan penyakit, karena tanah menjadi jenuh air dan untuk mengatasi hal ini tentu diperlukan sistem drainase yang baik sehingga tanah tidak jenuh. Oleh sebab itu curah hujan merupakan salah satu unsur cuaca yang sangat penting dalam

pertumbuhan dan perkembangan tanaman kentang. Untuk mencapai hasil tanaman kentang yang baik dan tinggi maka perlu mengatasi saat kritis yaitu dengan menjaga kadar air tanah pada kedalaman 15 cm dari permukaan tanah tidak boleh kurang dari 56 % kapasitas lapang (Nonnecke 1989). c. Angin Angin merupakan faktor iklim yang dapat mempengaruhi tanaman secara tidak langsung. Angin akan mempengaruhi proses transpirasi yang berdifusi melalui stomata. Angin yang membawa udara lembab ke permukaan daun akan mengakibatkan perbedaan potensial air di dalam dan di luar stomata (Lubis 2000). Menurut Chang (1968) laju pengaliran CO2 ke tanaman meningkat dengan nilai kecepatan angin yang tinggi. Peningkatan laju aliran CO2 ini berarti meningkatkan laju fotosintesis dan pertumbuhan tanaman. d. Cahaya Pengaruh cahaya matahari pada pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman ditentukan oleh sintesis hijau daun, kegiatan stomata, absorpsi mineral hara, laju pernapasan dan aliran protoplasma (Jumin 1994). Tidak semua cahaya matahari yang sampai ke bumi dapat diserap oleh tanaman dan yang yang dapat diserap ialah cahaya PAR (Photosynthetically Active Radiation) dengan panjang gelombang 0.38-0.68 m (Handoko 1994). Penimbunan hasil bersih asimilasi CO2 sepanjang musim tanam akan menghasilkan berat kering total. Asimilasi CO2 dipengaruhi oleh penyerapan energi radiasi surya oleh tajuk tanaman (Fitter dan Hay 1994).
3.

Dari hasil perhitungan drain spacing, jarak antara saluran drainase pada tanaman palawija memiliki jarak yang paling pendek sedangkan pada tanaman sayuran memiliki jarak lebih panjang, hal ini dimungkinkan karena kebutuhan air tanaman berbeda, pada saat akar menyerap optimal air yang di drainase memiliki perbedaan setiap jenis tanaman, dan sifat fisik tanah berbeda. Kapasitas menampung air yang berebeda akan mempengaruhi perancangan drainase yang akan dibuat. Pada tanah yang bertekstur liat drainase yang dibuat hendaknya mempunyai ukuran yang lebih kecil, sedangkan pada tekstur tanah pasir hendaknya rancangan drainse di buat lebih besar karena pada tekstur tanah ini lebih cepat meloloskan air daripada jenis tekstur lainnya.