Anda di halaman 1dari 14

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HIV/AIDS

A. KONSEP DASAR PENYAKIT 1. Pengertian

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh pada manusia. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul karena menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia akibat serangan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus).

AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV) (Suzane C. Smetzler dan Brenda G.Bare)

AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian ( Center for Disease Control and Prevention )

2. Etiologi AIDS disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) yang merupakan agen viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang kuat terhadap limfosit T. Ada berbagai strain HIV. HIV 2 merupakan yang prevalen di Afrika, sedangkan strain HIV 1 dominan di Amerika Serikat dan bagian dunia lainnya. Transmisi horizontal HIV terjadi melalui kontak seksual yang intim atau pajanan parenteral dengan darah atau cairan tubuh lain yang mengandung HIV. Transmisi perinatal (vertikal) terjadi ketika ibu hamil yang terinfeksi HIV

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

meneruskan infeksi kepada bayinya. Tidak terdapat bukti yang menunjukan bahwa kontak secara sepintas antara orang yang terinfeksi dan yang tidak terinfeksi dapat menyebarkan virus tersebut. 3. Epidemiologi / insiden kasus :

85 % pasien yang didiagnosis AIDS berusia bawah 6 tahun

Distribusi etnik yang terkena HIV/AIDS adalah 59% orang Afro - Amerika, 26% Amerika Latin, dan 15% bangsa Eropa Kebanyakan pasien dengan AIDS (60%) bertempat tinggal di New York, New Jersey, Florida, dan California yang merupakan kota - kota besar di Amerika (tahun 2004)

Distribusi gender penderita AIDS secara umum adalah 61% laki-laki dan 39% perempuan

4.

Manifestasi Klinis :

Peningkatan suhu tubuh Diare akut hingga kronis Penurunan berat badan Malnutrisi Defisit neuropsikologis akibat abnormalitas sistem saraf Gangguan tumbuh kembang Gangguan fungsi motorik Limfadenopati Kandidiasis oral Sarkoma Kaposi TBC Leukoplakia Oral

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

5. 6.

Penularan Penularan HIV dari pasien kepada dapat melalui : Dari ibu kepada anak dalam kandungannya (antepartum) Selama persalinan (intrapartum) Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang terinfeksi (postpartum) Bayi tertular melalui pemberian ASI Patofisiologi terjadinya penyakit : Virus HIV terutama menginfeksi subkelompok limfosit T yang spesifik, yaitu sel-sel T Helper + CD4. Virus tersebut mangambil alih mesin limfosit CD4+ dan dengan menggunakan mesin ini, mengadakan replikasi sendiri sehingga terjadi disfungsi sel CD4. Dengan menurunya jumlah sel T Helper + CD4, maka sistem imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T Helper. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T Helper + CD4 dapat berkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi. Sewaktu sel T Helper + CD4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi (infeksi bakteri dan jamur opportunistik) muncul. Jumlah sel T Helper + CD4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T Helper + CD4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opportunistik yang akhirnya membawa penderita dalam kematian

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

7.

Stadium Perkembangan HIV/AIDS 1. Stadium HIV Masa dari transmisi HIV pertama kali ke dalam tubuh sampai hasil tes antibodi HIV dalam tubuh menunjukkan hasil positif. Rentang waktu 0 3, maksimal 6 bulan 2. Stadium Asimptomatik Telah diketahui hasil antibod HIV +, tetapi penderita belum menunjukkan gejala yang khas. Rentang waktu 5-10 tahun. 3. Persistent Generalized Limphadenophaty Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan. 4. Stadium AIDS Penderita mulai terjangkit infeksi berbagai penyakit (infeksi opportunistik) Contoh : Kandidiasis oral, Herpes simpleks, Sarcoma kaposi, Leukoplakia oral, neuropati karena inflamasi demielinisasi oleh serangan Human Immunodeficiency Virus (HIV), Pneumocystic carinii, Mycobacterium tubercolose, lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan dermatitis. 8. Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui : 1. Saat hamil Penggunaan antiretroviral selama kehamilan yang bertujuan untuk mengurangi kemampuan replikasi virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh sehingga kurang efektif untuk menularkan HIV. 2. Saat melahirkan Penggunaan antiretroviral (Nevirapine) saat persalinan dan ketika bayi baru dilahirkan dan persalinan sebaiknya dilakukan dengan metode sectio caesar karena terbukti mengurangi resiko penularan sebanyak 80%. 3. Setelah lahir. Informasi yang lengkap kepada ibu tentang resiko pemberian ASI, sehingga asupan pada bayi dapat diganti.

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

9.

Pemeriksaan diagnostic / penunjang : 1. ELISA (Enzyme - Linked Immunosorbent Assay) Uji awal yang umum dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen HIV (umumnya dipakai untuk skrining HIV individu yang berusia lebih dari 2 tahun) 2. Western Immunoblot Blot Untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap beberapa protein spesifik HIV 3. Kultur HIV Merupakan standar emas untuk memastikan diagnosis HIV + pada bayi 4. Reaksi rantai polimerase (Polymerase Chain Reaction) Untuk mendeteksi asam deoksiribonukleat (DNA) HIV dimana uji langsung ini bermanfaat untuk mendiagnosis HIV pada bayi dan anak 5. Uji antigen HIV Untuk mendeteksi antigen HIV 6. HIV, IgA, IgM untuk mendeteksi antibodi HIV yang diproduksi bayi secara eksperimental dipakai untuk mendiagnosis HIV pada bayi 7. Pemeriksaan kadar sel T Helper + CD4 10.Penatalaksanaan Pemberian obat obatan antiretrovirus dimana berfungsi untuk mencegah replikasi partikel virus baru yang fungsional. Walaupun tak dapat menyembuhkan tapi obat ini dapat menekan replikasi virus, mencegah kemunduran sistem imun dan memperlambat perkembangan penyakit. Kelompok agens retrovirus meliputi : - Inhibitor enzim reverse transcriptase Contoh : zidovudin, didanosin, stavudin, lamivudin, abacavir - Inhibitor enzim protease

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

Contoh : nevirapin, delavirdin, efavirenz - Inhibitor enzim transcriptase nukleotida Contoh : indinavir, saquinavir, ritonavir, nelfinavir, amprenavir Kombinasi obat obatan ini digunakan untuk mencegah munculnya resistensi obat. Penyuntikan imunoglobulin IV membantu mencegah infeksi bakteri yang serius atau kambuhan pada sebagian anak yang terinfeksi HIV Menghindari pemberian vaksin varisela (cacar air) dan menggunakan poliovirus yang inaktif (IPV) dan bukan poliovirus oral (OPV). Pemberian vaksin pneumokokus dan influenza juga direkomendasikan Intervensi gizi yang intensif harus dilakukan jika pertumbuhan anak mulai melambat atau berat badannya mulai menurun 11. Prognosis Pasien yang terinfeksi dalam periode perinatal umumnya memiliki perjalanan penyakit lebih cepat dibandingkan anak yang terinfeksi pada usia lebih besar atau dewasa. Dilaporkan bahwa risiko kematian lebih tinggi pada anak anak yang didiagnosis menderita AIDS dalam usia dini dan pada anak anak yang menderita Pneumonia Pneumocystis cariini (Turner dkk, 1995). Masa kelangsungan hidup rata rata dari kelahiran hingga kematian telah dilaporkan berkisar 9,4 tahun (Barnhart dkk, 1996). Angka mortalitas yang terkait dengan infeksi HIV telah menurun sebesar 71 % sejak tahun 1995 dan tidak lagi dianggap sebagai salah satu diantara 15 penyebab utama kematian.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian :

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

A. Informasi Umum Pasien 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Identitas Riwayat penyakit sebelumnya Riwayat penyakit sekarang Riwayat penyakit keluarga Latar belakang keluarga Riwayat lingkungan tempat tinggal Riwayat tumbuh kembang Riwayat nutrisi 1. Neurologis : Gangguan refleks pupil, pusing, perubahan kepribadian, penurunan status mental 2. Muskuloskeletal : Kerusakan aktivitas motorik, lemah, kelemahan tonus otot 3. Kardiovaskuler : Takikardi, sianosis, hipertensi, edema 4. Respirasi : Dyspnea, takipnea, sianosis, retraksi thoraks, penggunaan otototot bantu pernapasan, batuk 5. Gastrointestinal : Intake makan dan minum menurun, mual, muntah, BB menurun, diare, inkontinensia, perut kram 6. Integument : Kering, gatal, rash atau lesi, turgor memburuk, petekie positif

B. Pemeriksaan fisik

C.

Pemeriksaan penunjang / laboratorium

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

ELISA : Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (uji awal yang umum) untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen HIV (umumnya dipakai untuk skrining HIV individu yang berusia lebih dari 2 tahun) Western Blot (uji konfirmasi yang umum) untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap beberapa protein spesifik HIV Kultur HIV merupakan standar inti untuk memastikan diagnosis pada bayi Reaksi rantai polimerase (Polymerase Chain Reaction) untuk mendeteksi asam deoksiribonukleat (DNA) HIV dimana uji langsung ini bermanfaat untuk mendiagnosis HIV pada bayi dan anak Uji antigen HIV untuk mendeteksi antigen HIV HIV, IgA, IgM untuk mendeteksi antibodi HIV yang diproduksi bayi secara eksperimental dipakai untuk mendiagnosis HIV pada bayi Pemeriksaan kadar limfosit T Helper + CD4 2. Diagnosa Keperawatan Dx 1 Dx 2 Dx 3 Dx 4 Dx 5 Dx 6 Dx 7 Dx 8 : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan imunitas tubuh : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan fibrosis paru : Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh secara aktif : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lesi oral : Risiko penularan infeksi berhubungan dengan sifat menular dari cairan tubuh dan darah : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan reaksi inflamasi : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan produksi energi akibat penurunan metabolisme : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan motorik

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

Dx 9 Dx 10 Dx 11

: Gangguan integritas kulit berhubungan dengan reaksi inflamasi akibat bakteri : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit yang mengancam hidup : Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan pembatasan fisik dan hospitalisasi

3. Intervensi Dx 1 : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan imunitas tubuh dapat dicegah dengan kriteria hasil tidak ada tanda-tanda infeksi pada anak No. Intervensi Rasional 1. Tempatkan anak di ruangan bersama Meminimalkan kontak anak yang tidak mengalami penyakit organisme infeksius 2. 3. infeksi atau di ruangan pribadi Gunakan teknik mencuci tangan yang Meminimalkan pemajanan pada aseptic organisme infeksius Batasi kontak anak dengan individu Mendorong kerja sama dan dari Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan ... x 24 jam, risiko infeksi

yang mengalami infeksi, termasuk pemahaman keluarga, teman, dan keluarga, anak lain, maupun teman. lingkungan terdekat klien Jelaskan bahwa anak sangat rentan 4. 5. 6. 7 terhadap infeksi Dorong nutrisi yang baik dan istirahat Meningkatkan pertahanan alamiah yang cukup tubuh yang masih tersedia Berikan imunisasi yang tepat sesuai Mencegah infeksi khusus ketentuan Berikan antibiotik sesuai ketentuan Mencegah perkembangan tidaknya

organisme infeksius Kolaborasi untuk pemeriksaan kultur Mengidentifikasi ada darah maupun urine

infeksi organisme pada anak

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

Dx 2

: Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan fibrosis paru yang ditandai dengan dispnea, takikardi, retraksi toraks, sianosis, penurunan pH arteri

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan ... x 24 jam, gangguan pertukaran gas dapat teratasi dengan kriteria hasil : Dispnea (-) Frekuensi nafas normal (30-50x/menit) Frekuensi nadi normal (100-170x/menit) Retraksi thoraks (-) Sianosis (-) pH arteri normal (7,35-7,45) No. Intervensi 1. Observasi frekuensi, irama, kedalaman pernafasan serta tanda-tanda sianosis Rasional Takipnea dan sianosis merupakan salah satu indikator distress pernafasan dan adanya kebutuhan untuk meningkatakan intervensi 2. Auskultasi suara nafas tambahan dan pengawasan Membantu dalam identifikasi

perkembangan komplikasi / infeksi 3. pada pernafasan Tinggikan kepala tempat tidur, atur Meningkatkan fungsi pernafasan posisi klien semifowler / fowler 4. 5. Kolaborasi pemberian terapi O2 Kolaborasi pemeriksaan AGD yang optimal dengan memanfaatkan teori gravitasi Mempertahankan oksigenasi yang efektif Mengidentifikasi keefektifan

intervensi yang sudah diberikan

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

Dx 3

: Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh secara aktif yang ditandai turgor kulit menurun, anak menangis karena merasa haus, gelisah, membran mukosa kering, takikardi, tekanan darah menurun, wajah pucat, anak terlihat lemas

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan ... x 24 jam, kekurangan volume cairan tubuh dapat teratasi dengan kriteria hasil : Turgor kulit normal (kembali setelah 2-3 detik) Anak tidak tampak gelisah Membran mukosa lembab Frekuensi nadi normal (100-170x/ menit) Tekanan darah normal (80/60 mmHg) Wajah ceria Anak tidak tampak lemas Gerakan anak aktif Rasional dari volume

No. Intervensi 1. Pantau tanda-tanda vital 2.

Indikator

cairan

sirkulasi Ukur haluaran urine dan berat jenis Peningkatan berat jenis urine / urine penurunan haluaran urine menunjukkan perubahan volume

3. 4.

sirkulasi / perubahan perfusi ginjal Kaji turgor kulit, kelembaban membran Indikator tidak langsung dari status mukosa Pantau pemasukan oral sesuai indikasi cairan Mempertahankan cairan, keseimbangan membran

melembabkan

5.

mukosa, mengurangi rasa haus Kolaborasi untuk pemberian cairan/ Mendukung / meningkatkan elektrolit melalui terapi intravena volume sirkulasi, terutama jika pemasukan oral tidak adekuat

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

Dx 4

: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lesi oral yang ditandai dengan penurunan berat badan, anoreksia, bising usus meningkat, penurunan albumin serum

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan ... x 24 jam, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan kriteria hasil : Berat badan normal sesuai tingkatan usia Asupan nutrisi adekuat (anak dapat menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan) Frekuensi bising usus normal (5-15x/menit) Kadar albumin serum normal (3-5,5g/dl)

No. Intervensi Rasional 1. Beri makanan tinggi karbohidrat dan Memenuhi kebutuhan tubuh untuk 2. 3. 4. 5. 6. tinggi protein metabolisme dan pertumbuhan Beri makanan yang disukai anak Mendorong anak agar mau makan Gunakan kreatifitas dalam pemberian Menstimulasi ketertarikan anak makanan kepada anak Pantau berat badan dan pertumbuhan sehingga anak mau makan Sebagai bahan pertimbangan untuk

pemberian nutrisi tambahan Lakukan perawatan oral hygiene pada Kebersihan mulut dapat anak sebelum makan Berikan obat antijamur sesuai instruksi merangsang nafsu makan anak Mengobati kandidiasis oral

4.

Evaluasi Dx 1 S O A P : Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan imunitas tubuh : : Tidak ada tanda-tanda infeksi : Tujuan tercapai, masalah teratasi : Pertahankan kondisi pasien dan lakukan observasi

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

Dx 2 S O

: Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan fibrosis paru : : 1. Dispnea (-) 2. Frekuensi nafas normal (30-50x/menit) 3. Frekuensi nadi normal (100-170x/menit) 4. Retraksi thoraks (-) 5. Sianosis (-) 6. pH arteri normal (7,35-7,45)

A P Dx 3 S O 3. 4. 5. 6. 7. 8.

: Tujuan tercapai, masalah teratasi : Pertahankan kondisi pasien dan lakukan observasi : Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan tubuh secara aktif : : 1. Turgor kulit normal (kembali setelah 2-3 detik) 2. Anak tidak tampak gelisah

Membran mukosa lembab Frekuensi nadi normal (100-170x/ menit) Tekanan darah normal (80/60 mmHg) Wajah ceria Anak tidak tampak lemas Gerakan anak aktif A P Dx 4 S O : Tujuan tercapai, masalah teratasi : Pertahankan kondisi pasien dan lakukan observasi : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan lesi oral : : 1. Berat badan normal sesuai tingkatan usia

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS

2. Asupan nutrisi adekuat, anak dapat menghabiskan makanan sesuai porsi yang diberikan 3. Frekuensi bising usus normal (5-15x/menit) 4. Kadar albumin serum normal (3-5,5g/dl) A P : Tujuan tercapai, masalah teratasi : Pertahankan kondisi pasien dan lakukan observasi

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS