Anda di halaman 1dari 2

HEDONISME

Secara etimologi, Hedonisme berasal dari kata latin Hedone yang berarti kesenangan atau kenikmatan. Sedangkan secara etimologi, hedonisme diartikan sebagai faham atau corak budaya yang lebih mengutamakan kesenangan dalam artian yang bersifat materi. Menuru Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonisme merupakan pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidu. Hedonisme muncul sekitar 400 tahun SM dengan mahdzabnya bernama Tyrene, dan perintisnya adalah Epicurus. Para Hedonis berpendapat bahwa ukuran dari makmur atau tidaknya suatu kehidupan, bahagia atau tidaknya suatu kehidupan seorang manusia, hanya dapat diidentifikasi dengan kesenangan materi semata. Apapun akan mereka lakukan untuk mengejar kenikmatan tersebut tanpa adanya rasa putus asa. Semangat kerja yang tinggi dan etos kerja yang tinggi menjadi aspek positif terhadap Hedonisme, tetapi aspek negatifnya adalah dihindarinya segala sesuatu yang dapat memicu untuk menimbulkan rasa yang kedepannya menghasilkan atau mengarah kepada pengurangan kenikmatan atau rasa sakit. Hedonisme di Indonesia saat ini merupakan fenomena paham perilaku yang khas negara berkembang. Simbol modernitas dianggap sebagai prestise yang harus dikejar. Pusatpusat perbelanjaan modern, tempat-tempat hiburan, makanan modern, gaya hidup, semua meniru bangsa modern yang identik dengan barat. Akibatnya, apa saja yang berbau tradisional kendatipun itu milik kita sendiri menjadi dianggap ketinggalan jaman dan harus ditinggalkan. Persepsi tersebut di atas telah merasuk di semua golongan masyarakat. Termasuk di dalamnya adalah mahasiswa. Mahasiswa merupakan generasi muda harapan penerus bangsa. Mahasiswa merupakan makna yang sangat luas yang tidak dapat diartikan sebagai wacana dan retorika tetapi yang lebih penting adalah masalah pergerakan dan perjuangan yang dijadikan sebagai simbol mentalitas mahasiswa bukan dijadikan sebagai simbol formalitas mahasiswa. Dalam simbol formalitas Mahasiswa dijadikan sebagai pengakuan saya adalah Mahasiswa. Tapi dalam simbol mentalitas bahwa Mahasiswa adalah Motor Perubahan dan Motor Pergerakan. Godaan gaya hidup dan aksesori modernitas menyeruak dalam berbagai sendi kehidupan. Tak terkecuali dalam ruang hidup mahasiswa. Justru dalam gerak mahasiswa, tawaran hidup hedonis tersedia sangat banyak. Era kapitalisme dan hedonisme yang menyediakan ragam mal, tren fesyen, kontestasi idola, dan sinetron telah merasuk dalam sendi kehidupan mahasiswa. Itulah yang menandai kematian nalar kritis mahasiswa. Keruntuhan eksistensi mahasiswa juga terbukti dengan makin riuh berbagai klub malam yang mengantarkan insan kampus ke dunia gelap esek-esek (seks bebas). Dunia gelap yang terjadi di kampus menandai keruntuhan jaringan untuk mengasah intelektualitas. Hal ini menjadi keprihatinan bersama insan pendidikan. Mahasiswa yang diharapkan mengawal reformasi, ternyata gagal menjalankan amanat profetik menjaga kedaulatan republik ini. Mahasiswa justru sibuk di mal, kafe, dan aksesori neoliberal lain. Tanpa sadar, mahasiswa yang bercita-cita jadi pemimpin bangsa terhanyut dalam labirin hedonisme. Pada dasarnya dengan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi yang dimiliki, mahasiswa dapat banyak hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa sebagai motor perubahan dan pergerakan dalam upaya mengantisipasi hedonisme yang kian marak. Upaya-upaya

tersebut antara lain dengan membentuk komunitas, sosialisasi kebudayaan tradisional, dan kampanye budaya. Mahasiswa dapat membuat sebuah komunitas-komunitas yang mengalihkan perhatian kalangan muda dari hedonisme. Komunitas tersebut bisa berdasarkan hobi atau minat. Misalnya saja komunitas fotografi, komunitas sepak bola, ataupun komunitas budaya jawa. Dengan adanya kegiatan yang menyibukkan para anggota komunitas, maka mereka jadi tidak terpengaruh terhadap hedonisme. Namun, tentunya perlu diperhatikan pula bahwa kegiatankegiatan yang diadakan komunitas haruslah mendatangkan manfaat, jangan sampai komunitas tersebut membuang-buang waktu, tenaga , dan materi karena itu justru mengindikasikan hedonisme. Sosialisasi kebudayaan merupakan suatu bentuk pengenalan budaya tradisional sebagai upaya pelestarian kebudayaan asli bangsa Indonesia yang mulai hilang ditelan modernisasi. Sosialisasi ini dapat berupa pelatihan-pelatihan budaya tradisional seperti seni tari kepada anakanak sejak usia dini. Dengan pelatihan ini diharapkan masih akan ada penerus bangsa yang mengetahui budaya-budaya asli bangsa. Setelah membuat komunitas dan melakukan sosialisasi, kita bisa melakukan kampanye yang menyuarakan tentang kearifan lokal bangsa Indonesia serta menghimbau para generasi muda untuk menghindari segala perilaku yang berbau hedonisme. Kampanye bisa dilakukan dengan menyebar pamflet, leaflet, atau poster. Serta bisa juga melalui jejaring-jejaring sosial yang saat ini mewabah keseluruh lapisan masyarakat. Diluar upaya-upaya tersebut diatas, pada dasarnya kembali ke diri pribadi kita masingmasing. Hal yang paling ampuh untuk mengantisipasi hedonisme itu sendiri adalah kekuatan rohani (agama) kita, yaitu keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Setiap agama pasti mengajarkan umatnya untuk tidak berfoya-foya karena Tuhan tidak suka akan hal itu. Oleh karena itu, sebagai umat beragama tentunya kita harus senantiasa menghindari apa yang tidak disukai Tuhan, termasuk salah satunya adalah hedonisme.

DAFTAR PUSTAKA Hafidzoh, Siti Muyassarotul. Mahasiswa dan Labirin Hedonisme. Suara Merdeka : 29 Mei 2010. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.