Anda di halaman 1dari 8

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

Oleh:

Wahidun Nurhidayah, S. Ked Nina Ardila Febriandesta, S. Ked Dindadikusuma, S. Ked Pathmarooban Damoderam, S. Ked Fahrizal Dwiano Putra, S. Ked Ika Putri Yusmarita, S.Ked

Pembimbing: dr. Amir Fauzi, Sp.OG (K)

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA RUMAH SAKIT MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG 2012

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada ALLAH SWT, karena atas berkat dan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Kehamilan Ektopik Terganggu. Di kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Amir Fauzi, Sp.OG (K) selaku pembimbing yang telah membantu penyelesaian makalah ini. Penulisan juga mengucapan terima kasih kepada residen-residen, temanteman, dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Demikianlah penulisan laporan ini, semoga bermanfaat, amin.

Palembang,

September 2012

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

1. DEFINISI KEHAMILAN EKTOPIK Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uterus. Termasuk dalam kehamilan ektopik ialah kehamilan tuba, ovarial, kehamilan intra ligamenter, kehamilan servikal, dan kehamilan abdominal primer atau sekunder. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik, karena kehamilan di par interstitialis dan kanalis servikalis masih termasuk kehamilan intrauterin, tetapi jelas bersifat ektopik.

2. ETIOLOGI Sebagian besar penyebab kehamilan ektopik tidak diketahui. Setelah sel telur dibuahi di bagian ampula tuba, maka setiap hambatan perjalanan sel telur ke dalam rongga lahir memungkinkan kehamilan tuba. Adapun penyebab-penyebab lain diantaranya: Gangguan transportasi dari hasil konsepsi yaitu sebagai akibat adanya: Radang panggul (PID) Alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) Penyempitan lumen akibat tumor Pasca tindakan bedah mikro pada tuba abortus

Kelainan hormonal Induksi ovulasi Fertilisasi invitro Ovulasi yang terlambat Transmigrasi ovum

Penyebab yang masih diperdebatkan Endometriosis Cacat bawaan Kelainan kromosom

Kualitas sperma dan lain-lain

3. DIAGNOSIS a. Gambaran Klinis Bervariasi tergantung cepat lambatnya diagnosis dibuat, lokasi implantasi, sudah terjadi ruptur atau belum. Tanda- tanda dan gejala baru timbul setelah ada gangguan. Tanda-tanda yang karakteristik: 1. Amenorrhea (75 %-- 90 %) 2. Perdarahan pervaginam (50 %- 80 %) 3. Mendadak rasa nyeri perut bagian bawah 4. Anemia akut 5. Hipotensi 6. Massa pada pelvis atau hematokel pada pelvis b. Pemeriksaan Umum Tampak kesakitan dan pucat Tanda-tanda syok Perut mengembung, nyeri tekan c. Pemeriksaan Ginekologik Tanda-tanda kehamilan muda Nyeri goyang serviks Uterus sedikit membesar, kadang-kadang teraba tumor disamping uterus dengan batas sulit ditentukan. Cavum Douglas menonjol dan nyeri raba Suhu kadang naik sehingga sukar dibedakan dengan infeksi pelvis

Untuk menegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu, dilakukan cara-cara pemeriksaan bantuan sebagai berikut: 1. Uji Kehamilan Uji kehamilan positif membantu diagnosis, tetapi sebaliknya uji kehamilan negatif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik.

2. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan Hb serial untuk mengukur kuantitas jumlah kehilangan darah yang terjadi, pemeriksaan beta-HCG (penurunan nilai beta-HCG), Serum Kreatin kinase (masih diperdebatkan). 3. Kuldosintesis Untuk mengukur adanya darah kehitaman dengan bekuan-bekuan kecil dalam Cavum Douglas. Hasil kuldosintesis yang positif berupa darah yang tidak membeku sementara hasilnya negatif bila yang ditemukan adalah cairan serous atau darah yang menggumpal. Adanya hasil tes yang negatif tidak memastikan bahwa tidak terjadi kehamilan ektopik 4. Laparoskopi Laparoskopi dapat membantu menegakkan diagnosis kehamilan tuba yang belum terganggu yang hanya menunjukkan sedikit perubahan, baik mengenai bentuk maupun warnanya. 5. Sonografi Diagnosis pasti apabila ditemukan kantong gestasi diluar uterus yang didalamnya tampak denyut jantung janin. 6. Hasil Kuretase Dipikirkan suatu kehamilan ektopik jika hasil kuretase hanya

menunjukkan desidua. Meskipun demikian, ditemukannya endometrium dalam fase sekresi, fase proliferasi atau fase deskuamasi tidak dapat menyingkirkan kemungkinan suatu kehamilan ektopik.

4. DIAGNOSIS BANDING 1. Salfingitis 2. Abortus imminens atau abortus incompletus 3. Corpus luteum atau kista folikel yang pecah 4. Torsi kistoma ovarii 5. Appendisitis 6. Gastroentritis 7. AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

5. PROGNOSIS Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung menurun dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup tetapi bila pertolongan terlambat angka kematian dapat meningkat. Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral. Sebagian wanita menjadi steril, setelah mengalami kehamilan ektopik atau dapat mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan antara 0-14,6%. Untuk wanita dengan anak yang sudah cukup sebaiknya pada operasi dilakukan salfingektomi bilateral. Dengan sendirinya hal ini perlu disetujui untuk suami istri sebelumnya .

6. PENATALAKSANAAN Perbaiki keadaan umum dengan memberikan transfusi darah. Pemberian cairan untuk koreksi terhadap anemia dan hipovolemia Laparotomi segera setelah diagnosis ditegakkan. Kehamilan tuba segera dilakukan salfingektomi Kehamilan kornu dilakukan salfingooforektomi dan; Histerektomi bila umur > 35 tahun Fundektomi bila masih muda untuk kemungkinan masih bisa haid Insisi bila kerusakan pada kornu kecil dan kornu dapat direparasi Salfingektomi dapat dilakukan dalam beberapa kondisi, yaitu: Kondisi penderita buruk, misalnya dalam keadaan syok. Kondisi tuba buruk, terdapat jaringan parut yang tinggi risikonya akan kehamilan berulang. Penderita menyadari kondisi fertilitasnya dan menginginkan fertilitasi invitro, maka dalam hal ini salfingektomi mengurangi risiko kehamilan ektopik pada prosedur fertilisasi invitro. Penderita tidak ingin punya anak lagi.

Apabila tindakan konservatif dipikirkan, maka harus dipertimbangkan: Kondisi tuba yang mengalami kehamilan ektopik, yaitu berapa panjang bagian yang rusak dan berapa panjang bagian yang masih sehat, berapa luas mesosalfing yang rusak, dan berapa luas pembuluh darah tuba yang rusak. Kemampuan kelengkapan operator alatnya, akan oleh teknik karena bedah mikro dan

pelaksanaan

teknik

pembedahan harus sama seperti pelaksanaan bedah makro.

DAFTAR PUSTAKA

Supono. Ilmu Kebidanan. Palembang : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, 1985.

Wiknjosastro, Ilmu Kebidanan Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1999.

Lutan, Delfi, dkk. Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jakarta : EGC. 1998.

Chamberlain G, Phillip S. Turnbulls Obstetric. Third edition. Churcill Livingtone. 2001: 212-213