Anda di halaman 1dari 9

BAB I TUJUAN PRAKTIKUM

Setelah melakukan praktikum ini, praktikan diharapkan dapat 1. Menentukan harga salinitas berdasarkan konduktivitas air laut. 2. Menghitung densitas berdasarkan kedalaman, suhu dan salinitas. 3. Membuat grafik berupa kurva temperature, salinitas dan densitas terhadap kedalaman serta mampu mengintepretasikan jenis lapisan. 4. Membuat kontur temperature, salinitas dan densitas serta mencoba menginterpretasikannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Temperatur 2.1.1. Distribusi Temperature Secara Vertikal


Temperatur perairan merupakan faktor yang banyak mendapat perhatian dalam pengkajian-pengkajian kelautan. Data suhu air dapat dimanfaatkan bukan saja mempelajari gejala-gejala fisika di dalam laut,tetapi juga kaitannya dengan kehidupan hewan atau tumbuhan (Nontji, 1990). Distribusi atau sebaran temperatur secara vertikal di perairan dapat dibedakan menjadi tiga lapisan, yaitu: 1. Lapisan Mixed Layer Lapisan Mixed layer yaitu lapisan yang mempunyai temperatur homogen di setiap bagian lapisan tersebut dimana memiliki gradien temperatur yang tidak lebih dari 0,03oC/m (Nontji, 1993). Lapisan ini berada di kedalaman 10-500 meter dan terbentuk akibat pengaruh angin dan gelombang laut pada lapisan atas sehingga terbentuk suatu lapisan yang homogen akibat teraduk-aduk (sudomo-gis.com). Suhu di lapisan ini teradapat suhu hangat (sekitar 28oC) yang homogen, oleh sebab itu lapisan teratas ini sering disebut lapisan homogen. Karena adanya pengaruh arus dan pasang surut, lapisan ini bisa menjadi lebih tebal lagi. Di perairan dangkal lapisan dangkal ini melanjut sampai ke dasar (Nontji, 1993). 2. Lapisan Termoklin Lapisan termoklin adalah lapisan pembatas antara air yang ada di permukaan dengan yang berada di bawahnya, umumnya memiliki perubahan suhu yang sangat tajam dibandingkan lapisan air yang lainnya (hanggarprasetio.wordpress,com). Lapisan ini sering disebut lapisan pegat (discontinuity layer) karena mencgah atau memegat percampiran air antara lapisan di atas dan di bawahnya. Dalam hal terjadinya penaikan air (upwelling) lapisan

pegat ini bergerak ke atas dan bentuknya tidak lagi terlalu tajam hingga zat hara yang kaya dari lapisan bisa naik ke atas. Tebalnya lapisan termoklin bervariasi sekitar 100-200 (Nontji, 1993). 3. Lapisan dalam (Deep layer) Lapisan deep zone yaitu lapisan pada kedalaman 1000 meter lebih dan biasanya disebut lapisan dingin yaitu lapisan dengan suhu rendah dengan suhu kurang dari 5 oC dan makin ke dalam suhu berangsur angsur turun secara stabil (Nontji, 1993).

Distribusi suhu secara vertikal yaitu dimulai dari suhu pada kedalam 0 sampai dengan 200 meter atau pada zona epipelagis cenderung konstan antara 12-14 oC, hal ini dikarenakan sinar matahari banyak diserap oleh permukaan. Sedangkan pada kedalaman 200-1000 meter suhu akan turun drastis dengan membentuk curva dengan lereng tajam. Pada kedalaman melebihi 1000 meter suhu laut relatif konstan dan biasanya berkisar antara 2-4 oC (Hutabarat, 1984). Faktor yang mempengaruhi distribusi temperatur di ketiga lapisan ini yaitu : a. Posisi geografis suatu perairan : posisi geografis sangat

menentukan temperature suatu perairan dikarenakan apabila semakin dekat dengan wilayah kutub temperature laut akan semakin rendah sebaliknya apabila posisi geografis perairan tersebut lebih dekat dengan garis katulistiwa maka suhu perairan

tersebut akan cenderung bersuhu lebih tinggi disbanding wilayah subtropics dan kutub. b. Waktu, berkaitan dengan musim : musim sangat mempengaruhi temperature suatu perairan dikarenakan suhu diatas permukaan air laut akan mempengaruhi pula suhu di dalam pemukaan air laut (sudomo-gis.com)

2.1.2. Distribusi Temperatur Secara Horisontal


Sebaran suhu horizontal tampaknya dipengaruhi oleh arus

permukaan, khususnya untuk lapisan air antara 0 200 m. Dengan demikian sebaran suhu horizontal pada kedalam lebih dari 200 m terlihat merata (homogen) (Sondita dan Noviyanti, 1991). Secara horisontal suhu mengalami perubahan secara perlahan-lahan dari daerah pantai menuju laut lepas. Karena dekat dengan daratan, pada siang hari suhu di pantai umumnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan daerah laut terbuka karena pada siang hari daratan lebih mudah menyerap panas matahari. Sedangkan laut relatif sulit untuk melepaskan panas bila suhu di lingkungannya tidak berubah. Begitu juga pada malam hari sehingga di daerah lepas pantai suhunya lebih rendah dan lebih stabil dibanding daerah pantai (Pardede, 2001). Suhu air di permukaan dipengaruhi oleh kondisi meteorologi. Faktorfaktor meteorologi yang berperang di sini ialah curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin, dan intensitas cahaya matahari. Oleh sebab itu suhu permukaan bisasanya mengikuti pola musiman (Nontji, 1993).

2.2. Salinitas 2.2.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Salinitas


Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan , dan aliran sungai. Perairan estuaria atau daerah sekitar kuala dapat mempunyai struktur salinitas yang

kompleks, karena selain merupakan pertemuan antara air tawar yang relatif ringan dan air laut yang lebih berat, juga pengadukan air sangat menentukan (Nontji, 1993). Faktor yang mempengaruhi sebaran salinitas secara salinitas yaitu selain run off, presipitasi, evaporasi, dan pola sirkulasi air, juga dipengaruhi oleh angin dan topografi (scribd.com). Distribusi salinitas dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu : Pola sirkulasi air : membantu penyebaran salinitas Penguapan (evaporasi) : semakin tinggi tingkat penguapan di daerah tersebut, maka salinitasnya pun bertambah atau sebaliknya karena garam-garam tersebut tertinggal di air contohnya di Laut Merah kadar salinitasnya mencapai 400/00. Curan hujan (presipitasi) : semakin tinggi tingkat curah hujan di daerah tersebut, maka salinitasnya akan berkuran atau sebaliknya hal ini dikarenakan terjadinya pengenceran oleh air hujan. Aliran sungai di sekitar (run off) : semakin banyak aliran sungai yang bermuara pada laut maka salinitasnya akan menurun dan sebaliknya. (www.scribd.com)

2.2.2. Distribusi Salnitas Secara Vertikal

Pola distribusi salinitas terhadap kedalaman di daerah tropis, dimana semakin kedalam salinitas semakin besar, sehingga salinitas di permukaan lebih rendah daripada kedalaman (www.ilmukelautan.com).

Distribusi vertikal salinitas berkaitan dengan perbedaan radiasi matahari yang diterima suatu daerah di permukaan bumi, juga dipengaruhi oleh distribusi suhu dan densitas (Modul oseanografi fisis, 2010). Pretisipasi yang tinggi dapat mengurangi konsentrasi salinitas di suatu perairan, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan salinitas yang cepat terhadap kedalaman (Modul oseanografi fisis, 2010). Sebaran salinitas dibagi menjadi 3 lapisan, yaitu lapisan surface layer, haloklin, dan deep layer. 1. Lapisan Surface layer yaitu lapisan tercampur dengan kedalaman antara 50-100 m dimana salinitas hampir homogen (Rosmawati, 2004). 2. Lapisan Haloklin yaitu lapisan dengan perubahan sangat besar dengan bertambahnya kedalaman 600-1000 m dimana lapisan tersebut dengan tegas memberikan nilai salinitas minimum (Rosmawati,2004).

3. Lapisan Deep Zone yaitu lapisan pada kedalaman 1000 meter


lebih dan biasanya disebut lapisan dingin yaitu lapisan dengan suhu rendah dengan suhu kurang dari 5 oC (Nontji, 1993).

2.2.3. Distribusi Salinitas Secara Horisontal


Distribusi salinitas secara horizontal yaitu semakin kearah lintang tinggi maka salinitas juga akan bertambah tinggi. Maka dari itulah salinitas di daerah laut tropis (daerah di sekitar khatulistiwa) lebih rendah daripada salinitas di laut subtropis. Daerah yang memiliki salinitas paling tinggi berada pada daerah lintang antara 30LU dan 30LS kemudian menurun ke arah lintang tinggi dan khatulistiwa. Di perairan Indonesia yang termasuk iklim tropis, salinitas meningkat dari arah barat ke timur dengan kisaran antara 3035 o/oo. Air samudera yang memiliki salinitas lebih dari 34 o/oo ditemukan di Laut Banda dan Laut Arafuru yang diduga berasal dari Samudera Pasifik (scribd.com). Faktor utama yang mempengaruhi distribusi salinitas secara horisontal ini yaitu presipitasi di permukaan dan curah hujan dimana semakin tinggi evaporasi terhadap tingkat curah hujan mengakibatkan salinitas akan naik dan begitu pula sebaliknya (scribd.com).

2.3. Densitas 2.3.1. Distribusi Densitas Secara Vertikal


Densitas adalah jumlah massa air per satu satuan volume. Densitas merupakan fungsi dari kedalaman laut, serta dipengaruhi juga oleh salinitas temperature dan tekanan. Densitas rata-rata di permukaan laut berkisar antara 1,02 - 1,07 gr/cm3 dan akan bertambah sesuai dengan bertambahnya salinitas dan tekanan serta akan berkurang mengikuti kenaikan temperatur temperature (modul oseanografi fisis,2010).

Pola Distribusi dari densitas yaitu semakin kedalam maka besar densitas juga akan semakin bertambah, begitu juga dengan tekanan, akan semakin tinggi pada kedalaman. Perubahan densitas yang drastis ada pada lapisan piknoklin (muhminanurrdoridorikun.wordpress.com). Distribusi Densitas secara vertikal dibagi menjadi 3 lapisan, yaitu: 1. Lapisan Surface layer yaitu lapisan tercampur dengan kedalaman antara 50-100 m dimana salinitas hampir homogen (Rosmawati, 2004). 2. Pycnocline, lapisan ini berada di kedalaman 500 m 1000 m. di daerah ini densitas air laut bertambah dengan cepat karena faktor penurunan suhu dan naiknya tekanan (modul

oseanografi fisis,2010). 3. Lapisan Deep Zone yaitu lapisan pada kedalaman 1000 meter lebih dan biasanya disebut lapisan dingin yaitu lapisan dengan suhu rendah dengan suhu kurang dari 5 oC (Nontji, 1993).

Faktor faktor yang menyebabkan variasi densitas di sebuah perairan adalah : Evaporasi di permukaan laut. Di kedalaman <100 m perairan dipengaruhi oleh gelombang dan angin sehingga menyebabkan tingkat densitas di kedalaman ini bersifat homogeny. Perubahan suhu dan salinitas mengakibatkan perubahan salinitas di sebuah perairan (modul oseanografi fisis,2010)

2.3.2. Distribusi Densitas Secara Horisontal


Secara horisontal faktor yang mempengaruhi distribusi densitas yaitu arus. Besarnya densitas sangat berhubungan dengan karakter arus dan daya tenggelam suatu massa air yang berdensitas tinggi pada lapisan permukaan pada kedalaman tertentu (diarnenochan.blogspot.com). Faktor-faktor horisontal yakni: 1. Evaporasi : penyebaran densitas disebabkan oleh evaporasi karena sebagian besar permukaan laut yang terkena paparan langsung dari matahari maka menyebabkan suhu meningkat dan akan merubah nilai densitasnya. 2. Angin dan gelombang : densitas dipengaruhi oleh angin dan gelombang karena angin dan gelombang dapat menyebabkan proses pengadukan di sebuah perairan berlangsung sehingga membuat nilai salinitasnya menjadi homogen 3. Selain itu secara horisontal juga dipengaruhi oleh angin muson. Di indonesia, angin muson sangat berpengaruh terhadap perubahan densitas secara horisontal karena mempengaruhi arus untuk bergerak dan arus akan membawa massa air. (scribd.com) yang mempengaruhi distribusi Densitas secara

BAB III DATA DAN PENGOLAHAN DATA MANUAL