Anda di halaman 1dari 3

Dalam teori Anne Roe mengenali delapan kelompok pekerjaan dan enam aras (tingkatan untuk setiap kelompok.

Kelompok (penggolongan) itu adalah (Roy dan Lunnenborg dalam program bimbingan karir di sekolah, 1996): 1. Jasa : orang bekerja untuk melayani orang lain, berbuat untuk kepentingan orang lain. 2. Kontrak bisnis: hubungan orang-orang dalam pekerjaan menekankan tujuan mempengaruhi orang lain (persuasi) daripada memberikan bantuan. 3. Organisasi: pekerjaan pekerjaan manajerial, kerah putih, hubungan formal antar orang. 4. Teknologi: pekerjaan berkenaan dengan produksi, pemeliharaan pengangkutan barang dan keperluan umum, teknik, kerajinan, transportasi, komunikasi dan sebagainya, hubungan antar prinbadi kurang penting, fokus perhatian adalah barang. 5. Luar rumah: pekerjaan-pekerjaan di luar rumah, seperti pertanian, pengairan, pertambangan, kehutanan, peternakan; hubungan antar orang tidak penting; pekerjaan luar yang menggunakan mesin . 6. Sains: pekerjaan keilmuan, penerapan teori, penelitian; untuk penelitian-penelitian di bidang ilmu perilaku, seperti psikologi. 7. Budaya umum: pekerjaan-pekerjaan pekerjaan dan pewarisan budaya seperti pendidikankeguruan , wartawan, hukum, keagamaan, bahasa dan humaniora lainnya. 8. Seni dan hiburan: hubungan dalam pekerjaan ini adalah antara satu orang, atau kelompok. Yang memiliki keterampilan khusus di bidang seni dengan masyarakat umum. Adapun keenam aras itu adalah adalah: 1. Profesional dan manajerial 1: mencakup pencipta, pembaharu, dan menejer puncak; bekerja dengan tanggung jawab dan kemandirian (otonomi) penuh, pengambilan keputusan dan pembuat kebijaksanaan, berpendidikan tinggi tingkat doktor/setara. 2. Profesional dan manajerial 2: otonomi tanggung jawab lebih sempit (agar kutang), penafsir kebijaksanaan, pendidikan tinggi tingkat sarjana sampai megister. 3. Semi profesional dan bisnis kecil: tanggung jawab rendah, penerapan kebijaksanaan hanya untuk diri sendiri, berpendidikan menengah atas umum atau teknologi kejuruan. 4. Terampil: pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan pelatihan keterampilan dan pngalaman khusus 5. Semiterampil pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan-pelatihan tingkatan yang agak terampil yang agak kurang, otonomi dan inisiatif jauh kurang dituntut. 6. Tak terampil : pekerjaan tingkat ini tidak mempersyaratkan pendidikan atau pelatihan khusus, pekerjaan bersifat repetitif dan pekerjaan hanya dituntut untuk mempu mengikuti pedoman atau pedoman kerja yang ditetapkan. Anne Roe juga meneliti pengaruh dari gaya interaksi antara orang tua dan anak, serta pengaruh dari pola pendidikan keluarga terhadap kebutuhan-kebutuhan yang dikembangkan oleh anak dan hubungan antara struktur kebutuhan pribadi itu dengan gaya hidup pada unsure dewasa kelak. Roe juga menerapkan klasifikasi hierarkis tentang tahap-tahap kebutuhan (needs) yang diciptakan oleh Maslow, yaitu secara berturut-turut: kebutuhan psiologis, kebutuhan merasa aman dan terlindung dari bahaya, kebutuhan merasa diterima dan disayangi, kebutuhan akan rasa harga diri dan menjadi independent, kebutuhan akan informasi, kebutuhan mengerti dan memahami, kebutuhan menghayati keindahan, dan kebutuhan mengembangkan diri seoptimal dan semaksimal mungkin. Menurut Maslow, kebutuhan-kebutuhan pada tahap lebih tinggi tidak akan dirasakan dan dihayati kalau kebutuhan pada tahap dibawahnya tidak terpenuhi secara memuaskan. Kebutuhan-kebutuhan mana akan lebih dihayati dan lebih diprioritaskan oleh orang dewasa (struktur kebutuhan). Sedangkan menurut Roe, kebutuhan-kebutuhan pada tahap lebih tinggi sangat ditentukan oleh keseluruhan pengalaman frustasi dan kepuasan pada masa kecil.

Misalnya, orang-orang yang suka bekerja bersama orang lain, dianggap cenderung demikian karena mereka menghayati kebutuhan yang kuat untuk diterima baik oleh orang lan. Semua orang ini dididik oleh orang tua yang menunjukkan sikap menerima dan menyayangi. Sebaliknya, orang-orang yang lebih suka bekerja dengan menangani barang/benda tanpa mencari kontak dengan individu disekitarnya itu dianggap berkecenderungan demikian karena mereka menghayati kebutuhan yang kuat untuk merasa aman dan terlindung dari bahaya. Semua orang ini dididik oleh orang tua yang menunujukkan sikap dingin dan menolak.Corak pergaulan antara orang tua dan anak dipandang sebagai sumber utama kebutuhan, minat, dan sikap, yang tercerminkan dalam pilihan jabatan pada umur lebih tua. Roe menggolongkan seluruh jabatan atas dua kategori dasar, yaitu jabatan yang berorientasi pada kontak dengan orang lain(person oriented) dan yang berorientasi pada benda-benda(non person oriented).Contoh bidang jabatan yang tergolong dalam kelompok yang pertama adalah jasa, bisnis, manajement, pelayanan social, dan aktifitas dibidang cultural.Contoh bidang jabatn yang tergolong dalam kelompok yang kedua adalah teknologi, bekerja di lapangan seperti pertanian, dan pertambangan, serta penelitian ilmiah. Dalam setiap kategori terdapat tahap-tahap.Menurut Roe, pilihan kategori jabatan terutama ditentukan oleh kemampuan seseorang dan latar belakang sosila kulturalnya.Namun, dalam karya tulisnya ynag terbit kemudian (1972), Roe meninggalkan pandangannya bahwa corak pergaulan antara orang tua dan anak, yang berbeda-beda, akan menghasilkan pilihan jabatan yang berlainlainan.Diakuinya, bahwa masih terdapat aneka factor lain yang mempengaruhi pilihan jabatan, meskipun arah orientasi yang ditanamkan pada umur sangan muda dikatakan kiranya tetap berpengaruh terhadap pilihan-pilihan yang menyangkut jabatan yang dipegang dikemudian hari. Roe menegaskan pula, bahwa tidak terdapat hokum yang berbunyi: Hanya ada satu-satunya jabatan yang paling cocok bagi seseorang atau hanya ada satu-satunya orang yang paling tepat untuk memegang jabatan tertentu Meskipun data hasil penelitian lebih lanjut terdapat validitas teori itu tidak mendukung pandangan Roe mengenai hubungan erat antara perlakuan orang terhadap anak dan pilihan jabatan di kemudian hari, pandangan ini mempunyai sedikit relevansi bagi konselor karir.Dalam hal ini, Samuel H. Osipow dalam bukunya Theoriest of Career Development (1973) berpendapat, bahwa konselor sekolah dapat membantu orang muda, yang ternyata belum mengenal dirinya sendiri mengenai pengaruh kebutuhan pokok yang melandasi mitivasinya dalam memperjuangkan suatu gaya hidup (life Style), untuk berefleksi diri. Misalnya bila manusia muda mencita-citakan suatu jabatan yang menghasilkan uang banyak, mungkin orang itu sanagt menghayati kebutuhan menikmati hidup yang secara ekonomis serba terjamin supaya merasa aman terhadap kegoncanagn dalam hidup. Bahkan ada kemungkinan bahwa sikap hidup ini ditanamkan dalam lingkungan keluarganya, yang menyamakan keamanan dalam hidup dengan jaminan ekonomis mewah.Persoalan yang dihadapi konselor ialah, apakah dia sebaiknya berusaha meningkatkan tahap kebutuhan orang muda itu, karaena jaminan ekonomi saja tidak mesti membuat orang dewasa akan selalu merasa bahagia.

DAFTAR PUSTAKA Winkel,W.S dan M.M Sri Hastuti.2007.Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.yogyakarta: Media Abadi Sukardi, Dewa Ketut. 1984. Bimbingan Karir Disekolah Sekolah.Surabaya: Usaha Nasioanal Munandir. 1996. Program bimbingan Karir di Sekolah. Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Dikti

http://kumpulanmateribk.blogspot.com/2011/07/bab-i-pendahuluan-1.html