Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA 2

KINETIKA REDUKSI METIL ORANGE

Oleh : KELOMPOK 4 Anggota: 1. DIAN AMALIA ASRI (54969/2010) 2. RENI SRIWAHYUNI 3. SYAMSU RIVALDI 4. TRYAS FUJI ARINI (54962/2010) (54966/2010) (54958/2010)

Asisten: 1. AZHAR MALIKI 2. DESKI PAHDINOL 3. MONIKA YULIA

Dosen: 1. Deski Beri S.Pd, M.Si 2. Yerimadesi S.Pd, M.Si

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2012

KINETIKA REDUKSI METIL ORANGE A. TUJUAN Menentukan tingkat reaksi terhadap Sn+2 dan .

B. WAKTU DAN TEMPAT Hari/Tanggal Pukul Tempat : Senin/10 September 2012 : 09.40 12.20 WIB : Laboraturium Kimia Fisika FMIPA UNP

C. TEORI DASAR Reaksi reduksi metil orange (MeO ) oleh Sn+2,secara stoikiometri dapat ditulis sebagai berikut: H3 C N-O-N=N-O-SO3H + 2 Sn+2 + H3O+ H3 C H3 C N-O-NH2 + H2N-O-SO3H + 2Sn+4 + 4H2O H3 C Reaksi ini berjalan lambat dan untuk mempercepat
-

jalannya reaksi

ditambah dengan Cl . Diperkirakan bahwa reaksi melibatkan kompleks Sn+2 dan Cl- ,sehingga pada kondisi H3O+ konstan, laju reaksi dinyatakan sebagai berikut :

Dimana :

[MeO] = konsentrasi metal orange tingkat [Sn+2] = konsentrasi Sn+2 [Cl- ] = konsentrasi Clx dan y = berturut-turut tingkat reaksi terhadap Sn+2 dan Cl-.

Bentuk kompleks Sn+2 dan Cl- dapat diperkirakan jika x dan y diketahui. Untuk menentukan harga x dan y, percobaan dapat dilakukan pada kondisi Sn+2 dan Cl- >> [MeO], sehingga percobaan [Sn+2] dan [Cl-] dapat dianggap konstan pada kondisi ini. Reaksi menjadi pseudo tingkat satu terhadap MeO.

k adalah konstan laju reaksi pseudo tingakat satu, dimana k = k [Sn+2] [Cl-] Jika k ditentukan untuk berbagai konsentrasi Sn+2 pada kondisi [Cl-] tetap dan [Sn+2] >>[MeO] maka x dapat ditentukan dari slop grafik ln k versus ln [Sn+2]. Hal yang sama untuk menentukan y, yaitu slop grafik ln k versus ln [Cl-]. Penentuan harga k secara spektrofotometri, dimana penyelesaian persamaan ini adalah : didasarkan pada persamaan (2),

Apabila A adalah absorbansi [MeO] pada waktu reaksi t dan Ao adalah absorbansi [MeO]o , yaitu pada awal reaksi , t = 0,maka persamaan 3 dapat ditulis menjadi :

dengan mengamati A untuk setiap waktu reaksi t maka k dapat ditentukan sebagai slop grafik ln A versus t (Tim Kimia Fisika, 2012). Orde reaksi dapat didefinisikan sebagai hasil penjumlahan dari peranan komponen-komponen reaktan dalam total reaksi. Untuk reaksi kompleks sangat sukar untuk menentukan orde reaksi. Orde reaksi tidak dapat ditentukan secara langsung, sebab kecepatan reaksi tidak mengikuti konsep reaksi sederhana. Orde reaksi biasanya berupa bilangan bulat, dapat pecahan dan bahkan dapat negative tergantung dari jenis reaksi. Pada reaksi sederhana berlaku hukum molekularitas, misalnya untuk reaktan unimolekular, maka reaksi orde satu, bimolecular untuk

reaksi orde dua, atau trimolekular untuk orde tiga. Akan tetapi hukum ini tidak semuanya benar sebab orde reaksi bergantung pada hasil percobaan dari reaksi yang terjadi (Atkins, 1994). Orde suatu reaksi adalah pangkat factor konsentrasi dalam hokum laju bentuk diferensial. Pada umumnya orde reaksi merupakan bilangan bulat dan kecil, namun dalam beberapa hal pecah atau nol. Pada umumnya orde reaksi terhadap suatu zat tertentu tidak sama dengan koefisien dalam persamaan stoikiometri reaksi. Misalnya untuk suatu persamaan laju, Laju= k [X]n Harga n memberikan orde reaksi jika n=0, maka laju reaksinya disebut orde nol terhadap x. Suatu reaksi orde satu dapat dinyatakan dengan,

Hasil integral untuk memperoleh hubungan antara konsentrasi pereaksi terhadap waktu, yaitu: ln [A]= -kt + 1 ln [A2]- ln [A1]= -k (t2-t1) Jika [Ao] adalah konsentrasi A pada waktu t=0 (konsentrasi awal), [A] adalah konsentrasi A pada waktu t, maka

Atau Dapat juga ditulis,

(Achmad, 2001)

Jika suatu reaksi terdiri dari lebih satu komponen, dimana satu komponen atau lebih yang secara aktif ikut dalam reaksi dapat dianggap konstan selama proses berlangsung, maka reaksi tersebut dikatakan pseudo tingkat n. Keadaan ini dialami pada reaksi-reaksi dengan katalis dimana konsentrasi katalis dikatakan konstan selama berlangsungnya reaksi. Demikian juga pada reaksi hidrolisis dengan reaktan sangat berlebihan sehingga yang bereaksi hanya sebagian kecil dari senyawa konsentrasi awal. Beberapa frekuensi apabila paling sedikit 40 kali lebih besar dari yang bereaksi. Sebagai contoh reaksi hidrolisa sukrosa dengan katalis asam, kecepatan reaksi dituliskan:

Dimana s adalah konsentrasi sukrosa. Orde reaksi secara stoikiometri orde tiga, akan tetapi (H+) adalah katalis dan konsentrasi total reaksi adalah tetap serta [H2O] mendekati tetap apabila menggunakan air. Reaksi dikatakan orde pseudo tingkat satu, maka kecepatan reaksinya:

Dimana: k=k [H2O][H+] (Irmamon, 2012) D. ALAT DAN BAHAN Alat-alat yang digunakan: 1. spektronik-21 2. gelas ukur 10 ml 3. labu takar 10ml 4. pipet ukur 1 ml 5. stopwatch Bahan-bahan habis pakai 1. larutan metil orange 10 -4M 2. larutan HClO4 2M 3. larutan HCl 2M 4. Aquades

E. CARA KERJA 1. Menentukan Tingkat Reaksi terhadap [Sn2+] (Nilai x) Mencampurkan 2 mL MeO 10-4 M, 1,5 mL HCl 2 M, dan 6,5 mL HClO4 2 M

Menambahkan 1 mL SnCl2 0,25 M, stopwatch mulai dijalankan

Memasukkan larutan ke dalam kuvet

Menentukan absorban tiap 30 s

Mengulangi percobaan dengan penambahan 1,5 mL dan 2 mL SnCl2 Membuat grafik ln A vs t 2. Menentukan Tingkat Reaksi terhadap [Cl-] (nilai y) Mencampurkan 2 mL MeO 10-4, 0,5 mL HCl 2M, 7,5 mL HClO4 2M

Menambahkan 0,2 mL SnCl2 0,25 M

Memasukkan larutan ke dalam kuvet

Mementukan absorban tiap 30 s

Mengulangi percobaan dengan penambahan 1 mL dan 2 mL HCl 2M Membuat kurva ln A vs t