Anda di halaman 1dari 44

KULIAH PERTEMUAN 12

Analisa struktur statis tak tentu dengan metode distribusi momen (Cross) pada balok

A. Lembar Informasi

1. Kompetensi

Mahasiswa dapat menghitung momen ujung batang untuk balok statis taktentu dengan metode distribusi momen (Cross)

2. Materi Belajar

METODA CROSS

Metoda Cross atau sering disebut pula metoda iterasi momen, merupakan cara

paling populer digunakan untuk menghitung Bangunan STATIS TAK TENTU secara

manual.

Cara ini prinsipnya adalah pendistribusian momen-momen ketidak seimbangan yang

terjadi pada setiap titik kumpul kepada batang-batangnya sesuai dengan

kekakuannya. Momen ketidak seimbangan ini terbentuk sebagai akibat dari adanya

momen-momen primer dari batangnya yang bertemu di titik kumpul tersebut. Momen

primer adalah momen-momen pada setiap ujung batang tersebut yang berupa jepit

sempurna (tidak ada rotasi), pada kenyataannya ujung-ujung batang tersebut

tidaklah bersifat jepit sempurna karena titik kumpul dapat berotasi , akibat adanya

rotasi inilah maka terjadi pendistribusian dari jumlah momen-momen primernya

(momen ketidak seimbangan).

Lihat balok yang dibebani dibawah ini :

Sistim beban Sistim beban
Sistim beban
Sistim beban

Momen primer

Momen primer

Pada tumpuan jepit akibat beban luar menimbulkan momen primer, sedangkan pada

tumpuan sendi tidak menimbulkan momen primer (karakteristik perletakan sendi).

64

menimbulkan momen primer, sedangkan pada tumpuan sendi tidak menimbulkan momen primer (karakteristik perletakan sendi). 64

Balok AB dibebani seperti gambar dibawah ini :

Balok AB dibebani seperti gambar dibawah ini : Akibatnya batang AB melentur, timbul  A &

Akibatnya batang AB melentur, timbul A &B (gambar a.)

Jika ujung-ujung A dan B dicegah terhadap rotasi, berarti di A dan B kita berikan momen perlawanan (Restraint Moment) M AB dan M BA sehingga putaran sudut di A

'

dan B menjadi lebih kecil dari semula A B

'

dan B B

semula  A   B ' dan  B   B Bila harga M

Bila harga M AB dan M BA sedemikian sehingga A = 0 dan B = 0 maka disebut

sebagai momen primer atau Fixed End Momen. Tinjau portal dibawah ini, pada titik 5 terjadi momen ketidak seimbangan dengan keseimbangan M = 0

4

8

   
   
 
   
 
 

a

5 b
5
b
 

6

2

Δ M ab b a
Δ M ab
b
a

65

ketidak seimbangan dengan keseimbangan  M = 0 4 8       a 5 b

M a b M 52

Maka

M 58

M 54

M 56 0

 

M 52 M 58

M 54

M 56

M ab

Bahwa jumlah dari distribusi momen sama dengan harga negatif dari momen-momen ketidak seimbangan. Besarnya momen ketidak seimbangan pada titik kumpul akan disebar kesetiap batang yang bertemu pada titik tersebut sesuai dengan kekakuan batang-batang tersebut.

KEKAKUAN DAN FAKTOR INDUKSI

a) Batang dengan ujung jepit

Batang AB diberi beban M AB sehingga timbul A .

AB diberi beban M A B sehingga timbul  A . AB (gambar a) = gambar

AB (gambar a) = gambar b + gambar c Syarat batas :

  B1 A1 B A 22B A

Dari gambar b.

Dari gambar c.

A 1

M . L

AB AB

3

EI

A 1

3

M . L

AB AB

EI

6

B 1

6

B 1

BA AB

M . L

EI

M . L

BA AB

EI

Berdasarkan syarat batas :

M . L

AB AB

3

EI

M . L

BA AB

6

EI

A

66

B 1 BA AB M . L EI M . L BA AB EI Berdasarkan syarat
M L . M L . BA AB  AB AB  0  3
M L
.
M L
.
BA AB
AB AB
 0 
3 EI
6 EI
M BA = ½ M AB disebut faktor induksi (carry over factor)
Dimana M BA = ½ M AB
Maka :
(
1
M . L
).
L
2 M
M . L
4 EI
AB AB
AB AB
AB AB
M
3 EI
6 EI
A
A
4 EI
AB
A
L AB

Jika A dalam 1 (satu) radian, maka :

M

AB

K

AB

4

EI

L

AB

L EI

4

AB

.1

(disebut stifness atau kekakuan batang AB)

b) Batang dengan ujung sendi

atau kekakuan batang AB) b) Batang dengan ujung sendi Bila batang AB diberi beban M A

Bila batang AB diberi beban M AB maka timbul A dan B di sendi, bila

A =

M . L

AB AB

3 EI

M

AB

3

EI

L AB

A

Jika A dalam 1 (satu) radian

Maka

M

AB

3

EI

L

AB

.1

atau

K

AB

L EI

3

AB

Catatan : ujung sendi tidak menerima induksi atau induksi = 0

67

Maka M  AB 3 EI L AB .1 atau K  AB L EI 3

FAKTOR DISTRIBUSI

Lihat gambar dibawah ini :

4

  1  
 
  1  
  1  

1

  1  
 
  1  
       
 

M

14

 

M

12

      M 14 ’   M 12 ’ 3 2 0 Akibat beban yang

3

2

0

Akibat beban yang ada maka ada momen primer M 14 dan

M 1 =

M 1 disebar ke batang batang 1-4, 1-2, dan 1-3

Dimana :

M 12 M 13 M 14 M 1

0

M 12

+

0

M 14

M

12

M

13

M

14

4

EI

12

4

L

12

EI

13

4

L

13

EI

14

L

14

.

12

.

13

.

14

0

M 12 dititik 1

Dimana ij dititik 1 sama semua, maka

ΔM12 : ΔM13 : ΔM14 =

4I

12

L

12

:

4I

13

L

13

:

3I

14

L

14

k 1 = k 12 : k 13 :k 14 maka :

= k 12 : k 13 :k 14

ΔM

ΔM

k

12

12

k

k

1

13

13 k

1

(

(



M



M

 

)

1 12

.

M

 

)

1 13

.

M

1

1

68

k 12 12    k k 1 13 13 k  1 ( (

ΔM

14

k

14

k

1

Ingat :

k

ij

(



M

.

ij

EI

1

ij

)

L

ij

 

14

.

M

1

, ij = 3 untuk ujung sendi

ij = 4 untuk ujung jepit

FAKTOR INDUKSI

A

sendi  i j = 4 untuk ujung jepit FAKTOR INDUKSI A M AB B Ujung
sendi  i j = 4 untuk ujung jepit FAKTOR INDUKSI A M AB B Ujung

M

AB

B

Ujung jepit Di A diberi momen M AB maka B menerima induksi sebesar M BA = ½ M AB , jadi faktor induksi = ½.

A

M B A = ½ M A B , jadi faktor induksi = ½. A B
B
B

M

AB

Ujung sendi/rol Jika di A diberi momen M AB maka di B tidak ada induksi atau M BA = 0 jadi faktor induksi = 0.

MOMEN PRIMER AKIBAT PERLETAKAN TURUN

a) Balok jepit jepit

induksi atau M B A = 0 jadi faktor induksi = 0. MOMEN PRIMER AKIBAT PERLETAKAN

69

induksi atau M B A = 0 jadi faktor induksi = 0. MOMEN PRIMER AKIBAT PERLETAKAN

Balok AB dijepit di A dan B , B turun sebesar dibandingkan dari A, timbul momen

di A yaitu M AB dan di B yaitu M BA

Dimana M AB = M BA Lendutan di B akibat putaran sudut di A

l 2

M

l

1

AB

.

6

4 EI 3

l   

M . l

BA

1

4

EI

6

.

l

Dengan M AB = M BA maka :

1

M

AB

.

l

2

3

M . l

AB

2

6

EI

b)

EI

M

AB

6

4

EI

.

l

2

. l

, M AB = M BA

Balok jepit sendi

.  l 2 . l  , M AB = M BA Balok jepit –

Perletakan A jepit, B sendi

A turun sebesar , timbul momen di A yaitu M AB

M

EI

2

AB

.

l

2

3

. l

M

AB

3

EI

.

l

2

M . l

AB

2

3

EI

catatan : momen primer nilainya positif apabila penurunan batang disebelah kanan batang, sebaliknya momen primer nilainya negatif apabila penurunan batang di sebelah kiri batang

70

batang disebelah kanan batang, sebaliknya momen primer nilainya negatif apabila penurunan batang di sebelah kiri batang

Contoh 1 . Perhatikan Struktur balok menerus di bawah ini , dimana semua batang memiliki EI konstan

 

4 t

4 t

 

10 t

 
 

4

t/m

1 t/m

 
   

A

 

D

 

B

3 m

3 m

 
3 m C

3 m

C

3 m

3 m

 
 

6

m

12 m

 

9 m

I. Kekakuan ( semua titik kumpul yang ditengah struktur dianggap jepit, dan ujung batang CD yaitu titik D juga dianggap jepit)

K

K

K

AB

BC

CD

4

EI

4

6

EI

12

4

EI

9

0,667.

0,333.

0,444.

EI

EI

EI

Koefisien Distribusi :

D

D

BA

BC

0,667

0,667

0,337

0,333

0,667

0,333

0,667

0,333

(balok CD dianggap jepit-jepit)

= 1

catatan : kontrol setiap titik kumpul jumlahnya harus 1 (satu)

D

D

CB

CD

0,333

 

1

0,777

0,428

0,428

0,572

= 1

II. Momen Primer (fixed end momen) Diasumsikan sekuruh titik gabung (joint) dikunci jepit

M

M

M

F

BA

F

CB

F

DC



M

F 4.6 2

AB

12

12,00

F

 M

BC

10.3.6

2

9

2

1

12

 

1 .12

2

13,33

tm

tm



4.3 9

2

12

2

4.9.3

2

12

2

21

tm

71

 BC  10.3.6 2 9 2 1 12   1 .12 2  13,33
Comment [b1]: Dianggap jepit
Comment [b1]: Dianggap jepit

Comment [b1]: Dianggap jepit

Comment [b1]: Dianggap jepit

10.6.3

9

2

2  6,67

M

F

CD

tm

DISTRIBUSI MOMEN Untuk perhitungan distribusi momen dibuat dalam bentuk tabel seperti dibawah ini, untuk menghitung distribusi momen atau balanced (BAL) dilakukan dengan jumlah momen primer pada satu titik kumpul dengan koefisien distribusi masing-masing batang yang ada pada titik kumpul tersebut, contoh :

BAL batang BA = (FEM ba + FEM bc ) * (- D ba ) BAL batang BC = (FEM ba + FEM bc ) * (- D bc ), Kemudian perhitungan induksi momen ujung batang atau Carry Over (CO), dari ujung kiri batang yang ditengah ke ujung batang kanan dari batang yang sebelah kirinya dan dari ujung kanan batang yang ditengah ke ujung batang kiri dari batang yang sebelah kanannya. Pada perletakan ujung jepit (sebenarnya) hanya menerima induksi saja tanpa harus menginduksi ke ujung batang seberangnya lagi.

 

Titik Kumpul

A

 

B

C

 

D

 

Batang

AB

 

BA

BC

 

CB

 

CD

DC

DC
DC

Dij

0

 

0,667

0,333

0,428

0,572

 

1

 

FEM

BAL/Dis 1

- 12,00

- 12,00
 

12,00

6,00

- 21,00

3,00

- 21,00 3,00

21,00

-6,15

- 6,67

- 8,18

13,33 -13,33

13,33

-13,33

CO/induks1

BAL/dis 2

3,00

 

2,06

-

3,08

1,02

 

1,50

2,21

- 6,67

2,96

-

4,09

4,09

CO/induks 2

1,03

 

1,10

 

0,52

 

2,04

 

1,48

BAL

 

- 0,73

- 0,37

-1,09

-1,47

-1,48

CO/induks 3

- 0,36

 

- 0,54

-

0,18

-

0,74

- 0,74

BAL

 

0,36

0,18

0,39

0,53

 

0,74

CO/induks 4

0,18

 

0,20

 

0,09

 

0,37

 

0,27

BAL

- 0,06

BAL - 0,06 -0,13 -0,07 - 0,20 - 0,26 - 0,27

-0,13

-0,07

-

0,20

-

0,26

- 0,27

Final/momen akhir

- 8,21

 

19,56

-19,56

18,09

-18,09

 

0,00

Hasil distribusi momen (final) merupakan nilai momen ujung batang dari balok menerus. M ab = - 8,21 , M ba = 19,56 , M bc = - 19,56 , M cb = 18,09 , M cd = - 18,09 , M dc = 0,00

Menghitung reaksi perletakan ( dibuat Freebody batang) :

72

Batang AB : 4 t/m A B M ab M ba R 6 m ab
Batang AB :
4 t/m
A
B
M ab
M ba
R
6 m
ab
4.6
8,21

( 19,56)
M
 
0
R
12
1,89
B
AB
2
6
4.6
8,21

19,56
R
 13,89
BA
2
6

= 10,11

( ton )

Dengan cara yang sama maka pada batang BC

R

R

BC

CB

1.12

2

1.12

 

4.9

4.3

19,56



18,09

12

4.3

12

4.9

19,56

12



18,09

2

12

12

12

10,12

9,88

Dengan cara yang sama maka pada batang CD

R

R

CD

DC

10.3

18,09

9 9

10.6

18,09

9

9

5,34

4,66

Untuk menggambarkan bidang momen , dapat dicari persamaan bidang momen akibat beban luar dan momen ujung batang (hasil croos) , sebagai contoh :

4 t/m A B M ab M ba 6 m R ab x
4 t/m
A
B
M ab
M ba
6 m
R ab
x

Mx = R AB .x ½ . q. x 2 + M AB

pada x = 0 pada x = 3

untuk gaya geser (lintang) : Dx = R AB q.x

, M A = 10,11. (0) ½. q. (0) 2 + 8,21 = 8,21 M A = 10,11. (3) ½. 4. (3) 2 + 8,21 = 20,54 tm

 

73

= 10,11. (0) – ½. q. (0) 2 + 8,21 = 8,21 M A = 10,11.

jika ingin mengetahui gaya lintang = 0 maka Dx = 0 ; R AB q.x = 0 didapat nilai x jarak dari titik A dengan cara yang sama dapat dilakukan pada batang BC , CD. Maka hasilnya dapat dilihat dibawah ini :

A

 

4 t

4 t

   

10 t

 

4

t/m

1 t/m

 
   
 

D

 

B

3 m

3 m

 
3 m C

3 m

C

 
3 m

3 m

   

6

m

12 m

 

9 m

 

30

Bidang Momen

19,31 20 18 18,09 -8,21 13.89 9.88 2.53 m 6.88 2.68 3.12 6.88 5.34 7.12
19,31
20
18
18,09
-8,21
13.89
9.88
2.53 m
6.88
2.68
3.12
6.88 5.34
7.12
10.11
10.12
Bidang geser

4.66

74

19,31 20 18 18,09 -8,21 13.89 9.88 2.53 m 6.88 2.68 3.12 6.88 5.34 7.12 10.11

Contoh 2 : Perhatikan Struktur balok menerus di bawah ini , pada batang AB dan CD

(propertisnya) = 2EI , batang BC = 3EI .

6 t

5 t 1 t/m 2 t/m A D B C 1 m 3 m
5 t
1
t/m
2 t/m
A
D
B
C
1 m
3 m
BC = 3EI . 6 t 5 t 1 t/m 2 t/m A D B C
BC = 3EI . 6 t 5 t 1 t/m 2 t/m A D B C
BC = 3EI . 6 t 5 t 1 t/m 2 t/m A D B C
BC = 3EI . 6 t 5 t 1 t/m 2 t/m A D B C

4 m

Kekakuan batang :

K AB

K AB

4

E .2 I

4

4

EI .3 I

6

2

EI

2

EI

Koefisien distribusi :

D

D

BA

BC

2 EI

.

(2

2

2)

EI

EI EI

(2

2)

.

0,5

0,5

3 m

Kontrol

= 1

D AB 0 , karena jepit

DCB 1, karena C sendi

Momen Primer

3 m

3 m

M 0  P2.l   5.3 15 tm CD 6.1.3 2 1 M 0
M
0

P2.l
 
5.3
15 tm
CD
6.1.3
2 1
M
0

(
.1.4
2
)

4,708 tm
AB
4
2
12
0 6.3.1
2 1
M
.1.4
2
2,458
tm
BA
4
2
12
5.
. l
5.2.(
1
.2.3).6
0


2
 tm
3,75
M BC
48
48
M
 M
 3,75 tm
CB 0
BC 0
(simetris)

75

1 .2.3).6 0   2  tm 3,75 M BC 48 48 M  M

DISTRIBUSI MOMEN

Titik

     

Kumpul

A

 

B

 

C

Batang

AB

BA

 

BC

CB

CD

- D ij

0

0,5

 

0,5

1

0

M

ij

o

- 4,708

2,458

-

3,75

3,75

- 15

D

1

 

0,646

 

0,646

11,25

0

 

I

1

0,323

   

5,625

0,323

 

D

2

 

-2,813

-2,813

- 0,323

0

 

I

2

1,406

   

0,162

1,406

 

D

3

 

- 0,081

- 0,081

-1,406

0

 

I

3

- 0,041

 

- 0,703

-0,041

 

D

4

 

0,352

 

0,352

0,041

0

 

I

4

0,176

   

0,176

 

Final

- 5,75

0,02

-

0,02

15

-15

Menghitung Reaksi Perletakan Freebody AB

M ab

A

M bc

B

6 t

1 t/m M ba 1 m 4 m 2 t/m M cb
1
t/m
M ba
1
m
4
m
2 t/m
M
cb

B

M ab A M bc B 6 t 1 t/m M ba 1 m 4 m
M ab A M bc B 6 t 1 t/m M ba 1 m 4 m
M ab A M bc B 6 t 1 t/m M ba 1 m 4 m

3 m

3 m

C

R AB =

=

R BA =

R BC =

R BC =

C

5 t

D R CD =

m C R AB = = R BA = R BC = R BC = C

3 m

P

.3

M

AB

M

BA

1.4

4

6.3

4

5,75

0,02

2

 

2

4

4

M

P

.1

M

AB

BA

1.4

4

4

2

  1 .2.3.2 2  0,02  15  2 6   1
1
.2.3.2
2
 0,02
15
2
6
1
.2.3.2
2
 0,02
15
2
6
15  V 
5
0

3

7,9325

= 2,0675

= 0,5033

= 5,4967

76

6   1 .2.3.2 2  0,02  15  2 6 15  V

Perhitungan Momen dan Gaya Lintang Freebody AB (lihat gambar kanan) Pada daerah AE , 0 x 1

Mx = 7,9325 x ½. 1.x 2 5,75

x

= 0

M A = -5,75

x

= 1

M E = 1,6825

M = 0 x = 0,76 m

Dx = 7,9325 1. x

x

= 0 D A = 7,9325

x

= 1

D E = 6,9325

Pada daerah EB, 1 x 4

Mx = 7,9325. x ½. 1. x 2 6.(x-1)-5,75

x

= 1

M E = -1,6825

x

= 4

M B = -0,02

M = 0 x = 3,99 mm

M

max

dMx

dx

= 7,9325 x 6 = 0

M ab

6 t

1 t/m M ba A E 1 m 4 m x Ra
1
t/m
M ba
A
E
1
m
4
m
x
Ra

B

x = 7,9325 6 = 1,9325 m

M max = 2,1173 tm

Dx =

x = 1 x = 4

Dengan Cara yang sama , untuk freebody BC, q x : 2 = x : 3 3q x = 2x

1. x + 7,9325 - 6

D E = 0,9325 D B = -2,0675

q x =

2 3
2
3

x

Daerah BF, 0 x 3 M x = 0,503. x (1/2. q x . x) 1/3.x 0,02 = 0,503. x (1/2. 2/3x. x) 1/3.x 0,02

x

x

= 0

M B = -0,02

= 3

M F = -1,511

M

max

dMx = 0,503 1/3.x 2 = 0 x 1 = -0,614 (tidak mungkin), x 2 = 1,228 m

dx

max = 0,503. (1,228) 1/9. (1,228) 2 0,02 = 0,392 tm

M

Dx = 0,503 ½. 2/3. x. x = 0,503 1.3 x 2

77

= 0,503. (1,228) – 1/9. (1,228) 2 – 0,02 = 0,392 tm M Dx = 0,503

x

= 0

D B = 0,503 t

x

= 4

D E = -2,417 t

Daerah CF, 0 x 3 M x = 5,497. x (1/2. 2/3. x. x) 1/3.x 15

x

x

= 0

M C = -15

= 3

M F = -1,509

= 5,497. x 1/9. x 3 - 15

M

max

dMx = 5,497 1/3.x 2 = 0 x = 4,06 m (tidak mungkin)

dx

Dx =

- 5,497 + 1.3 x 2

x

= 0

D C = -5,497 t

x

= 3

D F = -2,497 t

Daerah CD, 0

x 3 M x = 5. x 15

x

= 0

M C = -15

x

= 3

M D = -1,509

Dx = 5, x = 0 D C = 5 ,

x = 3 D D = 5

A

5.75

A

7.9

6 t

5 t 1 t/m 2 t/m B C 1 m 3 m 4 m 3
5 t
1
t/m
2 t/m
B
C
1
m
3 m
4
m
3 m
3 m
3 m
15
0.02.
1.511
(+)
B
C
(-)
2.117
6.9
0.5
(+)
0.932
-2.067
(-)
-2.49
-5.4

D

D

5

78

3 m 4 m 3 m 3 m 3 m 15 0.02. 1.511 (+) B C

B. Lembar Latihan Contoh : Hitung Distribusi momen-momen ujung batang dan reaksi perletakan dari struktur dibawah ini :

 

8 t

6 t

 
4 m
4 m
 
4 m
4 m
 

4 t/m

A

A  
 
2 I I I

2 I

2 I I I

I

2 I I I

I

I
 

B

C

 
 
 
 
 
 

12 m

8 m

6 m

Kekakuan

K

K

K

AB

BC

CD

3

E .2 I

  EI

0,5

12

4

EI

 

0,5

EI

8

3

EI

0,5

EI

 

6

Koefisien distribusi :

0,5

0,5

0,5

D BA =

D BC = 1 0,5 = 0,5

D CB = D CD =

0,5

,

0,5

0,5

0,5

0,5

Momen Primer :

M M 0

AB

BC

0

0

M

CD

8.4.(8)

2

12

6.4.(4)

2

2

1

12

8

2

.4.6

2

14,22

6

12

M 0 

BA

8.8.(4)

2

12

2

0

M M CB DC  12 6

0

 7,11

D

79

.4.6 2  14,22  6  12 M 0  BA 8.8.(4) 2 12 2

Distribusi Momen (Cross)

Titik Kumpul Batang - D ij M D I 1 D 2 I 2 D
Titik
Kumpul
Batang
- D ij
M
D
I 1
D 2
I 2
D 3
I 3
D 4
I 4
D 5
Final
A
B
C
D
AB
BA
BC
CB
CD
1
0,5
0,5
0,5
0,5
1
14,22
-7,11
6
-6
12
-12
ij
-14,22
0,555
0,555
-3,000
-3,000
12
1
7,11
-1,500
0,277
6,000
4,305
4,305
-3,138
3,138
-1,569
2,152
0,785
0,784
-1,076
-1,076
-0,538
0,392
0,269
0,269
-0,196
-0,196
-0,098
0,134
0,049
0,049
-0,067
-0,067
0
-8,257
8,257
-10,522
10,522
0

Menghitung Reaksi Perletakan

A

8 t 4 m -8,257 tm 2 I 12 m
8 t
4 m
-8,257 tm
2 I
12 m

B

R AB =

8.8

8,257

12

12

4,645

R BA = 8 4,645 3,355

V = 0

6 t 4 m -10,522 tm 8,257 tm I B C
6 t
4 m
-10,522 tm
8,257 tm
I
B
C
8 m
8 m

R BC =

6.4

8,257

( 10,522)



8

8

2,717

R CB = 6 2,717 3,283

V = 0

4 t/m C I 10,522 tm 6 m
4 t/m
C
I
10,522 tm
6 m

D R CD =

4.6 10,522

2

6

13,754

R DC = 4.6 13,754 10,246

80

= 0 4 t/m C I 10,522 tm 6 m D R CD = 4.6 

Persamaan momen dan gaya lintang disertai gambar bidang M dan D Batang AB :

12 m 9.5 m -8,26 tm A B +
12 m
9.5 m
-8,26 tm
A
B
+

18,58 tm

4 m

- A + 4,645 Batang BC : 3.04
-
A
+
4,645
Batang BC :
3.04

-3,355

B

-8,257 tm

B

2.717

4,645 Batang BC : 3.04 -3,355 B -8,257 tm B 2.717 2.611 4.79 -10,522 tm C

2.611

Batang BC : 3.04 -3,355 B -8,257 tm B 2.717 2.611 4.79 -10,522 tm C +

4.79

-10,522 tm

C

-3,355 B -8,257 tm B 2.717 2.611 4.79 -10,522 tm C + 8 m - +
+ 8 m - +
+
8 m
-
+

-3,283

Batang CD :

3.438 m -10,522 C D -13,125
3.438 m
-10,522
C
D
-13,125

13,754

+ -3,283 Batang CD : 3.438 m -10,522 C D -13,125 13,754 6 m - +
6 m - +
6 m
-
+

-10,246

0

x 4

 

M

x = 4,645. x

D X = 4,645

M

A =

0

D A = 4,645

M

E = 18,58

D E = 4,645

4

x 12

M

x = 4,645. x 8.(x 4),

D X = 4,645 - 8

M

E =

18,58

D A = -3,355

M

B = -8,26

D B = -3,355

M

x = 0 4,645. x 8. (x 4) = 0

x

= 9,538

 

0

x 4

M

x = 2,717. x 8,257

M

B =

-8,257

M F = 2,611

M

x = 0 2,717. x 8,257 = 0

 

x = 3,04 m

D

X = 2,717

D

B = 2,717

D

F = 2,717

4

x 8

M

x = 2,717. x 8,257 6.(x 4)

M

F = 2,611

M

C = -10,521

M

x = 0 x = 4,795 m

D

X = 2,717 - 6

D

B = -3,283

D

F = -3,283

0

x 6

M

M

C = -10,522

M

D = 0

M

max

dMx

dx

M

max = 13,125

M

x = 0

x = 13,754. x ½. 4. x 2 10,522

0

13,754 4. x = 0

x = 3,04 m

x 1 = 0,876 m

 

x 2 = 6 m

D

X = 13,754 4. x

D

C = 13, 754

 

x = 0 m

D

D = -10,246

x = 6 m

D

X = 0 x = 3,438 m

81

x D C = 13, 754   x = 0 m D D = -10,246

TUGAS LATIHAN Cross (Balok menerus)

Hitung Momen ujung batang dengan Cross Gambar Bid M dan D dengan nilai2 nya.

5 t 5 t 5 t 2 t/m 2 t/m A D B C 3
5 t
5 t
5 t
2 t/m
2
t/m
A
D
B
C
3 m
3 m
3 m
5
m
10 m
8 m

82

Cross Gambar Bid M dan D dengan nilai2 nya. 5 t 5 t 5 t 2

KULIAH PERTEMUAN 13 Analisa struktur statis tak tentu dengan metode distribusi momen (Cross) pada Portal tak bergoyang

A. Lembar Informasi

1. Kompetensi

Mahasiswa dapat menghitung momen ujung-ujung batang dari portal statis tak tentu dengan metode distribusi momen (Cross)

2. Materi Belajar

ANALISA PORTAL DENGAN METODE CROSS

Portal dapat berbentuk struktur yang simetris atau tidak simetris berpatokan pada

sumbu tengah vertikal yang membelah dua bagian di tengah portal.

Pola simetri, apabila seluruh batang-batang pada satu sisi dari sumbu tengah

vertikalnya sama dengan bagian sisi yang lain dalam hal panjang batang, momen

inertianya, dan keadaan ujung-ujung batangnya.

Contoh : Portal simetri

L' , I L , I L , I
L'
,
I
L ,
I
L ,
I

(a)

L' , I L , I L , I
L'
,
I
L ,
I
L ,
I

(b)

L' , I L' , I L' , I L' , I L , I
L'
,
I
L'
,
I
L'
,
I
L'
,
I
L ,
I
L1 , I1
L ,
I

(c)

EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan
EI konstan

EI konstan

L

L

(d)

E I, konstan
E I, konstan

83

(b) L' , I L' , I L' , I L' , I L , I

Apabila salah satu sisi dari panjang batang atau momen inersia dan keadaan ujung batang berbeda antara kedua sisi sumbu vertikalnya, maka struktur portal tidak simetri Contoh : Portal tidak simetri

L' , I L , I L , I (a)
L'
,
I
L ,
I
L ,
I
(a)
L' , I L , I L' , I (b)
L'
,
I
L ,
I
L'
,
I
(b)
L' , I L , I' L , I (c)
L'
,
I
L , I'
L ,
I
(c)
L' , I L' , I L' , I L' , I L , I
L'
,
I
L'
,
I
L'
,
I
L'
,
I
L ,
I
L1 , I1
L ,
I

(d)

EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)

EI konstan

EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)
EI konstan (d)

(d)

L' , I L , I L1 , I1 L , I (d) EI konstan (d)

(f)

Beban yang bekerja terhadap sumbu portal Simetri Jika beban sisi yang satu dengan yang lainnya sama dalam hal besarnya beban (Intensity) arah beban dan penyebarannya (Distribution) Tidak simetri Jika salah satu faktor Intensity, Direction atau Distribution ada yang berbeda. Akibat beban yang ada, portal dapat dianalisa sebagai portal bergoyang dan portal tak bergoyang. Portal tanpa pergoyangan Pada portal ini, setiap titik kumpul dapat melakukan perputaran sudut akibat beban yang ada tetapi tidak ada perpindahan dari posisi sebenarnya. Portal dengan pergoyangan

84

perputaran sudut akibat beban yang ada tetapi tidak ada perpindahan dari posisi sebenarnya. Portal dengan pergoyangan

Pada portal ini, setiap titik kumpul dapat melakukan putaran sudut akibat beban yang ada di sertai terjadinya perpindahan lateral secara keseluruhanterjadi pergoyangan.

Contoh: L' , I L , I L , I
Contoh:
L'
,
I
L ,
I
L ,
I

(a)

L' , I L , I L , I (b)
L'
,
I
L ,
I
L ,
I
(b)
(e)
(e)
L' , I' (f)
L' , I'
(f)
L' , I L' , I L' , I L' , I L , I
L'
,
I
L'
,
I
L'
,
I
L'
,
I
L ,
I
L1 , I1
L ,
I
`

(c)

Secara umum Portal dengan pergoyangan Agar tidak bergoyang memerlukan penguncian dengan perletakan tambahan.

( a )
( a )
( a )
( a )

Portal dengan pergoyangan

85

Agar tidak bergoyang memerlukan penguncian dengan perletakan tambahan. ( a ) ( a ) Portal dengan

PORTAL TAK BERGOYANG Contoh: Analisis struktur dibawah ini dengan cara Cross

KEKAKUAN:

K

K

K

K

AB

BC

CD

CE

4. E .1,5 I

0,75

EI

 

8

4. E .2 I

0,80

EI

10

3. E . I

0,50

EI

6

4. E . I

0,667

EI

6

K BC +K CD +K CE =1,967

KOEF DISTRIBUSI:

D BA =

K BA

K

b a

K

BC

0,75

0,75

0,80

D BC = 0,516

D CD =

D CE =

D CB =

0,5

1,967

0,667

1,967

0,8

1,967

0,254

0,339

0,407

0,484

Σ = 1

Σ = 1

MOMEN PRIMER

(Batang yang ada beban)

M

O

BC

1

12

.3.10

2

25 .

t m

86

0,254 0,339 0,407  0,484 Σ = 1 Σ = 1 MOMEN PRIMER (Batang yang ada

O

M CB 25 t . m

 

M

O

 

12.4.2

2

5,333

 

CE

 

6

2

O

12.2.4

2

M



 10,667

EC

 

6

2

DISTRIBUSI MOMEN

 

TK

   

A

B

 

C

E

D

 

uB

   

AB

BA

 

BC

CB

CD

CE

EC

DC

 

-Dij

   

0

0,484

 

0,516

0,407

0,254

0,339

0

0

 

Mij

   

-

-

 

25

-25

-

5,333

10,667

-

 

D.1

   

-

-12,10

 

-12,90

8,004

4,995

6,668

-

-

 

I.1

 

-6,05

-

 

4,002

-6,45

-

-

3,334

-

 

D.2

   

-

-1,937

 

-2,65

2,65

1,638

2,187

-

-

 

1.2

   

-0,968

-

 

1,312

-1,032

-

-

1,093

-

 

D.3

   

-

-6,35

 

-0,677

0,420

0,262

0,350

-

-

 

I.3

   

-0,317

-

 

0,210

-0,338

-

-

0,175

-

 

D.4

   

-

-0,102

 

-0,108

0,138

0,086

0,44

-

-

 

I.4

   

-0,051

-

 

0,069

-0,054

-

-

0,057

-

 

D.5

   

-

-0,033

 

-0,036

0,022

0,014

0,018

-

-

 

I.5

   

-0,016

         

0,009

-

FINAL

   

-7,402

-14,807

 

14,807

-21,665

6,995

14,670

-5,999

0

REAKSI PERLETAKAN

 

R

 

3.10

14,807

( 21,665)



14,314

 

BC

2

 

10

R

3.10

14,807

( 21,665)

