Anda di halaman 1dari 46

PENDUGAAN NILAI SELEKSI DIFERENSIAL DAN

RESPON SELEKSI ITIK ALABIO GENERASI KETIGA


DI KECAMATAN AMUNTAI UTARA KABUPATEN
HULU SUNGAI UTARA

Oleh:
Nama
NIM
Alamat

: Dwi Kurniawan
: P2DA11004
: Jl. Manggis no.26 RT 3/15
Jenang
Majenang
No Telp./HP : 085291271087
Email
:
crosover_fairlight@yahoo.com

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


PASCASARJANA ILMU PETERNAKAN

MAGISTER ILMU PETERNAKAN


PURWOKERTO
2011
ABSTRACT
Selection of alabio duck with egg production as
parameter is performed in the District of Hulu Sungai
Utara. The purpose of this reseacrh are to estimate
diferential and response selection from the selection
of alabio duck. This selection use 100 females and 10
male ducks as a base population. The heritability
values for egg production of alabio duck is 0,3. The
values of differential selection and response selection
consecutive decline from first to third generation is
3,47: 3,16: 1,94 and 1,04: 0,95: 0,58. This selection
produces 100 alabio ducks that cano produce eggs
with the average egg production 243 egg every year
from the average of beginning population 233 egg
every year. The conclusion from this research is the
selection can increase the average egg production of
alabio duck and response selection.

Key words: selection, alabio duck, egg production,


differential selection and selection response

ABSTRAK
Seleksi itik alabio dengan jumlah produksi telur per
tahun sebagai parameter dilakukan di Kabupaten
Hulu Sungai Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk menduga nilai seleksi diferensial dan respon
seleksi dari itik alabio. Seleksi yang dilakukan
menggunakan 100 ekor itik betina dan 10 ekor itik
jantan sebagai populasi awal. Nilai heritabilitas untuk
bobot telur itik alabio 0,3. Seleksi ini menghasilkan
nilai seleksi diferensial dan respon seleksi yang
semakin menurun. Nilai seleksi diferensial yang
diperoleh dalam penelitian ini semakin menurun
berturut-turut dari generasi pertama sampai ketiga
yaitu 3,47: 3,16: 1,94 dan dan respon seleksi sebesar
1,04:
0,95:
0,58.
Seleksi
yang
dilakukan
menghasilkan 100 itik alabio yang mampu
menghasilkan telur dengan rataan produksi telur per
tahun 243 butir dari rataan produksi telur awal
sebelum seleksi 233 butir per tahun. Kesimpulan dari
peneltian ini yaitu seleksi dapat meningkatkan rataan
produksi telur itik alabio.

Kata kunci :
seleksi, tik alabio,jumlah produksi
telur, seleksi diferensial, respon seleksi

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Itik merupakan salah satu jenis unggas yang
banyak dipelihara oleh masyarakat pedesaan.
Keberadaan itik tersebar di seluruh Indonesia
dengan berbagai nama sesuai dengan lokasi
tempat
berkembangnya.
Jenis
itik
yang
dibudidayakan di Kalimantan Selatan yaitu itik
lokal. Salah satu itik lokal yang cukup dikenal dan
berpotensi adalah itik Alabio (Anas platyrhincos
Borneo)
yang
banyak
dipelihara
dan
dibudidayakan masyarakat di daerah Kalimantan

Selatan dan terutama di daerah sentra yaitu


Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Itik Alabio yang diusahakan utamanya
berperan sebagai penghasil telur baik telur tetas
maupun
telur
konsumsi.
Apabila
masa
produksinya telah selesai atau pasca produksi,
itik-itik betina tersebut akan segera diafkir dan
dijual sebagai itik potong. Beternak itik alabio
merupakan usaha turun-temurun penduduk
setempat. Unggas yang punya ciri khas paruh dan
kaki kuning ini merupakan salah satu itik spesies
unggul di Indonesia. Produksi telurnya sebesar
220 250 butir per ekor per tahun, dengan
puncak produksi sebesar 92,7%. Konsumsi
pakannya 155-190 g/ekor/hari, dengan daya
tunas 90,38%, daya tetas 79,49-80%, dan
mortalitas setelah menetas 0,75 - 1%. Hasil
penelitian yang telah dilakukan di Balai Penelitian
Ternak (Balitnak) menunjukkan bahwa rata-rata
umur pertama bertelur itik Alabio dicapai pada
umur 142,12 hari. Rataan bobot badan pertama
bertelur itik Alabio 1621,75 g, sedangkan bobot
telur pertamanya 50,54 g. Bobot dewasa 1,6 1,8
kg untuk betina dan 1,8-2,0 kg untuk yang jantan.
Usaha tani itik alabio telah dilakukan sejak
lama di Kalimantan Selatan dan mampu
memberikan kontribusi yang memadai terhadap
pendapatan keluarga. Usaha itik alabio menjadi
mata pencaharian utama bagi 46,81% peternak di
Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai
Tengah, dan Hulu Sungai Utara, dengan rata-rata
pengalaman beternak 9,69 tahun, dengan skala

kepemilikan bervariasi antara 200 - 7.000


ekor/peternak.
Pada umumnya seleksi itik pejantan sebagai
bibit dilakukan berdasarkan pengalaman peternak
(Setioko dan Istiana 1999). Akibatnya, kualitas
pejantan
umumnya
kurang
baik
dan
dikhawatirkan terjadi in breeding yang dapat
menurunkan produktivitas itik alabio. Untuk
mengatasi kemunduran bibit akibat penggunaan
itik pejantan yang berkualitas rendah, perlu
dilakukan seleksi dan pemuliaan secara teratur,
terarah, dan terencana sehingga diperoleh bibit
yang sesuai standar.
1.2. Perumusan Masalah
Permasalahan dalam usaha tani itik alabio
dijumpai
baik
dalam
usaha
penetasan,
pembesaran maupun produksi telur konsumsi dan
telur tetas. Pada usaha penetasan, masalah yang
dijumpai antara lain adalah belum adanya
standardisasi bibit itik yang baik, mutu bervariasi
dan adanya bibit itik dari luar yang dikhawatirkan
dapat mengkontaminasi kemurnian itik alabio.
Pada usaha pembesaran, umumnya peternak
belum melakukan pencatatan yang baik,
terutama sejarah penyakit dan asal usul itik yang
dipelihara, sehingga kejelasan informasi belum
sepenuhnya terjamin. Dalam usaha itik sebagai
penghasil telur konsumsi, peternak kesulitan
menyediakan bahan pakan basal berupa sagu,
karena ketersediaan pohon sagu makin terbatas,
bahkan peternak harus mendatangkannya dari

Kalimantan Tengah. Selain itu, masa bertelur itik


hanya 1012 bulan, dan pada umur tersebut bulu
itik sudah mulai rontok sehingga banyak peternak
yang menjualnya karena kurang efisien dari segi
pakan.
Pada umumnya seleksi itik pejantan sebagai
bibit dilakukan berdasarkan pengalaman peternak
(Setioko dan Istiana 1999). Akibatnya, kualitas
pejantan
umumnya
kurang
baik
dan
dikhawatirkan terjadi in breeding yang dapat
menurunkan produktivitas itik alabio. Untuk
mengatasi kemunduran bibit yang
dapat
menurunkan produkstivitas itik alabio maka perlu
dilakukan seleksi dan pemuliaan secara teratur,
terarah, dan terencana sehingga diperoleh bibit
yang sesuai standar.

II. TUJUAN DAN MANFAAT


II.1. Tujuan
Tujuan penelitian adalah untuk menduga
nilai pemuliaan yang sangat berguna sebagai
tolak ukur dalam seleksi agar seleksi dapat
efisien.
1.2. Manfaat
Manfaat dari penerapan teknologi seleksi
maka akan diperoleh induk yang mempunyai
produksi tinggi, sehingga akan diperoleh
peningkatan produksi dan peningkatan mutu
genetik.

III. TINJAUAN PUSTAKA


Itik alabio merupakan salah satu plasma
nutfah unggas lokal yang mempunyai keunggulan
sebagai penghasil telur. Itik ini telah lama
dipelihara dan berkembang di Kalimantan
Selatan, terutama di Kabupaten Hulu Sungai
Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), dan
Hulu Sungai Utara (HSU). Populasi itik alabio di
Kalimantan
Selatan
tahun
2006
tercatat
3.487.002 ekor (Dinas Peternakan Provinsi
Kalimantan Selatan 2006).
Pemeliharaan itik
alabio
mempunyai
prospek yang cerah seiring dengan bertambahnya
jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran
masyarakat akan konsumsi protein hewani asal

ternak, ditunjang dengan kemampuan sumber


daya manusia yang memadai (Fathurrahim 2000).
Namun demikian, pengembangan itik alabio
berorientasi
agribisnis
spesifik
lokasi
menghadapai berbagai masalah, antara lain
penanganan bibit dan pascapanen yang belum
optimal sehingga bibit yang dihasilkan berkualitas
rendah serta hasil pascapanen belum banyak
diminati oleh konsumen. Penanganan praproduksi
dan pascaproduksi yang belum memenuhi
standar mengakibatkan bibit itik yang dihasilkan
belum seragam, dan kerusakan pascaproduksi
masih
tinggi
(Dinas
Peternakan
Provinsi
Kalimantan Selatan 1995).
Keragaan itik alabio meliputi produksi telur
220250 butir/ekor/tahun, puncak produksi
92,70%, bobot telur 59 65 g/butir, konsumsi
pakan 155190 g/ ekor/hari, dewasa kelamin 179
hari, daya tunas 90,38%, daya tetas 79,4980%,
mortalitas setelah menetas 0,751%, bobot
badan betina umur 6 bulan 1,60 kg dan jantan
1,75 kg (Rohaeni dan Tarmudji 1994; BPTP
Kalimantan Selatan 2005; Suryana dan Tiro
2007).
Menurut Biyatmoko (2005b), itik alabio
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi seperti
halnya unggas lain. Usaha itik alabio menjadi
mata pencaharian utama bagi 46,81% peternak di
Kabupaten HSS, HST, dan HSU, dengan rata-rata
pengalaman beternak 9,69 tahun. Kontribusi itik
alabio terhadap produksi telur di Kalimantan
Selatan tahun 20022004 berkisar antara

53,7354,14%, lebih tinggi dibanding unggas


lain, sementara produksi dagingnya sekitar 3,35%
atau setara dengan 812.001 kg (Dinas Peternakan
Provinsi Kalimantan Selatan 2004).
Tujuan
pemeliharaan
itik
alabio
di
Kalimantan Selatan umumnya bergantung pada
kondisi masing-masing daerah. Di Kabupaten
HSU, pemeliharaan itik alabio telah mengarah ke
spesialisasi model pengembangan usaha, yaitu
penetasan (hatchery), penghasil telur tetas
(breeding) dan telur konsumsi (laying) serta
usaha pembesaran itik dara (rearing) (Nawhan
1991; Biyatmoko 2005a; Suryana dan Tiro 2007).
Di Kabupaten HST, pemeliharaan itik alabio hanya
ditujukan sebagai penghasil telur konsumsi dan
telur tetas. Menurut Setioko (1997), itik Alabio
mempunyai kapasitas produksi telur yang tinggi.
Hal ini mungkin karena tersedianya sumber pakan
di rawa-rawa berupa ikan-ikan kecil, ganggang
dan hijauan lain serta binatang lainnya. Produksi
telur itik yang dipelihara dengan sistem lanting
mencapai 6090% selama periode bertelur, atau
rata-rata 70% (Setioko 1990; 1997), sementara
yang dipelihara secara tradisional produksinya
hanya 130 butir/ekor/tahun (Rohaeni dan
Tarmudji 1994).

IV. MATERI DAN METODE


IV.1.Ternak Percobaan dan Ransum
Itik alabio yang digunakan dalam penelitian ini
berasal dari peternak di Kabupaten Hulu Sungai
Utara Kalimantan Selatan sebagai base population.
Perkembangbiakan itik alabio memakai perkawinan
sistem line breeding yaitu itik alabio yang digunakan
sebanyak 100 ekor betina dan 10 ekor pejantan
sebagai base population (rasio jantan:betina 1:10)
untuk menghasilkan generasi pertama yang diseleksi
berdasarkan produksi telur. Perkawinan sedarah (in
breeding) tidak boleh terjadi sebelum tercapai tiga
generasi. Dari perkawinan tersebut diperoleh 100
ekor anak dengan proporsi 50 jantan dan 50 betina
yang seterusnya akan dilakukan seleksi.
Aspek penelitian adalah bidang genetika,
sehingga ransum bukan merupakan perlakuan dan
itik alabio diberi ransum komersial (Charoen
Phokphand), dari awal sampai akhir, dengan
kandungan protein rata-rata 20% (18%-22%) dan
energi metabolis 2800 kkal/kg.
Lokasi penelitian ini berada di Unit Laboratorium
Itik Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara
Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk
menduga nilai seleksi diferensial dan respon seleksi

pada itik alabio dengan menggunakan karaketristik


berupa jumlah produksi telur itik alabio per tahun.
Data diperoleh dari populasi 100 ekor betina dan 10
ekor jantan yang dipertahankan jumlahnya. Data
dianalisis menggunakan SPSS. Nilai heritabilitas
untuk produksi telur itik alabio adalah 0,30.
IV.2.Peubah dan Analisis Statistik
Apabila seleksi telah dilaksanakan, maka
pendugaan respon seleksi menggunakan diferensial
seleksi aktual. Penghitungannya dilakukan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
Seleksi diferensial dihitung menurut rumus :

Respon seleksi dihitung menurut rumus :

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan seleksi yang dilakukan sampai
generasi ketiga, nilai seleksi diferensial yang
diperoleh dalam penelitian ini semakin menurun
berturut-turut dari generasi pertama sampai ketiga
yaitu 3,47: 3,16: 1,94 dan dan respon seleksi sebesar
1,04: 0,95: 0,58. Seleksi yang dilakukan mampu
menghasilkan 100 itik alabio yang menghasilkan
telur dengan rataan produksi telur per tahun 243
butir dari rataan produksi telur awal sebelum seleksi
233 butir per tahun.
Tabel. Rataan Seleksi Itik Alabio
Rataan
Seleksi
Produksi Telur
Diferens
Per Tahun
ial

Respo
n
Seleksi

Populasi Awal
Generasi
kedua
Generasi
ketiga

233

3.47

1.04

239

3.16

0.95

243

1.94

0.58

Seleksi yang dilakukan menghasilkan 100 itik


alabio betina yang mampu menghasilkan telur
dengan
jumlah produksi telur yang semakin
meningkat. Hal ini dapat dilihat dari nilai seleksi
diferensial yang menunjukkan bahwa selisih rataan
produksi telur tetua terpilih pada generasi ketiga
mempunyai nilai produksi yang hampir sama dengan
individu populasi awal yang memiliki jumlah produksi
telur tertinggi. Peningkatan rataan jumlah produksi
telur itik alabio sebagai akibat seleksi menunjukkan
bahwa seleksi ini berhasil mengingat pengertian
seleksi sendiri yaitu suatu tindakan untuk memilih
ternak yang dianggap mempunyai mutu genetik baik
untuk dikembangbiakan lebih lanjut serta memilih
ternak yang dianggap kurang baik untuk disingkirkan
dan tidak dikembangbiakan lebih lanjut.
Peningkatan produksi ternak dapat dilakukan
melalui perkawinan mutu genetik ternak. Seleksi
dapat dibagi menjadi 2 yatu seleksi alam dan buatan.
Pada penelitian ini dilakukan seleksi buatan yaitu
seleksi yang dilakukan manusia dan diarahkan
sedemikian rupa sehingga hasilnya sesuai dengan
harapan manusia.
Seleksi dapat dilakukan berdasarkan atas dasar
satu sifat (seleksi individu, atas dasar performans,
seleksi family dan uji zuriat) dan seleksi berdasarkan
beberapa macam sifat. Pada penelitian ini dilakukan

seleksi berdasarkan satu sifat yaitu catatan produksi


individu tersebut.
Standar bibit induk (parent stock) itik Alabio
muda merupakan salah satu aspek penting dalam
proses
produksi
itik
Alabio,
karena
dalam
pengembangan usaha peternakan rakyat itik Alabio
pada saat ini tidak hanya dituntut pada peningkatan
kuantitas produksi saja, tetapi juga pada peningkatan
kualitasnya. Untuk menghasilkan itik niaga yang
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, maka
dibutuhkan itik induk yang telah memenuhi
persyaratan teknis minimal atau standar.

VI.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Seleksi yang dilakukan pada 100 ekor itik
alabio betina dengan nilai heritabilitas 0.3
menghasilkan nilai seleksi diferensial dan respon
seleksi yang semakin menurun. Nilai seleksi
diferensial yang diperoleh dalam penelitian ini
semakin menurun berturut-turut dari generasi
pertama sampai ketiga yaitu 3,47: 3,16: 1,94 dan
respon seleksi sebesar 1,04: 0,95: 0,58. Seleksi
yang dilakukan menghasilkan 100 itik alabio yang
mampu menghasilkan telur dengan rataan
produksi telur per tahun 243 butir dari rataan
produksi telur awal sebelum seleksi 233 butir per
tahun.
5.2. Saran
Permasalahan produksi itik alabio yang
merupakan ternak lokal unggul sebaiknya
diselesaikan dengan efektif dan efisien melalui
seleksi sehingga keunggulan yang dimiliki dapat
dipertahankan dan dikembangkan.

DAFTAR PUSTAKA
Biyatmoko, D. 2005a. Petunjuk Teknis dan Saran
Pengembangan Itik Alabio. Dinas Peternakan
Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru. 9 hlm.
Biyatmoko, D. 2005b. Disain pengembangan itik di
Kalimantan Selatan tahun 2006-2010. Dinas
Peternakan
Provinsi
Kalimantan
Selatan,
Banjarbaru. 23 hlm.
Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan.
19932006.
Laporan
Tahunan.
Dinas
Peternakan
Provinsi
Kalimantan
Selatan,
Banjarbaru. 57 hlm.
Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan. 2006.
Evaluasi kinerja pembangunan peternakan 2006
dan
rencana
kegiatan
2007.
Makalah
disampaikan
pada
Rapat
Evaluasi
Pembangunan Peternakan Kalimantan Selatan,
Banjarbaru, 16 Januari 2007. 18 hlm.
Dinas Peternakan Kabupaten Hulu Sungai Utara.
1999. Laporan Tahunan. Dinas Peternakan
Kabupaten Hulu Sungai Utara, Amuntai. 59 hlm.
Fathurrahim, A.H. 2000. Prospek dan kebutuhan
teknologi sistem usaha tani itik Alabio di lahan

lebak Kalimantan Selatan. Makalah disampaikan


pada Temu Informasi Teknologi Pertanian,
Banjarbaru, 1920 Juli 2000. Balai Pengkajian
Teknologi
Pertanian
Kalimantan
Selatan,
Banjarbaru. 7 hlm.
Nawhan, A. 1991. Usaha peternakan itik Alabio (Anas
platyrinchos Borneo) di Kalimantan Selatan.
Pidato Ilmiah pada Lustrum II dan Wisuda VI
Sarjana Negara Universitas Islam Kalimantan
(UNISKA) Muhammad Arsyad Al Banjary.
Banjarmasin, 26 Oktober 1991. 18 hlm.
Rohaeni, E.S. dan Tarmudji. 1994. Potensi dan
kendala dalam pengembangan peternakan itik
Alabio di Kalimantan Selatan. Warta Penelitian
dan Pengembangan Pertanian XVI(l): 46.
Setioko, A.R. 1990. Pemeliharaan Itik di Indonesia.
Balai Penetilian Ternak, Bogor. 36 hlm.
Setioko, A.R. 1997. Potensi itik sebagai penghasil
telur atau daging dan sistem seleksi yang baik
pada sentra baru pembibitan pedesaan.
Makalah disampaikan pada Temu Aplikasi Paket
Teknologi Pertanian, Subsektor Peternakan.
Banjarbaru, 1516 Oktober 1997. Instalasi
Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian
Banjarbaru. 31 hlm.
Setioko, A.R. dan Istiana. 1999. Pembibitan itik Alabio
di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Prosiding
Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Jilid

I. Bogor, 12 Desember 1999. Pusat Penelitian


dan Pengembangan Peternakan, Bogor. hlm.
382387.
Suryana dan B.W. Tiro. 2007. Keragaan penetasan
telur itik Alabio dengan sistem gabah di
Kalimantan Selatan. Makalah disampaikan pada
Seminar Nasional Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Papua. 17 hlm.

Lampiran 1. Proyeksi Hasil Penerapan


Teknologi
1st / Base Generation Population
TA P RP HR
TNP
PT
TNP
G
T
T
T
TT
TT
24 23
52
0.3 4.80
4.8
249
9
3
24 23
26
0.3 4.54
4.5
249
9
3
24 23
46
0.3 4.38
4.4
248
8
3
24 23
16
0.3 4.31
4.3
248
8
3
24 23
91
0.3 4.28
4.3
248
8
3

RPT
TT
237
237
237
237
237

DS

RS

3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7

1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4

58
87
83
37
96
10
0
77
42
49
76
64
30
22
82
71
19
15

24
8
24
7
24
6
24
6
24
6
24
5
24
4
24
3
24
3
24
3
24
3
24
2
24
2
24
2
24
2
24
2
24
1

23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3

0.3

4.25

4.2

248

237

0.3

4.08

4.1

247

237

0.3

3.90

3.9

246

237

0.3

3.76

3.8

246

237

0.3

3.63

3.6

246

237

0.3

3.55

3.5

245

237

0.3

3.19

3.2

244

237

0.3

2.92

2.9

243

237

0.3

2.85

2.9

243

237

0.3

2.81

2.8

243

237

0.3

2.73

2.7

243

237

0.3

2.60

2.6

242

237

0.3

2.55

2.6

242

237

0.3

2.49

2.5

242

237

0.3

2.49

2.5

242

237

0.3

2.48

2.5

242

237

0.3

2.40

2.4

241

237

3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7

1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4

78
40
6
86
36
35
TA
G
75
45
94
95
63
13
62
3
25
17

24
1
24
1
24
1
24
1
24
1
24
0
P
T
24
0
24
0
23
9
23
9
23
9
23
9
23
9
23
8
23
8
23
7

23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
RP
T
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3

0.3

2.28

2.3

241

237

0.3

2.28

2.3

241

237

0.3

2.25

2.3

241

237

0.3

2.22

2.2

241

237

0.3

2.19

2.2

241

237

0.3

2.04

2.0

240

237

HR
T

TNP

TNP
TT

PT
TT

RPT
TT

0.3

1.98

2.0

240

237

0.3

1.92

1.9

240

237

0.3

1.76

1.8

239

237

0.3

1.75

1.8

239

237

0.3

1.73

1.7

239

237

0.3

1.55

1.6

239

237

0.3

1.55

1.5

239

237

0.3

1.47

1.5

238

237

0.3

1.45

1.4

238

237

0.3

1.16

1.2

237

237

3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7

1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4

DS

RS

3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7

1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4

99
51
54
44
48
92
89
55
39
69
67
8
2
59
98
80
68

23
7
23
7
23
6
23
6
23
6
23
6
23
5
23
5
23
5
23
5
23
3
23
3
23
3
23
2
23
2
23
2
23
1

23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3

0.3

1.06

1.1

237

237

0.3

0.99

1.0

237

237

0.3

0.78

0.8

236

237

0.3

0.70

0.7

236

237

0.3

0.66

0.7

236

237

0.3

0.61

0.6

236

237

0.3

0.53

0.5

235

237

0.3

0.53

0.5

235

237

0.3

0.43

0.4

235

237

0.3

0.33

0.3

235

237

0.0

233

237

0.0

233

237

-0.2

233

237

-0.4

232

237

-0.4

232

237

-0.5

232

237

-0.7

231

237

0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3

0.03
0.03
0.16
0.37
0.38
0.49
0.72

3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7

1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4

38
57
7
28
TA
G
61
53
47
4
74
56
85
93
18
27
81
23

23
1
23
0
23
0
23
0
P
T
23
0
23
0
22
9
22
9
22
9
22
8
22
8
22
8
22
8
22
7
22
7
22
7

23
3
23
3
23
3
23
3
RP
T
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3

0.3
0.3
0.3
0.3
HR
T
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3

-0.9
0.88
-0.9
0.92
-0.9
0.92
-1.0
0.99
TN TNP
P
TT
-1.0
1.04
-1.1
1.11
-1.2
1.20
-1.4
1.42
-1.4
1.45
-1.5
1.50
-1.5
1.52
-1.6
1.60
-1.7
1.68
-1.9
1.91
-2.0
1.98
-2.0
2.01

231

237

230

237

230

237

230

237

PT
TT

RPT
TT

230

237

230

237

229

237

229

237

229

237

228

237

228

237

228

237

228

237

227

237

227

237

227

237

3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
DS
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7

1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
RS
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4

24
41
65
33
84
73
5
14
66
11
1
50
88
31
90
10
21

22
7
22
6
22
6
22
6
22
5
22
5
22
5
22
5
22
4
22
4
22
4
22
4
22
4
22
4
22
4
22
3
22
3

23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3

0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3

2.05
2.19
2.20
2.35
2.40
2.47
2.64
2.66
2.75
2.77
2.78
2.90
2.94
2.96
2.99
3.11
3.14

-2.0

227

237

-2.2

226

237

-2.2

226

237

-2.3

226

237

3.4
7
3.4
7
3.4
7
3.4
7

1.0
4
1.0
4
1.0
4
1.0
4

34
70
TA
G
60
43
97
32
29
9
79
12
72
20

22
3
22
3
P
T
22
3
22
2
22
2
22
2
22
2
22
2
22
1
22
1
22
1
22
1

23
3
23
3
RP
T
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3
23
3

0.3
0.3
HR
T
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3
0.3

3.14
3.15
TN TNP
P
TT
3.18
3.44
3.45
3.51
3.57
3.57
3.61
3.65
3.71
3.71

PT
TT

RPT
TT

DS

RS

2nd Generation
TA PT RP
G
2
T2
10 25
239
4
0
24
52
239
9
12 24
239
0
9
14 24
239
2
9
24
26
239
9
13 24
239
4
8
11 24
239
1
8
24
46
239
8
10 24
239
9
8

Population
HR TN TNPT
T
P2
T2
3.3
0.3
3.36
6
3.2
0.3
3.28
8
3.2
0.3
3.22
2
3.2
0.3
3.22
2
3.0
0.3
3.02
2
2.9
0.3
2.97
7
2.9
0.3
2.96
6
2.8
0.3
2.86
6
2.8
0.3
2.81
1

PTT
T2

RPTT
T2

250

242

249

242

249

242

249

242

249

242

248

242

248

242

248

242

248

242

DS
2
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6

RS
2
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5

16
91
58
87
14
8
83
11
3
37
96
10
0
11
0
12
7
77
14
7
42
49
76

24
8
24
8
24
8
24
7
24
7
24
6
24
6
24
6
24
6
24
5
24
5
24
4
24
4
24
3
24
3
24
3
24
3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

2.7
9
2.7
6
2.7
3
2.5
6
2.4
2
2.3
8
2.2
9
2.2
4
2.1
1
2.0
3
1.9
6
1.7
5
1.6
7
1.4
7
1.4
0
1.3
3
1.2
9

2.79

248

242

2.76

248

242

2.73

248

242

2.56

247

242

2.42

247

242

2.38

246

242

2.29

246

242

2.24

246

242

2.11

246

242

2.03

245

242

1.96

245

242

1.75

244

242

1.67

244

242

1.47

243

242

1.40

243

242

1.33

243

242

1.29

243

242

3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6

0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5

13
0
64
13
3
12
2
TA
G
30
22
82
71
19
15
13
6
11
4
78
40
14
4
6

24
3
24
3
24
2
24
2
PT
2
24
2
24
2
24
2
24
2
24
2
24
1
24
1
24
1
24
1
24
1
24
1
24
1

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

RP
T2

HR
T

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

1.2
4
1.2
1
1.1
7
1.1
2
TN
P2
1.0
8
1.0
3
0.9
7
0.9
7
0.9
6
0.8
7
0.8
6
0.8
0
0.7
6
0.7
6
0.7
4
0.7
3

1.24

243

242

1.21

243

242

1.17

242

242

1.12

242

242

TNPT
T2

PTT
T2

RPTT
T2

1.08

242

242

1.03

242

242

0.97

242

242

0.97

242

242

0.96

242

242

0.87

241

242

0.86

241

242

0.80

241

242

0.76

241

242

0.76

241

242

0.74

241

242

0.73

241

242

3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
DS
2
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6

0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
RS
2
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5

86
36
14
3
35
10
7
75
10
6
45
12
1
12
5
94
95
63
13
62

24
1
24
1
24
0
24
0
24
0
24
0
24
0
24
0
24
0
24
0
23
9
23
9
23
9
23
9
23
9

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

239

0.3

23
8

239

0.3

25

23

239

0.3

0.7
0
0.6
7
0.5
5
0.5
2
0.4
6
0.4
6
0.4
3
0.3
9
0.3
8
0.3
4
0.2
4
0.2
3
0.2
1
0.0
3
0.0
2
0.0
5
-

3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6
3.1
6

0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5
0.9
5

242

3.1
6

0.9
5

242

3.1

0.9

0.70

241

242

0.67

241

242

0.55

240

242

0.52

240

242

0.46

240

242

0.46

240

242

0.43

240

242

0.39

240

242

0.38

240

242

0.34

240

242

0.24

239

242

0.23

239

242

0.21

239

242

0.03

239

242

0.02

239

242

-0.05

238

-0.07

238

8
12
9

23
8

239

0.3

10
8

23
8

239

0.3

TA
G

PT
2

RP
T2

HR
T

11
9

23
7

239

0.3

17

23
7

239

0.3

99

23
7

239

0.3

51

23
7

239

0.3

54

23
6

239

0.3

44

23
6

239

0.3

48

23
6

239

0.3

92

23
6

239

0.3

0.0
7
0.1
4
0.1
5
TN
P2
0.3
3
0.3
6
0.4
6
0.5
3
0.7
4
0.8
2
0.8
6
0.9
1

-0.14

238

242

3.1
6

0.9
5

-0.15

238

242

3.1
6

0.9
5

TNPT
T2

PTT
T2

RPTT
T2

DS
2

RS
2

-0.33

237

242

3.1
6

0.9
5

-0.36

237

242

3.1
6

0.9
5

-0.46

237

242

3.1
6

0.9
5

-0.53

237

242

3.1
6

0.9
5

-0.74

236

242

3.1
6

0.9
5

-0.82

236

242

3.1
6

0.9
5

-0.86

236

242

3.1
6

0.9
5

-0.91

236

242

3.1
6

0.9
5

89

23
5

239

0.3

55

23
5

239

0.3

39

23
5

239

0.3

69

23
5

239

0.3

67

23
3

239

0.3

23
3

239

0.3

23
3

239

0.3

59

23
2

239

0.3

98

23
2

239

0.3

80

23
2

239

0.3

68

23
1

239

0.3

38

23

239

0.3

0.9
9
0.9
9
1.0
9
1.1
9
1.5
5
1.5
5
1.6
8
1.8
9
1.9
0
2.0
1
2.2
4
-

-0.99

235

242

3.1
6

0.9
5

-0.99

235

242

3.1
6

0.9
5

-1.09

235

242

3.1
6

0.9
5

-1.19

235

242

3.1
6

0.9
5

-1.55

233

242

3.1
6

0.9
5

-1.55

233

242

3.1
6

0.9
5

1
57

23
0

239

0.3

23
0

239

0.3

28

23
0

239

0.3

61

23
0

239

0.3

53

23
0

239

0.3

47

22
9

239

0.3

22
9

239

0.3

74

22
9

239

0.3

56

22
8

239

0.3

85

22
8

239

0.3

239

0.3

93

22
8

2.4
0
2.4
4
2.4
5
2.5
2
2.5
6
2.6
3
2.7
2
2.9
5
2.9
7
3.0
2
3.0
4
3.1

TA
G

PT
2

RP
T2

HR
T

18

22
8

239

0.3

27

22
7

239

0.3

81

22
7

239

0.3

23

22
7

239

0.3

24

22
7

239

0.3

41

22
6

239

0.3

65

22
6

239

0.3

33

22
6

239

0.3

2
TN
P2
3.2
1
3.4
3
3.5
0
3.5
3
3.5
7
3.7
1
3.7
2
3.8
7

TNPT
T2

PTT
T2

RPTT
T2

DS
2

RS
2

3rd Generation
TA PT RP
G
3
T3
24 25
243
8
0
10 25
243
4
0
23 25
243
4
0
22 25
243
7
0
24
52
243
9
24 24
243
0
9
12 24 243

Population
HR TN
T
P3
2.1
0.3
4
2.0
0.3
7
2.0
0.3
2
2.0
0.3
1
1.9
0.3
9
1.9
0.3
5
0.3 1.9

TNPT
T3

PTT
T3

RPTT
T3

2.14

250

245

2.07

250

245

2.02

250

245

2.01

250

245

1.99

249

245

1.95

249

245

1.93

249

245

DS
3
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9

RS
3
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5

0
14
2
21
9
20
6
20
2
26
13
4
11
1
21
5
46
10
9
16
91
58
23
5
22
6
22
5
23

9
24
9
24
9
24
9
24
9
24
9
24
8
24
8
24
8
24
8
24
8
24
8
24
8
24
8
24
7
24
7
24
7
24

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

3
1.9
3
1.8
2
1.7
7
1.7
6
1.7
3
1.6
8
1.6
7
1.6
5
1.5
7
1.5
2
1.5
0
1.4
7
1.4
3
1.3
7
1.3
3
1.3
2
1.3

1.93

249

245

1.82

249

245

1.77

249

245

1.76

249

245

1.73

249

245

1.68

248

245

1.67

248

245

1.65

248

245

1.57

248

245

1.52

248

245

1.50

248

245

1.47

248

245

1.43

248

245

1.37

247

245

1.33

247

245

1.32

247

245

1.30

247

245

4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9

8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5

2
22
3
87
14
8
83
11
3
37
TA
G
22
8
96
24
6
10
0
23
6
22
2
11
0
25
0
21
0
12

7
24
7
24
7
24
7
24
6
24
6
24
6
PT
3
24
6
24
6
24
5
24
5
24
5
24
5
24
5
24
5
24
5
24

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

RP
T3

HR
T

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

0
1.2
7
1.2
7
1.1
3
1.0
9
1.0
0
0.9
5
TN
P3
0.8
8
0.8
2
0.7
5
0.7
3
0.7
0
0.6
8
0.6
7
0.6
5
0.6
5
0.4

1.27

247

245

1.27

247

245

1.13

247

245

1.09

246

245

1.00

246

245

0.95

246

245

TNPT
T3

PTT
T3

RPTT
T3

0.88

246

245

0.82

246

245

0.75

245

245

0.73

245

245

0.70

245

245

0.68

245

245

0.67

245

245

0.65

245

245

0.65

245

245

0.46

244

245

4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
DS
3
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9

8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
RS
3
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5

7
77
23
1
21
8
14
7
22
4
42
49
76

4
24
4
24
4
24
4
24
3
24
3
24
3
24
3
24
3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

13
0

24
3

243

0.3

64

24
3

243

0.3

13
3

24
2

243

0.3

12
2

24
2

243

0.3

21
1

24
2

243

0.3

30

24
2

243

0.3

6
0.3
7
0.2
3
0.2
1
0.1
8
0.1
8
0.1
1
0.0
4
0.0
0
0.0
5
0.0
9
0.1
2
0.1
7
0.2
1
0.2

4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4
1.9
4

8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8
0.5
8

0.37

244

245

0.23

244

245

0.21

244

245

0.18

243

245

0.18

243

245

0.11

243

245

0.04

243

245

0.00

243

245

-0.05

243

245

1.9
4

0.5
8

-0.09

243

245

1.9
4

0.5
8

-0.12

242

245

1.9
4

0.5
8

-0.17

242

245

1.9
4

0.5
8

-0.21

242

245

1.9
4

0.5
8

-0.21

242

245

1.9
4

0.5
8

20
9

24
2

243

0.3

22

24
2

243

0.3

82

24
2

243

0.3

71

24
2

243

0.3

21
3

24
2

243

0.3

19

24
2

243

0.3

15

24
1

243

0.3

TA
G

PT
3

RP
T3

HR
T

13
6

24
1

243

0.3

11
4

24
1

243

0.3

78

24
1

243

0.3

40

24

243

0.3

1
0.2
4
0.2
6
0.3
2
0.3
2
0.3
3
0.3
3
0.4
2
TN
P3
0.4
3
0.4
9
0.5
3
-

-0.24

242

245

1.9
4

0.5
8

-0.26

242

245

1.9
4

0.5
8

-0.32

242

245

1.9
4

0.5
8

-0.32

242

245

1.9
4

0.5
8

-0.33

242

245

1.9
4

0.5
8

-0.33

242

245

1.9
4

0.5
8

-0.42

241

245

1.9
4

0.5
8

TNPT
T3

PTT
T3

RPTT
T3

DS
3

RS
3

-0.43

241

245

1.9
4

0.5
8

-0.49

241

245

1.9
4

0.5
8

-0.53

241

245

1.9
4

0.5
8

-0.54

241

245

1.9

0.5

1
14
4

24
1

243

0.3

24
1

243

0.3

86

24
1

243

0.3

36

24
1

243

0.3

14
3

24
0

243

0.3

35

24
0

243

0.3

10
7

24
0

243

0.3

75

24
0

243

0.3

10
6

24
0

243

0.3

45

24
0

243

0.3

12
1

24
0

243

0.3

0.5
4
0.5
5
0.5
6
0.6
0
0.6
2
0.7
5
0.7
7
0.8
3
0.8
4
0.8
6
0.9
0
0.9

-0.55

241

245

1.9
4

0.5
8

-0.56

241

245

1.9
4

0.5
8

-0.60

241

245

1.9
4

0.5
8

-0.62

241

245

1.9
4

0.5
8

-0.75

240

245

1.9
4

0.5
8

-0.77

240

245

1.9
4

0.5
8

-0.83

240

245

1.9
4

0.5
8

-0.84

240

245

1.9
4

0.5
8

-0.86

240

245

1.9
4

0.5
8

-0.90

240

245

1.9
4

0.5
8

12
5

24
0

94

23
9

95

23
9

63

23
9

13

23
9

62

23
9

23
8

25

23
8

12
9

23
8

10
8

23
8

11
9

23
7

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

243

0.3

1
0.9
5
1.0
5
1.0
6
1.0
8
1.2
6
1.2
7
1.3
5
1.3
6
1.4
3
1.4
4
1.6
2

17

23
7

243

0.3

99

23
7

243

0.3

51

23
7

243

0.3

54

23
6

243

0.3

44

23
6

243

0.3

TA
G

PT
3

RP
T3

HR
T

48

23
6

243

0.3

92

23
6

243

0.3

89

23
5

243

0.3

55

23
5

243

0.3

39

23
5

243

0.3

243

0.3

69

23
5

1.6
5
1.7
5
1.8
2
2.0
4
2.1
1
TN
P3
2.1
5
2.2
0
2.2
9
2.2
9
2.3
9
2.4

TNPT
T3

PTT
T3

RPTT
T3

DS
3

RS
3

67

23
3

243

0.3

23
3

243

0.3

9
2.8
4
2.8
4

Keterangan :
TAG : No Individu Induk
PT
: Produksi Telur
RPT : Rataan Produksi Telur
HRT : Heritabilitas
TNP : Taksiran Nilai Pemuliaan
TNPTT
: TNP Tetua Terpilih
PTTT : PT Tetua Terpilih
DS
: Diferensial Seleksi
RS
: Respon Seleksi

Lampiran 2. Rincian Kegiatan Dan Lokasi


Penerapan Teknologi

No
1

2
3

Rincian Kegiatan
Menyeleksi Calon Base
Populasi (Jantan Dan Betina)
Pada Program Seleksi Yang
Akan Dilakukan
Melakukan Pemeliharaan
Terhadap Itik Yang Telah
Dipilih
Seleksi Dilakukan Sampai
Generasi Ketiga
A. Perkawinan
B. Pengukuran Jumlah
Produksi Telur Yang
Dihasilkan
C. Analisis Data
D. Pemilihan Calon Populasi
Ulang
E. Penetasan Telur

Lokasi kegiatan
Peternak Di
Kabupaten Hulu
Sungai Utara

Pemeliharaan Ternak Yang


Telah Terseleksi Selama 3
Generasi

on Farm

Research Farm

Research Farm
Research Farm and
Laboratory
Research Office
Research Farm
Hatchery Room

Lampiran 3. Prakiraan Biaya Yang Dibutuhkan


Dan Rinciannya
N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
1
0
1
1
1
2

Nama

Keterangan

biaya (Rp.)

Itik Alabio
Kandang

Base population
Kandang itik untuk
populasi 1000 ekor
Meliputi tempat
pakan, minum,
lampu dll
Pakan ternak
selama seleksi
Buku, bolpoin,
kertas dll
Untuk kebutuhan
kandang
Untuk kebutuhan
kandang
Rutin sesuai jadwal
pemeliharaan

5,000,000
30,000,000

Peralatan
Kandang
Pakan
Alat Tulis
Kantor
Rekening
Listrik
Rekening Air
Obat ,
Vaksindan
Vitamin
Timbangan
Telur
Mesin Tetas
Komputer

Untuk pengukuran
telur
Untuk kapasitas
100 butir telur
Analisis data

Upah Tenaga
Semua pekerja
Kerja
yang terlibat
Total Biaya

15,000,000

50,000,000
3,000,000
5,000,000
3,000,000
15,000,000

6,000,000
1,300,000
5,000,000
100,000,00
0
238,300,00
0